Anda di halaman 1dari 59

SEJARAH PUSAKA-MEMPUSAKAI DAN PERKEMBANGANNYA BAB I PUSAKA-MEMPUSAKAI DAN SEBAB-SEBABNYA PADA ZAMAN JAHILIYAH

1. Dasar-dasar Pusaka-mempusakai Orang-orang Arab Jahiliyah adalah tergolong salah satu bangsa yang gemar memngembara dan berperang. Kehidupan mereka, sedikit banyak tergantung dari hasil jarahan dan rampasan perang dari bangsa-bangsa yang telah mereka taklukan, disamping itu juga tergan tung dari hasil perniagaan rempah-rempah. Dalam bidang muamalat dan pembagian harta pusaka, mereka berpegang teguh kepada tradisi-tradisi yang telah diwariskan oleh nenek-moyang mereka. Dalam tradisi pembagian harta pusaka yang telah diwariskan terdapat ke tentuan utama bahwa anak-anak yang belum dewasa dan kaum perempuan dilarang mempusakai harta peninggalan ahli warisnya yang telah meninggal dunia. Tradisi menganggap bahwa anak-anak belum dewasa dan kaum perempuan adalah sebagai keluarga yang belum atau tidak pantas menjadi ahli waris. Bahkan sebagian dari mereka beranggapan bahwa janda perempuan dari orang yang telah meninggal adalah sebagai ujud harta peninggalan yang dapat dipusakakan dan dipusakai kepada dan oleh ahli waris si mati.

2. Sebab-sebab dan syarat-syarat mempusakai Sebab-sebab mempusakai pada zaman jahiliyah itu ada 3 macam: 1. Adanya pertalian kerabat (qarabah) 2. Adanya janji prasetia (muhalafah) 3. Adanya pengangkatan anak (tabanny atau adopsi)

Pada prinsipnya setiap orang mempunyai hubungan kerabat, mempunyai ikatan janji prasetia atau mempunyai hubungan adopsi dengan simati adalah sebagai ahli waris yang mempunyai hak penuh untuk mempusakai peninggalan yang ditinggalkannya. Dengan demikian para ahli waris jahiliyah dari golongan kerabat semuanya terdiri dari kaum laki-laki. Mereka itu ialah: 1. Anak laki-laki 2. Saudara laki-laki 3. Paman 4. Anak paman
1|Page

BAB II SEBAB-SEBAB MEMPUSAKAI PADA ZAMAN AWAl-AWAL ISLAM

Sebab-sebab mempusakai pada zaman awal-awal Islam disamping karena adanya pertalian nasab atau hubungan kerabat, ada 3 macam, yakni : 1. Pengangkatan anak 2. Hijrah dari Mekkah ke Madinah 3. Persaudaraan (al muakhkhah) antara kaum Muhajirin dan Anshar

a. Adopsi Konon, Nabi Muhammad SAW, sebelum diangkat menjadi rasul pernah mengambil anak angkat Zaid bin Haritsah, setelah ia dibebaskan dari status perbudakannya. Karena status anak angkat pada saat itu identik dengan anak keturunannya sendiri, para saha bat memanggilnya zaid bin Muhammad. Lembaga adopsi beserta akibat hukumnya tidak bertahan lama pada zaman awal-awal Islam. Lembaga ini berakhir setelah diturunkan surat al-Ahzab : 45 dan 40 yang berisikan larangan menggunakan panggilan anak angkat seperti panggilan anak turunannya sendiri

b. Hijrah dan Muakhkhah Kekuatan kaum muslimin pada saat itu masih sangat lemah, lantaran jumlah mereka yang masih sedikit sekali. Untuk menghadapi kaum musyrikin Qurais yang sangat kuat dan banyak pengikutnya, tidak ada jalan lain yang ditempuh Rasulullah beserta pengikut-pengikutnya selain meminta bantuan kepada penduduk diluar kota yang sepaham dan simpatik terhadap perjuangan beliau beserta kaum muslimin dalam memberantas kemusyrikan. Untuk memperteguh dan mengabadikan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, Rasulullah menjadikan ikatan persaudaraan tersebut sebagai salah satu sebab saling dapat pusaka mempusakai satu sama lain.

2|Page

BAB III PERKEMBANGAN PUSAKA MEMPUSAKAI DAN PENGETRAPANNYA

1. Menuju Kesempurnaan Keluarga yang diikat oleh ikatan yang kuat, seperti ikatan keturunan, hubungan darah dan perjodohan tidak tentu mendapat pusaka. Justru keluarga yang tidak diikat oleh ikatan yang kuat sekalipun seperti orang-orang yang diikat oleh janji prasetia atau diikat oleh adopsi, dapat digolongkan kepada ahli waris yang berhak mendapatkan harta peninggalan. Sebab-sebab mempusakai yang hanya berdasarkan kelaki-lakian yang dewasa lagi kuat berjuang, dengan mengenyampingkan anak-anak yang belum dewasa dan kaum perempuan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah juga telah dibatalkan.

2. Keistimewaan Aturan Pusaka Mempusakai Islam Keistimewaan yang terdapat dalam pusaka mempusakai Islam antara lain : 1. Tidak menyerahkan sepenuhnya kepada orang yang mewariskan seluruh harta peninggalannya untuk diwasiatkan kepada orang yang dipilihnya sebagai penggantinya, baik dari kerabat yang jauh maupun kerabat yang sudah tidak ada pertalian nasab sama sekali, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh orang -orang Yunani dan Romawi Kuno . tetapi syariat Islam mengizinkan kepada orang yang mewariskan memberikan wasiat maksimal seperempat harta peninggalan, dengan maksud supaya tidak merugikan kepada para ahli waris yang lain 2. Tidak melarang kepada bapak dan leluhur yang lebih atas dari padanya untuk mempusakai bersama-sama dengan anak simati dan tidak melarang isteri untuk mempusakai suaminya yang telah meninggal atau sebaliknya, seperti tata cara mempusakai yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Romawi. Tetapi Islam menetapkan bahwa mereka semuanya adalah tergolong ahli waris yang sama-sama mempunyai hak penuh untuk menerima harta peninggalan 3. Tidak menginstimewakan dalam pemberian harta peninggalan hanya kepada satu macam pewaris saja. Misalnya hanya diberikan kepada seorang anak laki-laki yang sulung saja. Tetapi syariat Islam menyamakan hak anak tersebut sesuai dengan furudh masing-masing 4. Tidak menolak anak-anak angkat yang belum dewasa dan kaum perempuan untuk menerima harta peninggalan
3|Page

3. Kodifikasi Hukum Pusaka Mempusakai Kebanyakan para fuqaha mutaqaddim dan mutakhirin mengkodifisir hukum pusakamempusakai kedalam kodek-fiqhi-islamy pada bab Ahwalusy-syakhshiyah. Tetapi oleh karena pengetahuan tentang pembagian harta pusaka itu sangat penting dan mempunyai sifat-sifat yang lebih khusus dari pada sifat-sifat hukum kebendaan yang lain, maka sebagian fuqaha memisahkan kodifikasi pembagian harta pusaka dari kodek-fiqhi islamypada umunya. 4. Pusaka Mempusakai di Indonesia 1. Bagi warga golongan Indonesia asli, pada prinsipnya berlaku Hukum Adat. Yang dalam hal ini sudah barang tentu terdapat perbedaan antara satu daerah lingkungan hukum adat di satu pihak dengan daerah lingkungan hukum adat di pihak lain. Daerah lingkungan hukum adat yang susunan keluarganya bersifat patriachaat (kebapakan), berbeda dengan lingkungan hukum adat yang susunan kekeluargaannya bersifat matriarchaat (keibuan)dan berbeda pula dengan daerah lingkungan hukum adat yang susunan kekeluargaannya bersifat parental (keibu-bapakaan). 2. Bagi warga Negara golongan Indonesia asli yang beragama Islam, diberbagai daerah, hukum Islam sangat berpengaruh dan berlaku padanya. 3. Bagi orang-orang Arab pada umumnya seluruh hukum Islam berlaku bagi mereka. 4. Bagi orang Tionhoa dan Eropa berlaku hukum warisan dari Burgerliijk Wetboek 5. Peradilan di Indonesia yang Berwewenang Menyelesaikan Perkara-perkara Warisan Umat Islam

Pada umumnya perkara-perkara yang menjadi tugas wewenangnya ialah : a. Perkara-perkara yang berhubungan dengan pernikahan, segala jenis perceraianmahar, nafakah, dan perwalian b. Warisan

c. Waqaf Adalah merupakan suatu keganjilan didalam dunia peradilan bahwa Keputusan Pengadilan Agama tidak mempunyai kekuatan untuk dipaksakan. Kalaupun hendak memaksakannya harus dimintakan kekuatan lebih dahulu dari Ketua Pengadilan Negeri.

4|Page

BAGIAN KEDUA
TARIF SUMBER-SUMBER DAN HUKUM MEMPELAJARI ILMU FARAIDH BAB I TAARIF ILMU FARAIDH

Lafazh al-faraidh sebagai jamak dari lafaz faridhah, oleh para Ulama Fardhiyun diartikan semana dengan lafaz mafrudhah, yakni bagian yang telah dipastikan kadarnya tersebut dapat mengalahkan saham-saham yang belumdipastikan kadarnya. Selanjutnya lafazh fardhu, sebagai suku kata dari lafazh faridhah, menurut bahasa mempunyai beberapa arti, antara lain :

1. Taqdir, yakni suatu ketentuan 2. Qathu, yakni ketetapan yang pasti 3. Inzal, yakni menurunkan 4. Tabyin, penjelasan 5. Ihlal, yaitu menghalalkan 6. Atha, yakni pemberian

BAB II SUMBER-SUMBER HUKUM PEMBAGIAN HARTA PUSAKA

Sumber-sumber hukum ilmu faraidh, yaitu : Pertama, Al-Quran, menjelaskan ketentuan-ketentuan faraidh dengan jelas sekali. Yaitu tercantum dalam surat an-Nisa ayat: 7, 11, 12, 176 Kedua, al-ijma dan ijtihad. Ijma dan ijtihad para sahabat, imam-imam madzhab dan mujtahid-mujtahidkenamaan mempunyai peranan yang tidak kecil sumbangannya terhadap pemecahan-pemecahan masalah mewaris yang belum dijelaskan oleh nash-nash yang shahih.

5|Page

BAB III HUKUM MEMBAGI HARTA PUSAKA MENURUT KETENTUAN SYARIAT

Bagi umat Islam melaksanakan peraturan-peraturan syariat yang ditunjuk oleh nash-nash yang shahih, meski dalam soal pembagian harta pusaka sekalipun, adalah suatu keharusan, selama peraturan tersebut tidak ditunjuk oleh dalil nash, yang lain yang menunjukkan ketidak wajibannya. Padahal tidak ada nash yang demikianitu, bahkan dalam surat an -Nisa ayat 13 dan 14, Tuhan akan menempatkan surge selama-lamanya orang-orang yang mentaati ketentuan (pembagian harta pusaka) dan memasukkan ke neraka untuk selama-lamanya orang-orang yang tidak mengindahkannya.

BAB IV HUKUM BELAJAR DAN MENGAJARKAN ILMU FARAIDH

Rasulullah SAW memerintahkan belajar dan mengajarkan ilmu faraidh, agar tidak perselisihan-perselisihan dalam membagikan harta pusaka, lantaran ketiadaan ulama ahli faraidh. Perintah tersebut berisi perintah wajib. Hanya saja kewajiban belajar dan mengajarkannya itu gugur.

6|Page

BAGIAN KETIGA
RUKUN-RUKUN, SYARAT-SYARAT DAN SEBAB-SEBAB MEMPUSAKAI BAB I RUKUN-RUKUN MEMPUSAKAI

Pusaka-mempusakai itu mempunyai tiga rukun, yakni : 1. Mauruts, yaitu harta benda yang ditinggalkan oleh si mati yang bakal dipusakai oleh para ahli waris setelah diambil untuk biaya-biaya perawatan, melunasi hutang-hutang dan melaksanakan wasiat. Harta peninggalan ini oleh para faradhiyun disebut juga dengan tirkah atau turats

2. Muwarrits, yaitu orang yang meninggal dunia, baik mati haqiqi maupun mati hukmy. Mati hukmy ialah suatu kematian yang dinyatakan oleh putusan hakim atas dasar beberapa sebab, walaupun sesungguhnya ia belum mati sejati.

3. Warits, yaitu orang yang akan mewarisi harta peninggalan si mawaris lantaran mempunyai sebab-sebab untuk mempusakai seperti adanya ikatan perkawinan, hubungan darah (keturunan) dan hubungan hak perwalian dengan si muwaris.

