Anda di halaman 1dari 6

Kongres II Demokrat Banjir Uang Haram

Aly Imron Dj

HL | 19 July 2011 | 19:25 312

Nihil

Anas Urbaningrum/Admin (Kompas.com)

M. Nazarudin, mantan Bendahara Umum Partai benar-benar mlawan dari persembunyiannya. Hari ini tersangka kasus suap Sesmenpora ini menelpon langsung ke Metro TV untuk memberikan pengakuan terbarunya yang semakin memojokkan dan merontokkan kredibilitas Partai Demokrat di hadapan publik. Ada beberapa pengakuan penting yang dilontarkan oleh M. Nazarudin seputar kasus yang membelit dirinya yang bermula dari tertangkapnya Sesmenpora Wafid Muharram. M. Nazarudin sengaja tidak mau pulang karena tidak percaya lagi dengan proses hukum di Indonesia yang penuh kebohongan dan rekayasa. Dalam live Telpon yang dilakukan terhadap Metro TV, M. Nazarudin memaparkan informasi baru yang cukup mencengangkan publik, diantaranya sebagai berikut; 1. Bahwa N. Nazarudin tidak mau pulang ke Indonesia karena kasusnya telah direkayasa oleh pimpinan KPK yaitu Chandar Hamzah atas permintaan Anas Urbaningrum. Kasus ini diskenario hanya boleh menyentuh M. Nazarudin dan tidak boleh memanggil Angelina Sondakh dan Mirwan Amir. Sebagai kompensasi bargaining ini maka Chandra Hamzah dan Ade Raharja akan kembali dipilih menjadi pimpinan KPK periode mendatang. 2. M. Nazarudin menuduh KPK sebagai perampok karena dirinya pernah melihat (mengetahui) Chandra Hamzah menerima uang dari pengusaha pengadaan pakaian Hansip menjelang Pemilu. Ikut dalam pertemuan ini disebutkan Nazarudin adalah Beny K. Harman, Ketua Komisi III DPRRI.

3. Bahwa Kemenangan Anas Urbaningrum dalam Kongres II Partai Demokrat didanai oleh kekuatan uang yang berasal dari dari Proyek Pembangunan Wisma Atlet Sea Game dan Proyek pembangunan Stadiun Hambalang. Dengan uang ini maka Kongres II Demokrat banjir uang haram yang berasal dari hasil korupsi proyek-proyek APBN. Dengan kekuatan uang yang sangat besar inilah Anas Urbaningrum akhirnya bisa memenangkan Kongres II Partai Demokrat secara mudah 4. Bahwa terjadinya politik uang atau banjir uang haram dalam Kongres II Partai Demokrat itu ternyata diketahui oleh Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, namun SBY meminta untuk tidak meributkannya. Sebagai konsekuensinya maka kubu lawan politik Anas Urbaningrum banyak yang direkrut dalam Kepengurusan DPP Demokrat. 5. Menurut M. Nazarudin bahwa larinya ke Singapura adalah atas skenario dan perintah dari Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang disaksikan oleh Wasekjen Saan Mustofa. M. Nazarudin diperintah Anas Urbaningrum pergi ke Singapura untuk waktu 3 tahun dan dirinya bisa pulang setelah terjadi pergantian pemerintahan. Demikianlah intisari dari live telpon yang dilakukan M. Nazarudin ke Metro TV. Biarlah rakyat yang akhirnya menilaianya; siapa yang merekayasa dan berbohong di hadapan rakyat.

Aly Imron Dj ; Penggiat LSM untuk Transparansi dan Demokrasi, Penulis Buku dan Penulis Lepas di Berbagai media massa. -Sampaikan kebenaran walaupun terasa pahit. Lihatlah apa yang ditulis, jangan lihat penulisnya. Email: alyimrondj@yahoo.com, HP. 085866940999

