Anda di halaman 1dari 10

[HEADER FOOTER BIAR GUA AJA YANG ISI] Gila tugas lab men -_-

KORUPSI? NO WAY!

Apa yang kita pikirkan kalau mendengar kata korupsi ? Tindakan suap-menyuap oknum pemerintah? Iya. Penggelapan uang negara? Iya. Pemerasan saat mengurus SIM atau KTP, atau bahkan sekedar Surat Keterangan Kehilangan? Iya juga. Anggota DPR yang studi banding ke luar negeri tanpa outcome yang jelas? Itu apalagi! Atau, em, coba pikirkan tentang hal-hal yang lebih sederhana di sekitar kita. Korupsi itu... Keseringan datang terlambat di acara organisasi tanpa alasan yang jelas? Iya. Menyuap satpam kampus karena lupa bikin surat ijin penggunaan gedung kampus? Iya, itu juga korupsi. Ketua kelas yang seenaknya asal tunjuk outlet saat ingin mengadakan kaos kelas? Menggunakan properti OSIS atau BEM untuk keperluan pribadi? Wah! Lalu? Jadi, kesimpulannya? Apa sih sebenarnya korupsi itu??? Oke, kata korupsi sebenarnya berasal dari bahasa Latin corruptio . Kata ini punya kata kerja corrumpere yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalikkan, atau

menyogok. Kalau dipikir-pikir, orang yang terbiasa korupsi memang bisa jadi busuk kelakuannya, rusak akhlaknya, menggoyahkan iman orang lain, suka memutarbalikkan fakta, atau menyogok oknum pemerintah. Yah, seperti itu lah... Kalau berdasarkan hukum di Indonesia, korupsi itu dapat dipadatkan menjadi tujuh kelompok berikut: 1. Kerugian keuntungan negara, 2. Suap-menyuap, 3. Penggelapan dalam jabatan. 4. Pemerasan, 5. Perbuatan curang, 6. Benturan kepentingan dalam pengadaan, dan 7. Gratifikasi yang tidak dilaporkan.
1 Everything is possible, if we BELIEVE! We BELIEVE, We CAN!

[HEADER FOOTER BIAR GUA AJA YANG ISI] Gila tugas lab men -_Tapi, dalam tulisan saya kali ini, saya tidak akan membahas bentuk-bentuk korupsi lebih jauh lagi karena itu sudah bisa kita baca dengan lebih detilnya di buku panduan Lawan Korupsi yang sudah merakyat di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Sudah punya kan? :) Kali ini saya akan lebih membahas tentang kesengsaraan yang timbul akibat korupsi, cara agar korupsi itu tidak lagi merajalela di bumi kita tercinta, dan dampak negatif yang akan dialami oleh pelaku korupsi. Mau tahu? Mari lanjut...

Mengapa Korupsi Menyengsarakan Rakyat?


Ah, kenapa ditanya? Bukankah sudah jelas? Begini, menurut saya, korupsi itu sama dengan mengambil hak rakyat, atau sebut saja lah, mengambil hak orang lain. Namanya mengambil hak orang lain ya pasti merugikan! Ambil satu contoh kecil: memberi uang pelicin kepada petugas KTP di kelurahan, atau kepada petugas pembuat SIM atau pembuat Surat Keterangan Kehilangan di Kantor Polisi, agar dokumen-dokumen tersebut cepat selesai. Pasti kita rugi karena harus membayar uang lebih kepada oknum-oknum tersebut. Kalau kita bayar , dokumen cepat jadi. Kalau nggak bayar , ya tetap jadi, tapi lebih laaamaaa dan berbelit-belit. Fiuh! Si pembayar-paksa sudah diambil haknya terhadap waktu, tenaga, dan uang tentu saja. Rugi banget serugi-ruginya! Oke, mari ambil contoh lain yang lebih besar: korupsi pengadaan, alias tender yang dikuasai sendiri atau asal tunjuk karena memanfaatkan jabatan. Hasilnya, bisa jadi pemenang tender itu kurang memenuhi kualifikasi seharusnya. Akibatnya? Bahan bangunan yang dipakai bisa jadi kurang berkualitas, dan bangunan pun cepat rusak. Kalau sudah begitu, berarti dia sudah mengambil hak penawar yang lebih memenuhi kualifikasi, juga mengambil hak

Everything is possible, if we BELIEVE! We BELIEVE, We CAN!

