Anda di halaman 1dari 19

Beban Anggunan bagi UMK

Oleh M.Rawa El Amady Seorang pimpinan cabang sebuah bank pemerintah dengan seriusnya menyakinkan saya bahwa usaha-usaha yang tidak bankable tidak bisa akses untuk meminjam kepada bank. Menurutnya, untuk meminjam ke bank harus memenuhi standar yang telah ditetapkan, karena uang tersebut juga merupakan uang nasabah. Jika melanggar aturan maka pihak perbankan akan berhadapan dengan Bank Indonesia sebagai regulator perbankan. Menurut dia lagi, adalah tangung jawab pemerintah untuk menyehatkan usaha mikro dan kecil tersebut hingga layak bank. Untuk pemerintah perlu sekali menyediakan pendampingan, penyediaan pinjaman lunak guna menghantar usaha mikro dan kecil ini hingga layak bank. Tugas-tugas seperti itu tidak bisa diserahkan pemerintah ke perbankan karena perbankan bukan badan sosial tetapi badan bisnis yang mempunyai target yang harus di capai. Jika mendengar saran dari teman pimpinan bank tersebut, ini berarti usaha mikro dan kecil yang belum bankable menjadi tangung jawab pemerintah. Hanya masalahnya ke dinas mana dan bandan mana usaha mikro ini harus diminta pertangungjawababnnya? Atau berharap ke dinas mana yang mau menyentuhnya? Kalau dipelajari dari mata anggran di APBD maka setidaknya terdapat 15 dinas dan badan provinsi Riau ditambah dinas/badan di kabupaten/kota, perbankan, BUMN, swasta besar, NGO dan masyarakat sendiri. Tapi, toh mengapa setiap langkah kita berada ditengah masyarakat keluhan dana tersebut menjadi persoalan pertama usaha mikro dan kecil tersebut? Akhirnya mikro dan kecil yang tidak punya aggunan ini terjerat rentenir dengan bunga 40% perbulan. Apa yang hendak dikata hanya ini jalan yang ada. Padahal jasa usaha mikro dan kecil terhadap perekonomian nasional sangat besar. Betapa usaha mikro dan kecil mampu bertahan menghadapi goncangan krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997. Terbukti dimana serapan tenaga kerja ketika sebelum dan semasa krisis tidak banyak berubah, bahkan para pekerja yang diberhentikan karena perusahaan besar bangkrut justeru beralih keusaha mikro. Pengaruh krisis terhadap usaha mikro dan kecil lebih rendah dibanding dengan usaha menengah dan besar. Lebih jauh lagi, menurut laporan Lembaga Penelitian Smeru tahun 2003, bahwa usaha mikro dan usaha kecil telah berperan sebagai penyangga (buffer) dan katup pengaman (safety valve) dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, serta menyedikan alternatif lapangan pekerjaan bagi para pekerja sektor informal yang terkena dampak krisis. Walaupun ternyata mereka tidak layak bank. Pemerintah pusat sebenarnya telah melihat permasalahan ini bankabel usaha mikro dan kecil ini sejak lama. Oleh sebab itu pemerintah bekerja sama dengan Bank Indonesia membentuk Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) yang bertugas memfaslitasi usaha mikro dan kecil hingga layak bank. Toh ternyata KKMB masih terfokus kepada usaha yang belum layak bank tetapi mempunyai anggunan, lalu bagaimana nasib usaha mikro dan kecil yang bahkan layak bank ini tetapi tidak mempunyai anggunan? KKMB belum menyentuhnya! Hasil pengamatan Badan Advokasi Publik bahwa mayoritas usaha mikro

dan kecil yang ternyata sehat dan bankable sebenarnya tapi tidak mengembankan usahanya karena tidak mungkin akses modal karena tidak tersedia anggunan. Untuk membeli anggunan tidaklah mungkin, karena kalau harus membeli anggunan dari modal usaha dipunyai sudah pasti membuatnya bankrut. Tidak ada pilihan bagi pemerintah dan perbankan untuk melakukan langkah-langkah pemberdayaan khususnya bagi usaha mikro dan kecil yang tidak memiliki anggunan ini. Pihak perbankan sangat perlu meaktualisasikan tangung jawab sosial perbankan, yaitu melakukan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat secara sistematis kepada usaha mikro dan kecil ini sebab mereka ini sangat potensial. Pihak perbankan juga perlu mengisiasi kerja sama dengan pihak pemerintah khususnya dinas-dinas dan lembaga penjaminan kridit pemerintah provinsi Riau. Misalnya membangun kelompok-kelompok usaha mikro dengan sistem penjaminan kelompok, atau membangunan koperasi sebagaimana dimana koperasi sebagai penjaminan uang perbankan. Ini penting agar pasar potensial tersebut tidak lari ke rentenir yang justeru berpotensi menjadikan usaha mikro dan kecil tersebut mati. Nah kapan lagi, mulailah dari sekarang dan tidak menunggu orang lain berbuat baru kita mencontoh, ada baiknya kita yang menjadi contoh bagi orang lain!! (rw)
DIPOSKAN OL

