BPK - RI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN LAPORAN KEUANGAN PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 Nomor : 13.A / Auditama V / GA / 3 / 2005 Tanggal : 31 Maret 2005 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jalan Gatot Subroto No. 31 Jakarta 10210 Telp. (021) 5700380, 5738740, 5720957, 5738727, 5704395 s.d. 9 pesawat 511 Fax. (021) 5700380, 5723995 DAFTAR ISI Halaman Laporan Auditor Independen….. …………………………………………. Dasar Penugasan dan Ruang Lingkup Audit 1. 2. Dasar Penugasan ……………………………………………………… Ruang Lingkup ……………………………………………………….. i iii iii Laporan Keuangan Pokok I. II. Neraca per 31 Desember 2004 dan 2003 …………………………... Laporan Laba Rugi untuk Tahun yang Berakhir pada Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 …………………………………………… III. Laporan Perubahan Ekuitas untuk Tahun yang Berakhir pada Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 ……………………………... IV. Laporan Arus Kas untuk Tahun yang Berakhir pada Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 …………………………………………… V. Catatan atas Laporan Keuangan ……………………………………. 5 6 4 3 1 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 13.A/Auditama V/GA/03/2005 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kami telah mengaudit neraca PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tanggal 31 Desember 2004 serta laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Kami juga melakukan pengujian atas kepatuhan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern. Laporan keuangan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan, kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan dan pengendalian intern berdasarkan audit kami. Laporan Keuangan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003 telah diaudit oleh auditor independen lain yang laporannya bertanggal 15 Maret 2004, berisi pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan tersebut. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara i BPK-RI AUDITAMA V keseluruhan. Selain itu audit mencakup pengujian atas kepatuhan perusahaan terhadap kontrak, persyaratan bantuan dan pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan serta kepatuhan terhadap pengendalian intern. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tanggal 31 Desember 2004, dan hasil usaha, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Sebagaimana diuraikan dalam catatan 33 atas laporan keuangan, PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I masih menunggu keputusan Pengadilan tingkat kasasi atas gugatan terhadap aktiva-aktiva perusahaan. Besarnya kerugian yang mungkin timbul, jika ada, akibat keputusan Pengadilan tersebut belum dapat ditentukan pada saat ini. Oleh karena itu, kewajiban yang mungkin timbul yang berkaitan dengan keputusan Pengadilan atas gugatan tersebut tidak tampak dalam laporan keuangan. Kepatuhan kami terhadap peraturan perundang-undangan kepada dan pengendalian dengan surat intern kami sampaikan secara terpisah manajemen No. 13.B/AUDITAMA V/GA/03/2005 tanggal 31 Maret 2005. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit, Drs. Misnoto, Ak,MA Register Negara No.D-1416 Jakarta, 31 Maret 2005 ii BPK-RI AUDITAMA V DASAR PENUGASAN DAN RUANG LINGKUP AUDIT 1. Dasar Penugasan a. Perubahan ketiga Undang Undang Dasar Tahun 1945 pasal 23 E dan pasal 23 E; b. Undang Undang Republik Indonesia No.5 tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan dan peraturan perundangan lainnya yang berlaku; c. Surat Tugas Badan Pemeriksa Keungan No.64/ST/VII-XV.2/9/2004 tanggal 30 September 2004, perihal penugasan untuk melakukan audit atas laporan keuangan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I dan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan tahun buku 2004 di Kantor Pusat di Medan dan Kantor Cabang. 2. Ruang Lingkup Audit Audit ini bersifat general audit atas laporan keuangan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004. Audit dilaksanakan berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan, dan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan atas dasar pengujian bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Selain itu audit mencakup pengujian atas kepatuhan perusahaan terhadap kontrak dan pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan serta kepatuhan terhadap pengendalian intern. Pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan yang kami uji mencakup: a. Undang-undang No.11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun; b. Undang-undang No.21 tahun 1992 tentang Pelayaran; c. Keputusan Menteri Perhubungan No.KM 66 tahun 1994 tanggal 19 Oktober 1994 tentang Tarif Jasa Kepelabuhanan Untuk Kapal Angkutan Luar Negeri di Pelabuhan Laut Yang Diusahakan; d. Undang-undang No.1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas; iii e. Peraturan Pemerintah No.82 tahun 1999 tentang angkutan di perairan; f. Peraturan Pemerintah No.12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero), sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Pemerintah No.45 tahun 2001 tentang perubahan Peraturan Pemerintah No.12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan; g. Undang-undang No.69 tahun 2001 tentang Kepelabuhanan; h. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 33 tahun 2001 tentang Pengusahaan Angkutan Laut; i. Keputusan Menteri Perhubungan No.54 tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Angkutan Laut; j. Keputusan Menteri Perhubungan No.55 tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Khusus; k. Keputusan Menteri Negara BUMN No.KEP-100/M-MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN; l. Keputusan Menteri Negara BUMN No.KEP-101/M-MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan BUMN; m. Keputusan Menteri Negara BUMN No.KEP-102/M-MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penyusunan Rencana Jangka Panjang BUMN; n. Anggaran Dasar dan Akte Pendirian PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I; o. Peraturan Perpajakan; p. Risalah Rapat Umum Pemegang Saham; q. Keputusan Direksi No.KU.60/6/9/PI-03 tanggal 1 September 2003 tentang Kebijakan Akuntansi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat. Pelaksanaan audit di lapangan mulai tanggal 11 Oktober 2004 sampai dengan 31 Maret 2005. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA iv PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I NERACA 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) AKTIVA Catatan AKTIVA LANCAR Kas dan Setara Kas Investasi Jangka Pendek Piutang Usaha, setelah dikurangi Penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp4.284.826.684 pada tahun 2004 dan Rp3.521.745.990 pada tahun 2003 Pendapatan masih akan diterima Pajak dibayar dimuka Piutang lain-lain Persediaan Aktiva lancar lain-lain Jumlah Aktiva Lancar AKTIVA TIDAK LANCAR Aktiva Tetap – setelah dikurangi Akumulasi penyusutan sebesar Rp268.631.036.209 pada tahun 2004 dan Rp224.241.714.925 pada tahun 2003 Aktiva Tetap belum dimanfaatkan Biaya ditangguhkan – bersih Deposito yang dijaminkan Aktiva Lain-Lain – bersih Jumlah Aktiva Tidak Lancar JUMLAH AKTIVA 2004 2003 2d, 3 2e, 4 165.418.984.164 4.747.807.365 198.732.752.592 3.588.570.998 2g, 5 2c, 6 2k, 18a 7 2h, 8 9 20.975.559.243 11.269.154.051 85.402.412.959 1.381.352.561 1.691.609.915 30.845.192.356 321.732.072.614 19.111.401.019 23.403.725.159 61.304.933.840 379.652.124 2.745.244.765 8.055.407.715 317.321.688.212 2i, 2l, 10 2i, 11 2j, 12 13 2g, 2i, 14 567.475.198.928 39.691.307.573 62.194.002.793 53.436.891.601 610.079.336 723.407.480.231 1.045.139.552.845 567.723.296.453 27.577.404.766 63.170.507.060 46.927.700.000 9.002.585.049 714.401.493.328 1.031.723.181.540 Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan 1 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I NERACA 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) KEWAJIBAN DAN EKUITAS Catatan KEWAJIBAN LANCAR Hutang Usaha Hutang Lain-lain Biaya masih harus dibayar Hutang Pajak Hutang Kemitraan dan Bina Lingkungan Pendapatan Sewa diterima di muka yang jatuh tempo dalam satu tahun Hutang jk panjang yg jatuh tempo dalam satu tahun: Hutang pembelian aktiva tetap Hutang Sewa Guna Usaha Hutang Pemegang Saham Jumlah Kewajiban Jangka Pendek KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Pendapatan Sewa diterima di muka Hutang Sewa Guna Usaha Hutang Pemegang Saham Kewajiban Pajak Tangguhan Jumlah Kewajiban Jangka Panjang Jumlah Kewajiban BANTUAN PEMERINTAH DITENTUKAN STATUSNYA YANG BELUM 25 1.987.008.600 1.987.008.600 2004 2003 15 16 17 2k, 18b 19 21 22 22, 23 24 42.530.267.763 5.241.789.437 2.771.393.797 8.568.126.948 6.211.948.084 1.200.532.951 3.624.945.087 1.655.714.259 71.804.718.326 40.232.126.088 9.956.399.076 4.983.105.856 9.158.460.933 500.000.000 5.947.984.857 4.159.202.326 3.072.586.930 1.655.714.259 79.665.580.325 21 22, 23 24 2k, 18d 36.294.551.927 15.884.636.358 1.655.714.258 21.597.595.030 75.432.497.573 147.237.215.899 35.453.027.863 20.962.755.879 3.311.428.518 41.410.101.886 101.137.314.146 180.802.894.471 EKUITAS Modal saham Modal dasar 1.248.000 saham dengan nilai nominal Rp1.000.000 Modal ditempatkan dan disetor penuh 312.000 saham Modal disetor lainnya Cadangan umum Saldo laba Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 26 26 27 312.000.000.000 143.058.764.911 349.428.756.502 91.427.806.933 895.915.328.346 1.045.139.552.845 312.000.000.000 143.058.764.911 294.227.817.137 99.646.696.421 848.933.278.469 1.031.723.181.540 Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan 2 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I LAPORAN LABA RUGI Untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Uraian Catatan 2004 2003 Penghasilan Bersih Beban Usaha Laba Usaha Penghasilan (Beban) Lain-Lain, Bersih Laba Sebelum Pajak Penghasilan dan Pos Pos Luar Biasa Pos Luar Biasa Laba Sebelum Pajak Penghasilan Penghasilan (Beban) Pajak Pajak Kini Pajak Tangguhan 28 29 455.299.412.968 (326.292.316.833) 129.007.096.135 423.910.388.293 (262.388.653.821) 161.521.734.472 9.371.872.190 30 17.696.808.902 146.703.905.037 36 (3.090.143.639) 143.613.761.398 170.893.606.662 170.893.606.662 2k, 18f 2k, 18f (49.743.231.200) 19.812.506.856 (29.930.724.344) (48.606.708.200) (384.971.920) (48.991.680.120) 121.901.926.542 Laba (Rugi) Bersih 113.683.037.054 Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan 3 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Modal Disetor Lainnya Catatan Cadangan Umum Akumulasi Laba JUMLAH Saldo per 31 Desember 2002 Laba bersih Pembagian laba tahun 2002: - Dividen dan lainnya - Cadangan umum - Dana kemitraan dan bina lingkungan Saldo per 31 Desember 2003 Laba bersih Tambahan cadangan umum Pembagian laba tahun 2003: - Dividen dan lainnya - Cadangan umum - Dana kemitraan dan bina lingkungan Saldo per 31 Desember 2004 27 27 27 312.000.000.000 - 143.058.764.911 - 223.115.747.222 - 152.854.339.794 121.901.926.542 831.028.851.927 121.901.926.542 - - 71.112.069.915 (98.747.500.000) (71.112.069.915) (5.250.000.000) (98.747.500.000) (5.250.000.000) 848.933.278.469 113.683.037.054 2.346.012.823 312.000.000.000 143.058.764.911 294.227.817.137 99.646.696.421 113.683.037.054 - - 2.346.012.823 - 312.000.000.000 143.058.764.911 52.854.926.542 349.428.756.502 (65.390.000.000) (52.854.926.542) (3.657.000.000) 91.427.806.933 (65.390.000.000) (3.657.000.000) 895.915.328.346 Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan 4 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I LAPORAN ARUS KAS Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 2004 ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan kas dari pelanggan Pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan Kas yang dihasilkan operasi Pembayaran pajak Pembayaran bunga Jumlah kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Pencairan deposito Penerimaan bunga Penjualan surat berharga Penambahan deposito dijaminkan Pelunasan hutang non eksploitasi Pembayaran biaya yang ditangguhkan Jumlah kas bersih digunakan untuk aktivitas investasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Pembayaran atas pembagian saldo laba: Dividen dan lainnya Dana kemitraan dan bina lingkungan Pembayaran hutang jangka panjang Jumlah kas bersih digunakan untuk aktivitas pendanaan Kenaikan (penurunan) bersih kas dan setara kas Kas dan setara kas awal tahun Kas dan setara kas akhir tahun Catatan tambahan atas transaksi bukan kas: Penambahan aktiva tetap dari bantuan pemerintah yang belum ditetapkan statusnya 2003 572.173.593.981 (358.398.604.798) 213.774.989.183 (91.573.831.880) (2.995.799.841) 119.205.357.462 544.808.048.264 (405.552.959.270) 139.255.088.994 (90.640.736.526) (3.900.288.410) 44.714.064.058 595.000.000 8.505.892.434 (6.487.194.716) (41.381.143.431) (1.495.479.150) 32.545.465.428 15.807.238.842 337.599.600 (56.260.088.803) (3.364.464.761) (40.262.924.863) (10.934.249.694) (98.374.849.153) (4.157.000.000) (9.724.351.874) (90.965.073.051) (8.120.000.000) (7.446.135.207) (112.256.201.027) (33.313.768.428) 198.732.752.592 165.418.984.164 (106.531.208.258) (72.751.393.894) 271.484.146.486 198.732.752.592 - 1.987.008.600 Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan 5 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 1. UMUM PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I (Perusahaan) didirikan tanggal 1 Desember 1992 berdasarkan akte No. 1 oleh Notaris Imas Fatimah, S.H. Akte pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat keputusan No.C28519.HT.01.01.TH.94 tanggal 1 Juni 1994 dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. 87 Tambahan No. 8612 tanggal 1 November 1994. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akte No. 94 oleh Notaris Robert Purba, S.H. tanggal 17 Juli 1998 tentang perubahan jangka waktu berdirinya Perusahaan, maksud dan tujuan serta kegiatan usaha dan perubahan modal Perusahaan. Perubahan anggaran dasar tersebut telah mendapat persetujuan Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No.C215946.HT.01.04.TH.98 tanggal 29 September 1998. Perusahaan bergerak dalam bidang jasa kepelabuhan, pelayanan terminal peti kemas, usaha galangan kapal dan jasa lainnya. Perusahaan memulai operasi komersialnya sejak didirikan. Perusahaan berkedudukan di Jalan Krakatau Ujung No. 100 Medan dan kegiatan operasionalnya berada di berbagai lokasi yang tersebar di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara dan Riau (kecuali Batam) yang meliputi 15 pelabuhan cabang, 10 pelabuhan perwakilan, 2 (dua) rumah sakit, 1 (satu) unit terminal peti kemas dan 1 unit galangan kapal. Pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, jumlah karyawan tetap Perusahaan masing-masing adalah 1.396 orang dan 1.432 orang. Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama Komisaris 2004 Zulkarnain Oeyoeb Suyitno Affandi Mulabasa Hutabarat Barzuweh 2003 Zulkarnain Oeyoeb Suyitno Affandi Mulabasa Hutabarat Barzuweh 6 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 2004 Dewan Direksi: Direktur Utama Direktur Keuangan Direktur Operasi Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha Direktur Personalia dan Umum Direktur Teknik Direktur Usaha 2. KEBIJAKAN AKUNTANSI Suatu ikhtisar kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh Prayitno I Wayan Bajera Hari Sutanto Ferdinand Purba P. Puji Hartoyo - 2003 Prayitno I Wayan Bajera Ferdinand Purba Djohar Hajat Eko Wardaya Perusahaan yang mempengaruhi penentuan posisi keuangan dan hasil usahanya dijelaskan di bawah ini. a. Penyajian laporan keuangan Kebijakan akuntansi dan pelaporan yang digunakan oleh perusahaan adalah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Laporan keuangan disusun dengan dasar pengukuran biaya historis, kecuali untuk persediaan yang dinyatakan berdasarkan nilai terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih, investasi jangka pendek yang dinyatakan sebesar nilai aktiva bersih dan aktiva tetap tertentu yang telah dinilai kembali berdasarkan Peraturan Pemerintah. Laporan arus kas yang disusun dengan metode langsung, menyajikan informasi penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas yang diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. b. Transaksi dan saldo dalam mata uang asing Pembukuan perusahaan diselenggarakan dalam mata uang Rupiah. Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah yang dikeluarkan oleh 7 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Bank Indonesia pada tanggal neraca ( 1 dollar AS = Rp9.290 pada tanggal 31 Desember 2004 dan Rp8.465 pada tanggal 31 Desember 2003) c. Pengakuan pendapatan dan beban Pendapatan usaha jasa kepelabuhan diakui pada saat kegiatan pelayanan jasa telah selesai dilakukan. Kegiatan jasa pelayanan yang telah selesai dilakukan sampai dengan akhir periode yang belum diterbitkan nota tagihnya dicatat sebagai pendapatan masih akan diterima. Pendapatan sewa aktiva tetap diakui pada saat timbulnya hak sewa bagi penyewa sesuai masa kontrak sewa yang telah berlalu. Pendapatan usaha galangan kapal dan pelayanan rumah sakit diakui pada saat jasa telah selesai diberikan. Beban diakui pada saat terjadinya. d. Kas dan setara kas Kas dan setara kas terdiri atas saldo kas yang ada di Perusahaan, saldo kas di bank dan deposito berjangka dengan jangka waktu tiga bulan atau kurang sejak tanggal penempatan dan tidak dipergunakan sebagai jaminan hutang. e. Investasi jangka pendek Investasi jangka pendek dalam reksadana (kelompok diperdagangkan) dinyatakan sebesar nilai aktiva bersih (net assets value) pada tanggal neraca. Laba atau rugi yang belum direalisasi akibat perubahan nilai aktiva bersih pada tanggal neraca dikreditkan atau dibebankan pada usaha tahun berjalan. f. Transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa Dalam usahanya, Perusahaan melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7, “Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa”. Berdasarkan PSAK No. 7, transaksi antar Badan Usaha Milik Negara tidak perlu diungkapkan sebagai transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 8 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) g. Penyisihan piutang ragu-ragu Penyisihan piutang ragu-ragu ditentukan berdasarkan evaluasi umur piutang masingmasing pelanggan pada akhir tahun. Berikut ini persentase penyisihan yang diterapkan berdasarkan umur piutang yang telah jatuh tempo: Umur piutang 0 s/d 6 bulan 6 s/d 12 bulan 12 s/d 18 bulan 18 s/d 24 bulan > 24 bulan % Penyisihan 25 50 75 100 Persentase penyisihan dievaluasi secara berkesinambungan untuk menentukan kecukupan penyisihan piutang. h. Persediaan Persediaan adalah perlengkapan kantor, suku cadang, obat-obatan, bahan bakar yang peruntukannya adalah untk kegiatan operasional perusahaan. Persediaan dinyatakan sebesar nilai terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Biaya perolehan ditentukan dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang. Biaya persediaan meliputi semua biaya pembelian dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dipakai. Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan usaha normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan. i. Aktiva tetap Aktiva tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan, kecuali yang dinilai kembali berdasarkan peraturan pemerintah, dikurangi akumulasi penyusutan. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva tetap sebagai berikut: 9 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) % Penyusutan per tahun Bangunan dan prasarana Kapal Peralatan Kendaraan Tanah dicatat berdasarkan biaya perolehan dan tidak disusutkan. Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi pada saat terjadinya. Pemugaran dan penambahan yang menambah umur aktiva atau kapasitas dalam jumlah material dikapitalisasi. Pada penjualan aktiva tetap, biaya perolehan dan akumulasi penyusutannya dikeluarkan dari akun tersebut dan laba atau rugi yang terjadi dibukukan dalam laba rugi tahun berjalan. Aktiva dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan dan disajikan sebagai bagian dari aktiva tetap. Akumulasi biaya perolehan (biaya bahan dan biaya lainnya untuk memperoleh aktiva tersebut) akan direklasifikasi ke aktiva tetap yang bersangkutan pada saat pembangunan dan/atau instalasi selesai dan siap untuk digunakan. Perusahaan mengevaluasi nilai aktiva pada setiap tanggal pelaporan jika terdapat keadaan yang mengindikasikan bahwa nilai tercatat aktiva tersebut tidak dapat sepenuhnya diperoleh kembali. Penurunan nilai aktiva diakui sebagai kerugian periode berjalan jika nilai tercatat aktiva melebihi nilai yang dapat diperoleh kembali. Aktiva tetap yang tidak dipergunakan lagi, biaya perolehan serta akumulasi penyusutannya dipindahkan ke akun Aktiva tetap tidak berfungsi dalam akun – Aktiva lain-lain pada kelompok Aktiva Tidak Lancar dan dicatat dengan nilai Rp 1. Aktiva tetap yang belum digunakan dicatat sebesar biaya perolehan pada akun Aktiva tetap belum dimanfaatkan dalam kelompok Aktiva Tidak Lancar. 2% – 50% 5% – 10% 5% – 25% 20% 10 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) j. Biaya ditangguhkan Biaya-biaya yang memberikan manfaat pada masa yang akan datang ditangguhkan dan diamortisasi sesuai masa manfaatnya dengan menggunakan metode garis lurus (straight line method). k. Pajak penghasilan Pajak penghasilan Perusahaan dihitung berdasarkan taksiran penghasilan kena pajak dalam tahun yang bersangkutan. Aktiva dan kewajiban pajak diakui atas dasar beda temporer antara pelaporan komersial dan fiskal atas pengakuan pendapatan dan beban pada tiap tanggal pelaporan. Manfaat pajak di masa depan, seperti akumulasi rugi fiskal diakui apabila besar kemungkinan manfaat tersebut dapat direalisasikan. Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan dihitung menggunakan tarif pajak yang diperkirakan akan digunakan pada saat nilai tercatat aktiva tersebut dipulihkan atau nilai tercatat kewajiban tersebut diselesaikan berdasarkan tarif pajak (dan peraturan pajak) yang berlaku atau secara substansi telah berlaku pada tanggal neraca. Penambahan atas kewajiban pajak diakui pada saat keputusan pemeriksaan pajak diterima atau, jika terdapat pengajuan banding, kewajiban pajak diakui pada saat hasil banding tersebut telah diputuskan. l. Sewa guna usaha Transaksi sewa guna usaha digolongkan sebagai sewa guna usaha yang dikapitalisasi (capital lease) apabila memenuhi semua kriteria yang disyaratkan dalam PSAK No. 30, “Akuntansi Sewa Guna Usaha”. Jika salah satu kriteria tidak dipenuhi, maka transaksi sewa guna usaha dikelompokkan sebagai transaksi sewa menyewa biasa (operating lease). Aktiva sewa guna usaha yang dikapitalisasi (disajikan di neraca sebagai bagian dari aktiva tetap), dinyatakan sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha ditambah nilai sisa yang harus dibayar pada akhir masa sewa guna usaha. Penyusutan 11 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva tersebut. Hutang sewa guna usaha disajikan sebesar nilai tunai dari pembayaran sewa guna usaha. m. Kesejahteraan karyawan Perusahaan menyelenggarakan program pensiun manfaat pasti bagi seluruh karyawan yang memenuhi syarat. Perusahaan dan karyawan menanggung iuran kepada dana pensiun sebesar persentase tertentu dari penghasilan karyawan. Pendanaan program ini terdiri dari iuran yang dihitung secara aktuaria termasuk biaya jasa lalu yang diamortisasi sesuai dengan perkiraan sisa masa kerja rata-rata karyawan. Pada tanggal 25 Maret 2003, Undang-Undang No. 13 tahun 2003 (UU No. 13/2003) telah disahkan oleh Presiden Republik Indonesia. Manajemen Perusahaan berkeyakinan program pensiun manfaat pasti di atas telah memenuhi ketentuan UU No. 13/2003, dan oleh karena itu, tidak diperlukan lagi penyisihan tambahan berdasarkan UU No. 13/2003 pada tanggal neraca. Perusahaan juga memberikan kesejahteraan kepada karyawan berupa bantuan pengobatan masa pensiun untuk para pensiunan termasuk keluarganya yang berhak. Beban kesejahteraan karyawan ini diakui pada saat dibayar. Perusahaan tidak membuat penyisihan atas beban kesejahteraan karyawan ini pada tanggal neraca karena estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut tidak dapat dibuat. n. Pelaporan segmen Segmen usaha menyajikan produk atau jasa yang memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan segmen lainnya. Segmen geografis menyajikan produk atau jasa pada lingkungan ekonomi tertentu yang berbeda dengan komponen yang beroperasi di lingkungan ekonomi lainnya. Segmen usaha Perusahaan terdiri dari jasa kepelabuhan, pelayanan terminal peti kemas, usaha galangan kapal dan pelayanan rumah sakit. Segmen geografis Perusahaan terdiri 12 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) dari propinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam dan Riau. o. Kewajiban diestimasi Kewajiban diestimasi harus diakui apabila Perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu, besar kemungkinan penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya dan estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat. p. Penurunan nilai aktiva Perusahaan mengakui rugi penurunan nilai aktiva apabila taksiran yang dapat diperoleh kembali dari suatu aktiva lebih rendah dari nilai tercatatnya. Perusahaan melakukan penelaahan untuk menentukan apakah terdapat indikasi penerimaan nilai atau pemulihan nilai setiap rugi penurunan atau pemulihan nilai diakui pada laporan laba rugi periode berjalan. 13 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 3. KAS DAN SETARA KAS 2004 Kas 1.129.204.303 2003 1.144.954.505 Bank Dalam Dolar AS (USD 1.357.346 dan USD 909.705 pada tahun 2004 dan 2003) PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk PT Bank Niaga Tbk 6.011.090.212 4.209.633.161 2.389.017.514 12.609.740.887 Dalam Rupiah: PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk PT Bank Bukopin PT Bank Niaga Tbk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk PT Bank Permata Tbk PT Bank Danamon Indonesia Bank BPD Sabang PT Bank Syariah Mandiri 8.212.981.134 13.697.530.467 627.801.174 1.751.533.989 647.196.142 51.517.196 393.509 2.783.499 71.101.864 25.062.838.974 8.530.649.159 3.626.472.118 3.591.365.126 614.626.007 582.150.811 66.043.671 49.836.657 154.769 4.591.544.585 2.791.376.239 317.728.104 7.700.648.928 14 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Setara kas: Deposito berjangka: Dalam Dolar AS (USD 2.600.000 dan USD 5.000.000 pada tahun 2004 dan 2003): PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 22.296.000.000 1.858.000.000 24.154.000.000 Dalam Rupiah: PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk PT Bank Niaga Tbk PT Bank Danamon Indonesia PT Bank Permata Tbk PT Bank Syariah Mandiri 44.958.100.000 28.454.700.000 12.840.000.000 14.440.400.000 20.000.000 20.000.000 1.730.000.000 70.881.600.000 51.899.200.000 10.260.000.000 5.950.700.000 20.000.000 20.000.000 23.702.000.000 18.623.000.000 42.325.000.000 102.463.200.000 139.031.500.000 165.418.984.164 198.832.752.592 Tingkat bunga per tahun untuk deposito berjangka dalam Dolar AS berkisar antara 0,65% – 0,90% pada tahun 2004 dan antara 1,00% - 2,25% pada tahun 2003 , sedangkan tingkat bunga per tahun deposito berjangka dalam Rupiah berkisar antara 5,75% – 6,95% pada tahun 2004 dan antara 6,50% - 13,50% pada tahun 2003. 4. INVESTASI JANGKA PENDEK Akun ini merupakan investasi pada reksadana PT Bahana TCW Investment Management dengan nilai aktiva bersih per tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 15 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) masing-masing sebesar Rp4.747.807.365 dan Rp3.588.570.998. Kenaikan nilai aktiva bersih pada tahun 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp1.159.236.367 dan Rp632.504.827 dicatat pada pendapatan lain-lain. 5. PIUTANG USAHA 2004 PT Pertamina (Persero) PT Mitra Yasa Utamindo PT Samudera Indonesia PT Garuda Mahakam Pratama PT Aneka Tambang (Persero) PT Cuaca Marina Service Utama PT Wahana Multi Karsa PT Indah Bahari PT Bahtera Adiguna PT Delitama Indonesia PT Pelayanan Megah Suksses PT Meroke Tetap Jaya Lain-lain Jumlah Penyisihan piutang ragu-ragu 5.003.528.488 1.083.308.386 732.539.029 716.269.728 642.743.780 608.960.300 534.335.688 497.271.089 348.983.892 15.092.445.547 25.260.385.927 (4.284.826.684) 20.975.559.243 2003 6.348.879.173 96.550.605 748.688.961 604.389.908 563.123.022 436.898.048 134.142.485 720.120.840 783.760.933 506.989.220 25.785.649 11.663.818.165 22.633.147.009 (3.521.745.990) 19.111.401.019 16 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Rincian piutang usaha berdasarkan umur piutang adalah sebagai berikut: Umur Piutang 2004 2003 0 s/d 6 bulan > 6 s/d 12 bulan > 12 s/d 18 bulan > 18 s/d 24 bulan > 24 bulan 18.518.896.872 2.137.317.487 851.559.175 1.711.578.675 2.041.033.718 25.260.385.927 15.790.248.275 3.410.696.021 1.017.349.415 1.017.824.099 1.397.029.199 22.633.147.009 Manajemen Perusahaan berpendapat bahwa penyisihan piutang ragu-ragu yang dibentuk cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas piutang usaha yang tidak tertagih. 6. PENDAPATAN MASIH AKAN DITERIMA 2004 Pelayanan kapal dan barang Pelayanan terminal peti kemas Lain-lain 8.096.766.144 2.615.190.697 557.197.210 11.269.154.051 2003 15.492.890.439 6.845.443.299 1.065.391.421 23.403.725.159 7. PIUTANG LAIN-LAIN Berdasarkan hasil penelaahan keadaan akun piutang tersebut pada akhir tahun, manajemen Perusahaan berpendapat bahwa seluruh piutang lain-lain dapat tertagih, dan oleh karena itu, tidak perlu dibentuk penyisihan piutang ragu-ragu. Adapun jumlah piutang lain-lain untuk tahun 2004 dan 2003 adalah masing-masing sebesar Rp1.381.352.561dan Rp379.652.124. 17 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 8. PERSEDIAAN 2004 Perlengkapan kantor Suku cadang Obat-obatan Bahan bakar minyak dan pelumas Lain-lain 338.274.323 512.942.406 433.531.572 360.146.113 46.715.501 1.691.609.915 2003 719.286.035 908.806.508 416.611.337 501.143.322 199.397.563 2.745.244.765 9. AKTIVA LANCAR LAINNYA 2004 Uang muka Biaya dibayar di muka Dividen dibayar dimuka Lain-lain 615.261.546 5.037.008.292 25.000.000.000 192.922.518 30.845.192.356 2003 5.752.325.916 1.496.961.433 806.120.366 8.055.407.715 Pembayaran dividen interim untuk tahun buku 2004 sebesar Rp25.000.000.000 sesuai dengan Surat Menteri BUMN No. S-659/MBU/2004 tentang setoran tambahan dividen. tanggal 21 Desember 2004 18 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 10. AKTIVA TETAP 2004 2003 Biaya perolehan: Pemilikan langsung Aktiva sewa guna usaha 796.575.448.281 39.530.786.855 836.106.235.136 Akumulasi penyusutan: Pemilikan langsung Aktiva sewa guna usaha 248.519.575.267 20.111.460.941 268.631.036.208 Nilai buku Rincian aktiva tetap adalah sebagai berikut: a. Pemilikan langsung 2004 Saldo awal Biaya perolehan Kantor Pusat dan Jasa Kepelabuhan Tanah Bangunan dan prasarana Kapal Peralatan Kendaraan Aktiva Dalam Penyelesaian: Pelayanan Terminal Peti Kemas Tanah Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan Aktiva Dalam Penyelesaian Penambahan Pengurangan Transfer Saldo akhir 752.434.224.523 39.530.786.855 791.965.011.378 207.482.164.152 16.759.550.773 224.241.714.925 567.723.296.453 567.475.198.928 24.611.682.333 340.873.805.545 105.943.496.741 24.625.639.115 4.094.892.894 500.149.516.628 55.598.014.963 555.747.531.591 16.515.356.841 64.126.331.754 96.751.832.101 661.445.091 178.054.965.787 11.172.328.568 189.227.294.355 136.100.000 70.289.820 966.305.000 1.172.694.820 46.178.402.226 47.351.097.046 862.382.000 855.459.000 96.818.000 1.814.659.000 22.612.384.615 24.427.043.615 22.820.346 7.120.519.697 141.308.373 113.250.000 7.397.898.416 2.894.660.056 10.292.558.472 339.593.000 803.741.455 1.143.334.455 1.143.334.455 45.135.379.628 9.425.496.639 98.534.817 54.659.411.084 (69.158.176.506) (14.498.765.422) 931.850.000 931.850.000 (3.694.759.054) (2.762.909.054) 24.724.961.987 379.456.150.419 115.368.993.380 24.653.155.379 4.947.947.894 549.151.209.059 29.156.095.684 578.307.304.743 16.515.356.841 65.580.970.754 96.803.549.646 758.263.091 179.658.140.332 30.089.954.129 209.748.094.461 19 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Usaha Galangan Kapal Tanah Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan Pelayanan Rumah Sakit Tanah Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan 98.515 548.272.685 232.198.000 148.772.727 929.341.927 3.405.244 3.325.862.047 3.007.577.904 193.211.455 6.530.056.650 752.434.224.523 Akumulasi penyusutan: Kantor Pusat dan Jasa Kepelabuhan Bangunan dan prasarana Kapal Peralatan Kendaraan Pelayanan Terminal Peti Kemas Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan Usaha Galangan Kapal Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan Pelayanan Rumah Sakit Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan 71.778.140.661 11.435.892.927 1.060.650.500 1.060.650.500 (16.201.023.976) 98.515 548.272.685 232.198.000 148.772.727 929.341.927 3.405.244 4.386.512.547 3.007.577.904 193.211.455 7.590.707.150 796.575.448.281 83.261.761.455 34.390.502.073 16.467.927.083 2.939.137.738 137.059.328.349 20.580.503.522 46.643.195.757 337.503.338 67.561.202.617 262.737.982 232.197.982 39.672.720 534.608.684 484.755.326 1.649.057.728 193.211.448 2.327.024.502 207.482.164.152 544.952.060.371 15.489.367.349 11.361.613.685 2.911.608.669 438.110.156 30.200.699.859 2.899.258.997 11.380.995.844 106.692.803 14.386.947.644 38.122.800 1 29.754.540 67.877.341 127.178.230 434.898.121 562.076.351 45.217.601.195 2.996.348.074 130.332.274 113.249.995 3.239.930.343 136.518.289 803.741.448 940.259.737 4.180.190.080 - 95.754.780.730 45.752.115.758 19.249.203.478 3.263.997.899 164.020.097.865 23.343.244.230 57.220.450.153 444.196.141 81.007.890.524 300.860.782 232.197.983 69.427.260 602.486.025 611.933.556 2.083.955.849 193.211.448 2.889.100.853 248.519.575.267 548.055.873.014 2003 Saldo awal Biaya perolehan Kantor Pusat dan Jasa Kepelabuhan Tanah Bangunan dan prasarana Kapal Peralatan Kendaraan Aktiva Dalam Penyelesaian Penambahan Pengurangan Transfer Saldo akhir 25.190.195.910 305.900.657.412 90.727.501.210 22.455.799.024 3.602.925.894 447.877.079.450 50.683.208.484 498.560.287.934 1.600.000.000 14.519.167.316 3.279.111.436 1.469.558.091 400.467.000 21.268.303.843 40.980.886.932 62.249.190.775 2.178.513.577 2.178.513.577 2.178.513.577 20.453.980.817 11.936.884.095 700.282.000 91.500.000 33.182.646.912 (36.066.080.453) (2.883.433.541) 24.611.682.333 340.873.805.545 105.943.496.741 24.625.639.115 4.094.892.894 500.149.516.628 55.598.014.963 555.747.531.591 20 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Pelayanan Terminal Peti Kemas Tanah Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan Aktiva Dalam Penyelesaian Usaha Galangan Kapal Tanah Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan Pelayanan Rumah Sakit Tanah Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan 16.515.356.841 62.119.732.390 95.186.907.101 580.595.091 174.402.591.423 700.092.400 175.102.683.823 98.515 548.272.685 232.198.000 148.772.727 929.341.927 3.405.244 1.634.778.547 1.765.609.909 193.211.455 3.597.005.155 678.189.318.839 Akumulasi penyusutan: Kantor Pusat dan Jasa Kepelabuhan Bangunan dan prasarana Kapal Peralatan Kendaraan Pelayanan Terminal Peti Kemas Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan Usaha Galangan Kapal Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan Pelayanan Rumah Sakit Bangunan dan prasarana Peralatan Kendaraan 2.006.599.364 1.564.925.000 172.350.000 3.743.874.364 10.472.236.168 14.216.110.532 1.691.083.500 1.241.967.995 2.933.051.495 79.398.352.802 91.500.000 91.500.000 91.500.000 2.270.013.577 (2.883.433.541) 16.515.356.841 64.126.331.754 96.751.832.101 661.445.091 178.054.965.787 11.172.328.568 189.227.294.355 98.515 548.272.685 232.198.000 148.772.727 929.341.927 3.405.244 3.325.862.047 3.007.577.904 193.211.455 6.530.056.650 752.434.224.523 70.277.975.412 27.084.386.755 13.639.357.105 2.563.271.810 113.564.991.082 18.106.377.334 35.897.906.707 297.097.682 54.301.381.723 223.615.182 218.636.320 9.918.180 452.169.682 413.634.649 1.374.445.438 180.602.533 1.968.682.620 170.287.225.107 507.902.093.732 13.149.676.493 7.306.115.318 2.835.994.977 301.522.176 23.593.308.964 2.474.126.188 10.745.289.050 114.749.408 13.334.164.646 39.122.800 13.561.662 29.754.540 82.439.002 71.120.677 274.612.290 12.608.915 358.341.882 37.368.254.494 165.890.450 7.424.999 173.315.449 173.315.449 74.343.752 74.343.752 83.261.761.455 34.390.502.073 16.467.927.083 2.939.137.738 137.5059.328.349 20.580.503.522 46.643.195.757 337.503.338 67.561.202.617 262.737/982 232.197.982 39.672.720 534.608.684 484.755.326 1.649.057.728 193.211.448 2.327.024.502 207.482.164.152 544.952.060.371 (74.343.752) (74.343.752) - 21 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) b. Aktiva sewa guna usaha 2004 Saldo awal Biaya perolehan Pelayanan Terminal Peti Kemas Peralatan Akumulasi penyusutan Pelayanan Terminal Peti Kemas Peralatan Nilai Buku Penambahan Pengurangan Transfer Saldo akhir 39.530.786.855 - - - 39.530.786.855 16.759.550.773 22.771.236.082 3.351.910.168 - - 20.111.460.941 19.419.325.914 2003 Saldo awal Biaya perolehan Pelayanan Terminal Peti Kemas Peralatan Akumulasi penyusutan Pelayanan Terminal Peti Kemas Peralatan Nilai Buku Penambahan Pengurangan Transfer Saldo akhir 39.530.786.855 - - - 39.530.786.855 13.407.640.621 26.123.146.234 3.351.910.168 - - 16.759.550.773 22.771.236.066 Penyusutan yang dibebankan pada laporan laba rugi untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 masing-masing adalah sebesar Rp48.569.511.363 dan Rp40.719.164.646. Perusahaan mengasuransikan aktiva tetap terhadap risiko kebakaran dan risiko lainnya berdasarkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan masing-masing sebesar Rp44.886.000.000 dan Rp24.500.000.000 pada tahun 2004 dan 2003. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas risiko yang dipertanggungkan. Pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, manajemen Perusahaan berpendapat bahwa tidak terdapat dampak material dari kemungkinan penurunan nilai aktiva tetap dalam laporan keuangan. 22 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 11. AKTIVA TETAP BELUM DIMANFAATKAN 2004 Bangunan dan prasarana Kapal Hak atas tanah 33.015.905.925 1.623.517.274 5.051.884.374 39.691.307.573 2003 20.902.003.118 1.623.517.274 5.051.884.374 27.577.404.766 12. BIAYA DITANGGUHKAN 2004 Pendidikan dan pelatihan Sofware Prasarana Pelabuhan – Pengerukan Sertifikasi Hak atas tanah Lain-lain 6.989.948.781 4.165.419.842 50.629.925.671 3.322.748.128 386.335.130 13.705.978.809 79.200.356.361 Akumulasi amortisasi Nilai buku (17.006.353.568) 62.194.002.793 2003 4.968.238.161 3.869.599.794 47.227.472.846 1.290.233.940 386.335.130 7.706.622.868 65.448.502.739 (2.277.995.679) 63.170.507.060 Amortisasi yang dibebankan pada laporan laba rugi untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 masing-masing adalah sebesar Rp19.529.412.087 dan Rp845.139.941. 23 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 13. DEPOSITO YANG DIJAMINKAN 2004 Jaminan hutang sewa guna usaha Jaminan lainnya 46.950.003.001 6.486.888.600 53.436.891.601 2003 46.927.700.000 46.927.700.000 Jaminan hutang sewa guna usaha pada tahun 2004 dan 2003 merupakan jaminan berupa sertifikat deposito berjangka kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, sehubungan dengan jaminan bank yang diterbitkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk kepada The Islamic Development Bank atas hutang sewa guna usaha Perusahaan (Catatan 22 dan 32b). Jaminan lainnya merupakan jaminan berupa sertifikat deposito berjangka di PT Bank BNI kepada PT Dok Kodja Bahari sehubungan dengan pembuatan kapal tunda. 14. AKTIVA LAIN-LAIN – BERSIH 2004 Piutang lain-lain Penyisihan piutang lain-lain Jaminan lainnya 6.631.165.911 (6.079.247.601) 58.161.026 610.079.336 2003 9.859.352.315 (930.293.488) 73.526.222 9.002.585.049 24 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 15. HUTANG USAHA Rincian akun menurut pemasok ini adalah sebagai berikut: 2004 PT Adhikarya PT Prima Marindo Nusantara CV Fahrian CV Citra Saudara PT Transindo Interperdawa PT Harapan Riau Bedelau CV Aryani CV Posisr Utama CV Linggar Jati CV Dirgatama Bahari PT Noell Siemens Joint Operation CV Vini Ventura Consultan PT Batang Anai Raya PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) PT Bumi Panggita Handitama PT SAC Nusantara PT (Persero) Pengerukan Indonesia PT Marina Jaya CV Usaha Kita Abadi PT Logikreasi Utama CV Inter Marine CV Sangsaka CV Sumber Karya Lestari Lain-lain 8.355.990.000 5.649.000.000 4.347.735.000 2.101.928.010 1.725.877.181 1.363.272.727 1.149.150.000 880.911.000 809.950.000 797.000.000 607.160.956 562.601.812 556.384.300 65.998.200 2.945.136 13.554.363.441 42.530.267.763 2003 4.746.792.000 1.560.063.600 1.401.900.880 4.129.198.200 1.132.503.545 6.415.481.401 2.521.122.554 1.559.109.091 1.129.964.488 1.098.894.500 1.019.790.682 1.000.004.350 422.207.134 12.095.093.663 40.232.126.088 25 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 16. HUTANG LAIN-LAIN 2004 2003 Uang muka pelanggan Alokasi dana pensiun (Catatan 20 dan 27) Lain-lain 2.914.908.836 2.326.880.601 5.241.789.437 5.510.147.832 2.781.507.393 1.664.743.851 9.956.399.076 17. BIAYA MASIH HARUS DIBAYAR 2004 Biaya umum Biaya sewa Biaya bahan Biaya pegawai Biaya pemeliharaan Dana pensiun (Catatan 20a) Lain-lain 332.040.706 498.440.247 443.493.020 199.666.567 101.336.248 1.196.417.009 2.771.393.797 2003 277.829.309 1.889.570.159 1.322.925.706 540.006.688 52.428.300 113.395.905 786.949.789 4.983.105.856 26 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 18. PERPAJAKAN a. Pajak dibayar di muka 2004 2003 Pajak penghasilan pasal 25 tahun 2002 Pajak penghasilan pasal 25 tahun 2003 *) Pajak penghasilan pasal 25 tahun 2004 Pajak Pertambahan Nilai 42.483.477.354 41.580.584.642 1.338.350.963 85.402.412.959 17.669.193.490 42.483.477.354 1.152.262.996 61.304.933.840 *) Kelebihan uang muka pajak terhadap taksiran pajak PPh pasal 25 yang belum ada ketetapannya dari KPPND. b. Hutang pajak 2004 Pajak penghasilan pasal 21 Pajak penghasilan pasal 23 Pajak penghasilan pasal 25 *) Pajak pertambahan nilai keluaran Pajak bumi dan bangunan 348.844.693 608.317.255 7.607.860.000 2.935.800 169.200 8.568.126.948 2003 865.321.986 706.643.747 7.586.326.000 169.200 9.158.460.933 *) Setoran masa PPh pasal 25 untuk bulan Desember yang belum disetor. c. Rekonsiliasi antara laba sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan seperti yang disajikan dalam laporan laba rugi, dengan taksiran penghasilan kena pajak untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 adalah sebagai berikut: 27 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 2004 Laba sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan menurut laporan laba rugi Beda temporer: Penyusutan aktiva tetap Rugi pelepasan aktiva tetap Sewa guna usaha Amortisasi biaya ditangguhkan Penyisihan piutang ragu-ragu Beda tetap: Penyusutan aktiva tetap Biaya yang tidak dapat dikurangkan Penghasilan yang telah dikenakan pajak final Taksiran penghasilan kena pajak 9.329.738 24.188.951.524 (20.949.609.816) 165.869.104.698 2003 143.613.761.398 10.007.683.831 1.651.238.141 (1.173.851.196) 2.609.566.271 5.912.034.807 170.893.606.662 4.421.234.596 (2.226.584.492) (3.264.312.293) (213.577.543) 25.755.272.733 (33.284.944.686) 162.080.694.977 Perhitungan taksiran beban dan tagihan pajak penghasilan tahun berjalan adalah sebagai berikut: 2004 2003 2004 2003 50.000.000 50.000.000 165.769.104.000 165.869.104.000 50.000.000 X 10% 50.000.000 X 15% 5.000.000 7.500.000 5.000.000 7.500.000 48.594.208.200 48.606.708.200 161.980.694.000 X 30% 49.730.731.200 162.080.694.000 49.743.231.200 28 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Dikurangi: 2004 Pajak penghasilan pasal 22 Pajak penghasilan pasal 23 Pajak penghasilan pasal 25 (29.495.842) (91.294.320.000) (91.323.815.842) Kelebihan setoran PPh pasal 25 tahun 2004 (41.580.584.642) 2003 (27.695.660) (11.382.894) (91.051.107.000) (91.090.185.554) (42.483.477.354) d. Pajak tangguhan 2004 Penghasilan (beban) pajak tangguhan pada laporan laba rugi 31 Desember 2003 Aktiva /(kewajiban) pajak tangguhan: Aktiva tetap Aktiva sewa guna usaha Biaya ditangguhkan Cadangan piutang ragu-ragu Jumlah (39.203.064.042) (2.166.650.139) (1.375.999.548) 1.335.611.843 (41.410.101.886) 31 Desember 2004 14.144.356.760 2.193.726.798 1.700.812.856 1.773.610.442 19.812.506.856 2003 Penghasilan (beban) pajak tangguhan pada laporan laba rugi (25.058.707.282) 27.076.659 324.813.308 3.109.222.285 (21.597.595.030) 31 Desember 2002 Aktiva /(kewajiban) pajak tangguhan: Aktiva tetap Aktiva sewa guna usaha Biaya ditangguhkan Cadangan piutang ragu-ragu Jumlah (40.537.587.312) (1.490.521.900). (396.705.860) 1.399.685.106 (41.025.129.966) 31 Desember 2003 1.334.523.270 (676.128.239) (979.293.688) (64.073.263) (384.971.920) (39.203.064.042) (2.166.650.139) (1.375.999.548) 1.335.611.843) (41.410.101.886) 29 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) e. Rekonsiliasi antara laba sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan seperti yang disajikan dalam laporan laba rugi, dengan taksiran penghasilan kena pajak untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 adalah sebagai berikut: 2004 Laba sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan Tarif pajak yang berlaku Penghasilan (beban) yang tidak dapat dikurangkan: Penyusutan aktiva tetap Beban yang tidak dapat dikurangkan Penghasilan yang telah dikenakan pajak final Pembulatan 2.798.921 7.256.685.457 (6.284.882.944) (209) 44.041.229.644 Koreksi (14.110.505.300) 29.930.724.344 7.726.581.820 (9.985.483.406) (293) 48.991.680.120 48.991.680.120 143.613.761.398 43.066.628.419 170.893.606.662 51.250.581.706 2003 f. Penghasilan / (beban) pajak 2004 2003 Pajak kini Pajak tangguhan (49.743.231.200) 19.812.506.856 (29.930.724.344) (48.606.708.200) (384.971.920) (48.991.680.120) 30 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 19. HUTANG KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN (KBL) Akun ini merupakan penyisihan laba untuk dana Kemitraan dan Bina Lingkungan yang belum dibayar pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (catatan 27): 2004 Penyisihan laba tahun 2002 2003 500.000.000 500.000.000 20. KESEJAHTERAAN KARYAWAN a. Dana pensiun Perusahaan mengikutsertakan karyawan tetap dalam program pensiun manfaat pasti di Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pengerukan (DP4). DP4 merupakan dana pensiun yang didirikan oleh PT (Persero) Pelabuhan Indonesia II dengan mitra pendiri dari PT (persero) Pelabuhan Indonesia I, PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III, PT (Persero) Pelabuhan Indonesia IV dan PT (Persero) Pengerukan Indonesia, yang telah disahkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan No. KEP-743/KM.17/1997 tanggal 30 Desember 1997. Pada tahun 2004 dan 2003, iuran dana pensiun per bulan adalah sebagai berikut: 2004 2003 Beban Perusahaan – peserta lama Beban Perusahaan – peserta baru Beban Karyawan * PhDP = Penghasilan Dasar Pensiun 7,71% dari PhDP 3,79% dari PhDP 5,00% dari PhDP 7,71% dari PhDP 3,79% dari PhDP 5,00% dari PhDP 31 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Biaya jasa kini dan biaya jasa lalu dihitung berdasarkan hasil penilaian aktuaria per 31 Desember 2002 yang dilakukan oleh PT Sienco Aktuarindo Utama sebagai aktuaris independent yang ditunjuk DP4, dengan menggunakan metode “Attained Age Normal Actuarial Cost Method” dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: Tingkat kematian Tingkat cacat Tingkat bunga Biaya pengelolaan Manfaat pensiun Usia pensiun normal Cadangan pensiun anak Asumsi beda usia suami istri : Tabel Mortalita The 1949 Annuity Mortality Table (Modified) : 1% dari angka kematian : 12% per tahun : Tingkat Hasil Investasi Bersih : 2,50% x Masa Kerja x PhDP,dengan maksimal manfaat sebesar 75% dari PhDP : 56 tahun : 1% dari Manfaat pesiun peserta : 5 tahun lebih tua dari istri Kenaikan penghasilan dasar pensiun : 7% per tahun Status pendanaan dana pensiun pada 30 Juni 2004 adalah: Nilai wajar dari aktiva dana pensiun Kewajiban aktuaria Defisit atau kekurangan kekayaan terhadap kewajiban aktuaria 63.515.717.459 524.539.885.889 588.055.603.348 Defisit atau kekurangan kekayaan kewajiban aktuaria sebesar Rp63.515.717.459 merupakan kewajiban PT (Persero) Pelindo I sebesar Rp9.022.932.479, PT (Persero) Pelindo II sebesar Rp16.032.606.539, PT (Persero) Pelindo III sebesar Rp17.476.436.059, PT (Persero) Pelindo IV sebesar Rp10.311.971.640 dan PT (Persero) Rukindo sebesar Rp10.671.770.742. 32 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Kewajiban PT (Persero) Pelindo I sebesar Rp9.022.932.479 telah dilunasi sampai dengan tanggal 30 Desember 2004. Pada tahun 2003 Perusahaan membayar kewajiban dana pensiun kepada DP4 dari dana yang diperoleh dari pembagian laba sesuai dengan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (Catatan 27). Pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 jumlah dana yang diperoleh dari pembagian laba masing-masing sebesar nihil dan Rp2.781.507.393 dicatat pada akun hutang lain-lain (Catatan 16). Pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 dana pensiun yang masih harus dibayar kepada DP4 masing-masing adalah sebesar nihil dan Rp113.395.905 (Catatan 17). b. Program tabungan hari tua Berdasarkan Perjanjian Kerjasama antara Perusahaan dengan PT Taspen (Persero) tanggal 10 November 1999 tentang Kepesertaan Pegawai Perusahaan dalam Program Asuransi Multiguna Sejahtera, Perusahaan mengikuti program asuransi dengan manfaat berkala, sekaligus atau nilai tunai untuk karyawan yang besarnya ditentukan oleh pendapatan dan masa kerja karyawan. Manfaat program asuransi ini akan dibayarkan pada saat karyawan pensiun atau berhenti kerja sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian. Berdasarkan Perjanjian Kerjasama antara Perusahaan dengan PT Taspen (Persero) tanggal 30 Juni 1999 dan Addendum tanggal 15 Januari 2002 tentang kepesertaan Direksi Perusahaan dalam Program Tabungan Hari Tua, Perusahaan mengikuti program asuransi Tabungan Hari Tua bagi direksi yang akan dibayarkan pada saat berakhirnya masa pertanggungan atau peserta meninggal dunia dalam masa pertanggungan atau peserta berhenti sebelum akhir masa pertanggungan. c. Bantuan pemeliharaan kesehatan kepada para pensiunan Berdasarkan keputusan Direksi Perusahaan No.KP.11/33/1/PP.I-92 tanggal 29 Juni 1992 tentang Pemeliharaan Kesehatan Bagi Pensiunan/Pensiun Janda/Duda dan Keluarga Pegawai yang pensiun di lingkungan Perusahaan, Perusahaan memberikan bantuan pemeliharaan kesehatan kepada para pensiunan beserta keluarganya. 33 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) d. Program Pemutusan Kontrak Kerja Berkaitan dengan penerapan UU No.13/2003 tanggal 25 Maret 2003, tentang ketenagakerjaan, Perusahaan tidak berkomitmen untuk melakukan pemutusan kontrak kerja dalam tahun 2005 dan tidak berkomitmen untuk menyediakan pesangon bagi pekerja yang menerima penawaran mengundurkan diri secara sukarela. Dengan demikian sesuai dengan PSAK 24 (revisi tahun 2004) perusahaan tidak mencadangkan biaya pesangon untuk keperluan dimaksud pada akhir tahun 2004. 21. PENDAPATAN SEWA DITERIMA DI MUKA Akun ini terutama merupakan pendapatan sewa tanah, perairan dan bangunan yang diterima di muka. Adapun total pendapatan diterima dimuka untuk tahun 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp36.294.551.926 dan Rp35.453.027.863. Saldo akun ini pada tanggal-tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 adalah sebagai berikut: 2004 Saldo Pendapatan diterima dimuka Dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bagian jangka panjang 42.506.500.010 6.211.948.084 36.294.551.927 2003 41.401.012.720 5.947.984.857 35.453.027.863 22. HUTANG PEMBELIAN AKTIVA TETAP Perusahaan menandatangani perjanjian No.UM.57/6/4/TPK.01 tanggal 10 April 2001 dengan PT Transindo Interdwipantara untuk pengadaan 3 unit Used Rubber Tyred Gantry Crane dan 8 unit Head Truck termasuk Chasis sebesar USD 3.794.470 (termasuk pajak dan pengerjaan pemeliharaan 3 unit Used Rubber Tyred Gantry Crane). Pembayaran angsuran pertama sebesar USD 581.262 pada saat penandatanganan surat perjanjian dan angsuran selanjutnya sebesar USD 73.085,78 (termasuk angsuran biaya pemeliharaan sebesar USD 16.170) selama 36 kali yang dibayarkan secara bulanan 34 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) sejak penyerahan barang. Saldo akun ini pada tanggal-tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 adalah sebagai berikut: 2004 Hutang pokok Dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bagian jangka panjang 1.200.532.951 1.200.532.951 2003 4.159.202.326 4.159.202.326 - 23. HUTANG SEWA GUNA USAHA Perusahaan memiliki perjanjian sewa guna usaha dengan beberapa perusahaan sewa guna usaha untuk pengadaan peralatan dengan masa sewa guna usaha 3 tahun sampai dengan 8 tahun (Catatan 10, 13 dan 32b). Pembayaran angsuran sewa guna usaha berdasarkan jatuh temponya pada tanggal 31 Desember adalah sebagai berikut: Tahun 2004 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah Dikurangi bunga yang belum jatuh tempo Hutang sewa guna usaha Bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bagian jangka panjang 4.343.335.753 8.686.659.464 8.686.659.464 21.716.654.681 (2.207.073.236) 19.509.581.445 (3.624.945.087) 15.884.636.358 3.957.632.520 7.915.239.311 7.915.239.311 7.915.239.311 27.703.350.453 (3.668.007.644) 24.035.342.809 (3.072.586.930) 20.962.755.879 35 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 24. HUTANG KEPADA PEMEGANG SAHAM 2004 Perjanjian No. SLA-1086/DP3/1998 Dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun 1.655.714.259 1.655.714.258 1.655.714.259 3.311.428.518 3.311.428.517 2003 4.967.142.777 Perjanjian No. SLA-1086/DP3/1998 tanggal 2 Juni 1998, merupakan pinjaman tanpa jaminan dari Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka penggunaan dana dari The Asian Development Bank dan The Overseas Economic Cooperation Fund untuk membiaya proyek APBN 1992/1993, 1993/1994 dan 1994/1995 dengan batas maksimum pinjaman sebesar Rp16.557.142.589 dan jangka waktu pelunasan selama 10 (sepuluh) tahun. Angsuran pinjaman sebesar Rp1.655.714.259 dilakukan secara tahunan yang dimulai pada tanggal 31 Desember 1997 sampai dengan 31 Desember 2006. Tingkat bunga pinjaman adalah sebesar 15% per tahun dan denda atas keterlambatan pembayaran pokok pinjaman dan bunga adalah sebesar 2% per tahun. 25. BANTUAN PEMERINTAH YANG BELUM DITETAPKAN STATUSNYA Akun ini merupakan bantuan Pemerintah untuk perbaikan dermaga pelabuhan Meulaboh yang dibiayai dari sumber dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2002, berdasarkan Berita Acara Serah Terima No. KU.103/13/III/Rebla/Phb-03 tanggal 20 Maret 2003. 26. MODAL SAHAM Pemilikan saham Perusahaan pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 adalah sebagai berikut: 36 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Pemegang saham Negara Republik Indonesia Lembar saham 312.000 Persentase Kepemilikan 100% Jumlah 312.000.000.000 Peningkatan modal Negara Republik Indonesia sebesar Rp143.058.764.911 yang telah melebihi modal ditempatkan dicatat pada akun Modal Disetor Lainnya. Saldo modal per 31 Desember 2004 sebesar Rp312.000.000.000, adalah merupakan modal dasar yang disetor setelah nilai revaluasi tanah ditiadakan sesuai hasil RUPS luar biasa pada tanggal 14 Januari 1998, dengan rincian sebagai berikut: a. Modal dasar perseroan ditetapkan sebesar Rp1.248.000.000.000 terbagi atas 1.248.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp1.000.000. b. Dari modal dasar tersebut telah ditetapkan dan disetor oleh Negara Republik Indonesia sebesar Rp312.000.000.000 terbagi atas 312.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp1.000.000. Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia sebesar Rp143.058.764.911 dicatat pada akun modal disetor lainnya, dengan rincian sebagai berikut: a. PP No.55 tahun 2000 tanggal 17 Juli 2000, terdiri dari : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Bangunan fasilitas pelabuhan Kapal Instalasi fasilitas pelabuhan Tanah Jalan dan bangunan Peralatan Emplasemen Jumlah b. PP No. 93 tahun 2000 tanggal 19 Oktober 2000, terdiri dari: 1) 2) 3) Bangunan fasilitas pelabuhan Kapal Peralatan fasilitas pelabuhan 61.799.762.174 4.356.437.607 1.507.414.757 21.488.526.500 2.401.705.332 2.276.573.500 12.289.103.734 17.399.939.500 327.714.000 1.835.780.000 58.019.342.566 37 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 4) 5) Tanah Emplasemen Jumlah 3.982.269.807 1.345.057.000 72.990.941.345 2.818.238.000 2.609.508.000 2.773.700.000 3.847.035.000 12.048.481.000 143.058.764.911 c. PP No. 16 tahun 2002 tanggal 23 April 2002, terdiri dari : 1) 2) 3) 4) Fasilitas pelabuhan Belawan – Medan Fasitas pelabuhan Dumai – Pekanbaru Fasilitas pelabuhan Tembilahan - Kuala Enok Fasilitas Pelabuhan Perawang - Pekanbaru Jumlah Jumlah Penyertaan Modal Pemerintah 27. PEMBAGIAN LABA DAN CADANGAN UMUM Rapat Umum berikut: 2004 Pembagian dividen Penyisihan untuk cadangan umum Penyisihan untuk pembayaran kepada dana pensiun Penyisihan untuk dana kemitraan dan bina Lingkungan Pembagian tantiem 2.000.000.000 3.065.000.000 63.390.000.000 52.854.926.542 3.657.000.000 2003 87.555.000.000 71.112.069.915 8.127.500.000 5.250.000.000 Pemegang Saham tanggal 12 Juli 2004 dan 20 Juni 2003 telah menetapkan penggunaan laba bersih masing-masing tahun 2003 dan 2002 sebagai 121.901.926.542 175.109.569.915 Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia No. KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan. Perusahaan diwajibkan melaksanakan program pembinaan untuk 38 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) pemberdayaan dan pengembangan kondisi sosial ekonomi masyarakat sebagai wujud kepedulian BUMN. Sasaran program KBL adalah terciptanya pertumbuhan ekonomi rakyat dan pemerataan pembangunan melalui perluasan kesempatan berusaha bagi usaha kecil, masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Pada tahun 2004 dan 2003, penyisihan untuk pembayaran kepada dana pensiun dan pembagian tantiem diambil dari saldo laba sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham. Saldo cadangan umum per 31 Desember 2004 adalah sebagai berikut: Saldo awal Distribusi laba tahun 2003 Reklasifikasi hutang dana pensiun ke cadangan umum sesuai dengan Risalah RUPS tanggal 12 Juli 2004 Cadangan umum 2.346.012.823 349.428.756.502 294.227.817.137 52.854.926.542 28. PENGHASILAN BERSIH 2004 PENGHASILAN Pelayanan terminal peti kemas Pelayanan kapal Pelayanan pelabuhan khusus/Dermaga Untuk Kepentingan Sendiri (DUKS) Pelayanan barang Pendapatan sewa, air dan listrik Pelayanan usaha bongkar muat Pelayanan rumah sakit Pelayanan usaha galangan kapal Lain-lain 41.107.735.032 28.448.820.779 25.880.169.377 22.182.090.864 9.652.577.401 1.371.716.402 15.565.199.611 455.299.412.968 41.088.701.964 25.584.222.049 24.705.413.290 20.877.615.973 9.496.528.558 4.586.299.098 13.344.893.984 423.910.388.293 181.484.692.172 129.606.411.330 152.262.045.322 131.964.668.055 2003 39 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 29. BEBAN USAHA 2004 2003 Pegawai Penyusutan dan amortisasi Umum Bahan dan perlengkapan Pemeliharaaan Sewa Administrasi Asuransi 76.355.843.476 68.098.923.450 55.556.799.912 42.475.332.267 41.057.574.382 27.752.147.224 11.393.021.441 3.602.674.681 326.292.316.833 74.835.963.439 41.564.304.587 39.986.282.044 42.104.492.312 22.991.822.811 26.680.427.293 11.169.228.472 3.056.132.863 262.388.653.821 Peningkatan beban usaha pada tahun 2004 untuk penyusutan dan amortisasi dikarenakan adanya peningkatan biaya amortisasi atas biaya ditangguhkan dari pengerukan alur dan kolam, konsultan litbang dan pendidikan. Sedangkan peningkatan atas beban umum pada tahun 2004 dikarenakan adanya peningkatan antara lain pada biaya keamanan kepelabuhanan, biaya imbalan jasa bongkar muat dan pajak bumi dan bangunan. Peningkatan atas biaya pemeliharaan pada tahun disebabkan antara lain adanya pengerukan alur pelayaran di Pelabuhan Belawan. 30. PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN 2004 2003 Laba (Rugi) selisih kurs – bersih Bunga deposito dan jasa giro Laba penjualan tanah Sibolga 13.562.324.719 9.191.064.087 6.817.730.000 (881.415.896) 16.196.085.066 - 40 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Laba investasi surat berharga Bunga pinjaman Administrasi bank Lain-lain - bersih 1.159.236.367 (2.995.799.841) (570.246.264) (9.467.500.166) 17.696.808.902 632.504.827 (3.900.288.410) (549.925.326) (2.125.088.071) 9.371.872.190 31. INFORMASI SEGMEN Informasi Segmen usaha Perusahaan berdasarkan geografis adalah sebagai berikut (Catatan 2n): a. Penghasilan bersih berdasarkan kegiatan utama 2004 Sumatera Utara Pelayanan terminal peti kemas Jasa kepelabuhanan dan kantor pusat Pelayanan rumah sakit Usaha galangan kapal 199.120.318.513 118.755.274.811 6.562.501.108 1.436.799.129 325.874.893.561 Nanggroe Aceh Darussalam Jasa kepelabuhanan Riau Jasa kepelabuhanan Pelayanan rumah sakit 109.572.251.718 3.017.327.393 112.589.579.111 455.299.412.968 119.990.547.095 3.117.221.750 123.107.768.845 443.969.481.383 16.834.940.296 19.801.842.917 167.456.323.074 122.637.940.641 6.379.306.808 4.586.299.098 301.059.869.621 2003 41 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) b. Laba rugi usaha berdasarkan kegiatan utama 2004 Sumatera Utara Pelayanan terminal peti kemas Jasa kepelabuhanan Usaha galangan kapal Kantor pusat Pelayanan rumah sakit 141.809.091.801 18.641.358.715 (1.474.568.979) (74.881.120.541) (204.792.369) 83.889.968.627 Nanggroe Aceh Darussalam Jasa kepelabuhanan Riau Jasa kepelabuhanan Pelayanan rumah sakit 36.432.156.833 (623.126.410) 35.809.030.423 Jumlah laba usaha 129.007.096.135 44.339.568.055 (465.061.058) 43.874.506.997 161.521.734.472 9.308.097.085 12.168.863.916 119.171.134.458 45.593.993.149 703.788.166 (59.796.293.966) (504.258.248) 105.468.363.559 2003 c. Jumlah aktiva berdasarkan kegiatan utama 2004 Sumatera Utara Kantor pusat Jasa kepelabuhanan Pelayanan terminal peti kemas 762.103.713.875 207.677.082.062 158.966.900.769 722.350.367.145 215.601.784.256 156.738.305.270 2003 42 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Usaha galangan kapal Pelayanan rumah sakit 2.418.650.911 4.223.965.311 1.135.390.312.928 3.877.804.911 4.247.623.194 1.102.815.884.776 Nanggroe Aceh Darussalam Jasa kepelabuhanan Riau Jasa kepelabuhanan Pelayanan rumah sakit 266.797.735.772 1.141.851.940 267.939.587.712 Jumlah sebelum eliminasi Eleminasi Jumlah aktiva 1.443.849.528.846 (398.709.976.001) 1.045.139.552.845 40.519.628.206 44.006.931.662 272.918.051.558 1.319.536.132 274.537.587.690 1.421.060.404.128 (389.337.222.588) 1.031.723.181.540 32. PERIKATAN a. Perusahaan mengadakan perjanjian dengan koperasi karyawan untuk menyewa kendaraan, jasa administrasi, keamanan dan lain-lain dengan berbagai masa kontrak. b. Perusahaan menandatangani perjanjian sewa guna usaha dengan The Islamic Development Bank (IDB) pada tanggal 21 Februari 1995 untuk pembelian 4 (empat) unit Transtainer dan 2 (dua) unit Head Truck dengan nilai maksimum USD6.620.000. Realisasi pinjaman adalah sebesar USD5.418.000 dan dikenakan tingkat bunga sebesar 7,5% per tahun. Jangka waktu pelunasan dilakukan dalam 17 (tujuh belas) kali angsuran semesteran yang dimulai pada 1 Juli 1999 sampai dengan 1 Juli 2007 (Catatan 22). PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bertindak sebagai penjamin hutang sewa guna usaha tersebut kepada IDB. Atas jaminan hutang tersebut, perusahaan diwajibkan mendepositokan dana kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar saldo hutang perusahaan kepada IDB (Catatan 13 dan 22). 43 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) c. Perusahaan menandatangani perjanjian dengan Noell Siemens Joint Operation pada tanggal 11 April 2002 untuk pemeliharaan 2 (dua) unit Container Crane dan 4 (empat) Rubber Tyred Gantry Crane senilai Rp4.144.645.760 dan USD 1.459.538,81. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan tersebut adalah selama 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak serah terima aktiva tersebut diatas. d. Perusahaan menandatangani perjanjian No. B.VIII-5653/BLW-US.13 tanggal 5 April 2001 yang kemudian diubah terakhir dengan perjanjian No. B.VIII412.A/BLW-US.13 tanggal 2 September 2004 dengan PT Musim Mas untuk penyewaan dan pengoperasian gudang 109 dan 111 serta lapangan penumpukan di Pelabuhan Belawan untuk terminal curah kering khusus bungkil dengan jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terhitung dari tanggal 5 April 2001 s/d 4 April 2011 yang hanya dapat diperpanjang sekali tanpa melalui prosedur lelang. Sesuai dengan pejanjian tersebut PT Musim Mas harus menyelesaikan pembangunan dan peralatan fasilitas terminal curah kering selambat-lambatnya pada bulan September 2002 dan jika setelah masa perpanjangan 10 (sepuluh) tahun terakhir, maka seluruh bangunan dan fasilitas yang terpasang yang disediakan oleh PT Musim Mas akan menjadi milik perusahaan. Pembangunan fasilitas tersebut telah selesai pada September 2002. e. Perusahaan menandatangani perjanjian No. B.VIII-413/BLW-US.13 tanggal 12 September 2004 dengan PT Musim Mas untuk pekerjaan bongkar muat bungkil sawit/kelapa di terminal curah kering di Pelabuhan Belawan dengan produktivitas minimal 5.000 ton per hari untuk jangka waktu 2 (dua) tahun terhitung sejak 1 Agustus 2004 sampai dengan 31 Juli 2006. f. Perusahaan menandatangani perjanjian No. 043/TUK/III/2003 tanggal 14 Maret 2003 yang kemudian diubah dengan perjanjian No. 039/TUK/VIII/2004 tanggal 16 Agustus 2004 dengan PT Trans Utama Kargo untuk kerjasama operasi 1 (satu) unit container crane dengan kapasitas 35,5 ton, 1 (satu) unit spreader dengan 1 (satu) unit spreader cadangan, operator, asisten operator dan mekanik di unit terminal peti 44 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) kemas perusahaan dengan tarif tertentu per peti kemas untuk 6 (enam) tahun mulai hari container crane tersebut beroperasi. Perusahaan harus memberikan garansi peti kemas yang menjadi bagian dari PT Trans Utama Kargo minimal 42.000 peti kemas per tahun atau perusahaan harus membayar sanksi sebesar USD 42 per peti kemas untuk kekurangan dari garansi tersebut. g. Perusahaan menandatangani perjanjian No. B.VIII-183/BLW-US.12 tanggal 31 Maret 2003 yang kemudian diperpanjang dengan Perjanjian No. B.VIII156/BLW-US.12 tanggal 14 April 2004 dengan PT Pelayaran Putra Samudera untuk kerjasama operasi 1 (satu) kapal tunda dan anak buah kapalnya dengan kesepakatan 26% dari penghasilan yang berasal dari kapal tunda tersebut untuk perusahaan dan 74% untuk PT Pelayaran Putra Samudera dari tanggal 1 April 2004 sampai dengan 31 Maret 2005. h. Perusahaan menandatangani perjanjian No. B.VIII-108/BLW-US.12 tanggal 5 Juni 2003 yang kemudian diperpanjang dengan Perjanjian No. B.XV-277/BLWUS.12 tanggal 24 Juni 2004 serta perjanjian No. B.VIII-436/BLW-US.12 tanggal 24 September 2004 dengan PT Waruna Nusa Sentana masing-masing untuk kerjasama operasi 1 (satu) kapal tunda dan anak buah kapalnya dengan kesepakatan 26% dari penghasilan yang berasal dari kapal tunda tersebut untuk perusahaan dan 74% untuk PT Waruna Nusa Sentana, masing-masing dari tanggal 1 Juni 2004 sampai dengan 31 Mei 2005 dan dari tanggal 18 September 2004 sampai dengan 17 September 2005. i. Perusahaan menandatangani perjanjian No.001/AGR/PI-MI/04 tanggal 26 November 2004 dengan PT Metito Indonesia untuk kerjasama operasi pengusahaan air minum di Pelabuhan Belawan, Dumai dan Tanjung Balai Karimun dengan kesepakatan 70% pendapatan dari total penjualan air minum ke kapal, umum dan industri untuk PT Metito Indonesia dan 30% atau jumlah minimal yang telah ditentukan, mana yang lebih besar, untuk perusahaan untuk masa waktu 14 tahun terhitung sejak dimulainya masa persiapan pembangunan/renovasi. Setelah berakhirnya masa kerjasama, seluruh fasilitas dan peralatan PT Metito Indonesia 45 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) akan diserahkan dalam kondisi siap operasi dengan kondisi fisik peralatan 70% dan menjadi milik perusahaan tanpa ganti rugi atau kompensasi. 33. TUNTUTAN HUKUM a. Berdasarkan surat pendaftaran pada Pengadilan Negeri Medan No.214/Pdt.G/1994/PN-Mdn tanggal 13 Juni 1994, perusahaan digugat oleh masyarakat atas tuntutan ganti rugi tanah di Belawan dengan nilai tuntutan sebesar Rp200.000.000. Putusan Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung telah memenangkan perusahaan atas gugatan tersebut dan para penggugat mengajukan Peninjauan Kembali atas hasil putusan Mahkamah Agung. Pada tanggal 12 Desember 2000, perusahaan telah menyampaikan Kontra Peninjauan Kembali. Sampai dengan tanggal laporan auditor independen, hasil Peninjauan Kembali tersebut belum diputuskan. b. Berdasarkan surat pendaftaran pada Pengadilan Negeri Dumai No.07/Pdt.G/2000/PN-Dum tanggal 17 Februari 2000, perusahaan digugat oleh masyarakat atas tuntutan ganti rugi tanah di Dumai dengan nilai tuntutan sebesar Rp841.151.683. Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi telah memenangkan perusahaan atas gugatan tersebut dan para penggugat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Pada tanggal 8 Maret 2001, perusahaan telah menyampaikan kontra kasasi. Sampai dengan tanggal laporan auditor independen, hasil kasasi tersebut belum diputuskan. c. Berdasarkan surat pendaftaran pada Pengadilan Negeri Medan No.420/Pdt.G/1998/PN-Mdn tanggal 30 Agustus 1998, perusahaan digugat oleh masyarakat atas tuntutan ganti rugi tanah di Belawan dengan nilai tuntutan sebesar Rp2.002.800.000. Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi menetapkan perusahaan membayar ganti rugi kepada masyarakat tersebut sebesar Rp2.002.800.000. Pada tanggal 11 Desember 2000, perusahaan mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung. Sampai dengan tanggal laporan auditor independen, hasil Kasasi tersebut belum diputuskan. 46 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) d. Berdasarkan surat pendaftaran pada Pengadilan Negeri Sibolga No.29/Pdt/6/2002/PN.SBG tanggal 29 November 2002, perusahaan digugat oleh Seng Tjin alias Acin atas tuntutan ganti rugi kerugian sebesar Rp9.000.000 per bulan sejak bulan Januari 1999 sampai putusan dalam perkara ini berkekuatan hukum atas penggunaan tanah perairan milik penggugat. Putusan Pengadilan Negeri Medan memenangkan perusahaan atas gugatan tersebut. Atas putusan tersebut, penggugat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Medan yang kemudian memenangkannya dan menetapkan perusahaan membayar ganti rugi sebesar Rp1.000.000 per bulan sejak bulan Januari sampai putusan dalam perkara ini berkekuatan hukum. Pada tanggal 28 Juli 2004, perusahaan telah mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Sampai dengan tanggal laporan auditor independen, hasil kasasi tersebut belum diputuskan. e. Berdasarkan surat pendaftaran pada Pengadilan Negeri Medan No.427/Pdt.G/6/2003/PN.Mdn tanggal 14 November 2003, perusahaan digugat oleh Zulfaini atas tuntutan ganti rugi kerugian pembatalan kelulusannya dalam penerimaan calon pegawai di PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Cabang Dumai sebesar Rp710.800.000. Pengadilan Negeri memenangkan perusahaan atas gugatan tersebut. Pada tanggal 10 Agustus 2004, pengugat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Sumatera Utara atas putusan tersebut. Pada tanggal 27 Januari 2005, Pengadilan Tinggi Sumatera Utara memutuskan untuk memenangkan perusahaan atas gugatan tersebut. f. Berdasarkan surat pendaftaran pada Pengadilan Negeri Medan No.312/Pdt.G/2004/PN.Mdn tanggal 3 Agustus 2004, perusahaan digugat oleh Paulus Ronald atas tuntutan ganti rugi kerugian sebesar Rp10.074.845.175 serta bunga 2% per bulan dari Rp54.845.175 dihitung sejak 23 Januari 2004 sampai putusan dalam perkara ini berkekuatan hukum atas tidak dilakukannya pembayaran tahap kedua pekerjaan pengadaan infrastruktur untuk pengembangan jaringan LAN Cabang Pelabuhan Dumai dan Pekan Baru. Perusahaan mengajukan gugatan balasan 47 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik. Pada tanggal 15 Maret 2005, Pengadilan Negeri Medan memutuskan untuk memenangkan perusahaan atas perkara tersebut. g. Berdasarkan surat pendaftaran pada Pengadilan Negeri Dumai No.26/Pdt.G/6/2004/PN-Dum tanggal 13 Juli 2004, perusahaan digugat oleh pasien atas tuntutan ganti rugi sebesar Rp300.000.000. Atas gugatan tersebut, perusahaan mengajukan gugatan balasan atas tuduhan pemberitaan yang merugikan. Sampai saat ini, pekara tersebut masih dalam proses di Pengadilan Negeri Dumai dan belum ada putusan atas perkara tersebut. 34. HAK ATAS TANAH YANG BELUM MEMPUNYAI SERTIFIKAT Hak atas tanah Perusahaan seluas 95.435 m2 di Sibolga yang berdasarkan bukti kepemilikan Staatblads No. 83 tahun 1940 dengan harga perolehan sebesar nihil, sebagian besar disewakan kepada penduduk, Pemda dan badan usaha lainnya dan sisanya untuk perumahan karyawan. Sesuai dengan Surat Direktur Usaha Perusahaan No. A.V-40/PPI.US.13 tanggal 20 Februari 2002, Perusahaan telah mengusulkan kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia untuk mengalihkan 12.925 m2 tanah tersebut di atas kepada Pemda tingkat II Sibolga. Sesuai dengan surat Menteri Negara BUMN No. S-574/M-MBU/2002 tanggal 28 Agustus 2002, Menteri Negara BUMN telah menyetujui pengalihan sebagian tanah pelabuhan Sibolga tersebut kepada Pemda setempat dengan syarat sebagai berikut: a. Pengalihan tanah tersebut dilakukan dengan Berita Acara. b. Tanah yang dialihkan tersebut dipergunakan untuk kepentingan sarana umum/sarana wisata bahari. c. Pembongkaran bangunan dan gudang serta pembebasan kepada masyarakat penghuni, diselesaikan oleh Pemerintah Daerah. d. Pelaksanaan pengalihan tanah tersebut agar dilaporkan kepada Kementerian BUMN. 48 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Sesuai dengan surat Menteri BUMN No.S-288/MBU/2003 tanggal 9 September 2003 tentang persertujuan penghapusan aktiva milik PT Pelindo I dan kemudian diperpanjang lagi dengan surat Menteri BUMN No.S.565/MBU/2004 tanggal 18 Oktober 2004 perihal persetujuan penghapusbukuan aktiva tetap di PT Pelindo I berupa tanah dan bangunan di Sibolga. Pengalihan tanah tersebut telah dihibahkan seluas 23.205 M2 dengan rincian sebagai berikut: a. Pemda Sibolga b. Instansi Pemerintah c. Masyarakat : 8.805 M2 : 6.960,25 M2 : 8.159,75 M2 Untuk tanah yang disewa oleh badan hukum telah dijual kepada badan hukum yang bersangkutan yaitu sebanyak 15 (lima belas) badan hukum dengan luas 14.361 M2, dengan harga penjualan Rp6.818.505.000. 