[HEADER FOOTER BIAR GUA AJA YANG ISI] Gila tugas lab men -_masyarakat untuk menikmati infrastruktur yang layak dipakai dari pajak yang sudah mereka bayar. Yang ini jelas rugi kuadrat!! Masih banyak kerugian lainnya yang diakibatkan dari korupsi yang menyebabkan kesengsaraan rakyat. Berikut saya sebutkan saja poin-poinnya: 1. Penegakan hukum dan layanan masyarakat yang jadi tidak keruan. Contohnya seperti dalam kasus uang pelicin di atas. 2. Pembangunan fisik yang terbengkalai. Contohnya kasus pengadaan yang juga sudah disebutkan di atas. 3. Demokrasi jadi nggak berarti. Contohnya adalah kasus money-politic calon legislatif, atau sebut saja anggota pemilu, pilkada, dan pemilihan-pemilihan lainnya. 4. Prestasi jadi dikesampingkan. Contohnya kasus suap jabatan: orang yang berduit bisa seenaknya menyogok panitia pemilihan ketua agar dia dijadikan ketua pada organisasi tertentu. Padahal ada yang lebih kompeten dan berprestasi, lebih layak dan berhak. 5. Ekonomi rakyat jadi susah. Ini puncaknya. Kalau 4 hal di atas sudah terjadi, maka ujung-ujungnya adalah rusaknya perekonomian! Bayangkan saja, dengan jalanan atau infrastruktur yang rusak, dengan pejabat dan petinggi yang tidak kompeten yang mementingkan diri sendiri, dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat yang macet karena korupsi, kan itu jadi bikin perekonomian rusak. Rakyat miskin semakin miskin, miskin, miskin, dan menderita : (

Hm! Tapi kita tidak boleh menyerah dan tidak boleh terlalu lama dalam jurang kesedihan! Selalu ada jalan di setiap kemauan, selalu ada kemudahan bersama setiap kesukaran! Mari kita tarik-keluarkan nafas dalam-dalam, dan katakan, KITA BISA!

Everything is possible, if we BELIEVE! We BELIEVE, We CAN!

[HEADER FOOTER BIAR GUA AJA YANG ISI] Gila tugas lab men -_-

Bagaimana Mengatasi Korupsi


Lalu, bagaimana cara mengatasi korupsi yang seolah-olah sudah membudaya ini? Ya, seperti kata seorang ahli strategi Militer Cina yang sangat melegenda, SUN TZU, Kenali dirimu, kenali musuhmu, kenali keadaan dan kenalilah waktu! Seribu kali perang, seribu kali menang! Itu artinya kita harus mengenali musuh kita, si Korupsi, sebelum menyusun strategi. Jadi, pertama-tama kita harus tahu, korupsi itu kenapa sih bisa terjadi?

Mengapa ada Korupsi ? Ada banyak faktor yang mendasari orang melakukan korupsi. Di sini saya akan membaginya menjadi 4 poin saja. Berikut ini: 1. Terpaksa Ekonomi Contohnya, seorang pegawai pemerintah yang sedang dihimpit prahara ekonomi rumah tangga. Karena merasa sangat butuh uang dengan segera, dia dengan terpaksa menerima uang yang diberikan kliennya sebagai pelicin saat pelayanan masyarakat. Atau malah dia sendiri yang meminta uang pelicin itu, dengan terpaksa, dengan masih merasa bersalah. Korupsi yang semacam ini biasanya jumlahnya kecil-kecil saja, atau sampai kebutuhan ekonomi yang memaksanya itu tertutupi. Kalau kebablasan? Yaaah, itu urusan lain... 2. Dipaksa Contohnya, seorang pegawai pemerintah yang dipaksa pimpinannya untuk menerima uang suap dari rekanannya, dengan ancaman akan dipecat jika tidak menerima uang itu. Atau, malah dipaksa anggota keluarganya? Wah, keterlaluan memang! Tapi, bagaimanapun, ini berarti tetap dia telah melakukan korupsi. 3. Tidak punya pendirian Contohnya, seorang pegawai yang mengikuti arus : kalau teman-temannya korupsi, dapat uang yang tidak ada bukti transaksinya, dia tidak mempertanyakannya, dia ikut saja, dengan

Everything is possible, if we BELIEVE! We BELIEVE, We CAN!

