Anda di halaman 1dari 7

Oleh Kelompok II Atika Ratnasari (07) Bambang A (08) Chandra Pratama (09) Dhoni Siamsyah F (10) Dian Novita

A (11) Dwi Yoga Wardhana (12)

Pasal

daluwarsa adalah pasal-pasal dalam semua Kitab Hukum Indonesia yang berisi apabila seseorang melakukan suatu tindakan yang melanggar hukum tetapi pelaku tersebut tidak tertangkap oleh aparat hukum atau juga kasus hukumnya tak terselasaikan juga dalam kurun waktu tertentu yang telah tertera maka pelanggaran itu telah daluwarsa/basi sehingga dipeti es-kan.

Pasal daluwarsa muncul karena banyaknya kasus hukum yang tak terselesaikan oleh pengadilan, sehingga Negara memutuskan untuk menerbitkan pasal daluwarsa agar kasus-kasus hukum tidak menumpuk, karena semakin lama kasus-kasus hukum semakin berkembang dan semakin kompleks. Kompleksitas dalam hal ini sangatlah banyak penyebabnya, diantaranya, aparat susah menangkap pelaku kejahatan, kasus hukumnya sama-sama kuat atau sama-sama lemah, karena lewat waktu batas hukumnya dan masih banyak contoh lainnya yang menyebabkan suatu kasus hukum menjadi daluwarsa.

Yang dimaksud daluwarsa dalam bahasa awam adalah "gugatan atau penuntutan atau upaya hukum lainnya sudah basi atau tidak masuk akal". Dalam medan perdata, daluwarsa, terjadi jika lawan kita bisa menggugah hakim untuk melihat bahwa tuduhan kita sebenarnya aneh walaupun kita berhak menuntutnya. Dalam bahasa hukumnya, hakim diminta untuk menerapkan bukti "persangkaan" sebagai indikator daluwarsa. Berikut dua contoh untuk daluwarsa perdata:

1. Seseorang yang telah menggadaikan barang pakaian emas, yang setelah pemegang gadainya meninggal, tidak memenuhi panggilan berulang kali dari ahli waris untuk menghadiri pembagian harta warisan dan selama tujuh tahun diam saja, dianggap telah melepaskan haknya untuk menebus barang yang telah digadaikannya (Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 147 K/Sip/1955 tanggal 19-71955) 2. Para Penggugat-Terbanding yang telah selama 30 tahun lebih membiarkan tanah-tanah sengketa dikuasai oleh almarhum Ny. Ratiem dan kemudian oleh anak-anaknya, hak mereka sebagai ahli waris yang lain dari almarhum Atma untuk menuntut tanah tersebut telah sangat lewat waktu (rechtsverwerking) (Putusan Mahkamah Agung No. 408 K/Sip/1973 tanggal 9-12-1975)

BAGIAN 1 Lewat Waktu pada Umumnya (pasal 1946-1962) BAGIAN 2 Lewat Waktu Sebagai Suatu Sarana Hukum untuk Memperoleh Sesuatu (pasal 1963-1966) BAGIAN 3 Lewat Waktu Sebagai Suatu Alasan untuk Dibebaskan dari Suatu Kewajiban (pasal 1967-1977) BAGIAN 4 Sebab-sebab yang Mencegah Lewat Waktu (pasal 1978-1985) BAGIAN 5 Sebab-sebab yang Menangguhkan Lewat Waktu (pasal 1986-1992)

TERIMA KASIH