Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Hipertensi adalah tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan distolik 90mmHg atau apabila pasien memakai obat anti hipertensi (kapita selekta kedokteran, 2000). Pada populasi pemula, hipertensi di definisikan sebagai tekanan sistolik 160mmHg ( Bruder and Sudarth, ed. 8, 2001 ). Hipertensi sering disebut juga sebagai pembunuh gelap ( silent killer ) karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai gejala gejala sebelumnya sebagai peringatan bagi penderitanya kalaupun ada gejalanya sering kali dianggap sebagai gejala biasa sehingga penderita terlambat menyadarinya. Hipertensi dapat dikendalikan dengan memahami faktor faktor resiko dan pengendaliannya yang tepat agar tidak memicu munculnya penyakit ini. Kondisi kondisi yang merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi yang meliputi faktor fisik (obesitas, keturunan, jenis kelamin), faktor lingkungan (pola konsumsi, gaya hidup yang kurang sehat) dan pengaruh stress (cara menghindari atau mencegah hipertensi adalah kurangi garam dalam makanan, cara hidup yang tidak tegang), memeriksa diri secara teratur, minum obat sesuai petunjuk dokter. Namun dalam kenyataan masih banyak penderita yang belum mengetahui secara lengkap bagaimana penanganan yang tepat bagi penderita hipertensi 1.2 Tujuan 1.2.1. Tujuan umum Lansia memahami penyakit hipertensi serta permasalahannya sehingga dapat melakukan perawatan secara mandiri sehingga dapat terhindar dari komplikasi yang lebih lanjut. 1.2.2 Tujuan Khusus 1) Lansia memahami penyakit hipertensi 2) Lansia mengetahui masalah-masalah yang bisa ditimbulkan dari tanda dan gejala. 3) Keluarga dan penderita mengatahui tentang perawatan pada penyakit hipertensi secara benar 4) Lansia melaksanakan perawatan sesuai petunjuk dokter 1.3 Sistematika Bab 1 : Pendahuluan Bab 2 : Tinjauan Teori Bab 3 : Tinjauan Kasus

BAB 2 TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Kasus Hipertensi Pengertian Sampai saat ini masih belum ada defenisi yang tepat mengenai hipertensi karena tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara hipertensi dan normotensi. Secara teoritis hipertensi didefenisikan sebagai suatu tingkat tekanan darah tertentu. Definisi hipertensi menurut Mansjoer. A. adalah suatu kondisi dimana tekanan darah sistolik u 140 mmHg dan tekanan darah diastolik u 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat anti hipertensi. Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood pressure (JNC) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna. Keadaan ini dikategorikan sebagai primer/esensial (hampir 90% dari semua kasus) atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat dikenali, seringkali dapat diperbaiki.

Klasifikasi menurut WHO/ISH Klasifikasi Normotensi Hipertensi ringan Hipertensi perbatasan Hipertensi sedang dan berat Hipertensi sistolik terisolasi Hipertensi sistolik perbatasan Sistolik (mmHg) < 140 140-180 140-160 > 180 > 140 140-160 Diastolik (mmHg) < 90 90-105 90-95 > 105 < 90 < 90

1. Etiologi Berdasarkan etiologinya hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu: a. Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin - angiotensin, defek

dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca interselular, dan faktor faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia. b. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom Cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lainlain. (Mansjoer,A,1999).

2. Patofisiologi
Kegemukan Pe produksi kolesterol Stress Ketegangan syaraf&Gg. emosional Alkohol Obat-obatan Konsumsi garam Retensi natrium Genetik

