Anda di halaman 1dari 23

Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/biokimia/bab%205.pdf.

G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web.

Page 1

PROTEIN I: KOMPONEN ASAM AMINO DAN CIRI STRUKTURAL


PENDAHULUAN Suatu sel eukariotik atau prokariotik mengandung beribu-ribu protein yang berbeda, kelas biomolekul yang paling berlimpah dalam sel. Karena setiap spesies kehidupan memiliki gugusan protein yang secara kimiawi berbeda, maka berjuta-juta protein yang berbeda terdapat dalam dunia biologi. Informasi genetik yang terkandung dalam kromosom menentukan komposisi protein dari suatu organisme, dan dengan cara ini, memberkati anggota spesies dengan keunikan

makromolekularnya.
Sebagaimana lazimnya untuk sebagian besar biomolekul, protein memperlihatkan berbagai macam kemampuan fungsional dan karena itu digunakan dalam berbagai peranan biologi. Sejumlah fungsi penting yang dilakukan oleh protein diberikan dalam daftar Tabel 5-1 _ Kedudukan mencolok yang ditempati oleh protein dalam sistem

biologi, telah diperkirakan dengan benar oleh ahli kimia Belanda


Gerardus J. Mulder, yang pada tahun 1838 memperkenalkan istilah protein, berasal dari kata Yunani proteis, yang berarti tingkatan

kepentingan pertama. Mulder berkomentar:


Dalam tumbuh-tumbuhan dan hewan terdapat suatu zat yang .... ._ tanpa diragukan lagi merupakan zat paling penting yang dikenal dalam zat kehidupan, dan tanpa hal ini, kehidupan akan tidak mungkin dalam planet kita. Bahan ini diberi nama Protein.

Walaupun protein yang secara biologis aktif merupakan makromolekul yang rata-rata berat molekular dari sekitar 6.000 (rantai

protein tunggal) hingga beberapa juta (kompleks protein), kesemuanya merupakan polimer yang terdiri dari asam amino yang berikatan secara kovalen. Jumlah, sifat kimiawi, dan urutan sekuensial dari asam amino dalam rantai protein menentukan struktur khas dan karakteristik perilaku kimiawi dari masing-masing protein. Kare-

na alasan ini, suatu pengertian akan sifat kimiawi asam amino merupakan prasyarat bagi pengertian akan penjelasan biomolekular
mengenai cara protein berfungsi dalam peranan biologisnya.

Page 2

,* 5
i (3.

Rumus ambil di buku asli


Gambar 5-1 Rumus umum dari suatu asam amino-or. R merupakan suatu rantai samping.
@Om QO

Rumus ambil di buku asli


Gambar 5-2 Asam amino dipolar (zwitterion)

~i-i3N
Gambar 5-3 Dua disosiasi dari L-alanin.
(llOO' 21 COOH
48 PROTEIN I: KOMPONEN ASAM AM/NO

Tabel 5-1 Beberapa fungsi biologi protein Fungsi Contoh Aktivitas enzimatik Glikolat oksidase dari glioksisom Alkohol dehidrogenase pada fermentasi alkohol Hemoglobin-transpor oksigen dalam darah (vertebrata) Seruloplasmin-transportembaga dalam darah Feritin-cadangan zat besi (limpa) Kasein-cadangan asam amino (susu) Kolagen-jaringan ikat fibrosa (kanilago, tulang, tendon) Miosin-filamen tebal dalam otot rangka Aktin-filamen tipis dalam otot rangka Antibodi-berinteraksi dengan protein asing Fibrinogen-protein yang diperlukan untuk pembekuan darah Insulin-regulator metabolisme glukosa Hormon pertumbuhan-diperlukan untuk pertumbuhan tulang Bisa ular--enzim hidrolitik (degradatif) Toksin C/ostridium botu/inum-toksin makanan bakterial Ietal Transpor Cadangan Struktur Kontraksi Proteksi Aktivitas hormonal Toksin

DUA SIFAT UTAMA ASAM AMINO Asam amino merupakan biomolekul kecil (berat molekul rata-rata sekitar 135) memiliki struktur umum yang dilukiskan dalam Gambar 5-1. Semua asam aminoo merupakan asam organik (oi.-COOH) mengandung suatu gugusan amino (NH2) dan atom hidrogen yang ber-

ikatan dengan or-karbon. Mereka berbeda satu sama lain melalui komposisi kimiawi dari gugusan R (rantai samping). Gugusan orCOOH dan or-NH2 terionisasi dalam larutan pada pH fisiologi, dengan gugusan karboksil deprotonasi yang bersangkut-paut dengan suatu muatan negatif, resonansi-terstabilisasi dan suatu muatan positif gugusan amino berprotonasi (Gambar 5-2). Suatu asam amino dalam keadaan dipolar disebut zwifterion. Gugusan or-COOH dan or-NH3 4' yang terdisosiasi merupakan penyebab dari dua nilai pK'a karakte-

ristik dari asam amino-or. lonisasi asam amino alanin digambarkan


dalam Gambar 5-3. Pada nilai pH rendah, molekul alanin bermuatan netto +1 karena kedua gugusan fungsional terprotonasi, contohnya pada pH 0,35, 99 persen bermuatan positif._ Dengan ditingkatkannya pH ([H"] diturunkan), terjadi lonisasi dari gugusan karboksil (pK'a1 = 2,35), menciptakan muatan molekular netto sebesar nol. Pada nilai pH alkali, gugusan NH3 + mendonasikan protonnya (pK'a2 = 9,69) dan muatan netto menjadi -1. Pada pH 11,69, 99 persen dari molekul

alanin bermuatan negatif. pH dimana muatan netto rata-rata adalah


nol (disebut titik isoionik atau pl) adalah 6,02, yang terletak di antara

coon coo- coo| rm, =2.3s I pi<;2= 9.69 |


CH3 CH3 CH3

Muatan netto: +1 0 _1

Page 3
1211109_ 87DUA SIFAT UTAMA ASAM AM/NO 49

lH,N-cmcii,,
5-

4-

p<',,= 2.35
3 _ l Gambar 5-5
O

Gambar 5-4 Kurva titrasi dari alanin Stereoisomer alanin


tl

o' 0.5 1 .o 1 .s 2.0


Ekuivalen dari OH'

dua nilai pKa ([2,35 + 9,69]/2). Suatu kun/a titrasi yang mencerminkan disosiasi ini diperlihatkan dalam Gambar 5-4. Nilai pKa yang serupa diamati untuk gugusan on-COOH dan oz-NH3 + dari sebagian besar asam amino (Tabel 5-2). Suatu asam amino dengan gugusan

ci-13 CH,
D-alanin L-alanin
x

Tabel 5-2

Nilai pK'a, pada 25C, untuk 20 asam amino yang digunakan untuk sintesis polipeptida

