Anda di halaman 1dari 9

LAJU ENDAP DARAH

(LED)

DISUSUN OLEH :

NAMA : FITRIA MARYOLIN NIM : 0761050082

PEMBIMBING : dr. ANTHONY D TULAK, Sp. P

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA APRIL 2011

1. Pengertian Laju Endap Darah (LED) atau Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) menyorot pada eritrosit, yaitu menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dengan plasma. Darah dengan antikoagulan yang dimasukkan ke dalam tabung yang berlumen kecil dan diletakkan tegak lurus akan menunjukkan pengendapan eritrosit dengan kecepatan yang ditentukan oleh rasio permukaan : volume eritrosit. Pengendapan sel ini yang disebut laju endap darah bertambah cepat bila berat sel meningkat, tetapi kecepatan akan berkurang bila permukaan sel lebih luas. Sel-sel kecil mengendap lebih lambat daripada sel-sel yang menggumpal, karena bila sel-sel menggumpal, peningkatan berat gumpalan lebih besar daripada peningkatan luas permukaan. Kecepatan pengendapan darah diukur dalam kolom plasma. Pengendapan sel ini yang disebut dengan Laju Endap Darah (Siti Boedina Kresna, 1994). Dalam darah normal nilai LED relatif lebih kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi diimbangi oleh tekanan ke atas akibat perpindahan plasma. Bila viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat, tekanan ke atas mungkin dapat menetralisi tarikan ke bawah terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya, setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perlekatan sel satu dengan yang lain akan meningkatkan LED. Adanya makromolekul dengan konsentrasi tinggi di dalam plasma, dapat mengurangi sifat saling menolak di antara sel eritrosit, dan mengakibatkan eritrosit lebih mudah melekat satu dengan yang lain, sehingga memudahkan terbentuknya rouleaux. Rouleaux adalah gumpalan eritrosit yang terjadi bukan karena antibodi atau ikatan konvalen, tetapi karena saling tarik-menarik di antara permukaan sel. Bila perbandingan globulin terhadap albumin meningkat atau kadar fibrinogen sangat tinggi, pembentukan rouleaux dipermudah hingga LED meningkat.

2. Mekanisme pengendapan Pengendapan eritrosit disebabkan oleh perubahan sel eritrosit yang menyebabkan eritrosit tersebut saling menyatukan diri sehingga mengendap. Proses pengendapan eritrosit dalam LED tidak sekaligus, akan tetapi melewati beberapa fase, antara lain :

a. Fase pertama (fase pembentukan rouleaux) Pada fase ini terjadi rouleaux formasi yaitu eritrosit mulai saling menyatukan diri. Waktu yang dibutuhkan adalah dari beberapa menit hingga 30 menit.

b. Fase kedua (fase pengendapan cepat) Disebut juga fase pengendapan maksimal karena telah terjadi agregasi atau pembentukan rouleaux atau dengan kata lain partikel-partikel eritrosit menjadi lebih besar dengan permukaan yang lebih kecil sehingga menjadi lebih cepat pula pengendapannya. Kecepatan pengendapan pada fase ini adalah konstan. Waktunya 30 menit sampai 120 menit.

c. Fase ketiga (fase pengendapan lambat/ pemadatan) Dalam fase ini terjadi pengendapan eritrosit yang sangat lambat. Dalam keadaan normal dibutuhkan waktu setengah jam hingga satu jam untuk mencapai fase ketiga tersebut. Pengendapan eritrosit ini disebut sebagai laju endap darah dan dinyatakan dalam mm/1jam. Kadang-kadang sesudah pembacaan pertama tersebut, kalau kolom eritrosit kita biarkan maka masih bisa terjadi pemampatan lagi sehingga dapat juga dilakukan pembacaan jam kedua dan hasil pembacaan dinyatakan dalam mm/2jam. Laju endap darah akan meningkat bila berat eritrosit bertambah, tetapi akan menurun bila permukaan sel lebih luas dan sel-sel kecil akan mengendap lebih lambat daripada sel yang menggumpal. Pada umumnya, dalam darah normal peningkatan laju endap darah lebih kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi diimbangi oleh tekanan ke atas akibat perpindahan plasma.

