Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH STABILITAS TANAH

PENANGGULANGAN TANAH YANG BERPOTENSI LONGSOR


( STUDI KASUS DI KULONPROGO, PURWOREJO DAN KEBUMEN )

Nama Nim

Riza Febrianto Purnama

: 0709015040

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA

2009
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya

menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang tanah longsor dan upaya penanggulangannya, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini memuat tentang penanggulangan tanah yang

berpotensi longsor yang menjelaskan bagaimana menangani tanah yang berpotensi longsor tersebut. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Penulis

Riza Febrianto Purnama

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada saat kondisi iklim global berpengaruh terhadap iklim di Indonesia, maka perubahan musim dapat memicu terjadinya bencana di Indonesia seperti banjir, kekeringan dan kebakaran hutan. Lempeng Eurasia yang bertumbukan langsung dengan Lempeng Indo Australia membentuk tunjaman lempeng tektonik yang melintas dari barat Sumatera melalui selatan Jawa hingga Nusa Tenggara. Bagian timur Indonesia merupakan pertemuan tiga lempeng yaitu lempeng Philipina, Pasifik dan Australia. Kondisi pertemuan lempeng tersebut menyebabkan Indonesia berpotensi terjadi gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor dan tsunami. Bencana tanah longsor lebih sering terjadi di Indonesia dibandingkan bencana yang lain bahkan hal itu sudah banyak memakan korban jiwa. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya tanah longsor seperti penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar, sehingga mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga-rongga dalam tanah, yang mengakibatkan terjadinya retakan dan rekahan permukaan tanah sehingga menyebabkan kondisi tanah menjadi tidak stabil. Melalui tanah yang merekah akibat dari penguapan air dan dari musim kering itu, air hujan akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerkan lateral. Ditambah sudut lereng yang terjal atau mencapai sekitar 180 derajat sehingga dapat menyebabkan terjadinya tanah longsor.

1.2. Tujuan
Tujuan kajian adalah untuk mendapatkan metode dan teknik pengendalian tanah longsor yang efektif dan efisien.

BAB II PEMBAHASAN
Pelaksanaan kajian dilakukan melalui tahapan kegiatan sebagai berikut: Inventarisasi daerah berpotensi longsor di Purworejo dan Kulonprogo dengan menggunakan bantuan citra satelit (landsat) atau foto udara, kemudian ditumpangtindihkan dengan peta topografi dan peta daerah rawan longsor/geologi. Desa-desa Samigaluh. Plot/site kajian ditetapkan berdasarkan kejadian bencana terakhir yang terjadi, yaitu tanggal 5 Nopember 2000 di desa Kemanukan dan 20 Nopember 2001 di desa Purwoharjo. Penyelidikan geoteknik (sifat mekanika tanah) dilakukan untuk menetapkan dan menghitung kekuatan geser masa tanah/batuan (r), tegangan geser (t), kohesi (c), dan sudut geser () tanah dari contoh tanah yang berada diatas bidang luncur. Penyelidikan gerak masa tanah dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran lubang bor yang beri stik dari basi baja dan diukur tingkat gerakannya (perubahan kemiringan) dengan kedalaman vertical lubang bor berkisar antara 0.5-2 m. Penentuan tingkat kandungan air tanah yang dapat didrainasekan dilakukan dengan menggunakan sulingan yang terbuat dari peralon yang dilobangi seperti seruling. Peralon tersebut secara horizontal ditancapkan kedalam dinding/lereng sedalam sampai pada batuan keras/bidang luncur. Rencana (design) teknis untuk pengendalian tanah berpotensi longsor dilakukan dengan tujuan untuk menetapkan rencana teknik terpilih dijadikan Bagelen lokasi dan kajian, desa yaitu di desa Kemanukankecamatan Purwoharjo-kecamatan

pengendalian yang akan diterapkan yang disesuaikan dengan kondisi lokasi, tingkat potensi bahaya tanah longsor, sosial-ekonomi-budaya masyarakat setempat yang meliputi: - penutupan retakan tanah (sebelum hujan) dengan tanah liat - pengendalian sudut lereng (tebing) dengan bronjong kawat yang diisi dengan batu kali. pengaturan drainase air permukaan dengan pembuatan saluran pembuangan air (SPA) yang dilengkapi dengan drop structure (terjunan) dari batu. - Pengaturan drainase bawah permukaan tanah dengan pembuatan sulingan yang terbuat dari pipa pralon yang ditusukkan secara horizontal pada lereng/tebing sampai pada batuan keras. Peralatan pemantau hujan, gerak masa tanah, dan efektivitas kerja dari sulingan dilakukan di masing-masing lokasi daerah rawan longsor di desa Kemanukan dan desa Purwoharjo. Selain itu juga perlu diketahui faktor - faktor terjadinya gerakan tanah (tanah longsor) adalah topografi/lereng, Keadaan tanah/batuan termasuk struktur, Keairan termasuk curah hujan, Gempa bumi (baik tektonik maupun vulkanis), keadaan vegetasi dan penggunaan lahan. Tanah Longsor juga mempunyai pembobotan parameter seperti yang terlihat di bawah

Sedangkan penentuan interval kelas kerawanan tanah longsor ditentukan berdasarkan perhitungan jumlah nilai maksimum dikurangi jumlah nilai minimum dibagi jumlah kelas. Kelas kerawanan tanah longsor pada kajian ini ada 3 yaitu rendah, sedang dan tinggi. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh interval nilai tingkat kerawanan tanah longsor yaitu interval nilai 27 - 63 termasuk di dalam kelas rendah, 64 100 kelas sedang dan lebih besar dari 101 kelas tinggi. Tabel 2 di bawah ini menunjukkan hasil perhitungan parameter tanah longsor.

