Anda di halaman 1dari 8

ASPEK SPIONASE DALAM PERANG DIPONEGORO (1825 1830)

Saleh A. Djamhari*, Tutie.Artica@yahoo.co.id,


Abstrak - Diponegoro bercita-cita membangun masyarakat baru berdasarkan Quran dalam wadah Balad Islam melalui Perang Sabil. Ia membangun kekuatan bersenjata dan moral pengikutnya melalui conspiracy of silence selama 12 tahun. Ia juga membangun aparat intelijen yang tangguh yang disebut Pacalang dan Kajineman. Jaringan mereka ada di semua jajaran pemerintah Kesultanan Yogyakarta. Pada saat Tentara Hindia Timur Belanda (NOIL) menyerbu Tegalrejo pada bulan Juli 1825, Diponegoro telah siap menghadapinya. Sebaliknya Tentara Hindia Timur dipimpin oleh Jenderal de Kock, karena kurang mengenal medan merekrut pribumi untuk diangkat sebagai spion. Melalui informasi para spion, NOIL melakukan operasi pengejaran untuk menangkap Diponegoro. Upaya ini gagal karena para Pecalang dan Kajineman memiliki kemampuan dan kualitas yang tinggi. Hanya dengan pendekatan budaya Diponegoro berhasil dibujuk untuk berunding. Abstract - Diponegoro aspire to build a new society based on the Qur'an in Islamic Balad container through Sabil War. He built the armed forces and the morale of his followers through a conspiracy of silence for 12 years. He also built a formidable intelligence apparatus called Pacalang and Kajineman. Their networks exist at all levels of government to the Sultan Yogyakarta.Pada when the Dutch East Indies Army (NOIL) Tegalrejo invaded in July 1825, Diponegoro was ready to face it. Instead East Indies Army led by General de Kock. Because the less familiar terrain to recruit native to be appointed as a mirror. Through the mirror information, perform NOIL pursuit operation to capture Diponegoro. This effort failed because the Pecalang and Kajineman have the ability and high quality. Only with a cultural approach Diponegoro was persuaded to "negotiate". Kata Kunci : Balad Islam, perang sabil, conspiracy of silence, morale

PENDAHULUAN Makalah yang disajikan dalam jurnal ini, mengangkat satu topik yang jarang dan luput dari perhatian peneliti, karena kelangkaan sumber sumbernya. Penulis mencoba melakukan identifikasi, rekonstruksi, mengeksplotasi, mengeksplorasi dan menginterpretasi aspek dan peranan kelompok yang tertutup ini berdasarkan sumber sumber yang ditemukan. Spioen (Jawa) didefinisikan sekelompok orang atau seseorang yang ditugasi melaksanakan operasi intelijen, guna mencari informasi tentang musuh (kedudukan, kekuatan dan
* Dr. Saleh A. Djamhari merupakan dosen di Prodi SSPS Unhan.

mobilitas), tentang medan (yang belum dikenal sebelumnya), mengenali para pemimpin musuh (wajah, karakter dll) juga melakukan disinformasi (penyesatan), sabotase obyek-obyek vital strategis. Intensitas peranan mereka, dapat mempengaruhi jalannya suatu peperangan. Pada kerajaan Jawa peranan spioen sudah amat dikenal sekalipun bukan melaksanakan kontra operasi intelijen namun untuk kepentingan kelompok (intrik). Peran spioen yang terkenal pada pertengahan abad 19 adalah berhasil dibunuhnya Sultan Hamangkubuwono IV

