Anda di halaman 1dari 5

BAB V POLIGON

5.1 Umum Pengukuran poligon dimaksudkan untuk mendapatkan dan merapatkan titik ikat pengukuran di lapangan dengan tujuan sebagai dasar untuk keperluan pemetaan atau keperluan teknis lainnya. 5.2. Dasar Teori 5.2.1 Pengertian Poligon Poligon berasal dari kata poly yang berarti banyak dan gono yang berarti sudut. Jadi poligon merupakan suatu rangkaian sudut banyak atau deretan titik yang menghubungkan dua titik tetap (titik triangulasi). 5.2.2 Bentuk bentuk Poligon Berdasarkan kepada titik-titik tetap (koordinatnya diketahui) dan bentuk geometriknya, secara umum poligon dibedakan atas 3 macam, yakni: 5.2.2.1.Poligon Terbuka Sempurna Merupakan poligon yang deretan titik-titiknya terikat pada titik-titik tetap pada awal dan akhir poligon tersebut serta diketahui azimuth awal dan azimuth akhirnya. Hasil ukuran dapat dikontrol dan diketahui kesalahannya, melalui proses hitungan perataan.

awal

akhir

Gambar 5.1 Poligon Terbuka Sempurna

Laporan Praktikum IUT

5.2.2.2.Poligon Terbuka Tidak Sempurna Merupakan poligon yang deretan titik-titiknya hanya terikat pada satu titik tetap. Dalam hal ini, hasil ukurannya tidak dapat dikontrol atau diketahui kesalahannya.
Gambar 5.2 Poligon Terbuka Tidak Sempurna

5.2.2.3.Poligon Tertutup Adalah poligon yang deretan titik-titiknya terikat kepada satu titik tetap yang berfungsi sebagai titik awal sekaligus titik akhirnya (artinya titik awal dan titik akhirnya sama). Hasil pengukuran dapat dikontrol dan dikoreksi kesalahannya. E F AF A C B
Gambar 5.3 Poligon Tertutup

5.3 Tahapan Penghitungan Pengolahan data dilakukan sesuai dengan tahapan proses sebagai berikut: 1. Tentukan koordinat awal, azimuth awal, koordinat akhir dan azimuth akhir, jika harga-harganya tidak langsung diketahui. 2. Hitung salah penutup sudut.

Kelompok IX

V-2

Laporan Praktikum IUT

Poligon terbuka f =
u

- (

ah k ir

awl a

) - (n + 1)

180 Poligon tertutup f f 3. Apabila yang diukur sudut dalam :

.................... 5.1

= u - (n - 2) 180 ................................ 5.2 Apabila yang diukur sudut luar : =


u

- (n + 2) 180 .................................. 5.3

Hitung harga koreksi setiap sudut. V f /n = .......................... 5.4

dengan n = jumlah titik pengukuran. Pembagian harus merupakan bilangan bulat. Apabila pembagiannya bersisa, maka sisa tersebut dibagi-bagikan ke sudut-sudut yang mempunyai sisi-sisi terpendek. 4. Hitung harga definitif setiap sudut. 5.
i

.......... 5.5 V I Hitung azimuth sisi-sisi poligon. Biasanya tergantung bentuk poligon. Persamaan umum: ij = awal + i 180 = ij + 180 poligon. Xij = dij sin Yij = dij cos
ij ij

jk

.............................5.6

6. Hitung selisih absis ( X) dan selisih ordinat ( Y) antara titik-titik

Kelompok IX

V-3

Laporan Praktikum IUT

......................... 5.7 7. Hitung salah linier jarak (salah penutup absis dan ordinat). fX = X - (Xawal Xakhir ) fY = Y - (Yawal .............................. 5.8

Yakhir ) 8. Hitung jumlah panjang sisi-sisi poligon. D = du 9. ...........................5.9

Hitung koreksi absis (VX) dan ordinat (VY). VXij = - dij fX / D, misal - fX / D = L VYij = - dij fY / D, misal - fY / D = M ........ 5.10

10. Hitung koordinat definitif titik-titik poligon. Untuk absis Xi = Xawal + ( Xij + L dij ) X = Xi + ( Xjk + L djk ) Yj = Y Untuk ordinat ( Y + M + i aa wl ij dij ) Yj = Yi djk ) 5.4 Tahapan Pelaksanaan Tahap-tahap pengukuran poligon/kerangka dasar: 1. Tentukan titik target yang menjadi kerangka poligo; 2. Dirikan alat pada titik awal pengukuran dalam kedudukan benar dan sempurna, pada titik awal sebaiknya alat diutarakan terlebih dahulu; + ( Yjk + M ..... 5.12

...... 5.11

Kelompok IX

V-4

Laporan Praktikum IUT

3. Putar alat searah jarum jam. Untuk setiap titik, pembidikan dilakukan dua kali, tehadap titik sebelum dan titik berikutnya; 4. Tempatkan alat pada kedudukan biasa, bidik target pertama yang ditemui dari arah utara searah jarum jam. Lakukan pembacaan benang difragma pada bagian atas, tengah dan bawahnya. Kemudian catat pembacaan skala vertikal dan skala horizontal. Untuk pembacaan skala horizontal ini sebaiknya vizier atau teropong diarahkan langsung ke patok atau titik (rambu) terendah yang dapat di bidik; 5. Arahkan vizier/teropong ke titik target berikutnya. Catat bacaan benang diafragma dan bacaan skala horizontal serta skala horizontalnya; 6. Masih pada titik yang sama, ubah posisi alat dari kondisi biasa ke posisi luar biasa. Catat bacaan benang diafragma, skala vertikal dan skala horizontalnya; 7. Arahkan kembali teropong ke target pertama tadi. Lakukan pembacaan benang diafragma serta skala vertikal dan horizontalnya; 8. Untuk keperluan beda tinggi ukur tinggi alat dari permukaan tanah; 9. Kemudian pindahkan alat ketitik selanjutnya. Lakukan hal yang sama dari titik tersebut terhadap dua titik yang mengapitnya.

Kelompok IX

V-5