Anda di halaman 1dari 56

EFEKTIFITAS TERAPI MUSIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI PADA PASIEN YANG MENGALAMI NYERI POST OP.

DI RUANG BEDAH (VIII) RSUD GUNUNG JATI CIREBON

Proposal Penelitian Diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan di AKPER Muhammadiyah Cirebon

Oleh : TRIYANI OKTORINA NIM : 08.096

AKADEMI KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH CIREBON 2011

LE B

ET

NAMA NIM JUDUL

:TRIYANI OKTORINA : 08.096 EFEKTIFITAS TERAPI MUSIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI PADA PASIEN YANG MENGALAMI NYERI POST OP DI RUANG BEDAH RSUD GUNUNG JATI CIREBON.

Cirebon, 23 Februari 2011 Pembiming

( Ns.Aulia Hikmah Amailiah, S.Kep) NBM :

ii

KATA PE

ANTAR

Puji syukur dalam hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah diberi kesempatan yang paling indah untuk menyelesaikan proposal penelitian yang kami beri judul : Efektifitas Terapi Musik Terahadap Penurunan Tingkat Nyeri Pada Klien Yang Mengalami Nyeri Post Op di Ruang VIII (bedah) RSUD Gunung Jati Cirebon. Tidak lupa ungkapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami haturkan pada: 1. Bapak Ahmad Farid Rivai, MPH Direktur Akademi Keperawatan Muhammadiyah Cirebon 2. Ibu Aulia Hikmah Amailiah, S.Kep.Ns selaku Pembimbing 3. Bapak Drg.H. Yono Supriyono,MARS.MH.Kes selaku Direktur RSUD Gunung Jati Cirebon 4. Rekan-rekan perawat ruang Bedah RSUD Gunung Jati Cirebon. 5. Bapak dan ibu yang selalu mendoakan agar anaknya dapat menyelesaikan proposal penelitian ini dengan lancar dan dapat berguna untuk orang lain. 6. Teman-teman kuliah khusunya kelas 3B yang telah membantu dan memotivasi dalam pembuatan proposal ini. 7. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Penelitian ini hanyalah sebagian kecil dari banyak gagasan yang ingin kami kembangkan dan sumbangkan bagi profesi keperawatan Indonesia. Sebagai sesuatu yang baru, tentunya masih banyak yang harus diperbaiki

iii

dan memerlukan masukan dari berbagai pihak, terutama yang peduli terhadap pengembangan profesi keperawatan

Cirebon, Februari 2011 Peneliti

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................ ................................ .................... HALAMAN PERSETUJUAN ................................ ................................ ...... KATA PENGANTAR ................................ ................................ .................. DAFTAR ISI ................................ ................................ ................................ DAFTAR TABEL ................................ ................................ ........................ DAFTAR BAGAN ................................ ................................ ....................... DAFTAR LAMPIRAN................................ ................................ ................. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ................................ ................................ ...... 1.2 Rumusan masalah ................................ ................................ 1.3 Tujuan penelitian ................................ ................................ .. 1.4 Manfaat penelitian ................................ ............................... 1.5 Keaslian penelitian................................ ............................... BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 2.2 Pengertian Terapi Musik................................ .................... Nyeri ................................ ................................ ................. 2.2.1 2.2.2 2.2.3 2.2.4 2.3 Pengertian nyeri ................................ .................... Penyebab nyeri ................................ ..................... Klasifikasi nyeri ................................ .................... Rentang/Intensitas nyeri ................................ ........

i ii iii v viii ix x

1 4 4 5 6

7 11 11 12 12 14 20 20

Infus ................................ ................................ .................. 2.3.1 Indikasi pemasangan Infus ................................ ....

2.3.2 2.3.3 2.3.4 2.4

Kontraindikasi pemasangan infuse ........................ Komplikasi pemasangan infuse ............................. Komplikasi saat pemberian cairan infuse...............

21 21 22 22 24 24 24 24 25 25 25 26 26 26 26 27 27 28 28 28

Injeksi Intravena ................................ ................................ 2.4.1 2.4.2 Kontraindikasi injeksi intravena ............................ Hal-hal yang diperhatikan pada Injeksi Intravena ..

2.5

Injeksi Intramuskular ................................ ......................... 2.5.1 2.5.2 2.5.3 Indikasi injeksi intramuscular................................ Kontraindikasi injeksi intramuscular ..................... Hal yang diperhatikan ................................ ...........

2.6

Injeksi Subkutan ................................ ................................ 2.6.1 2.6.2 Indikasi Injeksi Subkutan ................................ ...... Kontraindikasi injeksi subkutan ............................

2.7

Injeksi Intrakutan................................ ............................... 2.7.1 2.7.2 Indikasi ................................ ................................ . Kontraindikasi ................................ ......................

2.8 2.9

Pengambilan darah Vena ................................ ................... Kerangka Teori................................ ................................ ..

2.10 Kerangka Konsep ................................ .............................. 2.11 Hipotesa ................................ ................................ ............ BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 3.2 Jenis dan Desain Penelitian................................ ................ Populasi dan Sample ................................ .......................... 3.2.1 Populasi ................................ ...............................

29 30 30

vi

3.2.2 3.2.3 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9

Sample................................ ................................ . Teknik Sampling ................................ .................

30 31 31 31 32 32 35 37 37

Tempat dan waktu Penelitian ................................ ............. Variabel penelitian ................................ ............................ Definisi Operasional ................................ .......................... Instrumen Penelitian ................................ .......................... Teknik pengolahan data dan Analisa data .......................... Keterbatasan penelitian................................ ...................... Etika penelitian................................ ................................ ..