Asam Amino pK'a a-COOH pK'a ot-NH3* pK'a Gugus Fi Alanin Arginin Asparagin Asam aspartat Sistein Asam glutamat Glutamin Gllsin Histidin

lsoleusin
Leusin Lisin Metionin Fenilalanin Prolin

Serin
Treonin Triptofan 9

Tirosin Valin
2,35 2.17 2,02 2,09 1,71 2,19 2,17 2,34 1,82 2,36 2,36 2,18 2,28 1,83 1,99 2,21
2,63

2,38 2,20 2,32 9,69 9,04 8,80 9,82 10,78 9,67 9,13 9,60 9,17 9,68 9,60 8,95 9,21

9,13 10,60 9,15


10,43

9,39 9,11 9,62 12,48 3,86 8,33 4,25

6-0
10,53 10,07 Gambar 5-6 Beberapa gambaran struktural untuk asam amino
Asam amino-D R

I H,N-o-H cooH
012 I N

R- -COOH
21-O-I

H,N_ _coon
Asam amino-L R

l
H--(II-NH, COOH
2_n_I
I ro

R_ -COOH

H,N_ _coon
Page 4 ketiga yang dapat terdisosiasi pada rantai sampingnya memperlihatkan suatu nilai pK'a tambahan (Tabel 5-2). Kecenderungan ionisasi dari masing-masing asam amino memberikan sifat biologis penting pada biomolekul ini, dan juga memberikan sifat kimiawi yang berguna dalam riset biokimiawi, contohnya, pemisahan protein atau asam amino dan penggunaan asam amino dalam sistem dapar. Sifat khas lain dari asam amino-oi adalah asimetri dari atom oi-karbonnya. Karena empat gugusan pengganti yang berbeda terikat dengan atom ini, semua asam amino kecuali glisin (gambar 5-11) memperlihatkan stereoisomerisme. Dua isomer optis dari alanin diperlihatkan dalam Gambar 5-5. Nomenklatur D dan L dan rumus struktural diambil oleh ahli biokimia dari apa yang diajukan untuk
50 PROTE/N 1.- koMPo/vErv As/:M AM/No

gliseraldehid, dan proyeksi Fischer dari suatu asam amino-oi ditulis dengan gugusan NH2 (fungsional) di kanan dari karbon asimetrik untuk isomer-D dan di kiri untuk isomer-L. Dalam biokimia, rumus struktural dari asam amino sering tidak ditulis sebagai proyeksi Fischer. tetapi dengan cara yang cocok untuk topik tertentu yang disajikan. Gambar 5-6 melukiskan beberapa asam amino struktural yang sering digunakan. Hampir semua fungsi biologi yang melibatkan asam amino mempunyai kebutuhan ketat akan isomer-L; namun, terdapat kegunaan biologis terbatas dari asam amino-D, karena mereka ditemukan dalam sejumlah bahan biologis, contohnya, dinding bakteri tertentu dan sejumlah antibiotika. Sejumlah kecil asam amino memiliki dua karbon asimetrik dan, dari empat isomer optis, biasanya hanya satu yang aktif secara biologis. RESIDU ASAM AMINO POLIPEPTIDA Dari 100 lebih asam amino yang terdapat secara alami, hanya 20 yang digunakan dalam biosintesis polipeptida. Francis Crick menciptakan istilah magic 20 untuk membedakan set asam amino yang

diperlukan oleh semua spesies hidup untuk sintesis protein. Lebih


dari 20 asam amino telah diidentifikasi dalam struktur protein; namun.
pada semua kasus, modifikasi kimiawi dari asam amino "magic 20"

tertentu (terjadi setelah penggabungan ke dalam suatu polipeptida) menyebabkan terjadinya residu tambahan ini. Contohnya, residu pro-

lin tertentu yang digabungkan (lihat Gambar 5-8) dapat dikonversi


menjadi residu hidroksiprolin (lihat Gambar 5-19), dan sejumlah residu serin (lihat Gambar 5-12) menjadi residu fosfoserin (lihat Gambar 5-20).

Sifat kelarutan dan ionisasi dari gugusan R merupakan ciri asam amino yang berpengaruh, dan secara kolektif mempunyai sumbangan yang besar bagi struktur tiga-dimensi asli dari masing-masing

polipeptida. Atas dasar dua karakteristik dari gugusan R-nya, ke-20 asam amino diklasifikasikan menjadi empat kategori, sebagai berikut. Kelompok R nonpolar

Delapan dari asam amino memiliki rantai samping nonpolar, dan sebagai suatu gugusan, memperlihatkan derajat hidrofobisitas yang beragam. Empat (alanin, va/in, /eusin, dan iso/eusin) memiliki
Page 5
HESIDU ASAM AMINO POLIPEPTIDA 51

cv ,n I 'I
Lu N

..I
'O -0-I 2-0-I + I
H+

0 I\ .J .J

5.?
<-5
H+

0I

2-0-I I
(A+ I

cH_
_ -COO* CH- -C00'
NH3 Alanin Ala, A

/fcH_cH;.- -coo- Hae-cH._. ca- -C00~


CH?

