Anda di halaman 1dari 52

PESTA ANAK MUDA

PESTA ANAK MUDA Malam tahun baru 1998 yang lalu, gue diundang ke suatu pesta anak-anak muda kalangan the have. Pestanya diadakan di suatu villa di Curug Sewu, di kaki gunung Salak, jalan masuknya cuma buat satu mobil. Kebetulan gue dan temen gue Ferry dateng yang paling belakang dan gue nggak nyangka waktu gue lihat mobil-mobil yang parkir di situ Opel Blazer DOHC gue ternyata yang paling murah !! Kita berdua langsung masuk ke villa yang paling besar, di sana sudah ada beberapa orang tamu cowok cewek, semuanya anak muda dengan dandanan yang keren. Ferry langsung ngenalin gue ke tuan rumahnya, dia cewek dengan tubuh yang aduhai umurnya kurang lebih 26 tahun, namanya Elena. Menurut Ferry, dia adalah anak seorang bankir di Jakarta. Nggak lama kemudian, Elena ngebuka acara hura-hura ini . Sambil makan Ferry bilangin gue kalau nanti jangan kaget, dengan bisik-bisik dia bilang, "Ndra, coba elo itung jumlah cowok sama ceweknya sama nggak ?". Selintas gue hitung dan ternyata jumlahnya nggak jauh beda, gue langsung nanya, "Emangnya kenapa Fer ?". Temen gue ini nyahutin dengan tenang, "Tenang aja Ndra, pokoknya elo puas lah !". Sehabis makan, gue nyari kenalan buat ngobrol dan ada seorang cewek yang menarik perhatian gue. Nama cewek ini, Vinda tingginya sekitar 158 cm, kulitnya putih dengan rambut sebahu. Dia memakai kaos yang ketat dengan belahan di dada yang cukup menantang kejantanan gue, buah dadanya nggak terlalu besar tapi bentuknya bagus. Yang paling bikin gue penasaran adalah pandangan matanya yang memperlihatkan hasrat bercinta. Untuk beberapa saat, kita berdua ngobrol kesana kemari dan akhirnya gue tahu kalau dia baru berumur 22 tahun dan masih kuliah di suatu perguruan tinggi di daerah Kalibata. Nggak berapa lama, suara musik disco berkumandang dan Elena berteriak lewat mike, "Dancing time, guys !!". Dan beberapa orang langsung turun berjoget, gue nggak tahan juga akhirnya gue tarik Vinda turun ke lantai dansa. Ternyata dia seorang pe-disco yang hot, gerakan-gerakan tubuhnya bener-bener membangkitkan kejantanan gue. Beberapa kali buah dadanya di tempel dan digoyang-goyangkan di dada gue dengan sengaja, seolah nantang gue. Kurang lebih 1 jam kita berjoget, akhirnya kita mutusin untuk break dulu. Gue nawarin dia mau minum apa dan dia nyahut dengan nakal, "Gimana kalau whisky cola aja ?". Wah, gile juga nih cewek abis kita minum-minum, ternyata lagunya diganti jadi slow and romantic dan Vinda langsung narik gue balik melantai. Dia langsung meluk gue buah dadanya langsung terhimpit diantara kita berdua, dan membuat kemaluan gue menegang. Gue pikir si Vinda pasti ngerasa juga nih . Akhirnya gue beraniin nyium belakang telinganya dan gue terusin ke lehernya, udah itu tangan kanan gue meremas dengan pelan pantatnya yang berisi dan Vinda cuma menggumam nikmat. Gerakan itu gue ulang beberapa kali, dan terasa desah nafasnya makin keras akhirnya Vinda nggak tahan, bibir gue langsung di kulumnya gue ngerasain lidah kita beradu. Buat makin ngerangsang, gue gesek-gesek kemaluannya pakai tangan gue. Lagi enak-enaknya kita ciuman, tahu-tahu musik di balikin lagi jadi disco bubar deh, rangsangan-rangsangan yang gue buat tadi. Sementara gue sama Vinda nge-slow dance,

rupanya makin banyak minuman keras yang beredar. Nggak lama ada seorang cewek naik ke atas meja dan ngejoget dengan gerakan-gerakan yang hot, dan lagi-lagi Elena berteriak lewat mikenya DJ, "It's free time hey, Finny show your naked body !". Dan cewek yang lagi joget diatas meja tadi langsung ngelepasin blusnya dan disusul dengan BHnya, cowok-cowok langsung bertepuk-tangan dan bersuit-suit, sementara cewek-ceweknya berteriak histeris. Beberapa diantara mereka langsung mengadakan gerakan-gerakan sex foreplay. Dalam hati gue berteriak, "Damn, ini yang dimaksud sama Ferry tadi !". Akhirnya perhatian gue balik ke Vinda lagi, yang sebelumnya gue peluk dari belakang gue cium tengkuknya yang putih, yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus dan tangan gue mulai masuk ke balik kaosnya mencari buah dadanya. Waktu gue mulai meremas buah dadanya, Vinda cuma menggeliat senang di pelukan gue, dan dia berusaha masukin tangannya ke celana gue. Sesaat kemudian, dia berbisik, "Ndra, fuck me please gue udah nggak tahan nih !", udah itu si Vinda narik gue ke salah satu kamar di lantai dua. Begitu pintu ketutup, Vinda langsung meluk dan bibirnya langsung melumat bibir gue dan tangannya langsung ngelepasin ikat pinggang dan celana gue, setelah itu dengan nggak sabar dia melorotin celana dalam gue. Akhirnya kontol gue yang udah berdiri dari tadi nongol keluar dan Vinda dengan sigap menggenggam kontol gue dan diarahin ke mulutnya. Dalam sekejap kontol gue setengahnya udah masuk mulutnya, sementara itu gue ngelepasin kemeja dan gue ngerasain nikmatnya kontol dihisap dan diemut. Sambil ngebungkuk, gue ngebukain kaos sama BHnya Vinda, ternyata badannya bener bener putih mulus, teteknya bulat penuh dengan puting yang berwarna merah tua dan si Vinda masih ngemut dan ngisep kontol gue dengan ...

...bernafsu. Setelah gue pikir dia cukup ngisepin kontol gue, si Vinda gue bimbing dan gue celentangkan di ranjang. Sesudah itu gue bukain rok dan celana dalamnya, gue ngeliat bibir kemaluannya tidak ditutupi jembut sama sekali. Ketika jari gue mulai masuk ke vaginanya, gue ngerasa vaginanya mulai basah. Sementara itu, mulut dan lidah gue mulai bermain-main di teteknya, putingnya adalah sasaran yang menggairahkan dan tangan gue yang satu nggak ketinggalan mulai ... ...ngeremas-remas teteknya yang mulai mengeras. Si Vinda cuma mendesah-desah dan menggeliat merasakan nikmatnya jari dan kecupan gue, tangannya cuma bisa menarik-narik rambut gue. Pelan-pelan jari gue bergerak makin dalam dan akhirnya tersentuhlah clitorisnya, langsung aja si Vinda mendesah, "Uhghh, Ndra lagii, emmhh" dan bibir gue ngerasain teteknya makin tegang. Kecupan dan jilatan lidah gue akhirnya menjelajahi kedua teteknya dan lembah diantaranya, dan jari-jari gue tetap ngemainin clitorisnya yang membuat Vinda makin menggelinjang-gelinjang dan desahannya makin keras, "Ohhh, Ndra . Ufhh, oohhh". Memeknya terasa makin basah dan bibir vaginanya makin menggembung, tanda nafsu birahinya makin menggelora. Akhirnya, gue ngambil posisi 69, kontol gue jatuh diatas mulutnya dan mulut gue mulai bekerja dengan mengecup bibir vaginanya. Makin lama gue tambah kekuatan kecupan gue, makin lama dan makin kuat, sekali-kali lidah gue mendesak masuk kesisi dalam dari

vaginanya. Si Vinda hanya bisa menggelinjang dan mengangkat pinggulnya, karena mulutnya lagi sibuk ngisep kontol gue. Nggak lama dia ngelepasin kontol gue dan ngejerit, "Ndra, fuck me .. please, gue nggak tahan lagi, please !". Gue putar badan dan Vinda langsung ngebuka selangkangannya, dengan dua jari gue buka memeknya yang sudah menggembung itu dan gue gesek-gesekan kepala kontol gue ke bibir vaginanya bagian dalam. Si Vinda makin menggelinjang dan mendesah-desah, setelah itu gue masukin setengah kontol gue ke memeknya dan gue goyang maju mundur tapi gue jaga cuma setengah kontol gue yang masuk. Nggak lama Vinda ngejerit lagi, "Ndra ayo masukin kontol elo semuanya yang dalem Ndra ". Tapi gue cuekin aja permintaannya itu, karena gue pingin ngebuat dia makin terangsang. Cuma kepala kontol gue yang bersenggolan sama selaput dara dan kadangkadang gue ngerasain clitorisnya di ujung kontol gue, sementara itu goyangan gue makin cepat dan membuat Vinda makin terangsang. Si Vinda makin nggak tahan untuk dientot, "Indra ayo dong entot gue emmhh, masukin yang dalem Ndra " bujuknya manja. "Ok, kalau elo mau ngerasain panjangnya kontol gue, kita ganti posisi aja". Udah itu, gue ngambil posisi duduk selonjor dan si Vinda gue suruh berjongkok menghadap ke gue. Langsung aja kontol gue digenggamnya dan diarahin ke memeknya, udah itu dia ngedudukin pinggul gue dan kontol gue langsung terbenam di memeknya yang basah lembab itu. "Ok, Vin sekarang elo goyang pelan pelan naik turun, gimana ?" dan dia nyahut, "Ndra, kontol elo bener-bener fit di memek gue emmm, ufhhh ". Terusnya Vinda bergerak naik turun seperti orang naik kuda, gesekan kontol gue dan memeknya memberikan kenikmatan yang luar biasa, makin lama gerakannya makin cepat dan desahannya juga makin keras, "Oghhh . Ohhhh, emmm .. ufghh". Dan gue juga ngerasain kontol gue dialirin cairan vagina yang makin banyak. Sementara itu, tangan gue mengelus-elus punggungnya dan meremas teteknya, gerakan teteknya yang seirama dengan naik turun badannya benar benar sensual. Kurang lebih setengah jam si Vinda berkuda diatas kontol gue, dia ngejerit kecil, "Ndra ughhhh . gue orgasme . Ohhh, ohhh" dan tiba tiba aja badannya menegang dan dijatuhkannya ke badan gue, dan gue juga ngerasain kontol gue bener bener basah sama cairan vagina. Si Vinda gue rebahin di pinggir ranjang dan gue berdiri di atas lutut gue, setelah itu gue buka kedua pahanya yang putih itu dan gue masukin lagi kontol gue ke memeknya. Gue senderin kedua kaki Vinda ke badan gue dan sambil meganin kedua kakinya, gue mulai ngegoyangin pinggul gue maju mundur. Gue bilang ke Vinda, "Sekarang giliran gue ". Awalnya gue goyang dengan lambat dan makin lama makin cepat, gue ngerasain kenikmatan yang diberikan memeknya si Vinda. Sementara itu, si Vinda cuma bisa melenguh, "Uhhhg ohhhh lagi Ndra uufhh" dan meremas-remas teteknya sendiri sambil menggelinjanggelinjang. Nggak lama, gue turunin frekuensi goyangan gue jadi gue bisa sambil nyiumin betisnya Vinda. "Ndra ohhg, masukin yang dalem uuhhhpp" dan gue sahutin, "OK, sekarang lingkarin kaki elo di pinggang gue, gue akan tancepin dalem-dalem kontol gue". Si Vinda nurut dan gue tarik kontol gue pelan-pelan setelah itu gue masukin lagi secepat mungkin dengan tenaga penuh, jadi gue masukin kontol gue dengan sentakan-sentakan bertenaga. Vinda cuma bisa menjerit setiap kali kontol gue memasuki memeknya, "Oohhh uuhhhpp .. uuhhhpp ...

...Ndra lagiii ohhh gilaa ouchh ". Kedua tangannya merenggut seprei keraskeras, karena dia merasakan sedikit rasa sakit yang bercampur kenikmatan yang luar biasa, dan Vinda memejamkan matanya, suatu tanda dia bener-bener menikmati kontol gue. Nggak

lama kemudian gue ngerasain kedua pahanya menegang dan menjepit pinggang gue dengan keras, demikian juga dengan badannya yang menegang dan punggungnya terangkat dari tempat tidur, membuat teteknya makin menonjol. Akhirnya dia menjerit lagi, "Ouchhh Ndra . Gue orgasm lagi . Ouchh" dan gue rebahin badan gue di atas badannya sambil gue ciumin leher, telinga dan teteknya yang menggelembung keras. Kemudian gue suruh dia untuk terlentang di tengah ranjang. Sambil gue remas teteknya, gue bisikin dia, "Satu session lagi yaa " dan dia menyahut, "Elo bener-bener ngebuat gue gila ...

...Ndra". Dengan lutut gue, gue buka lagi kedua pahanya dan untuk ke sekian kalinya kontol gue masuk lagi di memeknya. Gue rebahin badan gue menimpa badannya Vinda dan gue ngerasain kedua teteknya di dada gue, sementara itu kedua tangan Vinda memeluk tubuh gue dengan erat. Gue cium bibirnya, sehingga kita kembali merasakan lidah-lidah yang beradu dan gue mulai menggoyangkan pinggul gue naik turun. Dua puluh menit kemudian, Vinda mulai menggelinjang dengan liar di bawah badan gue dan gue merasakan kenikmatan yang lain yaitu tetek-teteknya makin bergesekan dengan dada gue. Setelah itu gue makin mempercepat goyangan dan Vinda mulai mendesah-desah lagi, "Ohhg . Ufhhp", nggak lama kemudian dia menjerit, "Ndra, gue mau orgasm lagi ouchhh". Terus gue bilang, "Tahan bentar Vin, gue juga mau keluar nih" dan makin gue percepat goyangan gue. Akhirnya Vinda menjerit kecil, "Ndra . Gue orgasm ohhh" dan guepun nggak tahan lagi. Badan kita berdua menegang dan untuk meredam jeritan Vinda, gue bungkam bibirnya dengan ciuman. Setelah itu gue merasakan gerakan air mani di dalam kontol gue yang berarti sebentar lagi air mani gue menyembur keluar dan dengan sigap gue keluarin kontol gue dari memeknya Vinda. Akhirnya air mani gue muncrat keluar tepat di atas dada Vinda dan dia membantu ngurutin kontol gue, supaya tidak ada mani yang ketinggalan. Kemudian Vinda mulai menjilati kontol gue dan akhirnya diemut untuk dibersihkan. Setelah itu kita berdua tidur berpelukan kelelahan dengan rasa puas yang tak segera hilang. Minggu siang, kita berdua kembali ke Jakarta dan gue menghabiskan malam Senin itu di apartemen Vinda di bilangan Prapanca. Kita berdua bersetubuh lagi dengan nafsu yang menggelora. Karena Senin itu gue harus kerja, gue tinggalin Vinda yang masih tidur telanjang dengan pulas. Gue tinggalin pesen di meja riasnya "Vin, thanks please contact gue .... bye !".

Pengalaman bercinta dengan Hair Dresser

Pengalaman bercinta dengan Hair Dresser Hallo, glad to meet you to share my love experience again. Sekarang, gua akan share salah satu pengalaman sex gua yg boleh dibilang salah satu yg paling nasty. OK let's get rolling..... Gua orang-nya cukup modist, cukup memperhatikan diri gua dan penampilan gua didepan umum. Sebulam sekali, gua potong rambut, untuk menjaga penampilan gua agar tetap kelihatan macho dan ganteng. Nah, gua berlangganan dengan salah satu salon di kota gue tinggal. Dan juga gua tetap memakai hair dresser yg sama orangnya. Nama dia sebut saja Liz. Saking seringnya gua ke salon, maka hubungan gua dengan dia semakin minggu menjadi semakin akrab. Meskipun kita belum pernah nge-date, tapi hubungan kita berdua boleh dibilang cukup intim. Dan dia pun tidak segan2 untuk memeluk gua tiap kali gua datang ke salon tsb. Pada suatu sore, sekitar jam 5:30an, gua telp dia membuat appointment potong rambut untuk besok siang. Ternyata dia tidak ada waktu besok dan juga lusa-nya. Dia booked sampai 3 hari. Karena rambut gua udah berantakan, gua pengen rambut gua keliatan rapi secepatnya. Akhirnya, karena dia juga sedang sibuk pas gua telp, dia menyuruh gua dateng ke salon sekitar jam 8PM. Tak terasa sudah jam 7:30, dan gue pun bersiap2 untuk berangkat ke salon. Sambil memanaskan Range Rover jeep gue, gua telp dia lagi, untuk memastikan bahwa gua akan dateng sedikit telat. Sesampainya gua disono, dia masih memotong rambut customer terakhir dia. Dan gua menunggu sambil duduk2. Ini sedikit info mengenai hair dresser gua yg bernama Liz. Dia umur 23, bule, rambutnya pendek dicat berwarna putih, dan dia tingginya sekitar 5'3" (sekitar 158cm). Tak lama setelah customer terakhir selesai, dia mendekati gue lagi. Seperti biasa, dia mulai meraba2 rambut gue dengan jari2 tangannya yg penuh dengan cincin. Dia bilang, "Im so sorry I'm all booked 'till Thursday, honey". "What do you have in mind today for your hair ?" "As usual, short on both sides and on the back too", gua bilang. Akhirnya OK, setelah dikeramas, dia mulai potong rambut gua, dan kita mulai bercerita2 tentang segala macem, mulai dari sekolah, movies, etc. Pas dia memotong rambut gue, pahanya dia bersentuh dengan tangan gua beberapa kali. Gua mulai berpikir, oohh betapa nikmatnya, cuma sehelai blue jeans dia yg menghalangi tangan gua dari paha dia yg mulus itu. Sampai akhirnya pas dia sedang memotong poni gue, dada dia berada pas didepan batang hidung gue. Pelan2, gua menghisap napas dalam2 untukmecoba menghirup "oxygen" dari dada dia. Ohh yeeeeaaahh.....cuma dua helai kain yg "menghalangi" muka gue dengan dada dia. Then, seperti sambaran petir, dia bertanya,"what do you think of 'em ?" Huh ? gua bingung. Seperti orang bloon gua megap2, bertanya,"What was it, Liz ?" "What do you think of

them?" Gue masih bingung, karena shock. Meskipun gua sebenernya tahu, tapi gua malu engga tahu harus menjawab apa, karena ditanya begitu dengan tiba2. Lantas gua bertanya ke dia, "Are you referring to your boobs?" (boops=toket(slang)). "Yeah, you got that right", dia bilang. Hmmm......I think they are pretty nice, gua jawab. Sementara disalon tsb, tidak ada orang lain, selain kita berdua. Lalu dia bilang, "Go ahead, touch 'em, Im almost done with your hair, so you wont bother me,"Liz replied. Wowwww.....gua bisa ngentot dengan bule juga nih, ide gila gue bilang. Lantas gua bilang,"hmmm...can I see them, Liz ?", "Yeah, why not ?" she said. "Why don't we go to the tanning room, gua bilang ke dia" Lantas kita berada di tanning room, tanpa banyak cingcong, gue peluk dia dari belakang. Meraba2 toketnya dan gua ciumin leher danpipi dia. Akhirnya dia berputar dan kita berfrench kiss. Manis juga bibirnya dia, gua pikir. Karena dia kecil orangnya, gua angkat dan kakinya dia melingkari pinggang gua, sambil kita terus berciuman lidah ke lidah, dan bibir ke bibir. Akhirnya, kita sempat berhenti untuk beberapa saat, karena ada telp. Sialan gua pikir, lagi enak2 ada yg telp. Pas gua lagi mununggu, gua merokok sebentar..engga berapa lama kemudia, Liz masuk ke tanning room. Dan dia bilang,"Let's continue what we left off". OK Im ready for you, Liz. Pas gue mau buang rokok gua, dia bilang, gimme your ciggarette to me, I feel I need a smoke for awhile. Engga lama kemudian, dia tanya gua, kalau gua pernah coba marijuana (cimeng). Gua pikir, ah cimeng sih hobby gue.Dan gua bilang, yes you bet I do. Do you ? dia bilang, yeah I have 1 joint (1 linting) to share with you now. Setelah nyimeng dan lumayan HIGH, kita terusin berciuman lidah ke lidah. Tak terasa si Liz udah bugil, keliatan bulu nya dia berwarna coklat ke merah2an. OOhhhhhh gue tambah mabok ngeliatnya.Gua jilatin dadanya, putingnya gue gigit pelan2, sampe menjadi keras. Terus turun kebawah, keperutnya enak banget. Akhirnya, lidah gua sampe ke memeknya dia...ternyata seperti difilm2 bokep, memek bule itu bagus, merah mudah, pink warnanya. Gua jilatin dengan gaharnya. Naik turun, keluar masuk memek dia, gue sedot sampe cairan putih2nya keluar dan gua telen. Terasa asin2 kecutnya ...

