Anda di halaman 1dari 18

Kumpulan Abstrak Tesis Semester Genap 2008/2009 Pendidikan Kejuruan (PKJ)

78 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009

Perbedaan Penggunaan Media Mobil Training dan Media Mobil Real pada Kompetensi Troubleshooting Sistem Penerangan dan Wiring Siswa SMK Negeri 1 Kota Mojokerto Achmad Iswahyudi Abstrak
Pendekatan mengajar yang efektif dan efisien dalam pembelajaran praktik merupakan strategi untuk menghasilkan siswa yang kompeten. Media sebagai bagian penting dalam pembelajaran praktik sebaiknya sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan. Media mobil training dapat dikatagorikan media yang sesuai, efektif dan mudah untuk memahami pembelajaran kompetensi troubleshooting sistem penerangan dan wiring. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) kompetensi troubleshooting sistem penerangan dan wiring siswa SMKN 1 Kota Mojokerto yang diajarkan dengan menggunakan media mobil training, 2) kompetensi troubleshooting sistem penerangan dan wiring siswa SMKN 1 Kota Mojokerto yang diajarkan dengan menggunakan media mobil real, dan 3) perbedaan yang signifikan penggunaan media mobil training dan media mobil real pada kompetensi troubleshooting sistem penerangan dan wiring. Penelitian ini mengunakan disain quasi experimental, dengan subyek penelitian adalah kelas XI TMO 1 yang berjumlah 38 siswa sebagai kelas yang diajakan dengan menggunakan media mobil training dan kelas XI TMO 2 yang berjumlah 38 siswa sebagai kelas yang diajarkan dengan menggunakan media mobil real SMKN 1 Kota Mojokerto. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan prates dan pascates dengan menggunakan tes unjuk kerja yang telah melalui pengujian validitas dari 10 soal tes dinyatakan valid dan pengujian reliabilitas menggunakan koefisien alpha Cronbach > 0,60= 0,978. Hasil analisis data menunjukkan bahwa; 1) kompetensi troubleshooting sistem penerangan dan wiring yang diajarkan menggunakan media mobil training menghasilkan nilai rerata pascates 81,97; 2) kompetensi troubleshooting sistem penerangan dan wiring yang diajarkan menggunakan media mobil real menghasilkan nilai rerata pascates 74,74; dan 3) terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan media mobil training dan media mobil real pada kompetensi troubleshooting sistem penerangan dan wiring dengan taraf signifikansi ()=0,05. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru pengajar kompetensi kelistrikan untuk mengembangkan dan menggunakan media mobil training yang memenuhi karakteristik dalam kegiatan pembelajaran praktik kompetensi troubleshooting sistem penerangan dan wiring, sehingga siswa mampu menguasai kompetensi troubleshooting dengan baik. Media mobil training sebagai media pembelajaran lebih luas dapat dikembangkan secara lebih komprehensif. Kata kunci: kompetensi troubleshooting, media mobil training, media mobil real

Kontribusi Status Industri Lama Pelaksanaan Prakerin, dan Motivasi Belajar terhadap Sikap Kewirausahaan Siswa SMK di Kabupaten Indramayu Akhmad Karyono Abstrak
Kurikulum SMK tahun 2004, telah mengisyaratkan bahwa pelaksanaan Pendidikkan dan Pelatihan di SMK bagi siswa diharuskan melaksanakan Praktek Kerja Industri (Prakerin) di dunia usaha dan industri (DU/DI). Tujuan utama pelaksanaan Prakerin adalah untuk mendekatkan mutu lulusan SMK dengan kemampuan (kompetensi) yang diminta oleh industri. Salah satu faktor penyebab lulusan SMK menganggur adalah tidak beraninya berwirausaha. Lulusan siswa SMK Bidang Mesin di Kabupaten Indramayu yang tertampung di industri berkisar 41% dan sisanya 59% menganggur. Tujuan SMK menurut kurikulum 2004 bahwa lulusan SMK seharusnya dapat melihat peluang kerja dengan berwirausaha. Pelaksanaan Prakerin diharapkan juga dapat membantu peningkatan sikap kewirausahaan bagi siswa SMK, yang meliputi tiga faktor yang dapat mempengaruhinya, yaitu: status industri tempat Prakerin, lama pelaksanaan Prakerin, dan motivasi belajar siswa. Berdasarkan tiga faktor di atas maka peneliti mengajukan beberapa hipotesis mengenai sikap kewirausahaan dilihat dari faktor: status industri tempat Prakerin, lama pelaksanaan Prakerin dan motivasi belajar yang dilaksanakan di SMK di Kabupaten Indramayu Jawa Barat, antara lain : (1) Status industri 333

Program Studi S2 PKJ 79

tempat prakerin dan lamanya pelaksanaan Prakerin berkontribusi secara simultan dan signifikan terhadap motivasi belajar produktif siswa, (2) Status industri tempat Prakerin berkontribusi secara signifikan terhadap motivasi belajar produktif siswa, (3) Lama Prakerin berkontribusi secara signifikan terhadap motivasi belajar produktif siswa, (4) Status industri tempat prakerin, lamanya pelaksanaan Prakerin, dan motivasi belajar produktif berkontribusi secara simultan dan signifikan terhadap sikap kewirausahaan siswa, (5) Status industri tempat Prakerin berkontribusi secara signifikan terhadap sikap kewirausahaan siswa, (6) Lama Prakerin berkontribusi secara signifikan terhadap sikap kewirausahaan siswa, (7) Motivasi belajar produktif berkontribusi secara signifikan terhadap sikap kewirausahaan siswa. Objek penelitian adalah siswa SMK Bidang Teknik Mesin SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Indramayu Jawa Barat, dengan membagi dalam tiga wilayah: SMK di wilayah Indramayu Barat, SMK di wilayah Indramayu Tengah, dan SMK di wilayah Indramayu Timur. Metode penelitian menggunakan metode survey, dengan model rancangan penelitian causal corelational yang bersifat ex-post facto. Analisis data dengan menggunakan analisis Deskriptif, interkorelasi antar variabel, dan analisis jalur (Path Analysis) dengan menggunakan regresi linier ganda. Hasil analisis data mengungkap: (1) Analisis deskriptif menunjukkan status industri tempat Prakerin pada kategori sedang (51,6 %), lama pelaksanaan Prakerin pada kategori sedang (50 %), motivasi belajar siswa pada kategori sedang (57,6 %), dan sikap kewirausahaan siswa pada kategori sedang (56,8 %); (2) Analisis jalur (Path analysis) pada sub struktur-1 menunjukkan status industri (X1) dan lama pelaksanaan Prakerin (X2) berkontribusi secara simultan dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa (X3) dengan F sebesar 171,571 pada signifikansi < 0,05, dan pada sub struktur-2 menunjukkan status industri (X1), lama pelaksanaan Prakerin (X2) dan motivasi belajar (X3) berkontribusi secara simultan dan signifikan terhadap sikap kewirausahaan siswa (Y) dengan F sebesar 1248,936 pada signifikansi < 0,05. Model sub struktur-2 perlu diperbaiki dengan metode trimming, dengan mengeluarkan variabel X2 yang dianggap tidak signifikan dari analisisnya. Berdasarkan hasil penelitian, diajukan saran-saran sebagai berikut: (1) Melihat hasil penelitian bahwa status industri yang dijadikan tempat Prakerin, lama pelaksanaan Prakerin, motivasi belajar produktif siswa, dan sikap kewirausahaan dari seluruh responden siswa Bidang keahlian Mesin SMK di Kabupaten Indramayu memiliki skor pada kategori sedang, maka diharapkan siswa dapat mengupayakan peningkatan seluruh variabel tersebut, (2) Status industri tempat Prakerin berkontribusi secara signifikan terhadap motivasi belajar produktif, diharapkan siswa dapat melaksanakan Prakerin pada industri dengan kualifikasi sesuai dengan yang telah dipersyaratkan, sehingga motivasi belajar siswa akan meningkat, (3) Lama Prakerin berkontribusi secara signifikan terhadap motivasi belajar produktif siswa, maka diharapkan siswa dapat memilih waktu pelaksanaan Prakerin dengan durasi waktu yang lebih lama, dengan cara bekerja secara produktif agar terjalin hubungan yang saling menguntungkan dengan pihak perusahaan, sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, (4) Status industri tempat Prakerin berkontribusi secara signifikan terhadap sikap kewirausahaan siswa, maka disarankan agar siswa dapat melaksanakan Prakerin selain sesuai dengan kualifikasi yang telah dipersyaratkan, siswa juga harus melakukan pekerjaan yang sesuai dengan bidang pekerjaanya, supaya siswa dapat mempersepsi pekerjaanya secara positif sehingga sikap kewirausahaan akan tumbuh dengan baik, (5) Walaupun lama Prakerin tidak berkontribusi secara signifikan terhadap sikap kewirausahaan siswa, namun durasi pelaksanaan Prakerin tetap diperlukan, karena hal ini dapat mendukung tumbuhnya motivasi belajar siswa, (6) Motivasi belajar produktif berkontribusi secara signifikan terhadap sikap kewirausahaan siswa, sehingga penting untuk siswa agar selalu mengupayakan peningkatan motivasi belajar, disamping dengan cara melaksanakan Prakerin yang sesuai kualifikasi, juga dengan cara-cara lain misalnya dengan menetapkan tujuan, visi, misi, cita-cita dan sebagainya. Disamping itu guru pengajar atau pihak-pihak yang memiliki hubungan dengan siswa supaya selalu memberikan motivasi kepada para siswanya melalui apersepsi sebelum maupun sesudah pembelajaran. Kata kunci: status industri, lama prakerin, motivasi belajar, sikap kewirausahaan

