Anda di halaman 1dari 46

1

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
Gedung D6 Lantai 2, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50299, Telp/Fax:(024)8508035
PROPOSAL SKRIPSI
NAMA : MUHAMAD AFRIAWAN
NIM : 4301408023
PRODI : PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN : KIMIA
I. JUDUL
PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN SAVI BERVISI SETS PADA
PENCAPAIAN KOMPETENSI TERKAIT REAKSI REDOKS
II. ALASAN PEMILIHAN JUDUL
A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kian hari kian bertambah
pesat. Salah satu kunci dari perkembangan tersebut adalah bidang pendidikan.
Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan memiliki peran sangat penting untuk
menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup. Demikian juga di Indonesia,
pembangunan yang dilaksanakan secara bertahap dan kontinyu diharapkan akan
dapat berpengaruh positif terhadap perkembangan dan kemajuan di segala
bidang. Oleh karena itu pendidikan perlu mendapat perhatian, penanganan dan
prioritas secara intensif dari pemerintah, masyarakat, maupun pengelola
pendidikan.
2
Pembelajaran merupakan suatu proses yang rumit karena tidak hanya
proses transfer informasi guru kepada siswa, tetapi juga melibatkan berbagai
tindakan dan kegiatan yang harus dilakukan terutama jika menginginkan hasil
belajarnya menjadi lebih baik. Salah satu proses pembelajaran yang menekankan
berbagai tindakan dan kegiatan adalah dengan menggunakan pendekatan tertentu.
Pendekatan dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan sarana untuk
mencapai tujuan pembelajaran serta dapat mengembangkan dan meningkatkan
aktivitas belajar yang dilakukan guru dan siswa, sehingga nantinya akan
meningkatkan kompetensi siswa.
Pembelajaran secara konvensional sekarang ini sudah tidak cocok lagi
karena didalam metode ini, guru hanya mentransfer ilmu kepada anak didik dan
sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara
guru dan siswa dalam interaksi edukatif. Metode ini lebih banyak menuntut
keaktifan guru dari pada siswa. Penggunaan metode pembelajaran yang monoton
(konvensional), dimungkinkan siswa akan mengantuk dan perhatiannya kurang
karena membosankan. Model pembelajaran harus bisa mengubah gaya belajar
siswa dari siswa yang belajar pasif menjadi aktif dalam mengkonstruksikan
konsep.
Model pembelajaran yang tepat membuat kimia lebih berarti, masuk
akal, menantang, menyenangkan dan cocok untuk siswa. Gambaran
permasalahan-permasalahan diatas perlu diperbaiki guna meningkatkan motivasi,
perhatian, pemahaman dan prestasi belajar siswa, sehingga mampu meningkatkan
kompetensi siswa pada mata pelajaran kimia.
Oleh karena itu guru mampu menawarkan metode dalam mengajar yang
lebih efektif yang dapat membangkitkan perhatian siswa sehingga siswa menjadi
aktif dan termotivasi untuk belajar, serta harus diimbangi dengan kemampuan
guru dalam menguasai metode tersebut. Salah satunya adalah melalui pendekatan
SAVI (Somatic, Auditory, Visualization dan Intellectualy). Pembelajaran tidak
otomatis meningkat dengan menyuruh anak berdiri dan bergerak. Akan tetapi
3
menggabungkan gerak fisik dengan aktivitas intelektual dan pengunaan semua
indra dapat berpengaruh besar terhadap pembelajaran. Unsur-unsur pendekatan
SAVI adalah :
1. Somatic (S) : Belajar dengan bergerak dan berbuat.
2. Auditory (A) : Belajar dengan berbicara dan mendengar.
3. Visualization (V) : Belajar dengan mengamati dan menggambarkan.
4. Intellectualy (I) : Belajar dengan memecahkan masalah dan
merenung.
Pembelajaran kimia dengan pendekatan SAVI bisa optimal jika keempat
unsur SAVI ada dalam satu peristiwa pembelajaran kimia. Misalnya, siswa akan
belajar sedikit tentang kimia dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi mereka
dapat belajar lebih banyak jika mereka dapat melakukan sesuatu (S),
membicarakan atau mendiskusikan apa yang mereka pelajari (A), serta
memikirkan dan mengambil kesimpulan atau informasi yang mereka peroleh
untuk diterapkan dalam menyelesaikan soal-soal (I). Atau, siswa dapat
meningkatkan kemampuan mereka dalam mengemukakan ide (I), jika mereka
secara simultan menggerakan sesuatu (S) untuk menghasilkan pictogram,diagram,
grafik dan lain sebagainya (V) sambil mendiskusikan atau membicarakan apa
yang sedang mereka kerjakan (A) (Meier, 2002:100).
Dalam kehidupan modern yang semakin komplek ini keterlibatan sains
dan teknologi serta dampaknya pada lingkungan dan masyarakat menjadi semakin
tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Dalam dunia pendidikan sekarang ini,
dikenal Pendekatan SETS (Science, Environtment, Technology and Society) atau
dalam istilah Indonesianya SaLingTeMas singkatan dari Sains, Lingkungan,
Teknologi dan Masyarakat. Dari akronim SETS dapat diketahui bahwa
pendidikan bervisi SETS akan mencakup topik dan konsep yang berhubungan
dengan sains, lingkungan, teknologi dan hal-hal yang berkenaan dengan
masyarakat. Inti tujuan pendidikan SETS adalah agar pendidikan ini dapat
membuat siswa mengerti unsur-unsur utama SETS serta keterkaitan antar unsur
4
tersebut pada saat mempelajari sains. Dengan kata lain, diperlukan pemikiran
yang kritis untuk belajar setiap elemen SETS dengan memperhatikan berbagai
keterhubungankaitan antara unsur-unsur SETS tersebut (Binadja,1999).
Perlunya menggunakan pembelajaran model SETS yaitu, melalui SETS
diharapkan peserta didik memahami implikasi hubungan antar elemen SETS. Adapun
elemen-elemen SETS adalah Science (ilmu alam), Environtment (lingkungan sekitar),
Technology (teknologi), dan Society (masyarakat). SETS akan membimbing siswa
berfikir aktif dan bertindak memecahkan masalah lingkungan atau segala sesuatu
yang berhubungan dengan masyarakat .
SMA Negeri 1 Bawang adalah salah satu SMA di Kabupaten Batang.
Sarana dan prasarana yang telah tersedia di SMA Negeri 1 Bawang sudah cukup
memadai. Kondisi lingkungan sekolah, ruang kelas, perlengkapan belajar
mengajar, buku pegangan siswa dan guru sudah tersedia dengan baik. Fasilitas
laboratorium, perpustakaan dan fasilitas lain juga cukup memadai.
Kimia merupakan mata pelajaran bagian dari sciences atau IPA yang
berhubungan dengan pemahaman konsep dan rumus beserta pemecahan
masalahnya. Sekarang ini, mata pelajaran kimia masih menjadi mata pelajaran
yang sulit dipahami oleh siswa. Berdasarkan fakta lapangan, ternyata banyak
siswa SMA Negeri 1 Bawang yang banyak mengalami kesulitan dalam
memahami materi reaksi redoks, serta masih kurangnya kompetensi siswa pada
materi reaksi redoks.
Berdasarkan hasil pra-survei terhadap hasil belajar siswa kelas X pada
materi Redoks SMA N 1 Bawang dilihat dari kategori ketuntasan belajar yang
telah ditetapkan pihak sekolah adalah 65 dapat disajikan dalam tabel berikut:
Kategori Nilai Jumlah Siswa Prosentase Ketuntasan secara Klasikal
65 16 38,88%
< 65 24 61,12%
Jumlah 40 100%
Tabel 1. Hasil Ulangan Harian Kimia Materi Redoks Siswa Kelas X SMA
N 1 Bawang
5
Fakta di atas, menunjukkan bahwa hasil belajar kimia materi redoks siswa
kelas X sebagian besar masih rendah, yaitu sebesar 61,12% dan tergolong
kategori belum tuntas dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 65. Hal ini
mendorong untuk dilakukan penelitian pembelajaran dengan menggunakan
metode yang dapat membantu mengatasi kesulitan belajar dan dapat
meningkattkan kompetensi siswa pada materi diatas yaitu dengan menggunakan
pendekatan SAVI bervisi SETS. Diharapkan dari hasil penelitian dapat membuat
hasil belajar kimia siswa pada pokok bahasan reaksi redoks lebih optimal dan
model pembelajaran yang peneliti terapkan dapat dikembangkan menjadi lebih
baik lagi.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis bermaksud melakukan
penelitian untuk mengetahui pengaruh penerapan pendekatan SAVI bervisi SETS
pada pencapaian kompetensi terkait reaksi redoks serta untuk meningkatkan
kompetensi terkait reaksi redoks peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Bawang.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diidentifikasi
masalah penelitian antara lain :
1. Pembelajaran secara konvensional sekarang ini sudah tidak cocok lagi
karena didalam metode ini, guru hanya mentransfer ilmu kepada anak didik
dan sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan
antara guru dan siswa dalam interaksi edukatif.
2. Pendekatan pembelajaran yang digunakan guru berpengaruh pada
pencapaian kompetensi pembelajaran siswa. Model pembelajaran harus bisa
mengubah gaya belajar siswa dari siswa yang belajar pasif menjadi aktif
dalam mengkonstruksikan konsep.
3. Dalam pembelajaran kimia selama ini, guru masih jarang mengaitkan hal-hal
