Anda di halaman 1dari 76

MATERI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

KELAS XI SMK Oleh : Drs. I Wayan Pura Ys BAB I HUKUM KARMA DAN PUNARBHAWA Standar kompetensi Memahami Hukum Karma dan Punarbhawa Tujuan Pembelajaran Akhir Setelah mempelajari materi ini siswa diharapkan mampu : Mengerti dan memahami hukum karma . Mampu menjelaskan bagian bagian hukum karma Mampu menguraikan hubungan hukum karma dengan punarbhawa Menjadikan hukum karma sebagai pegangan dalam prilaku Uraian Materi A. Pengertian Hukum Karma Karma berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya kerja atau berbuat. Konsep hukum karma adalah bahwa setiap perbuatan akan memberikan hasil yang disebut ( phala ). Sehingga setiap hasil yang dipetik atau diterima oleh seseorang atas perbuatannya disebut karma phala. Hukum karma adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Tidak memandang apakah orang tersebut percaya atau tidak hukum karma tetap berlaku. Seperti hukum terbitnya matahari dari timur, orang buta ataupun orang eskimo yang tidak pernah melihat matahari, bukan berarti matahari tidak ada. Matahari tetap terbit dari timur. Demikianlah hukum karma berlaku bagi semua umat manusia dari semua negara, semua suku bangsa dan semua agama. Dalam ajaran Hindu , hukum karma merupakan ajaran sebagai landasan ajaran etika dan pegangan dalam mencapai tujuan hidup. Karma atau perbuatan ini ada tiga bentuk yaitu karma yang dilakukan oleh pikiran ( Manah ), karma dalam bentuk ucapan (waca ), dan karma dalam bentuk tindakan jasmanani ( kaya ). Jadi apapun bentuk aktivitas seseorang pasti ada phalanya (hasilnya) .Ini berarti tidak ada perbuatan yang tanpa membuahkan hasil, sekecil apapun kegiatan tersebut. Sedangkan jika dilihat dari baik buruknya maka perbuatan yang baik disebut Subha karma dan perbuatan yang buruk disebut Asubha karma. Materi Pelajaran Pendidikan Agama Hindu 1 1/76

B. Proses berlakunya karma phala Setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana), kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karmawasana seseorang. Jika digambarkan maka proses karma seseorang sebagai berikut : KEINGINAN

Pengetahuan PIKIRAN Pengalaman Hidup KARMA

Wiweka karmawasana

KARMA PHALA C. Wujud Karma phala Banyak orang menafsirkan bahwa wujud dari karma phala ( hasil perbuatan ) seseorang adalah berbentuk materi, seperti kekayaan, kecantikan atau ketampanan, jabatan, kehormatan dan sebagainya yang semata-mata diukur dari segi materi. Secara garis besar memang wujud karmaphala ada dua yaitu berbentuk fisik dan psikis( batin). Artinya hasil dari perbuatan tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh badan jasmani melalui panca indria atau juga bisa memberikan suasana batin tertentu pada seseorang. Contoh: Jika seseorang pernah berbuat baik misalnya membantu orang yang jatuh di jalan , suatu saat ketika dia terjatuh di jalan akan ada orang lain yang menolong. Ini adalah phala secara fisik. Contoh lain mungkin ada orang yang suka menipu justru akan membuat hatinya tersiksa karena selalu was-was, selalu berprasangka bahwa tipu dayanya akan ketahuan oleh orang lain. Ini berarti secara psikis dia menderita. Pendidikan Agama Hindu 2/76

Wujud dari karmaphala yang akan diterima seseorang tidak dapat dipastikan. Artinya hasil karma tersebut bisa saja berbentuk fisik, atau psikis, ataupun kedua nya yaitu fisik dan psikis. Demikian pula kapan waktunya akan diterima seseorang atas perbuatannya juga merupakan rahasia Hyang Widhi. Yang jelas bahwa karmaphala itu ada dan akan hadir tepat pada waktunya. Diatas kedua wujud karmaphala di atas yang terpenting untuk menjadi tolok ukur atas hasil perbuatan seseorang adalah akibat dari wujud karmaphala tersebut. Artinya seseorang yang menerima karmaphala baik berwujud fisik maupun psikis apakah mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak. Apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan? Contoh : Seseorang yang mendapatkan uang sangat banyak dari hasil judi, diukur dari segi fisik tentu menyenangkan. Tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu keinginannya. Suatu saat jika dia kalah berjudi maka kekesalan dan kemarahannya akan dilempahkan pada orang lain, seperti anak atau istrinya. Ini menunjukkan bahwa uang yang diperoleh dari hasil judi tersebut bukan karmaphala yang baik, karena akibat dari uang yang diterima terebut justrui menjerumuskan dirinya pada karma-karma yang lebih buruk. Contoh lain mungkin ada seseorang yang secara fisik cacat jasmani, tetapi dengan kekurangannya tersebut memberikan dia inspirasi dan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, sehingga dia menjadi orang yang teguh sradha bhakti, serta senantiasa merasa tentram . Jadi cacat jasmani tersebut bukan hasil karma buruk tetapi merupakan hasil karma baik yang membawa kebahagiaan bagi dirinya. Seperti halnya seseorang minum obat pahit untuk kesembuhan dari penyakitnya. Kesimpulannya: Karmaphala yang baik adalah yang dapat meningkatkan kualitas sradha bhakti untuk mencapai kebahagiaan lahir batin ( moksartham jagat hita ) Karmaphala yang buruk adalah yang menyebabkan seseorang menderita lahir batin dan menurunkan kualitas sradha bhakti. D. Dampak karma bagi seseorang Setiap karma yang dilakukan setidak-tidaknya ada tiga akibat yang terjadi : 1. Karma akan memberi akibat atau balasan atas setiap perbuatan manusia. Baik atau buruk yang akan diterima sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. 2. Karma akan memberi kesan tersendiri kepada pelakunya yang akan melekat pada pikiran pelakunya. Pendidikan Agama Hindu 3/76

3. Karma akan membentuk kepribadian seseorang. Karma yang memberi kesan dan menjadi kepribadian jiwatman inilah yang merupakan karmawasana setiap orang, selalu melekat pada setiap kelahirannya. E. Tiga Macam Karma Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu : 1. Sanchita Karma 2. Prarabdha Karma 3. Kryamana Karma Sancitha karma adalah karma atau perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia baru akan menerima pahalanya setelah meninggal dunia Prarabdha karma adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini. Kramana karma adalah pahala yang diterima seseorang pada kehidupan ini atas hasil dari perbuatan ( karmanya ) pada kehidupan yang lampau. Meskipun kita menggolongkan karma tersebut seperti di atas tetapi dalam kenyataan sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi setiap karma yang kita terima saat ini. Mengenai kapan waktu kita akan menerima pahala atas karma yang kita lakukan juga merupakan rahasia Ida sang Hyang Widhi. Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi. Kita harus yakin bahwa apapun yang kita alami pada kehidupan ini adalah hasil perbuatan diri sendiri. Bukan karena orang lain. Bisa saja merupakan pahala atas karma kita pada kehidupan terdahulu, atas pahala atas karma kita masa kini. Oleh karena itu yang terbaik harus dilakukan adalah melaksanakan tugas sebaik-baiknya, selalu berbuat kebaikan serta tetap yakin dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Laksanakan semua kewajiban sebagai yadnya dan bhakti kepada Ida sang Hyang Widhi. Jika hal itu sudah dilakukan maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. Apa yang seharusnya kita butuhkan pasti akan terpenuhi, sebagaimana wahyu Beliau dalam Kitab Bhagawad Gita Bab IX Sloka 22 :

Mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja, kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu, akan Aku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga yang sudah dimilikinya.

Pendidikan Agama Hindu

4/76

F. Pelaksana Karmaphala Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa wujud karmaphala bisa berbentuk fisik bisa juga berbentuk psikis. Jika karma seseorang harus diterima setelah meninggal dunia maka atmannya akan menuju sorga atau neraka. Tetapi bagaimana bentuk pahala dari karma yang harus dinikmati pada kehidupan ini? Tentu saja akibat karma akan dirasakan oleh seseorang melalui interaksi dengan lingkungan, baik alam maupun sesama manusia. Pahala karma bisa saja dirasakan melalui tangan manusia, binatang, tumbuhan, serta bisa juga dari alam. Sehingga manusia disamping akan menerima pahala atas karmanya, tetapi juga sebagai alat untuk membalas karma orang lain. Contoh sederhana mungkin suatu ketika kita menerima bantuan dari orang lain dimana pada waktu tersebut kita benar-benar memerlukan pertolongan tersebut. Kejadian ini buakanlah suatu kebetulan. Itu adalah hasil karma kita yang mungkin kita sudah lupa kapan melakukannya, sehingga disaat yang tepat kita akan menerimanya. Dalam peristiwa tersebut yang menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan pahala atas karma tersebut adallah manusia ( orang lain). Meskipun manusia adalah alat pembalas karma, bukan berarti dia terbebas atas karma yang diperbuatnya itu tetapi pahala akan selalu mengikuti karma yang dilakukannya. Misalkan Andi menolong Budi yang terjatuh dari sepeda motor. Dalam peristiwa tersebut Budi menerima pahala dalam bentuk pertolongan dari Andi, pahala tersebut mungkin saja atas kebaikan Budi di waktu lalu Dalam kasus ini Andi adalah sebagai alat pembalas karma perbuatan Budi di masa lalu. Meskipun Andi sebagai alat , atas perbuatannya menolong budi dia juga akan mendapat pahala atas karma tersebut. Jadi setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu orang maka dalam peristiwa tersebut ada dua jenis proses karma yang terjadi yaitu ada pihak yang menerima hasil karmanya dan ada orang yang yang berkarma dimana hasilnya belum diketahui kapan akan diterima. Demikian pula alam bisa saja sebagai alat pembalas karma. Bencana alam bukanlah hukuman Tuhan, tetapi semua itu akibat perbuatan manusia sendiri. Kesimpulannya : a. Pahala atas karma seseorang dapat diterima di alam niskala ( sorga atau neraka ) juga bisa dinikmati pada saat hidup. b. Pahala karma di dunia bisa diterima melalui tangan manusia atau alam lingkungan. c. Setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu manusia maka akan ada pihak penerima pahala atas karmanya dan ada pihak sebagai pembalas karma sekaligus pelaku karma untuk dirinya. d. Setiap karma yang terjadi akan menjadi penyebab untuk karma-karma berikutnya. Pendidikan Agama Hindu 5/76

e. Dalam rangka meningkatkan karma baik maka pada saat berdoa mohonlah agar kita senantiasa menjadi alat pembalas karma yang baik.

G. PUNARBHAWA Punarbbhawa atau tumimbal lahir atau samsara adalah bagian keempat dari Panca Sradha sebagai dasar keyakinan Umat Hindu. Pengertian sederhana adalah bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka jiwatman akan melepaskan badan jasmaninya ( stula sarira ), menuju sorga atau neraka. Untuk meningkatkan kualitas jiwatman maka setelah waktu tertentu jiwatman kembali kedunia dengan menggunakan badan jasmani yang baru. Proses jiwatman meninggalkan stula sarira kemudian lahir kembali menggunakan jasmani yang baru inilah disebut Punarbhawa. Untuk memahami dan meyakini hukum punarbhawa bisa kita lakukan secara logika maupun dengan meyakini Wahyu Tuhan melalui kitab-kitab suci. Jika kita perhatikan bahwa alam ini semuanya mengalami siklus ( perputaran ). Bahkan planet-planet ini bisa stabil pada tempatnya karena berputar. Ada perputaran siang dan malam, Perputaran waktu, perputaran rantai makanan, perputaran dari air laut mejadi awan, kemudian turun hujan dan kembali ke laut, dan masih banyak lagi jenis-jenis perputaran kehidupan. Intinya bahwa segala sesuatu di alam ini mengalami perputaran sehingga bisa stabil. Demikian juga manusia yang lahir, tumbuh besar, kemudian meninggal maka akan mengalami perputaran untuk lahir kembali. Dari pemahaman ini jelas bahwa manusia akan mengalami punarbhawa. Kemudian dalam Kitab Suci Bhagawad gita beberapa sloka menyiratkan secara jelas tentang punarbhawa , antara lain :

Seperti halnya sang jiwatman yang melewatkan waktunya dalam badan ini dari masa kanak-kanak, remaja dan usia tua, demikian juga bila ia berpindah ke badan yang lainnya. Orang bijaksana tak akan terbingungkan oleh hal ini. ( Bab II, sloka 13 ) Bagaikan seseorang yang menanggalkan pakaian usang dan mengenakan pakaian lain yang baru, demikianlah jiwatman yang berwujud mencampakkan badan lama yang telah usang dan mengenakan badan jasmani baru. ( BabII, sloka 22 ) Bagi seseorang yang lahir, kematian sudahlah pasti dan pasti ada kelahiran bagi mereka yang mati, sehingga terhadap hal yang tak terrelakkan ini janganlah engkau berduka. ( Bab II, sloka 27).
Pendidikan Agama Hindu 6/76

Masih banyak sloka-sloka lain yang menjelaskan tentang punarbhawa ini. H. Hubungan Karmaphala dengan Punarbhawa Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 4 dikatakan : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara ( lahir dan mati berulang-ulang ) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia. Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekannya yaitu : 1. Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia. 2. Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari keadaan samsara ( punarbhawa ). Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiran berikutnya akan meningkat kualitasnya. Demikian juga bila semasa hidupnya banyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan. Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai. Jika digambarkan proses hidup manusia dan kelahirannya sampai bersatunya atman dengan brahman ( Brahman Atman aikyam) seperti di bawah ini :

Ket : Gari tebal adalah kehidupan saat ini Garis tipis kehidupan kelahiran dengan kualitas meningkat yang menuju bersatunya Brahman Pendidikan Agama Hindu 7/76

Garis putus-putus kehidupan kelahiran dengan kualitas menurun yang semakin jauh dari Brahman. Kesimpulan : Gunakan hidup ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan karma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkatkan kualitas dan kesucian jiwatman.

Pendidikan Agama Hindu

8/76

BAB II ALAM SEMESTA Standar Kompetensi Memahami proses penciptaan dan pralaya alam semesta Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Mampu menjelaskan proses terciptanya bhuana agung dan bhuana alit. b. Mampu menjelaskan proses pralaya. c. Mampu mengklasifikasi unsur-unsur bhuana agung dan bhuana alit d. Mampu menguraikan hubungan bhuana agung dan bhuana alit Uraian Materi A. BHUWANA AGUNG Pengertian Bhuana Agung artinya alam raya ( besar ). Jadi semua yang ada di alam semesta ini termasuk gugusan bintang, matahari, planet, bumi dengan segala isinya ini yang disebut bhuana agung. Istilah lainnya adalah jagat raya, makrokosmos, atau brahmanda. Penggambaran jagat raya termasuk proses penciptaannya banyak diuraikan dalam beberapa kitab suci Hindu Seperti Brhad Aranyaka Upanisad, Brahmanda Purana, Agastya Parwa dan sebagainya. Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta, sangat sulit dipastikan, mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia. Bebrapa peneliti dan ilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semesta tetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta. Menurut Ktab-kitab suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikan yang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semesta ini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada, lalu ada, kemudian tidak ada lagi, demikian seterusnya berulang-ulang. Pada saat alam semesta ini mengada disebut masa Srsti atau Brahma diwa ( siang hari Brahma ). Sedangkan pada waktu alam ini meniada disebut Pralaya atau Brahma nakta ( malam hari Bharma ). Masa Srsti digabungkan dengan masa Pralaya disebut satu Kalpa atau satu hari Brahman. Proses dari tidak ada menjadi ada alam semesta ini berlangsung secara berjenjang, dari jenjang yang amat halus dan tidak berwujud ( gaib / niskala ) sampai pada jenjang yang berwujud dan sangat kasar ( nyata / sekala ) Pendidikan Agama Hindu 9/76

Pralaya Pralaya adalah masa dimana alam semesta ini tidak ada. Proses pralaya menurut beberapa kitab suci Hindu digambarkan sebagai berikut ; 1. Dimulai dari hancurnya ikatan api atau matahari yang kemudian menyebar keseluruh alam semesta. 2. Dari sebaran api yang sangat dahsyat ini menyebabkan semua zat cair menguap, semua zat pada meleleh kemudian menguap. 3. Semua mahluk hidup mati dan hancur. 4. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta kembali menjadi atom yang amat halus sekali. 5. Alam jagat raya dipenuhi hawa panas kemerahan dan dentuman halilintar yang sambung-menyambung dengan dahsyat. 6. Selanjutnya alam semesta menjadi tidak ada selama satu kalpa atau kurang lebih 432 juta tahun manusia. Pada saat alam ini tidak ada Tuhan menarik kembali semua manifestasi beliau di alam kemudian menjadikan diri dalam wujud sepi, kosong dan hampa. Pada kondisi seperti ini beliau disebut Paramasiwa atau Nirguna Brahman. Srsti Setelah alam ini tidak ada pada masa pralaya , proses terciptanya alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Tuhan Paramasiwa atau Nirguna Brahma menjadikan diri-Nya Sada Siwa ( Saguna Brahma ) yang berwujud Purusa dan Prakiti . 2. Purusa adalah unsur dasar kejiwaan atau rohani, sedangkan prakirti adalah unsur dasar kebendaan atau jasmani. Purusa dan prakirti keduanya sangat halus dan tidak bisa diamati, tanpa permulaan dan tanpa akhir.Hal ini disebutkan dalam Bhagawad Gita, Bab XIII sloka 20. 3. Dari Unsur Prakirti lahirlah Triguna yaitu; Sattwam, Rajas, dan Tamas. Sattwam adalah unsur yang bversifat terang dan tenang. Rajas unsur yang memiliki sifat dasar dinamis dan aktif. Sedangkan Tamas adalah unsur yang meiliki sifat dasar gelap dan berat 4. Perpaduan Purusa dan Prakirti menyebabkan Triguna tidak seimbang. Padamulanya Unsur Sattwam yang mendominasi maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti Maha Agung. 5. Dari Mahat terciptalah alam Citta yang didalamnya terdiri dari tiga unsur yaitu Budhi, manah dan ahamkara yang tercipta secara berurutan. 6. Alam citta yang pertama muncul adalah Buddhi, yaitu unsur kejiwaan tertinggi yang berfungsi untuk menentukan keputusan. Budhi bersifat sattwam sehingga setiap keputusannya bersifat bijaksana. 7. Dari Buddhi selanjutnya lahir Ahamkara, yaitu benih kejiwaan yang bersifat kedirian atau individu. Fungsinya adalah untuk merasakan. Pendidikan Agama Hindu 10/76

