Anda di halaman 1dari 21

6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Pengetahuan 2.1.1 Pengertian Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu.sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Ditinjau dari segi bahasa pengetahuan adalah hasil dari manusia yang dapat menjawab apa yang terjadi, tetapi ilmu pengetahuan dapat menjawab mengapa dan bagaimana hal itu terjadi. (Notoatmodjo S, 2003). Sedangkan menurut Wahit, dkk (2006) pengetahuan adalah hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan hal ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan terhadap suatu obyek tertentu. Dan menurut Sunaryo pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya (over behavior).

2.1.2 Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif Pengetahuan menurut Bloom yang dikutip ( Notoatmodjo tahun 2003 ) mencakup 6 tingkat, yaitu: 1)Tahu / Know (C 1) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh

bantuan yang telah dipelajari atau stimulus yang telah diterima. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Untuk mengukur bahwa individu tahu apa yang telah di pelajari antara lain dapat menyebutkan, sebagainya. 2)Memahami / Comprehensio (C 2) Memahami diartikan suatu kemampuan untuk menjelaskan dengan benar tentang obyek yang telah di ketahui dan dapat menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan

menginterpretasikannya seseorang yang telah memahami obyek atau materi, ia harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, men arik kesimpulan dan sebagainya terhadap obyek yang telah dipelajarinya. 3)Aplikasi / Application (C 3) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi/kondisi nyata. Aplikasi disini dapat diartikan sebagian penggunaan untuk hukum, metode prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang berbeda. 4)Analisis / Analysis (C 4) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyebarkan materi atau obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu stuktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya antara satu dengan yang lainnya. Kemampuan analisis dapat diketahui dari pemakaian kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan) membedakan

memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

5) Sintesis / Synthesis (C 5) Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan ke bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, atau sintesis dapat diartikan dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada misalnya dapat menyusun, merencanakan, meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang ada. 6) Evaluasi / Evaluatio (C 6) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi/obyek. Penilaian tersebut berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Pengukuran tingkat pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara ( interview) atau angket. Sedangkan kedalaman pengetahuan yang ingin kita ukur/ketahui dapat diselesaikan dengan tingkatan pengetahuan tersebut di atas.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Pembentukan pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat digolongkan menjadi 2 bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor Internal Yaitu hal-hal dalam individu itu sendiri yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan, meliputi :

1. Umur Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Pertumbuhan pada fisik secara garis besar ada empat kategori perubahan. Pertama, perubahan ukuran, kedua, perubahan proporsi, ketiga, hilangnya ciri-ciri lama, keempat, timbulnya ciri-ciri baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis atau mental taraf berfikir seseorang semakin matang atau dewasa (Wahit, dkk, 2007). Masa dewasa dini (18 tahun40 tahun) merupakan saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis (mental). 2. Pengalaman Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkunganya. Ada kecenderungan yang kurang baik seseorang akan berusaha untuk melupakan, namun jika pengalama terhadap objek tresebut menyenangkan maka secara psikologis akan timbul kesan yang sangat mendalam dan memekas dalam emosi kejiwaan, dan akhirnya dapat pula membentuk sikap positif dalam kehidupannya (Wahit, dkk, 2007). 3. Minat Sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menek uni suatu hal dan pada akhirnya mendalam (Wahit, dkk, 2007). diperoleh pengetahuan yang lebih

10

4. Paritas Paritas adalah keadaan kelahiran atau jumlah anak yang dilahirkan baik lahir hidup, lahir mati, maupun abortus sampai saat hamil terakhir. Usia 20-30 tahun adalah periode untuk melahirkan (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, 2010). b. Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah hal-hal di luar individu yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan yaitu : 1. Orang tua dan keluarga Orang tua dan keluarga mempunyai peranan penting dalam pembentukan pengetahuan seseorang, orang tua atau keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak sehingga melalui pengajaran mereka seseorang anak dapat memahami dan mlaksankan prinsip-prinsip kehidupan (Yusuf, 2001). 2. Pendidikan Pendidikan berarti imingan yang dibrikan seseorang pada orang lain terhadap sesuatu hal yang agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi informasi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya, jika sesorang tingkat pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Wahit, dkk, 2007).

