Anda di halaman 1dari 19

Kategori A Intervensi Komunitas untuk Menghentikan Perilaku Merokok Remaja Jusuf Tjahjo Purnomo Fakultas Psikologi Universitas Kristen

Satya Wacana jusuf267@gmail.com Abstrak Tidak perlu diragukan bahwa perilaku merokok memiliki resiko besar terkait kesehatan. Berhenti merokok pada usia yang lebih muda akan berdampak besar dalam status kesehatan seseorang. Merokok biasanya mulai dilakukan selama masa kanak atau remaja, dan upaya menghentikan perilaku merokok bukanlah usaha mudah, terlebih lagi bagi perokok di Indonesia. Hanya sebagian kecil saja yang dapat berhasil berhenti merokok tanpa bantuan. Menghentikan perilaku merokok adalah sulit karena saat perokok-perokok mencoba berhenti, kondisi yang mereka rasakan menjadi makin buruk. Kebanyakan upaya-upaya untuk mengurangi kecanduan rokok pada remaja difokuskan pada program-program pencegahan merokok, namun kecil upaya untuk menghentikan perilaku merokok itu sendiri. Upaya yang dilakukan lebih bersifat parsial dan sangat terfokus pada individu dan bukan pada komunitasnya sehingga perilaku merokok tetap bertahan bahkan terus meningkat. Perubahan diharapkan terjadi pada tingkat individual tetapi tidak pada komunitasnya sehingga tingkat keberhasilan remaja berhenti merokok juga kecil . Pendekatan komunitas sangat dibutuhkan untuk menghentikan perilaku merokok pada remaja. Intervensi komunitas untuk menghentikan perilaku merokok remaja menginginkan suatu perubahan di sebuah populasi.

Tujuannya adalah untuk menurunkan permasalahan kesehatan terkait dengan merokok dan untuk meningkatkan status kesehatan komunitas. Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasikan bentuk intervensi komunitas yang dapat digunakan secara efektif untuk menghentikan perilaku merokok pada remaja.

Kata kunci: invervensi komunitas, perilaku merokok, remaja

Pengantar Masa remaja, terutama masa remaja awal, adalah masa yang penting sekaligus genting. Pada usia remaja sejumlah perilaku yang merugikan kesehatan terjadi baik untuk pertama kalinya ataupun menjadi semakin intensif. Sebagian besar kondisi kesehatan remaja banyak ditentukan oleh bagaimana perilaku remaja terkait kesehatan. Pada kenyataannya, banyak perilaku remaja yang justru membahayakan kesehatannya namun kurang disadari oleh remaja itu sendiri yaitu perilaku merokok. Merokok terutama di mulai pada waktu remaja, dan percobaan tersebut akhirnya akan menjadi kebiasaan dan menjadi penggunaan secara tetap dalam kurun waktu beberapa tahun. Beberapa penelitian menginformasikan bahwa kebanyakan perokok mulai dengan rokoknya yang pertama pada usia antara 11-13 tahun, dan 85 % sampai 90 % mulai sebelum usia 18 tahun. Sebagai tambahan juga ditemukan bahwa semakin muda seorang individu mulai dengan rokok pertamanya, semakin besar

kemungkinannya untuk menjadi perokok berat di masa dewasa (Leventhal et al, 1988; Dhuyvettere, 1990) Berhenti merokok pada usia yang lebih muda akan berdampak besar dalam status kesehatan seseorang. Merokok di usia muda cenderung akan memiliki penyakit terkait dengan tembakau dan mengalami resiko kematian lebih besar. Usia yang lebih muda untuk merokok lebih mungkin untuk memiliki penyakit yang berhubungan dengan merokok dibandingkan dengan perokok di kelompok usia lainnya (CDC, 2006). Tidak perlu diragukan bahwa perilaku merokok mengandung faktor resiko untuk kesehatan. Merokok dapat menjurus berbagai macam penyakit paru-paru kronis. Resiko kematian bertambah sehubungan dengan banyaknya merokok dan umur awal merokok yang lebih dini (Smet, 1994). Dibandingkan dengan orang yang tidak merokok, timbulnya penyakit koroner lebih tinggi 50% bagi orang yang merokok kira-kira satu bungkus setiap hari, dan 200% bagi orang yang merokok lebih dari satu bungkus. Merokok, khususnya kalau

