KMB 1949

Delegasi resmi RI untuk mendapatkan pengakuan dunia sejak proklamasi Kemerdekaan diketuai oleh H.A. Salim, Wakil Menteri Luar Negeri. Kunjungan ini menghasilkan perjanjian persahabatan RI dan Mesir (Juni, 1947). Bagi RI perjanjian ini adalah suatu dukungan moral yang tinggi, karena dengan perjanjian ini kehadiran RI diakui secara resmi dalam pergaulan internasional. Mesir akan selalu dikenang sebagai negara yang pertama kali mengakui kedaulatan RI. Setelah itu menyusul perjanjian persahabatan dengan Suriah (3 Juli 1947) dan Lebanon (9 Juli 1947) serta Irak. Negara-negara Arab, India, Burma, Australia juga merupakan negara-negara yang paling awal bersimpati pada RI. Dengan berbagai usaha diplomatik dan kerjasama internasional mereka membela perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dukungan mereka dan keterampilan delegasi Indonesia memperjuangkan hak kedaulatan bangsa berhasil menyudutkan Belanda dalam percaturan politik internasional. India dan Australia berhasil membawa masalah Indonesia ke Sidang Dewan Keamanan PBB. Belanda bukan saja gagal total menjadikan perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai ³masalah dalam negeri´, tetapi juga harus menerima perantara internasional untuk menyelesaikan konflik dua bangsa. Pada tanggal 1 Agustus 1947, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menuntut semua pihak yang bertikai untuk menghentikan tembak-menembak. Pada pukul 00:00 kedua belah pihak mengeluarkan perintah ³penghentian tembak ³. Perdebatan tentang Indonesia di Dewan Keamanan memberi tempat kepada Indonesia tampil di forum PBB untuk memperjuangkan nasibnya. Berbagai usaha Belanda dan sekutunya (terutama Belgia) untuk menghalangi delegasi Indonesia gagal. Usaha mereka untuk mengikutsertakan wakil Kalimantan dan Negara Indonesia Timur juga gagal. Pada tanggal 25 Agustus Dewan Keamanan menerima dua resolusi, yang masing-masing diajukan oleh Cina dan Amerika Serikat. Resolusi pertama mengharuskan setiap konsulat negara asing yang berada di ³Batavia´ untuk melaporkan situasi di Indonesia, sedangkan resolusi kedua memutuskan agar Dewan Keamanan menawarkan ³jasajasa baiknya kepada kedua belah pihak´. Berdasarkan resolusi ini Dewan Keamanan membentuk ³komisi jasa baik´ (good offices commission), yang terdiri atas tiga negara. Sejak awal awal Belanda telah mempersulit tugas Komisi Tiga Negara. Pada tanggal 29 Agustus atau 4 hari setelah terbentuknya KTN, Belanda mengumumkan garis demarkasi baru yang dikenal sebagai ³Garis Van Mook´ (Van Mook Line) yang didasari dengan argumen bahwa daerah yang dianggap sebagai wilayah kekuasaan Belanda adalah yang berada di belakang pospos terdepan pasukan KNIL/KL. Padahal di belakang pos-pos yang merupakan benteng-benteng terpisah tersebut pasukan TNI dan kekuatan RI lainnya cukup leluasa untuk beroperasi. Konsep ³Garis Van Mook´ ditolak mentah-mentah oleh RI. Pada tanggal 27 Oktober 1947, Komisi Tiga Negara yang terdiri atas wakil Belgia (Paul van Zeeland), Australia (Richard Kirby) dan Amerika Serikat (Prof. Graham) mendarat di Jakarta. Konflik dengan Belanda selanjutnya dibawah pengawasan internasional. Untuk menengahi persengketaan tersebut KTN mengajak kedua belah pihak untuk berunding di ³wilayah netral´ yakni di kapal perang milik Amerika Serikat US Renville yang sedang berlabuh di Teluk Jakarta. Delegasi RI dipimpin langsung oleh PM Amir Syarifuddin, sedangkan delegasi

Anggota KTN juga datang ke Bangka mengunjungi pemimpin Republik yang ditahan di sana. Pada tanggal 11 Desember 1948. pada tanggal 1 Januari 1950. Abdoelkadir Widjojoatmodjo. dibentuknya Pemerintahan Interim. Lewat tengah malam atau tanggal 19 Desember 1948 pagi. dan Norwegia. Pada tanggal 24 Januari 1948. Kuba. Belanda mengatakan bahwa tidak mungkinlagi dicapai persetujuan antara kedua belah pihak. Kuba. dan tidak akan berusaha untuk memperluas lebih dari yang secara de fakto diakui Belanda. Atas usul Amerika Serikat. Dari hasil ini tampak bahwa Amir Syarifuddin telah memberikan konsesi yang lebih besar dari Syahrir yang telah dijatuhkannya. Amerika Serikat. kecuali dua hal yang penting. Suasana perundingan melalui penengah KTN pada awal Desember 1948 meulai menemui jalan buntu. Pertama. sehingga kantong-kantong TNI yang berada di belakang ³garis´ tersebut harus dikosongkan. tetapi Belanda menjawab pada tanggal 18 Desember 1948. Jawa dan Madura. pukul 23:00 malam. Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang mengharuskan kedua belah pihak menghentikan permusuhan. Resolusi Dewan Keamanan PBB ini memberikan peluang baru bagi KTN untuk kembali aktif menangani Indonesia ± Belanda. pada tanggal 29 Januari 1948 Presiden Soekarno menunjukkan Wakil Presiden M. yang dikenal dengan istilah Aksi Militer Belanda II (2nd Dutch Military Action). bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan Persetujuan Renville. dilanjutkannya perundingan. Hatta sebagai Perdana Menteri dari kabinet persidentil. ³negara boneka´ Belanda telah bertambah jumlahnya mencakup wilayah Sumatra. Atas desakan Internasional itu pemerintah Belanda mulai melaksanakan move baru dengan mengunjungi Soekarno ± Hatta di Bangka dan menawarkan undangan agar Republik bersedia . Reaksi internasional atas serangan Belanda terhadap Republik pada tanggal 19 Desember 1948 sangat keras. ³Garis Van Mook´ diterima sebagai garis demarkasi. Timur Tengah dan Australia mengutuk serangan itu dan memboikot Belanda dengan cara menutu lapangan terbang mereka bagi pesawat Belanda. Hasil perundingan tidak jauh dari hal-hal yang telah disetujui dalam Persetujuan Linggar Jati. Atas usul India dan Birma. Kedua. tentara Belanda diterjunkan di lapangan terbang Maguwo. Akibatnya. partai pendukungnya juga meninggalkannya. dan diserahkannya kedaulatan kepada Pemerintah Indonesia Serikat. Dalam sidangnya pada tanggal 22 Desember 1948 Dewan Keamanan PBB memerintahkan penghentian tembak menembak kepada tentara Belanda dan Republik. Tiongkok. ditariknya tentara Belanda dari seluruh Indonesia. Konferensi Asia mengenai Indonesia diadakan di New Delhi pada tanggal 20 Desember 1949.Belanda diketuai oleh R. Pada tanggal 23 Januari 1948. Negara-negara Asia. yang antara lain menuntut dipulihkannya Pemerintah Republik ke Yogyakarta. KTN mendesak Belanda agar para tawanan dibebaskan. pada tanggal 28 Januari 1949. Konferensi Asia di New Delhi mengirimkan resolusi kepada Dewan Keamanan PBB. dan diserahkannya kedaulatan kepada Indonesia pada waktu yang disepakati. Empat hari kemudian Wakil Presiden Mohammad Hatta minta KTN untuk mengatur perundingan dengan Belanda. Kabinet Amir Syarifuddin mengembalikan mandatnya. dan Norwegia mendesak Dewan Keamanan untuk membuat resolusi yang mengharuskan dilanjutkannya perundingan. Atas desakan Parta Masyumi. dipulihkannya pemerintah pusat Republik Indonesia ke Yogyakarta.

Sedangkan delegasi BFO dipimpin oleh Sultan Hamid dari Pontianak dan Anak Agung dari NIT. Karena penghentian tembak-menembak antara kedua belah pihak harus mulai berlaku sejak 11 Agustus untuk seluruh wilayah Jawa. telah tiba di Jakarta.ikut serta dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Pada tanggal 1 Agustus 1949 Rapat gabungan komisi militer (Republik ± Belanda ± BFO dan UNCI) bersepakat untuk segera menghentikan permusuhan. Pada tanggal 3 Agustus 1949 pukul 8 malam. Pada pertemuan ini disepakati pembentukan Panita Persiapan Nasional yang bertugas menyelenggarakan suasana tertib sebelum dan sesudah berlangsungnya Konferensi Meja Bundar. Pada saat yang bersamaan Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Indonesia. Soekarno ± Hatta berpendirian bahwa perundingan baru bisa diadakan setelah Pemerintah Republik dikembalikan ke Yogyakarta. Setelah hampir tiga minggu berunding. maka para komandan lapangan harus pula segera mengadakan pembicaraan baik melalui Panita Bersama Pusat. Merle Cochran dari KTN bertindak sebagai penengah. maka pada tanggal 7 Mei 1949 kedua delegasi sepakat untuk mengeluarkan pernyataan masing-masing pihak. dan 17 Agustus 1949 untuk Sumatra. Sementara itu tanggal 23 Maret 1949 KTN yang diminta Dewan Keamanan PBB agar membantu kedua belah pihak untuk melakukan perundingan berdasarkan resolusi tanggal 28 Januari 1949. sehingga memerlukan kehadiran Mohammad Hatta dari Bangka dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogyakarta. Dua hari kemudian delegasi Republik yang dipimpin Mr. Lovink. yang kemudian dikenal sebagai Pernyataan Roem-Royen (Roem-Royen Statement). Pendekatan antara Pemimpin Republik dam BFO sejak menjelang dilaksanakannya Perundingan Roem-Royen dan kontak-kontak menjelang dan setelah Pemerintah Repbulik kembali ke Yogya. mengadakan gencatan senjata dan mengembalikan kota-kota yang telah diduduki Belanda ke tangan Republik. Masalah terpenting dari penyataan itu adalah kesediaan Belanda untuk mengembalikan Pemerintah Republik ke Yogyakarta. telah membuka jalan untuk mengadakan Konferensi Inter Indonesia. untuk mengatur segi-segi teknis penghentian tembak-menembak. maupun Komite Daerah. Presiden Soekarno memerintahkan Angkatan Perang RI untuk menghentikan tembak-menembak dengan tentara Belanda. Setelah Konferensi Yogya. lagu kebangsaan adalah Indonesia Raya. Konferensi berlangsung yang dari tanggal 20 Juli hingga 22 Juli 1949 menyepakati bahwa Negara Indonesia Serikat akan diberi nama Republik Indonesia Serikat. Delegasi RI ke Konferensi Inter Indonesia terbentuk tanggal 18 Juli 1949 dipimpin oleh Wakil Presiden/PM Mohammad Hatta. diteruskan dengan Konferensi Inter Indonesia II yang dimulai sejak 31 Juli s/d 2 Agustus 1949 bertempat di Gedung Pejambon. Diputuskan juga draf awal UUD Republik Indonesia Serikat yang akan dibicarakan dalam KMB. Perundingan berjalan alot. . mengumumkan hal yang sama melalui radio di Jakarta. Mohammad Roem bertemu dengan delegasi Belanda dibawah Van Royen di Hotel Des Indes. Merah Putih adalah bendera kebangsaan. Jakarta. bahasa Nasional adalah Bahasa Indonesia dan 17 Agustus adalah Hari Kemerdekaan. Jakarta. melalui RRI.

yakni: y y y Piagam Penyerahan Kedaulatan Piagam Uni-Nederland dengan lampiran persetujuan Pemerintah Belanda dan Pemerintah Republik Indonesia Serikat Persetujuan Peralihan/Perpindahan yang memuat peraturan-peraturan yang bertalian dengan penyerahan kedaulatan Disamping itu juga dibahas masalah-masalah bilateral dan domestik yang serius. Hal lengkap KMB disampaikan Perdana Menteri Mohammad Hatta pada Sidang Pleno KNIP tanggal 6 hingga 15 Desember 1949. van Maarseveen. Suasana baru telah mulai dirasakan. 10 yang berisi mengenai Induk Persetujuan KMB dan masalah kedaulatan dari Belanda kepada RIS. Konferensi yang berlangsung dari tanggal 23 Agustus 1949 hingga 2 November 1949 ini diikuti pula oleh UNCI. New Page 3 Dua undang-undang yang disetujui KNIP adalah Undang-Undang No. Tanggal 4 Agustus 1949 Presiden Soekarno mengangkat delegasi Republik Indonesia untuk Konferensi Meja Bundar yang dipimpin oleh Mohammad Hatta. 11 berisi mengenai draf final Konstitusi Republik Indonesia Serikat.H. SEdangkan UndangUndang No. berisi tentang negara Repbulik Indonesia Serikat memegang kedaulatan atas seluruh wilayah. dan bahwa alat perlengkapan RI disumbangkan kepada RIS untuk menegakkan kedaulatannya. De Javaansche Bank tetap diakui sebagai Bank Sentral. Dimana-mana mereka disambut rakyat dengan gembira dan penuh perasaan haru. Pada tanggal 23 Oktober 1949 Badan Pekerja KNIP telah menerima keterangan pemerintah mengenai pembicaraan dalam sidang-sidang KMB yang disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri Sri Sultan Hamengkubuono IX. Rakyat selanjutnya dapat merayakan peringatan HUT RI tanpa rasa takut. Intergrasi KNIL ke dalam TNI. 62 tidak setuju. Maklumat KNIP diumumkan Presiden RI pada tanggal 14 Desember 1949. PErsetujuan KNIP itu diberikan dalam dua bentuk. Dengan penhentian tembak-menembak kehidupan ekonomi mulai bergerak kembali. KNIP menerima hasil KMB dengan 226 setuju. Pada hakekatnya KMB menghasilkan tiga isu utama persetujuan. dan 31 suara blangko. tentara Belanda mulai ditarik. TNI mulai masuk kota. .dibantu oleh PBB/UNCI. Masalah Irian Barat akan dibiarkan untuk sementra. Delegasi BFO dipimpin oleh Sultan Hamid dari Pontianak. yakni ³satu tahun´. dan Delegasi Belanda dipimpin oleh Mr. J. Pelaksanaan KMB terus dipantau oleh Badan Pekerja KNIP. Sambil menunggu hasil perundingan Konferensi Meja Bundar. Semua hutang bekas Hindia Belanda menjadi tanggung jawab nagara Indonesia Serikat. Kedatangan Bung Karno dan para pemimpin lainnya di Jakarta mulai dinantikan. yakni sebuah maklumat dan dua buah undang-undang.

Sei Sultan Hamengkubuwono IX menerimanya dari Wakil Mahkota Belanda A.H. Soekarno dan WAkil PResiden. Assaat sebagai pejabat (Acting) Presiden RI yang tetap berkedudukan di Yogyakarta. Republik Indonesia dalam status sebagai negara bagian RIS dikenal juga sebagai RI Yogyakarta dengan dr. Pada tanggal 16 Desember dewan ini memilih calon tunggal Ir. Sedangkan di Jakarta wakil RIS. Pada tanggal 15 Desember 1949. sebagaimana diharuskan oleh KMB. Upacara dilaksanakan di dua tempat secara bersamaaan pada tanggal 27 Desember 1949. Kraton Kesultanan Yogyakarta para tanggal 17 Desember 1949. yang tergabung dalam BFO menandatangani Piagam Konstitusi Republik Indonesia Serikat. Pada tanggal 14 Desember 1949 delegasi RI dan delegasi negara-negara bagian. Dewan ini diketuai oleh Mr. maka untuk melaksanakan fungsinya di Negara Republik Indonesia. ditunjuk Mr. Selanjutnya Presiden Soekarno secara resmi menunjuk Drs. Pada tanggal 20 Desember Kabinet RIS yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta dilantik. maka ³penyerahan kedaulatan´ dari tangan Belanda kepada RIS sebagaimana diatur dalam KMB dapat dilaksanakan. Dengan piagam ini resmilah pula negara-negara tersebut menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat. Abdul Halim sebagai Perdana Menteri. Karena Presiden RI. . Soekarno sebagai Presiden RIS. Mohammad Hatta menduduki jabatan barunya dalam RIS. Dengan telah selesainya pembentukan RIS dan kabinetnya. Pelantikan dilaksanakan di Siti Hinggil.J Lovink.Persetujuan KNIP atas hasil KMB melancarkan jalan bagi terbentuknya Republik Indonesia Serikat. Mohammad Hatta sebagai formatur kabinet. Pemerintah RIS menunjuk Perdana Menteri Mohammad Hatta untuk memimpin delegasi RI ke negeri Belanda untuk menerima naskah penyerahan kedaulatan langsung dari Ratu Yuliana. Dewan Pemilih Presiden RIS dibentuk. Mohammad Roem.