Penyumbatan arteri

Pelepasan hormon antideuritik

Suplai O2 ke jantung berkurang

Vasokontriks i pembuluh darah

Pe volume darah dalam sirkulasi

HIPERTE NSI

3. Tanda dan Gejala Peninggian tekanan darah kadang kadang merupakan satu satunya gejala. Bila demikian, gejala baru akan muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdenging, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang kunang dan pusing. 4. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ atau faktor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisa, darah lengkap, kimia darah (kalium, Natrium, gula darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL) dan EKG Sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain seperti klirens kreatinin, protein, urine 24 jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH dan Echokardiografi. 5. Penatalaksanaan a. Tujuan Pengobatan Hipertensi 1) Menurunkan tekanan darah sampai normal atau mendekati normal, tanpa menggangu aktivitas sehari-hari. Dengan demikian dapat komplikasi dan menurunkan morbiditas dan mortalitas. 2) Prevansi terhadap peninggian tekanan darah dan heat rate secara akut selama exercise dan stress. b. Obat-obat Anti Hipertensi 1) Diuretik a) Kemanjuran maksimal rendah. Indapamid (Lozol), Ftalimidin, Tiazid. b) Kemanjuran maksimal tinggi Bumetanid (Bumex), Asam Etakrinat (Edeerin), Furosemid (Lasix). c) Hemat Kalium. Amilorid (Midomir), Spironolakton (Aldaetone), Trianteren (Dyrenium).

2) Obat Simpatolitik a) Bekerja pada SPP Klonidin (Aldomet). b) Bekerja pada gonglion otonom Trimetafan (Arfonad). c) Bekerja pada neuron simpatis pasca ganglion Guanadrel (Hylorel), Guanetidin (Isenelin), Penghambat (Catapres), Guanabenz (Wytensin), Metildopa

monoamin oksidase, Reserpin. d) Penghambat reseptor (1) Adrenoreseptor Alfa Bloker Fenoksibenzamin (Dibenzyline), Fentolamin (Reqitinin),

Prazosin (Minipres). (2) Adrenoreseptor Beta Bloker Atenol (Tenormin), Labetol (Normodyne, Trandate),

Metoprolol (Lopressor), Nadolol (Corgard), Pindolol (Visken), Propanolol (Inderal), Timolol (Blocadren). (3) Vasodilator Diazoksid (Hyperstat), Diltiazem (Cardizem), Hydralazin (Apresoline), Minoksidil (Lomitmen), Nifedipin (Adelat, Procardia), Verapamil (Calan, Isoptin). (4) Penghambat sistem renin angiostenin Captopril (Capoten), Enalapril (Vasotec), Saralisin (Sarenin). c. Diit Hipertensi/Diit Rendah Garam Hipertensi dapat dikendalikan dengan Diit rendah Garam. Diit Rendah Garam merupakan diit dengan pembatasan konsumsi garam untuk membantu menghilangkan retensi garam/air dalam jaringan tubuh dan menurunkan Tekanan Darah pada Hipertensi. 1) Syarat-syarat Diit Rendah Garam a) Cukup kalori, mineral dan vitamin b) Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit c) Jumlah natrium yang diperoleh disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam/air dan/atau Hipertensi.

2) Macam Diit Rendah Garam Jika ditinjau dari jumlah natrium yang perlu dikonsumsi, Diit Rendah Garam dibagi menjadi 3 yaitu : a) Diit Rendah Garam I (DRG I) mengandung natrium 200-400 mg. b) Diit Rendah Garam II (DRG II) mengandung natrium 600-800 mg. c) Diit Rendah Garam III (DRG III) mengandung natrium 1000-1200 mg. Ad. a) DRG I Dalam pemasakan tidak ditambahkan garam dapur. Bahan makanan tinggi natrium dihindarkan. Makanan diberikan kepada penderita dengan Oedema, Acites dan/atau Hipertensi Berat. Ad. b) DRG II Pemberian makanan sama dengan DRG I. dalam pemasakan makanan diperbolehkan menggunakan sendok teh garam dapur (1 gr). Bahan makanan tinggi natrium dihindarkan. Makanan ini diberikan kepada penderita dengan Oedema, Ascites dan/atau Hipertensi sedang Ad. c) DRG III Pemberian makanan sama dengan DRG I. Dalam pemasakan boleh diberi garam dapur sendok teh (2 gr). Makanan ini diberikan kepada penderita dengan edema, dan/atau Hipertensi Ringan. 6. Komplikasi Penyakit hipertensi bila tidak dikontrol secara teratur akan berlanjut kearah penyakit yang mematikan seperti : a. Penyakit jantung b. Cedera serebrovaskular pada otak c. Gagal ginjal d. Kerusakan optik retina

