Anda di halaman 1dari 16

1

MAKALAH METODOLOGI PENELITIAN

DAMPAK PENYAKIT HIPERTENSI PADA PENDERITA

OLEH:

AKWILA MEDI 2803012 NAUTIKA II A

AMI VETERAN MAKASSAR 2009/2010


13

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena bimbingan dan pertolongan-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul Dampak Penyakit Hipertensi Pada Penderita . Adapun tujuan penulisan Makalah ini adalah sebagai salah satu tugas akhir dari mata kuliah Metodologi Penelitian . Makalah ini disajikan dengan mengikuti urutan langkah-langkah dalam mengadakan suatu penelitian. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih jauh dari harapan, namun saya mengharapkan munculnya kritikan-kritikan yang membangun dari setiap pembaca yang membaca Makalah ini. Akhir kata semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembacanya dan dapat dipergunakan sesuai keperluan.

Makassar, Januari 2010 Penyusun

13

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Pembatasan Masalah C. Rumusan Anggapan Dasar D. Pendekatan E. Tujuan Penelitian BAB II PEMBAHASAN A. Pengkajian B. Diagnosa Keperawatan C. Intervensi atau Rencana Keperawatan D. Pelaksanaan BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA i ...ii ...........1 ..1 2 ..2 .3 4 ......5 ..5 5 6 .9 11 .11 ..12

13

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke dan gagal ginjal. Penyakit ini biasa di sebut Pembunuh Diam-diam) karena orang dengan hipertensi sering tidak menampakkan gejala. Institut Nasiona Jantung, Paru dan Darah memperkirakan bahwa separuh orang tidak sadar akan kondisinya. Penderita penyakit ini diwajibkan untuk selalu memantau tekanan darah dengan interval teratur karena hipertensi merupakan kondisi seumur hidup. Sekitar 20% populasi orang dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90% di antara mereka menderita hipertensi esensial (hipertensi primer), di mana tidak dapat ditentukan penyebab medisnya. Sisanya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu (hipertensi sekunder), seperti penyempitan arteri renalis atau penyakit parenkim ginjal dan kelainan hormonal. Hampir 1 miliar orang di dunia atau 1 dari 4 orang dewasa menderita tekanan darah tinggi. Setiap tahun, darah tinggi menjadi penyebab 1 dari 7 kematian ( 7 juta per tahun ) di samping menyebabkan kerusakan jantung, mata, otak dan ginjal. Berdasarkan data dari WHO, dari 50% penderita hipertensi yang di ketahui hanya 25% yang mendapat pengobatan dan hanya 12,5% yang di obati dengan baik. Sedangkan menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) tahun 2001, kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia sebesar 26,3%.

13

B. Pembatasan Masalah Dalam pembahasan masalah tersebut hanya didasarkan pada penyakit penyakit yang ditimbulkan oleh hipertensi dan cara mengatasinya. Selain itu, ditampilkan juga tentang data dari sumber yang terpercaya. C. Rumusan Anggapan Dasar Hipertensi merupakan sebuah penyakit yang penanganannya harus dilakukan secara tepat dan baik. Membiarkan hipertensi berarti pula bahwa kita membiarkan jantung bekerja lebih keras dan membiarkan kerusakan dinding pembuluh darah. Jika keadaan ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan tidak di tangani, hal tersebut dapat menyebabkan komplikasi penyakit seperti: a. Stroke Stroke dapat timbul akibat pendarahan tekanan tinggi di otak atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpasang tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri yang membawa darah ke otak mengalami hipertrofi dan menebal sehingga aliran yang aliran darah yang diperdarahinya berkurang. Arteri mengalami aterosklerosis dapat melemah arteri otak dapat data dari para penderita hipertensi yang di peroleh

sehingga

meingkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma. b. Gagal Ginjal Gagal ginjal terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapiler kapiler ginjal dan glomerulus. Akibat dari rusaknya glomerulus,

akan menyebabkan darah mengalir ke unit-unit fungsional ginjal


13

kemudian nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Setelah membran glomerulus rusak, protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan osmotic koloid plasma berkurang dan menyebabkan edema yang sering di jumpai pada hipertensi kronik. c. Kerusakan Mata ( Penglihatan ) Tekanan darah yang sangat tinggi akibat dari adanya pennyempitan pembuluh darah. Penebalan serta pengerutan dinding pembuluh darah dari berbagai sebab. Dalam keadaan ini jantung memompa darah dengan kontraksi yang cepat sehingga darah yang mengalir ke seluruh tubuh lewat pembuluh darah mengalami tekanan yang sangat kuat akibat sumbatan dari dinding pembuluh darah. Akibatnya pembuluh darah perifer pada mata dan organ pecah. Organ di mata tidak mendapat suplay nutrisi dan oksigen lewat aliran darah sehingga mengakibatkan penglihatan menjadi kabur dan dapat menyebabkan kebutaan. D. Pendekatan Dalam penulisan ini, penulis menggunakan 2 metode yaitu: 1. Studi Kepustakaan Dengan memperoleh informasi-informasi terbaru dari internet melalui berbagai situs, materi dari buku-buku perpustakaan dan toko buku mengenai isi dari makalah ini. 2. Studi kasus Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah: a. Wawancara
13