Universitas Pertahanan Indonesia

(Desember 1822). Peristiwa ini menggemparkan masyarakat, semakin mempertajam konflik antar bangsawan kelompok Kasepuhan dan Karajaan. Tuduhan kuat dialamatkan kepada Diponegoro, sekalipun dalam tingkat rumor. Peristiwa pembunuhan ini menjadi salah satu causal factor pecahnya Perang Diponegoro. Mengapa? Sejak ayahnya naik tahta, sebagai Hamangkubuwono III, Diponegoro mengisolasi diri, karena tidak setuju kebijakan ayahnya, namun tidak menentangnya secara terbuka. Ia mempunyai visi dan cita-cita sendiri tentang suatu negara dan masyarakat. Pemerintah Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin ayahnya yang kemudian digantikan adiknya dianggapnya telah menyimpang dari nilainilai budaya Jawa dan melanggar hukum agama Islam serta menyerahkan kedaulatannya kepada Pemerintah Hindia Belanda. Ia bercita cita membangun suatu masyarakat baru yang terwadahi dalam balad (negara) Islam (Babad I, 1983, 188). Perubahan masyarakat hanya bisa dilakukan dengan perang sabil. Kehidupannya di masa remaja, membentuk pribadinya menjadi manusia fanatik, yang taat beragama, teguh dalam pendiriannya, teguh memendam rahasia, yang tercermin pada perilaku dan praktik kepemimpinannya. Untuk merealisasi citacitanya, Diponegoro dengan cermat membangun jaringan rahasia dengan merekrut spioen, membangun kekuatan militer, menyusun strategi dan rencanarencana operasi perangnya, melatih prajurit prajuritnya secara clandestine, yang dalam sejarah militer dikenal sebagai conspiracy of silence, tanpa diketahui dan bisa dibuktikan aktivitasnya oleh aparat keamanan Kesultanan dan Pemerintah Hindia Belanda. Bagaimana Diponegoro mendidik spioen, juga tidak ada sumber yang ditemukan, karena aktivitas dan kemampuan mereka luar biasa. Para spioennya berhasil melakukan disinformasi dalam pelbagai hal, bahkan memperkuat kesan negatif pihak kraton dan pemerintah Hindia Belanda terhadap Diponegoro untuk melindungi aktivitasnya.

Conspiracy of silence yang berlangsung hampir 12 tahun, baru disadari oleh pejabat pemerintah Hindia Belanda pada bulan Juli 1825, bahwa dirinya tertipu setelah pasukan Diponegoro yang berhasil memasuki Yogyakarta. Pasukan Hindia Timur terkepung di dalam kota dan pemberontakan meletus di pelbagai tempat di wilayah Kesultanan. Pemerintah Hindia Belanda menunjuk Letnan Jenderal de Kock sebagai panglima operasi untuk memadamkan pemberontakan. Setibanya di Surakarta de Kock menyusun rencana operasi, tanpa bantuan peta dan hanya informasi yang samar-samar tentang wilayah Kesultanan dan kekuatan lawan. Dalam rencana operasinya Jenderal de Kock memprioritaskan merebut kembali Yogyakarta, berencana memanfaatkan orang-orang pribumi yang terseleksi dengan bayaran yang mahal sebagai spion. Di samping kisah gegap gempitanya pertempuran di pelbagai medan yang telah banyak ditulis, penulis ingin menyajikan kisah pertempuran sunyi senyap yang diperankan oleh para spion dan spioen dari kedua belah pihak, satu domein lain dari sejarah perang. Operasi spioen Diponegoro Tidak ada sumber yang ditemukan mengenai organisasi aparat intelijen, yang dibangun oleh Diponegoro. Dalam Babad ditemukan hanya dua nama sebagai pembukanya, pertama, pacalang (Babad II, 1983, 215). Mangkana sampun prapta, ing Tangkilan pacalang atur uning iku dhumateng Sri Naranata yen Laknatullah nututi kedua, kajineman (Babad II, 1983, 228), juga ketika Diponegoro berada di Tangkilan Sang Nata nimbali age marang ingkang Kajineman sadika wastanira kinen lumebeta marang ing lanat pondhoke Dengan hanya berbekal dua kata kunci itu, sudah barang tentu sejarawan sulit merekonstruksi struktur institusi yang penuh kerahasiaan ini, karena Diponegoro sendiri sangat ketat memegang teguh rahasia dan menghukum berat pembocor rahasia. Dalam

