Anda di halaman 1dari 3

Bersama ini kami informasikan sekilas mengikuti Workshop Manajemen Risiko bagi Officers dengan tema Implementation of Risk

and Business Continuity Management at Central Banks di Hotel Hilton Bandung pada tanggal 18-19 Mei 2010. Workshop selama dua hari tsb diselenggarakan oleh Dir Prencanaan Strategis dan Humas (DPSHM) tersebut dibawakan oleh dua pembicara dari luar yi : Pak Dr. Thomas Goswin dari Deutsche Bundes Bank, Beliau lahir di Hagen th 1964 pernah dinas di kemiliteran, ahli ekonomi bisnis pembangunan timur jauh (China, Taiwan, HK, Korea) dari CV-nya Dr. Thomas Goswin juga pernah bekerja sbg ahli kimia di sebuah perusahaan industri di Jerman. Pak Lindsay Boulton dari Reserve Bank of Australia Adalah Head of Risk Management di RBA, sudah berkarir selama 26 tahun disana sebelum menjabat sbg Risk Manager bliau menjabat sebagai Senior manager operasi pasar di RBA . Peserta workshop sebanyak 77 orang Terdiri dari seluruh Satker di BI (Perbankan, Moneter, dan MI) termasuk beberapa peserta dari KBI (Batam, Palembang, Surabaya, Semarang) Workshop tersebut terutama membahas dan sharing terkait penerapan Risk Manajemen dan Business Continuity Management yang dibagi dalam dua bagian Bagian pertama (tgl.18 Mei) Issue terkini dan overview Operational Risk Management (ORM) dari kedua negara (Australia Jerman) Pak Lindsay Boulton menyampaikan walaupun RM bank sentral dipandang masih relatif baru namun stake holder mengharapkan agar bank sentral lebih bersih, transparan dan bertanggung jawab bermuara pada terjaganya reputasi Bank Sentral. Hal tersebut dapat dicapai melalui tiga hal utama yaitu - SDM yang akuntabel - Bertindak dan berpikir secara bersih, patuh dan menerapkan Risk manajemen sebagai aktivitas utama sebagaimana pada Enterprise Risk Management (ERM),. - Pemanfaatan kemajuan teknologi Pada bagian ini disampaikan pula oleh pak Thomas (Deutsche Bundesbank) bahwa Risiko Kredit, Risiko Pasar, Risiko Operasi dan Risiko Bisnis harus dilihat secara utuh sehingga dapat diperoleh satu gambaran akan keterkaitan satu dan lainnya, beberapa bank di Jerman setiap bank mempunya profil risiko masing-2. untuk itu ERM ini diperlukan oleh bank dengan berbagai alasan terutama : 1. 2. 3. Sistem keuangan sangat kompleks Risiko keuangan mengandung risiko yg tidak terlihat dan sulit diduga sehingga kondisi bank dari luar terlihat baik-baik saja. Pasar uang berubah sangat cepat dan tidak ada hal yang pasti

oleh Pak Thomas disampaikan pula mengenai jenis2 risiko yang umum/traditional risk (credit, market, operational,business dsb) dan perbedaannya antara Traditioanl Risk Mgt

dengan Enterprise Risk Mgt yaitu utamanya terletak pada keterkaitannya dengan strategi bisnis, kebijakan RM bank dan empat bagian yang harus menagani RM tersebut. Yaitu Risk Controlling (Rc) menangani Market Risk, Controlling Department (C35) mengantisipasi/menagani perlindungan terhadap bencana termasuk terorisme, ITDepartment (IT-91) menagani keamanan IT, pemeliharaan firewall, evaluasi informasi dsb. Selanjutnya belakangan dibentuk departemen Controlling Methodology (C3) bertugas mengembangkan prosedur Risk Manajemen Bagian Kedua (tgl.19 Mei 2010) Business Continuity Management (BCM) Policy and Framework di dua negara (Australia Jerman) RBA mengatur sumber daya manusia maupun peralatan untuk meyakinkan hal-hal penting dalam usaha (misalnya database) dapat berfungsi dalam waktu singkat pada saat terjadinya gangguan baik internal maupun eksternal . BCM sebagai bagian yang terintegrasi dengan platform risk manajemen bank. BCM menyangkut Penilaian risiko usaha, Analisa dampak gangguan thd usaha, Perencanaan kelangsungan usaha serta evaluasi dan assessment terhadap kelangsungan usaha secara teratur. Cycle BCM di RBA secara umum menyangkut Perencanaan BCM Testing thd BCM Analisa risiko Penilaian akibat terhadap usaha sementara kegiatan yg dilakukan adl Monitoring, Review, Pemeliharaan dan Peningkatan fungsi. Lebih lanjut RBA telah melakukan antisipasi terhadap kemungkinan paling buruk terhadap gangguan usaha dikantor pusat dimana semua pusat fungsi bisnis mengalami gangguan bahkan rusak atau tidak berfungsi dengan mempersiapkan lokasi khusus yang dipilih secara cermat dengan memperhatikan geografis, ketersediaan infrastruktur lengkap, power supply, jaringan fiber optic, komunikasi dilokasi bebas banjir dan jauh dari kegiatan yang ber-risiko diluar Sydney CBD. Lokasi tersebut disebut sebagai Business Resumption Site (BRS) yang siap dioperasikan laksana kantor pusat apabila kantor pusat yang sebenarnya tidak berfungsi/rusak. Deutsche Bundesbank lebih memilih 9 kantor regionalnya sebagai (BRS) dengan melengkapi sembilan kantornya dengan infrastruktur dan backup data (mirroring) sama dengan kantor pusatnya di Frankfurt. Informasi tentang workshop RM-BCM ini kemungkinan tdk runtut dan jauh dari lengkap utk itu apabila diperlukan detil materi workshop mohon langsung menuju TKP (soft copy materi Workshop RM-BCM terlampir) Dalam pidato penutupannya Ibu Dyah Nastiti menyampaikan bahwa diharapkan dari Workshop ini kedepan paling tidak membentuk kesamaan persepsi tentang pentingnya

Disaster Recovery Plan (DRP), perlunya Business Continuity Management (BCM), dan perlu adanya Business Resumption Site (BRS) sebagaimana dikemukakan oleh kedua pakar Risk Manajemen dari DBB dan RBA (Mr.Thomas Goswin dan Mr. Lindsay Boulton), selanjutnya mengingat pentingnya hals tersebut diatas maka pelatihan/workshop akan dilaksanakan secara berkesinambungan pada seluruh Risk Officers yang telah ditunjuk dengan topik bahasan yang berbeda. Demikian, atas kesempatan yg diberikan utk mengikuti workshop tsb kami ucapkan banyak-banyak terimakasih, on.