Anda di halaman 1dari 9

SILABUS BINTAL Dasar Pemikiran Berdasarkan hasil evaluasi tim formatur dinamika kehidupan yang terjadi di kampus selama

setahun silam. Penilaian dilakukan setelah rangkaian Osma tahun 2009 menjelang persiapan Osma 2010. Tim Formatur menemukan berbagai masalah yang terjadi pada rentang waktu itu. masalah tersebut antara lain mahasiswa belum menerapkan Etika kemahasiswaan pada ruang dan waktu yang tepat, daya kritis mahasiswa yang seharusnya sudah hal yang alami kini sudah terkikis oleh sistem birokrasi dan faktor luar lainnya, sampai masalah yang usang pun terjadi yaitu masalah terganggunya komunikasi antar mahasiswa. Jika semua masalah itu mendasar yaitu hilangnya esensi mahasiswa dari mahasiswa Bahasa dan Sastra. Tujuan Menumbuhkan kembali Esensi Mahasiswa pada mahasiswa Bahasa dan Sastra Metode dan teknis 1. Osma hari pertama 24-08-2010 Materi : etika mahasiswa Warming up selama 10 menit di lapangan basket jam ( agent Jaka dan Ubay ) Pembekalan inti di dalam ruangan selama 25 menit ( all agents action ) Pengendapan selama 10 menit jam ( Agent Ovit ) 2. Acara FISIP 25-08-2010 Materi : Kreatifitas Prolog oleh satu Bintal selama 5 menit Mahasiswa dibagi menjadi 5 kelompok kecil, tiap bintal memegang satu kelompok plus escort dan melakukan diskusi selama 25 menit Presentasi materi yang diberikan oleh mahasiswa baru dan pemantapan dari satu bintal selama 30 menit ( agent Bangkit ) 3. Hari kedua Osma 26-08-2010 Materi : Solidaritas Warming up selama 10 menit ( agent Ovit and Aji ) Diskusi Film selama 40 menit dengan Jaka dan Kemal sebagai moderator Pengendapan selama 10 menit ( Bangkit dam Ubay ) 4. Hari ketiga Osma 27-08-2010 Materi : evaluasi guna menyadari potensi diri Warming up selama 10 menit ( kemal dan Bangkit ) Diskusi Panelis dengan Tema Peran Mahasiswa terhadap sosial masyarakat Panelis 1 : Mas JONK2 Panelis 2 : Presiden BEM Unsoed ( Helmy ) Selama 40 menit Pengendapan akhir selama 30 menit ( all agents )

Target Semua mahasiswa yang terkait rangkaian Osma ( mahasiswa baru dan Panitia )

ESENSI DAN EKSISTENSI MAHASISWA


Sebuah kalimat dikemukakan oleh seorang filsuf yang sangat terkenal yaitu Rene Des Cartes, yang berbunyi: "Cogoti Ergo Sum" yang berarti: "Aku Berpikir Maka Aku Ada". Kalimat ini sudah sangat dikenal oleh kita kebanyakan. Rene Des Cartes merupakan Filsuf kaum rasionil barat yang berpengaruh pada cara pikir para filsuf-filsuf setelah dia. Dia berpendapat bahwa berpikir merupakan kepastian dan akal merupakan sebuah kebenaran yang mutlak atau yang hakiki. Kebenaran hanya dapat diperoleh melalui suatu proses berpikir (akal). Hal senada juga dikemukakan oleh Aurelius Augustinus, Dia mengemukakan bahwa "meskipun berpikir dalam diri manusia