2.2 Konsep Dasar Lansia 2.2.1 Definisi Lansia 1 Menurut UU no 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000). 2 Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005). 3 Usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari (Azwar, 2006). 4 Menua secara normal dari system saraf didefinisikan sebagai perubahan oleh usia yang terjadi pada individu yang sehat bebas dari penyakit saraf jelas menua normal ditandai oleh perubahan gradual dan lambat laun dari fungsi-fungsi tertentu (Tjokronegroho Arjatmo dan Hendra Utama,1995). 5 Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides 1994). Proses menua merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara alamiah dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup (Nugroho Wahyudi, 2000). 2.2.2 Batasan Lansia Menurut WHO, batasan lansia meliputi: 1 Usia Pertengahan (Middle Age), adalah usia antara 45-59 tahun 2 Usia Lanjut (Elderly), adalah usia antara 60-74 tahun 3 Usia Lanjut Tua (Old), adalah usia antara 75-90 tahun 4 Usia Sangat Tua (Very Old), adalah usia 90 tahun keatas 2.2.3Menurut Dra.Jos Masdani (psikolog UI) Mengatakan lanjut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi 4 bagian: 1. Fase iuventus antara 25dan 40 tahun 2. Verilitia antara 40 dan 50 tahun 3. Fase praesenium antara 55 dan 65 tahun 4. Fase senium antara 65 tahun hingga tutup usia 5. 2.2.4 Tipe-tipe Lansia Pada umumnya lansia lebih dapat beradaptasi tinggal di rumah sendiri daripada tinggal bersama anaknya. Menurut Nugroho W ( 2000) adalah: 1 Tipe Arif Bijaksana: Yaitu tipe kaya pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, ramah, rendah hati, menjadi panutan.

2 Tipe Mandiri: Yaitu tipe bersifat selektif terhadap pekerjaan, mempunyai kegiatan. 3 Tipe Tidak Puas: Yaitu tipe konflik lahir batin, menentang proses penuaan yang menyebabkan hilangnya kecantikan, daya tarik jasmani, kehilangan kekuasaan, jabatan, teman. 4 Tipe Pasrah: Yaitu lansia yang menerima dan menunggu nasib baik. 5 Tipe Bingung: Yaitu lansia yang kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, pasif, dan kaget. 2.2.5 Perubahan Mental Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah: 1. Perubahan fisik. 2. Kesehatan umum. 3. Tingkat pendidikan. 4. Hereditas. 5. Lingkungan. 6. Perubahan kepribadian yang drastis namun jarang terjadi misalnya kekakuan sikap. 7. Kenangan, kenangan jangka pendek yang terjadi 0-10 menit. 8. Kenangan lama tidak berubah. 9. Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, berkurangnya penampilan, persepsi, dan ketrampilan, psikomotor terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan dari factor waktu. 2.2.6 Perubahan Psikososial 1) Perubahan lain adalah adanya perubahan psikososial yang menyebabkan rasa tidak aman, takut, merasa penyakit selalu mengancam sering bingung panic dan depresif. 2) Hal ini disebabkan antara lain karena ketergantungan fisik dan sosioekonomi. 3) Pensiunan, kehilangan financial, pendapatan berkurang, kehilangan status, teman atau relasi 4) Sadar akan datangnya kematian. 5) Perubahan dalam cara hidup, kemampuan gerak sempit. 6) Ekonomi akibat perhentian jabatan, biaya hidup tinggi. 7) Penyakit kronis. 8) Kesepian, pengasingan dari lingkungan social. 9) Gangguan syaraf panca indra. 10) Gizi 11) Kehilangan teman dan keluarga. 12) Berkurangnya kekuatan fisik.

