Anda di halaman 1dari 14

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Alamat Nama suami Umur suami Pendidikan Pekerjaan Tanggal masuk II. : Ny. Baeti Janati : 18 tahun : tamat SLTP : ibu rumah tangga : Islam : Sujan, Salam, Grabag : Tn. Mulyono : 21 tahun : tamat SLTP : Tani : 15 Juli 2011 pukul 05.00 WIB

ANAMNESIS ( tanggal 15 Juli 2011 pukul 07.00 WIB) Keluhan Utama Pasien mengeluhkan sudah dipimpin mengejan selama 2 jam, namun bayi tidak lahir. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dirujuk Bidan Grabag dengan Kala II macet. Pasien merasa kenceng-kenceng teratur hendak melahirkan disertai keluarnya lendir darah sejak pukul 02.00 WIB, kemudian datang ke Bidan (pasien merasa kencengkenceng pertama kali sejak pukul 18.00, tanggal 14/7/2011). Setelah diperiksa oleh bidan, pembukaan sudah lengkap dan dipimpin mengejan, namun setelah 2 jam mengejan (pukul 02.30-04.30) bayi tidak segera lahir dan oleh bidan dirujuk ke Budi Rahayu. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat sakit hepatitis, asma, hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, TBC disangkal. Riwayat Penyakit Keluarga 1

Riwayat diabetes mellitus, riwayat hipertensi, riwayat asma, psikosa, riwayat keganasan dalam keluarga disangkal. Riwayat Menstruasi Umur menarche Siklus Lama Jumlah darah Pola gangguan haid HPHT Riwayat Perkawinan Menikah 1 kali pada umur 17 tahun, umur pernikahan dengan suami sekarang 1 tahun Riwayat Obstetri no Kahamilan,persalinan, 1 keguguran dan nifas Hamil ini Umur sekarang/ Keadaan anak tanggal Tempat perawatan dan no daftar : 13 tahun : 28 hari : 7 hari : 50 cc : tidak ada : 15-10-2010

Sakit waktu menstruasi : tidak sakit

Riwayat operasi dan penyakit yang pernah dijalani : Pasien belum pernah menjalani operasi Riwayat kehamilan Sekarang : Umur kehamilan Riwayat ANC Riwayat KB Pasien tidak menggunakan KB III. PEMERIKSAAN FISIK 1. Pemeriksaan Umum KU : sedang, tampak kelelahan 2 : 39 minggu : tiap bulan di bidan

Hari perkiraan lahir (HPL): 22-7-2011

Kesadaran Vital Sign Berat Badan Kepala

: Compos Mentis. : TD :110/70 mmHg, N : 84 x/mnt, RR : 20 x/mnt, t : 36,80 C : 48 kg : Mesochepal Mata Hidung : Conjungtiva Anemis (-) / (-), Sklera Ikterik (-) / (-) : Tidak ada deformitas, tidak ada sekret

Tinggi Badan : 156 cm

Leher Dada Inspeksi Palpasi Perkusi

: Tidak ada pembesaran kelenjar limfe leher, tidak ada peningkatan JVP, tidak ada deformitas : : Bentuk simetris , tidak ada deformitas, tidak ada ketinggalan gerak : vokal fremitus paru paru kanan = paru paru kiri, Ictus cordis di SIC V linea medioclavicularis sinistra. : Sonor pada paru - paru kanan dan kiri : Suara dasar vesikuler, suara tambahan ( - ). : S1/S2 murni, tunggal, bising jantung ( - ). Jantung

Auskultasi : Paru

Abdomen Inpeksi Palpasi Perkusi : striae gravidarum (+) : Hepar / lien tak teraba, nyeri tekan (-), massa (-) : pekak alih (-) : atas (+) / bawah (+) : atas (-)/ bawah (-) : (-)/(-)

Anggota Gerak Reflek fisiologis Edema Varises 2. Pemeriksaan Obstetri Pemeriksaan Luar: Inspeksi Palpasi : Perut membesar, tampak striae gravidarum (+) : : TFU 3 jari di bawah proc. xipoideus Teraba satu bagian besar, bulat, lunak 3

