Anda di halaman 1dari 39

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam dunia pendidikan saat ini, peningkatan kualitas pembelajaran baik dalam penguasaan materi maupun metode pembelajaran selalu diupayakan. Salah satu upaya yang dilakukan guru dalam peningkatan kualitas pembelajaran yaitu dalam penyusunan berbagai macam skenario kegiatan pembelajaran di kelas dengan menggunakan model pembelajaran yang di anggap sesuai. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu jenis lembaga pendidikan formal sebagai akibat dari perkembangan ilmu dan

teknologi. SMK bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menguasai keterampilan tertentu untuk memasuki lapangan kerja dan sekaligus memberikan bekal untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. SMK sebagai lembaga memiliki bidang keahlian yang berbeda-beda menyesuaikan dengan lapangan kerja yang ada dan memberikan bekal pada siswa berupa keterampilan agar profesional dalam bidang keahliannya masing-masing. Bidang keahlian yang ada di SMK diantaranya listrik kapal, teknik pendingin dan tata udara, teknik las kapal, gambar rancang bangun kapal, teknik interior kapal, teknik konstruksi kapal baja, teknik permesinan, teknik informatika, teknik instalasi permesinan kapal, dan teknik mekanik

otomotif serta masih banyak SMK lain yang membuka bidang keahlian yang berbeda dengan yang ada di atas. Kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan sistem pemindah tenaga (PCPT) pada siswa SMK mekanik otomotif sangatlah penting. Hal ini dikarenakan siswa dituntut untuk mempelajari sistem konstruksi chasis dan konstruksi sistem pemindah tenaga atau transmisi sebagai keseimbangan daripada kendaraan tersebut. Metode pembelajaran yang digunakan pada kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan sistem pemindah tenaga di SMK N 3 Buduran Sidoarjo masih menggunakan metode pembelajaran yang klasik (ceramah) dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan mempraktikkan dengan menggunakan media praktik. Dalam hal ini secara tidak langsung menekankan adanya kompetisi antar siswa satu dengan yang lain untuk memperoleh nilai yang lebih tinggi dari teman yang lain tanpa ada unsur saling bekerja sama. Model mengajar seperti ini kurang bisa memaksimalkan potensi siswa dalam belajar. Hal ini dikarenakan daya kreatifitas siswa tidak dapat tersalurkan. Guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas cenderung hanya sebagai sumber informasi dan mengharapkan siswa untuk menghafal, guru juga pada akhirnya hanya akan mengkotak-kotakkan siswa pada tingkatan pintar atau kurang pintar, yang berhak naik kelas atau tidak, sehingga dari pengkotakkan tersebut dapat memacu siswa untuk saling berkompetisi untuk mengalahkan temannya. hal ini menyebabkan minat siswa

terhadap

kompetensi tersebut berkurang, diduga akibat dari metode

pembelajaran yang digunakan kurang menarik minat siswa. Peningkatan belajar siswa tidak tergantung pada usia siswa, mata pelajaran, atau aktivitas belajar. Tugas-tugas belajar yang kompleks seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, dan pembelajaran konseptual meningkat secara nyata pada saat digunakan strategi-strategi kooperatif. Karakteristik ini cocok diterapkan pada kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan

sistem pemindah tenaga karena dalam kompetensi ini banyak terdapat tugas praktik yang kompleks yang dituntut untuk berpikir kritis. Siswa lebih memiliki kemungkinan mengunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi selama dan setelah praktik dalam kelompok kooperatif daripada bekerja secara individual atau kompetitif. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement and Development) adalah salah satu model pembelajaran yang menurut penulis cocok dengan karakter kompetensi kompetensi Perawatan dan Perbaikan Chasis dan Sistem Pemindah Tenaga. Model pembelajaran Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah model pembelajaran dengan

strategi kelompok belajar yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa yang heterogen dari kemampuan belajarnya, ada siswa yang kemampuan belajarnya tinggi, sedang maupun rendah. Dalam kelompok tersebut ada tanggungjawab bersama, jadi setiap anggota saling membantu untuk menutupi kekurangan temannya. Ada proses diskusi, saling bertukar pendapat, menghargai

pendapat, pembelajaran teman sebaya, kepemimpinan dalam mengatur pembelajaran di kelompoknya sehingga yang terjalin adalah hubungan positif. Menurut Arika Awal Hadi (2006) Hasil analisis menunjukan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada Kompetensi Perhitungan Dasar Teknik Mensin di SMK Brawijaya Mojokerto sangat baik. Untuk kemampuan pengajar dalam menyiapkan RPP dan skenario mencapai 76% (baik). Sedangkan kemampuan pengajar dalam penerapan RPP dan skenario dalam pembelajaran mencapai 77% (baik). Aktivitas selama pengajaran mencapai 77% (baik). Hasil belajar siswa mencapai 88% (sangat baik). Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, penulis melakukan penelitian tindakan kelas merasa perlu Model

mengenai Penerapan

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Kompetensi Perawatan dan Perbaikan-Chasis dan Sistem Pemindah Tenaga Siswa Kelas XI TKR SMK Negeri 3 Buduran.

