Anda di halaman 1dari 13

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM AL FURQON RA TKA TPA MDA

Jl. Setia Graha RW 15 Ciwastra Kel. Margasari Kec. Buahbatu Kota Bandung Telp. (022)7502323

TES EVALUASI BELAJAR


BIDANG STUDY SEMESTER KELAS HARI, TANGGAL : TARIKH : GENAP : TPA 1 : Kamis, 17 Juni 2010

A. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat ! 1. Raja yang paling kejam pada masa nabi Yakub a.s adalah : a. Firaun b. Namrud c. Saljam 2. Putra Nabi Yakub a.s berjumlah .. a. 10 orang b. 11 orang c. 12 orang 3. Nabi Yakub a.s mengajak umatnya menyembah a. Matahari b. Allah SWT c. Berhala 4. Ayah nabi Yakub a.s bernama a. Ismail a.s b. Ishak a.s a. 147 tahun B. ESSAY 1. 2. 3. 4. 5. Nabi Yakub a.s di utus Allah sebagai nabi dan rosul di negri Ada berapa istri nabi YAkub as... Siapakah Ibu Nabi Yakub as .. Nabi Yakub as. hidup pada masa pemerintahan raja . Keluarga nabi Ykub disebut .. b. 150 tahun c. Ibrahim a.s d. 160 tahun

5. Nabi Yakub a.s wafat dalam usia ..

SELAMAT BEKERJA

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM AL FURQON RA TKA TPA MDA


Jl. Setia Graha RW 15 Ciwastra Kel. Margasari Kec. Buahbatu Kota Bandung Telp. (022)7502323

TES EVALUASI BELAJAR


BIDANG STUDY SEMESTER KELAS HARI, TANGGAL : BAHASA ARAB : GENAP : TPA 1 : Jumat, 18 Juni 2010

A. Bacalah basmalah sebelum mengejakan soal soal di bawah ini ! MENJODOHKAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 . AL JAMALU AL FAROSU AL JARODU AL JAMUSU AL ASSADU AS MARU ABYADU AHMARU AJ ROKU AS FARU ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) A B C D E F G H I J SINGA BELALANG KUDA KERBAU UNTA KUNING MERAH PUTIH BIRU COKLAT

B. TULIS DENGAN ANGKA ARAB ! 10 0 10 1 10 2 10 3 10 4 10 5 10 6 10 7 10 8 10 9 = = = = = = = = = = 110 = 111 = 112 = 113 = 114 = 115 = 116 = 117 = 118 = 119 = 120 = 121 = 122 = 123 = 124 = 125 =

SELAMAT BEKERJA

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM AL FURQON RA TKA TPA MDA


Jl. Setia Graha RW 15 Ciwastra Kel. Margasari Kec. Buahbatu Kota Bandung Telp. (022)7502323

TES EVALUASI BELAJAR


BIDANG STUDY SEMESTER KELAS HARI, TANGGAL : TAJWID : GENAP : TPA 1 : Sabtu, 19 Juni 2010

A. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat ! 1.Tanda tanda dalam huruf hijaiyah di sebut juga.. a. Harokat b. Kaparat c. Kiparat 2. Huruf arab atau al quran disebut apa ? a. Syamsiah b. Hijaiyah c. Qomariah

3. Huruf lam bila diberi tanwin kasrah dibaca .. a. lin b. lan c. lun 4. Pada kata a. ba huruf yang bertanda tasjid adalah huruf b. kaf c. ra

5 Ta yang selalu diakhir kalimah disebut . a. Ta marbutoh b. Mad farI c. Mad asli B. SAMBUNGLAH HURUF DI BAWAH INI

SELAMAT BEKERJA

Secara etimologis, hasta artinya delapan, sedangkan Brata artinya langkah. Secara terminologis berarti delapan langkah yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam mengemban misi kepemimpinannya. Langkah-langkah tersebut mencontoh delapan watak dari benda-benda di alam yakni Bumi, Matahari, Bulan. Bintang, Api, Angin, laut, dan Air.