MAURUTS (TIRKAH) (harta peninggalan) A. Taarif Tirkah Tirkah ialah apa-apa yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia yang dibenarkan oleh syariat untuk dipusakai oleh para ahli waris. Apa-apa yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia harus diartikan sedemikian luas agar dapat mencakup kepada: 1. Keberadaan dan sifat-sifat yang mempunyai nilai kebendaan. Misalnya; benda-benda tetap, benda-benda yang bergerak, piutang si mati menjadi tanggungan orang lain, diyah-wajibah (denda wajib), dll

7|Page

2. Hak-hak kebendaan, seperti hak monopoli, untuk mendayagunakan dan menarik hasil dari suatu jalan lalu lintas, sumber air minum, irigasi pertanian dan perkebunan

3. Hak-hak yang bukan kebendaan, seperti hak khiyar, hak syufah, hak memanfaatkan barang yang diwasiatkan dan lain sebagainya

4. Benda-benda yang bersangkutan dengan hak orang lain, seperti benda-benda yang sedang digadaikan oleh si mati, barang-barang yang telah di beli oleh si mati semasa hidup yang harganya sudah dibayar tetapi barangnya belum diterima, barang-barang yang dijadikan mas kawin isterinya yang belum diserahkansampai ia mati dan lain sebagainya.

Menurut Hukum Adat yang berlaku di Indonesia dibeberapa lingkungan hukum adat di Indonesia, tidak semua harta peninggalan orang yang telah wafat dapat dipusakai, dalam arti dapat dibagi-bagi kepada para ahli waris menurut kedudukan mereka masing -masing, tetapi harta peninggalan tersebut harus dimiliki bersama-sama dengan seluruh ahli waris sebagai kesatuan keluarga.

B. Hak-hak yang Bersangkutan dengan Harta Peninggalan

Hak-hak yang bersangkutan dengan harta peninggalan itu, menurut Jumhurul-fuqaha dan menurut ketentuan yang termuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Warisan Mesir dalam fasal: 4 ada empat macam dan tersusun sebagai berikut :

Pertama : biaya-biaya perawatan kematian, baik bagi si mati sendiri maupun bagi keluarga yang menjadi tanggungannya Kedua : Hutang-hutang Ketiga : Wasiat dan Keempat : Ahli waris

8|Page

Pertama : Biaya Perawatan (Tajhiz)

a. Arti Tajhiz Yang disebut tajhiz ialah biaya-biaya perawatan yang diperlukan oleh orang yang meninggal., mulai saat meninggalnya sampai saat penguburannya. Biaya itu mencakup biayabiaya untuk memandikan, mengkafani, menghusung dan menguburkannya.

b. Biaya-biaya perawatan bagi kerabat yang menjadi tanggungannya. c. Biaya-biaya perawatan simati menurut Hukum Adat dan Burgelijke Wetboek

Kedua : Hutang-hutang a. Arti dan macam-macam Hutang Hutang ialah : suatu tanggungan yang wajib dilunasi sebagai imbalan dari prestasi yang pernah diterima oleh seseorang. Hutang-hutang dapat dikalsifikasikan kepada dua macam : Pertama : dainullah (hutang kepada Allah) Kedua : dainul-ibad (hutang kepada sesama)

b. Tertib melunasi hutang-hutang Ketiga : Washiyat a. Tarif washiyat Fuqaha yang bermadzhab Hanafiyah mentarifkan washiyat ialah : memberikan hak memiliki sesuatu secara sukarela (tabarru) yang pelaksanaannya ditangguhkan setelah adanya peristiwa kematian dari yang memberikan, baik sesuatu itu berupa barang maupun manfaat. b. Sumber-sumber Hukum Washiyat 1) Al kitab Sumber-sumber hukum lembaga washiyat itu ialah al-Kitab, as-Sunnah, al-Ijma dan alMaqul (logika) 2) As-Sunnah, antara lain hadist yang diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqqas r.a 3) Al-Ijma

9|Page

Umat Islam sejak dari zaman Rasulullah SAW, sampai sekarang banyak menjalankan washiyat. Perbuatan yang dibemikian itu tidak pernah diingkari oleh seorangpun. Ketiadaan ingkar seorang itu menunjukkan adanya ijma.

4) Al-Maqul (logika) Menurut thabiat manusia itu selalu bercita-cita supaya amal perbuatannya di dunia diakhiri dengan amal-amal kebajikan untuk menambah amal taqarubbnya kepada Allah yang telah di milikinya, sesuai dengan apa yang diperintahkan Nabi Muhammad SAW. c. Hukum Washiyat Washiyat itu adalah suatu tuntutan syariat untuk dilaksanakan. Dalam menetapkan sifat hukum tuntutan itu para fuqaha berselisih pendapat. d. Batas pelaksanaan washiyat Apabila washiyat itu telah cukup syarat-syarat dan rukun-rukunnya hendaklah washiyat tersebut dilaksanakan sepeninggal si pemwashiyat. Sejak itu si penerima washiyat sudah memiliki harta washiyat dan karenannya dia dapat memanfaatkan dan mentransaksikannya menurut kehendaknya. e. Washiyat Wajibah Pada dasarnya memberikan washiyat itu adalah suatu tindakan ichtiyariyah. Yakni suatu tindakan yang dilakukan atas dorongan kemauan sendiri dalam keadaan bagaimanapun juga. Penguasa maupun hakim tidak dapat memaksa seseorang untuk memberikan washiyat.

C. Hikmah Pengurutan Hak-hak yang Berpautan dengan Harta Peninggalan 1. Didahulukan Biaya-biaya Perawatan dari pada Hutang Biaya-biaya perawatan bagi si mati itu harus didahulukan dari pada pelunasan hutanghutangnya. 2. Didahulukan Pelunasan Hutang-hutang dari pada pelaksanaan washiyat

Pelunasan hutang-hutang itu harus didahulukan dari pada pelaksanaan washiyat 3. Didahulukan Washiyat dari pada Mempusakakan Harta Peninggalan kepada Ahli Waris Pelaksanaan washiyat itu harus didahulukan dari pada mempusakakan harta peninggalan kepada para ahli waris, sebab andaikata mempusakakn harta peninggalan kepada ahli waris yang didahulukan, niscaya sudah tidak ada sisaharta peninggalan sedikitpun yang harus diterimakan kepada penerima washiyat.

10 | P a g e

D. Orang-orang (Lembaga) yang berhak Mendapat Harta Peninggalan Bukan Dengan Jalan Mempusakai Apabila seseorang yang meninggal dunia tidak meninggalkan ahli waris yang berhak mewarisi harta peninggalannya, maka harta peninggalannya dihaki oleh orang -orang atau lembaga, dengan jalan bukan mempusakai, berturut-turut sebagai berikut :

1. Orang yang dilakukan nasab oleh si mati kepada orang lain (Al-Muqarrulahu binanasabi ala ghairih)

Pada prinsipnya adanya pertalian nasab antara seseorang dengan seseorang yang lain ditentukan oleh salah satu tiga sebab : a. Seketiduran (al-firasy) b. Tanda-bukti (al-bayyinah) dan c. Pendakuan (al-iqrar) Yang dikatakan dengan mendaku nasab orang lain ialah mendaku orang lain yang tidak diketahui asal mula nasabnya sebagai nasabnya sendiri atau sebagai nasab keluarganya.

2. Orang yang diberi washiyat melebihi dari sepertiga peninggalan (al-Musha-lahu bima zada anits-tsuluts)

Sebagaimana diketahui bahwa batas diperkenankan memberikan washiyat itu ialah 1/3 harta peninggalan. Apabila washiyat tersebut melebihi dari batas yang diperkenankan, maka pelaksanaannya semata-mata tergantung kepada perizinan para ahli waris. Adapun bila orang yang meninggal dunia tidak mempunyai ahli waris, baik ahli waris dari sebab perkawinan, atau keturunan (nasab), maupun memerdekakan budak dan tidak terdapat yang didakukan nasab kepada orang lain, maka washiyat yang lebih dari batas diperkenankan washiyat itu dapat dilaksanakan.

11 | P a g e

3. Kas Perbendaharaan Negara (Baitul-mal) Kas Perbendaharaan Negara yang terkenal dalam Islam dengan nama Baitul-mal disamping fungsinya sebagai tempat menyimpan, memelihara dan mentasarufkan uang-uang pajak, jizyah, zakat, seperlima pampasan perang, hasil tambang, barang-barang temuan yang tidak diketahui pemiliknya dan lain sebagainya, juga menyimpan dan mentasarufkan harta peninggalan prang Islam yang tidak terwariskan. Oleh karena itu harta peninggalan yang tidak terwaris itu bagaikan harta sia-sia, lantaran tidak ada yang berhak memilikinya.

BAB II SYARAT-SYARAT PUSAKA-MEMPUSAKAI

Pusaka-mempusakai itu adalah berfungsi sebagai menggantikan kedudukan dalam memiliki harta benda antara orang yang telah meninggal dunia dengan orang yang ditinggalkannya. Pusaka-mempusakai memerlukan syarat-syarat seperti berikut : 1. Matinya muwarrits (orang yang mempusakakan) 2. Hidupnya warits (orang yang mempusakai) disaat kematian muwarrits 3. Tidak adanya penghalang-penghalang mempusakai (mawaniul-irtsi)

Kematian muwarrits menurut ulama, dibedakan menjadi 3 macam : a. Mati haqiqy (sejati) Ialah hilangnya nyawa seseorang yang semula nyawa itu sudah berujud adanya. Kematian ini dapat disaksikan oleh pancaindera dan dapat dibuktikan dengan alat pembuktian.

b. Mati hukmy (menurut putusan hakim) Ialah suatu kematian disebabkan adanya vonnis hakim, baik pada hakikatnya, seseorang benar-benar masih hidup, maupun dalam dua kemungkinan antara hidup dan mati.

c. Mati taqdiry (menurut dugaan) Ialah suatu kematian yang bukan hakiky dan bukan hukmy, tetapi semata-mata hanya berdasarkan dugaan keras. Misalnya kematian seorang bayi yang baru dilahirkan akibat terjadi pemukulan terhadap perut ibunya atau pemaksaan agar ibunya meminum racun.

12 | P a g e

BAB III PENGHALANG-PENGHALANG MEMPUSAKAI (Mawarni ul-irtsi) 1. Arti Penghalang Mempusakai Ialah tindakan atau hal-hal yang dapat menggugurkan hak seseorang untuk mempusakai beserta adanya sebab-sebab dan syarat-syarat mempusakai. Misalnya pembunuhan dengans engaja akibat dari suatu pertengkaran yang dilakukan oleh seorang anak terhadap bapaknya sendiri. Perbuatan anak tersebut merupakan suatu tindak maker pembunuhan yang dapat menggugurkan haknya untuk emmpusakai harta peninggalan ayahnya, biarpun ia telah mempunyai sebab-sebab yang sah.

2. Macam-macam Penghalang Mempusakai

Penghalang mempusakai ada 4 macam, yakni : Pertama : perbudakan Kedua : pembunuhan Ketiga : berlainan agama Keempat : berlainan Negara Pertama : Perbudakan Dasar Hukum perbudakan menjadi penghalang pusaka-mempusakai. Para fardhiyun telah bulat pendapatnya untuk menetapkan perbudakan itu adalah suatu hal yang menjadi penghalang pusaka-mempusakai

Kedua : Pembunuhan Jumhurul fuqaha telah sepakat pendapatnya untuk menetapkan bahwa pembunugan itu pada prinsipnya menjadi penghalang mempusakai bagi si pembunuh terhadap harta peninggalan orang yang telah dibunuhnya.

Ketiga : Berlainan agama Berlainan madzhab sekte dan aliran yang terdapat dalam agama islam menuru persepakatan t pendapat dari sluruh fuqaha, tidak dapat dimasukkan kedalam criteria berlainan agama. Hal itu dikarenakan biarpun mereka berbeda-beda madzhab, sekte dan aliran, namun yang mereka anut adalah bersumber dari satu agama yaitu agama islam.
13 | P a g e

Keempat : Berlainan negara Yang dikatakan berlainan negara menurut Ibnu Abidin ditandai dengan tiga ciri sebagai berikut, Angkatan perangnya berlainan, Kepala negaranya berlainan, Tidak ada iktan kekuasaan. Sedangkan jika sebaliknya tidak dapat dikatakan berbeda dalam arti terlarang pusaka-mempusakai.