Leusin isoleusin

Leu. L "G, I gugusan R alifatik nonsiklik (Gambar 5-7). (Rumus struktural asam amino diperlihatkan sebagai bentuk terionisasi yang berpredominasi

pada pH fisiologi. Singkatan tiga- dan satu-huruf konvensional juga


diberikan datanya.) Alanin adalah hidrofobik terkecil dari delapan asam amino karena rantai samping metil yang kecil. Valin, leusin,

dan isoleusin disebut asam amino berantai cabang karena adanya percabangan pada gugusan R alifatiknya. Asam "amino" kelima dari
kelompok ini adalah pro/in (Gambar 5-8), yang memiliki struktur alifatik heterosiklik yang termasuk gugusan R maupun atom nitrogen-

oi. Jadi, prolin berbeda dari 19 asam amino lain karena merupakan suatu asam imino, yang memiliki gugusan imino (=NH) daripada
gugusan amino (-NH2). Asam amino keenam, metionin (Gambar 5-9), memiliki atom sulfur pada sisi rantai nonpolarnya dan merupakan salah satu dari asam amino mengandung-sulfur yang diga-

bungkan ke dalam protein. Dua asam amino sisanya, feni/a/anin dan triptofan (Gambar 5-10), memiliki cincin aromatik yang tidak larut
dalam air dalam strul<tu rnya. Fenilalanin memiliki gugusan fenil pada

rantai sampingnya, dan triptofan memiliki gugusan indol (suatu cincin terkondensasi terdiri dari benzen dan pirol); keduanya dianggap
asam amino aromatik.
Gugus fenil GUGUS id0| rm iiiiii I I -I "I 0-I Gambar 5-7 Alanin dan tiga asam amino rantai cabang.
H-

-i ~ C cooHI; /

Prolin Pro, P

C \ H..c... N H Gambar 5-8 Suatu asam imino


Metionin Met, M

Gambar 5-9 Suatu asam amino yang mengandung sulfur z-o

5
O

O O
I

U "'
"(3 :f I

2_
I
U4

HH Fenilalanin Tripwfan

FG. F 'r Trp, W

Kelompok R polar tidak bermuatan Kelas yang mengandung tujuh asam amino ini secara relatif hidrofilik karena gugusan fungsional polar pada rantai sampingnya. Glisin, asam amino nonsimetrik (Gambar 5-11), kadang-kadang dianggap
Dua asam amino aromatik

Page 6
z-0-I
I 1->+

H _ -COO Glisln Gli, G

Gambar 5-11 Asam amino tanpa karbon asimetrik Gambar 5-12 Tiga asam amino terhidroksilasi. Gambar 5-13 Sistein dan bentuk teroksidasi. Gambar5-14 Dua asam amino dengan gugus amida
I

seca _ --cooNH;
Aspartat Asp, D
O

Glutamat Glu, E Gambar 5-15

Asam amino asidik


-COO'

52 PROTEIN 1.- KOMPONEN AsAM AM/NO

nonpolar. Namun, gugusan R glisin yang kecil (suatu atom hidrogen)

pada hakekatnya tidak mempunyai efek terhadap hidrofilisitas dari molekul. Tiga asam amino (serin, treonin, dan tirosin) terhidroksilasi,
dan gugusan OH menyumbang terhadap polaritasnya (Gambar 5-

12). Tirosin, seperti fenilalanin dan triptofan, juga merupakan asam amino aromatik. Sistein, asam amino lain yang mengandung sulfur (Gambar 5-13), adalah polar karena adanya gugusan sulfidril (- SH). Sering pada struktur protein, dua residu sisteinil terikat secara
kovalen satu sama lain melalui oksidasi dari gugusan sulfidrilnya,

yang menghasilkan suatu ikatan disulfida (-S-S-). Bentuk teroksidasi dari sistein ini disebut sistin (Gambar 5-13). Asparagin dan glutamin (Gambar 5-14) berasal dari asam aspartat dan asam glutamat (paragraf berikutnya), dan masing-masing memiliki gugusan amida
polar pada rantai sampingnya. '
.. 2-0-I I
(Jt.

I-n ~o I 2-0-I I
(H+

IQ' of I " ,pr 2 0-I I


U+

Serin Treonin 'nrosin Ser, S Thr, T 'rf' Y


I

COO^ COO'
ro Zai u
(J

NH; CH2-S-S-CH2

Sistein ssun
SIS. C sis 315

Gugus amida
lil

N H, -CH, _ _coo- c...-cH,_,<:H ,_ _coof


Aspfagi Glutamin
ASH. N Gln, Q

Kelompok R polar bermuatan negatif (asam) Baik asam aspartat dan asam glutamat memiliki gugusan karboksil kedua, yang terionisasi penuh (bermuatan negatif) pada pH fisiologi (Gambar 5-15). lonisasi ini secara bermakna menyumbang pada polaritas dari rantai sampingnya. Asam aspartat (HA), jika gugusan

on-COOH-nya berdisosiasi menjadi COO', disebut aspartat^(A), dan demikian pula asam glutamat menjadiglutamat. Keduanya disebut sebagai asam amino asam karena mereka mendonasikan H+ jika dimasukkan dalam larutan. _
Page 7
RES/DU ASAM AM/NO POL/PEPTIDA 53

Kelompok R polar bermuatan positif (basa)


Gambar 5-16 Dua asam amino dasar.

Lisin dan arginin, dua dari tiga asam amino dasar, memiliki gugusan R yang pada pH fisiologi bermuatan positif (Gambar 5-16). Muatan ber-ion diberikan melalui protonasi dari gugusan asam amino e-kar- 'HEN _CHZ--CH,-CH,_cH2_ bon dari lisin dan gugusan guanidin dari arginin. Asam amino ketiga, histidin (Gambar 5-1 7), memiliki gugusan R imidazolium dengan nilai V usm
_COO-

pK'a 6,0 (Tabel 5-2), dan karena itu, berprotonasi kurang dari 10 - us,i< persen pada pH 7. Sifat dasar histidin jelas kecil. Dari 20 asam amino, Gugus histidin merupakan satu-satunya asam amino yang titik isoioniknya Ga"'"'" sekitar 7,6 dekat dengan pH fisiologi. Bentuk asam amino alo
2,2. I z-0-I I
H+

I
Argiriin

Isoleusin dan treonin merupakan contoh dari asam amino yang Afg' R
memiliki dua karbon asimetrik. Di antara masing-masing empat stereoisomer yang mungkin, hanya L-isomer yang digunakan untuk

sintesis protein. Rumus struktural dari isomer isoleusin


digambarkan dalam Gambar 5-18. Nomenklatur alo mengidentifikasi dua isomer lain (di samping bentuk D- dan L-), yang juga merupakan enansiomer (bayangan cermin). L-Isoleusin dan L-alo-isoleusin mempunyai konfigurasi yang sama pada on-karbon, tetapi konfigurasi yang ber-

lawanan pada karbon (B C) asimetrik kedua. Hal yang sama juga


terjadi pada D-isoleusin dan D-alo-isoleusin. Jika suatu senyawa mempunyai lebih dari satu karbon asimetrik, maka

yang bukan bayangan cermin dari masing-masing


stereoisomer

disebut diastereomer. Dalam kasus isoleusin, contohnya L-isoleusin, merupakan enansiomer dari D-isoleusin dan suatu diastereom
D-alo-isoleusin.
:II:

Gugus imidazolium Histidin

His, H
COO' COO' COO"
O

-NH; H3C_ H :CH 3 L-alo-Isoleusin D-Isoleusin


(2S), (3Fi) (2R), (3R)

L-isoleusin (23). (3S)

ele Atom karbon asimetrik Juga tercatat adanya konfigurasi R & S

er dari L- dan
OII

Gambar 5-17 _(300- _,_ H+ Disosiasi gugusan R dari histidin.