Bumi, wataknya adalah ajeg. Sifatnya yang tegas, konstan, konsisten, dan apa adanya. Bumi menawarkan kesejahteraan bagi seluruh mahkluk hidup yang ada di atasnya. Tidak pandang bulu, tidak pilih kasih, dan tidak membeda-bedakan. Matahari selalu memberi penerangan (di kala siang), kehangatan, serta energi yang merata di seluruh pelosok bumi. Energi dari cahaya matahari juga merupakan sumber energi dari seluruh kehidupan di muka bumi. Pemimpin juga harus memberi semangat, membangkitkan motivasi dan memberi kemanfaatan pengetahuan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Bulan mungkin lebih berguna daripada matahari. Karena dibandingkan matahari, bulan memberi penerangan saat gelap dengan cahaya yang sejuk dan tidak menyilaukan. Pemimpin yang berwatak bulan memberi kesempatan di kala gelap, memberi kehangatan di kala susah, memberi solusi saat masalah dan menjadi penengah di tengah konflik. Bintang adalah penunjuk arah yang indah. Seorang pemimpin harus berwatak bintang dalam artian harus mampu menjadi panutan dan memberi petunjuk bagi orang yang dipimpinnya. Pendirian yang teguh karena tidak pernah berpindah bisa menjadi pedoman arah dalam melangkah. Api bersifat membakar. Artinya seorang pemimpin harus mampu membakar jika diperlukan. Jika terdapat resiko yang mungkin bisa merusak organisasi, kemampuan untuk merusak dan menghancurkan resiko tersebut sangat membantu untuk kelangsungan oraganisasi. Angin adalah udara yang bergerak(ya iyalah, anak SD juga tahu). Maksudnya kalo udara itu ada di mana saja. Dan angin itu ringan bergerak ke mana aja. Jadi pemimpin itu, meskipun mungkin kehadiran seorang pemimpin tidak disadari, namun ada dimanapun dia dibutuhkan. Pemimpin juga tak pernah lelah bergerak dalam mengawasi orang yang dipimpinnya. Memastikan baik-baik saja dan tidak hanya mengandalkan laporan yang bisa saja direkayasa. Laut atau samudra yang lapang, luas, menjadi muara dari banyak aliran sungai. Artinya seorang pemimpin mesti bersifat lapang dada dalam menerima banyak masalah dari anak buah. Menyikapi keanekaragaman anak buah sebagai hal yang wajar dan menanggapi dengan kacamata dan hati yang bersih. Air mengalir sampai jauh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Meskipun wadahnya berbeda-beda, air selalu mempunyai permukaan yang datar. Artinya, pemimpin harus berwatak ait yang berprinsip keadilan dan sama rata, kesamaan derajat dan kedudukan. Selain itu, sifat

dasar air adalah menyucikan. Pemimpn harus bersih dan mampu membersihkan diri dan lingkungannya dari hal yang kotor dan mengotori. Delapan watak benda-benda alam ini mampu menjadi contoh bagi seorang pemimpin dalam mengomando orang-orang yang dipimpinnya menuju tujuan organisasi. Hal seperti ini sudah ditemukan di Indonesia di akhir abad ke-18, tapi kenpa banyak orang Indonesia yang mengeluh bahwa di Indonesia ini masih kurang jiwa kepemimpinan dalam memimpin negara ini mencapai tujuannya. Pancasila telah ada dalam segala bentuk kehidupan rakyat Indonesia, terkecuali bagi mereka yang tidak Pancasilais. Pancasila lahir 1 Juni 1945, ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan UUD 1945. Bunyi dan ucapan Pancasila yang benar berdasarkan Inpres Nomor 12 tahun 1968 adalah satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dan kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa di antara tokoh perumus Pancasila itu ialah, Mr Mohammad Yamin, Prof Mr Soepomo, dan Ir Soekarno. Dapat dikemukakan mengapa Pancasila itu sakti dan selalu dapat bertahan dari guncangan kisruh politik di negara ini, yaitu pertama ialah karena secara intrinsik dalam Pancasila itu mengandung toleransi, dan siapa yang menantang Pancasila berarti dia menentang toleransi. Kedua, Pancasila merupakan wadah yang cukup fleksibel, yang dapat mencakup fahamfaham positif yang dianut oleh bangsa Indonesia, dan faham lain yang positif tersebut mempunyai keleluasaan yang cukup untuk memperkembangkan diri. Yang ketiga, karena sila-sila dari Pancasila itu terdiri dari nilai-nilai dan norma-norma yang positif sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia, dan nilai serta norma yang bertentangan, pasti akan ditolak oleh Pancasila, misalnya Atheisme dan segala bentuk kekafiran tak beragama akan ditolak oleh bangsa Indonesia yang bertuhan dan ber-agama. Diktatorisme juga ditolak, karena bangsa Indonesia berprikemanusiaan dan berusaha untuk berbudi luhur. Kelonialisme juga ditolak oleh bangsa Indonesia yang cinta akan kemerdekaan. Sebab yang keempat adalah, karena bangsa Indonesia yang sejati sangat cinta kepada Pancasila, yakin bahwa Pancasila itu benar dan tidak bertentangan dengan keyakinan serta agamanya. Dengan demikian bahwa falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia yang harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.