Universitas Pertahanan Indonesia

satu surat keputusan yang ditemukan dalam Arsip pada 1826, penulis menangkap pendirian Diponegoro. Lan maneh pepajalingsun marang sira aja angalaaken wong kang becik lan aja ambecikaken wong kang ala lan aja anganiaya wong akeh Tabayan (purapura) ora mitahu seunine nuwalaningsun ini amasthi nemu bilahi kang luwih abot. (ARA, Arsip Koleksi H.M. de Kock, Serie 14) Nemu bilahi kang luwih abot, adalah kata peringatan dan ancaman terhadap pejabatnya yang mbalelo dan pembocor rahasia. Bagi pembocor rahasia atau pendengar rahasia yang ketahuan, hukuman langsung dijatuhkan. Salah satu kasus terjadi pada Pangeran Karim Ario Bintoro. Ia dijatuhi hukuman mati karena mengetahui surat rahasia Residen Kedu Van Valck kepada Diponegoro. Namun Karim berhasil melarikan diri. (Weitzel II, 1853, 230). Dalam perang ini tidak mengenal kata tawanan perang. Tawanan atau spion dianggap sumber pembocor rahasia, berarti nemu bilahi kang luwih abot, yakni langsung dipancung. Sekalipun struktur organisasinya tidak pernah terungkap, namun aktivitasnya yang observable adalah peristiwa yang bisa diinterpretasi yang berbeda. Sebaliknya pihak Belanda yang berusaha memburu dan menangkapnya selalu gagal, karena Diponegoro memperoleh informasi yang cepat dan akurat dari para spioennya, apakah berasal dari pacalang atau kajineman, tidak ada sumber yang ditemukan. Meningkatnya peran para spioen ini dimulai dari sesudah insiden penutupan jalan ke Tegalrejo (1825) oleh Patih Danurejo. Diponegoro memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan markas komando di desa Selarong (bukan Gua Selarong) dan cadangannya di Jekso. Para pengikutnya dipanggil melalui para spioen agar berkumpul di Selarong sewaktu-waktu pecah perang. Selanjutnya memerintahkan melakukan pembelian padi dan beras secara besar besaran, mobilisasi massa dan membagi bagi mandala perang (16 mandala). Bahkan para spioen ditugasi

melakukan pembelian senjata api (geweren) dan penimbunan mesiu. Persiapan Diponegoro untuk perang sabil melalui conspiracy of silence sangat matang baik di wilayah nagara maupun di mancanagara. Organisasi dan Operasi Intelijen Tentara Hindia Timur (NOIL) Sekalipun tanpa mendapatkan peta yang lengkap mengenai medan di wilayah Kesultanan, Jenderal de Kock mengkompensasikan dengan informasi tentang musuh dan medan berasal dari para spion yang direkrutnya. Kegagalannya dalam melaksanakan operasi pengejaran terhadap Diponegoro (1825-1827), dengan dua kali kekalahan (Kejiwan dan Delanggu Agustus 1826) dan sekali memenangkan pertempuran di Gawok (Oktober 1826), Jenderal De Kock berpendapat bahwa peranan spion amat berpengaruh terhadap pelaksanaan operasi militernya. Sejak awal perang, para spion diperintahkan membuntuti perjalanan Diponegoro. Dari sumber Arsip, ditemukan laporan tertulis pada 1826 dari koordinator spion bernama Ngabehi Pancayatna bersama timnya yang ditugasi mengamati desa Jekso (Dekso), salah satu markas Diponegoro. Laporan ditujukan kepada Jenderal De Kock, sebagai berikut: Kawulo abdi dalem pun Pancatnyana Kawula kakersaaken utusan anitik pasanggrahanipun Pangeran Diponegoro dhateng ing dusun Jeksa Ia mengutus seorang bawahannya bernama Ki Sapengawat, datang ke rumah familinya bernama Amat Rupangi. Dalam percakapannya dengan Rupangi, ia memperoleh informasi mengenai letak penginapan Diponegoro dan pengikutnya. Kemudian mereka berjalan keliling desa, untuk membuktikan kebenaran percakapan itu. Selain informasi tentang Diponegoro dan pejabatnya, ia juga memperoleh informasi perintah Diponegoro, tentang perang gerilya. Yen wonten mengsah medal, yen kuwawi kakersaaken narungi, yen mboten kuwawi kakersaaken nilar lumajar.

Universitas Pertahanan Indonesia

Rupanya masuknya spion NOIL ini tercium oleh spioen Diponegoro. Ketika Jekso (Dekso) diserbu, Diponegoro telah meninggalkan desa ini (Juli 1826). Dalam Rencana Operasi 1827, yang mengintroduksi sistem benteng (Benteng Stelsel), Jenderal de Kock memperkuat operasi tempur sekaligus operasi intelijen dengan melipat gandakan jumlah spion, yang disebar di pelbagai medan dan dikendalikan sendiri oleh de Kock. Tujuannya untuk mengurangi jumlah korban pasukannya, terutama setelah ia mendapat kritik dari pejabat-pejabat sipil. De Kock menyadari bahwa perang melawan pemberontak yang mobilitasnya tinggi dan tidak memiliki center of gravity, kecuali pimpinannya, ia mengubah strateginya. Pola operasinya berubah dari operasi penangkapan dan pengejaran ke operasi pembujukan dan operasi pengejaran sekaligus. Sejak 1827 Strategi Stelsel Benteng diberlakukan, ia melakukan pertempuran yang senyap, to capture of whatever they prize most, dengan sasaran para pimpinan tertinggi dan para komandan pasukan Diponegoro yang prominent. Seorang Inggris, bekas pengusaha perkebunan di Pajang, William Stavers bersama seorang Arab bernama Ali Chalif, direkrut secara diam diam ditugasi untuk menemui Kyai Mojo salah seorang center of gravity perang, di suatu desa di wilayah Pajang pada bulan Agustus 1827. Sebelum itu, satu bulan sesudah pertempuran Gawok (Oktober 1826), Residen Surakarta MacGillavrij menyelundupkan dua orang spion berpredikat ulama terpercaya ke markas besar Diponegoro di Pajang. Tentu saja nama kedua ulama itu tidak tercatat dalam sejarah. Dari laporan kedua ulama spion itu, MacGillavrij dan de Kock menyimpulkan telah terjadi konflik pendapat antara Kyai Mojo dengan Diponegoro. De Kock menangkap nuansa morale disintegration pasukan Diponegoro, mengeksploitasi kondisi konflik ini dengan melakukan pendekatan terhadap Kyai Mojo. Beberapa kali utusan dikirim secara rahasia untuk membujuk sampai Kyai Mojo setuju bertemu dengan William Stavers yang telah mengenal Kyai Mojo sebelumnya. Stavers