2.2.7

Menurut Hernawati Ina MPH (2006) perubahan pada lansia ada 3 yaitu perubahan biologis, psikologis, sosiologis. 2.2.7.1 Perubahan biologis meliputi : 1) Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah mengakibatkan jumlah cairan tubuh juga berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering, wajah keriput serta muncul garis-garis yang menetap. 2) Penurunan indra penglihatan akibat katarak pada usia lanjut sehingga dihubungkan dengan kekurangan vitamin A vitamin C dan asam folat, sedangkan gangguan pada indera pengecap yang dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn dapat menurunkan nafsu makan, penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya kemunduran fungsi sel syaraf pendengaran. 3) Dengan banyaknya gigi geligih yang sudah tanggal mengakibatkan ganguan fungsi mengunyah yang berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut. 4) Penurunan mobilitas usus menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung nyeri yang menurunkan nafsu makan usia lanjut. Penurunan mobilitas usus dapat juga menyebabkan susah buang air besar yang dapat menyebabkan wasir . 5) Kemampuan motorik yang menurun selain menyebabkan usia lanjut menjadi lanbat kurang aktif dan kesulitan untuk menyuap makanan dapat mengganggu aktivitas/ kegiatan sehari-hari. 6) Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak yang menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek melambatkan proses informasi, kesulitan berbahasa kesultan mengenal bendabenda kegagalan melakukan aktivitas bertujuan apraksia dan ganguan dalam menyusun rencana mengatur sesuatu mengurutkan daya abstraksi yang mengakibatkan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang disebut dimensia atau pikun. 7) Akibat penurunan kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga berkurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran nutrisi sampai dapat terjadi hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah. 8) Incotenensia urine diluar kesadaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut yang mengalami IU sering kali mengurangi minum yang mengakibatkan dehidrasi.

2.2.7.2 Kemunduran psikologis 1) Pada usia lanjut juga terjadi yaitu ketidak mampuan untuk mengadakan penyesuaianpenyesuaian terhadap situasi yang dihadapinya antara lain sindroma lepas jabatan sedih yang berkepanjangan. 2.2.7.3 Kemunduran sosiologi 1) Pada usia lanjut sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pemahaman usia lanjut itu atas dirinya sendiri. Status social seseorang sangat penting bagi kepribadiannya di dalam pekerjaan. Perubahan status social usia lanjut akan membawa akibat bagi yang bersangkutan dan perlu dihadapi dengan persiapan yang baik dalam menghadapi perubahan tersebut aspek social ini sebaiknya diketahui oleh usia lanjut sedini mungkin sehingga dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin. 2.2.8 Perawatan Lansia Perawatan pada lansia dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan yaitu:

2.2.9 Pendekatan Psikis. 1) Perawat punya peran penting untuk mengadakan edukatif yang berperan sebagai support system, interpreter dan sebagai sahabat akrab. 2.2.10 Pendekatan Sosial. 1) Perawat mengadakan diskusi dan tukar pikiran, serta bercerita, memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan klien lansia, rekreasi, menonton televise, perawat harus mengadakan kontak sesama mereka, menanamkan rasa persaudaraan. 2.2.11 Pendekatan Spiritual. 1) Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan dan Agama yang dianut lansia, terutama bila lansia dalam keadaan sakit. 2.3 Konsep Askep Hipertensi 2.3.1 Pengkajian Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan. Pengkajian adalah langkah awal dalam salah satu proses keperawatan (Gaffar, 1999) Kegiatan yang dilaksanakan dalam pengkajian adalah pengumpulan data dan merumuskan prioritas masalah. Pada pengkajian pengumpulan data yang cermat tentang klien, keluarga, didapatkan data melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan. Tujuan dari pengkajian keperawatan adalah mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data. Sehingga disimpulkan menjadi diagnosa keperawatan (Gaffar, 1999).

2.3.1. 1 Identitas 1) Umur Pada umumnya hipertensi terjadi diatas usia 31 tahun. 2) Pekerjaan Pekerjaan yang penuh dengan ketegangan sehingga memudahkan seseorang menjadi stress. Stress merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya hipertensi. 3) Pendidikan Semakin tinggi pendidikan yang didapat semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya sehingga perlu dikaji untuk menentukan intervensi yang benar dan tepat dalam perawatan. 2.3.2 Riwayat penyakit keluarga Penyakit yang diderita keluarga, hipertensi dan penyakit jantung adalah salah satu faktor penyakit keturunan. 2.2.3 Keluhan utama Sakit kepala, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang kunang, lemah dan lelah, muka pucat, suhu tubuh rendah 2.2.4 Pengkajian fisik (Doengoes, 2002:39) 1) Aktivitas/istirahat Gejala Tanda 2) Sirkulasi Gejala : riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan panyakit serebrovaskular. Episode palpitasi, perspirasi. Tanda : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton. : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung.

kenaikan tekanan darah, hipotensi postural, takikardi,

pengisian kapiler lambat, pucat, sianosis, diaforesis, dan kemerahan (feokromositoma). 3) Integritas Ego Gejala Tanda 4) Eliminasi Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu. : ansietas, marah. : gerak tangan empati, peningkatan pola bicara.

