Anda di halaman 1dari 8

MELURUSKAN PANDANGAN TENTANG KONGRES KEBUDAYAAN SEBELUM INDONESIA MERDEKA

(Mengenai Isi dan Urutan Kongres) NUNUS SUPARDI 1

I.

Awal Kongres Kebudayaan Dua puluh tujuh tahun sebelum Indonesia merdeka atau 89 tahun yang lalu, tepatnya awal tahun 1918,

melayang sepucuk surat dari Batavia menuju pimpinan Boedi Oetomo (BO) cabang Surakarta. Surat itu berisi perintah agar BO menyelenggarakan Kongres Bahasa Jawa. Setelah membaca surat itu Pangeran Prangwadono (yang kemudian dinobatkan menjadi Mangku-negoro VII, seperti dalam foto/sumber KITLV)) menolak dan mengusulkan agar diselenggarakan Kongres Kebudayaan saja. Usul itu didukung oleh kaum terpelajar bumiputra yang lain, sementara pemerintah Belanda menyerah dan membiarkan kaum terpelajat itu menentukan pilihannya. Dari balik keputusan kaum terpelajar untuk mengganti kongres bahasa menjadi kongres kebudayaan menurut hemat saya memiliki arti yang amat penting, mendasar, dan pantas disebut sebagai tonggak kebangkitan kesadaran terhadap nasib kebudayaan (bangsa) di masa depan. Kebulatan tekad itu dapat menjadi kenyataan dengan diselenggarakannya KK ke-1 dengan nama Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling,. atau Kongres Pengembangan Kebudayaan Jawa, pada tanggal 5 Juli 1918 di Kepatihan Mangkunegara Surakarta. Munculnya inisiatif itu tidak dapat dipisahkan dari bangkitnya kesadaran berbangsa. Posisi KK ke-1 sangat istimewa, karena tepat di tengah-tengah dua peristiwa yang amat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pertama, berdirinya BO (1908) dan kedua, Sumpah Pemuda (1928). Tumbuhnya kesadaran berbangsa berjalan seiring dengan kesadaran masa depan kebudayaan bangsanya. Kongres itu lahir karena digerakkan oleh semangat yang dimiliki oleh sejumlah orang budaya (man of culture) yang tidak lain adalah orang-orang yang terlibat dalam pergerakan. Oleh karena itu ketiga peristiwa itu tidak hanya merupakan peristiwa sejarah politik bangsa, tetapi juga merupakan peristiwa sejarah budaya bangsa.
Penulis buku KONGRES KEBUDAYAAN 1918-2003, aktif di Badan Kerjasama Kesenian Indonesia (BKKI), Lingkar Budaya Indonesia (LBI), Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Lembaga Sensor Film (LSF) dan Panitia Nasional Pengangkatan Benda Muatan Kapal Tenggelam (PANNAS BMKT).
1