8. Selanjutnya dari Ahamkara lahirlah yang disebut Manas, yaitu akal atau pikiran yang berfungsi untuk berpikir. 9. Evolusi berikutnya dengan pengaruh triguna dengan imbangan yang berbeda terciptalah Dasendriya , yang terdiri dari Panca Buddhindriya terdiri dari ; a. Srotendriya ( rangsang pendengar ) b. Twakindriya ( rangsang perasa ) c. Caksundriya ( rangsang penglihatan ) d. Jihwendriya ( rangsang pengecap ) e. Granendriya ( rangsang pencium ) Panca Karmendriya terdiri dari; a. Garbhendriya ( rangsang penggerak perut ) b. Panindriya ( rangsang penggerak tangan ) c. Padendriya ( yangsang penggerak kaki ) d. Payundrita ( rangsang penggerak pelepasan ) e. Upasthendriya / Bhagendriya ( rangsang penggerak kelamin ) 10. Selanjutnya lahirlah Panca Tanmatra yaitu lima unsur zat yang sangat halus terdiri dari : a. Sabda Tanmatra ( sari suara ) b. Sparsa Tanmatra ( sari rabaan ) c. Rupa Tanmatra ( sari warna ) d. Rasa Tanmatra ( sari rasa ) e. Ganda Tanmatra ( sari bau ) 11. Dari Panca Tanmatra selanjutnya muncul Panca Maha Bhuta , yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat kasar, terdiri dari: a. Akasa ( ether atau ruang ) b. Wayu ( hawa atau udara ) c. Teja ( api ) d. Apah ( zat cair ) e. Prthiwi ( zat padat ) 12. Dari Panca Maha Bhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta beserta isinya yaitu mahluk hidup yang ada di bumi termasuk manusia. Dari uraian di atas jelaslah bahwa semua yang ada di alam ini mengalir dan lahir dari Tuhan dan pada saatnya nanti akan kembali lagi ke dalam tubuhNya yang menjadi kosong dan hampa.

Pendidikan Agama Hindu

11/76

Jika digambarkan dalam skema maka proses terciptanya alam semesta sebagai berikut :

Ida Sang Hyang Widhi Purusa


Prakirti / Pradana Memiliki Triguna

Mahat Citta

Buddhi Ahamkara Manah Dasendriya Panca Tanmatra

Panca Maha Butha

Brahmanda

Pendidikan Agama Hindu

12/76

Sapta Loka Bumi sebagai salah satu Brahmanda hasil pembentukan Panca Maha Bhuta memiliki lapisan-lapisan. Lapisan bumi menuju ruang jagat raya disebut Sapta Loka. Lapisan-lapisan ini berdasarkan kuat atau lemahnya pengaruh Panca Maha Bhuta. Sapta 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Loka terdiri dari : Bhur loka ( alam manusia ) Bhuwah loka ( alam pitara ) Swah Loka ( alam dewa ) Maha loka Jana loka Tapa loka Satya loka ( ruang vakum= Nirguna Brahma )

Sapta Patala Sapta patala adalah lapisan bumi dari permukaan sampai dengan inti bumi, terdiri atas : 1. Patala ( kulit bumi ) 2. Watala 3. Nitala 4. Mahatala 5. Sutala 6. Tala-tala 7. Rasa tala Lebih dalam dari sapta patala masih terdapat dua lapisan lagi yaitu : a. Balagarba maha naraka ( ruang perantara di dalam bumi ) b. Kalagni Rudra ( ruang inti bumi ) B. BHUWANA ALIT Pengertian Bhuwana alit sering juga disebut Mikrokosmos adalah alam kecil atau dunia kecil yaitu isi dari alam semesta, seperti; manusia, hewan dan tumbuhan. Asal mula atau proses penciptaan bhuwana alit Bhuwana alit adalah bagian dari bhuwana agung, oleh karena itu proses penciptaan sama termasuk unsur-unsur pembentukannya. Hanya saja ada perbedaan perkembangan penciptaannya sesuai perimbangan triguna. Setelah tercipta Brahmanda-brahmanda termasuk bumi maka selanjutnya diciptakanlah mahluk hidup yang berawal dari mahluk hidup yang terrendah sampai dengan mahluk hidup yang tertinggi.

Pendidikan Agama Hindu

13/76

Dari proses penciptaan Purusa dan prakirti dengan unsur-unsurnya sampai panca maha bhuta, dengan sifat tamas yang mendominasi terciptalah kelompok Eka Pramana atau tumbuh-tumbuhan. Selanjutnya jika semua unsur penciptaan tersebut lebih banyak guna rajas maka terciptalah kelompok Dwi Pramana atau hewan/ binatang. Terakhir dengan perimbangan satwam, rajas, tamas yang sesuai dan seimbang tercipta Kelompok Tri Pramana atau manusia. Kelompok Eka Pramana Yaitu mahluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yaitu Bayu. Mahluk hidup ini juga dikenal dengan nama Sthawara yaitu mahluk hidup yang tidak berpindah-pindah seperti tumbuhan. Termasuk dalam golongan Sthawara adalah : 1. Trna yaitu bangsa rumput baik yang hidup di air maupun di darat. 2. Lata adalah tumbuhan menjalar di tanah atau di pohon. 3. Taru yaitu semak dan pepohonan. 4. Gulma adalah bangsa tumbuhan yang bagian luar pohon berkayu keras dan bagian dalam berongga atau kosong. 5. Jangama yaitu tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain. Kelompok Dwi Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki dua kekuatan hidup yaitu Bayu dan Sabda. Mahluk ini dikenal dengan nama Satwa atau Sato.. Adapun yang tergolong dalam Sato adalah : 1. Swedaya yaitu binatang bersel Satu. 2. Andaya yaitu binatang bertelur. 3. Jarayuja yaitu binatang menyusui. Kelompok Tri Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu; Bayu, Sabda dan Idep. Mahluk ini disebut juga Manusya. Bayu adalah kekuatan nafas, Sabda adalah kekuatan suara dan Idep kekuatan pikiran. Diantara mahluk hidup hanya manusialah yang memiliki semua unsur ciptaan Tuhan secara lengkap. Baik unsur terhalus sampai unsur paling kasar. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain adalah komposisi dan perimbangan unsur-unsur pembentukannya serta karmawasana yang telah dibentuknya. Manusia memiliki unsur : 1. Purusa yaitu atman sebagai sumber kehidupan 2. Pradana terdiri dari :

Pendidikan Agama Hindu

14/76

a. Suksma sarira dari unsur Cita, budhi, manah, ahamkara, Dasendria, dan Panca Tanmatra. Bentukan hasil karma manusia antara suksma sarira dengan stula sarira menghasilkan Panca Maya Kosa yaitu lima lapisan halus badan manusia. Panca Maya Kosa terdiri dari : 1). Annamaya kosa yaitu badan dari sari makanan 2). Pranamaya Kosa yaitu badan dari sari nafas. 3). Manomaya Kosa yaitu badan dari sari pikiran. 4). Wijnanamaya Kosa yaitu badan dari sari pengetahuan. 5). Anandamaya Kosa yaitu badan dari sari kebahagiaan Suksma sarira yang dihidupi dengan unsur purusa ( atman ) disebut jiwatman. Jiwatman inilah yang selalu mengalami reinkarnasi jika selama bersatu dengan stula sarira sebagai manusia hidup di dunia belum berhasil melepaskan ikatan-ikatan karma untuk mencapai moksa yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. b. Stula sarira yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. Dari hasil karma dan konsumsi makanan manusia membentuk Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus stula sarira. Sad Kosa terdiri dari : 1). Asti ( tulang) 2). Odwad ( Otot ) 3). Sumsum ( sumsum) 4). Mamsa ( daging). 5). Rudhira ( darah ) 6). Carma ( kulit ) C. HUBUNGAN BHUWANA AGUNG DENGAN BHUWANA ALIT Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut : 1. Bhuwana Agung dan bhuwana alit diciptakan oleh pencipta yang sama. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa pralaya, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bhagawad Gita Bab VII, sloka 6. 2. Bhuwana Agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama.

Pendidikan Agama Hindu

15/76

Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya , tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama. Skema itu dalat digambarkan sebagai berikut :

Pendidikan Agama Hindu

16/76

Brahman ( Nirguna Brahma ) melaksanakn Tapa Nirguna Brahma ( Sada Siwa )

Purusa

Prakirti ( pradhana )

Bhuwana Agung 1. Citta 2. Buddhi 3. Manah 4. Ahamkara 5. Dasendriya 6. Panca Tanmatra 7. Parama Anu 8. Panca Maha Bhuta 9. Brahmanda Sapta Loka Sapta Patala

Bhuwana Alit 1. Citta 2. Buddhi 3. Manah 4. Ahamkara 5. Dasendriya 6. Panca Tanmatra 7. Parama Anu 8. Panca Maha Bhuta 9. Benih (Sukla/Swanita) Manusia

3. Bhuwana agung dan bhuawana alit saling melengkapi. Mahluk hidup diciptakan berada dan berkembang pada alam semesta. Alam dilengkapi untuk kehidupan dan perkembangan mahluk hidup dan mahluk hidup memiliki kemampuan untuk mengatur alam. Proses saling melengkapi ini telah diatur dengan hukum Tuhan ( Rta ). Untuk alam ditata dan diatur dengan hukum alam, seperti rotasi bumi dan matahari, siklus perputaran air ( hidrologi ), siklus perputaran musim dan sebagainya. Sedangkan manusia ditata dan diatur dengan hukum karma yang didalamnya dibekali ilmu pengetahuan dan ajaran agama.

Pendidikan Agama Hindu

17/76

Dengan demikian alam akan melengkapi kebutuhan manusia dan manusia akan melengkapi isi alam. 4. Bhuana agung dan bhuana alit saling mempengaruhi. Karena bhuana agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama maka dalam proses hubungannya akan saling mempengarui. Pribadi, budaya masyarakat serta kegiatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh alam. Alam memiliki unsur Triguna juga akan mempengaruhi semua pribadi dan aktivitas manusia. Alam memiliki musim maka manusia akan mengatur hidup dan fisiknya menyesuaikan dengan musim yang ada. Contoh sederhana manusia menciptakan kalender untuk pengaturan bercocok tanam bagi masyarakat agraris. Manusia menciptakan berbagai alat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Matahari serta planet-planet di semesta memiliki jenis guna yang berbeda-beda, perputaran planet-planet ini mempengaruhi posisi kedekatan dengan bumi. Masing-masing posisi ini akan memberikan pengaruh yang berbeda pada manusia di bumi. Sehingga di Bali kita mengenal pedewasan ( hari baik/buruk untuk aktivitas tertentu) yang bersumber pada pengaruh guna masing-masing posisi planet tersebut. Sebaliknya segala aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi kondisi alam. Kondisi sekarang dengan ulah sebagian manusia yang merusak alam dan membabat habis hutan menyebabkan rusaknya siklus perputaran air. Pembangunan yang tidak memperhitungkan tata lingkungan menyebabkan bencana alam banjir dan kebakaran. Penggunaan zat kimia yang merusak lapisan ozon dan polusi dari hasil pembakaran yang dilakukan manusia menciptakan rumah kaca sehingga terjadi pemanasan global. Intinya bahwa aktivitas manusia dipengaruhi oleh alam dan sebaliknya juga hasil aktivitas manusia tersebut akan mempengaruhi alam

Pendidikan Agama Hindu

18/76

BAB III KEPEMIMPINAN


Standar Kompetensi Memahami hakekat kepemimpinan Hindu Tujuan Pembelajaran akhir Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Mampu menjelaskan pentingnya mempelajari ilmu kepemimpinan. b. Mampu menguraikan Teori dasar kepemimpinan. c. Mampu menguraikan konsep dasar kepemimpinan menurut ajaran Hindu. d. Mampu neneladani sifat-sifat kepemimpinan Hindu. URAIAN MATERI A. PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan Hyang Widhi di muka bumi dengan memiliki tri pramana yaitu sabda, bayu dan idep. Dengan memiliki idep ( pikiran ) maka manusia dalam hidupnya selalu memiliki tujuan serta memiliki upaya untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan manusia bisa bersifat individu maupun kelompok. Tujuan yang bersifat individu adalah sesuatu yang ingin dicapai secara pribadi bagi diri sendiri. Disisi lain manusia adalah mahluk sosial yang hidup dalam kelompok tertentu. Kelompok ini bisa dalam lingkungan rumah tangga, keluarga, RT,RW, Kelurahan/Desa, dan seterusnya hingga kelompok negara bahkan dunia. Kelompok dalam hal ini juga termasuk lingkungan profesi, kantor, serta organisasi sosial lainnya. Semua kelompok ini dari kelompok yang terkecil hingga yang terbesar memiliki tujuan tertentu. Dalam usaha mencapai tujuan kelompok/organisasi tersebut perlu adanya pemimpin yang akan mengarahkan dan membawa kelompoknya untuk mencapai tujuan. Agar usaha seorang pemimpin berhasil menghantarkan kelompok/organisasi yang dipimpinnya mencapai tujuan maka diperlukan kemampuan untuk memimpin. Kemampuan dalam hal memimpin suatu organisasi ini disebut kepemimpinan/ Leadership. Ilmu kepemimpinan tidak saja diperlukan oleh pemimpin kelompok atau organisasi, setiap orang perlu mempelajari kepemimpinan, sebab setiap orang suatu saat pasti akan menjadi pemimpin. Minimal akan menjadi pemimpin dalam keluarga, bahkan untuk mencapai tujuan secara pribadi kita harus dapat memimpin diri sendiri. Kepemimpinan dalam Hindu banyak dijabarkan dalam berbagai kitab antara lain Kitab Arthasastra. Kitab ini dikenal juga dengan nama Danda Niti, Raja Dharma, atau Raja Niti, serta Kautalira Arthasastra. Kitab ini berisi tentang ilmu Pendidikan Agama Hindu 19/76

pemerintahan Hindu yang disusun oleh Maha Rsi Kautilya atau dikenal juga dengan nama Maha Rsi Chanakya. Sumber lain tentang kepemimpinan Hindu juga tertuang dalam Itihasa Mahabarata dan Ramayana. Di Indonesia dalam Kitab Nagara Kertagama disusun oleh Empu Prapanca juga memuat tentang kepemimpinan Hindu. Di Bali beberapa lontar juga memuat tentang konsep kepemimpinan Hindu. B. PENGERTIAN Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. Kata pimpin medapat awal pe- menjadi kata benda pemimpin yang artinya orang yang berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing. Selanjutnya kata pemimpin ditambah awalan ke- dan akhiran an menjadi kata sifat yaitu sifat-sifat atau kemampuan seorang pemimpin. Istilah lain tentang kepeminpinan adalah Leadership. Menurut Hindu diberi istilah Nitisastra. Nitisastra berasal dari Bahasa Sansekerta, dari kata Niti dan Sastra. Niti artinya pemimpin, politik, pertimbangan atau kebijakan. Sedangkan sastra artinya perintah, ajaran, aturan atau teori. Jadi Nitisastra artinya ajaran tentang kepemimpinan. Dalam berbagai kitab nitisastra banyak mengulas tentang kepemimpinan suatu masyarakat atau tata pemerintahan. Dalam kaitan ini Nitisastra juga dapat diartikan sebagai konsep penataan pemerintahan dan pembangunan negara. Banyak teori dan konsep modern tentang kepemimpinan, namun inti dari semua teori itu adalah sama yakni bertujuan agar seorang pemimpin berhasil membawa kelompoknya mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Gorge Terry, dalam bukunya Principles of Management menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan. Keberhasilan seorang pemimpin tidak saja ditentukan oleh penguasaan terhadap ilmu memimpin tetapi juga ditentukan oleh karakter atau pribadi pemimpin tersebut. Dalam hal ini karakter dan pribadi setiap pemimpin adalah berbeda, oleh karena itu penerapan konsep kepeimpinan juga berbeda dengan hasil yang berbeda pula. Dalam kaitan perbedaan karakter pribadi ini Howart W. Heyt, dalam bukunya The Art of Leadership mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau manusia sehingga tergerak untuk mengikuti kemauannya dengan ikhlas dalam rangka mencapai tujuan bersama. Untuk keberhasilan tersebut maka seorang pemimpin harus kemampuan, pengetahuan, serta kelebihan tertentu dari bawahannya memiliki

Kelebihan-kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain : Pendidikan Agama Hindu 20/76

1. Kelebihan dalam menggunakan rasio atau pikiran. 2. Kelebihan dalam bidang rohaniah. 3. Kelebihan dalam bidang jasmaniah. C. TUJUAN KEPEMIMPINAN HINDU Sebagaimana tujuan hidup menurut konsep Hindu yaitu moksartham jagat hita, maka kepemimpinan Hindu bertujuan agar seorang pemimpin dapat menghantarkan kelompok, masyarakat atau negara yang dipimpinnya mencapai keadaan bahagia lahir dan batin. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka konsep Catur Purusha Artha menjadi landasan. Catur Purushartha yaitu empat tujuan hidup manusia yang utama yaitu ; Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Pengertiannya adalah bahwa dalam mencapai tujuan tertinggi yaitu moksa ( kebahagiaan tertinggi), harus diawali dengan menjalankan Dharma ( kebenaran agama). Berlandaskan Dharma kemudian mencari artha ( materi ). Artha yang diperoleh berdasarkan dharma digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ( kama). Selanjutnya kebutuhan hidup yang utama harus dicapai adalah moksa / kebahagiaan. Jadi sangatlah keliru jika harta yang telah diperoleh dengan Dharma hanya digunakan untuk memenuhi keinginan ( kama ) di luar hukum dharma. D. FUNGSI, TUGAS DAN WEWENANG PEMIMPIN. Seorang pemimpin disamping memiliki tugas dan tanggung jawab dia juga warus memiliki wewenang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tersebut. Tugas dan wewang pemimpin adalah : 1. Planning / Perencana Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk merencanakan segala sesuatu yang harus dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 2. Organisation / Penataan Seorang pemimpin memiliki tugas untuk mampu menata dan menempatkan anggota /orang-orang dibawah pimpinannya pada tugas dan fungsi yang tepat sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kompetensinya. 3. Direkting / Penanggung jawab pelaksana

Pendidikan Agama Hindu

21/76

Pemimpin bertanggung jawab dan berusaha agar rencana yang telah ditetapkan dapat berhasil dengan baik. Dalam kaitan ini pemimpin harus memiliki kepekaan atas segala masukan positif dari bawahan. 4. Coodination / Koordinasi Pemimpin bertugas untuk mengkoordinir semua anggota agar dapat bekerjasama sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing, sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. Setiap bagian dalam organisasi memiliki keterkaitan dengan bagian yang lain. Oleh karena itu tiap bagian tidak dapat bekerja sendiri harus ada koordinasi dengan bagian yang lain. 5. Controlling / Pengawasan Setiap pelaksanaan tugas yang didelegasikan kepada bawahan harus diawasi dan dievaluasi oleh pimpinan. Pengawasan yang lemah serta tidak ada evaluasi maka dapat dipastikan bahwa tujuan tidak akan dapat tercapai.