B. Identifikasi Masalah Metode pembelajaran yang digunakan guru masih klasik, kompetensi Perawatan dan Perbaikan Chasis dan sistem Pemindah Tenaga kurang mendukung untuk metode pembelajaran ini. Karena kompetensi ini membutuhkan model pembelajaran yang aktif, berkelompok dalam tim dan aktif sehingga materi yang diterima siswa dapat merata. Kurang tertariknya siswa terhadap kompetensi Perawatan dan Perbaikan Chasis dan sistem Pemindah Tenaga. Oleh karena itu dapat

dilakukan penelitian tentang penggunaan model pembelajaran yang dapat meningkatkan ketertarikan siswa terhadap kompetensi ini. sehingga siswa akan lebih baik dalam menguasai materi pelajaran dan minat belajar meningkat. Aktivitas belajar siswa yang kurang optimal. Padahal aktivitas belajar siswa sangat berpengaruh di dalam penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu dapat dilakukan penelitian tentang penggunaan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa sehingga siswa akan lebih baik dalam menguasai materi pelajaran dan prestasi belajarnya pun meningkat.

C. Pembatasan Masalah Mengingat luasnya masalah, untuk itu peneliti melakukan batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Penelitian dilakukan pada siswa kelas XI TKR pada kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan sistem pemindah tenaga (PCPT). 2. Kemampuan siswa dianggap setara dan tidak dibedakan dalam kemampuan akademik. 3. Penelitian hanya dilakukan di SMK Negeri 3 Buduran Tahun Ajar 2011/2012. 4. Penelitian ini diterapkan pada kelas XI TKR semester 1 dengan jumlah siswa 32.

D. Rumusan Masalah Permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimanakah kemampuan guru dalam menyampaikan materi serta menerapkan RPP dan skenario pada siswa kelas XI TKR SMK Negeri 3 Buduran Tahun Ajar 2011/2012 2. Bagaimanakah respon siswa kelas XI TKR SMK Negeri 3 Buduran Tahun Ajar 2011/2012 terhadap model pembalajaran kooperatif tipe STAD? 3. Adakah perbedaan peningkatan aktivitas belajar pada siswa yang proses pembelajarannya menerapkan model pembelajaran Pembelajaran

kooperatif STAD dibanding yang menerapkan model klasik (ceramah), pada kompetensi Perawatan dan Perbaikan Chasis dan Sistem Pemindah Tenaga siswa? 4. Adakah perbedaan peningkatan hasil belajar pada siswa yang proses pembelajarannya menerapkan model pembelajaran Pembelajaran

kooperatif STAD dibanding yang menerapkan metode klasik (ceramah), pada kompetensi Perawatan dan Perbaikan Chasis dan Sistem Pemindah?

E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. Menjelaskan efektifitas model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan guru dalam menyampaikan materi serta

menerapkan RPP dan skenario pada kelas XI TKR semester 1 SMK Negeri 3 Buduran Tahun Ajar 2011/2012 2. Menjelaskan efektifitas model pembelajaran kooperatif STAD terhadap respon siswa. 3. Menjelaskan efektifitas model pembelajaran Pembelajaran kooperatif STAD dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa. 4. Menjelaskan efektifitas model pembelajaran Pembelajaran kooperatif STAD dalam meningkatkan hasil belajar pada siswa.

F. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini digunakan untuk menguji efektifitas model Pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai model pembelajaran kelompok yang dapat mempermudah siswa dalam menyerap pelajaran sehingga dapat

meningkatkan keaktifan belajar siswa dan peningkatan hasil belajar siswa. 2. Manfaat Praktis a. Bagi penulis 1) Mengaplikasikan teori yang diperoleh dari bangku kuliah terhadap kondisi langsung di SMK Negeri 3 Buduran Sidoarjo. 2) Sebagai pengalaman yang nyata sebagai penulis karya ilmiah dan menambah pengetahuan peneliti tentang hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

b. Bagi Sekolah 1) Meningkatkan aktivitas siswa selama proses pembelajaran terutama dalam kompetensi Perawatan dan Perbaikan Chasis dan Sistem Pemindah Tenaga. 2) Membantu guru dalam proses pembelajaran kompetensi

Perawatan dan Perbaikan Chasis dan Sistem Pemindah Tenaga. 3) Meningkatkan hasil belajar siswa. c. Bagi Siswa 1) Sebagai informasi untuk siswa tentang efektifitas belajar kelompok seperti dengan model pembelajaran STAD agar lebih mudah memahami materi dalam kompetensi Perawatan dan

Perbaikan Chasis dan Sistem Pemindah Tenaga. 2) Meningkatkan prestasi siswa dalam kompetensi Perawatan dan Perbaikan Chasis dan Sistem Pemindah Tenaga . d. Bagi lembaga 1) Sebagai referensi di perpustakaan 2) Sebagai masukan bagi mahasiswa dalam menentukan langkah yang akan diambil saat melakukan proses belajar mengajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

BAB II KAJIAN TEORI

A. Belajar Pengertian belajar maupun yang dirumuskan oleh para ahli antara satu dengan lainya terdapat perbedaan. Perbedaan ini disebabkan oleh latar belakang pendapat maupun teori yang dipegang, sehingga penerapanya dapat disesuaikan dengan situasi yang dihadapi. 1. Pengertian Belajar adalah aktivitas yang dilakukan siswa dalam memahami dan membuktikan teori-teori yang sudah ada maupun teori yang akan ditemukan. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Secara umum belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan sebagai hasil dari proses belajar dan dapat ditujukan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada dalam individu belajar. Seseorang disebut telah belajar jika pada dirinya ada perubahan perilaku, baik perilaku yang secara langsung dapat diukur atau tidak, perilaku yang terstruktur secara utuh atau tidak, bahkan perilaku yang bermakna atau tidak (http://www.ikipjember-kms.com/?p=45). Dalam