Leopold 1

Leopold 2 Leopold 3 Leopold 4 TFU : 29 cm His (+) 2x/10/40

: kanan: teraba bagian memanjang (puka) Kiri : teraba bagian-bagian kecil janin : Teraba bagian bawah janin bulat keras, susah digerakkan : Divergen

Auskultasi : DJJ (+) 11.12.11 Pemeriksaan Dalam : Vaginal Toucher / VT : lengkap, kulit ketuban (-), efficement tidak ada, bagian bawah janin kepala turun Hodge III+, Lendir Darah (+), UUK melintang IV. DIAGNOSIS AWAL V. G1P0A0, umur 18 tahun, Hamil 39 minggu Janin 1, hidup, intrauteri UUK lintang Hodge III+, puka Deep Transvers Arrest

SIKAP Akhiri persalinan dengan ekstraksi vakum atas indikasi Deep Transvers Arrest

VI.

LAPORAN PERSALINAN 15 Juli 2011 05.10 N : 84x/menit; TD: 110/70 MmHg; S: 36oC His (+) 2x/10/40: DJJ (+) 11-11-12 (136x/menit) VT: lengkap, kulit ketuban (-), efficement tidak ada, bagian bawah janin kepala turun H III+, Lendir Darah (+), UUK melintang Sikap: akhiri persalinan dengan ekstraksi vakum 06.00 Bayi lahir secara vakum ekstraksi dengan 1x pasang cup sedang, dengan beberapa kali tarikan, lahir bayi laki-laki, berat badan 2900 gram, panjang badan 49 cm, apgar score 8-9-10. Injeksi oksitosin 10 iu IM 4

06.10 Lahir plasenta spontan, lengkap, perdarahan 200cc, perineum episiotomi H 4c/3z, kontraksi uterus (+), TFU 2 jari dibawah pusat. TD: 120/70 06.25 TD: 110/70, kontraksi uterus (+), TFU 1 jari dibawah pusat, VU (-), PPV 10cc. 06.40 TD: 110/70, kontraksi uterus (+), TFU 1 jari dibawah pusat, VU (-), PPV 10cc. 06.55 TD: 110/60, kontraksi uterus (+), TFU 2 jari dibawah pusat, VU (-), PPV 10cc. 07.10 TD: 110/60, kontraksi uterus (+), TFU 2 jari dibawah pusat, VU (-), PPV 5cc. 07.40 TD:110/70, kontraksi uterus (+), TFU 2 jari dibawah pusat, VU (-), PPV 5cc. 08.10 TD: 110/70. kontraksi uterus (+), TFU 2 jari dibawah pusat, VU (-), PPV 5cc. VII. IKHTISAR PERSALINAN Lahir Tanggal Macam Persalinan Indikasi Jenis Kelamin BB/PB Air Ketuban Perdarahan Apgar Score Lama Persalinan: : 15 Juli 2011 : Vakum Ekstraksi : Deep Transverse Arrest : Laki-laki : 2900gram/ 49 cm : jernih : 200 cc : 8-9-10 Kala I Kala II Kala III Total waktu VIII. DIAGNOSIS AKHIR G1P0A0 umur 18 tahun post partum dengan ekstraksi vakum atas indikasi Deep Transverse Arrest IX. TERAPI Amoxicillin 3x500 mg Asam Mefenamat 3x500 mg 5 : 8 jam : 3 jam 30 menit : 10 menit + : 11 jam 40 menit

X.

