Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

RANGKAIAN LISTRIK





TEGANGAN, ARUS DAN HAMBATAN


Nama : Angga Reza Fardana
N I M : 03061004056
Group : I
Anggota : 1. Desi Puspika [03061004119]
2. Eko Muharto [03061004007]
3. Nurdonas [03061004031]
4. Reza Rhendika [03061004073]
5. Walas Marari [03061004074]

Nama Asisten : Syarifudin
Tanggal Praktikum : Selasa, 18 Desember 2007



LABORATORIUM DASAR ELEKTRONIKA
DAN RANGKAIAN LISTRIK
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2007/2008
PERCOBAAN I


1. Judul Percobaan: Tegangan, Arus dan Hambatan

2. Tujuan
y Mengukur tegangan dan arus dari suatu rangkaian tertutup.
y Menganalisa rangkaian berdasarkan hukum Kirchoff Arus dan Kirchoff
Tegangan.

3. Daftar Alat
y Modul EEC470
y Multimeter
y Power Supply DC
y Kabel penghubung (jumper)

4. Pendahuluan
Tegangan adalah beda potensial di antara dua titik yang dihasilkan oleh 1
joule perpindahan 1 coulomb muatan dari satu titik ke titik lainnya (1 volt = 1
joule/coulomb). Antara titik A dan B yang memiliki perbedaan tegangan
dibedakan dengan mengatakan bahwa titik yang memiliki potensial lebih tinggi
mempunyi polaritas positif (+) dibandingkan titik lain, sedangkan titik berikutnya
dikatakan mempunyai polaritas negatif (-). [Modul Praktikum RL, hal. 1]
Beda potensial adalah kerja yang diperlukan (dengan sumber dari luar)
untuk membawa satu satuan muatan positif dari suatu titik ke titik yang lain di
dalam medan listrik. Secara matematis dirumuskan:


Bila V
AB
menyatakan beda potensial antara titik A dan B merupakan kerja
yang diperlukan untuk membawa satu satuan muatan dari titik B ke A, maka
untuk menentukan V
AB
, B merupakan titik awal dan A merupakan titik akhir.
Jadi, beda potensial antara titik A dan B adalah:


Jika V
AB
positif, kerja harus dilakukan untuk membawa satu satuan
muatan positif dari B ke A, maka A disebut berada pada potensial yang lebih
tinggi dari B. Bila potensial pada titik A adalah V
A
dan di titik B adalah V
B
,
maka:


Misalkan, sebuah muatan Q
1
kita letakkan pada suatu titik dalam sebuah
ruangan yang hanya berisikan muatan Q
1
. Maka, pada setiap muatan selanjutnya,
sesuai dengan Hukum Coulomb, akan selalu ada gaya bekerja di manapun muatan
ini kita letakkan dalam ruangan ini.
Jadi pada setiap titik dalam ruang, ada gaya yang bekerja pada suatu
muatan listrik. Oleh karena itu dalam ruangan tadi dapat disebut terdapat medan
listrik, dan medan ini dicirikan oleh adanya gaya yang bekerja pada setiap muatan
listrik yang diletakkan di dalamnya. Dan sebagai ukuran untuk medan, digunakan
besaran kuat medan yang didefinisikan sebagai:


Jadi, kuat medan adalah gaya per satuan muatan positif. Dan karena Q
merupakan besaran skalar, arah E akan sama dengan arah F.

a. Arus
Dalam suatu bahan, jika ada pengaruh dari luar sehingga menyebabkan
elektron-elektron bergerak ke satu arah, maka dikatakan terjadi arus listrik
yang arahnya berlawanan dengan arah gerakan elektron-elektron tadi. Arus
listrik didefinisikan sebagai kecepatan aliran muatan listrik. Arus sebesar 1
ampere adalah aliran muatan listrik sebanyak 1 coulomb/detik. [Prinsip Dasar
Elektroteknik, hal. 5]. Dalam pernyataan matematis ditulis sebagai:


