Anda di halaman 1dari 2

PUAP untuk Kesejahteraan Rakyat

Pengembangan UsahaAgribisnis Pedesaan (PUAP) adalah salah satu program pemberdayaan yang dilaksanakan Departemen Pertanian. Program ini diharapkan dapat menurunkan kemiskinan rumah tangga tani dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara signifikan.

P rogram PUAP didesain dengan tujuan: (1) mengurangi kemis-

kinan dan pengangguran melalui pe- numbuhan dan pengembangan usaha agribisnis di pedesaan sesuai potensi wilayah; (2) meningkatkan kemampuan pelaku usaha agri- bisnis, pengurus gabungan kelom- pok tani (gapoktan), penyuluh dan Penyelia Mitra Tani (PMT); (3) memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi pedesaan untuk mengembangkan usaha agribisnis; dan (4) meningkatkan fungsi kelem- bagaan ekonomi petani menjadi jejaring atau mitra lembaga ke- uangan dalam rangka akses ke permodalan. Persiapan pelaksanaan Prog- ram PUAP dimulai pada tahun 2007, tetapi baru direalisasikan pada tahun 2008. Sasaran PUAP pada awal program adalah: (1) ber- kembangnya usaha agribisnis di 10.000 desa miskin/tertinggal sesuai dengan potensi pertanian desa; (2) berkembangnya 10.000 gapoktan/poktan yang dimiliki dan dikelola oleh petani; (3) mening- katnya kesejahteraan rumah tang- ga tani miskin, petani/peternak skala kecil, buruh tani; dan (4) ber- kembangnya usaha pelaku agri- bisnis yang mempunyai usaha harian, mingguan, maupun musim- an. Total desa miskin/gapoktan yang direncanakan menerima dana BLM-PUAP adalah 11.000 desa miskin/gapoktan. Pada tahun 2008, program PUAP dapat direalisasikan pada 10.542 gapoktan di 10.542 desa. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat desa. Karena itu, pada tahun 2009 Departemen Pertanian melanjutkan program ini dengan

sasaran 10.000 gapoktan pada 10.000 desa di 33 provinsi. Keberhasilan PUAP dapat dili- hat dari beberapa indikator, yaitu input, outcome, benefit, dan impact. Indikator input merupakan identi- fikasi kemampuan, potensi, dan sumber daya awal yang dimiliki gapoktan penerima PUAP, antara lain kemampuan SDM pengelola gapoktan, aktivitas pengelolaan manajemen dan unit ekonomi ga- poktan, pemilikan aset, aksesi- bilitas terhadap lembaga ekonomi, teknologi, penyuluhan, dan lainnya. Indikator keberhasilan output antara lain adalah tersalurkannya BLM-PUAP kepada petani, buruh tani, dan rumah tangga tani miskin dalam melakukan usaha produktif pertanian; dan terlaksananya fasilitasi penguatan kapasitas dan kemampuan sumber daya manusia pengelola gapoktan, penyuluh pendamping, dan PMT. Indikator keberhasilan outcome antara lain tercermin pada meningkatnya ke- mampuan gapoktan dalam memfa- silitasi dan mengelola bantuan modal usaha untuk petani anggota, baik pemilik, penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani; me- ningkatnya jumlah petani, buruh tani, dan rumah tangga tani yang mendapatkan bantuan modal usa- ha; meningkatnya aktivitas kegi- atan agribisnis di pedesaan; dan meningkatnya pendapatan petani, buruh tani, dan rumah tangga tani dalam berusaha tani sesuai dengan potensi daerah. Sementara indi- kator benefit dan impact antara lain adalah berkembangnya usaha agribisnis dan usaha ekonomi rumah tangga tani di lokasi desa PUAP; berfungsinya gapoktan sebagai lembaga ekonomi yang dimiliki dan

dikelola petani; dan berkurangnya jumlah petani miskin dan pengang- guran di pedesaan. Untuk mendukung suksesnya program ini maka dilibatkan orga-

nisasi mulai dari tingkat Pusat, pro- vinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa sebagai pelaksana PUAP. Adapun organisasi pelaksana ter- sebut adalah sebagai berikut:

1. Tingkat Pusat, dibentuk Tim Pengarah (diketuai Menteri Pertanian dibantu seluruh Ese- lon I lingkup Departemen Perta- nian) dan Tim Pelaksana PUAP (diketuai Kepala Badan Pe- ngembangan SDM Pertanian dibantu Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Peningkatan Efisiensi Pembangunan Perta- nian serta Kepala Pusat Pembi- ayaan Pertanian sebagai Sekre- taris).

