Anda di halaman 1dari 27

Metodologi penelitian : cakupan program kesehatan tidak tercapai Muhammad Izzuddin Bin Mohd Rosaimi 102008284 Fakultas Kedokteran

UKRIDA Jakarta 2011 Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 izzuddinrosaimi@yahoo.com

Abstrak : Masalah cakupan program kesehatan tidak tercapai bisa terpecahkan dengan metodologi penelitian yang komprehensif dan bersifat holistik. Langkah-langkah pemecahan masalah bisa ditinjau dari sudut menetapkan proritas masalah,mengenalpasti desain penelitian, membuat alat-alat ukur/instrumen penelitian, melakukan pengumpulan data, menganalisis data statistik dan mengenalpasti ukuran-ukuran epidemiologi yang terlibat. Kata kunci : cakupan program kesehatan tidak tercapai, prioritas masalah, desain penelitian Menetapkan prioritas masalah Masalah yang telah diidentifikasi perlu ditentukan menurut urutan atau prioritas masalah, untuk itu digunakan beberapa metode. Metode yang dapat digunakan dalam menetapkan urutan prioritas masalah, pada umumnya dibagi atas, Teknik Skoring dan Teknik Non Skoring, sebagai berikut : 1. Teknik Non Skoring Teknik non skoring dapat digunakan apabila tidak tersedia data kuantitatif yang lengkap dan cukup, atau dengan kata lain data yang tersedia adalah data kualitatif atau semi kualitatif. Teknik non scoring yang sering digunakan adalah Metode delphi dan Metode Delbecq.
y

Metode Delphi Penetapan prioritas masalah tersebut dilakukan melalui kesepakatan sekelompok orang yang sama keahliannya. Pemilihan prioritas masalah dilakukan melalui pertemuan khusus. Setiap peserta yang sama keahliannya dimintakan untuk mengemukakan beberapa masalah pokok, masalah yang paling banyak dikemukakan adalah prioritas masalah yang dicari.
1

Metode Delbecq Penetapan prioritas masalah dilakukan melalui kesepakatan sekelompok orang yang tidak sama keahliannya. Sehingga diperlukan penjelasan terlebih dahulu untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman peserta tanpa mempengaruhi peserta. Lalu diminta untuk mengemukakan beberapa masalah. Masalah yang banyak dikemukakan adalah prioritas.

2. Teknik Skoring Teknik scoring dapat digunakan apabila tersedia data kuantitatif atau data yang dapat terukur dan dapat dinyatakan dalam angka, yang cukup dan lengkap. Yang termasuk teknik scoring dalam penetuan prioritas masalah, yakni:
y

Metode Hanlon

Proses penetuan kriteria diawali dengan pembentukan kelompok yang akan mendiskusikan, merumuskan dan menetapkan kriteria. Sumber informasi yang dipergunakan dapat berasal dari : 1. Pengetahuan dan pengalaman individual para anggota 2. Saran dan pendapat nara sumber 3. Peraturan pemerintah yang relevan 4. Hasil rumusan analisa keadaan dan masalah kesehatan. Dalam metode Hanlon dibagi 4 kelompok kriteria 1. 2. 3. 4. Kelompok kriteria A = besarnya masalah Kelompok kriteria B = tingkat kegawatan masalah Kelompok kriteria C = kemudahan penanggulangan masalah Kelompok kriteria D = PEARL faktor, dimana : P E A R L = Kesesuaian = Secara ekonomi murah = dapat diterima = Tersedianya sumber = Legalitas terjamin

Penelitian epidemiologi Dalam beberapa literatur, penelitian epidemiologi dapat dilakukan secara eksperimental maupun secara observasional. Penelitian Eksperimental sesuai dengan
2

namanya membutuhkan kegiatan intervensi atau perlakuan khusus pada obyek yang diteliti. Intervensi atau perlakuan dapat secara keseluruhan sampel atau secara randomisasi (eksperimental murni), atau intervensi/perlakukan dapat juga dilakukan secara non randomisasi (eksperimental semu) misalnya : semua pengunjung yang memeriksakan kesehatan di laboratorium atau diklinik kesehatan atau contoh konkritnya mencoba membandingkan efisiensi dari suatu program gizi melalui intervensi pemberian makanan tambahan pada anak SD.

Sedangkan penelitian observasional biasanya didasarkan pada kejadian peristiwa secara alami tanpa suatu perlakuan khusus terhadap kelompok yang diteliti, dapat dilakukan secara deskriptif dan analitik. Penelitian deskriptif lebih sering disebut analisis deskriptif yaitu untuk mengetahui keadaan prevalensi kejadian penyakit yaitu banyaknya kasus baru dan lama dalam periode tertentu. atau juga analisis desktiptif terhadap masalah kesehatan lainnya. Manfaatnya adalah untuk mengetahui sifat kejadian tersebut dalam masyarakat serta kecenderungannya untuk masa mendatang. Penelitian deskriptif juga merupakan cara termudah untuk menjelaskan kejadian serta distribusi suatu penyakit atau masalah pada suatu populasi, karena yang digunakan adalah dengan mengajukan pertanyaan epidemiologi : Who, When dan Where serta pertanyaan pendukung lainnya.

Sementara itu penelitian analitik adalah bentuk penelitian epidemiologi yang paling sering digunakan dalam mencari faktor penyebab serta hubungan sebab akibat terjadinya penyakit maupun gangguan kesehatan lainnya. Ada tiga bentuk dalam penelitian analitik ini yaitu cross sectional study, case controle study dan cohort study

Desain penelitian

1. Cross Sectional Studi Cross Sectional adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan studi (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan dan penyakit serempak pada individu-individu dari populasi tunggal, pada satu saat atau periode. Karakter pokok rancangan ini adalah bahwa status paparan dan status penyakit diukur pada saat yang sama. Sedang studi cross sectional ini dapat berlangsung satu saat,atau satu periode waktu. Studi ini dapat juga dilakukan pada satu peristiwa penting yang dialami individu. Studi
3

