Anda di halaman 1dari 7

Macam macam riba Oleh: Ustadz Muhammad Wasitho, Lc.

Majalah pengusaha muslim edisi 05 volume 1/15 mei 2010 page 46 until 49 Hukum Riba Riba dengan segala bentuknya adalah haram dan termasuk dosa besar, berdasarkan Al-Qur an, AsSunnah, dan ijma (konsensus) para ulama. a. Dalil diharamkannya riba dari al-Qur an diantaranya adalah: Firman Allah ta ala: hai orang-orang yang berimanbertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan riba), maka permaklumkanlah bahwa Allah dan Rasul-Nya kan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kami tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (Q.S. Al-Baqarah: 278-279). Dan firman-Nya pula: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. (Q.S. Al-Baqarah: 275) Dan firman-Nya pula: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. (Q.S. Al-Baqarah: 276) Ayat-ayat ini adalah ayat-ayat tentang riba yang terakhir diturunkan dalam Al-Qur an al Karim. Karena Al-Qur an telah membicarakan riba dalam empat tempat terpisah; salah satunya adalah ayat makiyyah sementara tiga lainnya adalah ayat-ayat madaniyah. (ayat-ayat tentang riba dapat dibaca dalam Q.S. Ar-Rum: 39, Q.S. An-Nisa : 160-161, dan Q.S. Ali Imran: 130) b. Dalil diharamkannya riba dari hadits diantaranya adalah: Dari Abu Hurairah radiallahuanhu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa salam bersabda jauhilah tujuh hal yang membinasakan Para sahabat bertanya: apa itu ya Rasulullah shallallahu alaihi wa salam? Jawab beliau: 1. Melakukan kemusyrikan kepada Allah 2. Sihir 3. Membunuh jiwa yang telah diharamkan, kecuali dengan cara yang haq 4. Makan riba 5. Makan harta anak yatim 6. Melarikan diri pada hari pertemuan dua pasukan 7. Menuduh berzina perempuan baik-baik yang tidak tahu menahu tentang urusan ini dan beriman kepada Allah. (Muttafaqun alaih: Fathul Bari V: 393 no: 2766, Muslim I: 92 no:89, Aunul Ma bud VIII: 77 no:2857 dan Nasa I VI: 257).

Dari Jabir radiallahuanhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa salam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya. Dan beliau bersabda: mereka semua sama (dalam hal dosa, pent). (Shahih: Mukhtasar Muslim no. 955, Shahibul Jami us Shaghir no: 5090 dan Muslim III: 1219 no: 1598). Dari Ibnu Mas ud Radialluhuanhu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa salam bersabda: Riba itu mempunyai tiga puluh tiga pintu, yang paling ringan (dosanya) seperti seorang anak menyetubuhi ibunya. (Shahih: Shahihul Jami us Shaghir no: 3539 dan Mustadrak Hakim II: 37). Dari Abdullah bin Hanzhalah radiallahuanhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa salam bersabda: satu dirham riba yang dimakan seseorang padahal ia tahu, adalah lebih berat (dosa dan siksanya, pent) daripada tiga puluh enam perzinaan. (Shahih: Shahihul Jami us Shaghir no: 3375 dan al-Fathur Rabbani XV: 69 no: 230). Dari Ibnu Mas ud radiallahuanhu dari Nabi shallallahu alihi wa salam, beliau shallallahu alihi wa salam bersabda tak seorangpun memperbanyak (harta kekayaannya) dari hasil riba, melainkan pasti akibat akhirnya ia jatuh miskin. (Shahih: Shahihul Jami us Shaghir no: 5518 dan Ibnu Majah II: 765 no:2279). c. Ijma kaum muslimin atas diharamkannya riba Kaum muslimin seluruhnya telah bersepakat, bahwa hukum asal dari riba adalah diharamkan, terutama sekali riba pinjaman atau hutang piutang. Bahkan mereka telah berkonsensus dalam hal itu pada setiap masa dan tempat. Para ulama fiqih seluruh madzhab telah menukil ijma tersebut. Memang ada perbedaan pendapat tentang sebagian bentuk aplikasinya, apakah termasuk riba atau tidak dari segi praktisnya, namun tidak bertentangan dengan ijma yang telah diputuskan dalam persoalan itu. Jenis barang ribawi Para ahli fiqh Islam telah membahas masalah riba dan jenis barang ribawi dengan panjang lebar dalam kitab-kitab mereka. Dalam kesempatan ini akan disampaikan kesimpulan umum dari pendapat mereka yang intinya bahwa barang ribawi meliputi:

1. Emas dan perak, baik itu dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya. 2. Bahan makanan pokok seperti beras, gandum dan jagung serta bahan makanan tambahan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Dalam kaitan dengan perbankan syariah implikasi ketentuan tukar-menukar antar barang-barang ribawi dapat diuraikan sebagai berikut: a. Jual beli antara barang-barang ribawi sejenis hendaklah dalam jumlah dan kadar yang sama. Barang tersebut pun harus diserahkan saat transaksi jual-beli. Misalnya rupiah dengan rupiah hendaklah Rp 5.000,- dengan Rp 5.000,- dan diserahkan ketika tukar-menukar. b. Jual beli antara barang-barang ribawi yang berlainan jenis ini diperbolehkan dengan jumlah dan kadar yang berbeda dengan syarat barang diserahkan pada saat akad jual-beli. Misalnya Rp 5.000,- dengan 1 dolar Amerika. c. Jual-beli barang ribawi dengan yang bukan ribawi tidak disyaratkan untuk sama dalam jumlah maupun untuk diserahkan pada saat akad. Misalnya mata uang (emas, perak, atau kertas) dengan pakaian. d. Jual beli antara barang-barang yang bukan ribawi diperbolehkan tanpa persamaan dan diserahkan pada waktu akad, misalnya pakaian dengan barang elektronik. Pengertian riba Kata Ar-Riba adalah isim maqshur, berasal dari robaa-yarbuu, yaitu akhir kata ini ditulis dengan alif. Asal arti kata riba adalah Az-Ziyadah (tambahan); adakalanya tambahan ini berasal dari dirinya sendiri seperti firman Allah ta ala: (ihtazzat wa rabat) maka hiduplah bumi itu dan suburlah (Q.S. Al-Hajj: 5) Dan, adakalanya lagi tambahan itu berasal dari luar berupa imbalan, seperti satu dirham ditukar dengan dua dirham. (Al-Wajiiz fi fiqhis sunnati wal kitabil aziz , karya Abdul Azhim Badawi al-Khalafi, hal. 346) Adapun menurut istilah syariat riba berarti adanya tambahan dalam suatu barang yang khusus dan istilah ini digunakan pada dua bentuk riba, yaitu riba fadl dan riba nasiah (lihat Al Mughni 6/52, Fathul Qadir 1/294; dinukil dari Ar Ribaa Adraruhu wa Atsaruhu fi Dlauil Kitabi was Sunnah). Maksud tambahan secara khusus, ialah tambahan yang diharamkan oleh syari at Islam, baik diperoleh dengan cara penjualan, atau penukaran atau peminjaman yang berkenaan dengan benda riba. Ada beberapa pendapat ulama dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan, bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam. Definisi paling ringkas dan bagus adalah yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu dalam Syarah Bulughul Maram, bahwa makna riba adalah: penambahan pada dua perkara yang diharamkan dalam syariat, adanya tafadhul (penambahan) antara keduanya dengan ganti (bayaran), dan adanya ta khir (tempo) dalam menerima sesuatu yang disyaratkan adanya qabdh (serah terima di tempat transaksi) . (Syarhul Buyu , hal. 124)