BAB IV SEBAB-SEBAB MEMPUSAKAI DAN RUMPUN-RUMPUN AHLI WARIS A. MENURUT ISLAM mempusakai itu berfungsi menggantikan kedudukan si mati dalam memiliki dan memanfaatkan harta miliknya. Adalah bijaksana sekali kiranya kalau penggantian ini dipercayakan kepada orang-orang yang banyak memberikan bantuan, pertolongan, pelayanan, pertimbangan dalam mengemudikan bahtera hidup berumah tangga. Seperti suami/istri, ayah/ibu, anak-anak. Mereka mempunyai hak dan dapat mempusakai, karena mempunyai sebab-sebab yang mengikatnya, yaitu: 1. perkawinan Perkawinan yang sah menurut syariat merupakan suatu ikatan antara seorang laki laki dan perempuan, oleh karena itu Tuhan menetapkan bagian tertentu sebagai imbalan pengorbanan dan jerih payahnya selam menjalani bahtera rumah tangga. Atas dasar itulah baik suami maupun isteri, tidak dapatterhijab sama sekali oleh ahli waris siapapun. Kecuali terhijab nuqhson. 2. Kekerabatan Kekerabatan ialah hubungan nasab antara orang yang mewari kan dengan orang yang s mewarisi yang disebabkan oleh kelahiran. Kekerabatan itu merupakan sebab memperoleh hak mempusakai yang terkuat, dikarenakan kekerabatan itu termasuk unsur causalitas adanya seseorang yang tidak dapat dihilangkan. 3. Wala Wala dalam arti yang pertama disebut dengan walaul-ataqah atau ushubah-sababiyah, yakni ushubah yang bukan disebabkan karena adanya pertalian nasab, tetapi disebabkan karena adanya pertalian nasab, tetapi disebabkan karena adanya sebab telah membebaskan budak.
14 | P a g e

B. MENURUT HUKUM ADAT DI INDONESIA a. keturuan keturunan disini diutamakan ialah anak. Anak sebagai ahli waris utama mempunyai ketentuan yang berbeda-beda mengingat perbedaan sifat kekeluargaan dipelbagai daerah. b. perkawinan dibeberapa daerah di Indonesia banyak macamnya dalam pembagian harta pusak kepada seorang suami/istri yang ditingglkan oleh pasangannya, ada yang tidak mendapat sama sekali, ada yang bagian suami/istri teah ditetapkan masing-masing bagiannya, bahakan ada yang bagian perempuan sama dengan bagian laki-laki c. Adopsi anak angkat mempunyai warisan menurut hukum adat sebagai anak turunnya sendiri. d. Masyarakat daerah jika ahli waris tidak ada sama sekali, harat peninggalan tersebut jatuh kepada masyarakat daerah yang meninggal dibawah kekuasaan kepala masyarakat. C. MENURUT BURGERLIJK WETBOEK Golongan pertama, termuat dalam pasal 852, terdiri dari ; anak-anak si mati, anak turunnya anak-anak, suami/istri. Golongan kedua, termuat dalam pasal 854, 855, 856, terdiri dari: orang tua dan saudarasaudara sekandung. Golongan ketiga, termuat dalam pasal 853 jo pasal 859, terdiri dari : kakek dan nenek, ayah/ibunya kakek dan nenek (buyut) Golongan keempat, senenek/buyut. terdiri dari: saudara/saudari sekakek/buyut,saudara/saudari

15 | P a g e

BAGIAN KEEMPAT
FURUDUL MUQADDARAH DAN ASHHABUL FURUDHNYA BAB I MACAM-MACAM FURUDHUL MUQADDARAH Syariat Islam menetapkan jumlah furudhul muqaddarah ada 6 macam yaitu: 1. Dua pertiga 2. Sepertiga 3. Seperenam 4. Separoh 5. Seperempat 6. Seperdelapan BAB II AHLI WARIS YANG MEMILIKI FURUDHUL MUQADDARAH Para ahli waris yang memperoleh fardh dua pertiga ada 4 orang yaitu: 1. 2 orang anak perempuan atau lebih 2. 2 orang cucu perempuan pancar laki-laki atau lebih 3. 2 orang saudari sekandung atau lebih 4. 2 orang saudari sekandung atau lebih Para ahli waris yang memperoleh fardh sepertiga ada 2 orang yaitu: 1. Ibu 2. Anak-anak ibu Para ahli waris yang menerima fardh seperenam ada 7 orang yaitu : 1. Ayah 2. Ibu 3. Kakek shahih 4. Nenek shahihah
16 | P a g e

5. Saudara seibu 6. Cucu perempuan pancar laki-laki 7. Seorang saudari seayah atau lebih. Para ahli waris yang menerima seperdua ada 5 orang yaitu : 1. Seorang anak perempuan 2. Seorang cucu perempuan pancar laki-laki 3. Suami 4. Seorang saudari sekandung 5. seorang saudari seayah Para ahli waris yang mendapat seperempat ada 2 orang yaitu: 1. Suami 2. istri Ahli waris yang mendapat fardh seperdelapan hanya seorang saja yaitu istri.

BAB III JUMLAH PARA ASHHABUL FURUDH Ashhabul perempuan terdiri dari : 1. Isteri 2. Anak perempuan 3. Cucu perempuan pancar laki-laki 4. Saudari sekandung 5. Saudari seayah 6. Saudari seibu 7. Ibu 8. Nenek shahihah

17 | P a g e

Adapun ashabul golongan laki-laki yaitu: 1. Suami 2. Ayah 3. Kakek shahih 4. saudara seibu

18 | P a g e

BAGIAN : KELIMA
PUSAKA AHLI WARIS I. II. III. Ahli waris Sababiyah (sebab perkawinan) Ahli waris Nasabiyah (qarabah, hubungan nashab) Ahli waris Wala (pembebasan budak)

Untuk selanjutnya dalam menguraikan pusaka ahli waris nasabiyah sebagai berikut : A. Furuul-maiyit (anak turunan si mati) dengan segala macamnya baik mereka termasuk ashabul-furudh ataupun ashabah B. Ushulul-maiyit (leluhur si mati) dengan segala macamnya, baik mereka termasuk ashabul-furudh maupun ashabah C. Hawashil-maiyit (keluaraga menyamping) dengan segala macamnya tanpa mengutamakan mereka yang termasuk ashabul-furudh saja atau ashabah saja D. Dzawil-arham BAB: 1 PUSAKA AHLI WARIS SABABIYAH

A. PUSAKA ISTERI
1. Bagian Isteri Isteri dalam mempusakai harta peninggalan suamiinya mempunyai dua macam fardh, yakni : 1. Seperempat, Isteri memperoleh fardh seperempat ini bila suami yang diwariskan tidak mempunyai faru-warist. Yakni anak turun si mati yang berhak waris baik secara fardh. 2. Seperdelapan, Isteri memperoleh fardh seperdelapan ini, bila suami yang diwarisinya mempunyai faru-warist, baik yang lahir melalui istri pewaris ini maupun isterinya yang lain. 2. Dasar Hukum Dalil yang menetapkan dua macam bagian isteri itu ialah Firman Allah dalam surat an-Nisa : 12 .......para isteri-isteri memperoleh seperempat harta peninggalan yang kamu tinggalkan, jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak maka para isteri memperolehseperdelapan dari harta peninggalan yang kamu tinggalkan, setelah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau setelah dilunasi hutang (yang kamu ambil)............ Para ulama telah sepakat menetapkan bahwa lafadz walad itu mencakup: a. Anak-anak shulbi (kandung), baik laki-laki maupun perempuan dana
19 | P a g e

b. Anak-anaknya anak laki-laki, betapa rendah menurunnya, jika tidak ada anak-anak shulby, tetapi tidak mencakup: Anak-anaknya anak perempuan, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka yang terakhir ini disebut dengan Faru-ghairu-warits. Ini tidak dapat menghijabnuqhson isteri dari seperempat menjadi seperdelapan, sebagaimana halnya tidak dapat menghijab nuqhson suami dari seperdua menjadi seperempat, sebab mereka termasuk dzawilarham. 3. Hajib dan Mahjub Hajib ialah ahli waris yang menutup hak pusaka ahli waris yang lain. Sedang Mahjub ialah ahli waris yang ditutup hak pusakanya. Perbuatan menutupnya disebut Hijab. Isteri itu tidak dapat menjadi hajib terhadap ahli waris siapapun saja, dan tidak dapat di-hijab-hirman (hijab yang berakibat haram mempusakai) oleh ahli waris siapapun juga, tetapi ia dapat di hijab-nuqhson (hijab yang berakibat berkurangnya fardh) oleh: a. Anak laki-laki/perempuan b. Cucu laki-laki/perempuan pancar laki-laki

KETENTUAN-KETENTUAN UMUM DAN KAIDAH BERHITUNG I. KETENTUAN-KETENTUAN UMUM

Seluruh ahli waris ashabul-furudh, selama mereka tidak terhalang dengan adanya salah satu mawaniil-irtsiatau terhijaboleh ahli waris yang terdekat nashabnya dengan si mati, merupakan kesatuan ahli waris yang bulat yang masing-masingnya harus menerima bagian harta peninggalannsebanding dengan besar kacilnya furudh mereka. a. Tidak dibenarkann adanya penyisihan salah seorang dari ashabul furudh dalam menerima bagian harta peninggalan, dengan alasan bahwa harta peninggalan telah dihabiskan oleh ahli waris yang mempunyai fardh lebih besar. b. Tidak dibenarkan bahwabagian salah seorang ashabul furudhdikurangi daripada kadar yang telah ditentukan oleh Tuhan demi mencukupibagian ahli waris yang lain. c. Jika masing-masing dari ashabul furudh telah menerima bagian sesuai dengan fardhfardh mereka, tetapi ternyata masih terdapat kelebihan, kelebihan ini tidak boleh diserahkan kepada baitulmal, selama masih ada ahli waris yang berhak dan pantas menerima sisa lebih tersebut, selain ahli waris ashabah d. Jika fardh-fardh ahli waris tidak sampai menghabiskan harta peninggalan, sedang diantara mereka ada yang berhak menerimaushubah (sisa), maka sisa lebih itu harus diterimakan padanya.

20 | P a g e

II.

KAIDAH BERHITUNG

A. Sistim Asal-masalah Sistim asal-masalah ialah suatu cara menyelesaikan pembagian harta pusaka dengan mencari dan menetapkan asal masalah (KPT) dari fardh-fardh para ahli waris. Sistim ini adalah satu-satunya sistim yang dipergunakan oleh para ahli faraidh dalam menyelesaikan pembagian harta pusaka. B. Sistim perbandingan yang diperbandingkan dalam sistem ini adalah seluruh fardh ahli waris satu sama lain. 4. Hikmah isteri dapat mempusakai dari sebab perkawinan 1. Setiap pihak dari suami istri menjadi penolong yang setia dalam mengemudikan bahtera hidup, memupuk pendidikan dan membiayai pengajaran anak-anaknya. Adalah tidak layak kalau pengorbanan suami atau isteri ini, baik moril maupun materil tidak mendapatkan tegenprestasi. Tegenprestasi itupun sebenarnya belum seberapa jika dibandingkan dengan prestasi yang telah dikeluarkan. Sebagai imbalan dari pengorbanan tersebut syara memberikan hak pusaka kepada mereka biila salah seorang mati dengan meninggalkan harta peninggalan. Hak itu sedemikian kokohnya sehingga pemiliknya tidak dapat dihijab okeh siapa saja, hanya ia dapat di hijannuqhson oleh faru-warits. 2. Dalam beberapa hal sering terjadi bahwa seorang suami meninggal dunia, meninggalkan isteri yang umurnya sudah tidak pantas untuk kawin lagi. Pemberian pusaka kepada isteri yang demikian ini besar artinya, sampai nanti ada orang lain yang akan menanggung nafkahnya. 3. Kadang-kadang juga isteri yang ditinggal mati itu dalam keadaan melarat serta tidak ada orang lain yang menafkahinya sampai iddahnya dan dapat kawin kembali denggan orang lain.