...tapi nikmat sekali !!! Dan dia juga mulai ciumin titit gue yg sudah berdiri tegak. Dia main2in dibibirnya dan, sampai akhirnya dia hisap sampe dalam sekali. Gua ngerasa kalau kontol gue itu udah masuk dalem banget ke mulut dia, sampe mungkin udah masuk setengah tenggorokan dia. Gua udah engga tahan pengen muncratt, tapi karena gua ...
...pengen muncratnya di memek dia, lantas gua mulai berpikir tentang sekolah, tentang segala sesuatu yg bikin gue engga jadi muncrat. Setelah puas, dia nungging, kita berdua ngentot gaya doggie style. Sementara gua ngentot, gue remas2 toket dia dari belakang. Nikmatnya bukan main. Yang bikin gua tambah horny itu, suara nya dia. Berdesah2 lumayan kencang,

mungkin sebagian besar dari cewe2 indo tidak pernah begini kalau lagi ngentot ya. Untuk beberapa saat, kita berdua berganti style, sekarang gaya missionary. Dia dibawah, gua diatas...ini ngentot style yg bikin gua cepet banget keluar spermnya. Sekalian ngentot, bisa sebari ngeliatin toket dan muka dia yg sexy dan rambutnya yg blonde. Karena gua engga mau cepat2 muncrat, gua angkat kaki dia, gua buka high heelnya dan stockingnya sebari gua tetap goyang2 ngentotin dia. Dia pun sepertinya tidak cape2, tetap berdesah2. Sesudah stockingnya mulai terbuka, gua mulai ciumin paha dia, gua jilatin dan gua cupang, sampe jadi merah2. Karena gua bener2 udah engga tahan, akhirnya gua mulai turunin muka gue kebagian dada dia, tadinya gua mau jilatin puting toketnya, tapi dia menarik muka gua ke mukanya. Dia orgasm pas lagi ciumin mulut gua...terasa keluar seperti cairan2 hanget dari memek nya yg pink itu. Gua juga udah bener2 engga tahan, dan akhirnya memuncratkan cairan sperm. Karena gua lagi high cimeng, ejaculation gue bener2 nikmat banget. A TRILLION TIME MORE INTENSE !! Gue menjerit2 nikmat dan linu2 dikontol gue pas lagi muncrat. Gua udah engga konsen lagi untuk ciumin bibirnya dia, akhirnya gua jilatin mulutnya dia. Dan dia pun membalas keluarin lidahnya untuk gua masukin ke mulut gua, dan gua hisap lidahnya. Sewaktu gua mau menarik keluar kontol gua, dia melarang jangan. Karenadia masih merasakan sedikit rasa nikmat. Dan gua pun membiarkan kontol gua didalam memek dia. Sesudah kurang lebih 5 menit, gua cabut keluar, linu sekali tapi nikmat pas kontol gua keluar pelan2 dari memeknya yg udah bener2 basah. Mungkin dia orgasm berkali2, karena gua liat memeknya dia basah dan cairan peju gua menutupi lubang pussynya yg pink itu. Engga lama kemudian dia ke bathroom mau pipis katanya. Pas dia balik, dia langsung membuka lebar2 kakinya, kelihatan lagi selangkangan dia masih merah. Dan gua pelan2 mendekatinya, gua cium2 sebentar dan gua jilatin. Asin rasanya sekarang, bekas peju gua dan cairan orgasm dia masih ada sedikit kali. Lubang pantatnya gua lihat pink juga warnanya, dan bersih. Karena gua masih pengen jilatin dia, lalu gua jilatin juga lubang pantatnya. Sampe dianya teriak aaaahhhh sekali. Tak terasa sudah jam 10 lagi. Dan dia mesti membereskan cashier untuk diberikan di manager salon tsb besok. Selagi menunggu dia hitung2 semua bill dan duit, gua masih iseng untuk pegang2 toket dan menciumi bibir dia, sementara dia hanya senyum2. Jam 11 dia beres dan gua anterin dia ke tempat parkir, dan gua pulang ke apt gua. Sampai sekarang kita berdua masih berhubungan intim dan udah 3 kali date keluar. Sewaktu2 kita berdua masih bercanda mengenai malam itu pas kita have sex di salon. Dia pernah bilang ke gua, kalau misalnya dia ketahuan having sex di tanning room, dia bisa kena pecat sama bossnya. Hehehehe..untungnya saja

tidak pernah ada yg tahu, selain kita berdua. Lain kali gua akan cerita2 kalau gua punya pengalaman having sex yg sangat menarik untuk dibaca. Have a nice day,

KAFE BUGIL ONLINE

KAFE BUGIL ONLINE Perkenalkan namaku Prihatin Pamungkas. Kenapa namaku seperti itu? Dan kenapa judulnya adalah tiga belas? Ini ceritanya. Aku akan menceritakan secara singkat saja. Aku adalah anak bungsu, dilahirkan pada bulan Desember tahun 1965 di kota kecil di ujung barat Jawa Barat. Kedua orang tuaku berasal dari Jogya, Jawa Tengah. Bapakku adalah seorang tukang kayu dan saat aku dilahirkan, bekerja pada saat PT Krakatau Steel didirikan. Setelah proyek selesai, bapakku bekerja di Departemen Penerangan, kota Serang. Tetapi malang G30S PKI terjadi dan bapakku yang tak tahu apa-apa ikut dibuang ke Nusa Kambangan, lalu ke P. Buru. Tinggallah ibuku yang sedang hamil tua mengandung aku dan kakakku satu-satunya. Akhirnya kakakku dititipkan kepada salah seorang tentara CPM sementara ibuku bekerja di penggilingan padi. Sebut saja nama perwira CPM itu Pak Broto. Saat ibuku bekerja, tiba-tiba perutnya mulas dan tanpa sempat dibawa ke dukun beranak ataupun rumah sakit, maka lahirlah aku di lumbung padi dengan ditolong oleh beberapa pekerja penggilingan. Aku diberi nama Prihatin, sesuai dengan kondisi dan situasi saat itu. Oleh Pak Broto, ibuku ditolong dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangganya, selama kurang lebih 8 bulan. Dikarenakan Bapak Kusuma, adik dari Pak Broto yang tinggal di Jakarta membutuhkan pembantu, maka ibuku dimintanya dan ditarik ke Jakarta untuk menjadi pembantu di rumah Bapak Kusuma. Jadilah aku, kakakku dan ibuku hijrah ke Jakarta pada bulan Juli 1966 di rumah Bapak Kusuma di daerah Cilandak. Pak Kusuma adalah seorang perwira AL. Oleh Pak Kusuma, namaku diberi tambahan Pamungkas agar segala keprihatinanku segera berakhir. Tetapi pada tahun 1971, Pak Kusuma meninggal dunia karena sakit. Bu Kusuma memutuskan untuk kembali ke Jogya sedangkan anak-anaknya karena sudah berkeluarga semua akan tetap di Jakarta dan masing-masing sudah punya pembantu. Akhirnya Bu Kusuma memberi ibuku uang yang cukup sebagai modal untuk usaha. Dikarenakan usia kakakku yang sudah 7 tahun lebih dan harus sekolah, maka kakakku dititipkan ke saudara bapakku yang kerja di Pemda di Rawamangun. Akhirnya ibuku mengontrak rumah di daerah Terogong dekat Pasar Mede, dan membuka warung rokok kecil-kecilan di pinggir jalan Fatmawati. Jarak antara rumah kontrakanku

dengan warung kira-kira 500 meter. Kontrakan itu milik orang Jakarta, ada 3 pintu, masingmasing ada dapur, 1 kamar tidur dan ruang tamu. Lantainya masih tanah. Sumur dan kamar mandinya hanya satu di belakang dipakai bersama-sama. Letak kontrakan tersebut di tengah kebun rambutan jauh dari tetangga. Sedangkan pemilik kontrakan, rumahnya cukup jauh sekitar 300 meter. Masih sangat kuingat bahwa kami hanya tidur di dipan kayu beralaskan tikar tanpa kasur, piring makan hanya dua buah itupun dari kaleng, radio 2 band AM dan SW1, tak punya lemari pakaian. Pakaian kami hanya diletakkan di bawah tikar tempat tidur agar terlihat rapi. Kontrakanku letaknya di tengah. Tetangga kiriku seorang tukang kayu yang kerjanya tidak tetap, sedangkan istrinya adalah tukang sayur keliling. Anaknya hanya seorang perempuan namanya Titin. Umurnya saat itu baru 5 tahun, lebih muda 1 tahun dariku. Anaknya hitam manis. Sedangkan sebelah kananku adalah Mbak Nunung yang kerjanya di toko pakaian di daerah Blok M. Umurnya sekitar 20 tahun. Putih, cantik dengan rambut panjang dan lesung pipitnya. Aku dan Titin sangat dekat bagaikan saudara kandung. Itu dikarenakan kami sering main bersama, makan bersama, mandi bersama bahkan tidur siang pun kadang kami bersama. Anda mungkin sulit membayangkan bagaimana anak sekecil kami sudah harus mengurus diri sendiri. Tapi keadaanlah yang memaksa kami demikian. Tahun 1972, aku sekolah di SD Negeri 01 yang letaknya kurang lebih 1 km dari rumah yang kutempuh dengan jalan kaki melewati persawahan dan kuburan. Sekolah dengan telanjang kaki adalah hal yang biasa pada saat itu. Begitu pula aku. Setiap hari sepulang sekolah aku ke warung ibuku untuk bantu-bantu, terkadang harus belanja dagangan ke pasar. Sehingga waktu untuk bermain sangat sedikit. Hubunganku dengan Titin makin dekat saja karena kalau siang kami tak ada teman bermain. Hanya aku dan Titin. Teman sebenarnya sih banyak, hanya karena kami dari keluarga miskin, kami agak minder dan teman-teman kami pun sepertinya enggan berteman dengan kami. Tapi dalam halpelajaran sekolah, aku sama sekali tidak pernah ketinggalan. Aku selalu bersyukur, walaupun buku pelajaranku selalu pinjam dari teman yang satu angkatan diatasku dan belajar dengan lampu teplok, aku bisa sejajar dengan temanku yang lain. Bahkan aku selalu masuk dalam 10 besar. Hal itu berlangsung terus sampai aku kelas 2 SMP. Hingga pada suatu saat ketika aku berumur 13 tahun. Aku telah selesai berbelanja keperluan warung untuk esok hari. Rokok, pisang, ubi, terigu, minyak tanah, minyak goreng dll. Oh ya, ibuku selain jualan rokok, juga jualan pisang goreng, ubi rebus, kacang goreng, kopi, teh dll. Saat aku sedang istirahat, karena siangnya aku harus sekolah, aku mendengar suara erangan dari kamar sebelah kanan. Seperti orang menangis tapi kok intonasinya aneh. "Kenapa Mbak Nunung ya.. apa sedang sakit ...

...perut?" pikirku. Oh ya Mbak Nunung sekarang sudah janda. Suaminya meninggal tertabrak mobil 2 tahun yang lalu saat usia perkawinan mereka sekitar 6 bulan.

Penasaran kuintip lewat celah-celah bilik bambu. Aku kaget! Penasaran, pelan-pelan kubesarkan lubang mengintipnya, nah semakin jelas. Ternyata Mbak Nunung sedang bersenggama dengan lelaki yang tak kukenal. Mbak Nunung posisinya berada di atas lelaki itu. Kepalanya mengadah ke ... ...atas.Karena posisi mengintipku dari samping, maka yang kelihatan hanyalah payudara Mbak Nunung saja. Payudaranya kurasa cukup besar dan masih kencang itu berguncangguncang. Mungkin karena Mbak Nunung janda yang belum punya anak, jadi payudaranya masih bagus. Umur Mbak Nunung saat itu sekitar 28 tahun. "Aduuhh.. shh.. sshh.. ooohh.. ooohh.." rintih Mbak Nunung. Lelaki itu memegangi pinggang Mbak Nunung, sedangkan pantatnya bergoyang-goyang. Aku yang baru pertama kali melihat adegan itu secara live (walaupun cerita tentang hal itu sering kudengar dari teman-teman) membuatku makin deg-degan. Aku terus mengintip sementara tanpa kuperintah kemaluanku menegang keras. Kulihat frekuensi naik turun Mbak Nunung semakin cepat sambil mulutnya bicara yang tidak jelas. Lalu tiba-tiba Mbak Nunung mengeram panjang."Aaaa.. aaachchch.. hhuuu.." dan terlihat dia tergeletak lemas di atas lakilaki itu. Pelan-pelan aku turun dari dipan dengan kaki yang gemetaran. Siang itu aku di sekolah banyak bengongnya, sehingga teman-temanku banyak yang bertanya kenapa aku ini, kujawab saja aku sedang tidak enak badan. Mungkin masuk angin. Semenjak saat itu setiap ada suara-suara desahan dan kesempatan aku selalu mengintip aktifitas Mbak Nunung. Mbak Nunung liburnya tidak tentu. Terkadang Senin, kadang Selasa atau hari-hari yang lain. Jadwal desahan itu hampir bersamaan yaitu sekitar jam 10 pagi sampai jam 12 siang.Yang kuherankan, lelaki pasangannya sering berganti-ganti. Akhirnya aku tahu kalau Mbak Nunung itu biasa tidur dengan lelaki yang mau membayarnya. Pantas saja penjaga toko kok punya TV serta perabotannya lengkap dan bagus. Mungkin awalnya Mbak Nunung biasa dibawa ke penginapan tapi karena dianggapnya kontrakan sepi, maka Mbak Nunung memutuskan main di kontrakan. Karena sudah beberapa kali aku melihat Mbak Nunung melakukan senggama, akhirnya aku tahu urut-urutannya. Pertama mereka saling cium, saling raba, saling remas, saling hisap lalu melakukan penetrasi disegala posisi. Aku tahu bentuk dari vagina Mbak Nunung yang berambut lebat. Itulah yang membuatku mempunyai perasaan lain setiap melihat kawan dekatku, si Titin. Titin kini umurnya sudah 12 tahun, sudah kelas 1 SMP. Kami sekolah di tempat yang sama. Sama-sama masuk siang. Dia sekarang jauh lebih putih daripada dulu. Hal-hal yang tadinya tidak begitu kuperhatikan pada Titin akhirnya kuperhatikan. Wajahnya yang oval, hidungnya yang agak mancung, giginya yang putih, bibirnya yang merah alami, alisnya yang cukup tebal, rambutnya dipotong pendek ternyata semuanya dapat nilai diatas rata-rata. Dadanya bagus tidak terlalu besar. "Kenapa baru sekarang aku perhatikan ya. Kenapa nggak dari dulu?" pikirku. Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan urusanku, keluargaku, sekolahku. Padahal aku sering mengajarkan Matematika dan IPA kepadanya. Suatu ketika, sewaktu kulihat ada Mbak Nunung di rumah sedang menerima tamu, kira-kira jam 10, aku tahu apa yang akan terjadi. Setelah kira-kira mereka masuk kamar, kupanggil si Titin. Saat itu dia sedang mencuci beras. "Tin, sini deh. Mau lihat yang bagus nggak?" kataku.

"Lihat apa?" dia balik tanya. "Pokoknya bagus deeehhh.." ajakku sambil menggandeng tangannya. Sementara dia sedang jongkok, sekilas terlihatlah celana dalamnya yang berwarna putih di antara pahanya yang mulus. Pikiranku langsung ngeres. "Seperti apa ya isinya? Apa masih seperti dulu?"pikirku. Karena sejak umur 8 tahun kami tak pernah mandi bareng lagi. Malu katanya. Saat dia bangun, dadanya sempat tersentuh lenganku. Lunak dan lembut. Waahh, makin ngeres aja aku. Setelah menyimpan bakul beras di rumahnya, dia pun masuk ke rumahku lewat pintu belakang."Sssttt.. jangan berisik ya.." kataku sambil menempelkan telunjukku ke bibirku. "Kenapa?" tanyanya. Aku dekatkan bibirku ke telinganya. "Geser kalendernya, di situ ada lobang. Coba lihat ada apa.." bisikku. Sementara itu sudah ada suara desahan-desahan halus dari kamar sebelah. Dia naik dipan perlahan-lahan. Digesernya kalender dan mulai mengintip. Reaksinya pertamanya adalah kaget dengan muka merah menatapku. "Ada apa?" tanyaku berlagak bego. "Mereka lagi ngapain?" tanyanya. "Aduuhhh.. Titin ini belum ngerti atau pura-pura siihh.." batinku. Aku langsung mengambil kesimpulan sendiri kalau Titin itu sama seperti aku dulu. Tidak tahu apa-apa tentang seks. "Coba kamu lihat terus. Aku nggak ngerti makanya kupanggil kamu. Karena aku udah pernah liat tapi aku nggak tahu.." jawabku pura-pura bodoh. Akhirnya ...

...Titin mengintip lagi. Selama Titin mengintip, kuperhatikan dia dari belakang agak ke kanan. Dia memakai daster tipis dengan lubang lengan yang agak lebar. Aku bisa melihat bulatan payudaranya yang tertutup kaos dalam agak kendor. Agak mengembung, putih, putingnya agak samar-samar karena dari samping. Kulihat pinggangnya agak ramping, bongkahan pantatnya yang cukup besar untuk anak seusianya. Sementara garis celana dalamnya terlihat jelas di balik dasternya yang biru tipis. Nafas Titin kudengar makin cepat dan badannya agak gemetar. Cukup lama kira-kira 20 menit, sampai terdengar erangan panjang dari kamar sebelah. Akhirnya Titin duduk di dipanku. Wajahnya merah padam. Waahh.. makin cantik aja Titinku ini. "Gimana Tin?" tanyaku. "Tauk.. ah.. aku mau masak..!" sahutnya sambil berlari keluar. "Dia ...
...kenapa ya..?" batinku. Setelah itu aku bikin adonan kue, memotong-motong pisang, merebus ubi, lalu pergi mandi. Saat sedang berjalan ke kamar mandi, aku sempat melihat Titin sedang merenung di depan kompornya. Pasti gara-gara mengintip tadi. "Ayoo.. ngelamun. Entar kemasukan setan loohhh. Mau sekolah nggak?" tanyaku.

Dia rupanya kaget saat kutanya begitu. "Eh.. oh. Mas Pri aja dulu. Aku lagi nungguin nasi nich.. Nanti gosong.." sahutnya.

Dia selalu memasak sebelum berangkat sekolah supaya kalau ibunya pulang keliling menjajakan sayur, makanan sudah ada. Tinggal goreng lauknya saja. Kalau aku, pagi setelah minum teh, kubuka warung dan ibuku memasak setelah itu ibu ke warung, lalu menuliskan apa-apa yang perlu dibeli di pasar. Sepulang dari pasar kupersiapkan bahan-bahan untuk pisang goreng lalu dibawa ke warung. Aku selalu belajar di malam hari. Baik PR maupun belajar untuk esok harinya. Selesai mandi aku ganti baju. Siap-siap mau sekolah. Kupakai sepatuku. Melihat sepatu itu aku tersenyum sendiri. Sepatu itu adalah hasil jerih payahku mengumpulkan kardus-kardus bekas dan menjualnya ke tukang pemulung yang tak jauh dari kontrakanku. Setelah selesai membungkus yang mau dibawa ke warung, aku teriak pada Titin. "Tiinnn.. ayo berangkat..! Nanti telat lhoo.." teriakku. "Sebentaaarrr.. Titin lagi pake sepatu.." sahutnya. Tak lama Titin keluar. "Kok hari ini tambah cantik ya.." batinku. Selama dalam perjalanan ke sekolah, Titin banyak diamnya dibandingkan harihari sebelumnya. Biasanya dia cerita tentang keadaan pasar Cipete dimana dia belanja sayur untuk dijual oleh ibunya (dia berangkat jam 4 pagi, pulangnya jam 6 sampai setengah tujuh. Setelah ibunya pergi berkeliling, dia tidur sebentar). "Mungkin karena pengalaman mengintip tadi.." batinku. Pulang sekolah pun dia banyak diamnya. "Kenapa dengan Titinku ini.." batinku. Sementara aku tinggal di warung untuk bantu ibu, dia langsung pulang seperti biasanya. Malam harinya, saat aku sedang belajar, Titin datang menghampiriku. "Mas Pri, ajarin Titin soal yang ini dooong.." pintanya sambil membawa buku Matematika-nya. "Sebentar ya Mas selesaikan PR Fisika Mas dulu.." jawabku. Setelah aku selesai, aku tanya apa PR-nya. Ah, ternyata hanya soal sinus, cosinus dan tangen saja. Itu soal mudah bagiku. Kujelaskan panjang lebar tentang hal itu. Dia memperhatikan dengan seksama. Memang si Titin itu termasuk anak yang pintar. Dia cepat menangkap apa yang kuterangkan. Mungkin guru di sekolah terlalu cepat mengajarnya atau kurang bisa memberi contoh yang dapat dimengerti. Selama aku menjelaskan, Titin sering memandangku. Aku bisa melihat jernih bola matanya walaupun ruangan hanya diterangi dengan lampu minyak. Setelah jelas dengan keteranganku, dia mulai mengerjakan soal-soal PR-nya. Tak lama kemudian dia selesai dengan PR-nya dan kuperiksa ternyata benar semua. Mulailah kita mengobrolmacam-macam. Kami memang jarang sekali menonton televisi. Karena harus menunggu Mbak Nunung pulang kerja sekitar jam 9

malam terkadang lebih, atau ke rumah pemilik kontrakan. Ibuku sudah tidur sejak selesai sholat Isya. Begitulah cara ibuku untuk menjaga kondisi tubuhnya setelahseharian bekerja di pinggir jalan. Penyakit ibuku paling-paling hanya masuk angin. Setelah aku kerokin dan pijitin sudah sembuh. Begitu pula dengan ibu si Titin. Bapak si Titin saat ini sedang mendapat pekerjaan membangun rumah di Semarang sehingga pulangnya 1 bulan sekali. Oh.. bapak si Titin asalnya dari Purwokerto, sedang ibunya dari Ciamis. Jadi si Titin itu Janda(JawaSunda). Setelah ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya sampai ke topik apa yang kita intip tadi siang. Ditopik ini aku merasakan penisku mulai mengeras. Apalagi Titin sering memandangku dengan pandangan yang terasa lain dibandingkan kemarin. Dia bertanya, "Mas, apa ya.. kira-kira yang dirasakan Mbak Nunung tadi siang ya..? seperti kepedesan, seperti nangis.. tapi sepertinya Mbak Nunung sangat menikmati yaa.." "Waahh kalau itu Mas nggak tau.. abis Mas belum pernah ya.. mana Mas tau.." jawabku. "Tapi ... ...sewaktu Titin ngintip tadi, kok susu sama tempek Titin jadi gatel. Mau Titin garuk malu ada Mas Pri.. akhirnya Titin pulang. Terus Titin pipis, dan sewaktu cebok rasanya enaaak banget.." sahutnya. Si Titin menyebut kelaminnya dengan sebutan "tempek". "Terus Titin jadi bingung kenapa Titin ya.. perasaan itu baru pertama kali Titin rasakan.." sambungnya. Memang aku sama Titin kalau ngomong itu sudah nggak pake bates apa-apa. Kita berdua selalu blak-blakan apa adanya. Aku jadi bingung mau jawab apa. Tiba-tiba Titin menyandarkan kepalanya ke pundakku. Ini pertama kalinya karena biasanya hanya tangannya saja yang ke pundakku. "Kenapa ya.. sepertinya Titin merasa dekeett banget sama Mas Pri. Padahal Mas Pri kan bukan apa-apaku." "Lho.. Titin kan sudah Mas anggap adik Mas. Jadi pantes dong kalau Titin deket sama Mas." sahutku. "Mas sayang nggak sama Titin?" tanyanya sambil memandangku. Wajahnya sangat dekat denganku. Dapat kurasakan hembusan nafasnya yang wangi. Aku tak berani menegok ke arahnya. "Ya.. jelas sayang dong. Sama adiknya kok nggak sayang," jawabku. "Mas, Titin mau tanya ya.. tapi Mas nggak boleh marah ya." "Tanya apa? Emang Mas pernah marah sama Titin?" tanyaku. "Kalau Mas lagi ngintip Mbak Nunung, ... ...apa yang Mas rasakan?" tanyanya. Waaa.. Pertanyaannya makin menjurus nich. "Mas juga merasakan singkong Mas mengeras sendiri." kataku. Aku menyebut penisku dengan "singkong". "Maasss kalau ngomong liat ke Titin doonggg.. jangan lihat keluar," katanya sambil menarik lenganku ke dadanya.

