Anda di halaman 1dari 13

PNEUMOTHORAKS

PENDAHULUAN Pnemothoraks adalah terdapatnyaudara atau gas dalam rongga pleura akibat robeknya pleura atau suatu keadaan dimana udara terkumpul didalam cavum pleura sehingga memisahkan rongga visceralis dari pleura parietal.(1,2,3) Pneumothoraks terjadi karna ada hubungan terbuka antara rongga dada dan dunia luar. Hubungan mungkin melalui luka di dinding dada yang menembus pleura parietalis atau melalui luka dijalan nafas yang samapai ke pleura visceralis. Jika luka penyebab tetap terbuka maka paru-paru akan menguncup karena karena jaringan paru bersifat elastis dan karena tidak ada tekanan negaatif yang menyedaotnya (disebut kollaps). (4) Masuknya udara kedalam rongga pleura, dapat dibedakan menjadi : (5) 1. Pneumothoraks Spontan : timbul sobekan subpelural dari bulla sehingga udara saluran pernafasan masuk kedalam rongga pleura melalui satu lubang robekan atau katup. 2. Melalui mediastinum yang biasanya disebabkan trauma pada trakea atau esofagus akibat tindakan pemeriksaan dengan alat-alat (endoskopi) atau benda asing tajam yang tertelan. 3. Udara berasal dari subdiagfragma dengan adanya robeka lambung akibat suatu trauma atau abses subdiagfragma dengan kuman pembentuk gas. Udara dapat masuk keruang pleural dengan melalui lapisan parietal atau viscera, beberapa agen diantaranya dapat memberi respon. Pneumothoraks berkembang diikuti dari dari penyebaran kebocoran jarum trachoetomi, luka traumatik apda paru-paru dan adanya penetrasi zat-zat asing keparu-paru, cabang bronchial dan kadang-kadang esofagus, cacat bawaan dan kelemahan lapisan pleura dianggap menjadi penyebab sebagaian ornag mudah terserang pneumothoraks, khususnya selama masa awal

kelahiran dan setelah masuknya udara kedalam mediatinum yang disebabkan oelh tracheotomy. (6) INSIDEN. Insiden pneumothoraks sulit diketahui karna episodenya banyak yang tidak diketahui , pria lebih banyak daari pada wanita dengan perbandingan 5 : 1 banyak terjadi pada penderita umur dewasa tua ( 40 thn ), sering erjadi pada musim-musim dimana orang menderita batuk-batuk. Pneumothoraks spontan primer (PSP) sering pula dijumpai pada individu sehat, tanpa riwayat penyakit paru sebelumnya. Pneumothoraks spontan primer banyak dijumpai pada pria dengan usia antara dekade 3 dan 4. Sala satu penelitian menyebutkan sekitar 81 % kasus PSP berusia kurang dari 45 tahun*. Seaton dan kawan-kawan melaporkan bahwa paisen tuberkulosis aktif mengalami komplikasi penumothoraks sekitar 1,4 % dan jika ada kavitas paru komplikasi pneumothoraks meningkat lebih dari 90 %. (1,8) Kematian disebabkan pneumothoraks 12 %. Di RSUD Dr. Sutomo terbanyak disebabkan oleh penyakit dasarnya 55 % TB paru aktif, fibrosis, emfisema lokal, bronkhitis kronik, emfisema, terutama pada orang tua. Pneumothoraks berulang dengan menstruasi pada wanita oleh karena adanya pelura endometriosis (katamenial Pneumothoraks. (8)
* ada pula yang mengatakan efek penyakit ini sangat tinggi terutama pada manusia yang bertubuh kurus kebanyakan pada umur 20-40 tahun, perokok dan keturunan merupakan juga salah faktor yang penting. (7)