B. PUSAKA SUAMI
1. Bagian suami Dalam mempusakai harta peninggalan isterinya, suami mempunyai dua macam fardh yakni : 1. Separuh. Suami dapat mempusakai isterinya dengan fardh ini dalam keadaan bila isterinya tidak mempunyai faru-warits. Dengan demikian kalau isteri ini mempunyai faru-ghairu-warits, suuami tetap mandapat fardh. 2. Seperempat. Suami memperoleh fardh seperempat ini dalam keadaan bila isterinya meninggalkan faru-warits. Faru-warits yang dimaksud ialah baik lahir dari suami yang menjadi pewaris ini maupun dari suami yang lain (terdahulu) 2. Dasar hukum Dasar hukum dua macam bagian suami ini ialah firman Tuhan dalam surat anNisa : 12.
21 | P a g e

3. Hajib dan Mahjub Suami tidak dapat menjadi Hajibb seorang agli waris. Ia tidak dapat di hijab hirman oleh ahli waris siapa saja. Tetapi dapat di Hijab Nuqson oleh faru-warits, yakni dari fardh berkurang menjadi fardh

BAB : II PUSAKA AHLI WARIS NASABIYAH A. FURUUL-MAIYIT ( ANAK TURUN SI MATI) 1. ANAK PEREMPUAN SHULBIYAH a. Arti anak perempuan shulbiyah. Yang dimaksud dengan anak perempuan shulbiyah adalah anak perempuan yang dilahirkan secara langsung dari ibu yang meninggal, baik yang meningal itu ayahnya maupun ibunya. b. Bagian dan dasar hukumnya 1. Separuh, bila ia hanya seorang diri dan tidak mewarisi bersama-sama dengan saudaranya laki-laki yang menjadikan dia sebagai ashabah. Bila ia bersama-sama dengan saudaranya laki-laki ia menjadi ashabah bil-ghair, yakni sama-sama menerima sisa harta peninggalan dari ashabul-furudh atau menerima seluruh harta penninggalan bila si mati tidak menmpunyai ahli waris ashabul-furudh, dengan ketentuan bahwa ia menerima separuh bagian saudaranya yang laki-laki. Dalil-dalil yang menetapkan bagian anak perempuan shulbiyah fardh adalah : Firman Tuhan dalam surat an-Nisa ayat : 11 2. Dua Pertiga, bila anak perempuan tersebut dua orang atau lebih dan tidak bersama-sama mewarisi dengan saudaranya laki-laki yang menjadikannya ashabah bersama ( ashabah biil-ghair ) Dalil-dalil yang menetapkan dalam surat an-Nisa ayat 11 3. Ushubah, bila ia mewarisi bersama-sama dengan saudara laki-lakinya baik anak perempuan tersebut tunggal maupun banyak dan baik anak lakilakinya tunggal atau banyak. Ketentuan ini bersumber dari firman Tuhan dalam surat an-Nisa ayat 7 c. Hajib dan Mahjubnya anak perempuan shulbiyah Sebagai anak si mati yang mempunyai pertalian nasab yang sangat dekat ia mempunyai wewenang menghijab( menutup ) ahli-ahli waris yang pertalian nasabnya dengan si mati sudah jauh, untuk mempusakai harta peninggalan si mati.wewenang menghijabnya, dimana ia berfungsi sebagai hajib, ada 2 macam, yakni :
22 | P a g e

a. Hijab Hirman (hijab yang berakibat haram mempusakai ) b. Hijab Nuqson ( hijab yang berakibat mengurangi fardh) Para ahli waris ashhabul furudh yangterhijab hirman olehnya ialah : 1. Saudar seibu 2. Saudari seibu 3. Cucu perempuan pancar laki-laki (bintul ibni) Adapun para ahli waris yang terhijab Nuqson olehnya ialah : 1. Ibu 2. Istri 3. Suami Sedangkan anak perempuan tidak dapat terhijab sama sekali baik hijab hirman maupun hijab nuqson oleh ahli waris siapa saja. 2. ANAK LAKI-LAKI Anak laki-laki si mati itu bukan termasuk aghli waris ashabul furudhb ahli waris yang mendapatbagian yang sudah ditentukan kadarnya tetapi ia termasuk ahli waris ashabah,penerima sisa peninggalan dari ashabul-furudh atau penerima seluruh harta peninggalan bila tidak ada dzawil-furudh seorang pun. sebagai ahli waris utama, kendati pun kedudukannya dalam mewarisi hanya sebagai penerima sisa, ia tidak pernah dirugikan . sebab iadapat menghalang-halangi ahli waris lain untuk mempusakai dengan menggunakan hak hijab hirmannya atau dapat mengurangi bagian ahli waris dengan hak hijab nusonnya sedangkan ia tidak dapat dihijab oleh ahli waris siapa saja bahkan ia dapat menarik saudarinya untuk di ajak menerima ushubah bersama dengan penerimaan yang berlipati dua dari pada penerimaan saudarinya. a. Bagian anak laki-laki Bahwa bagian anak laki-laki dalam mempusakai adalah ushubah . adapun cara-cara dan ketentuan-ketentuan dalam mempusakai sebagai berikut : 1. Jika orng yabg mati hanya meninggalkan seseorang atau beberapa anak laki-laki saja, maka anak laki-laki mewarisi swluruh harta peninggalan secara tashib 2. Jika orang yang mati meninggalkan seorang atau beberapa orang anak laki-laki dan tidak meninggalkan anak perempuan seorangpun tetapi meninggalkan juga ahli waris ashabul-furudhm naka anak laki-laki tersebut mendapat sisa setelah diambil oleh para ashabul-furudh

23 | P a g e

3. Jika orang yang mati meninggalkan anak laki-laki dan perempuan atau meninggalkan anak laki-laki anak perempuan dan ahli waris ashabulfurudh maka seluruh harta peninggalan atau sisa harta peninggalan setelah diambil oleh ashabul-furudh dibagi berdua denga ketentuan anak laki-laki mendapat dua kali lipat anak perempuan. b. Hajib dan Mahjub Kebanyakan para ahli waris dapat dihijab oleh anak laki-laki , kecuali : 1. Ibu 2. Bapak 3. Suami 4. Istri 5. Anak perempuan 6. Kakek 7. Nenek shahihah 3. CUCU PEREMPUAN PANCAR LAKI-LAKI (BINTUL-IBNI) a. Arti bintul-ibni Cucu perempuan pancar laki-laki ialah anak perempuan dari anak laki-laki yang meninggal (bitul-ibni) dan anak perempuan nya cucu laki-laki pancar laki-laki (bintu-ibnil-ibni) betapapun jauh menurunnya b. Bagian dan Dasar hukumnya 1. Separuh, bila ia hanya seorang diri 2. Dua pertiga bila ia dua orang atau lebih. 3. Ushubaho bila ia mewarisi bersama-sama dengan orang laki-laki yang sederajat yang menjadikannya ashabah bersama. c. Hajib dan Mahjubnya Cucu perempuan pancar laki-laki dapat menghijab ahli waris 1. Saudara(si mati) se ibu 2. Saudari (si mati ) se ibu. Ia dapat dihijab ahli waris : 1. Dua orang anak perempuan shulbiyah Sebab apabila mereka berkumpul dua oranganak perempuan shulbiyah saja harus memerlukan fardh 2/3 padahal maksimal bagian mereka semuanya hanya 2/3. Oleh karena itu dalam keadaan mereka berkumpul dengan dua orang anak perempuan anak shulbiyah atau lebih, cucu perempuan pancar laki-laki tersebut sudah tidak mendapatkan bagian sedikitpun 2. Dua Orang Cucu Perempuan panca laki-laki yang lebih tinggi derajatnya, Bila tidak ada muashshib yang mendampinginya.

24 | P a g e

3. Faru-warits laki-laki yang lebih tinggi derajatnya,seperti anak laki-laki atau cucu laki laki yang lebih tinggi derajatnya baik ia tunggal maupun berbilang, baik bersama-sama dengan muashshibnya maupun tidak. 4. CUCU LAKI-LAKI PANCAR LAKI-LAKI (Abnaul-Abanai) Cucu-cucu pancar laki-laki adalah termasuk faru-warits, yaitu anak turun si mati yang mempunyai hak mewarisi. a. Dasar Hukum pusaka cucu-cucu pancar laki-laki Disamping atas dasar pemakaian istilah walad secara mutlak, yang dapat diterapkan untuk anak turun betapa jauh derajat menurunnya, terdapat juga perkataan salah seorang sahabat uolama ilmu faraidh yang terkenal, yaitu Zaid bin Sabit r.a., yang dapat digunakan sebagai su-mber menetapka pusaka cucu laki-laki atau perempuan pancar laki-laki.

b. Pusaka cucu laki-laki pancar laki-laki Hak pusaka cucu laki-laki pancar laki-laki ialah ushubah dengan ketentuan sebagai berikut : a. Jika si mati tidak mempunyai anak dan tidak ada ahli waris yang lain ,ia menerima seluruh harta peninggalan secara ushubah, dan kalau ada ahli waris ashabul-furudh ia menerima sisa dari ashabul-furudh. b. Jika cucu itu mewarisi bersama-bersama saudari-saudarinya ia membagi semua harta peninggalan atau sisa harta dari ashabul-furudh dengan saudari-saudarinya menurut perbandingan dua banding satu (2:1). Untuk orang laki-laki menerima dua kali bagian orang perempuan. c. Hajib dan Mahjubnya kebanyakan ahli waris dapat di-hijab olehnya, kecuali: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Ibu Ayah Suami Isteri Anak perempuan Cucu perempuan pancar laki-laki. Kakek shahih dan Nenek shahihah.

Dia sendiri sebagai ahli waris ashabah dapat dihijab oleh: setiap laki laki yang lebih tinggi derajatnya dari padanya.
25 | P a g e

HIKMAH ORANG LAKI-LAKI MENERIMA DUA KALI LIPAT BAGIAN ORANG PEREMPUAN Syariat memeberikan bagian orang laki-laki lebih banyak dari bagian orang perempuan adalah sebagai imbalan karena tanggung jawabnya lebih besar dari tanggung jawab orang perempuan. Ia sebagai pemimpin atau calon pemimpin harus berusaha sekuat tenaga untuk mencari nafkah dan mencuikupi kebutuhan keluarganya, dan orang-orang yang berada dibawah tanggungannya.

5. ANAK DALAM KANDUNGAN a. syarat-syarat untuk memperoleh pusaka 1. Sudah berwujud dalam rahim ibunya dikala orang yang mewariskan mati. 2. Dilahirkan dalam keadaan hidup b. penganiayaan terhadap janin Anak yang mati akibat penyiksaan tidak dapat mewarisi harta peninggalan ahli warisnya. Karena diragukan hidupnya dan tidak dapat diwarisi harta peninggalanya, selain yang berupa uang ganti rugi itu saja. c. Masa kandungan untuk pusaka rahim Untuk menetapkan perwujudan sang bayi didalam rahim ibunya hendaklah diperhatikan: a. Tenggang waktu yang sependek-pendeknya antara akad perkawinan dengan kelahiran anak. b. Tenggang waktu yang sepanjang-panjangnya antara putusnya perkawinan dengan kelahiran anak. 6. ANAK ZINA DAN ANAK LIAN a. Arti anak zina dan anak lian Anak zina ialah anak yang dilahirkan diluar perkawinan yang sah menurut syariat. b. Pusaka anak zina dan anak lian Mereka dapat mempusakai ibunya dan kerabat dari ibunya dengan jalan fardh saja tidak dengan jalan lain. Demikian juga ibunya dan kerabat ibunya dapat mewarisi dengan jalan fardh saja tidak dengan jalan lain.

26 | P a g e

7. PUSAKA ANAK ANGKAT Di samping anak angkat itu mendapat warisan dari bapak angkatnya, ia masih menerima warisan dari bapaknya sendiri. Hak waris yang kembar bagi anak angkat ini diibaratkan oleh Joyo Tirto, sebagai orang yang dapat menerima air dari dua sumber air. 8. PUSAKA ANAK TIRI Anak tiri ialah anak salah seorang suami atau isteri hasil dari perkawinannya dengan isteri atau suaminya yang dahulu. Oleh karena sebab mempusakai menurut islam itu sudah ditegaskan yaitu karena perkawinan, hubungan keturunan sebab dari ketiga sebab -sebab mempusakai terhadap bapak atau ibu tirinya, maka ia tidak dapat mempusakai harta peninggalan bapak atau ibu tirinya yang meninggal dunia. Ia hanya dapat mempusakai harta peninggalan bapak atau ibunya yang sejati dan keluaraga-keluarga mereka.

B. USHULUL MAIYIT (LELUHUR SI MATI) 1. PUSAKA IBU a. Bagian ibu dan dasar hukumnya. Ibu tidak dapat mempusakai dengan jalan ushubah, karena tidak ada orang yang menyebabkannya menjadi ashabah (muashib). Ia hanya mempusakai dengan jalan fardh b. Hajib dan Mahjub Tidak ada seorangpun ahli waris yang dapat menghijab hirmanterhadap ibu, tetapi ada 2 orang ahli waris yang dapat menghijab nuqhson padanya. Mereka itu ialah: 1. faru waris, secara mutlak 2. dua orang saudara, secar mutlak Adapun para ahli waris yang dapat dihijab oleh ibu ialah: 1. ibunya ibu 2. ibunya ayah 2. PUSAKA NENEK SHAHIHAH a. Macam dan arti Nenek Nenek shahihah ialah leluhur perempuan yang dipertalikan kepada si mati tanpa memasukan kakek ghairu-shahih. Nenek ghairu-shahihah ialah leluhur perempuan yang dipertalikan nasabnya kepada si mati dengan memasukan kakek ghairu-shahih. b. Bagian seorang nenek Seluruh ahli ilmu telah sepakat menetapkan bahwa bagian nenek itu ialah seperenam. c. Hajib dan Mahjub para ahli waris yang dapat menghijab nenek ialah Ibu, Ayah, Kakek shahih, Nenek yang dekat

27 | P a g e

3. PUSAKA AYAH a. Bagian ayah dan dasar hukumnya 1. seperenam 2. seperenam dan ushubah (Qs. An-nisa :11) 3. Ushubah Ayah dapat mempusakai dengan tiga macam jalan, yaitu: 1. Fardh melulu 2. Fardh dan Ushubah 3. Ushubah melulu b. Hajib dan Mahjub Para ahli waris pada umumnya dapat dihijab oleh Ayah, kecuali: 1. Anak 2. Ibu 3. Suami 4. Isteri 5. Nenek shahihah Ayah tidak dapat dihijab sama sekali oleh ahli waris siapapun.

