Anda di halaman 1dari 11

TUGAS EMBRIOLOGI TUMBUHAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Embriologi Tumbuhan

Oleh : Neni Yuningsih ( 0900581 ) Kelas B

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010

1. Gametofit Sebuah gametofit adalah haploid multiseluler fase, dari tanaman dan ganggang yang mengalami pergantian generasi , dengan masing-masing sel yang hanya berisi satu set kromosom . Generasi gametofit pada tumbuhan dimulai dengan spora yang dihasilkan dari proses meiosis. Spora ini bersifat haploid dan semua sel yang diturunkan (terdiferensiasi) dari sel ini juga bersifat haploid. Generasi ini yang menghasilkan sel gamet. Pada tahapan berikutnya, terjadi peleburan antara sel gamet jantan dan sel gamet betina (fertilisasi), sehingga dihasilkan sel yang bersifat diploid. Pembentukan Gamet Jantan Serbuk sari berasal dari mikrosporosit (sel diploid) yang berkembang di dalam kotak serbuk sari. Mikrosporosit membelah secara meiosis menghasilkan 4 (empat) mikrospora haploid, kemudian masing-masing membelah secara mitosis

menghasilkan butiran serbuk sari, yaitu gametofit jantan yang belum dewasa yang terdiri dari sel generatif dan sel vegetatif (pembuluh) Pembentukan Gamet Betina Di dalam putik berlangsung pembentukan sel telur (ovum). Sel induk (megasporosit) membelah secara meiosis menghasilkan 4 sel haploid, kemudian 3 sel degenerasi dan 1 sel menjadi megaspora. Selanjutnya megaspora membelah secara mitosis 3 kali menghasilkan 8 sel baru. Kedelapan sel tersebut menjadi bagian dari bakal buah, terdiri dari: 3 sel menuju kutub kalaza dan membentuk antipoda, 2 sel melebur membentuk kandung lembaga sekunder, 2 sel berada di kutub mikrofil menjadi sinergid, dan 1 sel menjadi ovum. 2. Sporofit Fase sporofit, yaitu diawali dengan zigot yang merupakan hasil fertilisasi dan bersifat diploid. Sporofit yang menghasilkan mikrosporofil dengan mikrospongia disebut mikrosporangiat atau strobilus jantan (staminate cones), sedangkan yang

menghasilkan megasprofil dengan ovulum (bersama mengasporangia) disebut mengasporangiat atau strobili betina (pistillate cones).

Pada tumbuhan paku, yang biasa kita lihat adalah generasi sporofit. Pada awal musim panas, akan nampak bercak-bercak kecoklatan pada bagian bawah anak daun tumbuhan paku. Bercak-bercak tersebut disebut sorus dan berisi banyak sporangium. Jika kita lihat lebih dalam, di dalam sporangium ini terjadi pembelahan meiosis dari satu sel induk spora menghasilkan empat sel spora. Jika kelembaban menurun, sel-sel bibir berdinding tipis dari masing-masing sporangium terpisah dan anulus terbuka dengan perlahan-lahan, lalu dengan gerak yang cepat anulus meletik kedepan dan mengeluarkan spora-sporanya. Jika spora-spora ini sampai pada habitat yang sesuai, maka spora tersebut akan berkecambah membentuk benang-benang sel. Masingmasing spora akan tumbuh menjadi protalus yang dilengkapi dengan rizoid yang berfungsi untuk membantu penyerapan air dan mineral dari dalam tanah. Sel-sel protalus ini bersifat haploid dan merupakan generasi gametofit yang dewasa. Sepertihalnya pada tumbuhan paku, pada gymnospermae yang biasanya kita lihat adalah generasi sporofitnya. Generasi sporofit ini membentuk dua spora yang berbeda, yaitu mikrospora yang akan tumbuh menjadi gametofit jantan dan makrospora yang akan tumbuh menjadi gametofit betina. Baik makrospora dan mikrospora dibentuk pada sporangiumnya masing-masing, yaitu makrosporangium dan mikrosporangium. Kedua sporangium ini dibentuk pada strobilus yang terpisah, mikrosporangium pada strobilus jantan dan makrosporangium pada strobilus betina. Pada pinus, strobilus jantan dan betina dihasilkan pada satu pohon (dioseus). 3. Makrospora Makrospora berkembang menjadi gametofit betina yang merupakan kantung embrio yang tetap berada dalam ovarium, dan merupakan bagian dari bakal biji. Makrospora ini berkembang di dalam makrosporangium. 4. Mikrospora Mikrospora atau butir polen adalah haploid, bentuk, ukran, serta ornamentasi dindingnya bervariasi. Gametofit jntan endosporik pertumbuhannya sebagian didalam mikrosporangium dan sebagian didalam ruang serbuk sari pada ovulum.