35. AKTIVA DAN KEWAJIBAN DALAM MATA UANG ASING Aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal 31 Desember 2004 terdiri dari: Mata uang asing Setara dengan Rupiah Aktiva: Lancar: Kas dan setara kas Piutang usaha Pendapatan masih akan diterima 3.957.346 1.201.652 968.749 36.763.741.259 11.163.351.539 8.999.673.006 49 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) Kewajiban: Jangka pendek: Hutang usaha Hutang lain-lain Biaya yang masih harus dibayar Hutang jangka panjang jatuh tempo dalam satu tahun: Hutang sewa guna usaha Hutang pembelian aktiva tetap Jangka panjang: Hutang jangka panjang, setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun: Hutang sewa guna usaha (1.709.863) (15.884.636.358) (390.199) (129.229) (3.624.945.087) (1.200.532.951) (257.989) (96.493) (17.002) (2.396.721.923) (896.419.134) (157.950.995) 3.526.972 32.765.559.356 Sebagaimana disajikan diatas, jika nilai tukar mata uang asing pada tanggal laporan auditor independen, yaitu Rp9.405 terhadap US$1,00 digunakan untuk menyajikan kembali aktiva dan kewajiban mata uang asing perusahaan, aktiva bersih dalam mata uang asing akan bertambah sebesar. 36. POS LUAR BIASA Pada tanggal 26 Desember 2004, terjadi bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Bencana alam tersebut menimbulkan kerusakan pada berbagai fasilitas pelabuhan perusahaan, terutama pelabuhan Malahayati di Nanggroe Aceh Darussalam dengan total taksiran kerugian sejumlah Rp3.090.143.639. 50 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan Dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 37. REKLASIFIKASI AKUN Beberapa angka-angka perbandingan tahun 2003 telah direklasifikasi untuk menyesuaikan dengan penyajian laporan keuangan tahun 2004. Reklasifikasi tersebut adalah sebagai berikut: Hutang pajak – PPN menjadi aktiva lancar lain-lain – pajak dibayar dimuka Aktiva lancar lainnya – Tagihan pajak penghasilan menjadi pajak dibayar dimuka – Pajak penghasilan pasal 25 tahun 2002 Aktiva tidak lancar – Tagihan pajak penghasilan menjadi – Pajak dibayar dimuka – Pajak penghasilan pasal 25 tahun 2003 Aktiva lancar lainnya – Pajak dibayar dimuka menjadi – Pajak dibayar dimuka – PPN Aktiva dalam konstruksi menjadi biaya ditangguhkan – Pengerukan alur Biaya sewa – kapal menjadi Reduksi pendapatan - kapal 44.004.991.765 20.059.093.090 1.152.262.996 42.483.477.354 17.669.193.490 1.543.012.125 51 BPK-RI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN EVALUASI KINERJA PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 Nomor Tanggal : 13.C /Auditama V/GA/04/2005 : 31 Maret 2005 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jl. Gatot Subroto No.31 Jakarta Pusat 10210 Telp. (021) 5700380, 5738740, 5720957, 5738727, 5704395 s.d 9 Pesawat 511 Fax. (021) 5700380, 5723995. DAFTAR ISI SIMPULAN EVALUASI ...............................................……………..……… HASIL EVALUASI ………….………………………………………………. BAB I BAB II Pendahuluan Perbandingan Realisasi Pendapatan, Beban Usaha dan Produksi Tahun 2004 dengan Anggaran Tahun 2004 dan Realisasi Tahun 2003 1. 2. 3. BAB III Pendapatan Usaha …..…………………………………….. Beban Usaha ……………………………………………… Produksi ………………………………………………….. 1 3 3 5 5 10 13 22 22 22 23 23 23 24 26 26 28 29 30 32 38 38 39 45 46 47 Hal-Hal Yang Berkaitan dengan Perusahaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Pemasaran dan Penjualan…………………………………… Produksi dan Kualitas Produksi…………………………… Logistik …………………………..……………………….. Penelitian dan Pengembangan………………………………. Sistem dan Organisasi ………….…………………………. Sumber Daya Manusia……………..................................…. Satuan Pengawas Intern ……………………..……………. Keuangan dan Akuntansi ………………………………….. Perpajakan …………………………………………………. Dana Pensiun ……………………………………………… Kemitraan dan Bina Lingkungan …………………………. Tindak Lanjut Keputusan RUPS ………………………….. BAB IV Aspek Strategis Perusahaan 1. 2. 3. Investasi ……………………………………………………. Kerjasama …………………………………………………. Restrukturisasi dan Privatisasi…………………………. .. 40 BAB V Penilaian Kinerja Perusahaan 1. 2. Bobot Tingkat Kesehatan.................................................. ...… Perhitungan Indikator dan Nilai Kinerja Keuangan………….. SIMPULAN EVALUASI Kami telah melakukan audit atas Laporan Evaluasi Kinerja PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 dengan kesimpulan sebagai berikut : 1. Rencana kerja dan anggaran perusahaan Penyusunan anggaran PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I telah mengacu kepada Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No. KEP-101/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002. PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I telah menyampaikan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan kepada Menteri Negara BUMN sesuai dengan surat Direksi No. KU.60/8/8/PI-03 tanggal 28 Oktober 2003 yang telah disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dengan Berita Acara RUPS No. BA-67/D2-MBU/2003 tanggal 29 Desember 2003. 2. Perbandingan realisasi pendapatan dan beban tahun 2004 dengan anggaran tahun 2004 dan realisasi tahun 2003 Realisasi laba sebelum pajak tahun 2004 mencapai sebesar Rp143.613,76 juta atau 44,10% lebih rendah dibanding anggaran sebesar Rp325.674,84 juta. Hal tersebut disebabkan meningkatnya beban usaha sebesar Rp57.127,26 juta atau 21,27% dari anggaran sebesar Rp268.547,58 juta, dan realisasi pendapatan di luar usaha (bersih) sebesar Rp17.696,81 juta yang hanya mencapai 59,95% dibandingkan anggaran sebesar Rp29.519,69 juta, serta timbulnya biaya pada pos luar biasa sebesar Rp3.090,14 juta. Biaya luar biasa tersebut berupa biaya yang dialami dari adanya gempa bumi dan gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara yang menimbulkan kerusakan pada berbagai fasilitas pelabuhan perusahaan. Dibandingkan dengan realisasi laba sebelum pajak tahun 2003 sebesar Rp170.893,61 juta, realisasi laba tahun 2004 adalah sebesar 84,04%. Penurunan laba tersebut disebabkan peningkatan beban usaha yang jauh lebih besar yaitu sebesar Rp63.903,65 juta atau 24,35% dari 1 BPK-RI / AUDITAMA V realisasi beban usaha tahun 2003 sebesar Rp262.388,65 juta. Sedangkan peningkatan pendapatan usaha hanya mencapai sebesar Rp31.389,02 juta atau 7,40% dari realisasi tahun 2003 sebesar Rp423.910,38 juta. Selain itu adanya beban luar biasa tahun 2004 akibat bencana alam sebesar Rp3.090,14 juta yang tidak terjadi pada tahun 2003. 3. Tingkat Kesehatan Perusahaan Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara, nilai skor kinerja PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I untuk tahun 2004 adalah "92,00" yang berarti tingkat kesehatannya dikategorikan menjadi "SEHAT" dengan tingkat penggolongan "AA" Demikian simpulan hasil audit atas Evaluasi Kinerja PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Hasil Evaluasi. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit, Drs. Misnoto, Ak. MA Register Negara No. D-1416 Jakarta, 31 Maret 2005 2 BPK-RI / AUDITAMA V HASIL EVALUASI BAB I PENDAHULUAN Evaluasi Kinerja adalah salah satu perangkat analisis yang digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap hasil kerja manajemen dalam rangka mengetahui apakah langkah yang telah dijalankan dalam mengelola perusahaan telah dilaksanakan untuk mencapai efektifitas dan efisiensi. Evaluasi kinerja dimaksudkan untuk melakukan pengujian terhadap kebenaran faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan sehingga dapat diketahui penyebab terjadinya penyimpangan, diantaranya dengan membandingkan realisasi tahun berjalan dengan anggarannya dan realisasi tahun lalu. Hasil analisis tersebut kemudian diambil kesimpulan sehingga apabila terjadi penyimpangan yang merugikan akan dieliminasi atau akan dilakukan perbaikan pada periode mendatang. Demikian pula terhadap penyimpangan yang menguntungkan agar lebih ditingkatkan sehingga efektifitas dan efisiensi dapat dicapai seperti yang diharapkan. Selain hal tersebut di atas deteksi dapat dilakukan terhadap sektor-sektor produksi mana yang masih dapat dikembangkan sesuai dengan kapasitas produksi yang telah dimiliki atau melakukan investasi baru secara selektif sehingga dapat menghasilkan nilai tambah yang maksimal. Penyusunan anggaran PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I mengacu kepada surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No.KEP-101/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002. PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I telah menyampaikan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan kepada Menteri Negara BUMN sesuai dengan Surat Direksi No. KU.60/8/8/PI-03 tanggal 28 Oktober 2003 yang telah disahkan dalam RUPS dengan Berita Acara RUPS No.BA-67/D2-MBU/2003 tanggal 29 Desember 2003. Proses evaluasi kinerja dimulai dengan melakukan analisis terhadap komponen-komponen dalam laporan laba rugi yang mempunyai aspek dan berhubungan dengan keuangan, diantaranya penjualan, beban produksi dan volume produksi dengan cara membandingkan realisasi tahun berjalan dengan anggaran yang telah disusun dan realisasi tahun lalu. Hal tersebut dimaksudkan untuk melakukan pengujian terhadap kebenaran faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan, sehingga dapat diketahui faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan. 3 Review terhadap hal-hal penting yang berkaitan dengan perusahaan dilakukan terhadap beberapa komponen diantaranya perkembangan teknologi yang digunakan serta pemeliharaan fasilitas yang telah dilaksanakan oleh perusahaan. Demikian pula terhadap penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan dalam rangka melakukan inovasi baru terhadap perkembangan usaha, manajemen dan sistem organisasi serta sumber daya manusia yang dimiliki saat ini, dengan harapan agar semua unsur yang menggerakkan organisasi dan operasional perusahaan dapat berjalan dengan baik. Selain itu juga dilakukan review terhadap aspek strategis perusahaan dalam menghadapi pasar diantaranya yang berkaitan dengan investasi untuk pengembangan perusahaan dan juga kepedulian terhadap lingkungan, sehingga perusahaan bukan saja sebagai salah satu katalisator penggerak perekonomian yang memiliki orientasi komersial, tetapi juga melaksanakan program sosial yang bermanfaat bagi masyarakat dalam rangka program bersih lingkungan untuk menjaga ekologi alam sekitarnya melalui analisa dampak lingkungan. Dalam rangka melaksanakan kebijakan pemerintah untuk turut mengentaskan kemiskinan, PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I telah berperan serta dalam Program Kemitraan dan Bina Lingkungan sesuai misi pemerintah seperti yang telah dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No. KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Badan Usaha Milik Negara. Evaluasi kinerja PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I dilakukan mengacu pada Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002, tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara. Hasil evaluasi terhadap kinerja perusahaan diharapkan dapat menjadi suatu kajian bagi manajemen dalam menentukan kebijakan yang akan diterapkan dalam melaksanakan operasional perusahaan pada periode yang akan datang, sehingga kekurangan masa lalu dapat dieliminasi pada periode mendatang dan keberhasilan yang sudah dicapai dapat semakin ditingkatkan. Dengan demikian diharapkan kinerja perusahaan akan semakin optimal. 4 BAB II PERBANDINGAN REALISASI PENDAPATAN, BEBAN USAHA DAN PRODUKSI TAHUN 2004 DENGAN ANGGARAN TAHUN 2004 DAN REALISASI TAHUN 2003 Perbandingan realisasi pendapatan dan beban usaha tahun 2004 dengan anggaran dimaksudkan untuk mengetahui apakah anggaran pendapatan dan beban usaha telah dipakai sebagai arahan kegiatan untuk menghasilkan pendapatan dan mengendalikan beban usaha, sehingga pada akhir periode dapat diambil kesimpulan apakah efektifitas usaha dapat dicapai sesuai dengan yang diharapkan dan efisiensi telah dapat dilaksanakan dengan baik. Penyimpangan-penyimpangan yang diketahui, akan dilakukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor penyebabnya, dan setelah faktor penyebab terjadinya penyimpangan tersebut dapat diketahui, maka faktor-faktor yang merugikan perusahaan akan semaksimal mungkin dieliminasi pada periode mendatang, sedangkan faktor yang menguntungkan perusahaan akan diusahakan untuk semakin ditingkatkan. Adapun realisasi pendapatan dan beban usaha tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan usaha yang telah dilakukan, apakah usaha tahun berjalan mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode sebelumnya dan efisiensi telah dapat dilaksanakan pada tahun berjalan. Dengan membandingkan kinerja tahun berjalan terhadap tahun lalu dan melakukan analisis atas penyimpangan yang terjadi, akan diperoleh kesimpulan apakah penyimpangan tersebut lebih menguntungkan perusahaan atau telah merugikan perusahaan. Apabila penyimpangan yang terjadi menguntungkan perusahaan, maka akan dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan usaha periode mendatang, namun apabila terjadi penyimpangan yang merugikan perusahaan akan dievaluasi untuk mengetahui sebabsebab terjadinya penyimpangan tersebut sebagai langkah untuk melakukan efisiensi pada sektor tertentu dan memperbaikinya pada periode mendatang. Sehingga pada akhirnya akan diperoleh suatu kinerja perusahaan yang efektif dan efisien serta mendapatkan hasil yang berarti sesuai dengan yang diharapkan. 1. PENDAPATAN USAHA Evaluasi kinerja terhadap kegiatan pemasaran dilakukan dengan membandingkan realisasi pendapatan usaha tahun 2004 dengan anggaran tahun 2004 5 dan realisasi pendapatan usaha tahun 2003. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah kinerja terhadap pemasaran yang dicapai telah dilaksanakan secara optimal, karena kinerja pemasaran merupakan kegiatan yang membawa konsekuensi atas kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan. Oleh karenanya setiap penyimpangan yang terjadi pada kinerja pemasaran akan dianalisis sampai seberapa jauh pengaruhnya terhadap kinerja keuangan perusahaan karena dari kinerja pemasaran akan dapat diketahui apakah seluruh kapasitas produksi yang dimiliki telah dioperasikan secara optimal sesuai dengan anggaran. Hasil analisis tersebut akan dijadikan sebagai bahan evaluasi manajemen, pada sektor mana kegiatan perusahaan harus disempurnakan dan dilakukan perbaikan bila terjadi penyimpangan yang tidak diharapkan, namun apabila penyimpangan tersebut bersifat menguntungkan dan sudah baik akan dapat dijadikan pedoman pada sektor lain untuk ditingkatkan pada periode mendatang. Realisasi pendapatan usaha tahun 2004 mencapai sebesar Rp455.299,41 juta, yaitu 79,72% atau lebih rendah sebesar Rp115.805,98 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp571.105,39 juta. Dibandingkan dengan realisasi pendapatan usaha tahun 2003 sebesar Rp423.910,39 juta, terjadi peningkatan sebesar Rp31.389,02 juta atau mencapai 107,40% dari realisasi tahun 2003. Hal tersebut tampak dalam tabel berikut : Realisasi Tahun 2004 (Rp) 181.484,69 129.606,41 41.107,74 28.448,82 22.182,09 9.652,58 1.371,72 25.880,17 15.565,20 455.299,41 Anggaran Tahun 2004 (Rp) 189.193,47 178.593,95 48.689,84 31.124,20 25.640,23 10.244,13 3.670,00 25.577,84 58.371,72 571.105,38 Realisasi Tahun 2003 (Rp) 152.262,05 131.964,67 41.088,70 25.584,72 20.877,62 9.496,53 4.586,30 24.705,41 13.344,89 423.910,38 (dalam juta rupiah) % Realisasi Tahun 2004 thd Angg 2004 Reals 2003 95,93 72,57 84,43 91,40 86,51 94,23 37,38 101,18 26,67 79,72 119,19 98,21 100,05 111,20 106,25 101,64 29,91 104,76 116,64 107,40 Keterangan PENDAPATAN USAHA Pelyn Term Peti Kemas Pely Kapal Plyn Pelabuhan Khusus (DUKS) Pelyn Barang Pelyn Usaha Bongkar Muat Pelyn Rumah Sakit Pelyn Usaha Galangan Kapal Pend Sewa Bng,List,Air Lain-lain Jumlah Pend Usaha (bersih) 6 Penjelasan: a. Pendapatan Pelayanan Terminal Peti Kemas Realisasi pendapatan dari pelayanan terminal peti kemas tahun 2004 mencapai sebesar Rp181.484,69 juta, yaitu 95,93% atau lebih rendah sebesar Rp7.708,78 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp189.193,47 juta. Dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp152.262,05 juta terjadi peningkatan sebesar Rp29.222,64 juta atau mencapai sebesar 119,19%. Pelampauan realisasi pendapatan tersebut disebabkan meningkatnya kegiatan operasi lapangan, operasi CFS, pelayanan shifting peti kemas dan peti kemas overheight di Unit Terminal Peti Kemas Belawan, serta meningkatnya kegiatan bongkar muat peti kemas di dermaga akibat adanya pengalihan kegiatan handling peti kemas dari dermaga konvensional ke dermaga internasional. b. Pendapatan Pelayanan Kapal Realisasi pendapatan dari pelayanan kapal tahun 2004 mencapai sebesar Rp129.606,41 juta, yaitu 72,57% atau lebih rendah sebesar Rp48.987,54 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp178.593,95 juta. Dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp131.964,67 juta terjadi penurunan sebesar Rp2.358,26 juta atau mencapai sebesar 98,21%. Pencapaian realisasi pendapatan pelayanan kapal dibawah anggarannya disebabkan menurunnya kunjungan kapal serta adanya perubahan ukuran kapal-kapal yang berkunjung ke dermaga terutama di Cabang Pelabuhan Dumai dan Pekanbaru dengan ukuran yang lebih kecil. c. Pendapatan Pelayanan Pelabuhan Khusus Realisasi pendapatan dari pelayanan pelabuhan khusus tahun 2004 mencapai sebesar Rp41.107,74 juta, yaitu 84,43% atau lebih rendah sebesar Rp7.582,10 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp48.689,84 juta. Pencapaian realisasi pendapatan pelayanan kapal dibawah anggarannya disebabkan menurunnya kunjungan kapal terutama di pelabuhan khusus Cabang Dumai dan Lhokseumawe. Realisasi pendapatan dari pelayanan pelabuhan khusus tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp41.088,70 juta mencapai sebesar 100,05% atau terjadi peningkatan sebesar Rp19,04 juta. Hal ini disebabkan 7 adanya peningkatan pada pelayanan labuh, tambat dan pelayanan penundaan dari hasil sharing. d. Pendapatan Pelayanan Barang Realisasi pendapatan dari pelayanan barang tahun 2004 mencapai sebesar Rp28.448,82 juta, yaitu 91,40% atau lebih rendah sebesar Rp2.675,38 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp31.124,20 juta. Pencapaian realisasi pendapatan pelayanan kapal dibawah anggarannya disebabkan tidak tercapainya produksi jasa gudang dan lapangan penumpukan di beberapa cabang pelabuhan, serta adanya kecenderungan penanganan barang melalui truk losing langsung ke gudang pemilik barang, utamanya di Cabang Pelabuhan Dumai. Realisasi pendapatan pelayanan barang tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp25.584,22 juta, mencapai sebesar 111,20% atau terjadi peningkatan sebesar Rp2.864,10 juta. Hal ini disebabkan adanya peningkatan produksi jasa layanan dermaga dan lapangan penumpukan. e. Pendapatan Pelayanan Usaha Bongkar Muat Realisasi pendapatan dari pelayanan usaha bongkar muat tahun 2004 mencapai sebesar Rp22.182,09 juta, yaitu 86,51% atau lebih rendah sebesar Rp3.458,14 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp25.640,23 juta. Pencapaian realisasi pendapatan pelayanan bongkar muat dibawah anggaran disebabkan menurunnya produksi penumpukan depo peti kemas dan kegiatan bongkar muat barang utamanya di Cabang Pelabuhan Belawan. Realisasi pendapatan dari pelayanan usaha bongkar muat tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp20.877,62 juta, mencapai sebesar 106,25% atau terjadi peningkatan sebesar Rp1.304,47 juta. Hal ini disebabkan antara lain meningkatnya kegiatan bongkar muat paket peti kemas dan bongkar muat di depo. f. Pendapatan Pelayanan Rumah Sakit Realisasi pendapatan dari pelayanan rumah sakit tahun 2004 mencapai sebesar Rp9.652,58 juta, yaitu 94,23% atau lebih rendah sebesar Rp591,55 juta, dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp10.244,13 juta. Pencapaian realisasi pendapatan pelayanan rumah sakit dibawah anggarannya disebabkan 8 rendahnya kunjungan pasien pada klinik umum, farmasi dan rawat inap di Rumah Sakit Pelabuhan Medan dan Rumah Sakit Pelabuhan Dumai. Realisasi pendapatan dari pelayanan rumah sakit tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp9.496,53 juta, mencapai 101,64% atau terjadi peningkatan sebesar Rp156,05 juta. Hal ini disebabkan adanya peningkatan kunjungan pasien antara lain pada klinik umum, farmasi maupun rawat inap. g. Pendapatan Pelayanan Usaha Galangan Kapal Realisasi pendapatan dari usaha galangan kapal tahun 2004 sebesar Rp1.371,72 juta, yaitu 39,15% atau lebih rendah sebesar Rp2.298,28 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp3.670,00 juta. Pencapaian realisasi pendapatan pelayanan usaha galangan kapal dibawah anggaran disebabkan tidak terealisasinya pekerjaan doking kapal-kapal milik PT. Arun Lhokseumawe, kapal Mega Sukses dan kapal Anoman milik PT Pelindo 1. Realisasi pendapatan dari usaha galangan kapal tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp4.586,30 juta mencapai 29,91% atau terjadi penurunan sebesar Rp3.214,58 juta. Hal ini disebabkan terjadi penurunan yang sangat signifikan pada pekerjaan doking kapal. h. Pendapatan Sewa Tanah, Bangunan, Air, Listrik (TBAL) Realisasi pendapatan dari sewa tanah, bangunan, listrik dan air (TBAL) tahun 2004 sebesar Rp25.880,17 juta, yaitu 101,18% atau lebih tinggi sebesar Rp302,33 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp25.577,84 juta. Pencapaian realisasi pendapatan sewa TBAL diatas anggaran disebabkan meningkatnya persewaan bangunan di Cabang Pelabuhan Belawan, Pekanbaru dan Tanjung Balai Karimun. Selain itu juga meningkatnya penyediaan air minum di cabang pelabuhan Belawan, Unit Usaha Terminal Peti Kemas (UUTPK) dan Lhokseumawe. Realisasi pendapatan dari sewa TBAL tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp24.705,41 juta mencapai 104,76% atau terjadi peningkatan sebesar Rp1.174,76 juta. Hal ini disebabkan adanya peningkatan pada pendapatan sewa tanah dan penyediaan air minum 9 i. Pendapatan lain-lain Realisasi pendapatan lain-lain tahun 2004 sebesar Rp15.565,20 juta, yaitu 26,77% atau lebih rendah sebesar Rp42.806,52 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp58.371,72 juta. Dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp13.344,89 juta, mencapai 116,64% atau terjadi peningkatan sebesar Rp2.220,31 juta. Realisasi pendapatan lain-lain dibawah anggaran disebabkan tidak terealisasinya kerjasama Transit Anchorage Area (TAA) di Tanjung Balai Karimun dan adanya pergeseran perilaku pelanggan yang lebih cenderung menggunakan jasa angkutan udara. 2. BEBAN USAHA Evaluasi kinerja terhadap Beban Usaha dilakukan dengan membandingkan realisasi beban usaha tahun 2004 dengan anggarannya dan realisasi beban usaha tahun 2003. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah perhitungan beban usaha yang direalisasikan telah dilakukan dengan benar, karena kinerja terhadap perhitungan beban usaha merupakan kegiatan yang membawa konsekuensi atas kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan. Oleh karenanya setiap penyimpangan yang terjadi pada perhitungan beban usaha akan dianalisis sampai seberapa jauh pengaruhnya terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hasil evaluasi tersebut akan dijadikan sebagai bahan evaluasi manajemen, pada sektor mana kegiatan perusahaan harus disempurnakan dan dilakukan perbaikan bila terjadi penyimpangan yang tidak diharapkan, namun apabila penyimpangan tersebut bersifat menguntungkan dan sudah baik akan dapat dijadikan pedoman pada sektor lain untuk ditingkatkan pada periode mendatang. Kesalahan pembebanan akan berakibat pada laba rugi perusahaan dan berdampak kepada kesalahan dalam pengambilan keputusan manajemen. Realisasi beban usaha tahun 2004 sebesar Rp326.292,32 juta, yaitu 121,50% dibandingkan anggaran sebesar Rp268.547,58 juta atau lebih tinggi sebesar Rp57.744,74 juta. Dibandingkan dengan realisasi beban usaha tahun 2003 sebesar Rp262.388,65 juta, mencapai 124,35% atau terjadi peningkatan sebesar Rp63.903,65 juta atau 24,35% di atas realisasi tahun 2003. Hal ini tampak dalam tabel berikut : 10 (dalam juta rupiah) Keterangan BEBAN USAHA Pegawai Penyusutan dan Amortisasi Umum Bahan dan perlengkapan Pemeliharaan Sewa Administrasi Asuransi Jumlah Beban Usaha Anggaran Realisasi Tahun 2004 Tahun 2004 (Rp) (Rp) 76.355,84 68.098,92 55.556,80 42.475,33 41.057,57 27.752,15 11.393,02 3.602,67 326.292,30 81.858,81 41.098,45 38.833,31 36.725,73 30.585,26 24.188,93 9.911,38 5.345,71 268.547,58 Realisasi Tahun 2003 (Rp) 74.835,96 41.564,30 39.986,28 42.104,49 22.991,82 26.680,43 11.169,23 3.056,13 262.388,65 % Realisasi Tahun 2004 thd Angg 2004 Reals 2003 93,28 165,70 143,06 115,66 134,24 114,73 114,95 67,39 121,50 102,03 163,84 138,94 100,88 178,57 104,02 102,00 117,88 124,35 Penjelasan : a. Beban Pegawai 1) Realisasi Beban Pegawai tahun 2004 sebesar Rp76.355,84 juta, mencapai 93,28% dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp81.858,81 juta atau lebih rendah sebesar Rp5.502,97 juta. 2) Realisasi Beban Pegawai tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp74.835,96 juta mencapai 102,16% atau terjadi peningkatan sebesar Rp1.519,88 juta. b. Beban Penyusutan dan Amortisasi 1) Realisasi Beban Penyusutan dan Amortisasi tahun 2004 sebesar Rp68.098,92 juta, mencapai 165,70% dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp41.098,45 juta atau lebih besar Rp27.000,47 juta. 2) Realisasi Beban Penyusutan dan amortisasi tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp41.564,30 juta mencapai 163,84% atau terjadi peningkatan sebesar Rp26.534,62 juta. Hal ini disebabkan perusahaan kurang melakukan pembebanan penyusutan dan amortisasi pada aktiva tetap dan biaya yang ditangguhkan pada tahun 2003 sehingga pembebanan atas kekurangan tersebut dilakukan pada tahun 2004. c. Beban Umum 1) Realisasi Beban Umum tahun 2004 sebesar Rp55.556,80 juta, mencapai 143,06% dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp38.833,31 juta atau lebih tinggi sebesar Rp16.723,49 juta. Hal ini disebabkan meningkatnya beberapa biaya dari yang dianggarkan sebelumnya antara lain biaya 11 keamanan pelabuhan, pajak bumi dan bangunan, biaya pesangon/ganti rugi, perawatan kesehatan dan dana pensiun. 2) Realisasi Beban Umum tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp39.986,28 juta, mencapai 138,94% atau terjadi peningkatan sebesar Rp15.570,52 juta. Hal ini disebabkan adanya peningkatan yang cukup signifikan antara lain pada biaya keamanan pelabuhan, biaya imbalan jasa upah bongkar muat, pajak bumi dan bangunan, pesangon/ganti rugi, dan dana pensiun. d. Beban Bahan dan Perlengkapan 1) Realisasi Beban Bahan dan Perlengkapan tahun 2004 sebesar Rp42.475,33 juta, yaitu115,66% atau lebih tinggi sebesar Rp5.749,60 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp36.725,73 juta. Hal ini terjadi antara lain disebabkan meningkatnya biaya bahan bakar terutama untuk kebutuhan kapal pandu dan kapal tunda, meningkatnya biaya listrik dan biaya bahan obat-obatan. 2) Realisasi Beban Bahan dan Perlengkapan tahun 2004, yaitu 100,88% atau terjadi peningkatan sebesar Rp370,84 juta dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp42.104,49 juta. Hal ini disebabkan meningkatnya biaya bahan bakar dan biaya listrik. Beban Pemeliharaan 1) Realisasi Beban Pemeliharaan tahun 2004 sebesar Rp41.057,57 juta, yaitu 134,24% atau lebih tinggi Rp10.472,31 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp30.585,26 juta. 2) Realisasi Beban Pemeliharaan tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp22.991,82 juta mencapai 178,57% atau terjadi peningkatan sebesar Rp18.065,75 juta. f. Beban Sewa 1) Realisasi Beban Sewa tahun 2004 sebesar Rp27.752,15 juta, yaitu 114,73% atau lebih tinggi sebesar Rp3.563,22 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp24.188,93 juta. Hal disebabkan adanya peningkatan yang cukup signifikan pada biaya sewa tenaga kerja dari anggaran yang ditetapkan. e. 12 2) Realisasi Beban Sewa tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp26.680,43 juta mencapai 104,02% atau terjadi peningkatan sebesar Rp1.071,72 juta. g. Beban Administrasi 1) Realisasi Beban Administrasi tahun 2004 sebesar Rp11.393,02 juta, yaitu 114,95% atau lebih tinggi sebesar Rp1.481,64 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp9.911,38 juta. Hal ini disebabkan meningkatnya beberapa biaya dibandingkan anggaran yang ditetapkan, terutama biaya rumah tangga yang meningkat sebesar Rp1.031,37 juta atau 117,75%. 2) Realisasi Beban Administrasi tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp11.169,23 juta mencapai 102,34% atau terjadi peningkatan sebesar Rp223,79 juta. h. Beban Asuransi 1) Realisasi Beban Asuransi tahun 2004 sebesar Rp3.602,67 juta, yaitu 67,39% atau lebih rendah sebesar Rp1.743,04 juta dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp5.345,71 juta. 2) Realisasi Beban Asuransi tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp3.056,13 juta mencapai 117,88% atau terjadi peningkatan sebesar Rp546,54 juta. 3. PRODUKSI Evaluasi kinerja terhadap produksi dilakukan dengan membandingkan realisasi produksi tahun 2004 dengan anggarannya dan realisasi Produksi tahun 2003, hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah kinerja operasional yang dicapai telah dilaksanakan secara optimal, karena kinerja produksi akan membawa konsekuensi terhadap kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan. Oleh karenanya setiap penyimpangan yang terjadi pada kinerja produksi akan dianalisis sampai seberapa jauh pengaruhnya terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hasil evaluasi tersebut akan dijadikan sebagai bahan evaluasi manajemen, pada sektor mana produksi harus disempurnakan dan dioptimalkan kapasitasnya, karena apabila peralatan produksi yang dimiliki tidak di optimalkan akan terjadi iddle dan menimbulkan inefisiensi. Oleh karena itu apabila terjadi penyimpangan yang tidak diharapkan dapat segera dilakukan perbaikan, namun apabila penyimpangan tersebut 13 bersifat menguntungkan dan sudah baik akan dapat dijadikan pedoman pada sektor lain untuk ditingkatkan pada periode mendatang. Perbandingan antara realisasi produksi tahun 2004 dengan anggaran dan realisasi tahun 2003 seperti tampak dalam tabel berikut : % Realisasi Th 2004 thd RKA Real 2004 2003 No. I. A. 1. a. 1) Keterangan Realisasi Th 2004 RKAP Th 2004 Realisasi Th 2003 TRAFIK Arus Kunj Kapal Pelayaran Luar Negeri Kapal Asing Liner (call) (grt) 2) a) Tramper Reguler (call) (grt) b) Tramper non Reg (call) (grt) b. Kapal Nasional (call) (grt) Jumlah 1 (call) (grt) 2. Pelayaran Dalam Negeri a. Kapal Nasional 1) Antar Pelabuhan (call) (grt) 2) Perintis (call) (grt) 3) Rakyat a) Perahu Layar (call) (grt) b) Prh Lyr Motor (call) (grt) c) Kapal Motor (call) (grt) 4) Kapal Negara (call) (grt) b. Kapal Asing (call) (grt) Jumlah 2 (call) (grt) TOTAL I.A. (call) (grt) 3.524 26.211.956 10.329 29.545.512 2.310 7.867.493 16.530 3.132.324 32.693 66.757.285 5.114 26.183.555 10.663 37.603.314 2.010 8.236.422 17.729 3.157.665 35.516 75.180.956 4.123 24.112.517 10.027 27.851.733 2.398 11.542.419 17.478 3.442.083 34.026 66.948.752 68,91 100,11 96,87 78,57 114,93 95,52 93,24 99,20 92,05 88,80 85,47 108,71 103,01 106,08 96,33 68,16 94,58 91,00 96,08 99,71 56.569 29.910.482 458 308.550 0 0 44 3.241 8.409 120.120 217 133.326 5.773 16.346.372 71.470 46.822.091 104.163 113.579.376 52.996 36.732.402 562 226.904 51.922 36.000.786 606 210.552 106,74 81,42 81,49 135,98 42,72 23,22 90,96 81,90 986,36 253,92 59,33 80,62 98,12 81,47 96,13 85,62 108,95 83,08 75,58 146,54 56,41 33,65 90,06 75,30 504,65 159,83 73,33 104,05 102,15 89,72 100,16 95,34 108 182 13.104 21.955 78 103 9.631 13.955 9.337 9.245 159.521 146.660 43 22 83.419 52.507 7.873 9.730 20.274.930 15.710.434 72.840 69.967 57.469.313 52.187.357 108.356 103.993 132.650.269 119.136.109 14 B. 1. a. b. c. d. 2. a. b. 3. a. b. c. d. C. 1. 2. D. 1. 2. Bongk.Muat (B/M) Barang Dermaga Umum Ekspor (ton) Impor (ton) AP Muat (ton) AP Bongkar (ton) Jumlah B.1. (ton) Peti Kemas Ekspor Impor Jumlah B.2. (ton) Dermaga Khusus Ekspor (ton) Impor (ton) AP Muat (ton) AP Bongkar (ton) Jumlah B.3. (ton) TOTAL I.B. (ton) Bongkar Muat Peti Kemas TPK (box) (TEU’S) Non TPK (box) (teus) Jumlah I.C. (box) (TEU’S) Arus Penumpang Luar Negeri Dalam Negeri Jumlah I.D. (orang) JASA PELABUHAN Pelayanan Jasa Kapal Labuh (grt) Tambat (grt/etm) Pemanduan (gerakan) Penundaan (jam) Air Kapal (ton) 9.029.939 1.617.934 3.265.359 7.425.987 21.339.219 1.956.913 990.516 2.947.429 36.387.395 1.246.298 17.667.611 8.900.065 64.201.369 88.488.017 213.019 274.031 388.550 436.467 601.569 710.498 2.092.144 3.905.140 5.997.284 8.906.673 2.078.319 2.745.102 6.205.630 19.935.724 1.467.345 845.825 2.313.170 41.866.882 1.403.356 21.115.944 12.234.385 76.620.567 98.869.461 213.830 291.645 303.426 357.498 517.256 649.143 2.068.206 5.087.204 7.155.410 8.537.512 2.120.254 2.664.592 6.137.932 19.460.290 1.168.742 564.101 1.732.843 37.744.730 863.979 16.403.130 10.480.554 65.492.393 86.685.526 182.215 235.792 282.280 323.020 464.495 558.812 2.044.309 5.207.182 7.251.491 101,38 77,85 118,95 119,67 107,04 133,36 117,11 127,42 86,91 88,81 83,67 72,75 83,79 89,50 99,62 93,96 128,05 122,09 116,30 109,45 101,16 76,76 83,81 105,77 76,31 122,55 120,99 109,66 167,44 175,59 170,09 96,40 144,25 107,71 84,92 98,03 102,08 116,91 116,22 137,65 135,12 129,51 127,14 102,34 75,00 82,70 II. A. 1. 2. 3. 4. 5. 45.938.028 86.582.183 49.136 32.065 303.950 64.791.318 105.865.343 51.104 23.430 429.235 52.937.669 98.718.123 53.109 21.462 369.070 70,90 81,79 96,15 136,85 70,81 86,78 87,71 92,52 149,40 82,36 Pelayanan Barang B. 1. Dermaga a. Barang (ton) Barang (m3) b. Hewan (ekor) c. Peti Kemas (box) 17.451.466 2.020.814 8.118 263.768 16.966.907 1.743.728 2.024 231.861 16.333.518 1.835.621 8.173 151.176 102,86 115,89 401,09 113,76 106,84 110,09 99,33 174,48 15 2. Gudang Penumpukan a. Ton/hari b. m3/hari 3. Lapangan Penumpukan a. Barang (ton/hari) (m3/hari) b. Hewan (ekor) c. Peti Kemas (box) C. 1. 2. a. b. 3. D. 1. a. b. 2. a. b. 3. 4. E. 1. 2. 3. 4. 5. F. Pelayanan Terminal Permata Rantai (ton/m3) Per Paket Barang (ton/m3) B/M Peti kemas (box) B/M lainnya (ton/m3) Pelayn Term Peti Kemas Operasi Kapal B/M Peti Kemas (box) Buka Tutup Palka (kali) Operasi lapangan Lift on/off (box) Penumpukan (box/hari) Operasi CFS Rubah Status (box) Operasi Lainnya Pas Pelabuhan (lembar) Tanah,Bangunan, Air,Listr Tanah Daratan (m2) Tanah Perairan (m2) Bangunan (m2) Air (ton) Listrik (kwh) Rupa-rupa Usaha Pas pelabuhan (lembar) 915.473 302.821 1.237.498 3.216.957 1.283 343.806 693.647 4.683.186 127.710 467.468 1.580.420 180.062 2.498.232 1.345.123 4.416 1.262.682 335.240 3.702.090 76.711 502.147 1.390.952 197.060 1.664.996 776.702 1.912 654.467 377.559 4.006.312 53.835 441.195 57,93 168,18 49,53 239,16 29,05 27,23 206,91 126,50 166,48 93,09 65,82 153,67 74,32 414,18 67,10 52,53 183,72 116,90 237,22 105,95 218.380 3.997 253.662 565.972 621 212.503 1.104.185 2.133.545 8.292 458.347 10.673.207 216.954 3.203 288.462 307.905 218 219.675 1.541.432 2.466.598 7.063 449.954 13.486.322 184.777 3.139 221.032 391.589 264 181.821 1.606.888 2.243.782 7.734 460.961 10.769.821 100,66 124,79 87,94 183,81 284,86 96,74 71,63 86,50 117,40 101,87 79,14 118,19 127,33 114,76 144,53 235,23 116,87 68,72 95,09 107,21 99,43 99,10 5.868.363 6.233.830 5.801.513 94,14 101,15 Penjelasan : a. Trafik 1) Arus Kunjungan Kapal a) Realisasi Produksi Trafik untuk frekuensi kunjungan kapal tahun 2004 sebesar 104.163 call dan berat kotor kapal yang berkunjung sebesar 113.579.376 grt atau 96,13% dan 85,62% dibandingkan dengan 16 anggarannya sebesar 108.356 call dan 132.650.269 grt. Tidak tercapainya anggaran disebabkan terjadi penurunan kunjungan kapal ke pelabuhan baik frekuensi maupun total berat kotor kapal untuk pelayaran luar negeri maupun dalam negeri. Penurunan ini diantaranya akibat tidak beroperasinya lagi atau berkurangnya kapasitas produksi beberapa industri di beberapa area cabang pelabuhan. b) Realisasi Produksi Trafik tahun 2004 untuk frekuensi kunjungan kapal dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar 103.993 call mencapai 100,16%, sedangkan total berat kotor kapal yang berkunjung dibandingkan tahun 2003 sebesar 119.136.109 grt atau mencapai 95,34%. Peningkatan pada jumlah frekuensi kunjungan kapal disebabkan adanya kenaikan yang cukup signifikan pada frekuensi kunjungan kapal dalam negeri, sedangkan total berat kotor kapal yang berkunjung mengalami penurunan yang disebabkan kapal-kapal yang berkunjung berukuran lebih kecil dibanding tahun sebelumnya terutama untuk kapal pelayaran dalam negeri. 