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS. KLASIFIKASI A. BERDASARKAN TERJADINYA : 1. Artifisal atau Terapeutik (yang sengaja dibuat) a. Pengobatan : Pneumothoraks terapiutik patut disinggung juga karean alasan historis, paru-paru yang sengaja dibuat kolaps merupakan suatu cara pengobatan tuberculosis yang sering dilakukan sampai sekitar tahun 1960. hal ini tidak lama diguanakan sejak banyak pengobatan yang lebih dan spesifik yang tersedia. (2,8,9)

b. Diagnosa : untuk membedakan tumor perifer yang terletak di intrapulmonal atau di dinding dada (pleural) sesudah dilakukan foto toraks. (8) 2. Spontan. Pneumothraks spontan adalahistilah yang digunakan untuk mengambarkan suatu pneumothoraks yang terajdi secara tiba-tiba dan tak terduga dengan atau tanpa penyakit peru-paru yang terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga dengan atau tanpa penyakit paruparu yang mendasarinya. Ada 2 jenis yaitu : (1,2,9) a. Pneumothoraks Spontan Primer (PSP) PSP adalah suatu pneumothoraks yang terjadi tanpa ada riwayat penyakit paru yang mendasari sebelumnya, umumnya pada individu sehat dewasa muda, ini mungkin disebabkan rupturnya sedikit kantong yang berisi udara didalam paru-paru yang disebut bulla. (7) b. Pneumothoraks Spontan Sekunder (PSS) PSS adalah suatu pneumothoraks yang terjadi karna penyakit paur yang mendasarinya misalnya ( tuberculosis paru, PPOK, Asma bronkhial, Pneumoni, tumor paru). Pneumothoraks spontan kemungkinan hasil dari bulla yang pecah, secara umum bersih pada 2-4 minggu, tapi berlangsung paling lama jika komplikasi oleh infeksi pelura atau perdarahan, apabila terjadi dalam waktu seketika. (10) 3. Traumatik. Pneumothoraks traumatik adalah oneumothoraks yang terjadi akibat suatu penetrasi kedalam rongga pleura karean luka tusuk atau luka tembak atau tusukan jarum/kanul.(9) Ketika udara masuk kedalam rongga pleura dalam keadaan normal yang bertekanan lebih rendah dari tekanan atsmosfer, maka paru-paru akankollaps samapi pada batas tertentu tetapi jika terbentuksaluran terbuka, maka akan terjadi kollaps yang massif samaapi tekanan dalam rongga pelura sama dengan tekanan atsmosfer (pneumothorak sterbuka). (2)

GAMBAR 01 Gangguan pada pleura . A, Fibrothoraks akibat organisasi eksudat yang mengalami peradangan dan efusi pleura. B, Kolaps paru-paru karena penumothoraks terbuka

Kolaps paru-paru karna pneumothoraks terbuka.

GAMBAR 02, Pneuomothoraks terbuka, Mediastinum bergerak kekiri ke kanan dan sebaliknya (gerak bandul). A. Pada Inspirasi udara masuk melalui luka dan menggesaer mediastinum ke sisi yang sehat karena tekanan inspirasi tidak seimbang dikiri dan kanan. B, pada ekspirasi udara keluar dari luka, mediastinum pindah kesisi yang luka, pernapasan disisi yang tidak luka tentu terganggu dan ventilasi jauh dari optimal