Mikrospora merupakan awal perkembangan gametofit jantan. Selama Gametogenesis inti serbuk sari membelah menghasilkan inti vegetative dan inti generative, yang tidak sama besar. Sel vegetative lebih besar dari sel generative. Inti sel generative membelah secara mitosis dan menghaslkan 2 sel sperma. Setelah pembelahan mitosis sel vegeratif melanjutkan pertumbuhan, organel sel bertambah jumlah dan ukurannya, Vakuola makin lama menghilang. Sel generative bentuknya speris, setelah lepas dari dinding sel. Dalam biologi , mikrospora adalah spora kecil sebagai kontras dengan yang lebih besar megaspora .Dalam botani, mikrospora berkembang menjadi laki-laki gametophytes , sedangkan megaspores berkembang menjadi gametofit betina. Kombinasi megaspores dan mikrospora hanya ditemukan dalam organisme heterosporous. Pada tanaman biji yang mikrospora menimbulkan butir serbuk sari, dan megaspores terbentuk dalam biji berkembang. Kebanyakan tanaman yang berkembang biak dengan spora tanpa biji hanya menghasilkan satu kelas spora. 5. Mikrosporogenesis Mikrosporogenesis adalah pembentukan gamet di dalam organ jantan bunga yang menghasilkan serbuk sari. Dalam kepala sari (anther) terdapat empat

mikrosporangium. Setiap mikrosporangium mengandung mikrosporosit (diploid). Mikrosporosit ini mengalami pembelahan meiosis I dan meiosis II. Pembelahan meiosis ini menghasilkan empat mikrospora haploid dan berkelompok menjadi satu yang disebut tetrad. Inti sel setiap mikrospora mengalami pembelahan inti (kariokinesis) sehingga menghasilkan 2 nukleus haploid, yaitu nukleus saluran serbuk sari dan nukleus generatif. Setelah serbuk sari terbentuk, nukleus generatif mengalami pembelahan mitosis menghasilkan dua nukleus sperma, tetapi tidak diikuti sitokinesis. Jadi,satu serbuk sari yang masak mempunyai tiga nukleus haploid, yaitu satu nukleus vegetatif (saluran serbuk sari) dan dua nukleus generatif (sperma). Benang sari terdiri dari kepala sari (antera) dan tangkai Sari (filamon). Kepala sari merupakan organ yang sangat penting karena di dalamnya terdapat mikrosporangia. Yang merupakan tempat berkembangnya gametofit jantan. Pada umumnya suatu

antera trdiri dari 2 ruang sari (teka) dan masing-masing memiliki dua ruang lokuli. Lokuli berisi mikrospora disebut sporangium. Pada awal kepala sari muda didalam lokulomentum (yaitu dibawa epidermis) tersusun dari jarigan prenkimatis yang homogeny. Sebelum sel-sel induyk mikrospora menjadi mikrospora maka sel-sel ini akan mengalami pembelahan meosis. Pada pembelahan meosis I menghasilkan dua sel, dan pada pembelahan ini terjadi reduksi jumlah kromosom yaitu terdiri dari 2n kromosom menjadi n kromosom untuk masing-masing sel yang dihasilkan yaiut butir polen. 6. Makrosporogenesis Makrosporogenesis adalah pembentukan gamet betina di dalam bakal buah atau ovarium. Di dalam satu ovari (bakal buah) terdapat sel induk megaspora (megasporosit). Sel induk megaspora yang bersifat diploid akan bermeiosis menghasilkan empat sel haploid (tetrad). Dari keempat sel tersebut hanya satu yang hidup menjadi sel megaspora. Sel megaspora ini, kemudian mengalami serangkaian mitosis menghasilkan delapan inti haploid. Delapan inti ini berada di dalam satu sel besar bernama kantung embrio (kandung lembaga muda) yang dilingkupi oleh kulit dan bagian ujungnya terdapat sebuah lubang kecil yang disebut mikrofil. Mikrofil berfungsi sebagai jalan masuk saluran serbuk sari ke dalam kandung lembaga. Tiga nukleus terletak di dekat mikrofil dan dua di antaranya sinergid (mati). Nukleus yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan menjadi ovum (sel telur). Tiga nukleus yang lain terletak di seberang mikrofil yang disebut antipoda, selanjutnya akan mati pula karena degenerasi. Dua nukleus yang terletak di tengah akan bersatu di tengah kandung lembaga menjadi satu nukleus diploid (2n) atau inti kandung lembaga sekunder. Beberapa tumbuhan Angiospermae mempunyai megasporofil (daun buah) yang berkembang ke dalam suatu pistilium. Pistilium biasanya mengalami diferensiasi menjadi tiga bagian, Yaitu : 1. Bagian basal menggelembung disebut ovarium (bakal buah) 2. Bagian yang memanjang disebut stilus (tangkai putik) 3. Bagian ujung stilus yang disebut stigma (kepala putik)

Didalam ovarium terdapat 1, 2 atau lebih bakal biji. Tiap bakal biji terdiri dari nuselus, integument, khalasan, dan funikulus. Bakal biji yang dewasa digolongkan ke dalam 5 tipe tergantung aksis bakal biji tersebut, berdasarkan : 1. Orthotropus : Mikrofil menghadap ke atas terletak segaris dengan hilus 2. Anatropus : Mikropil duahilus letaknyta sangat berdekatan 3. Kampilotropus : Bakal biji berbentuk kurva 4. Hemiantropus : Apabila nuselus dan integument terletak kurang lebih disudut funikulus 5. Afitropus : Bakal biji berbentuk seperti sepatu kuda 7. Mikrogametogenesis Mikrogametogenesis merupakan proses pembentukkan gamet jantan. 8. Makrogametogenesis Makrogametogenesis merupakan proses pembentukkan gamet betina. 9. Makrosporangium Makrosporangium terdapat pada megasporofil (daun yang mengandung

megasporangium). Makrosporangium menghasilkan makrospora yang akan tumbuh menjadi gametofit betina.Makrosporangium merupakan pelindung makrospora dan tempat berkembangnya makrospora karena dalam makrosporangium terkandung sel induk makrospora. 10. Mikrosporangium Mikrosporangium terdapat pada mikrosporofil (daun yang mengandung

mikrosporangium). Mikrosporangium menghasilkan mikrospora yang akan tumbuh menjadi gametofit jantan.Mikrosporangium merupakan pelindung mikrospora dan tempat berkembangnya mikrospora karena didalamnya terkandung sel induk mikrospora. 11. Sel induk makrospora

Sel induk makrospora akan membelah secara meiosis menghasilkan empat maskropora. Tiga makrospora akan tereduksi. Akibatnya, hanya satu makrospora yang akan berkembang menjadi sel telur. 12. Sel induk mikrospora Sel induk mikrospora mengandung dua mikrospora yang masing-masing akan mengahasilkan 4 mikrospora haploid (n).Mikrospora ini akan menjadi gamet jantan atau serbuk sari atau polen. 13. Ovarium Ovarium atau indung telur adalah kelenjar kelamin yang dibawa oleh hewan betina. Vertebrata, termasuk manusia, memiliki dua ovarium yang berfungsi memproduksi sel telur dan mengeluarkan hormon. Sebagian besar burung hanya memiliki satu ovarium yang dapat berfungsi dengan baik, dan ular memiliki dua ovarium yang tersusun berbaris. Ovarium pada tumbuhan, juga disebut bakal buah, adalah bagian dari organ kelamin betina yang dimiliki bunga yang membungkus dan melindungi bakal(-bakal) biji. Fungsi Di dalam setiap ovarium terjadi perkembangan sel telur (oogenesis). Di dalam proses ini sel telur akan disertai dengan suatu kelompok sel yang disebut sel folikel. Pada manusia, perkembangan oogenesis dari oogonium menjadi oosit terjadi pada embrio dalam kandungan dan oosit tidak akan berkembang menjadi ovum sampai dimulainya masa pubertas. Pada masa pubertas, ovum yang sudah matang akan dilepaskan dari sel folikel dan dikeluarkan dari ovarium. Proses pelepasan dari ovarium disebut ovulasi. Sel ovum siap untuk dibuahi oleh sel spermatozoa dari pria, yang apaabila berhasil bergabung akan membentuk zigot. Ovarium berfungsi mengeluarkan hormon steroid dan peptida seperti estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini penting dalam proses pubertas wanita dan ciri-ciri seks sekunder. Estrogen dan progesteron berperan dalam persiapan dinding rahim

untuk implantasi telur yang telah dibuahi. Selain itu juga berperan dalam memberikan sinyal kepada hipotalamus dan pituitari dalam mengatur sikuls menstruasi. Setelah sel telur diovulasikan, maka akan masuk ke tuba fallopi dan bergerak pelan menuju rahim. Jika dibuahi oleh sperma di (tuba fallopi), sel telur akan melakukan implantasi pada dinding uterus dan brkembang menjadi sebuah proses kehamilan. Jika pembuahan tidak terjadi di tuba fallopi, maka dapat terjadi kehamilan ektopik, di mana kehamilan tidak terjadi di rahim. Perkembangan janin pada kehamilan ektopik, dapat terjadi di tuba fallopi sendiri, bibir rahim, bahkan ovarium. 14. Ovulum Ovulum atau bakal biji dihasilkan pada megasprofil yang biasanya tersusun spiral pada aksis sentral. Ovulum terdiri dari masa sel yang parenkimatis yang disebut nuselus atau megasporangium. Nukleus ini melindungi sel induk mengaspora yang diploid. 15. Nuselus Nucellus (jamak: nucelli) adalah bagian tengah dari bakal biji dalam integumen. Ini terdiri dari diploid jaringan ibu dan memiliki fungsi yang megasporangium . Dalam ovula belum matang, mengandung megasporocyte (sel induk megaspora), yang mengalami sporogenesis melalui meiosis . Tiga dari empat haploid sel diproduksi di meiosis merosot, meninggalkan satu selamat megaspora dalam nucellus. Setelah pembuahan, nucellus berkembang ke dalam perisperm bahwa feed embrio. Pada beberapa tanaman, jaringan diploid dari nucellus dapat menimbulkan benih melalui mekanisme reproduksi aseksual disebut embryony nucellar . 16. Kantung embrio Megaspora haploid dalam nucellus memberikan menimbulkan betina gametofit (megagametophyte). Dalam gymnosperma, gametofit betina terdiri dari sekitar 2000 inti dan bentuk archegonia yang menghasilkan sel telur untuk pembuahan. Pada tanaman berbunga, megagametophyte, juga disebut sebagai kantung embrio , jauh lebih kecil dan biasanya hanya terdiri dari tujuh sel dan delapan inti. Kantung embrio berkembang dari megaspora melalui tiga putaran mitosis divisi. Sel terdekat dengan

pembukaan micropyle dari membedakan integumen ke dalam sel telur, dengan dua sel synergid oleh sisinya yang mungkin terlibat dalam produksi sinyal bahwa panduan tabung serbuk sari. Tiga sel yg berlawanan terbentuk pada akhir (chalazal) kebalikan dari bakal biji dan kemudian merosot, melayani tidak ada fungsi yang jelas. Sel pusat besar kantung embrio berisi dua inti kutub. 17. Integumen Integumen adalah lapisan sel luar bakal biji melampirkan nucellus. Gymnosperma biasanya memiliki satu lapisan integumen sementara angiosperma biasanya memiliki dua.Integumen berkembang menjadi mantel benih bila bakal biji jatuh tempo setelah pembuahan. Integumen tidak menyertakan nucellus sepenuhnya tetapi membiarkan membuka pada puncaknya disebut sebagai mikropil. Pembukaan micropyle memungkinkan tabung serbuk sari untuk memasukkan bakal biji untuk pemupukan. Dalam gymnosperma (tumbuhan runjung misalnya), maka serbuk sari itu sendiri ditarik ke dalam bakal biji dan pembukaan micropyle menutup setelah penyerbukan Selama . perkecambahan , maka bibit s ' radikula muncul melalui mikropil. Pada gymnospermae hanya terdapat satu integument yang terdiri dari 3 lapisan sel yaitu: 1). Sarkotesta : Lapisam luar yang merupakan lapisan berdaging. 2). Skierotesta: Lapisan tengah yang terdiri dari sel-sel batu (sel berdinding tebal). 3). Sarkotesta dalam : Susunanya sama seperti lapisan terluar. 18. Endosperm Endosperm, dalam botani, adalah bagian dari biji tumbuhan berbunga

(Angiospermae) yang merupakan hasil dari pembuahan berganda selain embrio. Endosperm dapat dikatakan sebagai "saudara kembar" embrio karena selalu terb entuk bersama namun, berbeda dengan embrio yang diploid, endosperma adalah triploid.

Endosperm dapat dilihat dengan jelas pada biji-bijian tertentu, seperti padi, jagung, apokat, serta jarak. Fungsinya yang paling utama adalah sebagai penyedia cadangan energi bagi embrio dalam proses perkecambahan. Karena itu, protein penyusunnya adalah albumin, protein yang larut dalam air. Karena fungsinya ini, pada endosperma seringkali terkandung karbohidrat dan lemak. Walaupun demikian, endosperm tidak selalu ditemukan pada biji-biji yang masak. Pada suku kacang-kacangan (Fabaceae) serta sawi-sawian (Brassicaceae) misalnya endosperm tidak ditemukan karena menyusut (rudimenter) dalam perkembangan biji. Ada 3 tipe pembentukan : 1. Tipe nuklir (1 inti membelah menjadi banyak inti, yg biasa disebut dgn pembelahan inti bebas) 2. Tipe seluler (1 inti membelah menjadi 2 inti, dan disetiap pembelahan sel diikuti dgn pembentukan sel) 3. Tipe helobial (pd kantung lembaga terbagi menjadi 2 bagian yg tak sama besar. Di daerah kalaza lebih kecil dan mengalami degenerasi, sedangkan pada daerah mikropil lebih besar dan yang lebih berkembang) umumnya tipe ini ada pada tumbuhan monokotil. 19. Embrio Embrio (bahasa Yunani: ) adalah sebuah eukariota diploid multisel dalam

tahap paling awal dari perkembangan. Embrio (bahasa Yunani: ) adalah sebuah eukariota diploid multisel dalam

tahap paling awal dari perkembangan. Dalam organisme yang berkembang biak secara seksual, ketika satu sel sperma membuahi ovum, hasilnya adalah satu sel yang disebut zigot yang memiliki seluruh DNA dari kedua orang tuanya. Dalam tumbuhan, hewan, dan beberapa protista, zigot akan mulai membelah oleh mitosis untuk menghasilkan organisme multiselular. Hasil dari proses ini disebut embrio.

Pada hewan, perkembangan zigot menjadi embrio terjadi melalui tahapan yang dikenal sebagai blastula, gastrula, dan organogenesis. Pada tumbuhan, istilah embrio hanya dipakai untuk tumbuhan kecil yang terbentuk dalam biji yang berada dalam keadaan dormansi, menunggu kondisi lingkungan yang tepat untuk berkecambah. Embrio memiliki 3 bagian penting : a. tunas embrionik yaitu calon batang dan daun b. akar embrionik yaitu calon akar c. kotiledon yaitu cadangan makanan

Gbr. Embrio Tumbuhan

20. Apomiksis Apomiksis adalah suatu bentuk reproduksi non-seksual pada tumbuhan melalui biji. Pada apomiksis, kecambah(-kecambah) muncul dari biji tetapi bukan berasal dari embrio (lembaga), melainkan dari jaringan maternal (asal tetua betina). Akibatnya, secara genetik tumbuhan-tumbuhan baru yang muncul adalah identik dengan tetua betinanya (klon). Walaupun demikian, sekarang ditemukan kasus "apomiksis jantan" yang terjadi pada sejenis sipres (Cupressus dupreziana). Kasus apomiksis banyak terjadi pada tumbuhan tropika. Beberapa varietas manggis dan kerabatnya (marga Garcinia) dapat memperbanyak hanya melalui apomiksis. Contoh tumbuhan lain yang diketahui memiliki perilaku ini adalah berbagai jenis jeruk dan duku.

Anda mungkin juga menyukai