Anda di halaman 1dari 10

Penerapan Prinsip Syariah dalam Pelaksanaan Rekening Tunggal Pemerintah (Treasury Single Account )

Disusun Oleh :

DINIL ASYROFI (06) 2F Kebendaharaan Negara

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA Tahun 2011

I. Pendahuluan a. Latar Belakang Treasury Single Account sebagai salah satu bentuk pengelolaan kas negara telah menjadi isu yang hangat dibicarakan di dunia perbendaharaan Indonesia. Seiring pelaksanaan TSA tersebut, tidak semua bagian sistem tersebut telah sempurna tentu ada hal-hal yang perlu diperbaiki.ibarat menggunakan barang baru terkadang saat pertama kali mencoba masih terdapat kesalahan dalam menggunakannya . Begitu juga TSA, adanya sistem pemberian jasa giro/bunga atas penempatan uang negara di Bank Indonesia yang diberika n kepada pemerintah, dirasa perlu ada perbaikan.Untuk itu, kami mencoba memberikan alternatif penempatan uang tersebut ke sistem yang lebih baik. Alasan Pemilihan Tema Penulis ingin memberikan wacana baru sekaligus menyampaikan ide dan gagasan yang dimiliki untuk memperbaiki sistem Jasa Giro/bunga atas penempatan uang negara di Bank Indonesia dirubah menjadi berbasis Syariah dimana tidak mengenal bunga.Penulis mencoba memberikan solusi keuntungan yang tidak kalah dari pemberian Jasa Giro tersebut .

b. Proposisi

Treasury Single Account (TSA) adalah sebuah rekening atau sekumpulan rekening
yang berhubungan dimana pemerintah menggunakannya dalam melakukan pembayaran atas tagihan -tagihannya.(Rahmadi Murwanto, 2006 p. 76) . Salah satu tujuan pelaksanaan TSA ini adalah meminimal isir adanya cash float. Dan di antara langkah-langkah penerapan TSA antara lain : 1) Uang yang berada di Bank Indonesia dan bank umum mendapat bunga sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2) 3) Membuat perencana an kas yang baik dan akurat. Berdasarkan perencanaan kas yang akurat, menempatkan uang yang idle ke rekening yang mendapatkan bunga di Bank Indonesia/Bank Umum atau melakukan investasi jangka pendek pada instrumen moneter yang aman dan menguntungkan. 4) Mencari dana dengan tingkat bunga yang paling ekonomis atau menjual Surat Utang Negara (SUN) yang dimiliki dengan harga yang paling menguntungkan untuk menutup kekurangan kas .(modul manajemen kas, 2008) .

Kami tidak berfokus pada p embahasan pelaksanaan TSA yang sudah ada tapi berfokus pada cara untuk memperbaiki sistem yang sudah ada. Kami berpendapat bahwa ada Best Practice yang lebih baik dari sistem Jasa Giro/ pemberian bunga Bank atas penempatan uang negara tersebut.Dimana saat ini kita masih cenderung mengadopsi model dari negara-negara OECD (seperti Amerika Serikat, Australia, Prancis, Inggris, dan New Zealand).Maka dari itu kami berpendapat bahwa pengelolaan TSA akan lebih baik ji ka menggunakan prinsip syariah yaitu penghapusan bunga dalam penempatan uang negara di RKUN. Kami mendasarkan hipotesis tersebut pada perkembangan sektor bisnis syariah yang terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Semakin meluasnya penggunaan produk dan instrumen syariah pada sektor bisn is dan perbankan serta di sektor pemerintahan disamping akan mendukung kegiatan keuangan dan bisnis masyarakat juga akan mengurangi transaksi -transaksi yang bersifat spekulatif, sehingga mendukung stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan, yang pada gi lirannya akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian kestabilan harga jangka menengah -panjang [online]. c. Outline Essay Salah satu bentuk Manajemen Kas dalam sistem Perbendaharaan Indonesia adalah