Definisi di atas mencakup riba fadhl dan riba nasi ah (kedua macam riba ini akan dijelaskan pada pembahasan tentang macam-macam riba). Macam-macam Riba Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah riba hutang-piutang dan riba jual-beli. Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyyah. Sedangkan kelompok kedua riba jual-beli, terbagi menjadi riba fadhl dan riba nasi ah. 1. Riba Qardh Riba dalam pinjam meminjam, yakni suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (mutaqaridh). Gambarannya, seseorang meminjamkan sesuatu kepada orang lain dengan syarat mengembalikan dengan yang lebih baik atau lebih banyak jumlahnya. Misal: seseorang meminjamkan uang sebesar Rp 100.000,- dan akan dikembalikan Rp 110.000,saat jatuh tempo. Ringkasnya, setiap pinjam meminjam yang mendatangkan keuntungan adalah riba, dengan argumentasi sebagai berikut: a) Hadits Ali bin Abi Thalib Radiallahuanhu: setiap pinjaman yang membawa keuntungan adalah riba. (hadits ini dha if (lemah). Dalam sanadnya ada Sawwar bin Mush ab, dia ini matruk (ditinggalkan haditsnya). Lihat Irwa ul Ghalil (V/235-236 no 1398)). Namun para ulama sepakat sebagaimana yang dinukil ibn Hazm, Ibnu Abdil Barr dan para ulama lain, bahwa setiap pinjam meminjam yang didalamnya dipersyaratkan sebuah keuntungan atau penambahan kriteria (kualitas) atau penambahan nominal (kuantitas) termasuk riba. b) Tindakan tersebut termasuk riba jahiliyah dan termasuk riba yang diharamkan berdasarkan Al-Qur an, As-Sunnah dan ijma ulama. c) Pinjaman yang dipersyaratkan adanya keuntungan sangat bertentangan dengan maksud dan tujuan mulia dari pinjam meminjam yang Islami yaitu membantu, mengasihi, dan berbuat baik kepada saudaranya yang membutuhkan pertolongan. Pinjaman itu berubah menjadi jual beli yang mencekik orang lain. Meminjami orang lain Rp 10.000,- dibayar Rp 11.000,- sama dengan membeli Rp 10.000,- dibayar Rp 11.000,Ada beberapa kasus yang masuk pada kaidah ini, diantaranya: a) Misalkan, seseorang berhutang kepada syirkah (koperasi) Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dengan bunga 0 % (tanpa bunga) dengan tempo satu tahun. Namun pihak syirkah mengatakan: Bila jatuh tempo namun hutang belum terlunasi, maka setiap bulannya akan dikenai denda 5 %. Akad ini adalah riba jahiliyah yang telah lewat penyebutannya. Dan cukup banyak syirkah (koperasi) atau yayasan yang menerapkan praktik semacam ini. b) Meminjami seseorang sejumlah uang tanpa bunga untuk modal usaha dengan syarat pihak yang meminjami mendapat prosentase dari laba usaha dan hutang tetap dikembalikan secara utuh.

Modus lain yang mirip adalah memberikan sejumlah uang kepada seseorang untuk modal usaha dengan syarat setiap bulanya dia (yang punya uang) mendapatkan misalnya- Rp 1 juta,- baik usahanya untung atau rugi. Sistem ini yang banyak terjadi pada koperasi, BMT, bahkan bank-bank syariah pun menerapkan sistem ini dengan istilah mudharabah (bagi hasil). Mudharabah yang syar i adalah: misalkan seseorang memberikan modal 10 juta untuk modal usaha dengan ketentuan pemodal mendapatkan 50% atau 40% atau 30% (sesuai kesepakatan) dari laba hasil usaha. Bila menghasilkan laba, maka dia mendapatkannya, dan bila ternyata rugi, maka kerugian ini ditanggung bersama (loss and profit sharing). Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu alihi wa salam dengan orang Yahudi Khaibar. Adapun transaksi yang dilakukan oleh mereka, pada hakekatnya adalah riba dain / qardh (hutang piutang) ala jahiliyah yang dikemas dengan baju nan indah Islami bernama mudharabah. Na udzu billah min dzalik. c) Mengambil keuntungan dari barang yang digadaikan Misal: si A meminjam uang Rp 10 juta kepada si B (pegadaian) dengan menggadaikan sawahnya seluas 0,5 Ha. Lalu pihak pegadaian memanfaatkan sawah tersebut, mengambil hasilnya, dan apa yang ada di dalamnya sampai si A bisa mengembalikan hutangnya. Tindakan tersebut termasuk riba, namun dikecualikan dalam dua hal i. Bila barang yang digadaikan itu perlu pemeliharaan atau biaya , maka barang tersebut bisa dimanfaatkan sebagai ganti pembiayaan. Misalnya yang digadaikan adalah seekor sapi dan pihak pegadaiaan harus mengeluarakan biaya untuk pemeliharaan. Maka pihak pegadaian boleh memerah susu dari sapi tersebut sebagai ganti biaya perawatan. Dalilnya hadits riwayat al-Bukhari dalam shahihnya dari Abu Hurairah radiallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda: kendaraan yang tergadai boleh dinaiki (sebagai ganti) nafkahnya, dan susu hewan yang tergadai dapat diminum (sebagai ganti) nafkahnya. ii. Tanah sawah yang digadai akan mengalami kerusakan bila tidak ditanami, maka pihak pegadaian bisa melakukan sistem mudharabah syar i dengan pemilik tanah sesuai kesepakatan yang umum berlaku di kalangan masyarakat setempat tanpa ada rasa sungkan. Misalnya yang biasa berlaku adalah 50%. Namun bila si pemilik tanah merasa tidak enak karena dihutangi lalu dia hanya mengambil 25% saja, maka ini tidak diperbolehkan, Wallahu a lam bis shawab. 2. Riba jahiliyyah Yakni hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan. Riba ini ada dua bentuk: a. Penambahan harta sebagai denda dari penambahan tempo (bayar hutangnya atau tambah nominalnya dengan mundurnya tempo). Misal: si A hutang Rp 1 juta kepada si B dengan tempo 1 bulan. Saat jatuh tempo si B berkata: bayar hutangmu. Si A menjawab aku tidak punya