Cross sectional dinamakan juga survei prevalensi, karena data yang dihasilkan adalah prevalesi bukan insidensi. Tujuan studi Cross sectional adalah untuk memperoleh gambaran pola penyakit dan determinan-determinannya pada populasi sasaran. Agar mampu menggambarkan populasi sasaran dengan akurat, maka subyek untuk studi ini harus mengambil sampel yang dapat mewakili (representatif) populasi sasaran, prosedur ini tidak lain adalah pengambilan acak. Langkah selanjutnya adalah setiap subyek diperiksa, diamati, dan ditanyai tentang status penyakit, paparan dan variabel-variabel lainnya yang relevan. Kelebihan Keuntungan rancangan Cross sectional adalah kemudahan dalam melakukannya dan murah, sebab tidak melakukan follow-up. Jika tujuan penelitian hanya sekedar mendeskripsikan distribusi penyakit dihubungkan dengan paparan faktor-faktor penelitian, maka studi ini merupakan studi yang cocok, efisien, dan cukup kuat di segi metodologik. Selain itu, seperti penelitian observasional lainnya, studi ini tidak memaksa subyek untuk mengalami faktor yang bersifat mergikan kesehatan (faktor resiko). Kekurangan penelitian cross-sectional tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan dinamika perubahan kondisi atau hubungan dari populasi yang diamatinya dalam periode waktu yang berbeda, serta variabel dinamis yang mempengaruhinya. Kelemahan rancangan cross-sectional lainnya adalah ketidakmampuannya untuk menjelaskan proses yang terjadi dalam objek/variabel yang diteliti serta hubungan korelasionalnya. Rancangan crosssectional mampu menjelaskan hubungan antara dua variabel, namun tidak mampu menunjukkan arah hubungan kausal di antara kedua variabel tersebut.

Ukuran analisis 1) Prevalen Risk (PR) 2) Relative Risk (RR) Pajanan Out Come/Penyakit Jumlah Ya Ya Tidak a c Tidak b d b+d a+b c+d

Jumlah a+c

Nilai RR yaitu:
4

{a/(a+b)} / {c/(c+d)} Interpretasi: 1. RR = 1 artinya factor resiko bersifat netral 2. RR>1; Confident Interval (CI)> 1 artinya faktor resiko menyebabkan sakit 3. RR< 1; Confident interval (CI)< 1 artinya factor risiko mencegah sakit

2. Case Control Studi Case control adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dengan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Ciri-ciri studi case control adalah pemilihan subyek berdasarkan status penyakit, untuk kemudian dilakukan pengamatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau tidak. Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut kasus, berupa insidensi (kasus baru) yang muncul dari suatu populasi. Sedangkan subyek yang tidak menderita penyakit disebut kontrol, yang diambil secara acak dari populasi yang berbeda dengan populasi asal kasus. Tetapi, untuk keperluan inferensi kausal, kedua populasi tersebut harus setara. Dalam mengamati dan mencatat riwayat paparan faktor penelitian pada kasus maupun kontrol, peneliti harus menjaga agar tidak terpengaruh status penyakit subyek. Kelebihan Studi case control merupakan salah satu rancangan riset epidemiologi yang paling populer, karena: Sifatnya yang relatif murah dan mudah dilakukan ketimbang rancangan studi analitik lainnya Cocok untuk meneliti penyakit dengan periode laten yang panjang Subyek penelitian dipilih berdasarkan status penyakit, maka peneliti memiliki keleluasan menentukan rasio ukuran sampel kasus dan kontrol yang optimal Dapat meneliti pengaruh sejumlah paparan terhadap sebuah penyakit. Kekurangan Alur metodologi inferensi kausal bertentangan dengan logika eksperimen kalsik, yaitu melihat akibatnya dulu, baru menyelidiki apa penyebabnya. Secara umum studi Case control tidak efisien untuk mempelajari paparan yang langka Karena subyek dipilih berdasarkan status penyakit, maka dengan studi Case control, pada umunya peneliti tidak dapat menghitung laju insidensi (kecepatan kejadian penyakit) baik
5

pada populasi terpapar, maupun yang tidak terpapar. Pada beberapa situasi, tidak mudah memastikan hubungan temporal antar paparan dan penyakit. Oleh karena itu dalam riset etiologi, untuk meyakinkan bahwa paparan mendahului penyakit, peneliti dianjurkan menggunakan insidensi daripada prevalensi. Kelompok kasus dan kelompok kontrol dipilih dari dua populasi yang terpisah, sehingga sulit dipastikan apakah kasus dan kontrol pada populasi studi benar-benar setara. Ukuran/ Analisis Analisis data dalam penelitian kasus control dengan menghitung Odds Ratio (OR), yang merupakan estimasi dari relative Risk. Odds Ratio = (ad / bc) Interpretasi: OR = 1 faktor resiko bersifat netral OR>1; Confident Interval (CI)>1 =faktor resiko menyebabkan sakit OR<1 ; Confident Interval (CI)<1=faktor resiko mencegah sakit

1. Cohort Studi Cohort adalah rancangan studi yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok terpapar (faktor penelitian) dan kelompok tidak terpapar berdasarkan status penyakit. Ciri-ciri studi cohort adalah pemilihan subyek berdasarkan status paparannya, dan kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek dalam perkembangannya mengalami penyakit yang diteliti atau tidak. Kelompok-kelompok studi dengan karakteristik tertentu yang sama ( yaitu pada awalnya bebas dari penyakit) tetapi memiliki tingkat paparan yang berlainan, dan kemudian dibandingkan insidensi penyakit yang dialaminya selama periode waktu, disebut Cohort. Ciri lainnya dari studi cohort adalah dimungkinkannya perhitungan laju insidensi (ID) dari masing-masing kelompok studi. Pada saat mengidentifikasi status paparan, semua subyek harus bebas dari penyakit yang diteliti. Jadi kelompok terpapar maupun kelompok tidak terpapar berasal dari satu populasi maupun dua populasi yang bebas dari penyakit yang diteliti. Jika berasal dari dua populasi yang terpisah, maka untuk kepentingan inferensi kausal, peneliti harus memastikan bahwa kedua populasi setara dalam hal faktor-faktor diluar paparan yang diteliti. Disamping itu,
6