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1.1. Keaslian Penelitian ................................ ................................ ..... Tabel 3.1 Definisi Operasional ................................ ................................ .. 6 32

viii

DAFTAR BAGAN

Halaman Bagan 2.1 Kerangka Teori ................................ ................................ .......... Bagan 2.2 Kerangka Konsep ................................ ................................ ...... 28 28

ix

DAFTAR GAMBAR

1.Skala Nyeri 2.Skala Nilai 3.Skala Wajah

DAFTAR LAMPIRAN

1. Informed Consent 2. Lembar Pengukuran 3. Lembar observasi 4. Jadwal penelitian

xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Kemampuan musik dapat memperbaiki dan mempengaruhi kesehatan serta harmoni, dengan musik orang bisa menghilangkan keadaan stress, dengan musik orang dapat menikmati istirahat tidur, bahkan dengan musik orang bisa melupakan masalah yang membebani pikiran. Juga dengan musik klien yang dalam masa perawatannya dapat mengurangi rasa sakit atau nyeri yang ada pada tubuhnya. Suara yang dihasilkan dari perpaduan alat musik dapat digunakan sebagai sarana pengobatan. Terapi musik adalah penggunaan musik sebagai peralatan terapis untuk memperbaiki, memelihara, mengembangkan mental, fisik dan emosi. Terapi musik merupakan sebuah aplikasi unik dari musik untuk meningkatkan personal dan menciptakan perubahan-perubahan positif dan perilakunya. Terapi musik ini telah banyak diteliti dan digunakan sebagai terapi alternatif dalam dunia keperawatan maupun kesehatan secara umum. Musik sebagai terapi telah dikenal sejak abad ke-4 Masehi dan terus dikembangkan hingga sekarang. Musik sebagai terapi sudah sering dipakai, lewat walkman mini untuk bayi dalam incubator, untuk menenangkan pasien kesakitan di rehabilitasi stroke. Bahkan pada penyakit yang tidak bisa disembuhkan seperti Alzheimer, music membantu kondisi mental pasien agar tidak makin mundur dan menggali kembali ingatan-ingatan pasien (Intisari, 2005). Di pusat-pusat

rehabilitasi di Amerika, musik mars mampu menstimulasi otak pada pasien stroke, yang secara umum ternyata dapat memperbaiki kondisi motorik pada pasien dengan stroke (Anonim, 2005). Kemper dan Danhauer (2005) menyatakan musik juga dapat memberikan efek bagi peningkatan kesehatan, mengurangi stress, dan mengurangi nyeri. Musik efektif untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan perasaan positif pada pasien-pasien medikal dan bedah. Musik berpengaruh terhadap mekanisme kerja system syaraf otonom dan hormonal, sehingga secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap kecemasan dan nyeri. Pasien yang diterapi dengan menggunakan musik akan merasa lebih rileks dan tenang. Efek relaksasi yang didapat melalui terapi musik akan berpengaruh terhadap stabilitas dan penurunan tekanan darah, nadi, dan pernapasan. Beberapa penelitian tentang manfaat terapi musik bagi kesehatan manusia di atas telah banyak dikembangkan di berbagai negara terutama di Eropa dan Amerika. Hasil penelitian terapi musik pada pasien bukan koma menunjukkan efek positif terhadap status hemodinamik, gambaran EKG, dan pernapasan. Seseorang yang mendengarkan musik yang sesuai maka denyut nadi dan tekanan darahnya dapat menurun stabil, gelombang otot melambat, pernapasan melambat, dan otot-otot menjadi rileks (Syifa, 2004). Setiap manusia dapat mengalami nyeri, nyeri merupakan sensasi tidak enak akibat adanya gangguan fisiologis. Tidak sedikit orang yang datang ke Rumah Sakit atau Puskesmas dengan keluhan nyeri. Nyeri banyak terjadi bersamaan proses penyakit atau dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau

pengobatan, yang sangat mengganggu dan menyakitkan lebih banyak dibandingkan suatu penyakit manapun (Smeltzer 2002:212). Rasa nyeri yang timbul pada pasien bukan hanya terjadi pada saat kambuhnya penyakit yang dialami pasien tapi juga untuk keperluan pemeriksaan diagnostik ataupun pengobatan seperti pengambilan specimen darah vena, injeksi baik secara intravena, intramuscular, subcutan, intracutan dan pemasangan infus. Nyeri yang timbul oleh beberapa perlakuan invasif tersebut dikarenakan adanya perlukaan pada jaringan tubuh terutama jaringan kulit dan musculo (otot). Rata-rata pasien yang menjalani rawat inap sebagian besar akan mendapatkan program pengambilan darah vena untuk pemeriksaan penunjang dan keperluan laboratorium, pemasangan jalur infus untuk mendukung kebutuhan cairan-elektrolit sekaligus media transportasi obat dan nutrisi, dan beberapa tindakan injeksi lainnya sebagai penatalaksanaan farmakologis komprehensif, seperti antibiotik, analgetik, antiinflamasi, dan sebagainya. Pengalaman yang tidak menyenangkan karena tindakan invasif tersebut dapat diminimalkan dengan modifikasi lingkungan, salah satunya ketersediaan terapi musik yang menenangkan, sehingga pasien yang akan dilakukan tindakan invasif tersebut dapat rileks dan sebagai kesempatan distraksi perhatian klien terhadap peralatan-peralatan yang digunakan untuk melukai tubuhnya. Terapi musik juga dimanfaatkan sebagai antisipasi kejadian tauma psikologis karena nyeri yang ditimbulkan oleh tindakan invasif. Pendekatan yang dilakukan akan tergantung pada masalah seorang pasien, pada dasarnya setiap orang akan bereaksi dan menikmati pengalaman bermain

musik. Karena itu terapi musik biasanya membawa manfaat bagi setiap pasien yang dirawat tanpa sebelumnya harus memiliki kemampuan pengetahuan ataupun pengalaman bermain musik. Adapun alasan peneliti melakukan penelitian di RSUD Gunung Jati karena RSUD Gunung Jati menjadi rumah sakit tipe B pendidikan, serta di RSUD Gunung Jati belum pernah dilakukan terapi musik bahkan tidak adanya tindakan pemberian terapi musik bagi pasien.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan dalam latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah efektifitas terapi musik terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien yang mengalami nyeri post op?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum Menganalisis efektifitas terapi musik terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien yang mengalami nyeri post op di Ruang VIII (bedah) RSUD Gunung Jati Cirebon. 1.3.2 Tujuan Khusus 1) Mengidentifikasi efektifitas terapi musik pada pasien yang mengalami nyeri post op di ruang VIII (bedah) RSUD Gunung Jati Cirebon.

2) Mengidentifikas penurunan tingkat nyeri pada pasien post op di ruang VIII (bedah) RSUD Gunung Jati Cirebon.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Pendidikan Keperawatan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkini di bidang keperawatan medikal bedah khususnya tentang keefektifan terapi musik pada klien yang mengalami nyeri post op. 1.4.2 Pelayanan Kesehatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi institusi kesehatan, khususnya Rumah Sakit, guna meningkatkan pelayanan kesehatan dengan pemberian terapi musik terhadap klien yang telah dilakukan post op. 1.4.3 Peneliti Selanjutnya Hasil peneliti ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan, khususnya bagi penelitian ilmu keperawatan serta dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian yang akan datang.