Bahkan mungkin dapat dikatakan sebagai lahirnya manifes kebudayaan Indonesia pada zaman kita sedang dijajah. Kongres ke-2 diselenggarakan di Surakarta tahun 1919. Dua tahun kemudian (1921) diselenggarakan KK ke-3 di Bandung, dan tiga tahun kemudian, yakni tahun 1924 diselenggarakan KK ke-4, di Yogyakarta. KK ke-5 diselenggarakan tahun 1926 di Surabaya. Setelah kongres 1926 disusul oleh KK ke-6 (1929) di Surakarta. Kongres ini diselenggarakan agak istimewa karena bersamaan dengan peringatan 10 tahun berdirinya Java-Instituut. Kongres ke-7 diselenggarakan tahun 1937 di Bali. Yang menarik, kongres ini diselenggarakan setengah di darat dan setengah di laut. Transportasi dari pulau Jawa ke Bali dan akomodasi para peserta serta sebagian acara kongres berlangsung di atas kapal laut Op ten Noort. II. Hanya Kongres Kebudayaan Jawa Dalam jumpa pers menjelang diselenggarakannya Sarasehan Kebudayaan bertajuk Dinamika Kebudayaan Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara tanggal 5 Juli 2007 yang lalu, oleh Ir. Luluk Sumiarso (Penasehat Paguyuban Puspo Budhoyo selaku penyelenggara sarasehan) diinformasikan bahwa ada sebagian orang yang tidak setuju jika Kongres Kebudayaan (KK) tanggal 5 Juli 1918 disebut sebagai awal KK Indonesia dan sebagai tonggak sejarah Kongres Kebudayaan bangsa. Mereka juga menolak jika tanggal diselenggarakannya KK ke-1 (tanggal 5 Juli) dipilih untuk diusulkan menjadi Hari Kebudayaan Bangsa. Mereka menilai KK itu hanya merupakan KK Jawa saja. Konon berita tentang kejawaan kongres itu sampai juga diterima oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Untuk pendapat yang menyatakan tidak setuju jika tanggal 5 Juli dipilih untuk diusulkan menjadi Hari Kebudayaan Bangsa dapat difahami, karena masih banyak kemungkinan ada tanggal peristiwa budaya penting yang lain untuk dijadikan pilihan. Tetapi untuk pandangan yang menyatakan bahwa KK 1918 (sebelum Indonesia merdeka) hanya KK Jawa semata (dalam arti sempit dan bernada anti Jawa) sangat perlu untuk diluruskan, guna mencegah menjalarnya virus kesalahpahaman. Pandangan seperti ini sebenarnya sudah muncul sejak KK 2003 di Bukittinggi. Ketika makalah yang berjudul Sekilas KK Sebelum dan Sesudah Indonesia Merdeka disajikan, harian Republika menurunkan tulisan dengan judul Kongres Kebudayaan, Sebuah Langkah Patah-patah. Di dalam disebut peristiwa KK yang diselenggarakan selama ini sebagai sebuah ironi. Bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut: Inilah ironi yang terjadi dalam perjalanan Kongres Kebudayaan yang beberapa hari lalu (19-22 Oktober) menggelar kongres di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sebelum kemerdekaan, dalam waktu 19 tahun, Indonesia (baca: Jawa) melaksanakan tujuh kali kongres. Setelah merdeka, dalam rentang 55 tahun, hanya lima kali. Selama 85 tahun telah terlaksana 12 kali KK, lebih dari separuh bicara soal kebudayaan Jawa. Pada bagian lain Republika menulis: Telah menjadi kenyataan bahwa KK di Indonesia didominasi Jawa.

KK sebelum kemerdekaan adalah KK Jawa dan setelah kemerdekaan setali tiga uang. Jika ingin melabelinya dengan KK Indonesia, maka hal itu hanya bisa dilekatkan pada KK ke IV tahun 1991, meski di sana, dominasi masih dipegang oleh utusan dari Pulau Jawa. 2 Sepintas pandangan seperti ini memang tidak salah, karena senyatanya kongres itu diberi judul KK Jawa, digagas oleh orang Jawa, dan diselenggarakan oleh kaum terpelajar Jawa, berlokasi di tanah Jawa. Tetapi amatlah dangkal jika pandangan seperti itu hanya didasarkan pada alasan-alasan di atas. Bicara soal Jawa, pendirian Boedi Oetomo (BO) tanggal 20 Mei 1908 juga memiliki latar belakang sejarah yang sama dengan KK tersebut. Tanggal 20 Mei telah diakui sebagai awal tumbuhnya kesadaran berbangsa. Juga tidak tepat apabila pandangan itu hanya didasarkan pada label kongres, yakni KK Jawa. Misalnya ada KK yang lain yang diselenggarakan oleh non-Jawa seperti: KK Sunda, Batak, Minangkabau, Bugis, Sasak, Ambon atau yang lain pastilah peristiwa itu akan dicatat dan mendapatkan perlakuan dan pengakuan yang sama sebagai bagian dari sejarah perjalanan kebudayaan kita. Tentu amatlah berlebihan jika dituntut kongres itu baru diakui sebagai KK Indonesia jika tidak menggunakan label KK Jawa. Lebih-lebih jika dituntut harus berlabel KK Indonesia. Sebuah persyaratan yang tidak mungkin terpenuhi, karena pada saat itu kondisi kita sedang menjadi bangsa dijajah dan bangsa Indonesia itu sendiri belum lahir. Bagian penting yang perlu disimak lebih dalam bukanlah masalah label kongres, tetapi masalah isi dan materi yang diperbincangkan dalam kongres itu. Apakah dari kongres-kongres itu mampu menghasilkan konsep, kebijakan maupun strategi untuk memajukan kebudayaan suku bangsa dan menumbuhkan kesadaran berbangsa? Atau sebaliknya, kongres itu malahan menghasilkan konsep, kebijakan dan strategi masuknya pengaruh kebudayaan penjajah terhadap kebudayaan bangsa? III. Sumbangan KK Sebelum Indonesia Merdeka Selama ini perhatian orang lebih tertuju pada KK yang diselenggarakan sesudah Indonesia merdeka saja. Termasuk di kalangan budayawan dan seniman, peristiwa budaya itu tidak banyak yang memperbincangkannya. Seolah-olah KK sebelum Indonesia seperti tidak bermakna. Tidak memberikan sumbangan bagi kemajuan kebudayaan bangsa dan proses pembentukan menjadi Indonesia. Oleh karena itu timbul kecurigaan sebagai KK Jawa saja pada sebagian orang seperti diuraikan di atas. Padahal, peristiwa budaya tahun 1918 itu pantas dijadikan tonggak sejarah KK dan menjadi motor penggerak diselenggarakannya KK berikutnya hingga sekarang. Hasil yang dicapai amat besar manfaatnya bagi perumusan konsep, kebijakan dan strategi pemajuan kebudayaan bangsa.