untuk menghindari bias misklasifikasi diferensial, dalam mengklasifikasikan kasus penyakit subyek, peneliti tidak boleh terpengaruh oleh status paparan subyek itu.. ciri-ciri studi cohort lainnya yang membedakannya dari studi eksperimen adalah peneliti hanya mengamati dan mencatat paparan dan penyakit, dan tidak dengan sengaja mengalokasikan paparan. Studi cohort disebut juga studi follow-up atau studi prospektif, sebab cohort diikuti dalam suatu periode untuk diamati perkembangan penyakit yang dialaminya. Rancangan studi cohort dapat bersifat retrospektif maupun prospektif dan bahkan ambispektif, tergantung kepada kapan terjadinya paparan pada saat peneliti memulai penelitiannya. Studi cohort bersifat retrospektif jika paparan telah terjadi sebelum peneliti memulai penelitiannya. Sebaliknya studi cohort bersifat prospektif jika paparan sedang atau akan berlangsung, pada saat peneliti memulai penelitiannya. Studi cohort ambispektif memadukan ciri-ciri studi cohort retrospektif dan prospektif. Kelebihan Mendapatkan insiden risk dan relative risk secara langsung Dapat melihat hubungan satu penyebab terhadap beberapa akibat Dapat mengikuti secara langsung kelompo yang di pelajari Dpat menentukan mana lebih dulu causa atau efek Bias nya lebih kecil Kekurangan Membutuhkan biaya yang relative mahal Lama dalam persiapan dan hasil yang diperoleh Hanya bisa mengamati satu factor penyebab Kurang efisien dan tidak praktis untuk mempelajari penyakit yang langka dan jarang Mempunyai riksiko untuk untuk hilangnya subjek atau drop out selama penelitian mungkin karena migrasi, mati, tingkat partisipasi rendah. Ukuran analisis 1. Insiden Risk (IR) 2. Relativ Risk (RR) 3. Atribute Risk (AR) RR (Resiko Relative) : {a/(a+b)} / {c/(c+d)} Interpretasi data: 1. RR=1adalah factor resiko bersifat netral

2. RR>1; Confient Interfal (CI)>1adalah faktor resiko menyebabkan sakit 3. RR<1; Confient Interval (CI)< 1 adalah faktor resiko mencegah penyakit. 2. Eksperimen Rancangan penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi 3, yakni : 1. Rancangan pra eksperimen (pre experiment design) 2. Rancangan eksperimen murni (true experiment) 3. Rancangan eksperimen semu (squasi experiment design Dalam penelitian eksperimen sering digunakan simbol atau lambang-lambang sebagai berikut : R : Randomisasi (randomizations) 0 1 (T1) : Pengukuran pertama (pretes) X : Perlakuan atau eksperimen 0 2 (T1) : Pengukurankedua (postes)

1. Rancangan Pra Eksperimen Bentuk-Bentuk Rancangan Pra-Eksperimen a. Postes Only Design Dalam rancangan ini perlakuan atau intervensi telah dilakukan (X), kemudian dilakukan pengukuran (observasi) atau postes (02). Selama tidak ada kelompok kontrol, hasil 02 tidak mungkin dibandingkan dengan yang lain. Rancangan ini disebut The one shot case study. Hasil observasi ini (02) hanya memberikan informasi yang bersifat deskriptif. Rancangan ini tidak ada kontrol dan internal validitas dan tidak mempunyai dasar untuk melakukan komparasi atau perbandingan sehingga kesimpulan yang diperoleh menyesatkan. Penelitian ini digunakan untuk meneliti suatu program yang inovatif, misalnya dalam bidang pendidikan kesehatan.

b. Rancangan One group Pretest-Postest Rancangan ini juga tidak ada kelompok pembanding (control), tetapi paling tidak sudah dilakukan observasi pertama (pretes) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahanperubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen. Kelemahan rancangan ini adalah tidak ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi tada variable dependen karena intervensi atau perlakuan, tetapi perlu dicatat rancangan ini
8

terhindar dari kelemahan terhadap validitas, misalnya sejarah, testing, maturasi dan instrumen.

c. Perbandingan Kelompok Statis Rancangan ini sama seperti Postes only design hanya bedanya menambahkan kelompok control atau kelompok perbandingan Kelompok eksperimen menerima perlakuan (X) yang diikuti dengan pengukuran kedua atau observasi (02). Hasil observasi ini kemudian dikontrol atau dibandingkan dengan hasil observasi pada kelompok control, yang tidak menerima program atau intervensi. Faktor pengganggu seperti sejarah, testing, maturasi dan instrument dapat dikontrol walaupun tidak dapat diperhitungkan efeknya.

2. Rancangan Eksperimen Murni Bentuk-bentuk rancangan eksperimen murni a. Rancangan Pretes-Postes dengan Kelompok kontrol Dalam rancangan ini dilakukan randomisasi, artinya pengelompokan anggota-anggota kelompok control atau kelompok eksperimen dilakukan berdasarkan acak atau random, dan diikuti intervensi (X) pada kelompok eksperimen. Setelah beberapa waktu lalu dilakukan postes (02) pada kedua kelompok tersebut. Dengan randomisasi , maka kedua kelompok mempunyai sifat yang sama sebelum dilakukan intervensi (perlakuan). Karena kedua kelompok sama pada awalnya, maka perbedaan hasil postes (02) pada kedua kelompok tersebut dapat disebut sebagai pengaruh dari intervensi atau perlakuan. Rancangan ini adalah salah satu rancangan terkuat di dalam mengontrol ancaman-ancaman terhadap validitas.

b. Rancangan Randomisasi Salomon four group rancangan ini dapat mengatasi kelemahan eksternal validitas yang ada pada rancangan randomized group pretes-postes. Apabila pretes mungkin mempengaruhi subjek sehingga mereka menjadi lebih sensitive terhadap perlakuan (X) dan mereka bereaksi secara berbeda dari subjek yang tidak mengalami pretes, maka eksternal validitas terganggu, dan kita tidak dapat membuat generalisasi dari penelitian itu untuk populasi

c. Rancangan Postes dengan kelompok kontrol


9

Rancangan ini sama seperti rancangan eksperimen murni yang lainnya hanya saja bedanya tidak dilakukan pretest. Karena kasus-kasus telah dirandomisasi baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok control, kelompok-kelompok tersebut dianggap sama sebelum dilakukan perlakuan. Dengan rancangan ini, memungkinkan penelitian mengukur pengaruh prilaku (intervensi) pada kelompok eksperimen dengan cara membandingkan kelompok tersebutdengan kelompok control. Tetapi rancangan ini tidak memungkinkan peneliti untuk menentukan sejauhmana atau seberapa besar perubahan itu terjadi, sebab pretes tidak dilakukan untuk menentukan data awal.