Hubungan Kemampuan Mengajar Guru, Kelengkapan Peralatan Praktik, dan Motivasi Berprestasi dengan Pencapaian Kompetensi Siswa dalam Menginstalasi Perangkat Jaringan Lokal (Local Area Network) di SMK Se-Kabupaten dan Kota Mojokerto Bambang Kuswanto Abstrak

80 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009

Salah satu sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan di era global ini adalah SDM yang mempunyai kompetensi di bidang informasi dan komunikasi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah mulai membuka sekolah menengah kejuruan (SMK) di Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Pertumbuhan SMK program keahlian TKJ yang pesat, diharapkan seiring dengan peningkatan kualitas lulusannya. Namun kenyataannya masih jauh dari harapan. Hal ini dapat ditunjukkan oleh pencapaian kompetensi lulusan Program Keahlian TKJ yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mengetahui hubungan kemampuan mengajar guru, persepsi siswa terhadap kelengkapan peralatan praktik, dan motivasi berprestasi siswa dengan pencapaian kompetensi menginstalasi perangkat jaringan lokal (LAN) di SMK Se-Kabupaten dan Kota Mojokerto. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional dan dilakukan pada SMK program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) Se-Kabupaten dan Kota Mojokerto. Ada 6 SMK dengan 142 siswa yang dijadikan sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling acak secara proporsional, sedangkan sebagai alat pengumpulan data digunakan angket dan tes. Dari hasil penelitian dapat diungkapkan bahwa: (1) terdapat hubungan positif yang signifikan antara kemampuan mengajar guru dengan kompetensi siswa, (2) terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa terhadap kelengkapan peralatan praktik dengan kompetensi siswa, (3) terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan kompetensi siswa, dan (4) secara bersama-sama, terdapat hubungan yang positif signifikan antara kemampuan mengajar guru, kelengkapan peralatan praktik, dan motivasi berprestasi dengan kompetensi siswa. Berdasarkan hasil temuan ini, maka ada beberapa saran yang dapat disampaikan, yaitu: (1) agar guru meningkatkan kemampuannya melalui diklat dan studi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi; (2) agar kepala sekolah memenuhi kebutuhan peralatan praktik sesuai dengan standar kebutuhan yang telah ditetapkan; (3) agar guru untuk selalu memberikan dorongan dan pemantauan terus-menerus pada siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah dan bagi siswa memiliki motivasi berprestasi tinggi, perlu diberitahukan tujuan pembelajaran, modul atau buku referensi, dan pemberian balikan dari tugas yang diberikan; (4) agar siswa dapat meningkatkan penguasaan kompetensinya dengan terus belajar dan berlatih, misalkan: melaksanakan praktik kerja industri (prakerin) yang sesuai dan mengikuti lomba kompetensi siswa (LKS); dan (5) agar pihak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota Mojokerto mengambil kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan kualitas SMK, misalkan: pemberian diklat dan beasiswa pendidikan lanjutan bagi guru SMK, pengalokasian dana pendidikan untuk melengkapi kebutuhan peralatan praktik, pengadaan lomba-lomba kompetensi siswa, dan pemberian penghargaan pada siswa-siswa berprestasi. Kata kunci: kemampuan mengajar, kelengkapan peralatan praktik, motivasi berprestasi, kompetensi menginstalasi perangkat jaringan lokal.

Model Pembelajaran Kolaboratif Antara Lembaga Pendidikan dengan Industri di Daerah Terpencil (Studi Kasus di Politeknik Kotabaru) Didik Nurhadi Abstrak
Penelitian ini dilakukan karena kemampuan kompetisi sumber daya manusia untuk mendapatkan suatu pekerjaan di Kotabaru sangat rendah karena terletak di daerah terpencil. Kenyataan ini membuat lembaga pendidikan dan industri merasa peduli untuk mengembangkan sebuah model pembelajaran kolaboratif. Model Pembelajaran ini berkolaborasi antara Politeknik Kotabaru dengan industri di daerah, yaitu PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk Plant 12 Tarjun. Model pembelajaran ini berupaya memperbaiki kemampuan sumber adaya manusia daerah agar mampu berkompetisi dan lulusannya dapat terserap oleh industri yang ada di daerah. Implementasi model pembelajaran kolaboratif sudah berjalan selama lima tahun ini, namun peta model pembelajarannya belum jelas, sehingga penelitian dilakukan. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana perencanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri? (2) bagaimana pelaksanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri?, (3) bagaimana evaluasi pelaksanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri?, (4) bagaimana evaluasi hasil pembelajaran kolaboratif antara Politeknik Kotabaru dengan lembaga pendidikan dengan industri?, dan (5) apa sajakah kendala-kendala dalam implementasi model pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri?. Metode

Program Studi S2 PKJ 81

penelitian dipilih adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik wawancara, koesioner, dokumentasi, dan diskusi kelompok terpusat. Tujuan dari penelitian ini adalah memerikan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pelaksanaan dan hasil pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri, serta memerikan kendala-kendala implementasinya. Hasil dari riset ini menunjukkan bahwa: (1) Perencanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri di daerah terpencil perlu ditingkatkan untuk mendapatkan perencanaan yang lebih jelas dan tepat melalui melakukan MOU tentang: (a) paduan/manual yang rinci dan jelas, (b) pembagian tugas dan wewenang yang merata, (c) data yang akurat tentang dunia usaha/industri, (d) pemberdayaan kelembagaan yang ada, (e) komitmen dosen/pengajar, peserta didik, dan orang tua, (f) komunikasi yang baik semua pihak, (g) paket-paket pembelajaran yang tepat dan operasional, dan (h) format training plans, training agreement, serta monitoring dan evaluasi, dan didukung dengan kurikulum terintegrasi antara kedua belah pihak; (2) Pelaksanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri perlu ditingkatkan tentang (a) organization strategy,(b)delivery strategy, dan (c)management strategy; (3) Evaluasi pelaksanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri masih perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara kerja PDCA (Plan-Do-Check-Action); (4) Evaluasi hasil pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri di daerah terpencil masih perlu ditingkatkan dari sisi (a) keefektifan pembelajaran, (b) efisiensi pembelajaran, dan (c) daya tarik pembelajaran; (5) Kendala dalam implementasi model pembelajaran kolaboratif terkait perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pelaksanaan dan evaluasi hasil pembelajaran perlu diselesaikan. Kendala pembelajaran terjadi akibat kurang diperhatikannnya tujuan, sintaks, lingkungan, dan sistem pengelolaan pembelajaran. Politeknik Kotabaru dan industri dalam melaksanakan pembelajaran kolaboratif yang lebih baik, disarankan untuk membuat MOU terkait perencanaan guna meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Perbaikan perlu dilakukan untuk evaluasi hasil penyelenggaraan dan hasil pembelajaran. Uji kompetensi peserta didik juga diperlukan untuk mengetahui hasil evaluasi. Penelitian berikutnya juga diperlukan untuk pengembangan model pembelajaran kolaboratif ini. Kata kunci: model pembelajaran kolaboratif, pendidikan di daerah terpencil

Pengaruh Pembelajaran Praktikum dengan Menggunakan CD Interaktif terhadap Kompetensi Sistem Pengapian pada Siswa Kelas III Mekanik Otomotif SMK YP 17-1 Kota Malang Eddy Sudarwanto Abstrak
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak besar terhadap bidang pendidikan. Salah satunya adalah tersedianya pembelajaran yang menggunakan Compact Disc (CD) interaktif yang terdiri dari atas tayangan teks informasi, animasi, gambar, dan soal-soal latihan untuk mencari dan menganalisa kerusakan dan perbaikan sistem pengapian pada dunia otomotif. CD pembelajaran sistem pengapian ini dapat dimiliki oleh semua siswa dikarenakan harga keping CD murah dan praktis, dan sangat bermanfaat untuk mengikuti perkembangan dan menambah ilmu khususnya sistem pengapian konvensional sampai ke sistem pengapian elektronik. Penelitian mengenai pembelajaran yang menggunakan media CD interaktif sistem pengapian ini, antara lain bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media CD interaktif dalam pembelajaran praktikum sistem pengapian. Penggunaan CD interaktif pengapian merupakan salah satu prasarana bagi terjadinya interaksi belajar mengajar yang baik dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah model eksperimental, subyek penelitian ini adalah siswa SMK YP 17-1 Malang. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas III Mekanik Otomotif dengan jumlah 30 siswa, kelas eksperimen dan 30 siswa kelas kontrol, variabel bebas yang digunakan adalah pembelajaran dengan menggunakan CD interaktif. Variabel terikatnya adalah hasil praktikum kompetensi sistem pengapian. Instrumen penelitian terdiri atas tes kemampuan pengetahuan dan tes praktek kompetensi sistem pengapian, tes kemampuan pengetahuan jumlahnya ada 40 butir dinyatakan valid dan 5 butir soal praktek kompetensi sistem pengapian juga dinyatakan valid. Sebelumnya dilakukan uji coba instrumen penelitian yaitu validitas dan reliabilitas instrumen, untuk validitas menggunakan korelasi product moment sebesar 0,40 untuk taraf signifikansi 0,05 (5%) dengan menyertakan sampel yang diujicobakan apabila rhitung > rtabel