di dunia nyata dalam hal ini berkaitan dengan sains, lingkungan, teknologi
6
dan masyarakat, sehingga siswa kurang bisa mengaitkan konsep yang ia
dapat di kelas untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
4. Kompetensi kimia terkait reaksi redoks siswa SMA Negeri 1 Bawang masih
kurang, ditunjukkan dengan hasil ketuntasan belajar sebesar 61,12%
tergolong kategori belum tuntas dengan KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal) 65.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Adakah pengaruh pendekatan SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intelektual )
bervisi SETS (Science, Environment, Technology, Society ) terhadap
pencapaian kompetensi terkait reaksi redoks siswa kelas X SMA Negeri 1
Bawang?
2. Bagaimanakah pencapaian kompetensi terkait reaksi redoks siswa kelas X
SMA Negeri 1 Bawang setelah diberikan pembelajaran dengan pendekatan
SAVI bervisi SETS?
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui pengaruh pendekatan SAVI bervisi SETS terhadap
pencapaian kompetensi terkait reaksi redoks siswa kelas X SMA Negeri 1
Bawang.
2. Untuk mengetahui pencapaian kompetensi terkait reaksi redoks setelah
dilakukan pembelajaran melalui penerapan pendekatan SAVI bervisi SETS
pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Bawang.
7
E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas ini sebagai
berikut:
1. Bagi peserta didik
Penelitian ini akan bermanfaat bagi peserta didik yang mengalami
kesulitan dalam memahami materi pelajaran kimia dan meningkatkan
kompetensi siswa pada materi reaksi redoks. Selain itu peserta didik akan
menjadi lebih aktif dan termotivasi untuk belajar serta akan membimbing
siswa berfikir aktif dan bertindak memecahkan masalah lingkungan atau segala
sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat .
2. Bagi guru
Penelitian ini dapat menambah wawasan bagi guru tentang model
pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kinerja guru. Memberikan
informasi metode pembelajaran dengan pendekatan SAVI bervisi SETS untuk
meningkatkan kompetensi siswa.
3. Bagi sekolah (lembaga pendidikan)
Suatu keefektifan model pembelajaran pendekatan SAVI bervisi SETS
dapat meningkatkan pemahaman peserta didik pada mata pelajaran kimia
sehingga pada akhirnya lulusan SMA Negeri 1 Bawang dapat lebih baik lagi.
Pendekatan pembelajaran SAVI bervisi SETS dapat meningkatkan
pencapaian kompetensi terkait reaksi redoks.
4. Bagi Peneliti
Dengan penelitian ini, peneliti dapat memperoleh pengalaman
langsung dalam memilih model pembelajaran. Peneliti juga memperoleh
bekal tambahan bagi calon guru kimia sehingga diharapkan dapat
bermanfaat ketika terjun di lapangan.
8
F. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini mempunyai arah yang jelas dan pasti ,maka perlu
adanya pembatasan masalah.penelitian ini hanya membatasi permasalahan
sebagai berikut:
1. Materi yang dipilih dalam pembelajaran ini adalah reaksi redoks.
2. Pembelajaran dilakukan dengan pendekatan SAVI bervisi SETS.
3. Objek penelitian hanya dibatasi pada siswa kelas X semester genap SMA
Negeri 1 Bawang.
III. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Kompetensi
Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia
yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa
Sunda. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa
siswa telah memahami, memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran
yang telah dipelajarinya. Dengan perkataan lain, ia telah bisa melakukan
(psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang
pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Inilah
hakikat pembelajaran, yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri
kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain, karena ia telah
memiliki kompetensi, kecakapan hidup. Dengan demikian belajar tidak
cukup hanya sampai mengetahui dan memahami.
Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum
Inti Perguruan Tinggi mengemukakan Kompetensi adalah seperangkat
tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai
syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan
tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.
9
Penelitian masalah kompetensi pertama kali dilakukan oleh David Mc
Clelland (ahli psikologi dari Universitas Harvard), yang menemukan dan
menyatakan bahwa kompetensi itu sebagai karakteristik-karakteristik keahlian
yang mendasari keberhasilan atau kinerja yang dicapai seseorang. Kompetensi
dapat mempredeksikan secara efektif tentang kinerja unggul yang dicapai
dalam pekerjaan atau di dalam situasi-situasi yang lain.
Sedangkan menurut Citra, D.J. & Benjamin, E.R (1998: 26) kompetensi
dapat diartikan sebagai spesifikasi perilaku-perilaku yang ditunjukkan mereka
yang memiliki kinerja yang sempurna secara lebih konsisten dan lebih efektif
dibandingkan dengan mereka yang memiliki kinerja di bawah rata-rata. Bila
mengevaluasi kompetensi-kompetensi yang dimiliki seorang, maka diharapkan
bisa memprediksi kinerja orang tersebut.
Ada beberapa konsep kompetensi yang lain dari berbagai sumber
(IASPD,1998) antara lain sebagai berikut :
1) Menurut Konsep Inggris
Kompetensi adalah uraian tentang sesuatu yang harus dapat dilakukan
seseorang dalam lingkup tanggung jawab yang diembannya. Uraian tersebut
menjelaskan tentang tindakan, perilaku atau hasil akhir yang harus dapat
ditunjukkan oleh orang tersebut (NCVQ, 1995: 30). Kompetensi merupakan
kemampuan melaksanakan kegiatan kerja terhadap standar yang dibutuhkan
dalam pekerjaan (MSC, 1988: 45).
2) Menurut Konsep Amerika
Kompetensi merupakan karakteristik pokok yang akibatnya
berhubungan dengan kinerja atasan dalam pekerjaan (Boyatzis, McBer dan
Schroder). Aspek-aspek berharga yang ada pada contoh konsep Amerika
yang patut dipertimbangkan antara lain orientasi efisiensi, proaktifitas,
objektivitas serta cara berpersepsi positif yang berkenaan dengan standar
yang ditentukan.
10
3) Menurut Standar Nasional
Kompetensi adalah apa yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk
kinerja yang efektif dalam melaksanakan pekerjaan, dimana secara umum
merupakan:
a) Sikap, keterampilan dan pengetahuan pribadi yang merupakan apa yang
dibawa orang untuk bekerja, meliputi kualitas pribadi, keterampilan dan
pengetahuan, sikap, pengalaman, tanggung jawab,dan pertanggungan
jawab.
b) Keterampilan mengelola tugas, cara bersikap dan berorganiasi yang
merupakan apa yang dilakukan orang di tempat kerja, meliputi tugas,
proses dan perilaku yang menyangkut perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian.
c) Pencapaian tingkat standar hasil akhir yang merupakan apa yang telah
dicapai oleh tiap individu, meliputi hasil akhir sesuai standar yang
diharapkan untuk selayaknya dapat diraih oleh individu yang
berkompeten.
Dari definisi di atas kompetensi dapat digambarkan sebagai
kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas,
kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan,
sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun
pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan
pembelajaran yang dilakukan.
B. Standar Kompetensi
Standar Kompetensi merupakan acuan awal dari segala unit kompetensi
yang mesti dipatuhi oleh seluruh staf dan siswa di sekolah. Standar Kompetensi
agar dilaksanakan di sekolah:
1) Memiliki organisasi kerja dan rancangan tugas.
11
2) Meninjau kembali tingkat klasifikasi pegawai yang ada.
3) Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan.
4) Mengklasifikasikan tugas dan pekerjaan baru.
a) Unit Standar Kompetensi
Suatu Unit Standar Kompetensi terdiri dari spesifikasi ketrampilan dan
pengetahuan serta penerapan efektif dari ketrampilan dan pengetahuan
tersebut dalam suatu jabatan aplikasi di tingkat industri. Setiap Unit Standar
Kompetensi harus menjelaskan pekerjaan dan standar untuk kerja yang
dipersyaratkan yang meliputi :
(1) Deskripsi Unit garis besar aspek pekerjaan yang dinilai.
(2) Elemen dan Kriteria Unjuk Kerja dimana menjelaskan sifat dasar tugas
yang dinilai dan standar unjuk kerja yang diharapkan siswa.
(3) Rentang Variabel yang menjelaskan kondisi dimana tugas harus
ditampilkan.
(4) Pedoman bukti yang memberikan informasi perihal kunci yang harus
dilakukan calon/peserta (aspek kritis kompetensi), pengetahuan dan
keterampilan pendukung yang dipersyaratkan untuk menampilkan tugas
dan unit kompetensi yang mungkin dikelompokkan untuk tujuan
penilaian.
b) Karakteristik Unit Standar Kompetensi Indonesia
Karakteristik unit standar kompetensi di Indonesia meliputi beberapa
hal, antara lain yaitu:
(1) Memfokuskan pada hasil akhir yang diharapkan dari pekerjaan praktek
yang terbaik, dengan menggunakan patokan internal dan eksternal
secara efektif.
(2) Mengakui prestasi walaupun hal itu harus dipelajari/diraih.
(3) Menguji kompentensi berdasarkan bukti kinerja, pengetahuan dan
pemahaman.
12
C. Kompetensi Siswa
Kompetensi siswa adalah kemampuan siswa yang dihasilkan selama dia
mengikuti pembelajaran, artinya seberapa jauh siswa menyerap materi yang
disampaikan guru, seberapa persen tujuan yang telah ditetapkan guru dapat
dikuasai siswa, dan seberapa baik siswa mengikuti aturan-aturan yang telah
ditetapkan, berinteraksi dengan dengan lingkungan sosialnya, dan kinerja yang
ditunjukkannya dalam memecahkan masalah-masalah belajar dari kehidupan.
Kompetensi terbentuk dari lima karakteristik sebagaimana dikatakan Spencer dan
Spencer (1993), yaitu watak, motif, konsep diri, pengetahuan, dan ketrampilan.
Kompetensi pengetahuan dan ketrampilan adalah kompetensi yang
mudah dinilai, diberikan, dilatihkan, diajarkan, dialami, dan dikembangkan
karena merupakan kompetensi yang berada di permukaan yang cenderung dapat
dilihat. Sedangkan kompetensi konsep diri, watak, dan motif bersifat lebih
tersembunyi, lebih dalam, dan berperan sebagai sumber dari kepribadian yang
tidak mudah untuk dinilai dan dikembangkan.
Usia individu tingkat SMU adalah usia yang cukup dewasa dan tidak
sedikit dari mereka yang melanjutkan kehidupan ke kehidupan yang sebenarnya.
Oleh karena itu, mereka harus dibekali dengan kemampuan life skills (kecakapan
hidup). Kecakapan hidup lebih luas dari ketrampilan untuk bekerja,
apalagisekedar ketrampilan manual. Artinya, kecakapan hidup ini mencakup
kemampuan individu untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupannya
yang bersifat praktik sosial maupun individual. Diknas (2001) mengategorikan
kecakapan hidup dalam lima pilar, yaitu
a. kecakapan mengenal diri (self awareness), yang juga sering disebut
kemampuan personal (personal skills);
b. kecakapan berpikir rasional (thinking skills);
c. kecakapan sosial (social skills);
13
d. kecakapan akademik (academic skills);
e. kecakapan vokasional/khusus (vocational skills);
lima pilar tersebut dikategorikan lagi menjadi dua, yaitu general lifeskills, yaitu
kecakapan mengenal diri, berpikir rasional, dan kecakapan sosial. Sedangkan
kecakapan akademik dan vokasional dikategorikan sebagai spesifik lifeskills.
Kompetensi harus dimiliki oleh siswa SMU/MA yaitu selain dapat
digunakan untuk menembus seleksi masuk perguruan tinggi favorit, yang
terkesan sebagai kompetensi akademik, juga untuk melanjutkan kehidupannya, di
masyarakat, artinya selain kompetensi untuk dapat bergaul dan hidup bersama di
tengah-tengah masyarakat, siswa juga harus memiliki kemampuan menghasilkan
materi dari sejumlah keahliannya.
Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah
pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman, penalaran,
aplikasi, analisis, observasi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, koneksi,
komunikasi, inkuiri, hipotesis, konjektur, generalisasi, kreativitas,
pemecahan masalah), kemampuan afektif (pengendalian diri yang
mencakup kesadaran diri, pengelolaan suasana hati, pengendalian impulsi,
motivasi aktivitas positif, empati), dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi
dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi, presentasi,
prilaku).
Istilah psikologi kontemporer, kompetensi / kecakapan yang
berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik, terutama kognitif)
disebut dengan hard skill, yang berkontribusi terhadap sukses individu
sebesar 40 % . Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan
afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian,
sosialisasi, dan pengendalian diri disebut dengan soft skill, yang
14
berkontribusi sukses individu sebesar 60%. Suatu informasi yang sangat
penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua..
D. Pendekatan SAVI
Dalam penelitian ini aka digunakan pendekatan SAVI. SAVI singkatan
dari Somatic, Auditory, Visualization dan Intellectualy. Menurut Suherman
(2009) Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa
belajar haruslah memanfaatkan semua alat indera yang dimiliki oleh siswa.
Teori yang mendukung pendekatan SAVI adalah Accelerated Learning.
Pada proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SAVI,
proses pembelajaran menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual
dan penggunaan semua indra. Dedy Ahimsa (dalam Dave Meier, 2002 : 91
92) menyatakan bahwa pendekatan SAVI terdiri dari empat bagian yaitu
Somatic, Auditory, Visualization dan Intellectualy. Adapun pengertian dari
keempat bagian itu adalah:
1. Somatic (S)
Somatic berasal dari bahasa Yunani yaitu tubuh soma. Jika dikaitkan
dengan belajar maka dapat diartikan belajar dengan bergerak dan berbuat.
Dalam pembelajaran reaksi redoks aspek somatic yang mengembangkan
ketrampilan fisik dilakukan dengan kegiatan demonstrasi atau praktikum.
Tabel 2. Somatic yang dikembangkan pada pembelajaran reaksi redoks
No. Materi yang diajarkan Somatic yang dikembangkan
1.
2.
Konsep reaksi redoks
Peristiwa reaksi oksidasi
Siswa melakukan demonstrasi reaksi
pembakaran logam Mg.
-. Siswa melakukan demonstrasi reaksi
perkaratan besi.
-.Siswa melakukan demonstrasi proses
pencoklatan apel.
15
2. Auditory (A)
Auditory adalah belajar dengan berbicara dan mendengar. Dalam
pembelajaran siswa hendaknya mengajak siswa membicarakan apa yang sedang
mereka pelajari, menerjemahkan pengalaman siswa dengan suara. Aspek
auditory dalam pembelajaran reaksi redoks ditekankan pada kemampuan
mendengarkan informasi dari sumber belajar (guru) maupun mendengarkan
presentasi.
Tabel 3. Auditory yang dikembangkan pada pembelajaran reaksi redoks
No. Materi yang diajarkan Auditory yang dikembangkan
1.
2.
3.
4.
5.
Perkembangan perkembangan
reaksi redoks
Konsep reaksi redoks
Penentuan bilangan oksidasi
Tata nama senyawa reaksi
redoks menurut aturan IUPAC
Penerapan reaksi redoks dalam
kehidupan sehari-hari
Siswa mendengarkan informasi saat
berdikusi mengenai perkembangan
reaksi redoks.
Siswa menjelaskan hasil diskusi melalui
presentasi
Siswa mendengarkan bimbingan dari
guru mengenai penentuan bilangan
oksidasi.
Siswa mendengarkan bimbingan dari
guru mengenai Tata nama senyawa
reaksi redoks menurut aturan IUPAC
Siswa mendengarkan penjelasan
penerapan redoks dalam kehidupan
sehari-hari melalui presentasi.
16
3. Visualization (V)
Visual disini adalah belajar dengan mengamati dan menggambarkan.
Pembelajar visual belajar paling baik jika mereka dapat melihat contoh dari
dunia nyata, peta gagasan dan gambaran dari segala hal yang berhubungan
dengan materi yang sedang dipelajari ketika kegiatan belajar berlangsung. Pada
pokok bahasan reaksi redoks, guru dapat menampilkan media pembelajaran
yang menampilkan gambar dan animasi menyangkut materi pelajaran sehingga
siswa tertarik dengan materi pelajaran yang disampaikan, memperhatikan
demonstrasi yang diperagakan di depan kelas juga termasuk cara
mengembangkan aspek visual.
Tabel 4. Visualization yang dikembangkan pada pembelajaran reaksi
redoks
No. Materi yang diajarkan Visualization yang dikembangkan
1.
2.
3.
Konsep reaksi redoks
Reaksi autoredoks
Penerapan konsep redoks
dalam pengolahan air kotor
Siswa memperhatikan gambar animasi
mengenai reaksi redoks.
Siswa memperhatikan gambar animasi
mengenai reaksi autoredoks.
Siswa memperhatikan beberapa gambar
animasi mengenai penerapan konsep
redoks dalam pengolahan air kotor.
4. Intellectualy (I)
Intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran, menyatukan
pengalaman dan belajar. Belajar intelektual berarti menunjukkan apa yang
dilakukan siswa dalam pikiran mereka menggunakan kecerdasan untuk
merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan makna, rencana
dan nilai dari pengalaman. Dalam proses belajar intelektual, siswa diminta
menyelesaikan permasalahan yang diajukan oleh guru.
17
Tabel 5. Intellectually yang dikembangkan pada pembelajaran reaksi
redoks
No. Materi yang diajarkan Intellectually yang dikembangkan
1.
2.
3.
4.
Perkembangan konsep reaksi
redoks
Konsep reaksi redoks
Peristiwa reaksi redoks
Penerapan reaksi redoks dalam
kehidupan sehari-hari
Siswa berdikusi dengan anggota
kelompok.
Siswa menjawab permasalahan yang
diajukan pada masing-masing
kelompok.
Siswa menuliskan laporan hasil
pengamatan praktikum.
Siswa melakukan observasi dengan
melakukan pencarian dari berbagai
sumber mengenai penerapan reaksi
redoks dalam kehidupan sehari-hari.
E. Pendekatan SETS
