Anda di halaman 1dari 40

Peta Paham Pluralisme Agama di Indonesia*

Ahmad Adib Musthofa** A. Pendahuluan Pluralitas (kemajemukan)1 maknanya telah dikaburkan2 kaum liberal. Pluralitas adalah bentuk sikap dari pluralisme.3 Padahal pluralitas adalah sebuah keniscayaan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan,4 sehingga kehadirannya tidak dapat dihindari dan sudah menjadi sunnatullah.5 Pluralisme agama diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya keragaman pemikiran keagamaan. Sehingga diharapkan seluruh pemeluk agama bersifat inklusif (terbuka) terhadap pemeluk agama lain, sebab Tanpa pandangan pluralis, kerukunan umat beragama tidak mungkin terjadi.6 Pluralisme bukan hanya menoleransi adanya keragaman agama, tetapi mengakui kebenaran masing-masing pemahaman serta menghilangkan klaim kebenaran dalam agamanya,7 setidaknya menurut logika para pengikutnya. Maka pluralisme dijadikan sebagai bentuk konkrit dalam menjalankan kerukunan berargama.8
* Tugas Akhir penelitian Program Kaderisasi Ulama angkatan ke tiga ISID-Gontor 2010 ** Peserta Program Kaderisasi Ulama angkatan ketiga ISID-Gontor 2010 utusan dari Pondok Pesantren Al-Manshur Darunnajah III Serang, Banten. Perbedaan-perbedaan aspek inilah yang mendorong manusia untuk saling kenal (lita`arafu) dengan yang lainnya. QS Al-Hujuraat 13 2 Fatwa MUI juga menolak asas pluralisme beragama, tapi bisa menerima pluralitas karena merupakan realitas. MUI agaknya membedakan pluralitas dan pluralisme, yang memang berbeda. Yang satu pemikiran dan yang lain adalah realitas yang tak bisa ditolak. Namun, keduanya berkaitan satu sama lain. Lihat, M. Dawam Raharjo, "Kala MUI Mengharamkan Pluralisme", Koran Tempo, Senin, 01 agustus 2005. "Pluralisme kenapa diharamkan itu kan tak lain dari tidak mengakui kemajemukan", lihat, Ahmad Syafii Ma`arif. Kompas, 23 April 2010. 3 "Maka Pluralitas itu meningkat menjadi pluralisme, yaitu sistem nilai yang memandang secara positif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu," Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Paramadina: Jakarta, 2000) cetakan keempat, hal lxxv. Djohan Effendi, Diskusi Ramadan, Solo: Indahnya Beragama dalam Keberagaman, dalam catatan Tahsinul Khuluq, dikutip dari http://islamlib.com/id/artikel/indahnya-beragama-dalam-keberagaman/ 4 Lihat, Fatwa MUI No: 7/Munas/VII/MUI/II/2005 Tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekulerisme Agama. 5 Ibid., lxxvii-lxxviii 6 Lihat, M. Dawam Rahardjo, "Kala MUI Mengharamkan Pluralisme". 7 Ulil Abshar Abdalla, "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam" Artikel diterbitkan oleh Koran Harian Kompas pada tanggal 18-11-2002 8 Imam Subkhan, Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme Di Yogya, (Yogyakarta: Kanisius 2007). Hal.29.
1

Dari definisi tersebut, kaum liberal menyamakan pluralisme dengan pluralitas, sehingga pluralisme pun dianggap sebagai sunnatullah. Padahal pluralitas adalah keragamaan sedangkan pluralisme adalah penyeragaman agamaagama.
"Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga."9

Pluralisme Inilah yang akan menimbulkan relativisme agama dan nihilisme kebenaran agama. Paham ini menjadi tema penting dalam disiplin ilmu sosiologi, teologi dan filsafat keagamaan yang berkembang di Barat serta agenda penting globalisasi.10 Pemahaman tentang pluralisme agama di Indonesia, merujuk pada dua aliran yang berkembang, yaitu pertama teology global (global theology) John Hick11 yang terpengaruhi oleh Wilfred Cantwell Smith dengan world theology.12 Dan kedua aliran kesatuan transenden agama-agama (Transendent Unity of Religions) yang digagas oleh Fritjhof Shuon yang terpengauh oleh Ananda Kentish Coomaraswamy dan Rene Guenon yang memiliki konsep serupa (philosophia perennis milik Coomaraswamy dan primodial tradition milik Guenon).13 Kedua aliran pluralisme ini berkembang dan membangun konsep yang berbeda. Perbedaan konsep diantara dua aliran ini dipicu oleh latar belakang yang
Lihat, Fatwa MUI No: 7/Munas/VII/MUI/II/2005 Tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekulerisme Agama. 10 Hamid Fahmy Zarkasyi, Pengantar, "Islam dan Paham Pluralisme Agama", Islamia, Tahun I Nomor 3, terbit Septembar-Oktober 2004. hal. 5-6 11 Profesor John Harwood Hick lahir di Yorkshire Inggris tahun 1922. Hick adalah seorang teolog dan filsuf agama. Selama lima belas tahun di Universitas Birmingham , Hick menjadi seorang pendiri, serta orang pertama yang menduduki, untuk kelompok All Faiths for One Race (AFFOR), ia menjabat sebagai pemimpin di Agama dan Budaya Panel, yang divisi dari Birmingham Komite Hubungan Masyarakat, dan dia juga memimpin komite koordinasi untuk konferensi 1944 diselenggarakan berdasarkan Undang-Undang Pendidikan baru dengan tujuan menciptakan silabus baru untuk pengajaran agama di sekolah-sekolah kota. 12 Anis Malik Thoha, "Konsep World Theology dan Global Theology", Islamia, THN I Nomor 4/Januari-Maret 2005. hal 52-53 13 Hamid Fahmy Zarkasyi, Paham Pluralisme Agama, Makalah disampaikan pada Acara Training Da'i tetang Aqidah dan Pemikiran Islam, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, di Cilegon Banten, pada Ahad, tanggal 27 Mei 2007.
9

berbeda. Meskipun kedua aliran pluralisme tersebut sama-sama muncul dari dunia Barat. Barat yang trauma dengan agama, sebab jika berbicara tentang agama, yang muncul dipikiran orang Barat adalah kekerasan, ingkuisisi, siksaan, kekakuan, merasa benar sendiri dll.14 Selain itu, agama dianggap semakin tidak bisa menjawab tantangan kehidupan yang semakin rumit. Sehingga agama dan kepercayaan perlu di modernisasikan serta disesuaikan perkembangan zaman untuk menjawab perubahan-perubahan yang terjadi. Maka lahir pluralisme agama pada masa pencerahan (Enlightenment) di Eropa. Tepatnya pada abad 18 Masehi yang terdapat bangkitnya gerakan pemikiran modern.15 Pluralisme lahir juga dari problem teology agama Kristen.16 Sebab agama di Barat (Kristen), masalah teologi didominasi oleh filosof. Sehingga teolog tidak memiliki otoritas. Dari masalah ini terlahir pemikiran yang hanya mengandalkan akal (filosof). Akal Barat modern tidak bisa menerima dengan teologi Kristen yang ada. Akhirnya para filosof berusaha mengakalkan teologi yang dimiliki Kristen. Dan dari sini masalah teologi di kuasai oleh para filosof. Kemudian lahir produk filsafat atheisme yang muncul pada masa pencerahan. Cara berfikir filosof Barat terhadap teologi ini akhirnya mulai memasuki pemikiran agama Islam setelah perang dunia ke dua, yaitu mulai terbukannya kesempatan generasi muda muslim untuk mengenyam pendidikan di Universitasuniversitas Barat sehingga bersentuhan langsung dengan cara berfikir dan budaya Barat.17 Dari sarjana-sarjana alumni Barat yang belajar studi Agama ini pluralisme di pasarkan di Indonesia, dan kemudian masuk dalam wacana-wacana keagamaan. Kondisi Barat yang sudah merasuk dalam pikiran pelajar Indonesia baik dari cara berfikir ataupun berbudaya akhirnya diadopsi, modifikasi dan justifikasi
Scott Peck, The Road Less Travelled, (London: Arrow Books Ltd., 1990) hal. 237-238. lihat, Fatimah Abdullah, "Konsep Islam Sebagai Din Kajian Terhadap Pemikiran Prof. Dr. SMN. Al-Attas", Islamia, Nomor 3 terbit September-November 2004. hal 49 15 Anis Malik Thoha, "Tren Pluralisme Agama", Tinjauan Kritis., (Jakarta: Perspektif 2005), hal. 16-17 16 Masalah problem teologi Kristen dibahas dalah buku, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, (Jakarta: Gema Insani , 2005)., hal 339-394, dan dalam buku Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di perguruan Tinggi (Jakarta: Gema Insani, 2006)., hal 101-115. 17 Ibid, hal. 22-23
14

kemudian diwacanakan di masyarakat dengan jalan pengkaburan makna pluralitas dengan pluralisme, akhirnya menimbulkan anggapan bahwa pluralisme adalah sunnatullah.18 Dari kondisi ini pemahaman pluralisme masuk kewilayah Indonesia. Pluralisme agama dimunculkan (oleh kaum pluralis diharapkan) untuk menangani konflik antar umat beragama dan problem sosial masyarakat khususnya masalah kerukunan antar umat beragama.19 Siti Musdah Mulia, mengatakan bahwa persoalan terbesar yang dihadapi umat beragama adalah konflik agama, baik intern pemeluk agama maupun antar agama. Untuk mencegah timbulnya konflik tersebut diperlukan suatu dialog sehingga akan melahirkan komitmen toleransi dan pluralisme. Dari sikap pluralisme ini diperlukan suatu sikap hidup keagamaan yang relative atau nisbi sebagai jalan keluar dari kemelut perpecahan dan pertentangan agama. jika semua agama mengambil sikap seperti ini maka agama bukanlah sebagai factor pemecahbelah melainkan perekat yang akan menebar rahmat bagi manusia, sebab kebenaran agama tidak hanya satu melainkan banyak. Dengan cara berpikir seperti ini pemeluk-pemeluk agama akan mendapatkan kerukunan umat beragama dalam kemajemukan agama yang real. Selain umat beragama berani mengakui eksistensi dan hak agama lain dan selanjutnya bersedia aktif dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan berbagai agama menuju terciptanya suatu kerukunan dalam kemajemukan agama.20 Padahal jika untuk kerukunan umat beragama terdapat toleransi antar umat beragama. Sedangkan pluralisme bukannya untuk merukunkan konflik umat beragama melainkan menghilangkan identitas agama. Sebab pluralisme akan
Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1995), hal.lxxii. Adian Husaini, Liberalisasi Islam di Indonesia, makalah disampaikan dalam acara Rakorda Majelis Ulama se-Jawa dan Lampung di Serang-Banten 11 Agustus 2009, hal.20. Zuly Qodir, "Muhamadiyah dan Pluralisme Agama," dalam Pluralisme dan Liberalisme: Pergolakan Pemikiran Anak Muda Muhammadiyah, (ed.) Imron Nasri (Jogjakarta: Citra Karsa Mandiri, 2005),hal 87-93. Lihat Biyanto, "Pluralisme Keagamaan dalam perdebatan" Pandangan Kaum Muda Muhamadiyah, (Malang: UMMPRESS 2009), hal. 10-11 19 http://www.gaulislam.com/jangan-memberhalakan-multikulturalisme 29 Maret 2010 20 Siti Musdah Mulia, "Pluralisme Agama dan Masa Depan Indonesia", Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam. Bingkai gagasan yang berserak, (ed) Sururin, (Bandung: diterbitkan atas kerja sama Penerbit Nuansa dengan Fatayat NU dan The Ford Foundation, 2005).hal 227-235.
18

mereduksi keistimewaan dari suatu agama menjadi tidak ada klaim kebenaran diantara agama, sebab kebenaran agama adalah banyak bukan satu. Sedangkan paham pluralisme agama masuk ke Indonesia pada disaat cendekiawan Muslim membuka kran liberalisasi yang di usung oleh Nurcholish Madjid.21 Berawal dari sinilah pluralisme dijadikan tren kehidupan umat beragama. Dengan dalih mencegah dan meredam konflik antar umat beragama.22 Tetapi, pluralisme agama bukanlah sekedar toleransi antar umat beragama yang sering di suarakan oleh para pendukung pluralisme agama. Pluralisme agama adalah sebuah bentuk untuk menuntut kesamaan dan kesetaraan (equality) dalam segala hal antar agama. Sehingga jika diterapkan dalam agama, akan menghilangkan istilah iman-kufur, tauhid-musyrik dan lain sebagainya. Dari konsekuensi paham ini adalah perubahan ajaran pada tingkatan akidah. Wacana pluralisme di tanah air tampak begitu ramai setelah MUI menerbitkan fatwanya No.7/MUNAS VII/MUI/11/2005. Dengan keluarnya fatwa tersebut, pendukung pluralisme agama di Indonesia dipukul dengan telak23 oleh fatwa MUI. Tetapi para pendukung pluralisme agama tidak berhenti begitu saja, ada kencenderungan mereka berubah kulit dengan istilah Abrahamic faith dan