UPA YA USAHA KECIL MENENGAH INDONESIA BEROLEH KREDIT PERBANKAN: HUKUM, PRAKTEK DAN MASALAHNY A Harimurti Wulandari Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila Abstract: Though factuality the medium and small business enterprise in Indonesia were able manaRed out of devastating monetary crises. the collateral loan obligation obstacle made them reformed sluggishly. The materialistic collateral loan alteration hopefulz}!.founded alternatively arranged as in other immaterialistic collateral as long as those forms are uncontradictory with the collateral loan bylaws in Indonesia. The guarantee cooperative institution should be developed and operated actively to help medium and small business in Indonesia improving their progress. Key Words: Loan. collateral. cooperative guarantor. Usaha Kecil Menengah (UKM) mampu bertahan dari tekanan krisis moneter tahun 1997, bahkan mampu bereaksi menggerakan roda perekonomian nasional sementara International Monetery Fund (lMF) dipercaya dapat membantu proses penyehatan perekonomian Indonesia 'terkantuk-kantuk' operasinya. Koperasi sebagai bagian dari UKM mampu memberikan kontribusinya pada pemulihan perekonomian Indonesia selama krisis moneter, disaat sebagian besar perusahaan multi corporation maupun perbankan Indonesia swasta maupun pemerintah diterpa kredit macet sehingga dirawat, disehatkan oleh bantuan lembaga Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan upaya pengambilalihan aset perusahaan oleh Perusahaan PengeloIa Aset Negara (PPAN), koperasi sebagai cerminan UKM justru mampu menunjukkan

ketahanannya terhadap guncangan kondisi perekonomian maha hebat dan berhasil membantu menyehatkan keterpurukan perekonomian negara. HasH survei Biro Pusat Statistik mengenai indikator makro ekonomi UKM menggambarkan kineIja perekonomian Indonesia lambat laun berubah semakin membaik, UKM mengalami kenaikan unit usaha, ditahun 1997 beIjumlah 39.765.110 unit usaha, menjadi 41.362.315 unit ditahun 2002, sementara usaha besar bersifat korporasi dan konglomerasi ditahun 1997 beIjumlah 2097 unit cuma bergeser menjadi 2.198 unit ditahun 2002. Kontribusi http://www.univpancasila.ac.id 7/22lIarimurli. PeroleJwll MediI Perhankan. Hllklll1l.Praklek dan Masalahnya 162 UKM terhadap Produk Oomestik Bruto (POB) sebesar Rp 909.785 milyar lebih besar dari kontribusi usaha skala besar hanya Rp 700.225 milyar. Namun demikian kelemahan UKM adalah kurang mampu mengakses sumber-sumber permodalan lembaga keuangan bank maupun non bank karena tidak dapat menyesuaikan diri memenuhi persyaratan peminjaman perkreditan sehingga sering mengalami kesulitan keuangan dan kurang mampu bersaing ketat di pasat. - _ Keberadaan jaminan merupakan persyaratan pokok pemberian kredit tersulit dipenuhi oleh UKM, untuk mengatasi hal tersebut diperlukan sebuah organisasi koperasi mewadahi UKM anggotanya bertindak sebagai penjamin dalam rangka pemberian kredit pcrbankan. Pcnjamin ini dalam sistem hukum Indonesia dikenal dengan nama lcmbaga Penanggungan Hutang atau Borgtoclu (pasal 1820 KUHP), disamping itu juga