E. KEPEMIMPINAN HINDU Dalam ajaran Hindu banyak konsep-konsep serta pedoman-pedoman yang harus menjadi tuntunan bagi seorang pemimpin. Ajaran tentang kepemimpinan Hindu antara lain : 1. Asta Brata Asta Brata adalah ajaran Sri Rama Kepada Gunawan Wibisana pada saat akan menjadi Raja Alengka Pura setelah Rahwana mati. Asta Brata artinya delapan sikap mental seorang pemimpin yang merupakan cerminan dari delapan sifat dewa, terdiri dari : a. Indra Brata, artinya seorang pemimpin harus memiliki sifat seperti Dewa Indra, penguasa hujan. Seorang pemimpin harus mampu memberikan kemakmuran pada rakyatnya. Tidak melupakan bahwa raja juga berasal dari rakyat biasa, sebagaimana hujan yang berasal dari air laut menguap keatas menjadi awan, kemudian menjadi hujan. b. Yama Brata, sertinya seorang pemimpin harus adil dalam menegakkan hukum dan peraturan. c. Surya Brata, artinya seorang pemimpin harus memberikan pencerahan dan penerangan bagi rakyatnya, serta menjadi simbol semangat dan kekuatan hidup bagi negerinya. d. Candra Brata, artinya sebagaimana sifat bulan, seorang pemimpin harus memberikan keteduhan dan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya.

Pendidikan Agama Hindu

22/76

e. Bayu Brata, sebagaimana sifat angin selalu ada dimana-mana dan bergerak ke segala arah, maka seorang pemimpin harus mengetahui segala keadaan rakyatnya. Pemimpin tidak hanya duduk di singgasana, atau dibalik meja , tetapi harus mengetahui secara detail terutama kondisi rakyat jelata. f. Kuwera Brata, artinya seorang pemimpin harus dapat mengelola keuangan secara tepat, tidak boros dan tidak korupsi. g. Baruna Brata, artinya seorang pemimpin harus dapat membersihkan segala penyakit masyarakat seperti kemiskinan, pengangguran, kejahatan dan sebagainya. h. Agni Brata, artinya pemimpin harus berani dan pantang mundur menghadapi segala tantangan.

Pendidikan Agama Hindu

23/76

2. Panca Dasa Pramiteng Prabu Adalah 15 ( lima belas ) sifat kepemimpinan yang ditulis oleh Empu Prapanca dalam Kitab Nagara Kertagama. Sifat-sifat inilah yang menjadi pedoman Maha Patih Gajah Mada sehingga berhasil mengawal Majapahit jaya. Panca dasa Pramiteng Prabu terdiri dari : a. Wijayana, yaitu penuh pertimbangan dan jeli dalam menghadapi setiap masalah. b. Mantri Wira, yaitu pembrani dalam membela negara. c. Wicaksanengnaya, yaitu bijaksana dalam memimpin. d. Natangguan, yaitu mendapat kepercayaan dari bawahan. e. Satya bhakti prabhu, yaitu setia dan taan pada atasan. f. Wagmiwak, yaitu pandai berkomunikasidan diplomasi. g. Sarjawa upasama, yaitu sabar dan rendah hati. h. Dhirotsaha, teguh hati dalam segala usaha. i. Teulelana, teguh iman, optimis dan antusias. j. Dibyacitta, toleransi dan menghargai pendapat orang lain. k. Tansatrsna, mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. l. Masihi samasta bhuwana, menyayangi isi alam. m. Ginengpatigina, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. n. Sumantri, artinya menjadi penasehat dan abdi negara yang baik. o. Nayaken Musuh, artinya mampu membersihkan musuh-musuh negara. 3. Sad Warnaning Rajaniti Artinya enam sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, terdiri dari : a. Abhigainika yaitu mampu menarik perhatian yang positif dari masyarakat, bangsa dan negara. b. Prajna, artinya bijaksana c. Utsaha, artinya memiliki kreativitas yang tinggi untuk memajukan kepentingan masyarakat. d. Atma sampad, memiliki moral yang luhur. e. Sakya Samanta, artinya memiliki kemampuan mengontrol bawahan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang baik. f. Aksudra Parisatha, artinya mampu memimpin sidang dan mengambil keputusan yang bijaksana. 4. Panca Upaya Sandhi

Pendidikan Agama Hindu

24/76

Artinya lima cara seorang pemimpin untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Panca Upaya Sandhi tersurat dalam lontar Siwabudha Gama Tattwa, terdiri dari : a. Maya, artinya kemampuan untuk mengumpulkan data-data permasalahan yang belum jelas kedudukannya. b. Upeksa, artinya menganalisa data-data yang telah dikumpulkan kemudian mengklasifikasi data secara proporsional. c. Indra Jala, artinya upaya untuk mencari solusi pemecahan masalah yang ada. d. Wikrama, artinya melaksanakan upaya penyelesaian sesuai dengan solusi yang telah ditetapkan. e. Logika, artinya setiap tindakan yang diambil harus berdasarkan pertimbangan akal sehat, dan data yang akurat, tidak berdasarkan emosi. 5. Nawa Natya Artinya sembilan sikap teguh dan pekerti seorang pemimpin, terdiri dari : a. Pradnya Widagda, yaitu teguh pendirian , bijaksana dan memiliki berbagai ilmu pengetahuan. b. Wira Sarwa Yudha, yaitu pemberani dan pantang menyerah. c. Paramartha, yaitu memiliki sifat mulia dan luhur. d. Dhirotsaha, yaitu tekun dan ulet. e. Pragiwakia, yaitu pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi. f. Sama upaya, yaitu Selalu setia pada janji. g. Lagawangartha, yaitu tidak pamrih pada harta benda. h. Wruh ring sarwa bastra, yaitu tahu cara mengatasi kerusuhan. i. Wiweka, yaitu memiliki kemampuan membedakan yang benar dan salah. Rangkuman Kepemimpinan adalah sifat dan prilaku pemimpin dalam upaya membawa kelompok atau masyarakat yang dipimpin menuju cita-cita atau tujuan bersama yang telah ditetapkan. Tugas dan fungsi seorang pemimpin adalah mampu untuk merencanakan (planning) , menata ( organisation), memimpin langsung ( direkting ), mengkoordinasikan ( coordination), dan mengawasi ( kontroling). Keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kemampuan ilmu kepemimpinan yang dimiliki serta kemampuan secara pribadi dalam mempedomani dan mengaktualisasikan syarat-syarat kepemimpinan. Dalam ajaran Hindu berbagai sifat dan syarat kepemimpinan antara lain, Asta Brata, Panca Dasa Pramiteng Prabu, Sad Warnaning Rajaniti, Panca Upaya Sandhi, dan Nawa Natya.

Pendidikan Agama Hindu

25/76

BAB IV DHARMA GITA


Standar Kompetensi Memahami nilai-nilai budaya dalam Dharma Gita Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu : Menguraikan nilai-nilai kebenaran, estetika dan etika moral dalam Dharma Gita. Menunjukkan contoh-contoh nilai kebenaran, estetika, dan etika moral dalam Dharma Gita. Menyanyikan Dharma Gita yang mengandung nilai-nilai budaya. A. PENGERTIAN Dharma gita adalah suatu nyanyian kebenaran yang dinyanyikan dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. Secara umum materi dari Dharma gita biasanya berisi tentang : 1. Pujian kebesaran Hyang Widhi beserta seluruh ciptaannya 2. Petuah-petuah luhur sebagai ajaran moral bagi umat Hindu 3. Kisah-kisah sejarah kepahlawanan ( itihasa ), 4. Cerita-cerita/dongeng yang berisi ajaran kebenaran. Umat Hindu dimana saja termasuk di Indonesia memiliki Dharma Gita sesuai dengan budaya setempat. Di India Dharma gita tentu saja memiliki irama khas India, demikian juga di Indonesia Dharma Gita memiliki ragam yang berbeda untuk Daerah Bali, Jawa, Kalimantan , Lombok dan sebagainya. B. TUJUAN DAN FUNGSI DHARMA GITA Dharma gita adalah hasil kreasi budaya luhur umat Hindu. Dalam konsep Hindu bahwa seni budaya merupakan sarana untuk meningkatkan cipta dan rasa dalam rangka meningkatkan sradha bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Oleh karena itu maka seni dan budaya masyarakat Hindu tetap dijaga dan dikembangkan tetapi nilai-nilai ajaran kebenaran tetap mewarnainya. Oleh karena itu setiap kegiatan ritual pemujaan kepada Hyang Widhi seni budaya menyatu di dalamnya, termasuk dalam hal ini Dharma Gita. Dari pemahaman di atas tujuan dan fungsi Dharma Gita adalah : 1. Pelengkap pelaksanaan Upacara Agama ( Yadnya ) Dalam pelaksanaan upacara agama, ( khususnya di Bali ) ada yang namanya Panca Paginda, yaitu lima jenis suara dalam Upacara Yadnya. Panca Paginda terdiri dari; suara genta/bajra, suara mantra, suara kidung ( Dharma Gita ), suara kul-kul ( kentongan), dan suara gamelan. Kidung tergolong juga salah satu Dharma Gita, jadi jelas bahwa Dharma Gita sebagai pelengkap Upacara Yadnya. Pendidikan Agama Hindu 26/76

2. Sarana untuk menciptakan suana suci dan konsentrasi pemujaan Melantunkan Dharma Gita pada pelaksanaan Upacara agama akan menciptakan suana batin yang suci, serta konsentrasi pemujaan kepada Hyang Widhi. Hal ini disebabkan karena syair-syair Dharma Gita sesuai dengan jenis Upacara Yadnya yang dilaksanakan. Disamping itu irama Dharma gita juga biasanya mampu membawa suasana hati yang hening dan tentram 3. Sarana untuk meningkatkan sradha bhakti Syair-syair Dharma Gita ada yang bersumber langsung dari kitab-kitab suci seperti, Bhagawad Gita, Sarasamuscaya, Manawa Dharma sastra dan sebagainya. Ada pula merupakan hasil cipta para kawi berisi tentang pemujaan kepada Hyang Widhi. Dengan demikian maka dengan melantunkan Dharma gita berarti juga mengingatkan setiap orang tentang ajaran-ajaran agama, sehingga semakin sering orang melantunkan atau mendengar Dharma Gita maka diharapkan pemahaman tentang ajaran agama semakin meningkat. 4. Sarana ajaran moral Disamping untuk kegiatan upacara / yadnya Dharma Gita juga mengandung nasihat-nasihat tentang kesusilaan sehingga dapat dikatakan bahwa dharma gita juga sebagai sarana untuk pendidikan moral bagi masyarakat. C. JENIS-JENIS DHARMA GITA Pada awalnya istilah dharma gita lebih dikenal di Bali, oleh karena itu pengelompokan Dharma gita lebih banyak mengacu pada budaya Bali. Setelah penyebaran Hindu semakin meluas di nusantara maka budaya-budaya lokal mewarnai kegiatan upacara/Yadnya termasuk Dharma gita. Pada masa kini di beberapa daerah dharma gita muncul dari budaya lokal, seperti di Jawa pada setiap kegiatan upacara dilantunkan tembang-tembang jawa . Juga di kalimantan ada kidung-kidung daerah yang diangkat dalam kelompok Dharma gita. Beberapa contoh Dharma Gita : a. Sloka Biasanya terdiri dari empat baris dalam satu bait dengan jumlah suku kata yang sama setiap barisnya. Sloka biasanya bersumber dari kitab suci yang umumnya berbahasa Sansekerta. b. Palawakya Palawakya menggunakan Bahasa Jawa kuno dan berbentuk prosa. Dalam membaca dan melantunkan irama ditentukan pada intonasi serta ketepatan pengejaan dan pemenggalan kata. c. Kekawin/Kidung/Tembang

Pendidikan Agama Hindu

27/76

Di setiap daerah memiliki jenis-jenis kidung/tembang tersendiri, di Bali kidung dikelompokkan menjadi : 1). Sekar Agung / Kekawin 2). Sekar Madya/ kidung 3). Sekar alit / pupuh

Pendidikan Agama Hindu

28/76

D. UTSAWA DHARMA GITA Lembaga tertingi Agama Hindu di Indonesia yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI ), secara berkala melaksanakan Utsawa Dharma Gita, yaitu Dharma gita yang dilombakan. Kegiatan ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kota/kabupaten, tingkat provinsi dan tingkat nasional. Utsawa Dharma gita pada awalnya bertujuan untuk melestarikan, mengembangkan dan memasyarakatkan Dharma gita bagi umat Hindu Indonesia. Namun perkembangan berikutnya juga sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia umat Hindu dalam pembinaan sradha bhakti maka materi Utsawa Dharma Gita tidak saja lomba untuk Dharma gita tetapi juga ada lomba Dharma Wacana dan Dharma Widya yaitu lomba penguasaan pengetahuan agama bagi siswa tingkat sekolah dasar ( SD ) sampai tingkat sekolah menengah atas ( SMA/SMK ). Pelaksanaan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional biasanya dilaksanakan secara bergilir di beberapa daerah propinsi. Nusa Tenggara Barat pernah sebagai pelaksana Utsawa Dharma Gita Tingkat nasional pada tahun 2004 yang dipusatkan Kota Mataram. E. PENDALAMAN Guna meningkatkan pengetahuan dan kompetensi lakukanlah kegiatan kegiatan berikut : a. Carilah di berbagai sumber tentang jenis-jenis sekar agung, sekar madya dan sekar alit. b. Pelajari dan lantunkan kidung Kawitan Wargasari c. Tuliskan tiga bait kidung dengan jenis pupuh yang berbeda.