21 Liberalisasi Islam di Indonesia di gulirkan oleh Nurcholish Madjid pada 3 Januari 1970. Idenya itu diadopsi dari pemikiran Harvey Cox dengan bukunya yang terkenal berjudul The Secular City. pada tanggal 12 Januari 1970 Nurcholish Madjid secara resmi meluncurkan gagasan sekularisasinya dalam diskusi di Markas PB Pelajar Islam Indonesia (PII) di Jalan Menteng Raya 58. Ketika itu Nurcholish meluncurkan makalah berjudul "Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat". Dua puluh tahun kemudian, gagasan itu kemudian diperkuat lagi dengan pidatonya di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tanggal 21 Oktober 1992 dengan judul "Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia". Lihat situs http://www.arrahmah.com/index.php/blog/read/1376/liberalisasi-islam-di-indonesia dikutip tanggal 28 Maret 2010. 22 Sedangkan menurut Anis Malik Thoha dalam wawancaranya dengan majalah Islamia mengatakan bahwa: kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme agama menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tapi justru mereka sendiri tidak toleran karena kebenaran eksklusif sebuah agama. Baca Wawancara wartawan Islamia dengan Dr. Anis Malik Thaha "Pluralisme Agama sama dengan Agama Baru", Islamia, tahun I No.1/Muharram 1425 23 Banyak cendekiawan yang merasa gerah dengan fatwa tersebut bahkan, Ahmad Sayafii Ma`arif, Tanggal 1 Agustus 2005, Syafii meminta agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkaji kembali fatwanya. Ulama-ulama di MUI dianggapnya tak paham pluralisme. Yang dikutip dari koran Sinar Harapan. Kemudian tulisan M. Dawam Raharjo, "Kala MUI Mengharamkan Pluralisme", Koran Tempo, Senin, 01 agustus 2005. lihat, Ahmad Syafii Ma`arif. "Pluralisme kenapa diharamkan itu kan tak lain dari tidak mengakui kemajemukan", Kompas, 23 April 2010. A.Syafii Ma`arif, "Mendudukkan Pluralisme Agama", Republika, 17 Maret 2009

multikulturalisme.24 Tetapi tujuannya tetap sama dengan pluralisme atau kesetaraan. Berdasarkan uraian diatas, bahwa paham pluralisme agama bukan lahir dari kazanah keindonesiaan, walaupun Indonesia memiliki kebinnekaan. Kaum pluralisme mengklaim bahwa pluralisme agama adalah bentuk menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tetapi kenyataannya adalah memaksakan kehendaknya terhadap umat beragama. Dan dari tipologi pluralisme yang ada di Indonesia adalah Transendent Unity of Religions lebih dikenal. Baik aliran global teologi atau kesatuan agama-agama adalah memiliki berbasis relativisme, teosofis dan nihilisme. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui pengaruh wacana pluralisme agama di Indonesia, sebab dari sebagian kalangan cendekiawan Indonesia mengatakan bahwa sejatinya pluralisme agama bukanlah menyamakan semua agama, tetapi bentuk toleransi atau pluralisme social terhadap umat beragama dan apakah benar bahwa pluralisme agama adalah demikian, akan kita buktikan pada tulisan selanjutnya.

B. Akar Pluralisme Agama di Barat Pikiran bahwa semua agama pada hakekatnya sama telah masuk di Indonesia. Pikiran ini bukan hanya memasuki pada agama-agama tertentu tetapi sudah masuk kesemua agama. pikiran seperti ini berawal dari perubahan teologi yang dialami oleh masyarakat Barat (Kristen). Kemunculan ide ini juga dari konsekuensi gereja katolik yang memegang kuat doktrin di luar gereja tidak ada keselamatan (extra ecclesiam nulla salus) sehingga doktrin tesebut mengancam sekte Kristen.25 Kemunculan sekte Kristen juga berawal dari problem teologi,
.sebutan lamapluralisme pun meredup. Namun ada yang memprotes bahwa sebutan multikulturalisme terlalu bias, berbau Eropa dan Amerika Utara. Ahmad Baso, dalam Sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (Bandung: Kerjasama Fatayat NU dan The Ford Foundation, 2005). Hal., 27.
25 Seperti sekte Mormon yang menjadi korban dari doktrin tersebut. Perlakuan diskriminatif kerap diterima para pengikut sekte ini sehingga menimbulkan konflik beradarah. Untuk meredam konflik tersebut serta menghilangkan sikap intoleran antar ras, etnis, dan agama maka paham liberal merupakan angina segar bagi penyelesaian konflik tersebut. Sehingga konsili 24

kemudian kepercayaan yang mereka yakini tidak dapat menjawab perubahan yang terjadi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Padahal perkembangan teknologi selalu terus berjalan, globalisasi pertukaran informasi begitu pesat, bahkan dunia menurut McLuhan (seorang ahli komunikasi Kanada) bagaikan kampung besar (global Village)26. Jarak dan waktu antar wilayah bisa disingkat itulah globalisasi. Dari arus globalisasi ini akan muncul dua aliran yang sangat berpengaruh dalam kajian agama khususnya pluralisme. Dua lairan tersebut adalah teology global dan transcendent unity of religions. Kemunculan pluralisme agama dengan masa modernisasi di Barat adalah sama tuanya. Kemunculan pemikiran pluralisme di Barat tepatnya pada masa pencerahan (Enlightenment) Eropa lebih tepatnya pada abad ke-18 masehi. Pemikiran ini terjadi pada saat Barat mengalami wacana pergolakan pemikiran superioritas akal dan pembebasan-pembebasan akal dari kungkungan doktrin agama (Kristen). dari pergolakan pemikiran inilah yang melahirkan liberalisme27 yang mengharapkan kebebasan, toleransi, persamaan dan keragaman atau pluralisme.28 Doktrin agama tidak sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan harus tunduk terhadap doktrin agama. para ilmuwan mengalami penyiksaan (masuk ke institusi gereja yang sangat terkenal dengan kejahatannya dan kekejamannya dan biasa dikenal dengan insquisisi)29 dari gereja sebab apa yang mereka temukan bertentangan dengan dokrin kekristenan.
vatikan harus merubah doktrin extra ecclesiam nulla salus menjadi doktrin keselamatan umum dan ini ditetapkan dalam konsili Vatikan II tahun 60-an. Dengan muculnya doktrin terwebut maka tidak ada klaim kebenaran atau superior. Bahwa keselamatan dapat ditemukan di tempat lain. Lihat John Hick dan Brian Bebblethwaite, (eds.), Christianity and Other Religions (Glasgow: Fount Paperbacks, 1980), hal. 80-86 26 Pengantar Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, M.A dalam bukunya Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural. Hal. xvii 27 Liberalisme pada awalnya sebagai aliran sosial politis, dari aliran inilah pluralisme muncul. pluralisme lebih kental terhadap aroma politik kemudian kemunculannya dikemas dengan pluralisme politik yang merupakan produk dari liberalisme politik. Sehingga pluralisme dalam terminology sosialis lebih kental dengan aroma politik dari pada sebagai permasalahn agama. lihat Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme agama Tinjauan Kritis, (Jakarta: Persepektif 2005), dan gerakan ini pada awalnya hanya untuk membatasi intervensi gereja dalam administrasi pemerintah. Akan tetapi gerakan ini pada abad 19 menular pada Kristen protestan sehingga lahirlah protestan liberalisme. Lihat Nirwan Syafrin, Islam dan Pluralisme Agama, dalam Majalah Islamia tahun I NO.3/September-November 2004. 28 Anis Malik Thaha, Tren Pluralisme agama Tinjauan Kritis, (Jakarta: Persepektif 2005), hal. 16-17

Pada masa pencerahan ini Barat mengalami masa industri dan masa bangkitnya ilmu pengetahuan. Pada masa-masa ini Barat disebut juga dengan masa translation (penterjamahan). Banyak buku-buku karya muslim yang diterjemahkan kembali ke bahasa latin. Buku-buku yang diterjemahkan khususnya ilmu pengetahuan. Sedangkan pada masa ini pula merupakan masa mayarakat Barat mulai meninggalkan ajaran agama yang mereka yakini. Dari sini awal sejarah modern dimulai. Mereka terinspirasi dari karya-karya muslim. Barat bangkit dari kejumudan akal, sehingga dari kejumudan inilah mereka bangkit dan berusaha menggunakan rasional akalnya. Akan tetapi nilai-nilai keislaman tidak terambil olah kalangan Barat. Sebelum zaman penterjemahan karya-karya umat islam, Barat dalam masa kegelapan. Barat menerjemahkan karya-karya umat Islam selama 5 abad, mulai dari abad 11 sampai abad ke 16. Sebelum masa penggunaan rasionalitas akal, Barat menyebutkan dengan masa kegelapan (dark age). Dominasi gereja sebagai begitu kuat dalam kehidupan masyarakat Barat. Sebab gereja diakui sebagai wakil Tuhan dan dalam tindakannya selalu atas nama Tuhan jadi apapun yang mereka lakukan tidak dapat salah (infallible), Sehingga menghasilkan pembrontakan dan protes sebagian umat Kristen terhadap gereja. Gerakan-gerakan tersebutlah yang nantinya akan menghasilkan sekte-sekte di aliran Kristen. Salahsatu aliran Kristen yang protes terhadap gereja katolik adalah Kristen protestan yang dipelopori oleh Martin Luther.30 Pembrontakan Kristen protestan terus berlangsung terhadap Kristen katolik. Sehingga Kristen Eropa terpecah menjadi dua bagian besar yaitu katolik dan protestan. Bertahun-tahun dua agama bersaing dan saling melakukan pembantaian31 sehingga menimbulkan trauma Barat terhadap ajaran agama,
Inquisisi adalah institusi pengadilan gereja yang didirikan oleh Monark Katolik Ferdinand dan Isabella yang bertujuan untuk memelihara ortodoksi kristen. Institusi ini mengadili perkara-perkara aliran sesat. Institusi akhirnya di hapuskan pada tanggal 15 juli 1854. 30 Seorang pastur jerman dan ahli teologi Kristen serta pendiri gereja protestan (14831546). Luther adalah tokoh terkemuka bagi reformasi gereja. Martin Luther melakukan protes terhadap doktrin kekristenan tentang jual beli surat pengampunan dosa (Indulgensia). Pada tanggal 31 Oktober 1517 melakukan pembrontakan pada Paus melalui menempelkan 95 poin penyataan di pintu gereja. Penjualan indolgensia merupakan penyelewengan. 31 Perebutan tahta di Inggris raja Henry VIII (1491-1547) memisahkan dari Paus dan membentuk gereja sendiri. Di Prancis katolik dan protestan bertarung dengan sangat mengerikan.
29

sehingga menimbulkan paham sekulerisme dalam politik, yakni memisahkan agama dengan politik. Agama adalah wilayah privat (pribadi) dan suci sedangkan politik adalah wilayah public dan kotor (provan). Untuk menjawab problem teology Kristen, perpecahan sekte kristen serta Kristen dalam merespon globalisasi maka muncullah aliran pluralisme agama. Dua aliran yang berkembang tersebut tumbuh dari keadaan Barat. Mereka berusaha menyikapi perubahan yang terjadi, khususnya melalui jalur keagamaan. Dua aliran tersebut adalah teology global dan transcendent unity of religions. Pada aliran pertama global theology kepanjangan tangan dan pendukung gerakan globalisasi sedangkan transcendent unity of religions merupakan aliran pluralisme yang menentang terhadap arus globalisasi. Tetapi sebetulnya kedua aliran ini ujung-ujungnya sama saja yaitu merelatifkan kebenaran agama, semua agama adalah jalan kebenaran dan keselamatan dan tidak ada truts claim kebenaran dalam beragama. a. Global Theology Pendekatan yang dipakai oleh aliran global teologi terhadap agama adalah lebih bersifat sosiologis, cultural32 dan idiologis.33 Bersifat sosiologis dan cultural, maksudnya agama disesuaikan dengan perkembangan sosial, budaya masyarakat yang berkembang. Sedangkan pendekatan idiologis adalah ide yang menjadi bagian dari gerakan globalisasi. Maknanya munculnya ide tentang pluralisme agama di Barat adalah berasamaan dengan hadirnya modernisasi. Kemunculan ide (global teologi) adalah untuk menjawab permasalah yang dialami oleh masyarakat Barat (Kristen) dan Arus globalisasi adalah salah satu yang melatar belakangi kehadiran ide ini. Pemikiran modernisasi di Barat ternyata tidak bisa menghilangkan peranan agama dalam kehidupan masyarakat. agama
Pembantaian kaum protestan (Calvinists di Paris) oleh kaum Katolik pada tahun 1572 yang lebih dikenal dengan The St. Bartholomew`s Day Massacre. Diperkirakan 10.000 mati. Philip J. Adler, World Civilizations, (Belmont: Wasworth, 2000), hal. 322. lihat Adian Husaini , Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, ( Jakarta: Gema Insani Press, 2005) hal 38-39 32 Charles Darwin (1809-1882) dan Herbert Spencer (1820-1904, menjastifikasi adanya perubahan dalam agama. Friedrick Max Muller (1794-1827), Emile Durkheim (1858-1917), Rudolf Otto (1869-1937) mereka mengatakan agama dengan realitas sosial 33 Pengantar, Merespon Globalisasi dengan Pluralisme Agama, dalam Majalah Islamia, tahun I NO.4/Januari-Maret 2005