Lenganku merasakan daging lunak dan hangat di balik dasternya. "Apa si Titin tidak memakai kaos dalem ya?" batinku. Aku menengok ke Titin sambil memegang dadanya. "Lho.. kok Titin nggak pake kaos dalem?" tanyaku. "Kaos dalem Titin basah semua Mas.. Nanti kalau Titin pake takut masuk angin," sahutnya. Saat aku menengok ke Titin, jarak wajahku dan wajahnya sangat dekat sekali. Entah siapa yang meminta atau memulai, aku mencium pipi kirinya. Wangi. Dia mendesah pelan, "Hmmm.. aaahhh.." Kucium pipi satunya, keningnya, matanya, hidungnya. Desahannya makin keras. "Hmmm.. aaahh.. Maasss.." desisnya dengan bibir sedikit membuka. Kukecup bibirnya, dia diam saja tak ada reaksi apa-apa. Lama-lama dia pun membalas. Kami hanya berciuman bibir ke bibir saja. Maklum.. masih pemula sekali. Tanganku masih memeluk di punggungnya. Belum tahu harus berbuat apa. KAFE BUGIL ONLINE 2

KAFE BUGIL ONLINE 2 Tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dengan wajah yang merah padam dan berkata, "Maass.. Titin sayaangg banget sama Mas. Mas sayang nggak sama Titin?" tanyanya. "Lho.. tadi kan Mas udah bilang kalau Mas juga sayang sama Titin," sahutku. "Masss.. tadi waktu Mas pegang susuku, rasanya enaak sekali.. habis sewaktu cerita-cerita tadi susu sama tempek Titin jadi gatel lagi," sahutnya. "Singkong Mas sekarang keras nggak?" sambungnya. Tiba-tiba tangannya memegang penisku dari luar. Memang saat itu aku hanya memakai celana dalam sama sarung saja. Aku kaget setengah mati. Langsung kutepis tangannya. "Huusss jangan.. nggak sopan.." kataku. "Udah sekarang kamu tidur giihh udah malem. Besok kamu khan harus ke pasar. Nanti telat.." kataku lagi. Akhirnya Titin pulang. Tapi sebelum pulang Titin mencium pipi kananku. "Titin sayang Mas," katanya singkat. Sepulangnya Titin, segala macam perasaan berkecamuk di dadaku. Ada perasaan apa antara aku dan Titin? Apa ini yang dinamakan cinta? Kalau cinta, berarti kita akan pacaran seperti cerita teman-temanku di sekolah? Tanpa kusadari akhirnya aku tertidur dan dibangunkan ibuku keesokan harinya. Keesokan harinya, sepulang dari pasar, aku bingung kemana si Titin ya? Biasanya setiap aku pulang dari pasar, dia sedang mencuci baju di sumur. Aku masuk ke rumahnya dari pintu belakang, melewati dapur terus ke kamarnya. Ternyata dia sedang tidur, masih memakai daster yang semalam. Mungkin masih ngantuk karena tidurnya terlambat tadi malam pikirku. Ketika aku akan meninggalkan kamarnya, dia menggeliat. Kaki kanannya menekuk ke samping sedang kaki kirinya lurus. Maka terpampanglah kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam nilon tipis warna cream. Aku deg-degan melihat hal itu, kudekati dia. Wajahnya tampak damai sekali. Dadanya yang

sedikit membusung itu turun naik dengan teratur. Sepertinya dia pulas sekali. Makin ke bawah kulihat pahanya yang putih mulus, makin deg-degan aku. Kuperhatikan dengan seksama vaginanya yang sedikit menggembung di selangkangannya. Ada garis samar-samar melintang dari atas ke bawah. Bulu-bulu halus tipis membayang. Kuelus perlahan-lahan. Terasa ada alur melintang. Kugesek-gesek perlahan takut dia bangun. Aku dekatkan wajahku ke sana. Ada aroma yang khas sekali, kucium perlahan. Baunya tak bisa aku definisikan tapi yang pasti segar sekali. Kutempelkan hidungku, kutarik nafas dalam-dalam. "Aaahh.. segar sekali.." Berkali-kali kulakukan itu sampai kudengar dia mendesah. "Aaahhh..." Kukaget langsung mundur. Tapi dianya kok nggak bangun ya.. Aku jadi sedikit mengerti mengapa lelaki yang tidur sama Mbak Nunung suka menjilati kelaminnya Mbak Nunung. Menjilat? Apa nggak jijik ya. Tak terasa penisku mengeras. Aku betulkan posisi penisku karena miring kanan. Setelah beberapa saat, aku beralih ke dadanya. Kuperhatikan ada tonjolan samar di puncak bukitnya. Kupegang susunya perlahan-lahan, kubelai-belai, kucium dari luar dasternya. "Aaahh.." baunya pun segar. Kuulangi bergantian kiri dan kanan. Lama-lama kok tonjolannya semakin keras? Kenapa? Tiba-tiba dia menggeliat. Aku kaget sekali. Refleks kugoyang-goyangkan badannya. "Tin.. Tin.. banguuunnn.. udah nyuci beluuumm?" kataku supaya dia tidak curiga. Dia bangun sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia kaget ada aku di sebelahnya. "Terima kasih Mas, udah mbangunin aku. Aku belum nyuci," balasnya. "Udah cepetan bangun. Nanti telat.." kataku. Dia duduk sebentar lalu bangun dan mengambil cuciannya. Direndam, lalu dia mencuci beras. Aku menemaninya sambil memotong-motong pisang, singkong dan ubi. Setelah itu dia masak dan keluar lagi untuk mencuci baju. Aku membuat adonan. Aku agak heran dia kok jadi pendiam gitu ya. Setelah aku selesai, aku langsung mandi dan siap-siap berangkat. Dalam perjalanan ke sekolah dia cerita. "Mas, waktu aku tidur tadi aku mimpi aneh lho Maass.." "Mimpi apa?" tanyaku. "Aku mimpi aku sedang seperti Mbak Nunung." Aku kaget sekali. Apa karena kuraba-raba ya. "Kamu begituan sama siapa?" tanyaku. "Sama Mas Pri," sahutnya. "Aaahhh.. kamu siang-siang kok mimpi. Itu namanya mimpi di siang bolong," kataku. "Udah jangan dipikirin banget entar di sekolah kamu banyak bengongnya lho," sambungku lagi. Malam itu aku belajar seperti biasa. Dengan celana dalam dan sarung. Sekarang Titin datang dengan persoalan Fisika-nya. Masalah gelombang elektromagnetik. Seperti biasa kujelaskan panjang lebar. Akhirnya dia mengerti. Saat dia sedang mengerjakan tugas, kuperhatikan seluruh tubuhnya. Dia duduk di sebelahku. Kok dia tidak memakai kaos dalam lagi? Apa masih basah?Sambil dia mengerjakan tugas, kutanya dia, "Tin, kaos dalemmu masih basah ya.. kok nggak dipake?" tanyaku. "Lho Mas Pri kok merhatiin Titin siihh.." Aku diam saja. Bingung mau ngomong apa. Hening karena masing-masing mengerjakan tugasnya.

Setelah selesai semua, Titin membuka pembicaraan. "Maasss.. Titin sengaja nggak pake ...

...kaos karena Titin pengen Mas Pri pegang susu Titin seperti kemarin. Abis enak lhoo.. Mas.. Mas mau khaannn.." kata Titin. "Mas kan sayang aku," sambungnya. Penisku mengeras dengan perlahan-lahan mendengar permintaan Titin. "Eeee.. mmm gimana yaa.." jawabku bingung dan senang. "Oke deh Mas mau. Tapi Mas mau ... ...tutup dulu pintunya. Takut ada yang liat.." Setelah menutup pintu, aku berkata, "Sekarang Titin duduknya mepet Mas.." Dia menggeser duduknya, kurengkuh pundaknya, dia menatapku. Kukatakan, "Mas sayang sama Titin.." Lalu dengan penuh perasaan kucium pipi, kening, mata, hidung akhirnya bibirnya. Dia hanya merem saja. Seperti biasa kami hanya berciuman bibir. Tangan kananku memeluknya, tangan kiriku ke dadanya. Kuremas perlahan-lahan kiri dan kanan bergantian. "Aaacchhh.. Enak banget Masss.. aaaccchh.." desahnya. Saat dia mendesah, tanpa sengaja lidahnya bertemu dengan lidahku. Aku memainkan lidahnya dengan lidahku. Dan dia sepertinya mengerti dan membalas. Lidah kami saling membelit. Senjataku sekarang sudah keras sekali. Agak sakit karena posisinya miring. Aku biarkan. Terbayang semua adegan Mbak Nunung. Kuturunkan ciumanku ke lehernya. Dia makin mendesah-desah. "Aduuuhh.. Maasss.. ooohh.. ooohh.." Aku ingin memegang susunya langsung tapi Titin marah nggak ya?. Kucoba telesupkan tangan kiriku melalui celah ketiak dasternya. Oh halusnya daging kenyal itu. Besarnya kirakira sebesar bola tennis. Ternyata Titin tidak marah. Malah dadanya makin dibusungkan ke depan. Kurasakan putingnya makin menonjol. Aku sentuh. Dia tersentak dan mendesah, "Ya.. ya.. Mas.. yang sebelah situ enak Mass. Terusin Mass.. aaacchhh.." Kupuntir puttingnya, dia makin menggelinjang. Akhirnya aku tak tahan lagi. Aku bilang ke Titin, "Tin, Mas mau cium susumu boleh khaann?" Titin diam saja sambil memandangiku tapi jawabannya adalah dia melepaskan dasternya. Aku kaget atas reaksi Titin. Di hadapanku sekarang Titin sudah telanjang dada. Dadanya bagus sekali bentuknya. Susunya bulat. Kira-kira sebesar bola tennis. Putingnya merah muda agak ke atas dengan putingnya yang menonjol keluar. Aku terpana. "Mass.. ayo dong jangan diliatin aja. Katanya mau nyusu.." Aku tersadar dan langsung mencium susunya. Kulumat putingnya bergantian. Kurebahkan dia di bangku. Nafasnya semakin memburu. Susunya semakin keras. "Ochh.. Masss. ooohh.. aaahh.. aduuhhh.. aaahh Mass nakaalll.."Tanganku yang tadinya memeluknya, secara refleks mulai mengusap-usap pahanya. Dari dengkul sampai selangkangan. Berkali-kali kulakukan hal itu. Setiap sampai di selangkangannya, pahanya membuka. Kusentuh vaginanya dari luar CD-nya. Dia makin menggelinjang dan makin keras pula desahannya. Kok basah? Ah paling-paling keringat. Memang saat itu badannya sudah basah dengan keringat. "Mass.. oohhhh.. hhaahh.. oohh ahhh.." Takut ibuku bangun, kucium mulutnya. Kami saling melumat lagi. Lumatannya sudah seperti orang yang kesetanan. Tangan kiriku di dadanya, dan tangan kananku di atas vaginanya.

Tanganku mulai menyelusup ke dalam CD-nya. Terasa olehku bulu-bulu halus. Makin ke bawah kutemukan garis belahan. Kumasukkan jari tengahku ke belahan vaginanya. Basah dan licin. "Ooohh.. ternyata basahnya dari sini," pikirku. Kumainkan jari tengahku. Kutekan dan kugosok dengan pelan, makin lama makin cepat. Pantatnya bergerak-gerak seirama dengan gosokanku. Tak lama, tiba-tiba dia menjerit dan tersentak, "Maasss.. aku pipiisss.. aaahh.." Tanganku basah dengan cairan lengket licin. Dia langsung terlentang lemas dengan nafas yang tersengal-sengal seperti orang yang habis dikejar anjing. Wajah Titin merah, berkeringat dan terlihat amat cantik dengan senyumnya yang mengembang.Saat itu aku tidak tahu apa itu orgasme, G-spot, atau istilah seks lainnya. "Maass.. Titin lemeesss.." katanya. "Mas.. tangannya ada pipis Titin tuuhh.." sambungnya lagi. Kutarik tanganku dari celana dalamnya. Aku bingung. Kok pipisnya lengket begini? kucium. Kok nggak pesing yaa? Aku teringat lelaki yang bersama Mbak Nunung. Dia saja mau jilatin punyanya Mbak Nunung. Kucoba jilat cairan yang ada di tanganku. Rasanya asin semu manis gurih dan agak sepet. Ini apa ya..? Kucoba jilat lagi. Enak kok. "Mas Pri joroookkk.. pipis Titin kok dijilat.." "Tin, pipismu kok lengket begini?" tanyaku pada Titin sambil kudekatkan tangan kananku ke wajahnya. Dia perhatikan dengan seksama tanganku. "Biasanya nggak begini Mass.. biasanya seperti air. Tapi yang ini kok lengket ya..?" gumannya dengan bingung. "Dan waktu Titin pipis tadi, Titin rasanya seperti melayang-layang lho Mas. Enaakkk banget. Sekarang Titin lemes," sambungnya. Tiba-tiba dia bangkit seperti teringat sesuatu. Padahal tadi dia mengaku masih lemes. "Singkongnya Mas Pri keras nggak?" tanyanya sambil tangannya masuk ke dalam sarungku. Aku kaget karena tiba-tiba Titin memegangnya, kutepiskan tangannya. Tapi sepertinya dia tidak ...

...rela. "Tadi Mas Pri megang-megang tempekku, aku diemin. Sekarang kok aku pegang singkong Mas Pri Masa nggak boleh?" rajuknya. Aku bingung. Akhirnya kudiamkan, dia pegang penisku. Aku didorongnya supaya tiduran terlentang.Dia mengangkat sarungku, dia pegang dari luar CD-ku. "Besar sekali Maass.." katanya. "Kok celana dalemnya basah? Mas Pri pipis ya?" sambungnya. Mungkin dia membandingkan dengan saat kita mandi bersama dulu. Dulu memang penisku tidak tegang karena sudah terbiasa bersama. Dielus-elus penisku. Waaahh.. rasanya penisku jadi tegang lagi setelah agak melunak. "Waahh.. Mass makin besar tuuhhh.. sakit nggak?" katanya sambil terus mengelus. "Aaahh.." aku mengerang keenakan dielus seperti ... ...itu. Karena semakin tegang, kepala penisku akhirnya nongol di atas karet celana dalamku. Kepala penisku diusapnya.

"Aaahh.." aku seperti kena setrum listrik. "Air apa ini Mas, kok bening, agak licin?" tanyanya. "Akuuu nggak tttaaauuu.. ooohh.." sahutku keenakan. Ditariknya celana dalamku sehingga penisku pun berdiri tegak. "Maaass lucu seperti tiang listrik," katanya. Lalu penisku digenggamnya, diremasnya. "Aaahh.." aku mendesah-desah keenakan. Didekatkan wajahnya ke penisku, diperhatikan denganseksama. "Maasss.. yang coklat-coklat ini isinya apa?" katanya sambil telunjuk tangan kirinya menusuk-nusuk bijiku. Tangan kanannya tetap menggenggam penisku. Lalu digenggamnya bijiku dan diremas-remas. "Lho.. lho.. kok isinya lari-lari.. lucuuu.. Maasss.." katanya lagi. Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menimpalinya karena keenakan. Mungkin waktu dia mengintip, dia melihat Mbak Nunung mengocok-ngocok penis, dia bertanya, "Mas, kalau aku giniin sakit nggaakkk?" katanya sambil tangannya mengurut penisku naik turun. "Aaahh.. Tiiinnn eeennnuuaaak baangeeettt Tiinnn.." kataku sambil mendesah. "Ya.. ya.. gitu Tiiinnn.. ennaakkk Tiiinnn.." "Dicepetin doonngg Tiiinnn.." Aku merasakan penisku seperti diurut-urut. Sakit sedikit, geli, enak rasanya jadi satu. Tiba-tiba aku merasakan ada yang mau keluar dari dalam, lalu aku teriak, "Cepeettiinn.. Tiiinnn.. aku.. akuuu.." Dan belum selesai aku ngomong, "Croot.. crooott.. crooottt.." tiga kali spermaku muncrat ke wajahnya. Dia kaget, langsung mengelap wajahnya dengan sarungku. "Mas.. Mas.. kenapa Mas.. sakit ya.." tanyanya sambil menatap wajahku. "Nggak Tiinn.. Enaakkk banget Tiinnn.." kataku sambil terengah-engah. Lalu dia melihat ke penisku. "Lho, Mas kok jadi kecil siich.." tanyanya heran. "Nggak tau kenapa," sahutku. Kemudian kurangkul dia dan kupeluk sambil kucium pipinya. Kami tiduran sambil berangkulan. "Terima kasih Tiinn. Tadi itu enaaakkk sekali. Mas Pri sekarang lemas." "Sekarang Titin pulang gih.. udah malam. Besok kesiangan.." Lalu kucium pipinya, keningnya dan bibirnya. Dia bangkit dan memakai dasternya. Lalu mencium pipiku dan pamit pulang. "Da..da Maaasss.. Titin pulang dulu yaa. Terima kasih Maasss.." Aku bangun memakai celana dalamku yang tadi dipelorotkan Titin, dan tidur karena kelelahan. Seperti biasa, setelah aku pulang dari pasar, kucari Titin. "Kemana lagi ini anak.. pasti ketiduran lagi," pikirku. Aku masuk ke dalam rumahnya. Benar, dia lagi tidur memakai selimut.

"Ngapain ini orang siang-siang tidurnya kok selimutan? Apa sakit?" batinku. "Jendelanya juga ditutup?" Kupegang keningnya, "Nggak panas kok.. kuperhatikan tubuhnya. Kok putingnya kelihatan menonjol? Dia selimutan memakai kain jarik tipis. Jadi aku tahu kalau putingnya menonjol. Aku sibakkan selimutnya pelan-pelan. "Lho.. kok nggak pake baju..?" batinku. Kutarik selimutnya semua. Melihat tubuh indah terpampang di hadapanku, penisku mulai berkedut. "Kok tangan kanannya ada di dalem celana dalemnya? Abis ngapain dia?" batinku. Melihat dadanya, penisku mulai tegang, kudekatkan wajahku, kucium pipinya, hidungnya, matanya. Eh.. dia menggeliat bangun. Mungkin kena angin. Jadi terasa dingin. Dia kaget melihatku. Langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. "Eh.. Mas Pri. Lagi ngapain," katanya. "Tadi kamu aku panggil-panggil tapi nggak jawab, lalu aku masuk. Aku kaget liat kamu tidur kok telanjang, selimutnya berantakan. Mas mau betulin selimut kamu," kataku membela diri. "Jadi Mas udah ngeliatin aku tidur dari tadi?" "Lhaaa.. abis kamu tidur kok nggak pake baju. Salah kamu doong." "Lho.. Mas aja yang masuk ke rumah orang nggak permisi.." "Yaa.. udah Maass pulang. Bangun sana nyuci sama masak." kataku sambil meninggalkannya. "Yee.. gitu aja Mas marah. Sini dulu dong Maasss.." katanya manja sambil menarik ...

...tanganku agar duduk di dipannya. "Maaass aku kepingin seperti semalem doongg." katanya sambil menatapku. "Nggak ah.. masak siang-siang gini. Entar malem aja ya." "Nggak.. maunya sekarang.." rengeknya. Tau-tau dia merangkulku dan mencium bibirku. Aku tidak bisa menolaknya, kubales, kumainkanlidahku di mulutnya. Dia membalas. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Selimutnya kusingkirkan, kuremas-remas susunya. Ciumanku mulai turun ke lehernya, turun lagi ke pundaknya, lalu mulutku melumat puting kanannya. Kepalanya menengadah sambil mendesis-desis. Persis seperti suara Mbak Nunung. "Oohhh.. Mas Pri.. enak Maasss.." Lalu kurebahkan dia ke dipan. Tangannya mulai masuk ke dalam celanaku. Memegang penisku di dalam celana. Mungkin karena kurang leluasa, Titin mulai menurunkan celana pendekku dengan CD-nya sekalian. Aku bantu dengan mengangkat pantatku. Tanganku pun mulai menurunkan celana dalamnya. Akhirnya dia bugil di depanku. "Mas curaaang.. kok kaosnya nggak dilepas.." "Lho.. usaha doong." Lalu dia melepas kaosku. Kami lalu berguling-guling di dipan sempit tersebut, kutindih badannya. Mulut kami saling mengunci ... ...tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya
memegang penisku. Agak sakit. Kuraba seluruh badannya termasuk paha, punggung, perut. Setiap kuraba vaginanya, pahanya selalu direnggangkan.