1.5 Keaslian Penelitian Tabel 1.1 : Keaslian Penelitian


No 1. Judul Penelitian Pengaruh terapi musik terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien pasca bedah Peneliti Fransina Tubalawony Tahun 2006-2007 a. Metodologi Jenis penelitian pra experiment tipe pre pasca test dalam satu kelompok (one group pre test post test desain) b. Populasi semua klien pasca bedah yang ada di bangsal bedah pada akhir bulan Desember sampai awal bulan Januari RSU Sumber Hidup Ambon, dengan jumlah sample 30 responden. c. Variabel penelitian: Nyeri pada pasien pasca bedah, Terapi Musik, Penurunan Intensitas Nyeri. d. Lembar Observasi Nyeri McGill e. Pengolahan data menggunakan software SPSS 16.0, analisa data dengan menggunakan bivariat.

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 T l

Pustaka

2.1.1 T api Musik Terapi musik terdiri dari 2 kata, yaitu kata terapi dan musik. Terapi (therapi) adalah penanganan penyakit (Brooker;208;2001). Terapi juga diartikan sebagai pengobatan (Laksaman, 2000). Sedangkan musik adalah suara atau nada yang mengandung irama. Potter juga mendefinisikan terapi musik sebagai teknik yang digunakan untuk penyebuhan suatu penyakit dengan menggunakan bunyi atau irama tertentu. Jenis musik yang digunakan dalam terapi musik dapat disesuaikan dengan keinginan, seperti musik klasik, instrumentalia, dan slow musik (Potter,2005 dikutip dari Erfandi,2009). Terapi musik adalah penggunaan musik sebagai peralatan terapi untuk memperbaiki, memelihara, mengembangkan mental fisik dan kesehatan emosi. Bermain musik adalah kegiatan yang penting disemua kebudayaan dan masyarakat, sebagai cara untuk mengekspresikan diri dan komunikasi. Hampir semua orang bisa merasakan dampak yang kuat dari musik. Musik bisa merangsang timbulnya perasaan gairah, damai, sedih ataupun gembira. Terapi musik terdiri dari kegiatan mencipta dan mengolah musik, menggunakan berbagai instrumen dan suara manusia sebagai cara untuk membantu seorang pasien mengkomunikasikan perasaan dan pemikiran mereka yang terdalam termasuk kekhawatiran, ketakutan, nyeri, maupun ganjalan-ganjalan yang lain. Terapi musik bisa membantu penderita mengatasi berbagai keluhan apapun

gangguan terutama gangguan intelektual dan kesulitan belajar, namun mereka yang memiliki gangguan atau cacat fisik juga bisa memperoleh manfaat, terutama mereka yang perlu meningkatkan kemampuan nafas, atau ingin meningkatkan kemampuan geraknya seperti pasien hipertensi yang menderita kelumpuhan. (James, 2008, Nordoff-Robbins). Menurut Steckler (1998 cit., Satyadarma, 2002) bahwa musik mampu menangkal rasa sakit kiranya dapat dimengerti, karena musik mengundang seseorang untuk memusatkan komposisi konsentrasi harmonis energinya tertentu. pada upaya fokus

mendengarkan

suatu

Akibatnya

perhatiannya terarah pada musik dan bukan pada rasa sakit yang dideritanya. Dengan demikian musik dapat berfungsi sebagai tabir untuk mengatasi rasa sakit. Apabila hal ini berlangsung secara terus-menerus, individu yang bersangkutan akan belajar beradaptasi untuk berada dalam kondisi sakitnya namun kondisi sakit tersebut tidak lagi dirasakan mengganggu dirinya karena telah diatasi dengan tabir musik. Dalam hal ini musik digunakan sebagai penangkal rasa sakit.

2.1.2 Manfaat musik Menurut Spawnthe Anthony (2003;145), musik mempunyai manfaat sebagai berikut: (1) efek mozart, adalah salah satu istilah untuk efek yang bisa dihasilkan sebuah musik yang dapat meningkatkan intelegensia seseorang, (2) refreshing, pada saat pikiran seseorang sedang kacau atau jenuh, dengan mendengarkan musik walaupun sejenak, terbukti dapat menenangkan dan menyegarkan pikiran kembali. (3) motivasi, hal yang hanya bisa dilahirkan

dengan feeling tertentu. Apabila ada motivasi, semangatpun akan muncul, (4) terapi, berbagai penelitian dan literatur menerangkan tentang manfaat musik untuk kesehatan baik untuk kesehatan fisik maupun mental, beberapa penyakit yang dapat ditangani dengan musik antara lain; kanker, stroke, dimensia, nyeri, gangguan kemampuan belajar, dan bayi prematur.

2.1.3 Karakteristik terapi musik Menurut Robbert (2002;99) dan Greer (2003;112), musik

mempengaruhi persepsi dengan cara: (1) distraksi, yaitu pengalihan pikiran dari nyeri, musik dapat mengalihkan konsentrasi klien pada hal-hal yang menyenangkan, (2) relaksasi, musik menyebabkan pernafasan menjadi lebih rileks dan menurunkan denyut jantung, karena orang yang mengalami nyeri denyut jantung meningkat, (3) menciptakan rasa nyaman, pasien yang berada pada ruang perawatan dapat merasa cemas dengan lingkungan yang asing baginya dan akan merasa lebih nyaman jika mereka mendengar musik yang mempunyai arti bagi mereka. Musik juga dapat menurunkan kadar hormon kortisol yang meningkat pada saat stres. Musik juga merangsang pelepasan hormon endorfin, hormon tubuh yang memberikan perasaan senang yang berperan dalam penurunan nyeri (Berger;1992;76). Menurut Greer (2003;112), keunggulan terapi musik; (1) lebih murah daripada analgesia, (2) prosedur invansif, tidak melukai pasien, (3) tidak ada efek samping, (4) penerapannya luas, bisa diterapkan pada pasien yang tidak bisa diterapkan terapi secara fisik untuk menurunkan nyeri.