bertindak sebagai utusan resmi Jenderal de Kock. Rencana pertemuan direstui oleh Diponegoro. Karena Diponegoro mengenali watak Kyai Mojo yang lemah terhadap bujukan dan iming-iming, Kyai Mojo diperintahkan hanya sebagai utusan Diponegoro, untuk menyampaikan syaratsyarat penghentian perang. Dua orang Mataram Pangeran Ngabei (Bei) dan Pangeran Ngabdul Majid diperintahkan untuk mendampinginya. Mereka berangkat dari desa Joholanang, sebuah markas Diponegoro di Pajang dengan dikawal 1000 prajurit. Dalam pertemuan ini Kyai Mojo hanya menyampaikan pesan Diponegoro, sebagai syarat untuk menghentikan peperangan. Isi pesan tersebut terdiri atas tiga masalah. Pertama, orang Belanda harus memeluk agama Islam. Kedua, wilayah pasisir harus diserahkan kembali kepada Kesultanan. Ketiga, orang Belanda boleh tetap tinggal di Jawa tetapi dilarang berdagang. (Louw III, 1904, 258, Babad II, 1983, 11-12) Kemudian Kyai Mojo menyatakan kepada Stavers, bahwa tujuan perangnya hanyalah untuk memuliakan agama Islam. Stavers menangkap isyarat ini, pihak Diponegoro sebenarnya menolak menghentikan perang. Hasil pertemuannya dengan Stavers dilaporkan oleh Kyai Mojo kepada Diponegoro. Kemudian ia menulis surat kepada Stavers, bahwa Diponegoro setuju penghentian permusuhan asalkan kedua belah pihak tetap tinggal (stand fast) di pos masing masing. Mengapa Diponegoro tiba-tiba setuju penghentian sementara permusuhan? Sejak kekalahannya di Gawok (Oktober 1826) pasukan Diponegoro mengalami morale disintegration. Antara pasukan yang berasal dari Mataram dan Pajang terjadi konflik, saling tuduh menuduh. Pasukan dari Mataram dituduh tidak berani berperang sebaliknya pasukan Mataram menuduh pasukan Pajang berperang untuk mencari kekayaan. Dalam suasana demikian pada 1827 Diponegoro memutuskan untuk meninggalkan wilayah Pajang dan pasukannya dikonsentrasikan di Mataram. Diponegoro ingin membangun morale