Aku lalu teringat Mbak Nunung. Dulu si lelaki kok menjilati kelamin Mbak Nunung. "Kucoba ke Titin aahhh.." batinku. Lalu ciuman kuturunkan ke lehernya, kedua susunya. Jari tengah tangan kananku masuk ke belahan vaginanya. Sudah basah. "Aaahh.. ooohh.. sshhh.. ssshh.." dia mendesah agak keras, kudiamkan karena aku yakin saat sekarang di sekeliling kontrakanku pasti sepi.Lalu ciumanku turun ke perutnya. Kujilat-jilat pusarnya. Dia makin menggelinjang. Ciumanku terus turun sampai akhirnya wajahku tepat di depan vaginanya. Aku tak peduli gimana rasanya, kucium vaginanya. Baunya segar sekali. Titin kaget sekali saat kucium kewanitaannya. Dia bangun dan melihat saja. "Mas Pri.. Joroookk.. tempppeeek Tittiiin kok dicium.." desahnya tapi tidak tampak adanya penolakan. Saat kumasukkan lidahku, Titin mendesah, "Aaahh.. Maaass.. tempek Titiinn diapainn.. aaahh Masss.. jangan.. adduuuhh.." Aku terus saja menjilat benjolan kecil di dalam kemaluan Titin. Sementara Titin menggelinjang tidak karuan. Kira-kira lima menit, tiba-tiba Titin menekan kepalaku dan mengangkat pantatnya sehingga aku agak sulit bernafas. "Maaasss.. Titin mau piippiiiss.." Menyemburlah cairan hangat seperti tadi malam. Karena aku sudah tahu rasanya, kujilat semuanya sampai habis. Uh, enak sekali rasanya.Manis, asin, gurih jadi satu. Aku naik ke atas dan memeluknya sambil tiduran. "Mas.. Titin capek.." sambil wajahnya ditaruh di dadaku. "Mas kok nggak jijik sih jilatin tempek Titin?" tanyanya. "Mas kan sayang Titin. Jadi Mas nggak akan jijik." sahutku sekenanya. "Terus, pipis Titin juga dijilat? emang enak?" "Enak kok.. kayak tajin." KAFE BUGIL ONLINE 3

KAFE BUGIL ONLINE 3 Hening sejenak. "Mas, kalau Mas maunya diapainn," katanya sambil memegang penisku. "Terserah Titin aja," kataku. "Titin kocokin seperti semalem yaach." Lalu dia jongkok, mengocok-ngocok penisku yang tegang. Aku mendesah keenakan. "Aaahh.. Ooohh... sshhh.." Penisku makin tegang saja rasanya. Tiba-tiba penisku terasa geli, basah dan hangat? kutengok ke bawah. Ternyata Titin sedang menjilat-jilat kepala penisku. Aku tidak tahu belajar darimana dia, yang penting yang kurasakan saat itu nikmat sekali. Mimpi dipegang tititku oleh perempuan saja aku tak pernah. Apalagi sekarang dijilat. "Aduuuhh Tiinnn.. aku kamu apaiiinn.. aaahh.." Saat sedang enak-enaknya mengerang, tiba-tiba kok hangatnya tidak di kepalanya saja. Kulihat ke bawah, "Astaga..!" Penisku diemut. Belum berfikir yang lain, tiba-tiba ada rasa aneh di penisku, ternyata selain diemut, Titin pun menghisapnya. Tak tahan akan gelinya, aku

semakin mengerang. "Tiinnn.. aku kamu apaiiinn.. Tiinnn.. kamu kok tegaaa.." Tak berapa lama aku kepengin pipis. "Tiinnn.. udaaahh.. Mass mau pipisss.." Karena tidak tahan dan Titin tidak melepaskannya, akhirnya, "Croottt.. croottt.. croottt.." Empat atau lima kali penisku menembakkan cairannya di mulut Titin. Titin kaget sekali. Sebagian ada yang tertelan dan sebagian lagi meleleh keluar dari bibirnya. "Mas Pri jahat.. pipis kok di mulut Titin.." katanya sambil berdiri dan mengelap mulutnya dengan kain jarik. Lalu dia minum air putih. "Titin juga siihhh.. Mas bilang udah.. udah, tapi Titin nggak mau lepasin," balasku. "Udah sini tiduran. Mas kelonin," sambungku. Sambil kukelonin, kucium pipinya. "Titin kok mau ngisep singkongnya Mas? Apa nggak jijik. Khan jorok," pancingku. "Lho, kata Mas kalau sayang kan nggak jijik." "Tadi pipis Mas gimana rasanya? Enaakk?" "Enak Mas. Kayak santen tapi agak asin." "Titin belajar dari mana?" "Waktu Titin ngintip, Titin liat Mbak Nunung ngisep tititnya Oom. Kayaknya Oom itu keenakan. Terus Titin mau Mas juga keenakan. Ya Titin ikut-ikutan Mbak Nunung." "Mas, Titin malu mau ngomong sama Mas." "Ngomong aja. Sama Mas kok malu." "Titin juga punya bacaan. Titin dapet sewaktu beli koran bekas untuk bungkus. Ada dua Mas. Yang satu Eni Arrow, yang satu Nick Carter." "Sewaktu Titin baca, badan Titin merinding semua. Terus susu sama tempek Titin jadi gatel." Ooohh pantes dia cepet belajar. Dari situ toh sumbernya. Ditambah live show. Selama kelonan, dadanya menghimpit dadaku. Terasa hangat dan kenyal. Lama-lama penisku keras lagi. Kucium pipi dan bibirnya lagi. Dia pun menyambutnya dengan mesra. Kami berciuman, bergulingan. Tanganku pun mulai bergerilya lagi. Ke susunya, punggungnya, lehernya, selangkangannya. Akhirnya tangan kananku berhenti di daging lunak di selangkangannya. Aku mulai mengusap-usap klitorisnya. Dia makin mendesah-desah nggak karuan. "Aaahh.. Maaass.. Titin sayang sama Mas Pri.. shhh.. aaahh.. enak Masss.. teruuuss Masss.." Sementara tangannya mulai meremas-remas punyaku. Penisku sudah pada puncaknya sekarang. Tiba-tiba Titin melepaskan pelukannya. "Masss.. Titin mau seperti Mbak Nunung.. Mas mau khaaann.." katanya sambil menatap mataku. Ada permintaan tulus di sana, ada gelora di sana, ada sesuatu yang aneh di sana. "Tapi Mas takuutt.. Nanti gimana? Kita khan belum pernah.." "Tapi Titin mau Masss.." katanya lagi. Lalu penisku diusap-usapkan ke mulut vaginanya yang sudah basah. "Aaahh.. sshhh.." dia mendesah. Mendengar desahannya, aku mulai bertindak. Kukangkangkan pahanya, terlihatlah vaginanya yang tembem dengan rambut halus dan jarang, bagian dalamnya yang merah muda dan ada tonjolan daging sebesar kacang kedele. Vaginanya ternyata sudah basah sekali. Merah berkilat-kilat. Kusentuh kacang kedele itu. "Aaccchh.. Masss.. ssshh.." Oh, jadi ini toh yang bikin dia menggelinjang itu. Kusentuh lagi.

"Aaccchh.. Masss.. ssshh.. diapain siiicchh Mas.. nakal amat siihh.." desahnya. Kudekatkan wajahku supaya bisa melihat lebih jelas. Bentuknya lucu sekali. Aku coba menjilatnya. "Aaacchh.. Masss.." "Ayooo.. doonnngg.. Mass.. cepetannn.." katanya tak sabar. Kuarahkan kepala penisku ke mulut vaginanya, kutekan sedikit. "Aaahh.." ada rasa hangat di kepala penisku. Kutekan sedikit. Kok mentok? Kutekan lagi. Mentok lagi. "Tin, lubangnya yang mana?" tanyaku. "Agak ke bawah sedikit Mass, di bawah yang Mas pegang tadi." Kuperhatikan dengan seksama. Oh, itu toh lubangnya. Kok kecil sekali? Apa punyaku bisa masuk?Kuarahkan penisku ke sana, kutekan. Kok melesat. Coba lagi. Meleset lagi. "Tiinn.. bantuin doonngg.." Titin memegang penisku lalu mengarahkannya. "Teken Mas.. ya.. ya.. di situ teken Mas." Kutekan pelan-pelan. Kok meleset? Tekan lagi meleset lagi. Gimana sich caranya? Kupegang erat-erat penisku lalu tekan agak keras. Dan.. "Aaa.. Maasss sakiiitt. Pelan-pelan dooong ...

...Maaass.." Terasa kepala penisku terjepit sesuatu yang hangat. "Tahan Mas.. tahan.." Dia meringis sepertinya menahan sesuatu. "Ayo teken lagi Mass.. pelan-pelan Masss.. ...
...aaahh.." Kutekan perlahan-lahan dengan kekuatan penuh. "Aaahh.." Kepala penisku terasa ngilu. Hangat. Kulihat sudah separuhnya tertancap, Titin meringis, kutahan sebentar. Setelah Titin terlihat tenang, dengan tiba-tiba kutekan penisku sekuat tenaga, "Blesss.. bret.." "Aaawww.. sakiittt Masss.. tahan Mass.. diem dulu Masss.." Titin berteriak. Lalu kutahan. Ujung penisku seperti menyentuh sesuatu yang hangat. Aduh, rasanya seluruh penisku seperti terjepit oleh sesuatu yang hangat dan berkedutkedut. Rasanya linu, sakit, enak, semuanya jadi satu. "Tiinnn.. tahan sedikit ya.." kataku. Lalu aku menarik pantatku dan menekannya secara perlahan-lahan. Berulang kali. Kulihat Titin meringis-ringis. Begitu juga aku ikut meringis. Tapi kami samasama tidak mau berhenti.Setelah mungkin ada sekitar 15 kali naik turun, vagina Titin mulai agak licin. Dan Titin pun mulai tidak meringis lagi. "Ayoo.. Mass.. ayoo Mas.. enak.. aaduuuhh enaaakkk Masss.. aaacchh.. ssshh.." Aku pun merasa sudah tak begitu linu lagi. "Ayooo Mass.. yang cepet Mass.. yang dalem Masss.. Sshhh.. aaacch.."

Mendengar desahan itu aku makin cepat memompa penisku naik turun. Makin cepat, secepat aku bisa. Titin kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tangannya memegang sisi dipan. Susunya bergoyang-goyang. Badannya basah oleh keringat begitu juga rambutnya. Pantatnya yang tadi diam, sekarang mulai bergoyang. Naik, turun, kiri dan kanan. Tak lama aku merasa penisku semakin linu dan geli yang tak tertahan, dan terasa ada sesuatu yang mau keluar. Tapi aku merasakan tak ingin berhenti memompa. Tiba-tiba Titin merangkulku dengan keras, menggigit pundakku. "Aaahh.. Aaauuw.. Aku pipiiss.. Masss.." Aku yang juga merasa mau pipis, kutekan sekuat tenaga penisku sampai mentok dan kutahan. "Samaaa.. Massss juga pipisss.. aaacchh.." dan, "Crooott.. crooott.. crooottt.." Empat kali penisku menyembur ke vagina Titin. Aku tergolek lemas di atas tubuh Titin. Tubuh kami sama-sama banjir oleh keringat. Kami diam beberapa saat. Penisku sudah lemas tapi masih tertancap di vaginanya. Setelah mengatur nafas masing-masing, Titin berbisik, "Terima kasih banyak Mas.. bukan main.. Masss.. enak banget ya Maaass.." "Eee.. Tiiinnn.. jangan gerak dulu. Masih linuuu.." desahku. Karena tak tahan kucabut punyaku, dan aku tergolek di sebelahnya. "Pantesan aja Mbak Nunung sering beginian. Nggak taunya enak banget." desahku setelah bisa mengendalikan diri. Tiba-tiba kami sadar bahwa ada tugas yang harus kukerjakan. Aku langsung bangun. Dan kulihat ada bercak-bercak kemerahan di dipan Titin dekat selangkangannya. "Tiinnn.. punya kamu berdarah ya.. masih sakit..?" "Sedikit Mas.. Linunya ini yang belum hilang." "Udaahh bangun aja. Nanti siapa tahu ilang sendiri." kataku. Lalu kubantu dia bangun, mengelap dipan dengan kain basah sambil melirik jam beker. Ya ampun 2 jam lebih aku bergelut dengan Titin. Setelah dia berpakaian, kubantu dia merendam cucian sementara dia mencuci beras. Dia mencuci baju, aku memotong-motong ubi dan singkong. Karena sudah hampir terlambat, kami mandi bareng berdua. Di dalam kamar mandi itu kami saling ciuman lagi, saling meremas lagi. Sesampainya di warung, ibuku bertanya, "Titin Kenapa, kok jalannya agak pincang?" "Terpeleset waktu nyuci baju Bu.." aku yang yang menyahut. Memang Titin jalannya agak sedikit pincang. Siang itu kami sekolah bergandengan tangan seakan tak mau dipisahkan. Malam harinya saat belajar, Titin datang lagi. Kali ini sebelum belajar kami bercumbu dulu. "Tiinnn.. maafin Mas ya.. Mas khilaf.. Mas sudah mengambil keperawanan Titin." "Nggak Mass, Titin dong yang seharusnya minta maaf. Khan Titin yang minta.

Mas nyesel ya.. perjaka Mas udah ilang?" "Lho, yang seharusnya nyesel itu khan yang perempuan bukan laki-laki." "Tapi Titin nggak nyesel sama sekali, malah bangga bisa ngasih sama Mas." "Sekarang Titin nggak mau pisah sama Mass.. Titin mau sama Mas terus.. Dan Titin janji nggak mau sama yang lain selain Mas." sambungnya lagi. Kok air matanya netes? kucium dia dengan lembut. "Terima kasih Tin.. Mas juga janji. Mas juga nggak mau dengan orang lain selama ada Titin." Dia memelukku lama sekali. Seakan tidak mau dipisahkan. Aku sekarang sudah terbiasa kalau sedang mencium, tanganku mengelus-elus punggungnya, lalu meremas-remas dadanya. Eh, dia nggak pake kaos lagi. "Aaahh.. Masss.." dia mendesis. Tanganku mulai turun ke arah bongkahan pantatnya, kuremas-remas. Desahannya semakin keras saja. Tangganya pun mulai masuk ke dalam sarung. Mulai memegang sesuatu yang mulai mengeras. "Mass.. Titin mau lagi doonng.." Busyet, ini anak sepertinya maniak banget. Beberapa saat kemudian ...

...kulepaskan daster dan celana dalamnya. Dia pun menurunkan sarung dan celana dalamku, lalu kaosku. Bugillah kami berdua. Kukecup lehernya sambil kuremas-remas dadanya. Kupuntir putingnya, dia mendesah. "Ssstt.. jangan berisik dong.. nanti Ibu bangun.." dia pun mengecilkan suaranya. Hanya mulutnya yang meringis-ringis saja. Tangannya tidak tinggal diam. Mulai menggenggam penisku dan mengocok dengan perlahan. "Mass.. kuhisap yaa.." katanya. Lalu dia berbalik arah. ... ...Mulutnya yang mungil mulai menjilati kepala penisku. Seperti

ada tegangan tinggi yang mengalir di tubuhku. "Aaahh.. Tiiinn.." desahku perlahan saat dia mulai mengulum kepala penisku. Sementara itu vaginanya ada di depanku. Posisi 69 kata orang. Kucium aromanya. Aaahh segarnya. Mulailah lidahku menjelajah ke lubang yang merah membasah. Kucari kacang kedelenya dengan lidahku. Setiap kujilat kedelenya, hisapan di penisku terhenti. Cairan vaginanya makin lama makin banyak. Tiba-tiba dia berbalik dan terlentang, sambil menarik penisku ke vaginanya. "Auwww.. pelan-pelan dong Tiinn.. Sakit khan.." kataku karena penisku ditarik. "Cepetan doongg.. Masss." Kemudian kupegang penisku, kuarahkan ke vaginanya, kugesek-gesekkan di pintunya. "Aaahh.. Masss.. jangan nakal doong.. cepetan.." Kutekan perlahan-lahan. Masuk kepalanya, masih agak linu rasanya. "Aahhh.. ssshh.." dia mengerang keenakan. "Pelan-pelan Mass.."

Kutekan perlahan sekali. Takut dia kesakitan seperti tadi siang. Dia meringis. Kutahan, tarik sedikit, tekan lagi pelan-pelan, tarik lagi sedikit, tekan pelan-pelan. Mili demi mili penisku mulai ditelan oleh vaginanya yang amat sempit. Setelah semuanya masuk, kudiamkan sebentar sambil menikmati sensasi yang ada. Sekarang seluruh penisku seperti dipijat-pijat. "Tiinnn.. Mas sayaaang banget sama Titin.." kubisikkan di telinganya. "Iii..iiyyaaa.. Maaass.. aahhh.. Masss.." katanya sambil mecium bibirku. Kami lalu berciuman. Saling mengadu lidah. Lalu kunaik-turunkan pantatku pelahan. Kuresapi setiap garakanku. Tiba-tiba Titin memelukku. Dia berguling sehingga posisinya ada di atasku. "Maasss.. Titin mau di atas.." "Iiiyaa tapi pelan-pelan Tiinn.. nanti Ibu banguunn.." Rupanya dia ingin tahu gimana rasanya di atas. Dia jongkok sambil melihat ke selangkangannya, lalu naik turun pelahan-lahan. Wajahnya merah padam. Lama-lama dia semakin cepat naik turunnya. Dadanya berguncang-guncang. "Aaacchh.. ooohh.. Maaass.. Ooohh.." "Ayooo.. Tiinnn dicepetiinnn.. ayooo.. ssshh.." Kuremas-remas kedua susunya. Keringatnya sudah di sekujur tubuhnya. Kira-kira 10 menit kemudian dia menjepitkan kedua pahanya. Tangannya menjambak rambutku. "Maaass.. Tiitiiinn.. piipiiiss.." Terasa ada cairan hangat menyembur di kepala penisku. Bersamaan dengan itu aku merasa ada yang mau keluar dari penisku. Kubalikkan dia, lalu kugenjot sekuatku. "Maasss.. udaaahh.. geliii.. aduuhh.." Aku tidak peduli. Kugenjot terus. Sampai akhirnya, "Tiinnn.. Maasss juugaaa.. pipiisss.." Dan, "Crooott.. crroottt.." Kusemprotan maniku 3 kali berturut-turut ke vaginanya. "Aaahhh.." Kucabut penisku dan aku tergolek lemas di sebelahnya. Bukan main, setelah sensasi dahsyat tadi mereda, kucium dia. "Terima kasiihhh.. yaaa Tiiinn.." "Aaahhh.. Masss.." Kami tidur berpelukan berdua sampai kami terbangun karena badan kami dingin karena tidak memakai selimut. Lalu kami berpakaian, mencium pipiku, kuantar sampai pintu rumahnya. Ah.. perjakaku hilang diumur 13 tahun. Sejak saat itu Titin kalau datang belajar pasti tidak memakai kaos dalam atau BH. Karena Titin sejak kelas 2 SMP sudah memakai BH. Malu sama teman katanya. Bahkan kalau sudah kepingin dia datang tanpa mengenakan celana dalam. Kami melakukannya siang dan malam. Kadang di rumahku atau di rumahnya. Paling sering di rumahnya. Berbagai posisi sudah kami lakukan. Berdiri, sambil duduk (dia kupangku menghadapku), dia di atas, model anjing.

Kecuali kalau saat dia mens, atau saat bapaknya di rumah. Itupun dia masih rela mengemut punyaku. Ketika terdengar kabar bahwa Tapol G30S PKI dibebaskan, aku menemani ibuku mencari bapakku ke kota Bandung. Tidak ketemu. Di Jogya, di rumah keluarganya juga tidak ditemukan. Apa bapakku sudah tiada? Padahal pada daftar orang-orang yang dibebaskan tercantum nama bapakku, dibebaskan di Bandung. Pada suatu sore, saat itu ibuku sedang shalat maghrib, ada seseorang dengan pakaian lusuh dan tampang sedih mampir ke warungku meminum kopi dan makan pisang goreng. Kuperhatikan dia sering melamun dan pandangannya kosong. Kuperhatikan lebih seksama lagi. Sepertinya aku pernah mengenalnya. Tapi dimana? Tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan ibuku. "Maasss.." teriak ibuku. Rupanya ibuku sudah lama memperhatikan pria itu selagi minum kopi. Orang itupun kaget. Setelah saling pandang beberapa saat, mereka saling berpelukan erat. Ibuku menangis meraung-raung. Aku bingung ...