10

Keuntungan-keuntungan dari musik yang terencana dan sistematis adalah memberi kesempatan untuk pengurangan stress dan kegelisahan, pengelolaan non farmakologi dari rasa sakit dan tidak nyaman, perubahan mood dan keadaan emosional yang positif. Partisipasi pasien yang aktif dan positif dalam perawatan, mengurangi lamanya tinggal di rumah sakit, meningkatkan hubungan emosional dalam keluarga dan perawat pasien. Relaksasi untuk seluruh keluarga dan memberikan makna waktu yang dhabiskan bersama dengan cara yang positif dan kreatif. Berdasarkan pengamatan di kliniknya, Concetta Tomaino, Direktur program terapi musik pada rumah sakit Beth Abraham melihat musik mampu menggali ingatan pasien-pasiennya, pada pasien alzheimer yang kemampuan berpikirnya hampir hilang sama sekali. Terapi musik mungkin menerapkan program dengan kelompok atau individu untuk menangani hasil yang sangat berkelanjutan termasuk pengurangan rasa sakit dan kecemasan, pengelolaan stress, komunikasi dan ekspresi emosional. Musik sebagai alat terapi yang dapat menyembuhkan bisa terlihat pada Imme Kramer. Warga Frankfurt ini menderita penyakit keturunan yang amat menyakitkan dan sampai saat ini belum ada obatnya. Jaringan ikatnya melemah hingga mengganggu organ dalam lainnya, termasuk jantung. Sudah tiga kali ia mengalami serangan jantung ringan. Dr.Ralph Spintge merasa, wanita yang berusia 48 tahun ini perlu dirilekskan. Pada mulanya dibutuhkan paparan musik dari headphone selama 15 menit untuk membebaskan dia dari keadaan stress, berdasarkan pantauan terhadap aktivitas ototnya, setelah tiga

11

minggu dirawat dengan terapi msik, Cuma lima menit mndengarkan musik, dia sudah bisa tenang kembali. Aldridge (1996), Aldridge, Gustorff, dan Hannich (1990), Ansdell (1995), Bright dan Signorelli (1999), Kennelly dan Edwards (1997), serta Rosenfeld dan Dun (1999) melaporkan tentang efek musik terhadap fungsi orientasi pada pasien koma. Observasi terhadap respon orientasi meliputi membuat kontak mata dengan ahli terapi musik dan menganggukkan kepala, membuka mata spontan dan meningkatkan pergerakan lengan pasien. Sejalan dengan hal tersebut, Clair (1996) melaporkan bahwa orang yang mengalami demensia tahap lanjut yang difasilitasi dengan musik-musik yang biasa didengarkan memberikan respon orientasi seperti memutar kepala mencari arah bunyi musik, membuka mata dan fokus pada ahli terapi musik, mengerakkan lengan, berbicara, dan mengubah ekspresi wajah dengan ekspresi yang alamiah. Selanjutnya, Shively dan Henkin (1996), Clair dan Ebberts (1997), serta Olderog dan Smith (1999) melaporkan bahwa pada orang yang mengalami penyakit Alzheimer tahap menengah yang

diperdengarkan musik-musik yang biasa didengarnya dapat meningkatkan kemampuan orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang. Suara musik instrumentalia yang lembut dan menenangkan

diperdengarkan di beberapa ruangan penderita kanker, ICU, dan pusat-pusat terapi untuk meminimalkan dampak dari suara-suara yang negative di RS. Dampaknya membuat para pasien menjadi lebih nyaman, rileks, dan lebih bahagia. Hal itu juga membuat tubuh mereka mengeluarkan getaran pada tingkat yang lebih sehat (Mucci & Mucci, 2002).

12

Hasil penelitian tentang pengaruh terapi musik terhadap pasien koma dilakukan terhadap 21 responden di ruang ICU sebuah rumah sakit di Lampung pada bulan Mei-Juni 2007 terdapat perbedaan yang bermakna antara MAP, frekuensi jantung, dan frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah terapi. Terapi musik yang sesuai dapat digunakan dalam upaya untuk melawan stimulus-stimulus yang tidak menyenangkan di ruang perawatan kritis (Tori Rihiantoro, Jurnal Keperawatan, 2008). Untuk dapat memanfaatkan peranan musik bagi kesehatan perlu dikaji terlebih dahulu suatu musik dengan langkah sebagai berikut : a. Jika musik belum terlalu dikenal, kenali musiknya terlebih dahulu,

kenali iramanya. b. Ikuti iramanya, pejamkan mata, rasakan kesan yang ditimbulkan, perhatikan bayangan yang muncul di dalam alam pikiran. c. Jika musik tersebut mengandung syair, coba mengerti dan pahami syairnya. d. Hindari musik keras dan hingar-bingar yang kurang beraturan. Hal ini akan menghambat proses psikofisik ke keseimbangan. e. Gunakan musik tradisional seperti bunyi tambur, genta dan gamelan bertenaga untuk membangkitkan gairah hidup. f. Gunakan senandung internal untuk memperoleh rasa kedamaian. Suara pribadi adalah alat musik Illahi yang dibekali untuk memperoleh rasa damai di dalam diri. (Terapi Alternatif;38;2004)

13

Potter, Perry (2010;544) menjelaskan langkah-langkah dalam pemberian terapi musik pada pasien dengan nyeri, sbg: 1. Mengukur keadaan tingkat nyeri yang dirasakan klien sebelum pemberian terapi musik 2. Memfasilitasi klien dengan alat perekam dan alat pendengar 3. Minta klien untuk memilih kaset musik yang tenang dan pelan yang disukai. 4. Instruksikan klien untuk mendapatkan posisi yang nyaman (duduk atau berbaring tapi dengan tangan dan kaki disilang) dan untuk menutup mata dan mendengarkan musik melalui alat pendengar. 5. Instruksikan klien untuk meresapi alunan musik, bila musik mengandung syair, coba mengerti dan pahami syairnya. 6. Instruksikan klien untuk membayangkan terapung atau ditiup dengan musik ketika sedang mendengarkan. 7. Instruksikan klien untuk tetap fokus pada alunan musik hingga musik selesai. 8. Kaji nyeri klien setelah pemberian terapi musik.