3. Rancangan Eksperimen Semu (Quasi Experiment) Pada penelitian lapangan biasanya menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experiment). Desain ini tidak mempunyai pembatasan yang ketat terhadap randomisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman-ancaman validitas. Disebut eksperimen semu karena eksperimen ini belum atau tidak memiliki cirri-ciri rancangan eksperimen yang sebenarnya, karena variable-variabel yang seharusnya dikontrol atau dimanipulasi, Oleh sebab itu validitas penelitian menjadi kurang cukup untuk disebut sebagai eksperimenyang sebenarnya.

Bentuk-bentuk rancangan eksperimen semu (Quasi experiment) a. Rancangan rangkaian waktu (Time series design) b. Rancangan rangkaian waktu dengan kelompok pembanding (Control time series design) c. Rancangan Non-Equivalent Control Group) d. Rancangan Separate Sample Pretest-Posttest) e. Rancangan Separate Sample Pretest-Posttest) f. Rancangan Separate Sample Pretest-Posttest) Membuat alat ukur Pada dasarnya sebuah penelitian beranjak dari suatu masalah yang terjadi ditengah tengah masyarakat, kemudian menjadikan masalah tersebut sebagai undangan bagi kaum intelektual (akademisi) menganalisis kemudian menciptaan formulasi kebijakan yang terarah. Didalam setiap keputusan selayaknya didasari sebuah data yang objektif/akurat agar
10

kebijakan yang dilakukan relefan dengan permasalaahn yang sedang terjadi ditengah -tengah masayarakat. Untuk tujuan mendapatkan data yang akurat memerlukan sebuah Instrumen (alat ukur) tepat pula dimana alat ukur tersenut harus valid dan reliabel. Instrumen dibidang kesehatan dapat dikatakan susah-susah gampang. Susah karena bidang kesehatan mempunyai cakupan luas diseluruh aspek disiplin ilmu (psikologi, sosial dll). Kondosi inilah yang membuat Instrumen penelitian terkadang tidak menggunakan alat ukur fisik (penggaris, timbangan dll). Tehnik membuat alat ukur adalah seperti berikut :

1. Tahapan Konseptualisasi variabel (definisi konseptual) : Sebuah instrumen yang baik tentunya berawal dari Kerangka Konsep yang baik sebagai pijakan teori, agar mendapatkan sepemahaman dalam mendefinisikan suatu permasalahan yang ingin kita teliti (Kerangka Konsep). Tahapan ini merupakan langkah awal untuk menyusun instrumen dimana peneliti merumuskan konsep atau definisi yang masih bersifat umum dari berbagai sumber. 2. Tahapan operasionalisasi : Pengertian yang dijelaskan oleh Neuman (2000:161) tentang operasionalisasi variabel adalah proses mengaitkan definisi konseptual dengan seperangkat teknik pengukuran. Lebih lanjut, Neuman menyatakan bahwa operasioalisasi variabel dapat dinamakan constructs operational definition (definisi operasional) yang dapat berupa kuesioner. Tahap operasionalisasi merupakan langkah lanjutan setelah peneliti mendapatkan suatu definisi yang jelas pada tahap konseptualisasi. Sehingga, tahap operasionalisasi adalah tahap dimana definisi konseptual tersebut dikembangkan lebih spesifik dalam bentuk indikatorindikator yang dapat digunakan untuk mengukur variabel. Pada tahap ini peneliti akan membuat batasan yang jelas tanpa ada kalimat atau definisi yang ambigu atau bermakna ganda (Definisi Oprasional : menyederhanakan / membuat definisi yang sifatnya praktis agar mudah dalam pelaksanaan dan Kriteria Objektif : memberikan batasan yang jelas antara satu ketegori dengan kategori lainnya atau subjek satu dan subjek lainnya) 3. Tahapan mengembangkan pertanyaan : Langkah selanjutnya adalah mengembangkan pertanyaan dari butir-butir dimensi dan indikator yang dijelaskan dalam operasionalisasi variabel (dalam bentuk kisi-kisi). Kemudian memformulasikan kedalam item-item pertanyaan atau pernyataan mengenai suatu
11

permasalahan (mengklasifikasikan nilai / skor dari setiap item mis; Sangat Setuju (skor 4), Setuju (3), Tidak Setuju (2) dan Sangat Tidak Setuju (1) = favourable/positif. Sangat Setuju (1), Setuju (2), Tidak Setuju (3) dan Sangat Tidak Setuju (3) = Un favourable/Negatif 4. Tahap Ujicoba Kuesioner : Tahap ujicoba perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa baik kuesioner yang sudah dibuat. Artinya sebelum kuesioner benarbenar disebarkan perlu diujicobakan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas kuesioner. Kesalahan operasionalisasi variabel mungkin terjadi karena dimensi yang penting luput direalisasikan menjadi butir pertanyaan dalam kuesioner Kesalahan dapat diminimalkan dengan melakukan pengujian validitas dan reliabilitas kuesioner
o Validitas mengacu pada apakah kuesioner benar-benar dapat mengukur apa

yang ingin diukur. Sebagian besar validitas diukur secara logika (subyekif), hanya validitas konstruk yang dapat diukur secar matematika/statistika.
o Reliabilitas menyatakan derajat keandalan dan konsistensi kuesioner

Pengumpulan Data

1. Sumber Data dan Metode Pengumpulan Data Berdasarkan sumbernya, data dibagi menjadi: a. Data Primer: Data yang diusahakan/didapat oleh peneliti b. Data Sekunder: Data yang didapat dari orang/instansi lain Data Sekunder cenderung siap pakai, artinya siap diolah dan dianalisis oleh penelitian. Contoh Instansi penyedia data: Biro Pusat Statistik (BPS) Bank Indonesia Badan Meteorologi dan Geofisika dll.