Viliron 1x1 Metil Ergometrin maleat 3x1tab Diet Biasa Mobilisasi Pengawasan KU, VS, PPV

PROGNOSIS Baik

PEMBAHASAN I. VAKUM EKSTRAKSI Definisi Ekstraksi vakum adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi tenaga negatif (vakum) pada kepalanya. Alat ini dinamakan ekstrakstor vakum atau ventous. Ekstraksi vakum merupakan tindakan obstetri yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi. Oleh karena itu, kerjasama dan kemampuan ibu untuk mengekspresikan bayinya merupakan faktor yang sangat penting dalam menghasilkan akumulasi tenaga dorongan dengan tarikan ke arah yang sama. Tarikan pada kulit kepala bayi dilakukan dengan membuat cengkraman yang dihasilkan dari aplikasi tekanan negatif. Mangkuk logam atau silastik akan memegang kulit kepala yang akibat tekanan vakum, menjadi kaput artifisial. Mangkuk dihubungkan dengan tuas penarik (yang dipegang oleh penolong persalinan) melalui seutas rantai. Ada 3 gaya yang bekerja pada prosedur ini, yaitu tekanan intrauterin (oleh kontraksi), tekanan ekspresi eksternal (tenaga mengedan) dan gaya tarik (ekstraksi vakum). b. Indikasi Vakum ekstraksi untuk mengakhiri persalinan dilakukan apabila keadaan ibu atau janin memerlukan penyelesaian dalam waktu singkat (mempersingkat kala II): 1. Ibu tidak boleh meneran terlalu lama pada kala II akibat kondisi obstetri tertentu (pre eklampsia, anemia, diabetes mellitus, eklampsia, penyakit jantung kompensata, penyakit paru-paru fibrotik) 2. Kondisi obstetri tertentu: a.Riwayat SC b. Kala II memanjang atau lama 6 a.

3. Maternal distress pada kala II 4. Gawat janin pada kala II dengan syarat : a. Perjalanan persalinan normal b. Fasilitas sectio caesar sudah siap c. Kontra Indikasi Kontraindikasi absolut 1. Disproporsi sepalo-pelvik . 2. Operator tidak kompeten untuk melakukan ekstraksi vakum. 3. Kelainan letak : a. Presentasi Muka b. Letak Dahi c. After coming head pada presentasi sungsang Kontraindikasi relatif 1. Pasca pengambilan sediaan darah dari kulit kepala janin. 2. Prematuritas (<36) a. Kecuali pada persalinan gemelli anak ke II dimana persalinan hanya memerlukan traksi ringan akibat sudah adanya dilatasi servix dan vagina. b. Dikhawatirkan terjadi trauma intrakranial, perdarahan intrakranial , ikterus neonatorum berat. 3. IUFD a. Oleh karena : tidak dapat terbentuk kaput. b. Pada janin maserasi, kranium sangat lunak sehingga pemasangan mangkuk menjadi sulit. 4. Kelainan kongenital janin yang menyangkut kranium : anensephalus d. Syarat Syarat- syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan tindakan vakum ekstraksi adalah 1. Janin diperkirakan dapat lahir pervaginam. 2. Pembukaan sekurang - kurangnya 7 cm (idealnya adalah dilatasi lengkap). 3. Penurunan kepala > station 0 (idealnya adalah setinggi Hodge III +) 4. Selaput ketuban negatif. 5. Harus ada kekuatan meneran ibu dan kontraksi uterus (HIS) e. Alat ekstraksi vakum: 1. Cawan penghisap ( cup ) yang terdiri dari beberapa ukuran (50 mm, 60 mm, 70 mm) dengan lubang di tengah-tengahnya. 2. Botol penghisap, tempat membuat tenaga negative (vakum). 3. Karet penghubung 4. Rantai penghubung antara mangkuk dengan pemegang 5. Pemegang (extraction handle) 7

6. Pompa penghisap (vacuum pump)

Gambar1. Alat Vakum ekstraksi f.

