Anda di halaman 1dari 10

Jenis-Jenis Tanah Di Indonesia 1.

TANAH ORGANOSOL

Jun 13, '09 3:09 PM for everyone

Mengandung paling banyak bahan organik, tidak mengalami perkembangan profil, disebut juga tanah gambut. Bahan organik ini terdiri atas akumulasi sisa-sisa vegetasi yang telah mengalami humifikasi, tetapi belum mengalami mineralisasi. Tanah ini kurang subur. Tanah ini belum dimanfaatkan, tetapi dapat dimanfaatkan untuk persawahan. Penyebarannya di Sumatera sepanjang pantai Utara, Kalimantan dan Irian Barat/Papua.

TANAH HISTOSOL/GAMBUT

Ciri-ciri :

A. Memiliki epipedon histik, yaitu epipedon yang mengandung bahan organik sedemikian banyaknya,
sehingga tidak mengalami perkembangan profil ke arah terbentuknya horison-horison yang berbeda. B. Warna coklat kelam sampai hitam, berkadar air tinggi dan bereaksi asam (pH3-5)

2. TANAH LITOSOL

Litosol, yaitu tanah yang baru mengalami pelapukan dan sama sekali belum mengalami perkembangan tanah. Berasal dari batuan-batuan konglomerat dan granit, kesuburannya cukup, dan cocok dimanfaatkan untuk jenis tanaman hutan. Penyebarannya di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara, Maluku Selatan dan Sumatera.

3. TANAH ALLUVIAL

Aluvial ialah tanah muda yang berasal dari hasil pengendapan. Sifatnya tergantung dari asalnya yang dibawa oleh sungai. Tanah aluvial yang berasal dari gunung api umumnya subur karena banyak mengandung mineral. Tanah ini sangat cocok untuk persawahan. Penyebarannya di lembah-lembah sungai dan dataran pantai, seperti misalnya, di Kerawang, Indramayu, Delta Brantas.

4. TANAH REGOSOL

Regosol Aluvial

Regosol Marine

Regosol, belum jelas menampakkan pemisahan horisonnya. Tanah regosol terdiri dari: regosol abu vulkanik, bukit pasir, batuan sedimen, tanah ini cukup subur.

Jenis tanah latosol terdiri dari ; latosol merah kuning, cokelat kemerahan, cokelat, cokelat kekuningan. Tanah ini cocok dimanfaatkan untuk pertanian padi, palawija, kelapa, dan tebu. Penyebarannya di sekitar lereng gunung-gunung berapi

5. TANAH MERAH

Latosol, yaitu tanah yang telah mengalami pelapukan intensif, warna tanah tergantung susunan bahan induknya dan keadaan iklim. Latosol merah berasal dari vulkan intermedier, tanah ini subur, dan dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan. Penyebarannya di seluruh Indonesia, kecuali di Nusa Tenggara dan Maluku Selatan.

6. TANAH ANDOSOL

Jenis tanah mineral yang telah mengalami perkembangan profil, solum agak tebal, warna agak coklat kekelabuan hingga hitam, kandungan organik tinggi, tekstur geluh berdebu, struktur remah, konsistensi gembur dan bersifat licin berminyak (smeary), kadang-kadang berpadas lunak, agak asam, kejenuhan basa tinggi dan daya absorpsi sedang, kelembaban tinggi, permeabilitas sedang dan peka terhadap erosi. Tanah ini berasal dari batuan induk abu atau tuf vulkanik.

7. TANAH LATOSOL
          Latosolisasi: proses pembentukan tanah latosol (merah); dengan syarat daerah memiliki suhu dan curah hujan yang tinggi Keterdapatan di daerah iklim humid-tropik tanpa bulan kering hingga subhumid dengan musim kemarau agak lama Meluas di daerah iklim tropik hingga iklim basah tropik dengan CH 2.500-7.000 mm/th Bervegetasi hutan basah sampai sabana Bertopografi dataran, bergelombang hingga pegunungan Umumnya bahan induk vulkanik baik tuff maupun batuan beku Meliputi tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan intensif Telah mengalami pencucian unsur-unsur basa, bahan organik dan silika Tekstur lempung hingga geluh, struktur remah hingga gumpal lemah, dan konsistensi gembur Tersebar di seluruh pulau di Indonesia, kecuali Nusa Tenggara dan Maluku Selatan

Tanah Latosol Berdasarkan Warna

1. Latosol merah; terdapat di Pasekaran Pekalongan Jateng

2. 3. 4. 5. 6.