Universitas Pertahanan Indonesia

endurance bagi prajuritnya, yaitu suatu elemen emosi untuk memperkuat solidaritas dan percaya diri (Andre Beaufre, 1965, 20). Di medan Mataram ternyata relasi antara prajurit dan masyarakat semakin kuat. Prakiraan strategi Diponegoro tidak keliru. Morale dan militansi prajurit asal Mataram bangkit kembali setelah memasuki wilayah Kesultanan. Jenderal de Kock tidak berputus asa. Pada 22 September 1827, Kyai Mojo mengirim utusan ke markas de Kock di Salatiga. Apa maksud Kyai Mojo mengirim utusan itu tidak ada sumber yang ditemukan. De Kock kemudian menawarkan sejumlah uang sekiranya Kyai Mojo mau berunding di suatu tempat. Seorang sahabat Kyai Mojo, Pangeran Purboyo dari Surakarta ikut membujuk Kyai Mojo melalui surat. Kyai Mojo menjawab: tidak ada raja yang berbaik budi yang mengangkat derajat ulama, selain Sultan Hamid (Diponegoro). Dalam Babad disebutkan, darah yang tertumpah dalam perang untuk memperkuat keyakinan agama berdasarkan Quran (Babad II, 1983, 144). Operasi pertempuran senyap dilanjutkan tidak hanya terhadap center of gravity, tetapi terhadap pimpinan pasukan yang dinilai prominent. Seperti prajurit Diponegoro, para prajurit Hindia Timur juga mengalami kelelahan yang luar biasa. Para prajurit ini berperang melawan pemberontak sekaligus melawan alam. Musuh yang berpangkalan jauh di pedalaman dapat dijangkau hanya dengan melewati gunung dan hutan sehingga energi terkuras. Juga faktor logistik dan pelayanan kesehatan yang buruk. Sulit membedakan lawan dan kawan, karena karakter orang Jawa sulit diduga. Tampaknya seperti pemalas sebenarnya mereka adalah prajurit gerilyawan yang tangguh. Beban logistik menghantui staf logistik karena membengkaknya konsumsi. Satu kolone harus menyediakan logistik untuk 1000 orang setiap hari bagi hulptroepen bersama istri dan anak anaknya (Weitzel, II, 1855, 201). Kritik dari pejabat sipil tak kalah gencarnya. De Kock dituduh mengorbankan nyawa prajurit dengan sia-sia. Penghematan anggaran belanja yang dicanangkan oleh Komisaris Jenderal Du Bus, ikut mempersulit

posisi de Kock. Penambahan jumlah spion menjadi pilihan utama de Kock, dengan sasaran para komandan pasukan Diponegoro yang prominent. Para Residen ikut membantu. Dalam Babad Diponegoro dikisahkan, Sagung senopati ingkang agung ing santosa ing prangpan sinukan surat samin nanging mungel saking Residen sadaya (Babad I, 1983, 415) Dikembalikannya Sultan Sepuh (Hamangkubuwono II) ke tahtanya (1826) tidak banyak berpengaruh. Hanya Tumenggung Mangkuwijoyo, anak Pangeran Mangkudiningrat yang terang-terangan mbalelo tatkala berada di Sambiroto. Notoprojo menantu Ki Ageng Serang, saudara Mangkuwijoyo bupati Kutagede dan pimpinan pasukan Bulkiyo di wilayah Gunung Kidul ikut terbujuk, terpengaruh saudaranya. Ia menyerah pada bulan Juli 1827, setelah Residen Lawick van Pabst mengirim sejumlah spion untuk membujuknya selama dua bulan. Sebaliknya banyak komandan pasukan yang menolak bujukan para spion dengan dalih sebagai kurir residen. Sejumlah spion dihukum pancung oleh komandan pasukan yang menolak ajakannya. Sukses dengan pertempuran senyap tahun 1827 diintensifkan pada 1828. De Kock memerintahkan para komandan kolone untuk langsung melaporkan kedudukan para pimpinan utama lewat laporan para spion, berupa surat Spion Tijdingen atau Ingekomen Tijdingen. Dari arsip yang ditemukan, sebagai contoh laporan Kapten Ten Have, Komandan Kolone 2 di Kalibawang, 7 Oktober 1828. Dat den Pangerang Pakoe di Ningrat zicht te Tjoengranang ophoud met 75 man. Te Klepo en Tjebongang zijn Tomogongs Tjago Pernolo 2/ Kogo Sonoen 3/ Kerto Patro met 100 man en in de Dessa Soempie. N.W. van Tjebongang zijn insgelijks 100 man den Pangerang Pakoe di Ningrat gevestigd. Bahwa Pangeran Pakudiningrat sedang berhenti istirahat di desa Cungranang (Junggrangan) bersama 75 orang. Di Klepo dan Tjebongang (Cebongan) Temenggungnya Tjago Pernolo (Gagah