5) Makanan/Cairan Gejala : makanan yang disukai, yang mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol, mual, muntah, perubahan berat badan (meningkat/menurun). 6) Neurosensori Gejala : keluhan pening/pusing, berdenyut, sakit kepala suboksipital. episode kebas dan/atau kelemahan pada satu sisi, gangguan penglihatan. Tanda : status mental: perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, afek, proses pikir, atau memori (ingatan). 7) Nyeri/ketidaknyamanan Gejala : angina, sakit kepala oksipital berat seperti pernah terjadi sebelumnya. 8) Pernafasan Gejala : dispnea, takipnea, riwayat merokok, batuk dengan/tanpa sputum. Tanda : distress respirasi, bunyi nafas tambahan, sianosis.

9) Keamanan Gejala : gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.

2.2.5 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan dibagi sesuai dengan masalah kesehatan klien yaitu : a. Aktual, diagnosa keperawatan yang menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditemukan. b. Potensial, diagnosa keperawatan yang menjelaskan bahwa masalah kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi keperawatan. Saat ini masalah belum ada tapi etiologi sudah ada. c. Kemungkinan, diagnosa keperawatan yang mejelaskan bahwa perlu data tambahan untuk memastikan tambahan masalah. Pada keadaan ini masalah dan faktor pendukung belum ada tapi sudah ada faktor yang menimbulkan masalah.

Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan hipertensi, menurut Doenges (2000), yaitu : a. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan Peningkatan afterload, vasokonstriksi dan Iskemia miokardia. b. Intoleran aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum,

ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. c. Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan Peningkatan tekanan vaskular serebral. d. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan yang berlebihan, pola hidup monoton, keyakinan budaya. e. Koping individu inefektif berhubungan dengan Krisis

situasional/maturasional, sistem pendukung tidak adekuat, metode koping tidak efektif. f. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan Kurang pengetahuan/daya ingat, mis interpretasi informasi, keterbatasan kognitif. g. Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik b/d kurang pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet dan obat. 2.2.6 Perencanaan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka disusunlah

perencanaan keperawatan. Perencanaan adalah tahap ketiga dari proses keperawatan, yang dimulai setelah data-data terkumpul sudah dianalisa. Pada bagian ini ditentukan sasaran yang akan tercapai dan rencana tindakan keperawatan dikembangkan. Tahapan dari perencanaan ini terdiri dari : a. Menetapkan prioritas masalah berdasarkan pola kebutuhan dasar manusia menurut hirarki Maslow b. Merumuskan tujuan keperawatan yang dicapai c. Menetapkan kriteria evaluasi d. Merumuskan intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan Tujuan yang ditetapkan harus nyata, dapat diukur dan mempunyai batasan waktu pencapaian. Yang dimaksud dengan tujuan jangka pendek adalah tujuan yang biasanya harus dicapai sebelum pemulangan atau perpindahan pasien ke tingkat perawatan yang kurang akut dan tujuan ini biasanya mengarah kepada

penyebab masalah pasien. Sedangkan tujuan jangka panjang mengidentifikasi arah keseluruhan atau hasil akhir perawatan dan mungkin sangat baik mengarah pada masalah pasien (Donges, Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, 1998). Perencanaan dengan berpedoman pada SMART yaitu : Spesifik (khusus dilakukan pada pasien den keluarga lainnya), Measurable (dapat diukur), Achievable (dapat dicapai), Reasonable (nyata) dan Time ( menggunakan batas waktu dalam pencapaiannya).. 1). Diagnosa keperawatan I Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan Peningkatan afterload, vasokonstriksi dan Iskemia miokardia,

hipertropi/rigiditas (kekakuan) ventrikular. Hasil yang diharapkan/kriteria hasil : a. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah/beban kerja jantung b. Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima c. Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien. Intervensi : 1) Pantau tekanan darah, ukur pada kedua tangan/paha untuk evaluasi awal. Gunakan ukuran manset yang tepat dan tehnik yang akurat Rasional : Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskular. 2) Catat keberadaan, kualitas denyutan, sentral dan perifer Rasional : Denyutan karotis,jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati/terpalpasi.

3) Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas Rasional : S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertrofi atrium(peningkatan volume/tekanan atrium). 4) Amati warna kulit, kelemahan suhu, dan masa pengisian kapiler

Rasional

: Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokontriksi atau mencerminkan

dekompensasi/penurunan curah jantung. 5) Catat odema umum/tertentu. Rasional : Dapat mengindikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskular. 6) Berikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurangi aktivitas/keributan lingkungan, batasi jumlah pengunjung. Rasional : Membantu untuk menurunkan rangsangan

simpatis; meningkatkan relaksasi. 7) Pertahankan pembatasan aktivitas Rasional : menurunkan strees dan ketegangan yang

mempengaruhi tekanan darah dan prjalanan penyakit hipertensi. 8) Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung, leher, meninggikan kepala tempat tidur. Rasional : mengurangi ketidaknyamanan dan dapatkan

menurunkan rangsangan simpatis. 9) Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan. Rasional : Dapat meurunkan rangsangan yang menimbulkan stres, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah. 2) Diagnosa Keperawatan :II Intoleran aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum,

ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Hasil yang diharapkan/kriteria hasil : a. Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan b. Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur. c. Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi aktivitas. Intervensi : 1) Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20x/menit diatas frekuensi istirahat. Peningkatan tekanan darah yang nyata selama/sesudah aktivitas.

Selidiki adanya dispnea atau nyeri dada, keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diaforesis, pusing atau pingsan. Rasional : Menyebutkan mengkaji parameter membantu terhadap dalam stres

respons

fisiologis

aktivitas dan, bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas

2) Ajarkan teknik penghematan energi. Rasional : Tehnik penghematan energi, energi juga mengurangi membantu

penggunaan

keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. 3) Beri dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri secara bertahap yang dapat ditoleransi. Rasional : Kemajuan peningkatan aktivitas kerja bertahap jantung tiba mencegah tiba.

Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan dan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas. 3). Diagnosa III Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan Peningkatan tekanan vaskular serebral. Hasil yang diharapkan/kriteria hasil : a) Melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/terkontrol b) Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan c) Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan. Intervensi : 1) Pertahankan tirah baring selama fase akut Rasional : Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi.

2) Berikan tindakan non farmakologis untuk menghilangkan nyeri kepala Rasional : Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat/memblok

respons simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.

3) Hilangkan/minimalkan

aktivitas

vasokontriksi

yang

dapat

meningkatkan sakit kepala. Rasional : Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi

menyebabkan sakit kepala, pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural. 4) Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan Rasional : Pusing dan penglihatan kabur sering

berhubungan dengan episode hipotensi postural. 5) Berikan makanan lunak, cairan dan perawatan mulut Rasional : Meningkatkan kenyamanan umum.

6) Bila terjadi perdarahan hidung kompres hidung Rasional : Kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan nafas dengan oral mulut, dan

menimbulkan

stagnasi

sekresi

mengeringkan membran mukosa. 7) Kolaborasi obat-obatan sesuai indikasi : analgesik, antiansietas. Rasional : Menurunkankan/mengontrol nyeri, mengurangi ketegangan dan ketidak nyamanan yang

diperberat stres. 4). Diagnosa IV Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan yang berlebihan, pola hidup monoton, keyakinan budaya. Hasil yang diharapkan/kriteria hasil : a) Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dengan kegemukan b) Menunjukkan perubahan pola makan c) Melakukan/mempertahankan program olahraga Intervensi : 1) Kaji pemahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan. Rasional : Kegemukan adalah resiko tambahan pada

hipertensikarena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan massa tubuh.

2) Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori, lemak dan garam. Rasional : Kesalahan kebiasaan makan menunjang

terjadinya arterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi dari hipertensi dan komplikasinya, misal : stroke penyakit ginjal, gagal jantung. 3) Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan. Rasional : Motivasi untuk menurunkan berat badan adalah internal.

4) Kaji ulang masukan kalori harian dari pilihan diet. Rasional : Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dalam

program diit terakhir. 5) Tetapkan rencana penurunan berat badan yang realistis. Rasional : Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan berat badan 0,5 kg/minggu. 6) Dorong pasien untuk mempertahankan masukan makanan harian. Rasional : Memberikan data dasar tentang keadekuatan

nutrisi yang dimakan, dan kondisi emosi saat makan. 7) Ajarkan untuk memilih makanan yang tepat Rasional : Menghindari makanan yang tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah

perkembangan aterogenesis.. 8) Kolaborasi dengan ahli gizi. Rasional : Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit individu. 5) Diagnosa V Koping individu inefektif berhubungan dengan Krisis

situasional/maturasional, sistem pendukung tidak adekuat, metode koping tidak efektif. Hasil yang diharapkan/kriteria hasil : a) Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya. b) Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi.

c) Mengidentifikasi situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari. d) Mendemonstrasikan keterampilan metode koping efektif. Intervensi : 1) Kaji keefektifan strategi koping. Rasional : Mekanisme adaftif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang , menghindari hipertensi kronis, mengintegrasikan terapi yang diharuskan

kedalam kehidupan sehari hari. 2) Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, konsentrasi, peka rangsangan, toleransi sakit kepala. Rasional : Manifestasi mekanisme koping maladaftif

mungkin merupakan indikator, marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu tekanan darah diastolik. 3) Bantu pasien mengidentifikasi stressor. Rasional : Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respons seseorang terhadap stressor. 4) Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan. Rasinal : Keterlibatan memberikan pasien perasaan

kontrol diri yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat meningkatkan kerja sama dalam regimen terapiutik. 5) Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas/tujuan hidup. Rasional : Fokus realitas pasien pada situasi yang ada relatif terhadap pandangan pasien tentang apa yang diinginkan. 6) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup. Rasional : Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistik untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya. 6. Diagnosa VI

Kurang pengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan Kurang pengetahuan/daya ingat, misinterpretasi informasi, keterbatasan kognitif. Hasil yang diharapkan/kriteria hasil : a) Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit b) Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan. c) Mempertahankan tekanan darah dalam parameter normal.

Intervensi : 1) Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar Rasional : Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan, dan prognosis. 2) Tetapkan dan nyatakan batas tekanan darah normal Rasional : Memberikan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan tekanan darah dan

mengklarifikasikan istilah medis yang sering digunakan. 3) Hindari mengatakan tekanan darah normal gunakan istilah terkontrol dengan baik. Rasional : Karena pengobatan hipertensi adalah sepanjang kehidupan, terkontrol memahami maka akan ide penyampaian pasien ide untuk

membantu untuk

kebutuhan

melanjutkan

pengobatan/medikasi. 4) Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor resiko kardiovaskuler yang dapat dirubah, misalnya : obesitas, rokok dan alkohol, pola hidup penuh stress. Rasional : Faktor faktor risiko ini telah menunjukkan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler dan ginjal.

5) Identifikasi perubahan gaya hidup yang tepat untuk mengurangi faktor-faktor diatas. Rasional : Fakto faktor risiko dapat meningkatkan proses penyakit atau memperburuk gejala. 6) Bahas pentingnya menghentikan merokok Rasional : Nikotin meningkatkan pelepasan katekolamin, mengakibatkan peningkatan frekuensi jantung,

tekanan darah,dan vasokontriksi, mengurangi oksigenisasi jaringan, dan meningkatkan

keberhasilan pasien dalam menyelesaikan tugas ini. 7) Beri penguatan pentingnya kerja sama dalam regimen pengobatan dan mempertahankan perjanjian tindak lanjut.. Rasional : Kurangnya kerja sama adalah alasan umum kegagalan terapi antihipertensif 8) Intruksikan dan peragakan tehnik pemantauan tekanan darah mandiri. Rasional : Dengan mengajarkan klien atau orang terdekat untuk memantau tekanan darah adalah

