Anda di halaman 1dari 8

PENGEMBANGAN POTENSI PEMBANGUNAN MELALUI KERJASAMA PEMERINTAH- SWASTA ( KPS )

( Public-Private Partnership )

I. LATAR BELAKANG

Pesatnya peningkatan pertumbuhan penduduk perkotaan di Indonesia yang mencapai 4% pertahun atau dua kali lipat pertumbuhan penduduk Indonesia secara keseluruhan, menimbulkan permasalahan tidak seimbangnya ketersediaan sarana prasarana dasar dan pelayanan publik dengan jumlah penduduk ( Andrew W Hammer, 1999).

Permasalahan yang muncul hampir diseluruh wilayah Indonesia, terjadi karena keterbatasan kemampuan pemerintah, baik berupa keterbatasan sumber daya keuangan 1 , sumber daya manusia maupun manajemen pemerintahan. Implikasi dari keterbatasan kemampuan pemerintah ini mengakibatkan tidak seimbangnya ketersediaan sarana prasarana kota dengan kebutuhan masyarakat, sehingga beberapa kebutuhan dasar masyarakat baik berupa ketersediaan air bersih, pengelolaan persampahan, ataupun penyediaan rumah, menjadi tidak memadai.

Kondisi ini apabila tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan menjadi faktor pemicu munculnya berbagai permasalahan perkotaaan lainnya, seperti berkembangnya slum area, konflik sosial, penurunan kualitas lingkungan, tingginya angka kriminalitas dll, yang pada akhirnya dapat menghambat perkembangan kota.

Berkenaan dengan kondisi tersebut, Pemerintah harus berupaya mencari solusi untuk meningkatkan ketersediaan sarana prasarana perkotaan sekaligus pelayanan kebutuhan dasar masyarakat, melalui pengenaan pajak maupun retribusi. Akan tetapi upaya yang dilakukan tersebut masih belum memadai, seperti yang diharapkan.

Bertolak dari permasalahan tersebut diatas, maka sudah sewajarnya apabila pemerintah lebih mengembangkan pendekatan Kerjasama Pemerintah-Swasta (public-private partnership), untuk memenuhi ketersediaan sarana prasarana dasar perkotaan dan peningkatan pelayanan kebutuhan dasar masyarakat

Pendekatan ini diharapkan menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan perkotaan akibat keterbatasan pemerintah, sehingga perkembangan kota tidak terhambat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk merealisasikan hal tersebut maka diperlukan peran aktif pemerintah untuk memfasilitasi terwujudnya kerjasama pemerintah-swasta dan tidak menghambat partisipasi sector swasta. Diharapkan, melalui kerjasama pemerintah- swasta, dapat menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.

1 Diestimasikan Pemerintah Indonesia harus menginvestasikan sekurang-kurangnya 1,4 milyar dolar AS per tahun untuk memenuhi kebutuhan pelayanan sarana prasarana kota kota atau sekitar seperlima (20%) dari anggaran pembangunan (Nurmandi Achmad, MSc; 1999)

Skema Kerangka Pikir

PERKEMBANGAN KOTA YANG PESAT URBANISASI
PERKEMBANGAN KOTA YANG PESAT
URBANISASI

KETERBATASAN KEMAMPUAN PEMERINTAH KEUANGAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

KETERBATASAN KEMAMPUAN PEMERINTAH KEUANGAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

PENINGKATAN JUMLAH PENDUDUK DAN AKTIFITASNYA

MANUSIA PENINGKATAN JUMLAH PENDUDUK DAN AKTIFITASNYA TERBATASNYA KETERSEDIAAN DAN PELAYANAN SARANA PRASARANA
MANUSIA PENINGKATAN JUMLAH PENDUDUK DAN AKTIFITASNYA TERBATASNYA KETERSEDIAAN DAN PELAYANAN SARANA PRASARANA

TERBATASNYA KETERSEDIAAN DAN PELAYANAN SARANA PRASARANA

PENINGKATAN KEBUTUHAN DAN PELAYANAN SARANA PRASARANA

TERBATASNYA KETERSEDIAAN DAN PELAYANAN SARANA PRASARANA PENINGKATAN KEBUTUHAN DAN PELAYANAN SARANA PRASARANA
PENINGKATAN KEBUTUHAN DAN PELAYANAN SARANA PRASARANA TIDAK MEMADAINYA KETERSEDIAAN DAN PELAYANAN SARANA PRASARANA