semakin menjadi tema penting dalam masyarakat modern. Sehingga tema agama menjadi pembahasan tersendiri. Pengaruh globalisasi begitu kuat sehingga mampu mengubah kehidupan manusia. Arus globalisasi juga telah melunturkan sekat-sekat adat, nilai-nilai budaya, kultur bahkan jati diri yang dimiliki oleh suatu kelompok melebur bersama arus ini. Globalisasi merupakan sebuah fenomena. Kemunculannya erat dengan politik34, teknologi35, dan ekonomi36. Fenomena globalisasi ini mulai terjadi pada abad 19 dan harus disikapi dengan arif dan bijak. Menurut Malcom Walter, globalisasi yang datang bersama dengan kapitalisme adalah memasarkan idiologi Barat dan bahkan membawa kekuatan baru yang menghapus otoritas agama, politik, militer dan sumber kekuatan lainnya, oleh karenanya menurut Walter, gerakan globalisasi ini telah membawa idiologi yang bertujuan agar semua menjadi terbuka dan bebas menerima idiologi dan nilai-nilai kebudayaan Barat, seperi demokrasi, hak asasi manusia, feminisme, liberalisme dan sekulerisme.37 Namun, kemunculan globalisasi membawa dampak negatif bagi agama yaitu kemunculan wacana teologi radikal. Agama bagi umatnya berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman dalam menjalani realita kehidupan bukan hanya masalah hubungan sosial antar makhluk tetapi juga meyakini ketuhanan. Tetapi di era globalisasi, fungsi diatas dibalik menjadi agama yang seharusnya mengikuti konteks kehidupan. Dengan mengikuti konteks kehidupan maka agama dapat bermanfaat bagi manusia. Sebab jika agama melawan globalisasi (konteks kehidupan) berarti agama tidak bisa memberikan manfaat bagi pemeluknya. Oleh
Globalisasi pada ranah politik ditandai dengan berakhirnya perang dingin antara Timur yang dalam hal ini diwakili oleh Uni Sovyet, dan Barat yang dalam hal ini di wakili oleh Amerika. Dengan kekalahan Uni Sovyet berarti menandakan penguasaan terhadap wilayahwilayah yang lainnya. 35 Dengan banyak penemuan-penemuan tingkat produksi semakin tinggi, revolusi informasi dengan ledakan telekomunikasi yang luar biasa dan arus perpindahan informasi yang tak terkendalikan dari satu tempat ke tempat yang lainnya. 36 Globalisasi pada pada ranah ekonomi ditandainya lahirnya Organisasi Perdaganan Dunia (WTO) pada tahun 1995 yang kemudian menjadi bibit persemaian awal ide pasar perdagangan bebas di antara semua negara. Lihat Muh. Ikhsan, Makalah Pengaruh Globalisasi Terhadap Krisis Identitas Muslim, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2006) 37 Waters, Malkom, Globalization, (London: Routledge, 1995). Hal. 3. lihat Prof. Dr. Amer Al-Roubaie, Globalisasi dan Posisi Peradaban Islam, dalam Telaah Utama majalah Islamia, tahun I NO.4/Januari-Maret 2005
34

10

karena itu, jika konteks kehidupan berubah maka nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama juga berubah dengan semangat perubahan zaman. Teori seperi ini sebetulnya ingin menancapkan teologi baru yang bernama pluralisme agama. Benih-benih pluralisme agama sudah tampak dari tulisan teolog protestan Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834).38 John Hick banyak terpengaruh terhadap pemikiran mereka. Menurut penilaian Schleiermacher bahwa agama adalah urusan privat dan esensinya terletak pada jiwa dan diri manusia dalam interaksinya dengan yang mutlak (sense of absolute dependence)39, bukan pada institusi tertentu. Dari ungkapan Schleiermacher ini agama bukanlah sesuatu yang institusional, dan yang terpenting adalah esensi agama terdapat pada jiwa dan interaksi jiwa manusia pada yang mutlak. Ide pluralisme John Hick adalah representasi dari penemuan Copernicus tentang ilmu pengetahuan yaitu matahari sebagai sentral kehidupan. Dalam teori heliosentris Copernicus, bahwa planet dan galaksi mengitari matahari, maka John Hick mengganti dengan Tuhan sebagai pusat agama-agama dan menganjurkan untuk merevolusi teologi agama-agama. setelah terjadinya revolusi ini maka tidak ada agama yang paling benar tetapi semuanya menuju ke yang mutlak yaitu yang Real absolut. Selain kesatuan Tuhan sebagai pusat peredaran agama-agama, Hick juga beranggapan bahwa spiritual keagamaan manusia tidaklah berhenti dan tetap pada dogma keagamaan, agama bagi Hick adalah himpunan tradisi yang membentuk suatu keimanan dan senantiasa baru dan berganti-ganti menyesuaikan dengan perubahan zaman dan perkembangan akal. Sedangkan perkembangan globalisasi terus melintas diantara kultur-kultur yang ada, sehingga tidak dimungkinkan adanya agama universal. Tetapi untuk tidak menghilangkan agama-agama yang
Lihat, Friedrich Schleiemacher, "On Religion Speeches ti its Cultured Despisers" (New York: Harper, 1958), dikutip Dr. Muhammad Legenhausen, Islam and Religious Pluralism, (terj) Arif Mulayadi, (Jakarta: Lentera 2002), hal.28. "Schleiermacher menganggap bahwa secara esensi bersifat personal dan privat pada jiwa manusia kemudian melebur dalam pada Yang Tak Terbatas bukan pada system-sistem doktrin keagamaan dan juaga tidak pada penampakan lahiriyah yang lain. Dan pengalaman religius batiniah adalah inti dari semua agama. 39 Lihat http://www.sabda.org/biokristi/schleiermacher dikutip tanggal 9 april 2009, Nirwan Syafrin, Diskusi Buku Islam dan Pluralisme Agama, Islamia No.3/September-November 2004
38

11

ada paling tidak adalah teologi global (theology global).40 dengan demikian jelas bahwa John Hick membawa ide pluralisme agama dasar utamanya adalah globalisasi Selain globalisasi sebagai transformasi teologi agama-agama. Hick juga memiliki istilah fortuity of birth (ketidaksengajaan kelahiran) instilah ini juga untuk mendukung teori pluralismenya. Menurut anggapan Hick, manusia tidak memiliki pilihan dimana dan kapan akan lahir. Jika seorang lahir dilingkungan Islam dipastikan bayi tersebut akan beragama Islam, jika pada lingkungan Kristen maka dia akan Kristen dan lain sebagainya. Padahal dalam pandangan Islam bahwa keimanan manusia merupakan fitrah yang telah diberikan oleh Allah (perjanjian Primodial sebelum terlahir dibumi). Kemudian seorang bisa menjadi muslim, kristen atau yahudi karena pemahaman agama yang masuk pada dirinya.41 Berangkat dari asumsi manusia beragama karena lingkungan, maka Hick berpendapat "Teologi agama apapun yang kridebel, haruslah bener-bener mempertimbangkan factor lingkungan".42 Dari sini Hick ingin mengatakan bahwa dengan pluralisme teologi maka umat manusia tidak akan saling mempermasalahkan agama atau menyalahkan kelahirannya dilingkungan yang berbeda43. Sebab semua situasi pada hakekatnya sama, baik dilingkungan Kristen, Yahudi, Islam atau yang lainnya. Inilah sebetulnya yang ingin dibangun oleh Hick melalui the transformation from religion-centredness to God-centredness.44 Mentransformasikan agama-agama yang ada menuju Tuhan yang Real dan
"hendaknya kita siap merespons situasi baru dengan memulai program jangka panjang guna membangun teologi global atau humanis. Karena dapat diamati bahwa teologi global akan relevan dengan kelangsungan kondisi pluralitas agama sebagai bentuk kehidupan beragama yang realistis." John Hick, God and the Universe of Faiths, (Oxford: Oneworld, [1973] 1993) hal.106 lihat Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, hal. 80
40

14
Dari Abu Hurairah RA bersabda: setiap anak manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?. (HR. Bukhari) 42 Ibid, hal. 81 43 John Hick, God Has Many Name (terjemahan) Amin Ma`ruf dan Elga Sarapung, (Yogyakarta: Institut Dian/Interfidei, 2006) hal. 67-68 44 Ibid, hal. 81

12

absolut. Sebab Hick beranggapan pada saat sekarang manusia dalam beragama hanya sebatas sampai kepada yang Real relative. Dan maksud dari transformation religion-centredness adalah sama dengan konsepnya W. C. Smith, yaitu agama hanyalah sebagai komulatif tradisi yang tidak layak untuk mengakomodasi fenomena keagamaan yang selalu berubah-ubah, maka istilah agama harus ditinggalkan dan diganti menjadi iman dan kumpulan tradisi-tradisi. Dengan kata lain, bahwa pintu keselamatan bukanlah tunggal tetapi terdapat pada tiap tradisi dalam merespon Realitas ketuhanan yang mutlak dan absolut45 Hick beranggapan juga bahwa Tuhan yang Real dan absolute dalam Islam adalah Al-Haq, kemudian dalam tradisi Hindu adanya Nirguna Brahman dan Saguna Brahman, dalam Yahudi Kabbala ada sebutan En Soph (Tuhan yang mutlak), dalam Kristen ada sebutan Godhead. Nama-nama tersebut dimaknai oleh sebagai Tuhan yang Real absolut atau Real an Sich atau the noumenal Real.46 Sedangkan Yahweh, Trinitas, Allah, Krisna, Wisnu, Syiwa dan yang lainnya itu menurut Hick adalah Tuhan Real relative atau the phenomenal Real. Dan kesalahan manusia pada saat sekarang hanya memahami Tuhan pada tingkat Tuhan yang phenomenal real, sehingga keselamatan hanya terdapat pada agamanya masing-masing. Tetapi jika manusia bisa memahami pada tingkat Tuhan yang Real absolut atau Real an Sich atau the noumenal Real maka keselamatan terdapat pada setiap agama. Jika Tuhan yang selama ini adalah Tuhan Real relative maka siapakah yang memberikan larangan dan perintah, kemudian di tingkat Tuhan real relative perintah dan larangan tidak jelas, bagaimana manusia akan mencapai pada tingkat pemahaman Tuhan real absolute, dan inilah bentuk ketidak jelasan teori teologi global. Kemudian Hick juga mengkritik, Agama yang masih berkeyakinan pada tingkat Tuhan Real relative atau the phenomenal Real berarti masih pada

45 Anis Malik Thoha, Konsep World Theology dan Global Theology", Islamia, Nomor 4/Januari-Maret 2005, hal 55-56 46 John Hick, Philosophy of religion, (Prentice Hall, 1990) hal.117, lihat John Hick, Dialogues in The Philosophy of Religion, (Palgrave Macmillan, 2001) hal. I32

13

tingkatan teologi Ptolemaik47. Agama yang yang masih berkeyakinan bahwa agama sebagai pusat keimanan. Dengan revolusi Copernicus berarti Tuhanlah yang menjadi pusat agama-agama. hal ini dijelaskan bahwa revolusi Copernican telah merubah dogma bahwa bumi adalah pusat dari alam tetapi mataharilh yang sesungguhnya yang berada pada pusat dari semua planet termasuk bumi kita yang bergerak mengelilinginnya.48 Sebetulnya teori pluralisme teologi yang di tawarkan oleh John Hick adalah untuk menjawab fenomena problem teologi yang terjadi pada agama Kristen. Dalam agama Kristen terdapat Kristen katolik dengan doktrin diluar gereja tidak ada keselamatan (extra ecclesiam nulla salus), dalam protestan terdapat doktrin diluar Kristen tidak ada keselamatan (no salvation outside Christianity), dan juga terdapat Kristen ortodoks. Semua sekte yang terdapat Kristen mengkalim bahwa agama yang mereka yakini adalah yang paling benar, dan untuk mendamaikan diantara mereka dilahirkanlah ide tersebut yaitu pluralisme teologi. disetiap agama terdapat kebenaran, dan disetiap agama hanya menuju kepada Tuhan Real an sich yang absolute. Tetapi ide tersebut ditawarkan kepada masyarakat global sehingga agama tidak perlu memiliki batas-batas tertentu, sebab fenomena global tidak memiliki batas kultur atau batas geografis, maka pemahaman terhadap teologi agama harus dirubah, bukan pada praktek ritual ibadahnya, sebab ritual ibadah warisan dari orang-orang terdahulu dalam mengapresiasikan ibadah kepada Tuhan yang absolute. Inilah bentuk pluralisme teologi yang ditawarkan John Hick. Ajaran agama digiring pada posisi budaya dan tradisi bukan dari aturan Tuhan. b. Transendent Unity of Religions Aliran pluralisme yang kedua adalah transcendent unity of religion (kesatuan transcendent agama-agama). Kemunculannya berbeda dengan aliran yang pertama (global teologi). Aliran transcendent unity of religion muncul untuk
47 Sebuah teori ilmu pengetahuan sebelum teori Copernicus. Teori Ptolemaik adalah bahwa bumi sebagai pusat peredaran kehidupan 48 John Hick, God Has Many Names, (Philadelphia, The Westminster Press, 1980), hal., 36

14

menolak modernisasi atau globalisasi. Sebab menurut pemikiran modern, agama dianggap bisa berubah disesuaikan dengan sosial, lingkungan, budaya serta mengikuti perkembangan zaman. Padahal dalam Islam terdapat doktrin yang tetap (eklusif) berkenaan dengan teologi dan metafisika dan bisa berubah (inklusif) berkenaan dengan moral dan etika.49 Kajian pendekatan yang dilakukan aliran ini berbeda dengan global teologi. Jika global teologi pendekatanya melalui sosiologis tapi pada transcendent unity of religion lebih kepada filosofis dan teologis. Aliran ini lebih mengedepankan kepada mempertahankan tradisi.50 Jika pada aliran global teologi tidak percaya bahwa Tuhan berbicara (berfirman) kepada manusia, tapi aliran transcendent unity of religion mempercayai bahwa Tuhan berbicara (berfirman) kepada manusia. Sehingga aliran ini juga mengakui kesakralan wahyu. Pendekatan yang digunakan oleh aliran ini adalah melalui tradisi tradisional yang terdapat pada agama-agama. Salah satu konsep tradisi tradisional yang ada di agama-agama adalah konsep Sophia perrenis51 jika di agama Hindu disebut dengan Sanata Dharma, dalam agama Islam disebut dengan al-hikmah al-

