Anda di halaman 1dari 8

BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.

1 Sistem kemih Ginjal mengelimimasi konstituen-konstituen plasma yang tidak diperlukan kedalam urine sementara menahan bahan bahan yang bermanfaat bagi tubuh. Satuan fungsional pembentuk urine diginjal adalah nefron,yang terdiri dari komponen vaskuler dan tubulus yang saling berkaitan. Komponen vaskuler terdiri dari dua jaringan kapiler yang terangkai,yang pertama adalah glomerulus,berkas kapiler yang menyaring sejumlah besar volume plasma bebas protein kedalam komponen tubulus. Jaringan kapiler kedua terdiri dari kapiler peritubulus,yang melingkari komponen tubulus. Kandung kemih dapat menampung 250 sampai 400 ml urine sebelum reseptor regang didindingnya melalui refleksi berkemih. Refleks ini menyebabkan pengosongan kandung kemih secara infolunter dengan secara bersamaan menyebabkan konstraksi kandung kemih yang disertai oleh pembukaan sevingter uretra internal dan eksternal. Berkemih dapat untuk beberapa saat dan dengan sengaja dicegah samapai waktu yang lebih tepat dengan pengenceran secara sengaja sfingter eksternal dan diagfragma pelvis disekitarnya. 2.2 Sekresi Tubulus Tubulus ginjal mampu secara selektif menambahkan zat-zat tertentu kedalam cairan filtrasi melalui proses sekresi tubulus. Sekresi suatu zat meningkatkan ekskresinya dalam urine. Sistem sekresi yang terpenting adalah (1) H+, yang penting untuk mengatur keseimbangan asam dan basa; (2) K+, yang menjaga konsentrasi K+ plasma pada tingkat yang sesuai untuk mempertahankan eksitabilitas normal membran sel otot dan saraf ; dan (3) anion dan kation organuk, yang melaksanakan eliminasi senyawa senyawa organic asing dari tubuh. 2.3 Ekskresi Urin Dari 125 ml/menit cairan yang difiltrasi dari glomerulus, dalam keadan normal 1 ml/menit yang tertinggal ditubulus dan diekskresikan sebagai urin. Hanya zat zat sisa dan kelebihan elektrolit yang tidak diperlukan oleh tubuh dibiarkan berada pada tubulus. Ginjal mampu menghasilkan urin dengan rentang dari 0,3 ml/menit pada 1200 mosm/l

sampai 25 ml/menit pada 100 mosm/l dengan merearbsorpsi H2O dalam jumlah bervariasi dari bagian distral nefron. Variasi reabsorpsi ini dimungkinkan oleh adanya gradien osmotic vertical yang berkisar dari 300 sampai 1.200 mosm/l dicairan interstisium medulla yang dibentuk oleh system countercurrent lengkung henle dan daur ulang urea antara tubulus pengumpul dan lengkung henle. 2.4 Reabsorpsi Tubulus Setelah plasma bebas protein difiltrasi melalui glomelurus, setiap zat ditangani secara tersendiri oleh tubulus, sehingga walaupun konsentrasi semua konstituen dalam filtrate glomelurus awal identik dengan konsentrasinya dalam plasma (dengan pengecualian protein plasma), konsentrasi berbagai konstituen mengalami perubahan perubahan saat cairan filtrasi mengalir melalui system tubulus. Kapasitas reabsorptif system tubulus sangat besar. Lebih dari 99% plasma yang difiltrasi dikembalikan ke darah melalui reabsorpsi. Zat zat utama yang secara aktif direabsorpsi adalah Na+ (kation utama CES), sebagian besar elektrolit lain, dan nutrient organic, misalnya glukosa dan asam amino. Pembawa kotransportasi spesifik yang terletak dibatas luminal sel tubulus proksimal terdorong oleh gradient konsentrasi Na+ untuk secara selektif mengangkut glukosa atau asam amino dari cairan luminal kedalam sel tubulus. Dari sel tubulus, zat zat tersebut akhirnya masuk ke plasma. Klorida direabsorpsi secara pasif mengikuti penurunan gradient lisrik yang diciptakan oleh reabsorpsi aktif Na+. Zat zat sisa lainnya, yang tidak dapat direabsorpsi, akan tetap berada diurin dalam ko nsentrasi yang tinggi. Diawal nefron, reabsorpsi Na+ terjadi secara konstan dan dikontrol, tetapi ditubulus distal dan pengumpul, reabsorpsi sebagian kecil Na+ yang difiltrasi berubah ubah dan dapat dikontrol. 2.5 Filtrasi Glomerulus Filtrat glomerulus terbentuk sewaktu sebagian plasma yang mengalir melalui tiap- tiap glomerulus terdorong secara pasif oleh tekanan menembus membran glomerulus untuk masuk ke dalam lumen kapsul Bowmen dibawahnya. Tekanan darah kapiler glomerulus yang tinggi dan mendorong filtrasi mengalahkan kombinasi dari tekanan osmotic koloid plasma dan tekanan hidrostatik kapsul Bowmen yang bekerja