TIDAK MEMADAINYA KETERSEDIAAN DAN PELAYANAN SARANA PRASARANA DENGAN KEBUTUHAN MASYARAKAT

TIMBULNYA PERMASALAHAN PERKOTAAN (SLUM AREA, KUALITAS KEHIDUPAN MENURUN DLL) TIDAK MEMADAINYA KETERSEDIAAN DAN PELAYANAN SARANA PRASARANA DENGAN KEBUTUHAN MASYARAKAT PERKEMBANGAN KOTA TERHAMBAT
TIMBULNYA PERMASALAHAN PERKOTAAN (SLUM AREA, KUALITAS KEHIDUPAN MENURUN DLL)

PERKEMBANGAN KOTA TERHAMBAT

KEHIDUPAN MENURUN DLL) PERKEMBANGAN KOTA TERHAMBAT PERLUNYA PELIBATAN SEKTOR SWASTA UNTUK PENGEMBANGAN SARANA

PERLUNYA PELIBATAN SEKTOR SWASTA UNTUK PENGEMBANGAN SARANA PRASARANA KOTA

SEKTOR SWASTA UNTUK PENGEMBANGAN SARANA PRASARANA KOTA BAGAIMANA UPAYA MELIBATKAN SEKTOR SWASTA UNTUK PENGEMBANGAN

BAGAIMANA UPAYA MELIBATKAN SEKTOR SWASTA UNTUK PENGEMBANGAN SARANA PRASARANA KOTA, SEHINGGA PERKEMBANGAN KOTA TIDAK TERHAMBAT

PRASARANA KOTA, SEHINGGA PERKEMBANGAN KOTA TIDAK TERHAMBAT ANALISA KONDISI SARANA PRASARANA KOTA DAN KERJASAMA

ANALISA KONDISI SARANA PRASARANA KOTA DAN KERJASAMA PEMERINTAH-SWASTA (KPS)

TIDAK TERHAMBAT ANALISA KONDISI SARANA PRASARANA KOTA DAN KERJASAMA PEMERINTAH-SWASTA (KPS) KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 2

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

II.

KONSEP DASAR KERJASAMA PEMERINTAH - SWASTA

Pada prinsipnya, kerjasama pemerintah-swasta untuk pelayanan publik, dilatarbelakangi oleh adanya keterbatasan pendanaan maupun rendahnya kualitas pelayanan (inefisien dan inefektif) dari pemerintah sebagai penyedia pelayanan publik. Oleh karena itu, konsep kerjasama pemerintah-swasta, dapat dipandang sebagai upaya pengaturan kembali, tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanannya, dengan menghemat pengeluaran tanpa harus melalaikan kewajiban pemerintah sebagai provider fasilitas publik

Pada hakekatnya, pelibatan sektor swasta dalam pengembangan sarana prasarana, akan memberikan keuntungan baik bagi masyarakat, pemerintah maupun swasta. Bagi sektor swasta keuntungan yang didapat dengan mekanisme ini adalah profit sedangkan bagi masyarakat adalah terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat yang memadai. Adapun keuntungan bagi pemerintah, adalah mempermudah proses, waktu penyediaan serta meringankan beban pendanaan untuk memenuhi kebutuhan sarana prasarana perkotaan. Keuntungan lainnya yang diperoleh pemerintah, adalah terciptanya transfer teknologi dan efesiensi managerial dari pihak swasta, yang dikombinasikan dengan rasa tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan dan pengetahuan local serta dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

2. 1. Dasar Pemikiran Perlunya Pelibatan Peran Serta Sektor Swasta

Secara umum, alasan mengapa peran serta sektor swasta perlu dilibatkan dalam pengembangan sarana prasarana kota, adalah:

1. Keterbatasan kemampuan pemerintah ( sumber daya keuangan, sumber daya manusia maupun manajemen pemerintahan)

2. Banyaknya bidang pelayanan perkotaan yang belum sepenuhnya ditangani oleh pemerintah, sehingga untuk memenuhi kebutuhan yang belum tertangani oleh pemerintah, sektor swasta dapat berperan tanpa harus mengambil alih tanggung jawab pemerintah.