10

artikel tersebut menekankan seseorang telah belajar bila pada dirinya telah terjadi perubahan secara nyata dalam dirinya. Ada pula yang menganggap belajar adalah suatu kegiatan seseorang dalam mendapatkan suatu informasi, ada pula yang menganggap belajar adalah kegiatan dalam latihan membaca dan menulis. Untuk menghindari ketidak lengkapan persepsi-persepsi tersebut Pernyataan ini didasarkan pada teori-teori yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:18), belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Dimana dalam belajar melibatkan pikiran, sikap dan tindakan yang lengkap dalam diri siswa. Sasaran akhir dari proses mengajar adalah siswa belajar, oleh karena itu upaya apapun dapat dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab mengantarkan siswa menuju pencapaian tujuan. Jadi yang

terpenting dalam mengajar bukanlah upaya guru menyampaikan dan menyelesaikan materi tetapi bagaimana siswa dapat mempelajari materi sesuai dengan tujuan. Hal tersebut dapat diartikan bahwa upaya g uru merupakan serangkaian peristiwa yang dapat mempengaruhi siswa untuk belajar. Rangkaian peristiwa tersebut diperbuat guru dengan harapan dapat memberikan kemungkinan terjadinya proses belajar. Menurut Harold Spears dalam Sardiman (1986:20) Learning is to abserve, to read, to imitate, to try something themselves, ti listen, to

11

follow direction. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Menurut Gagne dalam Dimyati dan Mudjiono (2006:10) Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar merupakan kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai belajar menurut Gagne adalah kegiatan yang rum untuk it mempelajari sesuatu baik itu keterampilan, pengetahuan bahkan sebuah nilai dalam masyarakat dan hasilnya adalah kemampuan. Berdasarkan uraian di atas, aktivitas yang menonjol dalam pembelajaran terdapat pada siswa belajar. Namun, bukan berarti peran guru tersisihkan melainkan diubah. Guru bukan hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi bertindak sebagai pengarah dan pemberi fasilitas untuk terjadinya proses belajar. Selain itu, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi motivasi. Guru juga berperan mengelola kelas sebagai tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa), dalam hal ini guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator. 2. Pembelajaran Belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar indiv idu, proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai

12

pengalaman, proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu yang dipelajari. Sehingga menurut pengertian di atas pembelajaran cenderung mengarah kepada proses belajar yaitu membimbing siswa untuk menguasai teknik belajar serta mampu berinterakasi dengan guru, sesama murid di dalam kelas dan lingkungan belajar mereka, sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. 3. Hasil Belajar Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 251) hasil belajar dapat dipandang dari dua sisi, dari sisi siswa yaitu belajar merupakan tingkat perkembangan mental ynag lebih baik bila dibandingkan dengan saat sebelum belajar. Sedang dari sisi guru hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran. Dari pengertian di atas, maka secara umum hasil belajar dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu, efektifitas pembelajaran yang diukur dengan tingkat keberhasilan seorang siswa, efisiensi pembelajaran yang diukur dengan waktu atau lamanya pembelajaran dan daya tarik pembelajaran yang dari keinginan siswa untuk selalu mengikuti pembelajaran kooperatif tipe STAD tersebut. Tingkat keberhasilan seorang siswa dalam mempelajari mata pelajaran Kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan sistem pemindah tenaga diukur dalam bentuk skor atau nilai yang diperoleh dari hasil tes. Nilai ini yang nantinya dapat digunakan untuk menilai hasil proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.

13

B. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Sistem pembelajaran gotong royong atau merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok. Menurut Slavin (2008:4) pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaan di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu metode pembelajaran kelompok dengan tujuan memahami pelajaran dengan cara saling membantu dan melengkapi. Melalui pembelajaran kooperatif siswa dibagi dalam kelompokkelompok kecil kemudian diberikan tugas agar bisa menampakan keragaman anggota kelomponya baik kemampuan akademik, usia, latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya. Sehingga dengan keragaman tersebut diharapkan terjadi saling tolong-menolong di antara siswa dalam menghadapi suatu permasalahan. Sebagai contoh seorang siswa yang memiliki kemampuan

14

akademik di bawah rata-rata akan terbantu dengan penjelasan anggota kelompoknya yang memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata. Pada dasarnya pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan yaitu hasil belajar akademik, penerimaan dalam keragaman dan pengembangan keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif akan membantu siswa yang berbeda latar belakang dengan saling melengkapi kekurangan dalam pembelajaran dan terkondisikan untk terbiasa bekerjasama antara anggota kelompok sampai pada pemberian penghargaan degnan adanya interaksi antara anggota kelompok. Teknik pembelajaran kooperatif relatif unggul dalam meningkatkan hasil belajar dan memecahkan persoalan yang lebih rumit, dibandingkan dengan pengalaman belajar secara individual atau kompetitif. Model pembelajaran ini cocok untuk mengajarkan mata pelajaran yang memerlukan adanya diskusi seperti, menggambar dasar, matematika, praktikum mesin dan sebagainya, namun sering membuat sifat kemandirian berkurang. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang

menempatkan para siswa dalam kelompok-kelompok kecil 4 sampai 5 anggota kelompok. Dalam kelompok belajar setiap siswa diharapkan akan bekerja sama dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru sehingga pemahanan materi setiap siswa lebih maksimal. Siswa yang pemahamanny a kurang akan terbantu oleh siswa yang mempunyai pemahaman lebih dengan adanya interaksi dalam kelompok.

