Anda di halaman 1dari 7

Klasifikasi Rayap Rayap secara taksonomi dikelompokkan ke dalam ordo Isoptera (iso = sama dan ptera = sayap).

Rayap memiliki tubuh yang lunak dan berwarna terang (Triplehorn & Johnson 2005). Jumlah spesies rayap di dunia ada sekitar 2,648 spesies yang digolongkan ke dalam tujuh famili dan 281 genus. Famili Termitidae merupakan famili dengan jumlah anggota spesies yang tertinggi. Delapan puluh lima persen total spesies rayap yang telah diidentifikasi merupakan anggota Famili Termitidae (Kambhampati & Eggleton, 2000). Sedangkan, Famili Mastotermitidae dan Famili Serritermitidae hanya memiliki satu anggota spesies rayap. Famili rayap yang lain adalah Famili Kalotermitidae, Termopsidae, Hodotermitidae dan Rhinotermitidae yang masing-masing famili berturut-turut terdiri dari 411, 20, 15, dan 305 spesies rayap (Kambhampati & Eggleton, 2000). Rayap kasta reproduktif (fertil) terdiri dari sepasang kasta reproduktif primer dan beberapa anggota kasta reproduktif sekunder/alates. Selain itu sering kali muncul pula kasta reproduktif suplementer/neoten, yang muncul ketika koloni mengalami fragmentasi. Kasta reproduktif yang terdiri dari sepasang ratu dan raja yang bertugas untuk menghasilkan telur (Triplehorn & Johnson, 2005). Rayap kasta non reproduktif (steril) terdiri dari kasta prajurit dan kasta pekerja yang umumnya terdiri dari individu-individu jantan dan betina, tidak bersayap, pada kebanyakan spesies umumnya buta karena mata majemuk tereduksi. Rayap kasta pekerja merupakan individu terbanyak dalam koloni rayap (Lee & Wood, 1971). Satu koloni rayap dapat terdiri dari ratusan sampai dengan jutaan individu. Kasta prajurit memiliki ciri warna tubuh lebih pucat dan lunak karena kurang tersklerotisasi. Kasta ini melakukan hampir semua pekerjaan di dalam koloni dari mencari makan sampai dengan merawat telur dan larva (Lee & Wood, 1971; Higashi, 2000). Rayap kasta prajurit memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan pekerja, namun memiliki ukuran tubuh yang lebih besar, berwarna lebih gelap, tubuh mengalami elongasi dan kepala

tersklerotisasi dengan tipe alat mulut blattoid atau mandibulata (Lee & Wood, 1971; Wilson, 1971; Triplehorn & Johnson, 2005). Pada rayap kasta prajurit untuk beberapa spesies mengalami polimorfik, yaitu prajurit mayor dan minor (Gullan & Cranston, 1999; Triplehorn & Johnson, 2005). Koloni rayap dibentuk pertama kali dari sepasang alates (laron) yang muncul ketika sedang musim kawin. Setelah itu mereka berkopulasi menjadi ratu dan raja dan menghasilkan telur. Telur berkembang menjadi larva kemudian berkembang menjadi kasta pekerja yang mendominasi koloni dan sebagian menjadi kasta prajurit. Larva yang lain berkembang menjadi nimfa yang akan berkembang menjadi laron. Pembentukan kasta rayap pada rayap tingkat rendah dipengaruhi oleh pemberian hormon foremon dasar (primer pheromone) oleh kasta reproduktif primer, sedangkan pada rayap tingkat tinggi pembentukan kasta rayap dimulai sejak awal atau instar pertama (Gambar 1).

Gambar. 1 Skema perkembangan rayap (Abe & Higashi, 2000). Karakteristik perilaku rayap sebagai serangga sosial antara lain trophallaxis (memberi makan anggota kasta lain), grooming (saling menjilat), tigmotaksis (bergerombol dan berdesakdesakan), koprofagi (memakan bangkai anggota koloni) dan kanibalisme. Salah satu sifat yang

khas dari rayap jika dibandingkan dengan serangga sosial lainnya adalah kriptobiotik (menjauhi cahaya) kecuali kasta reproduktif pada waktu swarming (penerbangan untuk mencari pasangan sebelum melakukan kopulasi) (Lee & Wood, 1971; Wilson, 1971). Kemampuan rayap mendegradasi selulosa karena terdapat simbion di dalam rektum rayap. Mikroorganisme yang lazim terdapat di dalam rektum rayap adalah Archaaea, Eubacteria, dan Eucarya seperti Protozoa dan Fungi (Bignel, 2000). Rayap tingkat rendah (lower termite) banyak ditemukan protozoa simbion di rektum sedangkan pada rayap tingkat tinggi (higher termite) peran protozoa digantikan oleh bakteri (Lee & Wood, 1971).

Morfologi Ordo Isoptera dicirikan dengan kepala yang prognatik (prognathous head, yaitu posisi alat mulut searah dengan arah bidang tubuh atau mengarah ke depan) (Elzinga, 2004). Di belakang kepala terdapat toraks, terdiri dari protoraks dapat bergerak bebas, lebih sempit dari kepala, pada rayap pekerja jarang yang protoraksnya besar. Meso dan metatoraks lebih lebar dari panjangnya. Pleuron nyata tapi sternit sangat kecil (Amir, 2003). Memiliki mata majemuk dan umumnya mengalami pereduksian sebagai pola adaptasi terhadap kebiasaan hidup di habitat yang gelap (Gullan & Cranston, 1999). Antena berbentuk manik-manik (moniliform) (Elzinga, 2004) panjang, multisegmen dari 11 sampai dengan 31 segmen (Gullan & Cranston, 1999; Donovan, 2000; Kambhampati & Eggleton, 2000). Alat mulut bertipe menggigit-mengunyah (mandibulata) yang berkembang sesuai dengan tipe kastanya; prajurit memiliki bentuk mandibular besar atau memiliki nasuti (Gullan & Cranston, 1999). Sayap hanya dimiliki oleh kasta reproduktif yang terdiri dari dua pasang sayap tipe membran dengan venasi yang rumit serta memiliki ukuran dan bentuk yang sama, kecuali pada Mastotermes dengan venasi sayap yang lebih rumit (Gullan & Cranston, 1999).