diperlukan juga peran lembaga perbankan sebagai mitra keIja berkesediaan menerima koperasi sebagai 1(ltarantor dalam rangka upaya pemberian kredit bagi UKM tanpa meninggalkan prudential principle sebagaimana layaknya proses dan persyaratan pemberian kredit. KOPERASI GARANSI SEBAGAI PEN.JAMIN PENCAIRAN KREDIT UKM Pengusaha UKM herhimpun dalam wadah koperasi Indonesia sebagai em ekonomi kerakyatan (Mohammad Hatta). berupaya mengembangkan perekonomian berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Koperasi merupakan badan usaha beranggotakan orang-orang atau badan hukum eerminan gerakan ekonomi rakyat Indonesia bcrdasar asas kekeluargaan. Katcgori lembaga pelaku usaha secara hukum perdata terbagi dalam dua maeam pertama: Orang-perorangan sesuai dengan syarat-syarat tertentudalam KUH Perdata Indonesia. antara lain dewasa dan eakap bertindak, kedua: Kumpulan orangperorangan, antara lain dalam bentuk persekutuan perdata atau badan hukum. Pada awalnya timbul persoalan karena bentuk koperasi tidak dikenal dalam KUH Perdata Indonesia, sehingga belum dapat dimasukkan dalam kategori badan hukum dan tidak dikenal pula dalam prinsip-prinsip perbankan. Namun ditahun 1967, sejak diundangkannya UU Nomor 12 Tahun 1967 tentang Perkoperasian. koperasi dilegitimasi sebagai badan hukum dan dapat bertindak sebagai subyek hukum serta dapat melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu.

Status badan hukum koperasi tertera dalam UU Nomor 25 Tahoo 1992, Undangoodang pengganti UU Nomor 12 Tahoo 1967 mengenai perkoperasian. Pembentukan koperasi dilakukan dengan membuat akta pendirian bermuatan anggaran dasar oleh sekurang-kurangnya dua puluh orang berbentuk koperasi primer atau tiga koperasi (Pasal 6 dan 7); Status badan hukum koperasi diperoleh setelah disahkannya akta http://www.univpancasila.ac.id 7/22163 .lurnal Model .HwWj'lI/l!l1, I'olll, So::. 19ustu\ ~II().:/ pendirian koperasi oleh Pemerintah dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia oleh Kementrian Koperasi dan LiKM (rasal 9 dan 10). Mayoritas masyarakat lebih mengenal koperasi dalam bentuk koperasi simpan pinjam. Selama tahun 2002 Koperasi sudah menyaiurkan pinjaman pada para anggotanya sebesar Rp 652.56 milyar. untuk kepentingan terscbut koperasi mengeluarkan modal sendiri sebesar Rp 449.25 !}lilyar. Rasio pemberian pinjaman dengan modal sendiri merupakan fakta bahwa modal sendiri lebih ban yak dikeluarkan untuk keperluan usaha simpan pinjam. (An Overview (!l!ndon('s;an ('oofJs:5). Undang-undang mengamanatkan bahwa berbagai hentuk usaha dapat dilakukan oleh koperasi bukan hanya terkonsentrasi pada simpan pinjam s~ia dalam upaya mengembangkan kcscjahtcraan anggOlanya (Pasal 43 ayat I Undang-undang Perkoperasian, UU No 25 Tahun 1992). jadi usaha kopcrasi dapat disusun dalam berbagai macam bentuk sesuai dengan kebutuhan anggota. Kecukupan kepemilikan modal koperasi diharapkan mampu memhcrikan kontrihusi lebih besar bagi kesejahteraan anggotanya. memberikan kepastian pcmhcrian jaminan pad a lembaga perbankan agar bersedia memberi pinjaman pada anggota koperasi. menjadikan status

