Anda di halaman 1dari 5

Pelatihan Aparatur Pemerintahan Desa

Kabupaten Sumba Timur Kelompok Sektor : Pemerintahan Kelompok Daerah : Perkebunan, Perhutanan, Pedesaan Gambaran Umum Kabupaten Sumba Timur Luas wilayah Kabupaten Sumba Timur adalah 7000,5 km terletak antara 11945` 12052` BT dan 916` - 1020 LS. Kabupaten Sumba timur terletak di barat daya Propinsi NTT, tepatnya 96 km di sebelah selatan Pulau Flores, dan 295 km di sebelah barat daya Pulau Timor, serta 1.125 km di sebelah barat dari laut Darwin Australia. Batas wilayah Kabupaten Sumba Timur adalah: Sebelah Utara : Selat Sumba; Sebelah Selatan : Samudera Hindia Sebelah Barat : Kabupaten Sumba Barat; Sebelah Timur : Laut Sabu Peruntukan Lahan di Kabupaten Sumba Timur Bangunan dan pekarangan : 14,910 Ha Lahan sawah : 18,192 Ha Lahan tadah hujan : 6,141 Ha Huma : 1,41 Ha Tegal/kebun : 42,143 Ha Perkebunan : 7,298 Ha HAS/Mondu : 948 Ha Padang Pengembalaan : 215,797 Ha Lahan kering belum diusahakan : 122,309 Ha Situasi Sebelum Inisiatif Dengan kondisi geografis yang dinominasi oleh perbukitan dan kondisi social yang didominasi oleh masyarakat pedesaan, maka struktur dan pola kehidupan masyarakat di Kabupaten Sumba Timur masih didominasi oleh pola kehidupan pedesaan yang berorientasi pada unsure-unsur adapt. Situasi/kondisi masyarakat dan aparatur pemerintahan desa: 1. Rendahnya pemahaman aparatur pemerintahan desa (Kepala Desa, Badan Perwakilan Desa/BPD, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat/LPM) dalam melaksanakan aktifitas pemerintahan desa (a.l. untuk memberikan pelayanan dasar kepada masyarakat, mengadakan pertemuan, memberikan pelaposan kepada Camat, dan menerbitkan Peraturan Desa/Perdes); 2. Rendahnya kinerja masyarakat dalam melakukan aktifitas perekonomian, terutama dalam pola penanaman padi dan jagung. Masyarakat enggan untuk melakukan eksentensifikasi lahan atau pola perluasan lahan tanaman dan sering kali hanya menggunakan system persawahan/perladangan tadah hujan.

Clearinghouse YIPD/CLGI Best Practices - 1

Hal tersebut juga dipengaruhi oleh lemahnya kepemimpinan formal kepala desa dalam memobilisasi peningkatan sector pertanian. Oleh karena itu masyarakat sangat memerlukan bimbingan dari Aparatur Desa untuk dapat meningkatkan ekstensifikasi lahannya dan meningkatkan pendapatannya secara tidak langsung. 3. Sering terjadi pertengkaran/perselisihan dalam pemilihan Kepala Desa, dan tidak harmonisnya pelaksanaan kegiatan antara Kepala Desa dengan BPD maupun LPM. Inisiatif Inisiatif kegiatan pelatihan bagi aparatur pemerintahan desa didasari oleh: 1. Hasil kunjngan kerja Kepala Daerah dan Anggota DPRD Sumba Timur ke beberapa Kecamatan dan Desa yang melihat adanya kelemahan dalam penyampaian informasi (baik dari pemerintah daerah ke masyarakat, maupun sebaliknya). Masih sedikit Kepala Desa yang menyampaikan laporan tentang pemerintahan desanya kepada unsure pemerintah kabupaten Sumba Timur (cq. Kecamatan). Hal tersebut disebabkan oleh masih lemahnya pengorganisasian lembaga pemerintahan desa. 2. Terdapatnya 13 buah Peraturan Daerah Sumba Timur yang mengatur tentang Desa. 3. Laporan-laporan masyarakat yang diperoleh melalui Musbangdes (Musyawarah Pembangunan Desa), diskusi di tingkat kecamatan, dan Rakorbang di tingkat kabupaten. Strategi Yang Dipakai dan Tindakatn Berlandaskan kepada Keputusan Bupati No.455/100/1.135/Viii/02 tanggal 21 Agustus 2002 tentang Pembentukan Panitia Pembina, Pengarah, Penyelenggara dan Tim Pelatih pada pelatihan Aparat Desa Se-Kecamatan Nggaha Ori ANgu, Kecamatan Rindi, Kecamatan Wulla Waijelu dan Kecamatan Haharudan didukung dengan persiapan anggaran yang ada, maka kegiatan pelatihan bagi aparatur pemerintahan desa diprioritaskan pada: 1. Desa-desa yang kurang berkoordinasi dengan kecamatan; 2. Desa yang mendapatkan kesulitan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat; Pelaksanaan kegiatan pelatihan bagi aparatur pemerintahan desa menjadi salah satu mata anggaran kerja di bagian Pemerintahan Desa dari Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Timur. Pola pelaksanaan pelatihan didukung oleh sepuluh (10) orang tenaga instruktur yang terdiri dari Lingkup Asisten Tata Praja dan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) yang dibantu oleh 2 tenaga dari Lembaga Swadaya Masyarakat (GTZ-PRODA). Pelatihan dengan dana sebesar Rp.135.000.000,- telah dilaksanakanuntk 280 peserta dari 30 desa yang mewakili 4 kecamatan yaitu: Kecamatan Nggaha Ori Angu (16-18 Septemer 2002), Kecamatan Rindi (8-11 Desember 2002), Kecamatan Haharu (12-14 Desember 2002) dan Kecamatan Wulla Waijellu (19-21 Desember 2002).