Wan Azhar Wan Ahmad, Kesatuan Transenden Agama-Agama Sebuah Respon awal, Islamia, Nomor 3/September-November 2004, hal 70. 50 Truths or principles of a divine origin revealed or unveiled to mankind and, in fact, a whole cosmic sector through various figures envisaged as messengers, prophets, avataras, the logos or other transmitting agencies, along with all the ramifications and applications of these principles in different realms including law and social structure art symbolism, the sciences and embracing of course supreme knowledge along with the means for its attainment. Sayyed Hossein Nasr, Knowledge and The Sacred, (Albany: State University of New York, 1989 ), hal 68. "Realitas-realitas atau prinsip-prinsip dasar ketuhanan yang asli yang diwahyukan kepada seluruh manusia dan segenap alam lewat perantara para rasul, nabi avatara dan logos atau perantaraperantara yang lain, dengan berbagai cabang prinsip tersebut dan aplikasinya dalam berbagai bidang termasuk hukum, bangunan sosial seni, symbol dan berbagai macam ilmu ." Lihat anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, hal., 112 51 Istilah filsafat perennial dipopulerkan oleh Aldous Huxley dengan karyanya The Perennial Philosophy yang terbit tahun 1946. Sophia Perennis bukan sebuah disiplin ilmu teapi sebuah pandangan dunia yang tidak hanya memberikan perspektif berdasarkan disiplin intelektual, tetapi juga memberikan sumbangan bagi kehidupan itu sendiri. Adnan Aslan, Pluralisme Agama dalam Filsafat Islam dan Kristen Seyyed Hossein Nasr dan John Hick, (terj) Munir, ( Bandung: Alifya, 2004), hal. 64-65. The Sophia Perennis is to know the total Truth and consequently to will the Good and love Beauty and this in conformity to this Truth hence with full awareness of the reasons for doing so (Sophia Perennis adalah untuk mengetahui total kebenaran dan konsekuensinya untuk mencapai kebaikan dan kecintaan yang sesuai dengan kebenaran dengan rasa penuh kesadaran untuk melakukannya) www.frithjof-schuon.com dikutip pada tanggal 12 April 2010

49

15

khalidah. Kajian dalam konsep tersebut adalah tentang hakekat esoteris52 esensi yang wujud dan hakekat-hakekat eksoterik yang beragam dari manifestasi yang transcendent. Gagasan tentang transcendent unity of religion diusung oleh Frithjof Schuon. Gagasan ini berawal dari keyakinan Schuon tentang pengetahuan. Bagi dirinya bahwa intelek adalah pusat manusia yang berada dalam hati. (The "heart" means the Intellect and by extension the individual essence, the fundamental tendency, of man; in both senses it is the center of the human being)53 jadi kualifikasi antara intelektual harus didampingi dengan kualifikasi moral. Sebab jika tidak, maka intelektual tidak akan berfungsi tanpa spiritual. Hubungan diantara intelektual dan spiritual adalah saling keterkaitan dan tidak bisa saling dipisahkan hidup dalam kebenaran.54 Menurut Schuon dimensi esoteris dan eksoteris yang berada dalam agama dapat diketahui melalui intelektual. Menurut teorinya adalah secara psikologis ego manusia terkait dengan badan (body), otak (brain) dan hati (heart). Jika badan diasosiasikan dengan eksistensi fisik, otak dengan fikiran (mind), maka hati (heart) dikaitkan dengan intelek.55 Jika dikaitkan dengan realitas, maka intelek dapat diasosiasikan dengan esensi Tuhan (yang satu) dan langit (alam yang menjadi model "archetype" dasar), sedang pikiran dan badan dibawah kendali yang berasal dari intelek.56
Esoteric adalah radius yang memberikan sarana untuk melangkah dari pinggir ke pusat, tetapi ia tidak tersedia bagi semua orang, mengingat tidak setiap orang ingin atau memenuhi syarat untuk melakukan perjalanan ke pusat dalam kehidupan ini. Namun mengikuti dimensi esotoris agama berarti tetap berada di pinggiran dan karenanya disuatu dunia yang memiliki suatu pusat, dan tetap memenuhi syarat untuk menjalankan perjalanan menuju pusat di akhirat dengan melihat Tuhan Sebago satu-satunya kemungkinan yang ada dari sudut pandang esotoris. Sayyed Hosen Nasr, Knowledge and the Sacred, (Albany: State University of New York Press, 1981),hal.77 lihat Adnan Aslan, Pluralisme Agama dalam Filsafat Islam dan Kristen Seyyed Hossein Nasr dan John Hick, (terj) Munir, ( Bandung: Alifya, 2004), hal. 238 53 Frithjof Schoun, Spiritual Perpectives and Human Facts: A New Translation with Selected Letters (Indiana: World Wisdom , 2007), hal. 79. 54 the relationship between intellectuality and spirituality is like relationship between center and circumference in the sense that intellectualiy transcends us whereas spirituality enfold us. intellectuality becomes spirituality when the whole man, and not only his intelligence, lives in the truth. Ibid., Hal 79 55 Frithjof Schuon, James S. Cutsinger, Gnosis: Divine wisdom: A New Translation With Selected Letters, (Indiana: World Wisdom, 2006), hal., 76-80 56 Adin Armas, Gagasan Frithjof Schuon Tentang Titik Temu Agama-agama, ISLAMIA, tahun I NO.3/September-November 2004
52

16

Jadi kedudukan intelektual lebih tinggi dari pada rasio. Intelektual berdasarkan cahaya ketuhanan yang terhubung pada hubungan manusia dengan Tuhan kemudian teraplikasikan pada kehidupan manusia sebab intelektual adalah inkarnasi Tuhan pada manusia. Sedangkan ratio (akal) bekerja berdasarkan datadata. Ratio adalah media untuk menunjukkan jalan kepada orang buta, sedangkan intelek dapat menggunakan rasio untuk mendukung aktualisasinya. Intelek manusia terkadang bersifat ketuhanan dan pada sisi lain bersifat kemanusiaan. Hakekatnya hati merupakan pusat kehidupan manusia, dan manusia dapat memahami kebenaran melalui intuisi. Dari intuisi inilah manusia dapat mengetahui antara yang absolut dan yang relative, sedangkan Schuon berpendapat bahwa agama-agama bertemu pada level esoteris, esensi yang transcendent dan absolute. Pemikiran Schuon diatas cenderung membenarkan semua agama. Pembenaran yang tak berdasarkan wahyu, tetapi pembenaran berdasarkan intelek. Sedangkan intelek bagi Schuon adalah inkarnasi Tuhan pada manusia. Jadi manusia dapat menempatkan benar dan salah berdasarkan intelek manusia. Padahal di dalam Islam benar dan salah selain dapat dilakukan oleh rasio tetapi berdasarkan wahyu. Jika dalam beragama yang terpenting adalah mengakui esensi Tuhan di wilayah esoteris, maka setanpun percaya bahwa Tuhan adalah sebagai pencipta tapi setan tetap dikutuk oleh Allah, sebab tidak mau mengakui dan melaksanakan rububiyah Allah. Jika agama-agama bertemu pada titik esoteris, sebagai konsekuen logisnya adalah agama-agama terbentuk dari yang absolute yang transcendent yaitu pada level esoteris. Agama-agama yang ada adalah bentuk dari manivestasi yang absolute sedangkan keberagaman adalah bentuk dari eksoterik atau hakekat yang relegius yang berasal dari manivestasi esotorik. Pada tingkat esotoris keabsolutan Tuhan. Dan apa yang dimanivestasikan Tuhan yang absolute tidak ada keabsolutan, yang ada hanyalah relative yang absolute. C. Pengaruh Wacana Pluralisme Agama di Indonesia

17

Pengaruh globalisasasi memberikan pola baru pada agama-agama, dari globalisasi muncul dua aliran yang salah satunya ingin merubah doktrin agama sesuai perubahan zaman (menerima globalisasi) dan satu aliran lagi ingin mempertahankan agama pada posisinya (menolak globalisasi), tetapi keduaduanya mengorbankan akidah (teologi) dari masing-masing agama. kedua pola tersebut terbentuk pada gagasan pluralisme agama. Kemudian wacana Pluralisme agama yang bergulir di Indonesia tidak lepas dari peranan para cendikiawan dan sarjanawan.57 Wacana pluralisme ini telah merubah realitas keberagaman agamaagama serta mempengaruhi teologi yang ada pada tiap agama-agama untuk dirubah. Contoh kasus adalah ungkapan Azyumardi Azra mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan bahwa Islam itu terdiri dari berbagai macam bentuk dan Islam itu bukan satu tetapi Islam adalah banyak macam dan alirannya.58 Wacana pluralisme mengagetkan umat Islam dan umat agama lainnya. Padahal dari sejak kelahirannya bangsa ini (Indonesia) telah hidup bersama dengan keanekaragaman dengan semboyan Bhinneka Tunggal Eka saling bertoleransi antar umat beragama. Akan tetapi menurut kaum pluralis toleransi belum memberikan bukti nyata sehingga banyak pertikaian antar umat beragama disebabkan klaim kebenaran. Padahal kemunculan konflik antar umat beragama

Prof. Dr. Nurcholish Madjid, "Kendatipun cara atau jalan keberagaman menuju Tuhan berbeda-beda namun Tuhan yang hendak kita tuju adalah Tuhan yang sama Allah Yang Maha Esa." Pengantar buku Pluralitas agama Kerukunan dalam Keragaman, (Jakarta: KOMPAS, 2001) hal. 6., Prof. Dr. Dawam Raharjo, "kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh satu pihak, melainkan tersebar di banyak tempat. Setiap orang dan kelompok memiliki hak atas klaim kebenaran tidak tunggal, tetapi banyak, http://www.sinarharapan.co.id/berita/0705/26/op01.html., Budhy Munawar Rahman, dalam artikelnya Basis Teologi Persaudaraan antara Agama, dikutip dari situs www.islamlib.com., Wajah Liberal Islam di Indonesia (Jakarta: JIL, 2002), hal. 51-53., Dr. Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung: Mizan, 1997). Hal. 108-109., Abdul Munir Mulkhan, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar,(Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002)hal,. 44., Satu Tuhan Beribu Tafsir, (Yogyakarta: Kanisius, 2007). Hal. 124-125., Ulil Abshar Abdalla, artikel Menyegarkan kembali Pemahaman Islam, Kompas, 18-112002 dan situs Jaringan Islam Liberal www.islamlib.com., Sumanto Al Qurtuby, Lubang Hitam Agama, (Yogyakarta: Rumah Kata, 2005). Hal. 45., 58 "sesungguhnya, orang sering menolak kalau dikatakan bahwa Islam itu banyak. Menurut saya Islam memang pluralis, Islam itu banyak, tetapi ada yang menolaknya dan mengatakan bahwa Islam hanya satu. Azyumardi Azra, Pluralisme Islam dalam Perspektif Historis, Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (ed) Sururin, (Bandung: Kerjasama Fatayat NU dan The Ford Foundation, 2005). Hal., 150.

57

18

yang terjadi adalah disebabkan unsur sosial, politik dan ekonomi bukan masalah agama. Alih-alih ingin mencari solusi pertikaian yang terjadi, kaum pluralis membawa wacana pluralisme agama dengan janji serta solusi yang bisa membawa kemaslahatan,59 tetapi ternyata kaum pluralis bukan membawa solusi penyelesaian pertikaian melainkan membawa paham pembenaran terhadap semua agama, dengan cara merubah teologi-teologi yang sudah ada.60 Penganut pluralis beranggapan bahwa teologi yang konvensional sudah tidak layak untuk diterapkan kembali di zaman yang telah terus berubah (globalisasi), baik batas-batas kultur, geografis, suku, budaya, agama dan lain sebagainya, maka agama-agama pun juga harus terbebas dari batas-batas yang memberikan sekat perbedaan antar agama dan antar umat baragama, dengan harapan tidak adanya saling klaim bahwa agamanya adalah paling benar. Disinilah tujuan utama dari pluralisme agama, yaitu; memberikan keragu-raguan terhadap umat beragama terhadap agama yang dipeluknya dengan tidak boleh mengklaim bahwa agamanya paling benar. Wacana pluralisme agama telah ada dari sejak abad 18.61 jika dirunut kesejarahannya wacana ini muncul dari para filosof Barat yang memandang tentang ajaran agama. kemudian wacana ini sampai ke Indonesia melalui para sarjanawan dan cendekiawan yang belajar di Barat atau yang setuju dengan ideide Barat.62 Para sarjanawan Barat memandang agama sebagai objek kajian
"Dalam beragama diperlukan adanya suatu sikap hidup keagamaan yang relatif atau nisbi sebagai jalan keluar dari kemelut perpecahan dan pertentangan agama yang pasti merusak kesatuan dan persatuan bangsa. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa jika semua agama mengambil sikap yang sama maka dapatlah dijamin bahwa agama bukan lagi merupakan factor pemecahbelah yang akan membawa malapetaka bagi kehidupan manusia, melainkan sebagai perekat yang akan menebarkan rahmat bagi semua manusia, bahkan bagi alam semesta." Siti Musdah Mulia, dalam sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (Bandung: Ftayat NU dan The Ford Foundation, 2005). Hal. 234 60 ".berkaitan tema Islam dan pluralisme buat saya jelas mengindikasikan dibutuhkannya sebuah rumusan teologi baru yang lain dari teologi konvensional, karena nyatanyata rumusan teologi konvensional dipandang tidak capable untuk menjelaskan realitas umat yang plural. Dengan tema Islam dan pluralisme, disana akan kita temukan gagasan tentang hubungan antaragaman, toleransi yang sesungguhnya, bukan lazy toleran sebagai mana pernah terjadi era rezim Orde Baru." Zuly Qodir, Islam Liberal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, (Edisi Revisi) 2007), hal. 147. 61 Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, (Jakarta: Perspektif, 2005). Hal.16 62 "Gagasan Pluralisme agama yang muncul lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kultur Barat modern dalam dunia Islam. Pendapat ini diperkuat oleh realitas bahwa gagasan pluralisme agama dalam wacana pemikiran Islam, baru muncul pada
59