B. BERDASARKAN LOKALISASI 1. 2. 3. Pneumothoraks Parietalis Pneumothoraks Mediastinalis Pneumothoraks Basalis

C. BERDASARKAN DERAJAT KOLAPS 1. 2. Pneumothoraks Totalis Pneumothoraks Partialis

D. BERDASARKAN JENIS FISTEL 1. 2. 3. Pneumothoraks Terbuka Pneumothoraks Tertutup Pneumothoraks Ventil

MANIFESTASI KLINIS Keluhan Subyektif : (1,7) 1. Nyeri dada hebat yang tiba-tiba pada sii paru terkena khususnya pada saat bernafas dalam atau batuk. 2. Sesak, dapat samapai berat, kadang bisa hilang dalam 24 jam, apabila sebagian paru yang kolaps sudah mengembang kemabli 3. Mudah lelah pada saat beraktifitas maupun beristirahat. 4. waran kulit yang kebiruan disebabkan karna kurangnya oksigen (cyanosis) Diagnostik fisik : (8) Inspeksi Palpasi : dapat terjadi pencembungan dan pada waktu pergerakan nafas, tertinggal pada sisi yang sakit. : Pada sisi yang sakit ruang sela iga dapat normal atau melebar, iktus jantung terdorong kesisi thoraks yang sehat. Fremitus suara melemah atau menghilang. Perkusi Auskultasi : Suara ketok hipersonor samapi tympani dan tidak bergetar, batas jantung terdorong ke thoraks yang sehat, apabila tekanannya tinggi. : suara nafas melemah sampai menghilang, nafas dapat amforik apabila ada fistel yang cukup besar.

RADIOLOGI Gambaran radiologis menunjukkan : (3) 1. Tampak bayangan Hiperlusent baik bersifatlokal maupun general. 2. Pada gambaran Hyperlusent ini tidak tampak jaringan paru, jadi Avaskuler. 3. Bila pneumothorakshebat sekali dapat menyebabkan terjadinya kolaps dari paruparu sekitarnya, sehingga massa jaringan paru yang terdesak ini lebih padat dengan densitas seperti bayangan Tumor. 4. Biasanya arah kolaps ke medial. 5. Bila Hebat sekali dapat menyebabkan terjadinya perdorongan pada jantung misalnya pada ventil penumothoraks atau apa yang kita kenal sebagai tension pneumothoraks. 6. Juga medisatinum dan trachea dapat terdorong kesisi yang berlawanan.

GAMBAR 03,

Bayangan udara dalam rongga pleura memberikan bayangan Radiolusen yang tanpa struktur jaringan paru (Avaskuler), biasanya tampak suatu garis putih yang tegas membatasi pleura viscerale yang membyngkus paru-paru kearah hilus atau ke arah kontralateral. Selain itu sela iga menjadi lebih lebar. (5)

GAMBAR 04 , Tampak bayangan radiolusen seluruh hemithoraks kanan tanpa struktur vaskuler paru dan jaringan paru yang kolaps dibagian sentral.

Bila mana jumlah udara dan tingkat kolaps ringan, maka penumothoraks mungkin sama sekali tidak dapat dilihat pada foto PA rutin, akan tetapi mungkin lebih baik kelihatan pada foto waktu ekspirasi dalam, yang akan mempertinggi tekanan intra pleural dan oleh karna itu akan menambah kolaps dari paru-paru. (11)

GAMBAR 05, Pasien penumothoraks spontan radiograf dalam ekspirasi. Garis purih dari pleura visceralis meliputi paru-paru yang kolaps (diseberang panah) membenarkan diagnosa pneumothoraks. Tidak ada bayangan pembuluh darah disebelah lateral daripada itu.

GAMBAR 06, Efek respirasi pada ukuran pneumothoraks, Volume udara pleura adalah sama pada inspirasi sebagaimana juga ekspirasi; paru-paru (tanda panah) dan thoraks lebih kecil pada ekspirasi. (10)

GAMBAR 07, A. Foto inspirasi, tampak gambaran radiolusen yang kecil sepanjang batas kiri bawah jantung dan yang berdekatan dengan aorta knob.B. Foto ekspirasi dibuat segera setelah A pneumothoraks tampak lebih luas anak panah menunjukkan paru yang tertekan. Tampak bahwa paru yang tertekan telah mempertahankan bentuk normalnya. C dan D Pasien lain, pneumothoraks tidak dapat terlihat pada foto inspirasi, tampak pergeseran jantung kekanan pada saat ekspirasi ( B dan D). (10)