11

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang melaksanakn bimbingan dan pengajaran sehingga mampu mengembangkan potensinya (Yusuf, 2001). Pendidikan formal merupakan pendidikan yang

dislenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas mulai dari pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/Mts), pendidikan menengah (SMA/SMK dan MA) sampai pendidikan tinggi (akademik , institut, sekolah tinggi dan universitas), jenjang pendidikan ini merupakan tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar dimana peserta didik dikembangkan potensi dirinya sesuai dengan tujuan pendidikannya. Pendidikan non formal banyak didapat pada usia dini contohnya sekolah minggu, Taman Pendidikan Al-quran, pendidikan kesetaraan dan sebagainya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab ( Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, 2010). 3. Kebudayaan lingkungan sekitar Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan sangat berpengaruh

12

dalam pemberitahuan sikap pribadi atau sikap seseorang (Saifuddin A, 2002). 4. Informasi Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat

mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru (Wahit, dkk, 2007). 5. Pekerjaan Dalam pekerjaan ada lingkungan pekerjaan dimana dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang baik secara langsung maupun tidak secara langsung. Bila seseorang tersebut tidak bekerja maka seseorang tersebut tidak memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh melaluai interaksi di lingkungan kerja (Wahit, 2007). Di dalam lingkungan kerja inilah individu saling berinteraksi dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan nilai dan norma yang berlaku didalamnya. Seseorang yang bekerja di lingkungan birokrasi biasanya akan memiliki gaya hidup dan perilaku yang berbeda dengan orang lain yang bekerja di perusahaan swasta. Seseorang yang bekerja dan bergaul dengan teman-temannya di tempat kerja seperti dunia pendidikan tinggi, besar kemungkinan juga akan berbeda perilaku dan gaya hidupnya dengan orang lain yang berprofesi di dunia militer (Narwoko&Suyanto, 2006). 6. Jenis Kelamin Menurut ( Narwoko&Suyanto 2005 : 334), jenis kelamin adalah suatu jenis genetik yang membedakan antar manusia berdasarkan unsur

13

biologis dan anatomi tubuh. Dimana jenis kelamin dibedakan atas 2 jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Dimana perempuan dianggap lemah lembut, emosional, keibuan, psikis lebih rentan terhadap emosi atau masalah dan sebagainya, sedangkan laki-laki dianggap lebih kuat, rasional, perkasa, tidak mudah putua asa dan sebagainya

2.2 Konsep Keluarga 2.2.1 Pengertian Keluarga Menurut Depkes RI dalam Wahit (2006:225) keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala-kepala dari beberapa anggota keluarga yang terkumpul dan tinggal di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Sedangkan Wahit (2006:256) selanjutnya mengatakan bahwa keluarga adalah terdiri dari dua individu atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain. Dan masing-masing mempunyai peran sosial dan mempunyai tujuan yaitu menciptakan dan mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik,

psikologis dan sosial anggota.

2.2.2 Tipe Keluarga a. Keluarga inti atau Nuclear Family adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.

14

b. Keluarga besar atau Extended Family adalah keluarga inti yang ditambah dengan sanak saudara misalnya kakek, nenek, keponakan, sepupu, paman, bibi dan sebagainya. c. Keluarga berantai atau Serial Family adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan keluarga inti. d. Keluarga duda atau janda atau Single Family adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian. e. Keluarga berkomposisi adalah keluarga yang perkawinannya

berpoligami dan hidup secara bersama. f. Keluarga kabitas atau cahabilition atau dua keluarga yang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk satu keluarga (Wahit, 2006:257).

2.2.3 Struktur Keluarga a. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi, dimana hubungan disusun melalui jalur garis ayah. b. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu. c. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.

15

d. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami. e. Keluarga kawinan adalah suami istri sebagai dasar bimbingan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri (Nasrul Efendi, 1998)

2.2.4 Fungsi keluarga a. Asih adalah kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan kehangatan

kepada anggota keluarga. b. Asuh adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak

agar kesehatannya selalu dipelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual. c. Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap

menjadi manusia dewasa yang mandiri (Nasrul Efendi, 1998:36). Selain keluarga mampu melaksanakan fungsi dengan baik, keluarga juga harus mampu melakukan tugas kesehatan keluarga. Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut. 1) Mengenal masalah kesehatan keluarga. Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan, karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami oleh anggota keluarganya.