uang. Beri saya tempo 1 bulan lagi dan hutang saya menjadi Rp1.100.000,- . Demikian seterusnya. Sistem ini disebut dengan riba mudha afah (melipatgandakan uang). Allah ta ala berfirman: hai orang-orang yang beriman, jangan kamu memakan riba dengan berlipat ganda (Q.S. Ali Imran: 130) b. Pinjaman dengan bunga yang dipersyaratkan di awal akad Misalnya: si A hendak berhutang kepada si B. maka si B berkata di awal akad: saya hutangi kamu Rp 1 juta dengan tempo satu bulan dengan pembayaran Rp 1.100.000,Riba jahiliyah jenis ini adalah riba yang paling besar dosanya dan sangat tampak kerusakannya. Riba jenis ini yang sering terjadi pada bank-bank dengan sistem konvensional yang terkenal di kalangan masyarakat denga istilah menganakan uang 3. Riba fadhl Yakni, pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi. Kalau emas dijual atau ditukar dengan emas, maka harus sama beratnya dan harus diserahterimakan secara langsung. Jenis ini diistilahkan oleh Ibnul Qoyyim dengan riba khafi (samar), sebab riba ini merupakan pintu menuju rina nasi ah. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum riba fadhl. Yang rajih (kuat) tanpa keraguan lagi adalah pendapat jumhur ulama bahwa riba fadhl adalah haram dengan dalil yang sangat banyak. Di antaranya: Hadits Utsman bin affan radiallahuanhu riwayat Muslim: Jangan kalian menjual satu dinar dengan dua dinar, jangan pula satu dirham dengan dua dirham. Juga hadits-hadits yang semakna dengan itu, diantaranya : a. Hadits Abu Sa id radiallhuanhu yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. b. Hadits Ubadah bin Ash-shamit radiallahuanhu riwayat muslim Juga hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Abu Hurairah, Sa ad bin Abi Waqqash , Abu baqrah, Ma mar bin Abdillah dan lain-lain yang menjelaskan tentang keharaman riba fadhl, tersebut dalam AsShahihain atau salah satunya. Adapun dalil pihak yang membolehkan adalah hadits Usamah bin Zaid radiallahuanhu sesungguhnya riba itu hanya pada nasi ah (tempo) Maka ada beberapa jawaban diantaranya: a. Makna hadits ini adalah tidak ada riba yang lebih keras keharamannya dan diancam dengan hukuman keras kecuali riba nasi ah. Sehingga yang ditiadakan adalah kesempurnaan, bukan wujud asal riba.

b. Hadits tersebut dibawa kepada pengertian: bila jenisnya berbeda, maka diperbolehkan tafadhul (selisih timbangan) dan diharamkan adanya nasi ah. Ini adalah jawaban al-Imam Asy-Syadi I, disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dari gurunya, Sulaiman bin Harb. Jawab ini pula yang dirajihkan oleh Al-Imam Ath-Thabari, Al-Imam Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Qudamah, dan sejumlah besar ulama besar lainnya. Jawaban inilah yang mengkompromikan antara hadits yang dzhahirnya bertentangan . 4. Riba nasi ah Yakni penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian. Riba ini diistilahkan oleh Ibnul Qoyyim dengan riba jali (jelas) dan para ulama sepakat tentang keharaman riba jenis ini dengan dasar hadits Usamah bin Zaid di atas. Banyak ulama yang membawakan adanya kesepakatan akan haramnya riba jenis ini. Demikian pembahasan singkat tentang macam-macam riba. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a lam bish-showab