Gambar 2. Cawan penghisap

Pemasangan Ekstraktor Vakum Pasien dalam posisi litotomi. Lakukan desinfeksi daerah genitalia (vulva toilet). Sekitar vulva ditutup dengan kain steril. Setelah semua peralatan ekstraktor vakum terpasang, dilakukan pemasangan mangkuk dengan tonjolan penunjuk dipasang diatas titik petunjuk kepala janin. Pada umumnya dipakai mangkuk dengan diameter terbesar yang dapat dipasang. Dilakukan penghisapan dengan tekanan negatif -0,3 kg/cm2, kemudian dinaikkan -0,2 kg/cm2 tiap 2 menit sampai mencapai -0,7 kg/cm2. Maksud pembuatan tekanan negatif yang bertahap ini adalah supaya kaput suksedaneum buatan dapat terbentuk dengan baik. Dilakukan pemeriksaan dalam vagina untuk menentukan apakah ada bagian jalan lahir atau kulit ketuban yang terjepit diantara mangkuk dan kepala janin. Bila perlu dapat dilakukan anestesi lokal, baik dengan cara infiltrasi maupun blok pudendal untuk kemudian dilakukan episiotomi. Bersamaan dengan timbulnya his, ibu dipimpin mengejan dan ekstraksi dilakukan dengan cara menarik pemegang sesuai dengan sumbu panggul. Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tangan kiri operator menahan mangkuk supaya tetap melekat pada kepala janin. Selama ekstraksi ini, jari-jari tangan kiri opertator tersebut memutar ubun-ubun kecil menyesuaikan dengan putaran paksi dalam. Bila ubun-ubun kecil sudah berada dibawah simfisis, arah tarikan berangsur-angsur dinaikkan (ke atas) sehingga kepala lahir. Setelah kepala lahir, tekanan negatif dihilangkan dengan cara membuka pentil udara dan mangkuk kemudian dilepas. Janin dilahirkan seperti pada persalinan nornal dan plasenta umumnya dilahirkan secara aktif

Gambar 3. Pemasangan cawan penghisap dalam posisi miring g. Kriteria Ekstraksi Vakum gagal 1. Waktu dilakukan traksi, mangkok lepas sebanyak tiga kali. Mangkok lepas pada waktu traksi kemungkinan disebabkan : a. Tenaga vakum terlalu rendah. b. Tekanan negatif dibuat terlalu cepat, sehingga tidak terbentuk kaput suksedaneum yang sempurna yang mengisi seluruh mangkok. c. Selaput ketuban melekat antara kulit kepala dan mangkok sehingga mangkok tidak dapat mencengkam dengan baik. d. Bagian-bagian jalan lahir (vagina, serviks) ada yang terjepit ke dalam mangkok. e. Kedua tangan kiri dan kanan penolong tidak bekerja sama dengan baik. f. Traksi terlalu kuat. g. Cacat (defect) pada alat, misalnya kebocoran pada karet saluran penghubung. h. Adanya disproporsi sefalopelvik. Setiap mangkok lepas pada waktu traksi, harus diteliti satu persatu kemungkinan- kemungkinan di atas dan diusahakan melakukan koreksi. 2. Dalam waktu setengah jam dilakukan traksi, janin tidak lahir. h. Komplikasi 1. Komplikasi pada ibu : a. Perdarahan. b. Trauma jalan lahir. c. Infeksi. 2. Komplikasi pada janin : a. Ekskoriasi dan nekrosis kulit kepala b. Cephal hematoma c. Subgaleal hematoma d. Perdarahan intrakranial e. Perdarahan subconjuntiva, perdarahan retina f. Fraktura klavikula 9

g. h. i. j.

Distosia bahu Cedera pada syaraf cranial ke VI dan VII Erb paralysa Kematian janin