a. Hakekat dan Tujuan Pendekatan SETS
SETS (Science, Environment, Technology, Society), bila diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia memiliki kepanjangan Sains, Lingkungan, Teknologi,
dan Masyarakat. SETS diturunkan dengan landasan filofofis yang
mencerminkan kesatuan unsur SETS dengan mengingat urutan unsur-unsur
SETS dalam susunan akronim tersebut.
Dalam konteks pendidikan SETS, urutan ringkasan SETS membawa
pesan bahwa untuk menggunakan sains ke bentuk teknologi dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat dipikirkan berbagai implikasi pada lingkungan secara
fisik maupun mental.
Pendidikan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui
sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat
18
mempengaruhi lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik.
Program ini sekurang-kurangnya dapat membuka wawasan peserta didik
hakikat pendidikan sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat (SETS) secara
utuh (Binadja, 1999: 3).
b. Cakupan Pendidikan SETS
Pendidikan SETS mencakup topik dan konsep yang berhubungan dengan
sains, lingkungan, teknologi dan hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat.
SETS membahas tentang hal-hal bersifat nyata, yang dapat dipahami, dapat
dibahas dan dapat dilihat. Membicarakan unsur-unsur SETS secara terpisah
berarti perhatian khusus sedang diberikan pada unsur SETS tersebut. Dari unsur
ini selanjutnya dicoba untuk menghubungkan keberadaan konsep sains dalam
semua unsur SETS agar bisa didapatkan gambaran umum dari peran konsep
tersebut dalam unsur-unsur SETS yang lainnya.
c. Penerapan Pendekatan SETS pada Pembelajaran di Sekolah
Penerapan SETS dalam pembelajaran untuk tingkat sekolah disesuaikan
dengan jenjang pendidikan siswa. Sebuah program untuk memenuhi
kepentingan peserta didik harus dibuat dengan menyesuaikan tingkat
pendidikan peserta didik tersebut. Topik-topik yang menyangkut isi SETS di
luar materi pengajaran dipersiapkan oleh guru sesuai dengan jenjang
pendidikan siswa.
Dalam pendidikan SETS, pendekatan yang paling sesuai adalah
pendekatan SETS itu sendiri. Sejumlah ciri atau karakteristik dari pendekatan
SETS (Binadja, 2000: 6) adalah:
1) Tetap memberi pengajaran sains.
2) Murid dibawa ke situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke bentuk
teknologi untuk kepentingan masyarakat.
3) Murid diminta untuk berpikir tentang berbagai kemungkinan akibat yang
terjadi dalam proses pentransferan sains ke bentuk teknologi.
19
4) Murid diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur sains
yang diperbincangkan dengan unsur-unsur lain dalam SETS yang
mempengaruhi keterkaitan antara unsur tersebut bila diubah dalam bentuk
teknologi berkenaan.
5) Dalam konteks kontruktivisme murid dapat diajak berbincang tentang
SETS dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang
dimiliki oleh siswa bersangkutan.
Di dalam pengajaran menggunakan pendekatan SETS murid diminta
menghubungkan antar unsur SETS. Maksudnya adalah murid
menghubungkaitkan antara konsep sains yang dipelajari dengan benda-benda
yang berkenaan dengan konsep tersebut pada unsur lain dalam SETS, sehingga
memungkinkan murid memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang
keterkaitan konsep tersebut dengan unsur lain dalam SETS baik dalam bentuk
kelebihan maupun kekurangannya. Hubungan tersebut dapat digambarkan:
Gambar 1 : Keterkaitan Antar Unsur SETS
(Binadja,1999c:4)
F. Redoks dalam SETS
20
Jika kita melihat di sekitar kita, kita akan melihat secara langsung atau
tidak bahwa banyak sekali kegiatan yang melibatkan reaksi redoks di dalamnya.
Diantara contoh manfaat dan kerugian yang dapat dikembangkan dan dijelaskan
dengan mempelajari sains kimia redoks dengan visi dan pendekatan SETS
antara lain.
1. Redoks dalam hubungan sosial masyarakat
Banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari reaksi redoks. Bagi
masyarakat di antaranya adalah masyarakat dapat memperoleh logam murni
besi dan tembaga. Besi dapat digunakan untuk membuat baja. Baja
merupakan istilah yang digunakan untuk membuat aliase, kegunaan aliase
mulai dari mainan anak-anak, perkakas dapur, industri kendaraan, konstruksi
jembatan dan rel kereta api. Sedangkan tembaga dapat digunakan sebagai
konduktor.
2.. Redoks dalam hubungan dengan lingkungan dan manusia
Pada proses pemanggangan biji logam sulfida akan menghasilkan gas
CO
2
dan gas SO
2
. Gas buangan yang berupa CO
2
ini akan menyebabkan
pencemaran udara dan menimbulkan efek rumah kaca sehingga suhu bumi
dapat meningkat. Sedangkan gas SO
2
dapat menyebabkan korosif, dan
terhadap manusia dapat mengganggu saluran pernafasan dan mata. Pada
kadar rendah, dapat menyebabkan radang paru-paru dan tenggorokan. Kita
berkewajiban untuk segera memulai usaha-usaha untuk mengurangi laju
dampak perubahan iklim yaitu mengurangi gas rumah kaca dan beradaptasi
dengan dampak-dampaknya.
3.. Redoks dalam hubungan dengan teknologi
21
Salah satu contoh reaksi redoks yaitu penyepuhan. Pada penyepuhan,
kita menggunakan elektrolisis. Pada elektrolisis di katoda terjadi reaksi
reduksi sedangkan di anoda terjadi reaksi oksidasi. Contoh proses
penyepuhan adalah menyepuh perhiasan dengan emas atau perak yan
bertujuan untuk memperindah perhiasan tersebut.
Aplikasi lain yang berkaitan dengan konsep redoks yaitu pembuatan
kembang api dan petasan yang biasa digunakan untuk memeriahkan acara tahun
baru. Semua itu timbul sebagai akibat terjadinya reaksi redoks, tergantung pada
bahan oksidator dan reduktor yang digunakan. Proses penghasilan petasan,
kembang api dan sejenisnya menggunakan teknik yang disebut teknik panas
(pyrotechnics). Akibat lebih dahsyat dapat terjadi bila pemilihan bahan serta
pencampuran dan reaksinya untuk tujuan merusak, seperti dalam bentuk bom.
Hal ini perlu kita ketahui karena sangat berbahaya, tidak hanya bagi kita sendiri
tetapi juga pada orang lain. Bila penggunan pengetahuan itu dilakukan tidak
pada tempatnya dan tanpa memikirkan akibat buruk atau bahayanya bagi
lingkungan dan masyarakat, maka bencanalah yang akan kita terima
(Binadja,2005c:12-15).
22
Gambar 2. Redoks dalam SETS ( Muawanah,2008:34)
G. Materi Pembelajaran Kimia Pokok Bahasan Reaksi Redoks
1. Definisi reaksi oksidasi dan reaksi reduksi
Pengertian reaksi oksidasi dan reaksi reduksi mengalami perkembangan
seiring dengan dengan kemajuan ilmu kimia. Definisi mengenai reaksi oksidasi
dan reaksi reduksi ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:
a. Reaksi pengabungan dan pelepasan oksigen
Ditinjau dari penggabungan dan pelepasan oksigen, oksidasi adalah
reaksi penggabungan oksigen dengan unsur/senyawa, sedangkan reduksi
adalah reaksi pelepasan oksigen dari senyawanya.
Teknologi
Penyepuhan
Pengolahan besi
Pengolahan tembaga
Pembuatan silikon
Pembuatan bom, petasan , kembang api
Masyarakat
1.Memperoleh besi dan
tembaga murni
2. Lap. Pekerjaan bagi
pembuat dan penjual
3. Meriahkan acara
4. Menggangu saluran
pernafasan
5. Kerusakan fasilitas hidup
Lingkungan
1.Pengambilan bahan dari
lingkungan
2. Pencemaran dan
kerusakan lingkungan
3 Matinya makhluk hidup
Sains
Redoks
23
b. Reaksi pelepasan dan penerimaan elektron
Ditinjau dari pelepasan dan penerimaan elektron, oksidasi adalah reaksi
pelepasan elektron, sedangkan reduksi adalah reaksi penerimaan
elektron.
c. Reaksi peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi.
Ditinjau dari peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi, oksidasi
adalah peningkatan bilangan oksidasi, sedangkan reduksi adalah
penurunan bilangan oksidasi.
2. Bilangan oksidasi
Bilangan oksidasi suatu unsur adalah muatan yang dimiliki oleh atom
seumpama elektron valensinya tertarik ke atom lain yang berikatan dengannya ,
yang memiliki kelektronegatifan lebih besar. Contoh: senyawa ion MgO yang
tersusun dari ion Mg
2+
dan O
2-
, nilai bilangan oksidasi atom Mg adalah +2 dan
bilangan oksidasi atom O adalah -2.
2. Aturan bilangan oksidasi
Berdasarkan keelektronegatifan unsur, dapat disimpulkan aturan
penentuan bilangan oksidasi sebagai berikut :
Aturan umum:
(1) Unsur bebas mempunyai bilangan oksidasi = 0.
Contoh bilangan oksidasi atom dalam unsur Na, Fe, C, H
2
, Cl
2
(2) Bilangan oksidasi ion monoatom sama dengan muatan ionnya.
Contoh: Bilangan oksidasi Na
+
=+1
(3) Jumlah bilangan oksidasi atom-atom dalam senyawa netral sama
dengan nol. Sedangkan jumlah bilangan oksidasi atom-atom dalam ion
poliatom sama dengan muatan ionnya.
Contoh: Senyawa NaCl mempunyai muatan=0
Jumlah bilangan oksidasi Na + Jumlah bilangan oksidasi Cl = 0
(1 atom Na) x (b.o Na) + (1 atom Cl) x (b.o Cl) = 0