2. Tingkat Provinsi, dibentuk Tim Pembina Provinsi yang terdiri atas Tim Pengarah dan Tim Pe- laksana (diketuai Kepala Dinas/ Badan lingkup Pertanian atau pejabat yang ditunjuk Guber- nur).

3. Tingkat Kabupaten/Kota, diben- tuk Tim Teknis Kabupaten/Kota yang terdiri atas Tim Pengarah dan Tim Pelaksana (diketuai salah satu Kepala Dinas/Badan lingkup Pertanian).

4. Tingkat Kecamatan, dibentuk Tim Teknis Kecamatan (diketuai oleh Camat).

5. Tingkat Desa, terdiri atas ga- poktan, penyuluh pendamping dan PMT, serta Kepala Desa dapat membentuk Komite Pengarah di Desa.

Penyaluran Dana PUAP

Desa PUAP ditetapkan oleh Men- teri Pertanian dengan memperha- tikan dan mempertimbangkan usulan Bupati/Walikota, aspirasi masyarakat, dan usulan unit kerja lingkup Departemen Pertanian. Program PUAP tahun 2008 dapat direalisasikan di 33 provinsi, 389 kabupaten, 3.065 kecamatan, dan 10.542 desa. Dana BLM-PUAP disalurkan di masing-masing desa

pada satu gapoktan yang telah

ditetapkan. Pada tahun 2008, dana BLM-PUAP telah disalurkan ke

10.542 gapoktan.

Jumlah gapoktan penerima dana BLM-PUAP tahun 2008 lebih

kecil dari yang direncanakan yaitu

11.000 gapoktan. Hal ini antara

lain disebabkan: (1) kesalahan be- berapa gapoktan dalam menyusun Rencana Usaha Bersama (RUB); (2) beberapa kabupaten/kota mengun- durkan diri karena belum mampu menangani program ini; (3) ke- salahan administrasi seperti nomor rekening bank dan nama pengurus gapoktan; dan (4) tidak mampu menyelesaikan persyaratan admi- nistrasi sesuai waktu yang dite- tapkan. Dana BLM-PUAP tahun 2008 disalurkan kepada beberapa usaha produktif, yakni tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebun- an, industri rumah tangga perta- nian, pemasaran skala mikro/ba- kulan, dan usaha lain berbasis per- tanian. Dana BLM-PUAP tahun 2008 masih didominasi untuk usaha produktif tanaman pangan (40%) dan peternakan (23%). Sementara untuk usaha produktif lainnya masih relatif kecil. Ke depan perlu didorong agar dana BLM- PUAP dapat digunakan untuk usa- ha produktif lainnya agar sumber penghasilan petani lebih beragam.

Dampak Program PUAP

Dana BLM PUAP mulai dikucurkan pada Oktober 2008. Karena prog- ram ini baru berjalan sekitar satu tahun, dampaknya belum dapat terukur secara nyata. Namun, dampak awal program PUAP telah dapat dilihat di beberapa daerah. Dampak yang secara langsung dirasakan adalah peningkatan ke- mampuan pengurus gapoktan da- lam mengelola manajemen dan usaha ekonomi kelompok. Sebelum- nya, pengurus gapoktan mengelola administrasi dan manajemen ke- uangan kurang teratur. Dengan adanya program PUAP, pengelola gapoktan mendapat pelatihan dan pendampingan dari PMT, terutama