19

keilmuan, serta dalam penelitiannya pun harus seobjektif mungkin. Mereka mempelajari beberapa agama berdasarkan metode pendekatan sosiologis dan histories bukan secara normatif. Mereka balajar agama bukan untuk diamalkan tetapi, mereka belajar agama hanya sebagai kajian penelitian. Sehingga, agama Islam yang telah sempurna dianggap tidak/belum sempurna, seiring dengan perubahan zaman yang selalu berubah-ubah, sehingga Islam yang telah sempurna dan yang bersifat universal pun dianggap sebagai agama yang menyejarah dan harus bergabung dengan agama-agama lain untuk mencapai kesempurnaannya. Padahal didalam Islam terdapat yang pokok (usul) yang tak dapat dirubah sampai kapan pun, tetapi yang furu` bisa berubah-ubah sesuai dengan aturan-aturan yang mengaturnya. Kemudian, wacana pluralisme agama tampak begitu ramai dibicarakan dimedia massa, workshop, kajian-kajian. Wacana ini juga mendapat tanggapan serius oleh MUI, sehingga MUI (Majelis Ulama Indonesia) tahun 2005 mengeluarkan fatwa keharaman paham pluralisme agama. Fatwa haram pluralisme dikeluarkan MUI agar pemikiran ini tidak semakin mewabah pada umat. Sebab pluralisme agama mengajak kepada umat beragama untuk ragu terhadap agama-agama yang diyakininya. Keragu-raguan tersebut ditimbulkan karena pluralisme agama menanamkan paham relatifisme.63 Dari anggapan relatifitas tafsiran terhadap agama maka akan menghasilkan sesuatu yang lebih bahaya lagi, yaitu; aliran nihilisme kebenaran agama.64
masa-masa pasca-perang Dunia kedua, yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan langsung dengan budaya Barat. Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, hal 23, The Asia Foundation has been Supporting a diverse group of mass-based Muslim group since 1970s. http://www.asiafoundation.org/Location/indonesia.html Lihat, Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, (Ponorogo: CIOS, 2007) hal. 85-90. 63 " Kebenaran agama tidak hanya satu, melainkan banyak. Yang dimaksudkan kebenaran agama disini adalah apa yang ditemukan manusia dari pemahaman kitab sucinya sehingga kebenaran agama dapat beragam." Siti Musdah Mulia, dalam Sururin (ed) Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (Bandung: Fatayat NU dan The Ford Foundation, 2005) hal. 235. "ada banyak jalan menuju sorga. Katolik bukan jalan satu-satunya. Orang yang ingin masuk surga tidak harus melalui Kristen" ungkapan Romo Mangun yang dikutip oleh Arief Budiman dalam Dialog Kritik dan Identitas Agama, Seri Dian I/Tahun I (Yogyakarta: Dian/Interfidei, 1993), hal. 185 64 Menrut Hans Kung "empat kemungkinan pendirian terhadap keaneka ragaman agamaagama dunia: a) Taka ada satu agama pun yang benar (atau semua agama sama-sama tidak benar); b) Hanya ada satu agama yang benar (atau semua agama lainnya tidak benar); c) Setiap agama adalah benar (atau semua agama "sama-sama" benar); d) Hanya ada satu agama yang benar dalam arti semua agama lainnya mengambil bagain dalam kebenaran agama yang satu itu. Theology for

20

Dengan pluralisme agama, umat beragama digiring pada wilayah pemikiran yang meragukan, yaitu; menerima semua kebenaran agama, sebab semua agama sama derajatnya yaitu sama-sama benar. Menurut kaum pluralis, manusia adalah makluk relatif. Maka, tafsiran kebenaran agama yang dicapai bersifat relatif, tidak mutlak. Oleh karena itu tak seorangpun dapat memutlakkan pendapatnya dan mengklaim bahwa pendapatnya adalah kebenaran.65 Pendapat hasil pemikiran/tafsiran manusia relatif diatas dijawab oleh Wan Mohd Nor Wan Daud.66 Menurut beliau, pendapat seperti itu adalah keliru, sepintas tampak logis dan indah. Padahal Allah menganugrahi akal manusia untuk berpikir, dan untuk sampai pada derajat keyakinan yang tentu saja pada level manusia, bukan pada level Tuhan. Dengan akal dan keyakinan itulah kita paham mana yang haq dan mana yang bathil. Sedangkan menurut Adian Husaini, manusia diperintahkan menyakini kebenaran yang mutlak, pada tataran manusia, bukan pada tataran Tuhan. Sebab itu tidak mungkin. Apakah kebenaran dengan K besar atau k kecil, yang terpenting adalah bahwa akal manusia bisa mencapai tahap kepastian dan keyakinan (`ilm).67 Selain pluralisme mengajak kepada relatifisme, pluralisme bisa mengajak kepada nihilisme. Jika pada relatifisme semua agama adalah benar semua, maka nihilisme akan menafikan semua kebenaran agama atau bisa jadi tidak ada kebenaran dalam agama. Inilah sebenarnya pengaruh pluralisme, yaitu ingin menyingkirkan ajaran agama dari kehidupan masyarakat dengan menanamkan keragu-raguan. Sebab agama dianggap menjadi penghalang proses globalisasi dan demokrasi.
the Third Millenium, 230-237. Bdk. Hams Kung "Towards an Ecumenical Theology of Religions: Some Theses for Clarifications "dalam CONCIL-IUM 183 (1986), 119s. dikutip oleh St. Sunardi, Dialog: Kritik dan Identitas Agama, (Yogyakarta: Dian/Interfidei, 1993). Hal. 69. 65 Siti Musdah Mulia, "Pluralisme Agama dan Masa Depan Indonesia", Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (ed) Sururin, (Bandung: Fatayat NU, 2005), hal., 233-235, Ahmad Syafii Maarif, Memutlakan Kenisbia, Republika 29/12/2006. 66 Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud seorang pemikir dan intelektual yang telah menyelesaikan Ph.D. di Chicago Uneversity dengan tesis berjudul "The Concept of Knowledge in Islam and Its Implications in the Malaysian Concept" dibawah bimbingan Prof. Fazlur Rahman. Beliau sejak 1988 ikut merintis ISTAC dan membantu Prof. Naquib al-Atta dan tahun 1998 beliau menjabat Deputy Director ISTAC. 67 Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hal. 195-199

21

Wacana pluralisme agama di Indonesia tidak lepas dari peran cendekiawan muslim Indonesia yaitu Prof. Dr. Nurcholish Madjid, lewat idenya Islam inklusif,68 Islam dan Islam pluralis. Ide teologi Nurcholish Madjid Kemudian diikuti dan dimodifikasi oleh Budhy Munawar-Rachman menjadi teologi eksklusif, inklusif dan paralelis. Sikap Inklusif artinya agama-agama lain adalah bentuk implicit agama kita, artinya agama-agama lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan pengikutnya sedangkan pluralis adalah agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama. Ide Islam inklusif yang dimiliki Nurcholish Madjid adalah mengikuti teologi yang dimiliki oleh Kristen. Inklusif Kristen muncul sejak berakhirnya Konsili Vatikan II (19621965), Katolik Roma melakukan perubahan konsep teologinya, dari (extra ecclesiam nulla salus) menjadi teologi inklusif.
Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap haormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkan sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang.69

Masih dalam dokumen konsili Vatikan II tentang nostra aetate (pernyataan gereja dengan agama-agama lain) tentang agama Islam.
Gereja juga menghargai Umat Islam yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belas kasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepda Umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetapan allah juga yang ersifat rahasia, seperti dahulu Abraham iman Islam dengan suka rela mengacu kepadanya telah menyertakan diri kepada Allah.70

Teologi inklusif Kristen ini kemudian dimodifikasi oleh Nurcholish Madjid menjadi teologi Islam inklusif, kemudian dipaparkan Nurcholish Madjid saat pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 21 Okober 1992. Beliau memberikan judul pidatonya "Beberapa Renungan tentang Kehidupan
Dawam Raharjo memberikan julukan pada Nurcholish Madjid dengan seorang yang inklusif., dikutip dari http://islamlib.com/id/artikel/membedah-pluralisme-cak-nur/ tanggal 15 april 2010. teologi inklusif diibaratkan bahwa agama adalah sebagai cahaya-cahaya tapi yang paling terang adalah cahaya agamanya. Ide teologi Nur Cholish ini dipengaruhi oleh teologi agama Kristen. Diantara teolog kristen yang mempengaruhi beliau adalah Hendrik Khaemer, Karl Barth, Karl Rahner, John Hick 69 Dokumen Konsili Vatikan II (terj) R. Hardawiryana, SJ, (Jakarta: Obor 1993), hal 321. 70 Ibid.
68

22

Keagamaan di Indonesia untuk Generasi Mendatang". Dalam pidatonya tersebut beliau menggagas tentang Islam sebagai agama yang hanf dan inklusif serta melancarkan kritik keras terhadap gejala fundamentalisme dan radikalisme agama. Untuk mendukung gagasan ide inklusifnya, Nurcholish Madjid mendefinisikan ulang makna Islam.71 Islam dalam pandangannya bukan hanya sebutan khusus bagi suatu agama, tetapi sebutan yang bisa dipakai semua agama. Agama yang pasrah terhadap Tuhan adalah bentuk dari Islam. Melalui gagasan tersebut, beliau memberikan sebuah definisi baru atas Islam. Dari definisi Islam yang beliau miliki maka agama apapun adalah bentuk dari Islam. Padahal Rasulullah72 telah mendefiniskan Islam itu adalah suatu agama yang nama agamanya diberikan langsung dari Allah dan Islam bukan nama khayalan manusia. Pendefinisian ulang makna Islam oleh Nurcholish Madjid dalam bukunya Islam Doktrin dan Peradaban;
Karena prinsip-prinsip itu maka semua agama yang benar pada hakekatnya adalah "alislam", yakni, semuanya mengajarkan sikap pasrah kepada Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Kitab Suci berulang kali kita dapati penegasan bahwa agama para nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. adalah semuannya al-islam karena inti semuannya adalah ajaran tentang sikap pasrah kepada Tuhan. Atas dasar inilah maka agama yang dibawa oleh nabi Muhammad disebut agama Islam, karena ia secara sadar dan dengan penuh deliberasi mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan, sehingga agama Nabi Muhammad merupakan al-islam par excellence, namun bukan satu-satunya, dan tidak unik dalam arti berdiri sendiri, melainkan tampil dalam rangkaian dengan agamaagama al-islam yang lain, yang telah tampil terdahulu.73

Dari pendefinisian ini, Nurcholish Madjid mengatakan bahwa semua agama adalah sama. Kesamaan yang dimaksud oleh Nurcholish adalah pasrah terhadap Tuhan. Jadi agama apapun dengan menyembah Tuhan apapun jika mereka pasrah, maka agama tersebut dapat disebut Islam. Disini Nurcholish Madjid dalam memaknai Islam menggunakan pemikiran tekstualis, padahal pemikiran tektualis menjadi musuh beliau. Jika makna Islam adalah kepasrahan, bagaimana
Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992) cet. Ke-IV tahun 2000, hal.,426-440. 72 Rasulullah pernah mengirim surat kepada Heraclitus, Kaisar Romawi Timur, Kepada Kaisar Persia Ebrewez, Kepada Kaisar Najasyi, Kepada penguasa Mesir Muqauqis. Surat nabi itu adalah bentuk dari dakwah Rasulullah mengajak masuk agama Islam. Aslim taslam jadi hanya agama Islamlah agama keselamatan. Agama yang hanya berserah diri kepada Allah. Tuhan yang disembah oleh para nabi dengan konsep tauhid. 73 Ibid., hal.427
71

23

Nurcholish Madjid akan memaknai hadis nabi tentang rukun Islam,74 Padahal dalam hadis tersebut sangat jelas makna Islam adalah nama suatu agama.75 Dari pendapat Nurcholish Madjid diatas, beliau terlihat keberatan bahwa Islam sebagai nama dari sebuah agama sehingga harus didefinisikan ulang. Padahal istilah Islam bukan dari sahabat atau ulama, melainkan pemberian langsung oleh Allah melalui wahyu.76 Selain keberatan terhadap istilah Islam sebagai Agama Nurcholish Madjid juga Islam itu juga bermacam-macam dan Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad adalah Islam par excellence (terbaik). Padahal sejak nabi Adam As sampai nabi Muhammad Islam itu adalah satu yaitu menyembah dan pasrah kepada Allah. Islam adalah agama tauhid walaupun syariat yang diberikan Allah berbeda. Jika pada zaman sebelum nabi Muhammad para nabi diutus hanya kepada kaumnya tetapi pada saat nabi Muhammad, dakwah nabi lebih universal dan inilah kesempurnaan Islam. Membaca gagasan ide Nurcholish Madjid tentang pendefinisian ulang Islam telah menyesatkan. Ide tersebut tidak berdasarkan Al-Quran atau AsSunnah dan sangat jelasa beliau hanya mengandalkan akalnya. Dan ide tersebut untuk mendukung pluralisme agama. Gagasan penyamaan semua agama (bahwa segala agama yang tunduk terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta adalah Islam) merupakan penanaman kerelativitasan agama. dan ini berarti semua agama adalah relative sebab manusia adalah sifatnya relative, maka kebenaran agama adalah relatif. Selain Nurcholish Madjid, banyak para cendekiawan yang beranggapan bahwa pluralisme sangat diperlukan dalam mejaga keharmonisan antar agama dan antar umat beragama. Diantara para cendekiawan yang perlunya umat beragama sadar terhadap pluralisme agama adalah: 1.
Prof Dr Dawam Rahardjo, "kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh satu pihak, melainkan tersebar di banyak tempat. Setiap orang dan kelompok memiliki hak atas klaim kebenaran. Kebenaran tidak tunggal, tetapi banyak.77

47 ( ) 57 ) ( 67 ( 19 )
77

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0705/26/opi01.html dikutip tanggal 1 april 2010

24

2.