Melakukan Tanya jawab kepada pasien dan perawat b. Data Medical Record rumah sakit Data yang di peroleh berupa jumlah penderita gangguan system Kardiovaskuler hipertensi yang ada dalam satu tahun terakhir. E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian dapat di bagi ke dalam 2 hal yaitu: 1. Tujuan umum Memperoleh gambaran dan pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien hipertensi. 2. Tujuan khusus a. Pengkajian, analisa data dan perumusan diagnosa keperawatan yang terjadi pada pasien dengan gangguan system Kardiovaskuler atau hipertensi. b. Menetapkan rencana asuhan keperawatan yang tepat pada pasien dengan gangguan system Kardiovaskuler atau hipertensi. c. Implementasi keperawatan pada pasien dengan gangguan system

Kardiovaskuler atauhipertensi. d. Melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan gangguan system Kardiovaskuler atau hipertensi. e. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan system Kardiovaskuler atau hipertensi.

13

BAB II PEMBAHASAN Proses keperawatan yang dilaksanakan dalam asuhan keperawatan meliputi 5 tahap yaitu pengkajian, perumusan diagnose, intervensi (rencana keperawatan) dan pelaksanaan. Masalah yang terdapat pada pasien, penulis berusaha menanggulangi secara optimal dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang di peroleh melalui pendidikan dan keterampilan yang di peroleh dari praktek klinik di rumah sakit. A. Pengkajian Berdasarkan teori, penyebab dari hipertensi ( hipertensi primer dan sekunder ) yaitu factor genetic, umur, stress, obesitas, merokok, asupan natrium yang berlebihan, kelainan hormonal dan penyakit ginjal. B. Diagnosa Keperawatan Berdasarakan teori diagnosa keperawatan pada pasien dengan hipertensi adalah: 1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterlood, iskemia miokardia, hipertropi/irgiditas ( kelakuan )vasokontriksi ventrikulasi. 2. Intoleransi aktivitas berhbungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. 3. Nyeri akut, sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral.

13

4. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebihan akibat kebutuhan metabolic, pola hidup monoton, keyakinan budaya. 5. Ketidakefektifan koping individual berhubungan dengan krisis situasional, perubahan hidup beragama, relaksasi tidak adekuat, system pendukung tidak adekuat, sakit atau tidak pernah olahraga, nutrisi buruk, harapan yang tidak terpenuhi, kerja yang berlebihan, persepsi tidak realistic, metode koping tidak efektif. 6. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/daya ingat, menginterprestasikan informasi, keterbatasan kognitif menyangkal diagnose. C. Intervensi atau Rencana Keperawatan 1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterlood, vasokonstriksi, iskemia miokardia, hipertropi/rigiditas (kekakuan) ventrikulasi. Rencana tindakan yaitu: a) Pantau tekanan darah, ukur pada kedua tangan/paha, evaluasi awal gunakan gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik yang akurat. b) Catat perbedaan, kualitas denyutan sentral dan periver. c) Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas. d) Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisapan kaviler. e) Catat edema umum/tertentu f) Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas/keributan lingkungan. g) Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi dan aktivitas penglihatan.
13

10

h) Beritahu respon terhadap obat untuk mengontrol TD. i) Berikan obat sesuai indikasi. j) Beri pembatasan cairan dan natrium sesuai indikasi. k) Siapkan untuk pembedahan bila ada indikasi. 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,

ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Rencana tindakan yaitu: a) Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali per menit di atas frekuensi istirahat. b) Instruksikan pasien tentang teknik pengamatan energy. c) Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan terhadap diri, jika dapat di toleransi. 3. Nyeri akut, sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral. Rencana tindakan yaitu: a) Mempertahankan tirah baring setelah fase akut. b) Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya kompres dingin pada dahi. c) Hilangkan/minimalkan aktivitas konstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala. d) Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur bila terjadi pendarahan hidung atau kompres hidung telah dilakukan untuk menghentikan pendarahan.
13

11

e) Berikan Analgetik sesuai indikasi. 4. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebihan akibat kebutuhan metabolic, pola hidup monoton, keyakinan budaya. Rencana tindakan yaitu: a) Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan. b) Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam dan gula sesuai indikasi. c) Tetapkan keinginan pasien penurunan BB. d) Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet. e) Tetapkan rencana penurunan BB yang relistik dengan pasien, misalnya penurunan BB 0,5 kg per minggu. f) Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi. 5. Ketidakefektifan koping individual berhubungan dengan krisis situasional, relaksasi tidak adekuat, sakit atau tidak pernah olahraga, nutrisi buruk metode koping tidak efektif dan sebagainya. Rencana tindakan yaitu: a) Kaji ketidakefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku. b) Catat laporan gangguan tidur, peningkatan kelebihan, kerusakan konsentras, peka rangsangan, penurunan toleransi sakit kepala, tidak mampu untuk mengatasi/menyelesaikan masalah. c) Membantu pasien untuk mengidentifikasi stress spesifik dan

kemungkinan strategi untuk mengatasinya.