meyakinkan untuk klien. 9) Bantu pasien untuk menegmbangkan jadwal yang sederhana, memudahkan untuk minum obat. Rasional : Dengan pengobatan mengindividualisasikan sehingga sesuai jadwal dengan

kebiasaan/kebutuhan pribadi klien. 10) Beri penjelasan obat (dosis dan efek samping). Rasional : Informasikan yang adekuat dan pemahaman bahwa efek samping adalah umum dan sering menghilang dengan berjalannya waktu. 11) Motovasi untuk membuat program olahraga sendiri. Rasional : Selain membantu menuryunkan tekanan darah, aktivitas aerobik merupakan alat menguatkan sistem kardiovaskular. 12) Bila terjadi perdarahan hidung lakukan kompres es pada punggung leher dan tekan pada 1/3 ujung hidung dan anjurkan pasien untuk menundukkan kepala ke depan.

Rasional

: Kapiler nasal dapat ruptur sebagai akibat dari tekanan vaskular berlebihan.

1. Pelaksanaan Pelaksanaan adalah penerapan tindakan-tindakan perawatan yang telah direncanakan. Pada tahap pelaksanaan yang dilakukan adalah melakukan tindakan-tindakan keperawatan yang telah direncanakan dan dilanjutkan dengan pendokumentasian semua tindakan yang telah dilakukan beserta hasil-hasilnya. Beberapa petunjuk pada pelaksanaan adalah sebagai berikut : a. Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. b. Keterampilan interpersonal, intelektual, teknikal, dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat. c. Keamanan fisik dan psikologis dilindungi. d. Dokumentasi intervensi dan respons klien. Setelah pelaksanaan selesai, dilakukan dokumentasi intervensi secara tertulis pada catatan keperawatan dan proses keperawatan. Pada klien Hipertensi beberapa prinsip pelaksanaan yang dapat dilakukan adalah : a. Latihan gerak badan/olahraga teratur khususnya pada penderita yang gemuk. b. Hindari mengkonsumsi makan makanan yang banyak mengandung garam dan lemak yang tinggi. c. Hindari perilaku hidup tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, dan stres yang berlebihan. d. Selalu melakukan kontrol terhadap kesehatannya ke pusat pelayanan kesehatan. 2. Evaluasi Evaluasi asuhan keperawatan adalah tahap akhir proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dari keseluruhan tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Tahap evaluasi merupakan indikator keberhasilan dalam penggunaan proses keperawatan. 2.1 Evaluasi terdiri dari dua bagian yaitu : a. Tinjauan laporan klien harus mencakup riwayat perawatan, kartu catatan, hasil-hasil tes dan semua laporan observasi.

b. Pengkajian kembali terhadap klien berdasarkan pada tujuan kriteria yang diukur dan mencakup reaksi klien terhadap lingkungan yang dilakukan. Reaksi klien secara fisiologis dapat diukur dengan kriteria seperti mengukur tekanan darah, suhu dan lain lain.. 2.2 Evaluasi yang dapat dilihat pada klien dengan Hipertensi : a. Klien menunjukan kepatuhan terhadap anjuran-anjuran yang diberikan. b. Klien dapat melakukan kontrol rutin ke tempat pusat pelayanan kesehatan. c. Menunjukan perubahan dalam pola hidup kearah yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2002).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Ed. VIII Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Carpenito, L.J. et. al. (2000). Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis. Ed. III. Jakarta : EGC. Doenges, E. Marillyn. et. al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC. Ganong, MD.(2003). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Cetakan I, Ed. 20. Jakarta : EGC. Gunawan , L.(2001) Hipertensi Tekanan Darah Tinggi, Cetakan I, Ed.III, Jilid 2. Jakarta : Media Aescalapius. Mansjoer, Arifet. et. al. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Ed. III, Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius. Noer, Sjaifoellah, H.M. et. al. (1999). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed. III. Jilid I. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Ramali & Pamoentjak. (1999). Kamus Kedokteran Ed. Revisi. Jakarta : EGC. Sustrani, et. al (2004) Hipertensi. Cetakan I. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.