82 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009

maka soal yang ditanyakan valid, diambil nilai r > 0,4 ke atas dinyatakan signifikan. Untuk reliabilitas menggunakan Kuder_Richardson (KR-20). Reliabilitas soal dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbachs Alpha > dari 0,60. Selanjutnya juga dilakukan pengujian persyaratan analisis, yang meliputi uji normalitas yang menggunakan uji Kolmogorof-Smirnof test, jika nilai Dhitung < dari Dtabel maka data dianggap normal. Selain itu juga dapat dinyatakan bahwa koefisien signifkansi (Asymp. Sig) dan alpha 5% data dianggap normal. Selanjutnya uji homogenitas, digunakan Leavene Statistic jika nilai Fleavene statistic > alpha 5% maka data dianggap bervarian homogen. Analisis data yang terakhir dalam penelitian ini menggunakan uji-t, kesemuanya pengujian tersebut menggunakan program SPSS 12 for windows. Berdasarkan kesimpulan analisa data yang telah dilakukan diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) ada pengaruh yang signifikan penggunaan CD interaktif terhadap pengetahuan siswa tentang sistem pengapian pada kelas III program keahlian mekanik otomotif (2) ada pengaruh yang signifikan penggunaan CD interaktif terhadap kompetensi siswa tentang sistem pengapian pada kelas III program keahlian mekanik otomotif. Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian ini dapat disarankan sebagai berikut: (1) guru harus meningkatkan pemahaman pengetahuan siswa, dengan menerapkan pembelajaran CD interaktif, (2) siswa diwajibkan untuk memiliki media CD interaktif karena harganya murah dan praktis (3) hendaknya sarana praktek di workshop/bengkel dilengkapi, yang mengikuti perkembangan teknologi sehingga siswa lebih banyak mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan, (4) perlu diadakan penelitian lanjutan untuk kompetensi yang berbeda dalam perbandingan yang sama, atau metode lain pada kompetensi yang lain. Kata kunci: pembelajaran praktikum, CD interaktif, sistem pengapian

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Perawatan dan Perbaikan Mesin Bensin 4 Tak 4 Silinder Tune Up dengan Sistem Multimedia Gunawan Dwiyono Abstrak
Pembelajaran di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) untuk Program Keahlian Mekanik Otomotif diperlukan pengetahuan teoritis yang cukup, lalu disertai dengan pengetahuan praktis yang mudah dipahami. Tidak kalah pentingnya mereka harus memiliki skill yang khusus karena karakteristik lulusan SMK adalah memiliki kompetensi di bidangnya. Untuk itu mata diklat produktif merupakan mata diklat yang sangat memungkinkan bisa membekali kompetensi yang diperlukan sesuai bidang keahliannya. Salah satu yang menyulitkan dalam pembelajaran produktif yaitu Tune Up mesin adalah banyak sekali prosedur yang harus dilakukan rawan menimbulkan kesalahan fatal. Untuk membawa siswa menjadi taat dan tidak salah maka akan menjadi efektif bila dihadirkan seorang instruktur yang senantiasa benar dan tidak melupakan informasi-informasi yang dibutuhkan. Guru sebagai instruktur memiliki sifat pelupa secara manusiawi. Ketika dalam proses pembelajaran instuktur memberi contoh ada beberapa hal yang terlupa. Kejadian semacam ini menjadikan proses belajar harus senantiasa memberikan instuksi lagi, memberi informasi lagi karena saat memberi contoh tadi lupa belum tersampaikan dan baru disadari saat siswa melakukan kesalahan. Untuk mengatasi masalah tersebut siswa dapat diberi sajian dalam bentuk gambar bergerak, teks yang jelas suara maupun urutan langkah pengerjaan yang sempurna dari rekaman yang diedit berulang-ulang agar didapatkan tujuan pembelajaran yang baik dan sempurna. Hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan perangkat pembelajaran dengan bantuan multimedia. Pengembangan media pembelajaran multimedia akan menjadi lebih baik bila dirancang dengan model pengembangan prosedural yang meliputi empat tahap yaitu: (1) Tahap pendefinisian yaitu konsultasi dengan para ahli, guru-guru dan siswa mekanik otomotif dan pihak lain yang dianggap perlu dalam proses pengembangan, (2) Tahap desain yang meliputi persiapan media trainer, pemilihan strategi dan tujuan instruksional (3) Tahap pelaksanaan pengambi-lan gambar audiovisual, pengisian suara, editing, dan selanjutnya (4) Tahap uji coba produk. Pada tahap uji coba media dianalisis dengan rancangan diskriptif untuk memperoleh tanggapan dan penilaian dari para ahli, guru dan siswa. Yang dilibatkan dalam ujicoba ini adalah 3 orang ahli isi, 2 orang ahli media, 5 orang guru dan 30 orang siswa. Uji coba dilakukan dalam dua tahap. Pada ujicoba tahap pertama diperlukan untuk memperoleh masukan dan kemudian produk direvisi. Pada tahap kedua ujicoba produk hasil revisi untuk memperoleh masukan lagi dari para ahli, guru dan siswa.

Program Studi S2 PKJ 83

Dari hasil pengembangan ini: secara umum ahli isi memberikan penilaian (86,58%), ahli media memberikan penilaian (84,37%), guru memberikan penilaian (87,22%), dan siswa memberikan penilaian (84,29%). Hal ini berarti bahwa media ini telah memenuhi syarat dalam memenuhi kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran. Guru dan siswa berpendapat bahwa pembelajaran dengan menggunakan media semacam ini dapat terlaksana secara efektif, efisien, dan memberi motivasi kepada siswa dalam belajar. Efektifitas pembelajaran terjadi karena siswa dapat melihat berbagai bentuk data baik gambar, teks, suara, gerak dan peragaan mengenai prosedur pelaksaan tune up, sehingga memungkinkan siswa lebih menguasai materi pelajaran. Kata kunci: media pembelajaran, tune up mesin, multimedia

Konstribusi Iklim Organisasi Sekolah, Kecerdasan Emosional Guru dan Pengetahuan Teknologi Informasi dengan Profesionalisme Guru Produktif SMK Negeri Kelompok Teknologi dan Industri se Kabupaten Indramayu Haryono Suhendro Abstrak
Salah satu permasalahan utama dalam dunia pendidikan adalah pro-fesionalisme guru, yaitu membentuk guru yang memiliki kompetensi standar yang memadai. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hubungan iklim orga-nisasi sekolah, kecerdasan emosional guru dan pengetahuan teknologi informasi dengan profesionalisme guru produktif SMK Negeri Kelompok Teknologi dan Industri se Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan pendekatan korelasi, dimana variabel inde-penden dikorelasikan dengan variabel dependen. Data Populasi penelitian adalah guru produktif dari 10 SMK Negeri Kelompok Teknologi dan Industri se Kabupaten Indramayu. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah kue-sioner dengan skala Likert, sedangkan teknik analisis mengunakan teknik ana-lisis regresi linear ganda dan analisis product moment Pearson, yang dihitung menggunakan SPSS for Windows Release 10. Hasil analisis penelitian membuktikan, bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara iklim organisasi sekolah, kecerdasan emosional guru, dan pe-ngetahuan teknologi infomasi dengan profesionalisme guru produktif SMK Negeri Kelompok Teknologi dan Industri se kabupaten Indramayu, yang ditun-jukkan oleh nilai koefisien korelasi secara berurutan: X1 dan Y (0,401), X2 dan Y (0,577), X3 dan Y (0,770), dengan probabilitas (Sign.) lebih kecil dari 0,05 Diperoleh kesimpulan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara iklim organisasi sekolah, kecerdasan emosional guru dan pengetahuan teknologi informasi dengan profesionalisme guru produktif SMK Kelompok Teknologi dan Industri se Kabupaten Indramayu, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama. Saran yang disampaikan adalah perlunya keterlibatan semua pihak dalam membangun iklim organisasi sekolah, kecerdasan emosional guru dan pengetahuan teknologi informasi untuk meningkatkan nilai profesionalisme guru. Kata kunci: iklim organisasi sekolah, kecerdasan emosional guru, pengetahuan teknologi informasi, profesionalisme guru.

Pemanfaatan Internet dalam Pembelajaran Melalui Program Jardiknas oleh Guru-guru SMK di Kabupaten Indramayu Kamajaya Abstrak
Pemanfaatan kemajuan teknologi internet akan semakin mendekatkan sumber informasi kepada guru dan peserta didik sehingga akan memperoleh kemudahan dalam mengakses informasi dari berbagai sumber, khususnya yang berkaitan dengan materi yang paling muktahir di bidang pendidikan/pembelajaran. Fakta dilapangan masih banyak guru yang belum memanfaatkan fasilitas internet yang ada di SMK. Hal tersebut apakah disebabkan oleh motivasi kerja guru, ataukah kebijakan kepala sekolah yang kurang mendukung dalam pemanfaatan internet melalui program ICT Jardiknas.