bad an hukum koperasi scbagai pcnjamin pemberiall kredit. dCllgan kata lain keberadaan lembaga 'koperasi garansi' perolehan kredit perhankall akan mcnguntungkan UKM memperoleh kredit perbankan. menggunakan garansi koperasi . .Iaminan kelembagaan tersebut sangat membantu pcngusaha UK.\.l mempermudah perokhan pilljaman perbankan dan menjamin pelunasan hutang terseksaibn tepat waktu. JAMINAN PEMBERIAN KREDIT MENURtT Ht:KliM INDONESIA Jaminan adalah suatu kewajiban debitor kcpada kn:ditor dalam berbagai bent uk untuk memberikan kepastian bahwa pemberian pinjaman dapat dilunasi sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Secara hukum pe~ianjian pengakuan hutang bersifat mengikat bagi pihak-pihak pelaku perikatan hutang. Beberapa sifat jaminan hutang piutang antara lain berciri: Kemudahan membantu perolehan kredit bagi debitur; memberi kedudukan mendahulukan pada pemcgangnya scsuai prinsip droit de preference; mengikuti Obyek yang dijaminkan sesuai prinsip droit de suite; berazas specialitas dan publikasi; tidak melemahkan potensi debitur untuk meneruskan usahanya; memberikan kepastian pad a kreditur kepastian kemudahan pencairan jaminan, pelunasan hutang debitor sebagai hak melekat pada kreditur. Kepastian ketersediaan jaminan merupakan persyaratan utama dengan berbagai kriteria bagi keterlaksanaan pemberian kredit perbankan kepada UKM, sementara itu faktor kepastian keberadaan jaminan merupakan persyaratan tersulit bagi UKM untuk memenuhinya. Bagi UKM jangankan memberi jaminan sesuai dengan kriteria http://www.univpancasila.ac.id 7/22Haril11uni. Pero!e11l.11lKredit Perhallkan. 1I1Ikllfll. Praktek dall Masa!u/zm'a 1()4 perbankan, kemampuan survive dalam aktifitas bisnisnya saja merupakan suat~

kelangkaan. Masalah tersebut telah menjadi hambatan selama beberapa dekade bagi UKM. sangat sulit bagi mereka memenangkan peluang usaha normal apalagi membayangkan kenaikan kemampuan klasifikasi bisnis elite sepcrti korporasi dar konglomerasi. scperti punguk merindukan bulan. Namun ironisnya usahawan elite, Indonesia berjumlah terbatas justru termasuk 'dirawat' dalam proye~ penyehatan. perekonomian pemerintah karena penyakit 'krismon', sementara golongan UKM namun relatif mampu menyumbangkan prestasi bisnisnya pada perekonomian ncgara. : Bantuan fa<;ilitas kredit bagi UKM telah dilaksanakan oleh hanyak lemhag~< kcuangan scpcrti pcmcrintah maupun oft' shore !oan, dan lehih bersifat "inderecl .facility" persentase perolehan kredit jenis terse but pada UKM masih sangat sedikit. bahkan bila pembiayaan kredit konsumen, fasilitas konsumtif credit card sangat beresiko tinggi dan mudah terserang virus "kredit macef'. Meskipun dalam prakteknya jarang dilaksanakan, namun Bank Indonesia sebagai regulator hisnis pcrhankan mengatur. memberi kesempatan pada debitor termasuk UKM memperolch kemlldahan fasilitas kredit dalam jumlah tertentu tanpa jaminan. Namun dalam instrllmcn hukllm proses pemberian jaminan mengatur bahwa seluruh harta benda debitor hcrgcrak maupun tetap, tersedia dan akan tersedia dikemudian hari, akan menjadi jaminan hutang debitor kepada kreditor (Pasal 1132 KUH Perdata). Jadi syarat ketersediaan .iaminan hutang pad a kreditor menjadi pasti, sehingga makin memperslllit UKrvl mengcmhangkan usahanya. sementara itu peranan mereka menopang perkemhangan perdwl10mian jll'-'lrU kbih nyata dan signifikan bila dibandingkan dengan peran para pengusaha besar.

Lembaga jaminan dapat dalam sistem hukum Indonesia dibedakan dalam jaminan perorangan dan jaminan kebendaan. Jaminan kchcndaan darat dipc~ianjikan antara kreditor dan debitor, juga dapat dipe~ianjikan antara kreditor dengan pihak kctiga: penjamin kewajiban debitor. Lembaga jaminan bersifat kebendaan antara lain: I.emhaga hak tanggungan, jaminan fidllsia, dan gadai. Jaminan bersifat kebendaan dianggap paling aman dimata perbankan karena dapat memberi kepastian pelunasan hutang. Bagi debitor beraset, rumah, mobil, emas, saham akan lebih dapat dinilai bankable dan lebih mudah beroleh kredit, namunjustru hal tersebut menjadi faktor tersulit hagi llKM untuk memenuhinya. sementara itu mereka sangat memerlukan bantuan kredit perhankan melalui direct facility. Lembaga laminan bersifat perorangan, menimbulkan hubungan Iangsung dengan perorangan tertentu, hanya ditujukan pada debitor tertentu, terhadap kekayaan debitor tertentu, dalam sistem hukum jaminan Indonesia disebut penanggung hutang, borgtocht atau personal guarante. Borgtocht bersifat menanggung hutang debitur, mengikatkan dirinya memenuhi kewajiban debitor dalam memenuhi kewajiban melunasi hutang (Pasal 1820 KUH Perdata Indonesia). Tiga kategori penanggung hutang antara lain: Personal guarantee, jika penanggung hutang adalah orang-perorangan; http://www.univpancasila.ac.id 7/22165 Jurnal Model Mallajemell, Valli, No 2. Agustus 2()()4 laminan perusahaan, jika penanggung hutang adalah badan hukum; Bank guarantee, jika