dalam administrasi dan pembukuan. Sasarannya, pada tahun ke-2 mulai terbangun usaha simpan pinjam dan pada tahun ke-3 dapat ditumbuh- kan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A). Dana BLM- PUAP juga mendorong beberapa gapoktan mulai membuat rencana kerja yang jelas dan tertulis. Ga- poktan Membangun (Desa Ba- kungin, Kabupaten Kapuas, Kali- mantan Tengah), misalnya, telah memiliki AD-ART dan program kerja tertulis, yakni program jangka pendek pengadaan sarana produksi (terutama pupuk) dan jangka pan- jang pembelian gabah. Untuk me- laksanakan program kerja tersebut, gapoktan membangun gudang pupuk berkapasitas 5 ton dan gu- dang gabah kapasitas 20 ton GKG. Penumbuhan usaha ekonomi baru maupun peningkatan skala usaha lama juga telah tampak, seperti di Gapoktan Manunggal (Desa Kajangkoso, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah). Sebe- lumnya karena keterbatasan modal, sebagian besar petani mengusa- hakan padi dan palawija/jagung. Setelah mendapat dana BLM- PUAP, petani banyak yang beralih ke budi daya cabai karena lebih menguntungkan. Peningkatan skala usaha cabai meningkatkan inten- sitas penggunaan lahan. Sebelum ada dana PUAP, petani tidak dapat mengusahakan lahan secara op- timal karena keterbatasan modal. Dana PUAP juga membuka peluang usaha lain yang lebih menguntung- kan, yakni penggemukan sapi. Dalam jangka waktu 4-5 bulan, dengan harga bibit sapi Rp8 juta/ ekor, petani mendapat keuntungan Rp3 juta/ekor. Dana BLM-PUAP juga mengu- rangi jumlah lembaga keuangan nonformal di pedesaan atau sering disebut rentenir atau bank plecit. Meskipun dana PUAP yang diterima petani relatif kecil, dana tersebut dapat menambah modal usaha tani. Hal ini terlihat di beberapa gapoktan di Lombok Tengah dan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Uraian di atas memperlihatkan bahwa program PUAP telah dira- sakan masyarakat pedesaan mela-

lui perguliran dana oleh gapoktan.

Dana BLM-PUAP pada gapoktan merupakan modal awal/penggerak yang langsung digunakan dan dipu- tarkan kembali untuk menumbuh- kan kegiatan ekonomi, yang selan- jutnya diharapkan mendorong perekonomian di pedesaan. Pendampingan gapoktan pene- rima dana BLM-PUAP perlu diting- katkan, terutama oleh PMT dan penyuluh pertanian, sehingga kegi- atan tepat sasaran. Pendampingan program PUAP oleh Pemerintah Daerah juga perlu untuk mengawal perencanaan, pelaksanaan, peman- tauan, dan evaluasi kegiatan Prog- ram PUAP di daerah. Dengan pe- ngawalan yang intensif, diharapkan Program PUAP dapat menurunkan kemiskinan rumah tangga tani dan meningkatkan kesejahteraan ma- syarakat desa.

Penutup

Koordinasi dari tingkat pusat sam- pai provinsi dan kabupaten/kota perlu lebih dicermati karena res- pons daerah yang bervariasi, ter- utama dalam memberikan data dan informasi dalam rangka penetapan SK Menteri Pertanian dan penye- lesaian administrasi. Hambatan geografis dan kendala jaringan informasi/telekomunikasi di be- berapa kabupaten/kota, terutama

di luar Jawa, juga menghambat

dalam komunikasi data dan infor- masi yang diperlukan Tim PUAP Pusat. Mekanisme koordinasi dari tingkat pusat hingga kabupaten/

kota dan desa perlu lebih dicermati

di masa yang akan datang ( Julia F.

Sinaraya dan Nur Khoiriyah Agustin).

Informasi lebih lanjut hubungi:

Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jalan Ahmad Yani No. 70 Bogor 16161 Telepon : (0251) 8333964 Faksimile: (0251) 8314496 E-mail : caser@indosat.net.id