[HEADER FOOTER BIAR GUA AJA YANG ISI] Gila tugas lab men -_hati yang tenang-tenang saja. Kalau ada teman yang mempertanyakan sumber uang itu, dia ikut-ikut. Kalau tidak ada, dia juga ikut. Ah... Nggak punya pendirian! 4. Serakah Ini penyebab yang paling parah dan paling susah dihentikan. Analoginya, ada seorang pegawai biasa yang karena iri dengan temannya, ingin punya mobil merk ternama keluaran terbaru. Alhasil, dia menghalalkan segala cara, termasuk korupsi. Dia terima sogokan sana-sini, curi sana-sini, senggol sana-sini. Done! Mobil pertama sudah terbeli! Tapi, ternyata ada mobil keluaran terbaru lagi, dia ingin beli lagi. Lalu, ingin beli real estate juga, ingin ini, ingin itu, banyak sekali! Kalau karena serakah, uang yang dikorupsi biasanya jumlahnya nggak nanggung-naggung, bisa ratusan juta, milyaran, bahkan sampai triliun! Memang, serakah harta itu bagaikan minum air laut: sekali minum, ingin minum lagi, ingin minum lagi, terus, terus, terus, karena dahaganya tak pernah selesai!

Lalu, Bagaimana ? Seperti yang sudah teruraikan di atas, dapat diambil suatu kesimpulan awal bahwa korupsi memang bukan sekedar penyakit negara. Korupsi, menurut saya, adalah lebih cederung pada penyakit pribadi , penyakit mental . Setiap orang bisa saja punya peluang untuk berbuat korupsi kalau attitude-nya tidak baik. Apakah dia aparatur pemerintah atau bukan, mahasiswa atau siswa SMA, kepala kantor atau ibu rumah tangga, semua bisa punya peluang untuk korupsi. Saya tekankan sekali lagi: korupsi adalah penyakit pribadi! Jadi, karena itu penyakit pribadi, cara membasminya pun harus dari pribadi masingmasing. Ini yang paling mendasar. Ya! Walaupun mendasar, ini justru yang paling penting! Apalagi, kita sekarang masih muda, masih punya visi yang kuat, kemauan keras, dan bersemangat! Kalau kita lebarkan visi kita untuk sekaligus mencegah kebiasaan korupsi, ya, why

Everything is possible, if we BELIEVE! We BELIEVE, We CAN!

[HEADER FOOTER BIAR GUA AJA YANG ISI] Gila tugas lab men -_not? Apalagi kalau kita memegang posisi sebagai pemimpin, atau orang yang berpengaruh di lingkungan kita! Double why-not! :D Misalnya nih, kita adalah ketua dari suatu organisasi A, atau yang lebih sederhana, ketua dari Bidang A. Kita harus bisa memanfaatkan jabatan itu untuk menanam benih-benih kebajikan. Maka, jadilah teladan yang baik untuk menumbuhkan bibit antikorupsi: datang tepat waktu, menghentikan kebiasaan menyuap satpam atau petugas kebersihan saat mencari ruang rapat, lalu menyosialisasikannya ke anggota bidang lain. Selain itu dapat membangun integritas, kejujuran, kedisiplinan, dan rasa malu berbuat curang, itu juga akan membiasakan diri kita untuk tidak-biasa-korupsi. Sebagai contoh nyata, pernah suatu hari, saya datang rapat sangat terlambat sekali hampir 30 menit karena kesalahan pribadi yang tidak perlu saya sebutkan di sini. Saya berlari

bergegas-gegas, dan tetap saja saya terlambat 30 menit. Parahnya, kebetulan saya adalah pemimpin rapat itu! Ouch! Sebagai pemimpin yang baik, sebelum memulai rapat, saya meminta maaf terlebih dulu atas keterlambatan saya. Lalu, saya melihat hal yang paling menyakitkan sedunia saat itu: teman saya sendiri mencibir dari sudut bibirnya, kira-kira seperti ini, Ah, masa sampai 30 menit? Ketua apaan tuh!? Setelah melihat hal itu, saya jadi malu bukan main! Malu semalu-malunya! Hasilnya, hingga detik ini, rapat yang saya pimpin biasanya dimulai tepat waktu. Paling lama, sekitar 15 menit dari waktu yang seharusnya. Itu pun baru sekali! Well, I did it! :D Begitulah. Memang segala hal yang baik itu dimulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dan dari sekarang. Intinya adalah: disiplin, dan malu! Disiplin untuk diri sendiri, dan malu berbuat tidak benar! Eits, tapi, sebagian dari kalian mungkin akan bertanya atau menyanggah, Ah, itu kan untuk lingkungan kecil saja. Mana bisa untuk menghentikan korupsi pejabat-pejabat Indonesia? Saya akan jawab dengan pasti: BISA!