COO-

o-o-nI
PO

o I + Gambar 5-18 _NH3 Rumus proyeksi Fischer dan' empat ste_H reoisomer isoleusin.
U

D-alolsoleusin

(2Fi). (SS)

Page 8
54 PROTEIN 1.- KOMPONEN ASAM AM/No Gambar 5-19 Bentuk terhidroksilasi dari prolin dan lisin
I
uoio__

/ on Lt I

Ho- ,cuz ?cH_coo~


6/ ~. N

H5
4-Hidroksiprolin `
I

C ` coo'I'

I
U

z
00?

I N 0-0 II I
LX N

God

I
N

IN)

2-0-

I
W4- _.

5-Hidroksilisin

Gambar 5-20 Dua asam amino terfosforilasi

-0- _o-cuz- -cooFostoserin

HH c-c

_ / \\ _
o- -0-c c-cH,- -coo
- C=C HH Fostotirosin Gambar 5-21 Suatu asam amino terformilasi.
-=O N-Formilmetionin

Gambar 5-22 Beberapa asam amino yang terdapat secara alamiah tidak digunakan untuk sintesis protein.

ASAM AMINO MODIFIKASI

Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, bentuk termodifikasi dari sejumlah asam amino ditemukan dalam protein tertentu. Kolagen, protein struktural utama dari vertebrata yang lebih tinggi, mengandung residu 4-hidroksipro/in dan 5-hidroksilisin (Gambar 5-19). Sejumlah protein, contohnya kasein dari susu dan enzim tertentu, memiliki bentuk fosforilasi dari serin, fosfoserin (Gambar 5-20). Fos-

fotirosin (Gambar 5-20) merupakan asam amino terlosforilasi lainnya. Karena beberapa onkogen (gen yang berubah penyebab dari perubahan sel normal menjadi sel kanker) menghasilkan enzim yang secara spesifik memfosforilasi tirosin dari protein, maka modifikasi jenis asam amino tertentu dan peranannya dalam transformasi sel dewasa ini mendapat minat riset yang besar. Pada Escherichia co/i, sintesis protein diawali dengan suatu derivat metionin, N-formil-

metionin (Gambar 5-21 ). Banyak asam amino yang terdapat secara alamiah tidak ditemukan dalam protein; di antaranya adalah homoserin, ornitin, B- alanin, dan asam y-aminobutirat (Gambar 5-22). CIRI IKATAN POLIPEPTIDA Ikatan kovalen yang mengikat asam amino bersama-sama dalam protein disebut suatu ikatan peptida, dan dibentuk oleh reaksi antara

gugusan or-NH3 J' dari satu asam amino dan gugusan oz-COO` dari asam amino lain (Gambar 5-23). Dalam reaksi dehidrasi, dihasilkan
juga suatu molekul air; hidrolisis dari ikatan peptida diperlukan untuk meregenerasi asam amino. Molekul yang terdiri dari banyak ikatan

peptida sekuensial disebut polipeptida, dan satu atau lebih rantai po-

lipeptida dapat ditemukan dalam struktur molekular dari suatu protein

yang aktif secara biologis. Suatu unit asam amino dari suatu polipeptida disebut residuasam amino, contohnya, residu alanil (alanin) atau glisil (glisin). Dalam suatu struktur polipeptida, dua residu asam amino terminal merupakan satu-satunya yang memiliki gugusan orNH3 J' atau ot -COO` bebas (Gambar 5-24). Residu terminal dengan

gugusan on-NH3* disebut residu termina/-N atau terminal-amino. Terminalkarboksil atau residu terminal-C memiliki gugusan oi-COO` bebas dan terdapat pada terminus lain dari polipeptida. Dalam sistem
biologi, polipeptida disintesis dari terminus amino ke terminus kar-

boksil, dan konvensi yang lazim diterima adalah menuliskan urutan asam amino suatu polipeptida dari kiri ke kanan, dimulai dengan residu terminal-N (Gambar 5-24).
-COO'
Zifw II
504'

Zia II H+

HO-CH2-CH2_ -CO0" +H3N_CH2-CH2-CH2Homoserin Ornitin


V. ff ) ii 7

+H3N-CH2-CH2-COO- +H3N-CH2_CH2~CH2-C00'
p.A|anir| y-Aminobutirat

(asam amino-is) (asam amifw-Y) Page 9


PEPTIDA 55 -I -I -0-I -0-I

_ _ _coo
O

_COO'
Hz 3-es 5
Tefminus aming TBHH FIUS kaf'DOkSi|

iii Ikatan peptida

+H3N coo_au-0-:r:
O=O
IZ

DiO1I
N

010

/I?
I_O_'I O:-O IZ 3D*(7_I
U
ID

020 I2

Jm-n-:r:
O O

PEPTIDA Tidak semua polimer asam amino yang penting secara biologis

merupakan polipeptida yang besar, karena banyak peptida (biasanya


mengandung 2-30 residu asam amino) juga mempunyai fungsi biologi yang penting. Beberapa terdapat dalam Tabel 5-3. Leu- dan met-ensefalin merupakan pentapeptida yang seperti hormon (dise-

but peptida opiat), bertindak menghilangkan rasa nyeri. Aktivitas


hormonalnya ditiru oleh metabolit tumbuh- tumbuhan tertentu, con-

tohnya opium. Dua hormon peptida lain adalah angiotensin ll, suatu
vasokonstriktor poten, dan vasopresin, suatu antidiuretik.