3. Swasta dapat memberikan berbagai alternatif pilihan pelayanan yang lebih luwes kepada konsumen

4. Menciptakan persaingan dan mendorong pendekatan yang bersifat kewiraswastaan dalam pembangunan nasional

5. Peran serta swasta akan mendorong terciptanya efisiensi operasional

6. Semakin berkurangnya peran pemerintah dimasa datang ( fasilitator dan regulator) sementara peran masyarakat dan swasta akan semakin besar

2. 2. Bentuk Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS)

Terdapat beberapa bentuk antara lain:

kerjasama Pemerintah-Swasta, yang berkembang di Indonesia,

1. Built , Operate dan Transfer (BOT)

2. Konsesi

3. Joint Ventures

4. Community based provision

5. Service contrak

Setiap bentuk kerjasama tersebut memiliki karakterisitik tersendiri, baik dari segi :

Kepemilikan Aset, Intensitas Regulatoritas, Sumber Investasi (Keuangan), Tenaga Kerja Waktu Persiapan Kontrak.

Pengenalan karakteristik dari setiap bentuk kerjasama pemerintah-swasta, yang dikombinasikan dengan penilaian kondisi kemampuan pemerintah, akan sangat membantu untuk menentukan bentuk kerjasama yang akan dikembangkan.

Karakteristik Bentuk kerjasama Pemerintah Swasta

       

JOINT

COMMUNITY-

SERVICE

BOT

KONSESI

VENTURE

BASED

KEPEMILIKAN

         

ASET

Pemerintah

Pemerintah

Pemerintah

Bersama

Komunitas

ITENSITAS

         

REGULATORITAS

Moderat

Tinggi

Tinggi

Moderat

Moderat

         

NGO, Swasta,

SUMBER

INVESTASI

Pemerintah

Swasta

Swasta

Bersama

atau

Pemerintah

TENAGA KERJA

Moderat

Tinggi

Tinggi

Rendah

Rendah

WAKTU

         

PERSIAPAN

Moderat

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Rendah

KONTRAK

III.

UPAYA PENGEMBANGAN MEKANISME KERJASAMA PEMERINTAH-SWASTA Pemerintah sudah seharusnya lebih menekankan upaya pelibatan sector swasta didalam mengembangkan sarana prasarana, mengingat pemerintah memiliki keterbatasan kemampuan, terutama keterbatasan sumber daya keuangan.

Keberhasilan kerjasama pemerintah- swasta hanya dapat diraih dengan adanya pengertian antara pihak swasta dan Pemerintah. Untuk mencapai hal tersebut, maka upaya awal yang harus dilakukan pemerintah, adalah dengan menarik perhatian (minat) sektor swasta untuk berperanserta mengembangkan sarana prasarana kota. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

1. Pemerintah mempromosikan sarana prasarana kota yang hendak dikerjasamakan (Pemerintah berinisiatif mengajukan usulan kegiatan)

Upaya promosi dapat dilakukan dengan lebih menfungsikan badan / kantor yang memiliki akses dengan pihak swasta(Pemerintah berinisiatif mengajukan usulan kegiatan) Memanfaatkan berbagai event promosi berskala local, regional

Memanfaatkan berbagai event promosi berskala local, regional atau nasional.badan / kantor yang memiliki akses dengan pihak swasta 2. Pemerintah merespon sector swasta yang berinisiatif

2. Pemerintah merespon sector swasta yang berinisiatif mengajukan usulan kerjasama pengembangan sarana prasarana kota

Upaya tersebut perlu didukung dengan terlebih dahulu menyiapkan Prosedur (Panduan) Dasar, bagi pelaksanaan kerjasama pemerintah - swasta.

3.1. Prosedur (Panduan) Dasar Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah-Swasta Secara garis besar terdapat empat (4) tahapan yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk tercapainya kesepakatan kerja sama antara pemerintah dan swasta, yaitu:

1. Persiapan proyek

2. Analisa pemilihan bentuk kerja sama pemerintah-swasta

3. Proses pelibatan partisipasi pihak swasta

4. Membuat hubungan kerja sama yang kuat dan berkelanjutan

A. Persiapan Proyek

Merupakan tahapan awal dari rencana pelaksanaan kerjasama pemerintah-swasta. Materi yang perlu dilakukan pada tahapan ini adalah:

1. Identifikasi pelayanan sarana prasarana kota: Apakah cukup baik atau buruk, dengan analisisnya terdiri dari :

Kepemilikan aset yang ada termasuk sarana prasarana kota, modal dan tarif Cakupan pelayanan yang ada ; Keadaan kepuasan konsumen secara menyeluruh ; Perbandingan pendapatan dan biaya yang ada.

2. Penentuan Tujuan; Adanya kejelasan tujuan yang hendak dicapai apakah perbaikan pelayanan, perluasan cakupan ataupun peningkatan standar pelayanan

3. Pembentukan Tim Pengkaji; Apabila hasil indentifikasi pelayanan dan penentuan tujuan, merekomendasikan perlunya keterlibatan pihak swasta, maka pemerintah perlu membentuk tim pengkaji multidisiplin ilmu.

Tugas tim pengkaji adalah menilai kelayakan usulan/ proposal kerjasama yang diajukan pihak swasta, baik dari segi teknologi yang akan digunakan, struktur

pembiayaan, aspek sosial, politik, maupun hukum dan perundangan (Aspek Teknis, non teknis maupun keuangan)

B. Analisa Pemilihan Bentuk Kerjasama Pemerintah-swasta Pada tahapan ini, kegiatan yang harus dilakukan adalah:

1. Menilai kelayakan usulan / proposal kerjasama yang diajukan oleh berupa:

pihak swasta,

Penentuan Model kerjasama pemerintah-swasta Jangka waktu kerjasama Keuntungan dan kerugian tarif dan kontribusi Tantangan dan hambatan dalam kerjasama pemerintah-swasta Aspek kelembagaan dan dasar hukum

Pemerintah sebagai provider harus cermat memilih sistem kerjasama apa yang akan digunakan dengan segala pertimbangan. Salah satu pertimbangannya adalah ketersediaan dana yang ada pada pemerintah, artinya dengan dana yang ada, fasilitas apa yang dapat disediakan dan seberapa besar jangkauan pelayanannya. Selain itu, pemerintah harus menetapkan pula standar-standar performances yang harus disiapkan oleh swasta dalam penyediannya

2. Membuka dialog dengan beberapa partner swasta yang berminat bekerjasama serta mengevaluasi setiap partner berdasarkan transparansy maupun efektifitas kerja.

3. Menentukan perlu atau tidaknya, keikutsertaan pihak ketiga sebagai katalis atau fasilitator proyek pembangunan. Dimana peranan pihak ketiga adalah meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan antara pemerintah dan swasta, sehingga dapat menyelesaikan kemungkinan permasalahan yang timbul.

C. Proses Pengikutsertaan Pihak Swasta Secara umum, terdapat dua prosedur pengikutsertaan pihak swasta yaitu :

terdapat dua prosedur pengikutsertaan pihak swasta yaitu : Tender terbuka secara kompetitif Negosiasi langsung. Apapun

Tender terbuka secara kompetitif Negosiasi langsung.

Apapun bentuk prosedur yang dipilih, proses ini harus dapat menjamin bahwa keikutsertaan swasta dapat meningkatkan kondisi sarana prasarana kota dan pelayanannya, menghasikan suatu inovasi dan kreatifitas yang berharga serta terlepas dari korupsi.

Salah satu cara untuk mencapai inovasi dan kreatifitas yaitu dengan meminimasi persyaratan yang spesifik dalam dokumen tender, dan lebih menekankan pada tujuan utama dari suatu proyek, dengan melibatkan ide pihak swasta.

D. Mendirikan kerjasama yang kuat dan berkelanjutan Kerjasama pemerintah-swasta yang kuat dan berkelanjutan, merupakan kunci bagi pembangunan yang yang berkelanjutan. Berkenaan dengan hal tersebut, maka diperlukan kesiapan berupa:

Komitmen sumber daya dari semua pihak Pasrtisipasi dan Transparansi : Terakomodirnya kepentingan dari hampir semua stakeholder khususnya untuk dari semua pihak Pasrtisipasi dan Transparansi : Terakomodirnya kepentingan dari hampir semua stakeholder khususnya untuk kaum miskin, dan harus dituangkan dalam proyek pembangunan yang akan dilaksanakan,.