Dr. Alwi Shihab, "Prinsip lain yang digariskan oleh Al Quran, adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan, dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan. Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide mengenai Pluralisme keAgamaan dan menolak eksklusivisme. Dalam pengertian lain, eksklusivisme keAgamaan tidak sesuai dengan semangat Al Quran. Sebab al Quran tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya."78

Pengaruh yang lain adalah munculnya beberapa aliran-aliran sesat yang tumbuh subur di Indonesia. Seperti Ahmadiyah, Lia Eden, bahkan mereka meminta kepada pemerintah untuk dapat diakui tumbuh di negeri ini. Agar dapat di terima di masyarakat Indonesia. mereka (aliran-aliran sesat dan kaum pluralis) berusaha untuk mencabut undang-undang No. 1 Tahun 1965 tentang Larangan Penodaan Agama. Dengan alasan tidak sesuai dengan UUD 1945 dan falsafah bangsa Indonesia (Pancasila). Tetapi Mahkamah Konstitusi menolaknya. D. Tipologi Pluralisme Agama Di Indonesia Tipologi pluralisme di Indonesia adalah bentuknya modifikasi. Beberapa mengambil sebagian aliran global teologi dan sebagian mengambil dari Transendent Unity of Religions. Dan kedua aliran tersebut bertujuan sama, yaitu; keberadaan agama-agama sama derajatnya. Tetapi aliran yang diminati oleh kaum pluralis Indonesia adalah aliran transendent unity of religions. Sebab wacana agama Indonesia banyak dilatar belakangi oleh konflik sosial dari pada konflik teologi. 1. Pluralisme Basis Relativisme Kebenaran dogma menjadi salah satu perbincangan dalam masalah pluralisme agama. Truth claim terhadap dogma agama yang dipeluk para penganut agama-agama seakan mengusik kaum pluralis, sehingga kaum pluralis menganjurkan kepada pemeluk agama untuk menganut paham ini. Tetapi kaum pluralis sendiri memaknai pluralisme masih dalam perdebatan. Pluralisme yang ada di Indonesia memiliki beberapa tipe, pada satu sisi mengandung nilai-nilai toleransi, pada sisi yang lain mengandung nilai relativisme bahkan, sampai pada tingkat nihilisme. Doktrin relativisme beramula dari
Alwi Shihab, Islam Inklusif; Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung: Mizan, 1997), hal. 108-109.
78

25

Protagoras sorang sofis yang berprinsip bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu (man is the measure of all things).79 Doktrin relativisme hanya mengandalkan akal manusia maknanya agama hanyalah tradisi. Agama tidak layak dijadikan patokan/standarisasi nilai-nilai kebenaran yang absolute.80 Kaum relativis berkeyakinan yang absolute hanya Tuhan,81 jadi kebenaran agama hasil tafsiran manusia adalah relative dan tidak absolut. Agama (Tuhan) memiliki keabsolutan kebenaran dan dan jika agama memasuki akal manusia, maka wahyu tersebut akan menjadi pemikiran keagamaan, maka pemikiran tersebut (representasi manusia tentang agama) adalah relatif sebab manusia sifatnya relatif.82
"Disamping itu, ternyata kita juga menyaksikan bagaimana penafsiran atas sebuah agama (baca: Islam) sendiri tidaklah tunggal. Dengan demikian upaya mempersamakan dan mempersatukan dibawah payung (satu tafsir) agama menjadi kontradiktif. Pada gilirannya agama kemudian menjadi sangat relatif ketika dijelmakan dalam praktik kehidupan sehari-hari."83

Padahal dalam agama Islam keabsolutan itu bisa sampai tingkat manusia, sebab manusia di bekali wahyu, akal, rasul atau khabar shadiq. Dan akidah adalah bagian dari khabar shadiq yang diriwayatkan rasulullah kepada sahabatsahabatnya dan turun kepada ulama-ulama. Bisa kita bayangkan jika di dunia ini
Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, (Ponorogo, Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), 2007), hal., 92-98 80 "Ke depan diperlukan langkah-langkah yang terencana dan sistemik untuk mereposisi peran agama di dalam masyarakat Indonesia. Agama jangan lagi dijadikan sebagai alat control, terlebih lagi sebagai sebagai alat untuk mendominasi." Siti Musdah Mulia, dalam Sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (Bandung: Fatayat NU dan The Ford Foundation, 2005) hal. 238-239. 81 Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, menyatakan, sekali pemahaman akan wahyu memasuki akal manusia, siapa pun manusia itu, ia akan memasuki wilayah kenisbian. Tidak boleh diklaim sebagai suatu kebenaran. Akal manusia tidak akan sampai mengetahui hakekat kebenaran. Sehingga, konsekwensinya juga tidak bisa mengetahui hakekat kebatilan. Akhirnya tidak boleh mengatakan bahwa apa yang diyakini oleh seseorang benar atau batil. Menurut pernyataan beliau ini, bahwa kebenaran absolute hanya dimiliki oleh Tuhan. Jika wahyu Tuhan telah memasuki akal manusia, maka kebenaran itu menjadi relative dan nisbi, sebab manusia sifatnya adalah relative. Syafii Maarif, "Mutlak dalam Kenisbian", Republika 29/12/2006., lihat http://ponpes-almukhtar.blogspot.com dikutip tanggal 20 April 2010 82 M. Khoirul Muqtafa, dalam Sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (Bandung: Fatayat NU dan The Ford Foundation, 2005) hal. 58. Nur Kholish Madjid, juga membedakan antara Agama dan pemikiran agama. Menurut beliau, agama adalah absolut sebab datang dari Tuhan, sedangkan pemikiran agama adalah relatif sebab telah masuk ke akal/pemahaman manusia, dan manusia adalah relatif. Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992) cet. Ke-IV tahun 2000, hal., 328-329., 83 M. Khoirul Muqtafa, dalam Sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam
79

26

semua relatif, maka hadis nabi yang menganjurkan untuk mencegah kemungkaran tidak akan berlaku lagi, sebab semua relatif, baik dan buruk standarnya akal manusia. Pluralisme berkaitan erat dengan relativisme kebenaran, sedangkan relativisme memandang, bahwa semua keyakinan keagamaan, idiologi, dan pemikiran filosofis, sama-sama mengandung kebenaran dan memiliki posisi yang sederajat. Jadi tidak ada kebenaran yang mutlak yang dapat ditemukan dalam suatu agama karena memiliki kapasitas yang sama.84 Pluralis-relativisme adalah gagasan yang menekankan, bahwa perbedaan dan kemajemukan adalah prinsip yang tertinggi. Pemahaman pluralisme mengharuskan manusia menghormati semua bentuk keanekaragaman dan perbedaan, dengan menerima hal tersebut adalah bentuk dari menerima realitas yang sebenarnya. Dalam sikap seorang pluralis bukan hanya berhenti pada pluralitas, tetapi menurut Nurcholish Madjid dalam buku Islam Doktrin dan Peradaban menyatakan bahwa sikap menerima pluralitas dengan sikap menerima pluralisme.
".kemajemukan atau pluralitas umat manusia adalah kenyataan yang telah menjadi kehendak Tuhan. Jika dalam Kitab Suci disebutkan bahwa manusia diciptakan berbangsabangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal dan menghargai-(Q., 49:13), maka pluralitas itu meningkat menjadi pluralisme, yaitu suatu system nilai yang memandang secara positif-opimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan itu...."85

Maka dalam konteks ini Nurcholish Madjid mengajak umat Islam menerapkan prinsip kenisbian kedalam. Prinsip untuk melepas klaim kemutlakan kebenaran, sehingga persaudaraan dapat dibangun antar umat manusia. Melalui semangat persaudaraan diharapkan dapat mengubah perbedaan-perbedaan sehingga dapat menjadi sumber positif dalam berlomba-lomba menuju kebaikan. Kemudian, melalui persaudaraan sikap saling menghormati akan tumbuh sehingga menghargai perbedaan antar umat dalam kehidupan masyarakat akan terwujud, sebab perbedaan antar umat beragama adalah hanya terletak pada ritual
84 Dikutip dari Biyanto, Pluralisme Keagamaan dalam perdebatan, ( Malang: UMMPress, 2009), hal. 170. 85

Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, hal. lxxv

27

keagamaan dalam mengekspresikan patuh dan tunduk kepada Allah Yang Maha Pencipta. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan dari Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, menyatakan, sekali pemahaman akan wahyu memasuki akal manusia, siapa pun manusia itu, ia akan memasuki wilayah kenisbian. Tidak boleh diklaim sebagai suatu kebenaran. Akal manusia tidak akan sampai mengetahui hakekat kebenaran. Sehingga, konsekwensinya juga tidak bisa mengetahui hakekat kebatilan. Akhirnya tidak boleh mengatakan bahwa apa yang diyakini oleh seseorang benar atau batil. Begitu juga keyakinan Ahmadiyah tidak bisa dikatakan sesat atau batil.86 Menurut Syamsul Hidayat Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, pernyataan Ahmad Syafii Maarif akan sangat menyiksa manusia dan menjadikan kekacauan kehidupan manusia, sebab tidak ada kejelasan antara benar dan salah, ma`ruf dan mungkar, tauhid dan syirik, kesesatan dan petunjuk. Padahal banyak ayat-ayat al-Quran dan al-Sunnah yang menjelasankan tentang kriteria al-Haq dan al-Bathil, tauhid dan syirik, baik dan buruk. Kemudian Syamsul Hidayat mengatakan Kesadaran akan relativitas akal, justru agar akal tunduk kepada mutlak kebenaran wahyu yang disajikan secara jelas oleh AlQuran dan Sunnah kepada akal manusia. Artinya relativitas akal tetap disertai dengan kapasitas untuk mencapai kebenaran dan kebatilan secara pasti, serta tunduk kepada ketentuan wahyu.87 Jika umat Islam sudah tidak lagi percaya kepada kriteria tauhid, syirik, atau umat agama yang lain tidak percaya terhadap baik, buruk, benar salah, petunjuk dan kesesatan dan lain sebagainya yang disebutkan dalam al-Quran dan al-Sunnah atau dalam agama selain Islam di kitabnya masing-masing yang dianggap menjadi panduan ajaran agama, padahal dua kitab al-Quran dan al-Sunnah sebagai pedoman umat Islam, kemudian tidak dianggap benar, kalau begitu apalagi yang bisa dijadikan pedoman? Kaum pluralis yakin bahwa agama-agama adalah bentuk jalan menuju Tuhan. Menurut Budhy Munawar Rachman, jalan menuju Tuhan itu adalah satu,
Ahmad Syafii Maarif, "Mutlak dalam Kenisbian", Republika 29/12/2006, Biyanto, Pluralisme Keagamaan dalam perdebatan, ( Malang: UMMPress, 2009), hal. 14-15 87 http://no-liberal.blogspot.com/ dikutip tanggal 20 april 2010
86

28

tetapi jalurnya banyak, atau jalur menuju keselamatan adalah memang banyak dan Tuhan memanivestasikan dalam bentuk yang beraneka ragam dan bukan hanya pada satu jalan. Beliau juga mengutip ayat al Quran surat Al-Hujurat [49]:10.88 menurut beliau ayat ini menerangkan tentang perintah Allah untuk saling kompromi, saling take and give, dan tak ada yang boleh mengklaim sebagai yang paling benar.89 Pluralisme, masih menurut Budhy Munawar Rachman, tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam tetapi pluralisme harus disikapi dengan teologia religionum (teologi agama-agama) dengan tujuan memasuki dialog antaragama.90 Kemudian Budhy Munawar Rachman dalam bukunya Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman menjelaskan, bahwa pendekatan terhadap agama-agama adalah melalui tiga jalur yaitu dengan sikap eksklusif,91 inklusif 92 dan paralelis.93 Argumentasi pluralisme memakai Al-Hujurat [49]:10 untuk persatuan persaudaraan lintas agama adalah penafsiran yang penuh hawa nafsu. Padahal dalam Ali `imran ayat 19 sangat jelas, bahwa jalan menuju Allah hanyalah Islam.