84 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan internet dalam pembelajaran melalui program ICT Jardiknas oleh guru-guru SMK di Kabupaten Indramayu, dengan menggunakan pendekatan deskriptif korelasional, variabel penelitian ini adalah: motivasi kerja (X1), kebijakan kepala sekolah (X2) dan pemanfaatan internet (Y). Populasi penelitian adalah seluruh guru SMK kelompok teknologi dan industri yang sekolahnya memiliki fasilitas koneksi internet melalui program ICT center Indramayu yang berjumlah 174 orang, dan tersebar di 4 SMK. Jumlah populasi sebanyak 120 guru yang diambil secara acak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Data penelitian berupa hasil pengukuran terhadap variabel yang dioperasikan dengan menggunakan instrumen. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban. Adapun teknik analisis data memakai teknik analisis korelasi product moment Pearson, dan analisis regresi linear ganda. Hasil penelitian membuktikan bahwa 1) terdapat hubungan yang positif antara motivasi kerja dengan pemanfaatan internet. 2) terdapat hubungan yang positif antara kebijakan kepala sekolah dengan pemanfaatan internet. 3) terdapat hubungan yang positif antara motivasi kerja (X1), kebijakan kepala sekolah (X2) secara bersama-sama dengan pemanfaatan internet (Y). Sumbangan efektif masing-masing variabel adalah 1) motivasi kerja guru SMK sebesar 13,89% dan 2) kebijakan kepala sekolah tentang pemanfaatan internet memberikan sumbangan efektif sebesar 1,53%. Dapat dikemukakan bahwa sumbangan efektif motivasi kerja guru SMK lebih besar dari kebijakan kepala sekolah tentang pemanfaatan internet melalui program ICT Jardiknas. Kata kunci: internet, motivasi kerja, guru SMK, kebijakan kepala sekolah

Pengaruh Media Pembelajaran Dua Dimensi, Tiga Dimesi dan Bakat Mekanik Terhadap Hasil Belajar Sistem Pengapian Sistem Pengapian Motor Bensin Di SMK Negeri 1 Kota Mojokerto Khoirul Anwar Abstrak
Hasil belajar adalah hal yang selalu menjadi orientasi dari setiap pelaksanaan proses pembelajaran. Inti dari proses pembelajaran adalah penyampaian informasi melalui pemberian pengalaman oleh guru kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif. Fakta di lapangan menunjukkan kurang optimalnya guru dalam melaksanakan proses pembelajaran terkait dengan pemanfaatan media pembelajaran dan pemahaman terhadap bakat atau potensi peserta didik sebagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Media Pembelajaran Dua Dimensi, Tiga Dimesi dan Bakat Mekanik Terhadap Hasil Belajar Sistem Pengapian Sistem Pengapian Motor Bensin Di SMK Negeri 1 Kota Mojokerto. Ada 3 hal yang dieksperimenkan, yaitu (1) perbedaan yang signifikan hasil belajar sistem pengapian motor bensin, antara kelompok peserta didik yang menggunakan media pembelajaran dua dimensi dan tiga dimensi; (2) perbedaan yang signifikan hasil belajar sistem pengapian motor bensin, antara kelompok peserta didik yang mempunyai bakat mekanik rendah, bakat mekanik sedang dan bakat mekanik tinggi; (3) interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan bakat mekanik yang memiliki pengaruh terhadap hasil belajar sistem pengapian motor bensin. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Data penelitian berupa hasil pengukuran terhadap variabel yang dioperasikan dengan menggunakan instrumen. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu tes tertulis dalam bentuk tes objektif. Data yang dimaksud adalah hasil belajar sistem pengapian motor bensin. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen. Analisis data dilakukan dengan analisis ANOVA dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar sistem pengapian motor bensin, antara kelompok peserta didik yang menggunakan media pembelajaran dua dimensi dan media pembelajaran tiga dimensi; (2) terdapat perbedaan hasil belajar sistem pengapian motor bensin, antara kelompok peserta didik berbakat mekanik rendah, berbakat mekanik sedang dan berbakat mekanik tinggi; (3) tidak ada interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan bakat mekanik yang berpengaruh terhadap hasil belajar sistem pengapian motor bensin. Berdasarkan hal tersebut, guru perlu mengusai penggunaan media pembelajaran sehingga dalam proses pembelajaran, dapat memaksimalkan informasi yang disampaikan kepada peserta didik, SMK

Program Studi S2 PKJ 85

hendaknya lebih inovatif dan variatif dalam pembuatan media pembelajaran, perlunya pemenuhan kebutuhan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran oleh pihak terkait Kata kunci: media pembelajaran, bakat mekanik, hasil belajar

Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Orientasi Lokus Kendali terhadap Hasil Belajar Kompetensi Sistem Penerangan dan Wiring Otomotif Siswa SMK Program Keahlian Mekanik Otomotif M. M. Al Khasani Abstrak
Sudah saatnya pertumbuhan SMK yang pesat diiringi oleh peningkatan kualitas lulusan SMK. Namun kenyataannya masih jauh dari harapan. Hal ini dapat ditunjukkan oleh pencapaian kompetensi/hasil belajar yang diperoleh lulusan SMK yang masih belum memuaskan. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh variabel mutu pembelajaran dan karakteristik pebelajar. Untuk mengungkap dan mengetahui pengaruh strategi pembelajaran dengan pemberian job pembuatan dan aplikasi trainer, serta lokus kendali terhadap hasil belajar kompetensi sistem penerangan dan wiring otomotif siswa Program Keahlian Mekanik Otomotif, maka penelitian ini mempunyai rumusan masalah: (1) Adakah perbedaan hasil belajar kompetensi sistem penerangan dan wiring otomotif antara kelompok siswa yang diajar menggunakan trainer saja dan kelompok siswa yang diajar menggunakan trainer dengan terlebih dahulu diberi job pembuatan trainer sistem penerangan dan wiring otomotif?; (2) Adakah perbedaan hasil belajar kompetensi trainer sistem penerangan dan wiring otomotif antara kelompok siswa yang memiliki lokus kendali internal dan kelompok siswa yang memiliki lokus kendali eksternal?; dan (3) Adakah interaksi antara penggunaan media trainer dan lokus kendali siswa terhadap hasil belajar kompetensi sistem penerangan dan wiring otomotif? Untuk menjawab permasalahan di atas, penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian quasiexperimental dengan desain faktorial prates-postes dan dilakukan pada di SMK Roudlotun Nasyiin Beratkulon Kemlagi Mojokerto. Ada dua kelas yang digunakan sebagai subjek penelitian dengan jumlah 73 siswa. Penentuan kelompok eksperimen dan kontrol menggunakan teknik random assignment sampling. Penelitian ini menggunakan tes untuk pengumpulan datanya. Dari hasil penelitian dapat diungkapkan bahwa: (1) Terdapat perbedaan hasil belajar kompetensi sistem penerangan dan wiring otomotif yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan trainer dengan terlebih dahulu diberi job pembuatan trainer dan yang diajar dengan menggunakan trainer saja; (2) Terdapat perbedaan hasil belajar kompetensi sistem penerangan dan wiring otomotif yang signifikan antara kelompok siswa yang memiliki lokus kendali internal dan yang memiliki lokus kendali eksternal; dan (3) Terdapat interaksi antara penggunaan dan pemberian job pembuatan media trainer, dan lokus kendali siswa terhadap hasil belajar sistem penerangan dan wiring otomotif. Berdasarkan hasil temuan ini, maka ada beberapa saran yang dapat disampaikan, yaitu: (1) Agar guru mata diklat kompetensi sistem penerangan dan wiring otomotif melakukan pembelajaran dengan terlebih dahulu memberikan job pembuatan trainer sebelum menggunakan trainer tersebut, agar hasil belajar siswa dapat meningkat; (2) Agar pihak sekolah meyelenggarakan kegiatan pembimbingan kepada siswa, antara lain layanan orientasi dan informasi, konseling (baik individu maupun kelompok) untuk kasus-kasus khusus, misalnya terhadap siswa yang beranggapan bahwa keberhasilan yang diperolehnya bersumber dan ditentukan oleh sesuatu di luar dirinya (yang memiliki kecenderungan lokus kendali eksternal); dan (3) Agar guru dapat menciptakan situasi dan kondisi yang dapat mengubah orientasi lokus kendali siswa dari eksternal ke internal, misalkan dengan menumbuhkan keinginan untuk berkompetisi dalam berprestasi, kondisi pembelajaran yang menyenangkan, dan lain-lain. Kata kunci: pengaruh strategi pembelajaran, lokus kendali, hasil belajar, sistem penerangan dan wiring otomotif

86 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009

Penerapan E-Learning untuk Pembelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) pada Bidang Keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SMK di Kota Malang Muhammad Rafie Pawellangi Abstrak
Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) sebagai salah satu mata pelajaran di SMK perlu diperkenalkan, dipraktikkan, dan dikuasai siswa sedini mungkin sehingga siswa dapat beradaptasi dengan dunia kerja, perkembangan global, dan jenjang pendidikan lebih tinggi. E-Learning merupakan salah satu media pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengakses materi setiap waktu. Perubahan paradigma pembelajaran dari teacher center ke student center memberikan kesempatan lebih bagi interaksi antara guru dan siswa, dan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang disediakan. Evaluasi hasil belajar melalui ujian tertulis terkadang dipengaruhi faktor judgement atau pertimbangan subyektivitas guru sehingga diperlukan sistem ujian berbantuan komputer (ujian online) untuk meningkatkan proses evaluasi menjadi lebih efektif . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap penerapan E-Learning dalam pembelajaran KKPI, faktor-faktor yang mempengaruhi terciptanya interaksi antara siswa dengan guru, efektifitas pelaksanaan evaluasi melalui ujian online, dan sumber pembelajaran KKPI menggunakan aplikasi E-Learning pada Sekolah Menengah Kejuruan Bidang Keahlian TIK se Kota Malang. Populasi siswa sebanyak 2925 orang dan guru sebanyak 31 orang. Dengan menggunakan teknik probability sampling dengan simple random sampling diperoleh sampel siswa sebanyak 341 orang. Analisa data menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan E-Learning untuk pembelajaran KKPI secara umum siap menggunakan aplikasi E-Learning KKPI, yang dibangun dari Moodle; (2) interaksi guru dan siswa dalam penerapan E-Learning bersifat positif dan edukatif, dimana guru memposisikan diri sebagai fasilitator dan siswa sebagai partisipan yang aktif, sehingga antar siswa dapat saling berbagi pengalaman dan bekerja sama dalam pembelajaran; (3) pelaksanaan evaluasi melalui ujian online efektif, konsumsi kertas minimum, penghematan waktu tanpa mengorbankan kualitas dan integritas ujian, hasil evaluasi dapat langsung dapat diketahui, kesalahan penghitungan kecil karena dikoreksi otomatis, dan keseluruhan proses evaluasi dapat dijadikan umpan balik bagi perbaikan pembelajaran; (4) sumber materi pembelajaran KKPI pada aplikasi E-Learning memiliki daya tarik, dapat membantu penggunanya untuk terampil mengoperasikan komputer dan mengelola informasi. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah : (1) untuk kesinambungan penerapan E-Learning diperlukan komitmen yang tinggi dari sekolah dan Dinas Pendidikan. Setiap sekolah yang menerapkan ELearning sebaiknya; (a) menjaga kestabilan koneksi intranet dan internet, sehingga guru dan siswa dapat mengakses server E-Learning tanpa ada batasan waktu; dan (b) menyediakan server permanen dan teknisi yang selalu memantau dan merawat server E-Learning, dan Dinas Pendidikan membuat kebijakan dan memantau secara berkala terhadap penerapan E-Learning khususnya SMK yang membuka Bidang Keahlian TIK, (2) perlu diusahakan setiap sekolah memiliki perangkat keras khusus yang mendukung video conference dan memaksimalkan pemanfaatan jaringan VPN Jardiknas yang sudah ada sehingga interaksi yang terjadi tidak terbatas pada chatting, forum, dan email, (3) untuk menghindari kebocoran soal ujian diperlukan sistem ujian yang handal dan memperbanyak bank soal sistem ujian. Selain itu diperlukan usaha yang besar untuk membudayakan penggunaan sistem ujian online sebagai alat evaluasi oleh guru dan siswa sehingga terbiasa menggunakannya, dan (4) materi pembelajaran sebaiknya juga dipersiapkan materi dalam bentuk live CD, sehingga guru dan siswa tetap dapat mempelajari materi dimana saja, misalnya di rumah walaupun tanpa koneksi internet ataupun intranet. Kata kunci: e-learning , interaksi, ujian online, KKPI