16

2) Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat. Tugas ini merupakan upaya utama keluarga untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaa keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara anggota keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan sebuah tindakan. Tindakan kesehtan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agr masalah kesehatan yang sedang terjadi dapat dikurangi atau teratasi. 3) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit Sering kali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat, tetapi jika keluarga masih merasa mengalami keterbatasan, maka anggota keluaga yang mengalami ganguan kesehatn perlu memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar masalahyang lebih parah tidak terjadi. 4) Mempertahankan suasana rumah yang sehat Rumah merupakan tempat berteduh, berlindung, dan bersosialisasi bagi anggota keluarga. Sehingga anggota keluarga akan memiliki waktu lebih banyak berhubungan dengan lingkungan tempat tinggal. 5) Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada dimasyarakat Apabila mngalami gangguan atau masalah yang berkaitan dengan kesehatan keluarga atau anggota keluarga harus dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada disekitarnya (Wahit,2009:79). 2.2.5 Peran Keluarga Peran adalah tingkah laku yang diharapkan oleh seseorang terhadap orang lain (Wahit, 2006:3) menurut Friedman (1998) peran menunjukkan kepada beberapa perilaku yang kurang lebih homogen, yang didefinisikan

17

dan diharapkan secara normatif dari seseorang oknum dalam situasi tertentu. Peran didasarkan pada deskripsi dan beberapa perang yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi peran keluarga adalah: a. Perilaku Perilaku sangat komplek dan mempunyai peran sangat luas, Benyamin Bloom (1998) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku ke dalam 3 domain (ranah, kawasan) yaitu ranah kognitif, ranah efektif dan ranah psikomotor) b. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, ini terjadi setelah orang melaksanakan penginderaan suatu obyek tertentu. Pengindraan ini terjadi melalui panca indera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. c. Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. d. Praktek Persepsi, respon dan adaptasi. Peran adalah pola sikap, perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Perawatan adalah posisi (status), asuhan yang diberikan adalah peran. Peran di masyarakat dapat merupakan stressor terhadap peran karena struktur

18

sosial yang menimbulkan kesukaran, atau tuntunan posisi yang tidak mungkin dilaksanakan. Stress peran terdiri dari konflik peran, peran yang tidak jelas, peran yang tidak sesuai dan peran yang terlalu banyak. 1) Konflik peran, dialami jika peran yang diminta konflik dengan sistem individu atau dua peran yang konfliknya satu sama lain. 2) Peran yang tidak jelas, terjadi jika individu yang diberi peran, yang tidak jelas dalam hal perilaku dan penampilan yang diharapkan. 3) Peran yang tidak sesuai, terjadi jika individu dalam proses transisi merubah nilai dan sikap, misalnya seseorang yang termasuk dalam satu professi, dimana terdapat konflik antara nilai individu dan professi. 4) Peran lebih, terjadi jika seorang individu menerima banyak peran misalnya sebagai istri, mahasiswa, perawat, ibu. Individu dituntut melakukan hal tetapi tidak tersedia waktu untuk menyelesaikannya.

2.2.6

Kriteria untuk berfungsinya peran keluarga yang adekuat Menurut Glesserdan Alleser dalam Friedman (1998:284)

mengatakan bahwa dari analisa yang telah dilakukannya terhadap keluarga fungsi peran keluarga yang adekuat: a. Menekankan pentingnya kesesuaian antara peran dan norma b. Kehadiran peran keluarga memenuhi kebutuhan anggota keluarga c. Kemampuan keluarga untuk merespon perubahan peran. d. Lokasi peran bersifat masuk akal dan tidak membebani suatu anggota keluarga.

19

2.2.7 Pengertian Dukungan Keluarga Dukungan sosial keluarga adalah sebagai suatu proses hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya (Friedman, 1998:196) Di dalam suatu keluarga harus saling mendukung diantara seluruh anggota keluarga yang hidup dalam lingkungan yang bersikap sportif, adanya dukungan dari keluarga karena pengaruh lingkungan sosial keluarga dan personal serta dukungan sosial keluarga dapat berefek pada adaptasi kesehatan seseorang (Friedman, 1998:197). Dukungan keluarga memiliki tujuan-tujuan kelompok yang diantaranya yaitu (Friedman, 1998:456). a. Dukungan Emosional Keluarga memberikan dukungan pemeliharaan dan emosional bagi anggota keluarga. Dalam tipe hubungan seperti ini, individu yang memelihara atau kelompok perawat, mendukung dan secara emosional memenuhi beberapa kebutuhan psikososial keluarga. b. Dukungan atau Bantuan Langsung Bantuan dari keluarga juga dalam bentuk bantuan langsung, bantuan finansial yang berkesinambungan, belanja atau perawatan fisik pada lansia. Keluarga mempunyai tugas dalam pemeliharaan anggota dan saling memelihara, menurut Friedman (1981:188) membagi tugas kesehatan yang harus dilakukan oleh keluarga, yaitu: 1) Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga. 2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat. 3) Memberikan perawatan angota keluarganya yang sakit dan tidak dapat membantu dirinya karena cacat atau usianya yang terlalu tua.