berat mengandung resiko yang sangat besar dan tetap untuk sudden cardiac death (Jenkins dalam Smet, 1994). Penelitian menunjukkan bahwa jika perokok berhenti merokok dan menjaga penghentian pada saat mereka berusia 30 tahun, kemungkinan penyakit dan kematian akan menurun dan sering sekali dapat dicegah (Doll, Peto, Boreham, & Sutherland, 2004; USDHHS, 1990). Upaya menghentikan perilaku merokok bukanlah usaha mudah, terlebih lagi bagi perokok di Indonesia. Remaja yang mulai merokok pada usia 12 tahun atau lebih muda, lebih cenderung menjadi perokok berat dan merokok secara teratur daripada remaja yang merokok pada usia yang lebih tua. Biasanya perokok akan menemui kesulitankesulitan yang dialami pada fase awal perubahan, mulai dari penolakan, keraguan, hingga efek samping. Hasil survei yang dilakukan oleh LM3 (Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok), dari 375 responden yang dinyatakan 66,2 persen perokok pernah mencoba berhenti merokok, tetapi mereka gagal. Kegagalan ini ada berbagai macam; 42,9 persen tidak tahu caranya; 25,7 persen sulit berkonsentrasi dan 2,9 persen terikat oleh sponsor rokok (Helman, 1994). Di Indonesia, upaya yang telah dilakukan untuk menghentikan perilaku merokok remaja antara lain: (1) program atau sosialisasi pencegahan penggunaan rokok yang dilakukan oleh dinas pendidikan dan dinas kesehatan secara rutin tiap tahun baik dengan kelompok sasaran siswa SMP dan SMU/SMK. Program ini biasanya lebih bersifat pendidikan kesehatan pada remaja; (2) pihak sekolah membuat larangan/tanda dilarang merokok di sekolah. Adanya konsekuensi atau hukuman bila ada siswa yang merokok di sekolah; (3) penelitian-penelitian telah banyak dilakukan baik survei maupun eksperimen untuk melihat dan merubah sikap, persepsi remaja tentang merokok dengan harapan bahwa perubahan persepsi dan sikap akan membawa perubahan perilaku remaja untuk tidak merokok.

Kebanyakan upaya-upaya untuk mengurangi kecanduan rokok pada remaja difokuskan pada program-program pencegahan merokok, namun kecil upaya untuk menghentikan perilaku merokok itu sendiri. Berdasarkan data medis, ada sekitar 70 persen perokok yang ingin berhenti sendiri tanpa bantuan lebih lanjut, namun hanya 5 persen perokok yang berhasil melakukannya tanpa bantuan dalam usaha mereka untuk berhenti merokok (Fiore et al., 2000). Sepertiga perokok melaporkan bahwa mereka telah mencoba berhenti merokok setiap tahun, tanpa bantuan siapapun, tetapi lebih dari 95% dari mereka gagal (Centers for Disease Control and Prevention [CDCP], 2004). Fakta tersebut menunjukkan bahwa keinginan untuk berhenti tidaklah cukup. Semua perokok menyatakan keinginan untuk berhenti tetapi tidak mencoba melakukannya. Meski kebanyakan remaja perokok mencoba meninggalkan perilakunya, metodametoda bantuan mandiri terbaik memiliki keberhasilan kecil jika tidak ada terapi dan hampir-hampir tidak efektif dengan nasihat sederhana dari para profesional kesehatan untuk meninggalkan perilaku ini (Lancaster & Stead, 2005). Menghentikan perilaku merokok adalah sulit karena saat perokok-perokok mencoba berhenti, kondisi yang mereka rasakan menjadi makin buruk. Secara psikologis, upaya berhenti merokok menjadi sulit karena adanya pengaruh lingkungan sosial, kebiasaan mengkonsumsi rokok, kemudahan akses terhadap rokok, ketiadaan aturan membatasi usia perokok, pengaruh teman sebaya dan banyak hal lain. Dengan demikian, upaya harus difokuskan tidak hanya pada kegiatan program pencegahan khusus merokok untuk remaja, tetapi juga merancang intervensi penghentian merokok khusus untuk remaja yang merokok. Intervensi yang dirancang untuk kelompok usia ini sangat diperlukan. Upaya ini harus didasarkan pada penelitian yang berhubungan dengan karakteristik perokok (yaitu, usia mulai merokok, tingkat merokok, dan kesulitan-kesulitan untuk berhenti) remaja (Kishchuk, Tremblay, Lapierre, Heneman, & O "Loughlin, 2004; Lawrence, Fagan, Backinger, Gibson & Hartman, 2007; Rigotti, Lee, & Wechsler, 2000).