Pendidikan Agama Hindu

29/76

BAB V YADNYA
Standar Kompetensi Memahami Pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan Tujuan Akhir Pembelajaran a. Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu : b. Menguraikan hakikat dan tujuan yadnya c. Menyebutkan bentuk-bentuk pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. d. Mengaplikasikan nilai-nilai Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. A. PENGERTIAN DAN HAKEKAT YADNYA Pada awalnya banyak orang mengartikan bahwa yadnya semata upacara ritual keagamaan. Pemahaman ini tentu tidak salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari yadnya. Pada dasarnya Yadnya bukanlah sekedar upacara keagamaan, lebih dari itu segala aktivitas manusia dalam rangka sujud bhakti kepada hyang Widhi adalah Yadnya. Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata Yaj yang artinya memuja. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta, karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana ). Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma . Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. Dalam Bhagawadgita Bab III, sloka 10 disebutkan : saha-yaj prajh sw purowca prajpatih; anena prasawiyadham ea wo stw ia-kma-dhuk artinya : Dahulu kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda; dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu. Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak Pendidikan Agama Hindu 30/76

mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju, maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju. Dari gambaran sederhana di atas dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. Hyang Widhi akan merajut potonganpotongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta, tulus dan ikhlas. Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya, seperti; korban pikiran, pengetahuan, ucapan, tindakan , sifat, dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban. B. TUJUAN YADNYA Dalam banyak sloka dari berbagai kitab menyatakan bahwa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia; diciptakan , dipelihara dan dikembangkan melalui yadnya. Oleh karena itu maka yadnya yang dilakukan oleh manusia tentu bertujuan untuk mencapai tujuan hidup manusia menurut konsep Hindu yakni Moksartham jagat hita ( Kebahagiaan sekala dan niskala ). Dalam rangka mencapai tujuan tertinggi tersebut manusia harus melakukan aktivitas dan berkarma. Paling tidak empat hal yang harus dilakukan manusia yaitu, penyucian diri, peningkatan kualitas diri, sembahyang, dan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta. Empat hal di atas semuanya dapat dicapai melalui Yadnya. Oleh karena itu tujuan Yadnya adalah : 1. Untuk Penyucian Untuk mencapai kebahagiaan maka hidup ini harus suci. Tanpa kesucian sangat mustahil keharmonisan dan kebahagiaan itu dapat tercapai. Pribadi dan jiwa manusia dalam aktivitasnya setiap hari berinteraksi dengan sesama manusia dan alam lingkungan akan saling berpengaruh. Guna ( sifat satwam, rajas, dan tamas ) orang akan saling mempengaruhi, demikian juga guna alam akan mempengaruhi manusia. Untuk mencapai kebahagiaan maka manusia harus memiliki imbangan Guna Satwam yang tinggi. Pribadi dan jiwa manusia harus dibersihkan dari guna rajas dan guna tamas. Melalui Yadnya kita dapat menyucikan diri dan juga menyucikan lingkungan alam sekitar. Jika manusia dan alam memiliki tingkatan guna satwam yang lebih banyak maka keharmonisan alam akan terjadi. Pendidikan Agama Hindu 31/76

Kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyatakan : Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti, Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti

Pendidikan Agama Hindu

32/76

Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Oleh karena itu jadikanlah aktivitas sehari-hari kita sebagai yadnya. Laksanakan kewajiban diri sendiri dengan penuh kesadaran dan keihlasan sehingga masuk dalam kelompok yadnya. Dengan demikian maka setiap kegiatan yang kita lakukan selalu memberikan kesucian pada diri pribadi. Demikian juga untuk kesucian alam dan lingkungan lakukan upacara/ ritual sesuai dengan sastra agama sehingga kita akan senantiasa berada pada lingkungan yang suci. Lingkungan yang suci akan memberikan kehidupan yang suci juga bagi manusia. 2. Untuk meningkatkan kualitas diri Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana. Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan brahman ( brahman atman aikyam ) dapat tercapai. Hanya dilahirkan sebagai manusia memiliki sabda, bayu , dan idep dapat melakukan perbuatan baik sebagai cara untuk meningkatkan kualitas jiwatman, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 2 sebagai berikut : Ri sakwehning sarwa bhta, iking janma wwang juga wnang gumawayakn ikang ubhubhakarma, kunng panntasakna ring ubhakarma juga ikangaubhakarma, phalaning dadi wwang. Artinya :

Diantara semua mahluk hidup , hanya yang dilahirkan sebagai manusia saja yang dapat melaksanakan perbuatan baik atau perbuatan buruk, oleh karena itu leburlah ke dalam perbuatan baik , segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya menjadi manusia.
Dari sloka di atas jelas kewajiban hidup manusia adalah untuk selalu meningkatkan kualitas diri melalui perbuatan baik. Perbuatan baik yang paling utama adalah melalui Yadnya. Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan hasilnya adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman. 3. Sebagai sarana menghubungkan diri dengan Tuhan Pendidikan Agama Hindu 33/76

Alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana. Cara paling sederhana menghubungkan diri dengan Tuhan adalah sembahyang. Sembahyang artinya menyembah Hyang Widhi. Jika dalam kehidupan kita senantiasa dapat memusatkan pikiran, memuja Hyang widhi maka tujuan tertinggi pasti akan tercapai sebagaimana sabda Tuhan dalam Bhagawad Gita Bab IX sloka 34 : Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbaktilah pada-Ku, dan tunduklah padaKu, dan dengan mendisiplinkan dirimu serta menjadikan-Ku sebagai tujuan, engkau akan sampai kepada-Ku. Untuk senantiasa dapat memusatkan pikiran dan memuja Hyang Widhi tidaklah mudah. Perlu kedisiplinan dan keihlasan dalam menjalaninya. Satusatunya cara agar kita selalu dapat menghubungkan diri dengan Maha Pencipta adalah dengan mempelajari, memahami dan melaksanakan Yadnya. Yadnya dalam kegiatan karma keseharian adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Terlebih Yadnya dalam bentuk Upacara/ritual jelas merupakan wujud nyata usaha menghubungkan manusia dengan Sang Penciptanya. 4. Sebagai ungkapan rasa terima kasih. Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral. Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan. Kita diberikan hidup sebagai manusia, dilahirkan pada keluarga yang satwam, berada pada lingkungan sosial yang baik , dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian, adalah suatu yang luar biasa. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta. Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi itulah dilakukan dengan Yadnya Bekerja dengan benar dan giat, menolong orang yang kesusahan, belajar giat, dan kegiatan lain yang didasari pengabdian dan rasa ikhlas adalah salah satu contoh ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas anugrah Tuhan untuk kesehatan, keselamatan diri, rejeki, serta kehidupan yang kita terima. Upacara/ritual yang dilakukan Umat Hindu baik yang bersifat rutin (contohnya ngejot, maturan sehari-hari dsb ), maupun berkala ( rahinan, odalan, serta hari suci lainnya ) salah satu tujuan utamanya sebagai Pendidikan Agama Hindu 34/76

ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas semua anugrah Beliau. 5. Untuk menciptakan kehidupan yang harmonis Hyang Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan. Sekecil apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini. Dewa, Asura, manusia, binatang, tumbuhan, bulan, bintang, bahkan bakteri dan kumanpun semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. Alam dengan segala isinya memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. Oleh karena itu manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan. Dalam Bhagawad Gita , III.16 dijelaskan : Di dunia ini, mereka yang tidak ikut memutar roda kehidupan ini, pada dasarnya bersifat jahat, memperturutkan nafsu semata Prtha dan mengalami penderitaan, wahai Agar perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonsi maka peranan manusia sangat penting. Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi. Hanya dengan Yadnya keharmonisan alam dapat tercipta. Yadnya menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi, manusia dengan sesamanya dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Dalam melaksanakan Yadnya ada tiga kewajiban utama yang harus dilunasi manusia atas keberadaannya di dunia ini yang disebut Tri Rna ( tiga hutang hidup). Tri Rna ini dibayar dengan pelaksanaan Panca Yadnya. Perlu diingat bahwa Yadnya tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual. Tri Rna terdiri dari : a. Dewa Rna, yaitu hutang hidup kepada Hyang Widhi yang telah menciptakan alam semesta termasuk diri kita. Untuk semua ini wajib kita bayar dengan Dewa Yanya dan Bhuta Yadnya. Dewa Yadnya dalam bentuk pemujaan kepada Hyang Widhi serta melaksanakan Dharma. Butha Yadnya dilakukan untuk memelihara alam lingkungan sebagai tempat kehidupan semua mahluk. b. Rsi Rna, yaitu hutang kepada para Rsi yang mengorbankan kehidupannya sehingga dapat memberikan pencerahan kepada manusia melalui ajaran-ajarannya sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Rsi Rna dilunasi dengan melaksanakan Rsi Yadnya. c. Pitra Rna, yaitu hutang kepada orang tua dan leluhur. Leluhur dan orang tua sangat memiliki peranan besar atas kehidupan kita saat ini. Karma leluhur dan orang tua berpengaruh terhadap keberadaan Pendidikan Agama Hindu 35/76

setiap orang. Paling tidak kelahiran kita di dunia karena adanya leluhur dan orang tua. Oleh karena itu maka sudah menjadi kewajiban untuk membalas hutang tersebut. Membayar hutang kepada orang tua dan leluhur dilakukan dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya

Pendidikan Agama Hindu

36/76

C. BENTUK DAN JENIS YADNYA 1. Bentuk bentuk Yadnya Kitab Bhagawad Gita dalam berbagai sloka menjelaskan bahwa bentuk-bentuk yadnya terdiri dari : a. Yadnya dalam bentuk persembahan/Upakara b. Yadnya dalam bentuk pengendalian diri/tapa c. Yadnya dalam bentuk aktivitas/karma d. Yadnya dalam bentuk harta benda / kekayaan/punia e. Yadnya dalam bentuk ilmu pengetahuan/jnana Sampai saat ini di Indonesia khususnya di Bali hampir sebagian besar umat Hindu masih mengartikan dan mengutamakan bahwa yadnya adalah upacara/ritual. Padahal upakara/ritual itu adalah salah satu bagian dari bentukbentuk yadnya. Sangat sedikit Umat Hindu di Indonesia yang memberikan proporsional untuk melaksanakan bentuk-bentuk yadnya yang lainnya. Hindu memberikan keluasan kepada pemeluknya dalam beryadnya sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada dengan peluang kesempatan hasil yang sama. Dengan demikian apapun bentuk yadnya yang kita lakukan sepanjang sesuai dengan konsep Dharma maka akan memperoleh hasil yang maksimal. 2. Jenis-jenis Yadnya Secara garis besar yadnya dapat kelompokkan sebagai berikut : a. Dari segi waktu pelaksanaan Yadnya dapat dibedakan : 1). Nitya Yadnya Yaitu yadnya yang dilakukan secara rutin setiap hari. Yadnya ini antara lain; dalam bentuk persembahan yang berupa yadnya sesa, atau persembahyangan sehari-hari. Sedangkan bagi sulinggih melakukan Surya Sewana. Yadnya dalam bentuk yang lain dapat dilaksanakan melalui aktivitas sehari-hari. Bagi seorang siswa kewajiban sehari-hari adalah belajar , bila dilakukan dengan penuh ikhlas merupakan yadnya. Bagi seorang petani, tukang, pegawai dan sebagainya yang melaksanakan tugas sehari-hari dengan konsentrasi persembahan kepada Tuhan disertai keikhlasan juga merupakan Nitya Yadnya. 2). Naimitika Yadnya Yaitu Yadnya yang dilaksanakan secara berkala/ waktu-waktu tertentu. Khusus untuk yadnya ini terutama yadnya dalam bentuk persembahan /upakara yaitu Upacara Piodalan, Sembahyang Purnama dan Tilem, Hari Raya baik menurut wewaran maupun sasih. Bagi bentuk yadnya yang lain tergantung kebiasaan pribadi perorangan/kelompok orang. Ada orang pada setiap hari raya tertentu Pendidikan Agama Hindu 37/76

melaksanakan tapa brata sebagai wujud yadnya pengendalian diri. Ada pula yang pada waktu tertentu setiap tahun atau setiap bulan melakukan dana punia baik dihaturkan kepada sulinggih, orang tidak mampu dan sebagainya. Disamping itu ada juga bentuk yadnya yang dilaksanakan secara insidental sesuai kebutuhan dengan waktu yang tidak tetap/ tidak rutin. Contohnya upacara ngaben, nangluk merana, tirtayatra. Demikian juga bentuk yadnya yang lain adakalanya dilakukan tidak dengan jadwal waktu tertentu. Misalkan jika ada ujian sekolah ada siswa / mahasiswa yang puasa. Ada orang yang tanpa diduga memperoleh rejeki yang lebih , maka sebagian dipuniakan untuk pura atau untuk panti asuhan.

b. Berdasarkan nilai materi / jenis bebantenan suatu yadnya digolongkan menjadi : 1). Nista, artinya yadnya tingkatan kecil yang dapat di bagi lagi menjadi : Nistaning nista, adalah terkecil dari yang kecil Madyaning nista, adalah tingkatan sedang dari yang kecil. Utamaning Nista, adalah tingkatan terbesar dari yang kecil 2). Madya, yaitu yandnya tingkatan sedang yang dapat dibagi lagi menjadi : Nistaning Madya, adalah tingkatan terkecil dari yang sedang. Madyaning madya, adalah tingkatan sedang dari yang sedang. Utamaning madya, adalah tingkatan terbesar dari yang sedang. 3). Utama, yaitu yadnya tingkatan besar yang dapat dibagi menjadi : Nistaning utama, adalah tingkatan terkecil dari yang besar Madyaning Utama, adalah tingkatan sedang dari yang besar. Utamaning Utama, adalah tingkatan terbesar dari yang besar.

c. Sedangkan apabila ditinjau dari tujuan pelaksanaan atau kepada siapa yadnya tersebut dilaksanakan, dapat digolongkan menjadi : 1). Dewa Yadnya 2). Rsi Yadnya 3). Pitra Yadnya 4). Manusa Yadnya 5). Bhuta Yadnya Kelima jenis yadnya di atas dikenal dengan istilah Panca Yadnya. Uraian mengenai Panca Yadnya akan dibahas tersendiri setelah bagian ini.

Pendidikan Agama Hindu

38/76

d. Dari segi kualitas yadnya dapat dibedakan atas: 1). Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti, lascarya, dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti; persembahan, pengendalian diri, punia, maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama, daksina, mantra, Annasewa, dan nasmita. 2). Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan, pamer harga diri, bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Seorang guru/pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar; semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. Seorang yang melakukan tapa, puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, kesaktian fisik, atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik. 3). Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra, tanpa punia, tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas,hanya ikut-ikutan. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan, malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura, orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena terpaksa. Terpaksa maturan karena semua orang maturan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Terpaksa puasa karena orang-orang berpuasa. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia, tiada manfaat bagi peningkatan karmanya. Jenis-jenis yadnya di atas diuraikan dalam Kitab Bhagawad Gita dalam beberapa sloka. Untuk Yadnya yang berbentuk persembahan/upakara akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan : Sradha, artinya yadnya dilaksanakan dengan penuh keyakinan Lascarya, yaitu yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun. Sastra, bahwa pelaksanaan yadnya sesuai dengan sumber-sumber sastra yang benar. Daksina, yaitu yadnya dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya/manggala yadnya. Pendidikan Agama Hindu 39/76

Mantra dan gita, yaitu dengan melantunkan doa-doa serta kidung suci sebagai pemujaan. Annasewa, artinya memberikan jamuan kepada tamu yang menghadiri upacara. Jamuan ini penting karena setiap tamu yang datang ikut berdoa agar pelaksanaan yadnya berhasil. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana. Nasmita, bahwa yadnya yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan Apapun jenis yadnya yang kita lakukan seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kualitas yadnya. Sedangkan kualitas yadnya yang harus dicapai setiap pelaksanaan yadnya adalah Satwika Yadnya. Tidak ada gunanya yadnya yang besar tetapi bersifat rajas atau tamas.
D. PANCA YADNYA Panca Yadnya adalah lima macam korban suci dengan tulus ikhlas yang wajib dilakukan oleh umat Hindu. Pelaksanaan Panca yadnya adalah sebagai realisasi dalam melunasi kewajiban manusia yang hakiki yaitu Tri Rna ( tiga hutang hidup ). Dalam beberapa kitab dan pustaka memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya yang berbeda, namun pada intinya memiliki kesatuan tujuan yang sama. Penjelasan-penjelasan tersebut antara lain : 1. Kitab Sathapata Brahmana. Kitab ini merupakan bagian dari Reg Weda, menjelaskan panca yadnya sebagai berikut : a. Bhuta Yadnya, yaitu yadnya untuk para bhuta b. Manusa Yadnya, yaitu persembahan makanan untuk sesama manusia. c. Pitra Yadnya, yaitu persembahan yang ditujukan untuk leluhur ( disebut swadha). d. Dewa Yadnya, yaitu persembahan kepada para dewa ( disebut swaha ). e. Brahma yadnya, yaitu yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan mantram cusi weda. 2. Kitab Manawa Dharmasastra Kitab Manawa Dharmasastra memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya sebagai berikut : a. Brahma Yadnya, adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara tulus ikhlas. b. Pitra Yadnya, adalah persembahan tarpana dan air kepada leluhur. c. Dewa yadnya, adalah persembahan minyak dan susu kepada para dewa. d. Bhuta Yadnya, adalah pelaksanaan upacara bali untuk butha. e. Nara Yadnya , adalah penerimaan tamu dengan ramah-tamah.

Pendidikan Agama Hindu

40/76

3. Lontar Korawa Srama a. Dalam lontar Korawa Srama terdapat penjelasan Panca yadnya sebagai berikut: b. Dewa Yadnya, adalah persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama. c. Rsi Yadnya, adalah persembahan punia, buah-buahan, makanan, dan barang yang tidak mudah rusak kepada para Maha Rsi. d. Manusa Yadnya adalah persembahan makanan kepada masyarakat. e. Pitra Yadnya adalah mempersembahkan puja dan banetn kepada leluhur. f. Bhuta Yadnya, adalah mempersembahkan puja dan banten kepada bhuta. 4. Lontar Agastya Parwa Penjelasan tentang Panca Yadnya dari lontar Agastya Parwa adalah yang menjadi acuan utama pelaksanaan yadnya di Indonesia. Menurut lontar ini Panca yadnya adalah : a. Dewa Yadnya, yaitu persembahan dengan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di tempat pemujaan dewa. b. Rsi Yadnya, yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci. c. Pitra Yadnya, yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa. d. Bhuta Yadnya, yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali krama. e. Manusa Yadnya, yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. Dari beberapa sumber di atas yang lebih tepat digunakan sebagai dasar pelaksanaan yadnya di Indonesia adalah Lontas Agastya Parwa. Tetapi dalam konteks pengertian dan pelaksanaannya mengacu pada penjelasan-penjelasan Kitab Weda sehingga di Indonesia Panca Yadnya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Dewa Yadya, adalah persembahan yang tulus iklhas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Dewa Yadnya dilaksanakan terutama dalam rangka memenuhi kewajiban Dewa Rna, yakni hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi. Pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. Aktivitas kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan menjadi yadnya dengan cara melaksanakan semua aktivitas yang didasari oleh kesadaran, keikhlasan, penuh tanggung jawab dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagaimana sabda Tuhan melalui Bahagawad Gita dalam beberapa sloka seperti : Pendidikan Agama Hindu 41/76

Yajatht karmano nyatra loko ya karma-bandhanah, Tad-artham karma kaunteya mukta-saga samcara ( Bhagawad Gita, III.9 ) Artinya:

Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan, dunia ini terbelenggu oleh kegiatan kerja. Oleh karena itu, wahai putra Kunti ( Arjuna), lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan dan jangan terikat dengan hasilnya.
Tasmd asakta satata krya karmasamcara, Asakto hy caran karma param pnoti prsa ( Bhagawad Gita, III.19 ) Artinya:

Oleh karena itu, tanpa keterikatan, lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan, karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi.
Sakt karmay awidwmso yath kurwanti bhata, Kuryd widws tathsakta cikrur loka-sagraham ( Bhagawad Gita, III.25 ) Artinya:

Seperti orang bodoh yang bekerja karena pamrih dari kegiatannya, demikian pula hendaknya orang Bhrata terpelajar bekerja, wahai ( Arjuna ), tetapi tanpa pamrih dan semata-mata dengan keinginan untuk memelihara kesejahteraan tatanan dunia ini saja.