Gramasidin S, dihasilkan oleh strain Bacillus brevis, merupakan


contoh suatu peptida antibiotika yang mengandung asam amino-D (Phe) dan ornitin (Gambar 5-22), suatu asam amino yang digunakan dalam siklus urea tetapi bukan untuk sintesis protein. Magainin 1,

yang diisolasi dari kulit katak, merupakan suatu peptida asam amino23 yang menghambat pertumbuhan sejumlah spesies bakteri dan
jamur, dan menginduksi Iisis osmotik dari protozoa. Magainin 2, juga diisolasi dari kulit katak, berbeda dari magainin 1 di mana masing-

masing residu 10 dan 22 adalah Lis dan Asn. Sifat antimikrobial dari kedua magainin (nama berasal dari kata Ibrani magain yang berarti
Tabel 5-3 Beberapa peptida yang terjadi secara alamiah Nama Struktur Leu-ensefalin Tir-Gli-Gli-Fe-Leu Met-ensetalin Tir-Gli-Gli-Fe-Met Angiotensin ll Asp-Arg-VaI-Tir-lle-His-Pro-Fe Vasopresin _ Sis-Tir-Fe-Gin-Asn-Sis-Pro-Arg-Gli Gramasidin S ( D-Fe-L-Pro-L-Val-L-Om-l--Leu ) D-Leu-L-Om-L-Val-L-Pro-D-Fe Magainin 1 Gli-Ile-Gli-Lis-Fe-Leu-His-Ser-Ala io Gli-Lis-Fe-Gli-Lis-Ala-Fe-Val22 Gli-Glu-ile-Met-Lis-Ser Gambar 5-23 _ Pembentukan suatu dipeptida pada pH ti siologi.
Gambar 5-24

Ciri struktural dasar dari suatu polipeptida yang mengandung 100 residu asam amino.

Page 10
55 PROTEIN I: KOMPONEN ASAM AM/NO

Gambar 5-25 Sifat ikatan-ganda parsial dari suatu ikatan peptida yang menjadikannya planar. (531: :Of Gambar 5-26 Skema unit ikatan peptida kaku suatu polipeptida dan ikatan yang menghubungkan

gugus peptida yang mempunyai derajat kebebasan rotasional yang besar.

tameng) memiliki potensi terapeutik penting dalam pengobatan infeksi bakteri, jamur, dan protozoa pada manusia. TINGKAT STRUKTURAL PROTEIN Konformasi asli dari suatu protein ditentukan oleh interaksi antara suatu polipeptida dan lingkungan akuanya, di mana polipeptida men-

dapatkan struktur tiga-dimensi yang secara energi stabil, seringkali


konformasi memerlukan jumlah energi yang terkecil untuk bertahan. Makromolekul seperti ini memiliki struktur tiga-dimensi yang sangat kompleks. Terdapat empat tingkatan struktur yang saling mempengaruhi konformasi fungsional biologis dari protein. Tiga di antara tingkat struktural ini (primer, sekunder dan tersier) dapat ditemukan dalam molekul yang terdiri dari suatu rantai polipeptida tunggal, sementara yang keempat( kuaterner) melibatkan interaksi dari polipeptida di dalam suatu molekul protein berantai banyak. Struktur primer Tingkat struktur ini mengacu pada jumlah dan urutan asam amino

dalam suatu protein. Ikatan peptida kovalen merupakan satu- satunya jenis ikatan yang terlibat pada tingkat struktur protein ini. Karena

masing-masing ikatan peptida memiliki sifat ikatan-ganda parsial (Gambar 5-25), maka merupakan suatu bidang yang relatif kaku
dengan atom hidrogen dari gugusan amida trans terhadap oksigen dari gugusan karbonil. Sebagai akibat dari karakteristik ikatan-ganda C-N, tidak terdapat rotasi bebas pada sumbu ini (Gambar 5-26).
` Unit planar kaku Rotasi bebas ~

Namun, terdapat kebebasan rotasional di sekitar ikatan tunggal (sudut rotasi 4) dan \|1) yang menghubungkan setiap atom C-on dengan atom N dan C dari ikatan peptida (Gambar 5-27). Rotasi bebas ini memungkinkan gugusan R yang melekat pada karbon-on memiliki peranan yang berpengaruh dalam menetapkan struktur tiga-dimensi dari rantai polipeptida.
Struktur sekunder

Tingkatan berikut ini lazimnya mengacu pada jumlah keteraturan struktural yang dikandung dalam suatu polipeptida sebagai akibat
Page 11 Page 12
58 PROTEIN 1.- KOMPONEN ASAM AM/NO Asam amino yang mempengaruhi struktur heliks ot
aran ke 'ma

- Glutamat
U

Aspartat

mD3 P

Arginin Glisin Serin lsoleusin ' Treonin


Pu aran kee
ga

Ciptakan belokan pada heliks-ot Z Prolin Hidroksiprolin


aran ke aPu aran kedu Pt Pu aran pertam aer' - 1

Tabel 5-4' _ w.
_ : I puncak 5.4 Destabilisasi heliks-on -- residu 3.6 ;

A
8 res du 27 1

/I ,

io-7 g' 3:..

155* perresidu .. -L ~ Kenaikan

rantai saling tolak satu sama lain (penolakan elektrostatik), dan tenaga penolakan lebih_ besar daripada ikatan hidrogen. Suatu kelompok residu isoleusil, karena gangguan sterik yang diberikan oleh gugusan R yang besar, juga memutuskan konformasi hidrogen. Di pihak lain, glisin, dengan atom hidrogen yang kecil sebagai gugusan R, merupakan destabilisatorlain. Tidak adanya rantai samping pada glisln memungkinkan adanya derajat rotasi yang besar di sekitar karbon-ot dari asam amino; dengan demikian, konformasi sudut ikatan heliks-ot yang lain mungkin terjadi. Dengan kata lain, untuk

Gambar 5-29 ' Ukuran rata-rata dari suatu heliks-ot: merah C dan N merupakan atom karbon dan nitrogen dalam ikatan peptida; Abu-abu C merupakan suatu karbon-or yang dilekati rantai samping. (Menurut L. Pauling dan RB. Corey, Proc. Intern. Wool Textile. Conf., B.249, 1955)

suatu urutan residu glisil, kontormasi heliks-ot tidak merupakan konformasi dengan stabilitas maksimal. Pauling dan Corey mengidentifikasi jenis kedua dari struktur sekunder, disebut struktur lembaran ber//pat-B, yang tergantung pada

ikatan hidrogen antar-mo/ekul (antar rantai). Salah satu struktur ini adalah lembaran berlipat-B antiparalel (Gambar 5-30), di mana
masing-masing rantai polipeptida diperluas dan berikatan maksimal dengan dua polipeptida bertetangga. Pada suatu struktur antiparalel,

polipeptida yang bertetangga berjajar dalam arah terminus N-dengan-C yang berlawanan. .Jika dalam suatu struktur berlipat-B

polipeptida bertetangga yang berikatan dengan hidrogen terjajar dalam arah N-dengan-C yang sama (Gambar 5-30), maka struktur