Pendekatan dalam intervensi merokok. Dalam perkembangannya, ada banyak upaya telah dilakukan untuk

meningkatkan ketersediaan metode bantuan yang meliputi konseling individual dan kelompok, materi self-help, terapi penggantian nikotin, program-program intervensi, dan mengidentifikasi mitra untuk membantu mendukung upaya berhenti merokok (Fiore et al., 1990; Zhu, Melcer, Sun, Rosbrook, & Pierce, 2000). Apabila dikelompokkan maka ada tiga pendekatan besar yang dilakukan dalam upaya untuk menghentikan perilaku merokok yaitu: 1. Pendekatan individu Tritmen individu diyakini akan bermanfaat dengan pertimbangan bahwa calon peserta akan mendapatkan kontak yang lebih banyak dan personal dengan konselor mereka dan kesempatan untuk tritmen yang dirancang secara individu (Burgess et al., 2002). Dengan pendekatan individual, diyakini lebih bermanfaat karena menciptakan sebuah kelompok homogen akan sulit. Rekrutmen dianggap lebih mudah saat seseorang mencoba mendaftarkan diri individu daripada dilakukan secara kelompok remaja karena penjadwalan akan sulit dilakukan. Akhirnya, dari perspektif klinis dan etika, bahwa tidak dibenarkan untuk menahan tritmen bagi individu untuk jangka waktu lama untuk memperoleh jumlah optimal subyek untuk kelompok intervensi. Hasil-hasil penelitian ilmiah menunjukkan ketidakmampuan dari pendekatan individual , intervensi saluran tunggal (single-channel intervention) dalam mempengaruhi perilaku merokok pada populasi yang lebih luas (Klausner, 1997; Rp HHS, 1989). 2. Pendekatan kelompok Pendekatan kelompok mencapai hasil yang terbaik di akhir 1970-an sampai pertengahan 1980-an dengan tanpa komponen farmakologis. Pada awal sampai pertengahan 1980-an program kelompok mencapai hasil 40 % pada 12 - bulan tindak lanjut yang dilakukan. Program ini terdiri dari beberapa komponen kunci. Peserta ada

dalam kelompok kecil (biasanya 8 sampai 15 peserta) untuk memaksimalkan kohesi kelompok. Jumlah sesi penelitian bervariasi antara 12 dan 16. Beberapa sesi yang diadakan sebelum tanggal berhenti ditetapkan dan menekankan antisipasi situasi sulit dan metode coping direncanakan. Sesi tambahan setelah tanggal berhenti awalnya berfokus pada tantangan dalam mempertahankan pantang merokok dalam jangka pendek dan selanjutnya pada pantang merokok dalam jangka panjang dan perubahan gaya hidup, termasuk perbaikan diet dan olahraga untuk mendukung berhenti merokok yang lebih panjang lagi. Sesi yang dijadwalkan dengan penekanan pada minggu awal segera mungkin dan 2 minggu setelah tanggal berhenti merokok (Lando, 2006). Mayoritas tritmen untuk perokok remaja dalam reviu oleh McDonald et al. (2003) dilakukan di sekolah-sekolah dan dilakukan dalam format kelompok. Demikian pula di Indonesia, pendekatan yang digunakan lebih banyak untuk kelompok kecil dan banyak dilakukan di sekolah-sekolah. Lebih lanjut, Colby et al. (1998) menyatakan bahwa program-program berbasis sekolah lebih berkonsentrasi pada pencegahan daripada tritmen perokok aktif. Masalah lain menjadi jelas juga. Meskipun hasil yang baik didapatkan melalui pendekatan kelompok, kebanyakan program kelompok yang efektif memiliki dampak yang sedang pada tingkat populasi, artinya hanya mampu mencapai sebagian kecil dari populasi perokok. Potensi intervensi kelompok kecil untuk mengurangi prevalensi merokok secara keseluruhan (Lando, 2006). 3. Pendekatan komunitas Dalton et al. (2001) menggambarkan bidang psikologi komunitas berfokus pada hubungan saling bergantung antar individu dalam komunitas, berkomitmen untuk menghasilkan pengetahuan yang valid yang berguna untuk komunitas dan terlibat dalam penelitian dan tindakan melalui kemitraan kolaboratif dengan individu dan komunitas. Definisi komunitas sangat penting bagi praktisi kesehatan komunitas karena intervensi kesehatan harus menargetkan komunitas yang spesifik. Bagaimana komunitas target

didefinisikan menentukan bagaimana sumber daya akan dialokasikan, bagaimana intervensi akan dilakukan dan bagaimana pesan akan rangkai. Penggunaan pendekatan berbasis komunitas untuk pengendalian perilaku merokok berusaha untuk mengubah penggunaan tembakau di tingkat populasi - tidak hanya individual dan semakin fokus pada mempengaruhi kebijakan yang mempromosikan pengurangan merokok. Contoh kegiatan pengendalian merokok berbasis komunitas mencakup pengorganisasian kelompok komunitas untuk