Pendidikan Agama Hindu

42/76

Selanjutnya jika kita beryadnya dalam bentuk dana/harta , atau beryadnya dalam bentuk jnana (pengetahuan), atau yadnya dalam bentuk tapa serta yadnya dalam bentuk persembahan/upakara haruslah dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Jika semua yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan sebagai persembahan kepada Tuhan maka jadilah yadnya tersebut Satwika. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita banyak dijelaskan berbagai bentuk yadnya yang Satwika. 2. Rsi Yadnya, adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada para rsi dan orang suci. Pelaksanaan yadnya ini sebagai wujud terima kasih atas segala jasa yang telah diberikan oleh para rsi dan orang suci pada kita . Menurut Hindu atas jasa para rsi dan orang suci ini menyebabkan kita memiliki hutang yang disebut Rsi Rna. Contoh Rsi Yadnya yang berbentuk Upakara adalah Rsi Bojana. Sedangkan bentuk lain Rsi Yadnya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran suci para rsi, hormat dan bakti serta melayani para sulinggih/ orang suci secara tulus ikhlas. Dalam melaksanakan upacara seharusnya sang yajamana menghaturkan punia daksina pada sulinggih/ pemuput karya yang sesuai, sebab jika tidak maka karma baik atas upacara yadnya yang dilaksanakan akan menjadi milik sang pemuput karya. 3. Pitra Yadnya, adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk para leluhur dan orang tua. Pitra yadnya wajib dilakukan untuk membayar hutang hidup kepada orang tua dan leluhur yang disebut Pitra Rna.Tanpa ada leluhur dan orang tua sangat mustahil kita akan lahir di dunia ini. Oleh karena itu hutang hidup ini harus dibayar dengan bentuk Upacara Pitra Yadnya. Di Bali Upacara Pitra Yadnya dikenal memiliki beberapa tingkatan seperti : a. Sawa Prateka, yakni upacara perawatan dan penyelesaian jenasah seperti dikubur ( mekingsan ring pertiwi ), dibakar ( mekingsan ring geni) dsb. b. Asti Wedana yaitu tingkatan upacara pitra yadnya yang lebih tinggi yang umumnya disebut NGABEN. Bentuk asti wedana adalah : Sawa Wedana yaitu upacara ngaben bila yang dibakar adalah jenasah. Upacara ini dikenal juga dengan nama SWASTA. Asti Wedana yaitu upacara pengabenan dengan membakar jenasah yang sudah berbentuk tulang ( sudah dikubur terlebih dahulu). Ngerca Wedana yaitu upaca ngaben dengan membakar simbol sebagai pengganti tulang/jenasah orang yang sudah meninggal. Upacara ini biasanya dilakukan untuk orang yang waktu meninggal telah mekingsan ring geni, atau meninggal tetapi jenasahnya tidak ditemukan ( misalnya meninggal di laut atau di hutan ), atau juga jenasah yang dikubur tetapi tulangnya tidak ditemukan. c. Atma Wedana, yaitu upacara tingkat berikutnya yang bertujuan lebih menyempurnakan jiwatman yang telah diabenkan dari alam surga menuju alam dewa/moksa. Bentuk atma wedana antara lain, ngeroras, mukur, maligia. Pendidikan Agama Hindu 43/76

Disamping bentuk upacara pitra yadnya sebagaimana dijelaskan di atas yang lebih penting dilakukan masa kini adalah bagaimana usaha kita untuk menjunjung nama baik dan kehormatan leluhur dan orang tua. Jadi pitra yadnya dalam kaitan kewajiban sebagai siswa adalah dengan belajar sebaikbaiknya sebagaimana harapan orang tua. Melayani orang tua semasih hidup dengan ikhlas serta tidak mengecewakan dan menyakiti hati orang tua adalah merupakan pitra yadnya utama. 4. Manusa Yadnya, adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk kebahagiaan hidup manusia. Sesuai dengan pengertian tersebut maka segala bentuk pengobanan yang bertujuan untuk kebahagiaan hidup manusia adalah tergolong manusa yadnya. Selama ini pemahaman sebagian umat Hindu bahwa manusa yadnya semata-mata upacara yang dilaksanakan oleh orang tua bagi anak-anaknya, sejak dalam kandungan sampai menuju grahasta ( perkawinan). Jika memahami pengertian manusa yadnya, maka bentuknya tidak selalu upacara, serta peruntukannya bukan hanya untuk anak ( keturunan sendiri). Bentuk manusa yadnya bisa bermacam-macam seperti yadnya dalam bentuk dana, upacara, jnana, dan karma sepanjang tujuan yadnya tersebut adalah untuk kebahagiaan hidup manusia. Artinya jika kita memberikan nasehat atau ilmu kepada orang lain yang menyebabkan orang tersebut memperoleh kebahagiaan hidup maka itu tergolong juga manusa yadnya. Demikian pula memberikan dana punia untuk pendidikan anak bagi keluarga tidak mampu atau melaksanakan bhakti sosial pengobatan bagi masayarakat kurang mampu juga termasuk manusa yadnya. Dengan demikian maka sasaran manusa yadnya bukan hanya untuk anak/ keturunan sendiri, tetapi bagi semua manusia tanpa memandang suku, agama maupun golongan. 5. Butha Yadnya, adalah pengorbanan yang tulus iklhas untuk para butha agar tercipta kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia. Menurut konsep Hindu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Hyang Widhi yang memiliki fungsi tersendiri dalam memutar roda kehidupan. Jadi semua mahluk termasuk para bhuta memiliki hak hidup. Manusia sebagai mahluk yang memiliki sabda, bayu dan idep memiliki peranan penting dalam menciptakan keharmonisan kehidupan. Oleh karena itu manusia melaksanakan bhuta yadnya agar keseimbangan hidup tercipta. Tujuan bhuta yadnya adalah agar para bhuta kala somya, sempurna kembali menuju alamnya sendiri dan tidak mengganggu kehidupan manusia. Secara sekala wujud bhuta yadnya adalah usaha kita agar menjaga kelestarian alam, tidak merusak mata air, hutan lindung, serta tindakantindakan lain yang dapat menjadi penyebab bencana alam.

E. PENILAIAN YADNYA Pendidikan Agama Hindu 44/76

Dari uraian di atas maka kita akan dapat menilai diri sendiri tentang yadnya yang kita lakukan. Untuk itu kita perlu secara jujur menjawab beberapa pertanyaan untuk dianalisa kemudian menilai atas yadnya yang kita laksanakan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah : Bentuk apakah yadnya yang kita lakukan? Selanjutnya kita dapat bertanya apakah yandya yang kita lakukan tergoong Nitya Yadnya ataukah Naimitika Yadnya? Jika Yadnya tersebut berkaitan dengan materi, apakah tergolong utma, madya, ataukah nista? Selanjutnya kita harus menggoongkan lagi kepada siapakah yadnya tersebut ditujukan? Apakah kepada Ida Sang Hyang Widhi, Rsi, Pitra, Manusia, ataukah Bhuta? Terakhir sebagai tolok ukur karma yang paling penting harus kita nilai apakah yadnya yang kita lakukan bersifat Satwam, Rajas ataukah Tamas? Dengan melakukan penilaian diri terhadap setiap tindakan karma, maka kita dapat berharap bahwa hidup ini tidak akan sia-sia. Hidup ini adalah untuk meningkatkan kwalitas karma jiwatman sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Sarasamuscaya , sloka 2.

Pendidikan Agama Hindu

45/76

F. PENDALAMAN MATERI Tugas siswa : 1. Carilah sloka-sloka Bhagawad Gita yang berkaitan dengan bentuk-bentuk yadnya 2. Buatlah tulisan tentang pengalaman pribadi anda minimal dua pengalaman yang dapat digolongkan sebagai yadnya. Kemudian berikan penilaian atas pengalaman yadnya tersebut dengan alasannya masingmasing. Untuk memudahkan dapat digunakan format berikut ini. PENGALAMAN YADNYA a. Kegiatan/Peristiwa

b. Penilaian NO Penialaian 1 Bentuk : 2 3 4 5 Waktu Pelaksanaan : Materi : Tujuan : Kwalitas :

Alasan

Pendidikan Agama Hindu

46/76

BAB VI SUSILA
Standar Kompetensi Memahami Tat Twam Asi sebagai landasan etika dan moral Tujuan akhir pembelajaran 1. Peserta didik mampu menjelaskan pengertian tat twam asi 2. Menunjukkan prilaku sebagai implementasi ajaran Tat Twam Asi Uraian Materi A. PENDAHULUAN Susila adalah bagian dari tiga kerangka Agama Hindu yakni; Tatwa, Susila ( etika ) , dan Upacara ( Yadnya ). Susila berasal dari kata Su yang berarti baik, dan sila yang berarti tingkah laku/perbuatan. Jadi susila adalah perbuatan atau tingkah laku yang baik dan benar. Istilah lain dai Susila adalah Etika/Etiket. Dalam konsep Hindu aktivitas kehidupan manusia khususnya dalam kaitan keagamaan maka tiga kerangka tersebut harus merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaannya. Tattwa adalah hakekat atau filsafat agama. Susila adalah aturan-aturan moral dalam segala tindakan serta komunikasi manusia dengan Tuhan, sesama manusia , serta interaksi dengan alam. Sedangkan Yadnya/Upacara adalah aktivitas nyata umat Hindu dalam merealisasikan Tattwa Agama dalam kehidupan sehari-hari. Umat Hindu harus memahami tattwa dan mematuhi susila setiap yadnya/upacara yang dilaksanakan. Tanpa pemahaman tattwa yang benar maka yadnya bisa menyimpang dari tujuan utama. Sebaliknya meskipun pelaksanaan yadnya secara tattwa benar, tetapi mengabaikan etika maka yadnya menjadi tidak sempurna. Kemudian seseorang yang memiliki tattwa tinggi juga mengetahui aturan susila tetapi tanpa diikuti dengan tindakan nyata ( dalam bentuk yadnya), maka pengetahuan tattwa dan susilanya tidak memberikan karma apapun, karena pada hakekatnya pahala karma hanya akan diperoleh melalui kerja ( yadnya). Contoh sederhana penggambarannya adalah jika kita akan menuju suatu tempat, maka tattwa akan memberikan pengetahuan pada kita tentang situasi daerah yang akan dituju, berbagai jalan atau arah yang bisa dilalui menuju tempat tujuan, serta berbagai fasilitas yang dapat digunakan untuk menuju tempat tersebut. Sedangkan Susila adalah rambu-rambu ,petunjuk , serta aturan yang harus diikuti dan dipatuhi sehingga dapat sampai pada tujuan dengan selamat. Jika rambu-rambu dan aturan ini dilanggar kemungkinan kita akan tersesat atau bahkan celaka. Pendidikan Agama Hindu 47/76

Akhirnya berdasarkan pengetahuan tattwa yang dimiliki haruslah kita bergerak, berjalan sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan mengikuti aturan ( susila) yang ada barulah kita bisa mencapai tujuan. Inilah Yadnya. Meskipun kita mengetahui secara jelas gambaran tentang lokasi yang akan dituju serta semua aturan dan rambunya, jika tidak bergerak/ diam di tempat maka selamanya kita tidak akan pernah sampai pada tujuan. Dari ketiga kerangka tersebut SUSILA memegang peranan penting yang menjembatani antara Tattwa dengan Yadnya, sehingga tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara konsep dengan pelaksanaannya. Dengan susila maka manusia dapat melaksanakan yadnya dengan berbagai kondisi tanpa menyimpang dari tattwanya. . B. PERANAN SUSILA DALAM MEWUJUDKAN TRI HITA KARANA Dalam konsep ajaran Hindu bahwa kebahagiaan hanya akan terwujud jika adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan , dan manusia dengan alam . Ajaran ini disebut Tri Hita Karana ( tiga faktor penyebab terwujudnya kebahagiaan ). Manusia memiliki peranan utama dalam mewujudkan keharmonisan antara ketiga faktor tersebut. Dalam kehidupan ini semua aktivitas memiliki aturan/etika/susila. Semua yang ada di alam bebas maupun di dunia harus mengikuti aturan dalam pergerakannya. Jika aturan ini tidak diikuti maka pasti akan terjadi kekacauan. Alam semesta memiliki aturan / hukum tersendiri dalam pergerakannya yang disebut RTA ( hukum alam). Contohnya bumi berputar pada porosnya dan mengitari matahari. Planet-planet berputar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. Tuhan menciptakan RTA ( hukum alam ) untuk kehidupan. Jika salah satu bagian alam ini tidak mengikuti aturan maka akan terjadi kehancuran. Demikian juga dalam kehidupan di dunia, semua aktivitasnya memiliki aturan. Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya di bumi memiliki peranan utama dalam menegakkan aturan. Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat membuat aturan-aturan dalam berinteraksi sesama manusia. Aturan/susila itu dapat bersifat universal/global. Artinya berlaku bagi semua manusia di seluruh dunia tanpa memandang suku, ras, bangsa, dan agama.Contohnya adalah saling menghormati hak asasi manusia ( HAM). Disamping itu ada juga aturan dalam bernegara dan berbangsa dalam bentuk hukum negara/ udang-undang, peraturan pemerintah dan sebagainya. Ada juga aturan / etika dalam berprilaku sosial kemasyarakan, dimana setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri sebagai budaya lokal. Dalam mewujudkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia memiliki kelebihan dalam menerima ajaran-ajaran susila/ etika dalam menghubungkandiri dengan Tuhan (sembahyang). Ada etika/aturan yang harus Pendidikan Agama Hindu 48/76

diikuti dalam melakukan hubungan dengan Tuhan, baik hubungan secara pribadi, maupun secara kolektif ( bersama-sama), misalnya persembahyangan di pura. Etika persembahyangan pribadi tidak dapat diterapkan pada persembahyangan bersama, demikian juga sebaliknya. Untuk jenis-jenis persembahyangan tertentu juga memiliki aturan yang berbeda. Jika aturan/etika ini dilanggar maka dipastikan keharmonisan tidak akan terwujud. Sedangkan hubungan manusia dengan alam jelas yang paling menentukan adalah manusia itu sendiri. Alam secara kodrati hanya akan memberikan reaksi terhadap segala perlakuan manusia kepada alam itu sendiri. Dewasa ini banyak terjadi bencana alam, seperti banjir bandang , pemanasan global , dan sebagainya, jika ditelusuri maka semua itu adalah akibat ulah manusia sendiri yang tidak mengikuti aturan / etika dalam mengelola alam. Penggundulan hutan dengan ilegal loging maka terjadilah banjir bandang. Membuang sampah pada aliran sungai, merusak sempadan sungai, serta pembangunan gedung/perumahan tanpa memperhatikan penyerapan dan saluran sanitasi yang baik maka terjadi banjir disetiap musim hujan. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Agar terwujud keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam maka manusia harus memahami dan mengikuti aturan/susila dalam melaksanakan masingmasing hubungan tersebut. 2. Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat menciptakan aturan/etika dalam hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan Tuhan, serta hubungan dengan alam

C. TAT TWAM ASI Konsep dasar ajaran kesusilaan Hindu dalam hubungan antara sesama manusia dikupas dalam Kitab Candogya Upanishad yang dalam salah satu sloka ada disebutkan Tat Twam Asi.Tat artinya itu (dia), Twam artinya kamu, dan Asi artinya adalah. Jadi Tat Twam Asi berarti dia adalah engkau. Tat Twam Asi adalah esensial filsafat Hindu dalam ajaran susila yang bersifat universal dan tanpa batas. Tat Twam Asi adalah sumber utama ajaran cinta kasih agar manusia dapat saling menghargai, saling menghormati, saling menolong sehingga terwujud kedamaian dan kebahagiaan. Tat twam asi bersumber pada ajaran Hindu bahwa Tuhan / Brahman menciptakan alam semesta beserta segala isinya dari diriNYa sendiri melalui tapa/yadnya. Selanjutnya mahluk hidup memilki atman sebagai percikan suci Ida Sang Hyang Widhi. Jadi di setiap mahluk hidup khususnya manusia memiliki unsur kekuatan hidup yang sama, yaitu percikan suci Tuhan. Perbedaan pribadi , sifat, dan wujud manusia karena perbedaan pengaruh Triguna dan karma wasana. Dengan pemahaman ini maka Hindu mengajarkan agar manusia tidak Pendidikan Agama Hindu 49/76

memandang manusia lainnya hanya dari segi fisiknya saja. Hindu mengajarkan agar kita memandang semua mahluk hidup diciptakan dan bersumber dari asal yang sama. Bahwa dalam setiap kehidupan ada percikan suci Ida Sang Hyang Widhi sehingga wajib dihormati dan dikasihi tanpa memandang batasan tertentu.