MATA PELAJARAN : Seni budaya/Seni musik KELAS/SEMESTER : X/Genap Th. 2009-2010 PERTEMUAN : 7,8,9 ALOKASI WAKTU : 2 X 45 menit STANDAR KOMPETENSI : 3. Mengapresiasi karya seni musik KOMPETENSI DASAR : 3.3. Menunjukkan nilai-nilai musikal dari hasil pengamatan musik yang didapatkan melalui pertunjukan musik non tradisional. INDIKATOR : * Menampilkan sikap empatik terhadap karya musik non tradisional * Mendeskripsikan lagu non tradisional daerah setempat ke dalam bahasa Indonesia * Mendemonstrasikan bernyanyi vokal dan instrumental lagu-lagu non tradisional I. TUJUAN PEMBELAJARAN : Setelah melalui proses pembelajaran siswa memiliki kemampuan untuk : a. Mengapresiasi karya musik non tradisional b. Menjelaskan makna dan isi karya musik dan lagu non tradisional c. Menyanyikan lagu-lagu non tradisional dengan iringan musik II. MATERI PEMBELAJARAN : * Jenis-jenis musik non tradisional * Elemen-elemen musik * Karya musik dan lagu-lagu non tradisional III. METODE PEMBELAJARAN : * Peragaan dan demonstrasi dengan model pembelajaran, * PAKEM ( Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan ) IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN : a. Kegiatan awal ( Memotivasi siswa ) selama 10 menit : * Mengucap salam dan melihat kondisi kelas sudah bersih apa belum * Mengisi buku jurnal kelas terkait dengan materi pembelajaran yangn akan diberikan * Mengabsensi siswa dan menyampaikan secara garis besar topik materi pokok bahasan b. Kegiatan inti selama 75 menit : * Menjelaskan mateeri jenis-jenis musik, elemen musik, dan karya musik dan lagu-lagu non tradisional. * Berlatih bernyanyi dengan iringan musik lagu-lagu non tradisional. c. Kegiatan akhir selama 5 menit : * Menyimpulkan inti materi pembelajaran * Memberi tugas untuk berlatih lagu yang telah diaransir V. ALAT/BAHAN/SUMBER BELAJAR : * Seperangkat alat musik dan sound system

* Ruang AVI * Buku " Kreasi Seni Budaya" , Ario Kartono dkk, Ganeca * Buku " Seni Musik SMA, Matius Ali, Essis VI. PENILAIAN/TAGIHAN : a. ESSAY 1. Jelaskan ciri-ciri musik, berikut nama-nama tokohnya : a. Musik dangdut b. musik campur sari c. jazz d. Rock 2. Jelaskan elemen-elemen musik berikut : a. harmoni b. irama c. birama d. melodi e. tempo 3. Sebutkan lima ciri musik keroncong berikut contoh lagunya! 4. Jelaskan! Apa yang kamu ketahui tentang musik Congdut? 5. Sebutkan 5 buah intrumen musik yang biasa dipakai dalam permaian musik campursari!