Pengumpulan data primer membutuhkan perancangan alat dan metode pengumpulan data Metode pengumpulan data penelitian: a. Observasi
12

b. Wawancara c. Kuesioner (Daftar Pertanyaan) d. Pengukuran Fisik e. Percobaan Laboratorium Semua metode mensyaratkan pencatatan yang detail, lengkap, teliti dan jelas Untuk mencapai kelengkapan, ketelitian dan kejelasan data, pencatatan data harus dilengkapi dengan: Nama pengumpul data Tanggal dan waktu pengumpulan data Lokasi pengumpulan data Keterangan-keterangan tambahan data/istilah/responden

Responden: orang yang menjadi sumber data Semua butir (item) yang ditanyakan dalam semua metode pengumpulan data haruslah sejalan dengan rumusan masalah dan/atau hipotesis penelitian Karenanya diperlukan proses Dekomposisi variabel penelitian menjadi sub-variabel, dimensi dan butir penelitian merupakan pekerjaan yang harus dilakukan dengan hati-hati Proses dekomposisi ini juga memudahkan proses pengukuran dan pengumpulan data. Proses dekomposisi ini dikenal sebagai proses operasionalisasi variabel penelitian.

2. Observasi, Wawancara, Pengukuran Fisik dan Percobaan Laboratorium Observasi atau pengamatan melibatkan semua indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pembau, perasa) Pencatatan hasil dapat dilakukan dengan bantuan alat rekam elektronik kemudian dituliskan sebagai skrip Wawancara terbagi menjadi: a. Wawancara tidak terstruktur b. Wawancara terstruktur Wawancara tidak terstruktur Merupakan langkah persiapan wawancara terstruktur Pertanyaan yang diajukan merupakan upaya mengali isu awal Sifat pertanyaan spontan Wawancara terstruktur Pertanyaan sudah disiapkan, karena sudah dirancang data/informasi apa yang dibutuhkan
13

Jenis Wawancara: a. Wawancara langsung (face to face) b. Wawancara tidak langsung: misalnya dengan telepon atau internet (on-line) Bias dalam wawancara: kesenjangan antara informasi/data yang dinginkan oleh peneliti dengan informasi/data yang diberikan oleh responden Bias dalam wawancara harus diminimalkan Sumber bias dalam wawancara: a. Pewawancara b. Responden c. Situasi saat wawancara Bias dari Pewawancara Tidak terjadi saling percaya antara responden dengan pewawancara Kekeliruan penafsiran pertanyaan: hal ini terutama terjadi jika wawancara dilakukan oleh beberapa orang dalam suatu tim/kelompok pewawancara Secara tidak sengaja atau disadari pewawancara mendorong atau mencegah responden menjawab ke suatu arah jawaban tertentu . Bias dari Responden Responden tidak jujur menjawab Responden sebenarnya tidak memahami isi pertanyaan tetapi enggan bertanya atau melakukan klarifikasi Bias dari Situasi Waktu wawancara tidak tepat, misalnya ketika responden sedang bekerja atau sedang lelah sehingga enggan menjawab pertanyaan Sumber bias diperhatikan agar wawancara berjalan efisien dan efektif Teknik Bertanya: Funneling: Mulai dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka (open-ended questons) Funneling adalah transisi dari tema yang luas ke tema yang lebih sempit Pertanyaan yang tidak bias Pertanyaan harus jelas dan tidak mengandung interpretasi ganda (ambigous) Menjelaskan pertanyaan sejelas-jelasnya Jika ada keraguan responden, pewawancara dapat menjelaskan pertanyaan sekali lagi Mengajukan pertanyaan sekali lagi dalam bahasa yang lebih sederhana
14

Memastikan jawaban responden dengan mengajukan pernyataan sekali lagi Membantu responden menyatakan pendapatnya Jika responden kesulitan mengungkapkan pendapatnya, pewawancara dapat membantu dengan mengutarakan istilah yang tepat Membuat Catatan atau Rekaman Wawancara dicatat dan direkam dengan seijin atau sepengetahuan responden Menggunakan bahasa atau istilah yang sesuai dengan kondisi (misalnya: pendidikan) responden

Pengukuran Fisik Alat ukur harus dikalibrasi sebelum mulai melakukan pengukuran Alat ukur harus memenuhi standar penelitian Alat ukur harus mudah dijalankan dan dikendalikan Pengukuran memperhatikan kondisi yang disyaratkan dalam perumusan masalah (misalnya: suhu atau tekanan)

Perancangan Percobaan dan Penelitian dalam Laboratorium Sebelum melakukan percobaan laboratoium, dilakukan perancangan percobaan Dalam proses perancangan percobaan, unit penelitian dan perlakuan yang akan dikenakan pada setiap unit penelitian direncanakan Perancangan percobaan (experiment design) sangat diperlukan pada penelitian yang dilakukan dalam laboratorium Laboratorium tidak hanya mengacu pada ruangan laboratorium (biologi, kimia, fisika, kedokteran atau ilmu rekayas) tapi pada setiap ruang termasuk lapangan yang setiap faktornya dapat dikendalikan Sebelum melakukan penelitian-penelitian biologi, kimia, fisika dan rekayasa yang dilakukan dalam laboratorium, umumnya peneliti merancang unit percobaan yang akan dilakukan Dalam penelitian biologi, kimia, fisika dan rekayasa memungkinkan untuk memilih obyek penelitian dan mengusahakan kondisi penelitian (misalnya suhu, konsentrasi zat kimia, tekanan, media) yang homogen, sesuatu yang amat sulit dilakukan pada penelitian-penelitian sosial (ekonomi, psikologi, sosiologi) Dasar perhitungan semua jenis Perancangan Percobaan adalah Analisis Va rians (Analysis of Variance) suatu bidang kajian dalam Statistika
15

