Anda di halaman 1dari 2

ANTARA REVOLUSI DAN TRANSISI DI ABAD XXI OLEH : Yuni Rodzia Aziz, S.

Pdi

Seiring dengan perjalanan waktu yang begitu cepat sampai tak terasa bahwa apa yang menjadi bayangan fatalistik manusia benar-benar menjadi nyata. Tatkala perang dunia I hingga berakhirnya sebuah kemerdekaan, maka masyarakat internasional melakukan penataan kembali guna mengubah peradaban. Dan peradaban adalah suatu aktivitas dari perubahan yang di nantikan oleh belahan dunia untuk melakukan terobosan dalam menyongsong tantangan zaman. Suatu harapan yang membawa kisah sukses atas diri manusia serta gemar mengutamakan persaingan hidup yang begitu dominan. Munculnya persoalan demi persoalan dan menjadi beban keseluruhan komuniatas masyarakat, yang datang dengan serta merta. Kemudian tumbangnya keberadaan tatanan sosial akibat arus globalisasi yang tak puas dengan system bernama Agama. Semakain mengkhawatirkan atas meningkatnya perkembangan yang begitu drastis karena menurunnya angka stabilitas sosial yang akan terjadi Dibelahan dunia. Bahwa dengan adanya perubahan dan perkembangan dari segala aspek ini, justru akan semakin banyaknya persoalan yang harus di hadapi. Adapun muncul kasus demi kasus sehingga mengakibatkan sebuah peristiwa yang besejarah dan sering terjadi di tengah-tengah kehidupan sosial, yang di hadapkan pada tehnologi modern. Maka sebaliknya, semua itu akan mengubah kemurnian dalam berwawasan atau cara pandang dari segi positif dan negatifnya atas suatu kemajuan zaman. Hal ini merupakan tantangan berat yang belum tentu dapat di selesaikan dengan akurat. Karena kemunduran dalam berparadigma serta berfikir akibat krisis dimensi. Rezim politik global yang mengekang sehingga timbulnya perbenturan budaya dan peradaban (the clash of civilization) antara sekian budaya yang telah masuk. Seringnya tindakan anarkis karena banyaknya persoalan-persoalan yang tersembunyi, dan harus di pertanggung jawabkan. Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut ke mulut karena mengharapkan klarifikasi atas semua ini, agar menjadi bahan pertimbangan bagi keseluruhan komponen yang ada. Sejarah pasti akan menyimpan dan mengungkapkan semua peristiwa masa lampau yang masih terkenang, hingga sampai waktunya di era-renaisence. Pada abad-abad pertama bertepatan dengan munculnya paham-paham yang di akui oleh masyarakat, hingga pertentangan terhadap new-politik telah terjadi. Dan akhirnya timbul perpecahan besar-besaran antara pengulangan kembali terhadap suatu tatanan yang telah diambil alih oleh kaum reformis pada saat itu. New-liberalisme yang di kenal sebagai paham kebebasan dan merupakan hasil dari sebuah peradaban dunia barat, menjadi salah satu kasus politik yang berkelanjutan.

Masalah kebebasan yang berhubungan dengan hak-hak kemanusiaan (humam right), kemudian mengembangkan hak cipta dan tuntutan dunia suatu Negara yang sedang dalam revolusi serta terjadi perang tak berkesudahan adalah sifat umum dari semua Negara (reason nature). Jika di lihat dari secara kemanusiaan, bahwa Negara di belahan dunia ini merupakan sedang dalam masa peralihan untuk abad yang akan datang. Karena dilatarbelakangi oleh suatu keadaan ingin berubah hingga penyesuaiannya dengan zaman dan budayanya yang tiba-tiba muncul bersamaan, antara budaya masyarakat (sasio culture) serta kebudayaan dalam bepolitik (politik culture). Falsafah dasar masyarakat yang mengatakan bahwa dengan banyaknya berbagai macam ragam budaya yang ada, menunjukan kalau lapisan masyarakat merupakan terdiri dari banyaknya suku, ras, dan jenis kulit yang berbeda-beda. Dan juga mempunyai kebudayaan tersendiri sebagai makhluk sosial yang selalu beradaptasi dengan lingkungannya. Mereka hidup berdampingan antara satu dengan yang lainnya untuk menciptakan suatu karya atau suasana atas kemampuannya masing-masing. Manakala ada kesenjangan beserta keganjilan yang terjadi dalam pemerintahan, kemudian dirasakan oleh segenap masyarakat pada umumnya, itu menunjukan adanya proses pengembangan suatu tatanan yang di bawai oleh pemerintahan baru dan belum mengenal fungsi dari kebersamaan dalam sebuah rapat atau pertemuan besar (konfrensi) dengan tujuan memperbaiki keadaan. Biarpun huru-hara menjadi hambatan pada setiap gerakan yang bertujuan membangun, kadang-kadang datang secara serentak, yaitu ketimpangan terhadap sosial politik, ekonomi dan sosial budaya. Apalagi jika hal tersebut telah menghabiskan waktu dan pengorbanan, pada akhirnya hanya menemukan jalan buntu yang tak terselesaikan. Sikap sewenang-wenang dan berkuasa atas sepenuhnya (dictator), istilah ini menjadi kebiasaan dalam sistem politik suatu pemerintahan. Akan tetapi, terkadang kurang mengaitkan hukum-hukum yang menjadi landasan konstitusional ( yuridis konstitusional). Adanya keputusan yang telah di buat (the die is east), tanpa sepengetahuan pihak yang bersangkutan. Fenomena alam yang terjadi bersifat komplek dan terpadu. Artinya, suatu fenomena selalu terkait dengan berbagai aspek yang lain. Mungkinkah fenomena masyarakat yang terjadi di suatu tempat dapat dijadikan sebuah model dalam proses kebudayaan? Maka sebenarnya model pengalaman hidup masyarakat, merupakan nilai konstektual dalam berbudaya yang akan jauh lebih bermakna. Adapun konflik yang ada adalah fase-fase dari suatu perubahan atas keberadaannya.

Penulis/Pamerhati Sosial Budaya/Yuni Rozia Aziz, Spdi