2.1 .2 Pengertian Nyeri Secara umum nyeri adalah suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun berat. Nyeri didefinisikan suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri;123;2007). Menurut International

14

Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenamgkan akibat terjadinya kerusakan aktual amupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusaka. Setiap manusia dapat mengalami nyeri dan merupakan sensasi tidak enak akibat adanya gangguan fisiologis. Tidak sedikit orang yang datang ke rumah sakit atau Puskesmas dengan keluhan nyeri. Nyeri banyak terjadi bersamaan proses penyakit atau dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan, yang sangat mengganggu dan menyakitkan lebih banyak dibandingkan suatu penyakit manapun (Smelser 2002:212). Nyeri merupakan sensasi yang rumit, unik, universal, dan bersifat individual. Dikatakan bersifat individual karena respon individu terhadap sensasi nyeri beragam dan tidak bisa disamakan satu dengan lainnya. Hal tersebut menjadi dasar bagi perawat dalam mengatasi nyeri pada klien. Nyeri diartikan berbeda-beda antar individu, bergantung pada persepsinya. Walaupun demikian, ada satu kesamaan mengenai persepsi nyeri. Secara sederhana, nyeri dapat diartikan sebagai suatu sensasi yang tidak menyenangkan baik secara sensori maupun emosional yang berhubungan dengan adnya suatu kerusakan jaringan atau faktor lain, sehingga individu merasa tersiksa, menderita yang akhirnya akan mengganggu aktivitas sehari-hari, psikis, dan lain-lain (Asmadi, 2008;145).

15

Dalam menejemen nyeri teknik distraksi terdapat metode pengalihan situasi untuk nyeri salah satunya adalah mendengarkan musik. Jenis-jenis Distraksi 9. Penglihatan a. Membaca atau menonton tv b. Menonton permainan baseball c. Melihat pemandangan 10. Pendengaran a. Humor b. Mendengarkan musik c. Suara burung d. Gemericik air 11. Taktil kinestik a. Pernapasan yang berirama b. Memegang orang tercinta, binatang peliharaan atau mainan. c. Bermain dengan hewan peliharaan 12. Projek a. Teka-teki silang b. Bermain kartu c. Melakukan hobi d. Puzzle e. Menulis cerita (Fundamental of Nursing;1004)

16

2.1.3 Penyebab Nyeri Penyebab nyeri dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu penyebab yang berhubungan dengan fisik dan berhubungan dengan psikis. Secara fisik misalnya, penyebab nyeri adalah trauma (baik trauma mekanik, termis, kimiawi, maupun elektrik), neoplasma, peradangan, gangguan sirkulasi darah, dan lain-lain. Secara psikis, penyebab nyeri dapat terjadi oleh karena adanya trauma psikologi.

2.1.4 Klasifikasi Nyeri Nyeri dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan berdasarkan pada tempat, sifat, berat ringannya nyeri, dan waktu lamanya serangan. (Asmadi, 2008; 146). 1) Nyeri berdasarkan tempatnya: (1) Pheriperal pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh misalnya, pada kulit, mukosa. (2) Deep pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaantubuh yang lebih dalm atau pada organ-organ tubuh visceral. (3) Refered pin, yaitu nyeri dalam yang disebabkan karena penyakit organ/struktur dalam tubuh yang ditransmisikan ke bagian tubuh di daerah yang berbeda, bukan daerah asal nyeri. (4) Central pain, yaitu nyeri yang terjadi karena perangsangan pada sistem saraf pusat, spinal cord, batang otak, talamus, dan lainlain.

17

2) Nyeri berdasarkan sifatnya: (1) Incidental pain, yaitu nyeri yang timbul sewaktu-waktu lalu menghilang. (2) Steady pain, yaitu nyeri yang timbul dan menetap serta dirasakan dalam waktu yang lama. (3) Paroxymal pain, yaitu nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali. Nyeri tersebut biasanya menetap 10-15 menit, lalu menghilang, kemudian timbul lagi. 3) Nyeri berdasarkan berat ringannya: (1) Nyeri ringan, yaitu nyeri dengan intensitas rendah (2) Nyeri sedang, yaitu nyeri yang menimbulkan reaksi. (3) Nyeri berat, yaitu nyeri dengan intensitas yang tinggi. 4) Nyeri berdasarkan waktu lamanya serangan: (1) Nyeri akut, yaitu nyeri yang dirasakan dalam waktu yang singkat dan berakhir kurang dari enam bulan, sumber dan daerah nyeri diketahui dengan jelas. Rasa nyeri mungkin sebagai akibat dari luka, seperti luka operasi, ataupun pada suatu penyakit arteriosclerosis pada arteri koroner. (2) Nyeri kronis, yaitu nyeri yang dirasakan lebih dari enam bulan. Nyeri kronis ini polanya beragam dan berlangsung berbulanbulan bahkan bertahun-tahun. Ragam pola tersebut ada yang nyeri timbul dengan periode yang diselingi interval bebas dari nyeri lalu timbul kembali lagi nyeri, dan begitu seterusnya. Ada pula nyeri kronis yang konstan, artinya rasa nyeri tersebut terus-

18

menerus terasa makin lama semakin meningkat intensitasnya walaupun telah diberikan pengobatan. Misalnya, pada nyeri karena neoplasma.

2.1.5 Nyeri Post-operasi Toxonomi Commite of The International Associaton

mendefinisikan nyeri post operasi sebagai sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosi yang berhubungan dengan kerusakan jaringan potensial atau nyata atau terminologi suatu kerusakan (Alexander;241;1987). Nyeri post operasi akan meningkatkan stres post operasi dan memiliki pengaruh negatif pada penyembuhan nyeri.kontrol nyeri sangat penting sesudah pembedahan, nyeri yang dibebaskan dapat mengurangi kecemasan, bernafas lebih mudah dan dalam, dapat mentoleransi mobilisasi yang cepat. Pengkajian nyeri dan kesesuaian analgesik harus digunakan untuk memastikan bahwa nyeri pasien post operasi dapat dibebaskan (Weist et all;267;2004). 3 Rentang/Intensitas Nyeri Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh du orang a yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap menggambarkan

19

i it i M t

di i ti t t lt C B

d i it d l

i i ij di i i

tid i i t:

d 7

1) Skala i t

itas

i d skriti

) Skala id titas

ri

rik

) Skala anal

isual

4) Ind ks Rating

ri IR )

1 t rangan:

: tidak nyeri dengan kriteria tidak ada keluhan nyeri dan tidak ada erubahan tekanan darah, nadi, dan respirasi 1 : nyeri ringan, dengan kriteria keluhan nyeri seperti di ubit, , klien asih erasa nyaman, tekanan darah nadi dan respirasi dalam batas normal : nyeri sedang, dengan kriteria nyeri membuat tidak nyaman dan nyeri seperti ditarik-tarik.