15

Dalam pembelajaran kooperatif ada enam langkah atau tahapan yang pelaksanaanya bervariasi tergantung pada pendekatan atau model yang digunakan. Enam langkah dalam pembelajaran kooperatif sesuai pada tabel dibawah ini: Tabel 1. Enam Langkah Dalam Pembelajaran Kooperatif Tindakan Guru

Fase Fase 1

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang Menyampaikan tujuan dan ingin dicapai dan memotivasi untuk belajar. memotivasi siswa Fase 2 Menyampaikan informasi Fase 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Fase 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil belajar. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana membentuk kelompok-kelompok belajar dan membantu kelompok melakukan transisi secara efisien. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.

16

Fase Fase 6 Memberikan penghargaan (Ibrahim, 2000:10)

Tindakan Guru Guru mencari cara-cara menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe yang dapat digunakan dalam kondisi dan karakteristik siswa. Menurut Slavin (2008:10), semua metode pembelajaran kooperatif menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerja sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap teman satu timnya mampu membuat diri mereka belajar sama baiknya. Beberapa model pembelajaran dibuat untuk memudahkan siswa melaksanakan proses belajar yang disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik siswa. Pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat dapat berakibat terhambatnya proses pembelajaran dengan menurunnya minat dan hasil belajar siswa. Metode Student Team Learning (Pembelajaran Tim Siswa) adalah teknik pembelajaran yang dikembangkan oleh John Hopkins University. Model pembelajaran kooperatif termasuk didalamnya diantaranya adalah: 1. Student Team Achievement Division (STAD) Cara belajar dalam kelompok kecil, para siswa dibagi dalam kelompok belajar yang terdiri atas empat sampai enam orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Pembentukan kelompok didasrkan pada hasil pre test. Bentuk pre test diusahakan pilihan ganda dan jumlah soal disarankan jangan

17

terlalu banyak, namun jangan sampai kurang dari 5 soal. Pembagian kemampuan setiap kelompok berbeda-beda, tetapi kemampuan antar kelompok diusahakan merata. Langkah pertama guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam kelompok telah menguasai pelajaran. Selanjutnya, semua siswa mengerjakan kuis mengenai materi secara sendiri-sendiri, dimana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk saling bantu. Gagasan utama dari STAD adalah untuk memotivasi siswa supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Tiap siswa harus tahu materinya. Tanggung jawab individual seperti ini memotivasi siswa untuk memberi penjelasan dengan baik satu sama lain, karena satu-satunya cara bagi kelompok untuk berhasil adalah dengan membuat semua anggota kelompok menguasai informasi atau kemampuan yang diajarkan. Pada pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa belajar dan membentuk sendiri pengetahuannya berdasarkan pengalaman dan kerjasama setiap siswa dalam kelompoknya untuk menyelesaikan tugas yang telah diberikan kepada mereka, pada pembelajaran ini siswa dilatih untuk bekerjasama dan bertanggung jawab terhadap tugas mereka sedangkan guru pada metode pembelajaran ini berfungsi sebagai fasilitator yang mengatur dan mengawasi jalannya proses belajar. Guru yang menggunakan STAD juga mengacu pada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Secara individu,

18

setiap minggu atau dua minggu siswa diberi kuis. Dalam STAD, diskusi kelompok merupakan komponen kegiatan penting, karena sangat berperan dalam aktualisasi kelompok secara sinergis untuk mencapai hasil yang terbaik dan dalam pembimbingan antara anggota kelompok sehingga seluruh anggota sebagai satu kesatuan dapat mencapai yang terbaik. Pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur interaksi sosial pada pembelajaran Kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan sistem pemindah tenaga. Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok kecil saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, kelamin dan suku. 2. Teams Games Tournament (TGT) Metode ini menggunakan pelajaran-pelajaran yang sama seperti dalam STAD, tetapi menggantikan kuis dengan turnamen mingguan, dimana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan point bagi skor timnya. Siswa memainkan game ini bersama tiga orang pada meja turnamen, dimana ketiga peserta dalam satu meja turnamen ini adalah para siswa yang memiliki rekor nilai yang sama. Sebuah prosedur menggeser kedudukan membuat permainan ini cukup adil. Peraih rekor tertinggi dalam setiap meja-meja turnamen akan mendapat 60 poin untuk timnya, tanpa menghiraukan dari meja mana ia

19

mendapatkannya. Ini berarti bahwa mereka yang berprestasi rendah (bermain dengan prestasi rendah juga) dan yang berprestasi tinggi (bermain dengan yang berprestasi tinggi) keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. TGT memliki banyak kesamaan dinamika dengan STAD, menambah dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. 3. Jigsaw II Dalam teknik ini, siswa bekerja dalam anggota kelompok yang sama, yaitu empat orang, dengan latar belakang yang berbeda seperti dalam STAD dan TGT. Para siswa ditugaskan untuk membeaca bab, buku kecil, atau materi, biasanya bidang studi sosial, biografi, atau materi-materi yang bersifat penjelasan terperinci lainnya. Tiap anggota kelompok ditugaskan secara acak untuk menjadi ahli dalam aspek tertentu dari tugas membaca tersebut. Setelah membaca materinya, para ahli dari tim yang berbeda bertema untuk mendiskusikan topik yang sedang mereka bahas, lalu mereka kembali pada kelompoknya untuk mengajarkan topik mereka itu kepada teman satu kelompoknya. 4. Team Assisted Indivialization. Dalam TAI para siswa memasuki sekuen individual berdasarkan tes penempatan dan kemudian melanjutkannya dengan tingkat

kemampuan mereka sendiri. Secara umum, anggota kelompok bekerja pada unit yang berbeda. Teman satu tim saling memeriksa hasil kerja masing-masing menggunakan lembar jawaban dan saling membantu