Nazaruddin Live Membongkar Partai Demokrat dan Anas


Syariful Alam

REP | 19 July 2011 | 17:51 439

24

4 dari 4 Kompasianer menilai aktual Selasa ini mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin muncul dalam wawancara langsung dengan Metro TV secara live melalui sambungan telepon sekitar pukul 17.00 WIB. Nazaruddin diawal wawancara mengatakan berada di tempat aman dari rekayasa politik. Nazaruddin mengungkapkan permainan uang yang sangat kental dalam Kongres Partai Demokrat tahun 2010 lalu dengan terpilihnya Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat mengetahui permainan uang dalam Kongres Partai Demokrat. Permainan uang itu tahu. Karena ada salah satu yang kalah tahu, untuk bukti-bukti kemudian Anas mengakomodir yang lain, terang Nazaruddin kepada Metro TV, Selasa (19/7). Anas itu menang dari uang 20 juta dollar AS. Itu uangnya dari mana? Uangnya dari APBN. Uangnya dari proyek Ambalat. Nazaruddin mengatakan, Proyek Ambalat sebesar Rp 1,2 triliun itu sudah direkayasanya. Yang menguasai uangnya itu namanya Mahfud dan uang itu lalu dibagikan cash dan tidak perorangan. Nazaruddin juga mengatakan, Proyek Ambalat itu namanya Mahfud yang tahu. Saya hanya menerima Rp 50 miliar, dan dihabiskan dalam kongres. Saya ini bawahannya Anas, tegasnya. Nazaruddin pun berkata, saya maunya cuma satu, keluarga saya ini dizolimi. Kalau bisa dibuktikan ada satu rupiah uang masuk ke uang saya. Saya akan pulang, ungkapnya. Saya mau bilang, waktu kongres semua biaya pemenangan Anas itu uangnya dari APBN. Dari proyek ambalat saya itu 50 miliar. Mahfud yang bawa itu dibawa ke Yuliani. Nazaruddin pun berkata, KPK ambil cctv advont. Saya tidak mau ngomong katanya. Saya punya catatan dan uangnya itu uang Anas. Saya yang mendistribusikan dari uang Anas. Itu Anas tahu semua uangnya dari proyek mana. Ketika ditanya kepada Nazaruddin uangnya dari manamenurut anda siapa otak besarnya? Nazaruddin menjawab memang Anas orangnya. Nazaruddin mengaku mempunyai fakta dan tidak mau berbicara di luar fakta. Memang Anas orangnya. Saya cerita fakta. Saya tidak mau bicara diluar fakta, tandasnya.

Mengenai KPK? Dikatakan Nazaruddin, yang ditanyakan ke saya apakah KPK sudah berani periksa ke depan. Saya rasa tidak berani, karena sudah ada deal-deal politik antara Anas dengan Chandra. Chandra dan Ari Raharja supaya tidak mau memeriksa Angie, Anas dan Koster. Dealnya Anas tidak boleh dipanggil, Angie tak akan dipanggil. Nanti Adi Raharja akan menjadi pimpinan Karena sudah ada bukti Anas untuk jadi tersangka, ujarnya. Dijelaskannya, Anas menjadi pengendali pengendali PT. Raharja. Ketika ditanya Anda dendam kepada Anas? Nazaruddin menjawab, saya ingin membukti fakta, saya dan keluarga jadi terzholimi. Saya kasihan dengan keluarga saya. KPK harus membuktikan kalau ada satu rupiah saja. KPK dapat membuktikannya. Apakah Anda ke luar negeri anda diperintahkan Anas Urbaningrum? Emang iya.. ada Anas, Saan Mustafa, dan sepupu saya Nasir. Ente, Anas berkata, ente ke singapura selama tiga tahun. Setelah ganti kekuasaan ente balik. Itu perintah pribadi Anas Urbaningrum, ujarnya. Waktu itu apakah KPK akan mencekal anda? Saya tidak tahu. Saya rasa Pak SBY tidak tahu mengenai kepergian saya. Saya tidak bilang. Ada penggulingan SBY oleh Anas dalam sms Anda? Saya tidak bilang begitu. Saya hanya bilang Partai Demokrat harus bersihkan orang-orang tertentu. Apakah Anda sudah mundur? Saya sudah mundur dari Partai Demokrat. Saya sudah mundur dari anggota DPR. Apakah Anda akan ke luar negeri? Saya janji kepada KPK Tak lama kemudian telepon live Nazaruddin terputus..