13

12

d) Melibatkan pasien untuk mengevaluasi prioritas/tujuan hidup. 6. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/daya ingat, menginterprestasikan informasi, keterbatasan kognitif, menyangkal diagnose. Rencana tindakan yaitu: a) Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar, termasuk orang yang mendekat. b) Tetapkan batas TD normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal, dan otak. c) Beri penguatan pentingnya kerja sama dengan regimen pengobatan dan mempertahankan perjanjian tidak lanjut. d) Bantu pasien untuk mengembangkan jadwal yang sederhana

memudahkan untuk minum obat. e) Berikan informasi tentang sumber sumber di masyarakat dan dukung

pasien dalam membuat perubahan pola hidup. D. Pelaksanaan Pada pelaksanaan keperawatan, yang dilaksanakan yaitu selama kurang lebih 3 hari. Implementasi keperawatan didasarkan atas kondisi dan kebutuhan pasien. Diagnosa keperawatan pertama yaitu nyeri berhubungan dengan

peningkatan tekanan vaskuler serebral. Semua intervensi yang direncanakan pada intervensi keperawatan semuanya diimplementasikan. Begitupun pada diagnose keperawatan yang ke dua yaitu intoleransiaktivitas berhubungan dengan
13

13

kelemahan. Semua intervensi yang direncanakan pada intervensi keperawatan semuanya diimplementasikan. Pada diagnose keperawatan ke tiga yaitu resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan in take yang tidak adekuat. Intrvensi yang direncanakan sebelumnya semuanya dapat diimplementasikan.

13

14

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian teori dan kasus nyata tentang hipertensi, maka kesimpulan yang dapat di tarik adalah: 1. Hipertensi didefenisikan sebagai tekanan darah persisten di mana tekanan sistoliknyadi atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg dan pada populasi manual, tekanan sistoliknya 160 mmHg dan tekanan diastoliknya 90mmHg. 2. Penanganan pada pasien Hipertensi yang merupakan tindakan yang berurutan dan dilakukan secara sistematis yang terdiri dari pengkajian, perumusan diagnose, evaluasi dan pelaksanaan. 3. Pengkajian secara menyeluruh diperlukan untuk mencari kemungkinan penyebab, pengaruh yang ada hubungannya dengan pasien dan faktor-faktor pendukung yang ada dalam masyarakat dan keluarga yang dapat membantu tindakan keperawatan dengan pengobatan pasien selanjutnya. 4. Asuhan keperawatan yang dilakukan dengan gangguan system Kardiovaskuler Hipertensi, secara teori ditegakkan 6 diagnosa dan pada kasus nyata ditegakkan 3 diagnosa keperawatan dimana 2 diagnosa berdasarkan teori dan 1 diagnosa tambahan.

13

15

B. Saran Selama melakukan penelitian dampak hipertensi pada penderita, penulis berkeinginan memberikan saran-saran yang kiranya dapat di terima dan bermanfaat bagi berbagai pihak. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis menyampaikan beberapa saran untuk pertimbangan dan peningkatan kualitas perawatan yang ditujukan kepada: 1. Institusi Rumah Sakit a. Diharapkan pihak rumah sakit dapat membuat suatu pedoman mengenai cara penatalaksanaan pada pasien dengan hipertensi. b. Mengoptimalkan informasi tentang cara untuk menjaga kesehatan pasien dan untuk mengatasi hipertensi, misalnya dengan selalu mengontrol tekanan darah ke unit pelayanan kesehatan terdekat. 2. Untuk tenaga kesehatan Diharapkan kepada tenaga perawat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampialan khususnya dalam bidang perawatan sehingga dapat memberikan pelayanan secara profesional 3. Kepada masyarakat tentang cara untuk mencegah hipertensi. a. Periksalah tekanan darah secara teratur, jika keluarga memiliki riwayat hipertensi dan memahami bahwa peningkatan tekanan darah biasanya muncul tanpa gejala. b. Bila anda menderita penyakit jantung konsultasika n dengan dokter dan mintalah petunjuk untuk menjaga kesehatan.
13

16

DAFTAR PUSTAKA Doenges E. Marilyn. Rencana Asuhan Keperawatan. 2000. Edisi3: Jakarta Mary, Baradero. Klien Gangguan Kardiovaskuler.2008. Edisi1: Jakarta Smeltzer, Susanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. 2002.Edisi 8: Jakarta

13