Anda di halaman 1dari 20

DAMPAK PENCEMARAN SUNGAI CIHERANG TERHADAP WARGA KAMPUNG RANCAKENDAL

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

oleh : Renaldi Ednin Vernia (0900251) Pendidikan Biologi A 2009

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2011

ABSTRAKSI

Kampung Rancakendal merupakan salah satu kampung yang berada di Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung Timur. Di Kampung Rancakendal ini masih terdapat banyak sekali lahan persawahan yang subur dan menjadi tumpuan hidup banyak buruh tani di sekitar daerah kampung ini. Irigasi yang ada juga sangat mendukung karena terdapat beberapa sungai yang menjadi sumbernya seperti Sungai Ciherang dan Sungai Cikeruh. Sungai Ciherang merupakan sungai yang melewati daerah Kampung Rancakendal secara langsung yang berarti sungai inilah yang menjadi sumber irigasi utama untuk persawahan di daerah tersebut. Dibalik semua potensi yang dimiliki Kampung Rancakendal, terdapat suatu permasalahan yang cukup pelik. Hal ini adalah limbah dari Pabrik Industri Tekstil. Limbah-limbah cair dalam jumlah yang banyak telah mencemari Sungai Ciherang yang menjadi sumber irigasi persawahan di daerah ini. pada akhirnya, bukan hanya Sungai Ciherang tetapi juga sawah warga yang menjadi korban. Tercemarnya Sungai Ciherang di daerah Kampung Rancakendal telah membuat sumber utama irigasi sawah di daerah tersebut menjadi tidak layak. Air kotor ini telah membuat sawah warga tidak bisa menghasilkan beras dengan kualitas baik. Pencemaran yang terjadi pada Sungai Ciherang di Kampung Rancakendal, Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung Timur ini memiliki dampak negatif yang sangat besar bagi warganya. Dampak negatif ini sangat luas meliputi berbagai hal dan aspek dalam kehidupan warganya. Hal-hal tersebut seperti lahan persawahan yang rusak, tambak ikan yang rusak, dan sumber irigasi yang tidak lagi layak. Aspek-aspek yang terpengaruhi oleh tercemarnya Sungai Ciherang ini adalah aspek ekonomi dan aspek ekosistem.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kampung Rancakendal merupakan salah satu kampung yang berada di Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung Timur. Di Kampung Rancakendal ini masih terdapat banyak sekali lahan persawahan yang subur dan menjadi tumpuan hidup banyak buruh tani di sekitar daerah kampung ini. Irigasi yang ada juga sangat mendukung karena terdapat beberapa sungai yang menjadi sumbernya seperti Sungai Ciherang dan Sungai Cikeruh. Sungai Ciherang merupakan sungai yang melewati daerah Kampung Rancakendal yang berarti sungai inilah yang menjadi sumber irigasi utama untuk persawahan di daerah tersebut. Dibalik semua potensi yang dimiliki Kampung Rancakendal, terdapat suatu permasalahan yang cukup pelik. Hal ini adalah limbah dari Pabrik Industri Tekstil. Limbah-limbah cair dalam jumlah yang banyak telah mencemari Sungai Ciherang yang menjadi sumber irigasi persawahan di daerah ini. pada akhirnya, bukan hanya Sungai Ciherang tetapi juga sawah warga yang menjadi korban.

1.2 Rumusan Masalah Tercemarnya Sungai Ciherang di daerah Kampung Rancakendal telah membuat sumber utama irigasi sawah di daerah tersebut menjadi tidak layak. Air kotor ini telah membuat sawah warga tidak bisa menghasilkan beras dengan kualitas baik. Permasalahan-permasalahan yang dapat timbul dikarenakan oleh pencemaran sungai ini diantaranya :

Apa faktor utama yang menyebabkan Sungai Ciherang di Kampung Rancakendal tercemar?

Apa saja dampak yang ditimbulkan dari tercemarnya Sungai Ciherang? Bagaimana solusi yang mungkin bisa diterapkan untuk menanggulangi tercemarnya Sungai Ciherang?

1.3 Metode Penelitian Metode yang digunakan oleh penulis dalam melakukan penelitian untuk menyusun karya tulis ini adalah observasi secara langsung serta wawancara. Dengan metode seperti ini diharapkan karya tulis ini bisa memiliki data yang faktual serta dapat dipertanggungjawabkan.