ada batasnya namun melalui berpikir orang dapat mencapai kebenaran yang tiada batasnya. Pandangan ini menentang pemikiran atau sikap skeptis (ragu-ragu). Orang dapat meragukan sesuatu, tetapi satu hal yang tidak dapat diragukan olehnya, yaitu bahwa ia ragu-ragu".
Itulah sebagian pendapat dan bagaimana para filsuf ketika itu sudah bisa mengembangkan pikiran mereka untuk mencari suatu kebenaran yang hakiki dalam hidup. Mereka berupaya sedemikian rupa untuk mejawab segala "keanehan-keanehan" yang terjadi di lingkungan sekitar pada masanya. Mereka menganggapnya sebagai problem yang sangat perlu untuk segera diatasi dengan memberikan jawaban yang pasti. Apa relevansinya dari pandangan-pandangan filsafati yang dikemukakan di atas dengan realita aktivitas dari setiap individu sebagai manusia-pada umumnya-dan mahasiswa-pada khususnya? Mari kita satukan persepsi pandangan mengenai esensi dan eksistensinya mahasiswa yang seharusnya dapat memberikan arti dan dampak yang positif, bukan hanya berpengaruh pada diri pribadinya untuk kesuksesan di perguruan tinggi tapi juga jauh dari pada itu bagaimana menjadi seorang mahasiswa, yang juga dapat memperhatikan hal-hal di luar dirinya secara pribadi untuk dikembangkan. Ketika kita masih sebagai seorang yang berstatus siswa, sejak TK, SD, SLTP, SLTA sampai pada tingkat perguruan tinggi, ilmu pengetahuan diajarkan kepada kita, juga ilmu-ilmu tentang budi pekerti, yang semuanya hanya untuk satu tujuan, yaitu: kalau nantinya ketika kita menyelesaikan studi, diharapkan kita dapat menerapkan atau mempergunakan ilmu yang kita dapat tersebut untuk diri pribadi dan terlebih untuk orang lain. Pada tingkat perguruan tinggi mahasiswa dituntut untuk menguasai ilmu semaksimal mungkin atau dengan kata lain seorang mahasiswa harus menjadi seorang yang professional, bahkan jika mungkin dapat menjadi seorang yang inofator untuk mengembangkan ilmu yang digelutinya dengan tujuan demi pengembangan ilmu dan juga untuk pencapaian kesejahteraan secara pribadi. Intinya bahwa esensi dari seorang mahasiswa adalah pelajar yang memiliki atau menguasai ilmu pengetahuan yang luas

yang mampu menjaga kepribadian yang posistif dan terarah, sehingga dapat memberikan konsekwensi yang positif bagi dirinya terlebih untuk lingkungan sosialnya. Karena itulah mahasiswa sering disebut dengan kaum muda yang terpelajar atau kaum cendekiawan yang perlu mendapatkan penghormatan. Sangat ironis memang bahwa pemahaman tentang dirinya sebagai seorang yang berilmu nampaknya tidak disadari ataupun kalau disadari tidak mendapatkan perhatian yang dalam untuk dihormati. Apa maksudnya? Sebenarnya jika kita sadarai bahwa proses beraktifitas dalam perjuangan sebagai mahasiswa dalam menuntut ilmu selama bertahuntahun, terjadi ketidak-seimbangan antara tujuan secara pribadi-keberhasilan dan kesejahteraan-dengan tujuan diluar diri pribadi-lingkungan sosial. maksudkan di sisni, bahwa ini bicara mengenai soal bagaimana memperhatikan tentang masalah-masalah "secara pribadi" dengan bagaimana memperhatikan mengenai masalah-masalah pada "lingkungan sekitar". Dengan kata lain bahwa, di samping kita sebagai mahasiswa dalam menjalankan studi dikampus, kita juga harus mampu melihat dan memperhatikan serta mengatasi masalah-masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Inilah yang dikatakana di atas bahwa terjadi ketidak-seimbangagn antara dua hal tersebut, bahwa mahasiswa pada umumnya hanya terlalu banyak memperhatikan kepentingannya secara pribadi ketimbang masalah orang lain. Perlu kita pahami bahwa, seorang mahasiswa dalam aktivitasnya diperhadapkan dengan dua lingkungan yang berbeda, dua situasi yang berlainan, dan dua keadaan dengan berbagai persoalan yang berbeda. Dua lingkungan ini dapat disebut lingkungan sosial internal-pada kampus-dan lingkungan sosial eksternal-tempat dimana mahasiswa itu tinggal/berasal. Kedua lingkungan ini memiliki persoalan-persoalan sosial yang unik dan rumit. Kenyataan yang terjadi, kita dapat melihat bahwa pada umumnya mahasiswa hanya lebih mementingkan kesejahteraannya secara pribadi ketimbang masalah-masalah sosial yang terjadi diluar dari padanya secara umum. Ada hal-hal umum yang seharusnya perlu dikritisi hanya mala dibiarkan, yang sebenarnya masalah-masalah itu sangat merugikan bagi dirinya, hanya dibiarkan tanpa mempertanyakannya. Memang mengenai prinsip fleksibilitas menjadi roh yang tak bisa dihindari, namum hal itulah yang melenyapkan konsistensi diri yang pada dasarnya ada dalam diri setiap mahasiswa yang berwujud sebagai hati nurani, dimana hati nurani ini dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Yang ada hanya fleksibilitasnya saja. Memang dalam hal ini masalah fleksibel pada mahasiswa itu sangat perlu tetapi yang menjadi keanehan di sisini bahwa, pada awal menjadi seorang mahasiswa, tingkat kekritisan sangat tinggi, sampaisampai kadangkala ada persoalan yang tak perlu dikritisi, eh malah dipersoalkan dan bahkan dilakukan secara berlebihan. Biaya administrasi yang naik seribu-dua ribu rupiah, dikritik habis-habisan. Tetapi kalau sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir yang super sibuk, sifat kritikusnya "loyoh" sudah!!. Biaya ujian yang banyak dipunguti meskipun tidak jelas, tidak pernah digugat. Harusnyakan paling tidak-meskipun akan tetap dipenuhi oleh mahasiswa-tapi dipertanyakan dulu dong!!, diperdebatkan terlebih dahulu dong!! aneh juga ya!?