penanggung hutang adalah bank. Ciri-ciri perjanjian pemberian jaminan: Berupa perjanjian tambahan dari pembuatan perjanjian kredit oleh kreditur dan debitur; Berakhir atau berakhir dengan sendirinya bila perjanjian kredit antara kreditur dan debitur berakhir atau batal; Harus dinyatakan dengan tegas dalam perjanjian kredit antara kredttor dan debitor; Pemberian jaminan tidak boleh melebihi jumlah tercantum dalam perjanjian kredit; Penjamin mempunyai hak istimewa, namun hak istimewa tersebut berdasarkan Undangundang boleh dilepaskan; Pemberian jaminan dapat beralih kepada ahli warisnya atau yang mendapat hak daripadanya. PENUTUP Secara khusus dalaIlJ ini tinggal tergantung pada masalah kemauan dalam mengantisipasi kelangkaan ketersediaan penjaminan, sementara itu untuk keluar dari kemelut ekonomi Indonesia persoalan tersebut secara relatif menjadi faktor penentu. Bila hal tersebut menjadi kenyataan, maka peningkatan POB dan krisis perekonomian relatif mungkin dapat terpecahkan untuk sementara waktu. Kepemilikan kapasitas bisnis pengusaha UKM selama menghadapi .Krismon' perlu memperoleh perhatian, oleh karena itu kemudahan perolehan kredit perbankan perlu diwujudkan bagi mereka. utamanya dengan membebaskan persyaratan jaminan kebendaan dalam beroleh kredit, dan jaminan dapat dilakukan dalanl bentuk lain selama tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. Lembaga koperasi garansi dapat menjadi altematif pembantu UKM memperoleh kredit perbankan.

http://www.univpancasila.ac.id 7/22Harimurti,Perolehan Kredit Perbankan. Hukum, Praktek dan Masalahnya 166 Indonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Koperasi __ ~~_, Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha KeciI Satrio J., Hukum Jaminan, Hak-Hak Jamlnan Pribadi~Tentang Perjanjian Penanggungan dan Perikatan Tangg~ng Menanggung, Banduhg, Penerbit. PT. Citra Aditya Bakti, 1996. . . Subekti R., Jaminan-Jaminan untuk Pemlferian Kredit Menurut Hukum Indonesia~ Bandung, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, 1991. Anonim, Selayang Pandang Usaha Kecil, .A,fenengah dan Koperasi di Indonesia, .Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Jakarta, 2003. ____ ,.An Overview of Indonesia Coops, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Jakarta, 2002. http://www.univpancasila.ac.id 7/22

Oleh : Atep Afia Hidayat - Ketergantungan dunia usaha (sector riil) terhadap sektor perbankan tampaknya semakin tinggi. Usaha apapun, baik dalam bidang industri, perdagangan, jasa, konstruksi, pertambangan, pertanian, dan sebagainya amat tergantung pada pembiayaan dari bank. Berbagai proyek investasi dalam lingkup dan skala apapun sering menggunakan dana perbankan, yakni dalam bentuk kredit atau pinjaman. Sudah tentu berbagai usaha atau investasi tersebut harus memberikan keuntungan yang memadai, paling tidak dapat menutupi biaya produksi dan membayar pinjaman bank dan bunganya. Di sinilah manajemen berperan. Manajemen tak lain merupakan seni, mengupayakan agar berbagai faktor produksi dapat terintegrasi secara terpadu, hingga menghasilkan nilai tambah yang optimal. Nilai tambah tersebut bisa diukur dengan besarnya Return On Equity (ROE), yakni menggambarkan berapa besarnya keuntungan yang bisa diperoleh untuk setiap uang (rupiah/dolar) yang ditanamkan. Bank selaku kreditur atau pembiaya, cenderung hanya memilih perusahaan yang memiliki ROE yang cukup tinggi. Sebab, jika tingkat keuntungan usaha masih di bawah tingkat suku bunga deposito, bisa dikatakan bahwa usaha itu relatif kurang menguntungkan. Para pemilik modal akan berpikir-pikir dulu sebelum membeli saham perusahaan, sebab suku bunga deposito relatif lebih tinggi dari ROE. Demikian juga dengan perbankan, melalui analisis kredit akan mencoba mengukur, membandingkan dan memperhitungkan tingkat keuntungan (feasibility study) dari sebuah usaha.