3. Kuesioner Kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada responden Jawaban responden atas semua pertanyaan dalam kuesioner kemudian dicatat/direkam Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang efisien bila peneliti mengetahui secara pasti data/informasi apa yang dibutuhkan dan bagaimana variabel yang menyatakan informasi yang dibutuhkan tersebut diukur Sekali lagi penting melakukan dekomposisi variabel penelitian menjadi dimensi dan butir penelitian dengan hati-hati. Pertanyaan-pertanyaan tertutup dapat dengan mudah dikodekan dan diolah untuk tahap penelitian selanjutnya Bentuk Pertanyaan a. Pernyataan Positif b. Pernyataan Negatif Pertanyaan dalam kuesioner ditulis dalam bentuk PERNYATAAN bukan pertanyaan Pernyataan Positif : pernyataan yang jawabannya SESUAI dengan harapan peneliti Pernyataan Negatif : pernyataan yang jawabannya TIDAK SESUAI dengan harapan peneliti Pengkodean atau pembobotan nilai jawaban: Pada pernyataan Positif: nilai paling positif diberi bobot paling besar (karena paling positif berarti paling sesuai harapan) Pada pernyataan Negatif: nilai paling negatif diberi bobot paling besar (karena paling negatif berarti paling sesuai harapan) Idealnya dalam suatu kuesioner penelitian, komposisi bentuk pernyataan positif dan negatif berimbang, misalnya dari 30 pernyataan dirancang terdiri dari 15 pernyataan positif dan 15 pernyataan negatif. Pernyataan positif dan negatif harus diletakkan secara bergantian Dengan meletakkan pernyataan positif dan negatif bergantian, responden benar-benar membaca pernyataan-pernyataan dengan teliti dan menjawab dengan benar Teknik Pengukuran (Teknik Penskalaan) Dua teknik pengukuran dengan kuesioner yang paling populer adalah: a. Likerts Summated Rating (LSR) b. Semantic Differential (SD)

Likerts Summated Rating (LSR)


16

LSR adalah skala atau pengukuran sikap responden Jawaban pernyataan dinyatakan dalam pilihan yang mengakomodasi jawaban antara Sangat Setuju Sekali sampai Sangat Tidak Setuju Banyak pilihan biasanya 3, 5, 7, 9 dan 11 Dalam prakteknya yang paling sering digunakan adalah 5 Terlalu sedikit pilihan jawaban menyebabkan pengukuran menjadi sanagt kasar Terlalu banyak pilihan jawaban menyebabkan responden sulit membedakan pilihan Banyak pilihan ganjil juga menimbulkan masalah, responden yang malas/enggan akan menjawab pilihan yang di tengah ( = jawaban netral)

Semantic Differential (SD) Responden menyatakan pilihan di antara dua kutub kata sifat atau frasa Dapat dibentuk dalam suatu garis nilai yang kontinyu, dan dapat diukur dalam satuan jarak atau dalam bentuk pilihan seperti LSR

Alat Bantu Pembuat Kuesioner Metode perhitungan validitas dan reliabilitas ini dapat diaplikasikan dengan bantuan program komputer (Misalnya EXCEL atau SPSS) Kuesioner apat dibuat dengan pengolah kata atau dengan program-program komputer lainnya yang memang dibuat untuk membuat kuesioner (Misalnya: EPI-INFO atau Lotus Notes) Pembuatan kuesioner dengan program komputer memungkinkan publikasi kuesioner secara on-line di internet Beberapa web di internet juga menyediakan fasilitas membuat kuesioner atau pooling) online, misalnya web votepedia yang dibangun di atas teknologi Wikipedia

Analisis data statistik 1. Pengertian Analisis Data Analisis data diartikan sebagai upaya mengolah data menjadi informasi, sehingga karakteristik atau sifat-sifat data tersebut dapat dengan mudah dipahami dan bermanfaat untuk menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan kegiatan penelitian. Dengan demikian, teknik analisis data dapat diartikan sebagai cara melaksanakan analisis terhadap data, dengan tujuan mengolah data tersebut menjadi informasi, sehingga karakteristik atau sifat-sifat
17

datanya dapat dengan mudah dipahami dan bermanfaat untuk menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan kegiatan penelitian, baik berkaitan dengan deskripsi data maupun untuk membuat induksi, atau menarik kesimpulan tentang karakteristik populasi (parameter) berdasarkan data yang diperoleh dari sampel (statistik). 2. Tujuan Analisis Data (a) Mendeskripsikan data, biasanya dalam bentuk frekuensi, ukuran tendensi sentral maupun ukuran dispersi, sehingga dapat dipahami karakteristik datanya. Dalam statistika, kegiatan mendeskripsikan data ini dibahas pada statistika deskriptif. (b) Membuat induksi atau menarik kesimpulan tentang karakteristik populasi, atau karakteristik populasi berdasarkan data yang diperoleh dari sampel (statistik). Kesimpulan yang diambil ini bisanya dibuat berdasarkan pendugaan (estimasi) dan pengujian hipotesis. Dalam statistika, kegiatan membuat induksi atau menarik kesimpulan tentang karakteristik populasi atau sampel ini dibahas pada statistika inferensial. 3. Langkah dan Prosedur Analisis Data (a) Tahap mengumpulkan data, dilakukan melalui instrumen pengumpulan data. (b) Tahap editing, yaitu memeriksa kejelasan dan kelengkapan pengisian instrumen pengumpulan data. (c) Tahap koding, yaitu proses identifikasi dan klasifikasi dari setiap pertanyaan yang terdapat dalam instrumen pengumpulan data menurut variabel-variabel yang diteliti. (d) Tahap tabulasi data, yaitu mencatat atau entri data ke dalam tabel induk penelitian. (e) Tahap pengujian kualitas data, yaitu menguji validitas dan realiabilitas instrumen pengumpulan data. (f) Tahap mendeskripsikan data, yaitu tabel frekuensi dan/atau diagram, serta berbagai ukuran tendensi sentral, maupun ukuran dispersi. tujuannya memahami karakteristik data sampel penelitian. (g) Tahap pengujian hipotesis, yaitu tahap pengujian terhadap proposisi-proposisi yang dibuat apakah proposisi tersebut ditolak atau diterima, serta bermakna atau tidak. Atas dasar Pengujian hipotesis inilah selanjutnya keputusan dibuat. 4. Macam Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian, dibagi menjadi dua, yaitu teknik analisis data diskriptif dan teknik analisis data inferensial. Teknik analisis data penelitian secara deskriptif dilakukan melalui statistika deskritif, yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya
18

tanpa bermaksud membuat generalisasi hasil penelitian. Temasuk dalam teknik analisis data statistik deskriptif antara lain penyajian data melalui tabel, grafik, diagram, persentase, frekuensi, perhitungan mean, median atau modus. Sementara itu teknik analisis data inferensial dilakukan dengan statistik inferensial, yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan membuat kesimpulan yang berlaku umum. Ciri analisis data inferensial adalah digunakannya rumus statistik tertentu (misalnya uji t, uji F, dan lain sebagainya). Hasil dari perhitungan rumus statistik inilah yang menjadi dasar pembuatan generalisasi dari sampel bagi populasi. Dengan demikian, statistik inferensial berfungsi untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel bagi populasi. Sesuai dengan fungsi tersebut maka statistik inferensial cocok untuk penelitian sampel.