Uang Satu Mobil Box Dibagikan Jelang Kemenangan Anas


Top 9 News / Hukum & Kriminal / Selasa, 19 Juli 2011 22:25 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin menyebutkan, pada Kongres Pemilihan Ketua Umum PD, Anas Urbaningrum memerintahkan distribusi uang sebesar US$5 juta dan Rp35 miliar dari Jakarta ke Hotel Aston Bandung, Jawa Barat, dengan mobil box. "Hotel Aston masih menyimpan rekaman CCTV tesebut. Dari rekaman itu dapat diketahui uang dipindahkan dari mobil box ke satu kamar. Juga dapat diketahui ada siapa saja dan siapa yang mengambil uang tersebut," jelasnya melalui telepon kepada Metro TV, Selasa (19/7). Menurutnya, kemenangan Anas Urbaningrum disebabkan money politic. "Saat itu, kita punya posko di Senayan City. Hampir semua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Demokrat kita undang dan dibagikan uang. Setelah itu, ada juga pertemuan yang dilanjutkan dengan deklarasi di Hotel Sultan. Uang-uang itu dari PT Anugrah, perusahaan Anas. Uang PT Anugrah itu dari proyek ambalat sebesar Rp100 miliar dan dari wisma atlet Rp16 miliar. Semua ada buktinya," lanjutnya. Nazaruddin juga mengaku tak percaya kepada KPK. Ia menganggap lembaga pimpinan Busyro Muqoddas itu dihinggapi para perampok. "Saya hanya percaya kepada Pak Busyro. Tapi tidak untuk yang lain. Apalagi, Chandra Hamzah dan Yasin adalah teman-teman Anas. Merekalah yang merekayasa kasus saya," paparnya.(ARD)

Nazaruddin Kembali Bernyanyi


Breaking News / Hukum & Kriminal / Selasa, 19 Juli 2011 17:38 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan Bendahara Partai Demokrat, Muhamad Nazaruddin kembali bernyanyi. Kepada Metro TV Nazaruddin mengungkap berbagai borok di tubuh Partai Demokrat, termasuk keterlibatan Ketua Umum Anas Urbaningrum. Bahkan, Nazaruddin menuding Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra M. Hamzah menerima uang. "KPK itu perampok," tuding Nazaruddin. Kepada Indra Maulana dari Metro TV yang mewawancarai melalui saluran telepon, Selasa (19/7), Nazaruddin menolak mengungkap di mana ia berada. Ia memastikan masih di luar negeri. Tapi ia tidak menjawab tegas saat ditanya apakah masih ada di Singapura. "Saya berada di tempat yang aman dari rekayasa politik." Nazaruddin menantang KPK untuk membuktikan ada aliran dana dari proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan. "Jika KPK bisa membuktikan ada aliran ke rekening saya, saya akan pulang (ke Indonesia)." Nazaruddin kembali menegaskan bahwa Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum banyak menikmati uang dari proyek-proyek yang dibiayai APBN. Tender proyek itu dimenangi oleh perusahaan yang dimiliki Anas dan Nazaruddin. "Anas yang merekayasa semuanya, kok saya dijadikan tersangka," kata politikus asal Riau itu. Berbeda dengan keterangan sebelumnya, Nazaruddin mengaku ia hanya operator. "Saya ini bawahan Anas," kata Nazaruddin. Ia kembali menegaskan, untuk memenangkan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat digelontorkan dana sebesar 20 juta dolar AS. Nazaruddin juga mengungkap pertemuan Anas dengan Chandra Hamzah untuk mengatur pemilihan pimpinan KPK. Skenarionya, Chandra Hamzah dan Ade Raharja kembali terpilih sebagai pimpinan KPK. Dengan begitu, KPK tidak akan memanggil Anas, Angelina Sondakh dan Wayan Koster. Angie dan Koster merupakan anggota DPR dari Demokrat dan PDIP yang terlibat dugaan suap kasus Wisma Atlet. Ada banyak hal-hal detil yang diungkapkan Nazaruddin ikhwal patgulipat proyek APBN, keterlibatan para politikus Demokrat, anggota DPR dan kebobrokan KPK. Ikuti keterangan Nazaruddin selengkapnya dalam video berita ini. (RIE)