24
Aturan untuk unsur-unsur di golongan utama:
(4) Fluorin, unsur yang paling elektronegatif mempunyai bilangan
oksidasi -1 untuk semua senyawanya.
(5) Bilangan oksidasi H jika berikatan dengan non logam = +1, kecuali
bersenyawa dengan logam dan boron, maka bilangan oksidasi H = -1.
Contoh :
Bilangan oksidasi H dalam HCl, H
2
O, dan NH
3
= +1
Bilangan oksidasi H dalam NaH, BaH
2
= -1
(6) Bilangan oksidasi O umumnya = -2, kecuali dalam F
2
O (biloks O =
+2), dalam peroksida (bilangan oksidasi O = -1), dan dalam superoksida
(bilangan oksidasi O = -1/2).
(7) Bilangan oksidasi logam golongan IA (Li, Na, K, Rb, Cs) dalam
senyawanya = +1
(8) Bilangan oksidasi logam golongan IIA (Be, Mg, Ca, Sr, Ba) dalam
senyawanya = +2
(9) Bilangan oksidasi non logam
Dalam senyawa biner dari logam dan non logam, non logam mempunyai
bilangan oksidasi sama dengan muatan ionnya.
Contoh:Cl berada sebagai ion Cl
-
dalam senyawa NaCl. Jadi bilangan
oksidasi Cl=-1
Aturan untuk logam transisi:
(10) Bilangan oksidasi logam transisi dalam senyawa dapat lebih dari 1
Contoh: Fe mempunyai bilangan oksidasi +2 dalam FeO, dan +3 dalam
Fe
2
O
3.
(Johnson, Rachmawati, 2007:254)
25
Tabel 6. Unsur-unsur Yang Memiliki Bilangan Oksidasi Lebih dari Satu.
Nama unsur Lambang Bilangan Oksidasi
Antimon
Arsen
Brom
Besi
Belerang
Emas
Fosfor
Iod
Karbon
Klor
Kobalt
Krom
Mangan
Nitrogen
Platina
Raksa
Tembaga
Timah
Timbal
Sb
As
Br
Fe
S
Au
P
I
C
Cl
Co
Cr
Mn
N
Pt
Hg
Cu
Sn
Pb
+3, +5
+3, +5
-1,+1,+3,+5,+7
+2,+3
-2,+4,+6
+1,+3
+3, +5
-1,+1,+3,+5,+7
+2,+4
-1,+1,+3,+5,+7
+2,+3
+2,+3,+6
+2,+4,+6,+7
-3,-2,+1,+2,+3,+4,+5
+2,+4
+1,+2
+1,+2
+2,+4
+2,+4
3. Reduktor dan Oksidator
Dalam reaksi redoks, zat yang menyebabkan terjadinya reduksi
(berarti, zat itu mengalami oksidasi) disebut reduktor. Sebaliknya, zat yang
menyebabkan terjadinya oksidasi (berarti, zat itu mengalami reduksi) disebut
oksidator. Perbedaan lain antara oksidator dan reduktor dapat dilihat pada
Tabel 7.
Tabel 7. Perbedaan Oksidator dan Reduktor.
26
Oksidator Reduktor
1. Mengalami penurunan
bilangan oksidasi (reduksi).
2. Mengikat elektron dalam
bentuk molekul atau ion
dengan mudah.
3. Menghasilkan O
2
.
1. Mengalami kenaikan
bilangan oksidasi
(oksidasi)
2. Mudah melepas elektron
dalam bentuk molekul
atau ion.
3. Mengikat O
2
.
5. Reaksi Disproporsionasi
Reaksi disproporsionasi/ autoredoks adalah reaksi redoks yang oksidator
dan reduktornya merupakan zat yang sama. Jika sebagian zat tersebut
mengalami reduksi, maka sebagian yang lain mengalami oksidasi.
Contoh :
Reaksi autoredoks antara klorin dengan larutan NaOH
Cl
2
(g) + 2NaOH(aq) NaCl(aq) + NaClO(aq) + H
2
O(l)
biloks Cl = 0 biloks Cl = -1 biloks Cl = +1
6. Aplikasi Konsep Redoks dalam Kehidupan Sehari-hari
(1) Perkaratan logam, misalnya besi
4Fe(s) + 3O
2
(g) 2Fe
2
O
3
(s)
(2) Pembakaran gas alam
CH
4
(g) + 2O
2
(g) CO
2
(g) + 2H
2
O(g)
(3) Sel aki (baterai Pb) pada mobil
Oksidasi: Pb + SO
4
2-
PbSO
4
+ 2e
-
Reduksi : PbO
2
+ 4H
+
+ SO
4
2-
+2e
-
PbSO
4
+ 2H
2
O
Sel : Pb+ PbO
2
+ 4H
+
+ SO
4
2-
2 PbSO
4
+ 2H
2
O
7. Tata Nama Senyawa
Reduksi (b.o Cl berkurang)
Oksidasi (b.o Cl
bertambah)
27
(1). Tata Nama Senyawa Biner
Senyawa biner adalah senyawa yang terdiri dari dua unsur. Unsur-unsur
ini dapat berupa logam dan nonlogam atau nonlogam dan nonlogam.
(1) Senyawa ionik yang terdiri atas atom logam dan nonlogam
diberi nama dengan cara menyebutkan ion positifnya diikuti ion
negatifnya dan diberi akhiran ida.
Contoh:
KCl : kalium klorida
NaH : natrium hidrida
(2) Senyawa biner yang terdiri atas atom-atom nonlogam diberi
nama dengan menentukan atom yang bersifat lebih elektronegatif. Atom
yang lebih elektropositif diberi nama sesuai nama unsurnya diikuti nama
atom yang lebih elektronegatif, kemudian ditambah akhiran ida. Pada
atom dengan biloks lebih dari satu, maka senyawanya diberi awalan
yang menyatakan jumlah atom tersebut.
Contoh:
HF : hidrogen fluorida
HCl : hidrogen klorida
P
4
O
7
: tetrafosfor heptaoksida
(2). Tata Nama Senyawa Poliatomik
Senyawa poliatomik terdiri atas lebih dari dua unsur. Tata namanya
serupa dengan tata nama senyawa biner. Pertama, identifikasi kation dan
anionnya. Kedua, nama kation disebut dahulu, diikuti nama anion. Sebagian
besar anion poliatomik berakhiran it atau at, hanya sebagian kecil yang
berakhiran ida.
Contoh :
28
CaSO
4
: kalsium sulfat
KClO
2
: kalium klorit
Fe(OH)
3
: besi (III) hidroksida
HCNS : asam rodanida
(Sutresna, 2007:181)
G. Kerangka Berpikir
Materi kimia SMA memang membutuhkan kejelian dan pemahaman
yang cukup tinggi. Namun dalam kenyataan masih dijumpai beberapa kesulitan
yang dihadapi peserta didik dalam memahami dan mendalami materi kimia. Hal
ini menyebabkan nilai yang diperoleh menjadi kurang baik, bahkan belum
memenuhi kriteria ketuntasan yang ditentukan sehingga kompetensi kimia
siswa masih rendah. Melalui permasalahan ini, maka perlu adanya suatu variasi
pendekatan pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam memahami dan
mendalami materi kimia, sehingga nantinya dapat meningkatkan pencapaian
kompetensi kimia siswa. Penelitian ini sama-sama menggunakan visi SETS.
Untuk pembelajaran yang diberikan pada kelas eksperimen dengan
menggunakan pendekatan SAVI sedangkan pada kelas kontrol dengan
menggunakan pembelajaran konvensional.
Kedua kegiatan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diharapkan akan
terjadi peningkatan pemahaman siswa terhadap materi reaksi redoks.
Selanjutnya hasil belajar kedua kelas dibandingkan untuk mengetahui besarnya
peningkatan pencapaian kompetensi terkait reaksi redoks. Secara ringkas
gambaran penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
29
Gambar 3. Kerangka berpikir
MATERI REAKSI REDOKS
Kelas eksperimen
Pretest
Pencapaian kompetensi dengan
menggunakan pendekatan SAVI
bervisi SETS
Kegiatan dengan pendekatan
SAVI bervisi SETS
Posttest
Hasil belajar (kognitif,
afektif, psikomotorik)
Dibandingkan
Pengujian hipotesis
Kelas kontrol
Pretest
Pencapaian kompetensi dengan
menggunakan pendekatan
konvensional (non-SAVI)
bervisi SETS
Kegiatan dengan pendekatan
konvensional ( non-SAVI)
bervisi SETS
Posttest
Hasil belajar (kognitif,
afektif, psikomotorik)
30
C. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan kepustakaan serta melihat kondisi siswa di sekolah
target penelitian maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah
Pembelajaran Kimia dengan Pendekatan SAVI Bervisi SETS dapat
Meningkatkan Pencapaian Kompetensi Terkait Reaksi Redoks.
IV. METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi dan Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah peserta didik kelas X semester genap SMA
Negeri 1 Bawang tahun pelajaran 2011/2012.
Adapun letak SMA Negeri 1 Bawang berlokasi di Jalan Jlamprang-
Bawang Kecamatan Bawang Kabupaten Batang.
B. Penetapan Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Penetapan Populasi Penelitian
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA
Negeri 1 Bawang tahun pelajaran 2011-2012 yang terdiri dari 5 kelas dan rata-
rata jumlah siswa tiap kelas adalah 35 siswa.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive
sampling, yaitu pengambilan kelas sebagai sampel dengan pertimbangan
tertentu. Pertimbangan yang dimaksud adalah memilih kelas yang siswanya
aktif dan komunikatif agar pelaksanaan penelitian nantinya dapat efektif
sehingga data yang diperoleh maksimal. Dimana untuk kelas kontrol dipilih
kelas yang lebih aktif daripada kelas experimen, agar pengaruh yang didapatkan
dalam penerapan pendekatan SAVI bervisi SETS pada kelas experimen dapat
diukur secara lebih maksimal.
31
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X semester 2 SMA N1
Bawang tahun ajaran 2011/2012 yang terdiri dari dua kelas yaitu kelas X-B
sebagai kelas eksperimen dan kelas X-A sebagai kelas kontrol.
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel terikat yaitu hasil belajar siswa pada pokok bahasan
Reaksi Redoks yang terlihat dari selisih nilai posttest-pretest.
b. Variabel bebas yaitu metode pembelajaran yang digunakan saat
penelitian ini berlangsung adalah metode SAVI bervisi SETS untuk kelas
eksperimen dan metode non-SAVI bervisi SETS untuk kelas kontrol.
D. Metode Pengumpulan Data
1. Metode Dokumentasi
Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai jumlah
populasi dan nama siswa anggota sampel, serta nilai ulangan semesteran gasal
siswa sebelumnya yang digunakan untuk analisis data tahap awal.
2. Metode Tes
Metode tes ini dipergunakan untuk mengukur hasil belajar kognitif
siswa. Tes dilakukan setelah kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
dikenai perlakuan. Sebelum tes diberikan, soal tes diujicobakan terlebih
dahulu pada kelas uji coba, yaitu kelas yang telah memperoleh pelajaran
kimia pokok bahasan redoks. Soal tes yang digunakan pada penelitian ini
yaitu bentuk objektif tipe pilihan ganda.
3. Metode Observasi
Metode observasi digunakan untuk mendapatkan nilai psikomotorik
dan afektif siswa selama KBM berlangsung. Observasi dalam penelitian ini
adalah pengamatan langsung pada saat kegiatan pembelajaran untuk
32
mengungkap aktivitas dan sikap siswa selama pelaksanaan pembelajaran di
kelas. Observasi dilakukan oleh observer yang terdiri dari guru mata pelajaran
dan peneliti.
E..Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat eksperimental dengan tujuan
untuk mengetahui pendekatan SAVI bervisi SETS terhadap hasil belajar siswa.
Rancangan yang digunakan adalah Randomized Control Group Pretest
Posttest Design. Rancangan ini menggunakan 2 kelompok obyek, yaitu 1
kelompok sebagai kelas eksperimen 1, dan 1 kelompok sebagai kelas kontrol.
Untuk lebih jelasnya, rancangan dapat dilihat dalam Tabel 1.
Tabel 8. Desain Penelitian Randomized Control
Group Pretest Posttest Design
Kelas Pretest Perlakuan Posttest
Eksperimen 1 T
1
X
1
T
2
Kontrol T
1
X
2
T
2
Langkah-langkah yang dilakukan dalam rancangan penelitian ini adalah:
2) Memberikan pretest T
1
pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
untuk mengukur rata-rata keterampilan kognitif sebelum obyek diberi
perlakuan.
3) Memberikan perlakuan X
1
berupa penggunaan metode SAVI bervisi SETS
pada kelompok eksperimen dan perlakuan X
2
berupa penggunaan metode
non-SAVI bervisi SETS pada kelompok kontrol.
4) Memberikan posttest yang meliputi aspek kognitif dan aspek afektif T
2
pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk mengukur rata-
rata keterampilan kognitif setelah diberi perlakuan X
1
dan X
2
.
5) Menentukan selisih nilai antara T
1
dan T
2
pada kelompok eksperimen
untuk mengukur rata-rata selisih nilai pretest-posttest (Z
1
).
33
6) Menentukan selisih nilai antara T
1
dan T
2
pada kelompok kontrol untuk
mengukur rata-rata selisih nilai pretest-posttest (Z
2
).
7) Membandingkan Z
1
dan Z
2
untuk menentukan perbedaan yang timbul jika
sekiranya ada sebagai akibat perlakuan X
1
.
8) Menerapkan uji statistik yang sesuai untuk menentukan apakah perbedaan
tersebut signifikan, yaitu dengan uji-t pihak kanan.
F...Data dan Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber Data
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka data yang diambil adalah data hasil
belajar siswa pokok bahasa Reaksi Redoks yang diperoleh langsung dari siswa
dengan menggunakan tes bentuk obyektif. Tes ini diberikan sebelum dan
sesudah siswa mengikuti pelajaran pokok bahasan Reaksi redoks, dengan soal
yang sama antara pretest dan posttest. Selain itu dilakukan juga penelitian untuk
aspek afektif.