20

menyelesaikan bebagai masalah. Karena siswa bertanggung jawab untuk saling mengecek satu sama lain dan mengelola materi yang disampaikan guru dapat menghabiskan waktu di dalam kelas penyampaian pelajaran kepada kelompok kecil siswa yang terdiri dari beberapa tim yang belajar pada tingkat yang sama dalam sekuen. TAI memiliki berbagai dinamika motivasi dari STAD dan TGT, para siswa saling mendukung dan saling membantu satu sama lain untuk berusaha keras karena mereka semua menginginkan tim mereka berhasil. 5. Cooperative Intergrated Reading and Composition (CIRC) Dalam CIRC, guru menggunakan novel atau bahan bacaan yang berisi latihan soal dan cerita. Para siswa ditugaskan untuk berpasangan dalam tim mereka untuk belajar dalma serangkaian kegiatan yang bersifat kognitif, termasuk membaca cerita satu sama lain, membuat prediksi mengenai bagaimana akhir dari sebuah cerita naratif, saling merangkum cerita satu sama lain, menulis tanggapan terhadap cerita, dan melatih pengucapan, penerimaan dan kosa kata. Para siswa tidak mengerjakan kuis sampai teman satu timnya menyatakan bahwa mereka sudah siap. Karena siswa belajar dengan materi yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, maka mereka punya kesempatan yang sama utnuk sukses. Peneliti ingin menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan sistem pemindah tenaga di SMK Negeri 3 Buduran Sidoarjo. Dengan pembelajaran ini

21

diharapkan hasil belajar siswa semakin baik, siswa lebih aktif dalam belajar, dan respon siswa dalam mengikuti pelajaran.

C. Penelitian Yang Relevan Dalam peneletian yang telah dilakukan oleh Nur Hasanah (2010) pada mata pelajaran pemahaman proklamasi Indonesia mata pelajaran IPS siswa kelas V SD Negeri 01 Pereng Karanganyar tahun ajar 2009/2010 menyebutkan hal tersebut ditunjukkan dengan nilai rerata hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada kondisi awal 51%, siklus I sebesar 69.50% dan pada siklus II sebesar 88.50%. Rerata pemahaman peristiwa Proklamasi Indonesia pada kondisi awal 51% siswa tuntas belajar dengan nilai rata-rata 61,71. Pada siklus I, rerata pemahaman peristiwa Proklamasi Indonesia adalah 69,50% siswa tuntas belajar dengan nilai rata-rata pertemuan pertama sebesar 68,94, sedangkan pertemuan ke-dua dengan nilai rata-rata 74,57. Dan siklus II rerata pemahaman peristiwa Proklamasi Indonesia sebesar 88,50% siswa tuntas belajar dengan nilai rata-rata pada pertemuan pertama sebesar 78,28% sedangkan nilai rata-rata pada pertemuan ke-dua sebesar 81,22%. Penelitian yang dilakukan oleh Septina Mardhiani (2010) dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar kelarutan dan hasil kali

kelarutan pada siswa kelas XI semester genap SMA Muhammadiyah 1 Surakarta tahun ajar 2009/2010 Hal ini dapat dilihat dari aspek minat siswa dalam belajar kimia pada kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2. Pada kondisi awal, siswa yang memiliki minat belajar kimia sangat tinggi sebesar 31,03

22

%, kemudian meningkat menjadi 40 % pada siklus 1 dan pada siklus 2 sebesar 41,94 %. Metode pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division) dilengkapi laboratorium Virtual dan LKS (Lembar Kerja Siswa) dapat meningkatan kualitas hasil belajar kimia materi pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes kognitif siklus 1 dan siklus 2. Pada siklus 1 ketuntasan belajar siswa sebesar 60% yang kemudian meningkat menjadi 77,4% pada siklus 2. Dilihat dari aspek rasa ingin tahu siswa, pada siklus 1 siswa dengan rasa ingin tahu sangat tinggi sebesar 36,67%, kemudian meningkat pada siklus 2 sebesar 38,71 %. Penelitian yang dilakukan oleh Ihwan (2010) dalam meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran menggunakan alat ukur di SMKN 6 Bandung kelas XTPM 3 tahun ajar 2009/2010. Peningkatan prestasi siswa tergambar dalam data prosentase kelulusan siswa berdasarkan pencapaian nilai KKM yaitu 58%, 72%, dan 89% masing-masing pada siklus I, II dan III. Prosentase aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan 49%,78% dan 89% pada siklus I,II dan III. Pada penelitian yang dilakukan oleh Setianingtias (2007) dalam pembelajaran matematika pokok bahasan segiempat siswa kelas VII semester 2 SMP Negeri 1 Slawi tahun ajar 2006/2007. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD oleh guru pada pembelajaran I sampai dengan III masing-masing 70,83%, 79,17%, dan 85,42%. Sedangkan aktivitas siswa pada pembelajaran I sampai dengan III masing-masing 60%, 75%, dan 87,5%.