mendukung penerapan tata kelola tembakau- (misalnya, restoran bebas rokok, larangan swalayan menampilkan rokok); media advokasi untuk meningkatkan kesadaran komunitas tentang penjualan rokok untuk anak di bawah umur; dan sponsor dari komunitas luas-berhenti merokok seperti peristiwa-berhenti dan-memenangkan kontes. Bukti yang mendukung efektivitas intervensi berbasis komunitas untuk mengurangi merokok ditemukan dalam penurunan secara tajam dan konsisten dalam konsumsi rokok di negara-negara yang telah berinvestasi untuk pencegahan komprehensif dan program pengendalian rokok dibandingkan dengan mereka yang belum (Cummings, 1999) Intervensi komunitas berbeda dengan pendekatan yang sifatnya individual dan kelompok yaitu pertama, intervensi komunitas berusaha melakukan perubahan pemakaian rokok pada tingkat populasi, tidak hanya individu atau kelompok sasaran yang dipilih. Intervensi komunitas untuk pemakaian rokok beroperasi pada premis bahwa norma-norma sosial dan keyakinan tentang konsekuensi positif dan negatif dari pengaruh perilaku penggunaan rokok. Intervensi komunitas biasanya berusaha untuk mengubah perilaku dengan mempengaruhi norma-norma deskriptif (yaitu, persepsi prevalensi merokok), norma-norma injungtif (yaitu, persepsi tentang toleransi sosial merokok), dan keyakinan tentang kerugian dan konsekuensi merokok (yaitu, persepsi tentang bahaya kesehatan, daya tarik, potensi kecanduan, dan sebagainya). Keunikan kedua dari intervensi komunitas adalah secara komprehensif, melibatkan usaha-usaha

campur tangan melalui struktur sosial di beberapa komunitas (National Cancer Institute, 1991). Intervensi komunitas mengakui fakta bahwa sikap tentang merokok dibentuk dari berbagai sumber, termasuk keluarga, tempat kerja, pendidikan, layanan kesehatan lembaga, dan media. Salah satu contoh pentingnya mendefinisikan komunitas target dapat dilihat dalam merancang intervensi menghentikan merokok. Jika targetnya adalah remaja, fokus pada dampak kesehatan jangka panjang dari penggunaan tembakau tidak mungkin menjadi strategi efektif karena populasi ini berada dalam tahap perkembangan remaja. Remaja percaya bahwa "tidak akan terjadi hal yang buruk pada saya" dan fokusnya adalah keadaan sekarang dan bukan masa depan. Sebuah strategi yang lebih berhasil untuk berhenti merokok dengan populasi ini akan menjadi intervensi yang menunjukkan cara untuk menolak tekanan sosial, sementara mereka tetap

mendapatkan penerimaan dari teman sebaya. Dengan menawarkan sebuah intervensi yang komprehensif yang beroperasi melalui berbagai saluran dalam suatu komunitas, intervensi menghasilkan sinergi dimana norma-norma yang melemahkan penggunaan rokok akan menyebar lebih cepat di seluruh populasi (Cummings, 1999). Intervensi komunitas untuk mengurangi perilaku merokok di dunia Barat sering sedikit dilakukan dengan memberikan layanan pada perokok secara langsung. Ini tentunya akan menjadi sebuah kelemahan bila dikaitkan dengan situasi di Indonesia. Pada umumnya, intervensi komunitas lebih memfokuskan diri pada para pimpinan, penyedia layanan kesehatan, politisi, dan tokoh komunitas yang memiliki posisi untuk menerapkan kebijakan yang membantu menentukan normanorma sosial tentang penggunaan rokok di tingkat populasi (National Cancer Institute, 1991). Apakah ada bukti bahwa pengurangan rokok dengan intervensi komunitas akan berhasil? Memang tidak semua intervensi komunitas di negara Barat menunjukkan