1. Asal-usul Wayang Golek


Asal mula wayang golek tidak diketahui secara jelas karena tidak ada keterangan lengkap, baik tertulis maupun lisan. Kehadiran wayang golek tidak dapat dipisahkan dari wayang kulit karena wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit. Namun demikian, Salmun (1986) menyebutkan bahwa pada tahun 1583 Masehi Sunan Kudus membuat wayang dari kayu yang kemudian disebut wayang golek yang dapat dipentaskan pada siang hari. Sejalan dengan itu Ismunandar (1988) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 Sunan Kudus membuat bangun 'wayang purwo' sejumlah 70 buah dengan cerita Menak yang diiringi gamelan Salendro. Pertunjukkannya dilakukan pada siang hari. Wayang ini tidak memerlukan kelir. Bentuknya menyerupai boneka yang terbuat dari kayu (bukan dari kulit sebagaimana halnya wayang kulit). Jadi, seperti golek. Oleh karena itu, disebut sebagai wayang golek. Pada mulanya yang dilakonkan dalam wayang golek adalah ceritera panji dan wayangnya disebut wayang golek menak. Konon, wayang golek ini baru ada sejak masa Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati (1540-1650)). Di sana (di daerah Cirebon) disebut sebagai wayang golek papak atau wayang cepak karena bentuk kepalanya datar. Pada zaman Pangeran Girilaya (1650-1662) wayang cepak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Lakon-lakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. Selanjutnya, wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek purwa) yang lahir pada 1840 (Somantri, 1988). Kelahiran wayang golek diprakarsai oleh Dalem Karang Anyar (Wiranata Koesoemah III) pada masa akhir jabatannya. Waktu itu Dalem memerintahkan Ki Darman (penyungging wayang kulit asal Tegal) yang tinggal di Cibiru, Ujung Berung, untuk membuat wayang dari kayu. Bentuk wayang yang dibuatnya semula berbentuk gepeng dan berpola pada wayang kulit. Namun, pada perkembangan selanjutnya, atas anjuran Dalem, Ki Darman membuat wayang golek yang membulat tidak jauh berbeda dengan wayang golek sekarang. Di daerah Priangan sendiri dikenal pada awal abad ke-19. Perkenalan masyarakat Sunda dengan wayang golek dimungkinkan sejak dibukanya jalan raya Daendels yang menghubungkan daerah pantai dengan Priangan yang bergunung-gunung. Semula wayang golek di Priangan menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah orang Sunda pandai mendalang, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda.

2. Jenis-jenis Wayang Golek


Ada tiga jenis wayang golek, yaitu: wayang golek cepak, wayang golek purwa, dan wayang golek modern. Wayang golek papak (cepak) terkenal di Cirebon dengan ceritera babad dan legenda serta menggunakan bahasa Cirebon. Wayang golek purwa adalah wayang golek khusus membawakan cerita Mahabharata dan Ramayana dengan pengantar bahasa Sunda sebagai. Sedangkan, wayang golek modern seperti wayang purwa (ceritanya tentang Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam pementasannya menggunakan listrik untuk membuat trik-trik. Pembuatan trik-trik tersebut untuk menyesuaikan pertunjukan wayang golek dengan kehidupan modern. Wayang golek modern dirintis oleh R.U. Partasuanda dan dikembangkan oleh Asep Sunandar tahun 1970--1980.

3. Pembuatan
Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. Cara pembuatannya adalah dengan meraut dan mengukirnya, hingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk mewarnai dan menggambar mata,

alis, bibir dan motif di kepala wayang, digunakan cat duko. Cat ini menjadikan wayang tampak lebih cerah. Pewarnaan wayang merupakan bagian penting karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. Adapun warna dasar yang biasa digunakan dalam wayang ada empat yaitu: merah, putih, prada, dan hitam. Quote:

4. Nilai Budaya
Wayang golek sebagai suatu kesenian tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi meliputi keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu disosialisasikan oleh para seniman dan seniwati pedalangan yang mengemban kode etik pedalangan. Kode etik pedalangan tersebut dinamakan "Sapta Sila Kehormatan Seniman Seniwati Pedalangan Jawa Barat". Rumusan kode etik pedalangan tersebut merupakan hasil musyawarah para seniman seniwati pedalangan pada tanggal 28 Februari 1964 di Bandung. Isinya antara lain sebagai berikut: Satu: Seniman dan seniwati pedalangan adalah seniman sejati sebab itu harus menjaga nilainya. Dua: Mendidik masyarakat. Itulah sebabnya diwajibkan memberi con-toh, baik dalam bentuk ucapan maupun tingkah laku. Tiga: Juru penerang. Karena itu diwajibkan menyampaikan pesan-pesan atau membantu pemerintah serta menyebarkan segala cita-cita negara bangsanya kepada masyarakat. Empat: Sosial Indonesia. Sebab itu diwajibkan mengukuhi jiwa gotong-royong dalam segala masalah. Lima: Susilawan. Diwajibkan menjaga etika di lingkungan masyarakat. Enam: Mempunyai kepribadian sendiri, maka diwajibkan menjaga kepribadian sendiri dan bangsa. Tujuh: Setiawan. Maka diwajibkan tunduk dan taat, serta menghormati hukum Republik Indonesia, demikian pula terhadap adat-istiadat bangsa.