20

4) Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga. 5) Mempertahankan hubungan timbale balik antara anggota keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan.

2.3 Konsep Kusta 2.3.1 Pengertian Kusta Penyakit kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae (M.leprae) yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang, dan testis, kecuali susunan saraf pusat (Amiruddin, dkk, 2003).

2.3.2 Etiologi Mycobacterium leprae atau kuman Hansen adalah kuman penyebab kusta yang ditemukan oleh sarjana dari Norwegia GH Armauer Hansen pada tahun 1873. Kuman ini bersifat tahan asam, berbentuk batang dengan ukuran 1- 8, lebar 0,2 0,5, biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satusatu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat dikultur dalam media buatan. Kuman ini juga dapat menyebabkan infeksi sistemik pada binatang armadillo (Amiruddin, dkk, 2003).

2.3.3 Masa Tunas Penyakit Kusta Masa belah diri kuman kusta memerlukan waktu yang sangat lama dibandingkan dengan kuman yang lain , yaitu 12-21 hari. Hal ini merupakan

21

salah satu penyebab masa tunas yang lama yaitu rata-rata 2-5 tahun (Ditjen PPM dan PL, 2001 )

2.3.4 Cara Penularan Penykit Kusta Kontak langsung dengan penderita , tetapi sebagian ahli ada yang berpendapat bisa juga melalui saluran pernafasan dan kulit . Timbulnya penyakit kusta tidak mudah perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain : a. Faktor Sumber Penularan Sumber penularan adalah kusta tipe MB (multibasiler ). Penderita MB tidak akan menularkan jika berobat secara teratur. b. Faktor Kuman Kusta Kuman kusta dapat hidup antara 1-9 hari, tergantung cuaca dan hanya kuman kusta yang utuh ( solit ) saja yang dapat menimbulkan penularan. c. Faktor Daya Tahan Tubuh 95% sebagian manusia kebal dari kusta ,ini dibuktikan dari hasil penelitian : dari 100 orang yang terpampar 95 orang yang tidak menjadi sakit ,3 orang sembuh sendiri tanpa pengobatan ,2 orang menjadi sakit ,hal ini belum memperhitungkan akibat pengobatan.

2.3.5 Diagnosa Harus ditemukan cardinal sign (tanda- tanda pokok) kusta : adanya kelainan kulit hipopigmentasi (seperti panu) bercak eritema (kemerahan) infiltrat (penebalan kulit) nodul benjolan ,berkurang sampai hilang rasa pada

22

kelainan kulit tersebut di atas, penebalan saraf tepi, adanya kuman tahan asam di dalam korekan jaringan kulit (BTA Positif ). Untuk melakukan diagnosa secara lengkap dilaksanakan hal sebagai berikut : anamnese ,periksa kulit meliputi pemeriksaan kulit dan pemeriksaan saraf tepi dan fungsinya, pemeriksaan bakteriologis, pemeriksaan

hispatologis, imonologis.

2.3.6

Kriteria Penentuan Tipe Dalam menentukan tipe Puls Basiler dan Multi Basiler didasarkan

pada kreteia dibawah ini : a. Puls Basiler 1) Bercak (mokula ) : jumlah < 5; ukuran kecil dan besar ; distribusi unilateral atau bilateral asimetris; konsistensi kering dan kasar ;batas tegas ; kehilangan pada rasa bercak : bercak tidak berkeringat ada bulu rontok pada bercak. 2) Infiltrat : Kulit tidak ada ;membran mukosa (hidung tersumbat perdarahan hidung ) tidak pernah ada. 3) Ciri-ciri khusus : Central Healing penyembuhan di tengah. 4) Nodulus tidak ada 5) Penebalan saraf tepi : lebih sering terjadi dini,asimetris. 6) Deformitas (cacat ) : biasanya terjadi asimetris dini 7) Apusan : BTA negatif