2) Bongkar Muat Barang a) Realisasi produksi bongkar muat barang tahun 2004 sebesar 88.488.017 ton, yaitu 89,50% atau lebih rendah 10.381.444 ton dibandingkan dengan anggarannya sebesar 98.869.461 ton. Hal ini terjadi karena kecilnya kunjungan kapal dan kegiatan bongkar muat barang pada dermaga khusus terutama di cabang-cabang pelabuhan Belawan, Dumai, Pekanbaru, Lhokseumawe dan Tanjung Pinang. b) Realisasi produksi bongkar muat barang tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar 86.685.526 ton mencapai 102,08% atau terjadi peningkatan sebesar 1.802.491 ton. Kenaikan tersebut disebabkan meningkatnya pelayanan bongkar muat barang pada dermaga umum untuk pelayanan antar pulau muat dan bongkar, dan peti kemas. 3) Bongkar Muat Peti Kemas a) Realisasi kuantitas produksi bongkar muat peti kemas tahun 2004 adalah sebanyak 601.569 box, yaitu 116,30% atau lebih besar 84.313 box dibandingkan dengan anggarannya sebesar 517.256 box. Hal ini terjadi karena realisasi kegiatan bongkar muat peti kemas konvensional yang cukup signifikan melampaui anggaran yaitu sebesar28,05%. Sedangkan 17 realisasi tahun 2004 untuk lapangan penumpukan peti kemas adalah sebesar 710.498 TEU’S atau 109,45% dibandingkan anggarannya. Hal ini disebabkan adanya kecenderungan penggunaan peti kemas ukuran 20’ dibanding ukuran 40’ yang menimbulkan peningkatan jumlah ukuran TEU’S di lapangan penumpukan pelabuhan dibandingkan perencanaan. b) Realisasi kuantitas produksi bongkar muat peti kemas tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar 464.495 box mencapai 129,51% atau terjadi peningkatan sebesar 137.074 box. Peningkataan tersebut disebabkan adanya peningkatan kegiatan bongkar muat baik di terminal peti kemas maupun di pelabuhan konvensional. Sedangkan realisasi tahun 2004 untuk lapangan penumpukan peti kemas dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 mencapai 127,14%. Peningkatan tersebut disebabkan kecenderungan penggunaan peti kemas ukuran 20’ dibanding ukuran 40’ yang menimbulkan peningkatan ukuran TEU’S di lapangan penumpukan yang cukup besar, yaitu 27,14% dari tahun 2003. 4) Arus Penumpang a) Realisasi arus penumpang tahun 2004 sebanyak 5.997.284 orang, yaitu 83,81% atau lebih rendah 1.158.126 orang dibandingkan dengan anggarannya sebesar 7.155.410 orang. Tidak tercapainya anggaran disebabkan menurunnya arus penumpang di pelabuhan dalam negeri yang cukup signifikan, dimana saat ini terjadi pergeseran perilaku masyarakat yang cenderung menggunakan jasa angkutan udara. b) Realisasi arus penumpang tahun 2004 dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar 7.251.491 orang mencapai 82,70% atau terjadi penurunan sebanyak 1.254.207. Penurunan tersebut disebabkan karena masyarakat pengguna angkutan laut tujuan dalam negeri mengalami penurunan yang cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. b. Jasa Pelabuhan 1) Pelayanan Jasa Kapal a) Realisasi pelayanan jasa kapal tahun 2004 untuk labuh, tambat, pemanduan dan air kapal tidak mencapai anggaran dan berada dibawah realisasi tahun 18 2003. Hal ini terjadi karena menurunnya kunjungan kapal baik pelayaran dalam negeri maupun luar negeri. b) Realisasi pelayanan jasa kapal tahun 2004 untuk penundaan kapal melampaui anggaran sebesar 8.635 jam atau 36,85%. Selain itu realisasi tahun 2004 melampaui realisasi tahun 2003 sebesar 10.603 jam atau 49,40%. Hal ini disebabkan penggunaan jasa penundaan yang lebih besar di beberapa cabang pelabuhan utama antara lain Pelabuhan Belawan, Dumai, Pekanbaru, Tanjung Pinang dan Lhokseumawe. 2) Pelayanan Barang a) Realisasi pelayanan barang pada dermaga tahun 2004 secara keseluruhan melampaui anggaran terutama pada pengangkutan hewan yang realisasinya jauh melampaui anggaran sebesar 6.094 ekor atau 301,09%. Jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 maka secara rata-rata terjadi peningkatan sebesar 10%. Hal ini terjadi karena meningkatnya kegiatan ekspor, antar pulau muat dan antar pulau bongkar di Cabang Pelabuhan Belawan dan Dumai, serta kegiatan antar pulau bongkar di Cabang Pelabuhan Tanjung Pinang. b) Realisasi pelayanan barang pada gudang penumpukan tahun 2004 sebesar 915.473 ton/hari, yaitu 57,93% atau lebih rendah sebesar 664.947 ton/hari dibandingkan dengan anggarannya sebesar 1.580.420 ton/hari. Dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar 1.390.952 ton/hari, mencapai 65,82% atau terjadi penurunan sebesar 475.479 ton/hari. Rendahnya realisasi tahun 2004 dibandingkan dengan anggaran maupun dengan realisasi tahun 2003 disebabkan adanya peningkatan barang melalui truk losing ke gudang pemilik barang yang tidak melalui gudang penumpukan, utamanya di Cabang Pelabuhan Dumai. Sedangkan realisasi tahun 2004 untuk barang dengan satuan m3/hari adalah sebesar 302.821 m3/hari, yaitu 168,18% atau lebih tinggi sebesar 122.759 m3/hari dibandingkan dengan anggarannya sebesar 180.062 m3/hari. Dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar 197.060 m3/hari, realisasi tahun 2004 mencapai 153,67% atau terjadi peningkatan sebesar 105.761 m3/hari. Peningkatan tersebut disebabkan meningkatnya produksi gudang di cabang pelabuhan Belawan, Sibolga dan Gunung Sitoli untuk komoditi kayu lapis, 19 kayu olahan dan hasil hutan, disamping juga karena adanya perubahan sistem pengoperasian gudang di pelabuhan dari persewaan menjadi pengusahaan. c) Realisasi pelayanan barang untuk lapangan penumpukan tahun 2004 untuk hewan dan peti kemas lebih rendah dibandingkan dengan anggarannya dan mengalami penurunan dibandingkan dengan realisasi tahun 2003. Sedangkan realisasi tahun 2004 untuk barang dengan satuan m3/hari lebih tinggi sebesar 1.871.834 m3/hari dibandingkan dengan anggarannya dan mengalami peningkatan sebesar 2.440.255 m3/hari dibandingkan dengan realisasi tahun 2003. Hal ini disebabkan meningkatnya produksi lapangan penumpukan di UTPK Belawan serta cabang pelabuhan Dumai dan Pekanbaru. 3) Pelayanan Terminal a) Realisasi produksi pelayanan terminal tahun 2004 secara rata-rata mengalami peningkatan dibanding anggarannya terutama untuk kegiatan per mata rantai yang meningkat secara signifikan sebesar 106,91% dari perencanaan. Hal ini disebabkan terjadi peningkatan kegiatan stevedoring dan receiving/delivery di Pelabuhan Dumai dan Belawan. b) Realisasi produksi pelayanan terminal tahun 2004 secara keseluruhan meningkat dibanding realisasi tahun 2003, utamanya pada kegiatan bongkar muat peti kemas. 4) Pelayanan Terminal Peti Kemas a) Realisasi produksi pelayanan terminal peti kemas tahun 2004 secara ratarata melampaui anggaran, terutama untuk kegiatan ubah status yang mencapai 621 box atau 284,86% dibanding anggaran. Hal ini disebabkan meningkatnya permintaan bongkar muat peti kemas di CFS dari status FCL (Full Container Loading) ke status LCL (Left then Container Loading). b) Realisasi produksi pelayanan terminal peti kemas tahun 2004 secara keseluruhan meningkat dibanding tahun 2003, utamanya juga pada kegiatan ubah status yang mencapai 235,23% dibanding tahun 2003. 20 5) Pengusahaan tanah, bangunan, air dan listrik a) Realisasi produksi pengusahaan untuk tanah daratan, perairan dan listrik tahun 2004 berada dibawah anggaran, disebabkan tidak terealisasinya persewaan tanah di Cabang Pelabuhan Belawan dan UTPK, serta beberapa cabang pelabuhan lainnya. Sedangkan untuk pengusahaan listrik tidak mencapai anggaran disebabkan berkurangnya penggunaan listrik oleh PT Semen Andalas di Cabang Pelabuhan Belawan. b) Realisasi produksi pengusahaan tahun 2004 secara rata-rata menurun dibanding tahun 2003, kecuali untuk pengusahaan bangunan yang meningkat sebesar 1.229 m2 atau 7,21% dibanding tahun 2003. 6) Pelayanan rupa-rupa usaha a) Realisasi produksi pelayanan rupa-rupa usaha dari pas pelabuhan pada tahun 2004 sebanyak 5.868.363 lembar, yaitu 94,14% atau lebih rendah sebesar 365.467 lembar dibandingkan dengan anggaran sebesar 6.233.830 lembar. Tidak tercapainya anggaran disebabkan adanya pergeseran perilaku masyarakat yang cenderung menggunakan jasa angkutan udara. b) Realisasi produksi pelayanan dari pas pelabuhan tahun 2004 dibandingkan realisasi tahun 2003 sebesar 5.801.513 lembar mencapai 101,15% atau terjadi peningkatan sebesar 66.850 lembar. Peningkatan tersebut disebabkan pengguna angkutan laut tujuan luar negeri mengalami sedikit peningkatan dibanding tahun sebelumnya. 21 BAB III HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN PERUSAHAAN 1. PEMASARAN DAN PENJUALAN Dalam rangka meningkatkan pendapatan, maka pemasaran dan penjualan adalah lini pertama yang harus mendapatkan perhatian yang cukup memadai. Oleh karenanya saat ini PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I telah menindaklanjuti rencana kerjasama sinergi BUMN untuk optimalisasi alat produksi dalam rangka menunjang kegiatan pemasaran dan penjualan melalui beberapa hal, antara lain: a. Kerja sama bunkering BBM di Pelabuhan Belawan dengan PT (Persero) Pertamina yaitu dengan membentuk Unit Pelayanan Bunker Terpadu. b. Melakukan proses penyiapan konsep kerjasama pemanduan dan penundaan dengan PT (Persero) Batam. c. Melakukan proses penetapan bentuk kerja sama dengan PT (Persero) Banda Ghara Reksa untuk penyediaan gudang di pelabuhan Dumai. 2. PRODUKSI DAN KUALITAS PRODUKSI Agar dapat memberikan pelayanan yang layak dan profesional kepada para pengguna jasa pelayanan kepelabuhan, maka sangatlah perlu meningkatkan sarana yang memadai untuk suatu perusahaan pemberi jasa kepelabuhanan sesuai dengan perkembangan teknologi, diantaranya : a. Melanjutkan program peningkatan mutu pelayanan kapal dan barang di Pelabuhan Belawan, pelayanan kapal di Pelabuhan Dumai, Tanjung Pinang dan Pekanbaru, serta pelayanan peti kemas internasional pada Unit Terminal Peti Kemas (UTPK) Belawan melalui penerapan manajemen mutu ISO 9001;2000 dan telah diterbitkan sertifikasinya. b. Telah dilaksanakan pekerjaan perkuatan dermaga dan pembuatan jalur transtainer antar pulau UTPK Belawan sebagai bagian dari pengelolaan kegiatan bongkar muat peti kemas antar pulau yang mandiri oleh PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. c. Telah dilakukan kerja sama perawatan kesehatan bagi karyawan PT Semen Andalas Indonesia serta 2 (dua) perusahaan lainnya. Disamping itu juga telah 22 dilakukan peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan bagi karyawan medis pada bagian UGD bekerja sama dengan Rumah Sakit Pirngadi. 3. LOGISTIK Dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional guna menunjang kegiatan perusahaan pada tahun 2004, pengadaan kebutuhan logistik yang direalisasikan adalah sebesar Rp14.126,13 juta, yang terdiri dari : a. b. c. d. Biaya bahan bakar dan pelumas Biaya pas pelabuhan Biaya bahan PMK Biaya perlengkapan/suku cadang Rp11.025,98 juta Rp 290,41 juta Rp 125,03 juta Rp 2.684,71 juta 4. PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Rencana program kegiatan bidang penelitian dan pengembangan yang direncanakan akan dilaksanakan tahun 2004 adalah sebagai berikut: a. Pembuatan model dan simulasi untuk keperluan penyusunan anggaran pada Kantor Pusat dan Cabang. b. Penyusunan rolling plan pelabuhan 2004 – 2008, telah diselesaikan RJPP 2004 – 2008 mengacu kepada Keputusan Menteri BUMN No. Kep 102/MBU/2002 dan telah mendapat persetujuan Dewan Komisaris dan saat ini menunggu pengesahan dari Menteri BUMN. 5. SISTEM DAN ORGANISASI Manajemen adalah faktor kunci dalam mengoperasikan jalannya perusahaan, dan dengan memperhatikan kondisi kerja karyawan maka keberhasilan dalam mengendalikan jalannya operasional di seluruh bidang akan lebih mudah dicapai dan akan memberikan dampak kepada keberhasilan kinerja perusahaan yang sehat. Untuk hal tersebut telah direalisasikan beberapa program yang memiliki dampak strategis bagi perusahaan, diantaranya : a. Telah disusun kajian penataan rumah dinas dan tanah diluar DLKR yang belum dimanfaatkan sebagai acuan dalam pengusulan penghapusan aktiva tetap rumah dinas dan tanah, dan telah dilaporkan penghapusan asset rumah dinas dan tanah kepada Pemegang Saham sesuai Surat Direksi No.KU 61/2/14/PI-04 tanggal 23 13 Agustus 2004 sebagai pelaksanaan program penataan rumah dinas dan tanah untuk kepentingan pegawai. b. Melakukan revisi sistem perawatan kesehatan pegawai. c. Telah diselesaikan perjanjian kerjasama antara PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I dengan Serikat Pekerja Pelabuhan Indonesia, yang selanjutnya akan didaftarkan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. d. Telah diselesaikan Keputusan Direksi tentang Struktur Organisasi Kantor Pusat dan Nomenklatur Jabatan Struktural dan Non Struktural Kantor Pusat. e. Telah diselesaikan buku panduan pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG), yang diatur dalam keputusan Direksi, dan telah disosialisasikan ke seluruh pegawai di lingkungan perusahaan. Selain itu telah dilaksanakan assesment penerapan GCG oleh BPKP Perwakilan Sumatera Utara, pada bulan Nopember 2004. 6. SUMBER DAYA MANUSIA Jumlah pegawai PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I per 31 Desember 2004 adalah sebanyak 1.396 orang, sedangkan per 31 Desember 2003 adalah sebanyak 1.432 orang. Jumlah pegawai tahun 2004 tersebut mengalami penurunan sebanyak 36 orang dibanding tahun 2003 yang disebabkan sebagai berikut: a. Pengurangan pegawai pada tahun 2004 terdiri dari: Pegawai pensiun : 39 orang Pegawai meninggal : 3 orang Pegawai berhenti : 2 orang Pegawai pindah ke instansi lain : 3 orang Jumlah 47 orang b. Penambahan pegawai pada tahun 2004 terdiri dari: Penerimaan pegawai : 10 orang Pegawai dari instansi lain : 1 orang Jumlah 11 orang 24 1) Komposisi SDM menurut pusat pelayanan disajikan pada tabel berikut: Sumber Daya Manusia Menurut Pusat Pelayanan No. A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 B 1 2 3 4 C 1 2 3 4 5 6 D Pusat Pelayanan 2004 Operasi Langsung Labuh Tambat Pemanduan Penundaan Air Kapal Telepon Kapal Dermaga Gudang Lapangan penumpukan Pengusahaan Alat Persewaan Alat Usaha Bongkar Muat UTPK (Operasi Kapal) UTPK (Operasi Lapangan) UTPK (Operasi CFS) UTPK (Operasi Lainnya) Tanah Bangunan Air Minum Listrik Pelsus/Dermaga KSO Pas Pelabuhan Rupa-rupa Usaha Rumah Sakit JUMLAH A Operasi Tidak Langsung Divisi komersial Divisi PKB UBM Unit UTPK JUMLAH B Penunjang Operasi GM/MJR/Urusan Umum Div Keuangan Div Teknik Urusan Data & Informasi Unit UTPK Rumah Sakit JUMLAH C Kantor Pusat TOTAL PEGAWAI 0 16 143 130 5 0 16 12 8 38 0 33 21 70 5 0 0 0 0 8 0 0 29 3 32 569 24 75 78 18 195 71 103 115 44 9 15 357 275 1396 0 11 150 133 0 0 12 14 8 30 0 25 21 68 5 0 0 0 3 4 0 0 36 7 33 560 85 67 29 21 202 121 106 89 23 46 12 397 273 1432 0 11 174 125 0 0 13 20 13 29 0 25 31 76 5 0 3 0 3 6 0 0 33 4 32 603 80 101 29 21 231 115 103 86 18 43 12 377 245 1456 Realisasi 2003 RKAP 2004 25 2) Komposisi pegawai menurut pendidikan: No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pusat Pelayanan Pasca Sarjana Sarjana Sarjana Muda SLTA SLTP SD TOTAL Realisasi 2004 95 440 209 562 66 24 1396 2003 88 425 214 611 69 25 1432 RKAP 2004 89 386 232 651 73 25 1456 7. SATUAN PENGAWAS INTERN Dalam rangka melaksanakan tugas pengawasan intern di lingkungan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I, Satuan Pengawas Intern telah melaksanakan beberapa kegiatan diantaranya sebagai berikut : a. Meningkatkan sistem pengawasan dan pemanfaatan hasil pemeriksaan baik pemeriksaan intern maupun ekstern, guna kepentingan manajemen dengan menekankan pada pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan; b. Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) tahun 2004 telah dilaksanakan sesuai target, menerbitkan 18 LHP dengan 83 temuan. Selain itu dilaksanakan pemeriksaan khusus pada Unit Keuangan Kantor Cabang Pelabuhan Malahayati dan menerbitkan 1 (satu) LHP dengan 1 (satu) temuan. Diantara temuan tersebut sebagian besar sudah ditindaklanjuti dan sebagian dalam proses tindak lanjut. 8. KEUANGAN DAN AKUNTANSI Keuangan adalah sebagai penggerak jalannya operasional perusahaan, oleh karenanya haruslah dilakukan perencanaan sebaik-baiknya dan dikendalikan dengan baik pula dengan melakukan monitoring lewat pencatatan akuntansi yang baik dan lazim diterima oleh umum. Untuk itu telah dilakukan beberapa hal berikut : a. Penghapusan aktiva tidak produktif untuk aktiva tetap yang telah berumur 5 tahun telah mendapat persetujuan dari Dewan Komisaris sesuai surat No. KU 61/045/DK/PP.I/IX/2004 tanggal 22 September 2004 dan telah diusulkan penghapusbukuannya kepada Pemegang Saham sesuai surat Direksi No. KU 61/2/14/P.I-04 tanggal 13 Agustus 2004; 26 b. Melanjutkan evaluasi penempatan dana perusahaan, dan hasilnya adalah sampai dengan saat ini penempatan dana masih lebih aman dalam bentuk deposito. Dalam rangka peningkatan pendapatan diluar usaha dilakukan reposisi deposito valuta asing menjadi deposito rupiah dan reposisi rekening giro valuta asing menjadi deposito rupiah; c. Melanjutkan program peningkatan pencairan piutang melalui penagihan secara banking system di cabang pelabuhan Belawan, pengenaan uang panjar pekerjaan jasa tambahan sesuai ketentuan dan intensifikasi penagihan baik secara langsung maupun kerja sama dengan KP2LN; d. RKAP Tahun Buku 2004 mendapat persetujuan dan pengesahan RUPS pada tanggal 29 Desember 2003, serta RKAP Tahun Buku 2005 telah mendapat persetujuan dan pengesahan RUPS pada tanggal 23 Desember 2004; e. Laporan Tahunan dan Perhitungan Tahunan & Penggunaan Laba Bersih Tahun Buku 2003 telah mendapat persetujuan dan pengesahan RUPS pada tanggal 12 Juli 2004 dengan Berita Acara No. BA-44/D2-MBU/2004; f. Pemenuhan kewajiban perpajakan dengan cara penghitungan, penyetoran dan penyampaian SPT Tahunan Badan dan PPh Pasal 21 secara tepat waktu; g. Perhitungan Laba-Rugi 1) Total pendapatan perusahaan (pendapatan operasi dan pendapatan lain-lain bersih) tahun 2004 sebesar Rp472.996,22 juta atau 79,60% dari target sebesar Rp594.222,42 juta; 2) Biaya tahun 2004 sebesar Rp326.292,30 juta dan terdapat biaya luar biasa sebesar Rp3.090,14 juta sehingga jumlah seluruh biaya sebesar Rp329.382,44 juta atau 122,65% dari target sebesar Rp268.547,58 juta; 3) Laba Sebelum Pajak sebesar Rp143.613,76 juta atau 44,10%, dari target sebesar Rp325.674,84 juta. h. Investasi Realisasi investasi tahun 2004 sebesar Rp95.897,21 juta atau 23,43% dari anggaran sebesar Rp409.212,01 juta; i. Neraca Neraca perusahaan per 31 Desember 2004 digambarkan sebagai berikut : 27 (dalam juta rupiah) AKTIVA Aktiva Lancar Aktiva Tetap Akt. Tetap blm dimanfaatkan Biaya yang ditangguhkan Deposito yang dijaminkan Aktiva Lain-lain bersih Jumlah Aktiva JUMLAH 321.732,07 567.475,20 39.691,31 62.194,00 53.436,89 610,08 1.045.139,55 PASIVA Kewajiban Jk Pendek Kewajiban Jk Panjang BPYDBS Ekuitas JUMLAH 71.804,72 75.432,50 1.987,00 895.915,33 Jumlah Pasiva 1.045.139,55 j. Saldo Kas Saldo Kas dan setara kas per 31 Desember 2004 sebesar Rp165.418,98 juta atau 70,23% dibandingkan dengan anggaran sebesar Rp235.537,74 juta. 9. PERPAJAKAN PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I adalah merupakan Badan Usaha Milik Negara yang seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia dan diharapkan akan menjadi salah satu katalisator dalam menggerakkan perekonomian negara. Walaupun bukan lagi sebagai wajib pungut dalam hal perpajakan, PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tetap wajib untuk menyetorkan kepada negara berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dipungut, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), PPh pasal 21, PPh pasal 22, PPh pasal 23, dan PPh Badan pasal 25. Periode tahun 2004 PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I telah menyelesaikan kewajiban membayar pajak kepada negara sebesar Rp115.999,33 juta dengan rincian sebagai berikut : PPN PPB PPh Badan PPh ps 21 PPh ps 22 PPh ps 23 Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.847,97 juta 8.876,45 juta 91.294,32 juta 7.096,55 juta 27,79 juta 5.856,25 juta 115.999.33 juta 28 10. DANA PENSIUN Dalam rangka memperhatikan kesejahteraan karyawan setelah masa purna bhakti di lingkungan perusahaan pelabuhan dan pengerukan, telah dibentuk suatu lembaga yang mengelola Dana Pensiun yaitu Yayasan bersama Dana Pensiun PERUM Pelabuhan I sd IV dan PERUM Pengerukan (YP4) dengan maksud untuk mengelola dan mengembangkan dana guna menjamin dan memelihara kesinambungan penghasilan bagi peserta dan keluarga dalam menyelenggarakan dana pensiun manfaat pasti. Dalam perkembangannya YP4 disesuaikan menjadi Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pengerukan (DP4), berdasarkan UndangUndang Nomor 11 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 76 tahun 1992 serta Keputusan Menteri Keuangan Nomor 227/KMK.017/1993 tanggal 26 Pebruari 1993, telah diadakan kesepakatan sebagaimana dituangkan dalam SK Direksi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia II Nomor HK.56/3/2A/PI.II-93 tanggal 19 Maret 1993 tentang Peraturan Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pengerukan. Susunan dari Dewan Pendiri, Pengawas dan Pengurus Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pengerukan (DP4) adalah sebagai berikut : Pendiri Mitra Pendiri : : Seluruh Direksi PT Pelabuhan Indonesia II; Seluruh Direksi PT Pelabuhan Indonesia I, III (Persero) (Persero) Dewan Pengawas : Ketua (Wakil Pemberi Kerja) Anggota (Wakil Pemberi Kerja) Anggota (Wakil Pemberi Kerja) Anggota (Wakil Pemberi Kerja) Anggota (Wakil Pemberi Kerja) Anggota (Wakil Peserta) Anggota (Wakil Peserta) Anggota (Wakil Peserta) Anggota (Wakil Pensiunan) Anggota (Wakil Pensiunan) : : : : : : : : : : Dr. Wahyu Setiakusumah P. Pudji Hartoyo JD Dunda A. Eddy Hidayat Nurjaman BY Loekito Suparyo Sukasno Hadipurnomo Irwan H Siboro Harmani Nursal 29 Pengurus : Ketua Anggota Anggota : Drs. Ahmad Khamim, MPM : dr. Handojo Soewodo, SE,MM,MBA : Ir. Djoko Sumartono 11. KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I adalah merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara yang diharapkan dapat menjadi katalisator pengerak roda perekonomian negara diantaranya dengan cara melakukan pembinaan usaha kecil dan koperasi. Hal ini dilakukan sesuai Surat Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No.KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan melalui pemanfaatan dana dari pembagian laba Badan Usaha Milik Negara. Tujuan program ini untuk membantu percepatan pertumbuhan perekonomian nasional dengan cara mendorong pelaku ekonomi tingkat menengah dan kecil agar tidak terjadi kesenjangan, sehingga diharapkan akan dapat tercipta kemitraan antara Badan Usaha milik Negara (BUMN) dengan Pengusaha Kecil dan Koperasi. Direksi PT Pelabuhan Indonesia I telah mengeluarkan Surat Keputusan Direksi No. PR.01/1/10/PI-04 tanggal 8 April 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pada Kantor Pusat yang didalamnya juga diatur mengenai PKBL. a. Dana Kemitraan yang tersedia Tahun 2004 Realisasi dana kemitraan yang tersedia untuk tahun 2004 sebesar Rp8.813,22 juta dengan rincian dalam tabel berikut : (dalam juta rupiah) KETERANGAN Saldo dana awal tahun 2004 Sisa Penyisihan Laba tahun 2002 Alokasi Penyisihan Laba yang Diterima Penerimaan Pengembalian Pokok Pinjaman Penerimaan Pokok Pinjaman dari Piutang bermasalah Penerimaan dari Mitra Binaan yang belum diketahui Penerimaan uang dari BUMN Penerimaan dari kas perusahaan Penerimaan bunga pinjaman Penerimaan jasa giro Lain-lain Jumlah Dana Kemitraan Tersedia JUMLAH 769,62 Rp 500,00 Rp Rp 1.219,00 Rp 5.580,83 70,89 Rp 32,91 Rp 1,00 Rp 2,95 Rp 587,72 Rp 47,95 Rp 0,35 Rp Rp 8.813,22 30 b. Penggunaan Dana Kemitraan Penggunaan dana program kemitraan periode Januari sampai dengan Desember 2004 dapat digambarkan sebagai berikut : (dalam juta rupiah) KETERANGAN Pinjaman pada Mitra Binaan - Pengusaha Kecil - Koperasi Dana Penjaminan KUM-LTA Uang Muka Bina Lingkungan Hibah Biaya Operasi (Pembelian Aktiva Tetap) Jumlah Penggunaan Dana JUMLAH Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 6.591,10 848,00 18,34 269,69 281,33 8.008,46 c. Realisasi Penyaluran dan Penyebaran Dana Kemitraan Rencana penyaluran yang dianggarkan sesuai dengan surat Menteri BUMN No. S-88/MBU.S/2004 tanggal 31 Maret 2004 tentang penetapan alokasi dana Program Kemitraan di setiap propinsi tahun 2004 untuk Pelindo ditetapkan sebesar Rp9.736,00juta. Realisasi penyaluran dan penyebaran dana program kemitraan pada tahun 2004 telah disalurkan bantuan pinjaman kepada Mitra Binaan dalam bentuk bantuan modal kerja sebesar Rp6.591,10 juta dan hibah sebesar Rp269,69 juta atau total penyaluran dana sebesar Rp6.860,79 juta atau 70,47% dari rencana dengan rincian sebagai berikut : WILAYAH Nanggroe Aceh Darusalam Sumatera Utara Riau JUMLAH RENCANA 365,00 4.626,00 4.745,00 9.736,00 (dalam juta rupiah) REALISASI % 534,90 146,55 4.285,39 92,64 2.040,50 43,00 6.860,79 70,47 d. Bina Lingkungan Pihak manajemen perusahaan berupaya untuk memperhatikan masyarakat di sekitar lingkungan kerja PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I dengan menganggarkan dana untuk program Bina lingkungan sebesar Rp1.931,00 juta dan telah terealisasi sebesar Rp2.101,37 juta antara lain dengan memberikan 31 bantuan dalam bentuk bantuan korban bencana alam, bantuan pendidikan dan pelatihan, bantuan peningkatan kesehatan, pengembangan prasarana dan sarana umum, bantuan sarana ibadah. 12. TINDAK LANJUT KEPUTUSAN RUPS Dalam pengarahan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tanggal 29 Desember 2003 tentang Pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Tahun 2004 disampaikan beberapa arahan yang telah ditindaklanjuti antara lain : a. Sesuai Master Plan BUMN tahun 2002-2006, tahun 2004 merupakan tahun kedua tahap revitalisasi bisnis dengan fokus kepada: 1) Peningkatan shareholder value dengan sasaran peningkatan ROCE, EBITDA dan Deviden. Tindak Lanjut: - Telah dilakukan upaya peningkatan pendapatan melalui penataan pengusahaan tanah di pelabuhan, penataan dan perkuatan dermaga antar pulau dan penyesuaian tariff handling peti kemas (UPTK Belawan), peningkatan pangsa pasar UBM (Unit Bongkar Muat) cabang Belawan serta efektifitas pungutan dan penyesuaian tariff pas terminal penumpang di cabang Pelabuhan Tanjung Balai Karimun dan Tanjung Pinang. - Telah dilakukan reprogram RKAP dan investasi tahun 2004 dalam rangka melakukan efisiensi dan pengendalian biaya. - Dalam rangka perampingan asset tidak produktif, telah disetujui penghapusan aktiva tetap umur 5 tahun sesuai surat Dewan Komisaris No. KU 61/045/DK/PP.I/IX/2004 tanggal 22 September 2004, dan saat ini dalam persiapan proses penjualan. 2) Efektif manajemen dengan pemberian kewenangan yang lebih luas dan bertanggung jawab kepada manajemen. Tindak Lanjut: Telah dilaksanakan pemberian wewenang kepada General Manager (Manager Cabang) untuk melaksanakan kegiatan pelayanan operasional dengan berpedoman kepada: 32 - Kegiatan pelayanan kapal Kegiatan pelayanan barang Kegiatan pelayanan penumpang dan hewan 3) Peningkatan operasional excellence Tindak Lanjut: - Melaksanakan kerjasama pengelolaan gudang di Dumai dan optimalisasi penggunaannya serta merubah lokasi gudang menjadi Container Yard (CY) di UTPK Belawan. - Memberi jaminan kedalaman alur pelabuhan Belawan melalui kontrak kerjasama dengan PT Rukindo. - Membuat kajian penataan kapal tunda di lingkungan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. 4) Penyempurnaan sistem transparansi procurement. Tindak Lanjut: Telah dilaksanakan penyempurnaan penyampaian informasi lelang secara lengkap dan detail melalui website PT Pelindo I yang dihubungkan dengan kepada website Kementerian BUMN dan Departemen Perhubungan. 5) Lanjutan restrukturisasi dan privatisasi Tindak Lanjut: - Telah selesai dilaksanakan kajian penataan dan pengembangan pelabuhan Belawan dan penelitian optimalisasi UTPK Belawan. - Telah selesai dilaksanakan kajian pengoperasian dan pemilikan dermaga PT Asean Aceh Fertilizer Lhokseumawe, sedangkan penyerahan dan pengoperasian sarana dan prasarana pelabuhan tersebut ke cabang Pelabuhan Lhoksumawe dalam proses administrasi. - Telah dilaksanakan kajian peningkatan status perairan pandu luar biasa menjadi perairan wajib pandu pada pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Saat ini Surat Keputusan Menteri Perhubungan sedang ditangani oleh Biro Hukum Departemen Perhubungan. - Telah dilaksanakan kajian ulang alih status Unit Pelaksana Teknis (UPT) pelabuhan Sei Guntung dan UPT pelabuhan Tanjung Batu selanjutnya diusulkan agar statusnya tetap sebagai UPT Departemen Perhubungan. 33 b. Mengingat taksasi realisasi pencapaian target RKAP tahun 2003 yang cukup rendah, dimana hal ini merupakan salah satu tolok ukur kinerja manajemen dalam menjalankan usahanya, maka Direksi dan Komisaris dalam tahun 2004 agar lebih memperhatikan target-target kinerja yang telah ditetapkan dalam RUPS dan mengupayakan pencapaiannya lebih optimal. Tindak Lanjut: Telah dilakukan pembahasan kinerja cabang pelabuhan andalan dan pelabuhan lainnya sebagai langkah monitoring dan evaluasi pelaksanaan RKAP 2004. c. Dalam rangka mengoptimalkan pendapatan perusahaan, maka Direksi beserta jajarannya agar menerapkan prinsip ‘taat azaz’ dalam pencatatan pendapatan perusahaan. Tindak Lanjut: Telah dilaksanakan rapat kerja tahun 2004 yang bertema peningkatan produktivitas melalui optimalisasi pendapatan dan pelaksanaan GCG dan taat pada azas. d. Mengingat kecenderungan biaya perusahaan yang meningkat setiap tahunnya akibat inflasi dan peningkatan volume produksi, maka perlu ditingkatkan kesadaran untuk pengendalian biaya dari seluruh jajaran perusahaan, terutama terhadap biaya dominan melalui cost reduction program dan cost cutting program. Tindak Lanjut: - Telah dilakukan pengawasan intensif terhadap pendapatan dan biaya dengan mengadakan evaluasi bulanan pada segmen usaha, serta menunda kegiatan dan pengeluaran biaya yang tidak mengganggu kegiatan operasional pelabuhan melalui selektifitas kegiatan. - Telah dilakukan reprogram RKAP dan investasi tahun 2004 dalam rangka melakukan efisiensi dan pengendalian biaya. e. Investasi yang dilakukan perusahaan agar mengacu pada master plan masingmasing cabang dan pelaksanaannya agar memperhatikan skala prioritas dan kesinambungan dari investasi tersebut. Tindak Lanjut: 34 - Telah dilaksanakan seleksi investasi dan pengendalian anggaran untuk efisiensi dan efektivitas pelaksanaan investasi. f. Sehubungan dengan rencana pembentukan anak perusahaan ‘National Logistic System’, Direksi agar mengkaji rencana tersebut dengan komprehensif dan berkoordinasi dengan BUMN terkait. Tindak Lanjut: Dalam proses inventarisasi, penyiapan pengkajian dilaksanakan dengan BUMN terkait dan akan disampaikan kepada Kementeri BUMN. g. Berkenaan dengan Program Kemitraan dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, Direksi diminta memperhatikan hal-hal berikut: 1) Revisi Program Kemitraan yang dapat dilakukan perusahaan terbatas pada penambahan/pengurangan besarnya dana yang disalurkan yang berkaitan dengan perubahan realisasi penerimaan/sumber dana. Sedangkan revisi terhadap daerah binaan perlu mendapat persetujuan dari Menteri BUMN. Perubahan pada penyaluran dana Bina Lingkungan disesuaikan dengan kebutuhan. Tindak Lanjut: Penyaluran dana kemitraan ke masing-masing wilayah binaan disesuaikan dengan dana yang tersedia dan terkait dengan tingkat kolektibilitas dan distribusi laba yang disesuaikan dengan alokasi dana yang ditetapkan Kementerian BUMN. 2) Pinjaman yang dikategorikan macet dan akan dipindahkan pencatatannya ke dalam pos pinjaman bermasalah agar diinvestarisasi terlebih dahulu melalui survei lapangan dan mengumpulkan data pendukungnya agar dapat memenuhi kondisi dan kriteria yang dipersyaratkan dalam ketentuan yang berlaku. Tindak Lanjut: Saldo pinjaman macet yang berumur 5 tahun per 31 Desember 2003 telah dipindahkan kedalam pos pinjaman bermasalah dan tetap menjadi perhatian untuk penagihannya ke mitra binaan yang bersangkutan disamping melakukan inventarisasi pinjaman macet yang dapat dikategorikan bermasalah dan penagihannya bekerja sama dengan KP2LN. 35 3) Program Bina Lingkungan bagi masyarakat disekitar perusahaan agar dapat diselaraskan dengan kebutuhan perusahaan dalam rangka menciptakan iklim usaha yang kondusif. Tindak Lanjut: Program Bina Lingkungan dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat umum di lingkungan perusahaan seperti rehabilitasi jalan, sarana ibadah serta bantuan pendidikan untuk mempererat hubungan masyarakat di lingkungan kerja perusahaan. 4) Dalam rangka evaluasi dan monitoring pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, maka Direksi diminta menyampaikan secara rutin dan tepat waktu laporan triwulanan atas pelaksanaan RKA Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Tindak Lanjut: Pelaksanaan atas Program Kemitraan dan Bina Lingkungan secara periodik dilaporkan sesuai jadwal dan ketentuan yang berlaku, bersamaan dengan penyampaian Laporan Manajemen Perusahaan triwulanan. h. Dalam rangka pelaksanaan efisiensi biaya dan mendukung sinergi antar BUMN Kepelabuhanan, perlu dikaji pembentukan Balai Latihan Kerja Bersama antara PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I, II, III dan IV. Tindak Lanjut: Telah diadakan koordinasi Pelabuhan I, II, II dan IV dalam rangka pembentukan Balai Latihan Kerja Bersama. i. Dalam rangka mendukung penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan menindaklanjuti kebijakan yang telah ditetapkan oleh Kementerian BUMN, maka program e-procuremet dalam proses pengadaan barang dan jasa di perusahaan sudah harus diimplementasikan di tahun 2004. Tindak Lanjut: - Telah diselesaikan buku panduan dalam penerapan GCG. - Telah dilakukan penyempurnaan penyampaian informasi lelang secara lengkap dan detail melalui website PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. - Telah dilaksanakan assessment penerapan good corporate governance oleh BPKP Sumatera Utara, pada bulan Nopember 2004. 36 j. Kerja sama usaha ship transit anchorage area di perairan Nipah Selat Singapura yang belum terealisasi di tahun 2003, agar menjadi perhatian manajemen dan diupayakan dapat terealisasi di tahun 2004. Sebaiknya perlu ditunjuk salah seorang Direksi sebagai penanggung jawab penuh atas pelaksanaan program dimaksud. Tindak Lanjut: Telah dilakukan renegosiasi dengan PT Maxsteer Dyrynusa Perdana untuk kelanjutan pelaksanaan kerja sama. 37 BAB IV ASPEK STRATEGIS PERUSAHAAN 1. INVESTASI PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I merupakan salah satu pintu gerbang lalu lintas para pengguna jasa laut, oleh karenanya akan selalu dituntut memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengguna jasa. Dalam rangka menghadapi pasar global yang tidak dapat dihindari oleh negara manapun, di mana pola kehidupan dan bisnis akan selalu menuju ke arah modernisasi, maka PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I juga tidak terlepas dari kondisi yang semakin maju sesuai dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Oleh karena itu pihak manajemen dalam rangka memberikan layanan jasa terbaiknya untuk mengantisipasi perubahan tersebut telah merealisasikan anggaran investasinya untuk kegiatan program sebagai berikut : ANGGARAN (Rp) (dalam juta rupiah) REALISASI % (Rp) No. I. A. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. PROGRAM INVESTASI DANA INTERNAL INVESTASI FISIK Bangunan Fasilitas Pelabuhan AMDAL dan lain-lain Alat-alat fasilitas Instalasi Fasilitas Pelabuhan Tanah Jalan dan Bangunan Peralatan Kendaraan JUMLAH INVESTASI FISIK B. INVESTASI NON FISIK 1. Pengembangan Usaha 2. Pengembangan organisasi & SDM 3. Pengembangan sistem 4. Pelestarian Lingkungan JUMLAH INVESTASI NON FISIK JUMLAH INVESTASI DANA INTERN 40.324,26 27.723,45 30.366,71 560,28 14.191,60 1.079,19 864,00 115.109,49 1.150,00 3.660,34 5.092,85 775,00 10.678,19 125.787,68 44.586,25 17.943,72 963,51 1.278,34 19.518,50 944,18 1.076,94 86.311,44 766,16 3.096,01 5.091,54 632,06 9.585,77 95.897,21 110,57 64,72 3,17 228,16 137,54 87,49 124,65 74,98 66,62 84,58 99,97 81,56 89,77 76,24 38 II. 1. 2. 