Page 13 Page 14
Gambar 5-32

Berbagai jenis ikatan dan interaksi yang menstabilisasi struktur protein: (a) interaksi elektrostatik; (b) ikatan hidrogen; (c) interaksi hidrofobik dari rantai samping non-polar; (d) interaksi dipolar-dipolar; (e) hubungan disultida. (Menurut C.B. Anfinsen, The Molecular Basis of Evolution. New York: Wiley, 1959) 60 PROTEIN /; KOMPONEN AsAM AM/No
Rantai polipeptida

l f cH2 -NH,
CH :

cH3

cH, vj cn, cH,oH

bentuk protein yang secara biologis aktif. Sebagian enzim adalah


oligomerik, sebagai contoh, terdiri dari dua atau empat polipeptida (protomer atau subunit), dan struktur kuaternernya dipertahankan oleh interaksi spesifik yang melibatkan anggota protomernya. Kekuatan kohesi yang bertanggung jawab biasanya adalah kekuatan yang sama seperti yang terlibat dalam stabilisasi struktur tersier dari suatu polipeptida. Contohnya, beberapa polipeptida terutama menggandalkan interaksi hidrofobik dari protomernya dan yang lain pada daya tarik elektrostatik. Struktur kuaterner diidentifikasi sebagai homogen (mengandung protomer yang identik) atau heterogen (protomer yang tidak sama). Hemoglobin, protein pembawa oksigen

dari sel darah merah, merupakan suatu tetramer (empat protomer) dengan suatu struktur kuaterner heterogen terdiri dari dua rantai-oi identik dan dua rantai-B identik. (Sebutan oi- dan B-, yang merupakan
label lazim dalam biokimia, semata-mata digunakan untuk mengidentifikasi dua rantai polipeptida berbeda dan tidak perlu dibingung-

kan dengan struktur oi- dan B- sekunder atau asam amino cx- dan B-.)
SPESIFIKASI KONFORMASI MELALUI STRUKTUR PRIMER

Penelitian oleh Christian B. Anfinsen (Hadiah Nobel, tahun 1972)


mengenai enzim pankreas ribonuklease A memberikan ilustrasi

terkait mengenai pengaruh struktur primer terhadap struktur tiga dimensi. Flibonuklease yang aktif secara biologis, suatu polipeptida
berantai tunggal dari 124 residu asam amino, memiliki empat ikatan

disulfida (Gambar 5-33). Pengobatan ribonuklease dengan Bmerkaptoetanol (yang mereduksi ikatan disulfida menghasilkan residu sisteinil) dengan adanya urea atau guanidin HCl (agen pen-

denaturasi yang memecah interaksi nonkovalen) menyebabkan

enzim kehilangan koniormasi aslinya dan menjadi suatu gulungan acak(Gambar 5-34). Bentuk denaturasi tereduksi dari polipeptida ini tidak memiliki aktivitas enzimatik. Jika agen pereduksi dan penPage 15 DUA T/PE UTAMA Ko/vFoRMAs/ PROTE/N 61
COO'

Gambar 5-33 Rangkaian asam amino dan' ribonuklease A (bovin), dengan residu sisteinil yang membentuk empat ikatan disulfida yang diidentikasi dengan wama merah. (Menumt C.W. Hirs, S. Moore, dan W.H. Stein, J. Biol. Chem., 235:633, 1960)

denaturasi ini selanjutnya diangkat dan direduksi, ribonuklease tidak aktif terpapar dengan udara dalam keadaan yang sesuai, maka

gugusan sulfidril teroksidasi lagi dan secara perlahan-lahan protein mendapatkan semua aktivitas enzimatik yang pokok. Gulungan acak, terbebas dari keadaan yang mencegah interaksi konformasional, secara spontan memantapkan kembali bentuk aktif biologis

dari enzim ini (Gambar 5-34). Dari 105 susunan ikatan disulfida intramolekular berbeda yang mungkin di antara delapan residu sisteinil untuk menghasilkan empat ikatan disulfida, empat yang spesifik diperlukan untuk aktivitas enzimatik diregenerasi secara spontan melalui oksidasi dalam proses renaturasi. Dengan demikian, terbukti bahwa urutan asam amino dari ribonuklease, dispesifikasi menurut kode genetik, melengkapi informasi yang diperlukan untuk menetapkan konformasi asli enzim, suatu struktur yang dipilih secara termo-

dinamika. Karena itu konformasi khas yang berkaitan dengan protein, ditentukan oleh susunan spesifik dari informasi yang terkandung dalam urutan primer asam amino yang dikembangkan selama proses evolusi biologis. DUA TIPE UTAMA KONFORMASI PROTEIN - - . Istilah fibrosa dan globular menjelaskan dua kelas utama protein. Protein fibrosa terdiri dari polipeptida individual yang sering terkait silang secara lateral melalui beberapa jenis ikatan. Karena strukturnya, secara fisik protein fibrosa tahan dan tidak larut dalam air-sifat
HS-CH,-CH,-OH
Merkaptoetanol-B

ll
H,N-C-NH,
Urea

NHQCI-

ll
H, N-C-N H, Guanidinium klorida
1

8 M urea dan merkaptoetanol-B

i" 1
l K, SH
/gm
1)

65 59\sH 110 {~

72 /.\sH \ ;\SH SH HS
84

j \-135
HS I 1. Pengangkatan urea dan

merkaptoetanol-B 2. Oksidasi dalam udara


1

1
Gambar 5-34 Denaturasi dan renatu rasi dari ribonuklease A.

Page 16
Gambar 5-35 Skema dari tiga gulung helik-ci dalam keratin. Gambar 5-36 Skema heliks untai-tripel dari tropokolagen.
I

-l

l
1

ft 62 PROTEIN I: KOMPONENASAM AMINO

yang berharga dari peranannya sebagai unsur struktural jaringan.