Everything is possible, if we BELIEVE! We BELIEVE, We CAN!

[HEADER FOOTER BIAR GUA AJA YANG ISI] Gila tugas lab men -_Yakin banget!? Karena hidup akan sia-sia jika kita pesimis!

Dampak Negatif Korupsi bagi Pelakunya


Nah, selanjutnya, akan saya sampaikan pendapat saya mengenai kenapa korupsi itu tidak seharusnya dilakukan. Selain merugikan orang lain, korupsi juga merugikan dirinya sendiri. Banyak sekali kerugiannya! 1. Sosial Koruptor akan selalu menjadi bahan pembicaraan seluruh umat di dunia. Baik itu koruptor dari jaman nenek kita, sampai jaman cucu kita nanti. Nama mereka akan tercemar, dan pastinya malu secara sosial. Setiap akhir tahun, media akan mengulas tentang koruptorkoruptor yang pernah ada; lagi , lagi, dan lagi. Hal yang paling menyakitkan mungkin tidak dirasakan oleh koruptor itu sendiri yang telah muka-tembok, tapi justru oleh keluarga dekat mereka: suami, istri, anak, kakak, adik, terlebih ayah dan ibu si koruptor. Ah, kasihan orang tua kan? Jadi bahan pembicaraan, dicemooh, diliput di media dengan berita yang negatif :( 2. Hati Tidak Tenang Manusia sebenarnya punya naluri untuk mendekat kepada kebaikan. Setiap melakukan kejahatan, pasti merasa tidak tenang, was-was, gundah gulana, atau takut ketahuan orang lain, dan merasa berdosa pastinya. Begitu pula dengan koruptor. Mengambil hak orang lain dengan sadar pasti akan memunculkan perasaan tidak tenang, walaupun mungkin kebutuhan ekonomi tercukupi. Kecuali kalau hatinya sudah keras ya lain lagi ceritanya.... 3. Harta Tidak Berkah Korupsi, harta berlimpah, kaya raya. Iya, memang kaya raya. Tapi, itu kan hasil korupsi. Tidak berkah, Teman. Tidak membawa kebaikan sama sekali! Korupsi itu tandanya orang yang tidak bersyukur kepada nikmat Tuhan; tanda orang yang tamak nan serakah! Apabila daging seseorang tumbuh dari sumber makanan yang tidak halal, bisa dipastikan akhlaknya akan terpengaruh dan akan cenderung pada keburukan. Seperti yang saya jelaskan di atas, korupsi
7 Everything is possible, if we BELIEVE! We BELIEVE, We CAN!

[HEADER FOOTER BIAR GUA AJA YANG ISI] Gila tugas lab men -_itu seperti minum air laut. Asin! Bikin haus! Sekali korupsi, ingin korupsi lagi, lagi, dan lagi! Nggak pernah puas! 4. Harga Diri Jatuh Koruptor itu kan orang yang tidak amanah, mengambil hak orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Apabila seseorang sudah dikenal sebagai koruptor, maka harga dirinya akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Koruptor itu sudah dikenal sebagai musuh masyarakat! Dikenal tak bisa menjaga kepercayaan orang lain! Akibatnya? Pekerjaan baru susah didapat, kawan-kawan menjauh, tidak dipercaya, atau bahkan dikucilkan! Nah, itu di atas saya baru menyebutkan empat kerugian jadi korupsi. Kerugian lain yang sifatnya teknis, seperti dipenjara atau mendapat sanksi dari pemerintah, itu juga ada. Kerugian yang lain? Masih banyaaaaak sekali! Terlebih, koruptor harus mempertanggungjawabkan hartanya yang tidak halal itu di pengadilan akhirat kelak! :( Dari mana harta itu berasal? Dari mana? Mau tanggung jawab ke siapa, mau minta maaf ke siapa, padahal harta itu harta seluruh rakyat Indonesia?! Nah! Sedih kan?! Makanya, mari kita tatap cerah masa depan, bulatkan tekad! Jangan sampai hati kita goyah dengan korupsi!