...harus berbuat apa. Aku diam saja. "Mass itu anakmu yang kukandung dulu saat Mas pergi. Sini Pri kasih salam sama Bapakmu," kata ibuku. Kucium tangannya lalu kami bertangisan bertiga. Tangisan bahagia. Aku bahagia sekali. Aku sekarang ditemani bapakku. Orang yang dulu sangat kudambakan. Tapi akibatnya hubungan dengan Titin jadi tidak sebebas dulu lagi. Kami harus curi-curi waktu untuk bersama-sama pada saat bapakku mencari kerja sebagai tukang kayu atau saat bapak dan ibuku jaga warung berdua.Akhirnya bapakku memutuskan untuk membesarkan warung saja. Keadaan itu berakhir ketika pemilik kontrakan datang dan memberitahukan bahwa kontrakan akan dijual 3 bulan lagi. Orang tuaku pindah kontrakan tak jauh dari tempat semula, sedangkan Titinku pindah ke Ciamis. Sebelum ... ...perpisahan, Titin memberiku servise yang tak terlupakan. Kami bergumul di kebun selama kurang lebih tiga jam. Kenangan yang takkan terlupakan. Selamat jalan Titinku... Setelah aku pindah kontrakan, aku banyak murung. Aku selalu teringat Titin. Untuk menghilangkan pikiran itu, aku konsentrasikan pada pelajaran. Akhirnya aku lulus dengan nilai memuaskan. Sangat memuaskan. Sekarang aku harus bisa sekolah ke STM. Aku ingin bisa bekerja untuk meringankan beban

orang tuaku. Oh ya, Warungku selain menjual rokok, barang-barang pokok seperti sabun, beras, dll juga sekarang sudah menjadi warung makan. Ini berkat kepandaian bapakku mengelola keuangan. Kalau dulu uangnya hanya disimpan oleh ibu. Terkadang bapakku juga menerima pesanan pembuatan lemari dari kayu atau memperbaiki mesin mobil yang rusak. Akhirnya aku bisa diterima di STM Negeri di daerah Santa, Kebayoran. Dikarenakan saat test masuk, aku termasuk 10 besar, maka otomatis aku mendapat bea siswa selama 1 tahun. Ini bisa dipertahankan asal aku selama sekolah bisa mendapat rangking di kelas. Minimal rangking 3.Titin, lihatlah prestasiku, seharusnya aku berbagi kebahagiaan ini denganmu. Akhirnya aku sekolah di STM itu tanpa bayar malah dibayar sebagai uang saku. Bapak ibuku sangat bangga dengan hal itu. Bapak Ibu sering cerita kepada orang-orang yang datang minum kopi. Aku sudah bisa melupakan Titin. Mungkin karena temanku laki-laki semua. Pada akhirnya, saat aku kelas 2, saat umurku 17 tahun, aku mendapat tawaran dari tetanggaku Om Candra untuk mengajari Matematika anaknya yang kelas 2 SMP. Karena ibuku cerita bahwa nilai Matematikaku di ijasah SMP adalah 9. Dia cerita kalau anaknya lemah di Matematika dan IPA. Sedangkan nilai untuk pelajaran IPS adalah lumayan. Aku belum menyanggupinya, karena aku belum pernah mengajar kecuali pada Titin. Hingga suatu saat dia membawakan raport anaknya. Aku kaget sekali ternyata nilai raport untuk Matematika-nya tak pernah lebih dari 5. Sedangkan Fisika-nya paling tinggi adalah 6, yang lain 7 dan 6.Tak ada yang 8. "Ini pasti naik kelasnya dikatrol," batinku. Aku kasihan sekali akhirnya kusanggupi. Kulihat photonya, namanya, umurnya dll. Siti Maesaroh 13 tahun. "Hmm.. cantik juga," batinku. Setelah perjanjian mengenai target, berapa dia membayarku serta jadwalnya, akhirnya les privat tersebut akan dimulai bulan depan. Satu minggu 3 kali masing-masing selama 2 jam. Dimulai jam 4 sampai jam 6 sore. Selasa, kamis dan sabtu setiap pulang sekolah. Matematika, Fisika dan Kimia. Ibu sangat bangga karena yang diajari adalah anak orang kaya yang terpandang di daerahku. Aku harus membaca kurikulum Matematika dan Fisika untuk SMP. Kubeli bukunya di tukang loak di daerah cipete lalu kubuat daftar pengajaran serta daftar kemajuan. Akhirnya saat itupun tiba. Dengan naik sepeda kebanggaanku (kubeli sepeda bekas murah dan memperbaikinya), sampailah akudi rumah Om Candra. Dengan sedikit grogi, kuketok rumahnya. Akhirnya pembantunya yang keluar."Mas Pri yaa. Ayo masuk Mas," kata Siti nama pembantunya. Wah, rumahnya besar banget. Aku celingak celinguk mengagumi rumah itu. Lalu aku diantarkan ke ruang belajar di lantai atas. Sementara itu di atas meja sudah terhidang segelas kopi susu dan pisang goreng. Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya seorang gadis keluar dari kamarnya. Aku melongo melihatnya. Ini bidadari atau apa..? Cantiknya melebihi yang ada diphoto raportnya. Titinku yang cantik kalah jauh bila dibandingkan dia. Dia memakai baju terusan warna krem. Matanya bulat, hidungnya mancung, bibirnya tipis, alisnya cukup tebal, giginya putih berbaris rapi, rambutnya sebahu, kulitnya putih, tinggi semampai, dadanya sudah menonjol cukup besar. Maklumlah sekolahku yang STM semuanya laki-laki dan lingkungan rumahku adalah lingkungan kampung, makajarang sekali kulihat wanita cantik. Ada yang mulai

mengeras. "Seandainya.. Aahhh.. Ini adalah muridku dan dia bukan levelku," batinku memperingatkanku. "Lho, kok bengong Mas." "Oh.. eehhh.. Mas lupa kalau yang diajarin itu perempuan. Seingat Mas laki-laki," kataku mengelak. "Namanya siapa Mas.. aku Maesaroh, biasa dipanggil Sara." "Aku Prihatin, biasa dipanggil Pri atau Atin. Panggil aja Mas ...

...Pri," sahutku. "Maesaroh dipanggilnya Sara..?" batinku. "Oke bisa kita mulai..? Mau Matematika dulu, Fisika atau Kimia?" sambungku lagi. "Mmmhh.. matematika aja dulu deh Mas.." sahutnya. Lalu aku mulai mengajarkannya. Ternyata Sara bukanlah bodoh tapi karena dasarnya kurang, maka kukonsentrasikan dia dulu kepada dasar Matematika kelas 1 SMP. Baru setelah itu Fisika dan Kimianya. Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya dia bisa mendalami dan memahami dasar-dasar Matematika yang merupakan dasar Fisika dan Kimianya. Ini terbukti kadang-kadang sengaja aku berbuat salah dan dia mengkoreksinya. Selebihnya tugasku jadi ringan, karena tinggal menerangkan sebentar, dia langsung mengerti. Dan aku tinggal mengoreksi saja. Bahkan dia kubekali dua tingkat lebih tinggi dari kurikulum sekolahnya. Aku bangga ternyata muridku bukanlah anak yang bodoh. Aku jadi tahu segala sesuatu tentang keluarganya. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Semuanya perempuan. Kakaknya Siti Fatimah, 16 tahun, panggilannya Fatty sekolah di SMA kelas 2 di Jogyakarta. Adiknya Siti Khodijah, panggilannya Ketty baru kelas 6 SD. Dia sendiri bernama Siti Maesaroh. Ayahnya adalah seorang Cina keturunan. Bekerja di Mandala Airways sebagai kepala pemasaran. Ibunya adalah orang Pakistan yang bekerja ...
...di kedutaan. "Pantas aja anaknya cantik-cantik semua." batinku. "Udah cantik, kaya lagi." Mobilnya saja saat itu ada 3 buah. Ibunya, bapaknya, dan satu lagi untuk antar jemput sekolah anak-anaknya. Pembantunya ada 3, tukang kebunnya 1, sopirnya 3. Bapaknya berangkat jam 7 pagi dan pulangnya rata-rata jam 8 malam.Ibunya dua minggu sekali pergi ke Pakistan. Seringnya 3 hari kadang-kadang pernah sampai 8 hari. Pergaulannya sangat dibatasi oleh bapaknya. Jadi kalau pulang sekolah harus pulang, tidak boleh ke mana-mana. Kalau mau pergi, malamnya harus ijin dulu ke bapaknya dan itupun harus diantar oleh sopirnya. Jadi dia bisa dibilang kesepian untuk anak seumurnya. Walaupun semua fasilitas dia punya. Selama mengajar, aku tak berani kurang ajar padanya. Pertama aku takut targetku supaya raportnya tak merah tak berhasil, kedua karena aku sangat minder dengannya. Terutama dari segi kekayaan. Walaupun itu milik orang tuanya. Paling-paling, aku hanya melirik ke bukit kembarnya dan menatap wajahnya saat dia menulis, mengintip celana dalamnya saat dia memakai rok mini.Terkadang malah curi-curi mencium harum rambutnya saat menerangkan

sesuatu. Memang kadang-kaadang kami belajar di meja belajar atau sambil duduk di karpet. Sepertinya aku jatuh cinta sama muridku ini. Tapi terus terang aku takut. Suatu hari, kulihat dia sangat murung. Belajarnya kurang semangat. Wah, bisa kacau nih. Bisa-bisa aku nanti nggak dibayar sama bapaknya. Perjanjiannya adalah kalau terima raport nanti masih merah, maka aku tidak dibayar. Padahal 1 bulan lagi dia mau ulangan umum. "Sar, kamu kenapa? kok kayaknya ada masalah..?" tanyaku. "Ngaak.. nggak pa-pa kok." sahutnya tidak bersemangat. Setelah diplomasi sambil belajar, akhirnya setelah selesai belajar dia mau juga ngomong. Ternyata dia itu naksir Joko, anak kelas 3 yang jadi bintang basket di sekolahnya. Sedangkan Joko lebih memilih Susi yang satu kelas dengan Joko. Oh, masalah cinta monyet toh. Aku senyum seorang diri. "Lhoo.. Mas kok senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Bukannya bantuin gimana gitu." gerutunya. "Wah kalau soal cinta, Mas nggak bisa ngapa-ngapain. Mas khan cuman jadi guru Matematika sama IPA. Kalau ditambahin jadi guru cinta, Mas mau bantuin," sahutku bercanda. "Oke deh, sekarang kalo Mas aku angkat jadi guru cinta, Mas berbuat apa kalau jadi aku?" tanyanya. "Yaa.. nggak tahu. Mas khan laki-laki," bantahku. "Oke deh, kalau lelaki itu ngeliat perempuan dari apanya." "Walaupun Mas belum pengalaman sama perempuan, Mas juga sekolahnya di STM, tapi karena Mas menang umur dari kamu, Mas coba jelasin semampu Mas ya." Lalu kujelaskan semampuku tentang pandangan lelaki terhadap perempuan. Kalau lelaki itu melihat perempuan dari penampilannya, bentuk tubuhnya, kepribadiannya, dll juga karena sering ketemu. Dia memperhatikanku dengan seksama. Kami jadi lebih sering beradu pandang, berdebat. Aku jadi makin tertarik dengan muridku ini. Aduh gimana sih nih.. Kok jadinya begini. "Menurut mas, Sara ini cantik nggak?" tanyanya. "Sara itu gadis yang tercantik yang Mas pernah liat," sahutku jujur sambil menatap wajahnya. "Bayangin sudah tercantik ditambahin paling..." tambahku lagi. Wajahnya langsung bersemu merah dan tersenyum. Bukan main cantiknya kalau lagi begitu. "Bener.. Mas.. kalau body-ku?" tanyanya lagi sambil berdiri, muter-muter di depanku. Dadanya disorongkan ke depan. Oh ya, saat itu dia memakai celana pendek agak gombrong, kaos Mickey Mouse sehingga BH-nya membayang sedikit. "Body kamu juga bagus banget. Tinggi, sory ya.. dada kamu juga bagus,

pantatmu bulet, kakimu jenjang," kataku lagi sambil melihat ...

...seluruh tubuhnya. Saat aku bilang dadamu bagus, dia langsung memegang dadanya. "Mas nggak bohong khaannn..?" katanya sambil memegang lenganku ditempelkan ke dadanya. Lunak dan hangat. Mau nggak mau penisku jadi tegang saat itu. "Jujur demi Tuhan," kataku meyakinkan. Karena aku sudah tidak kuat lagi, aku minta ijin pulang padanya. "Yaa.. Mas kok pulang siicchh." "Iyaa.. Mas ada perlu. Besok kalau nggak ada keperluan, Mas mau nemenin Sara deh.." sahutku. Aku bangun agak tertunduk, maklum terpedoku ketekuk. "Knapa Mass," tanya Sara. "Aku kesemutan nih," elakku. Dibantunya aku berdiri, entah kenapa lenganku menyentuh susunya lagi dan dia pun tidak merasa risih. Teras lunak dan hangat. Makin sakit rasa terpedoku. "Udah ya.. sampe besok Sabtu." kataku. Hari Sabtunya aku datang lagi. Kok rumahnya sepi. Pada kemana..? Biasanya kalau Sabtu bapak dan ibunya sudah pulang. Dan mereka pergi jalan-jalan malam harinya. "Pada kemana Sar, kok sepi," tanyaku ke Sara saat ketemu. "Papa tugas ke Palembang 3 hari, Mama ke Pakistan, katanya sih sekitar 4 harian. Si Siti sama Imah izin ke Garut. Tinggal Mang Ujang (sopirnya), Pak Parno (tukang kebun) sama Bi Inah," katanya. Ternyata sopir bapak dan ibunya adalah sopir kantor. "Mas.. boleh nggak hari ini Sara izin nggak belajar?" tanyanya. "Lho.. kok nggak bilang kemaren. Mas udah dateng baru bilang. Emangnya kamu kenapa? Sakit..?"kataku. "Nggak.. tadi aku pijam video bagus sama Sari (temannya), dia bilang nontonnya nggak boleh sendirian harus berdua. Tadinya mau nonton sama Ketty, eehh.. si Ketty pake ikut papa segala.. Ya aku tunggu Mas dateng aja." "Kamu ... ...ada PR nggak?" tanyaku.

"Barusan udah aku kerjain kok. Coba aja Mas cek.." katanya sambil menyodorkan buku Matematika-nya. Aku cek ternyata betul semua. "Ya udah kalau begitu. Film apa sih, kok nontonnya harus berdua?" tanyaku sambil melihat ke judul filmnya. American Angel terbaca disampulnya. Tak ada gambar. "Terima kasih ya Mas. Yuuk.. ke kamar Sara. Videonya ada di sana." katanya sambil menggandeng tanganku ke kamarnya.

Kamar Sara ternyata besar sekali. Ada rak yang penuh dengan boneka, ada TV besar, ada stereo set lengkap, ada AC-nya, ada kamar mandinya, meja belajarnya bagus, tempat tidurnya luas (ukuran kingsize) dan ada pintunya ke balkon. Eh.. ada teleponnya lagi. Bukan main. Rumahku sama kamarnya masih luas kamarnya. Aku keliling terkagum-kagum. "Kalau si Ketty tidurnya di mana?" tanyaku. "Lho.. Ketty khan kamarnya di sebelah.. Mas belum tahu ya." katanya sambil memasukkan video ke playernya. Aku makin kagum aja, kamar segini luas dipake sendiri. Bermimpi pun aku tidak pernah punya kamar seperti ini. Apalagi membayangkan. Takut tidak kesampaian. Aku duduk di karpet bersandarkan tempat tidur melihat ke TV. Mana gambarnya? "Oh yaa.. Mas mau minum apa? Bi Inah lagi tidur katanya dia lagi masuk angin." tanyanya sambil keluar kamar. "Air putih aja deh," jawabku takut ngerepotin dia. Oh ya, aku lupa. Saat itu Sara tumben memakai daster agak tipis. Biasanya dia memakai celana pendek sama kaos. Dasternya itu lho yang nggak nahan. BH sama celana dalamnya terbayang. Dia masuk sambil membawa sebotol air dan gelas, lalu ditaruh di meja belajarnya. "Kalau haus ambil sendiri ya Mass, aku taruh di sini," katanya lalu mem-play-kan videonya. "Pantesan dari tadi nggak ada gambarnya." gumanku dalam hati. Dia duduk di sebelahku. Tercium harum badannya. Bau sabun mandi. Oh, ternyata dia habis mandi. Pantes kelihatan segar. "Mas, tadi khan guru sejarahku nggak masuk, lalu aku ke kantin sama temen-temen. Mereka cerita tentang pacar mereka, pengalaman mereka pacaran. Aku malu lho.. Mas, masak cuman aku aja yang nggak punya pacar." "Lho.. emang kamu belum punya pacar?" pancingku. "Ihh.. Mas ngledek. Ya belum doongg.." "Mau nggak jadi pacar Mas," godaku. "Emangnya Mas juga belum punya pacar?" tanyanya. "Siapa yang mau sama Mas, orang jelek miskin gini." kataku merendah. "Tapi Sara kan belum punya pengalaman pacaran, Mas.." "Emang Mas udahh. Mas khan juga belum pernah." sahutku. Hening sekejap. Sementara di TV ada adegan orang ciuman. "Mas, apa enaknya sih ciuman seperti itu?" katanya sambil matanya menatap TV. "Dibilang Mas belum pernah.. ya.. mana tahu rasanya.." "Kayaknya sih enak, liat tuh sampe merem-merem segala," sambungku. Hening lagi, yang ada adalah adegan yang kian merangsang di TV. Si lelaki sedang bergelut sambil melucuti pakaian perempuannya, begitu pula sebaliknya. Mereka saling melucuti. Lalu mereka saling meremas. "Aaahh.. ohhh.. sshhh.. shshshs.." begitu suara di TV. Kurasakan nafas Sara semakin cepat. Lalu menyandarkan ...

...kepalanya ke pundakku. Kakinya yang tadi diselonjorkan, kini ditekuk. Penisku mulai menegang. Ketika si perempuan sedang mengulum penis lelaki, siSara mendesah, "Ihhh.." Aku tak tahu apa maksud desahannya. Jijik atau apa. Tiba-tiba Sara berbisik, "Mass.. ajarin Sara ciuman doongg.." "Supaya Sara nggak malu kalo cerita sama temen-teman." sambungnya. "Si Rina malah susunya pernah dicium sama pacarnya.. seperti yang divideo itu," katanya menambahkan. Aku seperti mendapat durian runtuh. Disaat penisku keras, nafsuku naik karena adegan TV, ada yang minta dicium, Bidadari lagi. "Mumpung sepi nggak ada orang nihh." batinku. Kurangkul dia, lalu kupangku menghadapku. Sara pasrah saja terhadap apa yang kulakukan. Kucium pipinya, matanya, hidungnya. Dia menikmati semua yang kuberikan. "Aaahh.. Maassss.. hmmm.."Kuelus-elus punggungnya, kupegang pantatnya sambil kuremas. Bulat dan keras. Tangannya pun mulai memeluk pinggangku. Kukecup bibirnya. Mula-mula dia tidak membuka mulutnya. Hanya bibir kami yang bertautan. Kumainkan lidahku, akhirnya mulutnya terbuka. Lidahku dan lidahnya saling membelit. Terasa manis ludahnya. "Ternyata muridku pintar sekali belajar. Dia mengikuti apa yang aku lakukan." Kucoba meraba susunya. Dia tersentak. Tapi ciumanku tak kulepaskan. Tangannya memegang tanganku tapi tidak ditarik hanya dipegang saja. Pertanda dia pun menikmatinya. Kuremas dari luar perlahan bukit kembarnya. "Aaahh.. Maasss.." desahnya. Kuberdirikan dia, kuplorotkan dasternya. Dia kaget sekali. Langsung kucium lagi bibirnya, tangan kiriku meremas-remas pantatnya, tangan kananku meremas susunya. Lama-kelamaan dia sudah tak peduli lagi dengan tubuhnya yang setengah telanjang. Hanya dengan BH dan CD cream-nya. Kudorong dia ke tempat tidur. Tanganku sekarang berusaha memegang susunya dari balik BH-nya. Kuangkat BH kirinya, kupegang langsung ke putingnya yang menonjol. "Aaacchhh.. Masss.. sshhh.. ssshh.." desahnya disela-sela nafasnya yang memburu. Sambil menatap matanya yang mulai sayu, tangan kananku mencoba melepas BH-nya. Tak ada penolakan sama sekali. Bukan main muridku ini. Sekarang terpampanglah sepasang bukit kembar yang sangat indah. Putingnya yang coklat muda tampak menonjol di bukitnya ...
..yang putih. Kukecup putingnya, dia menggerinjal. Kucium susu kirinya sambil kuremas susu kanannya. "Aaacchhh.. Masss.. sshhh.. ssshh.. aaduuhhh.." kedua tangannya menjambak rambutku. Kulirik dia, ternyata dia sedang melihat ke TV dimana sedang ada adegan orang sedang bersetubuh. Tanganku segera mengusap-usap pahanya, turun ke dengkul, naik lagi. Kuusap-usap vaginanya dari luar CD-nya. Sudah basah. Kumasukkan tangan kananku ke dalam CD-nya. Bulu rambutnya masih sedikit. Kuusap-usap bibir kemaluannya. Lalu

kumasukkan jari tengahku ke liangnya. Becek banget ya. Karena kurang leluasa, kubisikkan, "Sar, Mas sayang banget sama Sara.." "Mas.. Saaarrraaa.. jugaaa sayaaaannngg Masss.." desahnya. "Mas buka yaa.." Dia menatapku tajam. Tapi tanganku mulai menurunkan CD-nya. Dia tidak menolak, bahkan membantuku dengan menaikkan pantatnya. Setelah CD-nya terbuka, tampaklah seonggok daging yangindah sekali bentuknya. Agak tembem. Kucium perlahan. Baunya segar sekali. "Maasss.. aaahh.." desahnya keras sambil pantatnya terangkat ke atas. Penisku sakit karena tegangnya sudah maksimum dan terjepit celana. Aku berdiri melepaskan semua pakaianku. Dia hanya memandangiku sayu. Bugillah kita berdua di kasur yang luas. Kubenamkan wajahku di sela-sela pahanya yang membuka. Kujilati seluruh permukaan vaginanya. Kumasukan lidahku mencari kacang kedelenya. Begitu tersentuh. Dia menggelinjang keras."Aduuuhh.. Massss.. aaahh.. ennnaaakkk.. Masss.. terusss.. terruusss.. ooohh..gelliii.. Masss.. oohhh.." Sambil pantatnya goyang kiri dan kanan, naik dan turun. Tak lama kemudian, tiba-tiba dia menekan kepalaku dan menjepit dengan pahanya. "Aaahh.. Maasss.." Sara berteriak keras sekali. Dan, "Syur.. syurrr.." mengalirlah cairan kenikmatan dari liang vaginanya ke mulut dan lidahku. Hidungku pun kena cipratannya. Kujilat. Ah, rasa itu kembali kurasakan. Setelah sekian lama tak kurasakan. Kuhayati rasanya. Kok yang ini lebih manis dari punya Titin yang pernah kurasakan, kujilati seluruhnya sampai bersih tak tersisa. Sara makin berteriak, "Masss.. uudaaah.. Mass geli.." Lalu aku naik, kupeluk dia dengan mesra. Penisku yang masih tegang, menyenggol pahanya. Kutempelkan ke mulut vaginanya. "Ohhh.. Masss.." desahnya lirih. "Sar, Mass masukkan boleehhh?" tanyaku sambil menatap wajahnya memohon persetujuannya. Dia hanya mengangguk lemah. Hebat sekali muridku ini. Apa karena dia keturunan Pakistan ya sehingga nafsunya besar. Kukangkangkan pahanya. Kupegang penisku, kuarahkan ke sana. Terasa hangat kepala penisku menyentuh bibir vaginanya. "Pelan-pelan yaa Masss.." pintanya."Tentu dong Sayaaangg.." jawabku mesra. Kudorong sedikit, meleset. Kudorong lagi, nah mulai masuk kepalanya. Kulihat dia meringis-ringis, kutahan sebentar sampai dia ...