1.4 Tujuan Karya tulis ini disusun dengan tujuan untuk bisa membuka mata para pembaca mengenai dampak-dampak negatif tercemarnya Sungai Ciherang secara nyata. Lalu agar bisa membuat para pembaca tergerak untuk bertindak secara nyata dalam menanggulanginya. Selain itu juga untuk memupuk kepedulian pembaca terhadap keadaan alam kita pada saat ini dengan menjadikan kasus in i sebagai contoh.

1.5 Manfaat Penulis berharap karya tulis ini bisa memberikan wawasan yang lebih luas mengenai tercemarnya Sungai Ciherang. Mulai dari dampak ercemarnya sungai tersebut terhadap alam sampai akhirnya akan merugikan masyarakat sekitar. Dengan wawasan yang lebih luas, diharapkan para pembaca bis abertidak aktif dalam menangglangi permasalahan ini, khususnya masyarakat setempat yang memang merasakan dampaknya secara langsung.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Kampung Rancakendal Di Kecamatan Rancaekek Kecamatan Rancaekek dewasa ini telah mengalami perkembangan yang pesat, tetapi hal ini tidak dibarengi dengan perencanaan yang baik. Rancaekek berkembang pesat dari segi pembangunannya, tetapi hal ini justru terus menggerus lahan pertanian yang pada awalnya tersebar luas di kecamatan ini. Hal ini juga berdampak pada semakin parahnya banjir yang memang biasa terjadi di Kecamatan Rancaekek kaena daerah resapan air yang terus berkurang berubah menjadi perumahan. Meskipun telah mengalami pemekaran Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung masih terlalu besar untuk bisa terpantau oleh pihak pusat. Luas Kabupaten Bandung sendiri sekitar 1762 km2 dengan jumlah penduduk hampir 3,2 juta jiwa. Untuk itu, Kecamatan Rancaekek yang bekerja sama dengan Kecamatan Nagreg, Cicalengka, Cileunyi, Cimenyan, Cilengkrang, Boongsoang, Majalaya, Paseh, Pacet, Ciparay, Solokan Jeruk, Ibun, Cikancung, dan Kestasari membentuk Kabupaten Bandung Timur yang terlepas dari Kabupaten Bandung. Kecamatan Rancaekek meliputi 13 Desa yaitu Bojongloa, Bojongsalam, Cangkuang, Haurpugur, Jelegong, Linggar, Nanjungmekar, Rancaekek Wetan, Rancaekek Kulon, Sangiang, Sukamanah, Sukamulya, dan Tegalsumedang. Perkampungan Rancakendal sendiri terletak di Desa Jelegong.

2.2 Sungai Ciherang Sungai ini merupakan sungai yang terbentang di sepanjang Kmapung Rancakendal. Sungai ini menjadi sumber irigasi penduduk setempat untuk

mengairi sawahnya. pada awalnya, sungai ii merupakan sungai yang sangat jernih dan bersih. Banyak anak-anak yang biasa berenang dan bermain air di sungai tersebut. Keadaan yang telah diuraikan diatas kini telah berubah drastis. Sungai yang dulu jernih dan bersih kini menjadi sungai yang kotor dan tidak sehat. Tangantangan yang tidak bertanggungjawab telah merubah sungai ini menjadi sungai yang tercemar. Limbah dari pabrik-pabrik di sekitar Kecamatan Rancaekek serentak membuang limbah cair ke sungai yang sama, yaitu Sungai Ciherang. Pada dasarnya semua pabrik tersebut seharusnya memiliki sistem pengolahan limbah yang baik agar limbah yang dihasilkan sebagai sisa produksi pabrik tersebut masih berada pada kisaran batas aman. Tetapi dengan tercemarnya Sungai Ciherang yang sekarang berwarna hitam pekat dan memiliki bau yang tidak sedap telah menjadi bukti yang nyata bahwa pabrik -pabrik tersebut tidak mengolah limbahnya dengan baik. Sungai Ciherang dapat dikatakan telah tercemar dikarenakan adanya beberapa aspek yang dikaji sehingga menghasilkan datan yang dapat

dipertanggungjawabkan. Sapek-aspek tersebut adalah aspek kimia, aspek fisika, serta aspek biologi. Denag didapatnya data-data tersebut, tidak diragukan lagi bahwa sungai ini memang tercemar.

2.3. Aspek Kimia Dari aspek kimia, yang diharapkan untuk dapat diidentifikasi adalah pH serta kandungan logam berat yang ada di dalamnya. Setelah dilakukan pengujian terhadap pH dari air di Sungai Ciherang pada 3 titik (dekat asal limbah, bagian tengah, unjung sungai) maka didapat data yang konkret. Data dalam tabel di bawah ini dapat membuktikan bahwa Sungai Ciherang telah tercemar dari segi tingkat pH nya.