Ukuran epidemiologi (ukuran morbiditas, ukuran mortalitas) 1. UKURAN MORBIDITAS Ukuran atau angka morbiditas adalah jumlah penderita yang dicatat selama 1 tahun per 1000 jumlah penduduk pertengahan tahun Angka ini dapat digunakan untuk menggambarakan keadaan kesehatan secara umum, mengetahui keberahasilan program program pemberantasan penyakit, dan sanitasi lingkungan serta memperoleh gambaran pengetahuan pendudukterhadap pelayanan kesehatan Secara umum ukuran yang banyak digunakan dalam menentukan morbiditas adalah rate, rasio, dan proporsi

1. RATE Rate atau angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus perbandingan antara pembilang dengan penyebut atau kejadian dalam suatu populasi teterntu dengan jumlah penduduk dalam populasi tersebut dalam batas waktu tertentu. Rate terdiri dari berbagai jenis ukuran diataranya adalah .Proporsi atau jumlah kelompok individu yang terdapat dalam penduduk suatu wilayah yang semula tidak sakit dan menjadi sakit dalam kurun waktu tertentu dan pembilang pada proporsi tersebut adalah kasus baru. Tujuan dari Insidence Rate adalah sebagai berikut Mengukur angka kejadian penyakit Untuk mencari atau mengukur faktor kausalitas Perbandinagan antara berbagai populasi dengan pemaparan yang berbeda Untuk mengukur besarnya risiko yang ditimbulkan oleh determinan tertentu
19

Rumus: P= (d/n)k Dimana: P= Estimasi incidence rate d= Jumlah incidence (kasus baru) n= Jumlah individu yang semula tidak sakit ( population at risk)

Hasil estimasi dari insiden dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan penanggulangan masalah kesehatan dengan melihat, Potret masalah kesehatan, angka dari beberapa periode dapat digunakan untuk melihat trend dan fluktuasi, untuk pemantauan dan evaluasi upaya pencegahan maupun penanggulangan serta sebagai dasar untuk membuat perbandingan angka insidens antar wilayah dan antar waktu

b) PR ( Prevalence) Ukuran prevalensi suatu penyakit dapat digunkan Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit Untuk penyusunan perencanaan pelayanan kesehatan. Misalnya, penyediaan obat-obatan, tenaga kesehatan, dan ruangan Menyatakan banyaknya kasus yang dapat di diagnosa Digunakan untuk keperluan administratif lainnya Angka prevalensi dipengaruhi oleh tingginya insidensi dan lamanya sakit. Lamanya sakit adalah suatu periode mulai dari didiagnosanya suatu penyakit hingga berakhirnya penyakit teresebut yaitu sembuh, kronis, atau mati

c) PePR (Periode Prevalence Rate) PePR yaitu perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah penduduk selama 1 periode Rumus: PePR =(P/R)k P = jumlah semua kasus yang dicatat R = jumlah penduduk k = pada saat tertentu

20

d) PoPR (Point Prevlene Rate) Point Prevalensi Rate adalah nilai prevalensi pada saat pengamatan yaitu perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah penduduk pada saat tetentu Rumus: PoPR =(Po/R)k Po = perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat R =jumlah penduduk k = selama 1 perode

Point prevalensi meningkat pada : 1. Imigrasi penderita 2. Emigrasi orang sehat 3. Imigrasi tersangka penderita atau mereka dengan risiko tinggi untuk menderita 4. Meningkatnya masa sakit 5. Meningkatnya jumlah penderita baru

Point prevalensi menurun pada : 1. Imigrasi orang sehat 2. Emigrasi penderita 3. Meningkatnya angka kesembuhan 4. Meningkatnya angka kematian 5. Menurunnya jumlah penderita baru 6. Masa sakit jadi pendek

e) AR (Attack Rate) Attack rate adalah andala angaka sinsiden yang terjadi dalam waktu yang singkat (Liliefeld 1980) atau dengan kata lain jumlah mereka yang rentan dan terserang penyakit tertentu pada periode tertentu Attack rate penting pada epidemi progresif yang terjadi pada unit epidemi yaitu kelompok penduduk yang terdapat pada ruang lingkup terbatas, seperti asrama, barak, atau keluarga. f) SAR g) CI (AAIR) h) ID i) Specifik menurut karakteristik
21

2. RASIO Rasio adalah nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai kuantittif yang pembilangnya tidak merupakan bagian dari penyebut Contoh: Kejadian Luar Biasa(KLB) diare sebanyak 30 orang di suatu daerah. 10 diantaranya adalah jenis kelamn pria. Maka rasio pria terhadap wanita adalah R=10/20=1/2 .

3. PROPORSI Proporsi adalah perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya merupakan bagian dari penyebut Penyebaran proporsi adalah suatu penyebaran persentasi yang meliputi proporsi dari jumlah peristiwa-peristiwa dalam kelompok data yang mengenai masing-masing kategori atau subkelompok dari kelompok itu. Pada contoh di atas, proporsi pria terhadap permapuan adalah P= 10/30=1/3

2. UKURAN FERTILITAS a) Crude Birth Rate (CBR) Angka kelahiran kasar Angka kelahiran kasar adalah semua kelahiran hidup yang dicatat dalam 1 tahun per 1000 jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama. Rumus: CBR = (B/P)k B = semua kealhiaran hidup yang dicata P = Jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama. k = konstanta(1000)

Angka kelahiran kasar ini dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat fertilitas secara umum dalam waktu singkat tetapi kurang sensitif untuk Membandingkan tingkat fertilitas dua wilayah Mengukur perubahan tingkat fertilitas karena perubahan pada tingkat kelahiran akan menimbulkan perubahan pada jumlah penduduk