3. INVESTASI DANA EKSTERNAL Bangunan Fasilitas Pelabuhan Alat Fasilitas Pelabuhan Instalasi Fasilitas Pelabuhan JUMLAH INVEST DANA EKST JUMLAH INVESTASI 155.504,32 54.825,00 73.095,00 283.424,32 409.212,00 95.897,21 23,43 Total realisasi kegiatan investasi tahun 2004 sebesar Rp95.897,21 juta, yaitu 23,43% atau lebih rendah sebesar Rp313.332,79 juta dari anggaran sebesar Rp409.212,00 juta. Tidak tercapainya anggaran disebabkan tidak diperolehnya pendanaan dari pihak eksternal untuk melakukan investasi. Dibandingkan dengan realisasi tahun 2003 sebesar Rp113.148,23 juta yang mencapai 80,75% dari anggarannya, maka realisasi investasi 2004 mengalami penurunan sebesar Rp17.251,02 juta atau 15,25% dari tahun 2003. 2. KERJA SAMA Dalam rangka menghadapi bisnis global yang sedang terjadi saat ini, pihak manajemen PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I dituntut untuk melaksanakan efisiensi dengan harapan perusahaan dapat bersaing dalam kancah bisnis yang sangat ketat, sehingga harus memperluas jaringan bisnisnya dengan semua pihak baik dengan partner bisnis yang ada di dalam maupun luar negeri dengan prinsip saling menguntungkan. Oleh karena itu manajemen telah melakukan kerjasama dengan beberapa pihak, di antaranya : a. Kerjasama Sesama BUMN Kerjasama sesama Badan Usaha Milik Negara antara lain : 1) PT Pertamina untuk kerja sama bunkering BBM. 2) PT (Persero) Batam untuk kerja sama pemanduan dan penundaan. b. Kerjasama Dengan Mitra Usaha Lain Kerja sama dengan PT Banda Ghara Reksa dalam penyediaan gudang di pelabuhan Dumai. 39 3. REKSTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI Berdasarkan Master Plan BUMN tahun 2002 – 2006, strategi utama pengembangan BUMN dilakukan dalam 3 (tiga) tahap, yaitu tahap konsolidasi (tahun 2002), tahap revitalisasi bisnis (tahun 2003-2004) dan tahap pertumbuhan (tahun 2005-2006). Program-program yang telah dilaksanakan pada tahun 2004 dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Koordinasi dan Monitoring Koordinasi secara periodik telah dilaksanakan antara Direksi, Dewan Komisaris dan Pemegang Saham mengacu pada agenda kegiatan tahun 2004 yang sebelumnya telah disusun dan ditetapkan bersama dengan Dewan Komisaris. b. Akselerasi dan Penyehatan 1) Rekstrukturisasi. a) Usaha Bisnis (1) Telah dilaksanakan kajian penataan dan pengembangan cabang pelabuhan Belawan dan penelitian optimalisasi Unit Terminal Peti Kemas Belawan. (2) Telah dilaksanakan kajian pengoperasian serta pemilikan dermaga PT Asean Aceh Fertilizer oleh PT (Perser) Pelabuhan Indonesia I. (3) Telah dilaksanakan kajian peningkatan status perairan pandu luar biasa menjadi perairan wajib pandu pada Cabang Pelabuhan Tanjung Balai Karimun dan saat ini konsep Surat Keputusan Menteri Perhubungan sedang dalam penanganan Biro Hukum Departemen Perhubungan. (4) Telah dilaksanakan kajian ulang mengenai alih status Unit Pelaksana Teknis (UPT) pelabuhan Sei Guntung dan UPT pelabuhan Tanjung Batu. Selanjutnya status UPT Pelabuhan Sei Guntung dan UPT Pelabuhan Tanjung Batu diusulkan tetap sebagai UPT Departemen Perhubungan sebagaimana kondisi eksisting saat ini. b) Keuangan (1) Dalam rangka perampingan asset perusahaan, telah dilaksanakan usaha penghapusan aktiva tetap tidak produktif, untuk aktiva yang berumur 5 (lima) tahun keatas. 40 (2) Guna meningkatkan pendapatan di luar usaha, telah dilaksanakan evaluasi penempatan dana perusahaan dan telah dilaksanakan reposisi deposito valuta asing dan giro valuta asing. (3) Telah dilaksanakan upaya peningkatan pencairan piutang melalui penagihan secara banking system di Cabang Pelabuhan Belawan, pengenaan uang panjar tambahan sesuai ketentuan dan intensifikasi penagihan baik langsung maupun kerja sama dengan KP2LN. c) Manajemen (1) Telah disusun kajian penataan rumah dinas dan tanah di luar DLKR yang belum dimanfaatkan untuk kepentingan pegawai. (2) Sehubungan dengan rencana revisi system perawatan kesehatan pegawai, telah disusun analisis alternative system perawatan kesehatan pegawai. (3) Telah diselesaikan perjanjian kerja bersama antara PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I dengan Serikat Pekerja Pelabuhan Indonesia, yang selanjutnya akan didaftarkan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. d) Organisasi (1) Telah diterbitkan Keputusan Direksi No.PR.01/1/10/PI-04 tanggal 8 April 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja pada Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. (2) Telah diterbitkan Keputusan Direksi No. KP 31/9/13/PI-04 tanggal 8 April 2004 tentang Nama, Kelas, Uraian Tugas dan Persyaratan Jabatan untuk Jabatan Sturktural pada Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. (3) Telah diterbitkan Keputusan Direksi No. KP 31/9/19/PI-04 tanggal 14 April 2004 tentang Nama, Kelas, Uraian Tugas dan Persyaratan Jabatan untuk Jabatan Non Struktural pada Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. (4) Telah dilaksanakan up dating ijasah pandu berjumlah 40 orang di Departemen Perhubungan. 41 (5) Telah dilaksanakan up dating ijasah pelaut sejumlah 13 orang di P3IP Jakarta dan pelaksanaan ANT/ATT Dasar sejumlah 37 orang ABK di Belawan. (6) Telah dilaksanakan pendidikan ANT/ATT V di BP3IP Jakarta, yang diikuti oleh ABK dari cabang Belawan dan Dumai sejumlah 3 orang. (7) Telah dilaksanakan ujian pandu Bandar oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut di Cabang Pelabuhan Dumai yang diikuti sebanyak 9 orang. 2) Merger dan Akuisisi Telah dilaksanakan kajian awal dan pembahasan, sedangkan untuk kajian lebih lanjut yang bersifat komprehensif menunggu arahan dari Direksi dan Pemegang Saham. 3) Kerjasama antar Badan Usaha a) Telah dilakukan proses pembentukan Unit Pelayanan Bunkering Terpadu sebagai mitra kerja sama bunkering di cabang pelabuhan Belawan dengan PT Pertamina dan akan dilanjutkan pada tahun 2005. b) Telah disiapkan konsep kerja sama pemanduan dan penundaan dengan PT (Persero) Batam, proses selanjutnya dilaksanakan tahun 2005. c) Telah disiapkan konsep MOU kerja sama pengelolaan terminal penumpang dan telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Proses selanjutnya masih menunggu hasil evaluasi dari Pemerintah Kabupaten Bengkalis. c. Pelaksanaan Good Corporate Governance Program kegiatan yang telah dilaksanakan tahun 2004 sehubungan dengan pelaksanaan good corporate governance (GCG) antara lain: a) Telah diselesaikan buku panduan pelaksanaan GCG yang diatur dalam Keputusan Direksi. b) Telah dilaksanakan sosialisasi GCG pada seluruh pegawai di lingkungan perusahaan. c) Telah dilaksanakan penilaian penerapan GCG oleh BPKP. 42 d. Transparansi dalam pembinaan dan pengelolaan Badan Usaha melalui program BUMN On Line, yaitu : 1) Telah disediakan website PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I dengan nama http://www.inaport1.co.id yang terkoneksi dengan jaringan internet dan telah dilakukan link dengan website Kementerian BUMN dan website Departemen Perhubungan. 2) Telah dilaksanakan uji coba dan sosialisasi implementasi intranet PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I terhitung mulai tanggal 1 Juni 2004. 3) Telah dilaksanakan implementasi program aplikasi general ledger dalam pengelolaan transaksi keuangan pada Kantor Pusat, Cabang Pelabuhan Belawan dan UTPK. Selanjutnya akan diintegrasikan dengan aplikasi front office SIMOK di Cabang Pelabuhan Belawan dan SIM UTPK. 4) Sedang dilaksanakan uji coba aplikasi SIMPERS yang dapat diakses lewat internet. 5) Telah dilaksanakan sosialisasi program aplikasi SIM tanah dan perairan dalam rangka pengelolaan asset tanah dan bangunan. e. Kebijakan Otonomi Daerah. Kebijakan Otonomi Daerah yang dilaksanakan perusahaan kepada Pemerintah Daerah/Kota tetap mengacu kepada kebijakan/arahan pemegang saham sesuai Surat Menteri BUMN No. S-756/M.BUMN/02 tanggal 19 Nopember 2002, perihal Kebijakan Pemegang Saham tentang Kontribusi Pendapatan BUMN kepada Pemerintah Daerah/Kota. f. Reformasi pengelolaan Badan Usaha a) Reformasi budaya, telah dilakukan sosialisasi, implementasi dan penilaian pelaksanaan prinsip-prinsip GCG di dalam pengelolaan perusahaan. b) Reformasi manajemen, telah dilaksanakan penyempurnaan dan pengembangan beberapa SIM perusahaan, diantaranya SIMOK, SIMPERS, SIMKEU dan SIMUTPK, serta telah diselesaikan draft perjanjian kerja bersama dengan Serikat Pekerja Pelabuhan Indonesia I. c) Reformasi strategi, telah dilakukan penataan terminal peti kemas dengan melakukan perkerasan dermaga antar pulau di Gabion Belawan. 43 d) Reformasi pengelolaan usaha, telah dilaksanakan penyederhanaan melalui restrukturisasi organisasi kantor pusat. 44 BAB V PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN Tingkat kesehatan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I dinilai dengan mengacu pada Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN. Tingkat kesehatan BUMN digolongkan menjadi : 1. Sehat Perusahaan yang memiliki Total Skor (TS) Kinerja tahun terakhir antara 80 sampai lebih besar dari 95 dengan kriteria golongan sebagai berikut : AAA apabila TS lebih besar dari 95 AA apabila 80 < TS < = 95 A apabila 65 < TS < = 80 2. Kurang sehat Perusahaan yang memiliki Total Skor (TS) Kinerja tahun terakhir antara 40 sampai dengan 65 dengan kriteria golongan sebagai berikut : BBB apabila 50 < TS < = 65 BB apabila 40 < TS < = 50 B apabila 30 < TS < = 40 3. Tidak sehat Perusahaan yang memiliki Total Skor (TS) Kinerja tahun terakhir antara 10 sampai dengan 30 dengan kriteria golongan sebagai berikut : CCC apabila 20 < TS < = 30 CC apabila 10 < TS < = 20 C apabila 0 < TS < = 10 Tingkat Kesehatan BUMN ditetapkan berdasarkan penilaian terhadap kinerja perusahaan untuk tahun buku yang bersangkutan yang meliputi penilaian : a. Aspek Keuangan b. Aspek Operasional c. Aspek Administrasi 45 1. BOBOT TINGKAT KESEHATAN Bobot Tingkat kesehatan Badan Usaha Milik Negara yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/ MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 adalah sebagai berikut : a. Aspek Keuangan Indikator aspek keuangan berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 yang dinilai meliputi unsur-unsur kegiatan yang dianggap paling dominan dalam rangka menunjang keberhasilan operasi sesuai dengan visi dan misi perusahaan adalah sebagai berikut : Indikator yang digunakan Return on Equity (ROE) Return on Investment (ROI) Rasio Kas Rasio Lancar Collection periods Perputaran persediaan Perputaran Total Aset Rasio Modal Sendiri Thd. Total Aset Jumlah Skor Aspek Keuangan b. Aspek Operasional Indikator aspek operasional berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 yang dinilai meliputi unsur-unsur kegiatan yang dianggap paling dominan dalam rangka menunjang keberhasilan operasi sesuai dengan visi dan misi perusahaan adalah sebagai berikut : Indikator yang digunakan Bobot Pelayanan Kepada Pelanggan 15 Peningkatan Kualitas SDM 10 Kesiapan Sarana/Prasarana Produksi 10 Jumlah Skor Aspek Operasional 35 Bobot 15 10 3 4 4 4 4 6 50 46 c. Aspek Administrasi Indikator aspek administrasi berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 yang dinilai meliputi unsur-unsur kegiatan yang dianggap paling dominan dalam rangka menunjang kelancaran administrasi perusahaan adalah sebagai berikut : Indikator yang Digunakan Laporan Perhitungan Tahunan Rencana RKAP Laporan Periodik Kinerja PKBL Jumlah Skor Aspek Administrasi Bobot 3 3 3 6 15 Dalam aspek administrasi, indikator yang dinilai meliputi : 1) Penilaian Laporan Perhitungan Tahunan berkaitan dengan ketepatan waktu penyampaian Laporan Audit. 2) Penilaian Rancangan Rencana Kerja dan Anggaran perusahaan (RKAP) berkaitan dengan ketepatan waktu penyampaian Rancangan RKAP. 3) Penilaian Laporan Periodik berkaitan dengan ketepatan waktu penyampaian Laporan periodik Triwulanan. 4) Penilaian Kinerja Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) berkaitan dengan efektifitas penyaluran dana dan tingkat kolektibilitas penyaluran pinjaman. 2. PERHITUNGAN INDIKATOR DAN NILAI KINERJA KEUANGAN Perhitungan tingkat kesehatan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I mengacu pada Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/ MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN, merupakan acuan yang dijadikan tolok ukur untuk menilai tingkat kesehatan dengan komponen sebagai berikut : a. Aspek Keuangan 1) Perhitungan Kinerja Keuangan a) Imbalan kepada Pemegang Saham (ROE) 47 Adalah ukuran yang digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan perusahaan dalam rangka memenuhi kewajiban kepada pemegang saham dengan perhitungan sebagai berikut : = Laba Stl Pajak – Laba Penj Akt Tetap Mod Sendiri + BPYDBS – Akt Tetap Dlm Penyelesaian Akt. Blm Dimanfaatkan - Laba Th Bjln x 100% = 113.683.037.054 – 5.153.633.886 895.915.328.346 + 1.987.008.600 – 59.246.049.813 – 39.691.307.573 – 26 - 113.683.037.054 x 100% = 108.529.403.168 685.281.942.480 x 100% = 15,84% Skor : 15 b) Imbalan Investasi / Return on Investment (ROI) Adalah ukuran yang digunakan untuk menghitung tingkat kemampuan perusahaan dalam rangka mengembalikan investasi yang telah ditanamkan dengan perhitungan sebagai berikut : = EBIT + Penyusutan Capital Employed x 100% = (Laba Sbl Bunga&Pjk – Laba Penj AT) + Penyusutan Total Aktiva – AT dlm pelaksanaan-Akt blm dimanfaatkan (146.703.905.037 + 2.995.799.841 – 5.153.633.886) + 68.098.923.450 1.045.139.552.845 – 59.246.049.813 – 39.691.307.573 - 26 212.644.994.442 946.202.195.433 x 100% 22,47 x 100% = x 100% = = Skor : 10 48 c) Rasio Kas / Cash Ratio (Immediate Solvency) Adalah ukuran yang digunakan untuk menghitung tingkat kemampuan perusahaan atas dana liquid yang dimiliki dalam rangka memenuhi kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya dengan perhitungan sebagai berikut : = Kas + Bank + Surat Berharga Jk Pendek x 100% Kewajiban Lancar 165.418.984.164 + 4.747.807.365 71.804.718.326 170.166.791.529 71.804.718.326 = x 100% = x 100% = 236,99% Skor : 3 d) Current Ratio Adalah ukuran yang digunakan untuk menghitung tingkat kemampuan perusahaan menggunakan aktiva lancar untuk memenuhi kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya dengan perhitungan sebagai berikut: = Aktiva Lancar Kewajiban Lancar 321.732.072.614 71.804.718.326 x 100% = x 100% = 448,07% Skor : 4 e) Collection Periods Adalah ukuran yang digunakan untuk menghitung waktu rata-rata pengumpulan piutang perusahaan dalam menagih piutang usahanya kepada pihak pengguna jasa dengan perhitungan sebagai berikut : Collection Period (2003) = Total Piutang Usaha Total Pendapatan Usaha x 365 hari 49 = 19.111.401.019 423.910.388.293 x 365 hr = 16,46 hr Collection Period (2004) = 20.975.559.243 455.299.412.968 x 365 hr = 16,82 hr Skor collection period 2004 = 4 Perbaikan Collection Period = (0,36) hari -Skor yang dipilih : 4 Skor : 0 f) Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over) Adalah ukuran yang digunakan untuk menghitung tingkat perputaran persediaan yang digunakan untuk operasional perusahaan dengan perhitungan sebagai berikut : Total Persediaan Total Pendapatan Usaha Perputaran Persediaan (2003) = x 365 hari = 2.745.244.765 423.910.388.293 x 365 hr = 2,36 hr Perputaran Persediaan (2004) = 1.691.609.915 455.299.412.968 x 365 hr = 1,36 hr Skor Perputaran Persediaan 2004 = 4 Perbaikan Perputaran Persediaan = 1 hari -Skor yang dipilih : 4 g) Perputaran Total Asset (Total Asset Turn Over) Skor : 0 Adalah ukuran yang digunakan untuk menghitung tingkat perputaran asset yang digunakan dalam rangka memperoleh pendapatan perusahaan dengan perhitungan sebagai berikut : 50 TATO (2003) = Total Pendapatan Capital Employed x 365 hari = Pend Usaha + Pend. non Usaha – Laba Penj AT Capital Employed 455.299.412.968 + 31.824.482.407 – 5.153.633.886 946.202.195.433 x 100% TATO (2004) = x 100% = 50,94% Skor TATO 2004 = 1,5 h) Rasio Total modal Sendiri Terhadap Total Assets Adalah ukuran yang digunakan untuk menghitung tingkat solvabilitas perusahaan likuiditas jangka panjang terhadap total aktiva dengan perhitungan sebagai berikut : TMS thd Aset = Total Modal Sendiri Total Aset – Dana yg Blm ditetapkan statusnya 895.915.328.346 1.045.139.552.845 – 1.987.008.600 895.915.328.346 1.043.152.544.245 x 100% TMS thd Aset = x 100% TMS thd Aset = Skor : 4 b. Aspek Operasional x 100% = 85,89% 1) Perhitungan Kinerja Operasional Rencana Kerja dan Anggaran PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tahun 2004 disampaikan oleh Direksi kepada Menteri Negara BUMN dengan surat No. KU.60/8/8/PI-03 tanggal 28 Oktober 2003 yang pengesahannya telah dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham pada tanggal 51 29 Desember 2003. Untuk merealisasikan RKAP tersebut Direksi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I telah melaksanakan Kontrak Kerja Manajemen dengan Kepala Cabang di lingkungan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I yang berisi penetapan dan pelaksanaan Aspek Operasional PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Tolok ukur yang yang digunakan dalam menentukan kinerja operasional perusahaan adalah mengacu kepada Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP.100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002, dan skor atas kinerja aspek operasional tampak sebagai berikut : No. I. Indikator Bobot Anggaran 2004 Realisasi 2004 Nilai % Kualifikasi Skor Pelayanan Kpd pelanggan/masyarakat: 1. Waiting Time (WT) 2. Berthing Time (BT) 3. Productivity general cargo 4. Productivity c/h container Sub Jumlah pelayanan II. 1. a b c Peningkatan kualitas SDM: Produktivitas Jml barang per orang Jml grt kapal per orang Jml pendpt usaha per orang Sub Jumlah produktivitas Diklat (peserta/jml SDM tot) Kesejahteraan (Jml THP peg terendah/UMR KP) Sub Jumlah kualitas SDM III. 1. 2. 3. 4. Kesiapan Sarana/Prasarana Dermaga penumpukan Gudang Lapangan Penumpukan Alat B/M, CC dan TT/Peti kemas 5. Alat apung (kapal tunda dan kapal pandu) Sub Jml Sarana/prasarana Tot Skor Aspek Operasional 2. 3. 4 6 2,5 2,5 15 1,70 jam/kpl 55,40 jam/kpl 24,70 t/g/h 22,00 t/g/h 1,57 jam/kpl 54,44 jam/kpl 28,71t/g/h 23,53 t/g/h 92,35 98,27 116,23 106,95 Baik Sekali Baik Sekali Baik Sekali Baik Sekali 4 6 2,5 2,5 15 1 1 2 4 3 3 10 16.462,20 ton/org 109.537,79 grt/org 471.598.174 Rp/org 19.035,88 ton/org 115,63 101.319,69 grt/org 92,50 406.154.695 86,12 Rp/org Baik Baik Baik 1 0,9 1,6 3,5 17,93% 1,76 19,63% 1,77 109,49 100,37 Baik Sekali Baik Sekali 3 3 9,5 3 1 2 2 2 10 35 85,51 86,00 86,88 93,57 77,57 Baik Sekali Baik Sekali Baik Sekali Baik Sekali Baik 3 1 2 2 2 10 34,50 52 c. Aspek Administrasi Adalah ukuran yang dipakai untuk menghitung tingkat kinerja Administrasi perusahaan sehingga memberikan gambaran bahwa Administrasi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I telah dilaksanakan seperti di bawah ini : 1) Laporan Keuangan Tahunan (Audited) Penentuan nilai adalah berdasarkan ketepatan penyampaian Laporan Keuangan, dengan daftar penilaian waktu penyampaian Laporan Audit sebagai berikut : Jangka Waktu Laporan Audit Diterima - S/d akhir bulan keempat perhitungan tahunan ditutup sejak tahun buku Skor 3 2 0 - S/d akhir bulan kelima sejak tahun buku perhitungan tahunan ditutup - Lebih dari akhir bulan kelima sejak tahun buku perhitungan tahunan ditutup Laporan Keuangan Audited PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tahun 2003 diselesaikan tepat waktu dengan skor : 3 2) Rancangan RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) Penentuan nilai adalah berdasarkan ketepatan penyampaian Rancangan RKAP, dengan daftar penilaian waktu penyampaian Rancangan RKAP sebagai berikut : Jangka Waktu Surat Diterima s/d memasuki tahun anggaran yang bersangkutan - 2 bulan atau lebih - kurang dari 2 bulan 3 0 Skor Rancangan RKAP PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tahun 2004 diserahkan kepada Pemegang Saham pada tanggal 28 Oktober 2003, yaitu 53 lebih dari 2 (dua) bulan sebelum memasuki tahun anggaran yang bersangkutan dengan skor : 3 3) Laporan Periodik Laporan Periodik Triwulanan harus diterima oleh Komisaris dan Pemegang Saham paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya periode laporan. Penentuan nilai adalah berdasarkan ketepatan penyampaian Laporan Periodik Triwulanan, dengan daftar penilaian waktu penyampaian Laporan Periodik Triwulanan sebagai berikut : Jumlah Keterlambatan dalam satu Tahun - Lebih kecil atau sama dengan 0 hari - 0 < x < = 30 hari - 30 < x < = 60 hari - < 60 hari Tanggal penerimaan Laporan Periodik oleh Pemegang Saham Triwulanan I II III IV Berakhir Periode 31/3/2003 30/6/2003 30/9/2003 31/12/2003 Tanggal Diterima 29/4/2003 29/7/2003 29/10/2003 23/3/2004 Jml hari keterlambatan 23 Skor 3 2 1 0 Penyampaian Laporan periodik terlambat 23 hari dengan skor : 2 4) Kinerja Program Kemitraan Indikator yang dinilai atas kinerja Program Kemitraan berserta bobotnya adalah sebagai berikut : 54 Indikator - Efektifitas penyaluran - Tingkat kolektibilitas pengembalian pinjaman Total (a) Bobot 3 3 6 Daftar penilaian tingkat penyerapan dana program kemitraan (efektifitas penyaluran dana) : Penyerapan (%) > 90 85 s/d 90 80 s/d 85 < 80 Skor 3 2 1 0 (b) Daftar penilaian tingkat pengembalian dana program kemitraan : Tingkat Pengembalian (%) > 70 40 s/d 70 10 s/d 40 < 10 Skor 3 2 1 0 Perhitungan kinerja program kemitraan adalah sebagai berikut : a. Efektivitas Penyaluran Dana - Jumlah Dana yang Disalurkan Tahun 2004 - Jumlah Dana yang Tersedia Tahun 2004 Rp 7.708.794.340 Rp 8.760.967.492 Efektifitas Penyaluran Dana = Jumlah Dana yang Disalurkan x 100% Jumlah Dana yang Tersedia = Rp 7.708.794.340 x 100% = 87,99 % Rp 8.760.967.492 Skor : 2 55 b. Tingkat Kolektibilitas Penyaluran Pinjaman Kriteria Pinjaman Bobot Lancar 8.028.855.246,00 100 % Kurang Lancar 5.002.141.372,00 75 % Diragukan 1.892.710.064,00 25 % Macet 7.078.937.032,00 0% Jumlah Pinjaman 22.002.643.714,00 Tingkat Kolektibilitas Penyaluran Pinjaman (%) Nilai 8.028.855.246,00 3.751.606.606,00 473.177.516,00 0,00 12.253.638.791,00 55,69 % Kriteria kualitas piutang pada Mitra Binaan untuk tahun 2004 disusun berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor : KEP-236 /MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 pasal 24 tentang penggolongan kualitas pinjaman yang ditetapkan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Lancar Kurang Lancar Diragukan Macet : : : : Pembayaran tepat atau sebelum jatuh tempo Keterlambatan pembayaran 1 s.d 180 hari setelah jatuh tempo Keterlambatan pembayaran 180 s.d 360 hari setelah jatuh tempo Keterlambatan pembayaran 360 hari keatas setelah jatuh tempo Tingkat Kolektibilitas Penyaluran Pinj. = Kolektibilitas Pinjaman x 100% Jumlah Dana yang disalurkan = 12.253.638.791 x 100 % 22.002.643.714 = 55,69 % Skor : 2 56 Dari hasil evaluasi yang dilakukan, maka perhitungan nilai bobot dan skor kinerja PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tahun buku 2004 adalah sebagai berikut : PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I KESIMPULAN TERHADAP EVALUASI KINERJA PERUSAHAAN KETERANGAN ASPEK KEUANGAN Imbalan kepada Pemegang Saham / Return On Equity (ROE) Imbalan Investasi / Return On Investmen (ROI) Rasio Kas / Cash Ratio (Immediate Solvency) Rasio Lancar (Current Ratio) Collection Periods Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over) Perputaran Total Aset (Total Assets Turn Over) Rasio Modal Sendiri thd Total Aktiva Total Aspek Keuangan ASPEK OPERASIONAL Pelayanan Kepada Pelanggan Peningkatan Kualiatas SDM Kesiapan Sarana / Prasarana Total Aspek Operasional ASPEK ADMINISTRASI Laporan Keuangan Tahunan Rencana RKAP Laporan Periodik Kinerja Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK): - Efektivitas Penyaluran - Tingkat Kolektibilitas Pengembalian Pinjaman Total Aspek Administrasi JUMLAH BOBOT 15,00 10,00 3,00 4,00 4,00 4,00 4,00 6,00 50,00 15,00 10,00 10,00 35,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 15,00 100,00 SKOR 15,00 10,00 3,00 4,00 4,00 4,00 1,50 4,00 45,50 15,00 9,50 10,00 34,50 3,00 3,00 2,00 2,00 2,00 12,00 92,00 Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara, nilai skor kinerja PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I untuk tahun 2004 adalah "92,00" yang berarti tingkat kesehatannya dikategorikan menjadi "SEHAT" dengan tingkat penggolongan "AA". BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 57 BPK - RI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN PENGENDALIAN INTERN PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 Nomor : 13.B / Auditama V / GA / 03 /2005 Tanggal : 31 Maret 2005 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jalan Gatot Subroto No. 31 Jakarta 10210 Telp. (021) 5700380, 5738740, 5720957, 5738727, 5704395 s.d. 9 pesawat 511 Fax. (021) 5700380, 5723995 DAFTAR ISI Halaman I. LAPORAN A. B. AUDITOR INDEPENDEN ATAS KEPATUHAN 1 TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Laporan Auditor Independen Lampiran A 1. Kebijakan PT Pelindo I memberikan penjaminan deposito sebesar Rp19.000.000.000,00 kepada PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari dalam rangka pelaksanaan penyelesaian pekerjaan pembangunan kapal tidak lazim dilakukan ………………………………………… 2. Prosedur penjualan tanah dan bangunan di Sibolga senilai Rp6.818.505.000,00 tidak sesuai dengan ketentuan Undang Undang No. 17 tahun 2003 ………………………………………………….. 3. Pekerjaan perkuatan dermaga konvensional di Unit Usaha Terminal Petikemas (UUTPK) sejak 24 Desember 2004 dihentikan sepihak oleh PT Adhi Karya tanpa ada kejelasan penyelesaian lebih lanjut… II. LAPORAN AUDITOR INDPENDEN TERHADAP PENGENDALIAN INTERN A. Laporan Auditor Independen B. Lampiran B 1. Terdapat penyalahgunaan uang perusahaan oleh mantan Kepala Unit dan mantan Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan Unit Galangan Kapal sebesar Rp65.082.727,00 yang belum diambil tindakan oleh pihak Direksi ………………………………………… 2. Biaya Penyusutan dan Amortisasi Tahun Buku 2002 dan 2003 sebesar Rp16.739.153.820,00 yang pada saat itu atas kebijakan Direksi tidak dibebankan pada Tahun Buku yang bersangkutan ....... 3. Perusahaan belum melakukan penyisihan piutang secara tepat sebagaimana ditetapkan dalam kebijakan akuntansi perusahaan ....... ATAS KEPATUHAN 12 3 6 8 15 16 17 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 13. B/Auditama V/GA/03/2005 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kami telah mengaudit laporan keuangan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tanggal 31 Desember 2004 dan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, dan telah menerbitkan laporan kami pada tanggal 31 Maret 2005. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia dan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material. Kepatuhan terhadap hukum, peraturan, kontrak, dan persyaratan bantuan yang berlaku bagi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I merupakan tanggung jawab manajemen. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, kami melaksanakan pengujian terhadap kepatuhan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I terhadap pasal-pasal tertentu hukum, peraturan, kontrak, dan persyaratan bantuan. Namun, tujuan audit kami atas laporan keuangan adalah tidak untuk menyatakan pendapat atas keseluruhan kepatuhan terhadap pasal-pasal tersebut. Oleh karena itu, kami tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu. 1 BPK-RI / AUDITAMA V Hasil pengujian kami menunjukkan bahwa, berkaitan dengan unsur yang kami uji, PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I mematuhi, dalam semua hal yang material, pasal-pasal yang kami sebut dalam paragraf di atas. Berkaitan dengan unsur yang tidak kami uji, tidak ada satu pun yang kami ketahui yang menyebabkan kami percaya bahwa PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tidak mematuhi, dalam semua hal yang material, pasal-pasal tersebut. Namun kami mencatat masalah-masalah tertentu berkaitan dengan kepatuhan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I terhadap pasal-pasal tertentu hukum, peraturan, kontrak, dan persyaratan bantuan disertai saran perbaikannya yang kami kemukakan pada lampiran A. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung jawab Audit, Drs. Misnoto, Ak, MA Register Negara No D-1416 Jakarta, 31 Maret 2005 2 BPK-RI / AUDITAMA V BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 13. B/Auditama V/GA/03/2005 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kami telah mengaudit laporan keuangan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tanggal 31 Desember 2004 dan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, dan telah menerbitkan laporan kami pada tanggal 31 Maret 2005. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia dan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material. Kepatuhan terhadap hukum, peraturan, kontrak, dan persyaratan bantuan yang berlaku bagi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I merupakan tanggung jawab manajemen. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, kami melaksanakan pengujian terhadap kepatuhan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I terhadap pasal-pasal tertentu hukum, peraturan, kontrak, dan persyaratan bantuan. Namun, tujuan audit kami atas laporan keuangan adalah tidak untuk menyatakan pendapat atas keseluruhan kepatuhan terhadap pasal-pasal tersebut. Oleh karena itu, kami tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu. 1 BPK-RI / AUDITAMA V Hasil pengujian kami menunjukkan bahwa, berkaitan dengan unsur yang kami uji, PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I mematuhi, dalam semua hal yang material, pasal-pasal yang kami sebut dalam paragraf di atas. Berkaitan dengan unsur yang tidak kami uji, tidak ada satu pun yang kami ketahui yang menyebabkan kami percaya bahwa PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tidak mematuhi, dalam semua hal yang material, pasal-pasal tersebut. Namun kami mencatat masalah-masalah tertentu berkaitan dengan kepatuhan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I terhadap pasal-pasal tertentu hukum, peraturan, kontrak, dan persyaratan bantuan disertai saran perbaikannya yang kami kemukakan pada lampiran A. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung jawab Audit, Drs. Misnoto, Ak, MA Register Negara No D-1416 Jakarta, 31 Maret 2005 2 BPK-RI / AUDITAMA V Lampiran A 1. KEBIJAKAN PT PELINDO I MEMBERIKAN PENJAMINAN DEPOSITO SEBESAR Rp19.000.000.000,00 KEPADA PT DOK KODJA BAHARI DALAM RANGKA PELAKSANAAN PENYELESAIAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN KAPAL TIDAK LAZIM DILAKUKAN Guna mendukung kelancaran pelayanan kegiatan operasional, PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I (selanjutnya disebut PT Pelindo I) menambah 1 (satu) unit Kapal Tunda yang pembangunannya dilaksanakan oleh PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (PT DKB). Anggaran biaya untuk pembangunan kapal tersebut telah ditetapkan dalam RKAP tahun 2003 sebesar Rp10.000.000.000,00 dan RKAP tahun 2004 sebesar Rp20.800.000.000,00. Pembangunan kapal Tunda tersebut diikat dengan Surat Perjanjian , tanggal 29 Juli 2003 tentang Pekerjaan No. UM.58/18/7/PI-03 No.028/1/Kontr/DKB 2003 Pembangunan 1 (satu) unit Kapal Tunda Type SRP 2 x 1600 HP. Nilai kontrak ditetapkan sebesar US$3,200,000.00 yang merupakan harga tetap, belum termasuk PPN. Sedangkan pajak-pajak lainnya menjadi tanggungan dan beban kontraktor. Jangka waktu penyelesaian pekerjaan ditetapkan selama 14 bulan kalender, terhitung mulai tanggal 29 Juli 2003 sampai dengan 29 September 2004. Masa pemeliharaan ditetapkan selama 12 bulan kalender terhitung sejak diterbitkannya Berita Acara Serah Terima Pertama Kapal. Penunjukan PT DKB sebagai pelaksana pembangunan 1 (satu) unit Kapal Tunda Type SRP 2 x 1600 HP tanpa melalui proses tender, dan berdasarkan penjelasan dari Direksi PT Pelindo I diketahui bahwa penunjukan PT DKB tersebut dilakukan sebagai perwujudan pengembangan sinergi antar BUMN sebagaimana Instruksi Menteri BUMN No. KEP-109/MBU/2002, tanggal 4 Juni 2002 kepada Para Direksi Persero, Perum dan Perjan tentang Sinergi Antar BUMN yang antara lain diinstruksikan untuk melaksanakan kerjasama antar BUMN guna optimalisasi sumber daya produksi yang dimiliki, antara lain berupa kerjasama keuangan, pemasaran, produksi, distribusi serta penelitian dan pelatihan. Selain itu penunjukan PT DKB juga didasarkan atas Kesepakatan Bersama Nomor: HK.566/5/6/PI.II-02 tanggal 5 Juni 2002 tentang Kerjasama Pengadaan, Nomor: SPER/25/AA/VI/2002 antara PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I, II, III dan IV dengan PT PAL Indonesia, PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari dan PT Dok & Perkapalan Surabaya tentang Pembangunan dan Pemeliharaan Kapal Tunda di lingkungan PT Pelabuhan Indonesia I, II, III, dan IV. 3 Dari hasil pemeriksaan atas pelaksanaan pembangunan kapal tersebut diketahui hal-hal sebagai berikut : a. PT Pelindo I telah melakukan pembayaran uang muka sebesar Rp3.936.000.000,00, angsuran I sebesar Rp4.032.000.000,00, dan angsuran II sebesar Rp5.632.000.000,00 atau seluruhnya sebesar Rp13.600.000.000,00. b. Pada tanggal 4 Februari 2004 PT DKB mengirimkan surat No.022/I/DKB/2004 kepada PT Pelindo I perihal Usulan Addendum Kontrak yang mengajukan permohonan untuk dilakukan addendum kontrak khususnya yang terkait dengan cara pembayaran dan bantuan fasilitas back up letter of credit (L/C) untuk pembelian material impor dan local sebesar EURO1,055,700.00. c. Direksi PT Pelindo I dengan persetujuan Komisaris Utama memberikan penjaminan L/C di Bank BNI 46 untuk pembelian peralatan mesin-mesin utama kapal Tunda senilai Rp12.700.000.000,00 yang selanjutnya diikat dengan perjanjian antara PT Pelindo I dengan PT DKB No.UM.58/18/15/PI-04 tanggal 21 Mei 2004 No.012/I/Kontr/DKB/2004 tentang jaminan penerbitan L/C Bank BNI. Dalam perjanjian tersebut dinyatakan dalam pasal 2 bahwa jaminan PT Pelindo I dilakukan atas penerbitan L/C untuk pengadaan 2 (dua) unit Mesin Engine, 2 (dua) unit Steering Propulsion, 2 (dua) unit Auxiliary Engine-Generator, dan 1 (satu) unit Harbour Generator. Penjaminan L/C tersebut ternyata belum mencukupi pendanaan yang dibutuhkan oleh PT DKB dan masih memerlukan tambahan penjaminan L/C dari semula sebesar Rp12.700.000.000,00 menjadi sebesar Rp19.000.000.000,00. Tambahan penjaminan tersebut diikat dengan perjanjian antara PT Pelindo I dengan PT DKB No. UM.58/6/2/PI-05 tanggal 1 Maret 2005 tentang jaminan penerbitan No. 011/Add.Kontr/I/DKB/2005 L/C Bank BNI. d. Perjanjian addendum penjaminan L/C yang dilakukan oleh PT Pelindo I kepada PT DKB pada tanggal 1 Maret 2005 untuk pengadaan material impor dan lokal sebagaimana tersebut di atas ternyata dilaksanakan setelah berakhirnya jangka waktu dari kontrak pembangunan kapal Tunda yaitu tanggal 29 September 2004. Addendum perjanjian mengenai jangka waktu pelaksanaan kontrak, cara pembayaran, pengaturan hak dan kewajiban kedua belah pihak sehubungan adanya penjaminan L/C tidak dibuat. Sampai dengan saat pemeriksaan BPK-RI berakhir (Maret 2005) pembangunan kapal Tunda oleh PT DKB belum selesai dan atau terlambat + 5 bulan. Atas keterlambatan tersebut PT Pelindo I belum mengenakan sanksi denda. Di dalam suatu ikatan kerjasama pengadaan pekerjaan, lazimnya pembayaran dilakukan oleh pihak pemberi kerja kepada pihak pelaksana pekerjaan secara bertahap 4 atau angsuran, dan pihak pelaksana pekerjaan diwajibkan menyerahkan surat jaminan pelaksanaan yang diterbitkan oleh bank sebesar 5% dari harga pekerjaan dengan masa berlaku sampai dengan selesainya seluruh pekerjaan dan diserahkan kepada pihak pemberi kerja selambat-lambatnya pada saat penandatanganan perjanjian. Kondisi tersebut di atas mengakibatkan deposito PT Pelindo I senilai Rp19.000.000.000,00 tidak dapat dimanfaatkan oleh PT Pelindo I untuk kepentingan perusahaan. Hal tersebut disebabkan : a. Adanya arahan/instruksi Menteri BUMN agar pekerjaan dilaksanakan melalui kerjasama dengan perusahaan BUMN (d.h.i PT DKB) yang tidak dapat dihindari oleh PT Pelindo I. b. Direksi PT Pelindo I kurang tegas dalam menolak permintaan PT DKB untuk memberikan penjaminan deposito. Terhadap permasalahan tersebut Direksi PT Pelindo I memberikan penjelasan bahwa : a. Direksi PT Pelindo I tidak memberikan persetujuan atas usulan addendum dan penambahan waktu penyelesaian disebabkan apabila addendum disetujui, tidak menjamin bahwa PT DKB dapat menyelesaikan pekerjaan sehubungan PT DKB mengalami kesulitan likuiditas keuangan. Sehubungan dengan hal tersebut Direksi PT Pelindo I menitikberatkan pada dukungan keuangan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sistem pembayaran tetap mengacu pada perjanjian yang ada. b. Dalam pertemuan antara Direksi PT Pelindo I dengan Direksi PT DKB, Direksi PT Pelindo I pernah memberikan teguran secara lisan, akan tetapi secara tertulis tidak dilakukan karena tidak berpengaruh dalam penyelesaian pekerjaan mengingat kondisi perusahaan PT DKB masih mengalami kesulitan likuiditas, sehingga PT Pelindo I meminta jaminan penyelesaian pekerjaan yang jelas dan tepat waktu dari PT DKB yang selanjutnya akan diadakan komitmen baru. BPK-RI menyarankan agar : a. Direksi PT Pelindo I mempertimbangkan kembali pemberian penjaminan deposito kepada PT DKB walaupun PT DKB mengajukan kembali permintaan penjaminan L/C. b. Direksi PT Pelindo I terus memantau pelaksanaan penyelesaian pekerjaan pembangunan kapal. 