20

3 : cukup, dengan kriteria nyeri seperti terbakar dan membuat stress, disertai peningkatan tekanan darah, nadi, dan respirasi. 4 : sangat nyeri, dengan kriteria nyeri seperti rasa gatal atau sengatan dan mengerikan bagi klien. 5 : nyeri hebat, dengan kriteria nyeri dirasakan sangat hebat dan menyiksa, klien dalam keadaan tidak sadar, disertai penurunan tekanan darah, nadi, dan respirasi.

5) Skala Wajah Skala nyeri enam wajah dengan ekspresi yang berbeda , menampilkan wajah bahagis hingga wajah sedih, juga di gunakan untuk "mengekspresikan" rasa nyeri. Skala ini dapat dipergunakan mulai anak usia 3 (tiga) tahun.(Buku Saku Keperawatan; 36)

Skala wajah untuk nyeri

Keterangan : 0 1-3 : Tidak nyeri : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat

berkomunikasi dengan baik. 4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,

21

menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dengan baik. 7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi 10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul. Perawat dapat menayakan kepada klien tentang nilai nyerinya dengan menggunakan skala 0 sampai 5 atau skala yang serupa lainnya yang membantu menerangkan bagaimana intensitas nyerinya. Nyeri yang ditanyakan pada skala tersebut adalah sebelum dan sesudah dilakukan intervensi nyeri untuk mengevaluasi keefektifannya (Mc Kinney et all,2000). Jika klien mengerti dalam penggunaan skala dan dapat menjawabnya serta gambaran-gambaran yang diungkapkan atau ditunjukkan tersebut diseleksi dengan hati-hati, setiap instrumen tersebut dapat menjadi valid dan dapat dipercaya (Kelvie & Lasagna;102;2002 dikutip oleh Jacox,et,al 2006). dapat mengikuti perintah

22

2.2

Kerangka Teori Bagan 2.1 : Kerangka Teori

Tindakan operasi

Nyeri

Penurunan Intensitas Nyeri

Teknik Distraksi/Relaksasi: Terapi Musik

2.3

Kerangka Konsep Bagan 2.2 : Kerangka Konsep Independen Dependen

Terapi Musik

Nyeri Tindakan post op

2.4

Hipotesa Ho: tidak adanya pengaruh efektifitas terapi musik terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien yang mengalami nyeri post op. Ha : adanya pengaruh efektifitas terapi musik terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien yang mengalami nyeri post op.

23

BAB III MET DOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, jenis penelitian eksperimen semu dengan tipe pre pasca test (one group pre test post test desain). Penelitian ini mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subyek, dimana kelompok subyek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah dilakukan intervensi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesa yang telah dirumuskan dan untuk mengetahui variabel intervensi atau variabel eksperimen efektif atau tidak efektif. Desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Pre test 01 Keterangan : 01 : observasi sebelum perlakuan 02 : observasi sesudah perlakuan X : perlakuan dengan melakukan terapi musik eksperimental treatment (X) post test 02

23

24

3.2 Populasi dan Sample 3.2.1 Populasi Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dalam karakteristik tertentu yang akan diteliti bukan hanya objek atau subjek yang dipelajari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki subjek atau objek tersebut. Dengan demikian populasi yang dipakai dalam penelitian ini adalah semua klien rawat inap yang ada di ruang VIII (bedah) pada bulan Juli di RSUD Gunung Jati Cirebon. 3.2.2 Sampel Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dalam penelitian ini akan di ambil sample di Ruang VII (bedah) RSUD Gunung Jati Cirebon dengan jumlah sample minimal penelitian eksperimen sebanyak 15 orang. ( Supranto J,2000) Dapat dirumuskan: (t-1)(r-1)15 Dimana: t = banyaknya kelompok perlakuan J = jumlah replikasi Adapun kriteria Inklusi adalah sample yang dapat dimasukkan atau yang layak diteliti yaitu: 1) Klien bersedia menjadi responden 2) Klien yang mengalami nyeri post op 3) Klien dengan usia 18 tahun 60 tahun. 4) Klien tidak mengalami gangguan pendengaran (tuli). 5) Klien kooperatif.

25

6) Pasien telah dilakukan semua jenis operasi Kriteria Eksklusi adalah subjek yang memenuhi kriteria harus dikeluarkan dari studi karena berbagai sebab, yaitu: 1) Klien menolak untuk diteliti 2) Klien pulang 3) Terdapat keadaan lain yang mengganggu pengukuran maupun interpretasi 4) Terdapat keadaan yang menganggu kemampulaksanaan. 3.2.3 Teknik sampling Pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan teknik purposife sampling (dilakukan dalam memilih sample yang memenuhi kriteria penelitian). Menurut Supranto J (2000) untuk penelitian eksperimen dengan rancangan acak lengkap, acak kelompok atau faktorial, secara sederhana. Dapat dirumuskan: (t-1)(r-1)15 Dimana: t = banyaknya kelompok perlakuan J = jumlah replikasi 3.3 Tempat dan Waktu penelitian 3.3.1 Tempat Tempat penelitian ini dilakukan di ruang Rawat Inap Bedah RSUD Gunung Jati Cirebon.

26

3.3.2 Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2011 selama 2 minggu pada minggu ke 2 bulan Juli 2011. 3.4 Variabel Penelitian Pada penelitian ini hanya dibatasi pada variabel independen dan variabel dependen. 3.4.1 Variabel Independen Terapi musik dalam menurunkan tingkat nyeri. 3.4.2 Variabel Dependen Nyeri tindakan post op.

3.5 Definisi Operasional Tabel 3.1 : Definisi Operasional


No. 1. Variabel Terapi musik dalam menurunkan tingkat nyeri Definisi Operasional Tindakan pemberian terapi musik kepada pasien yang mengalami nyeri post op dengan menggunakan jenis musik yang disesuaikan kesukaan pasien. Rasa nyeri yang dirasakan pasien post op Alat Ukur Lembar Observasi Skala Ukur Nominal Hasil pengukuran a. b. Ya Tidak

2.

Nyeri pada tindakan post op

Lembar Observasi

Ordinal

0 1 2 3 4 5

: tidak nyeri : nyeri ringan : tidak nyaman : menderita : sangat menderita : menyiksa

27

3.6 Instrumen penelitian dan pengumpulan data 3.6.1 Instrumen penelitian Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur observasi yang berisi rentang intensitas nyeri yang dirasakan klien. Untuk mendukung observasi peneliti juga memakai MP3 player dan headphone yang berisikan musik dengan jenis varian yang akan disesuaikan dengan kesukaan responden. Lembar observasi yang digunakan peneliti adalah skala nyeri dengan rentang dari 0 5. Keterangan: 0 : tidak nyeri 1 : nyeri ringan 2 : tidak nyaman 3 : menderita 4 : sangat menderita 5 : menyiksa 3.6.1.1 Uji Validasi Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrumen (Arikunto;84;2002). Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi skala nyeri yang tidak dilakukan uji validasi karena alat ukurnya sudah baku dan karena menggunakan lembar observasi. Instrumen ini juga sudah pernah dilakukan oleh penelitian sebelumnya.