2. Instrumen Penelitian
Data berasal dari variabel-variabel yang diteliti diperoleh dari tes yang
telah dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan instrumen aspek kognitif
dan instrumen aspek afektif.
a. Instrumen Kognitif
Instrumen kognitif berupa soal-soal bentuk obyektif. Untuk
mengetahui validitas, reliabilitas, taraf kesukaran soal dan daya pembeda,
maka instrumen yang akan dipakai dalam penelitian ini perlu
diujicobakan terlebih dahulu kepada sekelompok siswa yang sudah
menerima materi Reaksi Redoks.
1) Taraf Kesukaran Suatu Item
34
Taraf kesukaran suatu item dapat diketahui dari banyaknya siswa
yang menjawab benar. Taraf kesukaran suatu item dinyatakan dalam
bilangan indeks yang disebut Indeks Kesukaran (IK), yaitu bilangan yang
merupakan hasil perbandingan antara jawaban benar yang diperoleh
dengan jawaban yang seharusnya diperoleh dari suatu item.

maksimal skor x N
B
IK
Keterangan:
IK : Indeks Kesukaran
B : Jumlah jawaban yang benar yang diperoleh
siswa dari suatu item
N : Kelompok Siswa
Skor maksimal : Besarnya skor yang dituntut oleh suatu jawaban
benar dari suatu item.
N x skor maksimal : Jumlah jawaban benar yang seharusnya
diperoleh dari suatu item.
Klasifikasi indeks kesukaran adalah sebagai berikut:
0,81 1,00 : Mudah sekali (MS)
0,61 0,80 : Mudah (Md)
0,41 0,60 : Sedang / cukup (Sd)
0,21 0,40 : Sukar (Sk)
0,00 0,20 : Sukar Sekali (SS)
2) Taraf Pembeda Soal Suatu Item
Taraf pembeda suatu item adalah taraf sampai dimana jumlah
jawaban benar dari siswa. Siswa yang tergolong kelompok atas (pandai)
berbeda dari siswa yang tergolong kelompok bawah (tidak pandai).
35
Perbedaan jawaban benar dari siswa yang tergolong kelompok atas dan
bawah disebut Indeks Diskriminiasi (ID).