No.

Lokasi

Foto Lokasi

pH

Dekat Sumber Limbah

8.9

Sumber : doc. pribadi

Sekitar Daerah Tengah

8.9

Sumber : doc. pribadi

Dekat Hulu Sungai

Sumber : doc. pribadi

Batas normal dari air yang dapat dikatakan normal adalah air yang memiliki ph yang berkisar antara 6,7 sampai dengan 8,6. Pada pH ini, ikan masih dapat hidup sehingga masih dianggap layak pakai dan tidak berbahaya. Dari tabel di atas, bisa dilihat bahwa pH yang telah terukur melewati batas normal dan mendekati ke arah sifat basa. Dalam keadaan seperti ini hanya beberapa jenis ikan saja yang dapat hidup. Ikanikan ini juga memang memiliki tingkat ketahanan tubuh yang tinggi. Tidak seperti ikan mas atu mujair yang sudah tidak dapat ditemukan lagi. Padahal sebelumnya ikan mas dan mujair ini banyak ditemukan di Sungai Ciherang sehingga banyak orang yang dulunya sering memancing di sungai ini. Dari tingkat pH yang melebihi batas normal sudah menjadi salah satu bukti bahwa Sungai Ciherang memang tercemar. Dari kandungan logam berat yang terkandung didalamnya, jumlah pastinya masih belum bisa ditentukan. Hal ini dikarenakan oleh pengujiannya yang memerlukan biaya yang besar. Akan tetapi secara umum limbah dari pabrik tekstil pasti mengandung logam berat yang berasal dari pewarna tekstil yang bukan dari bahan organik.

2.4. Aspek Fisika Aspek fisika merupakan aspek yang pada dasarnya dapat dilihat secara kasat mata dan dirasakan secara nyata. Terdapat lima hal yang termasuk dari aspek fisika yang diteliti dalam penelitian terhadap pencemaran Sungai Ciherang ini, yaitu : Suhu Warna Bau Kekeruhan Konduktivitas

Unt

ngai i

ang masi berkisar diantara suhu ruangan normal

yaitu 27oC Akan tetapi pada daerah sumber pengeluaran limbah, suhu air sedikit lebih hangat Hal ini mungkin dikarenakan oleh limbah yang baru keluar dari mesin-mesin yang menghasilkan panas di dalam pabrik. Warna dari Sungai Ciherang dewasa ini adalah coklat keruh atau hitam pekat. Jika sedang hujan, maka warna air akan menjadi coklat keruh. Hal ini dikarenakan debit air yang semakin bertambah dan juga keruh oleh tanah. Sedangkan warna hitam pekat akan terlihat sekitar pukul delapan pagi, satu siang, dan empat so re. Hal ini dikarenakan waktu-waktu tersebut adalah waktu untuk pabrik-pabrik tekstil terkait membuang limbahnya ke Sungai Ciherang.

Foto Dari Sungai Ciherang Pasca Hujan Sumber : doc, pribadi

Foto Dari Sungai Ciherang Saat Berwarna Hitam Sumber : doc. Pribadi Bau dari Sungai Ciherang dewasa ini sangat tidak sedap. Baunya seperti bau selokan yang sangat kotor dipadukan dengan bau belerang. Bau ini sering mengganggu akti itas warga apalagi rumah warga yang langsung bersebelahan dengan sungai ini. Bau ini akan semakin menjadi jika hujan turun, air yang meluap pada akhirnya akn membuat bau limbah ini semakin menyebar. Dari segi kekeruhan dan kondukti itas juga memperlihatkan hasil yang memang mendukung data tercemarnya Sungai Ciherang ini. Dengan kas t matapun dapat a terlihat bahwa air Sungai Ciherang sangat keruh sehingga tidak dapat tembus terlihat sampai dasar sungai. Dan untuk kondukti itas juga lebih tinggi dengan adanya kandungan logam berat yang terlarut pada air Sungai Ciherang.

2.5. Aspek Bi l

Aspek bologi ini digunakan untuk menilai secara makro perubahan keseimbangan ekologi khususnya ekosistem yang ada akibat pengaruh limbah. Pada dasarnya setiap spesies baik itu hewan atau tumbuhan memiliki batas ketahanan tubh. Hal inilah yang bisa menjadikannya indikator tercemar atau tidaknya suatu tempat. Selain itu juga perubahan jumlah populasi (berkurang) bisa mengindikasikan bahwa tempat tersebut tercemar. Dari observasi yang dilakukan, didapat tiga spesies hewan yang secara alami memang bisa dijadikan indikator tercemarnya air. Hewan-hewan ini adalah belatung ekor tikus, lintah, dan larva capung besar. Jika hewan ini ditemukan disuatu perairan, baik itu sungai, danau, dan lain -lain berarti sumber air tersebut kotor atau tercemar.