berlawanan. Biasanya, 20% sampai 25% curah jantung disalurkan ke ginjal untuk mengalami proses regulatorikdan eksretorik ginjal dari plasma ya mengalir melalui ng ginjal, dalam keadaan normal 20% difiltrasi melalui glomerulus, menghasilkan laju filtrasi glomerulus (GFR) 125 ml/menit. Komposisi filtrat tersebut identik dengan plasma, kecuali protein plasma yang tertahan oleh membrane glomerulus. G dapat FR secara sengaja diubah dengan mengubah tekanan darah kapiler glomerulus sebagai hasil pengaruh simpatis pada arterior aferen. Vasokontriksi arterior aferen menurunkan aliran darah ke glomerulus, sehingga tekanan darah glomerulus menurun dan GFR juga menurun. Sebaliknya, vasodilatasi arterior aferen meningkatkan aliran darah glomerulus dan GFR. Kontrol simpatis atas GFR merupakan bagian dari respon refleks baroreseptor untuk mengkompensasi perubahan tekanan darah arteri. Jika GFR berubah, jumlah cairan yang keluar melalui urin juga berubah, sehingga volume plasma dapat diatur sesuai dengan kebutuhan untuk membantu memulihkan tekanan darah ke normal dalam jangka panjang. 2.6 Fungsi Ginjal Pengeluaran zat sisa organic. Pengaturan konsentrasi ion ion penting. Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh. Pengaturan produksi sel darah merah. Pengaturan tekanan darah. Pengendalian terbatas pada kadar glukosa dan asam amino darah. Pengeluaran zat zat beracun. 2.7 Pembentukan Urin Didalam kapiler glomeruler, darah disaring oleh dinding dinding endotel kapiler glomeruler.

Yang tersaring keluar masuk ke kapsul Browmen adalah air dan zat terlarut dengan berat molekul rendah seperti: glukosa, Cl, Na, K, Fosfat, Urea, Asam Urat dan Kreatinan. Penyaringan ini dimungkinkan terjadi dikapiler. 2.8 Mekanisme Penyaringan  Karena adanya dorongan (yaitu tekanan hidrostatik darah) yang mendorong zat zat tersaring keluar dari kapiler glumeruler masuk ke kapsul Bowmen.  Walaupun adanya perlawanan tetapi penyaringan tetap berjalan karena tekanan hidrostatik dalam kapiler glomeruler lebih besar daripada tekanan hidrostatik kapsul Bowmen maupun tekanan osmotic koloid. Plasma kapiler glomeruler.  Selisih tekanan tersebut disebut tekanan filtrasi efektif.  TFE = Tekanan hidrostatik glomeruler ( Tekanan hidrostatik kapsul + tekanan osmotic glomeroler. 2.9 Reabsorpsi Didalam tubulus ini terjadi reabsorpsi dan sekresi ion-ion dan zat-zat lain. Reabsorpsi ini melalui mekanisme difusi osmose dan transport aktif. Didalam tubulus kontortus proksdimal terjadi reabsorsi 85% Na,Cl, dan air. Sedangkan glukosa dan asam amino direabsorsi 100% Urea juga mengalami reabsorsi,tetapi hanya 50% Ion lainnya seperti K,Ca,fosfat,dll. Juga direabsorsi. 2.10 Sekresi Disamping reabsorsi terjadi juga sekresi ditubulus kontortus distal dan tubulus pengumpul.