Metode Pengendalian Lahan Berpotensi Longsor Sebelum menentukan metode pengendalian lahan berpotensi longsor terlebih dahulu diteliti sifat - sifat mekanika tanahnya, meliputi parameter: tekstur, bulk density, plastisitas (PI), konsistensi, cohesi (c), sudut geser (), kekuatan geser (r) dan tegangan geser (t). Sample tanah diambil pada sekitar site tanah longsor yang telah ada dan pada bekas longsoran di desa Kemanukan-Purworejo dan desa Purwoharjo-Kulonprogo. Sampel tanah diambil tabung pada (ring) kedalaman dan contoh sampai tanah + 1 m dengan dengan menggunakan terganggu

menggunakan karung plastik. Pengambilan dilakukan 2 kali yaitu saat musim kemarau (sebelum tanah basah) dan saat musim penghujan (saat tanah telah basah) sehingga dapat diketahui kondisi tanah pada 2 kondisi

kadar air yang berbeda. Hasil analisis sample tanah di 2 lokasi disajikan pada Tabel 3.

Setelah mengetahui hasil analisis dari sampel tanah seperti di tebel di atas dilanjutkan dengan ujicoba teknik pengendalian tanah berpotensi longsor yang disepakati baik di desa Kemanukan maupun Purwoharjo yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari hasil rencana (design) teknis, yaitu: a) Ujicoba teknik pengendalian kaki tebing/lereng dengan bronjong kawat yang diisi batu kali, masing-masing lokasi dicobakan bangunan tersebut untuk panjang 6 m dan 7 m, lebar 1 m dan tinggi 2.5 m dan 2.0 m (gambar 6). b) Ujicoba perbaikan sistem drainase permukaan pada lereng yang telah mengalami gejala adanya retakan tanah dengan pembuatan SPA yang diperkuat dengan drop strukture dari batu (gambar 7). c) Ujicoba perbaikan sistem drainase dalam pada tanah diatas bidang lincir dengan lereng terjal melalui pembuatan saluran drainase horizontal yang terbuat dari pipa peralon 3/4" (gambar 8).

Selain itu, Penggunaan material seperti polimer emulsi juga dapat membantu perkuatan tanah yang berpotensi longsor tersebut dimana Polimer emulsi yang digunakan ialah jenis poly (vinyl acetate co acrylic) atau poly (vinil acetate co veova) sebagai soil stabilizer untuk mencegah erosi pada tanah. Penggunaan dari polimer emulsi ini sudah dilakukan di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, belum lama juga diujicobakan di Malaysia dan Thailand, dan menunjukkan hasil yang menggembirakan karena itu penggunaan polimer emulsi ini dapat menjadi solusi alternatif bagi penanggulangan tanah yang berpotensi longsor seperti di desa Kemanukan maupun Purwoharjo Polimer emulsi berbentuk cairan berwarna putih susu (milky white) memiliki pH yang sesuai dengan pH tanah dan memiliki viskositas yang rendah. Metode penggunaannya adalah dengan menyemprotkan cairan polimer pada tanah dan metode penyemprotannya dapat melalui selang, truk, atau helikopter. Polimer emulsi yang telah disemprotkan akan berdifusi ke dalam tanah sampai kedalaman dua cm dan akan mengikat setiap partikel tanah dengan kuat. Polimer ini akan membentuk film dalam waktu antara 2 hingga 16 jam tergantung dari jenis tanahnya. Setelah kering dan membentuk lapisan film, maka tanah akan menjadi terlindung dari erosi dan longsor, terutama erosi yang disebabkan hujan deras dan banjir. Lapisan film dari polimer ini tidak akan merusak bibit-bibit (seeds) tanaman, bahkan akan mencegah terlarutnya atau hilangnya pupuk dari tanah. Kedalaman film yang hanya dua cm dari permukaan tanah tidak akan mengganggu unsur-unsur hara di dalam tanah dan air tanah (ground water). Struktur polimer yang mempunyai gugus fungsi yang hidrofob akan mengakibatkan tanah tahan terhadap air sehingga tidak menjadi licin jika basah. Keunggulan dari polimer emulsi dibandingkan dengan material yang lain adalah menciptakan lapisan yang flexible, aman terhadap lingkungan, tidak korosif, tidak mudah terlarut, tanah tidak licin jika basah, tahan air (waterproof), nonflammable, tidak menimbulkan bau, mengikat partikel

tanah dengan kuat, aplikasinya yang singkat dan mudah, tahan terhadap sinar matahari (sinar uv) dan alkali, dan yang lebih penting adalah biayanya yang murah

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN


3.1. Kesimpulan
Langkah-langkah penanganan pada tanah yang berpotensi longsor dan jenis uji-coba yang dapat diterapkan, yaitu : 1) Pengendalian tebing curam bronjong kawat yang diisi batu (gabion) dengan panjang 6-7 m, lebar 1 m dan tinggi 2.0-2.5 m 2) Perbaikan saluran air permukaan (SPA) dengan lebar 0.5-1.0m yang dilengkapi dengan drop structure 3) Pembuatan sulingan dari pipa peralon 3/4" panjang 0.5 - 2.0 m yang disuntikkan secara horizontal untuk pengatusan air tanah bawah permukaan. 3.2.

Saran
Upaya penanggulangan tanah longsor juga dapat dilakukan dengan

pemberian material seperti polimer emulsi, Selain itu untuk meningkatkan perkuatan pada tebing atau lerengnya umumnya dapat digunakan retaining wall system seperti geotextile

DAFTAR PUSTAKA
http://bpksolo.or.id/hasil_penelitian/2004/identtanahlongspenangg.pdf http://www.chem-is-try.org/artikel kimia/kimia lingkungan/ polimer pencegah tanah longsor atau erosi/