Universitas Pertahanan Indonesia

Pernolo) Kagosono dan Kertopatro bersama 100 pengawalnya dan di desa Sumpi, barat laut Cebongan, 100 orang bergerak menuju tempat Pangeran Pakudiningrat. Desa Junggrangan terletak di pegunungan Kelir di perbatasan wilayah Mataram dan Bagelen, kemudian diserbu oleh hulptroepen Arafuru. Atas kewaspadaan spioen para pimpinan pasukan Diponegoro meloloskan diri. Eskalasi perang pada akhir 1827-1829, semakin memuncak setelah Jenderal de Kock mendeklarasikan actieve oorlog yang dijawab oleh Diponegoro dengan prang betoel. Tumenggung Sosrodilogo diperintahkan untuk berangkat ke Jawa Timur, dengan tugas merebut Rajegwesi (Bojonegoro) dan menghancurkan angkutan logistik di Bengawan Solo yang diangkut ke medan Mataram, serta meminimalisi kekuatan di Mandala Barat (Mataram). Dengan bantuan para spioen, Sosrodilogo berhasil merebut dan menduduki Rajegwesi, dan menguasai wilayah pantai utara Jawa Tengah bagian timur pada awal 1828. Hubungan transportasi darat antara Semarang dan Surabaya terputus. Imam Musbah, Tumenggung Kertowinangun (Mas Lurah), Singowongso diperintahkan melakukan serangan di Ledok (Wonosobo). Mas Lurah berhasil menguasai wilayah lembah Gunung Prahu. Ia menyerah atas bujukan seorang ulama spion, Kyai Amat Asman (E.S. de Klerck, 1905, 529). Serbuan pasukan Diponegoro ke kedua medan tersebut tidak pernah diduga oleh Jenderal de Kock, karena Kolonel Cleerens telah membuat jalur keamanan, untuk menangkis serbuan infiltran dari medan Bagelen. Peran para spion dan spioen ikut menentukan kelanjutan pertempuran senyap ini. De Kock tetap menginginkan Kyai Mojo untuk ditangkap, yang dinilai sebagai de bitterste vijand (pimpinan musuh yang ditakuti) karena dialah penerjemah keinginan Diponegoro. Konflik Diponegoro Kyai Mojo semakin tajam. Kyai Mojo dibebaskan dari jabatannya sebagai guru utama tetapi anaknya Sis diangkat sebagai Tumenggung bersama Kyai Karang dan Kyai Baderan. Kyai Mojo diperintahkan kembali ke Pajang, dikawal dengan 300 Bulkiyo dan

500 prajurit biasa yang dipimpin oleh Alibasah Usman. Sebelum berangkat Kyai Mojo mengirim beberapa spioen ke Pajang Selatan di wilayah yang dikuasai oleh Pangeran Mangkunegoro. Para spioen menyampaikan surat Kyai Mojo yang ditujukan kepada para demang dan bekel, agar mempersiapkan pemberontakan. Sejumlah 33 orang demang dan bekel yang dihubungi. Setiap demang atau bekel diajak mempersiapkan 60-200 orang. Aktivitas para spioen terbongkar karena pengkhianatan seorang bekel Karangmojo yang bernama Joleksono, yang melapor ke Pangeran Mangkunegoro. Beberapa orang bekel yang pernah dihubungi oleh utusan/spioen Kyai Mojo ditangkap. Antara lain Demang Matesih, Demang Renating, Bekel Kebak. Mereka mengaku dihubungi oleh seseorang yang mengaku bernama Singojoyo, bertepatan pada bulan Puasa (Maret 1828). Conspiracy of silence, Kyai Mojo di Pajang gagal. Sejak itu pengawasan spion terhadap aktivitas Kyai Mojo ditingkatkan. Kyai Mojo meninggalkan Sambiroto menju ke Pajang dikawal pasukan Mataram di bawah Alibasah Ngusman. Karena segan dikawal pasukan Mataram, di tengah jalan ia berubah sikap. Para spion telah mencium rencana perjalanan Kyai Mojo. Seorang muridnya yang menjadi spion bernama Kyai Barnawi, menghubunginya, membujuk agar ia menerima tawaran penghentian perang dari Mayor Wironegoro komandan pasukan Kraton di Melati (Sleman). Kyai Mojo setuju, karena Mayor Wironegoro adalah teman seperguruannya di Pesantren Kalang. Sedangkan Kyai Barnawi pernah sakit hati kepada Diponegoro yang menurunkan pangkatnya dari Penghulu menjadi modin. Kemudian ia mbalelo. Pertemuan di Melati terjadi pada 31 Oktober 1828. Kyai Mojo meminta beberapa syarat untuk menghentikan perang. Wironegoro menyanggupi, namun pertemuan tidak menghasilkan kesepakatan. Kyai Mojo menulis surat kepada Diponegoro yang berada di Pengasih. Diponegoro amat marah, memerintahkan memanggil kembali Kyai Mojo. Perbuatan Kyai Mojo dinilai sebagai perbuatan orang yang takut mati,