PENATALAKSANAAN Tindakan dekompressi yaitu membuat hubungan rongga pleura dengan udara luar, ada beberapa cara : (1,8) 1. Menusukkan jarum melalui diding dada sampai masuk kerongga pleura , sehingga tekanan udara positif akan keluar melalui jarum tersebut. 2. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil, yaitu dengan : a. Jarum infus set ditusukkan kedinding dada sampai masuk kerongga pleura. b. Abbocath : jarum Abbocath no. 14 ditusukkan kerongga pleura dan setelah mandrin dicabut, dihubungkan dengan infus set. c. WSD : pipa khusus yang steril dimasukkan kerongga pleura. PROGNOSIS. Lebih dari 50 % pasien dengan panumothorak dapat kambuh kembali. Kekambuhan jarang terjadi pada pasien-pasien pneumothorak yang dilakukan torakotomi terbuka. Pasien-pasien yang penatalaksanaannya cukup baik, umumnya tidak dijumpai komplikasi. (1,7) DIAGNOSA BANDING. (8) KOMPLIKASI (1,7,8) 1. Tension Pneumothoraks 2. Emfisema Subkutis dan Emfisema Mediastinum 3. Syok kardiogenik. Emfisema Paru Asma Bronchial.

DAFTAR PUSTAKA 1. Hisyam B, Agoestono B,. Pneuomothoraks Spontan dalam Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi Ke 3, Editor Suyono S, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2001 2. Wilson L M. Penyakit Pernafasan Restriktif dalam Fisiologi Proses-Proses Penyakit, Edisi ke 4, Buku II, Editor Price SA, Wilson LM, Alih Bahasa Anugrah P, EGC, Jakarta, 1980. 3. Adnan M. Radiologi Thoraks dalam Radiologi II, Cetakan Ke 2, Bagian Radiologi FKUH, Ujung Pandang, 1980. 4. Karnadihardja W. Dinding Thoraks, Pleura, dan Payu Dara dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Editor Sjamsuhidajat R, Jong WD, EGC, Jakarta, 1999. 5. Kusumawidjaja K. Pelura Dan Mediastinum dalam Radiologi Diagnostik, Catatan Ke 6, Editor Rasad S, Kartoleksono S, Ekayuda I. Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1999. 6. Caffey. , The ThoraxIn Pediatric X-Ray Diagnosis. Volume 1, Year Book Medical Publishers Incorporated., Chicago, 1973. 7. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus.com 8. Amin M., Alsagaaf H, Saleh T., Pneumothoraks Dalam Ilmu Penyakit Paru, Air Langga University Press, Surabaya. 9. Mesdain C., Radiology Of TheDiaphragm, Pleura, Thoracis Cage and Upper air Passge In Rontgen Signs, 2nd ed. WB Sanners And Company, Philadelphia, 1982. 10. Felson B. The Pleural In Chest Roentgenology, WB Sanners Company, Philadelphia, 1973. 11. Simon G., Diagnostik Rontgen, Cetakan Ke2, Erlangga, Jakarta, 1981.

BAGIAN RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Referat Maret 2003

PNEUMOTHORAKS

Oleh: Sri Wahyuningsih Pembimbing : dr. Yusnita P e n g u j i. : Dr. H. Muh. Ilyas, Sp.Rad Dibuat Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Di Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar 2003

HALAMAN PENGESAHAN Yang Bertanda tangan Di Bawah Ini : Nama Stambuk : Sri Wahyuningsih : 11097. 007

Telah Menyelesaikan Tugas da Kepaniteraan Klinik Pada bagian Radiologi Fakultas Keodkteran Universitas Hasanuddin dengan judul PNEUMOTHORAKS.

Makassar, . Maret 2003 Di Setujui Oleh : Penguji Pembimbing

( dr.H.Muh. Ilyas, Sp.Rad) Mengetahui, Ketua Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

( dr. Yusnita )

( dr. H. M. Arief Gella, Sp, Rad)