SEJARAH SOL MI SA SI (DO RE MI FA SOL LA SI DO )


Do Re Mi Fa Sol La Si Do Tangga nada solmisasi yang diakui secara internasional dan digunakan di seluruh orang di dunia ini dinyatakan diciptakan oleh Guido Arezzo, seorang pemusik Italia, dalam program British Channel 4. Ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa solmisasi tersebut merupakan himne St. John dan Guido Arezzo (995-1050) adalah orang yang pertama kali menggunakannya. Tapi, kenyataan yang sebenarnya menunjukkan bahwa ternyata awalnya solmisasi tersebut merupakan hasil penemuan para ilmuwan muslim. Solmisasi tersebut awalnya berupa notasi dalam abjad Arab yang terdiri dari Mi Fa Shad La Sin Dal Ra. Kemudian, notasi ini ditransliterasikan ke dalam bahasa Latin menjadi Mi Fa Sol La Ti Ut Re dan dikenal sebagai himne St. John. Transliterasi ini selanjutnya pertama kali digunakan oleh Guido Arezzo sehingga terkenal menjadi notasi Guidos Hand. Kemudian, notasi ini berkembang menjadi notasi musik yang digunakan hingga saat ini, yaitu Mi Fa Sol La Si Do Re. Jadi, dapat disimpulkan ternyata notasi Guidos Hand milik Guido Arezzo hanyalah jiplakan dari notasi arab yang telah ditemukan dan digunakan sejak abad ke-9 oleh para ilmuwan muslim. Para ilmuwan yang telah menggunakannya, antara lain: Yunus Alkatib (765), Al-Khalil (791), Al-Mamun (wafat 833), Ishaq Al-Mausili (wafat 850), dan Ibn Al-Farabi (872-950). Ishaq Al-Mausili memperkenalkan solmisasi dalam bukunya Book of Notes and Rhythms dan Great Book of Songs yang begitu populer di Barat. Sedangkan, Ibn Al-Farabi (872-950) memperkenalkannya dalam Kitab Al-Mausiqul Kabir. Selain itu, Ziryab (789-857), seorang ahli musik dan ahli botani dari Baghdad, turut mengembangkan penggunaan solmisasi tersebut di Spanyol jah sebelum Guiddo Arezzo muncul dengan notasi Guidos Hand-nya. Ibn Firnas (wafat 888) pun turut berperan dalam penggunaan solmisasi tersebut di Spanyol. Karena, ia adalah orang yang memperkenalkan masyarakat Spanyol terhadap musik oriental dan juga merupakan orang yang pertama kali mengajarkannya di sekolahsekolah Andalusia. Guido Arezzo dapat mengetahui solmisasi tersebut dengan mempelajari Catalogna, sebuah buku teori musik berbahasa Latin yang berisi kumpulan penemuan ilmuwan muslim di bidang musik. Solmisasi tersebut ditulis dalam Catalogna yang diterbitkan di Monte Cassino pada abad ke-11. Monte Cassino merupakan daerah di Italia yang pernah dihuni masyarakat muslim dan juga pernah disinggahi oleh Constantine Afrika. Constantine Afrika adalah seorang ilmuwan muslim dari Tunisia yang masuk ke Italia melalui Salerno. Ia sempat mengajarkan musik kepada orang-orang barbar dan terbelakang di Salerno. Selain itu, ia juga menterjemahkan buku-buku penemuan ilmuwan muslim untuk dijadikan acuan bagi pelajar Eropa. Ia juga memberi kesempatan kepada pelajar Italia untuk mempelajari musik di Spanyol karena pada saat itu Spanyol tengah diramaikan oleh ahli musik, seperti Ziryab dan Ibn Firnas. Akibatnya, banyak pelajar Italia yang mempelajari musik di Spanyol. Salah satu pelajar tersebut adalah Gerbert Aurillac (wafat 1003). Gerbert Aurillac ini kemudian menjadi orang yang meletakkan dasar musik di negara-negara Eropa. Selain itu, ia juga melahirkan banyak pakar musik barat. Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/arts/1730412-siapa-pencipta-solmisasisebenarnya/#ixzz1SNpiqLuv