Universitas Pertahanan Indonesia

menghina para rekan-rekannya yang gugur dalam perang sabil. Dari Melati rombongan Kyai Mojo menuju Pajang, secara diam-diam diikuti oleh pasukan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela. Pada dinihari tanggal 11 November 1828, pasukan Le Bron menyergap dan menangkap Kyai Mojo. Kyai Mojo kemudian dibawa ke Salatiga. Penangkapan Kyai Mojo yang diperkirakan oleh de Kock mempunyai pengaruh terhadap jalannya perang, tidak menjadi kenyataan. Sudah lama Kyai Mojo, ditempatkan di luar jajaran kepemimpinan perang. Tinggal seorang lagi yang dianggap center of gravity peperangan, Alibasah Sentot Prawirodirjo. Alibasah adalah pangkat tertinggi (Jenderal ?) dalam jajaran Angkatan Perang Diponegoro, yang kemudian disusul dengan Basah, Dullah dan Seh dan Sentot adalah Panglima Tentara (Senopati) ing Lapangan. Pendekatan terhadap Alibasah Sentot melalui seorang seorang spion, Kapten Arab, bernama Seh (Amirul Arabi) Akhmad al-Ansori (tertulis dalam huruf Jawa Tuwan Seh Amirul Karbisakmadul Anjari). Dari benteng Cengkawak, spion ini mengirim surat kepada Sentot yang memberitahukan bahwa Kyai Mojo telah tertangkap. Jawaban Sentot dengan keras menolak ajakan menghentikan perang, dan meminta Ansori dan Pangeran Arya Blitar ke luar dari kekuasaan Belanda. Dan menantang Pangeran Kusumayuda, pimpinan pasukan Kraton Solo. Mengenai tertangkapnya Kyai Mojo, Sentot lebih tahu: Yen Kyai Guru ing Maja kacepeng ing Welandi wonten ing Sela, punika paman menggah Kyai Guru ing Maja sampun boten kangge, lajeng kabucal dhateng ing tanah Pajang, kang kautus bucal abdi dalem kanca Temenggung kalih. (ARA, Arsip Koleksi H.M. de Kock, Serie 14 Volgnr. 6). Jenderal de Kock tidak berputus asa. Hubungan dengan Sentot tidak diputuskan. Kyai Hajali (Gozali) adik Kyai Mojo diperintahkan menemui Sentot. Kyai Hajali bersama Kapten Roeps berhasil menemui Alibasah Sentot di desa Kalibondol (Kulon Progo). Ternyata di tempat itu telah

berkumpul para pimpinan pasukan Diponegoro. Rupanya Sentot memanggil para komandan pasukannya, yang diberi wewenang untuk menentukan terus berperang atau berdamai. Dalam pertemuan tersebut, Sentot meminta Nahuijs, Komisaris Kraton Surakarta, ikut berunding. Nahuijs diperintah oleh de Kock menuju benteng Gamplong. Ia tiba pada Januari 1829. Kedatangan Nahuijs dipertanyakan oleh Sentot, apakah ia mengatas namakan orang-orang Solo atau pemerintah. Sentot sangat membenci orang-orang Solo, terutama Pangeran Kusumayuda, komadan pasukan Kraton Solo, yang berada di Bagelen, sering kali bertindak brutal, membakar desa-desa yang diperkirakan sebagai pangkalan pasukan Sentot. Kapten Roeps yang datang ke markas Sentot ditahan sebagai sandera. Sentot menuntut agar perundingan dilakukan dengan Nahuijs saja, ditolak oleh de Kock. Nahuijs dilarang bertemu dengan Sentot, selama Roeps belum dibebaskan. Sentot menulis surat kepada Nahuijs yang isinya sangat singkat. Sentot ingin bertemu dengan Nahuijs di Kalibondol pada pukul 10 pagi. Nahuijs tidak hadir tetapi Roeps dibebaskan. Setibanya di Gamplong, Roeps menyarankan kepada de Kock agar perundingan dihentikan. De Kock marah besar atas gagalnya perundingan. Hanya Tuhan dan senjata kita yang akan menghukumnya (Nahuijs, I, 1835, 271). Seminggu kemudian de Kock sendiri memprakarsai perundingan. Ia menulis surat kepada Sentot lengkap dengan gelarnya, menawarkan janji damai di seluruh medan Pajang, Mataram dan Bagelen. Tanpa diduga, surat de Kock mendapat jawaban positif dari Sentot dan menawarkan jangka waktu perundingan selama tiga bulan. Perundingan direncanakan di desa Turus, tetapi yang berunding bukan Sentot tetapi Pangeran Pakuningrat. Diponegoro setelah mempelajari secara cermat surat de Kock, tidak mengijinkan Sentot atau Pakuningrat datang berunding di Turus. Karena dalam suratnya, de Kock hanya ingin membicarakan tiga hal saja, yaitu, damai, berunding atau melanjutkan perang. (De Stuers, 1847, 184). Pihak Diponegoro