28

3.6.1.2 Uji Reliabilitas Uji reliabilitas lembar observasi juga dilakukan dengan bantuan software SPSS 16.0.

3.6.2 Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan di ruang VIII (bedah) RSUD Gunung Jati Cirebon dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Peneliti mengajukan surat permohonan izin peneliti dari institusi akademik kepada DIKLAT dan Direktur RSUD Gunung Jati. 2) Setelah peneliti mendapatkan surat persetujuan dari DIKLAT dan Direktur RSUD Gunung Jati Cirebon selanjutnya peneliti melakukan penelitian. 3) Yang bersedia menjadi responden seluruh pasien di ruang Bedah yang mengalami nyeri post operasi 4) Pasien diminta untuk menandatangani surat persetujuan menjadi responden setelah diberi penjelasan tentang tujuan dan manfaat penelitian. 5) Mengkaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien sebelum diberi terapi musik 6) Memperdengarkan musik jenis instrumen disesuaikan dengan kesukaan responden dengan menggunakan MP3 dan headphone selama 10 menit 7) Menanyakan kondisi nyeri setelah dilakukan terapi musik. 8) Mengisi lembar observasi sesuai jawaban klien. 9) Terima kasih dan salam.

29

3.7 Teknik pengolahan data dan Analisa data 3.7.1 Pengolahan data a. Editing Melakukan pengecekan kelengkapan data yang akan diteliti apakah semua data yang diperlukan sudah lengkap, diantaranya kelengkapan ketentuan identitas pengisi, kelengkapan lembar kuesioner dan kelengkapan isisan yang dilakukan di tempat pengumpulan data, sehingga apabila terdapat ketidaksesuaian dapat segera dilengkapi oleh peneliti. b. Coding Pemberian kode pada semua variabel untuk memudahkan pengelolaan data. Pada kuesioner intensitas nyeri dengan jawaban tidak nyeri diberikan kode 0, jawaban nyeri ringan diberi kode 1, jawaban tidak nyaman diberi kode 2, jawaban menderita diberi kode 3, jawaban sangat menderita diberi kode 4, jawaban menyiksa diberi kode 5. c. Tabulasi Mengelompokkan atau menggolongkan data penelitian sesuai dengan variabel independen dan dependen yang diteliti. d. Entry Merupakan suatu proses pemasukan data ke dalam komputer untuk selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan program SPSS for Window Release 16.0

30

3.7.2 Analisa Data 1) Analisa Univariat Dilakukan untuk mendeskripsikan usia responden, pendidikan, pekerjaan dan diagnosa medis. Analisa univariat digunakan untuk penyebaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel menggunakan prosentasi. 2) Analisa Bivariat Analisa bivariat yaitu analisa yang digunakan untuk melihat hubungan dua variabel yang meliputi variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen). Peneliti ingin mengetahui efektifitas terapi musik terhadap penurunan tingkat nyeri pada psien yang mengalami nyeri post operasi di ruang VIII (bedah) RSUD Gunung Jati Cirebon dianalisis secara deskriptif analitik, untuk mengetahui tahapan dan respon perilaku terhadap nyeri yang memberikan kontribusi paling besar terhadap intensitas nyeri digunakan metode perbandingan yang mengacu pada total skor dan rata-rata skor yang diperoleh oleh semua responden. Hasil identifikasi nyeri nyeri pada responden sebelum dan sesudah terapi musik selanjutnya

dibandingkan secara langsung dan dianalisis dengan menggunakan uji t-test, yaitu statistik parametik yang digunakan uji hipotesis komperatif, bila data berbentuk interval atau rasio dan berdistribusi normal dengan membandingkan mean dua rata-rata. Mean dari dua rata-rata ini adalah mean dependen yaitu uji yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata antara dua

31

kelompok sample yang berpasangan (berhubungan). Maksudnya di sini adalah sebuah sample tetapi mengalami dua perlakuan berbeda. (Dwi Priyatno,2008;98). Rumus perhitungan sebagai berikut:

Sd = Keterangan:

Sd : standar deviasi : jumlah : selisih / deviasi rata-rata N : jumlah orang diteliti Dengan taraf signifikan 0,05, kemudian mencari t-table dengan

ketentuan df= n-1. Dengan mengetahui posisi pengujinya, pakah menggunakan pihak kiri, pihak kanan atau kedua pihak.

3.8 Keterbatasan penelitian 3.8.1 Instrumen/alat ukur Pengumpulan data dengan lembar observasi memungkinkan responden menjawab pertanyaan dengan tidak jujur atau tidak mengerti pertanyaan yang dimaksud sehingga hasilnya kurang mewakili secara kuantitatif. 3.8.2 Teknik sampling Teknik sampling yang digunakan adalah metode probability sampling, sehingga kelompok terpilih kurang mewakili karakter populasi yang sebenarnya.

32

3.8.3 Responden yang menolak Penelitian ini tidak menutup kemungkinan bila responden yang sesuai dengan kriteria akan menolak menjadi responden dari penelitian ini. 3.8.4Jenis Musik Jenis musik yang digunakan dalam penelitian ini masih bervariasi yang disesuaikan dengan kesukaan responden. 3.8.5Referensi Penelitian ini masih perlu di koreksi kembali karena terbatasnya peneliti menemukan referensi yang kuat untuk penelitian terapi musik.

3.9 Etika penelitian 3.9.1 Informed consent Lembar persetujuan diberikan kepada responden yang diteliti, peneliti menjelaskan maksud dan tujuan peneitian yang dilakukan serta menjelaskan tentang informasi hak-hak dan tanggung jawab responden dalam penelitian, jika responden bersedia diteliti, maka responden harus menandatangani lembar persetujuan tersebut. Jika responden menolak untuk diteliti, maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hakhaknya. 3.9.2 Anonimity Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama informan pada lembar pengumpulan data, cukup dengan memberi nomor kode pada masing-masing lembar tersebut.