5 c. Menteri BUMN dalam membuat kebijakan sinergi BUMN hendaknya mempertimbangkan kondisi riil kemampuan perusahaan BUMN bersangkutan. 2. PROSEDUR PENJUALAN TANAH DAN BANGUNAN DI SIBOLGA SENILAI Rp6.818.505.000,00 TIDAK SESUAI DENGAN KETENTUAN UNDANG UNDANG NO. 17 TAHUN 2003 Aktiva pada PT Pelindo I Cabang Pelabuhan Sibolga meliputi tanah pelabuhan Aek Habil seluas 68.358 M2 yang digunakan sebagai tempat kegiatan operasional pelabuhan, dan tanah yang dikuasai berdasarkan staatsblad No.83 tahun 1940 seluas 95.435 M2 yang terdiri dari tanah pelabuhan lama dan tanah pelabuhan Sambas. Aktiva tanah dan bangunan tersebut tidak tercatat sebagai aktiva dalam laporan keuangan PT (Persero) Pelindo I cabang Pelabuhan Sibolga, melainkan tercatat sebagai aktiva ekstra comptabel. PT Pelindo I telah mengupayakan pembuatan sertifikat atas tanah dimaksud dengan mengajukan permohonan pemberian sertifikat oleh PT (Persero) Pelindo I Cabang Pelabuhan Sibolga, namun ditolak oleh Gubernur Sumatera Utara dengan surat Nomor 593/30156 tanggal 5 Desember 1991 karena tanah tersebut diperuntukkan sebagai pemukiman penduduk dan kegiatan operasional pelabuhan telah ditetapkan di Pelabuhan Aek Habil Sibolga sesuai Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kotamadya Sibolga. Dengan adanya penolakan tersebut maka proses pendaftaran tanah Pelabuhan Lama dan Sambas menjadi tertunda. Pada tanggal 19 Nopember 1998 General Manajer PT Pelindo I Cabang Pelabuhan Sibolga melaporkan kepada Direksi melalui surat Nomor PI-688/A.V-PP.72 yang menyatakan adanya keinginan masyarakat penghuni tanah tersebut untuk mensertifikatkan hak tanah kepada BPN Kodya Sibolga dan untuk penyelesaiannya diusulkan agar tanah tersebut dijual kepada penghuninya. Direksi kemudian memohon persetujuan Dewan Komisaris melalui surat Nomor PP.72/3/25/PI-99 tanggal 25 Mei 1999 dan kemudian disetujui oleh Dewan Komisaris dengan surat Nomor KU.21/51/DK/PP-I/6-99 tanggal 18 Juni 1999 dan Nomor KU.21/62/DK/PP.I/7-99 tanggal 5 Juli 1999. Menindaklanjuti hal tersebut, Direksi melalui surat Nomor B.XII-53/PI.HK.46 tanggal 16 April 2000 meminta persetujuan kepada pemegang saham (Menteri Keuangan) untuk penghapusan aset dan gudang dengan hak Staatsblad Nomor 83 Tahun 1940 di Pelabuhan Sibolga. Permohonan Direksi kepada Menteri Keuangan untuk penghapusan aktiva tersebut tidak mendapat jawaban. Selanjutnya Direksi PT Pelindo I melalui Surat No.AV 184/PI.US.15 tanggal 11 Oktober 2001 pada prinsipnya menyetujui usulan 6 PT Pelindo I Cabang Sibolga untuk menjual tanah yang digunakan oleh badan hukum yang secara operasional tidak produktif. Atas dasar persetujuan Dewan Komisaris PT Pelindo I tentang penghapusbukuan dan dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah No.64 tahun 2001 tentang Pengalihan kedudukan, tugas dan kewenangan Menteri Keuangan kepada perusahaan perseroan (Persero), Perusahaan Umum (Perum) dan Perusahaan Jawatan (Perjan) kepada Menteri Negara BUMN, Direksi PT Pelindo I segera meminta penghapusan aktiva kepada Menteri BUMN dan disetujui oleh Menteri BUMN melalui Surat No.S-288/MBU/2003 tanggal 9 September 2003 dan dilanjutkan dengan Surat Menteri BUMN No. S-565/MBU/2004, tanggal 18 Oktober 2004 perihal Persetujuan Perpanjangan Penghapusbukuan Aktiva Tetap PT Pelindo I berupa tanah dan bangunan di Sibolga. Dana hasil penjualan tersebut digunakan sebagai modal kerja atau tambahan dana investasi PT Pelindo I. Atas dasar persetujuan Menteri BUMN tersebut sampai dengan tanggal 31 Desember 2004 PT Pelindo I telah melakukan pengalihan sebagian aktiva tetap berupa tanah dan bangunan dengan menjual kepada pihak ketiga baik secara tunai maupun angsuran dengan nilai sebesar Rp6.818.505.000,00. Hasil pemeriksaan Tim BPK-RI atas prosedur penjualan tanah dan bangunan di Subolga tersebut diketahui bahwa permohonan Direksi PT Pelindo I kepada Menteri BUMN dan persetujuan Menteri BUMN atas penghapusan aktiva berupa tanah dan bangunan di Sibolga tidak tepat, karena pada saat itu telah ditetapkan ketentuan Undang Undang No. 17 tahun 2003 tanggal 5 April 2003 tentang Keuangan Negara yang menyatakan bahwa pengelolaan Keuangan Negara dikuasakan kepada Menteri Keuangan. Bab II Pasal 6 ayat (2 a) Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 tahun 2003 tanggal 5 April 2003 tentang keuangan negara menyebutkan bahwa pengelolaan keuangan negara dikuasakan kepada Menteri Keuangan, selaku pengelola fiskal dan wakil pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan. Hal tersebut di atas mengakibatkan pelepasan terhadap aktiva berupa tanah dan bangunan di Sibolga senilai Rp6.818.505.000,00 belum memiliki dasar hukum yang kuat. Hal tersebut disebabkan Menteri BUMN dalam memberikan persetujuan penghapusan aktiva tidak memperhatikan ketentuan Undang Undang No. 17 tahun 2003. Terhadap permasalahan tersebut Direksi PT Pelindo I menjelaskan bahwa dasar hukum PT Pelindo I melakukan penjualan tanah dan bangunan di Sibolga adalah persetujuan Menteri BUMN sesuai surat No. S-288/MBU/2003 tanggal 9 September 2003 perihal persetujuan Penghapusan Aktiva Tetap milik PT Pelindo I selaku kuasa pemegang 7 saham yang mewakili Pemerintah RI sebagaimana dituangkan dalam PP No. 64 tahun 2001 tanggal 13 September 2001 tentang Pengalihan kedudukan, tugas dan kewenangan Menteri Keuangan kepada perusahaan perseroan (Persero), Perusahaan Umum (Perum) dan Perusahaan Jawatan (Perjan) kepada Menteri Negara BUMN. BPK-RI menyarankan agar Menteri BUMN melaporkan pelaksanaan penjualan tanah dan bangunan di Sibolga kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan pengesahan dari Menteri Keuangan dan untuk yang akan datang hendaknya prosedur penghapusan aktiva memperhatikan ketentuan yang berlaku. 3. PEKERJAAN PERKUATAN DERMAGA KONVENSIONAL DI UNIT USAHA TERMINAL PETIKEMAS (UUTPK) SEJAK TANGGAL 24 DESEMBER 2004 DIHENTIKAN SECARA SEPIHAK OLEH PT ADHI KARYA TANPA ADA KEJELASAN PENYELESAIAN LEBIH LANJUT Untuk meningkatkan pelayanan bongkar muat di dermaga konvensional di lingkungan Unit Usaha Terminal Petikemas (UUTPK), dilakukan perkuatan dermaga yang pembangunannya dilakukan berdasarkan Hasil Penelitian Kerusakan Beton Dermaga Konvensional UUTPK oleh Puslitbang Kimpraswil Bandung. Hasil dari Puslitbang Kimpraswil Bandung tersebut digunakan Bidang Perencanaan dan Konstruksi Kantor Pusat sebagai acuan dalam melakukan perencanaan perkuatan dermaga konvensional. Hasil penelitian tersebut kemudian ditindaklanjuti, dengan melakukan perjanjian antara PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Unit Usaha Terminal Peti Kemas Belawan (PT Pelindo I UUTPK) dengan PT Adhi Karya sesuai Surat Perjanjian No. UM.57.57/16/2/UTPK-03 tanggal 28 Oktober 2003 tentang Pekerjaan Perkuatan Dermaga Konvensional Unit Usaha Terminal Peti Kemas Belawan. Nilai pekerjaan perkuatan dermaga tersebut sebesar Rp23.280.000.000,00 (termasuk PPN) dan merupakan harga yang tetap. Jangka waktu dari perkerjaan tersebut adalah 300 hari kalender terhitung mulai tanggal 20 Oktober 2003 sampai dengan tanggal 15 Agustus 2004 dan masa pemeliharaan pekerjaan ditetapkan selama 60 hari kalender terhitung sejak serah terima hasil pekerjaan. Untuk dapat melakukan pengawasan atas perkerjaan perkuatan dermaga tersebut maka telah dilakukan perjanjian antara PT Pelindo I UUTPK dengan PT Vini Ventura Consultan sesuai Surat Perjanjian No.UM.57/17/6/UTPK-03 tanggal 17 November 2003 tentang Pekerjaan Supervisi Perkuatan Dermaga Konvensional Unit Usaha Terminal Peti Kemas Belawan. Nilai pekerjaan supervisi tersebut sebesar Rp791.725.000,00 (termasuk 8 PPN) dan merupakan harga tetap. Jangka waktu pekerjaan selama 360 hari kalender, terhitung mulai tanggal 6 Nopember 2003 sampai dengan 31 Oktober 2004. Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa dalam pelaksanaan pekerjaan, pihak PT Pelindo I melakukan perubahan desain karena adanya pentahapan pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan. Sehubungan dengan hal tersebut, melalui surat No. 114-0/42 tanggal 27 Februari 2004, Kepala Cabang PT Adhi Karya mengajukan proposal pekerjaan tambah kurang kepada General Manajer UUTPK sehingga nilai keseluruhan pekerjaan perkuatan dermaga konvensional di UUTPK menjadi sebesar Rp28.767.000.000,00. Menindaklanjuti surat tersebut, General Manajer UUTPK melalui surat No. UM.58/9/21/UTPK-04 tanggal 2 Juni 2004 kepada Kepala Cabang I Wil. Sumut & NAD PT Adhi Karya memberikan persetujuan untuk pekerjaan tambah kurang. Agar dapat segera dilaksanakannya addendum atas pekerjaan tambah kurang tersebut, General Manajer UUTPK sesuai surat No.UM. 57/7/11/UTPK-04 tanggal 4 Juni 2004 mengajukan permohonan persetujuan pekerjaan tambah kurang yang meliputi penambahan poer beton type 3 arah darat, pembuatan dual expantion joint, pemindahan pipa air dibawah dermaga dan pembongkaran plat lantai dan pekerjaan kecil lainnya dengan biaya sebesar Rp3.737.898.254,43 atau 16,05% dari nilai kontrak, belum termasuk biaya tambahan untuk injeksi epoxy pada retakan plat lantai dermaga. Atas permohonan General Manajer UUTPK tersebut, Direksi PT Pelindo I belum memberikan persetujuan addendum atas pekerjaan tambah kurang, namun pelaksanaan perubahan desain dan pekerjaan tambah kurang tetap dilaksanakan oleh PT Adhi Karya. Sehubungan tidak adanya kejelasan mengenai penyelesaian pekerjaan, maka pada tanggal 24 Desember 2004 PT Adhi Karya menghentikan pekerjaan di lapangan. Progres pekerjaan sampai dengan tanggal 24 Desember 2004 telah mencapai 109,08% dengan nilai pekerjaan sebesar Rp25.392.412.852,77. Namun menurut konsultan supervisi PT Vini Ventura Consultan, progres pekerjaan yang dicapai oleh PT Adhi Karya pada saat menghentikan pekerjaan hanya mencapai 93,272% dan pekerjaan telah terlambat + 127 hari dari batas waktu pelaksanaan pekerjaan sesuai kontrak yaitu tanggal 15 Agustus 2004. Dari nilai pekerjaan sebesar Rp25.392.412.852,77, PT Adhi Karya telah menerima pembayaran dari PT Pelindo I UUTPK sebesar Rp18.624.000.000,00 dan selanjutnya PT Adhi Karya meminta pembayaran atas pekerjaan yang telah dilaksanakan sampai dengan tanggal 24 Desember 2004 sebesar Rp6.768.412.852,77 (Rp25.392.412.852,77 – Rp18.624.000.000,00). Nilai tagihan tersebut sudah termasuk pembayaran untuk pekerjaan tambah kurang yang telah dilaksanakan sampai dengan tanggal 24 Desember 9 2004. Terhadap tagihan yang telah diajukan oleh PT Adhi Karya tersebut belum dibayar oleh PT Pelindo I UUTPK. Surat Perjanjian Nomor UM.57/16/2/UTPK-03 tanggal 28 Oktober 2003 tentang Pekerjaan Perkuatan Dermaga Konvensional UUTPK : a. Pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa penyimpangan dan perubahan-perubahan yang merupakan penambahan atau pengurangan pekerjaan dapat dilakukan setelah mendapat perintah/ijin tertulis dari pihak pertama yang dengan jelas menyebutkan jenis dan perincian pekerjaan. Ayat (2) menyatakan bahwa perhitungan penambahan/pengurangan pekerjaan jika tidak tercantum dalam harga satuan pekerjaan dilakukan atas dasar harga yang disetujui oleh kedua belah pihak. b. Pasal 16 ayat (1) menyatakan bahwa segala sesuatu yang belum diatur, serta perubahan-perubahan atau penambahannya akan dibuat dalam perjanjian tambahan (Addendum) yang merupakan bagian yang mengikat dan tidak terpisahkan dari perjanjian ini. Hal tersebut mengakibatkan hasil pekerjaan perkuatan dermaga konvensional di UUTPK tidak dapat segera dimanfaatkan oleh perusahaan. Hal tersebut disebabkan : a. Pihak Direksi PT Pelindo I tidak tegas dalam memberi keputusan atas penyelesaian pekerjaan tambah kurang yang telah dilaksanakan oleh PT Adhi Karya. b. Pihak General Manajer UUTPK mengambil keputusan yang melampaui kewenangannya yaitu memberikan persetujuan pekerjaan tambah kurang tanpa persetujuan Direksi PT Pelindo I. Terhadap permasalahan tersebut Direksi PT Pelindo I menjelaskan bahwa : a. Pelaksanaan perubahan desain dan pekerjaan tambah kurang dilaksanakan oleh PT Adhi Karya mengingat adanya pentahapan pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan tanpa melaksanakan pekerjaan sebelumnya yang masuk dalam lingkup pekerjaan tambah kurang. Perubahan desain khususnya pada pemancangan tiang terjadi pada awal pekerjaan. Apabila PT Adhi Karya hanya berpedoman kepada kontrak dan tidak mau melaksanakan pekerjaan tambah kurang tanpa adanya legalitas addendum, maka pekerjaan tahap berikutnya tidak dapat dilaksanakan. PT Adhi Karya melaksanakan pekerjaan tambah kurang dengan pertimbangan untuk mengejar waktu pelaksanaan sambil menunggu proses legalitas addendum. Pekerjaan supervisi tetap berlangsung dan yang menjadi dasar atau pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan supervisi adalah hasil keputusan dalam Berita Acara Rapat Pembahasan Pekerjaan Tambah Kurang. 10 b. Legalitas pelaksanaan pekerjaan tambah kurang (addendum) saat ini masih dalam proses penyelesaian. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar : a. Bersama-sama dengan pihak PT Adhi Karya segera menetapkan kesepakatan mengenai pekerjaan tambah kurang yang harus dikerjakan. b. General Manajer UUTPK yang melampaui kewenagannya diberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. 11 12 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 13.B/AUDITAMA V/GA/ 03/2005 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kami telah mengaudit laporan keuangan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I tanggal 31 Desember 2004 dan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, dan telah menerbitkan laporan pada tanggal 31 Maret 2005. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material. Dalam perencanaan dan pelaksanaan audit kami atas laporan keuangan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004, kami mempertimbangkan pengendalian intern PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I untuk menentukan prosedur audit yang kami laksanakan untuk menyatakan pendapat kami atas laporan keuangan dan tidak dimaksudkan untuk memberikan keyakinan atas pengendalian intern tersebut. Manajemen PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I bertanggung jawab untuk menyusun dan memelihara suatu pengendalian intern. Dalam memenuhi tanggung jawabnya tersebut, diperlukan estimasi dan pertimbangan dari pihak manajemen tentang taksiran manfaat dan 12 BPK-RI / AUDITAMA V biaya yang berkaitan dengan pengendalian intern. Tujuan suatu pengendalian intern adalah untuk memberikan keyakinan memadai, bukan keyakinan absolut, kepada manajemen bahwa aktiva terjamin keamanannya dari kerugian sebagai akibat pemakaian atau pengeluaran yang tidak diotorisasi dan bahwa transaksi dilaksanakan dengan otorisasi manajemen dan dicatat semestinya untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Karena adanya keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern, kekeliruan atau ketidakberesan dapat saja terjadi dan tidak terdeteksi. Begitu juga, proyeksi setiap evaluasi atas pengendalian intern ke periode yang akan datang mengandung resiko bahwa suatu prosedur menjadi tidak memadai lagi karena perubahan kondisi yang terjadi atau efektivitas desain dan operasi pengendalian intern tersebut telah berkurang. Untuk tujuan laporan ini, kami menggolongkan pengendalian intern signifikan ke dalam kelompok berikut ini: Keuangan Pemasaran dan Pengembangan Usaha Operasi Personalia dan Umum. Untuk semua golongan pengendalian intern tersebut di atas, kami memperoleh pemahaman tentang desain pengendalian intern yang relevan dan apakah pengendalian intern tersebut dioperasikan, serta kami menentukan resiko pengendalian. Pertimbangan kami atas pengendalian intern tidak perlu mengungkapkan semua masalah dalam pengendalian intern yang mungkin merupakan kelemahan material menurut Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Suatu kelemahan material adalah kondisi yang dapat dilaporkan yang didalamnya desain dan operasi satu atau lebih komponen pengendalian intern tidak mengurangi resiko ke tingkat yang relatif rendah tentang terjadinya kekeliruan dan ketidakberesan dalam jumlah yang akan material dalam hubungannya dengan laporan keuangan auditan dan tidak terdeteksi dalam waktu semestinya oleh karyawan dalam melaksanakan normal fungsi yang ditugaskan kepadanya. Kami 13 BPK-RI / AUDITAMA V mencatat bahwa tidak ada masalah berkaitan dengan pengendalian intern dan operasinya yang kami pandang memiliki kelemahan material sebagaimana kami definisikan diatas. Namun, kami mencatat masalah-masalah tertentu yang tidak material berkaitan dengan pengendalian intern dan operasinya disertai saran perbaikannya yang kami kemukakan pada lampiran B. Auditama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit, Drs. Misnoto, Ak, MA Register Negara No D-1416 Jakarta, 31 Maret 2005 14 BPK-RI / AUDITAMA V Lampiran B 1. TERDAPAT PENYALAHGUNAAN UANG PERUSAHAAN OLEH MANTAN KEPALA UNIT DAN MANTAN KEPALA BAGIAN ADMINISTRASI DAN KEUANGAN UNIT GALANGAN KAPAL SEBESAR Rp65.082.727,00 YANG BELUM DIAMBIL TINDAKAN OLEH PIHAK DIREKSI Unit Galangan Kapal (UGK) di Belawan adalah unit usaha milik PT Pelindo I yang berusaha dalam bidang kperbaikan kapal, baik kapal milik maupun kapal pihak ketiga. Dari Laporan Keuangan UGK per 31 Desember 2004 diketahui terdapat piutang usaha sebesar Rp1.424.343.992,00 yang terdiri dari piutang usaha yang berumur 0 s.d 6 bulan sebesar Rp358.507.538,00, piutang kusaha yang berumur 6 s.d 12 bulan sebesar Rp634.352.727,00, piutang usaha yang berumur 12 s.d 18 bulan sebesar Rp5.401.000,00, piutang usaha yang berumur 18 s.d 24 bulan sebesar Rp190.000.000,00, dan piutang usaha yang berumur lebih dari 24 bulan sebesar Rp236.082.727,00. Hasil pemeriksaan atas piutang usaha yang berumur lebih dari 24 bulan Rp236.082.727,00 diketahui bahwa piutang tersebut terdiri dari piutang PT Pelindo I Cabang Pelabuhan Dumai sebesar Rp171.000.000,00, piutang CV Roda Kencana sebesar Rp37.082.727,00 dan piutang kepada Suar Disnav Rp28.000.000,00. sebesar kepada kepada sebesar Penelusuran atas piutang tersebut diketahui sebagai berikut : a. Pada tahun 2001 UGK menerima pekerjaan perbaikan kapal Pandu AP-033 dari PT Pelindo I Cabang Pelabuhan Dumai sesuai Surat Perjanjian Pemborongan No. UM.56/22/01/Dum-2001, tanggal 10 Desember 2001 dengan nilai kontrak sebesar Rp198.000.000,00. Jangka waktu pekerjaan ditetapkan selama 30 hari hari kalender dan masa pemeliharaan selama 15 hari kalender setelah pekerjaan selesai 100%. Pekerjaan perbaikan kapal Pandu tersebut telah selesai dan telah dibayar oleh PT Pelindo I Cabang Pelabuhan Dumai sesuai dengan bukti pengeluaran kas-bank sebesar Rp171.000.000,00 tanggal 9 Juli 2002 untuk pembayaran 95% dari nilai kontrak. Pembayaran sebesar Rp171.000.000,00 tersebut ternyata tidak dicatat oleh Kepala Unit UGK ke dalam Laporan Keuangan UGK melainkan digunakan oleh yang bersangkutan untuk modal kerja proyek berikutnya. Terhadap permasalahan tersebut Tim BPK-RI telah melakukan koreksi pembukuan dan atas koreksi tersebut pelunasan piutang sebesar Rp171.000.000,00 telah dicatat sebagai biaya dalam Laporan Keuangan tahun buku 2004. 15 b. Pada tahun 2002 sampai dengan 2003 piutang kepada CV Roda Kencana sebesar Rp37.082.727,00 dan piutang kepada Suar Disnav sebesar Rp28.000.000,00 atau seluruhnya sebesar Rp65.082.727,00 telah diterima pelunasannya oleh Kepala Unit UGK namun penerimaan tersebut tidak dicatat ke dalam Laporan Keuangan UGK melainkan digunakan oleh Kepala Unit UGK sebesar Rp51.082.727,00 dan Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan UGK sebesar Rp14.000.000,00 untuk kepentingan pribadi. Terhadap penyalahgunaan uang tersebut, sampai dengan saat pemeriksaan Tim BPK-RI berakhir (Maret 2005), pihak Direksi PT Pelindo I belum mengambil tindakan kepada yang bersangkutan. Penyalahgunaan uang perusahaan yang dilakukan oleh pegawai perusahaan seharusnya menjadi tanggung jawab bagi pegawai yang bersangkutan, dan harus ditagih oleh perusahaan. Oleh karenanya harus dicatat sebagai Piutang Karyawan. Kondisi tersebut di atas mengakibatkan dana sebesar Rp65.082.727,00 tidak dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk membiayai operasional perusahaan. Hal tersebut disebabkan lemahnya pengendalian atas penerimaan pelunasan piutang dan kurangnya perhatian dari Direksi PT Pelindo I terhadap penyelesaian penyalahgunaan uang yang dilakukan oleh pegawai perusahaan. Terhadap permasalahan tersebut Direksi PT Pelindo I menjelaskan bahwa pelunasan piutang sebesar Rp65.082.727,00 yang digunakan untuk kepentingan pribadi oleh mantan Kepala Unit dan mantan Kepala Bagian Administrasi & Keuangan UGK dicatat sebagai piutang pegawai atas nama yang bersangkutan. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar meningkatkan pengendalian atas penerimaan piutang dan terhadap pegawai yang telah menyalahgunakan uang perusahaan dikenakan sanksi administrasi dan keharusan melunasi uang yang telah disalahgunakan. 2. TERDAPAT BIAYA PENYUSUTAN DAN AMORTISASI TAHUN BUKU 2002 DAN 2003 SEBESAR Rp16.739.153.820,00 YANG PADA SAAT ITU ATAS KEBIJAKAN DIREKSI TIDAK DIBEBANKAN PADA TAHUN BUKU YANG BERSANGKUTAN Pada tahun 2004 biaya penyusutan dan amortisasi (audited) adalah sebesar Rp68.098.923.450,00. Dari nilai tersebut terdapat beban tahun 2002 dan 2003 sebesar Rp16.739.153.820,00 yang merupakan beban amortisasi atas pekerjaan alur pelabuhan Belawan yang telah dimanfaatkan, namun oleh perusahaan pada saat itu tidak dicatat 16 sebagai biaya. Nilai biaya penyusutan dan amortisasi yang sebenarnya merupakan beban tahun buku 2004 adalah sebesar Rp51.359.769.630,00 (Rp68.098.923.450,00 – Rp16.739.153.820,00). Hal tersebut mengakibatkan pendapatan yang diterima perusahaan tahun buku 2004 tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan pada tahun buku 2004. Hal tersebut disebabkan pada tahun 2002 dan 2003 Direksi menganggap bahwa pekerjaan pengerukan alur merupakan investasi yang dilaksanakan secara bertahap sehingga dicatat sebagai Aktiva Tetap Dalam Konstruksi. Terhadap permasalahan tersebut, Direksi PT Pelindo I sependapat dengan temuan BPK-RI dan atas hasil perhitungan BPK-RI setuju untuk dilakukan koreksi. Di masa yang akan datang akan lebih memperhatikan ketentuan mengenai kebijakan akuntansi. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar dalam menetapkan kebijakan hendaknya memperhatikan prinsip akuntansi yang berlaku. 3. PERUSAHAAN BELUM MELAKUKAN PENYISIHAN PIUTANG SECARA TEPAT SEBAGAIMANA DITETAPKAN DALAM KEBIJAKAN AKUNTANSI PERUSAHAAN Berdasarkan hasil pemeriksaan atas pos piutang usaha diketahui bahwa terdapat piutang perusahaan yang umur piutangnya sudah melebihi waktu 2 (dua) tahun, dengan rincian sebagai berikut: No. Jenis Piutang 1. Piutang pas pelabuhan 2. Piutang kepada PT Mitrayasa Utamindo 3. Piutang terhadap PT Antam Total Jumlah Rp 3.361.159.700,00 Rp 3.536.600.982,00 Rp 4.748.899.038,00 Rp11.646.659.720,00 Hasil penelitian diketahui bahwa terhadap piutang tersebut perusahaan belum melakukan aging piutang atau pengklasifikasian piutang sesuai dengan umurnya. Terhadap hal tersebut tim BPK-RI telah melakukan membebankannya sebagai biaya penyisihan piutang tahun buku 2004. koreksi dengan Sesuai dengan kebijakan akuntansi perusahaan dinyatakan bahwa piutang usaha yang umurnya sudah melewati satu periode akuntansi wajib dibentuk penyisihan 17 piutangnya dan jika telah melewati 2 (dua) tahun maka piutang tersebut harus disisihkan 100% dari nilai piutangnya. Hal tersebut mengakibatkan nilai Rp11.646.659.720,00 pada neraca perusahaan. piutang dicatat lebih saji sebesar Hal ini disebabkan Direksi PT Pelindo I tidak mematuhi kebijakan akuntansi khususnya mengenai piutang usaha. Terhadap permasalahan tersebut, Direksi PT Pelindo I sependapat dengan BPK-RI bahwa atas piutang usaha sebesar Rp11.646.659.720,00 dilakukan penyisihannya pada tahun buku 2004. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar lebih memperhatikan kebijakan akuntansi terutama yang menyangkut perlakuan terhadap piutang usaha. 18 BPK-RI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN LAPORAN PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 dan 2003 Nomor Tanggal : 13.D/Auditama V/GA/03/2005 : 31 Maret 2005 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jalan Gatot Subroto No. 31 Jakarta 10210 Telp. (021) 5700380, 5738740, 5720957, 5738727, 5704395 s.d 9 Pesawat 511 Fax. (021) 5700380, 5723995 DAFTAR ISI Hal. Simpulan Hasil Audit ……………………………………………………………………. Neraca Program Kemitraan ……………………………………………………………… Laporan Aktivitas Program Kemitraan ………………………………………………..… Laporan Akumulasi Dana Program Kemitraan …………………………………………. Laporan Arus Dana Program Bina Lingkungan …………………………………………. Uraian Hasil Audit ………………………………………………………………………. 1. Dasar Audit ………………………………………………………………………….. 2. Sasaran dan Ruang Lingkup Audit ………………………………………………….. 3. Dasar Pengelolaan Dana PKBL ………………………………………....................... 4. Organisasi ……………………………………………………………………………. 5. Catatan atas Laporan Keuangan Program Kemitraan ……………………………….. a. Metode Pembukuan ………………………………………………....................... b. Penjelasan atas Pos-Pos Neraca Program Kemitraan …………………………… c. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Aktivitas Program Kemitraan ……………….. d. Penjelasan atas Laporan Akumulasi Dana Program Kemitraan ………………… e. Penilaian Kinerja Pembinaan …………………………………………………… 6. Catatan atas Laporan Arus Dana Program Bina Lingkungan ……………………….. a. Penjelasan Sumber Dana Program Bina Lingkungan …………………………… b. Penjelasan Penggunaan Dana Program Bina Lingkungan ………………………. c. Saldo Akhir Dana ……………………………………………………………….. d. Perbandingan Realisasi dan Anggaran Program Bina Lingkungan …………….. 7. Hal-hal yang perlu diperhatikan …………………………………………………….. 1 7 8 9 10 11 11 11 11 12 12 12 13 18 22 24 26 26 27 29 30 31 SIMPULAN HASIL AUDIT BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 13.D/Auditama V/GA/03/2005 SIMPULAN HASIL AUDIT Kami telah mengaudit pengelolaan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan (PKBL) PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I (Pelindo I) untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 periode 1 Januari 2004 sampai dengan 31 Desember 2004. Laporan mengenai pengelolaan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan merupakan tanggung jawab manajemen. Tanggung jawab kami terletak pada hasil penilaian atas pengelolaan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemeriksaan (SAP) yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) serta aturan lainnya yang diberlakukan Pemerintah terhadap pengelolaan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan. Standar tersebut mengharuskan kami memberikan penilaian atas efektivitas, efisiensi dan keekonomisan serta kepatuhan pada aturan yang berlaku. Suatu audit meliputi evaluasi terhadap bukti, review dan analisis terhadap kebijakan, perencanaan, sistem pengendalian manajemen dan pelaksanaan operasi program. Audit dilaksanakan dari tanggal 14 Pebruari 2005 sampai dengan 30 Maret 2005. Hasil audit dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Hasil Audit Pengelolaan Program Kemitraan Dari audit atas pengelolaan Program Kemitraan PT Pelindo I untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut : a. Pembukuan atas transaksi pendapatan dan biaya dilakukan berdasarkan basis kas (cash basis). Pendapatan dicatat pada saat diterima pembayaran dan biaya dicatat pada saat pengeluaran dana. Sementara untuk piutang pinjaman kepada mitra binaan dicatat sebesar pokok pinjaman dan diakui setelah mendapat otorisasi dari Direksi, sedangkan bunga pinjaman diakui pada saat pembayaran angsuran oleh Mitra Binaan. 1 b. Total aktiva dan pasiva per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp24.473.461.129,00. Aktiva terdiri dari kas dan setara kas sebesar Rp804.753.278,00, piutang pinjaman Mitra Binaan sebesar Rp22.002.643.714,00, aktiva lancar lainnya sebesar Rp18.337.500,00, aktiva tetap sebesar Rp77.960.000,00 dan aktiva lain-lain sebesar Rp1.569.766.637,00. Pasiva terdiri atas kewajiban lancar sebesar Rp36.861.666,00 dan ekuitas sebesar Rp24.436.599.463,00. c. Selama tahun 2004 terdapat surplus sebesar Rp432.647.395,00 sebagai akibat dari pengeluaran biaya operasional Program Kemitraan yang tidak melampaui pendapatan bunga pinjaman dan jasa giro bank, yang jumlahnya masing-masing sebesar Rp203.371.424,00 dan Rp636.018.819,00. Dari surplus itu telah digunakan sebesar Rp77.960.000,00 untuk pembelian barang inventaris dan kendaraan roda dua yang kemudian dicatat sebagai aktiva tetap. Total biaya operasional setelah ditambah dengan pembelian aktiva tetap adalah sebesar Rp281.331.424,00. d. Dana tersedia untuk program kemitraan tahun 2004 sebesar Rp8.813.216.542,00 terdiri dari saldo awal dana sebesar Rp769.618.522,00, sisa penyisihan laba tahun 2002 sebesar Rp500.000.000,00, alokasi laba tahun 2003 sebesar Rp1.219.000.000,00, pengembalian pokok pinjaman sebesar Rp5.580.826.181,00, pengembalian pokok pinjaman dari piutang yang bermasalah Rp70.891.354,00, penerimaan dari mitra binaan yang belum diketahui identitasnya sebesar Rp32.911.666,00, penerimaan uang dari BUMN sebesar Rp1.000.000,00, penerimaan dari kas perusahaan sebesar Rp2.950.000,00, pendapatan bunga pinjaman sebesar Rp587.719.769,00, pendapatan jasa giro Rp 47.951.909,00 dan pendapatan lain-lain sebesar Rp347.141,00. Sementara itu penggunaan dana tahun 2004 adalah sebesar Rp8.008.463.264,00 terdiri dari pinjaman kepada mitra binaan sebesar Rp6.591.100,000,00, dana penjaminan KUM-LTA pada PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. sebesar Rp848.000.000,00, uang muka Bina Lingkungan sebesar Rp18.337.500,00, hibah sebesar Rp269.694.340,00, biaya operasional termasuk di dalamnya pembelian barang aktiva tetap sebesar Rp281.331.424,00. Dengan demikian saldo akhir dana adalah sebesar Rp804.753.278,00 e. Untuk tahun 2004 realisasi penyaluran pinjaman dana Program Kemitraan dan hibah adalah sebesar Rp6.860.794.340,00 atau 70,47% dari yang dialokasikan sesuai dengan surat Menteri BUMN No.S-88/MBU.S/2004 tanggal 31 Maret 2004 sebesar Rp9.736.000.000,00. Pinjaman dan hibah seluruhnya disalurkan di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara dan Riau. f. Berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No. KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003, penilaian kinerja Program Kemitraan mengacu pada SK Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penilaian Tingkat 2 Kesehatan Badan Usaha Milik Negara. Kinerja Program Kemitraan PT Pelindo I adalah sebagai berikut: Tingkat efektivitas penyaluran dana mempunyai skor 2 dengan tingkat penyaluran dana 87,99% dari dana yang tersedia. Tingkat kolektitibilitas pengembalian pinjaman mempunyai skor 2 dengan tingkat kolektibilitas pinjaman 55,69% dari pinjaman. 2. Hasil Audit Atas Pengelolaan Program Bina Lingkungan Jumlah sumber dana Program Bina Lingkungan tahun 2004 adalah sebesar Rp3.691.332.070,00 terdiri dari sisa dana tahun sebelumnya sebesar Rp1.217.859.570,00, penyisihan laba tahun 2003 sebesar Rp2.438.000.000,00, dan pendapatan lain-lain sebesar Rp35.472.500,00. Penggunaan dana Program Bina Lingkungan untuk tahun 2004 adalah sebesar Rp2.153.099.940,00. Dana sejumlah tersebut dialokasikan untuk bantuan Bina Lingkungan sebesar Rp2.101.372.400,00, biaya sehubungan dengan penyerahan dana bina lingkungan dan pengelolaan rekening di bank sebesar Rp51.727.540,00. Dengan demikian saldo akhir dana adalah sebesar Rp1.538.232.130,00 3. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan a. Penempatan dana penjaminan dalam rangka Kredit Usaha Mikro Layak Tanpa Agunan (KUM-LTA) oleh PT Pelindo I pada PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. Sebesar Rp848.000.000,00 tidak sejalan dengan ketentuan yang berlaku. Hal ini disebabkan Direksi Direksi PT Pelindo I tidak memperhatikan ketentuanketentuan yang berlaku sebelum menyetor dana penjaminan KUM-LTA kepada PT Bank Mandiri. Selain itu Meneg BUMN telah melakukan tindakan perintah penyetoran dana milik BUMN ke PT Bank Mandiri dalam rangka penjaminan KUM-LTA yang tidak sesuai dengan Keputusan Menteri BUMN yang berlaku.. b. Piutang pinjaman sebesar Rp7.078.937.032,00 atau 32,17% dari total piutang pinjaman merupakan piutang pinjaman macet. Hal tersebut disebabkan: 1. Unit PKBL PT Pelindo I kurang intensif dalam melakukan pemantauan, pembinaan dan penagihan. 2. Kesalahan persepsi Mitra Binaan tentang dana pinjaman yang menganggap dana bantuan tidak perlu dikembalikan, dan tidak adanya itikad baik walaupun usahanya berkembang. 3. Tidak diaturnya sanksi yang tegas dalam surat perjanjian terhadap Mitra Binaan yang kreditnya menunggak, sehingga Mitra Binaan terkesan menyepelekan. 3 4. Terdapat kendala teknis bagi Mitra Binaan dalam melakukan pembayaran melalui mekanisme perbankan, khususnya untuk Mitra Binaan yang berlokasi jauh dari bank. c. Struktur organisasi Unit PKBL di cabang-cabang belum sepenuhnya mandiri dan didukung dengan jumlah personil yang memadai. Hal tersebut disebabkan manajemen kurang mempertimbangkan unsur efektivitas dalam pembagian tugas rutin divisi/bagian keuangan pada masing-masing cabang dan kurang perhatian atas pengelolaan dana PKBL. d. Mitra binaan tidak menyelenggarakan pencatatan/pembukuan dengan tertib dan seluruhnya tidak pernah menyampaikan laporan keuangan periodik kepada Bagian PKBL PT Pelindo I. Hal tersebut disebabkan: 1. Kurangnya kesadaran dari Mitra Binaan dalam melaksanakan kewajiban untuk melaporkan perkembangan usahanya. 2. Mitra Binaan kurang memiliki kemampuan manajerial untuk membuat laporan triwulanan/tahunan walaupun sudah mendapat pengarahan mengenai bentuk laporan dari pengurus PKBL pada saat pencairan dana. 3. Tidak adanya sanksi yang tegas bagi Mitra Binaan yang tidak mengirimkan laporan keuangan periodik. e. Kegiatan monitoring terhadap pembayaran-pembayaran yang dilakukan oleh mitra binaan belum sepenuhnya dilakukan sebagaimana mestinya. Kondisi tersebut disebabkan: 1. Kurangnya pengetahuan/kesadaran Mitra Binaan untuk mengirimkan bukti setoran ke Bagian PKBL yang dapat digunakan sebagai dasar monitoring pembayaran angsuran pinjaman. 2. Bagian PKBL kurang intensif dalam melakukan kegiatan monitoring dan pembinaan sehubungan dengan pembayaran-pembayaran yang dilakukan mitra. f. Penyajian laporan PKBL PT Pelindo I belum sepenuhnya sesuai dengan format penyajian laporan sebagaimana yang ditetapkan dalam Surat Keputusan dan Surat Edaran Menteri BUMN. Kondisi tersebut disebabkan Direksi kurang tanggap untuk segera memperbarui SK Direksi tentang Pedoman Pembukuan PKBL dengan mengacu kepada ketentuan terbaru. 4. Rekomendasi Terhadap permasalahan di atas, BPK-RI merekomendasikan kepada Direksi PT Pelindo I sebagai berikut : a. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar dana yang telah disetorkan sebesar Rp848.000.000,00 tersebut diubah statusnya menjadi deposito atau giro 4 jaminan kredit sesuai dengan Surat Meneg BUMN No.290/MBU/2004 tanggal 4 Juni 2004 tentang Penjaminan Dana Program Kemitraan Untuk Kredit Usaha Mikro, dan dibukukan sebagai deposito atau giro milik PT Pelindo I. b. Untuk mengatasi piutang macet disarankan agar Direksi PT Pelindo I : (1) (2) (3) Melakukan pembinaan, monitoring, dan penagihan secara lebih intensif kepada Mitra Binaan yang menunggak. Memberikan pengarahan yang tepat kepada Mitra Binaan tentang status dana pinjaman dan penggunaannya yang tepat. Menetapkan persyaratan jaminan yang sifatnya dapat mengikat Mitra Binaan agar bersedia menyelesaikan pinjamannya serta memberikan sanksi yang lebih tegas. (4) Melanjutkan usaha melalui kerjasama dengan pihak KP2LN. c. Direksi PT Pelindo I segera membentuk unit KBL di cabang-cabang khususnya yang masih dirangkap oleh Dinas Keuangan. d. Untuk mengatasi laporan periodik yang tidak dibuat disarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar bagian PKBL memberikan pengarahan dan bimbingan kepada Mitra Binaan baik dalam pembuatan laporan maupun kemampuan manajerial. e. Untuk menyelesaikan masalah pembayaran yang tidak diketahui identitas Mitra Binaannya disarankan agar Direksi PT Pelindo I: (1) Memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini diantaranya dengan memberikan tambahan biaya operasional guna membiayai kegiatan konfirmasi kepada Mitra Binaan dan koordinasi dengan bank penerima. (2) Untuk selanjutnya dalam penyaluran pinjaman dibuat kartu angsuran yang dapat diisi oleh petugas bank penerima tentang jumlah setoran yang dilakukan sebagai sarana monitoring terhadap pembayaran yang dilakukan oleh Mitra Binaan. f. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar segera menetapkan Keputusan Direksi mengenai Pedoman Pembukuan dana PKBL dengan mengacu kepada ketentuan terbaru dari Kementerian BUMN. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit Drs. Misnoto, Ak., MA. Register Negara No. D-1416 Jakarta, 31 Maret 2005 5 LAPORAN KEUANGAN PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I NERACA PROGRAM KEMITRAAN Per 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan dalam Rupiah Penuh Kecuali Dinyatakan Lain) Catatan AKTIVA Aktiva Lancar Kas dan Setara Kas Kas Giro Piutang Pinjaman Mitra Binaan Piutang Alokasi Laba Aktiva Lancar Lainnya Jumlah Aktiva Lancar Aktiva Tetap Kendaraan Inventaris Kantor Nilai Buku Aktiva Tetap Aktiva Lain-lain Dana Penjaminan KUM-LTA Piutang Bermasalah Jumlah Aktiva Lain-lain Jumlah Aktiva KEWAJIBAN DAN EKUITAS Kewajiban Lancar Hutang pada Kas Perusahaan Uang Titipan Jumlah Kewajiban Lancar Ekuitas Saldo Awal Ekuitas Alokasi Laba Tahun Berjalan Hibah Tahun Berjalan Surplus (Defisit) Tahun Berjalan Jumlah Ekuitas Jumlah Kewajiban dan Ekuitas 31 Desember 2004 31 Desember 2003 5.b.1 15.323.518 789.429.760 22.002.643.714 18.337.500 22.825.734.492 5.b.5 15.980.000 61.980.000 77.960.000 5.b.6 848.000.000 721.766.637 1.569.766.637 24.473.461.129 792.657.991 792.657.991 23.054.646.408 769.618.522 20.992.369.895 500.000.000 22.261.988.417 5.b.2 5.b.3 5.b.4 5.b.7 2.950.000 33.911.666 36.861.666 5.b.8 23.054.646.408 1.219.000.000 (269.694.340) 432.647.395 24.436.599.463 24.473.461.129 21.279.682.514 1.750.000.000 (337.757.100) 362.720.994 23.054.646.408 23.054.646.408 - Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan secara keseluruhan 7 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I LAPORAN AKTIVITAS PROGRAM KEMITRAAN Untuk Tahun yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan dalam Rupiah Penuh Kecuali Dinyatakan Lain) 31 Desember 2004 769.618.522 500.000.000 1.219.000.000 5.580.826.181 70.891.354 32.911.666 3.950.000 8.177.197.723 Catatan A. Dana yang Tersedia Saldo Awal Dana Sisa Penyisihan Laba Tahun 2001 Sisa Penyisihan Laba Tahun 2002 Alokasi Penyisihan Laba yang Diterima Pengembalian Dana dari Program Bina Lingkungan Penerimaan Pengembalian Pokok Pinjaman Penerimaan Pengembalian Pinjaman Bermasalah Penerimaan dari Mitra Binaan belum Teridentifikasi Penerimaan Lainnya Jumlah Dana yang Tersedia B. Penggunaan Dana Pinjaman Sektor Industri Sektor Perdagangan Sektor Pertanian Sektor Peternakan Sektor Perkebunan Sektor Perikanan Sektor Jasa Jumlah Pinjaman Hibah Dana Penjaminan KUM-LTA Uang Muka Bina Lingkungan Jumlah Penggunaan Dana C. Sisa Dana yang Tersedia ( A – B ) D. Pendapatan Bunga Pinjaman Jasa Giro Pendapatan Lain-lain Jumlah Pendapatan E. Beban Operasional Beban Survei, Monitoring dan Penagihan Beban Administrasi Jumlah Beban Operasional F. Surplus (Defisit) ( D – E ) G. Pembelian Aktiva Tetap H. Saldo Akhir Dana ( C + F – G ) 5.c.16) 5.c.14) 31 Desember 2003 916.063.355 3.370.000.000 1.250.000.000 1.064.171.000 3.823.120.273 10.423.354.628 5.c.1) 5.c.2) 5.c.3) 5.c.4) 5.c.5) 5.c.6) 5.c.7) 5.c.8) 5.c.9) 5.c.10) 841.100.000 3.726.800.000 30.000.000 437.800.000 178.400.000 1.377.000.000 6.591.100.000 269.694.340 848.000.000 18.337.500 7.727.131.840 450.065.883 587.719.769 47.951.909 347.141 636.018.819 5.c.15) 189.904.767 13.466.657 203.371.424 432.647.395 77.960.000 804.753.278 66.117.690 24.572.199 90.689.889 362.720.994 769.618.522 859.800.000 5.541.900.000 151.500.000 114.100.000 340.500.000 121.000.000 2.549.900.000 9.678.700.000 337.757.100 10.016.457.100 406.897.528 323.648.890 103.409.639 26.352.354 453.410.883 5.c.11) 5.c.12) 5.c.13) Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan secara keseluruhan 8 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I LAPORAN AKUMULASI DANA PROGRAM KEMITRAAN Untuk Tahun yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 (Dinyatakan dalam Rupiah Penuh Kecuali Dinyatakan Lain) Catatan I. Akumulasi Sumber Dana: Akumulasi Alokasi Penyisihan Laba s.d Tahun 2003 Akumulasi Penerimaan Pendapatan s.d Tahun 2002 Akumulasi Penerimaan Pendapatan Tahun 2003 s.d Tahun 2004: Bunga Pinjaman Jasa Giro Pendapatan Lain-lain Jumlah akumulasi penerimaan pendapatan Akumulasi Sumber Dana s.d 31/12/2004 II. Akumulasi Penyaluran Dana : Akumulasi Penyaluran Pinjaman s.d Tahun 2004: Pengusaha Kecil Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Riau Jumlah penyaluran ke Pengusaha Kecil Koperasi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Riau Jumlah penyaluran ke Koperasi Akumulasi Penyaluran Pinjaman s.d 31/12/2004 Akumulasi Penyaluran Hibah s.d Tahun 2004: Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Riau Jumlah penyaluran hibah Jumlah Akumulasi Penyaluran Dana s.d 31 Desember 2004 Catatan: 1. Rincian akumulasi penyaluran dana berdasarkan sektor usaha belum dapat disajikan, karena selama ini pencatatan hanya berdasarkan jenis Mitra Binaan yang dikelompokkan dalam pengusaha kecil dan koperasi serta per wilayah Mitra Binaan. 2. Penyaluran pinjaman merupakan seluruh pemberian pinjaman kepada Mitra Binaan yang telah diberikan, baik yang telah lunas, menunggak maupun yang masih berjalan. Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan secara keseluruhan 5.d.6) 4.633.910.000 17.997.720.000 13.090.925.000 35.722.555.000 210.400.000 2.625.545.000 907.750.000 3.743.695.000 39.466.250.000 5.d.7) 1.073.785.700 2.247.679.460 574.654.850 3.896.120.010 43.362.370.010 5.d.1) 5.d.2) 5.d.3) 5.d.4) 5.d.5) 911.368.659 151.361.548 26.699.495 1.089.429.702 28.627.113.683 25.869.489.248 1.668.194.733 9 PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I LAPORAN ARUS DANA PROGRAM BINA LINGKUNGAN (PBL) Untuk Tahun yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 (Dinyatakan dalam Rupiah Penuh Kecuali Dinyatakan Lain) 31 Desember 2004 1.217.859.570 31 Desember 2003 Catatan A. Dana yang Tersedia 1. Saldo Awal Tahun 2. Alokasi Penyisihan Laba yang Diterima a. Eks Laba Tahun 2002 Keputusan RUPS Sisa Dana Belum Diterima Dana yang Diterima Tahun Berjalan b. Eks Laba Tahun 2003 Keputusan RUPS Sisa Dana Belum Diterima Dana yang Diterima Tahun Berjalan 3. Penerimaan Lain-lain Jumlah Dana yang Tersedia B. Penggunaan Dana 1. Program Bina Lingkungan a. Bantuan Korban Bencana Alam b. Bantuan Pendidikan dan atau Pelatihan c. Bantuan Peningkatan Kesehatan d. Pengembangan Prasarana & Sarana Umum e. Bantuan Sarana Ibadah f. Bantuan Seni Budaya Jumlah Bantuan Bina Lingkungan 2. Beban Operasional dan Lain-lain a. Beban survey/penelitian, monitoring/ evaluasi dan penyerahan bantuan b. Beban Administrasi Jumlah Beban Operasional 3. Pengembalian Dana ke Kas Kemitraan Jumlah Penggunaan Dana ( 1 + 2 +3) C. Saldo Akhir Dana ( A - B ) 6.a.1) 6.a.2) 2.438.000.000 2.438.000.000 35.472.500 3.691.332.070 3.500.000.000 3.500.000.000 17.232.980 3.517.232.980 6.a.3) 6.b. 6.b.1) 6.b.2) 6.b.3) 6.b.4) 6.b.5) 6.b.6) 6.b.7) 24.775.000 915.989.050 29.337.500 437.650.000 693.620.850 2.101.372.400 724.920.000 269.320.000 63.085.000 36.920.000 112.111.000 20.000.000 1.226.356.000 48.000.500 3.727.040 51.727.540 2.153.099.940 6.c. 1.538.232.130 5.274.800 3.571.610 8.846.410 1.064.171.000 2.299.373.410 1.217.859.570 Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan secara keseluruhan 10 URAIAN HASIL AUDIT URAIAN HASIL AUDIT 1. Dasar Audit Audit dilaksanakan berdasarkan: a. Perubahan Ketiga Undang-undang Dasar Tahun 1945 pasal 23 E dan pasal 23 G; b. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan dan peraturan perundangan lainnya yang berlaku; c. Surat Tugas Badan Pemeriksa Keuangan No.64/ST/VII-XV.2/9/2004 tanggal 30 September 2004 dan No. 21 /ST/VII-XV.2/1/2005 tanggal 26 Januari 2005 untuk melakukan audit atas Laporan Keuangan serta Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Pelindo I Tahun Buku 2004. Laporan Hasil Audit ini dihasilkan dari kegiatan audit yang dilaksanakan berdasarkan Standar Audit Pemeriksaan (SAP) yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) serta aturan lainnya yang diberlakukan pemerintah terhadap pengelolaan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan (PKBL). Laporan mengenai pengelolaan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan merupakan tanggung jawab manajemen. Tanggung jawab kami terletak pada hasil penilaian atas pengelolaan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan berdasarkan audit kami. 2. Sasaran dan Ruang Lingkup Audit Sasaran audit adalah pertanggungjawaban pengelolaan dana Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan (PKBL) yang dikelola oleh Bidang PKBL PT Pelindo I, untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004. Ruang lingkup audit mencakup ketaatan pengelolaan dana PKBL terhadap ketentuan dan peraturan yang berlaku. Audit atas pengelolaan dana Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan yang meliputi Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Program Kemitraan dan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Bina Lingkungan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2004 dilakukan oleh BPK-RI. 3. Dasar Pengelolaan Dana PKBL a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994 tentang Pedoman Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi melalui Pemanfaatan Dana dari Bagian Laba Badan Usaha Milik Negara; b. Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia/ Kepala Badan Pembina Badan Usaha Milik Negara Nomor: KEP–216/M–PBUMN/1999 tanggal 28 September 1999 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan; c. Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor SE-31/MK/2000, tanggal 25 Mei 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Program PUKK; d. Surat Menteri BUMN No. S-336/M-MBU/2002 tentang Program Bina Lingkungan; 11 e. Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: KEP–100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara; f. Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan; g. Surat Edaran Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: SE-433/MBU/2003 tanggal 16 September 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan; h. Surat Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: S-88/MBU.S/2004 tanggal 31 Maret 2004 tentang penetapan alokasi dana Program Kemitraan di setiap propinsi tahun 2004. 4. Organisasi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan di PT Pelindo I dikelola oleh Bidang KBL di Kantor Pusat yang merupakan suatu unit tersendiri di bawah Direktorat Keuangan. Bidang KBL dibentuk terakhir berdasarkan Surat Keputusan Direksi Nomor: PR.01/1/10/PI-04 tanggal 8 April 2004 dan bertanggung jawab atas pengelolaan Dana KBL. Bidang KBL dipimpin oleh seorang Senior Manajer (SM). Dalam melaksanakan tugasnya SM dibantu oleh dua orang Asisten Manajer (ASM) yaitu: ASM Pembinaan Kemitraan dan Bina Lingkungan serta ASM Administrasi dan Pelaporan. ASM Pembinaan dibantu oleh dua orang staf, sedangkan ASM Administrasi dan Pelaporan dibantu oleh seorang staf. Susunan personil Bidang KBL di Kantor Pusat sebagai berikut: SMB Kemitraan dan BL : Daud Tarigan, SE, MM ASM Pembinaan Kemitraan dan BL : Kamron Pasaribu, AMKK Staf Pembinaan Kemitraan dan BL Mangara Lumbantobing, SE. Apul Sinaga, SE. ASM Adm. dan Pelaporan : Asnul Arifin, SE Staf Adm. dan Pelaporan : Amin Rahmansyah, SE Untuk pengelolaan dana KBL di tingkat Cabang Utama dan beberapa cabang telah dibentuk Bagian KBL di bawah Manajer Keuangan sementara di cabang yang belum ada Bagian KBL tersendiri dirangkap oleh Manajer Keuangan. 5. Catatan atas Laporan Keuangan Program Kemitraan a. Metode Pembukuan Pembukuan atas transaksi pendapatan dan biaya dilakukan berdasarkan basis kas (cash basis). Pendapatan dicatat pada saat diterima pembayaran dan biaya dicatat pada saat pengeluaran dana. Untuk piutang pinjaman kepada Mitra Binaan dicatat sebesar pokok pinjaman dan diakui setelah mendapat otorisasi dari Direksi, sedangkan bunga pinjaman diakui pada saat pembayaran angsuran oleh Mitra Binaan. 12 b. Penjelasan Pos-Pos Neraca Program Kemitraan per tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 1) Kas dan Setara Kas Saldo Kas dan Setara Kas yang dimiliki Program Kemitraan adalah sebagai berikut: 31-12-2004 Rp Kas : Kas Meulaboh Cabang Malahayati Kas Cabang Tanjung Pinang Jumlah Kas Giro : Bank BNI Cabang Malahayati Cabang Lhokseumawe Cabang Kuala Langsa Cabang Kawasan Industri Medan (KIM) Cabang Balige Cabang KIM / Rekening Cabang Belawan Cabang Sibolga Cabang Gunung Sitoli Cabang Dumai Cabang Pekanbaru Cabang Tanjung Pinang Cabang Bengkalis Cabang Tembilahan Cabang Selat Panjang Cabang Tanjung Balai Karimun Bank BRI Cabang Balige Cabang Rengat Bank Sumut Cabang Belawan Cabang Tanjung Balai Asahan Bank Bukopin Medan Bank Syariah Mandiri Medan Kantor Pos Pekanbaru Jumlah Giro Jumlah Kas dan Setara Kas 491.403 16.928.364 15.706.661 134.175.002 6.428.510 789.429.760 804.753.278 8.369.997 15.509.541 132.910.092 769.618.522 769.618.522 6.656.035 20.482.002 27.907.319 256.302.805 75.045.700 78.803.484 13.391.920 6.875.503 16.794.182 23.015.275 42.645.152 7.029.052 677.125 1.332.478 1.441.223 33.190.710 4.109.855 15.560.905 17.765.386 5.297.690 102.127.832 59.136.590 118.266.300 31.838.555 10.872.137 55.655.503 32.023.430 66.764.840 41.413.955 1.185.675 1.509.220 11.057.713 29.034.267 13.318.894 1.965.825 13.357.693 15.323.518 31-12-2003 Rp - 13 2) Piutang Pinjaman Mitra Binaan Saldo piutang pinjaman Mitra Binaan per 31 Desember 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp22.002.643.714,00 dan Rp20.992.369.895,00 adalah saldo piutang pokok, belum termasuk saldo piutang bunga dengan rincian sebagai berikut : 31-12-2004 Saldo piutang awal tahun Penyaluran pinjaman tahun berjalan Angsuran pinjaman Saldo piutang pinjaman Mitra Binaan Rp 20.992.369.895 6.591.100.000 (5.580.826.181) 22.002.643.714 31-12-2003 Rp 15.136.790.168 9.678.700.000 (3.823.120.273) 20.992.369.895 Penyaluran pinjaman tahun 2004 sebesar Rp6.591.100,00 dan rincian penyaluran per jenis usaha dan per wilayah Mitra Binaan dengan rincian sebagai berikut: Sektor Industri Perdagangan Pertanian Peternakan Perikanan Jasa Jumlah N. Aceh D. 445.400.000 5.800.000 50.000.000 33.700.000 534.900.000 Sumut 694.200.000 1.924.900.000 420.900.000 10.000.000 1.011.000.000 4.061.000.000 Riau 146.900.000 1.356.500.000 30.000.000 11.100.000 118.400.000 332.300.000 1.995.200.000 Total 841.100.000 3.769.900.000 30.000.000 437.800.000 178.400.000 1.377.900.000 6.591.100.000 Sesuai dengan tingkat kelancaran pembayarannya saldo piutang Mitra Binaan per 31 Desember 2004 dan 2003 dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 31-12-2004 Rp Lancar Kurang lancar Diragukan Macet Saldo piutang pinjaman Mitra Binaan 8.028.855.246 5.002.141.372 1.892.710.064 7.078.937.032 22.002.643.714 31-12-2003 Rp 11.484.972.980 3.756.303.363 1.615.113.416 4.135.980.136 20.992.369.895 Kriteria kualitas piutang pada Mitra Binaan untuk tahun 2003 disusun berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 Pasal 24 tentang penggolongan kualitas pinjaman yang ditetapkan sebagai berikut: Lancar Kurang lancar Diragukan Macet : Pembayaran tepat atau sebelum jatuh tempo : Keterlambatan pembayaran 1 s/d 180 hari setelah jatuh tempo : Keterlambatan pembayaran 180 s/d 360 hari setelah jatuh tempo : Keterlambatan pembayaran 360 hari ke atas setelah jatuh tempo 14 3) Piutang Alokasi Laba Merupakan saldo alokasi dari laba yang telah disisihkan namun belum diterima oleh Bidang KBL PT Pelindo I. Untuk tahun buku 2004 seluruh penyisihan laba dari alokasi laba tahun 2003 telah semuanya diterima, sehingga per 31 Desember 2004 tidak terdapat lagi piutang alokasi laba. Saldo piutang alokasi laba per 31 Desember 2003 sebesar Rp500.000.000,00 dan telah dilunasi oleh perusahaan pada tahun 2004. 4) Aktiva Lancar Lainnya Saldo aktiva lancar lainnya per 31 Desember 2004 sebesar Rp18.337.500,00 merupakan saldo uang muka, untuk kegiatan Program Bina Lingkungan di cabang Dumai yang diambil dari Dana Program Kemitraan. Hal ini karena belum adanya pemisahan antara Rekening Bank Kemitraan dan Bina Lingkungan, walaupun kegiatan ini telah dilaporkan dan dipertanggungjawabkan pada Laporan Bina Lingkungan. 5) Aktiva Tetap Akun ini untuk mencatat jumlah pembelian aktiva tetap, yang dananya diambil dari surplus sisa hasil usaha, sesuai dengan Surat Edaran Menteri BUMN Nomor: SE-433/MBU/2003 tanggal 16 September 2003. Pembelian barang inventaris dan kendaraan merupakan komponen biaya operasi dan pembelian aktiva tetap tersebut harus dicatat dalam Neraca Program Kemitraan. Nilai buku aktiva tetap per 31 Desember 2003 sebesar Rp77.960.000,00 berupa inventaris kantor dan kendaraan roda dua yang dibeli tahun 2004 di Kantor Pusat, Cabang Belawan, Cabang Tanjung Pinang dan Cabang Lhokseumawe. Penyusutan atas aktiva tetap tersebut belum dilakukan mengingat pembukuan Program Kemitraan menggunakan sistem pencatatan cash basis. 31-12-2004 Rp Kendaraan Inventaris Kantor Nilai Buku Aktiva Tetap 15.980.000 61.980.000 77.960.000 31-12-2003 Rp - 6) Aktiva Lain-lain 31-12-2004 Rp Dana Penjaminan Kredit Usaha Mikro Layak Tanpa Agunan (KUM-LTA) PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. 31-12-2003 Rp 792.657.991 792.657.991 848.000.000 721.766.637 1.569.766.637 Piutang Bermasalah Nilai Buku Aktiva Tetap 15 Dana Penjaminan Kredit Usaha Mikro Layak Tanpa Agunan (KUM-LTA) pada PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. sebesar Rp848.000.000,00 merupakan dana yang ditempatkan sebagai pelaksanaan dari arahan Menteri BUMN agar BUMN menyimpan sejumlah dana dari Program Kemitraan sesuai dengan jumlah yang ditetapkan Kementerian BUMN sebagai jaminan untuk pemberian kredit kepada pengusaha kecil dari Bank Mandiri. Piutang bermasalah sebesar Rp721.766.637,00 merupakan piutang pinjaman pokok Mitra Binaan yang bermasalah (piutang macet) yang berasal dari penyaluran dana sampai dengan tahun 1996. Saldo piutang bermasalah ini per 31 Desember 2004 mengalami penurunan dari saldo piutang bermasalah per 31 Desember 2003 yang mencapai sebesar Rp792.657.991,00 karena adanya pelunasan sebesar Rp70.891.354,00. Rincian piutang bermasalah tersebut sebagai berikut: Wilayah N. Aceh D. Sumut Riau Jumlah Mitra Binaan 33 14 2 49 Pokok 322.355.998 357.480.639 41.930.000 721.766.637 Bunga 14.305.206 28.899.735 3.639.400 46.844.341 Jumlah 336.661.204 386.380.374 45.569.400 768.610.978 7) Kewajiban Lancar 31-12-2004 Rp Hutang pada kas perusahaan Uang Titipan BUMN Uang Titipan Mitra Binaan Jumlah Kewajiban Lancar 2.950.000 1.000.000 32.911.666 36.861.666 31-12-2003 Rp - Hutang pada kas perusahaan sebesar Rp2.950.000,00 di Cabang Malahayati merupakan dana talangan sementara dari kas perusahaan untuk biaya monitoring Mitra Binaan. Uang titipan BUMN sebesar Rp1.000.000,00 di Cabang Dumai merupakan titipan dana untuk sharing kegiatan dari PT Pos Indonesia (Persero). Uang titipan Mitra Binaan sebesar Rp32.911.666,00 merupakan pelunasan atas pokok pinjaman dan bunga dari Mitra Binaan yang sampai dengan posisi tangga 31 Desember 2004 belum teridentifikasi Mitra Binaannya. 8) Ekuitas Akun ini merupakan akumulasi dana yang berasal dari penyisihan laba perusahaan sejak tahun 1989 setelah adanya penerimaan dan pengeluaran untuk kepentingan operasional dengan perhitungan sebagai berikut: 16 31-12-2004 Rp Perubahan ekuitas Penerimaan: Penyisihan laba perusahaan Bunga pinjaman, jasa giro dan lain-lain Jumlah Penerimaan Pengeluaran: Hibah pada Mitra Binaan Beban operasional dan lain-lain Jumlah Pengeluaran Kenaikan (penurunan) ekuitas Ekuitas awal tahun Ekuitas akhir tahun 269.694.340 203.371.424 473.065.764 1.381.953.055 23.054.646.408 24.436.599.463 1.219.000.000 636.018.819 1.855.018.819 31-12-2003 Rp 1.750.000.000 453.410.883 2.203.410.883 337.757.100 90.689.889 428.446.989 1.774.963.894 21.279.682.514 23.054.646.408 Perubahan ekuitas secara kumulatif adalah sebagai berikut: 31-12-2004 Rp Perubahan ekuitas Penerimaan: Penyisihan laba perusahaan tahun s/d 2002 Penyisihan laba perusahaan tahun 2003 Penyisihan laba perusahaan tahun 2004 Surplus s/d tahun 2002 Surplus tahun 2003 Surplus tahun 2004 Jumlah Penerimaan Pengeluaran: Hibah pada Mitra Binaan s/d tahun 2002 Hibah pada Mitra Binaan tahun 2003 Hibah pada Mitra Binaan tahun 2004 Jumlah Pengeluaran Saldo ekuitas 3.288.668.570 337.757.100 269.694.340 3.896.120.010 24.436.599.463 3.288.668.570 337.757.100 3.626.425.670 23.054.646.408 22.900.489.248 1.750.000.000 1.219.000.000 1.667.861.836 362.720.994 432.647.395 28.332.719.473 22.900.489.248 1.750.000.000 1.667.861.836 362.720.994 26.681.072.078 31-12-2003 Rp 17 c. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Aktivitas Program Kemitraan untuk Tahun yang Berakhir pada Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 1) Saldo Awal tahun Saldo awal dana Program Kemitraan merupakan saldo akhir dana per 31 Desember 2003 sebesar Rp769.618.522,00 yang merupakan saldo rekening koran bank dana Program Kemitraan dengan rincian sebagaimana dalam penjelasan pos-pos Neraca nomor 5.b.1 2) Sisa Penyisihan Laba Tahun 2001 Sisa penyisihan laba tahun 2001 sebesar Rp 3.370.000.000,00 telah dilunasi semuanya oleh perusahaan pada tahun 2003, sehingga pada tahun 2004 bersaldo nihil. 3) Sisa Penyisihan Laba Tahun 2002 Sisa penyisihan laba tahun 2002 sebesar Rp500.000.000,00 merupakan sisa dari total alokasi laba tahun 2002 sebesar Rp1.750.000.000,00 yang baru diterima oleh Bidang PKBL PT Pelindo I pada tahun 2003 sebagaimana dalam penjelasan pos-pos Neraca nomor 5.b.3 4) Alokasi Penyisihan Laba yang Diterima Akun ini merupakan saldo penyisihan laba tahun lalu dari PT Pelindo I pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp1.219.000.000,00 dan Rp1.750.000.000,00. Berdasarkan Berita Acara RUPS persetujuan laporan tahunan, pengesahan perhitungan tahunan dan penggunaan laba bersih tahun buku 2002 No.BA -32/D2-MBU/2003 tanggal 20 Juni 2003 alokasi dana untuk PKBL sebesar Rp1.750.000.000,00 atau sebesar 1% dari laba Perusahaan tahun buku 2001. Alokasi dana tersebut sampai dengan 31 Desember 2003 telah dicairkan sebesar Rp1.250.000.000,00 atau lebih kecil sebesar Rp500.000.000,00 dari yang ditetapkan. Berdasarkan Berita Acara RUPS persetujuan laporan tahunan, pengesahan perhitungan tahunan dan penggunaan laba bersih tahun buku 2003 No.BA-44/D2-MBU/2003 tanggal 12 Juli 2004 alokasi dana untuk PKBL sebesar Rp1.219.000.000,00 atau sebesar 1 % dari laba perusahaan tahun buku 2003. Alokasi dana tersebut per 31 Desember 2004 telah dicairkan seluruhnya sebesar Rp 1.219.000.000,00. 5) Pengembalian Dana dari Program Bina Lingkungan Tahun 2004 tidak ada Dana Pengembalian dari Program Bina Lingkungan, sedangkan untuk tahun 2003 terdapat Dana Pengembalian dari Program Bina Lingkungan sebesar Rp1.064.171.000,00 yang merupakan dana talangan untuk Program Bina Lingkungan yang diambil dari Dana Program Kemitraan untuk penyaluran di Cabang Pekanbaru. 18 6) Penerimaan Pengembalian Pokok Pinjaman Jumlah pengembalian pokok pinjaman dari Mitra Binaan pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp5.580.826.181,00 dan Rp3.823.120.273,00. Jumlah pengembalian pokok pinjaman tahun 2004 mencapai sebesar 81,10% dari yang dianggarkan sebesar Rp6.881.248.000,00. Pengakuan pendapatan dan pencatatan penerimaan pokok pinjaman dari Mitra Binaan berdasarkan metode kas (cash method). Akumulasi pengembalian pokok pinjaman dari Mitra Binaan sejak tahun 1991 sampai dengan tahun 2004 termasuk pengembalian pokok pinjaman dari Mitra Binaan yang telah dikelompokkan ke dalam Piutang Pinjaman Bermasalah sebesar Rp16.741.839.649,00. 7) Penerimaan Pokok Pinjaman dari Piutang Bermasalah Jumlah pengembalian pokok pinjaman bermasalah sebesar Rp70.891.354,00 merupakan pelunasan dari pinjaman Mitra Binaan yang telah direklasifikasi ke dalam Aktiva Lain-lain. 8) Penerimaan dari Mitra Binaan yang Belum teridentifikasi Jumlah penerimaan sebesar Rp32.911.666,00 dari Mitra Binaan yang belum diketahui identitasnya akibat belum diterimanya bukti pembayaran dari Mitra Binaan atau identitas penyetor tidak dicantumkan dalam rekening koran. 9) Penerimaan Lainnya Jumlah penerimaan sebesar Rp3.950.000,00 terdiri dari dana bantuan sebesar Rp1.000.000,00 untuk sharing kegiatan dari PT Pos Indonesia (Persero) di Cabang Dumai berkaitan PT Pelindo sebagai Koordinator Pembina di Propinsi Riau untuk tahun 2003 yang sampai dengan awal tahun 2004 belum ditunjuk Koordinator Baru. Dan penerimaan sebesar Rp2.950.000,00 di Cabang Malahayati merupakan dana talangan sementara dari kas perusahaan untuk biaya monitoring Mitra Binaan. 10) Pinjaman pada Mitra Binaan Jumlah pemberian pinjaman kepada Mitra Binaan, yang berupa modal kerja dengan tingkat bunga berkisar antara 6%-12% per tahun. Realisasi pemberian pinjaman tahun 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp6.591.100.000,00 dan Rp9.678.700.000,00 dengan rincian sebagai berikut : 31-12-2004 Rp Pengusaha kecil Koperasi Jumlah Penerimaan 19 6.591.100.000 6.591.100.000 31-12-2003 Rp 9.167.700.000 511.000.000 9.678.700.000 Jumlah pemberian pinjaman tahun 2004 mencapai sebesar 76,17% dari yang dianggarkan sebesar Rp8.653.000.000,00. Pada tahun 2004 Bidang PKBL menerapkan Surat Edaran Menteri BUMN Nomor: SE-433/MBU/2003 tanggal 16 September 2003 yaitu untuk tingkat bunga bersifat regresif proporsional, dengan batasan sebagai berikut : No. a) b) c) d) Jumlah Pinjaman yang Disalurkan s/d Rp 10.000.000,Lebih besar dari Rp 10.000.000,- s/d Rp 30.000.000,Lebih besar dari Rp 30.000.000,- s/d 50.000.000,Diatas Rp 50.000.000,- Tingkat Bunga 6% 8% 10% 12% 11) Hibah Jumlah bantuan hibah yang diberikan per tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 masingmasing sebesar Rp269.694.340,00 dan Rp337.757.100,00 dengan rincian sebagai berikut : 31-12-2004 Rp Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Riau Jumlah Penerimaan 224.386.340 45.308.000 269.694.340 31-12-2003 Rp 200.012.100 137.745.000 337.757.100 Jumlah hibah yang disalurkan pada tahun 2004 mencapai 24,90% dari yang dianggarkan sebesar Rp1.083.000.000,00. Bantuan hibah yang diberikan kepada Mitra Binaan berupa pendidikan manajerial secara masal dan bantuan pemasaran dalam bentuk mengikutsertakan Mitra Binaan pada pameran-pameran produksi dalam negeri, yang dikelompokkan berdasarkan sektor usaha sebagai berikut: Sektor Industri Jasa Lainnya Jumlah N. Aceh D. - Sumut 176.813.340 40.300.000 7.273.000 224.386.340 Riau 19.308.000 26.000.000 45.308.000 Total 196.121.340 66.300.000 269.694.340 12) Dana Penjaminan KUM-LTA Jumlah sebesar Rp848.0000.000,00 merupakan dana yang ditempatkan di bank Mandiri, sebagaimana dalam catatan nomor 5.b.6). 20 13) Uang Muka Bina Lingkungan Uang muka Bina Lingkungan sebesar Rp18.337.500,00 merupakan uang untuk kegiatan Program Bina Lingkungan yang terlebih dulu diambil dari Dana Program Kemitraan. 14) Pendapatan Jumlah pendapatan dari aktivitas Program Kemitraan tahun 2004 dan 2003 masingmasing sebesar Rp636.018.819,00 dan Rp453.410.883,00 dengan rincian sebagai berikut : 31-12-2004 Rp Bunga pinjaman Jasa giro Lain-lain Jumlah Penerimaan 587.719.769 47.951.909 347.141 636.018.819 31-12-2003 Rp 323.648.890 103.409.639 26.352.354 453.410.883 Realisasi pendapatan bunga pinjaman mencapai mencapai sebesar 111,09% dari yang dianggarkan sebesar Rp529.042.000,00 dan pendapatan dari jasa giro hanya mencapai 46,90% dari yang dianggarkan sebesar Rp102.129.000,00. Sementara pendapatan lainlain tidak dianggarkan sedangkan realisasinya sebesar Rp347.141,00. 15) Beban Operasional Beban Operasional tahun 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp203.371.424,00 dan Rp90.689.889,00 dengan rincian sebagai berikut: 31-12-2004 Rp Beban Suvei, Monitoring dan Penagihan Beban Administrasi Jumlah Beban Operasional 189.904.767 13.466.657 203.371.424 31-12-2003 Rp 66.117.690 24.572.199 90.689.889 Beban administrasi berupa administrasi bank dan PPh jasa giro tahun 2004 mencapai sebesar 27,47% dari yang dianggarkan sebesar Rp49.017.000,00 dan realisasi beban suvei, monitoring dan penagihan mencapai sebesar 36,58% dari yang dianggarkan sebesar Rp519.125.000,00. 21 16) Pembelian Aktiva Tetap Selain beban operasional sebagaimana dalam catatan 5.c.14, Bidang PKBL juga telah membeli barang inventaris dan kendaraan sebesar Rp77.960.000,00. Sesuai dengan Surat Edaran Menteri BUMN No. SE-433/MBU/2003 tanggal 16 September 2003, pembelian barang inventaris dan kendaraan untuk operasional merupakan salah satu komponen beban operasional, tetapi karena harus dicatat di Neraca Program Kemitraan sebagai aktiva tetap, maka penyajiannya dalam Laporan Aktivitas dipisahkan dari beban operasional, sedangkan dananya diambilkan dari Sisa Hasil Usaha (Surplus), namun dalam penghitungan total beban operasional dimasukan sebagai salah satu komponen beban operasional. Besarnya beban operasional untuk pengelolaan Program Kemitraan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor 236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 maksimal 70% dari pendapatan yang diterima. Total beban operasional Bidang PKBL PT Pelindo I tahun 2004 sebesar Rp281.331.424,00 (Rp203.371.424,00 + Rp77.960,00) atau sebesar 44,26% dari pendapatan tahun berjalan. Jumlah beban operasional masih jauh dibawah jumlah maksimal yang diperkenankan. Barang inventaris dan kendaraan yang dibeli oleh Bidang PKBL Pelindo I sebagai berikut : a) Kantor Pusat - Note Book Acer Ex2902 FLCI 2 unit - Canon Camera PS A85 - Epson Printer Stylus RX310 - UPS merk ICA Jumlah b) Cabang Belawan - Komputer c) Cabang Lhokseumawe - Komputer d) Cabang Tanjung Pinang - Sepeda motor RX King Jumlah Pembelian Aktiva Tetap 6.300.000 15.980.000 77.960.000 25.850.000 3.960.000 2.200.000 1.320.000 33.330.000 22.350.000 d. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Akumulasi Dana Program Kemitraan untuk Tahun yang Berakhir s.d Tanggal 31 Desember 2004 1) Akumulasi Alokasi Penyisihan Laba s.d Tahun 2004 Penyisihan laba PT Pelindo I yang digunakan untuk pengembangan Usaha Kecil dan Koperasi dari alokasi laba tahun 1989 sampai dengan alokasi laba tahun 2003 adalah sebagai berikut: 22 Pembagian laba tahun 1989 Pembagian laba tahun 1990 Pembagian laba tahun 1991 Pembagian laba tahun 1992 Pembagian laba tahun 1993 Pembagian laba tahun 1994 Pembagian laba tahun 1995 Pembagian laba tahun 1996 Pembagian laba tahun 1997 Pembagian laba tahun 1998 Pembagian laba tahun 1999 Pembagian laba tahun 2000 Pembagian laba tahun 2001 Pembagian laba tahun 2002 Pembagian laba tahun 2003 Jumlah pembagian laba 2) Akumulasi Penerimaan Pendapatan s.d Tahun 2002 453.687.270 404.380.502 637.323.006 986.172.722 1.142.264.000 500.000.000 1.400.000.000 1.171.862.748 1.556.000.000 5.377.799.000 2.771.000.000 4.815.000.000 1.685.000.000 1.750.000.000 1.219.000.000 25.869.489.248 Sampai dengan tahun 2002 pendapatan yang berasal dari bunga pinjaman, jasa giro dan lain-lain tidak teridentifikasi porsi masing-masingnya. Total pendapatan sampai dengan tahun 2002 sebesar Rp1.668.194.733,00 3) Akumulasi Penerimaan Bunga Pinjaman Tahun 2003 s.d Tahun 2004 Penerimaan bunga pinjaman tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 adalah sebagai berikut: Penerimaan bunga pinjaman tahun 2003 323.648.890 Penerimaan bunga pinjaman tahun 2004 Jumlah penerimaan bunga pinjaman 4) Akumulasi Penerimaan Jasa Giro s.d Tahun 2004 Penerimaan jasa giro tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 adalah sebagai berikut: Penerimaan jasa giro tahun 2003 103.409.639 Penerimaan jasa giro tahun 2004 Jumlah penerimaan bunga pinjaman 5) 47.951.909 151.361.548 587.719.769 911.368.659 Akumulasi Penerimaan Pendapatan Lain-lain s.d Tahun 2004 Penerimaan pendapatan lain-lain tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 adalah sebagai berikut: 23 Penerimaan lain-lain tahun 2003 Penerimaan lain-lain tahun 2004 Jumlah penerimaan pendapatan lain-lain 6) Akumulasi Penyaluran Pinjaman s.d Tahun 2004 26.352.354 347.141 26.699.495 Jumlah akumulasi pemberian pinjaman dari tahun 1991 sampai dengan tahun 2004 sebesar Rp39.466.250.000,00 dengan perincian sebagai berikut: Wilayah Nanggroe Aceh D. Sumatera Utara Riau Jumlah Pengusaha Kecil 4.633.910.000 17.997.720.000 13.090.925.000 35.722.555.000 Koperasi 210.400.000 2.625.545.000 907.750.000 3.743.695.000 Total 4.844.310.000 20.623.265.000 13.998.675.000 39.466.250.000 Perusahaan belum dapat menyajikan data akumulasi penyaluran pinjaman per sektor sebagaimana dalam SK Menteri BUMN Nomor KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003. 7) Akumulasi Penyaluran Hibah s.d Tahun 2004 Akumulasi bantuan berupa hibah sejak tahun 1992 sampai dengan tahun 2004 mencapai sebesar Rp3.896.120.010,00 dengan rincian sebagai berikut: N. Aceh D. 1.073.785.700 1.073.785.700 Sumut 2.247.679.460 2.247.679.460 Riau 574.654.850 574.654.850 Total 3.896.120.010 3.896.120.010 Hibah Jumlah e. Penilaian Kinerja Pembinaan Efektivitas pembinaan dapat dilihat dari kinerja pembinaan usaha kecil dan koperasi selama tahun 2004, efektivitas tersebut dapat diukur dalam dua cara sebagai berikut : 1) Efektivitas penyaluran dana tahun 2004 Rumus : Jumlah dana yang disalurkan Jumlah dana yang tersedia Dana yang disalurkan : Penyaluran dana pinjaman Penyaluran hibah Penjaminan Dana KUM-LTA Bank Mandiri Jumlah dana yang disalurkan x 100% = Efektivitas penyaluran dana 6.591.100.000 269.694.340 848.000.000 7.708.794.340 24 Jumlah dana yang tersedia : Saldo awal tahun Setoran laba tahun berjalan Pengembalian pokok pinjaman Pengembalian pokok pinjaman dari piutang bermasalah Pengembalian pinjaman yang belum diketahui identitasnya Pendapatan bunga pinjaman Jumlah dana yang tersedia 7.708.794.340 8.760.967.492 769.618.522 1.719.000.000 5.580.826.181 70.891.354 32.911.666 587.719.769 8.760.967.492 Efektivitas penyaluran dana = x 100% = 87,99% Berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002, maka efektivitas penyaluran dana tahun 2004 sebesar 87,99% dikategorikan dengan skor 2. 2) Tingkat kolektibilitas pinjaman Posisi saldo pinjaman pokok usaha kecil dan koperasi per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp22.002.643.714,00. Rata-rata tertimbang kolektibilitas pokok pinjaman Mitra Binaan adalah sebagai berikut: Rumus : Rata-rata tertimbang kolektibilitas pinjaman Mitra Binaan Jumlah pinjaman yang disalurkan Kualitas Pinjaman Lancar Kurang lancar Diragukan Macet Jumlah x 100% = Tingkat kolektibilitas pinjaman Saldo 8.028.855.246 5.002.141.372 1.892.710.064 7.078.937.032 22.002.643.714 X X X X Prosentase 100% 75% 25% 0% 8.028.855.246 3.751.606.029 473.177.516 12.253.638.791 Jmlh rata-rata tertimbang 12.253.638.791 22.002.643.714 Tingkat kolektibilitas pinjaman = x 100% = 55,69% Berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tingkat kolektibilitas pinjaman penyaluran dana sebesar 55,69% dapat dikategorikan dengan skor 2. 25 f. Realisasi Penyaluran dan Penyebaran Dana Program Kemitraan Rencana penyaluran yang dianggarkan sesuai surat Menteri BUMN No.S-88/MBU.S/2004 tanggal 31 Maret 2004 tentang penetapan alokasi dana Program Kemitraan di setiap propinsi tahun 2004 untuk PT Pelindo I ditetapkan sebesar Rp9.736.000.000,00. Realisasi penyaluran dan penyebaran dana Program Kemitraan tahun 2004 yang telah disalurkan kepada Mitra Binaan dalam bentuk bantuan modal kerja sebesar Rp6.591.100.000,00 dan hibah sebesar Rp269.694.340,00 atau total penyaluran dana sebesar Rp6.860.794.340,00 atau 70,47 % dari rencana dengan rincian sebagai berikut : Wilayah Nanggroe Aceh D. Sumatera Utara Riau Jumlah Rencana 365.000.000 4.626.000.000 4.745.000.000 9.736.000.000 Realisasi 534.900.000 4.285.386.340 2.040.508.000 6.860.794.340 Prosentase 146,55% 92,64% 43,00% 70,47% Prosentase jumlah hibah terhadap dana yang disalurkan pada tahun berjalan sebesar 3,93% (Rp269.694.340,00 : Rp6.860.794.340,00 x 100%). Jumlah hibah yang dikeluarkan ini jauh lebih kecil dari batasan yang boleh dikeluarkan yaitu maksimal sebesar 20% dari penyaluran tahun berjalan. 6. Catatan atas Laporan Arus Dana Program Bina Lingkungan untuk Tahun yang Berakhir pada Tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 a. Sumber Dana Program Bina Lingkungan 1) Saldo Awal Saldo awal Dana Program Bina Lingkungan merupakan saldo akhir dana per 31 Desember 2003 sebesar Rp1.217.859.570,00. Saldo dana sejumlah tersebut merupakan saldo rekening koran dana Program Bina Lingkungan pada PT Bank BNI Cabang Kawasan Industri Medan (KIM) No. Rekening 053.000401955.011. 2) Alokasi Penyisihan Laba yang Ditrerima Berdasarkan Berita Acara RUPS No.BA-44/D2-MBU/2004 tanggal 12 Juli 2004 tentang persetujuan laporan tahunan, pengesahan perhitungan tahunan dan penggunaan laba bersih tahun buku 2003 alokasi dana untuk PBL sebesar Rp2.438.000.000,00 atau sebesar 2% dari laba perusahaan tahun buku 2003. Alokasi dana tersebut per 31 Desember 2004 telah diterima oleh unit PKBL, begitupun untuk tahun 2003 semua alokasi laba dari penyisihan laba tahun 2002 sebesar Rp3.500.000.000,00 telah diterima. 