Unit satuan dari arus adalah ampere yang direpresentasikan dari rata-rata
aliran elektron. Untuk menghasilkan arus 1 ampere dibutuhkan 628 x 10
16

elektron yang mengalir melewati satu titik dari suatu rangkaian.[Modul
Praktikum Rangkaian Listrik, hal. 2]

Pada gambar di bawah ini, diilustrasikan grafik hubungan perubahan tegangan
terhadap waktu untuk arus searah. Untuk ujung A tidak ada perubahan
tegangan terhadap waktu, demikian pula untuk ujung B.


Jika kedua kutub baterai diubah terhadap waktu, akan didapatkan arus yang
mengalir secara bergantian antara kutub negatif dan positifnya. Arus yang
demikian biasa disebut sebagai arus bolak-balik atau alternating current
(AC). Hal ini diilustrasikan pada gambar berikut.


b. Tegangan
Tegangan adalah beda potensial antara dua titik yang mempunyai perbedaan
jumlah muatan. Tegangan didefinisikan sebagai energi per satuan muatan
listrik. Muatan 1 coulomb akan memerlukan atau melepaskan energi sebesar 1
joule dalam perjalanannya melalui tegangan 1 volt. [Prinsip Dasar
Elektroteknik, hal. 5]. Dalam pernyataan matematis ditulis sebagai:



Hukum Kirchoff adalah salah satu hukum yang sangat berhubungan dengan
rangkaian listrik. Ada dua hukum Kirchoff, yaitu tentang arus (Kirchoff
Current Law) dan tentang tegangan (Kirchoff Voltage Law).
HUKUM KIRCHOFF I : jumlah arus menuju suatu titik cabang sama
dengan jumlah arus yang meninggalkannya.


HUKUM KIRCHOFF II : dalam rangkaian tertutup, jumlah aljabar
GGL (e) dan jumlah penurunan potensial sama dengan nol.


c. Hambatan
Jika luas penampang A yang diperhatikan cukup kecil dan tegak lurus ke arah
J (misalnya panjang konduktor besar sekali dibanding dengan luas
penampangnya), maka J dapat dianggap sama pada seluruh bagian penampang.
Sehingga:


Maka untuk beda potensial berlaku:


Dan jika integrasi diambil sepanjang suatu garis gaya:






Karena untuk arus yang konstan, I sama pada seluruh penampang. Jadi dapat
dituliskan:


Terlihat bahwa faktor yang berupa integrasi hanya tergantung dari
konduktornya dan merupakan sifat khusus konduktornya, dan biasa disebut
sebagai tahanan (R) atau resistansinya. Jadi dapat dituliskan:

Jadi, beda potensial antara dua titik dalam konduktor yang dialiri arus adalah
sebanding dengan besarnya arus dikalikan dengan tahanan konduktornya.
Dengan membalik rumus di atas didapat juga bahwa:


atau:


dimana:

atau
Semua jenis alat atau piranti yang memiliki sifat ini disebut resistor. Resistansi
sebanding dengan panjang kawat logam (L) dan berbanding terbalik dengan
luas penampang melintang A, dengan kata lain:


Dimana dikenal sebagai resistivitas dari logam itu. [Modul Praktikum
Rangkaian Listrik, hal. 2]

Prinsip resistansi pada resistor ditemukan oleh George Ohm (1787-1854),
seorang ahli fisika bangsa Jerman. Tahanan bagian dalam ini dinamai
konduktansi. Satuan konduktansi ditulis dengan kebalikan dari ohm yaitu mho.
Berdasarkan penggunaannya, resistor dapat dibagi:
y Resistor biasa (fixed value), ialah sebuah resistor yang nilainya tidak dapat
diubah, jadi selalu tetap (konstan). Resistor ini biasanya dibuat dari nikel
atau karbon.
y Resistor berubah (variable), ialah sebuah resistor yang nilainya dapat
berubah-ubah dengan jalan menggeser atau memutar toggle pada alat
tersebut. Sehingga nilai resistor dapat kita tetapkan sesuai dengan
kebutuhan. Berdasarkan jenis ini kita bagi menjadi dua, potensiometer,
rheostat dan trimpot (trimmer potentiometer) yang biasanya menempel
pada papan rangkaian (Printed Circuit Board, PCB).
y Resistor NTC dan PTC. NTC (Negative Temperature Coefficient), ialah
resistor yang nilainya akan bertambah kecil bila terkena suhu panas.
Sedangkan PTC (Positive Temperature Coefficient), ialah resistor yang
nilainya akan bertambah besar bila temperaturnya mengecil.
y LDR (Light Dependent Resistor), ialah jenis resistor yang berubah
hambatannya karena pengaruh cahaya. Bila cahaya gelap nilai tahanannya
semakin besar, sedangkan cahayanya terang nilainya menjadi semakin
kecil.

5. Prosedur Percobaan
Buatlah rangkaian berikut ini pada modul EEC470.






Catatlah hasil pengukuran dengan mengunakan multimeter dan isilah tabel berikut
ini:
Resistor () Tegangan (volt) Arus (mA)
1K
2K2
470
332
680


6. Data Hasil Percobaan
a. Rangkaian I
R () V (V) I (mA)
Rab = 1 k -1,27 -1,29
Rbc = 800 -4,33 -5,49
Rbe = 2k2 9,11 4,19
Rde = 10 k 12,82 1,29
Ref = 320 1,73 5,49

b. Rangkaian II
R () V (V) I (mA)
Rab = 1 k 15,52 15,7
Rbc = 330 1,6 4,93
Rbe = 680 7,32 10,88
Rde = 470 -7,32 -15,84
Ref = 2k2 -10,71 -4,94

7. Pengolahan Data
a. Rangkaian I

1) Perhitungan tegangan (V) dan arus (I) masing-masing hambatan
Rab = 1000 ; Rbc = 800 ; Rbe = 2200 ; Rde = 10000 ; Ref = 320

Persamaan arus loop 1:
I



Persamaan arus loop 2:
I



Dengan mensubstitusi persamaan 2 ke 1, didapat:
I

A
mA
I

A
mA

Tegangan:
v

Rab

v
v

Rbc

v
v

Rbe

v
v

Rue

v
v

Ref

v

Arus:
Iab I

mA
Ibc I

mA
Ibe I

mA mA mA
Iue I

mA
Ief I

mA

2) Perhitungan kesalahan relatif untuk V dan I pada masing-masing
hambatan
Tegangan:




Arus:





b. Rangkaian II

1) Perhitungan tegangan (V) dan arus (I) masing-masing hambatan
Rab = 1000 ; Rbc = 330 ; Rbe = 680 ; Rde = 470 ; Ref = 2200
Persamaan arus loop 1:
I



Persamaan arus loop 2:
I



Dengan mensubstitusi persamaan 2 ke 1, didapat:
I

A
mA
I

A
mA

Tegangan:
v

Rab

v
v

Rbc

v
v

Rbe

v
v

Rue

v
v

Ref

v

Arus:
Iab I

mA
Ibc I

mA
Ibe I

mA mA mA
Iue I

mA
Ief I

mA

2) Perhitungan kesalahan relatif untuk V dan I pada masing-masing
hambatan
Tegangan:




Arus:






8. Tugas dan Jawaban Percobaan
Tugas: Hitung V & I dengan menggunakan Livewire!
a. Rangkaian I


R () V (V) I (mA)
Rab = 1 k -1,27 -1,27
Rbc = 800 -4,29 -5,36
Rbe = 2k2 8,99 4,09
Rde = 10 k 12,72 1,27
Ref = 320 1,72 5,36
Tabel Data Percobaan Livewire Rangkaian I

b. Rangkaian II


R () V (V) I (mA)
Rab = 1 k 15,48 15,48
Rbc = 330 1,60 4,84
Rbe = 680 7,24 10,64
Rde = 470 -7,28 -15,48
Ref = 2k2 -10,64 -4,84
Tabel Data Percobaan Livewire Rangkaian II