4. PUSAKA KAKEK a. Arti kakek dan macamnya Kakek shahih ialah kakek yang hubungan nasabnya dengan si mati tanpa diselingi oleh orang perempuan. Kakek ghairu shahih ialah kakek yang hubungan nasabnya dengan si mati dengan diselingi oleh orang perempuan. b. Status kakek shahih dalam mempusakai Nash-nash yang diambil sebagai sumber hukum untuk menetapkan bagian ayah dalam mempusakai, berlaku juga untuk menetapkan bagian kakek selama ayah masih ada, kakek tidak dapat mempusakai, karena ia dipertalikan nasabnya dengan si mati melalui ayah. c. Pusaka kakek shahih 1. 1/6 fardh 2. 1/6 fardh dan sisa dengan ushubah 3. ushubah d. Hajib dan Mahjub para ahli waris yang termahjub oleh kakek shahih ialah: 1. saudara-saudara kandung 2. saudara-saudara seayah 3. Saudara-saudara seibu 4. Anak laki-lakinya saudara kandung 5. Anak laki-lakinya saudara 6. Paman sekandung 7. Paman seayah
28 | P a g e

8. Anak laki-lakinya paman sekandung 9. Anak laki-lakinya paman seayah 10. Kakek shahih yang lebih jauh Adapun ahli waris yang menghijabnya ialah: 1. Ayah 2. Kakek shahih yang lebih dekat dengan si mati. C. AL-HAWASYI KERABAT MENYAMPING 1. PUSAKA SAUDARI KANDUNG 1. Bagian saudari kandung 1. separoh 2. dua per tiga 3. ushubah (bilghair) 4. ushubah (maal ghair) 2. dasar hukumnya Dalil yang dijadikan dasar hukum menetapkan bagian saudari, yakni separoh, dua per tiga, dan ushubah, ialah firman Allah diakhir surat An-nisa: 176. 3. hajib dan Mahjub Bila seorang atau beberapa orang saudari kandung bersama-sama dengan anak perempuan atau cucu perempuan pancar laki-laki mereka dapat menghijab ahli waris seperti: 1. saudara seayah 2. Anak laki-laki saudara seayah-ibu 3. Anak laki-laki saudara seayah 4. Paman seayah-ibu 5. Paman seayah 6. Anak laki-laki paman seayah-ibu 7. Anak laki-laki paman seayah 8. saudari seayah Adapun ahli waris yang menghijab saudari kandung, baik tunggal maupun banyak, baik bersama-sama dengan saudara kandung maupun tidak ialah: 1. Anak laki-laki 2. Cucu laki-laki pancar laki-laki 3. Ayah 2. PUSAKA SAUDARI SEAYAH a. bagian saudari seayah 1. separoh 2. Dua pertiga 3. ushubah (bil ghair) 4. Ushubah (maal ghair) 5. seperenam sebagai pelengkap dua pertiga

29 | P a g e

b. Dasar hukum dalil yang dipergunakan untuk menetapkan bagian saudari seayah pada nomor 1 s/d 4 ialah yang dipakai juga menetapkan bagian-bagian saudari sekandung. Adapun bagian saudari seayah nomor 5 ditetapkan oleh dalil Qiyas. c. Hajib dan Mahjub Jika bersama-sama dengan saudara seayah ia dapat menghijab: 1. Anak laki-laki saudara (kemenakan) seayah-ibu 2. Kemenakan seayah 3. Paman seayah-ibu 4. Paman seayah 5. Anak laki-lakinya paman (saudara sepupu) seayah-ibu 6. Saudara sepupu seayah Adapun para ahli waris yang dapat mnghijab saudari seayah ialah: 1. Anak laki-laki 2. Cucu laki-laki 3. Ayah 4. Saudara (laki-laki) seayah-ibu 5. Saudari sekandung yang menjadi ashabah maal ghair 6. Dua orang saudari kandung, jika saudari seayah tidak mewarisi bersama dengan muashibnya 3. PUSAKA SAUDARA-SAUDARI TUNGGAL IBU (AULADUL-UMMI) a. Arti dan bagian mereka saudara-saudari tunggal ibu ialah anak-anaknya ibu si mati. 1. seperenam 2. sepertiga b. Sumber hukum Dalil yang menetapakn bagian auladul-ummi ialah Firman Allah dalam surat Annisa:12 c. Hajib dan mahjub mereka dapat dihijab oleh ahli waris: 1. anak laki-laki 2. ayah 3. Kakek shahih 4. PUSAKA SAUDARA KANDUNG a. Cara mempusakai Hak pusaka saudara-saudara itu dengan jalan ushubah. Yang demikian itu dngan ketentuan apabial mereka tidak bersama-sama dengan ahli waris yang menghijabnay, dan tidak bersama-sama dengan kakek shahih. Kalau mereka bersama -sama dengan kakek shahih mereka membgai sama rata dengan kakek. b. dasar hukum dalil yang menetapkan bagian saudara-saudara sekandung ini ialah: Qs. An-Nisa:176. Hadist yang diriwayatkan oleh jabir r.a tentang protes isteri Saad bin Rabi.
30 | P a g e

c. Hajib dan Mahjub para ahli waris yang terhijab oleh saudara laki-laki sekandung ialah: 1. Saudara seayah 2. anak laki-laki saudara sekandung 3. anak laki-laki saudara seayah 4. paman sekandung 5. paman seayah 6. Anak laki-laki paman sekandung 7. Anak laki-laki paman seayah Adapun para ahli waris yang dapat menghijab saudar sekandung ialah: 1. ayah 2. anak laki-laki 3. cucu laki-laki pancar laki-laki 5. PUSAKA SAUDARA SEAYAH a. Cara mempusakai Cara pusaka saudara seayah ialah dengan ushubah, bila tidak ada ahli waris yang menghijabnya sebagaimana halnya cara pusaka saudara kandung. Hanya saja kalau sudah tidak ada sisa harta peninggalan mereka mereka tidak dapat menggabungkan diri kepada saudara-saudar seibu dalam mendapatkan 1/3, lantaran mereka tidak mempunyai garis yang sama dalam mempertemukan nasabnya kepada ibu, seperti halnya saudara-saudara kandung. b. Hajib dan Mahjub para ahli waris yang termahjub oleh saudara seayah ialah: 1. Anak laki-laki saudara sekandung 2. Anak laki-laki saudara seayah 3. paman sekandung 4. Paman seayah 5. Anak laki-laki paman sekandung 6. Anak laki-laki paman seayah Adapun para ahli waris yang dapat menghijab saudara seayah ialah: 1. Saudara sekandung 2. Ayah 3. Anak laki-laki 4. cucu laki-laki pancar laki-laki 5. saudari sekandung bila bersama anak perempuan atau cucu perempuan pancar lakilaki.

31 | P a g e

6. PUSAKA ANAK-ANAK SAUDARA (KEMENAKAN LAKI-LAKI), PAMANPAMAN DAN ANAK-ANAK PAMAN (SAUDARA SEPUPU LAKI-LAKI) Mereka ini semua tergolong ahli waris ashhabah yang utama setelah anak laki laki, cucu laki-laki pancar laki-lakibetapajauh menurunnya, bapak, kakek, betapa tinggi mendakinya, saudara-saudara seayah. Bila mereka berkumpul dalam jihat yang sama, maka yang harus didahulukan ialah mereka yang hubungan kekerabatannya lebih dekat dengan si mati. Hajib dan Mahjub a. Anak laki-laki saudara sekandung dapat menghijab ahli-ahli waris. 1. Anak laki-laki saudara seayah (kemenakan laki-laki seayah) 2. Paman sekandung 3. Paman seayah 4. Anak laki-laki paman seayah 5. Anak laki-laki paman seayah. Para ahli waris yang dapat menghijab anak laki-laki saudara sekandung, ialah: 1. Anak laki-laki 2. cucu laki-laki 3. Bapak 4. Kakek 5. Saudara (laki-laki) sekandung 6. Saudara seayah 7. Saudari sekandung atau seayah yang menjadi ashabah maal ghair bersama -sama dengan anak perempuan atau cucu perempuan. b. Anak laki-laki saudara seayah dapat menghijabahli waris 1. Paman sekandung 2. Paman seayah 3. Anak paman sekandung 4. Anak paman seayah Para ahli waris yang dapat menghijab anak laki-laki saudara seayah ialah: 1. Anak laki-laki 2. Cucu laki-laki pancar laki-laki 3. Ayah 4. Kakek 5. Saudara sekandung 6. Saudara seayah 7. Anak laki-laki saudara sekandung 8. saudari sekandung atau seayah yang menjadi ashabah maal ghair bersama -sama dengan anak perempuan atau cucu perempuan. c. paman sekandung dapat menghijab para ahli waris : 1. Paman seayah 2. Anak laki-laki paman sekandung 3. Anak laki-laki paman seayah
32 | P a g e

Para ahli waris yang dapat menghijab paman sekandung, ialah: 1. Anak laki-laki 2. Cucu laki-laki pancar laki-laki 3. Ayah 4. Kakek 5. saudara sekandung 6. saudara seayah 7. Anak laki-laki saudara sekandung 8. Saudari sekandung atau seayah yang menjadi ashabah maal ghair bersama -sama anak perempuan. 9. Anak laki-laki saudara seayah d. paman seayah dapat menghijab para ahli waris: 1. Anak laki-laki paman sekandung 2. Anak laki-laki paman seayah Para ahli waris yang dapat menghijab paman seayah, ialah: 1. Anak laki-laki 2. Cucu laki-laki pancar laki-laki 3. Ayah 4. Kakek 5. Saudara sekandung 6. Saudara seayah 7. Anak laki-laki saudara sekandung 8. Saudari sekandung atau seayah yang menjadi ashabah maal ghair bersama -sama anak perempuan. 9. Anak laki-laki saudara seayah 10. Paman sekandung e. Anak laki-laki paman sekandung dapat menghijab ahli waris: Anak laki laki paman seayah saja. Para ahli waris yang dapat menghijab anak laki-laki paman sekandung, ialah: 1. Anak laki-laki 2. Cucu laki-laki pancar laki-laki 3. Ayah 4. kakek 5. Saudara sekandung 6. Saudara seayah 7. Anak laki-laki saudara sekandung 8. Saudari sekandung atau seayah yang menjadi ashabah maal ghair bersama -sama dengan anak perempuan atau cucu perempuan 9. Anak laki-laki saudara seayah 10. Paman sekandung 11. Paman seayah

33 | P a g e

f. Anak laki-laki paman seayah tidak dapat menghijab ahli waris siapapun. Tetapi ia dapat dihijab oleh ahli ahli waris: 1. Anak laki-laki 2. Cucu laki-laki pancar laki-laki 3. Ayah 4. Kakek 5. Saudara laki-laki sekandung 6. saudara laki-laki seayah 7. Anak laki-laki saudara sekandung 8. saudari sekandung atau seayah yang menjadi ashab maal ghair bersama-sama ah anak perempuan. 9. Anak laki-laki saudar seayah 10. Paman sekandung 11. Paman seayah 12. Anak laki-laki paman sekandung

Tentang Ashabah
Menurut bahasa Ashabah berarti kekerabatan, kekerabatan seorang laki-laki dengan ayah, di namakan Ashabah karena mengelilinginya. kata Ashabah artinya adalah mengelilingi untuk melindungi dan membela. sekelompok orang yang kuat dinamakan Ushbah, sebagaimana Firman Allah SWT : mereka berkata: jika ia benar-benar dimakan serigala sedang kami golongan orang yang kuat, sungguh demikian kami adalah orang-orangh paling merugi Qs. Yusuf:14 Adapun menurut istilah yang digunakan dalam ilmu waris yang tidak mempunyai. Yang tidak atau bagian sisa setelah diambil oleh ahli waris Ashhabul furudh. Ashabah ada 3: 1. Ashabah binnafsi adalah kerabat laki-laki yang bermishbah kepada mayit tanpa diselingi oleh orang perempuan. Ketentuan ini mengandung 2 pengertian, bahwa antara mereka dengan si mati tidak ada perantara sama sekali seperti anak laki laki dan ayah, dan terdapat perantara tetapi perantaranya bukan perempuan, seperti cucu laki-laki dari anak laki-laki. Dasar yang dijadikan dalam penetapan ashabah binnfsi, adalah hadits yang diriwayatkan ibnu abbas RA: Bahwa Rasullullah SAW bersabda : berikan harta pusaka kepada orang-orang yang berhak, setelah itu sisanya untuk orang laki -laki yang lebih utama Ashabah binnafsi mempunyai 4 jalur: a. Jalur anak meliputi anak-anak si mayit, kemudian cucu laki-laki pancar laki-laki dst kebawah. b. Jalur ayah meliputi ayah si mayit, kemudian kakek dat keatas.
34 | P a g e