Program Studi S2 PKJ 87

Korelasi Bakat Mekanik, Prestasi Praktikum Otomotif dan Praktik Industri dengan Hasil Uji Kompetensi Servis berkala Otomotif Roda Empat Sesuai Standar Industri Otomotif, Studi Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif FT UM Mustaman Abstrak
Pesatnya perkembangan produksi Industri Otomotif sebagai dampak dari persaingan secara kompetitif antara industri otomotif dengan industri otomotif lainnya. Produksi industri otomotif agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka diperlukan pengembangan lokasi dengan mendirikannya maindealer dan bengkel resmi di seluruh kawasan Indonesia, dengan tujuannya untuk melakukan pelayanan jasa yang antara lain: a) melakukan pemasaran produk otomotif kepada masyarakat yang meminatinya. b) melakukan servis berkala bagi masyarakat pengguna kendaraan atau otomotif roda empat. Upaya pengembangan lokasi tersebut merupakan model kebijakan untuk mengimbangi kuantitas dan kualitas produksi otomotif PT ISI. Maindealer dan bengkel resmi agar dapat berjalan sesuai dengan fungsinya, maka perlu ditunjang tenaga mekanik dan instruktur yang memiliki kompetensi dibidang otomotif yang memadai. Setiap diadakan perekrutan tenaga instruktur dan tenaga mekanik, dilakukan psikotes atau tes bakat mekanik dan tes kompetensi sesuai dengan standar industri otomotif, dengan diperolehnya tenaga kerja yang memiliki kompetensi yang sesuai harapan industri otomotif. Setelah terekrut tenaga mekanik dan tenaga intruktur diklat dilingkungan produk industri otomotif PT Indomobil Suzuki Internasional (PT. ISI), sebelum melakukan job pekerjaan servis berkala di Industri Otomotif, terlebih dahulu menjalani diklat yang dibina oleh instruktur diklat di Trainning Centre, yang berasal dari lulusan S1 bidang keahlian Pendidikan Teknik Otomotif Untuk menjembatani hal tersebut, di dalam Pengembangan Jangka Panjang Perguruan Tinggi (PJPT) atau Helts 20032010 amanah dari Dirjen Dikti, maka Universitas Negeri Malang (UM) menetapkan visi, misi dan tujuan pengembangan pendidikan yang tertuang dalam Statuta. Perguruan Tinggi yang unggul dan menjadi rujukan, yaitu salah satunya adalah menyelenggarakan pendidikan tinggi dengan tujuan untuk memproduksi atau menghasilkan tenaga kependidikan dan tenaga profesional yang siap pakai yang diperuntukan di lembaga-lembaga pendidikan maupun siap pakai di industri/perusahaan. Sedangkan tujuan Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif, adalah menghasilkan lulusan sarjana (S1) yang memiliki kompetensi dan kewenangan sebagai guru pemula pada sekolah menengah kejuruan otomotif dan instruktur pada lembaga pelatihan kejuruan teknik otomotif lainnya.Upaya meningkatkan kompetensi lulusan mahasiswa tersebut, diwajibkan pula untuk menempuh mata kuliah praktik industri bidang keahlian otomotif dengan harapan, agar kompetensi lulusan yang dimiliki mahasiswa sesuai harapan industri. Permasalahan yang timbul dapat dirumuskan sebagai berikut : 1) Bagaimana bakat mekanik (BK) mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif FT UM?, 2) Bagaimana prestasi belajar Praktikum Otomotif (PO) yang mencakup (PL, PM, CH) mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif FT UM?, 3) Bagaimana prestasi Praktik Industri (PI) mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif FT UM?, 4) Bagaimana Hasil uji Kompetensi Servis berkala Otomotif roda empat sesuai Standart Industri Otomotif (SB), 5)Apakah ada hubungan dan variabel mana yang paling dominan antara Bakat Mekanik (BK), prestasi Praktikum Otomotif (PO) dengan cakupan ( PL, PM, CH,) (dan Praktik Industri (PI)dengan Hasil uji Kompetensi Servis berkala Otomotif roda empat sesuai Standar Industri Otomotif (SB) mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif FT UM?. Subyek penelitian seluruh mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif berjumlah 41 mahasiswa, dan data penelitian mahasiswa diperoleh antara lain: Skor nilai Bakat mekanik diperoleh melalui tes, skor nilai Prestasi Praktikum Otomotif, Prestasi Praktik Industri diperoleh melalui data dokumen, skor hasil uji kompetensi servis berkala diperoleh melalui tes visual. Kemudian skor nilai dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk memperoleh gambaran dari variabel (BK, PL, PO, CH) dan variabel PI, variabel SB. Kemudian dilanjutkan skor nilai dari 6(enam), variabel dianalisis menggunakan path analisys dengan metode LISREL untuk memprediksi dan menelaah keeratan hubungan variabel eksogen dengan endogen, dan untuk memprediksi dan menelaah keeratan hubungan variabel edogen dengan endogen. Berdasarkan dari hasil analisis data penelitian, maka dapat diintepretasikan sebagai berikut: Skor nilai Bakat Mekanik dari hasil tes psikologi, dan Prestasi Praktikum Otomotif, serta Prestasi Praktik Industri maupun Hasil uji kompetensi Servis Berkala Otmotif roda empat mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif angkatan 2005, jika dikaitkan dengan patokan standar nilai Industri Otomotif, diperoleh wacana bahwa perekrutan tenaga instruktur Industri Otomotif roda empat yang dipersyaratkan masih belum memuaskan atau belum memenuhi harapan bagi Industri otomotif. Hal ini disebabkan masih ada sebagian mahasiswa skor nilai yang dimiliki dibawah patokan setandar nilai yang ditentukan PT. Indomobil Suzuki

88 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009

Internasional. Hubungan antara Bakat Mekanik, Prestasi Praktikum Otomotif dan Prestasi Praktik Industri yang mencakup antara lain : Faktor-faktor diantara variabel yang memiliki hubungan yang paling dominan di antara variabel eksogen dan variabel endogen dengan hasil uji kompetensi servis berkala otomotif roda empat, baik secara langsung maupun tidak langsung di jabarkan sebagai berikut: (a) Terdapat hubungan efektif antara Bakat Mekanik dengan Hasil Uji Kompetensi Servis Berkala Otomotif. (b) Terdapat hubungan efektif antara Prestasi Praktikum Mesin Otomotif dengan Hasil Uji Kompetensi Servis Berkala Otomotif. (c) Terdapat hubungan efektif antara Prestasi Praktik Industri dengan Hasil Uji Kompetensi Servis Berkala Otomotif. Disarankan: (a) Penerimaan mahasiswa baru sebagai persyaratan lulus di Jurusan teknik Mesin, Program Studi S1 Pendidikan Otomotif, diperlukan tes kompetensi dan tes khusus yaitu tes psikologi berupa bakat mekanik. (b) Perlunya peningkatan kompetensi para instruktur atau dosen sesuai dengan bidang keahlian otomotif, melalui diklat di Lembaga Diklat taraf nasional maupun internasional. (c) Perlunya pembenahan diskripsi kurikulum agar relevan dengan dunia produksi industri otomotif. (d) Perlunya peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana praktikum otomotif di Bengkel/Laboraturium Otomotif, agar lulusan dapat mengikuti perkembangan di era global. Penelitian ini perlu ditindaklanjuti karena masih terdapat sebagian permasalahan di bidang otomotif belum tergali. Kata kunci: bakat mekanik, prestasi praktikum otomotif, prestasi praktik industri, hasil uji servis berkala