Jika begini kita dapat menginterpelasi sifat kritis yang pernah ada pada mahasiswa, jangan-jangan hanya sebuah kepura-puraan demi popularitasnya. Itu hanya sebagaian kecil dari persoalan-persoalan yang ada di lingkungan kampus (internal) yang tak mampu untuk diatasi. Bagaimana dengan keunikan dan kerumitan dalam lingkungan sosial kemasyarakatan yang merupakan bagian komprehensif dari aktivitas mahasiswa tersebut? Bisakah dia melihat dan masuk untuk menjadi salah satu bagian dari solusi atas segala persoalan-persoalan yang rumit itu? Sejauh mana mahasiswa saat ini membangun daerahnya dengan jalan mengatasi persoalan-persoalan yang sangat penting untuk diatasi? Dapat diambil sebuah contoh mengenai masalahmasalah dalam bidang pendidikan, dimana mahasiswa menjadi usnur dari tersebut unsur. bisakah sebagai mahasiswa yang berintelektual yang tinggi dapat menfokuskan sebagian aktivitasnya pada masalah ini? Masalah yang penting ini seharusnya segera diatasi dan dalam hal ini membutuhkan kita sebagai mahasiswa untuk dapat melakukannya. Sebab soal pendidikan, masih banyak persoalan yang nyata yang kita dapat saksikan, yang menyimpang dari apa yang diharapkan oleh kita semua sebagai warga mayarakat. Pemerintah nampaknya belum sepenuhnya atau belum dengan sungguh-sungguh memperhatikan mengenai kesejahteraan dalam bidang pendidikan. Mulai dari masih adanya anak-anak yang masih usia sekolah namun tidak bersekolah, sampai pada penyediaan berbagai fasilitas persekolahan yang belum tersedia. Ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dan ketekunan oleh kita semua terutama sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa seharusnya mampu untuk masuk jauh ke dalam persoalan-persoalan tersebut dan menyentuhnya serta menjadi pencari solusi sebagai kontribusi atasnya. Bagaimana mungkin kita akan mencapai suatu kebenaran yang hakiki seperti yang dikemukakan oleh kedua tokoh filsuf di atas (Rene Des Carten dan Aurelius Augustinus), sehingga eksistensi kita sebagai kaum cendekiawan akan diperhitungkan ditengah-tengah masyarakat kalau kita tidak mampu menujukkan pola pikir yang positif untuk mengatasi segala persoalan-persoalan yang pelik?. Jika kita adalah sebagai cendekiawan berarti kita adalah juga kaum pecinta kebijaksanaan, dimana kita mengupayakan kebijaksanaan itu dapat kita raih dengan jalan mempertanyakan dan memberikan jawaban-solusi atas masalah yang terjadi-serta melaksanakan solusi tersebut. Sebagaimana para filsuf terdahulu mempertanyakan segala sesuatu yang ada di luar dari padanya sebagai suatu masalah yang perlu diberikan jawabannya, demikian pula seharusnya kita sebagai mahasiswa yang adalah bagian dari segala persoalan yang ada di luar dari pada kita, berbuat demikian. Memang bicara mengenai masalah pendidikan berarti kita bicara mengenai masalah yang kompleks. Tetapi ingat!! Tujuan akhir dari pendidikan itu akan berdampak pada kemajuan suatu daerah. Artinya berbagai bidang tidak bisa lepas dari sumber daya manusia yang hebat, sedangkan sumber daya yang hebat ini merupakan output dari pendidikan. Jadi, jika bidang pendidikan masih bermasalah, berarti masalah itu adalah masalah yang utama yang harus secepatnya mendapatkan perhatian yang serius dalam arti mencarikan solusinya.