...tidak meringis lagi. Kutekan perlahan-lahan, dia meringis lagi. Saat kulihat sudah sepertiganya masuk, kutarik sedikit, tekan sedikit, tarik sedikit perlahan-

lahan dengan penuh perasaan. Kutekan lebih dalam. Sudah setengahnya masuk. "Aaahh.. Masss.. saakiiitt.. Masss.. aduuuhh.. ssshh.." Kutahan, kudiamkan sebentar lalu kutarik lagi. Maju mundur perlahan-lahan. "Adduuhh..enaaakkk.. Masss.. aahhh.. shhshshsh.. Ayooo.. Masss.. hmmm.. yang.. dalam.. Masss.. aahhh.." Karena sudah ada lampu hijau, kutekan dengan sekuat tenagaku. "Blesss.." penisku seperti menabrak kain tipis yang langsung sobek. "Auuwww.. Masss.. sakiiitt.. periihhh.. Masss.. aduuhhh.." teriaknya. Aku tidak peduli karena situasi rumah yang sepi. "Ooohhhh.. selaput dara.. aku berhasil menembusmu," batinku. Seluruh penisku seperti dipijit dan diremas mesra. Aku diamkan beberapa saat sampai vaginanya bisa menerima kehadiran penisku dan dia tak merasa kesakitan lagi. Sementara itu dia melirik lagi ke TV. Saat itu di TV sedang ada adegan doggy style. Aku merasakan kedutan-kedutan halus di penisku. "Udah saatnya nich.." batinku. Kucabut perlahan-lahan lalu kutekan lagi dengan sangat perlahan. Berulangulang. "Ohhh.. Masss.. ooohh.. aaahh.. enaaakkk.. Masss.. oohhh.. aduuuhh.. aahhh.." desahnya. Rupanya rasa sakitnya sudah hilang, berganti dengan kenikmatan. Bukan main rasanya. Sempit sekali vagina si Sara ini. Jepitannya terasa di seluruh penisku. Ketika kutarik, sepertinya vaginanya tak rela. Nyedot rasanya. Lama-lama kupercepat sedikit demi sedikit. Setelah terasa sangat licin. Makin cepat dan makin cepat. Kulihat kepalanya bergoyang kiri ke kanan. Susunya bergoyang-goyang indah. Ah, indahnya pemandangan itu. "Aaahhh.. cepet Mas.. cepet.. Masss.. yang dalem Mass.. ayooo.. Mas.. yang dalem Maasss.." Pantatnya kini sudah bisa mengimbangi gerakanku ke kiri dan ke kanan. Penisku seperti dipelintir rasanya. "Sudah masuk semua kok masih teriak-teriak yang dalem, "batinku. "Dalem sekali liang vaginanya yaa." Memang aku tak merasakan kepala penisku menyentuh apa-apa. Kupercepat sampai mentok. Ah, nikmat rasanya. Kira-kira 10 menit, dia mulai ngomong yang nggak jelas. Kupercepat lagi sekuatku sampai pinggangku agak sakit. Tiba-tiba kakinya membelit pinggangku. Pantatnya ke atas, lalu diputar-putar dengan cepat. "Aaacchhh.. Masss.. akuuu.. udaahhh.." Aku yang tadinya juga sudah mau sampai, digoyang seperti itu, mau nggak mau bobol juga pertahananku. " Maasss.. juugaaa.. aahhh.." teriakku sambil menekan penisku agar masuk lebih dalam. "Crooott.. croottt.. crooott.." ada 5 atau 6 kali penisku ... ...menembakkan maninya di liang vagina Sara. Lalu aku terkulai lemas tak bertenaga di sebelahnya. Kami berpelukan erat sekali. "Kamu hebat sekali Sar.." kataku.

"Mas juga hebat.." "Terima kasih ya, Sara.." kataku sambil mencium keningnya. "Sara yang terima kasih sama Mas, Mas mau ngajarin Sara. Sara jadi tau kalau bercinta itu nikmat sekali.." Kita berdua lalu tidur telanjang berpelukan di bawah selimut tebalnya. Sorenya aku bangun karena aku merasa lapar dan dingin. Rupanya aku sudah tak berselimut lagi. Kupandangi Sara-ku yang masih tertidur dengan pulas. Kulihat ada lendir kemerahan dekat kakinya. "Oh darah perawan.." pikirku. Kecantikannya sangat alami. Kecantikan seorang gadis belia yang baru berumur 13 tahun, tapi ingin merasakan nikmatnya bercinta. Kuselimuti dia. Sementara itu gambar TV-nya sudah berwarna biru. Pertanda videonya sudah habis. Gimana nih.. Aku lapar. Di rumah orang lagi. Biasanya aku disuguhi pisang goreng dan kopi susu. Aku memakai bajuku, dan berjalan di sekeliling kamarnya, mematikan TV. Kuperhatikan foto-fotonya di atas meja belajarnya. Masih lebih cantik orangnya daripada fotonya. Beruntung aku menemukan biskuit di atas meja belajarnya. Lumayan buat mengganjal perut. Tak lama Sara bangun. Menggeliat-geliat sebentar. Lalu memanggilku. "Udah lama bangunnya, Mas..?" "Yaahhh.. lumayanlah. Ini biskuitmu aku makan. Abis laper sihh." "Makan aja nggak apa-apa kok Mass." katanya sambil bangkit dengan telanjang bulat. Lalu memakai pakaiannya. Kalau aku boleh menilai, Sara pantas mendapat nilai 10. Karena aku sampai saat ini belum pernah melihat gadis yang lebih cantik dari dia. Apalagi body-nya. "Sara ke bawah dulu ya Mass. Sara juga lapar." Kira-kira 1 jam kemudian, Sara datang dengan membawa 2 piring nasi goreng yang baunya membuat perut keroncongan. Lalu kami makan berdua. "Enak betul nasi gorengnya. siapa yang masak..?" tanyaku. "Sara sendiri Mas." "Lho.. Bi Inah ke mana?" "Nggak tau tuh. Biasanya kalau sore dia suka ngobrol sama temen sebelah." Makin sempurna saja nih si Sara. Cantik, pintar, bisa masak. "Mass, mandi yuukk.." ajaknya, "Badan Sara lengket semua niicchh.." Rekan pembaca yang budiman, beberapa hari yang lalu aku dan Sara masih ada jarak yang memisahkan. Antara murid dan guru. Sekarang ...

...setelah kami berhubungan badan, dia tanpa malu-malu malah mengajakku mandi bersama. Keadaan sudah berbalik 180 derajat. Setelah melepaskan semua baju kami, lalu berbugil ria masuk kamar mandinya. Busyet.. kamar mandinya ada perahunya (bath tube). Ada air panasnya lagi.

Setelah menyetel agar air hangatnya pas, kita berdua mandi di shower. Saling menyabuni, membuat penisku mengeras lagi. Ketika aku sedang menyabuni susunya, sengaja kuremas-remas sampai bukit kembarnya mengeras dan putingnya menonjol. Dia mendesah, "Aaahh.. Massss.. teruusss.. Masss enaaakkk.. Massss.."Lalu kusiram, setelah bersih kusedot kedua bukit kembarnya bergantian. Sementara tanganku menyabuni vaginanya. Dia semakin belingsatan. "Maasss.. ooohh.. Maasss.. aaahh.."Kusiram vaginanya, lalu aku jongkok di hadapannya. Kujilat bibir kemaluannya. "Ooohh.. aaahh.. Masss.. diapain Maaass.." Lalu kaki kirinya naik ke bath tube, makin jelaslah isinya. Merah muda bagus sekali. Aku sampai berdebar-debar memandangnya. Kemudian kusentuh kedelenya. "Auww.. Masss.." Lalu kucium dengan penuh perasaan. Kujilat perlahan, dia makin menggelinjang tak karuan. Karena takut jatuh, dia lalu tiduran di dalam bath tube sementara pantatnya berada di pinggir bath tube. Makin terkuak lebarlah vaginanya. Kuserbu dengan jilatan-jilatan ganas. "Ohh.. aahhh.. sshhhh.. aaahh.. ooohh.. Masss.. aduuuhh.." suaranya meracau. Aku ingin merasakan cairannya yang manis. Maka kupercepat jilatanku di kedelenya. Akibatnya pantatnya makin bergerak kian kemari. Tangannya menjambak-jambak rambutku. Tak lama kemudian, "Aaahh.. Maasss.." dan, "Suurrr.. syuurrr.." mengalirlah air kenikmatannya. Rasanya gurih sekali. Manis, sedikit asin seperti tajin. Ah, segarnya. Kuhirup semuanya sampai tetes terakhir. Akhirnya dia tiduran di bath tube. Lalu aku mandi. Menyabuni seluruh tubuhku. Ketika aku akan menyabuni penisku yang sedang tegang, dia bangkit. "Mas, biar Sara aja yang nyuci.. Masss.." Dia jongkok di depanku. Dipandangi dengan seksama penisku. "Mass.. sebesar ini kok bisa masuk ya.." sambil menggenggamnya. Lalu disabuni batangku. "Ohhh.. nikmatnya.. aaahh.." Lalu tangan kirinya memegang kantong pelirku. Sambil meremas perlahan. "Kalau yang ini isinya apa Masss? kok isinya lari-lari sihh.." tanyanya. "Itu adalah pabrik sperma, Sayang." kataku. "Ooo.." "Sara tadi siang liat nggak di TV yang perempuan menghisap punyanya lakilaki?" tanyaku. "Liat Mas.. enggg.. Mas mau Sara menghisap punya Mas..?" tanyanya. "Ya.. kalau Sara nggak keberatan," sahutku. "Eee.. gimana yaa.." katanya sambil mendekatkan wajahnya ke penisku. Diciumnya penisku perlahan, karena wangi habis disabuni, dia sepertinya menikmati sekali. Lalu digesek-gesekkan ke pipinya, matanya, lehernya sambil matanya terpejam. Lama, dia melakukan itu. Punyaku berontak semakin tegang. "Aaahh.. Masss.. punya Mas.. hangat.." desahnya.

... ..."Ayooo doonnggg.. dihisaaap.." pintaku.

Dengan takut-takut kepala penisku dicium. Lalu batangnya balik lagi ke kepalanya. Lidahnya dengan ragu-ragu dikeluarkan. Mulai menjilat kepala penisku. Lidahnya yang agak kasar itu menggaruknya. "Aaahh.. yaaa.. begitu.. yaa.. yaaaa.. aduuuhh.. enaknya.. aaahh.." Aku mendesah nikmat. Lalu lidahnya mulai menelusuri batangnya hingga kantong pelirku. Kantong pelirku dihisapnya. "Aduuuhh.. enaknya.. aaahh.." desahku makin keras. Lalu dengan menatapku, mulutnya terbuka sedikit dan mengemut kepala penisku. Hangat terasa penisku. Maju mundur maju mundur sambil tetap menatapku. Dan.. dia mulai menghisap. Bukan main, muridku ini cepat belajar. Jauh lebih pandai dari Titinku dulu. Kalau Titin dulu, hisapan pertama, penisku kena giginya. Tapi Sara..? Aku yakin sekali kalau dia baru pertama melakukannya. Kok bisa..? Hisapannya makin lama makin cepat dan kuat. Kupegang kepalanya agar dia lebih dalam menghisap. Dan kulihat separuh penisku masuk. Bukan main, Titin dulu hanya sanggup menelan kepalanya saja.Penisku sepertinya sudah tak sanggup menahan sensasi luar biasa yang diterimanya. Karena selain dihisap, Sara juga memainkan lidahnya di kepala penisku. Rasanya berkedut-kedut. Makin lama makin cepat, makin cepat makin cepat dan.. "Aaahh.." aku menjerit keras. Lalu, "Crooott.. croottt.." spermaku muncrat ke mulutnya. "Aaahh.. aduuhhh.." aku terduduk lemas. Penisku pun melemas. Kulihat sebagian spermaku mengalir keluar dari sela-sela bibirnya. Dia sepertinya sedang bingung merasakan rasa dari air maniku. "Masss.. Airnya tertelan nggak pa-pa?" "Nggak apa-apa Sar.. Ditelan malah enak kok.." "Enaakk apa nggak?" tanyaku. "Enak Mas.. seperti air santan kental agak asin." "Itu proteinnya sama dengan 10 telor ayam kampung lho.." Setelah agak mendingan kami mandi ...

...bersama lagi karena tadi keringetan. Sewaktu aku mengeringkan badannya dengan handuk, Sara memandangku agak lama. Susunya menegang keras, putingnya mulai menonjol lagi. Nafasnya sedikit memburu. Nah lho, mau apa lagi dia. Dia menarik tanganku keluar dari kamar mandi. Aku langsung didorong sampai terlentang di tempat tidur. Diraihnya penisku yang masih lembek. Diurut-urut, dipijat, sampai akhirnya mulai mengeras sendiri. "Hore.. kerasss lagiii.." teriak Sara kegirangan. Lalu tanpa ragu-ragu, diemut lagi penisku dengan ganas. Dihisap dengan keras. Karena aku takut spermaku keluar sia-sia, maka dengan cepat kutarik badannya ke atas tempat tidur. Kubanting agak keras, lalu kukangkangkan kakinya. Kucium bibir vaginanya, kujilat klitorisnya. Ternyata vaginanya sudah agak basah. Kujilat

terus sambil kutekan lidahku ke klitorisnya. "Aaahh.. ssshh.. ssshh.. ayoo.. Masss.. cepeettt.. Masss.." Aku tak perduli, terus saja kujilati klitorisnya. Tiba-tiba dia bangun, aku ditindihinya, dikangkanginya. Tangannya memegang penisku, lalu diarahkan ke vaginanya. Digerak-gerakkan agar pas dengan lubangnya, lalu perlahan-lahan pantatnya diturunkan. "Aaahh.. Masss.." saat kepala penisku mulai masuk. Dengan sangat perlahan dia menurunkan pantatnya, sampai penisku masuk seluruhnya. Seluruh batang penisku serasa diremas oleh lubang basah hangat. "Aaahh.. Sara.. sshhh.." Lalu dia diam sebentar. Aku kaget ketika dia entah sengaja tidak menggerakkan urat-urat vaginanya. Seluruh batang penisku seperti dipijat. Diremas-remas oleh urat vaginanya yang cukup kuat. "Aaahh.. Sara.. kamu apaiiinn.. hhhggghh.." Dengan perlahan, sambil menggerak-gerakkan urat vaginanya, Sara mengangkat pantatnya. Gila rasanya. Penisku seperti ditarik. Sensasinya sampai ke ubun-ubun kepalaku. Seluruh badanku merinding tak sanggup menahan sensasi itu.Setelah kira-kira tinggal kepalanya saja yang terjepit, dengan perlahan pula diturunkan pantatnya. Ini juga, dia mengedut-ngedutkan urat vaginanya. Aku tak sanggup mengungkapkan dengan kata-kata apa yang sedang kurasakan. Hebatnya, selama dia melakukan hal tersebut, matanya terus memandangiku. "Gimana Masss.. enaaakkkk?" katanya. "Aduuuhh.. sara.. Mas bisa matii.. keenakan.. niihhh.." "Tolong dooonngg.. jangan siksa Mas seperti inii.." rintihku. "Aaacchhh.. sshhh.. aaahhh.. ooohh.." sara mendesah-desah sambil berpikir ini pasti bakat alaminya. Karena dia baru sekali ini bersenggama. Keturunan? Tak tahu aku.. Mungkin karena kasihan padaku atau kenapa, lalu dia mempercepat gerakan naik turunnya. Makin lama makin cepat. Susunya yang bergoyang-goyang, segera kuremas dengan keras untuk mengimbangi rasa geli dan ngilu di penisku. "Aduuuhh.. saaakiitttt.. Maasss.. Jangan keras-keras doonngg.." erangnya. Siapa yang perduli, lha wong aku aja juga disiksa begini. Disiksa? Tak lama rasanya pertahananku mau jebol. "Saaarrr.. akuuu.. maauuu.. nyaaammpeee." lalu "Croottt.. crooott.." pejuku muncrat ke vaginanya. Sedikit yang keluar, karena sudah duakali. Tapi karena Sara belum sampai dia terus saja naik turun di atas tubuhku. "Saarrr.. udaaahh.. Masss.. ngaakk taahaannn.." aku berteriak karena rasa geli dan ngilu yang tak tertahankan. Aku kelojotan. Wah, Ini tak bisa dibiarkan pikirku. Lalu kucabut penisku dan kubalikkan tubuhnya, segera saja lidahku, menerjang dan menjelajah liang vaginanya. Kuhajar habis-habisan daging sebesar kedele itu dengan jilatanku yang ganas. "Aaahhh.. Masss.. aaahh.. ooohh.. yanngg keeraass.. Maasss.. yang.. cepaaat Masss.." sambil tangannya menekan kepalaku. "Rasanya kok ...
...aneh begini? Ini pasti dari pejuku." pikirku. Lidahku sampai pegal tapi dia kok belum sampai juga yah. Kupercepat dan kuperkeras semampuku. Tak lama

kemudian... Kakinya menjepit kepalaku, tangannya semakin keras menekan kepalaku, pantatnya dinaikkan.Dan... "Aaahhh.. Maasss.. akuuu.. nggaakk.. kuaaatt.." lalu, "Syurr..." Akhirnya keluar juga cairan kenikmatannya. Tak banyak. Aku hisap semua. "Aaahh.." aku tergeletak lemas di sebelahnya. Selesai sudah tugasku. Malam itu aku dipaksa menginap di kamarnya. Sara seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Bukan main nafsunya seksnya. Kami main sampai kira-kira jam 2 malam. Semua posisi yang bisa kami lakukan, kami lakukan. Berdiri, jongkok, nungging, di karpet, di tempat tidur, di meja belajar. Dan sepertinya Sara tak pernah merasa puas, yang kuingat dia sampai 5 kali orgasme. Sedang aku sampai habis rasanya cadangan spermaku. Terkuras habis. Entah berapa kali aku orgasme. Aku merasa tak punya tulang lagi. Lemas sekali. Habis siapa yang sanggup menolak permintaan bidadari? Mungkin ini adalah sensasi yang terindah, selama hidupku. Aku bangun pukul 8 pagi esok harinya, dan langsung pulang karena takut orang tuaku mencariku. Dan aku janji nanti sore akan kembali lagi. Sejak saat itu, dengan alasan sudah mendekati ulangan umum, maka jamnya ditambah 1 jam menjadi 3 jam setiap pertemuan. Dan ruangan belajarnya pun pindah ke kamarnya. Setiap pertemuan, selalu kami isi dengan ...

