Anda di halaman 1dari 3

Penulis buku: Hans Fink; Judul buku: Filsafat Sosial, Judul asli: Social Philosophy; Penerbit: Methuen &

Co. Ltd., London dan Methuen & Co. Ltd., New York; Cetakan pertama: November 1980; Penerjemah: Sigit Djatmoko; Penyunting: Kamdani; Desain Cover: Si Ong (Henry Wahyu); Cetakan Kedua: Juni 2010; Penerbit: Pustaka Pelajar Yogyakarta; Jumlah halaman: 197; Ukuran buku: 21 x 14 cm. Secara singkat buku ini menjelaskan tentang beberapa system filsafat sosial yang berpengaruh, yang dijadikan sebagai titik-tolak bagi orientasi diskusi modern. Paparan atas berbagai tahap dalam sejarah filsafat sosial dikemukakan penulis dalam kaitannya dengan pembahasan tentang lingkungan sosial yang berubah. Dalam buku ini pembahasan terbatas pada tradisi filsafat sosial Eropa sejak Abad pertengahan hingga saat ini. Dapat dikatakan bahwa pembahasan itu menggambarkan kelahiran dan keruntuhan pasar bebas sebagai peranata sosial utama dan sebagai kunci untuk memahami masyarakat. Sistematika penulisan dalam buku ini tidak dibagi berdasarkan bab-bab, tetapi dibagi berdasarkan sembilan pokok pembahasan. Setiap pokok pembahasan ada yang uraiannya panjang dan ada yang pendek, yang terdiri hanya dari empat lembar saja. Setiap pokok bahasan, ada yang pembahasannya dilanjutkan pada pokok bahasan yang lain. Adapun Sembilan pokok pembahasan yang terdapat di dalam buku ini adalah: Prawacana, Feodalisme dan Filsafat Sosial Aquinas, Krisis Feodalisme dan Filsafat Sosial Hobbes, kapitalisme Awal: Para pendukung dan Penentangnya Inggris Tahun 1689-1780, Absolutisme Prusia dan Filsafat Sosial Kant, Revolusi Industri dan Filsafatnya, Modernisasi Jerman dan Filsafat Sosial hegel, Lahirnya kelas Buruh dan Sosialisme, Filsafat Sosial pada Abad ke-20. Dalam buku ini, penulis menyajikan paparannya atas berbagai tahap dalam sejarah filsafat sosial dalam kaitannya dengan pembahasan tentang lingkungan sosial yang berubah. Dalam buku ini juga, beberapa istilah penting seperti fief, lord, manor, demesne, tenant, serf, dan slave tetap dipertahankan sebagimana aslinya dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena istilah-istilah tersebut mungkin tidak memiliki padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia (hlm. 10). Istilah-istilah tersebut muncul dalam konteks sosial Eropa yang khas, yang menjadi pokok bahasan dalam buku ini. Pada pokok pembahasan yang pertama, penulis memberikan penjelasan atau gambaran secara umum tentang filsafat sosial. Dalam pokok bahasan ini penulis juga menjelaskan tentang pengertian filsafat sosial. Filsafat sosial adalah wacana yang membahas isu-isu fundamental, yang dikarenakan isu-isu itulah program-program politik menjadi berbeda satu sama lain (hlm. 5). Pada pokok pembahasan yang selanjutnya, penulis menjelaskan tentang hubungan antara Feodalisme dan Filsafat Sosial Aquinas. Pada bagian ini penulis membedakan beberapa pandangan dan perubahan tentang feodalisme. Kemudian juga dijelaskan pandangan Aquinas tentang filsafat sosial. Menurut Aquinas dunia ini diciptakan oleh Allah sebagai suatu keseluruhan yang teratur. Dalam filsafat sosial, akal manusia bisa menemukan bukti adanya aturan-aturan itu dalam