3. Faktor faktor yang mempengaruhi Laju Endap Darah

a. Faktor eritrosit sendiri LED LED pada keadaan : makrositosis, anemia, rouleaux formasi pada keadaan : mikrositosis, poikilositosis, polisitemia

b. Faktor plasma Yang meningkatkan LED : Kolesterol : bila kadar kolesterol meningkat dengan yang lainnya LED meningkat Fibrinogen : fibrinogen yang tinggi LED meningkat Globulin : bila globulin terhadap albumin meningkat LED meningkat pembentukan rouleaux sangat mudah terjadi eritrosit lebih mudah melekat satu

Yang menurunkan LED : Albumin Pembentukan rouleaux tergantung dari komposisi protein plasma dan perubahan protein plasma akan mempengaruhi LED, karena itu kadar albumin yang tinggi menyebabkan LED menurun. Lecitin

c. Faktor viskositas Bila viskositas meningkat LED d. Faktor teknik Posisi tabung yang tidak vertikal Perbandingan antara darah dengan antikoagulan Faktor pemeriksaan LED (waktu pengerjaan yang tidak tepat) Adanya bakteri yang menyebabkan eritrosit menjadi cepat membentuk rouleaux

e. Faktor suhu Sebaiknya LED dikerjakan pada suhu 22-27o C. Pada suhu rendah, viskositas meningkat dan LED menurun.

4. Manfaat Laju Endap Darah dalam Klinik LED merupakan reaksi non spesifik dari tubuh. Dikatakan demikian karena LED dapat meningkat pada penyakit-penyakit atau keadaan patologis apa saja, dimana terdapat reaksi-reaksi degenerasi, jaringan supurasi atau nekrosis. LED dalam klinik bermanfaat : Mengetahui respons terhadap trauma, inflamasi atau kehamilan Mengetahui reaksi inflamasi akut baik lokal maupun sistemik, inflamasi kronik

Membantu diagnosis perjalanan penyakit dan membantu keberhasilan terapi kronik, misalnya arthritis rheumatoid dan tuberculosis

Mengetahui ada tidaknya kelainan organik pada penderita yang menunjukkan gejala tidak khas dan tidak ada kelainan pemeriksaan fisik

5. Metoda Pemeriksaan Laju Endap darah a. Wintrobe a. Sampel yang digunakan berupa darah EDTA atau darah Amonium-kalium oksalat. Homogenisasi sampel sebelum diperiksa. b. Sampel dimasukkan ke dalam tabung Wintrobe menggunakan pipet Pasteur sampai tanda 0. Jagalah sampai ada gelembung atau busa. c. Letakkan tabung dengan posisi tegak lurus. d. Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm menurunnya eritrosit.

b. Westergren a. Untuk melakukan pemeriksaan LED cara Westergreen diperlukan sampel darah citrat 4 : 1 (4 bagian darah vena + 1 bagian natrium sitrat 3,2 % ) atau darah EDTA yang diencerkan dengan NaCl 0.85 % 4 : 1 (4 bagian darah EDTA + 1 bagian NaCl 0.85%). Homogenisasi sampel sebelum diperiksa. b. Sampel darah yang telah diencerkan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung Westergreen sampai tanda/skala 0. c. Tabung diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus, jauhkan dari getaran maupun sinar matahari langsung. d. Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm penurunan eritrosit. Nilai Rujukan 1. Metode Westergren : 1. Pria : 0 - 15 mm/jam 2. Wanita : 0 - 20 mm/jam 2. Metode Wintrobe : 1. Pria : 0 - 10 mm/jam

2. Wanita 0 - 15 mm/jam c. Crista d. Landau mikromotor e. Humased

KESIMPULAN
Laju Endap Darah (LED) atau Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) yaitu menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dengan plasma. Pengendapan eritrosit disebabkan oleh perubahan sel eritrosit yang menyebabkan eritrosit tersebut saling menyatukan diri sehingga mengendap. Proses pengendapan eritrosit dalam LED tidak sekaligus, akan tetapi melewati beberapa fase, antara lain : fase pertama (fase pembentukan rouleaux), fase kedua (fase pengendapan cepat), fase ketiga (fase pengendapan lambat/ pemadatan).

Faktor faktor yang mempengaruhi Laju Endap Darah : faktor eritrosit sendiri, faktor plasma, faktor viskositas, faktor teknik, faktor suhu. Metoda pemeriksaan Laju Endap Darah antara lain wintrobe, westergren, crista, landau mikromotor dan humased.

KEPUSTAKAAN 1. Widmann F. Metode Hematologi. In : Kresno SB, Ed. Tinjauan Klinis atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. 9th ed. Jakarta : EGC. 1995: 33-34. 2. Gandasoebrata R. Laju Endap Darah. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat. 2001 : 37-38. 3. www.repository.ui.ac.id . Tanda inflamasi dan Infeksi.