Berdasarkan fakta di atas, sudah tentu tingkat suku bunga yang tinggi sebenarnya kurang dikehendaki oleh dunia usaha. Karena secara langsung menuntut tingkat ROE yang tinggi, berarti perusahaan harus benar-benar meningkatkan produktivitas dan efisiensinya. Sepanjang tingkat suku bunga itu masih logis, sebenarnya dunia usaha terkena dampak positif, yakni senantiasa meningkatkan produktivitasnya dan efisiensinya. Tetapi jika tingkat suku bunga itu sudah tak logis lagi, hanya akan menimbulkan kepenatan dan frustasi bagi para pengusaha. Nah, tingkat keuntungan usaha yang tinggi sebagai besar justru harus diserahkan pada bank untuk membayar utang ditambah bunga. Sedangkan kesempatan untuk menikmati hasil dan melakukan reinvestasi relatif kecil. Dengan kata lain, menjalankan usaha hanya untuk membayar suku bunga kredit yang menggunung. Sudah jelas, kondisi tersebut sama sekali tak menyehatkan iklim berusaha. Selain masalah suku bunga yang tinggi, hal lainnya yang menyebabkan terhambatnya dunia usaha ialah persoalan mengenai agunan. Terutama bagi usaha skala menengah ke bawah, agunan seolah menjadi bumerang. Sudah tentu, sebagian besar pelaku usaha kecil tidak memiliki agunan. Padahal, salah satu syarat utama untuk memperoleh kredit perbankan, yakni adanya barang yang dijaminkan (agunan), umpamanya sertifikat hak milik (tanah, bangunan, atau yang lainnya). Dengan adanya aturan mengenai agunan ini, usaha besar yang relatif memiliki modal yang kuat (cadangan agunanya besar), bisa menikmati kredit perbankan dengan mudah. Bahkan, untuk perusahaan-perusahaan yang dikenal bonafide, agunan seolah bukan menjadi persyaratan. Hal itu tak lain karena tingkat keuntungan usaha (ROE) yang cukup tinggi, hingga perbankan seolah tak khawatir dana yang disalurkan akan macet. Padahal, kredit macet terjadi dalam semua skala usaha, baik kecil, menengah, besar atau raksasa. Hanya sektor usaha yang benar-benar sehat saja yang mampu mengembalikan kredit sesuai jadwal. Jadi persoalannya, bagaimana agar sektor usaha benar-benar sehat. Dalam hal ini tidak selalu tergantung pada besar skala usaha. Usaha kecil yang sehat lebih berhak atas kredit perbankan daripada usaha besar yang sakit. Supaya agunan tidak lagi menjadi syarat mutlak, maka sangat diperlukan kepiawaian tenaga perbankan (analisis kredit) dalam menilai kelayakan usaha, yakni melalui proposal. Selain itu, diperlukan kecermatan dalam menilai siapa pelaku usahanya, apakah secara keseluruhan bisa dikatakan bonafide. Dalam hal ini, bonafide tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal atau agunan yang dimiliki, tetapi bagaimana kapasitas sumber daya atau potensinya.

Apakah memiliki prospek dan wawasan yang jelas dan konkret dalam dunia usaha, atau hanya sekedar mencoba-coba, tak begitu serius. Sekali lagi, dalam hal ini hendaknya pihak perbankan tidak bersikap apriori terhadap kemampuan pengusaha skala kecil. Perbankan merupakan lembaga keuangan yang berorientasi profit, senantiasa menghindari halhal yang akan menyebabkan terjadinya kredit macet. Bagaimanapun, perbankan bertanggungjawab langsung kepada para pemilik dana, terutama para nasabah, deposan atau masyarakat luas. Pada dasarnya antara sektor perbankan dan dunia usaha terjadi simbiosis mutualisme, simbiosis yang saling menguntungkan. Dunia usaha tumbuh dan berkembang tak lain karena kontribusi perbankan. Demikian pula sebaliknya, volume usaha bank membengkak, tak lain karena adanya aktivitas dunia usaha. Simbiosis itu bisa terus meluas dan makin berkembang, mencakup semua skala usaha, mengikutsertakan seluruh bank, baik bank yang kecil maupun besar, milik pemerintah atau swasta. Penyaluran kredit bisa benar-benar diefektifkan dan dioptimalkan. Sudah selayaknya, tidak ada lagi uang tidur, tetapi terus-meneus berputar mengongkosi sektor riil. Dalam hal ini, tentu saja dibutuhkan sistem manajemen perbankan dan dunia usaha yang benar-benar mantap dan stabil. Bukanlah hal itu pula yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional, yakni adanya sektor usaha yang terus menerus berkembang, yang tak terlepas dari peranan sektor perbankan. Kontribusinya, antara lain penyerapan tenaga kerja; penyediaan barang konsumsi dalam negeri, peningkatan ekspor, pajak bagi negara, dan sebagainya. (Atep Afia) Sumber Gambar: http://berryindo.net/wp-content/uploads/2011/05/KumpulanLogoBank-300245.jpg

Dukungan Financial Pengembangan Usaha Mikro kecil dan Menengah (UMKM) biasanya diiringi dengan kebutuhan modal. UMKM yang semakin berkembang, disebabkan karena semakin besarnya pula peluang usaha yang dapat diakses. Dalam kondisi tersebut biasanya UMKM tidak dapat mengembangkan usahanya lebih jauh lagi, karena kurangnya dukungan dana. Di sinilah pentingnya lembaga pemberi modal memainkan peranannya, sekaligus melalukan pendampingan. Sejumlah mekanisme dapat dilakukan sesuai dengan keragaman kondisi yang dihadapi UMKM berkaitan dengan akses finansial. Untuk pembiayaan usaha mikro biasanya memerlukan pengembangan lembaga keuangan mikro dan ketersediaan kredit yang dapat diakses mereka. Lembaga keuangan mikro bisa berbentuk bank atau non bank, termasuk koperasi. Bagi usaha pemula, pengembangan jejaring lokal usaha malaikat (Business Angels) dapat mengatasi sebagian masalah mereka. Lembaga jaminan kredit termasuk di tingkat lokal juga memadai untuk pasar lokal yang lebih kecil. Tujuan pengembangan lembaga jaminan kredit untuk menjamin keamanan pembiayaan UMKM, membantu UMKM mengatasi keterbatasan agunan, meningkatkan minat lembaga keuangan memberikan kredit kepada UMKM dan mendukung lembaga lain yang telah berusaha membantu UMKM, sebab selama ini perbankan tidak kondusif dalam memberikan pinjaman kredit, karena kredit yang mereka kucurkan selalu berdasarkan 5 C, yakni character, capacity, capital, condition of ecconomic, and collateral.

Akibatnya perbankan selalu menerapkan berbagai persyaratan jaminan keamanan kredit yang disalurkannya. Apalagi mereka juga sering kali tidak membedakan persyaratan kredit antara usaha mikro atau kecil dengan usaha besar. Karena itulah pemerintah mendukung peran serta lembaga keuangan lain seperti lembaga modal ventura sebagai alternatif solusi didalam pemberdayaan UMKM. Keunggulan modal ventura, modal ventura adalah pembiayaan yang berbentuk penyertaan modal, pola bagi hasil, dan obligasi konversi kepada UMKM dalam jangka waktu tertentu dengan karakteristik mempunyai tingkat resiko atau modal yang ditanamkan karena bertindak sebagai investor. Modal ventura merupakan investasi aktif, yakni jika dipandang perlu melibatkan diri dalam pengelolaan usaha UMKM investasi bersifat sementara dan mengharapkan hasil atas investasi yang ditanamkan. Dibandingkan dengan perbankan, lembaga modal ventura memiliki beberapa kelebihan didalam mendukung usaha mikro, kecil dan menengah antara lain: Pertama, lembaga modal venturamenyediakan modal seperti halnya perbankan, tetapi dengan syarat lebih sederhana dalam aspek formal maupun agunan karena lebih mengedepankan kelayakan usaha. Kedua, selain modal, pola ventura juga menyediakan pendampingan sesuai kebutuhan UMKM, sehingga dapat berjalan lebih efektif bagi kedua pihak. Pola pendampingan ini menjadi trdemark ventura. Pendampingan ini dapat berbentuk pembinaan atau Pelatihan, konsultasi, manajemen dan perluasan pasar bagi UMKM. Ini yang menyebabkan pola modal ventura berbeda dengan perbankan. Faktor lain yang mendukung lembaga modal ventura menjadi alternatif, adalah akses jaringan di seluruh Indonesia.