...pertempuran dahsyat. Dan herannya kami tak pernah bosan dan tak pernah puas. Untuk mengimbangi Sara, aku harus banyak olahraga dan minum telor. Sara pun makin terlihat cantik. Pernah suatu kali disaat kami sedang bertempur, adiknya mendadak masuk ke kamarnya. Dia menjerit lalu lari keluar. Aku dan Sara sama-sama kaget. Untungnya si Ketty takut sekali sama kakaknya sehingga tetap menjadi rahasia bertiga. Sehingga orang tuanya tidak mengetahui skandal kami. Saat pembagian raport tiba, aku deg-degan sekali. Ternyata.. nilai Matematika, Fisika dan Kimianya adalah 8. Bahkan dia bisa masuk 10 besar. Orang tuanya sangat bangga padaku. Aku diberi uang banyak. Selanjutnya kami membuat perjanjian, untuk semester depan agar aku mengajar dia lagi. Selama kurang lebih 2 minggu aku tidak bertemu Sara karena orang tuanya mengajaknya liburan ke Bali. Walaupun aku sekarang tidak mengajar Sara, tapi aku sering mengunjunginya kalau orang tuanya sedang tidak berada di rumah. Selanjutnya akan kuceritakan pengalamanku dengan adiknya Ketty yang masih berusia 12 tahun dan temannya Sara, Sari dan Rina. KAFE BUGIL ONLINE4

KAFE BUGIL ONLINE4 Kira-kira tiga bulan kemudian, Pak Candra kembali mengunjungiku dan memintaku agar mengajar Sara kembali. Tentu saja aku menerimanya dengan antusias sekali. Sudah terbayang rutinitas dengan Sara akan terulang kembali. Ternyata Sara bilang sama teman-temannya kalau dia bisa begitu karena belajar denganku. Akhirnya Sari dan Rina memintaku mengajarinya. Karena jadwalnya ketat, akhirnya kuputuskan Senin, Rabu, Jum'at aku mengajari Sari dan Rina. Karena rumah Rina lebih dekat dengan rumahku, maka aku minta Sari yang datang ke rumah Rina. Selasa, Kamis, Sabtu aku mengajar Sara. Sedangkan jamnya adalah sama, dari jam 4 sampai jam 6 sore. Permainanku dengan Sara tidak perlu kuceritakan disini. Karena ini jatahnya Ketty, Sari dan Rina. Pertama, aku akan ceritakan tentang Ketty dulu. Ketty itu orangnya agak bongsor. Kalau dia sedang berpakaian biasa, bukan pakaian sekolah, orang pasti mengira dia sudah SMP atau SMA. Hanya sifatnya masih kekanak-kanakan. Maklum masih kelas 6 SD. Tingginya hampir sama dengan kakaknya. Begitu juga dengan body-nya. Bukit kembarnya kira-kira sudah sebesar kakaknya. Sebesar bola tennis. Hanya wajahnya agak bulat bila dibandingkan dengan kakaknya. Itu saja. Yang lain hampir mirip dengan kakaknya. Jadi bisa dibilang bidadari kecil. Masih ingat ketika Ketty memergoki aku dan kakaknya sedang bertempur..? Rupanya dia tidak bisa melupakan hal tersebut. Dia sering bertanya ke kakaknya, apa yang dilakukan. Tentu saja kakaknya bingung menjawabnya. Akhirnya Sara menyerahkan kepadaku untuk menjawabnya. Dan Ketty memendam pertanyaan itu sampai dia punya waktu berdua denganku. Setiap aku mengajar Sara dan bertemu Ketty, dia sering mencuri pandang ke arahku. Dan setiap aku memandangnya, dia membuang muka. Malu. Sampai di suatu waktu, saat aku akan mengajar Sara,ternyata Sara tidak ada di rumah. Yang ada hanya Ketty dan pembantupembantunya. Ibunya seperti biasa sedang ke Pakistan. Sedang ayahnya, tadi telepon dan bilang pulangnya malam, karena ada pertemuan dengan orang Belanda. "Sara kemana Ket..?" "Tadi pagi Ketty liat dia bawa ransel besar. Katanya dia mau Persami di Cibubur. Pulangnya Minggu sore." "Lho dia kok enggak bilang sama Mas yaa..?" "Yaa.., mana Ketty tahu Mas..!" "Ya udah.., Mas pulang dulu yaaa..?" "Eehhh, tunggu dulu Mas.., Ketty mau minta tolong nicchhh..?" "Tolong apa..?" tanyaku. "Ketty mau nonton, tapi kok gambarnya jelek banget." "Ok deh.., mana videonya..?" "Ada di kamar Ketty. Yuk ke kamar Ketty..!" katanya sambil menggandeng tanganku. Ketty saat itu memakai daster rumah. Cukup tipis. Aku bisa lihat bayangan celana dalamnya. Saat dia menarik tanganku, aku sempat melirik ke dadanya. Dia tidak memakai kaos dalam atau BH. Karena aku bisa melihat segumpal daging putih dari lubang lengannya yang agak

lebar. Walaupun dia masih anak-anak, tapi melihat itu aku merasa batang kemaluanku mengeras. Sesampainya di kamar, aku kembali terkagum-kagum. Kamarnya sama persis sekali dengan kamar kakaknya. Ini baru kamar anak-anaknya, bagaimana dengan kamar orang tuanya..? Aku berkeliling melihat-lihat, masuk ke kamar mandinya. Lho.., sepertinya aku pernah lihat. Ternyata kamar mandinya bisa tembus ke kamar kakaknya. Jadi satu kamar mandi dipakai berdua. Pintunya terhalang sekat, jadi aku tidak tahu kalau ada pintu satu lagi. "Mas kok muter-muter sih..? Khan kamar Ketty sama seperti kamarnya Kakak." katanya agak kesal. "Ini lho videonya yang rusak..!" sambungnya. Aku lalu jongkok di depan videonya. Dia ikut-ikutan jongkok di sampingku. Aku hidupkan, masukkan video, ternyata mau jalan. Tapi gambarnya jelek sekali, begitu juga suaranya. Aku lihat kabel gambarnya. Ooo.., kabelnya hampir putus dimakan tikus. "Kett, ini lhoo kabelnya hampir putus dimakan tikus." kataku. Mendengar kata tikus, ternyata dia kaget dan langsung memelukku. Aku yang tidak menyangka akan dipeluk begitu, jadi jatuh terguling. Secara refleks aku menangkap tubuhnya, sehingga dia jatuh di atasku. Terasa daging kenyal itu menyentuh dadaku. Dia bangkit dengan wajah merah padam. "Maaf Mas.., enggak sengaja. Jadi di kamar Ketty ada tikusnya..?" dia bertanya. "Ya.., mungkin aja. Ini buktinya, kabelnya dimakan tikus. Kamu beli aja racun tikus. Kamu ada kabel lain..?" tanyaku. "Coba aku cari di gudang." katanya sambil berlalu keluar kamar. Sementara aku menunggu dia mencari kabel, aku berpikir, "Mungkin enggak ya.. Ketty mengintip perbuatanku dengan kakaknya dari kamar mandi..?" "Kalau iya terus kenapa..? Ah.., sebodo amat ah.. kok jadi aku yang pusing." Lalu pandanganku melihat ke bawah rak TV, ada buku kecil. Aku ambil. Aku kaget lagi. ANY ARROW..! (bacaan stensilan tentang hubungan sex). "Punya siapa ya..? Apa mungkin punya dia..? Dia kan masih kecil..?" batinku. Tiba-tiba terdengar langkah kaki. Cepat-cepat kusembunyikan lagi buku itu. "Ini ada Mas, tapi lebih panjang." katanya. "Enggak apa-apa. Sini Mas coba..!" kataku. "Kamu mau nonton film apa siihh..?" tanyaku sambil memasang ...kabel. "Mickey mouse Mas. Kata temenku bagus." katanya sambil memperhatikanku memasangkan kabel. Setelah itu aku coba. Nah.. gambar dan suaranya jadi bagus. "Mas.., temenin nonton yaahhh..! Ketty enggak ada temen niihhh." "Lho.., biasanya Kamu juga sendirian." balasku. "Mas khan jadwalnya disini ... ...sampai jam 6 sore, kadang-kadang lebih. Sekarang masih jam 4 lewat 10 Mas." rajuknya. "Iyaa deehhh..," aku mengalah. Aku duduk di karpet bersandar ke tempat tidur. Ketty duduk di sebelahku. 10 menit berlalu. Tiba-tiba gambarnya berubah menjadi adegan sepasang manusia sedang berciuman. "Kok gambarnya jadi begini..?" tanyaku.

"Enggak tau Mass..!" sahutnya sambil matanya terus melihat ke TV. Adegan di TV semakin panas, kulirik dia. Wajahnya merah padam, nafasnya sudah semakin cepat, tetapi matanya tetap ke TV. Wajahnya jadi semakin cantik. Aku tidak tahan, maka kurangkul dia. Aku cium rambutnya, pipinya, lalu keningnya, hidungnya, matanya. Dia pasrah kucium begitu. Tanganku pun langsung meremas susunya. Sudah agak keras dan putingnya sudah terasa. "Aaahhh.., Mass.., Ketty mauu Masss..!" rintihnya. Aku sedikit kaget, "Ketty mau apa..?" tanyaku. "Mau seperti Kakak Sara. Aaahhh, Maass.., sshshhs..!" "Ketty sering mengintip Mas sama Kakak sedang maiiin..." sambungnya. Deg..! Jantungku seperti berhenti. Gawat niihhh..! Kulepaskan ciuman dan pelukkanku. Aku pandangi dia. "Beneerr Ketty sering ngintip..?" tanyaku. "Iyaa.., pertama waktu Ketty di kamar, Ketty dengar suara Kakak agak aneh, takut Kakak sakit, lalu Ketty masuk. Ternyata Mas sedang berantem sama Kakak telanjang bulat. Ketty lari." katanya terbata-bata. "Ketty tanya sama Kakak, tapi Kakak enggak mau ngomong. Terus Ketty tanya sama temen. Kata temen, Kakakmu itu sedang ngentot." sambungnya. "Terus setiap Kakak bersuara aneh begitu, Ketty ngintip dari kamar mandi. Ketty perhatiin kayaknya Kakak keenakan, bukannya kesakitan." sambungnya lagi. Aku diam saja. Tiba-tiba, "Maaas.., Mas mau khan ngentot sama Ketty..?" tanyanya polos. Terus terang saat itu aku bingung, akhirnya, "Ket, bukannya Mas enggak mau. Tapi Ketty khan masih kecil." "Kakak juga..! Kakak baru 13 tahun jalan 14, aku kan 2 bulan lagi 12 tahun." balasnya sengit. "Kalau Mas enggak percaya, lihat nich..!" sambungnya sambil membuka dasternya. Maka terpampanglah dua bukit kembarnya yang baru tumbuh. Bentuknya bulat. Sangat indah dengan puting kecil berwarna coklat muda kemerahan. Pinggulnya sudah sama seperti kakaknya. "Oke.. Oke.., Mas mau. Tapi Ketty harus janji ya, jangan bilang sama Kakak..!" sahutku. Siapa yang tidak mau ditawari perawan bidadari kecil yang lagi nafsu. "Iyaa Mass.., Ketty janji..!" "Eh.. pintunya dikunci dulu doonggg.., nanti kalau ada yang masuk gimana..?" kataku. Dia pergi mengunci pintu. Aku jadi teringat Titin. Dia juga dulu baru 12 tahun saat pertama kusetubuhi. Tetapi bentuk badannya jauh lebih bagus badannya Titin. Lebih putih dan lebih terawat. "Aku harus super hati-hati memperlakukan Dia..!" pikirku. Harus tahap demi tahap. Dia datang mendekatiku. Langsung kupeluk dia, aku pandangi mukanya, aku tatap matanya. Ada kesan pasrah dimatanya. Aku cium matanya, dia terpejam. Aku cium pipinya, keningnya, kukecup hidung, lalu makin mendekati mulutnya. Bibirnya pasrah menerima bibirku tanpa perlawanan. Aku selusupkan lidahku disela-sela giginya. Mulutnya sedikit membuka. Lidahku mulai menari-nari di lidahnya. Mulut dan ludahnya manis. Dia mulai menghisap lidahku. Lalu lidahnyapun mulai bergerak-gerak. Mulai melawan lidahku. Tangan kiriku masih mengelus2 punggungnya, tangan kananku dilehernya. Suasana hening, hanya

desah napas kami yang terdengar. Kulepas ciumanku, kutatap matanya. Matanya sayu, nafasnya naik sudah agak memburu. Lalu tiba-tiba dia mencium bibirku dengan ganas. Pindah kemataku, lalu pipiku. Wajahku basah oleh ludahnya. Ciumanku kuturunkan ke lehernya. Dia menengadahkan kepalanya. Tangan kananku pun mulai meraba susunya. Kuusap-usap perlahan sampai puting kecilnya menonjol keras. Bergantian kiri dan kanan. "Aaahhh.., Maasss.., eennnaaakkk.. Maasss..! Aaahhh..!" dia mulai mengeluarkan suara desahan. Lalu kugendong dia, kurebahkan ke tempat tidur. Kupandangi lagi tubuhnya. Seakan tidak percaya kalau bidadari kecil ini rela menyerahkan tubuhnya. Kupandangi susunya, betul-betul sempurna bentuknya, dengan putting kecil kemerahan yang menonjol di bukit putih mulus dengan guratan tipis urat-urat susunya. Payudara gadis mungil kecil yang belum tersentuh oleh jamahan lelaki manapun. Kucium bukitnya, dari lembah sampai mendekati puncaknya. Tanganku meremas yang satunya. Begitu berulang-ulang. Aaahh wanginya. Wangi khas perawan muda. "Aahhh.., Masss..! Aaddduuuhhh..! ...

...Shshshsh..!" tubuhnya menggeliat sambil dadanya disorongkan ke atas, kedua tangannya menekan kepalaku ke dadanya. Tanganku yang satu mulai menelusuri betisnya, naik secara perlahan-lahan ke arah pangkal pahanya. Bergantian kiri dan kanan. Terkadang kuremas perlahan pantatnya. Setiap kuremas, pantatnya terangkat ke atas. Lalu tanganku mulai mengelus-ngelus bibir kemaluannya dari luar CD cream-nya. Terasa lembab sekali. Pahanya mulai membuka lebar, seakan meminta tanganku untuk berbuat lebih jauh. Kuselusupkan tanganku ke dalam CD-nya. Kuselusuri garis lubang kewanitaannya dengan jari tengahku. Naik-turun, naik-turun. Lalu jariku kuselipkan ke celah hangatnya. Basah. Kuputar perlahan-lahan, sambil kucari-cari kedelenya. Pantatnya bergerak seirama tanganku. Naik turun, ke kiri ke kanan. "Adduuuhhh.. Massss..! Eenaakkk Maasss..! Aaahhh..!" desahnya terus-... ...menerus. Lalu aku berdiri, kupandangi matanya sambil tanganku mulai menurunkan celana dalamnya. Tidak ada tanda penolakan dimatanya. Dia malah mengangkat pantatnya mempermudahku melepaskannya.Sekarang di hadapanku ada seorang bidadari kecil, putih, telanjang bulat menanti sentuhan selanjutnya. Sekitar bibir kemaluannya masih belum ditumbuhi bulu. Masih polos. Karena pahanya membuka, tampaklah isinya yang merah muda, basah dan berkilat. Karena batang kejantananku yang tegang sejak tadi sakit terjepit, maka kubuka juga seluruh pakaianku. Dia hanya memandangiku sayu tanpa ekspresi. Kucium lembah payudaranya, turun sedikit demi sedikit. Terus sampai ke perutnya. Tanganku terus mengelus paha belakangnya sampai pantatnya. Kugelitik pusarnya dengan lidahku. "Maaasss.., shshh.. ennaaakk.., geellliii Maaasss..!" Tanganku berpindah ke liang keperawanannya sambil terus kuciumi perut dan dadanya bergantian.Kucari, dan setelah ketemu, gosok-gosok perlahan kedele-nya. Kucubit-cubit, kupelintir sampai pantatnya bergoyang tidak karuan. "Mas.., Mass.., diapain memekku Masss..? Aaadduuuhhh..!"

Karena sepertinya dia sudah tidak tahan, kuhadapkan wajahku ke liang senggamanya. Kucium bibir kemaluannya. Aaahhh.., segaarr. Kuciumi berulang. Lalu dengan kedua tanganku, kubuka vaginanya, basah, licin berkilat-kilat. Kujilat kedele-nya perlahan. Makin lama makin cepat dan makin kutekan. Pantatnya naik turun dengan cepat. Tangannya menjambak-jambak rambutku. Kupegangi pantatnya dengan kedua tanganku, agar tidak menabrak-nabrak hidung dan mulutku. Gerakannya semakin liar. Makin liar terus. "Aaahhh.., aaahhh.., ssshhh.., shhh..!" hanya itu saja kata-katanya dari tadi. Tiba-tiba kepalaku ditekan keras-keras, pahanya menjepit kepalaku, pantatnya diangkat setinggi-tingginya. Dan, "Maasss.., Maaasss.., uuuddaaahhh.., Maaasss..!" "Syuurrr.., ssyuuurrr.., syuurrr...," cairan hangat membanjiri mulutku. Kujilat sambil kuhisap cairan itu. Rasanya lebih manis dari punya kakaknya. Walaupun lebih encer. Kujilati sampai bersih. Aku pun tiduran di sebelahnya. Kurangkul dia. Kudekap kepalanya di dadaku, sambil kueluselus dan kucium rambutnya. batang kejantananku yang masih keras menyentuh pahanya. "Gimana Ket.., puass..?" tanyaku. "Enak sekali Mas. Ketty puasss Maasss..!" jawabnya. Nafasnya masih sedikit memburu. "Mas.., kalau sama Kakak kok kontol Mas dimasukin ke memeknya siihhh..?" tanyanya setelah sensasinya mereda. "Ini anak kalo ngomong kok engak pake tedeng aling-aling lagi." pikirku, "To the point." "Ketty mau..?" pancingku. "Eengg.., sakit nggak Mas..? Kontol Mas khan gede..," katanya sambil tangannya memegang batang kemaluanku. "Yaa.., pelan-pelan dong..!" kataku. "Untuk pertama kali emang sakit dan perih, tapi itu sebentar. Seterusnya udah enggak sakit. Kakakmu aja sampai ketagihan." sambungku. Dia diam saja, tetapi tangannya terus saja memegang batang kemaluanku. Kadang diusap, kadang diremas, kadang diurut. Senjataku semakin keras. Kepalanya senut-senut. "Aaahhh.., sshhh..!" desahku. "Kenapa Mas..? Sakiitt..?" tangannya tetap mengurut-urut. Aku tidak menyahut, tetap mendesah. Lalu dia bangun, aku ditelentangkan, dipandanginya senjata kemaluanku yang tegang. Wajahnya dekat sekali dengan batang kejantananku. Sampai desah nafasnya terasa di alat vitalku. "Bentuknya lucu Mass..!" katanya sambil terus memandangi. "Ketty pernah lihat Kakak mengedot punya Mas. Rasanya gimana Mass..? Apa enggak jijik ya..?" "Yaa.., enggak jijik dong. Khan bersih. Rasanya enak sekali..!" "Ketty boleh coba enggak Mas..?" "Coba aja. Nanti juga Ketty ketagihan." "Kalau yang coklat-coklat ini juga enak..?" tanyanya sambil mengelus-elus kedua kantung kemaluanku. "Pokoknya yang ada disitu semuanya enak. Mangkanya, dicoba dulu..!" pancingku. Lalu dengan ragu-ragu, dia menjilat kepala kemaluanku. Diam sebentar. Lalu dijilat lagi. Diam lagi. Lalu ...

...batangnya dia jilat. Diam lagi. Lalu kedua kantung kemaluanku. Diam lagi. Tidak lama kurasakan lidahnya sudah menelusuri kepala penisku sampai batangnya. Tidak begitu enak. Mungkin masih adaptasi dulu pikirku. "Kett.., seperti makan es krim. Bibirnya juga ditempelin, sambil ditekan sedikit..!" kataku. Ketty mengerti dan melanjutkan perbuatannya. Dia bukannya menempelkan bibirnya, tetapi malah memasukkan kepala kemaluanku ke mulutnya. Kena giginya. "Aduuuhh.., sakiiittt..! Jangan kena gigi doong..!" "Naaahhh.., gituu.., agak dihisap. Ya, yaa.., gituu..!" kataku mengajarkannya. "Aaahhh.., sshhshhh..," ketika dia mulai menghisap. "Enaakk Kett..?" kubertanya. "Enak seperti lolipop, tapi yang ini gede, sama anget." sahutnya sambil memandangi senjataku. "Ayoo.. lagi doonggg..!" pintaku. "Masss, dimasukin yuuukk..! Ketty mau ngerasain seperti apa rasanya, tapi pelan-pelan ya Mass..!" katanya sambil dia tiduran telentang. Tanpa pikir dua kali, aku bangkit. Kukangkangkan pahanya. Tetapi karena liang keperawanannya sudah agak kering, maka kujilat-jilat lagi supaya basah dan memancing gairah nafsunya supaya bangkit kembali. Langsung kujilat kedele-nya. "Aaahhh.., Maaasss.., ennaaakkk Maasss..!" desahnya. ...

...Terus kujilati sampai vaginanya benar-benar basah dan nafsunya memuncak kembali. Supaya cepat, kupelintir-pelintir klit-nya dengan lidahku. Dia semakin menggelinjang. "Ahh.., aah... ahh.., sshshhs... Ayoo Mass..! Ayooo..!" Setelah aku yakin dia sudah sangat terangsang dan kemaluannya sudah basah, aku hentikan jilatanku. Kubuka lebar-lebar pahanya, kuarahkan batang keperkasaanku kesana. "Rileks aja Ket.., jangan tegang. Kalau tegang, nanti sakit. Yaa.., yaa, santai gitu. Naahhh, begitu..!" saat kurasakan ada sedikit rasa takut pada dirinya. Kutekan perlahan sekali agar dia tidak kesakitan. Terlihat kepala kejantananku berkilat karena ludahnya. Kutekan perlahan, tetapi dengan tenaga mantap. Kepalanya sudah masuk, dia meringis, menggigit bibir bawahnya. Aku tahan sebentar. Kudiamkan. Setelah agak tenang, kutarik sedikit, lalu kutekan lagi dengan perlahan. Masuk lebih dalam. Sepertiganya mungkin. Wahhh.., sempit sekali. Penisku seperti dijepit tang. "Santai aja Ket.., jangan tegang, nanti malah sakitnya nambah.." kataku saat kurasakan bibir liang senggamanya dengan keras menggigit. Setelah kurasakan agak mengendur, kutarik sedikit, lalu kudorong perlahan sekali. Nahh.., sudah setengahnya. Supaya agak lancar, kuturun-naikkan secara perlahan. Kupandangi wajahnya, kutatap matanya. Dia menikmati. Aku yakin ini belum menembus selaput daranya. "Sakit Kett..?" "Sedikit." Kugoyang terus sambil kutekan perlahan-lahan. Sudah setengahnya lebih. Nah.., kepala batang keperkasaanku sudah menyentuh selaput tipis. "Kett.., tahan sedikit ya..? Ini agak sakit sedikit. Tapi jangan tegang. Nanti

sakitnya nambah..!" Dia hanya menganggukkan kepalanya. Kusiapkan tenaga, lalu kutekan dengan keras, "Blesss.., preettt..!" "Aaahhh Masss.., sakkiiittt.. Maasss. Perriihhh..!" katanya sambil berusaha mendorong tubuhku. Langsung kupeluk dia. Kuciumi wajahnya, dan kucium bibirnya. Dia membalasnya. Aku lepaskan ciumanku dan kubisikkan kata. "Sakitnya sebentar khaann.., coba rileks, santai..! Supaya sakitnya cepet ilang..!" Seluruh batang kemaluanku serasa ditekan dari semua arah. Sempit sekali. Kukedutkan penisku. "Aaahhh Masss..! Jangannn.., masih sakit Mass..!" Kudiamkan lagi beberapa saat. Setelah aku yakin sakitnya sudah mereda, kutarik perlahan sekali. Sampai tinggal kepala batang kejantananku saja yang tertinggal. Lalu kutekan lagi dengan sangat kuat dan dengan mantap. Aku pun meringis karena lubangnya sangat sempit. Lebih sempit dari punya Titin dulu. Apa punyaku yang makin besar. Kulihat dia pun masih meringis-ringis sambil memejamkan matanya. Kulihat air matanya meleleh di pipinya. Kuulangi beberapa kali. Setelah dia tidak meringis lagi, kupercepat gerakanku. Kupertahankan iramanya sampai terasa licin. Licin tetapi menjepit. Setelah licin, kupercepat gerakanku. Dia sudah bisa menikmatinya. Berarti rasa sakitnya telah hilang. Kupercepat terus iramaku. Dia mendesah-desah tidak karuan karena sensasi nikmat yang baru pertama kali dirasakannya. Kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tangannya meremas sprei tempat tidur. "Mass.., ooohhh Masss, ennnaaakkk Maasss..! Ooohhh..!" Kakinya kuangkat, lalu kuletakkan di pundakku. Nah, dengan posisi ini batang keperkasaanku bisa menyentuh ke rahimnya. Lima menit kemudian, aku hampir tidak tahan. "Mass.., aaaddduuuhhh Maaasss.., aaahhh.., aaahhh..," desahannya saat kurasakan kedutan-kedutan dari liang senggamanya. "Udah mau nyampe nih Dia.." pikirku. Lalu dia menjepit leherku dengan ...