Pemerintah yang merupakan pemimpin solusi atas persoalan-persoalan itu nampaknya belum secara maksimal atau belum memuaskan memberikan dampak yang langsung menjawab kepada masyarakat. Nampaknya pemerintah belum serius memperhatikannya, sebab nyatanya masih banyak keanehan atau penyimpangan yang terjadi seperti yang disampaikan di atas. Untuk melihat masalah ini seharusnya sebagai mahasiswa, dengan mempergunakan sumber daya yang dimiliki-ilmu pengetahuan yang di kuasai-harus berani menjadikan ini sebagai sebuah kewajiban yang mutlak untuk diatasi. Namun sangat disayangkan, umumnya mahasiswa membentuk kelompok yang mengatasnamakan kelompok atau perhimpunan atau organisasi kemahasiswaan, namun tujuan utamanya jauh dari garisnya sebagai mahasiswa. Atas nama organisasi kemahasiswaan, tapi masalah-masalah sosial seperti ini tidak pernah disentuh sebagai tujuan organisasi yang terutama. Ini dikarenakan-seperti yang diutarakan pada awal tulisan ini, karena mahasiswa pada umumnya tidak memahami dengan benar akan esensi dan eksistensinya sebagai mahasiswa. TEMAN-TEMAN MAHASISWA, masih pantaskah kita menyebut diri kita sebagai seorang mahasiswa jika apa yang kita lakukan SEKARANG MASIH SANGAT JAUH dari ESENSI dan EKSISTENSI MAHASISWA ITU SENDIRI. RENUNGAN BAGI KITA SEMUA YANG MENYEBUT DIRINYA MAHASISWA, sudahkah menjalankan apa yang memang menjadi tugas kita??????.

"Berjuanglah terus memperjuangkan segala persoalanpersoalan sosial yang terjadi, berjuanglah dan perhatikanlah mengenai masalah-masalah pendidikan yang ada. Buatlah itu sebagai bagian pokok di tengah aktifitas teman-teman dalam menuntut ilmu.
Lihat dan masuklah lebih jauh ke dalam persoalan-persoalan itu serta berikanlah jalan keluar bagi itu semua. Karena semua itu demi kemajuan kita bersama. Dengan demikian kita akan layak disebut sebagai kaum-kaum cendekiawan, kaum-kaum intelektual yang hebat dan memiliki kekuatan untuk membendung segala pembodohanpembodohan yang membudaya sampai sejauh ini. Dimana mata hati kita sering dibutakan dengan fleksibilitas yang terlalu berlebihan tanpa memperhatikan esensi hati nurani yang sebenarnya yang dimiliki, yakni kemampuan untuk mengetahui dan memahami mengenai hal yang benar dan hal yang salah, mana yang patut dikerjakan dan mana yang patut dihindari. Jangan ada ketidak-seimbangan lagi antara pemenuhan secara pribadi dengan apa yang namanya kepentingan orang banyak. Jangan mensubordinatkan masalahmasalah sosial itu, perhatikanlah itu teman-teman, sebab itu sangat penting menjadi bagian dari aktivitas sebagai mahasiswa.