tingkat keberhasilan yang tinggi. Ada beberapa contoh intervensi berbasis komunitas yaitu North Karelia, Stanford Three Community, Stanford Five-City, Kesehatan Jantung Pawtucket, dan Kesehatan Jantung Minnesota, yang semuanya ditujukan beberapa aspek penyakit kardiovaskular. Pada Proyek Stanford Lima-Kota menunjukkan pengaruh tritmen perilaku berhenti merokok kecil, dan tidak ada pengaruh pada prevalensi merokok (Fortmann, Taylor, Nora, & Jatulis, 1993). Program Kesehatan Jantung Minnesota menunjukkan pengaruh positif bagi perempuan dalam analisis kroseksional, tetapi tidak berpengaruh pada sampel kelompok kohort (Leupker et al, 1994.). Program Kesehatan Jantung Pawtucket gagal menunjukkan pengaruh intervensi secara signifikan untuk merokok dalam analisisnya (Carlton, Lasater, Assaf, Feldman, & McKinlay, 1994). Intervensi komunitas untuk menghentikan Perilaku Merokok yang dilakukan National Cancer Institute gagal untuk mempengaruhi para perokok berat, tapi meningkatkan perilaku berhenti merokok sekitar 3% pada perokok ringan dan sedang (COMMIT Research Group, 1995a, 1995b). Meskipun tidak mencapai keberhasilan seperti yang diperkirakan, namun terjadi kenaikan jumlah untuk berhenti merokok pada perokok ringan sampai sedang, Jika dihitung secara nasional, berarti ada 1.200.000 orang dewasa berhenti merokok (Klausner, 1997). Prinsip dan Asumsi Intervensi Kesehatan Berbasis Komunitas Intervensi awal kesehatan berbasis komunitas menunjukkan beberapa asumsi umum dan prinsip-prinsip yang menginformasikan alasan, desain, serta asumsi tentang cara intervensi tersebut harus bekerja. Berikut ini adalah beberapa prinsip dan asumsi yang membimbing orang merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi intervensi tersebut. 1. Fokusnya adalah pada perubahan perilaku berisiko

Intervensi berusaha mengubah norma-norma dan perilaku sebelum menghasilkan morbiditas. mereka juga berusaha untuk meningkatkan kesehatan mereka yang sudah didiagnosis dengan kondisi kesehatan kronis. 2. Pendekatan berbasis populasi diperlukan untuk dairahkan pada perilaku kesehatan. Intervensi ini merangkul gagasan bahwa perilaku berisiko didistribusikan di seluruh penduduk, dengan beberapa orang yang beresiko tinggi atau lebih rendah. Karena jumlah penduduk yang ditargetkan, bahkan meskipun peningkatan kecil dalam perilaku berisiko dapat menyediakan reward besar 3. Komunitas memiliki batas-batas geografis. Awal intervensi kesehatan berbasis komunitas didefinisikan sebagai suatu entitas geografis atau yurisdiksi politik. Meskipun komunitas bervariasi dalam ukuran, keanggotaan didefinisikan sebagai tempat tinggal dalam komunitas. 4. Peningkatan temuan kasus mereka yang beresiko tinggi dalam populasi itu penting. Tujuan dari intervensi kesehatan berbasis komunitas adalah untuk memperluas jangkauan komunitas medis dengan mengidentifikasi mereka yang memiliki risiko tertinggi. Intervensi ini mencari kesempatan untuk skrining faktor risiko dan memastikan bahwa mereka yang diidentifikasi sebagai risiko tinggi akan terkait dengan penyedia layanan kesehatan. 5. Individu lekat dalam keluarga. Beberapa strategi intervensi ini difokuskan pada keluarga dan bertujuan untuk mengubah atau memperkuat perubahan perilaku risiko pada bagian dari mereka yang beresiko dengan mendaftar anggota keluarga dalam membuat perubahan di dalam rumah tangga. 6. Keluarga lekat dalam komunitas yang lebih besar yang memiliki konteks dan budaya. Keluarga pada gilirannya mempengaruhi perilaku. Intervensi harus berfokus pada menciptakan norma-norma sosial berkaitan dengan perilaku kesehatan. Selain melihat individu tertanam dalam keluarga mereka, praktisi juga

tampak di luar keluarga untuk pengaruh-pengaruh lain pada perilaku berisiko dan kondisi kesehatan. Mereka melihat aspek fisik dan lingkungan sosial sebagai target yang masuk akal untuk intervensi yang akan memfasilitasi dan memperkuat perubahan perilaku dengan mengubah atau membentuk norma-norma, nilai, dan sikap anggota komunitas. 7. Hal ini dimungkinkan dan diperlukan untuk bekerja dalam banyak seting