Pendidikan Agama Hindu

50/76

Untuk bisa mengimplementasikan ajaran Tat Twam Asi, yang paling utama harus dilakukan adalah: Mengembangkan cinta kasih sesama. Agar cinta kasih dalam diri dapat tumbuh dan berkembang maka kita harus belajar mengurangi keakuan ( egoisme). Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Secara individu manusia memiliki rasa keakuan ( ahamkara ). Manusia memiliki kebutuhan pribadi baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Secara jasmani setiap individu ingin mencapai kesenangan dan secara rohani setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka setiap individu memiliki hak secara pribadi. Hak-hak tersebut antara lain, hak untuk hidup , hak memiliki, hak perlindungan, hak mendapatkan kasih sayang dan sebagainya. Sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri, apalagi di jaman sekarang sangatlah mustahil manusia hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama orang melakukan kerjasama. Contohnya, agar setiap individu dalam satu lingkungan aman/terhindar dari serangan penyakit demam berdarah maka mereka bekerjasama bergotong royong membersihkan lingkungan dari kemungkinan tempat-tempat nyamuk bersarang. Jadi dalam hal ini orang-orang bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama. Dalam hubungan sosial maka hak pribadi merupakan batas bagi orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Dalam memenuhi kebutuhan pribadi tidak boleh mengorbankan hak pribadi orang lain. Contoh, kita punya hak untuk mendengarkan musik dari tape milik kita sendiri, kapanpun kita suka. Tetapi harus diingat bahwa ada hak orang lain untuk beristirahaT dan tidak diganggu oleh kebisingan. Oleh karena itu maka jika ita mendengarkan musik dengan suara keras pada waktu orang lain istirahat berarti melanggar hak pribadi orang lain. Jadi dalam memenuhi kebutuhan pribadi kita harus membatasi diri jangan sampai melanggar hak orang lain, untuk ini kita perlu melatih pengekangan diri untuk mengurangi rasa ego. Dengan demikian maka diharapkan dalam hubungan sosial manusia dapat mencapai kebahagiaan. Dalam rangka mengatur hubungan sosial masyarakat maka dibutuhkan aturan tingkah laku yang disebut tata susila. Meskipun di masyarakat secara umum sudah dikenal tentang tata susila yang berlaku namun seringkali orang melanggar tata susila itu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan ketidak harmonisan dalam sosial kemasyarakatan. Pelanggaran tata susila terjadi biasanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang mampu mengedalikan diri. Hanya mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan adanya kepentingan orang lain. Pendidikan Agama Hindu 51/76

Konsep ajaran Tat Twam Asi jika dimaknai dan dihayati dengan benar maka dapat dijadikan sebagai kunci pembuka kasih di hati sehingga dapat secara perlahan mengurangi rasa keakuan/ego ( ahamkara ). D. IMPLEMENTASI TAT TWAM ASI Di dunia manusia memegang peranan utama dalam mewujudkan hubungan harmonis antara manusia, alam lingkungan serta Tuhan, Sang Pencipta. Hal ini karena diantara semua mahluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi hanya manusia yang diberikan idep ( daya pikir ). Dengan daya pikir tersebut kita dapat melakukan yadnya utuk menyucikan diri sendiri serta menyucikan alam. Dalam ranka membina hubungan harmonis sesama manusia, kita harus bisa mengolah manah ( pikiran ), budhi (kemampuan mengambil keputusan benar atau salah ), dan ahamkara ( rasa keakuan sebagai motivasi bertindak) yang ada dalam diri sehingga menjadi seimbang dan mengutamakan bahwa hubungan harmonis sesama manusia adalah kebutuhan utama dalam hidup ini. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Sebagai individu kita memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi, seperti kebutuhan sandang, pangan, papan, serta kebutuhan kasih sayang. Setiap individu berhak untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi tersebut kita sebagai mahluk pribadi tidak dapat memenuhi semuanya sendiri, kita perlu bantuan dan kerjasama dengan orang lain. Dalam memenuhi kebutuhan pangan misalnya, kita perlu orang yang menjual makanan atau bahan untuk membuat makanan. Dalam memenuhi sandang kita perlu orang yang menjual pakaian atau bahan untuk membuat pakaian. Demikian juga dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang kita memerlukan suami/istri, anak, orang tua, keluarga serta tetangga atau teman. Dalam kaitan memenuhi kebutuhan pribadi yang berhubungan dengan orang lain inilah kita disebut sebagai mahluk sosial. Dalam membina hubungan sosial inilah kita perlu memahami dan mengamalkan ajaran Tat Twam Asi. Sebagai implementasi ajaran tat twam asi ada beberapa konsep yang dapat kita pedomani antara lain : Memandang semua manusia adalah sama. Merasakan penderitaan orang lain. Melaksanakan Tri Kaya Parisudha. Melaksanakan ajaran Catur Paramita. Melaksanakan ajaran Tri Parartha. 1. Memandang semua manusia adalah sama. Dalam ajaran Hindu dinyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah sama dan berasal dari sumber yang sama. Dalam Kitab Yajur Weda Adyaya 40, sloka 7 disebukan :

Pendidikan Agama Hindu

52/76

Seseorang yang menganggap seluruh umat manusia memiliki Atman yang sama dan dapat melihat semua manusia sebagai saudaranya, orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan. Dalam sloka di atas tersirat dua konsep pandangan Hindu atas keberadaan umat manusia. Pertama , bahwa di setIap manusia terdapat unsur utama yang sama yaitu atman. Atman adalah percikan-percikan terkecil dari Brahman ( Hyang Widhi), ini berarti bahwa atman-atman yang ada pada setiap manusia adalah sama. Perbedaannya hanyalah pembungkus luarnya saja yakni, badan jasmani serta pribadinya. Atman adalah kesadaran kesadaran murni yang memuliki sifat sama dengan Brahman ( Atman Brahman Aikyam). Karena atman berasal dari Brahman maka pada tingkat kesadaran tertinggi semua atman-atman yang menghidupi semua manusia di dunia adalah sama. Dengan pemahaman ini maka kita seharusnya belajar untuk memandang setiap orang adalah sama. Sama-sama memiliki sinar Tuhan, kita tidak boleh membedakan derajat manusia hanya dari sisi luarnya saja. Warna kulit bisa berbeda, budaya dan tradisi bisa berbeda, tingkat ekonomi dan sosial juga bisa berbeda, tetapi spirit kehidupan setiap orang sama, disana ada sinar Tuhan yaitu Atman. Jadi jika kita membeda-bedakan orang berarti kita membeda-bedakan Hyang Widhi. Selanjutnya konsep kedua dalam sloka di atas juga mengajarkan pada kita bahwa semua manusia di seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar. Semua manusia pada dasarnya adalah saudara. Kenapa? Karena semua bersumber dari yang satu yaitu Brahman. Dalam satu keluarga besar , semua memilik keinginan untuk hidup berdampingan secara damai. Pada dasarnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin hidup dalam kekacauan. Semua ingin hidup damai dan harmonis. Hanya saja pengaruh pola pikir yang sempit serta mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja, maka timbul tindakan-tindakan yang merugikan pihak lain. Dari sinilah mulai timbul ketidakharmonisan. Sifat ego yang berlebihan cenderung mendorong manusia untuk mempertajam perbedaan-perbedaan, seperti suku, bangsa, ras, warna kulit, kasta dan sebagainya. Banyak contoh-contoh penajamanpenajaman kelompok dan ras yang terjadi baik sebagai catatan sejarah maupun tradisi yang melekat di masyarakat sampai saat ini. Terjadinya sejarah penjajahan suatu bangsa adalah contoh perlakuan yang membedakan derajat manusia. Terjadinya kerusuhan dan perkelahian antar warga, antar kelompok serta tindakan-tindakan yang merendahkan martabat kelompok lain juga sebagai contoh pengaruh ego ( rasa keakuan) menguasai manusia.
2. Merasakan penderitaan orang lain. Manusia diciptakan lengkap dengan manas, budhi, dan ahamkara. Manas adalah pikiran sedangkan budhi adalah kemampuan manusia untuk mengolah dan merasakan baik dan benar, sedangkan ahamkara lebih menitik beratkan Pendidikan Agama Hindu 53/76

pada rasa keakuan sebagai motivasi dasar untuk bertindak. Perpaduan antara budhi dan ahamkara pada seseorang sangat menentukan kualitas rasa/perasaan orang tersebut. Jika seseorang memiliki ahamkara yang tinggi tanpa dibarengi dengan olah budhi yang matang cenderung melahirkan sifat keakuan / ego yang tinggi. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada keadaan maupun perasaan orang lain. Type orang seperti ini adalah selalu menuntut hak terlebih dahulu tetapi mengabaikan kewajibannya. Berikutnya jika seseorang memiliki perimbangan dalam penguasaan ahamkara dan memiliki budhi ang tinggi maka orang tersebut akan senantiasa memikirkan rasa dan kepentingan orang lain sebelum bertindak untuk kepentingan pribadinya. Ukuran rasa kemanusiaan seseorang adalah apabila dia dapat merasakan pendertaan orang lain sebagai penderitaannya. Karena dirasakan sebagai penderitaannya maka ia sendiri akan ikut aktif menanggulangi penderitaan orang lain. Ikut serta menanggulangi penderitaan orang lain adalah sesuai dengan kemampuan dan swadharma masing-masing. Tiap orang selalu mengalami suka dan duka dalam kehidupannya di dunia in Saat suka dan duka itu, tidak dapat dirasakan secara bersamaan oleh semua manusia. Ada orang yang mengalami duka paa saat tertenu, dan pada saat itu juga ada orang lain yang mengalami keadaan suka. Kalau keadaan suka dan duka itu diatasi secara bersama-sama, maka berbagai beban hidup itu akan dirasakan ringan dan tidak terlalu menyusahkan. Karena itu orang yang dalam keadaan suka seharusnya belapang dada membantu sesame yang sedang dirundung penderitaan. Inilah hakekat dan ajaran Tat Twam Asi. Dalam kehidupan tradisional di Bali, uamt Hindu mengatasi keadaan suka dan duka sudah sangat melembaga. Nilai-nilai tradisi yang dikandung oleh lembaga suka duka tradisional itu, patut dikembangkan sehingga dapat didayagunakan untuk mengatasi persoalan hidup masa kini dan masa yang akan datang. Dalam sistem kehidupan yang modem dewasa mi sesungguhnya banyak pihak yang mendapat kesempatan untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Sayang kebanyakan orang tidak menggunakan kesemptan mi untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Justru penderitaan orang lain sering dijadikan ajang untuk mencari keuntungan guna memperkaya diri sendiri. 3. Melaksanakan Tri Kaya Parisudha (tiga prilaku yang disucikan). Di dalam kitab Sarasamuscaya 73-76 disebut sepuluh hal untuk menjaga kesucian Tri Kaya agar menjadi suci, yang disebut Karma Patha. Tiga untuk menjaga kesucian pikiran, empat untuk menjaga kesucian kata-kata, dan tiga untuk menyucikan perbuatan/prilaku.

Pendidikan Agama Hindu

54/76

a. Manacika. Dalam kehidupan manusia di dunia mi Pikiran paling menentukan kualitas prilaku manusia Pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria, sehingga pikiran sering disebut Rajendria. Kalau raja ini tidak baik maka indria pun akan tampil tidak baik. Oleh karena itu kuatkanlah pikiran agar pikiran tersebut yang mengatur laku indria. Sucikanlah pikiran dengan satya, seperti diuraikan dalam kitab Manawa Dharmasastra, V.109 sebagai berikut:

Adbhirgatrani uddhyanti manah satyena uddhyati, widyatapobhyam bhutatma budhir jnanena cuddhyati . (Manawa Dharmasastra, V109) Artinya: Tubuh dibersihkan den gan air, pikiran disucikan den gan kebenaran, jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dengan dengan pengetahuan yang benar.
Demikianlah pada hakekatnya pikiran tersebut selalu dijaga kesuciannya dengan satya/kebenaran/kejujuran. Di dalam kitab Sarasamuscaya, 73-74 disebutkan:

Hana karmapatha ngaranya kahrtaningindriya, sapuluh kwehnya, ulahakna, kramanya, prawrttyaning manah sakarng, tlu kwehnya, ulahaning wk, pat prawrttyaning kya, tlu, pnda, sapuluh, prawrttyaning kya, wak, manah kengta. Artinya: Adalah karmapatha namanya, yaitu pengendalian hawa nafsu, sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan; perinciannya gerak pikiran, tiga banyaknya; perilaku perkataan, empat jumlahnya; gerak tindakan, tiga banyaknya;jadi sepuluh banyaknya, perbuatan yang timbul dari gerak badan, perkataan dan pikiran itulah patut diperhatikan .
Pikiran yang masih suci tanpa dicemari oleh hawa nafsu disebut citta, dan setelah dicemari oleh hawa nafsu disebut manah. Karena itu proses penyucian pikiran disebut manacika parisudha. Ada tiga cara melakukan manacika atau penyucian pikiran yaitu:

1) Tidak menginginkan dan tidak dengki terhadap milik orang lain


Pendidikan Agama Hindu 55/76

Perbuatan ini dapat menimbulkan kecendrungan yang negatif, seperti rasa in. Hidup dalam keadaan in akan membuat kita menderita. Sifat ini timbul karena kurang tumbuhnya rasa kasih sayang terhadap sesama. Pikiran akan menjadi suci (ning) bila tidak menginginkan milik orang lain serta tidak membenci milik orang lain . 2) Tidak berpikir buruk terhadap orang lain dan kepada semua makhluk. Semua makhluk hidup berasal dan atma yang sama yaitu Ida Sang Hyang Widhi. Beliau mentakdirkan ada makhluk yang bernasib baik dan ada yang bernasib buruk sesuai dan karmanya masingmasing. Orang yang hidup sehat dan berumur panjang salah satu penyebabnya karena ia menumbuhkan rasa cinta kasih pada semua makhluk.

3) Tidak mengingkari hukum karmaphala. Hal ini sangat penting untuk dipahami dan dihayati, siapa yang berbuat baik akan mendapat pahala yang baik dan siapa yang berbuat buruk sudah dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang buruk. Harus kita yakini benar kesungguhan hukum Tuhan tersebut. Meskipun kita melihat orang berbuat buruk pada saat ini dan kenyataannya ia bemasib baik, itu pun karena hukum karma phala juga. Nasib baik yang ia tenima saat ini pasti karena perbuatan baik sebelumnya yang ia lakukan. Sedangkan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini sudah pasti akibatnya akan diterima kelak, entah kapan. Orang yang selalu berusaha mengedalikan pikiran dan diarahkan pada niat SUCi akan jarang mendapat persoalan sulit dalam kehidupannya dimasyarakat.
b. Wacika. Wacika adalah perkataan yang baik (suci). Kata-kata ibarat pisau bermata dua, disatu pihak akan bisa mendatangkan kebahagiaan dan dilain pihak akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan kematian, seperti termuat dalam kitab Nitisastra sargah V.3 sebagai berikut:

Wasita Wasita Wasita Wasita

nimittanta nimittanta nimittanta nimittanta

manemu laksmi, pati kapangguh, manemu duhka, manemu mitra

Artinya: Oleh perkataan engkau akan mendapatkan bahagia, Oleh perkataan engkau akan menemui ajalmu, Oleh perkataan engkau akan men dapatkan kesusahan, Oleh perkataan engkau akan mendapatkan sahabat.

Pendidikan Agama Hindu

56/76

Demikianlah akibat dan perkataan yang diucapkan ada yang baik dan ada yang buruk. Kata-kata kotor atau buruk disebut Mada (dalam Tri Mala). Kata-kata yang kotor seperti raja pisuna (fitnah), wak purusya (berkata kasar), berbohong dan sebagainya tidak usah dipelihara, sebab hal tersebut akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan lebih fatal lagi bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu marilah kita sucikan wak/katakata sehingga menjadi wacika yaitu kata-kata yang suci, karena katakata yang suci mi akan dapat mengantarkan kita kepada sahabat atau mitra dan kepada kebahagiaan atau laksmi. Ada empat cara (karma patha) untuk menyucikan perkataan yaitu: 1) Tidak berkatajahat (ujar ahala). Kata-kata yang jahat yang terucap akan dapat mencemarkan vibrasi kesucian, baik kesucian yang mengucapkan maupun yang mendengarkan. Karena dalam kata-kata yang jahat itu ada gelombang yang mengganggu keseimbangan vibrasi kesucian. 2) Tidak berkata kasar (ujar aprgas), seperti menghardik, mencaci, dan mencela. Kata-kata kasar itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkan .dan sesungguhnya akan dapat mengurangi vibrasi kesucian bagi yang mengucapkan. Perlu diperhatikan, meskipun fiat baik, kalau diucapkan dengan kata-kata yang kasar maka fiat baik itu akan turun nilainya (menjadi tidak baik). Bagi yang mempunyai kebiasaan berkata kasar, berjuanglah untuk merubahnya. 3) Tidak memfitnah (raja pisuna). Ada pepatah mengatakan fitnah itu lebih kejam dan pembunuhan. Dalam persaingan hidup orang sering mengalahkan persaingan dengan cara memfitnah agar lawan dengan mudah dikalahkan. Salah sam sifat manusia yang dapat menimbulkan akibat negatif adalah yang disebut distinksi yaitu suatu dorongan untuk lebih dan orang lain. Kalau ia tidak mampu berbuat lebih dan kenyataan maka fitnahpun akan dipakai senjata agar ia kelihatan lebih dan yang lain. Cegahlah lidah agar tidak mengucapkan kata-kata fitnah. 4) Tidak mengeluarkan kata-kata yang mengandung kebohongan. Kebiasaan berbohong mi juga sering didorong oleh nafsu distinksi tadi. Agar ia kelihatan lebih dan orang lain bohongpun sering dilakukan. Berbohong juga sering dilakukan untuk menutupi kekurangan din. Menghilangkan kebiasaan berbohong mi haruslah dibiasakan untuk rela menerima apa adanya sesuai dengan karma Pendidikan Agama Hindu 57/76

kita. Demikianlah empat hal yang harus dibiasakan agar tidak keluar dan lidah kita katakata yang tidak baik atau menyakitkan. Untuk melatih itu biasakanlah menyanyikan namanama Tuhan atau Dharmagita atau Mantram-mantram tertentu secara tents menerus, sampai kebiasaan itu dapat dihapuskan. Hal mi memang memerlukan kesungguhan, karena mengubah kebiasaan jelek memang tidak mudah. Kebaikan itu hanya dapat diwujudkan dengan cara membiasakannya sampai melembaga dalam tingkah laku. Pada mulanya memang dirasakan beban, tapi lama kelamaan akan menjadi kebutuhan.