23

D. Kerangka Pikir Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Karena dengna pendidikan manusia dapat memperoleh ketrampilan dan ilmu pengetahuan sebagai bekal hidup dimasa depan. Untuk memperoleh ketrampilan dan ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya yaitu melalui pembelajaran, dimana pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditunjuk untuk membelajarkan siswa. Keberhasilan proses pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajarnya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal diperlukan berbagai faktor yang mendukung. Diantaranya kurikulum, metode belajar, serta sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Proses belajar mengajar merupakan peran penting dalam pencapaian hasil belajar. Guru mempunyai tugas utama dalam penerapan pembelajaran, karena pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan untuk membelajarkan siswa, salah satu cara yang dapat dilakukan guru adalah dengan menggunakan metode belajar yang tepat. Yaitu metode belajar yang terdapat

membangkitkan minat siswa pada pelajaran dan pemahaman siswa pada kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan sistem pemindah tenaga. Dengan metode belajar yang tepat dalam proses kegiatan belajar mengajar, maka keberhasilan dalam belajar dapat tercapai. Dengan dasar ini peneliti ingin meningkatkan hasil belajar dengan cara menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD di SMK Negeri 3 Buduran Sidoarjo pada kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan

24

sistem pemindah tenaga peneliti memperkirakan hasil belajar dengan metode STAD akan lebih baik dibandingkan dengan metode klasik dan terdapat peningkatan hasil belajar yang lebih baik siswa yang menggunakan media pembelajaran STAD dibandingkan yang menggunakan media pembelajaran klasik (ceramah).

E. Hipotesis Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka analisis data yang akan digunakan yaitu Uji T satu pihak (pihak kanan). Sebelum dilakukan Uji T, maka data pree test harus memenuhi persyaratan yaitu populasi harus berdistribusi normal. Hipotesis awal dirumuskan sebagai berikut:

H0 : Q1 = Q 2
Q2 < Q1

vs

H1 : Q2 > Q1

Keterangan : H0 = Hipotesis nol (null Hypothesis) yang menyatakan tidak ada perbedaan hasil belajar yang lebih baik (peningkatan) siswa yang menggunakan metode pembelajaran STAD dibandingkan yang menggunakan metode pembelajaran klasik. H1 = Hipotesis tandingan H0 yang menyatakan ada perbedaan hasil belajar yang lebih baik (peningkatan) siswa yang metode pembelajaran STAD dibandingkan yang menggunakan metode pembelajaran klasik.

Q1 = hasil belajar siswa menggunakan metode klasik (ceramah)

25

Q2 = hasil belajar siswa menggunakan metode STAD


Dengan kesimpulan uji Hipotesis dengan Uji T adalah: H0 ditolak jika thitung

> t (1-0,5E) ; n-1

t hitung =

_ _ Q1 Q 2 s/ _ _2 ( Q2 Q1) n1

s=

keterangan __ Q1 = nilai siswa rata-rata siswa menggunakan metode klasik


_

Q2 = nilai rata-rata siswa setelah menggunakan metode belajar STAD


s = simpangan baku n = jumlah siswa

26

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian di SMK N 3 Buduran Sidoarjo kelas XI TKR dan waktu penelitian dilaksanakan pada semester 1 tahun ajaran 2011/2012

B. Rancangan Penelitian Pelaksanaan penelitian dilakukan mengikuti prosedur penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Menurut Elliot 1982 dalam Sanjaya, (2009:25), penelitian tindakan adalah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan melalui proses diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan mempelajari pengaruh yang ditimbulkan. Peneliti memilih PTK ini dengan maksud untuk menguatkan data yang akan diambil dalam penelitian. Dikarenakana penelitian mengukur beberapa komponen fariabel. Pertama kemampuan guru dalam mengelola kelas, kedua aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran, ketiga respon siswa terhadap pembelajaran dan ke empat hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa putaran dengan empat tahap setiap putarannya. Dilihat dari siklus PTK rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

27

Rencana Refleksi

Siklus 1

Tindakan

Rencana Refleksi

Siklus 2

Tindakan

Hasil

Dan seterusnya bila diperlukan Gambar 1. Siklus penelitian tindakan kelas

Sebelum proses pelaksanaan PTK dilakukan diperlukan Tahap-tahap dalam pelaksanaanya. 1. Menyusun rancangan penelitian tindakan kelas . Melalui perancangan yang matang, peneliti dapat memfokuskan masalah yang lebih akurant. Melakukan identifikasi masalah tentang halhal yang dapat memepengaruhi proses pembelajaran didalam kelas. 2. Menentukan tindakan yang harus dilakukan.