Clearinghouse YIPD/CLGI Best Practices - 2

Pelatihan diselenggarakan di Ibukota Kecamatan dan Kantor/Balai Desa yang memiliki karakteristik sebagai berikut: lemah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat; lemah koordinasinya dengan Kecamatan; lemah (minus) dalam upaya pembangunan untuk peningkatan ekonomi masyarakat.

Untuk peserta yang berasal dari desa yang jauh dari tempat penyelenggaraan, pihak penyelenggara menyediakan transport dan penginapan di rumah warga masyarakat yang ada sekitar tempat pelatihan. Materi-materi pelatihan adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Otonomi Daerah dan Demokrasi; Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Desa; Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, Pelantikan, Pemberhentian Kepala Dsa dan Perangkat Desa serta Simulasi; Organisasi dan Tata kerja BPD, dan Simulasi Rapat BPD; Peraturan Desa dan Keputusan Kepala Desa, serta Simulasi membuat peraturan Desa dan Keputusan Kepala Desa; Organisasi dan Tata Kerja LPM serta Simulasi; Anggaran Pendapatan dan Pelanja Desa/APBDES) serta Praktek Penyusunan APBDES; Administrasi Pemerintahan Desa dan Praktek Pengisian Buku Register Desa; Teknik Pembuatan Laporan Pertanggungjawaban Kepala Desa; dan Rencana tindak lanjut dan pembuatan pelatihan.

Kesulitan-kesulitan dihadapi dalam pelaksanaan pelatihan: 1. Jauhnya jarak antara desa dan kota Kecamatan; 2. Infrastruktur jalan yang belum memadai; 3. Kurangnya perhatian Aparatur Pemerintah Desa karena belum tersosialisasikannya program pelatihan kepada pihak-pihak yang berkepentingan; 4. Adanya berbagai kesibukan yang dimiliki oleh aparatur desa (a.l. bertani, berternak, dan nelayan), sehingga tidak bias mengikuti pelatihan secara lengkap. Upaya pemerintah daerah untuk mengatasi kesulitan-kesulitan di atas: 1. Bagi desa yang mempunyai masalah dengan jarak (perjalanan yang jauh), maka Pemda menyediakan biaya insentif dan penginapan di rumah warga masyarakat serta sarana transportasi lainnya; 2. Untuk aparatur desa yang enggan mengikuti pelatihan (karena adanya berbagai alasan), maka Pemda melakukan kunjungan untuk sosialisasi dan penyuluhan pelatihan ke desa tersebut.

Clearinghouse YIPD/CLGI Best Practices - 3

Pelatihan dapat dilaksanakan sesuai tujuan dan dapat memenuhi target jumlah peserta sesuai dengan program yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten; Desa-desa telah dapat membuat Peraturan Desa,k APBDES (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa), Desa-Desa dapat membentuk aturan formal dalam melakukan konsultasi dan penjaringan aspirasi warga desa oleh BPD (Badan Perwakilan Desa) Lembaga Pemberdayaan Masyarakat telah mampu membuat proyeksi-proyeksi kegiatan pada skala desa; Aparatur desa mengetahui lebih banyak mengenai pemberdayaan potensi masyarakat (khususnya ekspansi lahan pertanian dan etos kerja). Hal tersebut didasari oleh adanya kesadaran Aparatur Pemerintah Desa untuk mensosialisasikan upaya peningkatan pendapatan masyarakat melalui ekspansi lahan pertanian.

Pelajaran yang diperoleh dari program ini 1. Semakin eratnya hubungan antara komponen masyarakat desa (Kepala Desa, Kepala Adat, Ketua LPM, Ketua BPD, dan masyarakat). 2. Mekanismepelatihan jembut bolatelah mendorong semakin eratnya hubungan antara Desa di satu Kecamatan. 3. Peran aparatur pemerintah desa untuk menggerakkan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian jagung dan padi. Kebersinambungan Program pelatihan aparatur pemerintahan desa merupakan program rutin yang telah ada dalam rencana strategis Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Oleh sebab itu program ini akan dapat berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar (baik kepada aparatur pemerintahan desa maupun masyarakat) dengan adanya pula dukungan dari LSM. Kemampuan untuk Ditransfer Berbagai upaya yang dilakukan oleh Kabupaten Sumba Timur untukmengatasi kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan pelatihan adalah merupakan salah satu bentuk komitmen yang dapat ditransfer kepada pemerinta-pemerintah daerah lainnya yang memiliki kondisi geografis dan sosial-budaya yang relatip sama. Secara umum program pelatihan yang dilakukan oleh Kabupaten Sumba Timur dapat ditransfer kepada pemerintah-pemerintah daerah lainnya di Indonesia. Alamat Kontak Kabupaten Sumba Timur Ir. Umbu Mehang Kunda, Bupati Sumba Timur Emmanuel Babu Eha, Wakil Bupati Sumba Timur Drs. Fransiskus PH Sah, Asisten Tata Praja Samuel S. Ekulimo, S.Sos. Kepala Dinas Hubungan Antar Desa Jl. Jend. A. Suharto No. 42 Telp. 0387 63001
Clearinghouse YIPD/CLGI Best Practices - 4

Fax 0387 63002 APKASI Novel Abdul Gofur Wisma Alia Lt. 4 Jl. Ridwan Rais 10 18 Jakarta Telp.: 021 386 7670 Fax : 021 386 7671 Sumber: Best Practices Anggota APKASI 2003

Clearinghouse YIPD/CLGI Best Practices - 5