Latosol merah kekuningan; terdapat di Cibinong Latosol coklat kemerahan; terdapat di Citajam Bogor Latosol coklat; terdapat di Kanjana Bogor Latosol coklat kekuningan; terdapat di Sukamahi Bogor Latosol merah ungu; terdapat di Pleihari Kalsel

Tanah Latosol Berdasarkan Sifat Humus

1. Low Humic Latosol; dengan horizon A1 sangat lemah, pH 6-7, terdapat di tempat tinggi < 2.000 feet, curah
hujan < 40 inci/th, bulan kering nyata, vegetasi rumput pendek, kaktus dan algaroba

2. Humic Latosol; horizon A1 mengandung banyak bahan organik, pH < 5, terdapat di tempat tinggi hingga
2.500 feet, curah hujan 40-100 inci/th, vegetasi hutan lebat yang pendek

3. Ferruginous Humic Latosol; di horizon A terkumpul mineral resisten seperti magnetit, ilmenit yang
cenderung membentuk kerak dengan pH asam hingga pH 6

4. Hydrol Humic Latosol; horizon A1 kelabu, terdapat di daerah tinggi, curah hujan 150-350 inci/th tanpa
bulan kering, vegetasi hutan lebat

8. TANAH ANDOSOL          Berwarna hitam Tekstur geluh hingga debu Struktur remah Konsistensi gembur Mengandung bahan organik Daya ikat air dan daya serap air tinggi Permeabilitas tinggi Terdapat di dalam endapan vulkanik, terutama di puncak pegunungan curam yang tetap dilindungi hutan (Jawa, Sumatera) Pemanfaatan untuk perkebunan kina, teh dan kopi, sayuran, kentang, dll

9. TANAH GRUMUSOL/VERTISOL

        

Warna tua/kelam Tekstur lempung Struktur atas granuler, struktur bawah gumpal atau pejal Konsistensi liat tinggi Koefisien kembang kerut tinggi Bahan induk adalah batu kapur, batu napal, tuff, endapan aluvial, dan abu vulkanik Topografi agak bergelombang hingga berbukit dengan CH < 2.500 mm/th Solum tanah dalam (+ 75 cm) Peka terhadap erosi dan bahaya longsor

Macam Tanah Grumusol

1. Grumusol pada batu kapur dan batu kapur bernapal: perkembangan dipengaruhi struktur batu kapur dan 2. 3. 4. 5.
kadar lempung Grumusol pada marls, calcareous shales dan batu loam: terdapat di Madura Grumusol pada sedimen tuff tertier: terdapat di Gunungkidul Grumusol pada lahar: terdapat di lembah dan kaki pegunungan Grumusol endapan aluvial: terdapat di dataran aluvial dengan iklim sesuai untuk endapan vulkan dan napal halus 6. Grumusol bergaram: terdapat di Jawa Timur dengan iklim sangat kering; Nusa Tenggara

1. Entisol

Ciri-ciri : A. Tanah yang baru berkembang B. Belum ada perkembangan horison tanah C. Meliputi tanah-tanah yang berada di atas batuan induk D. Termasuk tanah yang berkembang dari bahan baru Mencakup kelompok tanah alluvial, regosol dan litosol dalam klasifikasi dudal-supratohardjo. Tipe ini di sepanjang aliran besar merupakan campuran mengandung banyak hara tanaman sehingga dianggap subur. Tanah Entisol di Indonesia umumnya memberi hasil produksi padi (misalnya : Kerawang, Indramayu, delta Brantas), palawija, tebu (Surabaya). Entisol yang berasal dari abu-volkanik hasil erupsi yang dikeluarkan gunung-gunung berapi berupa debu, pasir, kerikil, batu bom dan lapili. Selain itu berasal dari gunduk pasir yang terjadi di sepanjang pantai, misalnya diantara Cilacap dan Parangtritis (selatan Yogyakarta), dan Kerawang. 2. Inceptisol