II. Deep Transverse Arrest Secara normal kepala turun pada pintu atas panggul dengan sutura sagitalis melintang. Hal ini sesuai dengan teori akomodasi dimana pintu atas panggul diameter yang terbesar adalah diameter transversa. Pada keadaan tertentu setelah kepala sampai pada dasar panggul posisi ubun-ubun kecil masih melintang, keadaan ini dinamakan dengan deep transverse arrest atau persistent occiput transverse position (posisi oksiput melintang persisten). a. Definisi Deep transverse arrest adalah keadaaan dimana kepala sudah masuk ke dalam rongga panggul, sutura sagitalis terletak melintang pada diameter interspinosus dan tidak ada kemajuan penurunan kepala setelah 1 jam pembukaan lengkap. Posisi oksipital melintang ini merupakan hasil akhir dari rotasi anterior yang tidak sempurna dari posisi occipital posterior atau karena tidak terjadinya rotasi dari posisi occipital melintang. Deep tranverse arrest sendiri merupakan bagian dari malposisi, malposisi yaitu presentasi belakang kepala dengan ubun-ubun kecil tetap berada disamping atau dibelakang. Posisi ubun-ubun kecil (UUK) tetap berada disamping (melintang) disebut sebagai posisi oksipitalis tranversalis persisten (POTP). Bila persalinan terhenti dengan posisi ubun-ubun kecil tetap pada posisi melintang disebut transverse arrest. Keadaan tranverse arrest terbagi menjadi dua yaitu : 1. High Transverse arrest yaitu bila tranverse arrest terjadi dengan penurunan kepala masih diatas spina ischiadika. 2. Deep Transverse arrest yaitu bila transverse arrest terjadi dengan penurunan kepala sudah dibawah spina ischiadika. Menurut Dutta, DTA terjadi jika kepala telah jauh turun kedasar panggul dimana sutura sagitalis kepala tetap pada posisi trasversal diantara diameter interspinarum dan tidak ada kemajuan penurunan kepala setelah sampai 1 jam setelah pembukaan lengkap. b. Etiologi Penyebab deep transverse arrest dapat berupa adanya kelainan panggul (spina ischiadika menonjol, sakrum datar, dinding samping panggul konvergen), kontraksi uterus yang tidak adekuat, penggunaan obat anestesi epidural, kelemahan otot dasar panggul atau gabungan dari hal-hal tersebut diatas. Keadaan panggul yang dapat menyebabkan deep transverse arrest adalah panggul yang disebut dengan funnel pelvic atau panggul corong. Jenis panggul ini merupakan 10

kelainan panggul yang sering terdapat pada wanita kulit putih. Sesuai dengan namanya dinding samping panggul konvergen dari atas ke bawah, kadang-kadang diameter transversal juga berkurang (spina ischiadika yang menonjol atau arkus pubis yang sempit). Tanpa adanya kelainan dan bentuk panggul, besar kemungkinan posisi oksiput hanya bersifat sementara karena oksiput dapat mengalami rotasi menjadi posisi anterior. Pada panggul jenis android dan platipelloid mungkin tidak terdapat ruangan yang cukup untuk rotasi oksiput ke posisi anterior atau posterior. Pada panggul jenis platipelloid kepala janin mengalami engaged dalam posisi transversal kemudian turun dan terfiksir di panggul tengah karena sempitnya diameter anteroposterior. Pada panggul jenis android kepala mungkin tidak engaged, perputaran kepala ke depan sering terhalang oleh sakrum dan diameter interspinosus yang sempit. Secara umum keadaan transverse arrest disebabkan oleh: 1. Kelainan panggul, yaitu panggul picak/platipoid (POTP primer), panggul corong, otot dasar panggul lemah pada multiparitas, tidak sempurnanya rotasi anterior dari posisi oksipitalis posterior, pada panggul dengan spina ischiadika yang menonjol dengan diameter interspina < 10 cm, diameter anteroposterior pendek, dinding samping panggul konvergen, sacrum datar. 2. Disfungsi uterus hipotonik. Hal ini berhubungan dengan high transverse arrest. Kontraksi uterus spontan yang normal seringkali menghasilkan tekanan sekitar 60 mmHg. Pada saat relaksasi otot uterus tidak mengadakan relaksasi sampai 0 mmHg akan tetapi masih mempunyai tonus, sehingga tekanan didalam ruang amnion masih terukur antara 6-12 mmHg. Hal ini disebabkan karena setiap sesudah his, otot di korpus menjadi lebih pendek dari sebelumnya yang dalam bahasa obstetric disebut otot-otot uterus mengadakan retraksi. Disfungsi uterus hipotonik, pada keadaan kontraksi uterus mempunyai pola gradien yang normal (sinkron), namun dengan kenaikan tekanan yang sedikit pada saat his tidak cukup untuk menimbulkan dilatasi serviks dengan kecepatan yang memuaskan. Tipe uterus ini terjadi selama fase aktif dari persalinan, yaitu sesudah servik mengadakan dilatasi lebih dari 4 cm dan respon baik terhadap pemberian oksitosin. 3. Kelainan janin, yaitu janin kecil atau mati, kepala janin kecil dan bundar, defleksi kepala janin. c. Penatalaksaan Keadaan letak belakang kepala dengan ubun-ubun kecil melintang belum dapat menjadi alasan untuk mengambil tindakan. Karena dapat dicoba dulu dengan menyuruh ibu berbaring miring ke samping ke arah punggung anak. Jika kepala gagal mengadakan rotasi spontan yang disebabkan oleh adanya disfungsi uterus hipotonik tanpa adanya sefalopelvik disproporsi, oksitosin dapat diberikan lewat infus, sementara itu bunyi jantung anak dan kontraksi uterus dipantau secara ketat. 11