...kedua kakinya. Pantatnya dinaikkan, sehingga batang kejantananku amblas masuk semua, pantatnya digoyang-goyangkan. Lalu, "Syuurr.., syuuurrr..," cairan hangat mengguyur kepala kemaluanku. Aku yang sudah di ujung jalan, mempercepat sodokkanku, karena jalannya jadi becek. "Mass.., udahhh Masss. Aaaddduuuhhh.., toolllooonnngg.., Maasss..!" Akhirnya sampai juga aku. Kutekan keras-keras batang kejantananku ke liang kenikmatannya, kutarik pantatnya dan, "Croot.., croot.., croot..!" Tiga atau empat kali batang kejantananku memuntahkan cairannya di liang keperawanannya. Aku langsung lemas. Dan kucabut senjatanku dari luabang surgawinya. Terlihat lendir putih bercampur darah segar mengalir melalui liang kemaluannya. Kupeluk dia, kucium pipinya.

"Kett.., Kamu hebat sekali Kett..! Punyamu lebih enak dari punya Kakakmu." "Aaahh.., Masss..!" sahutnya. Dia lalu tertidur lemas. Kulirik jam dinding. Jam 6 lewat 5 sore. Berarti kira-kira satu setengah jam aku memerawanin dia. Pantas saja aku juga lemas. Kupeluk dia, lalu aku pun tertidur. Jam 7 kurang 10 aku terbangun. Aku berpakaian, lalu kubangunkan dia. Aku pamit. Dia pun bangun lalu ke kamar mandi. Itulah kisah pertamaku dengan Ketty. Sejak saat itu kami sering berhubungan. Biasanya dia suka mengintip permainanku dan Sara. Lalu dengan alasan aku ke kamar mandi, aku ke kamarnya. Disana dia sudah siap. Berbugil ria di bawah selimut. Dia minta jatah. Nafsunya sama besar dengan kakaknya. Dan daya tahannya luar biasa. Kalau aku tidak meladeni, dia mengancam akan memberitahukan skandal ini ke ayahnya. Mau tidak mau aku menurutinya. Tetapi siapa yang bisa menolak..? Ini terjadi berulangkali dan ini tetap menjadi rahasia kami berdua. Tetapi pada suatu waktu, saat aku sedang menggumuli Ketty, kakaknya masuk ke kamar mandi. Dia tidak menjumpaiku disana. Dan ... ...mendengar suara mendesah dari kamar adiknya. Dia marah besar kepadaku dan adiknya. Aku diusirnya. Dia tidak rela membagi senjataku dengan adiknya. Dan diaakhirnya memilih bimbingan belajar resmi, yang menyelenggarakan les privat. Kabar terakhir yang kudapat dari adiknya, dia sering main dengan guru bimbingan belajarnya. Selain itu dia juga sering main dengan kawan sekolahnya. Sedang adiknya Ketty, sekarang jadi lebih sering main denganku. Tetapi selama kakaknya tidak di rumah. Karena kakaknya sama sekali tidak mengizinkan dia melampiaskan nafsunya. Demikian kisahku dengan kakak beradik Siti Maesaroh dan Siti Khodijah.

Asmara Ditengah Rimba Asmara Ditengah Rimba Pada suatu liburan sekolah yang panjang, kami dari sebuah SLTA mengadakan pendakian gunung di Jawa Timur. Rombongan terdiri dari 5 laki-laki dan 5 wanita. Diantara rombongan itu satu guru wanita (guru biologi) dan satu guru pria (guru olah raga). Acara liburan ini sebenarnya amat tidak didukung oleh cuaca. Soalnya, acara kami itu diadakan pada awal musim hujan. Tapi kami tidak sedikitpun gentar menghadapi ancaman cuaca itu. Ada yang sedikit mengganjal hati saya, yakni Ibu Guru Anisa (saya memanggilnya Anisa) yang terkenal galak dan judes itu dan anti cowok! denger-denger dia itu lesbi. Ada yang bilang dia patah hati dari pacarnya dan kini sok anti cowok. Bu Anis usianya belum 30 tahun, sarjana, cantik, tinggi, kulit kuning langsat, full press body. Sedangkan teman - teman cewek lainnya terdiri dari cewek-cewek bawel tapi cantik-cantik dan periang, cowoknya, terus terang saja, semuanya bandit asmara! termasuk Pak Martin guru olah raga kami itu. Perjalanan menuju puncak gunung, mulai dari kumpul di sekolah hingga tiba di kaki gunung di pos penjagaan I kami lalui dengan riang gembira dan mulus-mulus saja. Seperti biasanya rombongan berangkat menuju ke sasaran melalui jalan setapak. Sampai tengah hari, kami

mulai memasuki kawasan yang berhutan lebat dengan satwa liarnya, yang sebagian besar terdiri dari monyet-monyet liar dan galak. Menjelang sore, setelah rombongan istirahat sebentar untuk makan dan minum, kami berangkat lagi. Kata Pak Martin sebentar lagi sampai ke tujuan. Saking lelahnya, rombongan mulai berkelompok dua-dua. Kebetulan aku berjalan paling belakang menemani si bawel Anisa dan disuruh membawa bawaannya lagi, berat juga sih, sebel pula! Sebentar-sebentar minta istirahat, bahkan sampai 10 menit, lima belas menit, dan dia benar-benar kecapean dan betisnya yang putih itu mulai membengkak. Kami berangkat lagi, tapi celaka, rombongan di depan tidak nampak lagi, nah lo?! Kami kebingungan sekali, bahkan berteriak memanggil-manggil mereka yang berjalan duluan. Tak ada sahutan sedikitpun, yang terdengar hanya raungan monyet-monyet liar, suara burung, bahkan sesekali auman harimau. Anisa sangat ketakutan dengan auman harimau itu. Akhirnya kami terus berjalan menuruti naluri saja. Rasa-rasanya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang. Sial bagi kami, kabut dengan tiba-tiba turun, udara dingin dan lembab, hari mulai gelap, hujan turun rintik-rintik. Anisa minta istirahat dan berteduh di sebuah pohon sangat besar. Hingga hari gelap kami tersasar dan belum bertemu dengan rombongan di depan. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di sebuah tepian batu cadas yang sedikit seperti goa. Hujan semakin lebat dan kabut tebal sekali, udara menyengat ketulang sumsum dinginnya. Bajuku basah kuyup, demikian juga baju Anisa. Dia menggigil kedinginan. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan angin kencang yang dingin. Kami tersesat di tengah hutan lebat. Tanpa sadar Anisa saking kedinginan dia memeluk aku. "Maaf" katanya. Aku diam saja, bahkan dia minta aku memeluknya erat-erat agar hangat tubuhnya. Pelukan kami semakin erat, seiring dengan kencangnya deras hujan yang dingin. Jika aku tak salah, hampir tiga jam lamanya hujan turun, dan hampir tiga jam kami berpelukan menahan dingin. Setelah hujan reda, kami membuka ransel masing-masing. Tujuan utamanya adalah mencari pakaian tebal, sebab jaket kami sudah basah kuyup. Seluruh pakaian bawaan Anisa basah kuyup, aku hanya punya satu jaket parasut di ransel. Anisa minta aku meminjamkan jakaetku. Aku setuju. Tapi apa yag terjadi? wow..Anisa dalam suasana dingin itu membuka seluruh pakaiannya guna diganti dengan yang agak kering. Mulai dari jaket, T. Shirt nya, BH nya, wah aku melihat seluruh tubuh Anisa. Dia cuek saja, payudaranya nampak samar-samar dalam gelap itu. Tiba-tiba dia memelukku lagi. "Dingin banget" katanya. "Terang dingin, habis kamu bugil begini" jawabku. "Habis bagaimana? basah semua, tolong pakein aku jeketmu dong?" pinta Anisa. Aku memakaikan jaket parasut itu ketubuh Anisa. Tanganku bersentuhan dengan payudaranya, dan aku berguman " Maaf Nisa?" "Enggak apa-apa?!": sahutnya. Hatiku jadi enggak karuan, udara yang aku rasakan dingin mendadak jadi hangat, entah apa penyebabnya. Anisa merangkulku, "Dingin" katanya, aku peluk saja dia erat-erat. " Hangat bu?" tanyaku " iya, hangat sekali, yang kenceng dong meluknya " pintanya. Otomatis aku peluk erat-erat dan semakin erat. Aneh bin ajaib, Anisa tampak sudah berkurang merasakan kedinginan malam itu, seperti aku juga. Dia meraba bibirku, aku reflex mencium bibir Anisa. Lalu aku menghindar. "Kenapa?"

tanya Anisa " Maaf Nisa? " Jawabku. " Tidak apa-apa Rangga, kita dalam suasana seperti ini saling membutuhkan, dengan begini kita saling bernafsu, dengan nafsu itu membangkitkan panas dalam darah kita, dan bisa mengurangi rasa dingin yang menyengat. Kembali kami berpelukan, berciuman, hingga tanpa sadar aku memegang payudaranya Anisa yang montok itu, dia diam saja, bahkan seperti meningkat nafsu birahinya. Tangannya secara reflek merogoh celanaku kedalam hingga masuk dan memegang penisku. Kami masih berciuman, tangan Anisa melakukan gerakan seperti mengocok-ngocok 'Mr. Penny'ku. Tanganku mulai merogoh 'Ms. Veggy'nya Anisa, astaga! dia rupanya sudah melepas celana dalamnya sedari tadi. Karena remang-remang aku sampai tak melihatnya. 'Ms. Veggy'nya hangat sekali bagian dalamnya, bulunya lebat. Anisa sepontan melepas seluruh pakaiannya, dan meminta aku melepas pula. Aku tanpa basa basi lagi ...
...tanpa basa basi lagi langsung bugil. Kami bergumul diatas semak-semak, kami melakukan hubungan badan ditengah gelap gulita itu. Kami saling ganti posisi, Anisa meminta aku dibawah, dia diatas. Astaga, goyangnya!! Pengalaman banget dia? kan belum kawin? " Kamu kuat ya?" bisiknya mesra. " Lumayan sayang?!" sahutku setengah berbisik. " Biasa main dimana?" tanyanya "Ada apa sayang?" tanyaku kembali. " Akh enggak" jawabnya sambil melepas 'Ms. Veggy'nya dari 'Mr. Penny'ku, dan dengan cekatan dia mengisap dan menjilati 'Mr. Penny'ku tanpa rasa jijik sedikitpun. Anisa meminta agar aku mengisap payudaranya, lalu menekan kepalaku dan menuntunnya ke arah 'Ms. Veggy'nya. Aku jilati 'Ms. Veggy' itu tanpa rasa jijik pula. Tiba-tiba saja dia minta senggama lagi, lagi dan lagi, hingga aku ejakulasi. Aku sempat bertanya, "Bagaimana jika kamu hamil?" " Don't worry!" katanya. Dan setelah dia memebersihkan 'Ms. Veggy'nya dari spermaku, dia merangkul aku lagi. Malam semakin larut, hujan sudah reda, bintang-bintang di langit mulai bersinar. Pada jam 12 tengah malam, bulan nampak bersinar terang benderang. Paras Anisa tampak anggun dan cantik sekali. Kami ngobrol ngalor-ngidul, soal kondom, soal sekolah, soal nasib guru, dsb. Setelah ngobrol sekian jam, tepat pukul 3 malam, Anisa minta bersetubuh denganku lagi, katanya nikmat sekali 'Mr. Penny'ku. Aku semakin bingung, dari mana dia tahu macam-macam rasa 'Mr. Penny', dia kan belum nikah? tidak punya pacar? kata orang dia lesbi. Aku menuruti permintaan Anisa. Dia menggagahi aku, lalu meminta aku melakukan pemanasan sex (foreplay). Mainan Anisa bukan main hebatnya, segala gaya dia lakukan. Kami tak peduli lagi dengan dinginnya malam, gatalnya semak-semak. Kami bergumul dan bergumul lagi. Anisa meraih tanganku dan menempelkan ke payudaranya. Dia minta agar aku meremas-remas payudaranya, lalu memainkan lubang 'Ms. Veggy'nya dengan jariku, menjilati sekujur bagian dagu. Tak kalah pula dia mengocok-ngocok 'Mr. Penny'ku yang

sudah sangat tegang itu, lalu dijilatinya, dan dimasukkannya kelubang vaginanya, dan kami saling goyang menggoyang dan hingga kami saling mencapai klimaks kenikmatan, dan terkulai lemas. Anisa minta agar aku tak usah lagi menyusul kelompok yang terpisah. Esoknya kami memutuskan untuk berkemah sendiri dan mencari lokasi yang tak akan mungkin dijangkau mereka. Kami mendapatkan tempat ditepi jurang terjal dan ada goa kecilnya, serta ada sungai yang bening, tapi rimbun dan nyaman. Romantis sekali tempat kami itu. Aku dan Anisa layaknya seperti Tarzan dan pacarnya di tengah hutan. Sebab seluruh baju yang kami bawa basah kuyup oleh hujan. Anisa hanya memakai selembar selayer yang dililitkan diseputar perut untuk menutupi kemaluannya. Aku telanjang bulat, karena baju kami sedang kami jemur ditepi sungai. Anisa dengan busana yang sangat minim itu membuat aku terangsang terus, demikian pula dia. Dalam hari-hari yang kami lalui kami hanya makan mi instant dan makanan kaleng. Tepat sudah tiga hari kami ada ditempat terpencil itu. Hari terakhir, sepanjang hari kami hanya ngobrol dan bermesraan saja. Kami memutuskan esok pagi kami harus pulang. Di hari terakhir itu, kesmpatan kami pakai semaksimal mungkin. Di hari yang cerah itu, Anisa minta aku mandi bersama di sungai yang rimbun tertutup pohon-pohon besar. Kami mandi berendam, berpelukan, lalu bersenggama lagi. Anisa menuntun 'Mr. Penny'ku masuk ke 'Ms. Veggy'nya. Dan di menggoyangkan pinggulnya agar aku merasa nikmat. Aku demikian pula, semakin menekan 'Mr. Penny'ku masuk kedalam 'Ms. Veggy'nya. Di atas batu yang ceper nan besar, Anisa membaringkan diri dengan posisi menantang, dia menguakkan selangkangngannya, 'Ms. Veggy'nya terbuka lebar, disuruhnya aku menjilati bibir 'Ms. Veggy'nya hingga klitoris bagian dalam yang ngjendol itu. Dia merasakan nikmat yang luar biasa, lalu disuruhnya aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang 'Ms. Veggy'nya, dan menekannya dalam-dalam. Mata Anisa merem melek kenikmatan. Tak lama kemudian dia minta aku yang berbaring, 'Mr. Penny'ku di elus-elus, diciumi, dijilati, lalu diisapnya dengan memainkan lidahnya, Anisa minta agar aku jangan ejakulasi dulu, "Tahan ya?" pintanya. " Jangan dikeluarin lho?!" pintanya lagi. Lalu dia menghisap 'Mr. Penny'ku dalam-dalam. Setelah dia enggak tahan, lalu dia naik diatasku dan memasukkan 'Mr. Penny'ku di 'Ms. Veggy'nya, wah, goyangnya hebat sekali, akhirnya dia yang kalah duluan. Anisa mencubiti aku, menjambak rambutku, rupanya dia " keluar", dan menjerit kenikmatan, lalu aku menyusul yang "keluar" dan oh, oh..oh..muncratlah air maniku dilubang 'Ms. Veggy' Anisa. "Jahat kamu?!" kata Anisa seraya menatapku manja dan memukuli aku pelan dan mesra. Aku tersenyum saja. " Jahat kamu Rangga, aku kalah terus sama kamu " Ujarnya lagi. Kami sama-sama terkulai lemas diatas batu itu. Esoknya kami sudah berangkat dari tempat yang tak akan terlupakan itu. Kami memadu janji, bahwa suatu saat nanti kami akan kembali ke tempat itu. Kami

pulang dengan mengambil jalan ke desa terdekat dan pergi ke kota terdekat agar tidak bertemu dengan rombongan yang terpisah itu. Dari kota kecil itu kami pulang ke kota kami dengan menyewa Taxi, sepanjang jalan kami berpelukan terus di dalam Taxi. Tak sedikitpun waktu yang kami sia-siakan. Anisa menciumi pipiku, bibirku, lalu membisikkan kata " Aku suka kamu " Aku juga membalasnya dengan kalimat mesra yang tak kalah indahnya. Dalam dua jam perjalanan itu, tangan dan jari-jari Anisa tak hentihentinya merogoh celana dalamku, dan memegangi 'Mr. Penny'ku. Dia tahu aku ejakulasi di dalam celana, bahkan Anisa ... ...tetap mengocok-ngocoknya. Aku terus

memeluk dia, Pak Supir tak ku ijinkan menoleh kami kebelakang, dia setuju saja. Sudah tiga kali aku " keluar" karena tangan Anisa selalu memainkan 'Mr. Penny'ku sepanjang perjalanan di Taxi itu. " Aku lemas sayang?!" bisikku mesra " Biarin!" Bisiknya mesra sekali. " Aku suka kok!" Bisiknya lagi. Tidak mau ketinggalan aku merogoh celana olah raga yang dipakai Anisa. Astaga, dia tidak pakai celana dalam. Ketika jari-jari tanganku menyolok 'Ms. Veggy'nya, dia tersenyum, bulunya ku tarik-tarik, dia meringis, dan apa yang terjadi? astaga lagi, Anisa sudah 'keluar' banyak, 'Ms. Veggy'nya basah oleh semacam lendir, rupanya nafsunya tinggi sekali, becek banget. Tangan kami sama-sama basah oleh cairan kemaluan. Ketika sampai di rumah Anisa, aku disuruhnya langsung pulang, enggak enak sama tetangga katanya. Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, aku menolaknya, biar aku saja yang membayar Taxi itu. Lalu aku pulang. Hari-hari berikutnya di sekolah, hubunganku dengan Anisa guru biologiku, nampak wajarwajar saja dari luar. Tapi ada satu temanku yang curiga, demikian para guru. Hari-hari selanjutnya selalu bertemu ditempat-tempat khusus seperti hotel diluar kota, di pantai, bahkan pernah dalam suatu liburan kami ke Bali selama 12 hari. Ketika aku sudah menyelesaikan studiku di SLTA, Anisa minta agar aku tak melupakan kenangan yang pernah kami ukir. Aku diajaknya ke sebuah Hotel disebuah kota, yah seperti perpisahan. Karena aku harus melanjutkan kuliah di Australia, menyusul kakakku. Alangkah sedihnya Anisa malam itu, dia nampak cantik, lembut dan mesra. Tak rela rasanya aku kehilangan Anisa. Kujelaskan semuanya, walau kita beda usia yang cukup mencolok, tapi aku mau menikah dengannya. Anisa memberikan cincin bermata berlian yang dipakainya kepada aku. Aku memberikan kalung emas bermata zamrud kepada Anisa. Cincin Anisa hanya mampu melingkar di kelingkingku, kalungku langsung dipakainya, setelah dikecupinya. Anisa berencana berhenti menjadi guru, "sakit rasanya" ujarnya kalau terus menjadi guru, karena kehilangan aku. Anisa akan melanjutkan S2 nya di USA, karena keluarganya ada disana. Setelah itu kami berpisah hingga sekian tahun, tanpa kontak lagi. Pada suatu saat, ada surat undangan pernikahan datang ke Apartemenku, datangnya dari Dra. Anisa Maharani, MSC. Rupanya benar dia menyelesaikan S2 nya.Aku terbang ke Jakarta, karena resepsi itu diadakan di Jakarta disebuah hotel bintang lima. Aku datang bersama kakakku Rina dan Papa. Di pesta itu, ketika aku datang, Anisa tak tahan menahan emosinya,

dia menghampiriku ditengah kerumunan orang banya itu dan memelukku erat-erat, lalu menangis sejadi-jadinya. "Aku rindu kamu Rangga kekasihku, aku sayang kamu, sekian tahun aku kehilangan kamu, andai saja laki-laki disampingku dipelaminan itu adalah kamu, alangkah bahagianya aku " Kata Anisa lirih dan pelan sambil memelukku. Kamu jadi perhatian para hadirin, Rina dan Papa saling tatap kebingungan. Ku usap airmata tulus Anisa. Kujelaskan aku sudah selesai S1 dan akan melanjutkan S2 di USA, dan aku berjanji akan membangun laboratorium yang kuberi nama Laboratorium "Anisa". Dia setuju dan masih menenteskan air mata. Setelah aku diperkenalkan dengan suaminya, aku minta pamit untuk pulang, akupun tak tahan dengan suasana yang mengharukan ini. Setelah lima tahun tak ada khabar lagi dari dia, aku sudah menikah dan punya anak wanita yang kuberi nama Anisa Maharani, persis nama Anisa. Ku kabari Anisa dan dia datang kerumahku di Bandung, dia juga membawa putranya yang diberi nama Rangga, cuma Rangga berbeda usia tiga tahun dengan Anisa putriku. Aku masih merasakan getaran-getaran aneh di hatiku, tatapan Anisa masih menantang dan panas, senyumnya masih menggoda. Kami sepakat untuk menjodohkan anak kami kelak, jika Tuhan mengijinkannya. Tamat.