sekaligus. Agar asesmen mempengaruhi kesehatan individu, para desainer dari intervensi kesehatan berbasis komunitas yakin bahwa program harus ditempatkan di dalam institusi dan struktur lain di komunitas. Dengan demikian, intervensi kesehatan berbasis komunitas mengembangkan program di sekolah, gereja, organisasi komunitas, pengaturan perawatan kesehatan, taman, toko, dan tempattempat lainnya. 8. Program dan kegiatan bermacam-macam memiliki efek sinergis. Sementara masing-masing intervensi ini melibatkan beberapa strategi dan proyek, para perancang awal intervensi kesehatan berbasis komunitas tertarik pada dampak kumulatif dari beberapa intervensi pada individu atau perilaku berisiko seperti rumah tangga mereka dengan cara memberikan kontribusi terhadap upaya secara keseluruhan. Intervensi, dalam merangkul konteks sosial sebagai penentu perilaku, akan bekerja di banyak wilayah - seperti gereja, media, perawatan kesehatan, pekerjaan - dengan gagasan bahwa antar tindakan dari intervensi yang berbeda akan memacu kegiatan baru dan menambahkan dampak masing-masing secara spesifik. 9. Intervensi dapat berhasil dievaluasi untuk menangkap proses dan dampak perubahan perilaku. Intervensi ini ketat dievaluasi, dengan menggunakan desain kuasi-eksperimental dan menggunakan beberapa metode pengumpulan data. Evaluator percaya bahwa indikator proses dan indikator hasil baik dapat

diidentifikasi dan dinilai dan bahwa evaluasi dapat memberikan informasi tentang bagaimana intervensi bekerja dan apa dampaknya itu. Tantangan untuk menerapkan program-program berbasis komunitas yang berhubungan dengan karakteristik unik dari komunitas itu sendiri. Setiap komunitas terdiri dari sikap sendiri, nilai-nilai, sumber daya, iklim sejarah, kekuatan, dan kelemahan (Edwards et al., 2000). Hal tersebut dapat mempengaruhi upaya pencegahan terutama ketika tidak adanya pertimbangan situasi target selama perencanaan dan pelaksanaan program. Keberhasilan program pencegahan berbasis komunitas dapat bergantung pada apakah karakteristik komunitas mendukung tujuan program. Bila hal ini tidak terjadi, program pencegahan mungkin harus mengatasi rintangan tambahan untuk mencapai tujuan mereka. Sebuah pertanyaan kunci meliputi bagaimana untuk mendapatkan dukungan komunitas untuk jenis intervensi. Konsultan sekolah dan komunitas harus mencoba untuk bekerja sama dengan setiap komponen dalam masyarakat terhadap perubahan sosial (Isenberg, Loomis, Humphreys, & Maton, 2003; Wandersman et al., 1983). Intervensi komunitas untuk menghentikan perilaku merokok remaja dengan demikian perlu diupayakan dengan memperhatikan yaitu: a. Kerjasama dan kemitraan Kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait dengan remaja (seperti keluarga, sekolah, konselor, universitas, media, dinas kesehatan, pemerintah) sangat bermanfaat bagi jalannya program intervensi. Dalam kerjasama ini berbagai pihak dapat saling belajar dan berbagi pengalaman tentang keberhasilan dan kekurangan program, tentang cara menggunakan berbagai sumber daya yang ada, serta memaksimalkan investasi dalam pemanfaatan untuk melakukan promosi kesehatan. Kemitraan dengan berbagai unit organisasi baik pemerintah, LSM, sekolah, universitas maupun usaha swasta akan sangat mendukung pelaksanaan program

intervensi. Disamping itu, dengan kemitraan akan dapat mendorong mobilisasi guna meningkatkan status kesehatan remaja. Kemitraan antara peneliti dalam negeri, peneliti dan para pendukung dari negara-negara kaya tampaknya menjanjikan. Kemitraan yang kuat antara semua stakeholder pengurangan tembakau diperlukan untuk mulai memerangi epidemi yang sangat besar dalam lingkup dan dampak. Kemitraan seperti ini juga penting dalam pertempuran agresif yang didanai oleh multi-nasional. b. Penguatan kapasitas Kemampuan kerja dalam kegiatan peningkatan status kesehatan remaja harus dapat dilaksanakan secara optimal. Untuk itu berbagai sektor terkait harus diyakini dapat memberikan dukungan untuk memperkuat program untuk intervensi komunitas bagi remaja seperti pelatihan profesional kesehatan untuk memberikan saran dan menjadi konselor penghentian perilaku merokok yang efektif, untuk memasukkan perilaku merokok ke dalam kurikulum pendidikan kesehatan dan untuk mendorong budaya motivasi yang relevan (misalnya keluarga, agama) untuk mempromosikan penghentian merokok, ketersediaan penyedia layanan kesehatan terlatih termasuk saran dokter, materi self-help, intervensi perilaku dan psikologis, intervensi farmakologis, kampanye komunikasi media massa, layanan telepon / layanan berbasis internet, dan tempat bebas asap rokok, pembatasan merokok dalam ruangann, kenaikan harga, menyerukan efektif larangan merokok di tempat umum dan menegaskan hak-hak non-perokok untuk menghirup udara bebas dari asap tembakau dan lain-lain akan memiliki dampak yang sangat terasa. Dukungan berbagai sektor ini dapat terkait dalam rangka penyusunan rencana kegiatan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program intervensi. d. Penelitian Penelitian merupakan salah satu komponen dari pengembangan dan penilaian program. Penelitian merupakan akses untuk masuk dalam mengembangkan promosi kesehatan. Peneliti-peneliti yang peduli terhadap penghentian perilaku merokok dan