Universitas Pertahanan Indonesia

melakukan redislokasi pasukan, demikian pula Jenderal de Kock. Sejak Agustus 1829, pasukan Diponegoro mulai terdesak di semua medan. Diponegoro dan Sentot mengkonsentrasikan kekuatannya di bukit sekitar Selarong di desa Siluk (Selo). Desa ini dikepung dari segala penjuru dengan kekuatan tiga kolone. Pada 17 September 1829, terjadi pertempuran yang menentukan (decisive battle) yang dipimpin oleh Diponegoro dan Sentot. Diponegoro meloloskan diri ke arah barat dan Sentot ke arah selatan ke Imogiri. Sasaran pada spion beralih ke Pangeran Mangkubumi. Kapten Bauer menerima laporan dari spionnya, Pangeran Mangkubumi telah bertemu dengan Diponegoro di Kalibeko. Mangkubumi menolak melanjutkan perang. Pada spion terus membuntuti perjalanan Sentot atas perintah de Kock. Akhirnya dengan perantara Pangeran Notoprojo, Sentot menyatakan bersedia menghentikan permusuhan dengan tujuh syarat. Kesempatan yang baik ini ditangkap oleh de Kock. Semua syarat yang diajukan dipenuhi. Sentot beserta pasukannya yang berkekuatan 600 orang menyatakan menyerah pada 17 Oktober 1829. Pada 24 Oktober 1829, di Yogyakarta diadakan upacara resmi penyerahan Alibasah Sentot. (ARA, Arsip Koleksi, H.M. de Kock. Serie 14, Volgnr 9, E.S. de Klerck V, 1908, 45). Tiga minggu setelah pertempuran Siluk, para spion melaporkan bahwa Diponegoro berada di desa Kemiri (Bagelen). Jenderal de Kock mengirim sejumlah spion, untuk membujuk Diponegoro agar mengakhiri perang. Akhirnya Diponegoro setuju mengakhiri perang dengan berunding. Pertempuran senyap berakhir bersama dengan kedatangan Diponegoro di Remokawal pada 16 Februari 1830.

lawan (kontra intelijen) yang disebut di sini sebagai pertempuran senyap. Pertempuran senyap antara kedua belah pihak berakhir seimbang. Para spion NOIL yang telah bekerja keras, tidak mampu menangkap tokoh tokoh yang menjadi center of gravity perang, baik melalui pertempuran gegap gempita maupun pertempuran senyap.

DAFTAR REFERENSI Arsip [1] ARA, Arsip Koleksi H.M. de Kock, Serie 14 [2] ARA, Arsip Koleksi H.M. de Kock, Serie 14 Volgnr. 6 [3] ARA, Arsip Koleksi, H.M. de Kock. Serie 14, Volgnr 9, Buku [4] Beaufre, Andr General d'Arme, An Introduction to Strategy, New York, 1965, Frederick A. Praeger. [5] Diponegoro, Babad Dipanegara ing nagari Ngayogyakarta Adiningrat, jilid I dan II (salin aksara Ny. Dra. Ambaristi dan Lasman Marduwiyota), Jakarta, 1983, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. [6] Klerck, E.S., de, De Java Oorlog van 1825-30, Batavia, jilid IV (1905), jilid V (1908), jilid VI (1909), Landsdrukkerij. [7] Louw, P.J.F., De Java Oorlog van 182530, jilid I, 1894, jilid II, 1897, jilid III, Batavia, 1904, Landsdrukkerij. [8] Nahuijs, Verzameling van Officielle Rapporten Betreffende den Oorlog op Java in de jaren 1825-1830, jilid I, Deventer, 1835, M. Ballot. [9] Weitzel, A.W.P., De Oorlog op Java van 1825 tot 1830, jilid I (1852) jilid II (1853), Breda, 1855, Broese en Comp.

KESIMPULAN Dalam perang peranan spion atau spioen sebagai aparat dari operasi intelijen dari kedua belah pihak sangat mempengaruhi jalannya perang. Diponegoro dan para spioen anak buahnya tercatat dalam sejarah telah sukses menandingi operasi intelijen

Universitas Pertahanan Indonesia