Treasury Single Account

(TSA) yang menghendaki semua penerimaan dan

pengeluaran negara dilakukan melalui satu rekening yaitu Rekening Kas Umum Negara di Bank Indonesia. Dari rekening tersebut, akan diperoleh Jasa Giro/imbalan bunga atas penempatan uang pemerintah sesuai suku bun ga yang berlaku. Di sini kami ingin mengkritisi sistem tersebut, bukan seluruhnya dari pelaksanaan TSA tetapi khusus pada sistem Jasa Giro/ bunga tersebut.Secara sistem berjalannya keuangan negara dan pembukaan rekening tunggal demi terciptanya pengelolaan keuangan negara yang efisien dan efektif , kami sangat mengapresiasi hal tersebut namun kami tidak sependapat dengan konsep sistem Jasa Giro/bunganya. Kami ingin menawarkan alternatif pilihan sistem yang baru, yang meliputi konsep dari sistem tersebut, analisis resiko dan keunggulan sistem tersebut, serta best practice dari negara-negara yang sudah menerapkannya.Tentunya konsep baru ini menurut penulis adalah konsep yang seharusnya diterapkan di Indonesia.

II. Analisa/Tujuan a. Best Practice Dalam mengembangkan tema yang saya angkat, lebih cocok menggunakan Best Practice yang diambil dari negara -negara timur tengah dan beberapa negara lain serta pendapat dari dalam negeri. Dalam Standard Finance Manual Kerajaan Bahrain pada Bank Account Control Ministry of finance Bahrain 9.1.5 menyebutkan Pemerintah yang berwenang harus menyetorkan dana yang dikumpulkan dalam rekening penerimaan pemerintah pada Bank, dan pemerintahan yang tidak berwenang tidak dapat melakukannya kecuali setelah mendapat izin dari Menteri Keuangan. Selain itu juga pada Bank Account

Control -Ministry of finance Bahrain 9.2.20 menyebutkan Bunga yang dikumpulkan di


rekening sifat otonomi khusus akan disimpan dalam rekening pendapatan umum Negara [online]. Best Practice yang lain yaitu dari Brunei Darussalam yang dinyatakan dalam Financial Regulation Brunei Darussalam FR 58 semua penerimaan atau uang yang diterima atau diperoleh Pemerintah harus dimasukkan ke dalam satu grup uang yang dikenal dengan Grup yang disatukan yan g terdiri dari 3 rekening terpisah yaitu : 1. Rekening Pendapatan yang disatukan yang menyimpan semua uang dalam kelompok uang tersebut selain dari uang zakat, fitrah, dll. 2. Rekening Pinjaman yang disatukan yang akan digunakan untuk menyimpan semua uang yang diterima dengan cara pinjaman ke kredit Pemerintah Negara Brunei Darussalam 3. Rekening Amanah yang disatukan yang akan menyimpan semua uang diterima atas suatu perjanjian dan harus digunakan sesuai dengan apa yang menjadi isi perjanjian tersebut. Di negara tetangga kita,Malaysia juga sudah pernah mengeluarkan

Government

Investment Issues (GII) melalui Malaysian Inter-Bank Money Market dan juga telah
mengeluarkan Government Investment Certificate (GIC) yaitu semacam surat berharga yang diterbitkan tan pa bunga melainkan dalam bentuk dividen . Selain itu, pendapat d ari Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia yang menyatakan bahwa Perbankan Syariah Lebih Tahan Krisis Global dengan mengacu pada beberapa variable. Selain itu juga berpendapat bahwa d alam konteks pengelolaan perekonomian makro, meluasnya penggunaan berbagai produk dan instrumen keuangan syariah akan dapat merekatkan hubungan antara sektor keuangan dengan sektor riil serta menciptakan harmonisasi di antara kedua sektor tersebut [online].

b. Existing Practice Langkah-langkah penerapan TSA di Indonesia (Andie Megantara , Dodi Iskandar, &Kuwat Slamet, n.d.) : 1. Mengkonsolidasikan penyimpanan uang negara dalam satu rekening,

yaituRekening Kas Umum Negara (RKUN). 2. Semua penerimaan negara masuk ke RKUN dan semua pengeluaran negara dibayar dari RKUN. 3. Semua penerimaan negara harus dilimpahkan ke RKUN setiap hari. 4. Tidak ada lagi dana mengendap di bank umum berupa penyediaan dana bagi keperluan pengeluaran negara oleh KPPN. Dana disediakan pada saat dip erlukan untuk pembayaran dan saldo pada akhir hari harus nihil. 5. Uang yang berada di Bank Indonesia dan bank umum mendapatkan bunga/jasa giro pada tingkat bunga pasar (yang berlaku umum). 6. Menempatkan uang yang menganggur kedalam rekening yang mendapatkan bunga/atau kedalam instrumen moneter yang aman dan menguntungkan. 7. Mencari dana dengan tingkat biaya yang rendah atau menjual Surat U tang Negara (SUN) yang dimiliki dengan harga yang paling menguntungkan untuk menutup kekurangan kas. Pelaksanaan Treasury Single Account di Indonesia : Semua penerimaan yang masuk ke Bank Persepsi dan saldo yang berada di Bank Operasional begitu juga dengan rekening penampungan setiap hari harus disetorkan/dilimpahkan ke RKUN sehingga tidak ada Cash Float . Karena tidak ada

Cash Float /Kas yang mengendap di Bank Umum pada akhir hari mengakibatkan
bank umum kehilangan penenerimaan sehingga sebagai gantinya pemerintah harus memberikan imbalan atas penyediaan jasa perbankan yang diberikannya. Uang yang dilimpahkan ke Bank Indonesia(RKUN) dari seluruh Bank Persepsi dan Bank Operasional setiap harinya tersebut Pemerintah mendapat Jasa Giro/ Bunga yang besarnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia. Ketentuan besar saldo minimal dan tingkat bunga atas penempatan uang negara di Bank Indonesia berdasarkan Keputusan B ersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia Nomor 17/KMK.05/2009, Nomor 11/3/KEP.GBI/2009 tentang Koordinasi Pengelolaan Keuangan Negara yang Memutuskan : Pertama : Menetapkan Saldo Kas Minimal (SKM) Uang negara rata -rata harian termasuk hari libur di Rekening Kas Umum Negara(RKUN) di Bank

Indonesia sebesar 2 Triliun Rupiah untuk rekening rupiah dan ekuivalen 1 juta dolar Amerika Serikat u ntuk rekening valas USD dan non USD Ketiga : Tingkat Bunga atas Uang Negara (rupiah dan valas) pada RKUN adalah sebesar 0,1%per tahun.

c. Analisa TSA dilaksanakan berdasarkan Undang -Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 12 ayat (2) Semua penerimaan dan pengeluaran negara dilakukan melalui satu rekening (Single Account) -Rekening Kas Umum Negara (RKUN). Dan pasal 22 ayat (2) :Dalam rangka penyelenggaraan rekening pemerintah, Menteri Keuangan membuka Rekening Kas Umum Negara . Ayat (3), Uang negara disimpan dalam Rekening Kas Umum Negara pada bank sentral . Selain itu juga Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah, Pasal 14 ayat (2) Semua penerimaan negara masuk ke rekening kas umum negara dan semua pengeluaran negara keluar dari Rekening Kas Umum Negara. Dan juga PMK No.98/PMK.05/2007 tentang Pelaksanaan Rekening Pengeluaran Bersaldo Nihil pada Bank Umum Mitra Kerja KPPN dalam rangka pelaksanaan TSA, di 178 KPPN. (modul manajemen Kas, 2008 ).Peraturan Menteri Keuangan Nomor 32/PMK.05/2010 tentang Pelaksanaan Rekening Penerimaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Bersaldo Nihil Dalam Rangka Penerapan

Treasury Single Account pada Pasal 5..


Dalam pada itu, berdasarkan payung hukum tersebut TSA sudah dapat dilaksanakan. Akan tetapi untuk merancang sistem yang baru yang selanjutnya dibuat payung hukumnya, kami harus menemukan sistem baru dengan mengambil beberapa Best

Practices dari negara-negara lain namun s ejauh inimasih sedikit sekali kami temukan
mengenai Judul pelaksanaan sistem Treasury Single Account apalagi dengan judul

Treasury Single Account tanpa bunga di negara-negara timur tengah ataupun negara negara di kawasan lain yang notabene menggunakan sistem hukum islam dalam menjalankan pemerintahannya . Hanya saja sistem cash management dari beberapa negara tersebut sudah mengacu pada prinsip Treasury Single Account khususnya TSA penerimaan. Untuk TSA pengeluaran belum kami dapati contoh Best Practice nya dari negara- negara tersebut. .Akan tetapi pada umumnya, s ebagian besar negara sudah menjalankan TSA penerimaan dimana uang yang diterima negara harus disetorkan ke Bank Sentral/ Rekening Pemerintah pada hari itu juga.

Analisis kami berdasarkan keterangan yang kami peroleh dari beberapa sumber termasuk dari hasil Konfer ensi IIFM ( Islamic International Financial Market ), maupun beberapa sumber lain seperti dari Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, serta menurut pemikiran penulis kami menyampaikan gagasan baru dalam pelaksanaan TSA. Kami menilai bahwa sistem TSA sudah terlaksana dengan baik dengan tujuan yang baik yaitu salah satunya mengurangi cash float dan cash idle. Namun, cash tersebut seharusnyaditempatkan pada Sistem Syariah yang ada di BI. BI memiliki Direktorat Perbankan syariah tidak ada salahnya jika menggunakan jasa syariah di BI. Alasannya, jika dana ditempatkan di bank syariah maka penggunaan dana tersebut akan digunakan di sektor ri il.Semakin meluasnya penggunaan produk dan instrumen syariah pada sektor bisnis dan perbankan serta d i sektor pemerintahan disamping akan mendukung kegiatan keuangan dan bisnis masyarakat juga akan mengurangi transaksi-transaksi yang bersifat spekulatif, sehingga mendukung stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan, yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian kestabilan harga jangka menengah -panjang [online]. Dengan masuknya dana ke sektor riil diharapakan dapat dapat menambah pendanaan bagi kegiatan perekonomian masyarakat. Kita semua menyadari bahwa kemampuan permodalan masyarakat belum merata dan perlu dukunga n pendanaan dari perbankan sehingga akan memperkuat perekonomian nasional. Tentunya pemberian pendanaan kepada masyarat ini dengan prisip yang berbeda dari prinsip bunga melainkan dengan prinsip bagi hasil y ang saling menguntungkan. Solusi berikutnya, uang yang masuk ke RKUN setiap harinya dipisahkan sebagian dengan persentase tertentu untuk diinvestasikan ke obligasi syariah(baca: sukuk) yang diterbitkan oleh pemerintah luar nege ri dengan obligasi yang paling likuid. Dan untuk persentase tertentu juga didaya gunakan untuk menjalankan perekonomian sektor riil yang dijalankan oleh perbankan syariah.Sekali lagi, sektor riil dapat berperan menjalankan roda perkenomian di Indonesia khusu snya secara makro maupun mikro, hal ini sebagai stimulus perekonomian nasional. Dari kalimat di atas kami menyatakan bahwa yang diinvestasikan ke sektor riil adalah dengan persentase tertentu karena terkenda la dengan masalah likuiditas .Sebagian besar kas yang diperkirakan digunakan untuk keperluan pendanaan dalam waktu dekat, tetap ditempatkan di RKUN. Dalam konsep TSA syariah ini bisa saja pemerintah dan perbankan syariah menggunakansistem kerja sama pemodal dan pengusahadimana pemerintah sebagai pemodal dan perbankan syariah sebagai pengusaha dan pemerintah mendapatkan bagi hasil atas keuntungan yang diperoleh. Walaupun keuntungan tersebut tidaklah besar namun jika

dibandingkan dengan bunga mungkin tidak terlalu beda jauh jika uang tersebut benar benar dimanfaatkan untuk usaha. Berbicara tentang keuntungan dari segi penerimaan riilnya yang bisa diperoleh negara, kami belum menemukan cara untuk dapat menggantikan pendapatan bunga sepenuhnya. Tapi dari sisi lain, misalnya tentang kekuatan perekonomian dan dari sis i makro ekonomi yang lain, sistem syariah tidak kalah dengan sistem perbankan konvensional seperti yang telah dijelaskan di awal. Bagaimanapun juga dalam implementasinya nanti masih terkendala dengan peraturan perundangan yaitu tentang UU Nomor 1 Tahun 2004 yang mengamanat kan adanya bunga yang diperoleh pemerintah dari penempatan uang negara.