Hubungan antara Kualitas Layanan Bursa Kerja Khusus dan Persepsi Alumni terhadap Layanan di SMK se-Kabupaten Kendal Jawa Tengah Setyo Raharjo Abstrak
Keberadaan BKK di sekolah kejuruan akan bertugas membantu sekolah dalam menginformasikan dan mempromosikan profil kemampuan yang dimiliki tamatan. Selain tu juga mencatat, mendata para alumni untuk selanjutnya memasarkan/menawarkan kepada industri untuk bisa mengisi pekerjaan sesuai dengan kesempatan yang ada. Keberhasilan sekolah kejuruan sering dikaitkan atau diukur dengan besarnya jumlah tamatan yang telah bekerja atau berwiraswasta. Maka kualitas BKK sangat menentukan untuk bisa menjalankan salah satu program sekolah. Tujuan penelitian ini adalah: untuk mengetahui kualitas layanan BKK di SMK se-Kabupaten Kendal, mengungkap ada tidaknya hubungan antara bimbingan kepada alumni dan persepsi alumni terhadap layanan, mengungkap ada tidaknya hubungan antara penawaran kepada pengguna tenaga kerja dan persepsi alumni terhadap layanan, mengungkap ada tidaknya hubungan antara administrasi pencari kerja/alumni dan persepsi alumni terhadap layanan, mengungkap ada tidaknya hubungan antara informasi lowongan kerja dan persepsi alumni terhadap layanan, mengungkap ada tidaknya hubungan antara kerjasama dengan pegguna tenaga kerja dan persepsi alumni terhadap layanan, mengungkap ada tidaknya hubungan antara bimbingan kepada alumni, penawaran kepada pengguna tenaga kerja, administrasi dan mendata pencari kerja/alumni, informasi/mencari lowongan kerja, kerjasama pegguna tenaga kerja, dan persepsi alumni terhadap layanan. Subyek penelitian diambil alumni tahun 2006/2007 pada SMK Teknologi dan Industri yang mempunyai BKK. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan penelitian deskriptif dengan teknik survey. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dengan mengacu pada skala Lickert. Tersedia jawaban sangat memuaskan, memuaskan, kurang memuaskan dan sangat kurang. Penentuan sampel dalam penelitian ini ada dua yaitu: sampel secara proporsi (Proporsional Sample) dan sampel purposive. Populasi dari penelitian ini sebesar 1.188 dan responden yang diambil adalah 181 alumni SMK se-Kabupaten Kendal. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan regresi linier ganda dengan bantuan SPSS 15 for window. Hasil analisis data dapat mengungkap: 1) sumbangan pengaruh variabel bimbingan (X1), penawaran ke industri (X2), administrasi dan mendaftar/data (X3), informasi lowongan (X4) dan kerjasama industri (X5), terhadap variabel persepsi alumni (Y) sebesar 38.3%. 2) analisis regresi linier ganda menunjukan hubungan positif dan signifikan antara (X1, X2, X3, X4, X5,) secara bersama-sama dengan (Y) yaitu: nilai F hitung > F tabel (21.719 > 2.151). Hasil penelitian terungkap bahwa bimbingan p=0.043, penawaran p=0.034, administrasi dan mendata p=0.006, signifikansi informasi p=0.000, signifikansi kerjasama industri p=0.007. Berdasarkan hasil penelitian; 1) Pengelola BKK di SMK se-Kabupaten Kendal hendaknya selalu meningkatkan kualitas bimbingan kepada alumni ataupun calon alumni. 2) Pengelola BKK di SMK seKabupaten Kendal hendaknya selalu meningkatkan kuantitas dan kualitas penawaran kepada pengguna

Program Studi S2 PKJ 89

tenaga kerja khususnya dunia industri, 3) Pengelola BKK di SMK se-Kabupaten Kendal hendaknya selalu meningkatkan administrasi sebagai pendukung kegiatan antar kerja, 4) Pengelola BKK di SMK seKabupaten Kendal hendaknya selalu meningkatkan kegiatan untuk mendapatkan informasi lowongan kerja dan menjalin kerja sama dengan industri maupun dengan pengelola tenaga kerja lainya, 5) Kualitas layanan bimbingan kepada alumni, penawaran kepada pengguna tenaga kerja, administrasi dan mendaftar/mendata pencari kerja/alumni, informasi dan mendata lowongan kesempatan kerja, kerjasama dengan penguna tenaga kerja, di BKK SMK se-Kabupaten Kendal, hendaknya menjadi perhatian bagi kepala sekolah dan Kantor Dinas terkait dalam penyelenggaraan kegiatan antar kerja. Kata kunci: kualitas layanan, BKK, persepsi alumni

Peningkatan Kecermatan Bekerja dalam Kompetensi Menggunakan Perkakas Tangan dengan Modul CD Pembelajaran pada Siswa Kelas X Mekanik Industri SMK Negeri I Singosari Shanty Sri Isnainingsih Abstrak
Penelitian ini bertujuan memperbaiki proses pembelajaran, yang dilaksanakan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas atau PTK (Classroom Action Research atau CAR), pelaksanaannya dilakukan pada 3 sub kompetensi antara lain sub kompetensi penandaan, sub kompetensi penggergajian dan sub kompetensi pengikiran dan masing-masing terdiri dari tiga ranah yang diteliti yaitu ranah afektif, ranah kognitif dan ranah psikomotorik. Pada penilaian hasil akhir dikatakan siswa sudah lulus atau kompeten apabila siswa mempunyai nilai 7,00 Penelitian ini dilaksanakan dengan tiga siklus, tiap siklus menggunakan benda kerja yang berbeda, siklus pertama menggunakan benda kerja balok segi empat, sedang siklus kedua dan ketiga menggunakan benda kerja profil U, tetapi berbeda bidang yang dikerjakan. Metode pembelajaran menggunakan modul CD pembelajaran yang dilengkapi dengan modul pendamping, jobsheet, dan instrumen penilaian, dengan perencanaan pembelajaran diawali pembuatan skenario pembelajaran, menyiapkan media pembelajaran, menyiapkan perangkat observasi siswa dan guru, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian. Siklus pertama masing-masing sub kompetensi, diawali dengan tahap penjelasan (secara umum dan pre tes), berikutnya tahap peragaaan (tayangan durasi penuh untuk sub kompetensi penandaan, penggergajian dan pengikiran), tahap komunikasi terjadi interaksi, dan tahap mencoba mengerjakan soal pos tes yang terdapat pada modul pendamping. Tahap bekerja, siswa yang kompeten pada kompetensi penandaan yaitu 9,09 %, kompetensi penggergajian yang kompeten 9,09%, dan kompetensi pengikiran yang kompeten pada bidang satu 9,09% dan pada bidang dua 3,03%. Hasil refleksi siklus pertama, kurang baik maka siklus yang berikutnya ditayangkan modul CD pembelajaran dengan bentuk potongan per sub kompetensi yang ditayangkan satu kali yaitu pada awal pembelajaran. Hasil pembelajaran pada siklus II yang kompeten adalah 93,94% pada sub kompetensi penandaan, sedang sub kompetensi penggergajian adalah 96,96%, dan sub kompetensi pengikiran sebesar 81,82% pada bidang satu, serta pada bidang dua sebesar18,18% Dilakukan pengamatan serta penilaian dengan perolehan hasil bahwa ditemukan nilai yang kurang kompeten, hasil refleksi pada siklus kedua ini masih rendah. Sehingga pada siklus ketiga tahap peragaan modul CD pembelajaran yang ditayangkan dengan modul potongan pada masing-masing sub kompetensi diperoleh hasil siswa yang kompeten pada sub kompetensi penandaan, penggergajian dan pengikiran bidang satu sudah 100%, sedangkan pada sub kompetensi pengikiran untuk bidang dua yang kompeten masih 96,97%. Bertitik tolak pada temuan ini, beberapa kesimpulan yang didapatkan yaitu: (1) adanya peningkatan nilai postes yang signifikan dibandingkan dengan nilai pretes, (2) peningkatan kecermatan dalam pemilihan dan penggunaan alat perkakas tangan, (3) peningkatan kecermatan dalam pemilihan dan penggunaan alat ukur, (4) peningkatan kecermatan dalam pelaksanaan K3, (5) peningkatan nilai pada semua sub kompetensi. Kata kunci: kecermatan bekerja, kompetensi menggunakan perkakas tangan, modul CD pembelajaran, Sekolah Menengah Kejuruan

90 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009

Pencitraan Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Trenggalek Sunarko Abstrak