kaitannya dengan tindakan-tindakan seperti berdusta, mencuri, dan melanggar aturan, menipu dalam perdagangan atau menarik riba. Aturan -aturan itu, menurut Aquinas, bisa dibuat berdasarkan sarana-sarana alami, tanpa tergantung pada wahyu (hlm. 27). Kemudian, penulis menjelaskan tentang krisis feodalisme. Sekitar tahun 1300, ekspansi feodal pun berakhir. Dalam buku ini dijelaskan tanah yang kian tandus, sementara lahan lain yang belum dibudidayakan pada umumnya berkualitas buruk, merupakan salah satu penyebab berakhirnya ekspansi itu. Iklim yang kacau dan serangkaian hasil panen yang buruk juga menjadi penyebabnya (hlm. 33). Dalam pokok bahasan ini pula penulis menjelaskan tentang terjadinya kemakmuran baru di Eropa. Perubahan structural yang telah mulai berlangsung dengan cepat ketika prekonomian memburuk kemudian mengalami perubahan, ketika permintaan meluas dan menciptakan permintaan baru atas produk -produk pertanian, bersamaan dengan masuknya emas dan perak dari amerika, sehingga harga menjadi meningkat (hlm. 36). Pada bagian ini juga, penulis menjelaskan tentang Filsafat Sosial Hobbes. Hak alami, bagi Hobbes, adalah hak yang dimiliki manusia, bahkan meskipun tidak ada lembaga sosial manusia. Bagi Hobbes, seluruh kehidupan terdiri dari gerakan vital: berdetaknya jantung, bernapas, dan mencerna makanan. Gerakan-gerakan itu pun cenderung akan terus bergerak kecuali jika dihalangi gerakannya, dan binatang-binatang yang berakal didorong oleh rasa permusuhan terhadap segala sesuatu yang cenderung menghentikan gerakan gerakan vital itu (hlm. 49). Penulis dalam buku ini juga membahas tentang perbedaan pandangan antara Hobbes dan Locke. Pandangan yang dikemukakan oleh John Locke pada masa Revolusi Inggris yang kedua tahun 1688 (Two Treatises of Government, 1690). Liberalisme Locke lebih disukai oleh kaum borjuis dari pada pandangan Hobbes yang membela absolutisme. Bagi Hobbes, hak alami adalah hak yang dimiliki manusia, bahkan meskipun tidak ada lembaga sosial manusia. Namun Locke merasa bahwa hak alami adalah serangkaian hak -hak spesifik yang terkait dengan kwajiban terhadap orang lain. Bagi Locke (seperti halnya bagi Aquinas), hak alami memiliki kandungan terbatas. Pertama, manusia memiliki hak untuk hidup. Kedua, manusia mempunyai hak atas hasil kerjanya sendiri (hlm. 65). Kemudian penulis juga menjelaskan perbedaan pandangan Locke dan Hume tentang filsafat sosial. Locke menerima begitu saja bahwa manusia memiliki sejumlah hak alami yang dianugrahkan Allah. Sedangkan menurut David Hume, beliau menerapkan prinsip bahwa pengalaman inderawi adalah basis bagi semua pengetahuan dengan cara yang jauh lebih sistematis dari pada Locke, dan mengarahkan prinsip itu menuju kesimpulan bahwa sama sekali tida ada pengetahuan yang valid secara universal, karena pengetahuan seperti itu akan mengendalikan pengalaman inderawi tentang berbagai hal yang tidak terbatas, yang tentunya mustahil (hlm. 71).

Penulis juga menjelaskan pandangan filsafat sosial J. J. Rousseau yang merupakan ungkapan protes yang keras terhadap perlakuan yang tidak adil kepada rakyat kecil. Rousseau berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik. Namun ia tidak berpendapat bahwa kebaikan dasar itu bisa dicapai dengan jalan mengganti prasangka tradisional dengan akal. Justru sebaliknya, ia percaya bahwa Pencerahan dan pemujaan terhadap rasionalitas bahkan menjauhkan orang-orang dari berbagai kebajikan moral yang sederhana, seperti kerendahan hati, keakraban, dan kesediaan menolong. Ia mengemukakan bahwa penindasan dan penghisapan hanya akan ditingkatkan dengan adanya Pencerahan dan apa yang disebut liberalisme (hlm. 78). Selain itu, penulis juga menjelaskan pandangan Immanuel Kant tentang filsafat sosial. Pandangan Kant tentang filsafat sosial merupakan ugnkapan liberalism yang amat jelas dan sistematis, dikemukakan dalam kerangka filosofis yang mengakomodasi pelanggaran sepenuhnya atas prinsip-perinsip liberalism dalam politik actual negara (hlm. 89) Dalam buku ini juga dijelaskan, perubahan yang terjadi pada abad-abad tertentu dan negara-negara tertentu yang berpengaruh terhadap keadaan suatu abad tertentu dan negara lain. Misalnya, dampak pengaruh pandangan Locke di Amerika Utara dan Perancis, yang kemudian memicu terjadinya revolusi Perancis. Revolusi yang terjadi di Perancis kemudian memicu terjadinya revolusi di negaranegara lain, salah satunya negara Inggris. Pada bagian lain, penulis menjelaskan tentang perubahan Liberalisme. Pada abad ke-17 dan ke-18, mulai muncul yang namanya Kapitalisme yang dicetuskan oleh Adam Smith, hal ini mempengaruhi negara-negara yang menganut faham Liberalisme berubah, seperti terjadinya revolusi industry di Inggris dan modernisasi di Jerman. Akibat adanya kapitalisme di berbagai negara, pergerakan perlawanan mulai bermunculan, seperti lahirnya gerakan buruh dan munculnya faham sosialis yang dicetuskan oleh Karl Marx. Adanya faham sosialisme, menggerakkan terjadinya revolusi rusia. Pembahasan dalam buku ini terbatas pada tradisi filsafat sosial Eropa sejak Abad pertengahan hingga saat ini. Buku ini bisa dikatakan menggambarkan kelahiran dan keruntuhan pasar bebas sebagai pranata sosial utama dan sebagai kunci untuk memahami masyarakat. Anotator: Frengky Sanjaya