Capacity Building : Kesiapan setiap stakeholder. : Kesiapan setiap stakeholder.

(a)

konsumen akan dikenakan biaya seusia dengan biaya yang disepakati bersama

(b)

sektor privat meningkatkan kemampuan usaha

(c)

pemerintah dengan menggunakan kerangka kerjanya meningkatkan pemantauan untuk tingkat pelayanan yang telah disepakati.

Kesabaran : Panjangnya proses negosiasi dan penyiapan proyek. Fleksiblitas; Adanya sistem prosedur yang “bersih” unt uk : Panjangnya proses negosiasi dan penyiapan proyek. Fleksiblitas; Adanya sistem prosedur yang “bersih” untuk mengakomodir (mereduksi), terkjadinya perubahan yang berdampak negatif, ketika kerjasama telah berjalan .

Tanggung jawab sosial; Peningkatan pelayanan sarana prasarana kota ini memiliki tujuan untuk membuat tingkat kehidupan penduduk akan lebih Peningkatan pelayanan sarana prasarana kota ini memiliki tujuan untuk membuat tingkat kehidupan penduduk akan lebih baik, khususnya peningkatan tingkat kehidupan pada kaum miskin.

Tanggung jawab terhadap lingkungan; mekanisme investasi yang akan dilakukan, harus mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat dan mekanisme investasi yang akan dilakukan, harus mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat dan pemerintah. Untuk itu diperlukan jaminan yang tercantum dalam seluruh perjanjian kontrak kerjasama, berupa penggunanan sistem teknologi yang "eco -efisien ".

Skema Rencana Pengembangan Sarana Prasarana Kota melalui Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS)

Pemerintah Daerah

Sarana prasarana Kota Analisa / Identifikasi Kondisi Sarana Prasarana Kota Cakupan Pelayanan dan kepuasan konsumen
Sarana prasarana Kota
Analisa / Identifikasi Kondisi Sarana Prasarana Kota
Cakupan Pelayanan dan kepuasan konsumen
Kepemilikan aset , modal dan tariff
Kemampuan pemerintah (dana, Manajemen, SDM)
Perbandingan pendapatan dan biaya
Penentuan tujuan kerjasama yang akan dicapai
Tanggung
jawab
Pemda
Ketersediaan dan
pelayanan Tidak Memadai
Ketersediaan dan
pelayanan Memadai
Cost recovery Bernilai ekonomis Dapat Dikerjasamakan Non Cost recovery Tidak Bernilai ekonomis Tidak Dapat
Cost recovery
Bernilai ekonomis
Dapat Dikerjasamakan
Non Cost recovery
Tidak Bernilai ekonomis
Tidak Dapat Dikerjasamakan
Pembentukan Tim Pengkaji
Promosi dan Dialog dengan Swasta
Analisa Proposal kerjasama pemerintah –swasta
Penentuan bentuk kerjasama Pemerintah-swasta
Jangka waktu kerjasama
Penentuan Standard performance (standard pelayanan)
Strategi dan kebijakan pemerintah (Capacity building)
Usulan / proposal
kerjasama dari pihak
swasta
Usulan kerjasama layak
Usulan kerjasama tidak layak
swasta Usulan kerjasama layak Usulan kerjasama tidak layak Proses Pengikutsertaan Pihak Swasta Tender terbuka

Proses Pengikutsertaan Pihak Swasta Tender terbuka Negosiasi langsung

Proses Pengikutsertaan Pihak Swasta Tender terbuka Negosiasi langsung
Pengikutsertaan Pihak Swasta Tender terbuka Negosiasi langsung KERJASAMA PEMERINTAH - SWASTA Ditolak N e g o

KERJASAMA PEMERINTAH - SWASTA

Pengikutsertaan Pihak Swasta Tender terbuka Negosiasi langsung KERJASAMA PEMERINTAH - SWASTA Ditolak N e g o

Ditolak

N e g o s i a s i

8