ot-Keratin, kolagen, dan sutera merupakan contoh protein fibrosa. Unit struktural dasar dari on-Keratin (protein dari rambut, bulu, dan kuku), biasanya terdiri dari tiga polipeptida heliks-or bertangan kanan dalam gulungan bertangan kiri yang distabilisasi oleh ikatan disulfida terkait silang (Gambar 5-35). Sebagai kontras, kolagen dari kulit, tulang, dan_kartilagotidak memiliki heliks-or karena kandungan yang tinggi dari glisin (33 persen) dan prolin serta hidroksiprolin (kombinasi 25 persen). Namun, karena asam amino tertentu ini terjadi dengan keteraturan yang berulang dalam urutan ini, maka polipeptida memiliki struktur heliks tiga residu, unik, ketat yang bertangan kiri. Tiga dari rantai polipeptida ini terbungkus satu dengan lainnya dalam model kabel dan terkait silang dengan ikatan hidrogen membentuk tropokolagen, unit struktural dasar dari kolagen (Gambar5-36). Serat sutera, suatu B-keratin, merupakan contoh dari struktur fibrosa yang terdiri dari polipeptida yang tersusun dalam lembaran berlipat-B antiparalel (Gambar 5-30). Suatu fenomena menarik terjadi pada saat rambut atau wool (ot-keratin) diberikan panas lembab dan diregangkan, karena dihasilkan struktur B-keratin, dengan lembaran berlipat-B

paralel (Gambar 5-30). Protein globular, tidak seperti protein fibrosa, larut dalam air dan memiliki struktur sferoidal, kompak; sifat struktural tersier dan kuaterner biasanya berkaitan dengan kelas protein ini. Protein globular secara biologis aktif dan merupakan mayoritas besar dari spesies molekul protein dalam sistem kehidupan, contohnya enzim dan antibodi. Penelitian mengenai struktur tiga dimensi protein globular merupakan aspek utama dari riset biologi molekular karena hubungan intrinsik antara struktur dan fungsinya. RINGKASAN
Protein terdiri dari asam amino yang dihubungkan satu sama lain oleh ikatan peptida. Suatu asam amino lazimnya diklasifikasikan sebagai suatu molekul yang memiliki gugusan oi-karboksil maupun oz-amino. dan secara kimiawi juga suatu rantai samping khas (gugusan Ft) yang melekat dengan oi-karbon. Karena gugusan amino dan karboksil merupakan donor dan akseptorproton, maka secara karakteristik asam amino mempunyai dua nilai pK'a; suatu asam amino mempunyai pK'a ketiga jika rantai samping mempunyai gugusan yang dapat terionisasi tambahan. Sifat fisik lain dari asam amino adalah stereoisomerisme (bentuk D- dan L-), sebagai akibat asimetri yang berkaitan dengan oi-karbon dari semua asam amino kecuali glisin. Beberapa asam amino, contohnya isoleusin dan treonin, mempunyai dua karbon asimetrik dan dengan demikian empat stereosiomer. Hanya asam amino bentuk L-_, dengan beberapa pengecualian, digunakan oleh spesies biologis. Duapuluh asam amino yang sama diperlukan oleh semua organisme untuk sintesis protein. Walaupun dimodifikasi, misalnya dihidroksilasi atau diiosforilasi, asam amino tertentu ini ditemukan pada beberapa protein, modifikasi terjadi setelah asam amino dimasukkan menjadi struktur polipeptida. Asam amino "magic 20" dapat diklasifikasikan dalam empat gugusan berikut berdasarkan pada hidrofilisitas atau hidrofobisitas dari rantai sampingnya. Delapan asam amino dengan gugusan Fi nonpolar adalah alanin, valin, leusin, isoleusin, prolin, metionin, fenilalanin, dan triptofan. Prolin unik diantara 20 asam amino karena merupakan suatu asam imino. Tujuh asam amino dengan gugusan R polar tidak bermuatan adalah glisin, serin, treonin,

Page 17
Fi/NGKASA/v 63 tirosin, sistein, asparagin, dan glutamin. Asam aspartat dan asam glutamat merupakan dua asam amino dengan gugusan Ft polar bermuatan negatif (asam); lisin, arginin, dan histidin merupakan tiga asam amino dengan gugusan R polar bermuatan positif (basa). Banyak polimer asam amino kecil, disebut peptida (memiliki 2-30 residu asam amino), mempunyai fungsi yang penting. Peptida seperti ini termasuk Ieu- dan met-ensefalin, yang seperti hormon peptida, bertindak untuk menghilangkan nyeri dan peptida antibiotika gramisidin S (dihasilkan oleh suatu bakteri) dan magainin 1 dan 2 (dihasilkan oleh katak). Terdapat empat tingkatan struktur protein-primer, sekunder. tersier. dan kuaterner. Struktur primer merupakan jumlah dan urutan asam amino dalam suatu polipeptida. Struktur sekunder mengacu pada jumlah keteraturan struktural dalam suatu protein. Konformasi heliks-oi dari suatu