pengurangan tembakau harus bergabung dengan pemangku kepentingan lainnya, termasuk praktisi, dan pembuat kebijakan.

Kesimpulan dan Implikasi Masalah merokok adalah masalah global yang terlalu besar untuk ditangani secara terpisah. Penghentian perilaku merokok remaja memiliki potensi besar untuk menyelamatkan banyak nyawa dan memberikan kesempatan hidup yang lebih baik. Upaya-upaya yang dilakukan untuk menghentikan perilaku merokok pada remaja memberikan beberapa pelajaran berharga untuk direnungkan saat kita

mempertimbangkan bentuk intervensi apakah yang akan efektif. Apakah pendekatan yang bersifat individual, kelompok atau intervensi komunitas merupakan investasi yang baik. Sebuah pendekatan yang komprehensif perlu dilakukan untuk mencapai keberhasilan yang lebih besar. Perubahan besar dalam status kesehatan remaja dengan kehidupan tanpa rokok akan terjadi bila norma-norma sosial terkait dengan pemakaian dan perilaku merokok perlu diubah. Hal ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Tidak cukup dengan intervensi komunitas yang hanya terfokus pada para pimpinan, penyedia layanan kesehatan, politisi, dan tokoh komunitas yang memiliki posisi untuk menerapkan kebijakan, tetapi juga intervensi pada kelompok remaja secara langsung akan memberikan dampak yang lebih besar pada status kesehatan remaja.

Daftar Pustaka Burgess, E. S., Brown, R. A., Kahler, C. W., Niaura, R., Abrams, D. B., Goldstein, M. G., et al. (2002). Patterns of change in depressive symptoms during smoking cessation: whos at risk for relapse? Journal of Consulting and Counseling Psychology, 70, 356-361. Centers for Disease Control and Prevention. (2006). Behavioral risk factor surveillance system survey data. http://apps.nccd.cdc.gov/statesystem. Centers for Disease Control and Prevention. (2004). Cigarette smoking among adults United States, 2002. Morbidity and Mortality Weekly Report, 53, 427-431. Colby, S.M., Monti, P.M., Barnett, N.P., Rohsenow, D.J., Weissman, K., Spirito, A., et al. (1998). Brief motivational interviewing in a hospital setting for adolescent smoking: a preliminary study. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 66(3), 574-578. Carlton, R.A., Lasater, T.M., Assaf, A.R., Feldman, H.A., McKinlay, S.M. (1994). The Pawtucket Heart Health Program: cross-sectional results from a community intervention trial. In: Abstracts of the 34th Annual Conference on Cardiovascular Disease Epidemiology and Prevention, Tampa, FL. Dallas, TX: American Heart Association. COMMIT Research Group. (1995a). Community Intervention Trial for Smoking Cessation (COMMIT): I. Cohort results from a four- year community intervention. American Journal of Public Health 85:183-192. COMMIT Research Group. (1995b). Community Intervention Trial for Smoking Cessation (COMMIT): II. Changes in adult cigarette smoking prevalence. American Journal of Public Health 85:193-200. Cummings, K.C. (1999). Community-wide interventions for tobacco control. Nicotine & Tobacco Research, 1, Sl13-Sl16