c. Jalur saudara si mayit meliputi saudara laki-laki seayah seibu, kemudian saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah seibu, anak laki-laki saudara laki-laki seayah dst kebawah. d. Jalur paman meliputi saudara laki-laki ayah seayah seibu, saudara laki-laki ayah seayah, putra saudara laki-laki ayah seayah seibu, putra saudara laki-laki ayah sebapak. 2. Ashabah bilghair adalah setiap perempuan yang memerlukan orang lain untuk menjadikan ashabah dan untuk bersama-sama menerima ushubah. Ashabah bilghair ada 4 orang wanita, mereka itu adalah: a. Anak perempuan kandung b. Cucu perempuan pancar laki-laki c. Saudari sekandung d. Saudari tunggal ayah Ia bersama-sama dengan muashibnya menerima sisa harta peninggalan dari ashhabul furudh atau seluruh harta peninggalan bila tidak ada ashhabul furudh, dengan ketentuan orang yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian orang perempuan, sebagaimana yang telah dijelaskan Tuhan dalam surat an -nisa: 11 dan 176. Orang laki-laki yang diperlukan untuk menjadikannya ashabah orang-orang perempuan tersebut dan ikut bersama-sama dengan mereka dalam menerima ushubah ialah anak laki-laki kandung, cucu laki-laki pancar laki-laki, saudara kandung, saudara seayah, kakek. Syarat-syarat orang perempuan menjadi ashabah bilghair: a. Perempuan tersebut hendaknya tergolong ahli waris ashhabul furudh. b. Adanya persamaan jihat antara orang perempuan ashhabul furudh dengan muashibnya. c. Adanya persamaan derajat antara orang perempuan ashhabul furudh dengan muashibnya. d. Adanya persamaan kekuatan kerabat antara perempuan ashhabul furudh dengan muashibnya. 3. Ashbah Maalghair adalah setiap perempuan yang memerlukan orang lain untuk menjadikan ashabah, tetapi orang lain teersebut tidak berserikat dalam menerima ushubah. Muashibnya tetap menerima bagian menurut fardhnya sendiri. Ashabah maalghair hanya ada 2 orang yaitu: a. Saudari kandung b. Saudari tunggal ayah Kedua orang tersebut dapat menjadi ashabah maalghair dengan syarat: a. Berdampingan dengan seorang atau beberapa orang anak perempuan atau cucu perempuan pancar laki-laki dst kebawah b. Tidak berdampingan dengan saudaranya yang menjadi mushibnya. Dasar hukum pusak maalghair adalah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh ibnu Masud RA.
35 | P a g e

aku putuskan masalah itu sesuai dengan putusan nabi Muhammad saw. Untuk anak perempuan separoh, untuk cucu perempuan pancar laki -laki seperenam sebagai pelengkap dua pertiga dan sisanya untuk saudari 4. Pusaka Dzawil Arham 1. Arti Dzawil arham Keluasan arti dzawil arham tersebut diambil dari pengertian lafadz arham yang terdapat dalam surat Al-anfal:75, Tetapi ulama ulama faraidh mengkhususkan istilah dzawil arham kepada para ahli waris selain ashhabul furudh dan ashabah, baik laki-laki , maupun perempuan dan baik seorang maupun berbilang. 2. Pusaka dzawil arham 3. Syarat-syarat pusaka dzawil arham a. Sudah tidak ada ashhabul-furudh atau ashabah b. Bersama dengan salah seorang suami istri 4. Bagian dzawil arham dancara membagikannya. a. Al-Qarabah (dekatnya hubungan kerabat) b. At-Tanzil (penempatan kepada status kerabat yang menyebabkan adanya pertalian nasab dengan si mati) c. Ar-rahim (kekerabatan)

I. AZAS MADZHAB AHLIL-QARABAH Yang dimaksud dengan azas al-qarabah ialah suatu azas dalam membagikan harta peninggalan kepada dzawil arham berlandasan dengan dekatnya hubungan nasab antara dzawil arham dengan orang yang meninggal. II. AZAS MADZHAB AHLIT-TANZIL Azas at-tanzil ialah suatu azas dalam membagikan pusaka kepada dzawil arham dengan menempatkan mereka kepada status ahli waris yang menjadikan sebab (mudla-bihi) adanya pertaliannasab dengan orang yang meninggal dan menggantikan bagiannya, sekiranya ia masih hidup.

36 | P a g e

III. AZAS MADZHAB AHLIRRAHIM Azas arrahim ialah suatu asas dalam membagikan harta pusaka kepada dz awil arham atas dasar pengertian rahim (kerabat) secara umum, yang dapat diterapkan dan mencakup kepada seluruh personalia dzawil arham, dengan tidak membedakan merekan satu sama lain dan tidak mengutamakan salah satu rumpun dari rumpun lainnya karena dekatnya atau kuatnya kekerabatan mereka.

BAB III PUSAKA WALAUL ATAQAH DAN ASHABAHNYA 1. Arti wala dan maulalataqah Yang disebut dengan walaulataqah dalam ilmu mawarits adalah: kekerabatan menurut hukum yang timbulantara orang yang telah membebaskan dengan orang yang telah dibebaskan-perbudakkannya yang pantas dijadikan suatu sebab yang sah menurut syariat untuk memberikan pusaka orang yang membebaskan dari harta peninggalan orang yang telah dibebaskan. 2. dasar hukum pusaka walaul-ataqah a. Sabda Rasullullah s.a.w b. Riwayat dari sahabat Abdullah bin Syaddad c. Anggapan Rasullullah s.a.w bahwa wala itu bagaikan kerabat 3. Atiq tidak dapat mempusakai peninggalan mutiq Oleh karena kewarisan mutiq dan ashabahnya itu semata-mata sebagai imbalan jasanya dalam memberikan hak emansipasi, kecakapan bertindak dan pelepasan hak perwalian kepada atiq, maka sudah selayaknya bahwa hanya si mutiq dan ashabahnya sajalah yang mempusakai hak mempusakai harta peninggalan atiq tidak sebaliknya. 4. Syarat-syarat mutiq dapat mempusakai Mutiq itu dapat mempusakai seluruh harta peninggalaln atiq bila atiq sudah tidak mempunyai ahli waris sama sekali. Pusaka mutiq dengan jalan ushubah (sababiyah) ini harus memnuhi ketentuan bahwa atiq atau ayah atiq tidak meninggalkan ahli waris ashbah-nasabiyahnya.

37 | P a g e

5. Cara-cara mutiq mendapatkan pusaka bila bersama-sama dengan ashabahfurudh atau dzawil-arham Terbatasnya syarat sebagaimana diuraikan diatas menimbulkan perbedaan pendapat diantara para ulama dalam memberikan pusaka kepada mutiq yang dalam keadaan bersama-sama dengan ashhabul furudh yang tidak dapat menghabiskan fardhnya atau bersama-samadengna dzawil-arham. 6. Perbedaan agama antara atiq dengna mutiq a. hak wala nya Tidak nampak adanya perselisihan diantara para ulama tentang hak walanya mutiq. Ia masih tetap memiliki hak wala, biarpun agamanya berbeda agama tiq b. Hak pusaka Argumentasi yang dikemukakan oleh para faradhiyun bertitik tolak kepada analogi yang logis terhadap status dan dasar memepusakai berdasarkan wala sebagai berikut : 1. memperoleh harta peninggalan atiq secara wala itu statusnya sebagai memperoleh harta peninggalan berdasarkan mempusakai. 2. Dasar memperoleh harta peninggalanatas dasar memperoleh harta peninggalan atas dasar mempusakai(nasab). 7. Ashabah maulal-ataqah Dalam hal ini ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam mempusakai ashabahnasabiyah berlaku untuknya. Ketentuan tersebut ialah mendahulukan mereka menurut tertib-tertib berikut ini: 1. kerabat laki-laki dari jihat bunuwah 2. kerabat laki-laki dari jihat ubuwah 3. kerabat laki-laki dari jihat ukhuwah 4. kerabat laki-laki dari jihat umumah 8. ashabah bilghair atau maal ghair bagi maulal ataqah Ashabah bilghair atau ashabah maal ghair mutiq, Yaitu orang-orang perempuan, tidak dapat memperoleh (mewarisi) hak wala. Sebab harta peninggalan si atiq ialah orang yang telah menganugerahkan pembebasan itu sendiri. Baru kemudian, bila ternyata si mutiq tidak mempunyai ahli waris sama sekali, berpindahlah kepada ashabah-binafsi.
38 | P a g e

Syarat-syarat penarikan wala: 1. bapaknya masih berstatus budak disaat kelahiran anak 2. ibunya masih dalam keadaan budak 3. tuan pemiliknya hendaklah membebaskan budaknya 9. rumpun-rumpun ashabah-sababiyah 1. Maulal-ataqah dan orang yang telah memerdekaannya atau orang yang telah memerdekakan orang yang telah memerdekakannya. 2. ashabah mutiq atau ashabah orang yang telah memerdekakannya atau orang yang telah memerdekakannya orang yang telah memerdekakannya. 3. orang yang mempunyai wala terhadap orang yang mewariskan (ibunya tidak merdeka asli) dengan perantaraan ayahnya , baik dengan cara penarikan, maupun lainnya, atau dengan perantaraan kakeknya tanpa penarikan.

39 | P a g e

BAGIAN KEENAM
HAL-HAL YANG ERAT HUBUNGANNYA DENGAN CARA MENYELESAIKAN PEMBAGIAN HARTA PUSAKA Faridhah-faridhah itu ada 3 macam, yaitu: 1. faridhah-adilah Yaitu apabila jumlah saham para ashhabul-furudh itu adalah sama besarnya dengan asalmasalah atau lebih kecil dari dari asal-masalah, tetapi ada ahli waris ashabah yang berhak menerima sisanya. 2. faridhah-ailah Yaitu apabila jumlah saham para ashhabul-furudh itu adalah lebih besar daripada asalmasalah. 3. faridhah-qashirah Yaitu apabila jumlah saham para ashabul-furudh itu adalah lebih kecil daripada asalmasalah serta tidak ada ahli waris yang berhak menerima sisanya. BAB I AUL 1. arti Aul Yaitu adanya kelebihan dalam saham-saham para ahli waris dari besarnya asal-masalah dan adanya penyusutan dalam kadar penerimaan mereka, dikarenakan asal masalahnya mepet, tidak cukup untuk memenuhi fardh-fardh dari ashabu-furudh. 2. kebutuhan adanya masalah Aul Jika jumlah saham para ahli waris itu lebih besar daripada asal-masalah, maka asalmasalahnya harus dinaikan. Akibat dari penambahan besarnya asal-masalah ini ialah pengurangan terhadap penerimaan para ahli waris hendaklah mengingat perbandingan fardh mereka, sebagaimana halnya dalam mengurangkan hak -hak kreditur untuk dipenuhi puitang mereka, juga utang mereka, apabila harta peninggalan si mati tidak mencuki untuk memenuhi semua hutang-hutangnya secara sempurna. Karena itu tidak dibenarkan jika hanya seorang kreditur saja yang dipenuhi pihutangnya sedang yang lain tidak dipenuhinya atau tidak dibayar sama sekali.

40 | P a g e

3. cara-cara mengerjakan masalah aul Sebagaimana telah dimaklum bahwa masalah aul itu jumlah saham -saham dari ashhabulfurudh lebih besar daripada asal-masalah, sehingga untuk memenuhi saham-saham mereka secara sempurna tidak cukup. Untuk itu asal-masalahnya harus dinaikkan dan sebagai akibatnya nilai per saham menjadi kurang. BAB II RADD 1. Arti Radd Pengembalian sisa lebih kepada mereka yang berhak menerima kelebihan ini oleh faradhiyun terkenal dengna nama radd. Secara definitive menurut ilmu mawarits adalah penambahan pada bagian-bagian ahli waris dan pengurangan pada saham-sahamnya 2. Rukun-rukun Radd 1. Terwujudnya ashhabul-furudh 2. Terwujudnya kelebiahn saham 3. Terwujudnya ahli waris ashabah 3. Perselisihan para fuqaha tentang ada atau tidaknya radd Par fuqaha dari kalangan sahabat, Tabiin, Pembina-pembina madzhab yang terkenal, Ahli Sunnah, Ahli Syiah dan ahli Zhahir memperselisihkan tentang ada atau tidaknya masalah radd dalam pembagian harta peninggalan. Karena tiada nash yang sharih , baik dari Al-Quran maupun Al-Hadits yang mereka sepakati. Perselisihan mereka dalam masalah ini pada prinsipnya ada 2 pendapat yaitu : a. Radd itu ada b. Radd itu tidak ada. 4. Para ahli waris yang berhak menerima radd Para ahli waris yang berhak menerima radd itu berjumlah 12 orang, 4 orang terdiri dari laki-laki, yaitu: 1. suami 2. ayah 3. kakek shahih 4. saudara
41 | P a g e

Dan yang 8 dari orang perempuan yaitu: 1. isteri 2. ibu 3. nenek shahihah 4. saudari kandung 5. saudari seayah 6. saudar seibu 7. anak perempuan 8. cucu perempuan 5. cara-cara untuk menyelesaikan masalah radd A. jika diantara para ahli waris tidak didapatkan seorang yang ditolak men erima radd, maka penyelesaiannya dapat dijalankan menurut salah satu dari cara=cara berkut ini: Pertama: a. dicari lebih dahulu saham-saham para ahli waris ashhabul-furudh, b. saham-saham para ashhabul-furudh tersebut dijumlahkan, c. jumlah dari saham-saham itu dijadikan asal-masalah baru, sebagai pengganti asalmasalah yang lama. Kedua: Jumlah sisa lebih dari harta peninggalan, setelah diambil untuk memenuhi bagian para ashhabul-furudh, diberikan lagi kepada mereka menurut perbandingan fardh (sahamsaham) mereka masing-masing. Ketiga: Dengan memperbandingkan fardh-fardh (saham-saham) mereka satu sama lain. Kemudian angka-angka perbandingan ini dijumlahkan. Jumlah tersebut dipergunakan untuk membagi seluruh harta peninggalan, sehingga diketahui nilai satuan angka perbandingan, tentu diketahui pula jumlah bagian mereka masing-masing. B. jika diantara para ahli waris terdapat seorang yang ditolak menerima radd, maka dapat diselesaikan dengan cara-cara sebagai berikut:

42 | P a g e

Pertama : a. seluruh ashhabul-furudh diambilkan bagiannya masing-masing menurut besarkecilnya fardh mereka, kemudian b. sisa lebihnya diberikan kepada mereka yang berhak saja, menurut perbandingan fardh atau saham mereka masing-masing dan kemudian penerimaan mereka dari kelebihan ini dijumlahkan dengan penerimaan mereka yang semula. Kedua: a. orang yang ditolak menerima radd diambilkan bagiannya lebih dahulu, kemudian b. sisanya diberikan kembali kepada para ashabul-furudh yang berhak menrima radd, dengan cara: 1. saham-saham mereka dijumlah untuk dijadikan asal-masalh baru dalam radd 2. mencari asal-masalah baru berdasarkan fardh-fardh mereka, kemudian jumlah saham-saham dari asal-masalah baru itu dijadikan asal-masalah yang baru lagi dalam radd.