89 88

Budhy Munawar-Rahman, Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2004) cet.I. Hal. 37 90 Ibid. hal. 39-40 91 Menurut Budhy Munawar-Rachman, adalah pandangan bahwa agamanya adalah satusatunya jalan yang sah untuk keselamatan. Jika dalam Katolik terdapat ajaran extra ecclesiam nulla salus atau extra ecclesiam nullus propheta. Pandangan ini dikukuhkan pada konsili 1442. diantara para tokoh Protestan yang berpandangan ini adalah Karl Barth dan Hendrick Kraemer jika dalam agama Islam Budhy Munawar-Rachman mengutip QS Al-Maidah [5]: 3, QS Ali `imron [3]: 85 dan QS Ali `imron [3]: 19. Lihat Budhy Munawar-Rahman, Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, hal. 56-58 92 Inklusif adalah pandangan yang membedakan antara kehadiran penyelamatan (the salvific presence) dan aktivitas Tuhan dalam tradisi agama-agama lain, dengan penyelamatan dan aktivitas Tuhan agamanya. Artinya dalam agama-agama lain terdapat jalan keselamatan (kebenaran) tetapi agama yang diyakininya adalah jalan yang terbaik untuk meraih keselamatan (kebenaran). Dalam agama Katolik teologi ini muncul setelah Konsili Vatikan II tahun 1965. untuk menguatkan argumentasinya ini Budhy mengutip QS Al-Maidah [5]: 48 dan ayat ini juga digunakan oleh Nur Cholish Madjid. Lihat Budhy Munawar-Rahman, Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, hal. 58-61 93 Paralelisme adalah sikap petengahan antara eksklusif dan inklusif. Paralelisme adalah pandangan yang mempercayai bahwa setiap agama memeiliki jalan keselamatannya sendirisendiri bukan agamanya yang paling memiliki kebenaran (eksklusif) atau agama lain adalah sebagai pelengkap agamanya (inklusif) atau setiap agama merupakan jalan-jalan yang sama menuju pada kebenaran. Sikap ini oleh John Hick disebut dengan Plularisme dalam bukunya God and the Universe of Faiths, . Lihat Budhy Munawar-Rahman, Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, hal. 61-66

29

Bagi yang tidak melaksanakan keislaman berarti kafir. Islam secara teologis bersifat eksklusif sedangkan dalam bermuamalat, bersosialisasi dengan masyarakat adalah inklusif. Tidak ada larangan untuk menjalin hubungan dengan masyarakat selama tidak merugikan. Sebab nabi juga bersosialisasi dengan masyarakat non muslim. Makna pluralis dan pluralisme kaum pluralis selalu meyamakan. Senada pengkaburan tersebut Alwi Shihab juga berpendapat, Berbicara pluralisme artinya bukan satu, tetapi plural, banyak. Dan banyak itu artinya berbeda, karena tidak ada yang sama. Maka kita harus bisa menghargai pendapat orang lain, kemudian juga beliau berpendapat bahwa pluralisme itu respect terhadap pendapat orang lain dan tidak memaksakan kehendak kelompok yang berbeda dengan kita tapi yang seharusnya adalah saling interaksi dengan baik saling menghormati khususnya idiologi agar terciptanya afinitas (daya gabung/hubungan erat)94 akan tetapi kalimat ini sangat kontradiksi dengan kalimat berikutnya. Alwi Shihab diakhir tulisannya menulis. "....nilai-nilai pluralisme dalam Islam itu sangat kental, maka kita harus mengembangkan nilai-nili pluralisme ini untuk menghormati pendapat orang lain dan tidak memaksakan pendapat kita...."95 sebetulnya pada kalimat "maka kita harus mengembangkan nilai-nilai pluralisme" adalah merupakan kalimat untuk memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Kemudian juga Alwi Shihab juga menulis "Mari kita kembangkan budaya ini, dan saya kira dari dulu dan akan berlanjut terus, bahwa salah satu nilai penting dalam NU adalah inklusifisme" kalimat ini sebenarnya bentuk kalimat yang tidak toleran terhadap orang-orang yang mempertahankan eksklusifisme, padahal dalam Islam tidak terdapat istilah tersebut. Teology Islam adalah eksklusif sekaligus inklusif dalam kehidupan sosial. 2. Pluralisme Berbasis Nihilisme Tipe pluralisme basis nihilisme adalah bahwa jika semua agama adalah sama benar maka logika terbaliknya adalah tidak ada kebenaran dalam semua
Alwi Shihab, dalam Sururin (ed) kata pengantar, Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (Bandung: Fatayat NU dan The Ford Foundation, 2005) Hal. 17 95 Ibid., hal. 20
94

30

agama. Sehingga Ludwig Feuerbach menunjukkan esensi agama terletak pada manusia96 sehingga Feuerbach memaknai agama hanyalah gambaran akan keinginan manusia yang tak terbatas, yang dibentuk oleh manusia tentang dirinya sendiri dan tidak lebih dari proyeksi hakikat manusia. Agama itu hanya merupakan perwujudan cita- cita: Ilusi religius yang terdiri dari suatu objek bersifat imanen pada pikiran kita menjadi lahiriah,97 mewujudkannya, mempersonifikasikannya. Atribut- atribut Ilahi merupakan perwujudan dari predikat- predikat manusiawi, yang tidak sesuai dengan individu manusia sebagai individu, Allah yang kekal, itulah akal budi manusia dengan coraknya yang bersifat mutlak yang sekali lagi merupakan hasil proyeksi manusia. Agama merupakan kesadaran yang tidak terhingga. Jadi Tuhan tidak lebih daripada manusia: dengan kata lain, ia adalah proyeksi luar dari hakikat batin manusia sendiri. Bisa juga dikatakan bahwa Tuhan ada dalam tiap manusia, dan manusia adalah bentuk luar dari Tuhan. Tuhan bukan lagi Zat Yang Mahakuasa tapi merupakan akal kolektif manusia. Sarana komunikasi Tuhan bukan memlalui wahyu melainkan dalam bahasa nasional. Manusia tidak butuh dengan Tuhan (Zat Yang Mahakuasa) sebab manusia dapat menyelesaikan masalah dunia tanpa dengan Tuhan.98 Jika demikian berarti manusia tidak butuh agama, sebab manusia adalah proyeksi atau gambaran Tuhan itu sendiri. Jika manusia adalah Tuhan apa fungsi agama bagi manusia? Sehingga demikian manusia tidak butuh agama. Dan agama-agama yang ada hanyalah aturan-aturan yang tidak bermakna. Selain Feuerbach dengan ateisme antropologisnya maka Karl Marx dengan ateisme sosio-politis bahwa agama itu candu bagi masyarakat (religion is the opium of the people). Pendapat Marx ini adalah menerangkan bahwa dengan adanya agama maka struktur masyarakat tidak sehat. Agama menurut Marx adalah hanya khayalan membuat manusia terlena.99 Agama bagaikan eskapisme
96

St. Sunardi, Dialog: Kritik dan Identitas Agama, (Yogyakarta: Dian/Interfidei 1993).,

hal. 69 Lihat http://edukasi.kompasiana.com/2010/03/18/konsep-proyeksi-sang-filsuf-ateisludwig-feuerbach/ 98 Hamid Fahmy Zarkasyi, Agama Dalam Pemikiran Barat dan Post-Modern, Islamia, Thn I No.4/Januari-Maret 2005, hal. 38 99 http://www.duniaesai.com/filsafat/fil11.html
97

31

untuk keluar dari dunia nyata ke dunia khayalan. Agama singkatnya adalah sesuatu yang tidak riil. Pada tipe ini menyatakan bahwa, kebenaran sejatinya tidak ada, sebab dari pemahaman tentang kebenaran adalah sama benarnya. Karena kebenaran sama benarnya atau bisa jadi semua kebenaran adalah sama salahnya, itu berarti kebenaran itu tidak ada. Selain itu juga kaum pluralis menganggap bahwa toleransi jika tidak dibarengi dengan sikap pluralisme itu bukanlah sikap toleransi sejati. Seorang pluralis sejati memaknai pluralisme dengan kesamaan dan kesetaraan dalam segala hal, termasuk beragama. Setiap pemeluk agama harus memandang sama pada semua agama dan pemeluknya. Kaum pluralis juga beranggapan bahwa umat beragama jika tidak mengaplikasikan pluralisme dalam keagamaanya berarti toleran atau intoleran terhadap pemeluk agama yang lain. Kaum pluralis juga berusaha untuk menghilangkan otoritatif teolog, ulama dan lain sebagainya, sebab mereka beranggapan akal kolektif manusia yang berhak untuk memaknai sesuatu. Hal ini sesuai dengan pendapat Musdah Mulia disaat di wawancarai oleh Najwa Shihab di Metro TV 21 April 2010. Menurut Musdah Mulia bahwa yang berhak menafsirkan dan mendefinisikan agama adalah elemen masyarakat dan kesepakatan bersama, kemudian juga Musdah beranggapan bahwa Islam harus sesuai dengan Pacasila, UUD 1945, Prinsip NKRI dan prinsip-prinsip Bhinneka Tunggal Ika sebab Islam berada di Indonesia. Dari ungkapan beliau ini jelas bahwa nilai-nilai agama direduksi menjadi nilai kebangsaan, nilai-nilai agama diganti dengan kesepakatan bersama. 3. Pluralisme Basis Theosofis100

Theosofi terdiri dari dua suku kata "theos "(Allah) dan "Sophia" (kebijaksanaan). Pencarian pengetahuan yang tidak di dapatkan dengan panca indera tetapi dengan merenung. Menurut ajaran teosofi, manusia tidak membutuhkan Allah. Ia harus mencari kesempurnaan sendiri. Alam semesta, jadi juga manusia, adalah penampakan dari allah. Manusia harus mencari kesempurnaan. Kesempurnaan ini tidak dicapai dalam satu hidup. Jiwa tidak binasa kalau orang mati. Tapi jiwa ini akan pindah menjadi hal lain. Kalau orang hidup baik, jiwanya akan menjadi hal yang lebih tinggi; kalau ia hidup jahat, ia menjadi hal yang lebih rendah. Inilah ajaran reinkarnasi. Jadi setiap hal menerima sepadan dengan jasa-jasanya sendiri, baik atau jahat (hukum karma). Kesempurnaan di capai sebagai yang tertinggi yang disebut nirwana. R. Soedarmo, Kamus istilah teologi, Gunung Mulia, 1994., hal. 95

100

32

Theosofis merupakan organisasi aliran kebatinan, wadah studi, dan pemahaman mengenai kebijaksanaan Ilahi yang tersirat di alam raya ini. Menurut Artawijaya yang menulis Gerakan Theosofi di Indonesia, bahwa antara Freemasonry dan theosofi adalah satu tujuan dan hanya beda nama.101 Inti ajaran dari theosofi adalah agama apapun selama menjunjung tinggi kemanusiaan dan menebarkan kebajikan adalah pada hakekatnya sama. Tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya dari pada kebenaran. Inilah ajaran teosofi dalam memandang agama.102 Bahkan dalam lambang theosofi terdapat motto organisasi yang berbunyi, "There is no Relegion Higher Than Truth", atau dalam bahasa sangsekerta, "Satyan Nasti Paroh Darma" yang berarti "Tidak ada agama yang lebih tinggi daripada Kebenaran"103 dari motto organisasi ini bermakna masing-masing agama tidak bisa mengklaim bahwa agamanyalah yang mutlak benar (absolute truth claims). Karena menurut mereka kebenaran tidak berbentuk tunggal dan kebenaran terdapat dalam agama-agama selama menjalankan kebaikan dan kebenaran. Dan inilah yang menjadi dasar para penggiat pluralisme agama di Indonesia. menurut kaum theosof bahwa setiap kehidupan dan makhluk di alam ini ada zat Tuhan yang menyatu serta alam dan seisinya bukanlah diciptkan melaikan terpancar dari zat Tuhan. Jadi dari tiap individu manusia memiliki zat Tuhan yang bersemayam dalam hati dan jantung manusia.104 Gerakan theosofi yang dirumuskan Dr. Anie Besant salah satunya adalah Membentuk suatu inti persaudaraan universal kemanusiaan, tanpa membedabedakan ras (bangsa), kepercayaan, jenis kelamin, kasta atau warna kulit.105 Katakata ini seakan indah tetapi memiliki tujuan yang berbeda. Padahal dalam Islam

101

Artawijaya, Gerakan Theosofi di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010),

hal.,16-35 Ibid, hal. 49. Ibid., hal. 43. 104 Ibid., 55-64 105 Iskandar P. Nugraha, Mengikis batas Timur dan Barat: Gerakan Theosofi dan Nasionalisme Indonesia, 2001, hal., 47-62. Lihat, Adian Husaini dan Nuaim Hidayat, Islam Liberal Sejarah Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabanya, (Jakarta: Gema Insani, 2002)., hal.124.
103 102

33

persaudaraan berdasarkan keimanan,106 dan ditegaskan kembali dalam QS AlMujadalah: 22.107 Diantara sarjana Muslim Indonesia yang terpengaruh dengan ide-ide Theosofi adalah Komarudin Hidayat. Disalah satu karyanya beliau menulis:
"Kebenaran abadi yang universal akan selalu ditemukan pada setiap agama, walaupun masing-masing tradisi agama memiliki bahasa dan bungkus yang berbeda-beda. Karena perbedaan bungkus inilah maka kesulitan, kesalahpahaman dan perselisihan antar pemeluk agama seringkali muncul ke permukaan. Pada tahap ini, agama muncul dengan ragam wajah dan ragam bahasa sementara kita cenderung melihat perbedaannya ketimbang persamaanya."108

Jika dicermati kalimat diatas, bahwa Komaruddin Hidayat meyakini bahwa kebenaran dapat ditemukan pada setiap agama. Keberagaman agama-agama hanyalah bentuk bungkus, kulit luar dan tradisi yang berbeda dari tiap agamaagama, akan tetapi isi ajaran agama adalah sama. Kemudian masih dalam buku yang sama, Komaruddin mengatakan, "secara empiris adalah suatu kemustahilan jika kita mengidealisasikan munculnya kebenaran tunggal yang tampil dengan format dan bungkus tunggal, lalu di tangkap oleh manusia dengan pemahaman serta keyakinan yang seragam dan tunggal pula."109 Di sinilah Komaruddin menyangsikan akan adanya sebuak kebenaran dalam bentuk tunggal. Keberagaman tersebut merupakan kebenaran. Dan kebenaran terdapat pada tiaptiap sesuatu yang tidak tunggal. Dan ini berarti beliau meragukan kebenaran agama Islam dan kesempurnaan ajaran. Selain Komaruddin Hidayat adalah Zuhairi Misrawi Intelektual Muda NU dan Ketua Moderate Muslim Society. Dalam tulisannya di Kompas mengatakan:
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." QS Al-Hujurat: 10 107 "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orangorang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung." QS AlMujadalah: 22 108 Komaruddin Hidayat dan Muhamad Wahyu Nafis, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial, ( Jakarta: Gramedia, 2003)., hal 130 109 Ibid.
106