Dalton, J.H., Elias, M.J., & Wandersman, A. (2001). Community psychology: Linking individuals and communities. Belmont, CA: Wadsworth. Dhuyvettere, H. (1990). Smoking behavior and (anti-)smoking climate among students psychology, Scription for a Licentiate (Masters) Degree, University of Gent, Belgium Doll, R., Peto, R., Boreham, J., & Sutherland, I. (2004). Mortality in relation to smoking: 50 years observations on male British doctors. British Medical Journal, 328(7455), 1519- 1528. Edwards, R.W., Jumper-Thurman, P., Plested, B.A., Oetting, E.R., & Swanson, L. (2000). Communitiy readiness: Research to practice. Journal of Community Psychology, 28, 291307. Fortmann, S.P., Taylor, C.B., Flora, J.A., & Jatulis, D.E. (1993). Changes in adult cigarette smoking prevalence after 5 years of community health education: The Stanford Five-City Project. American Journal of Epidemiology 137:82-96. Fiore, M.C., Novotny, T.E., Pierce, J.P., Giovino, G.A., Hatziandreu, E.J., Newcomb, P.A., et al. (1990). Methods used to quit smoking in the United States: Do cessation programs help? Journal of the American Medical Association, 263(20), 2760-2765. Fiore, M.C., Bailey, W.C., Cohen, S.J., Dorfman, S.F., Goldstein, M.G., Gritz, E.R., et al. (2000). Treating Tobacco Use and Dependence. Clinical Practice Guideline. Rockville, MD: US Department of Health and Human Services, Public Health Service. Helman, C.G. (1994). Culture, Health and Illness. Oxford: Butterworth-Heinemann Ltd.

Isenberg, D.H., Loomis, C., Humphreys, K., & Maton, K.I. (2003). Self-help research: Issues of power sharing. In L. A. Jason, C. B. Keys, Y. Suarez-Balcazar, R. R. Taylor, M. I. Davis, J. A. Durlak,&D.H. Isenberg (Eds.), Participatory community research: Theories and methods in action. Washington, DC: American

Psychological Association. Kishchuk, N., Tremblay, M., Lapierre, J., Heneman, B., & OLoughlin, J. (2004). Qualitative investigation of young smokers and ex-smokers views on smoking cessation methods. Nicotine and Tobacco Research, 6(3), 491-500. Klausner, R. (1997). Evolution of tobacco control studies at the National Cancer Institute. Tobacco Control 6 (Suppl. 2): SI-S2. Lancaster, T., & Stead, L. F. (2005). Self-help interventions for smoking cessation [update of the Cochrane Database of Systematic Reviews. Lando, H.A. (2005). Reflections on 30 years of smoking cessation research: from the individual to the world. Drug and Alcohol Review (January 2006), 25, 5 14 Lawrence, D., Fagan, P., Backinger, C. L., Gibson, J. T., & Hartman, A. (2007). Cigarette smoking patterns among young adults aged 18-24 years in the United States. Nicotine & Tobacco Research, 9(6), 687-697. Leupker, R.V., Murray, D.M., Jacobs, D.R. Jr., Mittelmark, N., Bracht, R., Carlaw, R., Crow, R., Elmer, P., Finnegan, J., Fulsom, A.R., Grimm, R., Hannan, P.J., Jeffrey, R., Lando, H., McGovern, P., Mullis, R., Perry, C.L., Pechacek, T., Piric, P., Spmfka, J.M., Weisbrad, R., Blackburn, H. (1994). Community education for cardiovascular disease prevention: risk factor changes in the Minnesota Heart Health Program. American Journal of Public Health 84:1383-1393. Leventhal, H., Fleming, R., & Glynn, K. (1988). A cognitive-developmental Approach to Smoking Intervention, in Maes, S., spielberger, C.D., Defares, P.B., & Sarason, I.G., Topics in Health Psychology, New York: john Wiley & Sons Ltd. ;

McDonald, P., Colwell, B., Backinger, C.L., Husten, C., & Maule, C.O. (2003). Better practices for youth tobacco cessation: Evidence of review panel. American Journal of Behavior, 27(Suppl. 2), S144-S158. National Cancer Institute. (1991). October. Monograph 1: Strategies to Control Tobacco Use in the United States: A Blueprint for Public Health Action in the1990's. U.S. Department of Health and Human Service, Public Health Service, National Institutes of Health. NIH Publication 92-3316. Rigotti, N. A., Lee, J. E., & Wechsler, H. (2000). U. S. college students use of tobacco products. Results of a national survey. Journal of the American Medical Association, 284(6), 699- 705. Smet, B. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Grasindo. U. S. Department of Health and Human Services. (1990). The health benefits of smoking cessation. A report of the Surgeon General (DHHS Publication No. CDC 90-8416). Rockville, MD: Office on Smoking and Health. National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion, Centers for Disease Control and Prevention, Public Health Service. Wandersman, A., Chavis, D., & Stucky, P. (1983). Involving citizens in research. In R. Kidd & M. Saks (Eds.), Advances in applied social psychology (pp. 189212). Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Inc. Zhu, S-H, Melcer, T., Sun, J., Rosbrook, B., & Pierce, J. P. (2000). Smoking cessation with and without assistance: A population-based analysis. American Journal of Preventive Medicine, 18(4), 305-311.