Rotasi manual dapat dilakukan dengan cara Whole Hand Method yaitu seluruh tangan dimasukkan ke dalam vagina untuk melakukan rotasi. Pada oksiput kanan melintang biasanya digunakan tangan kiri dan pada oksiput kiri melintang biasanya digunakan tangan kanan. Setelah dua jari tangan membeberkan labia, tangan yang sesuai dimasukkan ke dalam vagina dengan cara membentuk kerucut. Empat jari dimasukkan ke dalam vagina di lengkung sakrum dan diletakkan di os parietal posterior, sedang ibu jari diletakkan di os parietal anterior. Arrest pada deep transverse secara umum lebih sulit penangannya dibanding pada posisi oksipito posterior dan juga lebih serius dari arrest pada pintu atas panggul. Pada keadaan terakhir adanya disproporsi diketahui pada awal persalinan dan persalinan dengan seksio sesarea dapat dilakukan ketika keadaan masih baik. Tapi pada posisi deep transverse arrest, proses persalinan telah jauh berjalan dan secara teknik seksio sesarea sulit dilakukan dan dapat menyebabkan infeksi. Persalinan pervaginam merupakan cara yang aman dan dapat dilakukan dengan cara-cara berikut: a. Vakum ekstraksi. b. Rotasi manual. c. Rotasi dengan forceps Kjelland dilakukan oleh tenaga ahli. d. Kraniotomi pada janin mati

DAFTAR PUSTAKA Anonim. Ilmu Fantom Bedah Obstetri. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Diponegoro. Semarang, 1997 Cunningham, Gary F, et all. Obstetri Williams. Edisi dua puluh satu. Penerbit Buku Kedokteran ECG. Jakarta, 2006 Winkjosastro, Hanifa (edt). Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi Pertama. Cetakan ketujuh. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta, 2007

PRESENTASI KASUS

12

Wanita , 18 Tahun G1P0A0 Hamil 39 Minggu Post Partus dengan Ekstraksi Vakum Atas Indikasi Deep Transverse Arrest

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Program Pendidikan Profesi Dokter Di RSUD Tidar Magelang

Di Ajukan Kepada : dr. Adi Pramono, Sp. OG Disusun Oleh : Emi Tamaroh 20050310059

SMF BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RB BUDI RAHAYU RSUD TIDAR MAGELANG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2011

13

HALAMAN PENGESAHAN Disusun Untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Program Pendidikan Profesi Dokter Di RSU Tidar Magelang

Disusun Oleh: Emi Tamaroh 20050310059 Telah dipresentasikan pada tanggal Juli 2011 dan telah disetujui oleh : Dokter Pembimbing

dr. Adi Pramono, SpOG

14