34

Pluralisme pertama-tama dimulai dari kesadaran tentang pentingnya perbedaan dan keragaman. Sebab perbedaan merupakan fitrah yang harus dirayakan dan dirangkai menjadi kekuatan untuk membangun harmoni. Adapun anggapan bahwa pluralisme akan menjadi sinkretisme merupakan pandangan yang cenderung mengada-ada. Faktanya, pluralisme dan sinkretisme sangat tidak identik.110

Disini Zuhairi Misrawi mengajak untuk sadar terhadap perbedaan dan keragaman merupakan fitrah manusia. Disinilah kerancuannya, yaitu Zuhairi sendiri tidak sadar bahwa, yang menjadi fitrah adalah pluralitas bukan pluralisme. Disinilah terjadi pengkaburan makna antara pluralisme dan pluralitas. Kemudian Zuhairi juga menulis.
Fatwa keagamaan berupa penyesatan dan pengharaman terhadap kelompok minoritas dalam intra-agama sepanjang tahun 2009 juga menjadi tantangan serius. Fatwa tersebut dapat digunakan untuk melakukan tindakan hukum yang dapat dianggap sebagai diskriminasi dan kriminalisasi terhadap kelompok minoritas. Fatwa tersebut kerap kali dijadikan sebagai landasan untuk melarang kegiatan dan memejahijaukan mereka dengan menggunakan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 dan KUHP Pasal 156a tentang penodaan agama. Di samping itu, kelompok minoritas harus mendapatkan perlakukan tidak manusiawi oleh sekelompok masyarakat yang tidak beridentitas, baik penyerangan maupun pengusiran.111

Disini tampak jelas bahwa Zuhairi menolak fatwa MUI terhadap Ahmadiyah, Lia Eden atau aliran-aliran sesat yang lainnya, bahkan Zuhairi mendukung keberadaannya. Sebab pemikiran Zuhairi lahir dari keyakinannya bahwa tidak ada truth claim. Masing-masing orang bebas mengekpresikan keyakinannya dalam beragama. Setiap individu memiliki pendapat akan kebenaran. Hal ini searah dengan ajaran theosofi yang mengajarkan bahwa manusia sejati adalah kebenaran dan kebenaran menurut theosofi tidak dapat dimonopoli. Setiap orang mempunyai kebenaran dan kenyataan sendiri.112 4. Pluralisme Bukan Toleransi Jika pluralisme ini dianggap sebagai cara bertoleransi terhadap penganut agama lain, maka Diana L. Eck membantah pendapat tersebut dalam tulisannya What is Pluralisme," Nieman Reports God in the Newsroom Issue" bahwa
Lihat Zuhairi Misrawi, Pluralisme Pasca Gus Dur, http://cetak.kompas.com tanggal 04 Januari 2010 111 Ibid. 112 Artawijaya, Gerakan Theosofi di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hal.,60
110

35

pluralisme tidak hanya bermakna toleransi, tetapi merupakan pencarian secara aktif guna memahami aneka perbedaan (the encounter of commitments) alias mengharapkan kesamaan dalam agama-agama.113 Hal ini juga senada dengan Syafi`i Anwar114 Direktur International Centre for Islam and Pluralism (ICIP) mengatakan bahwa "Pluralisme itu mengakui keberagamaan orang lain, tanpa harus setuju. Selain itu, yang terpenting, bukan sekadar menjadi toleran, melainkan menghormati ajaran agama orang lain. Dan sadar betul bahwa keberagamaan orang lain itu bagian yang sangat fundamental dan inheren dengan hak asasi manusia," selain itu juga masih menurut Syafi`i Anwar, Konsep pluralisme yang tidak sekadar toleransi, tetapi lebih menuju kepada penghormatan (respect) kepada yang lain (the others), 115 Dalam konsep Islam mengakui perbedaan dan identitas agama-agama, tetapi tidak sampai pada tingkat pembenaran terhadap teologinya. Islam tetap mengakui kesalahan teologi agama yang lain bahkan sampai tingkat mengoreksi, tetapi Islam juga tidak memaksakan mereka untuk untuk masuk Islam. Islam juga membiarkan agama selain Islam untuk melaksanakan ritual agamanya, selama tidak mengganggu agama Islam. Ini berarti Islam tidak mentolerir persamaan agama (lakum dinukum wa liyadin).116

Biyanto, Pluralisme Keagamaan dalam perdebatan.,hal. 50. pluralism is more tahan the mere tolerance of differences, it requires some knowledge of our differences. There is no questions that tolerance is important, but tolerance by itself may be a deceptive virtue.. Diversity to Pluralism. Diana L. Eck, keynote addressnya yang berjudul A New Religious America: Managing Religious Diversity in a Democracy: Challenges and Prospects for the 21st Century pada MAAS International Conference on Religious Pluralism in Democratic Societies, di Kuala Lumpur, Malaysia, Agustus 20-21, 2002. pluralism is not just tolerance, but the active seeking of understanding across lines of difference. Lihat http://pluralism.org/pluralism/what_is_pluralism.php dan http://pluralism.org/pluralism/essays/from_diversity_to_pluralism.php 114 Intelektual muslim yang bergelut dengan pluralisme. Telah menyelesaikan S-3 di di Universitas Melbourne, Australia, dan lulus tahun 2005. Ia menulis disertasi berjudul Negara dan Islam Politik di Indonesia: Sebuah Studi Politik Negara dan Perilaku Politik Pemimpin Muslim Modernis di Bawah Rezim Orde Baru Soeharto 1966-1998. Kemudian memimpin ICIP dari tahun 1999 115 http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/syafii-anwar/berita/01.shtml dikutip tanggal 22 April 2010 116 Henri Shalahuddin, Al-Kafirun, Islamia Jurnal Pemikiran Islam Republika, 14 Januari 2010. Kholili Hasib, Kerancuan Wacana Titik Temu Agama, diterbitkan oleh www.hidayatullah.com pada tanggal 25 Juli 2009 dan dikutip pada tanggal 21 April 2010.

113

36

Daftar pustaka
Al Qurtuby, Sumanto., Lubang Hitam Agama, (Yogyakarta: Rumah Kata, 2005). Arif, Syamsyuddin., Orientalis & Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema Insani, 2008) Artawijaya, Gerakan Theosofi di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010) Aslan, Adnan., Pluralisme Agama dalam Filsafat Islam dan Kristen Seyyed Hossein Nasr dan John Hick, (terj) Munir, ( Bandung: Alifya, 2004) Baso, Ahmad dalam Sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (Bandung: Kerjasama Fatayat NU dan The Ford Foundation, 2005) Beyer, Peter, Religion and Globalization (London: Sage Publications, 1994) Biyanto., Pluralisme Keagamaan dalam perdebatan Pandangan Kaum Muda Muhamadiyah, (Malang: UMMPRESS, 2009) Budiman, Arief., dalam Dialog Kritik dan Identitas Agama, Seri Dian I/Tahun I (Yogyakarta: Dian/Interfidei, 1993) Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2008) Cholil, Suhadi (ed), Resonansi Dialog Agama dan Budaya, (Yogyakarta: CRCS (Centre for Religious & Cross-cultural Studies) 2008) Dokumen Konsili Vatikan II (terj) R. Hardawiryana, SJ, (Jakarta: Obor 1993), Ghazali, Abd Ghazali., Argumen Pluralisme Agama, (Depok: KataKita, 2009) Hick, John dan Bebblethwaite, Brian (eds.), Christianity and Other Religions (Glasgow: Fount Paperbacks, 1980) Hick, John., Dialogues in The Philosophy of Religion, (Palgrave Macmillan, 2001)

37

Hick, John., God and the Universe of Faiths, (Oxford: Oneworld, [1973] 1993) Hick, John., God Has Many Name (terjemahan) Amin Ma`ruf dan Elga Sarapung, (Yogyakarta: Institut Dian/Interfidei, 2006) Hick, John., God Has Many Names, (Philadelphia, The Westminster Press, 1980), Hick, John., Philosophy of religion, (Prentice Hall, 1990) hal.117, Hidayat, Komaruddin dan Nafis, Muhamad Wahyu., Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial, ( Jakarta: Gramedia, 2003) Husaini, Adian dan Hidayat, Nuaim., Islam Liberal Sejarah Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabanya, (Jakarta: Gema Insani, 2002) Husaini, Adian., Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di perguruan Tinggi (Jakarta: Gema Insani, 2006) Husaini, Adian., Pluralisme Agama Parasit Bagi Agama-Agama, (Jakarta: Media Da`wah, 2006) Husaini, Adian., Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, (Jakarta: Gema Insani , 2005) Husaini, Adian., Liberalisasi Islam di Indonesia, makalah disampaikan dalam acara Rakorda Majelis Ulama se-Jawa dan Lampung di Serang-Banten 11 Agustus 2009 Ikhsan, Muh., Pengaruh Globalisasi Terhadap Krisis Identitas Muslim, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2006) Islmail, Faisal., Sekulerisasi Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish Madjid, (Yogyakarta: Pessantren Nawasea, 2008) Lagenhausen, Muhammad., (terj) Arif Muladi, Satu Agama atau Banyak agama, (Jakarta: Lentera, 2002) Madjid, Nurcholish Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1995) Madjid, Nurcholish., Islam Agama Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 2000) Madjid, Nurcholish., Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992) cet. Ke-IV tahun 2000 Mulkhan, Abdul Munir., Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002) Mulkhan, Abdul Munir., Satu Tuhan Beribu Tafsir, (Yogyakarta: Kanisius, 2007) Munawar-Rahman, Budhy., Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2004) Naim, Ngainun dan Sauqi, Ahmad., Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi, (Jokjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008) Nasr, Sayyed Hosen., Knowledge and the Sacred, (Albany: State University of New York Press, 1981)

38

Nasr, Sayyed Hossein., Knowledge and The Sacred, (Albany: State University of New York, 1989) Philip J. Adler, World Civilizations, (Belmont: Wasworth, 2000) Qodir, Zuly., Islam Liberal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, (Edisi Revisi) 2007) Qodir, Zuly., Muhamadiyah dan Pluralisme Agama," dalam Pluralisme dan Liberalisme: Pergolakan Pemikiran Anak Muda Muhammadiyah, (ed.) Imron Nasri (Jogjakarta: Citra Karsa Mandiri, 2005) Rasyid, Daud., Pembaharuan Islam & Orientalisme dalam Sorotan, (Bandung: Syaamil, 2006) Saiyad Fareed Ahmad dan Saiyad Salahuddin Ahmad, (terj) Rudy Alam, 5 Tantangan Abadi Terhadap Agama dan Jawaban Islam Terhadapnya, (Bandung: Mizan, 2008) Schoun, Frithjof., Spiritual Perpectives and Human Facts: A New Translation with Selected Letters (Indiana: World Wisdom , 2007) Schuon, Frithjof James S. Cutsinger, Gnosis: Divine wisdom: A New Translation With Selected Letters, (Indiana: World Wisdom, 2006), hal., 76-80 Shihab, Alwi., Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, (Bandung: Mizan, 1997) Soedarmo, R., Kamus istilah teologi, Gunung Mulia, 1994 Subkhan, Imam., Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme di Yogya, (Yogyakarta: Kanisius, 2007) Sunardi, St. Dialog: Kritik dan Identitas Agama, (Yogyakarta: Dian/Interfidei, 1993). Sururin (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, (Bandung: Fatayat NU dan The Ford Foundation, 2005) Thoha, Anis Malik., Tren Pluralisme Agama, Tinjauan Kritis., (Jakarta: Perspektif 2005), Ujan, Andre Ata, dkk., Mutlikulturalisme Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan, ( Jakarta: Indeks, 2009) Wahid, Abdurrahman., Tuhan Tidak Perlu Dibela, (Yogyakarta: Lkis, 1999) Waters, Malkom, Globalization, (London: Routledge, 1995) Zarkasyi, Hamid Fahmy., Paham Pluralisme Agama, Makalah disampaikan pada Acara Training Da'i tetang Aqidah dan Pemikiran Islam, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, di Cilegon Banten, pada Ahad, tanggal 27 Mei 2007. Zarkasyi, Hamid Fahmy., Liberalisasi Pemikiran Islam, (Ponorogo, Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), 2007)

39

http://edukasi.kompasiana.com/2010/03/18/konsep-proyeksi-sang-filsuf-ateisludwig-feuerbach/ http://islamlib.com/id/artikel/membedah-pluralisme-cak-nur/ http://no-liberal.blogspot.com/ http://pluralism.org/pluralism/essays/from_diversity_to_pluralism.php http://pluralism.org/pluralism/what_is_pluralism.php http://ponpes-almukhtar.blogspot.com http://www.arrahmah.com/index.php/blog/read/1376/liberalisasi-islam-diindonesia http://www.asiafoundation.org/Location/indonesia.html http://www.duniaesai.com/filsafat/fil11.html http://www.gaulislam.com/janganmemberhalakan-multikulturalisme http://www.sabda.org/biokristi/schleiermacher http://www.sinarharapan.co.id/berita/0705/26/op01.html http://www.sinarharapan.co.id/berita/0705/26/opi01.html http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/syafii-anwar/berita/01.shtml www.frithjof-schuon.com www.hidayatullah.com www.islamlib.com http://cetak.kompas.com Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat Vol. V No. 1 Juli-Desember 2008 Islamia Jurnal Pemikiran Islam Republika 14 Januari 2010 Majalah Pemikiran dan Peradaban Islamia, tahun I NO.4/Januari-Maret 2005 Majalah Pemikiran dan Peradaban Islamia, Tahun I Nomor 3, terbit SeptembarOktober 2004 Koran Kompas, 2002 Koran KOMPAS, 2001

40