Setiap akhir tahun ajaran para orang tua disibukkan oleh urusan persekolahan anak-anak mereka, yaitu masalah peralihan jenjang dari SD ke SLTP dan seterusnya ke SLTA. Sebuah keputusan yang harus ditentukan saat itu menyangkut masa depan anak. Secara umum harapan orang tua, bagaimana si anak dapat melanjutkan sekolah berstatus negeri yang bagus dengan tetap berpihak pada karir dan masa depan anakanak. Peralihan dari jenjang khususnya dari SLTP ke SLTA yang sudah mulai erat kaitannya dengan karir masa depan anak perlu penanganan secara serius, bukan hanya oleh orang tua, tetapi juga oleh seluruh masyarakat yang terlibat dengan masalah pendidikan lanjutan ini. Terkait dengan karir masa depan anak, maka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai lembaga yang menyiapkan tamatan yang siap bekerja dan berkarir adalah solusinya. Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1990 yang merumuskan bahwa pendidikan menengah kejuruan mengutamakan penyiapan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional. Peran SMK dalam mempersiapkan tenaga kerja yang terampil, mendidik anak-anak untuk mandiri, menurunkan angka pengangguran, mengurangi angka kejahatan dan meningkatkan pemasukan pajak untuk negara, maka perlu dilakukan analisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab. Seperti kinerja sekolah, keprofesionalan tenaga pendidik, program kahlian, sistem pendidikan dan pelatihan, serta kualitas produk. Pada gilirannya dapat dirancang program-program apakah yang perlu dilakukan untuk menata masa depan pendidikan kejuruan di Indonesia, program kerja yang realistis, terintegrasi, dan berkesinambungan. Dalam pemecahan masalah-masalah seperti ini diperlukan program terpadu yang didahului dengan pemulihan citra Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan diikuti program-program yang diarahkan untuk evaluasi diri secara menyeluruh, yang terkait dengan kelembagaan, keprofesionalan guru, program keahlian, sistem pendidikan dan pelatihan, serta produk dan jasa peserta didik (student project), sehingga diharapkan penyelenggaraan pendidikan/pembelajaran dapat berjalan sesuai harapan bersama. Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah peserta didik SMK kelas 3 di Kabupaten Trenggalek Tahun Pelajaran 2007/2008 sebanyak 1332 dan sampel sejumlah 267. Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah: (1) penyusunan instrumen berupa angket yang melalui tahap pengukuran validasi secara statistik sesuai jenis data yang digali, (2) menggali data dari sumber, yaitu populasi peserta didik dengan menggunakan angket yang telah disusun, (3) melakukan tabulasi, analisa data dan pemaknaan hasil analisa data. Hasil penelitian mengungkap fakta: (1) sebagian besar program responden (70,60%) berpersepsi bahwa struktur, visi misi, dan tujuan SMK sesuai dengan kebutuhan dan harapan peserta didik, mean (116,40), (2) sebagian besar responden (78,195%) berpersepsi bahwa keprofesionalan guru-guru di SMK sesuai dengan kebutuhan dan harapan peserta didik, mean (121,21), (3) sebagian besar responden (62,02%) berpersepsi bahwa tujuan program keahlian sesuai dengan kebutuhan peserta didik, mean (21,54), (4) pada umumnya responden (86,90%) berpersepsi bahwa sistem pendidikan dan pelatihan di SMK sesuai dengan harapan peserta didik, mean (41,29), (5) sebagian besar responden (72,04%) berpersepsi bahwa produk dan jasa di SMK sesuai dengan kebutuhan peserta didik, mean (36,02). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) dalam dunia pendidikan (persekolahan) yang berposisi sebagai produsen adalah pihak sekolah, yakni pihak yang memproduksi jasa layanan pendidikan yang diperlukan oleh konsumennya yaitu peserta didik, (2) penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas/bermutu tidak lepas dari bagaimana program sekolah direncanakan seefektif mungkin untuk diarahkan bagi usaha membuat seluruh peserta didik belajar, (3) efektifitas belajar bukan hanya menilai hasil belajar peserta didik, tetapi semua upaya yang menyebabkan anak belajar. Artinya, kualifikasi dan kinerja guru, staf sekolah, dan personil lainnya adalah indikator yang turut menentukan efektifitas belajar, (4) sebagian besar gugu-guru SMK di Kabupaten Trenggalek sudah memenuhi syarat kualifikasi pendidik ditinjau dari: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesi, (5) bidang kejuruan yang diberikan di SMK di Kabupaten Trenggalek masih belum memberikan kesesuaian dengan harapan peserta didik, ini berarti tujuan yang ingin dicapai program keahlian dapat dikatakan belum dicapai secara maksimal atau belum bisa memberikan kepuasan kepada peserta didik. Penyebab kegagalan ini terutama terletak pada layanan pembelajaran yang belum diterapkan secara maksimal dan sarana/ prasarana yang kurang memadai, (6) SMK di Kabupaten Trenggalek sudah menjalin kerjasama dengan DU/DI dengan baik, terbukti dengan adanya kesepakatan bersama dalam merencanakan program pembelajaran dasar kejuruan dan produktif untuk meningkatkan mutu tamatan. Tetapi pelaksanaan proses pembelajaran

Program Studi S2 PKJ 91

dasar kejuruan di SMK belum memenuhi harapan DU/DI, sehingga pada pelaksanaan praktik produktif di DU/DI, peserta didik tidak ditempatkan pada bidang-bidang kerja yang sesuai dengan bidang keahliannya. Terkait dengan layanan pembelajaran, maka beberapa saran kepada guru-guru di SMK adalah: (1) senantiasa meningkatkan kompetensinya melalui lembaga pelatihan maupun organisasi-organisasi pembelajar seperti MGPD atau organisasi lainnya untuk meningkatkan kualitas pembelarannya, (2) senantiasa mengembangkan kurikulum dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran, (3) senantiasa menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai metode pembelajaran mutakhir yang senantiasa diarahkan supaya peserta didik gemar dan betah belajar, pada akhirnya tercapai tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan, (4) senantiasa mengembangkan metode-metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik bidang keahlian dan peserta didik, (5) senantiasa berupaya untuk berpihak bagi masa depan peserta didik. Kata kunci: SMK, profesionalitas guru, program keahlian, sistem pendidikan dan pelatihan

Hubungan Pengalaman Diklat/Penataran, Pengalaman Kerja, dan Kemampuan Profesional dengan Kinerja Guru SMK di Kota Blitar Suryanto Abstrak
Diklat/penataran adalah sebuah kegiatan yang dilakukan secara sadar dan terencana sebagai usaha untuk meningkatkan mutu tenaga kependidikan (guru). Semakin sering seorang guru mengikuti diklat/ penataran, maka cenderung akan semakin meningkat kemampuannya. Pengalaman kerja berhubungan erat dengan tugas-tugas guru sebagai pendidik, pembimbing, pembina peserta didik, dan lamanya bekerja/masa kerja. Semakin sering guru mengikuti program diklat/penataran dan semakin berpengalaman dalam melaksanakan tugas sehari-hari, maka akan meningkatkan kemampuan profesionalnya. Kinerja akan tercapai dengan baik apabila aktivitas guru mencakup tiga aspek, yaitu: perilaku, efektivitas, dan hasil. Perilaku menunjukkan kegiatan-kegiatan dalam mencapai tujuan, efektivitas merupakan langkah-langkah dalam pertimbangan, dan hasil yang merupakan prestasi kerja organisasi yang menekankan proses pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan pengalaman diklat/penataran, pengalaman kerja, dan kemampuan profesional dengan kinerja guru SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) di Kota Blitar. Populasi sebanyak 341 orang. Sampel penelitian sebanyak 172 orang yang ditetapkan secara purposif proporsional random. Teknik analisis data menggunakan analisis korelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) variabel pengalaman diklat/penataran termasuk kategori baik. Pengalaman diklat/penataran memberikan pengaruh yang tinggi terhadap tugas-tugas guru, dan mampu mengubah perilaku guru dalam proses pembelajaran, (2) variabel pengalaman kerja pada umumnya cenderung baik. Pengalaman kerja memberikan pengaruh yang cukup tinggi terhadap tugas pokok guru sebagai pendidik, pembimbing, pembina, serta mampu meningkatkan kesungguhan dalam bekerja, (3) variabel kemampuan profesional pada umumnya termasuk kategori baik. Kemampuan profesional memberikan pengaruh yang tinggi terhadap kecakapan guru dalam melaksanakan tugas profesinya, (4) kinerja guru pada umumnya termasuk kategori baik. Kinerja guru memberikan pengaruh yang tinggi terhadap prestasi kerja, pencapaian kerja, unjuk kerja, penampilan kerja, dan hasil kerja yang berhubungan dengan tugas-tugas guru di sekolah, (5) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengalaman diklat/penataran dengan pengalaman kerja sebesar 0,160; dengan kekuatan hubungan yang lemah sekali, (6) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengalaman diklat/penataran dengan kemampuan profesional sebesar 0,404; dengan kekuatan hubungan yang sedang, (7) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengalaman kerja dengan kemampuan profesional sebesar 0,367; dengan kekuatan hubungan yang lemah, (8) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengalaman diklat/penataran dengan kinerja guru sebesar 0,485; dengan kekuatan hubungan yang sedang, (9) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengalaman kerja dengan kinerja guru sebesar 0,260; dengan kekuatan hubungan yang lemah, dan (10) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan profesional dengan kinerja guru sebesar 0,726; dengan kekuatan hubungan yang kuat. Saran yang diajukan dari penelitian ini adalah: (1) agar tetap diadakan kegiatan diklat/penataran yang dirancang dan diorganisir dengan baik sehingga mampu mengubah perilaku guru dalam proses pembelajaran, (2) agar guru SMK menambah pengalaman kerja dalam melaksanakan tugas kesehariannya dengan cara memberikan tugas tambahan seperti bimbingan penyuluhan, guru piket, jabatan pada struktur organisasi sekolah, bahkan perlu membangun hubungan dengan orang tua siswa dan masyarakat, (3) agar

92 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009

guru SMK berupaya lebih maksimal meningkatkan kemampuan profesionalnya, dengan cara memberikan pengaruh yang tinggi terhadap kecakapan yang dikuasai dalam melaksanakan tugas profesinya, (4) hendaknya guru SMK meningkatkan pengaruh yang tinggi terhadap prestasi kerja, pencapaian kerja, unjuk kerja, penampilan kerja, dan hasil kerja yang berhubungan dengan tugas-tugas guru di sekolah, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kinerja guru, dan hasil belajar siswa. Kata kunci: pengalaman diklat/penataran, pengalaman kerja, kemampuan profesional, kinerja guru