Maksimal Skor x nKB atau nKA
KB KA
ID

Keterangan :
ID : Indeks Diskriminasi
KA : Jumlah jawaban benar yang diperoleh dari siswa
kelompok atas
KB : Jumlah jawaban benar yang diperoleh dari siswa
kelompok bawah
NKA atau NKB : Jumlah siswa yang tergolong kelompok atas atau
bawah.
Kualitas daya pembeda adalah sebagai berikut:
0,80 1,00 : Sangat Membedakan (SM)
0,60 0,79 : Lebih Membedakan (LM)
0,40 0,59 : Cukup Membedakan (CM)
0,20 0,39 : Kurang Membedakan (KM)
negatif 0,19 : Sangat Kurang Membedakan (SKM)
(Masidjo, 1995: 201).
3) Validitas Instrumen Penelitian
Teknik yang digunakan untuk menentukan validitas item adalah
menggunakan rumus product moment dari Pearson dengan rumus angka
kasar, sebagai berikut:

( ) ( )
( ) { ( ) {
2
2
2
2


Y Y N X X N
Y X CY N
r
XY
Keterangan:
XY
r : Koefisian Validitas
36
X : Hasil pengukuran suatu tes yang ditentukan validitasnya
Y : Kriteria yang dipakai
Taraf signifikan yang dipakai dalam penelitian ini adalah 5% kriteria
validitas suatu tes ( XY
r
)
0,91 1,00 : Sangat Tinggi (ST)
0,71 0,90 : Tinggi (T)
0,41 0,70 : Cukup (C)
0.21 0.40 : Rendah (R)
negatif 0,20 : Sangat Rendah (SR)
(Masidjo, 1995: 243)
4) Reliabilitas Instrumen Penelitian
Reliabilitas adalah keajegan suatu tes apabila diteskan kepada
subyek yang sama, dalam waktu yang berlainan atau kepada subyek tidak
sama pada waktu yang sama.
Untuk menghitung koefisien tes bentuk obyektif digunakan rumus
KR 20 yaitu sebagai berikut:
]
]
]

,
`

.
|


t
t
S
PQ S
n
n
r
2 11
1
Keterangan:
11
r : Koefisien reliabilitas
n : Jumlah item
S : Deviasi standar
P : Indeks kesukaran
Q : 1 P
37
Kriteria Reliabilitas:
0,91 1,00 : Sangat Tinggi
0,71 0,90 : Tinggi
0,41 0,70 : Cukup
0.21 0.40 : Rendah
negatif 0,20 : Sangat Rendah
(Masidjo, 1995: 246)
b. Instrumen Afektif
Instrumen penelitian afektif berupa angket. Jenis angket yang
digunakan adalah angket langsung dan sekaligus menyediakan alternatif
jawaban. Responden/siswa memberikan jawaban dengan memilih salah
satu alternatif jawaban yang telah disediakan. Sebelum menyusun angket
terlebih dahulu dibuat konsep alat ukur yang mencerminkan isi kajian
teori. Konsep alat ukur ini berisi kisi-kisi angket. Konsep selanjutnya
dijabarkan dalam variabel dan indikator yang disesuaikan dengan tujuan
penilaian yang hendak dicapai, selanjutnya indikator ini digunakan
sebagai pedoman dalam menyusun item-item angket.
Penyusunan item-item angket berdasarkan indikator yang telah
ditetapkan sebelumnya. Dalam menjawab pertanyaan, responden/siswa
hanya dibenarkan dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang
telah disediakan, misalnya:
Tabel 9. Kriteria Skor Aspek Afektif
Skor untuk aspek yang dinilai Nilai
SS. Sangat setuju
S. Setuju
N. Netral
TS. Tidak setuju
STS. Sangat tidak setuju
5
4
3
2
1
38
Keterangan:
Jumlah nilai > 72 sangat baik (A)
Jumlah nilai U 54 71 baik (B)
Jumlah nilai > 36 53 cukup (C)
Jumlah nilai < 35 kurang (D)
Setelah mendapatkan hasil, kemudian dilakukan uji validitas dan
reliabilitas.
c. Uji Validitas
Validitas dari instrumen berupa angket ini adalah validitas
konstruksi atau konsep. Validitas konstruksi adalah validitas yang
menunjukkan sampai dimana isi suatu tes atau alat pengukur sesuai
dengan konsep yang seharunya menjadi isi suatu tes atau alat pengukur
tersebut atau konstruksi teoritis yang mendasari disusunnya tes atau alat
pengukur tersebut. Validitas konstruksi ini akan mudah ditentukan pada
hasil tes belajar yang sungguh-sungguh direncanakan dengan baik oleh
seoran guru, khususnya apabila ditaati langkah merumuskan tujuan
instruksional dan visualisasi kisi-kisi sebagai langkah-langkah
perencanaan tes buatan guru. Apabila isi item-item yang merupakan suatu
kesatuan suatu tes benar-benar sesuai dengan suatu konsep atau
konstruksi yang seharusnya menjadi isinya, maka dikatakan tes tersebut
memiliki validitas konstruksi yang tinggi (Masidjo, 1995: 224).
Untuk menghitung validitas butir soal angket digunakan rumus
sebagai berikut:

( ) ( )
( ) { ( ) {
2
2
2
2


Y Y N X X N
Y X CY N
r
XY
39
Keterangan:
XY
r
: Koefisian Validitas
X : Hasil pengukuran suatu tes yang ditentukan validitasnya
Y : Kriteria yang dipakai
Taraf signifikan yang dipakai dalam penelitian ini adalah 5% kriteria
validitas suatu tes ( XY
r
)
0,91 1,00 : Sangat Tinggi (ST)
0,71 0,90 : Tinggi (T)
0,41 0,70 : Cukup (C)
0.21 0.40 : Rendah (R)
negatif 0,20 : Sangat Rendah (SR)
(Masidjo, 1995: 243)
d. Uji Reliabilitas
Digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengukuran tersebut
dapat memberikan hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan
pengukuran kembali kepada subyek yang sama. Untuk mengetahui
tingkat reliabilitas digunakan rumus alpha (digunakan untuk mencari
reliabilitas yang skornya bukan 0 atau 1), yaitu sebagai berikut:

]
]
]
]

]
]
]


2
1
2
1
11
1
1

n
n
r
Keterangan:
11
r : Reliabiltas Instrumen
n : Banyak butir pertanyaan atau banyaknya soal

2
1
: Jumlah kuadrat

masing-masing item
2
1
: Kuadrat

total keseluruhan item.