BAB III HAJAB (HIJAB) 1. arti hijab Ahli waris yang tidak dapat mewarisi sama sekali atau dapat mewarisi tetapi bagiannya menjadi berkurang, karena keadaan ini disebut dengan mahjub. Secara difinitif yang dikatakan hijab itu ialah: tertutupnya seorang ahli waris tertentu dari mempusakai, baik terintang seluruh ataupun sebagian hak penerimaannya, lantaran terwujudnya seorang ahli waris lain 2. perbedaan anatra mhajub, memnu (mahrum) dan ghairu-warits. Dari uraian yang baru lalu dapat kita tarik perbedaan -perbedaan antara mahjub, mamnu dan ghairu-warits dari dua segi. 1. ketiadaan menerima harta peninggalan a. pada mahjub, terhalangnya menerima harta peninggalan karena terwujudnya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dari padanya. b. pada mamnu, karena adanya salah satu dari mawaniul irtsi, bukan karena adanya pewaris yang lebih dekat kekerabatannya.
43 | P a g e

c. pada ghairu-warits, karena kehabisan harta peninggalan utuk memenuhi bagian ahli waris utama. 2. ketiadaan cakap bertindak a. pada mahjub, ketiadaan cakap bertindak itu hanya dalam mempusakai saja. Adapun kecakapan untuk menghijab ahli waris lainnya masih ada, kendatipun ia sendiri dihijab oleh orang lain. b. pada mamnu, ketiadaan cakap bertindak bagi mamnu adalah menyeluruh. Tidak saja untuk meperoleh harta peninggalan, tetapi juga untuk mempengaruhi ahli waris yang lain dalam hal penghijaban. c. pada ghairu warits, ketiadaan cakap bertindak baginya sama dengan ketiadaan cakap bertindak bagi mahjub. 3. macam-macam hijab a. Hijab-hirman, ialah terhijabnya seseorang ahli waris dalam memperoleh seluruh bagian lantaran terwujudnya ahli waris yang lain. Para ahli waris dalam hijab hirman ini terbagi kepada 2 kelompok. Kelompok pertama ialah mereka yang tidak dapat terhijab-hirman sama sekali, walaupun sebagian mereka kadang-kadang dapat terhijab nuqhsan. Mereka semuanya berjumlah 6 orang, 3 orang diantaranya laki-laki dan 3 orang lagi perempuan. Tiga orang laki-laki itu terdiri dari: 1. anak laki-laki 2. ayah 3. suami Tiga orang perempuan itu terdiri dari: 1. anak perempuan 2. ibu 3. isteri Kelompok kedua ialah mereka yang dalam satu keadaan dapat mempusakai dan dalam satu keadaan lain terhijab hirman. Mereka itu ialah selain 6 orang tersebut diatas, baik mereka tergolong ashhabul-furudh, maupun tergolong ashabah.

44 | P a g e

b. Hijab nuqhsan yakni terhijabnya sebagian fardh seorang ahli waris lantaran terwujud ahli waris yang lain. Akibat adanya hijab-nuqhsan ini bagian orang yang terhijab menjadi lebih kecil dari pada bagiannya semula sebelum terhijab. Para ahli waris yang terhijab-nuqhsan ini ada 5 orang, yaitu: 1. suami 2. isteri 3. ibu 4. cucu perempuan pancar laki-laki 5. saudari seayah Para ahli warits ashhabul-furudh yang dapat terhijab-hirman dan dapat pula terhijabnuqhsan ialah: 1. cucu perempuan pancar laki-laki 2. saudari seayah 4. macam-macam hijab ditinjau dari keadaan hajib dan mahjub 1. hajib dan mahjub-nya seluruhnya adalah ashabah. 2. hajib dan mahjub-nya seluruhnya adalah ahlis-siham (ashabul furudh) 3. Hajib dan mahjub-nya sebagian ashabah dan sebagian lagi ashabul furudh

45 | P a g e

BAB IV TASHIHUL-MASALAH (PEMBULATAN ASAL-MASALAH)

a. Arti Tashhihul-masalah asal-masalah itu sangat diperlukan untuk mengetahui dan menentukan besarnya saham para ahli waris yang saham para ahli waris yang seharusnya mereka terima, setelah diketahui ketentuan atau fardh mereka masing-masing. Satu kelompok ahli waris dari seorang yang meninggal dunia kadang-kadang hanya terdiri dari seorang saja, umpamanya ahli waris dari kelompok anak laki-laki terdiri dari 5 orang dan ahli waris dari kelompok anak perempuan terdiri dari 7 orang dan lain sebagainya. Sedangkan saham yang diterimakan kepada mereka adalah atas nama kelompok mereka. oleh karena itu saham tersebut harus dibagikan kepada mereka yang termasuk dalam suatu kelompok dengan pembagian sama rata.

BAB V MUNASAKHAH (memindahkan bagian ahli waris kepada ahli waris Yang lain, lantaran adanya kematian ahli waris Sebelum pembagian harta pusaka) a. Arti munasakhah baik munasakhah diartikan menurut tarif yang pertama maupun yang kedua tidak terdapat perbedaan yang prinsip. Sebab kedua tarif tersebut sudah mengandung unsure-unsurnya. Unsur-unsur itu adalah: 1. harta pusaka si mati belum dibagi-bagikan kepada para ahli waris, menurut ketentuan pembagian harta pusaka. 2. adanya kematian dari seorang atau beberapa orang ahli warisnya.

46 | P a g e

3. adanya pemindahan bagian harta pusaka dari orang yang mati kemudian para ahli waris yang lain atau kepada ahli warisnya yang semula belum menjadi ahli waris terhadap orang yang mati pertama-tama. b. bentuk-bentuk munasakhah munasakhah mempunyai 2 bentuk: 1. Ahli waris yang bakal menerima pemindahan bagian pusaka orang yang mati

BAB VI PERJANJIAN PENGUNDURAN DIRI DALAM MENERIMA BAGIAN PUSAKA (Takharuj) a. Arti Takharuj Takharuj ialah suatu perjanjian yang diadakan oleh para ahli waris untuk mengundurkan (mengeluarkan) salah seorang ahli waris dalam menerima bagian pusaka dengan memberikan suatu prestasi tersebut berasal dari harta milik orang yang pada mengundurkannya, maupun berasal dari harta peeninggalan yang bakal dibagi-bagikan. b. Status takharuj Takharuj itu merupakan perjanjian dua-pihak. Satu pihak menyerahkan sesuatu tertentu sebagai prestasi kepada pihak laindan pihak lain menyerahkan bagian pusakanya, sebagai tegenprestasi, kepada pihak pertama. c. dasar hukumnya suatu atsar dari ibnu abbas ra. d. Bentuk-bentuk takharuj dan cara-cara membagikannya perjanjian takharuj itu mempunyai tiga bentuk. 1. seorang ahli waris mengundurkan seorang ahli waris yang lain dengan memberikan sejumlah uang atau barang yang diambil dari miliknya sendiri. Ketentuan-ketentuan dalam menyelesaikan pembagian harta peninggalan yang didalamnya didapati perjanjian takharuj bentuk ke 1 ini, ialah: a. Hendaklah dicari dahulu berapa besar saham atau penerimaan masing -masing ahli waris, termasuk juga saham pihak yang diundurkan.
47 | P a g e

b. Pihak yang diundurkan (mutakharaj), harus dianggap dan diperhitungkan sebagai ahli waris yang maujud yang harus dicari besar-kecilnya saham yang seharusnya diterima. c. Kemudian saham puhak yang diundurkan tersebut dikumpulkan (ditambahkan) kepada saham pihak yang mengundurkannya. d. Besarnya asal-masalah dalam pembagian harta pusaka sebelum terjadi takharuj tetap dipakai sebagai asal-masalah dalam pembagian harta pusaka setelah terjadinya perjanjian takharuj. 2. beberapa orang ahli waris mengundurkan seorang ahli waris dengan memberikan prestasi yang diambilkan dari harta peninggalan itu sendiri. Dalam perjanjian takharuj bentuk ke 2 ini, yaitu yang prestasinya diambilkan dari sebagian harta peninggalan itu sendiri, berlaku ketentuan-ketentuan sebagai berikut: a. Sisa harta peninggalan setelah diambil sebanyak yang dijadikan prestasiterhadap pihak yang diundurkan, dibagi antar para ahli waris menurut perbandingan saham mereka masing-masing sebelum terjadi perjanjian takharuj. b. Saham-saham mereka mereka kemudian dijumlah untuk dijadikan asal-masalah baru, sebagai pengganti asal-masalah yang lama yang harus ditinggalkan. c. pihak yang telah diundurkan, walaupun telah menerima sejumlah prestasi tertentu, tetap diperhitungkan bagiannya dalam memperhitungkan bagia para ahli waris yang mengundurkan, sebab kalau tidak demikian maka hasil dari penerimaan para ahli waris akan berlainan dan berlawanan dengan ijma. 3. beberapa orang ahli waris mengundurkan seorang ahli waris dengan member ikan prestasi yang diambil dari harta milik mereka masing-masing secara urunan. Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian takharuj bentuk ke 3 ini ialah: a. takharuj tidak mempengaruhi terhadap besarnya asal-masalah semula. b. ahli waris yang diundurkan, dalam pembagian harta pusaka kepada ahli waris yang mengundurkannya, dianggap tidak ada. c. Dalam memebagiakan harat pusaka kepada mereka yang mengundurkannya, mengingat corak-corak cara membayarnya.