H,K,Amonium,kreatinin,obat-obatan,disekresi ditubulus kontortus distal dan tubulus pengumpul. Sekresi ini penting untuk menjaga PH dan keseimbangan asam basa tubuh dan pengeluaran zat-zat racun. 2.11 Mekanisme Pengenceran Di pengaruhi oleh ADH (anti duretik hormon) dan aldosteron. ADH dan aldosteron menyebabkan meningkatnya permeabilitas tubulus sehingga akan meningkatkan reabsorsi air. Hal ini akan menyebabkan volume urin menurun. Apabila ADH jumlahnya menurun, maka reabsorsi air menurun akibatnya jumlah urin meningkat. Hal-hal yang menyebabkan ADH naik.: 1) Maningkatkan asmolalitas plasma 2) Penurunan volume dan tekanan darah Hal-hal yang menyebabkan ADH turun: 1) Penurunan asmolalitas plasma 2) Peningkatan volume dan tekanan darah 2.12Sifat dan Komposisi urin Urin mempunyai komposisi:
y Zat buangan protein mis. Ureum, kreatinin,dan asam urat y Asam bipurat,zat sisa dari pencernaan sayur dan buah y Badan keton zat buang dari metabolisme lemak

y Elektrolit Na,Cl,K,Amonium,fosfat,Ca,Mg y Metabolisme hormon y Zat toksin mis.metabolit,obat,vitamin,zat kimia asing. y Zat abnormal,zat protein,glukosa,sel darah,kristal kapur dan lain-lain

Sifat urin:
y Urin encer berwarna kuning pucat,urin kental berwarna kuning pekat,urin baru

jernih, kalau didiamkan agak lama menjadi keruh


y Baunya khas,kalau didiamkan akan berbau ammonia y pH bervariasi 4,8 -7,5. biasanya sekitar 6,0. bila banyak makan protein urin

menjadi lebih asam, bila banyak makan sayur urin akan menjadi lebih basa
y berat jenis urin 1,001-1,035

2.13 Mekanisme Berkemih Dipengaruhi oleh saraf simpatis dan parasimpatis serta impuls saraf volunter Otot pada kandung kemih yang mengelilingi jalan keluar keuretra (sfinger uretra internal) senantiasa berkontraksi menjaga supaya lubang ini tetap tertutup dipengaruhi oleh parasimpatis. Otot sfinger uretra eksternal terdiri dari otot rangka yang kerjanya secara volunteer Didinding kantung kemih terdapat otot detrusol yang bila berkontraksi menyebabkab urin dalam kantung kemih terdorong keluar Bila dalam kandung kemih terdapat urin 300-400 ml,maka terjadi rangsangan peregangan pada dinding kandung kemih

Kemudian impuls ini dikirim keotak,sehingga menyebabkan adanya impuls parasimpatis yang menyebabkan kontraksinya otot detrusor, relaksasi otot sfinger internal dan eksternal. 2.14 Mekanisme pencegahan berkemih Hal ini dimungkinkan dengan adanya impuls volunteer yang menyebabkan bisa ditundanya kontraksi otot detrusor dan relaksasinya otot sfinger Sampai umur 18 bulan,impuls volunter ini belum bekerja dengan baik.

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Di pengaruhi oleh ADH (anti duretik hormon) dan aldosteron. ADH dan aldosteron menyebabkan meningkatnya permeabilitas tubulus sehingga akan meningkatkan reabsorsi air. Hal ini akan menyebabkan volume urin menurun. Apabila ADH jumlahnya menurun, maka reabsorsi air menurun akibatnya jumlah urin meningkat. Hal-hal yang menyebabkan ADH naik.: 1) Maningkatkan asmolalitas plasma 2) Penurunan volume dan tekanan darah Hal-hal yang menyebabkan ADH turun: 3) Penurunan asmolalitas plasma

4) Peningkatan volume dan tekanan darah