Ciri2 : A. Ada horizon kambik , dimana terdapat horizon penumpukan liat <20% dari horizon diatasnya. B. Tanah yang mulai berkembang tetapi belum matang yang ditandai oleh perkembangan profil yang lebih lemah. C. Mencakup tanah sulfat masam (Sulfaquept) yang mengandung horison sulfurik yang sangat masam, tanah sawah(aquept) dan tanah latosol Daerah penyebaran tanah jenis ini: Sumatera, Jawa, Kalimantan. Sebagain besar tanah ini ditanami palawija (jawa) dan hutan/semak belukar (sumatera dan Kalimantan) 3. Ultisol

Ciri-ciri : A. Kandungan bahan organik, kenjenuhan basa dan pH rendah (pH 4,2-4,8). B. Terjadi proses podsolisasi: proses pecucian bahan organik dan seskuioksida dimana terjadi penimbunan Fe dan Al dan Si tercui. C. Bahan induk seringkali berbecak kuning, merah dan kelabu tak begitu dalam tersusun atas batuan bersilika, batu lapis, batu pasir, dan batu liat. D. Terbentuk dalam daerah iklim seperti Latosol, perbedaan karena bahan induk : Latosol terutama berasal dari batuan volkanik basa dan intermediate, sedang tanah Ultisol berasal dari batuan beku dan tuff. Tanah yang paling luas penyebarannya di Indonesia: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan sebagian Jawa . sebaiknya tanah ini dihutankan atau untuk perkebunan seperti : kelapa sawit, karet dan nanas. 4. Oxisol

Ciri-ciri : A. solum yang dangkal, kurang dari 1 meter B. kaya akan seskuioksida yang telah mengalami pelapukan lanjut C. adanya horizon oksik pada kedalaman kurang dari 1,5 m D. susunan horison A, B, dan C dengan horizon B spesifik berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus liat E. mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kuarsa. Banyak digunakan untuk perladangan, pertanian subsisten pengembalaan dengan intensitas rendah, dan perkebunan yang intensif seperti perkebunan tebu, nanas, pisang dan kopi. 5. Vertisol

Ciri-ciri : A. Tanpa horizon eluviasi dan iluviasi B. Koefisien mengembang dan mengerut tinggi jika dirubah kadar airnya C. Bahan induk basaltic atau berkapur D. Mikroreliefnya gilgei E. Konsistensi luar biasa plastis Di Indonesia jenis tanah ini terbentuk pada tempat-tempat yang tingginya tidak lebih dari 300 meter di atas muka laut dengan topografi agak bergelombang sampai berbukit, temperatur tahunan rata-rata 25oC dengan curah hujan kurang dari 2500 mm dan pergantian musim hujan dan kemarau nyata.Kandungan bahan organik umumnya antara 1,5-4%. Warna tanah dipengaruhi oleh jumlah humus dan kadar kapur. Di pulau jawa banyak digunakan untuk lahan pertanian padi sawah. 6. Histosol /gambut

Ciri-ciri : A. Memiliki epipedon histik, yaitu epipedon yang mengandung bahan organik sedemikian banyaknya, sehingga tidak mengalami perkembangan profil ke arah terbentuknya horisonhorison yang berbeda. B. Warna coklat kelam sampai hitam, berkadar air tinggi dan bereaksi asam (pH3-5) Gambut ombrogen meliputi hampir seperlima Sumatra, meluas sepanjang pantai Malaya, Kalimantan, dan pantai selatan Irian Jaya. Gambut ombrogen juga terdapat di Bangka Selatan, dimana pasir putih bumi mengendap sebelum mencapai laut membentuk berselang berselangseling daerah deperesi bekas cabang sungai yang di tumbuhi flora khusus. Gambut topogen terbentuk dalam topografik di rawa-rawa baik di dataran rendah maupun di pegunungan tinggi. Gambut ini meluas di Rawa Lakbok, Pangandaran, Rawa Pening, Jatiroto, Tanah Payau, di Deli (Sumatra) dan danau-danau di Kalimantan Selatan. Gambut Pangandaran, sebelah selatan Rawa Lakbok juga bersifat eutrof dan topogen. Sumber : slide-slide mata kuliah Morfologi dan klasifikasi tanah dan Geografi Tanah Indonesia sekian segitu, nanti akan saya update lagi ^_^