Modal Awal Pendanaan

Sejak tahun 2001, modal ventura telah menjadi mitra kementrian Koperasi dan UMKM untuk menggulirkan dana penguatan permodalan kepada usaha kecil, mengengah dan koperasi melalui program modal awal pendanaan (MAP). MAP ini merupakakan dana investasi untuk disalurkan kepada usaha kecil, menengah dan koperasi (UMKMK) melalui lembaga modal ventura untuk memulai atau mengembangkan bisnis UMKMK. Program MAP bertujuan melakukan pengembangan UMKMK terutama yang bernilai tambah tinggi, menstimulasi dan menggalang partisipasi berbagai pihak dalam pengembangan basis permodalan UMKMK, serta merangsang pengembangan permodalan jangka panjang bagi UMKMK melalui penyediaan dana investasi (matching fund), dengan mekanisme pengembalian pokok dana MAP oleh UMKMK dilakukan dengan diangsur atau sekaligus sesuai dengan jadwal investasi UMKMK yaitu maksimal 5 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Asmara, Anjal Anie. Pola Pemasaran Yang Efektif Untuk UKM. Makalah disampaikan pada Seminar UKM Strategi Pengembangan Usaha Kecil Menengah Dalam Rangka Menghadapi Persaingan Global, Yogyakarta, 2 Oktober 2004.

Bank Indonesia. Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia. 1995.

Chang, Willian. Rakyat Kecil di Tengah Instabilitas Sosial. Masyarakat Versus Negara. Kompas, Jakarta, 2002.

Chandra, Purdi E. Trik Bisnis Menuju Sukses. Yogyakarta, CV. Grafika Indah, 2004.

Ernawati. Upaya Meningkatkan Peran UMKMK. Warta Kemitraan Bagi Pengembangan Ekonomi Lokal (KPEL, Jakarta, Edisi Oktober Bappenas, UNDP, UN-HABITAT, 2002.

Endang, Sri Nuryani. Peran Pemerintah Dalam Pengembangan UKM Menghadapi Pasar Global. Makalah disampaikan pada Seminar UKM Strategi Pengembangan Usaha Kecil Menengah Dalam Rangka Menghadapi Persaingan Global, Yogyakarta, 2 Oktober 2004.

Fakih, Mansour. Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi. Yogyakarta, Insist Press, 2003.

Hasanullah. Peranan PPUK Bank Indonesia Dalam Pemberian KUK oleh Perbankan Di Indonesia. Jurnal Magister Manajemen. No. 26, Jakarta, Badan Penerbit IPWI, 1997.

Iqbal, Mohammad. M Simanjuntak, Krisni. Solusi Jitu Bagi Pengusaha Kecil Dan Menengah. Jakarta, PT. Elex Media Komputindo, 2004.

Ketetapan MPR Nomor XVI Tahun 1998 Tentang Politik Ekonomi DalamRangka Demokrasi Ekonomi.

Prawirosentono, Suryadi. Strategi Pengambilan Keputusan Bisnis. Jakarta , PT. Bumi Aksara, 2002.

Rangkuti, Freddy. Analisa SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. SUN, 2000.

Jakarta, PT.

Retnadi, Djoko. Menengok Kebijakan UMKM di Malaysia. Kompas. 16 Oktober 2004.

Sarosa, Pietra. Kiat Praktis Membuka Usaha. Jakarta, PT. Gramedia, 2004.

Toha, Mahmud. Indonesia Menapak Abad 21. Kajian Ekonomi Politik. Kumpulan Tulisan Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Millenium Publisher. 2000.

Jurnal Koperasi & UMKM, Tabloid kerjasama Bisnis Indonesia dengan kementrian Negara Koperasi dan UMKM, edisi VI/ Oktober 2008.