PERANAN MAHASISWA
Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik di mana dalam catatan sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan . Mahasiswa di kenal dengan jiwa patriotnya serta pengorbanan yang tulus tanpa pamrih . Namun hanya sedikit rakyat Indonesia yang dapat merasakan dan punya kesempatan memperoleh pendidikan hingga ke jenjang ini karena system perekomian di Indonesia yang kapitalis serta biaya pendidikan yang begitu mahal sehingga kemiskinan menjadi bagian hidup rakyat ini . ada empat peran mahasiswa yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang akan di pikul 1. Peran Moral Mahasiswa yang dalam kehidupanya tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik berarti telah meninggalkan amanah dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar . Jika hari ini kegiatan mahasiswa berorientasi pada hedonisme (hura hura dan kesenanggan) maka berarti telah berada persimpangan jalan . Jika mahasiswa hari ini lebih suka mengisi waktu luang mereka dengan agenda rutin pacaran tanpa tahu dan mau ambil tahu tentang perubahan di negeri ini, jika hari ini mahasiswa lebih suka dengan kegiatan festival musik dan kompetisi (entertaiment) dengan alasan kreatifitas, sedangkan KREATIFITAS YANG SESUNGUHNYA ADALAH KEBEBASAN BERFIKIR, padahal memperhatikan dan memperbaiki kondisi masyarakat dan mempersembahkan kreatifitasnya pada hal hal yang lebih ilmiah dan menyentuh ke rakyat. maka mahasiswa semacam ini adalah potret generasi yang hilang/ the lost generation yaitu generasi yang terlena dan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemuda dan mahasiswa. 2. Peran social Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan. Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat poenderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan di biarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya. Sebagai contoh ketika pemeritah menunjukan gelagat hendak cuci tangan dari masalah pendidikan maka mahasiswa harus ikut memperjuangkan hak semua rakyat Indonesia itu. Betapa peran sosial mahasiswa jauh Pragmatisme dan rakyat dapat merasakan bahwa mahasiswa adalah bagian yang tak dapat terpisahkan dari rakyat, walaupun upaya yang sistimatis untuk memisahkan mahasiswa dari rakyat telah dan dengan gencar dilakukan oleh pihak pihak yang tidak ingin rakyat ini cerdas dan sadar akan problematika ummat yang terjadi.

3. Peran Akademik Sesibuk apapun mahasiswa, turun kejalan, turun ke rakyat dengan aksi sosialnya, sebanyak apapun agenda aktivitasnya jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Setiap orang tua pasti ingin anaknya selesai kuliah dan menjadi orang yang berhasil. Maka sebagai seorang anak berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan keinginan itu, untuk mengukir masa depan yang cerah. Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita, dan inilah yang membedakan kita dengan komonitas yang lain ,peran ini menjadi symbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita. Jika memang kegalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit,nasi sudah jadi bubur maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi bubur ayam spesial . Artinya jika sudah terlanjur gagal maka tetaplah bangkit seta mancari solusi alternatif untuk mengembangkan kemampuan diri meraih masa depan yang cerah dunia dan akhirat. 4. Peran politik Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena disini mahasiswa berfungsi sebagai presseur group ( group penekan ) bagi pemerintah yang zalim. Oleh karena itu pemerintah yang zalim merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran yang satu ini. Pada masa ordebaru di mana daya kritis rakyat itu di pasung, siapa yang berbeda pemikiran dengan pemerintah langsung di cap sebagai makar dan kejahatan terhadap negara. Pemerintahan Orba tidak segan-segan membumi hanguskan setiap orang-orang yang kritis dan berseberangan dengan kebijakan pemerintah. Dalam dunia kampus pada tahun 1984 lewat menteri pendidikan Daud Yusuf pemerintah mengeluarkan kebijakan NKK (Normalisasis kehidupan kampus).Yang melarang keras mahasiswa beraktifitas politik. Dan kebijakan ini terbukti ampuh memasung gerakan gerakan mahasiswa yang membuat mahasiswa sibuk dengan kegiatan rutinitas kampus sehinngga membuat mahasiswa terpenjara oleh system yang ada. Mahasiswa adalah kaum terpelajar dinamis yang penuh dengan kreativitas. Mahasiswa adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari rakyat. Sekarang mari kita pertanyaan pada diri kita yang memegang label Mahasiswa, sudah seberapa jauh kita mengambil peran dalam diri kita dan lingkungan.