22

b) Age Spesific Fertilty Rate (ASFR) Angka fertilitas menurut golongan umur Angka fertilitas menurut golongan umur adalah jumlah kelahiran oleh ibu pada golongan umur tertentu yang dicatat selam 1 tahun yang dicata per 1000 penduduk wanita pada golongan umur tertentu apda tahun yang sama Rumus: ASFR = (F/R)k F = Kelahiran oleh ibu pada golongan umur tertentu yang dicata R = Penduduk wanita pada golongan umur tertentu pada tahun yang sama Angka fertilitas menurut golongan umur ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan pada angka kelahiran kasar karena tingkat kesuburan pada setiap golongan umur tidak sama hingga gambaran kelahiran menjadi lebih teliti

c) Total Fertility Rate ( TFR) Angka fertilitas total Angka fertilitas total adalah jumlah angka fertilitas menurut umur yang dicatat sealma 1 tahun Rumus: TFR = Jumlah angka fertilitas menurut umur X k

3. UKURAN MORTALITAS a) Case Fatality Rate (CFR) Angka kefatalan kasus CFR adalah perbandingan antara jumlah kematian terhadap penyakit tertentu yang terjadi dalam 1 tahun dengan jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama Rumus: CFR = (P/T)k P = Jumlah kematian terhadap penyakit tertentu T = jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama

perhitungan ini dapat digu8nakan uutk mengetahui tingakat penyakit dengan tingkat keamtia yang tinggi. Rasio ini dapat dispesifikkan menjadi menurut goklongan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan lain-lain

23

b) Crude Death Rate (CDR) Angka Kematian Kasar Angka keamtian kasar adalah jumlah keamtian ang dicata selama 1 tahun per 1000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Disebut kasar karena akngka ini dihitung secatra menyeluruh tanpa memperhatikan kelompok-kelompok tertentu di dalam populasi denga tingkat kematian yang berbeda-beda. Rumus: CDR= (D/P)k D= jumlah keamtian yang dicata selama 1 tahun P=Jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama Manfaat CDR a) Sebagai gambaran status kesehatan masyarakat b) Sebagai gambaran tingkat permasalahan penyakit dalam masyarakat c) Sebagai gambaran kondisi sosial ekonomi d) Sebagai gambaran kondisi lingkungan dan biologis e) Untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk

c) Age Spesific Death Rate (ASDR) angka kematian menurut golongan umur Angka kematian menurut golongan umur adalah perbandingan antara jumlah kematian yang diacata selama 1 tahun padas penduduk golongan umur x dengan jumlah penduduk golongan umur x pada pertengaha n tahun Rumus: ASDR= (dx/px)k dx = jumlah kematian yang dicatat selama 1 tahun pada golongan umur x px = jumlah penduduk pada golonga umur x pada pertengahan tahun yang sama k = Konstanta Manfaat ASDR sebagai berikut: 1. untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesahatan masyarakat dengan melihat kematian tertinggi pada golongan umur 2. untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di bebagai wilayah 3. untuk menghitung rata-rata harapan hidup

d) Under Five Mortality Rate (UFMR) Angka kematian Balita Angka kematian Balita adalah gabungan antara angka kematian bayi dengan angka kematian anak umur 1-4 tahun yaitu jumlah kematian balita yang dicatat selam satu tahun per 1000
24

penduduk balita pada tahun yang sama Rumus: UFMR = (M/R)k M = Jumlah kematian balita yang dicatat selama satu tahun R = Penduduk balita pada tahun yang sama ` k = Konstanta Angka kematian balita sangat penting untuk mengukur taraf kesehatan masyarakat karena angka ini merupakan indikator yang sensitif untuk sataus keseahtan bayi dan anak

e) Neonatal Mortality Rate (NMR) Angka Kematian Neonatal Neonatal adalah bayi yang berumur kurang dari 28 hari. Angka Kematian Neonatal adalah jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari yang dicatata selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama Rumus: NMR = (d1/ B)k di = Jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari B = Kelahiran hidup pada tahun yang sama k = konstanta Manfaat dari angka kematian neonatal adalah sebgai berikut; 1. untuyk mengetahuai tinggi rendahnya perawatan post natal 2. Untuk mengetahui program Imuninsasi 3. Untuk pertolongan persalina 4. untuk mengetahui penyakit infeksi

f) Perinatal Mortality Rate (PMR) angka kematian perinatal Angka kematian perinatal adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari yang dicatat dalam 1 tahun per 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang sama. Rumus: PMR = (P+M/R)k P = jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan berumur 28 minggu M =ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 har R = 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang sama. Manfaat dari angka kematian perinatal adalah untuk menggambarkan keadaan kesehatan
25

masyarakat terutama kesehatan ibu hamil dan bayi Faktor yang mempengaruhi tinggnya PMR adalah sebagai berikut: Banyak bayi dengan berat badan lahir rendah Status gizi ibu dan bayi Keadaan sosial ekonomi Penyakit infeksi terutama ISPA Pertolongan persalinan

g) Infant Mortality Rate (IMR) Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi adalah perbandingan jumlah penduduk yang berumur kurang dari 1 tahun yang diacat selama 1 tahun dengan 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Rumus: IMR = (d0 /B)k d0 = Jumlah penduduk yang berumur kurang dari 1 tahun B = Jumlah lahir hidup pada thun yang sama k = Konstanta Manfaat dari perhitungan angka kematian bayi adalah sebagai berikit: 1. Untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi 2. Untuk Mengetahui tingkat pelayanan antenatal 3. Untuk mengetahui status gizi ibu hamil 4. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Program Keluaga berencana (KB) 5. untuk mengetahui kondisi lingkungan dan social ekonomi

h) Maternal Mortality Rate (MMR) Angka Kematian Ibu Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Rumus: MMR = (I/T)k I = adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas T = Kelahiran hidup pada tahun yang sama. k = konstanta Tinggi rendahnya angka MMR tergantung kepada:
26

Sosial ekonomi Kesehatan ibu sebellum hamil, persalinan, dan masa nasa nifas Pelayanan terhadap ibu hamil Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas

Daftar pustaka : 1. Reinke A, William, Perencanaan Kesehatan Untuk Meningkatkan Efektifitas Manajemen, Yogyakarta, Gadjah Mada University ,Press 2004

2. Notoatmojo Sockidjo Prof, DR, Ilmu Kesehatan Masyarakat,Jakarta, Rineka Cipta , 2003 3. Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 4. Bustan MN ( 2002 ). Pengantar Epidemiologi, Jakarta, Rineka Cipta 5. Entjang, 2006, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti 6. Vaughan, Morrow, 2006, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, IT

27