Lintah Sumber : doc. Pribadi

Belatung Ekor Tikus Sumber : doc. Pribadi

Larva Capung Besar Sumber : doc. pribadi

2.6. Pengaruh Pencemaran Terhadap Petani Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, air dari Sugai Ciherang ini menjadi sumber irigasi untuk lahan persawahan yang ada disekitarnya. Hal ini membuat lahan persawahan menjadi tidak subur. Bagi petani, limbah i i membuat mereka n meruga dari segi finansial yang sangat besar.

Lahan Persawahan Yang Tidak Dapat Digunakan Lagi Sumber : doc. Pribadi Lahan yang telah tercemar oleh limbah tekstil ini pada akhirnya akan menjadi lahan mati, hanya rumput liar dan beberapa tumbuhan liar lain yang dapat tumbuh. Hal ini diperparah oleh adanya bagian sungai yang jebol sehingga air limbah yang masuk ke sawah semakin banyak. Hasilnya adalah berpetak -petak lahan persawahan yang berubah menjadi kubangan lumpur hitam raksasa. Ini seperti bencana Lumpur Lapindo dalam skala kecil yang juga memberikan dampak buruk yang sangat besar.

Jebolnya Sungai Ciherang Sumber : doc. Pribadi Untuk petak sawah yang agak jauh dari Sungai Ciherang tetapi masih terairi, pertumbuhan padinya menjadi tidak maksimal. Secara jelas, hal tersebut adalah suatu kerugian yang sangat besar bagi para petani. Hasil panen para petani di ampung Rancakendal bisa berkurang sampai 50%. Banyak petani yang akhirnya berpikir untuk berhenti menanam padi dan beralih menanam sayur. Tetapi hasilnya tetap saja sama, tanaman sayur juga tidak tahan terhadap limbah tekstil yang mencemari Sungai Ciherang. Seharusnya pemerintah bisa lebih peka trhadap hal-hal seperti ini. Meskipun dampak dari pencemaran limbah ini hanya dirasakan oleh daerah setempat, tetapi hal kecil ini juga adalah masalah yang besar bagi warga yang mengalaminya. Sawah yang tidak subur, hasil panen y ang berkurang, serta kemungkinan logam berat terserap oleh padi merupakan masalah yang nyata dan seharusnya bisa diselesaikan sesegera mungkin.

Padi Yang Menguning Dan Layu Pada Saat Muda Sumber : doc. pribadi 2.7. Pengaruh Pencemaran Terhadap Pemilik Tambak Ikan Tidak hanya para petani yang merasakan dampak negatif dari tercemarnya Sungai Ciherang ini, para pemilik tambak ikan juga ikut merasakannya. Para penambak ikan ini menggunakan sumber sirkulasi air utama dari Sungai Ciherang yang jelas-jelas tercemar, pH yang tidak cocok menyebabkan ikan -ikan dalam tambak mati dan akhirnya terbuang sia-sia. urang pahamnya warga ampung

Rancakendal mengenai berbahayanya limbah tekstil membuatnya merasa aman untuk menggunakan air tercemar untuk ikannya. Setelah ik an-ikannya mati, barulah para penambak ikan ini sadar dan akhirnya merugi. Dari wawancara yang dilakukan dengan seorang penambak ikan di kampung Rancakendal, dapat diketahui betama meruginya penambak tersebut. Penambak tersebut berkata Sebelumnya, saya adalah agen penyalur ikan dan juga pemilik usaha budidaya ikan. Tapi itu dulu, setelah sungai ini tercemar para pelanggan

saya mulai berkurang karena takut ikan yang ditampung disini tidak sehat. Sekarang saya hanya bisa terus mengurus sisa ikan di tambak saya sambil memikirkan usaha lain yang bisa saya lakukan.

Foto Air Sungai Ciherang Yang Dialirkan e Tambak Sumber : doc. Pribadi Seperti yang terjadi pada lahan persawahan, ada beberapa tamb ikan yang ak dewasa ini juga berubah menjadi kubangan lumpur hitam. Tetapi masih terisi oleh air, hanya saja terjadi pendangkalan karena adanya lumpur yang mengendap. Tidak banyak ikan yang bisa bertahan di tambak yang sudah tidak terurus ini. Hanya ikan liar seprti lele liar dan belut saja yang masih dapat ditemukan meski jarang. Hal ini sangat memprihatinkan dan sangat merugikan. Ikan yang seharusnya menjadi sumber penghasilan para penambak akhirnya harus hilang dan mati ditelan lumpur hitam yang sekarang mengisi kolam. Sekarang tambaktambak ikan ini terlihat seperti rawa yang sangat kotor dan menakutkan. seperti inilah yang dialami oleh warga eadaan

ampung Rancakendal selama bertahun -

tahun tanpa ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu bantuan dari pem erintah.