polipeptida, dihasilkan melalui pengikatan hidrogen intramolekular (intrarantai), merupakan salah satu jenis struktur sekunder. Jenis lain adalah struktur lembaran berlipat -[S, yang bisa terdapat di antara rantai polipeptida yang bertetangga (melalui pengikatan hidrogen intermolekular) atau di dalam struktur tiga dimensi dari suatu protein globular, contohnya suatu enzim. Struktur tersier merupakan akibat dari pelipatan dan penggulungan yang dialami suatu polipeptida dalam mencapai suatu bentuk molekular globular. Interaksi nonkovalen antara gugusan Fl asam amino dalam suatu rantai polipeptida sangat mempengaruhi struktur tersier, yaitu interaksi hidrofobik dan daya tarik elektrostatik. Tingkatan struktur keempat, kuaterner, melibatkan interaksi antara dua atau lebih polipeptida untuk menghasilkan bentuk oligomerik dari protein aktif secara biologi. Jenis interaksi nonkovalen yang sama yang menstabilisasi struktur tersierjuga terlibat dalam produksi struktur kuaterner. Protein diklasifikasikan sebagai fibrosa dan globular. Protein fibrosa terdiri dari polipeptida yang sering terkait silang secara lateral dengan berbagai jenis ikatan, menghasilkan protein struktural yang kuat dan tidak larut dalam air, contohnya oi-keratin dari rambut dan kulit, kolagen dari tendon, dan sutera. Protein globular larut dalam air dan mempunyai struktur sferoidal, kompak. Protein ini merupakan protein sistem kehidupan yang aktif secara biologis, contohnya enzim dan antibodi. PERTANYAAN Sebagai bagian dari Pertanyaan 2 Bab 3, (a) gambarkan empat stereoisomer dari treonin; sekarang identifikasi bentuk D-a/o dan L-alo, demikian juga isomer Ddan L-, dari asam amino. Mana dari stereoisomer merupakan diastereomer (b) dari D- a/o-treonin dan (c) dari D-treonin? Gambarkan rumus untuk memperlihatkan disosiasi (Tabel 5-2) dari (a) glisin, (b) asam aspanat, dan (c) lisin dengan perubahan pada pH. Muatan netto apakah yang secara predominan dimiliki masing-masing dari tiga asam amino pada (d) pH 1 dan (e) pH 7? (f) Hitung titik isoionik dari tiga asam amino. Dalam Tabel 5-2, asam amino mana yang mempunyai nilai pK'a yang terdaftar tidak sebagaimana mestinya seperti suatu gugus oi-NH3*? Mana dari asam amino berikut, dalam Tabel 5-2 yang dapat memiliki kemampuan pendaparan efektif pada (a) pH 4, (b) pH 6, dan (c) pH 7? Mengapa rangkaian residu lisil dalam suatu rantai polipeptida mendestabilisasi suatu penyesuaian heliks-oi ? Dengan polipeptida berikut: Gli-Ala-Asp-Pro-Lis-Met-Sis-Fe-Lis-Arg-Glu-Asp-Ser Berapa kemungkinan muatan netto (a) pada pH ldan (b) pada pH 7? Berapa banyak asam amino residu (c) berantai-cabang, (d) mengandung-sulfur, dan (e) terhidroksilasi yang dimiliki? Berapa banyak (f) gugus Ft nonpolar dan (g) gugus Fl polar tidak bermuatan yang dimiliki peptida pada pH fisiologi? (h) Apakah peptida dapat memiliki ikatan disulfida intramolekular?

Page 18
H' ` l

64 PROTEIN I: KOMPONEN ASAM AM/No 7. Dengan rangkaian asam amino dari suatu potongan polipeptida besar: -Pro-Sis-Thr-Val-Thr-Arg-Asn-Met 12345678 -Glu-Fe-Ala-Asp-Gli-Gli-Gli-Gli 910111213141516 -Val-Met-Sis-lle-Trp-His-Lis-Asn 1718 19 20 21 22 23 24 (a) pada pH 7, residu manakah yang kemungkinan merupakan penyesuaian heliks-oz? (b) residu mana yang akan menghasilkan belokan pada suatu penyesuaian heliks-ot? (c) seri residu mana yang akan mendestabilisasi suatu penyesuaian helisk-ot? Jika gugus R dari pasangan residu berikut dalam potongan polipeptidil dapat bereaksi, jenis interaksi manakah yang kemungkinan dapat terjadi? (d) 12 dan 23 (e) 10 dan 20 (f). 2 dan 19 (g) 9 dan 12 (h) 3 dan 12 (i) 4 dan 17 (j) 5 dan 9 8. Mengenai berbagai jenis ikatan dan interaksi yang digambarkan pada Gambar 5-32, residu asam amino manakah terlibat pada masing-masing dari delapan contoh yang digambarkan?

BACAAN ANJURAN
Barret, G. C., ed., Chemistry and Biochemistry of the Amino Acid. New York: Champman and Hall, 1985. Blackburn, S., CRC Handbokk of Chromatography: Amino Acids and,Amines. Boca Raton, FIa.: CRC Press, 1983. Dickerson, R. E., and I. Geis, The Structure and Action of Proteins. New York: Harper and Row, 1969. Edsall, J. T., and J. Wyman. Biophysical Chemistry, Vol. 1. New Tork: Academic Press, 1958. Fasman, G. D., ed., Handbook of Biochemistry and MolecularBio/ogy, 3rd ed. Seo. A, Proteins, Vol. 1. Boca Raton, Fla.: CRC Press, 1965. Meister, A., Biochemistry ofAmino Acids, 2nd ed., 2 vols. New Tork: Academic Press, 1965. Neurath, H., and R. L. Hill, The Proteins, 3rd ed., 3 vols. New York: Academic Press, 1975-1977. Schulz, G. E., and R. H. Schrimer, Principles of Proteins Structure. New York: Springer-Verlag, 1979.

Tschesce, H., ed., Modern Methods in Protein Chemistry. New York: de Gruyter, 1983. Wood, W. B., J. H. Wilson, R. M. Benbow, and L. E. Hood, Biochemistry-A Problems Approach, 2nd ed. Menlo Park, Calit.: Benjamin/Cummings, 1981. Wu, T. T., ed., New Methodologies in Studies of Protein Configuration. Van Nostrand Reinhold, New York, 1985. Artikel Anfinsen, C. B., "Principles That Govern The Folding ot Polypeptide Chains." Science, 1812223, 1973. Baldwin, R. L., "The Pathway of Protein Folding." TIBS,' 3:66, 1978. Bornstein, P., and H. Dage, "Structurally Distinct Collagen Types." Ann. Rev. Biochem., 49;957, 1980. Cothia, C., and A. M. Lesk, "Helix Movements in Proteins." TIBS, 10:116, 1985. Francis, M., and D. Duksin, "Heritable Disorders of Collagen Metabolism." TIBS, 8:231, 1983. Fraser, R. D. B., "Keratins. ScienticAmerican, 221 (2):86 1969. Goldberg, M. E., "Protein Folding And Assembly." T/BS, 101388, 1985. Groos, J., "ColIagen." Scientific American, 204(5):120, 1961. Martin, G. R., R. Timpl, P. K. Muller, and K. Khun, "Genetically Distinct Collagens." TIBS, 101285, 1985.

Pauling, L., R. B. Corey, and R. Hayward, "The Structure


of Protein Molecules." Scientific American, 191 (1):51 1954. Robson, B., "Protein Folding." T/BS, 1:49, 1976. Stein, W. H., and S. Moore, "The Chemical Structure of Proteins." Scientic American, 204(2):81, 1961. Trelstad, R. L., "Multistep Assembly of Type 1 Collagen Fibrils." Cell, 28:297,1982. Weber, K., and M. Osborn, "The Molecules of the Cell Matrix." Scientific American, 253(4):1 10, 1985.

Wold, F., "Reaction otthe Amides Self-chains of Glutamine


and Asparagine in vivo.' TIBS, 10:4,1985. ' Trends in Biochemical Siences