Anda di halaman 1dari 3

ETIKA KEILMUAN Ilmu merupakan suatu cara berpikir tentang sesuatu objek yang khas dengan pendekatan tertentu

sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan ilmiah. Ilmiah dalam arti sistem dan struktur ilmu dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Suatu keharusan bagi ilmuwan memiliki moral dan akhlak untuk membuat pengetahuan ilmiah menjadi pengetahuan yang didalamnya memiliki karakteristik kritis, rasional, logis, objektif, dan terbuka. Disamping itu, pengetahuan yang sudah dibangun harus memberikan kegunaan bagi kehidupan manusia, menjadi penyelamat manusia, serta senantiasa menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Di sinilah letak tanggung jawab ilmuwan untuk memiliki sikap ilmiah. Para ilmuwan sebagai profesional di bidang keilmuan tentu perlu memiliki visi moral, yang dalam filsafat ilmu disebut sebagai sikap ilmiah, yaitu suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang bersifat objektif, yang bebas dari prasangka pribadi, dapat dipertanggungjawabkan secara sosial dan kepada Tuhan. Adapun sikap ilmiah yang perlu dimiliki oleh para ilmuwan sedikitnya ada enam, yaitu: 1. Tidak ada rasa pamrih (disinterstedness), merupakan sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif dan menghilangkan pamrih. 2. Bersikap selektif, yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan mampu mengadakan pemilihan terhadap segala sesuatu yang dihadapi. 3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat indera serta budi (mind). 4. Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan (belief) dan dengan merasa pasti (conviction) bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian. 5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukan, sehingga selalu ada dorongan untuk riset. Dan riset atau penelitian merupakan aktifitas yang menonjol dalam hidupnya. 6. Memiliki sikap etis (akhlak) yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu bagi kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia. Secara terminologi, etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik dan buruk. Yang dapat dinilai baik dan buruk adalah sikap manusia yang menyangkut perbuatan, tingkah laku, gerakan, kata dan sebagainya. Dalam etika ada yang disebut etika normatif, yaitu suatu pandangan yang memberikan penilaian baik dan buruk, yang harus dikerjakan dan yang tidak. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etika sebagai pertimbangan dan yang mempunyai pengaruh pada proses perkembangannya lebih lanjut. Tanggung jawab etika menyangkut pada kegiatan dan penggunaan ilmu. Dalam hal ini pengembangan ilmu pengetahuan harus memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, keseimbangan ekosistem, bersifat universal dan sebagainya, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia dan bukan untuk menghancurkannya. Penemuan baru dalam ilmu pengetahuan dapat mengubah suatu aturan alam maupun manusia. Hal ini menuntut tanggung jawab etika untuk selalu menjaga agar yang diwujudkan tersebut merupakan hasil yang terbaik bagi perkembangan ilmu dan juga eksistensi manusia secara utuh.

Diterbitkan di: Januari 23, 2009 Diperbarui: Oktober 05, 2010 Lebih lanjut tentang: Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia
A. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan 1. Pengertian a. Filsafat (philosophy) Secara Etimologi (istilah) : Cinta Kebijaksanaan atau love of wisdom (dalam arti yang sedalamdalamnya) Secara Terminologi (definisi dari filsuf dan ahli filsafat) : 1) Pengetahuan yang mencoba untuk mencari pengetahuan tentang kebenaran yang asli (Plato); 2) Ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran ynag di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politikdan estetika (Aristoteles); 3) Filsafat sebagai Grunwissenschat (Ilmu dasar yang menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya) (Paul Nartorp); 4) Filsafat adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan (Imanuel Kant) b. Ilmu Pengetahuan (science) Ilmu yang bersifat kuantitatif dan obyektif karena merupakan hasil dari proses berpikir dengan menggunakan akal secara rasional Semua pengetahuan yang dihimpun dengan perantara metode ilmiah (John G. Kemeny) Ilmu adalah proses yang membuat pengetahuan (Charles Singer) Metode untuk memperoleh pengetahuan yang obyektif dan dapat diperiksa kebenarannya ( Prof. Harold H. Titus) 2. Ruang Lingkup dan Objek a. Filsafat Ruang Lingkup : Segala sesuatu yang ingin diketahui manusia Objek Formal/ Sudut Pandang : Bersifat non-fragmentaris karena filsafat mencari pengertian realita secara luas dan mendalam serta mengkonstatir prinsip-prinsip kebenaran dan ketidakbenaran Objek Material/ Lapangan : Segala sesuatu yang dipermasalahkan oleh filsafat yang ada dalam semesta, yang ada dan yang mungkin ada b. Ilmu Pengetahuan Ruang Lingkup : Pengkajian yang berada dalam lingkup pengalaman manusia dengan metode untuk menyusun kebenaran secara empiris Objek Formal : Mencari kebenaran yang bersifat netral, tidak mengenal hitam dan putih dan tanpa berpihak pada siapapun kecuali kebenaran Objek Material : Jelas. Sehingga metode yang digunakan jeas dan tidak banyak mengalami ketimpangan B. Relevansi serta Kegunaan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Keheranan, kesangsian dan kesadaran akan keterbatasan mendorong manusia untuk berpikir. Dalam proses berfikir, manusia melalui tiga jenis abstraksi ( Menjauhkan diri , Mengambil dari ) yang menghasilkan jenis-jenis pengetahuan: pengetahuan fisis, matematis dan teologis. Ketiga jenis abstraksi berguna untuk menerangkan hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Tahap-tahap Abstraksi: 1. Fisika : Berfikir untuk mengamati sesuatu. Ketika pengindraan mengamati suatu materi yang dapat dirasakan, akal akan menghasilkan pengetahuan yang disebut fisika

2. Matesis : Menghitung dan mengukur materi yang kita amati kemudian menghasilkan pengetahuaan yang disebut matesis (matematika) 3. Teologi : Tahap berpikir setelah pengamatan (fisika) dan perhitungan (matesis) Relevansi filsafat dan ilmu pengetahuan adalah : Filsafat Pemikiran atau intuitif Pembuktian atau empirisme Ilmu Pengetahuan Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan- persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu. Perspektif filsafat ilmu bagi dan dalam ilmu pengetahuan adalah mengembangkan pengertian tentang strategi dan taktik ilmu pengetahuan alam. Rantai tersebut sebelum tahun 1600, menghubungkan filsafat disatu pangkal dan ilmu pengetahuan alam di ujung lain secara berkesinambungan. Sesudah tahun 1600, rantai itu putus. Ilmu pengetahuan alam memisahkan diri dari filsafat. Ilmu pengetahuan alam menempuh jalan praktis dalam menurunkan hukum-hukumnya. Menurut Frank, fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah menjembatani putusnya rantai tersebut dan menunjukkan bagaimana seseorang beranjak dari pandangan common sense (pra-pengetahuan) ke prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam. Filsafat ilmu pengetahuan alam bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan pandangan dunia yang di dalamnya ilmu pengetahuan alam, filsafat dan kemanusian mempunyai hubungan erat. Filsafat ilmu merupakan landasan pengembangan ilmu khususnya ilmu pengetahuan alam karena kenyataanya, filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan alam