28

Melalui rancangan yang matang pada akhirnya peneliti dapat menentukan alternative tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan berbagai kemungkinan yang ada. 3. Memprediksi hal-hal yagg mungkin terjadi. Mengantisipasi lebih dini apabila menemukan masalah-masalah yang mungkin timbul selama penelitian. Dengan bantuan guru yang telah mengetaui karakteristik siswa yang memudahkan pengambilan tindakan dan menanggulangi masalah apabila mucul. 4. Menyusun dan menyiapkan instrument dan alat pengumpulan data. Dalam PTK khususnya selama tindakan berlangsung, keberadaan instrument sangant diperlukan untuk memantau pelaksanaan tindakan berlangsung, sehingga hasil dapat dijadikan sebagai umpan balik dan informasi berharga dalam kegiatan refleksi. Setelah perencanaan proses penelitian tindakan kelas disusun baru melakukan siklus a. Tahap 1 perencanaan tindakan. 1) Menyiapkan silabus kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan sistem pemindah tenaga 2) Menyiapkan RPP 3) Menyiapkan bahan ajar yang dipakai dalam proses belajar mengajar 4) Menyiapkan soal pre test untuk mengetaui kemampuan siswa

29

b.

Tahap 2 melaksanakan tindakan. 1) Menyampaikan tujuan pembelajaran dan membei motifiasi 2) Membagi kelompok yang tiap kelompok anggotanya mempunyai kemampuan berbeda-beda (4-5 siswa) 3) Memberikan materi untuk diskusi kelompok 4) Memberi tugas kelompok 5) Presentasi hasil diskusi kelompok

c.

Tahap 3 pengamatan Pengamatan dilakukan oleh peneliti dan pembatu peneliti. Hal yang diamati adalah: 1) Mengamati kemampuan pengajar dalam menyiapkan serta menerapkan RPP dan skenario dalam pembelajaran 2) Mengamati aktivitas siswa pada saat pembelajaran berlangsung 3) Mengamati respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe STAD 4) Mengetahuai hasil belajar setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD

d.

Tahap 4 refleksi Refleksi dilakukan utnuk mengetahui proses belajar mengajar yang telah diterapkan. Dari refleksi diungkapkan kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran kooperatif tipe STAD. Setelah penyusunan perbaikan untuk siklus 1 selesai diilakukan siklus 2 jika

30

dalam siklus 2 berhasil yang diinginkan belum baik dilakukan siklus berikutnya hingga yang diperoleh baik.

C. Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah siswa SMK N 3 Buduran Sidoarjo tahun ajar 2011/2012 yang telah memperoleh kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan sistem pemindah tenaga. Mengingat keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya, yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI TKR dengan jumlah 32 siswa.

D. Instrumen Untuk memperoleh data yang valid, tepat dan dapat dipercaya diperlukan teknik atau metode untuk mengumpulkan data penelitian. Adapun yang peneliti gunakan dalam mengumpulkan data adalah sebagai berikut. 1. Metode observasi. Lembar observasi digunakan untuk mengamati dan mengetahui aktivitas guru, aktivitas siswa selema proses pembelajaran. Segala hal yang didapat dalam observasi kelas dalam lembar pengamatan. 2. Metode angket. Metode angket ini digunakan untuk mengetahi atifitas siswa selama proses pembelajaran dan respon siswa selama proses pembelajaran kooperatif tipe STAD berlangsung. Sebelum angket digunakan akan

31

dikonsultasikan terlebih dahulu kepada ahlinya. Adapun kisi-kisi angket yang digunakan dalam penelitian ini sebagia berikut.

Tabel 2. Kisi-Kisi Penyusunan Lembar Pengamatan Terhadap Kemampuan Pengajar Menyiapkan RPP Dan Skenario. No Aspek Indikator No. Item 1. Ada topik, pokok 1. y Menetapkan pokok bahasan, KD, organisasi materi, media, dan scenario pembelajaran
y y y

Menetapkan kompetensi dasar Menetapkan kegiatan belajar mengajar Menggunakan media dan sumber belajar 4. 3. 2.

2.

Pengorganisasian kegiatan

y y y y

Menetapkan ragam kegiatan Menyusun skenario kegiatan Kesesuaian alokasi waktu Melakukan pembimbingan belajar

5. 6. 7. 8.

3.

Merencanakan penilaian

Menentukan aspek-aspek yang dinilai

9.

4.

Tampilan RPP

y y

Keruntunan dan ketrampilan Kejelasan bahasa (komunikasi)

10.

11. Diadop dari APKG model pengembangan pendidikan guru (p3g)

32

Sedangkang kisi-kisi untuk pengamatan terhadap kemampuan pengajar menerapkan RPP dan scenario dalam proses pembelajaran disajikan pada table 3 dibawah ini. Table 3. Kisi-Kisi Penyusunan Lembar Pengamatan Terhadap Kemampuan Pengajar Menerapkan Rpp Dan Skenario Dalam Prose Pembelajaran No 1. Aspek Mengelola pembelajaran Deskripsi
y Menyiapkan fasilitas dan

Indikator
y Fasilitas dan sumber

No Item 1

sumber belajar
y Melaksanakan tugas

belajar sesua yang ditampilkan


y Tugas dapat

dilaksanakan secara terencana dan sesuai jadwal 2. Melaksanaka n perbaikan pembelajaran


y Memulai pembelajaran y Menggunakan alat bantu y Urutan penyajian y Melaksanakan perbaikan y Pembelajaran dimulai