23

b. Multi Basiler 1) Bercak (mokula ): jumlah banyak; ukuran kecil- kecil; distribusi bilateral, simetris, konsistensi halus berkilat;batas kurang tegas ; kehilangan pada bercak biasanya tidak jelas , jika ada terjadi pada kehilangan kemampuan berkeringat,bulu rontok. 2) Infiltrat : kulit ada , kadang- kadangtidak ada ;membran mukosa ( hidung tersumbat perdarahan hidung ) ada,kadang-kadang tidak ada. 3) Ciri-ciri khusus : punched out lesion; madarasis , vinekomatis; hidung pelana; suara sengau. 4) Nodulus kadang kadang ada 5) Penebalan saraf tepi : terjadi pada yang lanjut biasanya lebih dari satu dan simetris. 6) Deformitas ( cacat ) : terjadi pada stadium lanjut 7) Apusan : BTA positif 2.3.7 Klasifikasi Pengobatan a. Tujuan 1) Untuk menentukan regimen pengobatan 2) Untuk perencanaan operasional b. Klasifikasi Pengobatan Multidrug Therapy (MDT) Untuk keperluan pengobatan kombinasi atau MDT yaitu menggunakan gabungan rifamicin,lamprene dan DDS maka penyakit kusta di Indonesia di klasifikasdikan menjadi 2 tipe yaitu : Tipe PB (pansi basiler ) dan Tipe MB (multi basiler ). Sebelumnya telah dikenal beberapa klasifikasi seperti : yang sudah lanjut;

24

1) Manifestasi Madrid 2) Klasifikasi Rdley Jopling 3) Klasifikasi India, namun klasifikasi ini tidak dipergunakan dalam P2 kusta di lapangan

2.3.8 Regimen Pengobatan MDT (Multidro Therapy ) Sesuai yang direkomendasikan oleh WHO Regimen tersebut : jenis obat dan dosis untuk orang dewasa: rimfamicin 600 mg/bulan diminum didepan petugas, DDS (Dapsone ) tablet 100 mg/hari diminum dirumah, pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal9 bulan. Setelah minum 6 dosis dinyatakan RFT (Release From TreatMen = berhenti minum obat kusta ) meski secara klinis lesinya masih aktif . Tipe MB (multibasiler ) terdiri dari : a. Jenis obat atau dosis untuk orang dewasa 1) Rimfamicin 300 mg/bulan diminum di depan petugas 2) Lamprene 300 mg/bulan dimdnum di depan petugas 3) Lamprene 50 mg/hari diminum di rumah 4) Dosis 100 mg/hari diminum di rumah Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan, Sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT (Release From Treatment =berhenti minum obat kusta ) meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. b. Dosis lamprene untuk anak 1) Umur dibawah 10 tahun : bulanan 100 mg/bulan,harian 50 mg/hari

25

2) Umur 11-14 tahun :bulanan 200 mg/bulan,harian 50mg/hari kali/ minggu Dosis DDS untuk anak-anak 1-2 mg/kg berat badan . Dosis rimpamicin untuk anak anak 10- 15 mg/kg berat badan.

2.3.9 Komplikasi yang bisa terjadi pada kusta Mycrobacterium leprae menyerang saraf tepi pada tubuh manusia tergantung dari kerusakan saraf tepi, maka akan terjadi gangguan fungsi saraf tepi. a. Kerusakan fungsi sensorik Kerusakan fungsi sensorik mengakibatkan terjadinyakurang/mati

(anastesia ) akibat dari anastesia pada telapak tangan dan kaki dapat terjadi luka. Pada kornea terjadi hilangnya refleks kedip sehingga mata mudah kemaskan kotoran ,benda asing yang dapat menimbulkan infeksi mata dan akhirnya kebutaan. b. Kerusakan fungsi otonom Terjadinya gangguan pada kelenjar keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi kering, menebal,mengeras dan akhirnya dapat pecah-pecah. Pada umumnya apabila akibat kerusakan pada fungsi syaraf tidak di tangani secara cepat dan tepat maka akan terjafdi cacat ke tingkat yang lebih berat.

26

2.4 Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah merupakan visualisasi dari arah pemikiran penelitian yang dilakukan. Arah pemikiran ini sebenarnya merupakan hubungan antara variabel-variabel atau faktor yang diteliti (Soekidjo Notoatmodjo, 1993).

Kerangka Konsep INPUT PROSES OUTPUT

Faktor yang mem Pengaruhi pengetahuan: Internal: 1. Umur 2. Pengalaman 3. Minat 4. Parietas 5. Intelegensi Eksternal: 1. Orang tua dan keluarga 2. Pendidikan 3. Kebudayaan Lingkungan sekitar 4. Informasi 5. Pekerjaan 6. Jenis Kelamin

1. Tingkat pengetahuan tentang: a. Pengertian kusta b. Etiologi c. Manifestasi klini d. Pencegahan e. Cara penularan f. Perawatan/ pengobatan kusta g. Kecacatan penderita kusta pada
kurang Cukup Baik

Keterangan: : Variabel yang di teliti

:Variabel yang tidak di teliti