Foto Tambak Yang Sekarang Seperti Rawa Sumber : doc. Pribadi

2.8. Pengaruh Pencemaran Terhadap Perekonomian Warga Perekonomian warga di ampung Rancakendal setelah Sungai Ciherang

tercemar sangat berbeda dengan sebelum tercemar. Sebagian besar warga ampung Rancakendal menggantungkan hidupnya sebagai buruh tani. Tetapi karena terdapat beberapa petak sawah yang sekaran mati membuat pekerjaan g para buruh tani ini berkurang. Hal ini berimbas pada penghasilan para buruh tani ini setiap hari. Para penambak ikan juga mengalami nasib yang serupa, penghasilan para penambak ini bukan bertambah tapi justru berkurang. Hal ini disebabkan oleh banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk merehabilitasi kolam tambaknya. Selain itu ganti rugi kepada rekan kerjanya yang menjadi tanggungan.

2.9. Pengaruh Pencemaran Terhadap Ekosistem Ekosistem yang terganggu secara nyata terjadi pada ekos istem Sungai Ciherang itu sendiri. Untuk daerah di luar aliran Sungai Ciherang tidak ada perubahan yang berarti dan besar. Untuk Sungai Ciherang, unsur biotiknya sangatlah berkurang terutama populasi ikannya yang menurun drastis. Selain itu sampah yang juga banyak terbawa aliran air menambah populasi hewan yang menjadi indikator tercemarnya air di Sungai Ciherang. Sangat disayangkan potensi ikan yang sebelumnya sangat cerah telah tergantikkan oleh sampah yang menumpuk.

Sampah yang Menyumbat Aliran Sungai Ciherang Sumber : doc. pribadi

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan Pencemaran yang terjadi pada Sungai Ciherang di Kampung Rancakendal, Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung Timur ini memiliki dampak negatif yang sangat besar bagi warganya. Dampak negatif ini sangat luas meliputi berbagai hal dan aspek dalam kehidupan warganya. Hal-hal tersebut seperti lahan persawahan yang rusak, tambak ikan yang rusak, dan sumber irigasi yang tidak lagi layak. Aspek-aspek yang terpengaruhi oleh tercemarnya Sungai Ciherang ini adalah aspek ekonomi dan aspek ekosistem. Seharusnya pihak pemerintah dapat lebih peka dan bergerak lebih cepat dalam menanggulangi masalah pencemaran ini. Karena tidak diragukan lagi bahwa masalah tercemarnya Sungai Ciherang ini memberi dampak negatif yang luas dan juga besar. Untuk itu, masyarakat juga harus bisa lebih tegas untuk menyuarakan aspirasinya kepada pihak pemerintah agar dapat didengar dan tidak lagi diabaikan.

3.2. Saran Yang menjadi akar permasalahan pencemaran Sungai Ciherang ini adalah pabrik-pabrik yang lalai dalam mengolah limbahnya. Oleh karena itu seharusnya terdapat pihak pemantau yang terus memantau kinerja pabrik-pabrik ini dan memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Selain itu, campur tangan pemerinyah juga sangat penting agar permasalahan ini tidak terus meluas dan dapat diselesaikan secepat mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

Afia

Atep

2011

RANCAEKEK

tersedia

online

berita-377-

rancaekek.html:dibuka 11 juni 2011. Grup, dkk : 2009 : PENGELOLAAN LAHAN SAWAH TERCEMAR LIMBAH TEKSTIL: tersedia online net/PENGELOLAAN LAHAN SAWAH TERCEMAR LIMBAH TEKSTIL.htm: dibuka 11 juni 2011. Wahyuadi, johny : 1996 : Teknologi Pengendalian Dampak Lingkungan Industri Penyamakan Kulit. Buku Panduan. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan : tersedia online index-view.php.htm: dibuka 12 juni 2011. Wahyudadi, johny : 1996: Pemanfaatan Limbah Cair dan Padat dari Penyamakan Kulit. Disampaikan pada Raker Pengendalian Pencemaran Air Akibat Limbah Usaha Kecil : tersedia online indexview.php.htm: dibuka 12 juni 2011.