Yudi Semar Badranaya adalah penjelmaan dewa, yakni Batara Ismaya.Istrinya bernama Sutiragen putra Raja dari kerajaan Sekarnumbe.Anaknya bernama Cepot, Dewala dan Gareng.Di Sawarga Maniloka dia mempunyai anak yaitu Batara Surya (dewa matahari).Ia adalah tokoh wayang yang paling sakti dari semua tokoh wayang. Semar berkulit hitam, (seperti buah manggis / manggu yang telah hitam berarti telah matang) melambangkan telah dewasa atau matang baik dalam mental dan pemikiran. Berwajah putih. Wajah adalah cerminan dari hati. Semar berhati putih, suci, bersih. Berkantong kosong. Semar kosong atau bersih dari sifat sirik pidik jail kaniaya iren panastren dudumpak rurumpak ngupat sumuat ujug riya takabur nyaci maki siksik belik teu kaopan teu payaan bedegong buntangul buraong kedul dan lain sebagainya. Intinya kosong/bersih dari sifat-sifat buruk manusia. Mempunyai bentuk unik. Disebut pria tapi berbuah dada dan berbokong besar. Disebut wanita tapi berjakun. Disebut masih anak-anak atau muda tetapi berkulit keriput. Disebut sudah tua tetapi berkuncung di kepalanya. Bermakna setiap manusia baik pria, wanita, orang tua atau anak-anak muda seharusnya berhati bersih, suci seperti putihnya wajah semar. BADANNYA pendek, tambun, berkulit hitam pekat tetapi wajahnya putih kepalanya berkuncung sejumput rambut berwarna putih. Tokoh ini bernama Semar. Jabatannya lurah di Desa Karang Tumaritis termasuk wilayah Kabupaten Madukara, Pandawa. Karena itu ia sering pula disebut Lurah Semar atau Lurah Kudapawana. Abdidalem Kerajaan Pandawa itu hidup amat sederhana bersama istrinya, Dewi Sutiragen (Sudiragen) seorang putri raja serta tiga anaknya. Ada perbedaan urutan anak-anak Semar di dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Dalam pewayangan Jawa, anak sulung Semar bernama Gareng kemudian Petruk dan yang bungsu bernama Bagong. Sedangkan dalam pewayangan Sunda, anak sulung bernama Cepot alias Astrajingga alias Bagong Kedua bernama Dawala dengan nama kecil Udel, dan yang bungsu bernama Gareng alias Nalagareng. Keluarga panakawan itu sama sekali tidak ada dalam wayang babon (asli India). Keluarga Semar dan keluarga Togog Wijomantri, adik kandung Semar, benar-benar tokoh artifisial (hasil rekayasa) yang dilekatkan pujangga kita ke dalam pewayangan. Karena artifisial, Semar ada pada semua cerita wayang, baik galur yakni babad Lokapala, Ramayana, dan Mahabarata, maupun cerita sempalan. Meskipun artifisial, keberadaan Semar dalam wayang purwa tidak tampak seperti tempelan. Tokoh itu larut dalam alur cerita dengan peranan yang sangat jelas. Memang dalam cerita babad Lokapala dan Ramayana, Semar tidak punya peran apa-apa kecuali sebagai panakawan (abdi dalem). Begitu pula Togog, ia menjadi pelayan Kerajaan Alengkadirja. Namun pada Mahabarata dan semua sempalannya, justru Semar menjadi tokoh sentral.