Republika, Minggu, 26 Oktober 2003

Pokok-pokok pikiran yang lahir dari kongres-kongres itu banyak yang terbukti telah menjadi landasan dalam membangun solidaritas dan mengembangkan kebudayaan bangsa hingga sekarang. Kenyataan sebagai bangsa majemuk (multietnik) dan memiliki budaya beranekaragam (multikultur) menjadi sumber inspirasi dalam menumbuhkan rasa nasionalisme. Kemajemukan telah menumbuhkan hasrat, semangat dan inspirasi untuk mewujudkan kebudayaan bersama, menjadi milik bersama, menuju perwujudan kebudayaan Indonesia, yang kemudian dibingkai dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Konsep bangsa dan kebudayaan majemuk dibahas dalam kongres tahun 1918. Perbincangan mengenai kebudayaan Jawa saja dinilai terlalu sempit. Dalam kongres kedua tahun 1919 masalah diperlebar, mencakup kebudayaan Sunda, Madura, dan Bali. Dalam diskusi melebar lagi ke masalah kebudayaan bangsa atau kebudayaan nasional Indonesia. Mereka sepakat untuk memajukan kebudayaan bangsa, mutu sumber daya manusia sebagai pendukung kebudayaan ditingkatkan dengan cara mengoptimalkan peran pendidikan dalam proses pembudayaan (KK 1918). Anak-anak bumiputra perlu diberikan pelajaran sejarah bangsa, arsitektur, bahasa, sastra, filsafat, musik tadisional, tari, sandiwara (tonil) dan kerajinan (besi, perak, emas, kayu, tenun, bambu, kulit dll.) Tujuannya adalah untuk mengubah pola pikir (mindset) masyarakat suku bangsa terutama pandangan sebagai bangsa kuli (terjajah) menjadi bangsa yang merdeka dan berkepribadian, serta dari pola pikir kehidupan bersuku-suku menuju ke arah kehidupan satu bangsa. Mari kita simak cuplikan dari sekian banyak pandangan pemakalah pada KK sebelum Indonesia mereka. Dr. Satiman, sebagai salah satu pemakalah pada KK 1918 menyatakan bahwa: Pertemuan peradaban Barat dan Timur harus saling membagi keduanya. Perjuangan hanya dapat dicapai melalui peperangan antara kemampuan intelektual, dan oleh karena itu kemampuan intelektual kita harus dibuat sama dengan intelektual Eropa. Pandangan seperti ini jelas memiliki pengaruh besar terhadap upaya menumbuhkan semangat menjadi sebuah bangsa baru yang maju. Selanjutnya, pemakalah yang lain, yakni RM Sutatmo (KK 1918) menegaskan tentang konsep memajukan kebudayaan bangsa melalui strategi membuka peluang lahirnya perubahan dengan tetap memelihara, menjaga dan mempertahankan kebudayaan yang kita miliki. Sutatmo menyatakan bahwa: Perlu mempertahankan keberadaan kita dan memberikan jiwa baru untuk memajukan kebudayaan kita. Bagaimana dengan pendapat Dr. Radjiman? Sebagai orang Jawa, Radjiman berpendapat bahwa Jika pribumi dipisahkan sepenuhnya dan secara paksa dari masa lalunya, yang akan terbentuk adalah manusia tanpa akar, tak berkelas, tersesat di antara dua peradaban. Selain itu Radjiman juga menyinggung masalah penyelenggaraan pendidikan kepada kaum bumiputra. Menurut Radjiman, pendidikan harus berlangsung serasi dalam bentuk penanaman nilai etika dan estetika, dan harus memperhatikan dasar adat istiadat bangsa. Pandangan ini masih tetap aktual hingga kini, dan menjadi dasar dalam penyusunan UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada Pasal 1 ayat (2) disebutkan: Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila

dan UUD Negara RI 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Tentang telah tumbuhnya kesadaran berbangsa pada diri para peserta kongres tidak perlu diragukan lagi. Sastrowidjono selaku ketua panitia kongres. Sastrowidjono mengatakan bahwa: telah tiba saatnya untuk menyadarkan masyarakat bahwa suatu bangsa yang utuh membutuhkan suatu landasan sejarah dan tradisi, selain pembangunan di bidang politik dan ekonomi. Perdebatan juga mengarah pada upaya perlindungan kebudayaan agar kebudayaan tidak mengalami kerusakan dan kemusnahan (KK 1924). Perlindungan diarahkan pada kebudayaan yang bersifat benda (tangible) maupun yang bersifat non-benda (intangible). Hal ini tergambar pada perbincangan mereka tentang nilai-nilai (tatakrama), seni musik, keutuhan berbagai bangunan kuno, situs purbakala, arsitektur, alat-alat kesenian, hasil kerajinan, bahasa daerah, hingga pada sistem keluarga dan adat. Melalui kongres mereka merintis berdirinya lembaga penelitian kebudayaan Java Instituut (KK 1918), berbagai museum, sekolah seni kerajinan tangan (Kunst Ambachtsschool), serta membuka jurusan Sastra, Filsafat, dan Budaya Timur (KK.1929) seperti yang ada hingga sekarang. Untuk melindungi benda peninggalan sejarah dan purbakala, atas inisitif PAJ Moojen disusun Monumenten Ordinanntie (MO) stbl. 238 tahun 1931 yang kemudian disempurnakan menjadi UU No. 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Sementera itu pemakalah Soejono pada KK 1929 meminta agar: . agar Pemerintah mewajibkan para pegawai, insinyur, guru-guru, terutama kepala-kepala se-kolah HIS untuk mengenal satu bahasa, bahasa Indonesia. Nilai penting dari KK sebelum Indonesia merdeka adalah pendapat Ki Hajar Dewantaratentang bagaimana menyikapi hubungan antara kebudayaan bangsa dengan kebudayaan asing. Ki Hajar menyatakan pendapatnya bahwa terhadap kebudayaan asing sebaiknya kita : .....tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing, asal bahan-bahan itu dapat memperkaya dan memperkembangkan kebudayaan bangsa, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. Pendapat Ki Hajar ini akhirnya dipilih sebagai bagian dari penjelasan Pasa 32 UUD 1945. Bagaimana dengan para pemakalah yang berasal dari Belanda? Untuk ukuran saat itu, pandangan mereka sungguh luar biasa. Selaku pemakalah (KK 1918) Muhlenfeld paling tidak telah menyumbangkan dua pemikiran penting dan mendasar bagi bangsa bangsa Indonesia. Muhlenfeld antara lain mengatakan: Untuk membangkitkan kesadaran terhadap kebudayaan sendiri itu ke seluruh wilayah, maka pengajaran dan pengkajian sejarah bangsa merupakan sarana yang terbaik, terkuat dan terpenting. Di samping itu, ia juga menegaskan bahwa untuk sebuah natie dan individu tuntutan pertama adalah mengenal dirinya sediri sehingga mereka memiliki perangai, karakter, dan mendapatkan kembali rasa percaya diri setelah