33

3.9.3 Confidentiality Kerahasiaan informasi dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset.

34

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Karakteristik Responden 1. Jumlah Responden Berdasarkan Usia Berdasarkan hasil penelitian dari jumlah responden yang diteliti, ternyata antara rentang umur <20 tahun serta rentang umur 20-30 tahun dan rentang umur 61-70 tahun yaitu masing-masing 20%, sedangkan rentang umur 31-40 tahun adalah 26.7%, sedangkan untuk rentang umur 41-50 tahun dan 51-60 tahun masing-masing adalag 6.7%, lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi Responden berdasarkan usia Di Ruang VIII Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon, Juli 2011
No. 1 2 3 4 5 6 Usia < 20 thn 20-30 thn 31-40 thn 41-50 thn 51-60 thn 61-70 thn Total Jumlah 3 3 4 1 1 3 15 Prosentase 20% 20% 26.7% 6.7% 6.7% 20% 100,%

35

2. Jumlah Responden Berdasarkan Pendidikan Dari jumlah responden didapatkan tingkat pendidikan yang terbesar adalah SLTAyaitu sebanyak 7 responden (46.7%), dan responden yang dengan pendidikan SLTP dan SD masing-masing 4 responden (26.7%). Untuk lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Ruang VIII Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon, Juli 2011
No. 1 2 3 Pendidikan SD SLTP SLTA Total Jumlah 4 4 7 15 Prosentase 26.7 % 26.7% 46.6% 100,%

3. Jumlah Responden Berdasarkan Pekerjaan Jenis pekerjaan responden terbanyak adalah buruh yaitu 6 responden (40%), sedangkan pelajar dan wiraswasta masing-masing 2 responden (13.3%), sedangkan swasta sebanyak 5 responden (33.3%). Gambaran lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.3 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi responden Berdasarkan Tingkat Pekerjaan Di Ruang VIII Rumah Sakit Gunung Jati, Juli 2011
No. 1 2 Pekerjaan Pelajar Buruh Jumlah 2 6 Prosentase 13.3% 40%

36

3 4

Wiraswasta Swasta Total

2 5 15

13.3% 33.3 % 100%

4. Jumlah responden Berdasarkan Diagnosa Jenis diagnosa responden yang terbesar adalah BPH yaitu 5 responden (33.3%), dan yang paling kecil adalah Post Repair tendon, Post Cystoscepy, Post Union radius Ulna, dan post open Prostatectomy masing-masing 1 responden (6.7%). Untuk lebih jelas digambarkan pada tabel 4.4. Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Diagnosa Di Ruang VII Rumah Sakit Gunung Jati, Juli 2011
No. 1 2 3 4 5 6 7 Diagnosa BPH Post Orif ( Tibia ) Amputasi Post Repair tendon Post Cystoscepy Post union radius ulna Post open prostatectomy Total Jumlah 5 4 2 1 1 1 1 15 Prosentase 33.3% 26.7% 13.3% 6.7% 6.7% 6.7% 6.7% 100%

37

B. Penurunan Nyeri Post Operasi Sebelum dan Sesudah Terapi Musik Berdasarkan Indeks Rating Nyeri (IRN) Dari seluruh responden pada saat pre test sebelum perlakuan didapatkan nyeri yang paling banyak dialami adalah pada skala 2 (tidak nyaman) yaitu 11 (73.3%), dan yang paling sedikit adalah berada pada skala 1 (nyeri ringan) sebanyak 1 (6.7%). Setelah diberikan terapi musik dari 15 responden didapatkan skala nyeri yang paling banyak adalah skala 1 (nyeri ringan) yaitu 11 (73.3%), sedangkan skala 2 dan 3 didapatkan masing-masing 2 (13.3%). Untuk lebih jelas dapat digambarkan pada tabel 4.5. Tabel 4.5 Penurunan Nyeri Post Operasi sebelum dan sesudah Terapi musik berdasarkan Indeks Rating Nyeri (IRN)
No Skala Nyeri Jumlah 1 2 3 4 5 6 0 (tidak nyeri) 1 (nyeri ringan) 2 (tidak nyaman) 3 (menderita) 4 (sangat menderita) 5 (menyiksa) Total 0 1 11 3 0 0 15 Sebelum Prosentase 0% 6.7% 73.3% 20% 0% 0% 100% Jumlah 0 11 2 2 0 0 15 Sesudah Prosentase 0% 73.3% 13.3% 13.3% 0% 0% 100%

38

39

40

41

42

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2010.Terapi Musik.diakses tanggal 15 Desember 2010; http://www.terapimusik.co.cc/2010/02/alatar-belakang-masalah-bab-i.html Asmadi.2008.Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien.Jakarta:Salemba Medika. Bunner&Suddarths.2007.Texbook of Medical Surgical Nursing.edisi 12. Muslimahwaty.2010.Cara Pemberian Obat Secara Parenteral.diakses tanggal 15 Desember 2010; http://muslimahwatyyahoocoid.blogspot.com/2010/07/cara-pemberian-obatsecara-parenteral.html Nurwijanarko,Nugroho Nur.2007.Efektifitas Terapi Musik Terhadap Tingkat Kecemasan Klien di Ruang ICU-ICCU Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus.Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.Tidak dipublikasikan. Potter,Perry.2010.Fundamental Keperawatan.buku 2 edisi 7.Jakarta:Salemba Medika Priharjo,Robert.1996.Pemenuhan Aktivitas IstirahatPasien: Perawatan Nyeri.Jakarta:EGC. Qauliyah,Asta.2006.Pemberian Cairan Infus Intravena.diakses tanggal 15 Desember 2010; http://astaqauliyah.com/2006/08/medical-info-pemberiancairan-infus-intravena-intravenous-fluids/ Qittun.2008.Konsep Dasar Nyeri.di akses tanggal 15 Desember 2010; http://qittun.blogspot.com/2008/10/konsep-dasar-nyeri.html

Rihantoro,Tori,dkk.2008.Jurnal Keperawatn: Pengaruh Terapi Musik terhadap status Hemodinamika pada pasien koma di ruang ICU sebuah Rumah Sakit di Lampung.Volume 12 No.2 ISSN 1410-4490.Jakarta: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Tubalawony,Fransina.2007.Pengaruh Terapi Musik Teradap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien Pasca Bedah.Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.Tidak dipublikasikan. Weller, Barbara F.2005.Kamus Saku Perawat.edisi 22.Cetakan I.Jakarta:EGC.