III. Penutup a. Kesimpulan Salah satu tujuan dari pelaksanaan TSA adalah meminimalisir cash float dan cash

idle Uang Kas Negara dan selanjutnya ditempatkan di Rekening Tunggal di Bank
Indonesia untuk mendapatkan Jasa Giro/bunga. Dari pelaksanaan sistem Jasa Giro / bunga yang diterima pemerintah dari penempatan uang negara tersebut sebaiknya dirubah polanya.Pola tersebut dengan menempatkan uang yang tersimpan di RKUN setiap harinya di sistem syariah Bank Indonesia.Atau paling tidak, 50% di RKUN konvensional dan 50% di Syariah. Alasannya, uang yang ada di perbankan syariah akan digunakan di sektor riil. Dengan masuknya dana tersebut ke sektor riil, dapat meningkatkan pendanaan masyarakat dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pemberian permodalan masyarakat dengan prinsip bagi hasil yang saling menguntungkan. Jadi, alternatif penempatan uang TSA ada 3 macam yaitu : 1) Disalurkan sebagai kredit masyarakat dengan sistem bagi hasil 2) Diinvestasikan dalam Obligasi syariah yang diterb itkan pemerintah luar negeri dan dipilih yang paling likuid . 3) Diserahkan kepada bank syariah untuk dimanfaatkan di sektor riil dengan prinsip kerjasama pemodal dan pengusaha dengan sistem bagi hagi hasil .

Sistem ini mungkin belum dapat menggantikan besarnya penerimaan bunga pelaksanaan TSA sekarang.Tapi, ini sebagai langkah awal untuk menuju sistem yang lebih baik.

Dalam implementasinya juga masih terkendala peraturan perundang -undangan untuk itu perlu payu ng hukum baru yang dapat menjembatani implementasinya.

b. Saran Untuk mengimplementasikan prinsip Syariah dalam pelaksanaan TSA atau bisa dikatakan dengan TSA tanpa bunga memerlukan dukungan dari berbagai pihak baik dari internal pemerintah maupun dari luar pemerintahan seperti pemerintah negara asing, Bank Indonesia, Lembaga Keuangan Syariah Internasional, dan pihak -pihak terkait lainnya. Kelemahan sumber data yang dapat dijadikan sebagai contoh, membutuhkan kerjasama dengan pemerintah asing dan juga konsu ltasi dengan lembaga keuangan syariah Internasional.Dan tentunya juga butuh waktu yang cukup lama untuk melakukan penelitian pelaksanaan sistem tersebut. Undang-Undang yang menempati hierarki tertinggi kedua setelah UUD seharusnya memfasilitasi implementa si sistem ini, sehingga jika sistem ini ternyata mungkin untuk dilaksanakan secara penuh di Indonesia maka harus didukung juga dengan Undang Undang yaitu dengan mengadakan revisi Undang -Undang berupa penambahan atau perubahan isi yang dapat menjembatani pe laksanaan sistem ini.

Referensi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Direktorat Perbankan Syariah.(2010).http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Perbankan+Syariah/ .diakses hari sabtu 28 Mei 2011 .

Megantara, Andi. Iskandar, Dodi. & Slamet, Kuwat .(n.d). Manajemen

Perbendaharaan Pemerintah, aplikasi di Indonesia ..Jakarta : LPKPAP BPPK.


Kementerian Keuangan.

(2008). Modul

Manajemen

Kas.Jakarta

Program

Percepatan

Akuntabilitas

Keuangan Pemeritah, Kementerian Keuagan. Murwanto, Rahmadi . Insyafiah.&Subkhan.(2006). Manajemen Kas.Jakarta : BPPK Depkeu

PMK 32/PMK.05/2010 tentang Pelaksanaan Rekening Penerimaan KantorPelayanan Perbendaharaan Negara BersaldoNihilDalam Rangka Penerapan Treasury Single

Account
Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia Nomor 17/KMK.05/2009, Nomor 11/3/KEP.GBI/2009 tentang Koordinasi Pengelolaan Keuangan Negara IIFM.Liquidity Management in Islamic Finance Products & Documnetation 9th

International Islamic Financial Institutions Conference Bayt Al Mashora, Kuwait

http://www.mof.gov.bh/.Diakses hari Minggu, 29 Mei 2011.

http://www.mof.gov.ae/.Diakses hari Minggu, 29 Mei 2011.

http://www.mof.gov.brunei/. Diakses hari Minggu, 29 Mei 2011. http://www.iifm.net . Diakses hari Sabtu, 28 Mei 2011.

10