Pengaruh Penggunaan Media CD Interaktif Microsoft Access terhadap Hasil Belajar Kompetensi Mengoperasikan Perangkat Lunak Basis Data di SMK Negeri 4 Malang Taufik Priolaksono Abstrak
Pendekatan mengajar yang efektif dan efisien dalam pembelajaran praktik merupakan strategi untuk menghasilkan siswa yang kompeten. Media sebagai bagian penting dalam pembelajaran praktik sebaiknya sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan. Media CD interaktif Microsoft Access dapat dikategorikan media yang sesuai, efektif dan mudah untuk memahami pembelajaran kompetensi mengoperasikan perangkat lunak basis data. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) hasil belajar siswa pada kompetensi mengoperasikan perangkat lunak basis data yang diajarkan dengan menggunakan CD interaktif Microsoft Access, 2) hasil belajar siswa pada kompetensi mengoperasikan perangkat lunak basis data yang diajarkan dengan metode konvensional, 3) pengaruh penggunaan media CD interaktif Microsoft Access dan metode konvensional terhadap hasil belajar siswa pada kompetensi mengoperasikan perangkat lunak basis data. Penelitian ini menggunakan disain quasi experimental, dengan subyek penelitian pada Program Keahlian Persiapan Grafika (PsG) yaitu kelas X PsG-4 yang berjumlah 42 siswa sebagai kelas eksperimen yang diajarkan dengan media CD interaktif Microsoft Access dan kelas X PsG-5 yang berjumlah 42 siswa sebagai kelas kontrol yang diajarkan menggunakan metode konvensional. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan prates dan pascates pada tes pengetahuan dan tes keterampilan yang telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil analisis data menunjukkan bahwa; 1) kompetensi mengoperasikan perang-kat lunak basis data yang diajarkan menggunakan media CD interaktif Microsoft Access menghasilkan nilai rerata pascates pengetahuan 75,18 dan untuk pascates keterampilan 77,29; 2) kompetensi mengoperasikan perangkat lunak basis data yang diajarkan menggunakan metode konvensional menghasilkan nilai rerata pascates pengetahuan 71,97 dan untuk pascates keterampilan 72,57; dan 3) terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan media CD interaktif Microsoft Access pada kompetensi mengoperasikan perangkat lunak basis data dengan taraf signifikansi ()=0,05. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru pengajar kompetensi mengoperasikan perangkat lunak basis data untuk mengembangkan dan menggunakan media CD interaktif Microsoft Access yang memenuhi karakteristik dalam kegiatan pembelajaran kompetensi mengoperasikan perangkat lunak basis data, sehingga siswa mampu menguasai kompetensi tersebut dengan baik. Media CD interaktif Microsoft Access sebagai media pembelajaran dapat dikembangkan secara lebih luas komprehensif. Kata kunci: kompetensi, media CD interaktif, hasil belajar

Pemenuhan Standar Sarana dan Prasarana Praktik Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Malang Raya Wahyu Andreas Abstrak
Peranan pemenuhan sarana dan prasarana turut menentukan kualitas dari proses belajar mengajar disekolah. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Cahyono (2005) yang menunjukkan bahwa sarana dan prasarana belajar berhubungan positif dengan prestasi belajar siswa. Dengan

Program Studi S2 PKJ 93

demikian pembinaan kemampuan guru dalam mengelola sarana dan prasarana memang diperlukan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah, namun dalam rangka itu pula di sekolah perlu adanya layanan profesional di bidang sarana dan prasarana (Gorton dalam Bafadal, 2004) Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pemenuhan standar kuantitas sarana praktik program keahlian TKJ, (2) mendeskripsikan pemenuhan standar kuantitas prasarana praktik program keahlian TKJ, (3) mendeskripsikan pemenuhan standar kualitas prasarana praktik program keahlian TKJ di SMK se-Malang Raya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Subyek dalam penelitian ini adalah 19 SMK yang mempunyai program keahlian TKJ se-Malang Raya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ada tiga jenis, yaitu kuesioner pemenuhan pemenuhan standar kuantitas sarana, kuesioner pemenuhan standar kuantitas prasarana dan angket pemenuhan standar kualitas prasarana praktik program keahlian TKJ. Hasil penelitian ini adalah : 1) secara umum, program keahlian TKJ kurang memenuhi standar kuantitas sarana praktik program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. 2) secara umum, program keahlian TKJ kurang memenuhi standar kuantitas prasarana praktik program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. 3) secara umum, program keahlian TKJ memenuhi standar kualitas prasarana praktik program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan agar: 1) dapat menjadi pertimbangan bagi kepala dinas pendidikan se- Malang Raya dalam penentuan kebijakan pada penambahan sarana dan prasarana praktik. 2) pihak sekolah melakukan usaha untuk meningkatkan pemenuhan standar sarana dan prasarana praktik program keahlian TKJ. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain dengan cara melakukan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri. Pihak sekolah perlu membuka kesempatan kepada pihak orang tua siswa yang berkeinginan untuk mengambil peranan dalam rangka pemenuhan standar sarana dan prasarana praktik ini. Selain itu pihak sekolah juga perlu mengefektifkan peranan manajemen sekolah untuk peningkatan fasilitas melalui efisiensi pembiayaan. 3) dilakukan penelitian lanjut yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemenuhan standar sarana dan prasarana praktik terhadap pencampaian kompetensi siswa. Kata kunci: sarana dan prasarana praktik, pemenuhan

Pemanfaatan EFI (Electronic Fuel Injection) Trainer dan Scan Tool dalam Pembelajaran Sistem Injeksi Bensin Pada SMK Program Keahlian Teknik Mekanik Otomotif SeEx Karesidenan Besuki Yon Ansori Abstrak
Sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai lembaga yang bertujuan men-cetak tenaga kerja tingkat menengah lebih banyak mentransfer keterampilan kepa-da siswa. Untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu diperhatikan beberapa hal antara lain: 1) mutu lulusan SMK yang sesuai dengan kompetensi yang dituntut oleh pasar kerja (DU/DI), 2) Standar Kompetensi Nasional Indonesia (SKNI), ser-ta 3) kebutuhan pembekalan kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan IPTEK. Perkembangan teknologi, khususnya bidang otomotif yang akhir-akhir ini begitu pesat adalah berkembangnya teknologi sistem injeksi motor bensin dengan kontrol elektronik atau yang dikenal dengan istilah EFI System. Perkembangan teknologi EFI ini bagi siswa SMK harus diketahui, dipahami, dan dikuasai. Agar siswa dapat memperoleh pengalaman langsung, untuk itu diperlukan media pembelajaran yang dapat mewakili benda sebenarnya, yaitu EFI trainer dan scan tool. Untuk mengungkap dan mendeskripsikan EFI Trainer dan Scan Tool (ditinjau dari ketersediaan, penggunaan, dan kendalanya) dalam pembelajaran Sistem Injeksi Bensin pada SMK program keahlian Teknik Mekanik Otomotif Se-Ex Karesidenan Besuki, maka penelitian ini mempunyai rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah ketersediaan EFI Trainer pada SMK program keahlian Teknik Mekanik Otomotif?, 2) Bagaimanakah ketersediaan Scan Tool pada SMK program keahlian Teknik Mekanik Otomotif?, 3) Bagaimanakah penggunaan EFI Trainer dalam pembelajaran Sistem Injeksi Bensin pada SMK program keahlian Teknik Mekanik Otomotif?, 4) Bagaimanakah penggunaan Scan Tool dalam pembelajaran Sistem Injeksi Bensin pada SMK program keahlian Teknik Mekanik Otomotif?, dan 5) Apa sajakah kendala yang ada dalam penggunaan EFI Trainer dan Scan Tool dalam pembelajaran Sistem Injeksi Bensin pada SMK program keahlian Teknik Mekanik Otomotif?

94 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009

Untuk menjawab permasalahan di atas, penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian deskriptif dan dilakukan pada SMK program keahlian Tek-nik Mekanik Otomotif Se-Ex Karesidenan Besuki. Ada 16 SMK dengan 16 guru dan 468 siswa yang dijadikan sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling acak secara proporsional (proportional random sampling). Penelitian ini menggunakan lembar observasi dan angket untuk pe-ngumpulan datanya. Dari hasil penelitian dapat diungkapkan bahwa: 1) Ketersediaan EFI trai-ner di SMK Se-Ex Karesidenan Besuki masih kurang memadahi, 2) Ketersediaan scan tool di SMK Se-Ex Karesidenan Besuki masih sangat kurang memadahi, 3) Sebagian besar guru hanya menggunakannya sebagai alat bantu/peraga, 4) Pada umumnya guru maupun siswa menggunakan scan tool sebagai alat untuk mendi-agnosis kerusakan (trouble shooting) yang terjadi pada EFI system, dan 5) Pada umumnya, kendala penggunaan EFI trainer dan scan tool dalam pembelajaran Sistem Injeksi Bensin adalah dikarenakan keterbatasan atau jumlah alat yang tidak memadahi. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini, maka ada beberapa saran yang da-pat disampaikan, yaitu: 1) Bagi Pimpinan Direktorat Pembinaan SMK Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan penentuan kebijakan dalam program pengembangan SMK khususnya di ex karesidenan Besuki ditekankan pada penambahan sarana praktek khususnya Scan tool dan EFI trainer. 2) Bagi Peme-rintah Daerah Tingkat II di Wilayah Ex-Karesidenan dari hasil penelitian dida-patkan kekurangan alat dan terlalu tinggi perbandingan jumlah alat dengan jumlah siswa pada program keahlian Mekanik Otomotif. Dengan demikian perlu dukungan Pemerintan Daerah dalam rangka pengadaan sendiri ataupun saring dengan Pemerintah Pusat. 3) Bagi Kepala Sekolah, diharapkan ada langkah-langkah kongkrit mencukupi kebutuhan media khususnya untuk pengadaan EFI trainer dan scan tool. Hal ini dilakukan agar ketersediaan EFI trainer dan scan tool dalam pembelajaran. 4) Bagi peneliti lain perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan EFI trainer dan scan tool dan kemampuan awal siswa terhadap pencapaian kompetensi mata diklat Sistem Injeksi Bensin. 5) Bagi peneliti hasil penelitian ini merupakan bahan inspirasi untuk lebih meningkatkan inovasi model pembelajaran sebagai pengganti keter-batasan peralatan, sehingga tujuan pencapaian kompetensi sistem injeksi bahan bakar bensin tetap tercapai. Kata kunci: pemanfaatan, EFI trainer dan scan tool, pembelajaran sistem injeksi bensin, teknik mekanik otomotif

Anda mungkin juga menyukai