kehilangan selama berabad-abad. Bukankah pandangan orang Belanda seperti ini sangat patut menjadi catatan tersendiri bagi lahirnya sebuah bangsa baru, Indonesia. Pandangan yang lain datang dari kalangan Birokrat pemerintah Hindia Belanda. Ia adalah Walikota Surabaya dan Bandung selaku tuan rumah kongres. Selaku Walikota Bandung Walikota Bandung SA Reitsma (KK 1921) menyatakan bahwa: .....perlu langkah pembentukan dan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia yang dalam keadaan tertindas, akan dihidupkan kembali berkem-bang di darahdaerah.. . Sementara itu, Dijkerman sebagai Walikota Surabaya (KK 1926) menyatakan bahwa: ....seni akan berkembang kuat apabila bangsa itu sedang dalam kondisi kuat, dan sekarang adalah waktunya yang tepat untuk menyadarkan suku bangsa Indonesia. untuk menuju menjadi bangsa yang kuat. Ilmuwan Belanda lain yang menyampaikan pandangannya adalah Dr. FDK Bosch, Kepala Oudheid-kundige Dienst/Lembaga Purbakala (KK1924), Dr. GWJ Drewes, DR. SJ. Esser, L.van Rijckevorsel (1929), dan Ir. PHW. Sitsen (1937). Dalam kongres itu Bosch menegaskan tentang pentingnya pelestarian peninggalan purbakala untuk masa saat itu dan yang akan datang, Drewes, Esser, L.van Rijckevorsel menekankan tentang perlunya pengajaran Kesusasteraan Timur di Perguruan Tinggi yang kemudian direalisasikan dengan berdirinya Sekolah Kerajinan (Kunst Ambaacht School), yang mendorong berdiri Akademi Seni Rupa (ASRI), Fakultas Sastra dan Filsafat dengan jurusan-jurusan: Sastra, Sejarah, dan Filsafat yang masih tetap ada hingga sekarang. Sementara itu Sitsen menyampaikan pendapatten tang pentingnya mengembangkan seni kerajinan Bali, perlunya mendirikan museum kerajinan dan Bali Instituut, serta pemanfaatan budaya untuk pengembangan pariwisata di Bali. Dari petikan sebagian kecil dari pokok-pokok pikiran selama kongres sebelum Indonesia merdeka seperti di atas menunjukkan betapa luasnya pandangan dan jauhnya jangkuan pemikiran para peserta kongres. Mereka pantas disebut sebagai peletak dasar konsep, kebijakan dan strategi dalam berbangsa dan berbudaya bangsa di zaman Indonesia kemerdekaan. Dengan uraikan singkat ini diharapkan dapat memberikan pencerahan bagi mereka yang berpandangan KK sebelum Indonesia merdeka hanya melulu membahas kebudayaan Jawa saja. IV. Meluruskan Urutan Kongres Sesuai keputusan Kongres Kebudayaan (KK) 2003 di Bukittinggi, kongres berikutnya akan diselenggarakan 5 tahun sekali. Untuk penyelenggaraan kongres tahun 2008 yang akan datang, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tengah melakukan persiapan yang disebutnya sebagai KK ke-6. Berkenaan dengan rencana tersebut ada bagian penting yang perlu diluruskan, yakni mengenai urutan KK yang pernah diselenggarakan. Dengan demikian kesalahan dalam hal yang tampaknya sepele itu tidak terulang kembali. Selama ini KK yang diselenggarakan sebelum Indonesia merdeka tidak pernah