Bagian badan yang terdapat di belakang disebut abdomen (perut) merupakan bagian yang paling besar pada rayap pekerja dan laron. Bahkan pada rayap tanah, misalnya Macrotermes gilvus, abdomennya dapat membesar sebesar ibu jari tangan manusia, berisi telur sangat banyak jumlahnya (Amir, 2003). Tarsi terdiri dari tiga sampai dengan lima segmen. Cerci pendek terbagi dalam satu sampai lima segmen (Gullan & Cranston, 1999; Donovan, 2000; Kambhampati & Eggleton, 2000). Rayap mengalami metamorfosis paurometabola (Wilson, 1971; Triplehorn & Johnson, 2005). Kebanyakan jenis rayap berwarna putih kekuningan, tetapi ada juga yang cokelat (Bulbitermes) bahkan hitam (Hospitalitermes) (Amir, 2003).

Gambar 2. Rayap kasta prajurit Bifiditermes beesoni (Gardner)

Habitat dan Distribusi Rayap banyak terdapat di kawasan tropis dan subtropis (Lee & Wood, 1971) dan menyebar sampai ke daerah temperate pada demarkasi 500 LU/LS. Kekayaan spesies rayap turun secara drastis dari Ekuator ke Selatan dan Utara terutama sejak garis 100 LU/LS. Famili rayap yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara (kawasan oriental) khususnya Indonesia adalah Rhinotermitidae, Kalotermitidae dan Termitidae. Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 200 spesies rayap (Tarumingkeng, 1971). Rayap hidup di daerah yang bersuhu agak hangat dengan kelembaban 60-70% (Nandika, 2003). Metcalf dan Flint (1962) mengatakan bahwa habitat rayap dapat dibedakan atas beberapa golongan: rayap yang hidup di bawah permukaan tanah (moist wood atau subteranean termites), dimana koloninya ditemukan di bawah permukaan tanah. Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah rayap dari famili Rhinotermitidae dan Kalotermitidae, keduanya merupakan jenis rayap kecil. Ada pula rayap pada kayu, dimana koloninya ditemukan dan berkembang pada kayu. Rayap kayu ini dibedakan atas dua kelompok, yaitu rayap kayu basah dan rayap kayu kering (dry wood). Harris (1970) mengatakan bahwa rayap kayu kering atau dry wood termites yang tedapat di Indonesia adalah Cryptotermes cynocephalus L, C. dudleyi B, C. domesticus H, dan C. sumatranus K. Roonwal dan Maiti (1966) mengatakan bahwa yang termasuk rayap kayu basah adalah Coptotermes curvignathus H, C. kalshoveni K, C. travian H, dan C. borneensi. Melihat cara hidup rayap, Hickin (1971) membagi rayap atas tiga golongan besar, yaitu: (1) Rayap pohon, yaitu jenis rayap yang merusak kayu hidup dan bersarang pada bagian pohon dan tidak berhubungan dengan tanah, contohnya Neotermes tectonae (famili Kalotermitidae). (2) Rayap kayu lembab, yaitu jenis rayap yang merusak kayu lembab yang telah mati, dan sarangnya

berada pada kayu yang berhubungan dengan tanah. (3) Rayap kayu kering, yaitu jenis rayap yang hidup dan bersarang pada kayu kering terutama di bawah atap rumah.

DAFTAR PUSTAKA

Amir, M. 2003. Rayap dan Peranannya. Dalam: M. Amir, Kahono. S. Serangga Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Bagian Barat. Biodiversity Conservation Project. LIPI. 51-62. Eggleton P, Bignell DE. 1995. Monitoring the response of tropical insects to changes in the environment: troubles with termites. Di dalam: Harrington R, Stroks NE. Insects in a Changing Environment. London: Academic Pr. hal: 473-497. Elzinga, R.J. 2004. Fundamental of Entomology. Ed. Ke-6. New Jersey: Pearson Educ.

Gullan, P.J; Cranston PS. 1999. The Insect An Outline of Entomology. Edisi Ke-2. Oxford: Blackwell Sci. Kambhampati S, Egglenton P. 2000. Taxonomy and phylogeny of termites. Di dalam: Abe T, Bignell DE, Higashi M. Termites Evolution, Sociality, Symbioses, Ecology. Dordecht: Kluwer Academic. hal: 1- 23. Lee KE, Wood TG. 1971. Termite and Soil. London: Academic Press. Metcalf, C.L. and Flint, W.P. 1962. Destructive and Useful Insects. McGraw Hill Book. New York. Nandika, 2003. Dodi Nandika berkutat di Rayap. http://koran.republika.co.id/0/5384. 27 April 2011. Triplehorn CA, Johnson NF. 2005. Borror and Delongs Introduction to the Study of Insects. Ed. Ke-7. Australia: Thomson. Wilson E.O. 1971. The Insect Societies. Cambridge: Harvard Univ Pr.