9. Analisa Hasil Percobaan
Pada percobaan ini, praktikan menguji keabsahan Hukum Kirchoff
tentang arus (Kirchoff Current Law) dan tegangan (Kirchoff Voltage Law) dengan
jalan mengukur tegangan dan arus pada masing-masing hambatan pada dua buah
rangkaian yang telah ditentukan.
Perbandingan nilai tegangan dan arus antara hasil perhitungan dengan
yang didapat melalui percobaan menghasilkan kesalahan relatif yang cukup kecil,
dan dapat dikatakan hampir sama. Menurut praktikan, perbedaan-perbedaan yang
tampak disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk toleransi komponen (resistor)
yang digunakan, fluktuasi tegangan pada sumber (power supply), hambatan
parasit pada kawat penghantar, pengaruh suhu sekitar, serta keakuratan alat ukur
yang dipakai (multimeter). Kesemua faktor ini secara langsung mempengaruhi
ketelitian dan keakuratan pengukuran, sehingga hasil yang didapat tidak akan
sama persis dengan hasil perhitungan teoritis.
Dalam percobaan ini, terbukti bahwa jumlah tegangan jatuh pada tiap-tiap
hambatan akan sama dengan tegangan sumber sesuai dengan bunyi Hukum
Kirchoff tentang tegangan. Pernyataan bahwa arus yang mengalir ke suatu cabang
akan sama dengan arus yang keluar dari cabang ternyata juga tidak bertentangan
dengan Hukum Kirchoff tentang arus. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa kedua hukum terbukti benar.
Selain melakukan percobaan secara langsung dengan menggunakan
modul EEC470, praktikan juga melakukan dua buah simulasi rangkaian yang
sama dengan menggunakan software Livewire. Hasil yang didapat dari simulasi
ternyata sama persis dengan yang didapat melalui perhitungan menggunakan
Hukum Kirchoff I & II. Hal ini membuktikan bahwa dengan menggunakan
Hukum Kirchoff I & II, kita dapat menentukan besarnya parameter-parameter
listrik dengan tepat. Hasil perhitungan ini kemudian dapat digunakan sebagai
referensi untuk menganalisis rangkaian yang sebenarnya.

10. Kesimpulan
1. Hukum Ohm digunakan sebagai basis dalam perumusan Hukum Kirchoff I &
II, dengan memanfaatkan kenyataan bahwa:

2. Pada sebuah rangkaian listrik, jumlah tegangan jatuh tiap-tiap beban akan
sama dengan tegangan sumber, atau secara matematis:

3. Pada sebuah rangkaian listrik, jumlah aljabar arus yang masuk pada suatu titik
(cabang) sama dengan jumlah aljabar arus yang keluar dari titik tersebut.
Secara matematis dirumuskan:


4. Analisis rangkaian akan lebih mudah jika menggunakan metode arus loop
(mesh current analysis) dan kemudian menentuan arah arus loopnya masing-
masing.
5. Tegangan jatuh pada tiap-tiap hambatan sama dengan perkalian antara arus
yang melewatinya dengan besar resistansi hambatan itu (sesuai bunyi Hukum
Ohm pada kesimpulan pertama).


Daftar Pustaka

Febdian.net. 2007. Arus Listrik. http://www.febdian.net. Disunting tanggal 15
Desember 2007.
Tim Laboratorium Dasar Elektronika dan Rangkaian Listrik. 2007. Modul Prakti-
kum Rangkaian Listrik. Palembang: Universitas Sriwijaya.
Zhanggischan, Zuhal M.Sc. EE. 2004. Prinsip Dasar Elektroteknik. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.

Anda mungkin juga menyukai