c. Kayika (perbuatan). Tindakan atau perbuatan jasmani atau pisik merupakan upaya seseorang untuk mengaktualisasikan hasil proses berpikir dan apa yang diucapkan dengan kata-kata. Tindakan seseorang dapat menyebabkan orang menjadi senang, bahagia dan atau sebaliknya menyakiti hati orang lain. Hal mi sangat ditentukan oleh pross berpikir scseorang. Artinya bila pikirannya dilandasi oleh fiat yang baik, itikad yang baik, maka seseorang akan mampu mngendalikan indrianya dan akan menyebabkan orang lain senang dan bahagia. Orang yang demikian itu disebut Sadhu yaitu orang yang tidak melakukan kekerasan. Tindakan-tindakan yang suci mi perlu dipelihara. Dalam kaitannya dengan memelihara tindakan kitab Sarasamuscaya sloka 76 menegaskan sebagai berikut:

Pendidikan Agama Hindu

58/76

Nihan yang tan ulahakena, syamatimati man gahalahal, Siparadara, nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring paribasa, Ring apatkala, ri pan gipyan tuwi singgahana jugeka. Artinya: Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh, mencuri berbuat zinah, ketiganya jut jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun, baik secara berolok-olok, bersendagurau, baik dalam keadaan dirundung malang, keadaan darurat dalam khayalan sekalipun, hendaknya dihindari saja ketiganya itu.
Kutipan sloka mi memberikan informasi tentang pentingnya kesucian tindakan seseorang, agar tidak mclakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang atau asubha karma. Adapun tiga tindakan suci tersebut adalah: 1) Tidak menyakiti atau tidak membunuh (ahimsa). Pada umumnya ahimsa diartikan tidak boleh membunuh atau tidak menyakiti secara pisik, namun sebenarnya walaupun tidak secara pisik tetapi bila segala perilaku itu menyebabkan orang lain sakit hatinya juga tergolong perbuatan himsa. Ahimsa tergolong sifat-sifat kedewataan (daiwi sampat). Orang yang berhasil menumbuh kembangkan sifat-sifat kedewataan akan lebih mudah meraih karunia dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan terpeliharanya ajaran ahimsa berarti tidak ada kekerasan dalam kehidupan bersama didunia mi. Hakekat dan manusia hidup didunia mi adalah bersaudara. Ahimsa merupakan pengejawantahan masyarakat yang damai atau santih. Jika seseorang melakukan tindakan sebaliknya yaitu melakukan tindakan kekerasan maka akan terjadi pelanggaranpelanggaran hak asasi manusia seperti mempropokator umat agama lain untuk pindah ke agamanya sendiri, melecehkan kesucian agama, merendahkan martabat umat agama yang lain dan sebagainya. 2) Tidak mencuri, merampok, mengambil hak orang lain secara tidak sah, menerima suap dan tidak nepotisme serta tidak rakus. Intinya disini seseorang tidak terlalu terikat oleh bendabenda duniawi, serta senang melakukan amal. Jika kesucian perbuatan tidak dijaga akan berakibat terjadinya pemaksaan terhadap orang lain yang berimbas kepada tidak adanya hubungan yang harmonis sehingga tidak akan tercapai kedamaian dihati, kedamaian dibumi dan kedamaian

Pendidikan Agama Hindu

59/76

3)

diakhirat. Dan jika kesucian perbuatannya tidak dijaga maka baik terhadap sipelaku maupun orang lain akan mengalami kerugian. Tidak berzinah. Berzinah merupakan perbuatan yang sangat hina dan terkutuk. Perbuatan ini harus dikendalikan karena bisa menimbulkan kemerosotan moral. Berzinah artinya sikap suka memperkosa wanita atau istri orang lain Adapun yang temasuk perbuatan berzinah (paradara) adalah: a. Mengadakan hubungan kelamin dengan suami/istri orang lain. b. Mengadakan hubungan kelamin (sex) antara pria dan wanita dengan jalan tidak sah. c. Mengadakan hubungan kelamin dengan paksa, artinya tidak atas dasar cinta sama cinta (perkosaan). d. Mengadakan hubungan kelamin atau sex yang dilarang oleh agama. Larangan melakukan zinah itu memang wajar, karena kalau itu dibiarkan maka kemerosotan moral akan makin memuncak. Banyak terjadi pelacuran atau tuna susila maka kehidupan kita sebagai manusia yang menjuiijung tinggi budaya dan agama akan menjadi hancur.

4. Catur Paramita. Catur paramita merupakan salah satu dan landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau etika dalam ajaran agama Hindu. Adapun . .. bagian-bagian dan ajaran catur paramita tersebut adalah a. Maitri artinya senang mencari kawan dan bergaul, yakni tahu menempatkan diri dalam masyarakat, ramah tamah, serta menarik hati segala prilakunya sehingga menyenangkan orang lain dan din pribadinya b. Karuna artinya belas kasihan, maksudnya selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua mahluk c. Mudita artinya selalu memperlihatkan wajah yang riang gembira dan sopan d. Upeksa artinya senantiasa mengalah demi kebaikan, walaupun disinggung perasaannya oleh orang lain, ia tetap tenang dan selalu berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan (suka memaafkan) Guna lebih mudah dapat memahami ajaran catur paramita, dibawah ini disajikan beberapa bentuk larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh umat manusia sebagai berikut:

Pendidikan Agama Hindu

60/76

a. b. c.

Untuk dapat berbuat maitri, maka kita jangan melakukan perbuatan yang membahayakan dan jangan membenci. Untuk dapat berbuat karuna, maka pantang melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya penderitaan, tersiksa, kesengsaraan atau jangan bengis. Untk dapat berbuat mudita, jangan melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain susah, atau jangan memiliki rasa dengki dan in hati terhadap orang lain.

Pendidikan Agama Hindu

61/76

d.

Untuk dapat berbuat upeksa, maka pantang menghina orang lain, memandang rendah orang lain, menindas orang lain atau selalu berusaha untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu jahat.

Demikianlah ajaran Catur Paramita patut kita realisasikan dalam hidup dan kehidupan mi. Dengan demikian diantara kita sesama makhluk ciptaan Tuhan hendaknya dapat hidup berdampingan serasi, selaras, harmonis dan damai. Ajaran Catur Paramita sebagai realisasi dan ajaran Tat Twam Asi patut dijadikan pedoman oleh manusia untuk mewujudkan kehidupan mi yang sempurna. 5. Tri Parartha. Tri Parartha berarti tiga prihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan, kebahagiaan, keselamatan, kesejahteraan, keagungan, dan kesukaaan hidup umat manusia. Keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan adalah merupakan kebutuhan hidup umat manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya. Tanpa keselamatan dalam hidupnya, umat manusia tidak akan dapat berbuat banyak dalam hidup dan kehidupan mi. Berdasarkan ajaran agama Hindu, manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. Adapun ajaran Tri Paratha yang dimaksud dapat mengantarkan umat manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya, terdiri dari :

1. Asih artinya cinta kasth. 2. Punya artinya dermawan, tulus ikhlas. 3. Bhakti artinya hormat, sujud. Asih , punya, dan bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam hidup dan kehidupan mi, guna tetap tegaknya dharma. Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Hidup saling mengasihi diantara kita adalah merupakan prilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa). Kitab Rg Weda menyebutkan sebagai berikut: Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam hidup dan kehidupan mi, dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dan ibadah (yajna Pendidikan Agama Hindu 62/76

karma). Semua umat Hindu hendaknya melakukan hal itu, karena itu adalah merupakan kewajibannya untuk menegakkan dharma. Tujuan pokok dan ajaran Tri Parartha (asih, punia, dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia, mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawillahiriah) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi. Namun dewasa ini rupa-rupanya kalau secara jujur kita akui kemerosotan moral semakin hari semakin bertambah. Itu suatu pertanda bahwa banyak orang sudah mulai melepaskan konsep etika yang ada pada dirinya, Ajaran Tat Twam Asi sudah ditinggalkan menjadi individualistis. Kemerosotan moral dapat dilihat di dalam tayangan-tayangan criminal seperti Sergap, Buser, Patroli, dan sebagainya, itu mungkin baru sebagian kecil yang diungkap. Sesungguhnya banyak sekali tanda-tanda kemerosotan moral yang terjadi di lingkungan masyarakat baik itu dialami oleh anak-anak, para remaja, maupun orang tha. Adapun penyebabnya antara lain: 1. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap individu yang ada dalam masyarakat. 2. Keadaan masyarakat yang kurang stabil, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan keamanan. 3. Pendidikan moral belum terlaksana sebagaimana mestinya, baik di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun di tingkat rumah tangga. 4. Situasi dan kondisi rumah tangga yang kurang stabil/baik. 5. Diperkenalkannya secara populer obat-obatan dan sarana anti hamil. 6. Banyaknya tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran, keseniankesenian yang kurang mengindahkan dasar-dasar, norma-norma/aturan tentang tuntunan moral. 7. Kurang adanya individu/organisasi/lembaga yang memfasilitasi tempattempat bimbingan dan penyuluhan moral bagi anak-anak/remaja yang menganggur.

Pendidikan Agama Hindu

63/76

BAB VI KITAB SUCI


WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI
Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut. 1. Weda Sruti 2. Weda Smrti Pembagian dalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda balk secara tradisional maupun secara institusional ilmiah. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu sedangkan kelompok Smrti isinya adalah sebagai ingatan kembali terhadap Sruti. Jadi Smrti merupakan, buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti. Bila dibandingkan dengan ilmu politik Sruti adalah merupakan UUD nya Hindu sedangkan Smrti adalah UU Pokok dan UU. Pelaksanaannya adalah Nibandha. Kedua-duanya merupakan sumber Hukum yang mengikat yang harus diterima. Oleh karena itu Bhagawan Manu menegaskan dalam kitabnya Manawa Dharmasastra 1110. sebagai berikut:

Srutistu Weda Wijneyo dharmacastram tu wai Smrtih. te sartwarhawam imamsyo tabhyam dharmohi nirha bhau Artinya: Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari agama Hindu, (Dharma). (MDs. II. 10)
1. Weda Sruti Kata Sruti sesungguhnya berasal dan bahasa Sanskerta, dari akar kata Crt Yang berarti mendengar langsung. Jadi Weda Sruti adalah Kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Rsi melalui pendengaran langsung dan wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan. Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya ada Weda orisinal. Menurut sifat isinya weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu: 1) Bagian Mantra 2) Bagian Brahmana (Karma Kanda) 3) Bagian Upanisad/ Arnyaka (Jnana Kanda)

Pendidikan Agama Hindu

64/76

Ad.1. Mantra Bagian mantra terdiri dan empat himpunan (samhita) yang disebut catur weda samhita, yaitu: 1) Rg. Weda atau Rg. Wedasamhita 2) Sama Weda atau Samawedasamhita 3) Yayur Weda atau Yayurwedasamhita 4) Atharwa Weda atau Atharwawedasamhita Dari keempat kelompok Weda itu, tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Karena itu disebut Trayi Weda atau Tri Weda Pengenalan catur weda hanya karena kenyataan Weda ini secara sistimatik telah dikelompokkan atas empat Weda. Pembagian empat kelompok isi weda itu yaitu: 1) Rg Weda Samhita ; merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan 2) Sama Weda Samhita ; merupakan kumpulan mantra-mantra memuat ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan, atau saman 3) Yayur Weda Samhita ; merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajnya (yajus, pluralnya Yajumsi). Jenis Weda ini ada dua macam yaitu: a. Yajur Weda hitam (Kresna yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi antara lain; Taitiriya samhita dan Maitrayanisamhita. b. Yajur Weda putih (Sukla yajurweda), yang juga disebut Maitraneyi samhita. 4) Atharwa Weda samhita ; merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (Atharwan). Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. Weda. Menurut penelitian Samaweda terdiri atas 1810 mantra, atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875. Yajur Weda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dan Rg. Weda, ditambah dengan beberapa mantra tambahan baru. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa. Menurut Bhagawan Patanjali, kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Kitab mi terbagi atas dua aliran, yaitu: 1) Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda).) 2) Yajur Weda putih (Sukla yajur weda, juga dikenal Wajasaneyi samhita). Perbedaan pokok antara Yajur Weda Putih dengan Yajur Weda hitam hanya sedikit saja. Yajur Weda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta di dalam upacara, sedangkan mantra-mantra didalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yayur Weda itu. Pendidikan Agama Hindu 65/76

Atharwa Weda yang disebut atharwawedangira, merupakan kumpulankumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dan Rp. Weda. Kitab mi memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Kitab mi terpelihara dalam dua resensi yaitu: a. Resensi Saunaka. Resensi ini paling terkenal dan terbagi atas 21 buku b. Resensi Paipplada ad.2. Bagian Brahmana (Karma Kanda) Bagian kedua yang terpenting dan kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut Brahmana atau Karma Kanda. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Tiap-tiap mantra (Rg. Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda) memiliki Brahmana. Brahmana berarti doa. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan untuk keperluan upacara yajna. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra. Kitab Rg. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankyana Brahmana). Kitab Samaweda memiliki kitab Tandnya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama Pancawimsa . Kitab mi memuat legenda (ceritera-ceritera kuno) yang dikaitkan dengan upacara Yajna. Disamping itu ada pula Sadwimsa Brahmana Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab Adhuta Brahmana merupakan jenis Wedangga yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mujijat. Kitab Yajur weda memiliki beberapa kitab Brahamana Yajur weda hitam (krsna Yajur Weda) memiliki Taittiriya Brahmana. Yajur Weda putih (Sukia Yajurweda) memiliki Satapatha Brahmana. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyana. Bagian terakhir dan kitab mi merupakan sumber bagian kitab Brhadaranyakapanisad. Di dalam kitab Brahmana ini mula-mula kita jumpai ceritra Sakuntala, Punirawa, Urwasi dan ceritra-ceritra tentang ikan. Atharwa Weda mi memiliki kitab Gopatha Brahmana Ad. 3. Bagian Upanisad/Aranyaka Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai ke Tuhanan. Himpunan ini merupakan bagian teori mengenai ke Tuhanan. Himpunan mi merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti. Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap mantra memiliki kitab Brahmana. Demikian pula tiap-tiap mantra memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Pendidikan Agama Hindu 66/76

Kelompok kitab-kitab ini disebut rahasya Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia. Di dalam penelitian berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. G. Sriniwasa Murti didalam introdusi kitab saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap sakha (cabang ilmu) Weda merupakan satu upanisad. Dari catatan yang ada: 1. 2. 3. 4. Rg. Weda terdiri dan 21 sakha Sama Weda terdiri atas 1000 sakha Yajur Weda terdiri atas 109 sakha, dan Atharwa Weda terdiri atas 50 sakha

Berdasarkan jumlah sakha itu, yaitu 1180 sakha, maka jumlah upanisad seyogyanya ada banyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad, jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Adapun perincian dan pada kitab-kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut: 1. Upanisad yang tergolong jenis Rg. Weda yaitu antara lain: Aitareya, Kausitaki, Nada-bindu, Atmaprabedha, Nirwana, Mudgala, Aksamalika, Tripura, Saubhagya, dan Bahwrca Upanisad, yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad. 2. Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda yaitu antara lain: Kena, Chandogya, Aruni, Maitrayani, Maitreyi, Wajrasucika, Yogacudamani, Wasudewa, Mahat, Sanyasa, Awyaka, Kondika, Sawitri, Rudrasajabala, Darsana dan Jabali. Semuanya berjumlah enambelas Upanisad. 3. Upanisad yang tergolong jenis Yajurweda, yaitu antara lain: a. Untuk jenis Yajur Weda Hitam, terdiri atas Kathawali, Taittriyaka, Brahma, Kaiwalya, Swetaswastara, Garbha, Narayana, Amrtabindu, Asartanada, Katagnirudra, Kausika, Sarwasara, Sukharahasya, Tejebindu, Sakanda, Sariraka, Yogasikha, Ekaksara, Aksi, Awadhuta, Pranagnikotra, Wahara, Kalisandarana, dan Saraswatirahasya, semuanya berjumlah tigapuluh dua Upanisad. b. Untuk jenis Yajur Weda putih, terdiri dan: Isawasya, Brhadaranyaka, Jabala, Hamsa, Prramahamsa, Subata, Matrika, Niralambha, Trisikhibrahmana, Mandala brahmana, Adwanyataraka, Pinggalabhiksu, Turiyatita, Adhyatma, Tarasara, Yajnawalkya, Satyayani dan Muktika. Semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad. 4. Upanisad yang tergolong jenis Atharwa Weda, yaitu antara lain: Prana, Munduka, Mandukya, Atharwasira, Atharwa sikha, Brhajjabala, Nrsimhatapini, Naradapariwrajaka, Sita, Sarabha, Mahanarayana, Ramarahasya, Ramatapini, Sandilya, Paramahamsapariwrajaka, Annapurna, Surya, Atma, Pasupata, Parabrahma, Tripuratapini, Dewi, Bhawana, Brahma, Gamapati, Mahawakya, Gopalatapini, Krsna, Hayagriwa, Dattatreya, dan Garuda Upanisad. Semuanya berjumlah tiga Pendidikan Agama Hindu 67/76

puluh satu upanisad. Dengan memperhatikan deretan nama nama kelompok Mantra, Brahmana, dan Upanisad diats, jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. Untuk mendalami dharma, semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati.