sesuai dengan tujuan


y Alat bantu yang

dipakai sesuai dengan tujuan


y Penyajian dilakukan

pembelajaran
y Mengelola waktu

secara rumit
y Perbaikan dilakukan

secara klasikal, kelompok atau

33

No

Aspek

Deskripsi

Indikator individu
y Waktu pembelajaran

No Item

dilakukan secara efisien 3. Mengelola interaksi kelas


y Menjelaskan y Menangani pertanyaan y Penjelasan yang

diberikan sesuai isi pembelajaran


y Jawaban pertanyaan

y Menggunakan ekspresi

sesuai yang diinginkan mahasiswa


y Ekspresi ditunjukan

10

y Motifasi

dalam bentuk tulisan, lesan, atau isyarat


y Mendorong

11

keterlibatan siswa dalam setiap kegiatan 4 Bersikap positif


y Menyenangkan y Bersikap ramah y Sikap yang

12

ditunjukkan luwes, terbuka, penuh pengertian


y Penampilan mengajar y membantu

13

menggairahkan

34

No

Aspek

Deskripsi

Indikator
y Menyadari kelebihan

No Item 14

dan kekurangan siswa 5 Demonstrasi


y Peragaan kemampuan y Menunjukan

15

kemampuan penguasaan materi


y Mengembangkan

kuliah
y Kemampuan

kemampuan mahasiswa

16

berkomunikasi dan bernalar

Lembar pengamatan aktivitas siswa digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa di dalam kelas selama proses pembelajaran kooperatif tipe STAD berlangsung. Dalam penelitian ini kegiatan siswa yang diamati adalah sebagai berikut. Table 4. Kisi-Kisi Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa No 1 Aspek Yang Diamati Bersemangat dalam mengikuti pelajaran Mendengarkan dan merespon penejelasan 2 pengajaran 3 4 Membaca materi ajar dan menulis Aktif bertanya atau menanggapi setiap pertanyaan 1 Penilaian 2 3 4 5

35

No 5 6 7 8

Aspek Yang Diamati Mengerjakan tugas secara individu dan kelompok Mengerjakan tes yang diberikan oleh guru Mengemukakan pendapat atau ide Mempresentasikan hasil diskusi kelompok

Penilaian 2 3 4

Keterangan: 1. Buruk sekali 2. Buruk 3. Cukup baik 4. Baik 5. Sangat baik Lembar Respon Siswa digunakan untuk mengetaui respon siswa terhadap proses pembelajaran pada kompetensi perawatan dan perbaikan chasis dan sistem pemindah tenaga menggunakan model pembelajaran tipe STAD lembar ini disusun oleh peneliti sebagai berikut. Tabel 5 Kisi-Kisi penyusunan Angket Respon Siswa Terhadap Pembelajaran No Pola jawaban No Aspek Deskripsi Indikator Perny. Ss S Rs Kr Ts 1 y Tanggapan y Dalam 1 - - y Perilaku pembelajar an positif
y Perilaku

negatif

36

No

Aspek

Deskripsi
y Intristik

Indikator
y Kemauan

No Perny. 1

Ss -

Pola jawaban S Rs Kr Ts -

2 y Minat

sendiri
y Pengaruh

lingkungan 3 y Motifasi
y Dorongan y Rasa ingin

tahu
y Semangat

4 y Aktivitas

y Melakukan y Mengerjakan y Menyimak y Bertanya y Berdiskusi y Mengerjakan

1 1 1 1 1 1 1 1

5 y Disiplin

y Taat waktu y Di rumah y Di sekolah

6 y T. Jawab

y Percaya diri y Tidak

menyerah
y Menyarahkan

hasil

37

Keterangan Ss S Rs Kr Ts = sangat setuju = setuju = ragu-ragu = kurang setuju = tidak setuju

3. Metode tes Metode tes dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mencari atau mengumpulkan data tentang prestasi hasil belajar siswa. Tes yang digunakan meliputi tes formatif tiap siklus. Tes formatif meliputi seluruh materi yang diajarkan selama proses penelitian. Tes formatif ini diberikan setelah kegiatan pembelajaran selesai.

E. Teknik analisis data 1. Pengamatan terhadap kemampuan guru Lembar observasi pengamatan terhadap kemampuan guru

menyiapkan RPP dan skenario pembelajaran, setiap aspek diamati dinilai dengan menggunakan alat penilaian kemampuan guru (APKG)1 dan (APKG)2 2. Lembar observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran Analisis ini digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, data yang ada dianalisis dengan menggunakan presentase sebagai berikut.

38

Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3 Nilai 4 Nilai 5

: buruk sekali : buruk : cukup baik : baik : sangat baik

3. Lembar angket respon siswa Analisis ini digunakan utnuk mengetahui respon siswa, maka data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan maneggunakan rumus sebagai berikut: F K= NXIXR X 100 %

Keterangan K F N I R = Prosentase criteria = Jumlah keseluruhan jawaban responden = Skor tertinggi dalam angket = Jumlah pertanyaan dalam angket = Jumlah penilaian (Riduan, 2008:13) 4. Analisis data Hasil Belajar Data hasil tes belajar siswa dianalisis terkait dengan tingkat ketuntasan belajar yang disetandarkan. Dalam hal ini ketuntasan belajar siswa (individual) dihitung dengan persamaan:

39

T KB = Tt Keterangan Kb T Tt = ketuntasan belajar = Jumlah skor yang diperoleh siswa = jumlah skor total (Trianto: 2008) Menurut pedoman di SMK Negeri 3 Buduran Sidoarjo dijelaskan bahwa siswa dikatakan tuntas belajar jika siswa dapat menjawab soal dari test dengan skor > 75 sedangkan ketuntasan klasikal diperoleh jika dalam suatu kelas tersebut ada > 80% siswa dalam kelas tersebut tuntas belajar. X 100 %