Semar dimasukkan pencipta lakon sebagai tokoh yang memiliki peran multidimensi, antara lain, pembawa misi kerakyatan, penumpas kejahatan, panakawan sekaligus guru, penghibur atau pelipur lara. Di samping itu ia juga ternyata secara spiritual punya kedudukan tertinggi di antara tokoh wayang. Ia penjelmaan Dewa Ismaya, putra sulung Sanghiang Wenang. Semua dewa di Sawarga Maniloka tunduk pada Ismaya. Batara Guru sebagai penguasa Indraloka itu tidak punya arti apa-apa di hadapan Semar Cipta Ismaya. Ia jadi penguasa hanya karena Ismaya sebagai pewaris takhta sedang menyamar sebagai Semar Lurah Kudapawana. Di sawarga saja ia sebagai penguasa apalagi di bumi. Pandawa sangat menghormati Semar karena Semarlah pemilik pusaka kerajaan Kalimasada. Pusaka itu dipegang oleh Raja Darmakusumah alias Samiaji sebagai barang titipan. Karena ada Semar, Pandawa selalu terhindar dari malapetaka. Karena ada Semar dan anak-anaknya, cerita dan pertunjukan wayang menjadi segar dan hidup. Seperti Lengser pada legenda dan babad Sunda, goro-goro dalam sandiwara, atau klon pada drama Shakespeare, Semar dan anak-anak merupakan penghubung antara pertunjukan dan penonton. Melalui Semar dan anak-anaknya, dalang berkomunikasi dengan penonton, menyampaikan pesan, gagasan, dan kritik. Dengan sangat cekatan, dalang mengeluarkan Semar dan anak-anaknya dari alur cerita bahkan dari lingkup pertunjukan. Semar dan anak-anaknya bersatu padu dengan penonton. Ia larut dalam kehidupan luas, mengembangkan wacana menjadi dialog. Mereka, Semar dan anak-anaknya benar-benar menjadi manusia biasa, anggota masyarakat, rakyat kecil yang memiliki kebebasan mengeluarkan pendapat. Semar dan anak-anaknya menjadi media dakwah yang sangat efektif. Pertunjukan wayang tanpa Semar dan anak-anaknya, terasa hambar dan monoton. Karena itu fungsi dan peranan Semar dan anak-anaknya menjadi sangat penting terutama dalam menciptakan suasana dialogis dan komunikatif. Hubungan penonton dengan tontonan menjadi sangat erat. Dalam dunia teater, hubungan harmonis yang juga apresiatif seperti itulah yang bisa membangun suasana musikal. Meskipun Semar, lengser, goro-goro, dan klon punya fungsi dan peran yang sama, pada sisi lain, Semar punya fungsi dan peran yang bukan hanya sebagai selingan. Semar dan anak-anaknya menjadi lambang sekaligus cermin rakyat. Dengan jabatan lurah, Semar menjadi pemuka masyarakat. Ia dan anak-anaknya menjadi penghubung rakyat dengan pemerintah. Kedudukan Semar sebagai rakyat harus tunduk kepada ketentuan bahkan menjadi abdi negara. Namun pada dasarnya Semarlah (baca: rakyatlah) pemilik negara itu. Artinya Semarlah sebenarnya pemegang kedaulatan Pandawa. Sebagai rakyat ia mengamanatkan kedaulatannya kepada raja. Hal itu dilambangkan dengan Kalimasada, pusaka Semar yang dititipkan kepada Darmakusumah. Agar kedudukan Semar sebagai pemegang kedaulatan lebih tegas lagi, para wali yang mengadaptasi cerita wayang, membekali Semar dengan kesaktian dan asal-usul yang jauh lebih hebat daripada para Pandawa. Karena itu para dalang menyebut Semar sebagai wayang agung, kelir miraga sukma. Bila perlu, dengan mudah Semar dapat mengambil alih takhta kerajaan. Kesaktian raja dan para putra Pandawa lainnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesaktian Semar. Akan tetapi Semar tidak melakukan itu. Sebagai rakyat dan abdi negara, ia taat dan tunduk kepada hukum atau aturan main yang berlaku. Bukankah tatanan seperti itu merupakan prinsip demokrasi? Kalau jawabannya ya, artinya karuhun bangsa kita sudah berpikir demokratis dan itu terjadi sekira abad ke-16 atau abad awal masuknya Islam ke nusantara. Lalu, mengapa lima abad kemudian kita masih belum memahami benar prinsip

demokrasi? Sekarang sering kita baca dan sering kita dengar, bangsa kita tengah berada pada era demokratisasi atau berada pada proses demokratisasi bahkan kita masih belajar demokrasi. Itu berarti kita tertinggal jauh bukan saja oleh bangsa lain tetapi juga oleh karuhun kita sendiri. Menarik sebagai bahan kajian ilmu politik.*** Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, 11 July 2004.