48 | P a g e

BAGIAN KETUJUH
PUSAKA AHLI WARIS YANG DIRAGUKAN STATUSNYA BAB I PUSAKA KHUNTSA (ORANG BENCI) a. Arti khuntsa dan macam-macamnya Menurut istilah fiqhiyah ialah: Orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan perempuan atau tidak mempunyai kedua-duanya sama sekali. Untuk mengidentikannya dengan dua cara yaitu: Pertama: meneliti alata kelamin yang dilalui air kencing. Jika seorang anak khuntsa membuang air kecil dengan melalui dzakar atau melalui dzakar dan farj, tetapi air yang lewat dzakar lebih dahulu keluarnya daripada yang lewat farj , maka ia dianggap seorang laki-laki. Jika ia membuang air kecil dengan melalui farj atau lewat farj dan dzakar, tetapi air yang lewat farj lebih dahulu keluaranya, ia dianggap perempuan dan karenanya ia dapat mewarisi sebagaimana orang perempuan. Kedua: meneliti tanda-tanda kedewasaannya. Jika penelitian alat kelamin yang dipergunakan membuang air kecil tidak berhasil, maka dapat ditempuh jalan yang lain, yaitu meneliti ciri-ciri kedewasaan bagi si khuntsa. Sebagaimana diketahui bawa ciri-ciri kedewasaan seseorang disamping terdpat persamaan antara laki-laki dan perempuan terdpat juga ciri-ciri yang berlainan. b. Jumlah ahli waris khuntsa musykil 1. jihat bunuwah (garis anak), yaitu anak dan cucu. 2. jihat ukhuwah (garis saudara), yaitu saudara dan anak saudara 3. jihat umumah (garis paman), yaitu paman dan anak paman 4. jihat wala (perwalian budak). c. Cara-cara untuk menghitungkan kadar bagian khuntsa-musykil Para ulama telah sepakat dalam menghitung kadar bagian khuntsa musykil. Yaitu dengan memperkirakan dan menghitungnya sebagai orang laki-laki dan kemudian, sebagai orang perempuan. Tetapi kemudian mereka berselisih pendapat dalam menerimakan bagian pusaka khuntsa musykil setelah diketahui hasil dari kedua perkiraan tersebut. Menurut penyelidikan para ulama, bahwa hasil dari dua perkiraan tersebut tidak terlepas dari 5 keadaan, sebagai berikut:
49 | P a g e

1. baik dikira-kirakan laki-laki maupun perempuan si khuntsa menerima bagian yang sama besarnya. 2. perkiraan laki-laki lebih banyak penerimaannya daripada perkiraan perempuan 3. penerimaan atas perkiraan perempuan lebih banyak dari pada penerimaan perkiraan laki-laki. 4. hanya dapat menerima warisan kalau dikira-kirakan laki-laki saja, sedang jika dikirakirakan perempuan tidak dapat menerima warisan. 5. hanya dapat menerima warisan kalau dikira-kirakan perempuan saja, sedang jika dikirakirakan laki-laki tidak dapat menerima warisan. d. memberikan bagian (pusaka) dan para ahli waris lainnya. Para ulama ahli faraidh berbeda-beda pendapatnya mengenai cara-cara untuk memberikan bagian harta pusaka kepada khuntsa musykil setelah diketahui 2 macam penerimaan berdasarkan perkiraan laki-laki dan perkiraan perempuan dan bagian para ahli waris lainnya. Pendapat-pendapat tersebut pada garis besarnya ada 3 macam. 1. memberikan bagian yang terkecil lagi terjelek dari dua perkiraan bagian laki laki dan perempuan kepada khuntsa-musykil dan memberikan bagian yang terbaik dari dua perkiraan kepada para ahli waris yang lain. 2. memberikan bagian atas perkiraan yang terkecil dan meyakinkan kepada si khuntsa dan para ahli waris, kemudian sisanya yang masih diragukan ditahan dahulu sampai persoalan si khuntsa menjadi jelas atau sampai ada perdamaian bersama antar para ahli waris untuk saling hibah-menghibahkan sisa yang diragukan itu. 3. memberikan separoh dari dua perkiraan laki-laki dan pErempuan kepada si khuntsamusykil (juga kepada ahli waris lainnya) BAB II PUSAKA MAFQUD (orang yang hilang) a. arti mafqud oleh para faradhiyun mafqud itu diartikan dengan: orang yang sudah lama pergi meninggalkan tempat tinggalnya tidak diketahui kabar-beritanya, tidak diketahui domosilinya dan tidak diketahui tentang hidup dan matinya.

50 | P a g e

b. pusaka mafqud 1. sebagai muwarits 2. sebagai warits Pertama: sebagai muwarits (yang muwarits) Para ulama telah sepakat menetapkan bahwa harta milik si mafqud itu harus ditahan lebih dahulu sampai ada berita yang jelas bahwa ia benar-benar telah meninggal dunia atau diberi vonnis oleh hakim tentang kematiannya. Harta miliknya tidak boleh dibagi-bagikan kepada para ahli warisnya. Kedua: sebagai warits (yang mewarisi) Kebanyakan para fuqaha sependapat bahwa bagian si mahqud yang bakal diterimakan kepadanya ditahan dahulu, sampai jelas persoalannya. Hal itu disebabkan karena: a. sebagaimana diketahui bahwa salah satu syarat mempusakai bagi orang yang mewarisi itu ialah hidupnya orang yang yang mewarisi disaat kematian orang yang mewariskan. Padahal hidupnya mahqud, yang mewariskan, masih diragukan. b. memberikan harta pusaka kepadanya beserta adanya kemungkinan kematiannya adalah menimbulkan bahaya (kerugian) bagi para ahli waris.

BAB III PUSAKA ORANG YANG TERTAWAN (Asir) a. arti dan macam Asir asir ialah seseorang yang ditawan musuh akibat dari suatu peperangan. Tawanan perang ini kadang-kadang tidak diketahui dimana ia ditawan dan tidak diketahui pula tentang hidup atau matinya. b. pusaka Asir orang islam yang menjadi tawanan orang-orang kafir, tetap dianggap sebagai orang merdeka yang cakap bertindak untuk memiliki harta benda. Dalam hal ini dapat mewarisi harta peninggalan keluarganya yang telah meninggal, sepanjang ia tidak murtad dari agama islam.

51 | P a g e

BAB IV PUSAKA ORANG YANG MENDAPAT MALAPETAKA BERSAMA-SAMA (tenggelam, terbakat, tebunuh bersama-sama antar waris dan muwarisnya) a. pusaka mereka jika terjadi suaru malapetaka yang membawa korban bersama anatra waris dan muwaris, misalnya keduanya tenggelam bersama dalam lautan akibat tenggelamnya kapal yang ditumpangi bersama, pada sebuah rumah yang terbakar, atau mati bersama pada sebuah peperangan, dalam hal ini ada 2 pendapat: 1. mereka berdua tidak dapat saling mempusakai satu sama lain. Yang dapat mempusakai adalah para ahli waris mereka yang masih hidup saja. 2. mereka berdua saling dapat pusaka mempunyai satu sama lain terhadap harta benda yang ada mereka, bukan harta benda yang mereka warisi dari salah satu pihak.

52 | P a g e

BAGIAN KEDELAPAN
MASALAH-MASALH YANG DIBERI NAMA TERTENTU I. AKDARIYAH 1. pengertian masalah akdariyah Yang dimaksud dengan masalah akdariyah ialah masalah pembagian harta pusaka kepada ahli waris yang terdiri dari: a. suami b. ibu c. saudari kandung/tunggal ayah d. kakek (shahih) II. ASYRIYAH ZAID asyriyah zaid ialah salah satu dari empat masalah yang dibangsakan kepada Zaid. Tiga buah masalah Zaid yang lain ialah isyriniyah zaid, muhktasharah zaid, tisiniyah zaid. Adapun yang dikatakan masalah asyriyah zaid ialah suatu masalah yang ahali warisnya terdiri dari: a. kakek (shahih) b. seorang saudari kandung c. seorang saudara seayah III. BAKHILAH Masalah bakhilah ialah setiap masalah yang asal masalah 24 aul dengan 1/8-nya menjadi 27. Tiga hal yang menjadi kesimpulan dalam masalah bakhilah ialah: 1. bahwa orang yang meninggal itu ialah orang laki-laki (suami), sebab orang perempuan yang bakal mewarisinya itu hanya memperoleh 1/8 fardh. 2. orang perempuan (isteri) itu harus mewarisi bersama-sama dengan anaknya. 3. asal-masalah tidak dapat diaulkan lebih dari itu.

53 | P a g e

IV. KHARQA Yang disebut dengan masalah kharqa ialah suatu masalah pembagian harta pusaka yang para ahli warisnya terdiri dari: a. ibu b. saudari sekandung atau seayah c. kakek shahih sesuai dengan namanya kharqa yang artinya berlawanan, dikarenakan banyaknya perbedaan pendapat dari para shahabat, sehingga pendapat-pendapat tersebut seolah-olah berlawanan satu sama lain dalam menyelesaikannya. V. DINARIYAH Masalah dinariyah itu ada 3 macam, yakni: 1. dinariyah shugra 2. dinariyah kubra 3. dinariyah shugras-shugra 1. DINARIYAH SHUGRA Yang disebut dengan masalah dinariyah shugra ialah suatu masalah pembagian harta pusaka yang ahli warisnya terdiri dari: 1. 2 orang nenek 2. 3 orang isteri 3. 4 orang saudari seibu 4. 8 orang saudari kandung atau seayah. 2. DINARIYAH KUBRA Masalah dinariyah kubra ialah masalah pembagian harta pusaka yang ahli warisnya terdiri dari: 1. isteri 2. 2 orang anak perempuan 3. ibu 4. 12 orang saudara seayah
54 | P a g e

5. saudai seayah 3. DINARIYAH SHUGRAS-SHUGRA Ialah masalah yang ahli warisnya terdiri dari: 1. 4 orang saudari 2. 2 orang saudari seibu VI. GHARRA a. arti gharra ialah masalah pembagian harta pusaka yang ahli warisnya terdiri dari : 1. suami 2. 2 orang saudari seibu, 3. 2 orang saudari kandung VII. GHARRAWAIN Masalah gharrawain atau umiriyatain atau juga dengan gharibatain ialah masalah yang ahli warisnya terdiri dari: I 1. suami 2. ibu 3. ayah atau II 1. Isteri 2. Ibu 3. Ayah

VIII. IMTIHAN Masalah imtihan ialah masalah pembagian harta pusaka yang ahli warisnya terdiri dari: 1. 4 orang isteri 2. 5 orang nenek 3. 7 orang anak perempuan 4. 9 orang paman

55 | P a g e

IX. ISYRINIYAH (ZAID) Masalah isyriniyah (zaid) ialah masalah pembagian harta pusak yang ahli warisnya terdiri dari: 1. kakek 2 saudari kandung 3. 2 orang saudari seayah X. MAMUNIYAH Masalah mamuniyah ialah masalah seorang meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris : a. kedua ibu-bapak b. dua orang anak perempuan XI. MALIKIYAH Ulama-ulama malikiyah mempunyai tiga macam masalah yang diberi nama istimewa , yaitu: 1. malikiyah 2. syabhu malikiyah 3. aqrab-tahta-thawiyah A. MALIKIYAH Yang dimaksud dengan masalah malikiyah ialah masalah pembagian harta peninggalan yang ahli warisnya terdiri dari: 1. suami 2. ibu 3. kakek-shahih 4. saudara-saudara seibu 5. saudara-saudara seayah

56 | P a g e

B. SYIBHU MALIKIYAH Syibhu malikiyah ialah masalah pembagian harta pusaka yang ahli warisnya terdiri dari: 1. suami 2. ibu 3. kakek shahih 4. saudara-saudara seibu 5. saudara-saudara sekandung C. AQRAB TAHTA THAWIYAH Ialah masalah yang ahli warisnya terdiri dari; 1. suami 2. ibu 3. saudari seibu 4. ashib yang didaku oleh saudari seibu atas adanya suatu bukti XIII. MUKHTASHARAH ZAID Mukhtasharah zaid ialah cara penyelesaian harta pusaka menurut cara zaid bin tsabit r.a terhadap para ahli waris yang terdiri dari: 1. ibu 2. kakek shahih 3. saudari kandung 4. saudara seayah 5. saudari seayah XIV. MUADDAH Ialah setiap masalah dimana ahli warisnya terdapat: 1. kakek 2. saudara kandung 3. saudara seayah

57 | P a g e

XV. MINBARIYAH Dimuka telah dijelaskan bahwa masalah minbariyah itu adalah salah satu bentuk dari masalah bakhilah. Dalam masalah minbariyah ahli warisnya terdiri diri: 1. isteri 2.ibu 3. ayah 4. 2 orang anak perempuan XVI. NISHFIYATAIN Yang dimaksud dengan masalah nishfayatain ialahdua masalah yang ahli warisnya terdiri dari: a. 1. Suami 2. saudari kandung b. 1. Suami 2. saudari seayah XVII. SHAMMA Masalah shamma ialah setiap masalah yang seluruh nisbah adadurruus dengan saham pada setiap kelompok ahli waris adalah tabayun. Masalah yang dimaksud ini banyak. Imtihan adalah salah satu bentuk dari masalah shamma.

XVIII. SYURAIHIYAH Masalah syuraihiyah atau ummul-furukh atau oleh sebagian ulama disebut dengan ummulfuruj ialah masalah pembagian harta pusaka yang ahli warisnya terdiri dari: 1. suami 2. ibu 3. 2 orang saudari sekandung/seayah 4. 2 orang saudari seibu

58 | P a g e

XIX. TISINIYAH ZAID Yang dimaksud dengan masalah tisiniyah zaid ialah masalah mawaris yang ahli warisnya terdiri dari: 1. ibu 2. kakek shahih 3. saudari kandung 4. 2 orang saudara seayah 5. saudari seayah XX. UMMUL-ARAMIL Masalah ummul-aramil atau disebut juga dengan sabataasyariyah ialah masalah pembagian harta pusaka yang ahli warisnya terdiri dari kaum wanita yang berjumlah 17 orang dari bermacam-macam golongan yang setiap orang mendapat satu dinar. Karena inilah masalah tersebut dinamakan dinariyah-shugra. XXI. UMMUL-BANNAT Yang dimaksud dengan masalah ummul-bannat ialah masalah pembagian harta pusaka yang ahli warisnya terdiri dari: 1. 3 orang istri 2. 4 orang saudara perempuan seibu 3. 8 orang saudara perempuan sekandung/seayah

59 | P a g e