Kesimpulan
Fiuh! Sudah banyak sekali saya menulis hingga baris ini. Sebelumnya, saya akan memberikan sebuah cerita yang sangat berarti ringan, tapi penuh makna. Yaitu tentang pentingnya nilai kebaikan pada semua orang. Selamat mengambil kue dan membaca :)
A Man of Value Alkisah, ada seorang profesor di salah satu universitas di Timur Tengah. Saat memasuki kelas, sang profesor memegang dua pecahan mata uang, 50 QR di tangan kanan dan 100 QR di tangan kiri. Kemudian dia bertanya kepada muridmuridnya, Berapa nilai uang di tangan kanan saya? Murid-murid menjawab,

Everything is possible, if we BELIEVE! We BELIEVE, We CAN!

[HEADER FOOTER BIAR GUA AJA YANG ISI] Gila tugas lab men -_100 QR Pak Professooorr. Lalu dia bertanya, Berapa nilai dari uang di tangan kiri saya? Kembali para murid menjawab, 50 QR Pak Professoor! Kemudian profesor meremas kedua uang kertas tersebut hingga lecek, lalu ditanyakan kembali kepada murid-muridnya, Berapa nilai uang di tangan kanan saya? Murid-murid pun kembali menjawab dengan jawaban yang sama, 50 QR Profff! Sang professor melanjutkan, Dan nilai mata uang di tangan kiri saya? Tidak cukup hanya meremas, sang professor sekarang membuang uang tadi ke lantai dan diinjak-injak sampai kotor hingga uang tersebut kusut dan terlihat cetakan sepatu sang professor di pecahan mata uang tersebut. Lalu, diangkat kembali uang tersebut dan ditanyakan kembali ke muridmuridnya, Berapa nilai dari kedua mata uang ini? Dijawab kembali oleh para muridnya, Tetap Prooff, 50 QR di tangan kiri dan 100 QR di tangan kanan. Murid-murid makin bingung dengan tingkah profesornya yang aneh. Salah satu mahasiswa yang bingung bertanya apa maksud dari semua ini. Sang profesor lalu kemudian menjelaskan bahwa maksud dari semua ini adalah setiap mata uang memiliki nilainya tersendiri. Uang pecahan 100 QR tidak akan mungkin berubah menjadi 50 QR atau 10 QR meskipun uang tersebut kusut, lecek dan kotor. Begitupun juga dengan manusia, nilai setiap orang berbeda dan kita lah yang bertanggung jawab untuk menentukan nilai kita sendiri, bukan teman, orang tua, guru, atau dosen kita. Bagaimana cara kita memberikan nilai kepada diri sendiri? Tentu dengan cara belajar lebih giat, bekerja lebih keras, dan berdoa lebih kencang! Berusaha menjalankan nilai-nilai yang positif jujur, tidak curang, tolong menolong, lalu menyebarkannya ke teman-teman terdekat kita! Walk the talk! Do action! Setelah nanti kita memiliki nilai , maka tunggu saja reward yang akan kita dapatkan ;)

Well, itu adalah sebuah kisah yang sangat menarik dari situs yang pernah saya baca. Cerita itu sedikit-banyak telah men-encourage saya untuk terus melakukan nilai-nilai kebaikan. Semoga Teman ikut tergugah hatinya! :) Begitulah. Korupsi sungguh banyak kerugiannya, baik di dunia maupun akhirat. Dibutuhkan tekad dan kemauan serta dukungan yang kuat untuk memberantas korupsi. Hal

Everything is possible, if we BELIEVE! We BELIEVE, We CAN!

[HEADER FOOTER BIAR GUA AJA YANG ISI] Gila tugas lab men -_yang paling penting dan mendasar adalah IMAN! Keyakinan kita pada Tuhan dan Hari Akhir, semoga bisa menjaga diri kita dari segala keburukan, bukan hanya dari korupsi. Hm... Jadi, dengan ini, saya harap saya bisa konsisten dan terus berusaha untuk tidak korupsi walau sebentar, walau sedikit, walau sulit, walau terhimpit! Karena Allah kita Maha Tahu. Aamiin.

Ditulis oleh Kartiyasa Arifta Putri.

10

Everything is possible, if we BELIEVE! We BELIEVE, We CAN!