mendapatkan pengakuan dan dengan sendirinya tidak dimasukkan dalam hitungan dalam urutan kongres. Tidak dimasukkannya dalam hitungan itu karena banyak yang tidak atau mengetahui latar belakang peristiwa budaya itu. Yang keberapakah KK yang akan datang? Keenam, kedelapan atau kelimabelas? Perdebatan masalah urutan itu diawali pada saat berlangsung KK di Magelang tahun 1948. Ketika itu dipersoalkan KK itu sebagai KK pertama, atau kedua atau malahan ketiga? Kerancuan itu muncul karena sebagian peserta menyatakan bahwa kegiatan Musyawarah Kebudayaan yang berlangsung di Sukabumi pada 31/12/1945 telah dianggap sebagai KK ke-1, sehingga kongres di Magelang merupakan KK ke-2. Sementara itu menurut Mr. Wongsonegoro justru berpendapat KK di Magelang itu sebagai yang ke-3, karena Kongres Pendidikan yang diselenggarakan di Solo tahun 1947 disebutnya sebagai KK ke-2. Sidang sempat riuh karena masing-masing mempertahankan argementasinya. Menengahi perdebatan itu Wakil Presiden Moh. Hatta angkat bicara dan menyatakan setuju jika kongres di Magelang dinyatakan sebagai KK ke-1 karena persiapannya lebih matang dan cakupannya lebih luas. Pendapat Hatta akhirnya diterima secara bulat. Permasalahan jumlah dan urutan KK kembali terulang pada KK 2003 di Bukittinggi. Karena oleh Panitia KK 1991 disebut KK ke-4 (mestinya ke-6), dengan sendirinya KK 2003 dinyatakan sebagai KK ke-5. Kesalahan itu tidak pernah ada yang mengoreksi, sehingga kesalahan itu terbawa ke KK 2003 di Bukittinggi. Kembali peserta mengingatkan bahwa KK di Bukittinggi bukan KK ke-5 tetapi ke-7, karena ada dua kongres yang dilupakan, yakni KK 1957 dan 1960. Dengan adanya penegasan itu maka KK 2008 yang akan datang jelas bukan KK ke- 6 tetapi ke- 8. Penyebabnya sama, yakni karena adanya perbedaan pandangan apakah kedua kegiatan itu KK atau bukan? Dalam Warta Kebudayaan terbitan Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional (BMKN), kedua pertemuan itu disebut sebagai Pertemuan BMKN, Rapat Umum BMKN, dan pada bagian lain disebut Konferensi Budaya dan Kongres BMKN. Dalam buku Prahara Budaya kedua pertemuan itu disebutnya sebagai Kongres BMKN bukan dengan sebutan KK. Karena tidak adanya ketegasan dalam penamaan itu maka kerancuan pun muncul. Ajip Rosidi sebagai penanggap menegaskan bahwa pertemuan budaya di Bali tahun 1957 dan di Bandung tahun 1960 juga merupakan KK. Sebagai peserta di kedua pertemuan itu Ajip mengakui selama ini kedua peristiwa budaya itu memang cenderung dilupakan orang, padahal pada kedua kegiatan itu telah terjadi perdebatan yang cukup keras tentang kebudayaan dan faham politik antara kelompok budayawan dan seniman yang berhaluan humanisme sosialis (kiri) dengan kelompok humanisme universal (kanan) dan kelompok netral. Pendapat Ajip diperkuat oleh Rosihan Anwar dan Ramadhan KH yang juga hadir sebagai peserta KK 2003. Dengan demikian urutannya menjadi sbb: KK tahun 1948 di Magelang (ke-1), KK tahun 1951 di Bandung (ke-2), KK tahun 1954 di Surakarta (ke-3), KK tahun 1957 di Denpasar/Bali (ke-4), KK

tahun 1960 di Bandung (ke-5), KK tahun 1991 di Jakarta (ke-6), dan KK tahun 2003 di Bukittinggi adalah yang ke-7. V. Penutup Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peristiwa KK sebelum Indonesia yang berlangsung 7 kali itu patut disebut sebagai tonggak sejarah kebudayaan bangsa. Meskipun pada awalnya KK tahun 1918 disebut sebagai KK Jawa, pada KK 1919 cakupan pembahasan diperluas termasuk kebudayaan Sunda, Madura dan Bali. Selain itu pokok permasalahan yang diperbincangkan telah merambah jauh ke masa depan kebudayaan Indonesia, bukan lagi suku bangsa. Oleh karena itu pandangan bahwa KK sebelum Indonesia merdeka semata-mata membahas kebudayaan Jawa tidaklah tepat. Bisa jadi dengan berlindung pada judul KK Jawa peserta mendapatkan kesempatan yang luas dalam memikirkan masa depan kebudayaan Indonesia yang dicita-citakan. Jika posisi 7 kali KK sebelum Indonesia merdeka memang pantas untuk dinyatakan sebagai tonggak sejarah karena memiliki arti penting bagi perkembangan kesadaran berbangsa dan peletak dasar konsep, kebijakan dan strategi kebudayaan masa depan, pantas pula peristiwa itu menjadi bagian dari KK di Indonesia. Oleh karena itu jika tahun 2008 jadi diadakan KK lagi, maka kongres itu tidak lagi sebagai KK ke8, tetapi KK ke-15. Mengapa takut? Bukankah Kongres Bahasa Indonesia yang diselenggarakan tahun 1938 (sebelum Indonesia merdeka) telah diakui sebagai Kongres Bahasa Indonesia ke-1? Kemanggisan-Jakarta, 6 Juli 2007

Alamat Rumah: Nunus Supardi Jl. H. Saili B. No. 9, RT 02/06 Kemanggisan, Jakarta Barat (11480) Telp. 021-5494175 HP. 08159636450 Alamat Kantor: Badan Kerjasama Kesenian Indonesia (BKKI) Jl. H.A. Salim No. 19/A Jakarta Pusat Telp. 3907453, Fax: 3906945, E-mail: bkki_nasional@yahoo.com