2. Weda Smrti Smrti merupakan kitab suci agama Hindu, sesudah Veda Sruti. Kitab Smrti memuat tentang ajaran hukum agama Hindu, yang juga disebut Dharma atau Dharma Sastra. Dharma berarti hukum dan sastra berarti ilmu. Dharma Sastra berarti Ilmu Hukum Agama Hindu. Kata Smrti berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata smrta (neuter) berarti: ingatan, menjadi kata smrti (feminime) berarti: ingatan, kenangan, tradisi yang berwenang. Kitab Smrti adalah kitab suci Veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi dan wahyu Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. Kitab Smrti adalah kitab Veda juga, karena fungsi dan kedudukannya dipersamakan dengan kitab Veda Cruti. Keterangan tentang hal tersebut di atas, kita temukan dalam beberapa kitab agama Hindu, antara lain: Kitab Menawa Dharma Castra, Bab 11.10 menyebutkan sebagai berikut:

Crutistu Wedo Wzjneyo dharmacastram tu wai smrtih te sarwarthes wamimansye tabhyam dharmohi nirbabhau artinya: yang dimaksud dengan Cruti ia!ah Weda dan dengan Smrti adalah Dharma Sastra, kedua macam pustaka suci mi tidak boleh diragu ragukan kebenarannya mengenai apapun juga karena dan keduanya itu hukum inL
Berdasarkan uraian di atas, dengan jelas dapat kita pahami bahwa Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi bersumberkan pada Veda Cruti. Dengan demikian kitab-kitab Smrti tidak boleh bertentangan dengan Weda Cruti. Kitab Smrti adalah merupakan kitab pendukung dan penjelasan dan kitab Weda Cruti, yang ditulis oleh banyak Maharesi. Oleh karena itu pergunakanlah Pendidikan Agama Hindu 68/76

kitab kitab sastra sebagai petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang harus kita kerjakan dan untuk dapat mengetahui apa yang patut kita kerjakan. Beberapa kitab suci agama Hindu yang termasuk kitab Smrti, antara lain: Manawa Dharma Sastra, Sarasamuccaya, Clokantara, Tattwa Suksma, Bharatayudhya, Yoga Sutra, Ramayana, Niti Sastra, Cilakrama, Manu Smrti, Yajna Pawitra dan Brahmanda Purana. Kitab-kitab suci yang tergolong jenis kitab Smrti itu banyak jumlahnya, dan penulisnyapun banyak pula. Hal semacam ini disebabkan oleh munculnya berbagai macam kebutuhan masyarakat (umat Hindu) yang diisarakat oleh Veda dalam mencapai keadilan, keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Untuk dapat mengamalkan Veda secara benar di dalam upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani, jenis kitab-kitab Smrti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup (dipedomani). Berdasarkan kebiasaan yang telah berjalan, jenis kitab-kitab dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok besar, yang terdiri dan: a. Kelompok Vedangga b. Kelompok Upaveda Smrti

a. Jenis atau kelompok Vedangga Kata Vedangga, terdiri dan kata: Veda dan Angga (bahasa Sansekerta). Veda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian, anggota, badan, sumber, dasar. Jadi Vedangga berarti batang tubuh dari Veda. Untuk dapat mempelajari, memahami, dan mendalami Veda dengan baik, kita hendaknya terlebih dahulu mendalami Vedangga. Vedangga sebagai kitab Smrti, terdiri dan beberapa kitab, antara lain
1) Siksa (Phonetika) Siksa adalah kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjukpetunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi-rendahnya tekanan suara. Untuk dapat mengucapkan mantra (Weda Cruti) dengan baik, fungsi kitab siksa ini adalah sangat penting. Dalam hubungannya dengan mempelajari mantra (Weda Cruti) kitabkitab siksa, juga disebut dengan nama Pratisakhya. 2) Wyakarana (Tata Bahasa) Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa, untuk dapat menghayati Veda dengan benar, kecil kemungkinannya dapat diketahui, tanpa mengerti dan mengetaui tata bahasanya. Oleh karenanya kitab Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting di dalam kita mempelajari Veda.

Pendidikan Agama Hindu

69/76

Para Maharesi yang mendalami tentang tata bahasa (Veda) adalah : Maharesi Sakatayana, Begawan Panini, Maharesi Patanjali, dan Begawan Yaska. Di antara orang suci tersebut di atas, yang terkenal adalah Begawan Panini. Beliau menulis Kitab Asta Dhyayi dan Patanjali Bhasa. Begawan Panini adalah orang suci yang pertama kali mengenalkan kata bahasa Sanskerta popular (bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat) dan bahasa Daiwak yaitu bahasa para Dewa-Dewa. 3) Chanda (Lagu) Chanda adalah cabang Veda yang secara khusus membicarakan tentang aspek ikatan bahasa dalam Veda yang disebut lagu. Dalam mempelajari Veda kita perlu mendalami kitab Chanda, karena bersumberkan pada pendalaman kitab Chanda semua ayat-ayat Veda dapat dipelajari secara turun temurun. Hal ini kita dapat persamakan dengan berbagai macam nyanyian yang dapat dinyanyikan dan mudah diingat. Dan berbagai macam kitab-kitab Chanda, yang masih terdapat utuh sampai sekarang ada dua buah buku, yaitu : Midana Sutra dan Chanda Sutra. Kedua kitab ini dihimpun oleh Begawan Pinggala. 4) Nirukta Kitab-kitab Nirukta berisikan tentang penafsiran otentik yang berhubungan dengan kata-kata yang terdapat dalam Veda. Kitab Nirukta ditulis oleh Begawan Yaska pada tahun 800 SM. Kitab 5) Jyotisa (Antronomi) Kitab Jyotisa, isinya yang terutama adalah menguraikan tentang peredaran tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dipandang dan dianggap memiliki pengaruh dalam pelaksanaan yadnya. Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Veda, yang menguraikan tentang pokokpokok pengetahuan dalam bidang astronomi. Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa juga kita dapat memahami, bahwa bagaimana Veda mengajarkan kepada umatnya untuk dapat berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya. Di antara kitab Jyotisa, yang terdapat masih sampai sekarang adalah kitab Jyotisa Wedangga. Kitab mi memiliki hubungan dengan kitab Veda Cruti, Rg. Veda, dan Yajur Veda. 6) Kalpa Kitab Kalpa adalah jenis kitab Smrti (Vedangga) yang isinya berhubungan dengan kitab Brahmana dan kitab-kitab mantra. Kitab Kalpa mi terdiri dan beberapa bidang kitab antara lain: Pendidikan Agama Hindu 70/76

a) Bidang Srauta Kitab Srauta atau juga disebut Srauta Sutra, isinya memuat berbagai macam ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya. b) Bidang Grhya Kitab Grhya Sutra, isinya menguraikan tentang berbagai ajaran mengenai aturan pelaksanaan yadnya yang mesti dilaksanakan oleh orang-orang / masyarakat (umat Hindu) yang telah hidup berumah tangga c) Bidang Dharma Sutra Kitab Dharma Sutra, isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Kitab Dharma Sutra juga disebut Dharma Sastra. Kitab Dharma Sutra dipandang sebagai kitab yang sangat penting di antara kitab-kitab jenis Kalpa. Karena dipandang sangat penting, maka terdapatlah kesan bahwa Veda Smrti itu adalah Dharma Sastra. Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya, bahwa dalam hidup dan kehidupan kita ini, dilalui oleh empat zaman atau juga disebut Catur Yuga. Bhagawan Sankhalikhita, bahwa masing-masing yuga dan Catur Yuga mempunyai Dharma Sastranya tersendiri, seperti: (1) Pada masa Satya / Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya sastra dan Bhagawan Manu. (2) Pada masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma sastra yang ditulis oleh Bhagawan Yajnawalkhya. (3) Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita. (4) Pasa masa Kaliyuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Parasara. Di antara keempat kitab Dharma Sastra tersebut, yang diterapkan untuk masing-masing bagian Catur Yuga adalah memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi di antara sam dengan yang lainnya. d) Bidang Suliwa Kitab Suliwa Sutra adalah merupakan bagian terakhir dan kitab-kitab Kalpa. Kitab Sulwa Sutra ini, isinya memuat tentang petunjuk dan peraturanperaturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat (Pura, Candi), bangunanbangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur.

Pendidikan Agama Hindu

71/76

b. Jenis atau Kelompok Upaweda Kitab-kitab Upaweda merupakan kitab kelompok kedua dan Veda Smrti, setelah kitab-kitab Vedangga. Kata upaweda berasal dan bahasa Sanskerta, yang terdiri dan dua kata, yaitu : kata upa dan veda. Kata upa dapat diartikan dekat dan kata veda berarti pengetahuan suci (kitab suci). Upaweda berarti dekat dengan Veda (Pengetahuan suci). Upaweda juga diartikan Veda tambahan.
Kitab Upaweda memiliki fungsi sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrtti yang lainnya. Kitab Upaweda terdiri dan beberapa cabang ilmu, antara lain ; 1) Itihasa Kitab Itihasa dikelompokkan dalam kitab-kitab Upaweda. Kata Ityihasa terdiri dan tiga suku kata, yakni Iti-ha-sa yang artinya sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. Nama Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata pada bagian Adiparwa yaitu Bhagawan Wiyasa. Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan rajaraja dan kerajaan Hindu di masa lampait. Itihasa adalah karya sastra yang bersifat spiritual, di mana ceriteranya penuh filsafat, roman, kewiraan dan mitologi. Kitab Itihasa terdiri dan kitab Ramayana (terdiri dan 7 kanda) dan Mahabharata ( terdiri dan 18 parwa). 2) Purana Kitab Purana adalah bagian dan kitabkitab Upaweda. Kitab Purana berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada zaman dahulu kala (kuno). 3) Artha Sastra Kitab Artha Sastra mi berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik. Artha Sastra sebagai bagian dan kitab Upaweda, ditulis oleh Bhagawan Brhaspati. Jejak beliau di dalam tulis-menulis kitab-kitab Artha Sastra diikuti oleh Maharesi Kautilya (Canakhya). Di samping Maharesi Kautilya yang mengikuti Bhagawan Brhaspati dalam menulis kitab-kitab Artha Sastra, adajuga Bhagawan yang lainnya, seperti : Bhagawan Usana dan Bhagawan Parasara, Danding, Wisnugupta, Bharadwaja, dan Wisalaksa. Kitab-kitab yang tergolong kitab Artha Sastra yang lainnya adalah Niti Sastra atau Rajadharma (Dandaniti). Jenis kitab Artha Sastra yang digubah di Indonesia adalah jenis Usana dan Niti Sastra, serta Sukraniti. 4) AyurWeda Kitab Ayur Weda kelompok kitab Upaweda, yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani. Adapun nama kitab yang termasuk kelompok kitab Ayur weda Pendidikan Agama Hindu 72/76

adalah kitab Caraka Samhita, Susruta Samhita, Kasyapa Samhita, Astanggahrdaya, Yogasara dan Kama Sutra. Berdasarkan materai yang terdapat dalam kitab Ayur Weda maka isi kitab Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum, yaitu: a) Salya yaitu ajaran mengenai ilmu bedah b) Salkya adalah ajaran mengenai ilmu penyakit c) Kayakitsa yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan d) Bhuta Widya yaitu ajaran mengenai ilmu psikoteraphy e) Kaumara Bhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak, dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak f) Agada Tantra yaitu ilmu toxikologi g) Rasayama Tantra yaitu ilmu mujizat, dan h) Wajikarana Tantra yaitu ilmu jiwa remaja Kitab Caraka Samhita merupakan baginn dan kitab Ayur Weda. Kitab tersebut mernuat delapan bidang ajaran, antara lain: a) Sutrathana : isinya menguraikan tentang ilmu pengobatan b) Nidanasthana : isinya memuat tentang berbagai penyakit yang bersifat umum c) Wimanasthana : isinya menguraikan tentang ilmu pathologi d) Sarithana : isinya menguraikan tentang ilmu anatomi dan embriology e) Indiyasthana : isinya menguraikan tentang materia diagnosa dan prognosa f) Cikitasasthana : isinya menguraikan tentang ajaran khusus mengenai pokok-pokok ilmu therapy g) Kalpasthnana : isinya menguraikan tentang ajaran di bidang theraphy secara umum h) Siddistana : isinya juga menguraikan tentang pokok-pokok di bidang therapy secara umum. Berdasarkan catatan yang ada kitab Kalpasthana dan Kitab Siddhistana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 Masehi. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Di samping itu pula kitab Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Disamping itu pula kita Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Pendidikan Agama Hindu 73/76

Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. Kedua kitab mi isinya menguraikan tentang pokok-pokok ilmu yoga yang berhubungan dengan sistem anatomi dalam pembinaan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana pada abad ke10 Masehi. Kitab Kamasutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra. Isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja.

5) Gandharwa Weda Kitab Gandharwa Weda merupakan bagian dan kitab-kitab Upaweda. Gandharwa Weda sebagai kitab Smrti, juga memiliki beberapa bagian kitab-kitab lagi, seperti: Natya Sastra, kitab Natya Wedagama, Dewa Dasa Sahasri, Rasarnawa, Rasaratnasamucaya, dan yang lainnya. Kitab Gandharwa Weda, isisnya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni.
6) Kama Sastra Kitab Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian Smrti (Upaweda). Kama Sastra sebagai bagian dan jenis kitab Upaweda isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara, seni atau rasa indah. Di dalam upaya untuk mewujudkan salah sath tujuan hidup, umat beragama dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. Kebangkitan dan rasa indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, hendaknya dipedomani oleh Kama Sastra. Karena dengan demikian asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarahlbernilai positif adanya. Diantara kitab-kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dan Bhagawan Watsyayana. 7) Agama Kitab agama itu baru ada setelah Agama Hindu ada dan berkembang di dunia, Menurut Veda, agama Hindu boleh dan dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia. Hal mi termuat dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut: Yaatkeram wacam kalyanin awadonijanebhyah, Brahma Rajanyabhyam cudraya caryaya ca siwaya caranayaca

Artinya: Biar kunyatakan disini kitab suni ini kepada orang-orang banyak, kepada kaum Brahmana, kaum Ksatrya, kaum Sudra, dan kaum Waisya dan bahkan kepada orang-orangKu dan kepada mereka (orang-orang asing) sekalipun.
Pendidikan Agama Hindu 74/76

(Yajur Veda XVI. 18)


Berdasarkan bunyi Cloka tersebut di atas dinyatakan bahwa kitab suci Veda (Hindu) dapat dipelajari oleh siapa saja, tidak terkecuali. Namum menyadari akan kekurang sempurnaan kita sebagai umatnya, maka tidak akan semuanya dapat mempelajarinya dengan sempuma. Disamping itu kita juga perlu menyadari bahwa, Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu mengandung ajaran yang sangat tinggi. Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Veda dapat belajar agama Hindu berdasarkan kitab-kitab agama. Kitab agama isinya memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan. Dan uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa jumlah kitab-kitab Smrti yang dapat kita pergunakan sebagai petunjuk untuk menata kehidupan berhubungan dengan Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa, banyak jenisnya. Hal mi sesuai dengan ucapan kitab Smrti (Dharma Sastra) sebagai berikut: Wedo khilo dharma mulam smrti cue ca tad widam acaracca iwa sadhunam atmanastustir ceva ca

Artinya: Seluruh Weda merupakan sumber utama daripada dharma (agama Hindu) kemudian barulah Smrti, disamping kebiasaan-kebiasaan yang baik dan orang-orang yang rnenghayati Veda (sila) dan kemudian tradisi-tradisi dan orang-orang suci (acara) serta yang terakhir ada!ah rasa puas din sendiri (atmanastusti) (Manawa Dharrna Sastra 11.6)

B. RANGKUMAN Kitab suci adalah cara yang baik untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh umat Hindu. Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa mewahyukan ajaran-Nya melalui orang-orang Suci untuk disebarkan pada kita semua. Ajaran beliau yang diwahyukan kepada Maha Rsi dituliskan pada buku, yang disebut kitab suci Weda. Weda sebagai kitab suci umat beragama Hindu, berdasarkan pengelompokannya ada yang disebut dengan nama Weda ruti dan Weda Smrti. Istilah cruti berarti Wahyu. Weda ruti adalah kitab Wahyu Tuhan. Semua ayatayat yang terdapat didalamnya merupakan Wahyu dan Tuhan yang kemudian dihimpun dalam beberapa buah buku menurut umurnya dan peruntukannya. Menurut sifat dan isinya Weda ruti dibedakan atas kelompok mantra, kelompok Brahmana, kelompok Ananyaka dan Upanisad. Kelompok mantra didasarkan atas pertimbangan fungsi dan kegunaannya di bagi menjadi empat, yang Pendidikan Agama Hindu 75/76

disebut Catur n Weda Samhita yaitu Rg.Weda Samhita, Yajur Weda Samhita, Sama Weda Samhita dan Atharwa Weda Samhita. Smrti (Dharma Sastra) , Itihasa, dan Purana adalah kitab-kitab Weda yang ditulis oleh para Rsi berdasarkan ingatannya, bersumber dan Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Smrti, Itihasa dan Purana berisikan-berbagai macam ajaran yang berhubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi beliau dan ciptaanNya, Ethika (sosial,budaya,ekonom i,politik dan pertahanan/keamanan) serta upacara (ritual) agama. Manusia adalah mahiuk hidup yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sebagai insan Tuhan, manusia memiliki beberapa kewajiban yang mesti dilaksanakan dalam kehidupan mi. Sudah menjadi kodratnya manusia untuk melaksanakan kewajiban hidupnya. Salah satu kewajiban hidup manusia yang harus dikerjakan adalah menegakkan kebenaran. Kebenaran yang utama adalah kebenaran yang ada pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kebenaran beliau dapat kita laksanakan dengan jalan memahami,menghayati,dan engamalkan ajaran agama. Mari kita dalami sastra-sastra agama, yang terkandung dalam kitab suci Weda Sruti maupun Smrti untuk dipergunakan didalam menuntun kehidupan kita sehari-hari,sehingga kita dapat meningkatkan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan Agama Hindu

76/76