40
(Suharsimi Arikunto, 1996: 106)
3. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji-t pihak kanan. Oleh
karena itu perlu diuji persyaratan analisisnya, yaitu uji normalitas dan uji
homogenitas.

4. Uji Prasyarat
a) Uji Normalitas
Untuk mengetahui apakah sampel terdistribusi normal atau tidak,
maka dilakukan uji normalitas dengan uji Lilliefors, yaitu:

( ) ( )
| |
zi zi
S F Lo
Dimana:
F
(zi)
: P
(z<zi)
S
zi)
:
n
zi zn ....... , z , z banyaknya
2 1
<
zi : Skor standar
Lo : Koefisien Lilliefors Pengamatan
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Menghitung rata-rata dan simpangan bakunya
n
i
X

( )
( ) 1
2
2
2


n n
xi xi n
S
2) Menghitung nilai zi
( )
S
X xi
zi

3) Mencari nilai zi pada daftar F


4) Menghitung S
(zi)
, yaitu
n
zi zn ....... , z , z banyaknya
2 1
<
41
5) Menghitung selisih F
zi)
S
(zi)
6) Mencari nilai kritis yang dapat diperoleh pada kolom harga mutlak,
kemudian dibandingkan dengan tabel.
7) Kriteria pengujian adalah: terima Ho jika Lo maks < L tabel berarti
sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
(Sudjana, 1996: 466 469)
b) Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk menguji apakah sampel
penelitian berasal dari populasi yang homogen. Untuk mengetahui
homogenitas variansi digunakan Uji Bartlett dengan rumus:
X
2
= ( ) ( ) {


2
1 1
log 1 10 ln S n B
=
3026 , 2
( ) {


2
1 1
log 1 S n B
B =
( ) ( )

1 log
1
2
n S
S
2
=
( )
( )

1
1
1
2
1 1
n
S n
Hipotesis yang akan diuji adalah:
Ho =
2
1
=
2
2
= kedua populasi mempunyai varian yang sama
Ho =
2
2
2
1
= paling sedikit satu tanda sama tidak berlaku
Adapun langkah-langkah pengujian homogenitas dengan
menggunakan uji Bartlett sebagai berikut:
1) Menentukan hipotesis
Ho =
2
1
=
2
2

H
1
=
2
2
2
1

2) Menghitung varians masing-masing sampel (S
i
2
) dengan rumus:
S
i
2
=
( )
1
2

n
X X
i
42
3) Menghitung varian gabungan dari semua sampel (S
2
) dengan rumus:
S
2
=
( )
( )

1
1
1
2
1 1
n
S n
4) Menghitung harga satuan
B = (log S
2
)
( )

1
i
n
5) Menghitung Chi_Kuadrat (x
2
), dengan rumus:
( ) ( ) {


2 2
log 1 10 ln
i i
S n B x
6) Menghitung x
2
dari tabel distribusi Chi_Kuadrat pada taraf signifikan
5%.
7) Kriteria uji
Ho diterima apabila x
2
hitung
< x
2
tabel
, yang berarti sampel homogen
(Sudjana, 1996: 261 263)

5. Uji Hipotesis
Teknik analisis data untuk digunakan uji-t pihak kanan, dengan kriteria:
Ho :
2 1

Dimana:
Ho : pencapaian kompetensi pada pembelajaran kimia dengan pendekatan
SAVI bervisi SETS lebih tinggi atau sama dengan pencapaian
kompetensi siswa pada pembelajaran kimia dengan pendekatan non-
SAVI bervisi SETS.

Keterangan:
1

= nilai rata-rata kelas eksperimen 1


2

= nilai rata-rata kelas eksperimen 2


Kriteria :
Terima Ho jika t
hitung
< t
tabel
43
Tolak Ho jika t
hitung
> t
tabel
Rumus yang digunakan adalah:
2 1
2 1
1 1
n n
S
X X
t
+

( ) ( )
( ) 2
1 1
2 1
2
2 2
2
1 1
+
+

n n
s n s n
S
gab
Keterangan:
X : Mean nilai
S
gab
: Simpangan baku
N : Jumlah sampel
(Sudjana, 1996: 239)
6.. Analisis deskriptif untuk data aspek afektif dan psikomotorik siswa
Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang bertujuan untuk
mengetahui nilai afektif dan psikomotorik siswa baik kelompok eksperimen
maupun kelompok kontrol. Rumus yang digunakan adalah :
Persentase skor =
% 1 0 0
m a x _
_ _
X
s k o r
d i p e r o l e h y a n g S k o r

(Sudjana, 2002:47)
V. JADWAL PENELITIAN
Kegiatan Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2011 sampai
bulan Maret tahun 2012, dengan perincian dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 10. Jadwal Penelitian
Waktu
Kegiatan
Desember
2011
Januari
2012
Februari
2012
Maret 2012
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
44
Pelaksanaan
Analisis Data
Penyusunan Laporan
45
VI.. DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Binadja, Achmad. 1999a. Hakekat dan Tujuan Pendidikan SETS (Science,
Environment, Technology and Sociey) Dalam Konteks dan Pendidikan yang
ada. Makakalah disajikan dalam seminar lokakarya Pendidikan SETS untuk
bidang Sains dan Non Sains. Kerjasama antara SEAMEORECSAM dan
UNNES Semarang 14-15 Desember 1999.
Binadja, Achmad. 1999b. Cakupan Pendidikan SETS untuk Bidang Sains dan Non
Sains. Makalah disajikan dalam seminar lokakarya Pendidikan SETS untuk
bidang Sains dan Non Sains. Kerjasama antara SEMEORECSAM dan
UNNES Semarang 14 -15 Desember 1999.
Binadja, Achmad 1999c. Pendidikan SETS Penerapannya dalam Pengajaran.
Makalah disajikan dalam seminar lokakarya Pendidikan SETS untuk
bidang Sains dan Non sains. Kerjasama antara SEAMORECSAM dan
UNNES Semarang. 14 -15 Desember 1999.
De Porter, Bobbi dan Mike Hernacki. 2001. Quantum Learning. Bandung : Kaifa
Direktorat Pendidikan Menengah Umun. 2001. Pedoman Pembuatan Alat Peraga
Kimia Untuk SMA. Jakarta: Direktorat Pendidikan.
Mangkuprawira, Sjafri. (2007). Lima Kunci Batasan Kompetensi Jakarta.
Masidjo, Ignatius. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah.
Yogyakarta : Kanisius.
Meier, Dave. 2002 . The Accelarated Learning Hand Book .
Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan Dan
Penelitian . Bandung : Kaifa
Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya Offset Bandung.
Purba, Michael. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
46
Purwadarminta. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III. Jakarta: Balai
Pustaka.
Rachmawati, Johnson. 2007. Kimia untuk SMA dan MA kelas X. Jakarta: Esis.
Sudjana. 1996. Statistika. Bandung: Tarsito.
Suherman,E. 2009. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi
Siswa. Online at http://educare.e-fkipunla.net [diakses 30/05/11]
Surapranata, Sumarna PhD. 2003. Profil Kemampuan Siswa Indonesia Berusia 14
Tahun dalam Bidang Ilmu Pengetahuan Alam Menurut Benchmark
Internasional TIMSS-R 1999. Jakarta: Balitbang Depdiknas.