26 3) Penerimaan Lain-lain 31-12-2004 Rp Penerimaan jasa giro Penerimaan lainnya Jumlah penerimaan jasa giro dan lain-lain 17.135.000 18.337.500 35.472.500 31-12-2003 Rp 17.232.980 17.232.980 Penerimaan jasa giro berupa penerimaan dari rekening giro Bina Lingkungan yang berada di Kantor Pusat yang pada tahun 2004 mencapai sebesar 95,19% dari yang dianggarkan sebesar Rp18.000.000,00. Penerimaan lainnya sebesar Rp18.337.500,00 merupakan hutang kas Bina Lingkungan kepada kas Program Kemitraan, berupa dana talangan untuk kegiatan Bina Lingkungan di Dumai, lihat catatan Program Kemitraan No. 5.b.4) dan 5.c.13). b. Penggunaan Dana Program Bina Lingkungan 1) Bantuan Korban Bencana Alam Kantor Pusat/Kantor Cabang Kantor Pusat, Medan Cabang Lhokseumawe Cabang Belawan Cabang Rengat Jumlah 2) Bantuan Pendidikan dan atau Pelatihan Kantor Pusat/Kantor Cabang Kantor Pusat, Medan Cabang Malahayati Cabang Lhokseumawe Cabang Kuala Langsa Cabang Belawan Cabang Tanjung Balai Asahan Cabang Sibolga Cabang Gunung Sitoli Cabang Pekanbaru 31-12-2004 Rp 593.731.950 9.725.000 22.356.700 18.952.000 147.443.400 21.625.000 7.200.000 3.600.000 75.780.000 31-12-2003 Rp 250.000.000 7.800.000 31-12-2004 Rp 24.775.000 24.775.000 31-12-2003 Rp 250.000.000 400.000.000 70.620.000 4.300.000 724.920.000 27 Cabang Tanjung Pinang Cabang Selat Panjang Jumlah 3) Bantuan Peningkatan Kesehatan Kantor Pusat/Kantor Cabang Cabang Tanjung Balai Asahan Cabang Dumai Cabang Pekanbaru Jumlah 4) 15.575.000 915.989.050 11.520.000 269.320.000 31-12-2004 Rp 9.000.000 8.337.500 12.000.000 29.337.500 31-12-2003 Rp 63.085.000 63.085.000 Bantuan Pengembangan Sarana dan Prasarana Umum Kantor Pusat/Kantor Cabang Cabang Tanjung Balai Asahan Cabang Dumai Cabang Pekanbaru Cabang Tanjung Pinang Jumlah 31-12-2004 Rp 44.000.000 10.000.000 375.000.000 8.650.000 437.650.000 31-12-2003 Rp 36.920.000 36.920.000 5) Bantuan Sarana Ibadah Kantor Pusat/Kantor Cabang Kantor Pusat, Medan Cabang Kuala Langsa Cabang Belawan Cabang Tanjung Balai Asahan Cabang Sibolga Cabang Gunung Sitoli Cabang Pekanbaru Cabang Tanjung Pinang Cabang Tembilahan Cabang Selat Panjang Cabang Tanjung Balai Karimun Cabang Rengat Jumlah 31-12-2004 Rp 31.972.750 362.403.500 12.550.000 82.160.000 16.715.500 88.029.100 50.760.000 9.760.000 16.755.000 22.515.000 693.620.850 31-12-2003 Rp 35.000.000 18.276.000 50.000.000 8.835.000 112.111.000 28 6) Bantuan Seni Budaya Kantor Pusat/Kantor Cabang Cabang Tanjung Balai Karimun Jumlah 31-12-2004 Rp 2.101.372.400 31-12-2003 Rp 20.000.000 20.000.000 1.226.356.000 Jumlah Penggunaan Dana Program Bina Lingkungan Untuk tahun 2004 penyaluran Bina Lingkungan mengacu kepada Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003, sehingga bantuan untuk seni budaya tidak ada lagi. 7) Beban Operasional dan Lain-lain Kantor Pusat/Kantor Cabang Beban survey / penelitian, monitoring / evaluasi dan penyerahan bantuan Beban Administrasi Jumlah 31-12-2004 Rp 48.000.500 3.727.040 51.727.540 31-12-2003 Rp 5.274.800 3.571.610 8.846.410 Beban lain-lain merupakan beban atas biaya survei, penelitian, evaluasi dan perjalanan dinas dalam rangka penyerahan bantuan Dana Program Bina Lingkungan. Realisasi beban operasional sebesar Rp51.727.540,00 atau 120,30% dari yang dianggarkan sebesar Rp43.000.000,00. Jumlah ini masih lebih kecil dari maksimal beban operasional yang diperkenankan sesuai dengan Keputusan Menteri BUMN yaitu sebesar Rp63.041.172,00 (3% x Rp2.101.372.400,00) c. Saldo Akhir Dana Saldo Akhir Dana yang dimiliki Program Bina Lingkungan adalah sebagai berikut: 31-12-2004 Rp Kantor Pusat Bank BNI Cabang Kawasan Industri Medan (KIM) Cabang Tanjung Balai Asahan Bank Sumut Cabang Pekanbaru Bank BNI Jumlah 15.000.000 1.538.232.130 1.217.859.570 225.000 1.523.007.130 1.217.859.570 31-12-2003 Rp 29 Dana Bina Lingkungan sebesar Rp225.000,00 di Cabang Tanjung Balai Asahan dan sebesar Rp15.000.000,00 di Unit PKBL Cabang Pekanbaru merupakan saldo dana Bina Lingkungan yang terdapat pada rekening Bank Kemitraan, hal ini karena belum ada pemisahan antara rekening Dana Kemitraan dan Dana Bina Lingkungan. d. Perbandingan Realisasi Penyaluran dan Penyebaran Dana Bina Lingkungan dengan Anggarannya Alokasi penggunaan dana Program Bina Lingkungan tahun 2004 ditetapkan dalam Rencana Kerja Anggaran Bina Lingkungan yang disahkan bersamaan dengan RKAP perusahaan dengan jumlah anggaran yang ditetapkan sebesar Rp1.974.000.000,00. Berdasarkan anggaran penggunaan dana tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut oleh Bidang PKBL PT Pelindo I ke berbagai Cabang dan Kantor Pusat mengacu kepada usulan RKAP sesuai anggaran yang tersedia. Perbandingan antara realisasi penggunaan dana dan anggarannya tahun 2004 sebagai berikut : 1) Perbandingan Penggunaan Dana Berdasarkan Bidang Alokasi Penggunaan Dana Korban Bencana Alam Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan Kesehatan Pengemb. prasarana & sarana umum Sarana Ibadah Jumlah Anggaran 112.000.000 188.000.000 165.000.000 1.114.000.000 352.000.000 1.931.000.000 Realisasi 24.775.000 915.989.050 29.337.500 437.650.000 693.620.850 2.101.372.400 Prosentase 22,12% 487,23% 17,78% 39,29% 197,05% 108,82% Realisasi penggunaan Dana Bina Lingkungan tahun 2004 sebesar Rp2.101.372.400,00 lebih besar 8,82% dari yang dianggarkan sebesar Rp1.931.000.000,00. 2) Perbandingan Penggunaan Dana Berdasarkan Realisasi per Cabang Kantor Cabang/Kantor Pusat Kantor Pusat, Medan Cabang Malahayati Cabang Lhokseumawe Cabang Kuala Langsa Cabang Belawan Cabang Tanjung Balai Asahan Cabang Sibolga Cabang Gunung Sitoli Cabang Dumai Cabang Pekanbaru Cabang Tanjung Pinang Anggaran 94.000.000 130.000.000 125.000.000 80.000.000 340.000.000 125.000.000 130.000.000 35.000.000 255.000.000 175.000.000 170.000.000 Realisasi 625.704.700 9.725.000 22.356.700 18.952.000 534.621.900 87.175.000 89.360.000 20.315.500 18.337.500 550.809.100 74.985.000 Prosentase 665,64% 7,48% 17,89% 23,69% 157,24% 69,74% 68,74% 58,04% 7,19% 314,75% 44,11% 30 Cabang Bengkalis Cabang Tembilahan Cabang Selat Panjang Cabang Tanjung Balai Karimun Cabang Rengat Jumlah 40.000.000 145.000.000 50.000.000 35.000.000 45.000.000 1.974.000.000 9.760.000 16.755.000 22.515.000 2.101.372.400 0,00% 6,73% 33,51% 64,33% 0,00% 106,45% Anggaran penyaluran Program Bina Lingkungan Tahun 2004 per Cabang termasuk didalamnya anggaran Beban Operasional yang dianggarkan sebesar Rp43.000.000,00 sehingga lebih besar dibandingkan dengan anggaran penyaluran dana bina lingkungan per Alokasi Penggunaan Dana. Penggunaan dana untuk Program Bina Lingkungan tahun 2004 melebihi dari yang dianggarkan. Hal tersebut karena adanya himbauan dari Pemerintah Pusat untuk memberikan dana bantuan bina lingkungan pada beberapa kegiatan kepedulian dan bantuan kepada masyarakat di lingkungan BUMN serta tersedianya dana program Bina Lingkungan yang disisihkan dari laba setelah pajak tahun 2003 guna kegiatan tahun 2004. 7. Hal-hal yang perlu diperhatikan a. Penempatan dana penjaminan dalam rangka Kredit Usaha Mikro Layak Tanpa Agunan (KUM-LTA) oleh PT Pelindo I pada PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. sebesar Rp848.000.000,00 tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku Pada tahun 2004, PT Pelindo I telah menyetorkan sejumlah uang dari dana Program Kemitraan yang ditujukan sebagai penempatan dana penjaminan dalam rangka Program Kredit Usaha Mikro Layak Tanpa Agunan (KUM-LTA) di PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. sebesar Rp848.000.000,00. Dasar penyetoran dana tersebut adalah: 1. Surat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) kepada Menteri BUMN Nomor: B-86/Menko/Kesra/V/2004 tanggal 26 Mei 2004 perihal Penjaminan Dana Program Kemitraan Untuk Kredit Usaha Mikro. 2. Surat Menteri BUMN kepada Menko Kesra Ad-Interim Selaku Ketua Komite Penanggulangan Kemiskinan Nomor: S-279/MBU/2004 tanggal 2 Juni 2004 antara lain berisi tentang persetujuan Menteri BUMN atas usulan Menko Kesra mengenai penempatan sebagian dana kas Program Kemitraan BUMN Pembina pada bank-bank sebagai jaminan atas penyaluran kredit perbankan kepada usaha mikro. 31 3. Surat Menteri BUMN Nomor: S-290/MBU/2004 tanggal 4 Juni 2004 yang antara lain menyatakan bahwa dana program kemitraan yang ditempatkan sebagai dana jaminan tersebut tidak diperhitungkan dalam kinerja Program Kemitraan dan dana yang masih ada agar tetap disalurkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 4. Surat Menteri BUMN Nomor: S-307/MBU/2004 tanggal 15 Juni 2004 kepada para Direksi BUMN Pembina Program Kemitraan tentang Penetapan Jumlah Dana Program Kemitraan yang ditempatkan untuk Jaminan Kredit Usaha Mikro dimana PT Pelindo I diharuskan menyetor sebesar Rp848.000.000,00 dalam bentuk giro atau deposito. Penyetoran dana penjaminan tersebut diikat dengan Perjanjian Penempatan Dana dan Penjaminan Dalam Rangka Kredit Usaha Mikro Layak Tanpa Agunan Nomor: DIR.PKS/039/2004 tanggal 18 Juni 2004 antara PT Pelindo I yang diwakili oleh Direktur Utama dengan PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. yang diwakili oleh Direktur Commercial Banking dengan ketentuan sebagai berikut: 1. PT Pelindo I menyetorkan dana penempatan untuk KUM-LTA kepada PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. setinggi-tingginya Rp848.000.000,00 ke rekening Giro Nomor: 070-00-0423544-1. 2. Atas penempatan dana tersebut PT Pelindo I akan diberikan jasa giro dan atau bunga deposito oleh PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. 3. Dana penjaminan tidak dapat ditarik kembali selain untuk klaim dari PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. dan dapat ditarik apabila ada kebijakan 4. lain dari Pemerintah atas dana penjaminan tersebut. Seleksi terhadap debitur kredit mikro dan penilaian atas kelayakan kredit mikro dilakukan oleh PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. PT Pelindo I berhak mendapatkan laporan realisasi penyaluran Kredit Mikro dari PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. tiap 3 (tiga) bulan, dan untuk pertama kali dilakukan laporan posisi pada bulan September 2004. PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. diberi kuasa untuk mendebet dana yang ditempatkan apabila ada debitur PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. penerima KUM-LTA tidak melaksanakan kewajiban (wanprestasi) kepada PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. selama-lamanya 90 (sembilan puluh) hari sejak terjadinya wanprestasi dengan terlebih dahulu mengajukan klaim tertulis kepada PT Pelindo I melalui Kementerian BUMN. Dari bukti-bukti yang diperoleh diketahui bahwa: Dana yang terkumpul pada PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. dari seluruh BUMN per tanggal 31 32 Desember 2004 adalah sebesar 5. 6. 1. Rp184.786.000.000,00 termasuk di dalamnya dana dari PT Pelindo I sebesar Rp848.000.000,00. 2. PT Pelindo I menyetor dana sebesar Rp848.000.000,00 bukan sebagai dana penjaminan dalam bentuk penyetoran yang sifatnya terputus dan tidak dapat ditarik kembali kecuali ada kebijakan lain dari pemerintah sesuai dengan perjanjian PT Pelindo I dengan PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. 3. PT Pelindo I tidak pernah menerima jasa giro seperti yang dituliskan dalam perjanjian pasal 2 ayat (3) yang menyatakan bahwa penempatan dana Pihak Pertama (PT Pelindo I) pada rekening Giro dan atau deposito di pihak kedua (PT Bank Mandiri) akan diberikan jasa giro dan atau bunga oleh PT Bank Mandiri. 4. Dalam laporan realisasi dari PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. hanya memuat jumlah penempatan dana penjaminan dan jasa giro KUM-LTA serta sejumlah penyaluran KUM-LTA yang penyajiannya secara global tidak dirinci per BUMN kecuali untuk penyetoran penempatan dana dirinci per BUMN, serta tidak menampilkan rincian penyalurannya ke pihak mana saja. 5. PT Pelindo I tidak dilibatkan dalam menyeleksi debitur kredit mikro secara langsung, karena semua dilakukan oleh PT (Persero) Bank Mandiri Tbk. sehingga PT Pelindo I tidak bisa meyakini debitur kredit mikro yang dijaminnya. Dasar penyetoran dana sebesar Rp848.000.000,00 sesuai Surat Menteri BUMN Nomor: S-290/MBU/2004 tanggal 4 Juni 2004 dan Surat Menteri BUMN Nomor: S-307/MBU/2004 tanggal 15 Juni 2004 tidak sejalan dengan Keputusan Menteri BUMN Nomor: 236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 yang mengatur tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan yang menyebutkan antara lain: 1. Pasal 5 huruf (d) menyatakan bahwa BUMN Pembina mempunyai kewajiban untuk melakukan evaluasi dan seleksi atas kelayakan usaha dan menetapkan calon Mitra Binaan secara langsung. 2. Pasal 8 ayat (1) butir b menyatakan bahwa dana program Kemitraan bersumber dari hasil bunga pinjaman, bunga deposito dan atau jasa giro dan dana Program Kemitraan setelah dikurangi dengan beban operasional. 33 3. Pasal 11 huruf (b) BUMN Pembina melaksanakan evaluasi dan seleksi secara langsung atas permohonan yang diajukan oleh calon Mitra Binaan setelah berkoordinasi dengan Koordinator Pembina. 4. Pasal 16 menyatakan bahwa BUMN Pembina dilarang menggunakan dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan untuk hal-hal di luar ketentuan yang diatur dalam keputusan ini (Keputusan Menteri BUMN Nomor: 236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dasar penyetoran dana sebesar Rp848.000.000,00 yaitu Surat Meneg No.S-290/MBU/2004 tanggal 4 Juni 2004 dan S-307/MBU/2004 tanggal 15 Juni 2004 tidak ada dasar hukum yang kuat. Disamping itu surat-surat Meneg BUMN tersebut bertentangan dengan Keputusan Menteri BUMN No.KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003. Hal tersebut mengakibatkan PT Pelindo I kekurangan dana untuk penyaluran kepada Mitra Binaan di wilayah binaan perusahaan dan berpotensi mengalami kerugian sebesar Rp848.000.000,00. Hal ini disebabkan Direksi PT Pelindo I tidak memperhatikan ketentuan-ketentuan yang berlaku sebelum menyetor dana penjaminan KUMLTA kepada PT Bank Mandiri. Selain itu Meneg BUMN telah melakukan tindakan perintah penyetoran dana milik BUMN ke PT Bank Mandiri dalam rangka penjaminan KUM-LTA yang tidak sesuai dengan Keputusan Menteri BUMN yang berlaku. Direksi PT Pelindo I menyatakan sependapat dengan BPK-RI bahwa kebijakan tersebut tidak sejalan dengan Keputusan Menteri BUMN yang berlaku saat itu, namun dalam hal ini PT Pelindo I hanyalah melaksanakan instruksi sebagaimana isi surat Menteri BUMN Nomor: S-307/MBU/2004 ditempatkan untuk Jaminan Kredit Usaha Mikro. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar dana yang telah disetorkan sebesar Rp848.000.000,00 tersebut diubah statusnya menjadi deposito atau giro jaminan kredit sesuai dengan Surat Meneg BUMN No.290/MBU/2004 tanggal 4 Juni 2004 tentang Penjaminan Dana Program Kemitraan Untuk Kredit Usaha Mikro, dan dibukukan sebagai deposito atau giro milik PT Pelindo I. tanggal 15 Juni 2004 tentang Penempatan Jumlah Dana Program Kemitraan yang 34 b. Piutang pinjaman sebesar Rp7.078.937.032,00 atau 32,17% dari total piutang pinjaman merupakan piutang pinjaman macet Berdasarkan data rekapitulasi penyaluran pinjaman, penerimaan angsuran pokok dan bunga dari pinjaman Mitra Binaan diketahui bahwa pada tahun 2004 jumlah saldo pinjaman yang telah disalurkan oleh Bidang PKBL PT Pelindo I baik yang melalui Kantor Pusat maupun Cabang-cabang sebesar Rp22.002.643.714,00. Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 pasal 24, kualitas pinjaman kepada Mitra Binaan dikelompokkan menjadi empat golongan yaitu lancar, kurang lancar, diragukan dan macet. Berdasarkan klasifikasi tersebut kualitas pinjaman Mitra Binaan PT Pelindo I dapat dikelompokkan sebagai berikut: Tabel Daftar Kualitas Pinjaman Mitra Binaan per 31 Desember 2004 No. Cabang Lancar Kurang Lancar 98.855.409 12.909.500 380.604.932 3.420.942 1.799.397.825 497.356.500 306.095.800 56.858.000 219.920.515 656.825.434 723.769.594 136.895.592 87.352.795 21.878.534 5.002.141.372 22,73% Diragukan Macet Jumlah % yg Macet 80,16% 73,10% 18,19% 80,33% 20,31% 21,75% 30,92% 33,17% 22,34% 41,45% 23,84% 0,00% 22,83% 0,00% 47,90% 14,50% 32,17% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Malahayati Lhokseumawe Kuala Langsa Kantor Pusat / Medan Belawan Tanjung Balai Asahan Sibolga Gunung Sitoli Dumai Pekanbaru Tanjung Pinang Bengkalis Tembilahan Selat Panjang Tanjung Balai Karimun Rengat Jumlah Persentase thd Total 2.900.000 238.873.716 216.235.505 282.780.479 2.276.906.462 807.854.170 769.809.095 248.403.000 274.820.759 692.805.786 1.152.346.438 294.912.736 157.991.285 497.396.256 16.469.341 98.350.218 8.028.855.246 36,49% 7.252.000 16.639.400 88.926.746 5.117.769 513.355.174 201.749.500 188.180.000 61.370.820 260.093.271 533.823.000 16.202.384 1.892.710.064 8,60% 440.545.710 729.297.909 152.526.996 1.189.633.943 1.169.400.327 418.948.444 565.669.938 151.482.000 159.950.942 1.139.404.856 754.224.000 92.006.967 95.455.000 20.390.000 7.078.937.032 32,17% 549.553.119 997.720.525 838.294.179 1.480.953.133 5.759.059.788 1.925.908.614 1.829.754.833 456.743.000 716.063.036 2.749.129.347 3.164.163.032 294.912.736 403.096.228 497.396.256 199.277.136 140.618.752 22.002.643.714 100,00% Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 32,17% atau sebesar Rp7.078.937.032,00 dari jumlah keseluruhan piutang pinjaman sebesar Rp22.002.643.714,00 merupakan piutang pinjaman macet. Jumlah kemacetan 35 piutang terbesar adalah pinjaman yang disalurkan melalui Kantor Pusat yaitu 80,33% atau sebesar Rp1.189.633.943,00 dari total piutang pinjaman sebesar Rp1.480.953.133,00. Menurut penjelasan Senior Manajer PKBL PT Pelindo I besarnya piutang pinjaman macet di Kantor Pusat karena pada tahun 1999 ada himbauan dari Pemerintah untuk menyalurkan dana ke koperasi terutama koperasi-koperasi pondok pesantren yang ternyata jumlah kredit macetnya mencapai sebesar Rp950.476.675,00 atau sebesar 79,90% dari total kredit macet Kantor Pusat. Hasil pemeriksaan secara uji petik pada Cabang Belawan yang mempunyai piutang macet sebesar Rp1.169.400.327,00 atau 20,31% dari total piutang pinjaman sebesar Rp5.759.059.788,00 diketahui bahwa terhadap piutang pinjaman macet telah dilakukan upaya penagihan yaitu antara lain dengan menelepon dan mengirimkan Surat Pemberitahuan Tunggakan Pembayaran Angsuran (SPTPA) agar Mitra Binaan yang bersangkutan segera melunasi kewajibannya. Selain itu, dilakukan upaya dengan mengirimkan surat panggilan untuk membahas masalah tunggakan Mitra Binaan, dan untuk piutang yang telah lama macet diserahkan pengurusannya ke Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN). Atas upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut belum menunjukkan hasil yang maksimal. Selain itu, atas surat-surat yang dikirimkan tersebut, pihak Unit PKBL Cabang Belawan tidak membuat monitoring dan evaluasi terhadap tanggapan dari Mitra Binaan yang dikirimi surat, sehingga tidak dapat diketahui sejauh mana efektivitas dari surat tersebut. Hal ini mengakibatkan perputaran piutang diantara Mitra Binaan rendah dan program dana bergulir tidak mencapai sasarannya serta bantuan pinjaman untuk calon Mitra Binaan baru tidak dapat direalisasikan karena dana masih tertahan pada Mitra Binaan lama. Hal tersebut disebabkan: 1. Unit PKBL PT Pelindo I kurang intensif dalam melakukan pemantauan, pembinaan dan penagihan. 2. Kesalahan persepsi Mitra Binaan tentang dana pinjaman yang menganggap dana bantuan tidak perlu dikembalikan, dan tidak adanya itikad baik walaupun usahanya berkembang. 3. Tidak diaturnya sanksi yang tegas dalam surat perjanjian terhadap Mitra Binaan yang kreditnya menunggak. 36 4. Terdapat kendala teknis bagi Mitra Binaan dalam melakukan pembayaran melalui mekanisme perbankan, khususnya untuk Mitra Binaan yang berlokasi jauh dari bank. Direksi PT Pelindo I menyatakan bahwa piutang pinjaman macet sebesar Rp7.078.937.032,00 benar adanya yang disebabkan antara lain adanya perlakuan khusus yang diberikan sesuai rekomendasi dari Menteri Pendayagunaan BUMN No. S-03/M2-PBUMN/1999 tanggal 5 Januari 1999 terutama yang berkaitan dengan penyaluran kepada koperasi-koperasi pondok pesantren dan tidak adanya persyaratan jaminan terhadap pinjaman yang disalurkan sebelum tahun 1996. Usaha yang untuk mengurangi pinjaman macet yaitu: 1. Membuat surat penagihan dan menyampaikan langsung kepada Mitra Binaan dengan tahapan sebagai peringatan I s.d. III (tembusan KP2LN). 2. Kerja sama dengan KP2LN untuk membuat surat somasi apabila tidak ada pelunasan hutang. 3. Menyerahkan kepengurusan pinjaman macet kepada KP2LN. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar: 1. Melakukan pembinaan, monitoring, dan penagihan secara lebih intensif kepada Mitra Binaan yang menunggak. 2. Memberikan pengarahan yang tepat kepada Mitra Binaan tentang status dana pinjaman dan penggunaannya yang tepat. 3. Menetapkan persyaratan jaminan yang sifatnya dapat mengikat Mitra Binaan agar bersedia menyelesaikan pinjamannya serta memberikan sanksi yang lebih tegas. 4. Melanjutkan usaha melalui kerjasama dengan pihak KP2LN. c. Struktur organisasi Unit PKBL di Cabang-cabang belum sepenuhnya mandiri dan didukung dengan jumlah personil yang memadai Dalam mengelola dan melaksanakan kepedulian BUMN terhadap pengusaha kecil dan koperasi, PT Pelindo I selalu berusaha mengacu kepada ketentuan yang berlaku dan kemudian dijabarkan dalam berbagai kebijakan Direksi. Struktur organisasi Bidang Kemitraan dan Bina Lingkungan di Kantor Pusat terakhir ditetapkan dalam Surat Keputusan Direksi Nomor: PR.01/1/10/PI-04 tanggal 8 April 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja pada Kantor Pusat dengan komposisi dan personil pelaksana langsung untuk Program telah dan akan dilaksanakan 37 Kemitraan dan Program Bina Lingkungan di Kantor Pusat sebanyak 6 (enam) orang yang terdiri dari Senior Manajer (SM) Bidang Kemitraan dan Bina Lingkungan sebagai pimpinan yang membawahi 2 (dua) orang staf setingkat Manajer. Masing-masing Manajer mempunyai 1 (satu) orang staf dan 1 (satu) orang Asisten Manajer (ASM) sebagai pelaksana Bidang Kemitraan dan Bina Lingkungan. Susunan organisasi PKBL adalah sebagai berikut: SM Bidang Kemitraan dan BL ASM Pembinaan Kemitraan dan BL ASM Adm. dan Pelaporan Staf Adm. dan Pelaporan Staf Pembinaan Kemitraan dan BL : : : : Daud Tarigan, SE., MM. Kamron Pasaribu, AMKK Asnul Arifin, SE Amin Rahmansyah, SE Mangara Lumbantobing, SE. Apul Sinaga, SE. Sesuai ketentuan dalam Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, dinyatakan bahwa Unit Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan adalah unit organisasi khusus yang mengelola Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan yang merupakan bagian dari organisasi BUMN Pembina serta bertanggung jawab secara langsung kepada Direksi BUMN Pembina. PT Pelindo I berusaha untuk mengikuti ketentuan tersebut dengan membentuk unit PKBL di beberapa Cabang yang besar. Namun belum semua Cabang merupakan unit organisasi yang terpisah. Sampai sekarang baru ada 5 (lima) cabang yang memiliki Unit PKBL yaitu Cabang Pelabuhan Belawan dengan 3 (tiga) orang personil, Cabang Pelabuhan Dumai, Cabang Pelabuhan Pekanbaru dan Cabang Pelabuhan Lhokseumawe masing-masing 2 (dua) orang personil serta Cabang Pelabuhan Tanjungpinang dengan 1 (satu) orang personil. Sisanya adalah cabang-cabang yang memiliki fungsi pembina Kemitraan yang dirangkap oleh dinas/divisi keuangan. Berdasarkan hasil uji petik atas aktivitas pengelolaan dan pembinaan PKBL di Cabang Belawan diketahui bahwa dengan jumlah personil sebanyak 3 (tiga) orang sebagai pelaksana langsung untuk menangani dan mengelola serta membina para Mitra Binaan sangat kurang memadai. Dengan kondisi tersebut maka Program Kemitraan dan Bina Lingkungan pada PT Pelindo I menjadi sangat tidak efektif karena terbatasnya sumber daya manusia yang tersedia untuk melakukan pembinaan. 38 Menurut penjelasan Asisten Manajer Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Cabang Pelabuhan Belawan diketahui bahwa dengan terbatasnya personil yang tersedia, unit pelaksana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan di Cabang Belawan tidak dapat bertugas dengan optimal. Kondisi ini tentu akan semakin tidak efektif bila hanya dirangkap tugasnya oleh Dinas Keuangan, karena untuk melaksanakan tugas pokok perusahaan saja sudah padat, apalagi ditugaskan sebagai fungsi pengelolaan dan pembinaan Mitra Binaan. Hal ini mengakibatkan proses evaluasi, seleksi atas kelayakan usaha dan penetapan calon Mitra Binaan, serta pengadministrasian dan pelaporan pelaksanaan kegiatan baik laporan berkala triwulanan maupun tahunan menjadi tidak dapat terlaksana dengan baik, terlebih lagi fungsi paling sulit yaitu pemantauan dan pembinaan terhadap Mitra Binaan yang lokasi usaha dan domisilinya rata-rata tersebar jauh dan sulit dijangkau. Hal tersebut disebabkan manajemen kurang mempertimbangkan unsur efektivitas dalam pembagian tugas rutin dinas/divisi keuangan pada masingmasing cabang dan kurang perhatian atas pengelolaan dana PKBL. Direksi PT Pelindo I menyatakan sependapat dengan BPK-RI dan untuk masa mendatang hal ini akan menjadi perhatian perusahaan guna melengkapi personil sesuai beban tugas di cabang tersebut. BPK-RI menyarankan agar Direksi PT Pelindo I segera membentuk unit KBL di Cabang-cabang khususnya yang masih dirangkap oleh Dinas Keuangan. d. Mitra Binaan tidak menyelenggarakan pencatatan/pembukuan dengan tertib dan seluruhnya tidak pernah menyampaikan laporan keuangan periodik kepada Bagian PKBL PT Pelindo I Dalam rangka mendorong kegiatan dan pertumbuhan ekonomi serta terciptanya pemerataan pembangunan melalui perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, perlu dikembangkan potensi usaha kecil dan koperasi agar menjadi tangguh dan mandiri sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui program kemitraan antara BUMN dengan usaha kecil serta 39 koperasi. Usaha tersebut antara lain dapat dilakukan melalui Pengelolaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Melalui Program Kemitraan tersebut pihak pengusaha kecil dan koperasi dapat memperoleh bantuan pinjaman dana untuk menunjang kegiatan usaha-usaha yang dilakukannya dan sekaligus memperoleh pembinaan dari BUMN yang memberikan bantuan dana tersebut. Pada tahun 2004 jumlah Mitra Binaan pengusaha kecil dan koperasi PT Pelindo I telah mencapai sebanyak 1.559 Mitra Binaan. Untuk Mitra Binaan yang telah mendapatkan bantuan dana Program Kemitraan harus memenuhi kewajibannya sebagaimana ditetapkan dalam: 1. Surat Perjanjian Kerjasama Program Kemitraan antara PT Pelindo I dengan Mitra Binaan, yang antara lain ditetapkan bahwa Mitra Binaan berkewajiban melaporkan segala kegiatan usahanya termasuk laporan keuangan kepada PT Pelindo I secara berkala yaitu triwulanan dan tahunan. 2. Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan Pasal 4 butir b dan c bahwa setiap Mitra Binaan diwajibkan menyelenggarakan pencatatan/ pembukuan dengan tertib dan menyampaikan laporan perkembangan usaha setiap triwulan kepada BUMN Pembina. Dari hasil pemeriksaan di Cabang Belawan dan konfirmasi pada Bidang KBL Kantor Pusat diketahui bahwa Mitra Binaan yang mendapat bantuan pinjaman sampai dengan penyaluran tahun 2004 tidak menyelenggarakan pencatatan/pembukuan dengan tertib dan tidak pernah menyampaikan laporan kegiatan usahanya termasuk laporan keuangan periodik (triwulan/tahunan) kepada Bidang KBL Cabang/Kantor Pusat sebagaimana yang telah ditetapkan dalam perjanjian kerjasama dan keputusan Menteri BUMN. Hal tersebut mengakibatkan: 1. Bidang KBL tidak dapat mengetahui perkembangan usaha dan masalahmasalah yang dihadapi Mitra Binaan lebih awal, untuk kemudian 40 mengambil langkah-langkah serta tindakan pembinaan yang diperlukan dalam rangka mengantisipasi penurunan usaha atau mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. 2. Bidang KBL terhambat dalam mengusahakan pengembalian kembali pinjaman dari Mitra Binaan yang mengalami kerugian usaha atau penurunan omzet penjualan, baik melalui penjadwalan kembali pinjaman maupun penyesuaian persyaratan pinjaman. Hal tersebut disebabkan: 1. Kurangnya kesadaran dari Mitra Binaan dalam melaksanakan kewajiban untuk melaporkan perkembangan usahanya. 2. Mitra Binaan kurang memiliki kemampuan manajerial untuk membuat laporan triwulanan/tahunan walaupun sudah mendapat pengarahan mengenai bentuk laporan dari pengurus PKBL pada saat pencairan dana. 3. Tidak adanya sanksi yang tegas bagi Mitra Binaan yang tidak mengirimkan laporan keuangan periodik. Direksi mengakui bahwa Mitra Binaan tidak menyelenggarakan pencatatan dan tidak menyampaikan laporan keuangan sesuai dengan temuan BPK-RI dan untuk mengantisipasi hal tersebut unit PKBL Cabang diminta mengadakan kunjungan ke tempat usaha Mitra Binaan setiap triwulanan untuk melakukan evaluasi/penilaian perkembangan usahanya, membuat laporan hasil kunjungan lapangan dan menyampaikannya ke Kantor Pusat. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar bagian PKBL memberikan pengarahan dan bimbingan kepada Mitra Binaan baik dalam pembuatan laporan maupun kemampuan manajerial. e. Kegiatan monitoring terhadap pembayaran-pembayaran yang dilakukan oleh Mitra Binaan belum sepenuhnya dilakukan sebagaimana mestinya Sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian kredit Mitra Binaan berkewajiban membayar angsuran pinjaman sejak masa tenggang (grace period) berakhir yaitu 3 (tiga) bulan setelah penandatanganan perjanjian. Besarnya angsuran tiap bulan untuk masing-masing mitra telah ditetapkan dalam tabel angsuran. 41 Pembayaran angsuran dapat dilakukan melalui dua cara: 1. Pembayaran langsung ke Bagian PKBL; 2. Pembayaran dengan transfer atau penyetoran ke rekening Program Kemitraan pada bank-bank yang telah ditunjuk (Bank BNI). Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian besar Mitra Binaan melakukan pembayaran melalui bank. Hal tersebut disebabkan cara ini lebih praktis terutama bagi Mitra Binaan yang berada jauh dari Kantor PT Pelindo I. Bagian PKBL telah menghimbau kepada semua Mitra Binaan yang akan melakukan pembayaran angsuran pinjaman melalui bank agar mengisi secara lengkap data Mitra Binaan pada bukti setornya dan mengirimkan salinannya ke Bagian PKBL. Jumlah pengembalian pinjaman dari Mitra Binaan pada tahun 2004 berupa pokok dan bunganya sampai dengan 31 Desember 2004 sebesar Rp6.272.348.970,00. Jumlah tersebut terdiri dari pengembalian pokok pinjaman sebesar Rp5.580.826.181,00, pengembalian pokok pinjaman dari pinjaman yang bermasalah sebesar Rp32.911.666,00 sisanya dan bunga pinjaman sebesar Rp587.719.769,00 dan sebesar Rp32.911.666,00 merupakan pembayaran-pembayaran yang belum dapat diidentifikasikan Mitra Binaannya. Adanya setoran tanpa identitas tersebut disebabkan tidak lengkapnya nota kredit dari bank penerima atau tidak jelas tertulis identitas Mitra Binaan pada rekening koran bank. Kemungkinan juga Mitra Binaan yang bersangkutan tidak mengisi secara lengkap pada bukti setornya. Atas setoran tersebut Bagian PKBL tidak dapat membukukan sebagai mutasi angsuran piutang pinjaman Mitra Binaan yang bersangkutan. Hal tersebut mengakibatkan: 1. Saldo pinjaman sejumlah Mitra Binaan tidak dapat diketahui secara pasti dan tidak diketahui pula apakah yang bersangkutan lancar atau menunggak pembayaran angsurannya. 2. Saldo pinjaman Mitra Binaan dalam catatan Bagian PKBL diragukan keakurasiannya. Kondisi tersebut disebabkan: 1. Kurangnya pengetahuan/kesadaran Mitra Binaan untuk mengirimkan bukti setoran ke Bagian PKBL yang dapat digunakan sebagai dasar monitoring pembayaran angsuran pinjaman. 42 2. Bagian PKBL kurang intensif dalam melakukan kegiatan monitoring dan pembinaan sehubungan dengan pembayaran-pembayaran yang dilakukan mitra. Direksi PT Pelindo I menyatakan sependapat dengan temuan BPK-RI. Hal ini terjadi disebabkan karena terbatasnya petugas PKBL yang memberikan masih kurang, Cabang, pembinaan/pengawasan kepada Mitra terutama disamping Binaan dirasakan personil PKBL di Kantor kurangnya pengetahuan para Mitra Binaan tentang administrasi yang berhubungan dengan usahanya. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar: 1. Memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini diantaranya dengan melakukan konfirmasi secara intensif kepada Mitra Binaan dan koordinasi dengan bank penerima. 2. Untuk selanjutnya dalam penyaluran pinjaman dibuat kartu angsuran yang dapat diisi oleh petugas bank penerima tentang jumlah setoran yang dilakukan sebagai sarana monitoring terhadap pembayaran yang dilakukan oleh Mitra Binaan. f. Penyajian laporan PKBL PT Pelindo I belum sepenuhnya sesuai dengan format penyajian laporan sebagaimana yang ditetapkan dalam Surat Keputusan dan Surat Edaran Menteri BUMN Untuk meningkatkan tata tertib administrasi dan laporan keuangan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah dana dan berkembangnya transaksi Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Pelindo I telah dikeluarkan Surat Keputusan Direksi Nomor KU.65/1/23/P.I-03 tanggal 13 Pebruari 2003 tentang Pedoman Pembukuan dan Pelaporan Keuangan Kegiatan Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Pelindo I. Dalam SK tersebut ditetapkan format laporan keuangan berupa neraca, arus bank dan kode-kode akunnya serta format-format tabel pendukung laporan penyelenggaraan kegiatan PKBL. Pada tahun 2003 pada tanggal 17 Juni 2003 telah dikeluarkan Surat Keputusan (SK) Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 yang mengatur tentang Pengelolaan Dana Kemitraan dan Bina Lingkungan yang diselenggarakan oleh BUMN. Kemudian untuk pelaksanaan lebih lanjut telah dikeluarkan Petunjuk Pelaksanaan Program Kemitraan BUMN dengan Usaha 43 Kecil dan Program Bina Lingkungan dalam bentuk Surat Edaran (SE) Nomor: SE-433/MBU/2003 tanggal 16 September 2003. Dalam SK dan SE tersebut dijelaskan lebih tegas dan rinci tentang mekanisme dan pengelolaan dana Kemitraan dan Bina Lingkungan oleh BUMN termasuk isi dan format laporan serta dokumen-dokumen pendukungnya. Format laporan Program Kemitraan sebagaimana yang tercantum dalam SK menteri yang terdiri antara lain Neraca dan Arus Aktivitas serta tabel-tabel pendukungnya, sedangkan format laporan Arus Dana Program Bina Lingkungan tercantum dalam lampiran SE tersebut. Upaya yang dilakukan oleh Bidang KBL PT Pelindo I pada tahun 2004 dalam rangka penyusunan laporan keuangan agar sesuai dengan ketentuan baru tersebut yaitu dengan menerbitkan surat Nomor: KU.66/9/14/P.I-04 tanggal 3 Desember 2004 tentang pedoman penyusunan laporan keuangan PKBL tahun buku 2004 kepada unit KBL Cabang-cabang dengan mengadopsi fomat-format tabel penyajian data sebagaimana yang tercantum dalam ketentuan baru tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap laporan keuangan PKBL yang disusun oleh Bidang PKBL PT Pelindo I diketahui bahwa penyajian laporan tersebut belum sepenuhnya mengacu kepada format laporan sebagaimana yang tercantum dalam lampiran SK dan SE tersebut, antara lain: 1. Neraca Program Kemitraan belum mencantumkan akun Kas tetapi hanya akun Bank, padahal berdasarkan rincian Bank dana-dana tersebut tidak semuanya dalam bentuk rekening koran tetapi ada juga yang berbentuk kas; 2. Neraca Program Kemitraan belum mencantumkan Aktiva tetap padahal ada pembelian aktiva tetap yang oleh perusahaan dicatat sebagai aktiva lainlain; 3. Neraca Program Kemitraan belum mencantumkan Aktiva lancar lainnya berupa antara lain uang muka yang masih dikelompokkan sebagai aktiva lain-lain; 4. 5. Neraca Program Kemitraan belum mencantumkan saldo ekuitas tetapi berupa distribusi laba dan sisa hasil kegiatan secara kumulatif; Laporan Aktivitas Program Kemitraan belum mencantumkan laporan penyaluran kredit per sektor baik pada tahun berjalan maupun secara kumulatif dari tahun-tahun sebelumnya juga adanya akun Aktiva dan Pasiva Lain-lain; 44 6. Laporan Arus Dana Bina Lingkungan masih mengacu kepada arus dana Program Kemitraan dan masih adanya akun Aktiva dan Pasiva Lain-lain. Hal tersebut mengakibatkan: 1. Klasifikasi akun-akun dalam laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan belum tepat sesuai dengan pedoman yang berlaku. 2. Proses konversi dari format laporan yang dibuat oleh perusahaan dengan berpedoman kepada SK lama Direksi ke format laporan sesuai dengan ketentuan baru baik dalam SK maupun dalam SE membutuhkan waktu yang cukup lama dan rumit. Kondisi tersebut disebabkan Direksi kurang tanggap untuk segera memperbarui SK Direksi tentang Pedoman Pembukuan PKBL dengan mengacu kepada ketentuan terbaru. Direksi PT Pelindo I menyatakan sependapat dengan temuan BPK-RI. Hal ini karena adanya rencana Kementerian BUMN untuk menerapkan BUMN On Line PKBL, dan mengingat ketentuan BUMN On Line belum terlaksana sampai saat ini, maka penyesuaian SK Direksi tentang Pedoman Pembukuan dan pelaporan Keuangan Kegiatan Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Pelindo I akan segera dilakukan. BPK-RI menyarankan kepada Direksi PT Pelindo I agar segera menetapkan Keputusan Direksi mengenai Pedoman Pembukuan dana PKBL dengan mengacu kepada ketentuan terbaru dari Kementerian BUMN. 45
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful