Anda di halaman 1dari 9

Mengupas Kebijakan Jaminan Persalinan Oleh: puskom May 18, 2011 | 12:09 pm Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan

pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB paska persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Tujuan Umum Jaminan Persalinan mempunyai tujuan untuk menjamin akses pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Tujuan Khusus 1) Meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan. 2) Meningkatkan cakupan pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan. 3) Meningkatkan cakupan pelayanan KB pasca persalinan. 4) Meningkatkan cakupan penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir. 5) Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel. Kebijakan Operasional 1) Pengelolaan Jaminan Persalinan di setiap jenjang pemerintahan (pusat, provinsi, dan kabupaten/ kota) menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan Jamkesmas dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). 2) Pengelolaan kepesertaan Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari program Jamkesmas yang mengikuti tata kelola kepesertaan dan manajemen Jamkesmas, namun dengan kekhususan dalam hal penetapan pesertanya. 3) Peserta program Jaminan Persalinan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan. 4) Peserta Jaminan Persalinan dapat memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. 5) Pelaksanaan pelayanan Jaminan Persalinan mengacu pada standar pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). 6) Pelayanan Jaminan Persalinan diselenggarakan dengan prinsip Portabilitas, Pelayanan terstruktur berjenjang berdasarkan rujukan. 7) Untuk pelayanan paket persalinan tingkat pertama di fasilitas kesehatan pemerintah (Puskesmas dan Jaringannya) didanai berdasarkan usulan POA Puskesmas. 8) Untuk pelayanan paket persalinan tingkat pertama di fasilitas kesehatan swasta dibayarkan dengan mekanisme klaim. Klaim persalinan didasarkan atas tempat (lokasi wilayah) pelayanan persalinan dilakukan. Manfaat Jaminan Persalinan 1) Pemeriksaan kehamilan ante natal care (ANC), pertolongan persalinan, pemeriksaan post natal care (PNC) oleh tenaga kesehatan di faskes pemerintah (puskesmas dan jaringannya) dan faskes swasta yang tersedia fasilitas persalinan (Klinik/Rumah Bersalin, Dokter Praktik, Bidan Praktik) dan yang telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama(PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota 2) Pemeriksaan kehamilan dengan resiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan Rumah Sakit berdasarkan rujukan. Penyaluran Dana

Dana untuk pelayanan Jamkesmas termasuk Jampersal merupakan satu kesatuan (secara terintegrasi) disalurkan langsung dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta V ke : 1) Rekening Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai penanggung jawab Pengelolaan Jamkesmas di wilayahnya 2) Rekening Rumah Sakit untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (pemerintah dan swasta) Pola Pembayaran Pembayaran untuk pelayanan Jaminan Persalinan dilakukan dengan cara: 1) Pembayaran di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dilakukan dengan cara klaim 2) Pembayaran di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dilakukan dengan cara klaim, didasarkan atas paket INA-CBGs Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sekretariat Tim Pengelola Pusat, Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Selaku Tim Pengelola Jamkesmas Pusat, Kementerian Kesehatan, Gedung Prof. Sujudi Lantai 14. Jl HR Rasuna Said Kav 4-9 Jakarta Selatan Telp. 021.5221229; Fax . 021.52922020. Pemerintah Luncurkan JAMPERSAL Untuk Turunkan Angka Kematian Ibu Dan Bayi March 29, 2011 | 2:21 pm Untuk mempercepat pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 khususnya menurunkan angka kematian ibu dan anak, tahun ini Kementerian Kesehatan meluncurkan program Jaminan Persalian (Jampersal). Tujuannya untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan; meningkatkan cakupan pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan; meningkatkan cakupan pelayanan KB pasca persalinan; meningkatkan cakupan penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir; serta terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan. Peserta program dapat memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. Pelayanan Jampersal ini meliputi pemeriksaan kehamilan ante natal care (ANC), pertolongan persalinan, pemeriksaan post natal care (PNC) oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan pemerintah (Puskesmas dan jaringannya), faskes swasta yang tersedia fasilitas persalinan (Klinik/Rumah Bersalin, Dokter Praktik, Bidan Praktik) dan yang telah menanda-tangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota. Selain itu, pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan RS berdasarkan rujukan. Dalam Kebijakan Operasional sebagaimana tercantum dalam SK Menkes No. 515/Menkes/SK/III/2011 tentang Penerima dana Penyelenggaraan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan Dasar untuk tiap Kabupaten/Kota tahun anggaran 2011 diatur beberapa poin, diantaranya pengelolaan Jampersal di setiap jenjang pemerintahan (pusat, provinsi, dan kabupaten/kota) menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan Jamkesmas dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Pengelolaan kepesertaan Jampersal merupakan perluasan kepesertaan dari program Jamkesmas yang mengikuti tata kelola kepesertaan dan manajemen Jamkesmas, namun dengan kekhususan dalam hal penetapan pesertanya. Sementara pelayanannya diselenggarakan dengan prinsip Portabilitas, Pelayanan terstruktur berjenjang berdasarkan rujukan. Untuk pelayanan paket persalinan tingkat pertama di fasilitas kesehatan pemerintah (Puskesmas dan Jaringannya) didanai berdasarkan usulan rencana kerja (Plan Of Action/POA) Puskesmas. Untuk pelayanan paket persalinan tingkat pertama di fasilitas kesehatan swasta dibayarkan dengan mekanisme klaim. Klaim persalinan didasarkan atas tempat (lokasi wilayah) pelayanan persalinan dilakukan.

Dana untuk pelayanan Jamkesmas termasuk Jampersal merupakan satu kesatuan (secara terintegrasi) disalurkan langsung dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta V ke Rekening Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai penanggung jawab Pengelolaan Jamkesmas di wilayahnya dan Rekening RS untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (pemerintah dan swasta). Pembayaran untuk pelayanan Jaminan Persalinan dilakukan dengan cara klaim untuk Pembayaran di faskes Tingkat Pertama. Sementara pembayaran di fasilitas kesehatan Tingkat Lanjutan dilakukan dengan cara klaim, didasarkan paket INA-CBGs (Indonesia-Case Base Groups) dahulu INA-DRG. Informasi lebih rinci tentang program Jampersal dapat dilihat pada situs www.ppjk.depkes.go.id atau menghubungi Sekretariat Tim Pengelola Pusat Jamkesmas Telp. 021.5221229; Fax . 021.52922020. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 5223002, 52921669, Call Center: 021-500567, begin_of_the_skype_highlighting 021500567end_of_the_skype_highlighting, 30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id. Jakarta, Kementerian Kesehatan telah resmi meluncurkan program Jampersal (Jaminan Persalinan) untuk membantu ibu-ibu melahirkan secara gratis di fasilitas kesehatan pemerintah dan juga swasta yang sudah menandatangai kerja sama. Ibu hamil kini bisa melakukan persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan secara gratis dengan hanya bermodalkan KTP saja. Hal ini diharapkan bisa membantu mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan, seperti diungkapkan dalam rilis, Rabu (30/3/2011). Peserta program Jampersal ini bisa memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. Pelayanan Jampersal ini tidak hanya sebatas proses persalinan saja, tapi juga meliputi pemeriksaan kehamilan ante natal care (ANC), pertolongan persalinan, pemeriksaan post natal care (PNC) oleh tenaga kesehatan. Selain itu, pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan RS berdasarkan rujukan yang ada. Menurut data Kemenkes, 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. Hal ini karena masih banyaknya ibu tidak mampu yang persalinannya tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik karena terkendala biaya. Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal, angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. (ver/ir) Redaksi: redaksi[at]detikhealth.com Informasi pemasangan iklan Ines - 7941177 ext.523 Elin - 7941177 ext.520 email : iklan@detikhealth.com

APA DAN BAGAIMANA JAMPERSAL ITU ??? Menanggapi pemberitaan mengenai Program Jaminan Persalinan (Jampersal) yang baru-baru ini hangat dibicarakan berbagai media di Gorontalo,

maka agar tidak menjadi simpang-siur informasi tentang hal tersebut, untuk itu kami mencoba menelusuri seperti apa dan bagaimana Jampersal tersebut. Sesuai dengan pernyataan Menkes RI dr. Endang Rahayusedyaningsih,MPH,DR.PH bahwa Jampersal yang akan diprogramkan Kementerian Kesehatan RI memang masih dalam tahap penyiapan pedoman. Rencananya pada tanggal 30 Januari-03 Februari 2011 di Bandung akan ada pembahasan pedoman program Jampersal ini, yang mengundang seluruh perwakilam dinas kesehatan se Indonesia. Demikian ungkap Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Andriyanto Abdussamad,SKM,MKes saat ditemui diruangannya Jumat (28/01/11). Sejauh yang kami ketahui, rencananya Program ini akan di laksanakan pada tahun 2011 ini, namun tidak pada januari, karena masih dalam tahap persiapan pedoman dalam hal ini petunjuk teknis dan termasuk tata cara pembiayaannya Ungkap Andriyanto Inti dari program Jampersal ini merupakan upaya pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKB. Dan Kementerian kesehatan akan menjamin seluruh biaya pengobatan bagi wanita hamil dan melahirkan, sepanjang mereka melahirkan di Puskesmas dan RS pemerintah. Jampersal itu memberikan pertanggungjawaban biaya kepada ibu hamil yang ingin bersalin di RS pemerintah kelas 3 dan sarana pelayanan kesehatan. Andriyanto juga menjelaskan bahwa Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin, sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. Dijelaskan lagi oleh beliau bahwa, Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011, dengan priorotas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4,6 juta ibu hamil. Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1,7 juta ibu hamil pertahun. Dan tambahan dari jaminan persalinan 2011 ini bagi 900 ibu hamil. Demikian tutur Andriyanto Hal ini merupakan tahap awal mengingat terbatasnya anggaran. Seperti yang diketahui, pemerintah menyediakan dana 1,2 triliun untuk perlindungan ibu hamil melalui program Jampersal. Dana tersebut diambil dari dana yang dialokasikan untuk Kementerian Keseahtan melalui APBN 2011. Alokasi dana tersebut akan digunakan untuk pelaksanaan paket Jampersal antara lain, pendataan ibu hamil, pemeriksaan ibu hamil sebanyak 4 kali ANC, persalinan ditolong tenaga kesehatan, penanganan komplikasi dan rujukannya, nivas, dan penanganan bayi baru lahir sebanyak 3 kali, termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan konseling pemberian Asi eksklusif. Untuk itu masyarakat diminta sabar menunggu sampai terealisasinya program tersebut. Kita berharap tidak ada lagi kematian ibu melahirkan atau pun kematian bayi. Permasalahan terkait kesehatan ibu dan anak di Indonesia yang menjadi focus program yaitu tingginya angka kematian ibu dan anak. Kementerian Kesehatan melalui rencana strategi menetapkan penurunan kematian ibu dan anak sebagai target program yang juga sejalan dengan target MDGs tahun 2015 untuk menurunkan angka kematian anak 2/3 nya dan angka kematian ibu nya dari keadaan tahun 1990. Disadari bahwa terdapat disparitas AKI, AKB, dan pencapaian program kesehatan ibu dan anak antar Provinsi, kab/kota, tingkat pendidikan atau status ekonomi. Kematian bayi pada penduduk yang tidak berpendidikan 3 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan yang berpendidikan tinggi dan kematian pada tingkat social ekonomi rendah lebih besar. Demikian halnya cakupan imunisasi dasar lengkap lebih tinggi diperkotaan dari pada dipedesaan, lebih tinggi pada orang tua dengan status ekonomi dan tingkat pendidikan yang lebih baik. Hal ini menunjukan adanya kendala aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan, belum meratanya penempatan tenaga kesehatan, serata belum tercapainya competensi tenaga yang ada baik dibidang teknis maupun manajerial dalam penangaan masalah kesehatan ibu dan anak juga perlu mendapat perhatian. Termasuk ketersediaan Dokter special anak yang cukup bermakna terhadap akses pelayanan yang berkualitas.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan maksud menyampaikan materi berupa Orientasi Audit Maternal Perinatal. Dengan tujuan untuk menerapkan pembahasan analitik mengenai kasus kebidanan dan perinatal secara teratur dan berkesinambungan, yang dilakukan oleh Dikes kab/kota, RS pemerintah/swasta dan Puskesmas, rumah bersalin, BPS di wilayah kab/kota dan lintas batas kab/kota/provinsi. Dan juga untuk menentukan intervensi dan pembinaan untuk masing-masing pihak yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ditemukan dalam pembahasan kasus. Serta bertujuan mengembangkan mekanisme koordinasi antara Dinkes kab/kota, RS pemerintah dan swasta, Puskesmas, RB dan BPS dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi terhadap intervensi yang disepakati.Salah satu upaya yang dilakukan dalam penurunan kematian ibu, bayi dan balita adalah melalui penerapan Audit Maternal Perinatal (AMP) dan Autopsi Verbal kematian ibu, bayi dan balita. AMP merupakan suatu kegiatan untuk menelusuri sebab kesakitan dan kematian ibu, perinatal untuk mencegah terulangnya kejadian yang sama melalui pembahasan kasus. Kegiatan ini melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, para pemberi pelayanan dasar (Puskesmas dan Jajarannya) dan rumah sakit kab/kota, yang tergabung dalam satu tim. Melalui pertemuan pembahasan kasus, Tim AMP kab/kota dapat mengidentifikasi factor medik, non medik dan factor pelayanan kesehatan yang berpengaruh terhadap kematian ibu dan perinatal sehingga diharapkan dapat menetapkan prioritas pemecahan masalah dalam upaya penurunan AKI dan AKB. Pelaksanaan AMP dan Autopsi Verbal itu perlu dilakukan penguatan kembali baik dalam pelaksanaannya maupun kesinambungan program. Sekdinkes Provinsi Gorontalo menjelaskan bahwa AMP merupakan suatu kegiatan untuk menelusuri sebab kesakitan dan kematian ibu dan perinatal untuk mencegah terulang kejadian yang sama melalui pembahasan kasus kematian. Masih menyangkut Sosialisasi AMP tersebut, beliau tidak lupa mengingatkan kepada peserta tentang pentingnya penggunaan buku KIA bagi Ibu-ibu di masyarakat, karena buku KIA sangat bermanfaat untuk ibu hamil yang merupakan informasi secara langsung tentang kesehatan ibu dan anak, dan hal ini haruslah juga terus diingatkan oleh tenaga kesehatan di desa. Sehingga apa yang menjadi tujuan pembangunan kesehatan nasional dan juga MDGs dimana dari 8 Goals terdapat 5 Goals terkait kesehatan yang harus dicapai terutama Goals 4 dan 5 dalam MDGs. DAFTAR ISI ABSTRAKSI iii KATA PENGANTAR v DAFTAR ISI vii DAFTAR LAMPIRAN ix BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 1.2 Identifikasi Masalah 2 1.3 Pembatasan masalah dan perumusan masalah 2 BAB II MODEL PENGELOMPOKKAN TERPADU DAPAT MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN KELAS 2.1 Pengertian Pengelompokkan Terpadu dan Efektivitas Pengelolaan Kelas 3 2.1.1 Pengertian Model Pengelompokkan Terpadu 3 2.1.2 Pengertian Efektivitas Pengelompokkan Kelas 3 2.2 Visi, Misi dan Tujuan 4 2.2.1 Visi 4 2.2.2 Misi 5 2.2.3 Tujuan 6 2.3 Permasalahan yang Dihadapi Guru 6 2.3.1 Permasalahan yang Ada Pada Guru Itu Sendiri 6 2.3.2 Permasalahan Tempat Tugas 6 2.3.3 Permasalahan Dari Masyarakat 7 2.4 Upaya dan Dukungan dari Pemerintah Daerah, Komite Sekolah, dan KKG 7 BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 9 3.2 Saran 9 DAFTAR PUSTAKA 11 LAMPIRAN 12 DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS 18 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Keterangan Penulisan Karya Tulis 12 Lampiran 2 Rencana Pembelajaran 13 Lampiran 3 Lembar Kerja Siswa 15 Lampiran 4 Lembar Pengamatan 16 Lampiran 5 Hasil Pekerjaan Siswa Lampiran 6 Foto-Foto Kegiatan Belajar Mengajar dengan Model Kelompok Terpadu AB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi sekolah tersebut tidak akan efektif apabila komponen dari sistem sekolah tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri. salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru. Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. Sebagai guru kelas penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena jumlah siswa terlalu banyak. Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru dalam mengelola kelas. Namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kelas yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba menampilkan pengelolaan kelas dengan model pengelompokkan terpadu. Yang mana setiap kelompok terdiri dari beberapa orang siswa dengan tingkat kemampuan, sikap, dan keterampilan yang berbeda, karena hal ini banyak memberika manfaat dan kemudahan bagi guru dalam mengelola kelas. 1.2 Identifikasi Masalah Banyak masalah yang berkaitan dengan pengolaan kelas yang dapat diidentifikasi, diantaranya : Bagaimana menata siswa dalam kelas agar siswa dapat terorganisir dengan baik? Bagaimana Penataan ruang kelas agar dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Bagaimana penataan tempat duduk siswa agar siswa dapat belajar lebih efektif dan efisien serta memenuhi syarat edukatif. Bagaimana penataan alat-alat pelajaran dan perlengkapan kelas lainnya yang dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar Bagaimana menata keindahan dan kebersihan kelas sehingga dapat memotivasi siswa dalam kegiatan belajar. Bagaimana membina disiplin di dalam kelas melalui pendekatan-pendekatan tertentu yang dapat mengembangkan tingkah laku siswa yang diharapkan 1.3 Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah Dari sekian permasalahan yang ada tidak mungkin penulis dapat membahasnya secara keseluruhan, karena mengingat kemampuan yang ada baik intelektual, biaya dan waktu yang dimiliki penulis sangat terbatas. Maka penulis perlu memberikan batasan-batasan masalah. Pembatasan masalah diperlukan untuk memperjelas permasalahan yang ingin dipecahkan.

Oleh karena itu, penulis memberikan batasan sebagai berikut : Pengelolaan kelas yang berkaitan dengan penataan tempat duduk siswa yaitu dengan model pengelompokkan terpadu Sejauh mana model pengelompokkan terpadu membantu guru dalam pengelolaan kelas Model pengelompokkan terpadu ini diuji cobakan pada pelajaran Sains, dengan indikator "mengidentifikasi sifat benda padat, cair dan gas" BAB II MODEL PENGELOMPOKKAN TERPADU DAPAT MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PENGELOLAAN KELAS 2.1 Pengertian Model Pengelompokan Terpadu Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas memerlukan pengelolaan kelas yang efektif dan efisien salah satunya dengan menata tempat duduk siswa. Tempat duduk siswa di dalam kelas dapat dikelola dalam klasikal, individual dan kelompok. Model pengelompokkan terpadu adalah kelompokan yang di bentuk dengan berbagai macam tujuan dan terdiri dari beberapa siswa yang memiliki latar belakang kemampuan pengetahuan sikap dan keterampilan yang berbeda. 2.1.1 Pengertian Efektifitas Pengelolaan kelas A. Pengertian Efektifitas T.Hani Handoko Merumuskan definisi efektifitas sebagai berikut : "Efektifitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang telah di tetapkan".Sementara yang mengatakan bahwa "Efektifitas adalah kesanggupan untuk mewujudkan suatu tujuan". Dari rumusan-rumusan tersebut dapat disimpulkan bahwa efektifitas merupakan kemampuan atau kesanggupan memilih dan mewujudkan tujuan secara tepat. B. Pengertian Pengelolaan Kelas Kualitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar tergantung pada banyak faktor antara lain jumlah siswa dalam kelas yang merupakan bagian dari pengelolaan kelas. Yang dimaksud dalam kelas ruangan belajar. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah dan menjadi satu kesatuan yang diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis dalam kegiatan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai tujuan. Sedangkan pengelolaan kelas segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotifasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan. (pengelolaan kelas di Sekolah Dasar, 1993 /1994) Efektifitas pengelolaan kelas merupakan upaya pihak guru untuk menata kehidupan kelas dan melakukan serangkaian usaha atau kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan, memelihara dan mengatur kondisi yang optimal serta memperbaiki jika terjadi gangguan agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan efesien. 2.2 Visi, Misi dan Tujuan 2.2.1 Visi Guru dalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang berpontensial dibidang pembangunan oleh karena itu, guru merupakan salah satu unsur di bidang pendidikan yang harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tentuan masyarakat semangkin berkembang. Peranan guru meliputi 3 hal utama, yaitu mengajar, mendidikan dan melatih. Maka sebagai konsekwensinya guru harus bertindak sebagai perencana pembelajaran dan memudahkan pelaksanaan pembelajaran (fasilitator ). Sebagai perencana pembelajaran guru harus memiliki wawasan yang luas tentang tugasnya, serta memahami persalahan pendidikan. Guru juga harus memahami visi sekolah tempat dia bertugas sekaligus visi menjaga dirinya sendiri dalam melaksanakan tugasnya. Sebagai contoh SD Negeri Empang Bahagia I tempat penulis bekerja mempunyai Visi "Unggul dalam berprestasi, terampil dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan tehnologi berdasarkan iman dan takwa". Sejalan dengan visi sekolah tersebut penulis mempunyai visi pribadi yaitu " Prestasi dalam Profesi yang dilandasi Akhlakul karimah".

2.2.2 Misi Sebagai lembaga pendidikan mempunyai pendidikan misi dan berusaha untuk mewujudkannya misi merupakan cara untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Adapun misi SD Negeri Empang Bahagia I adalah sebagai berikut: Meningkatkan disiplin dalam proses belajar mengajar menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif pada seluruh warga sekolah. memotifasi dan membantu siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehimgga dapat dikembangkan secara optimal. Menumbuhkan penghayatan ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa, sehingga menjadi kearifan dalam bertindak. Meningkatkan ketrampilan siswa dalam mengunakan ilmu pengetahuan tehnologi. Misi sekolah yang telah dirumuskan tersebut harus di imbangi dengan misi pribadi seorang guru oleh sebab itu penulis mempunyai misi sebagai berikut : Menerapkan disiplin sehingga menjadi Role Model (panutan) bagi siswa. Mengembangkan wawasan profesi secara berkesinambungan. Berusaha melakukan inovasi menuju arah yang lebih baik. Menjaga hubungan baik dengan teman sejawat dan lebih meningkatkan hubungan dengan Sang pencipta. 2.2.3 Tujuan Tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut: Memberikan solusi alternatif dalam pengelolaan kelas khususnya bagi kelas dengan jumlah siswa melebihi kelas ideal. Mendeskrisikan manfaat yang dapat diperoleh dari Model Pengelompokan Terpadu. Membantu memotivasi guru untuk mengubah hambatan menjadi daya dukung dalam pembelajaran. 2.3 PERMASALAHAN YANG DIHADAPI GURU 2.3.1 Permasalahan yang Ada Pada Guru Itu Sendiri Guru malas membaca buku untuk menambah wawasan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Guru hanya terpaku pada buku yang ada saja. Guru malas inovasi dalam pembelajaran. Guru malas menggunakan berbagai metode dan tidak menguasai penggunaan alat peraga. Guru segan untuk konsultasi mengenai kesulitan pembelajaran dalam wadah KKG. Guru malas mengadakan bimbingan bagi siswa yang kurang menguasai pelajaran. 2.3.2 Permasalahan Tempat Tugas Tempat tugas terlalu jauh sehingga menghabiskan waktu di perjalanan. Suasana ditempat tugas tidak ada kekeluargaan dan tidak kondusif sehingga membuat guru tidak merasa nyaman. Kurangnya perhatian dari kepala sekolah tentang kelemahan guru Kurang tersedianya sarana dan prasarana di sekolah 2.3.3 Permasalahan dari Masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang masih kurang perhatian terhadap pendidikan. Dimata masyarakat guru serba segalanya sehingga bila melakukan suatu kesalahan, masyarakat langsung menghujat dan mencemooh. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang sangat pesan sehingga ada sebagian masyarakat yang lebih maju dalam IPTEK dibandingkan guru itu sendiri. Faktor lingkungan yang buruk sehingga ikut membentuk siswa menjadi kurang baik. Faktor kebudayaan, adat istiadat dan bahasa yang dapat juga mempengaruhi pendidikan.2.4 Upaya dan Dukungan Praktisi Pendidikan Untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (pendidik) bukan hanya merupakan tanggung jawab sekolah tetapi perlu adanya kerjasama yang baik dari pemerintah (PEMDA), Komite Sekolah dan masyarakat serta adanya kerjasama antar guru. Upaya dan dukungan tersebut antara lain: Penyediaan gedung sekolah bertingkat sarana lainnya .

Meningkatkan mutu guru melalui Dinas P&K Kota Tangerang dengan melalui penataran-penataran dan pelatihan adanya penyuluhan dan supervisi dari kepala sekolah, pengawas dan kepala Cabang Dinas Kecamatan Batuceper. Meningkatkan kesehjateraan guru melalui intensif. Adanya kerjasama antar guru dalam wadah KKG. Adanya kerjasama antar guru TK/SD atau Dinas P&K. Peningkatan kualitas guru dengan beasiswa PGSD DII atau SI. Adanya mutasi guru dalam mengajar agar tidak jenuh atau peningkatan karir. Adanya kerjasama antar sekolah dengan masyarakat melalui komite sekolah Adanya forum silahtuhrahmi antara sekolah dan masyarakat dalam merumuskan program dan kebijakan sekolah. Adanya kerjasama dengan intansi lain Adanya hubungan akrab Kepala sekolah dengan Guru. Penyampaian informasi terbaru dari guru yang baru mengikuti penataran. Kunjungan atau studi banding ke sekolah-sekolah yang lebih berhasil. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Setelah penulis mengamati proses Model Pengelompokan Terpadu dan mendapat nilai akhir siswa kelas IV dalam uji coba penerapan model pengelolaan kelas ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Pengelolaan kelas dengan Model Pengelompokkan Terpadu dapat membantu guru dalam mengkondisikan kelas untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa dengan baik sehingga mendapatkan hasil yang lebih optimal. Model Pengelompokkan Terpadu ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa terutama dalam pelajaran Sains dengan indikator "Mengidentifikasi sifat benda cair padat dan gas". Model Pengelompokkan Terpadu dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran sekolah. 3.2 Saran Berikut ini saran-saran yang dapat penulis sampaikan kepada para pembaca pada umumnya, khususnya kepada guru kelas diantaranya : Agar suatu proses pembelajaran hasil yang optimal maka semua komponen pembelajaran harus baik dan mendukung. Salah satunya pengeloaan kelas dengan Model Pembelajaran Terpadu. Model Pengelompokkan Terpadu dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran untuk itu bisa dijadikan model alternatif bagi guru. Guru hendaknya terbuka terhadap inovasi inovasi yang kreatif sehingga ilmu pengetahuan dan wawasannya mengenai pembelajaran semakin bertambah.DAFTAR PUSTAKA Debdikbud.1993/1994, Pengelolaan Sekolah Dasar. Arikunto, Suharsimi, Pengelolaan Kelas dan Siswa, (Jakarta : Raja Grafindo Persada 1996). Hani T. Handoko. Pengantar Manajemen, Edisi II BPFE Jogjakarta 1986. H. Zahara Idris. H. Lisma jamal. Pengantar Pendidikan, (Jakarta : PT Gramedia Wiidiasarana Indonesia 1992). Drs. A. Tabrani Rusyan Atang Kusdinar, B,A. DRS, Zainal Arifin Pendekatan