BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar menganjar merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral pembelajaran. Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebeh efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut. Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal

semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999). Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor

diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan. Tujuan pendidikan nasional seperti yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 2 tahuan 1989 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan

mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan bangsa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998: 3). Tujuan pendidikan nasional ini sangat luas dan bersifat umum sehingga perlu dijabarkan dalam Tujuan Institusional yang disesuaikan dengan jenis dan tingkatan sekolah yang kemudian dijabarkan lagi menjadi tujuan kurikuler yang

merupakan tujuan kurikulum sekolah yang diperinci menurut bidang studi/mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran (Purwanto, 1988 :2). Tujuan instruksional dijabarkan menjadi Tujuan Pembelajaran Umum dan kemudian dijabarkan lagi menjadi Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). Dalam mencapai Tujuan Pembelajaran Khusus pada mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar, khususnya di ………………………………… masih banyak mengalami kesulitan. Hal ini terlihat dari masih rendahnya nilai mata pelajaran IPA dibandingkan dengan nilai beberapa mata pelajaran lainnya, mata pelajaran IPA peringkat nilainya menempati urutan paling bawah dari enam mata pelajaran yang diebtanaskan, bertitik tolak dari hal tersebut di atas perlu pemikiranpemikiran dan tindakan-tindakan yang harus dilalukan agar siswa dalam mempelajari konsep-konsep IPA tidak mengalami kesulitan, sehingga tujuan pembelajaran khusus yang dibuat oleh guru mata pelajaran IPA dapat tercapai dengan baik dan hasilnya dapat memuaskan semua pihak. Oleh sebab itu penggunaan metode pembelajaran dirasa sangat penting untuk membantu siswa dalam memahami konsep-konsep IPA. Metode pembelajaran jenisnya beragam yang masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan, maka pemilihan metode yang sesuai dengan topik atau pokok bahasan yang akan diajarkan harus betul-betul dipikirkan oleh guru yang akan menyampaikan materi pelajaran.

Sedangkan

penggunaan

metode

eksperimen

diharapkan

dapat

meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sehingga dalam proses belajar mengajar itu aktivitasnya tidak hanya didominasi oleh guru, dengan demikian siswa akan terlibat secara fisik, emosional dan intelektual yang pada gilirannya diharapkan konsep perubahan benda yang diajarkan oleh guru dapat dipahami oleh siswa. Berdasarkan uraian dari latar belakang tersebut di atas maka dalam penelitian in memilih judul “Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas …………………………………. Tahun Pelajaran 2003/2004”.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar IPA dengan diterapkannya metode eksperimen? 2. Bagaimanakah pengaruh metode demostrasi terhadap motivasi belajar siswa?

C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode eksperimen.

2. Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode eksperimen.

D.

Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat:

1. Bagi siswa untuk meningkatkan pemahaman konsep IPA dengan metode eksperimen. 2. Bagi guru dapat memberikan tambahan pengayaan cara mengajar dengan bantuan metode demonstrasi sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapi dengan baik. 3. Bagi lembaga dapat dijadikan sebagai bahan masukan informasi tentang salah satu alternative cara pembelajaran IPA pada siswa dengan pemanfaatan metode pengajaran dalam mencapai tujuan intruksional.

E.

Batasan Masalah

1. Konsep IPA yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada pokok bahasan ……………….. 2. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. 3. Penelitian ini dilakukan pada siswa Kelas ……………………………………

1993: 120). . (KBBI. menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. sikap dan lainlain. 20 tahun 2000 tentang pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. tetapi perubahan dalam kebiasaan. Definisi Pembelajaran Pembelajaran adalah proses.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. berkembang daya pikir. cara. Sedangkan belajar adalah suatu peoses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik. Pasal 1 Undang-undang No. kecakapan. 1996: 14). Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993: 68) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. bertambah. berubah tingka laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (Soetomo.

Dengan asumsi tersebut lewat pengukuran yang teliti maka berbagai peristiwa alam yang akan terjadi dapat diprediksikan secara tepat. 2. Kualitas. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta. B. Metode ilmiah dan pengamatan ilmiah menekankan pada hakikat IPA. 4. Observasi dan Eksperimen.Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu. . artinya IPA itu selalu berkembang ke arah yang lebih sempurn dan penemuan-penemuan yang ada merupakan kelanjutan dari penemuan sebelumnya. 2002: 7) adalah sebagai berikut: 1. Secara rinci hakikat IPA menurut Bridgman (dalam Lestari. Hakikat IPA IPA didefiniksan sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara alam. 3. Progresif dan komunikatif. Ramalan (prediksi). merupakan salah satu cara untuk dapat memahami konsep-konsep IPA secara tepat dan dapat diuji kebenarannya. tetapi juga oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. merupakan salah satu asumsi penting dalam IPA bahwa misteri alam raya ini dapat dipahami dan memiliki keteraturan. pada dasarnya konsep-konsep IPA selalu dapat dinyatakan dalam bentuk angka-angka.

Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku. keterampilannya. Proses Belajar Mengajar IPA Proses dalam pengertian disini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling berhubungan (inter independent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman. baik aspek pengetahuannya.Proses. 200: 5). Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingka laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam . maupun aspek sikapnya. dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA. tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah dalam rangkan menemukan suatu kebernaran. dari tidak mengerti menjadi mengerti. Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggungjawab moral yang cukup berat. C. kebenaran yang ditemukan senantiasa berlaku secara umum. (dalam Usman. Universalitas. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa. 2000: 5). 5. Dari penjelasan di atas. dimana konsep-konsepnya diperoleh melalui suatu proses dengan menggunakan metode ilmiah dan diawali dengan sikap ilmiah kemudian diperoleh hasil (produk).

Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar IPA meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan. Proses belajar mengajar merupakan suatu inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegangn peran utama. pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi program tindak lanjut (dalam Suryabrata. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Prestasi Belajar IPA . 1997: 18). Sedangkan menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam. yaitu rentetan kegiatan perencanaan oleh guru. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar (Usman. D. proses belajar mengajar dapat mengandung dua pengertian. 2000: 4).kegiatan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar. pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran IPA.

maka dapt diartikan bahwa prestasi belajar IPA adalah nilai yang dipreoleh siswa setelah melibatkan secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan). . Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah. dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. prestasi belajar adalah hasil yang dicapai (dilakukan. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik.Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. dekerjakan). Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar. Menurut Poerwodarminto (1991: 768). hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran. afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses belajar mengajar IPA. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat diketahui dengan megadakan penilaian tes hasil belajar. Sejalan dengan prestasi belajar.

maka segala sesuatu memerlukan eksperimentasi. 2. Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mamapu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Dengan eksperimaen siswa menemukan bukti keberanaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya. di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal. Begitu juga dalam cara mengajar guru di kelas digunakan teknik eksperimen.E. Juga siswa dapat terlatih dalam cra berpikir yang ilmiah (scientific thinking). 3. atau mungkin hasilnya tidak membahayakan. Kemudian dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsetrasi dalam mengamati proses percobaan. Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan. maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap siswa. maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih. Yang dimaksud adalah salah satu cara mengajar. mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya. kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaulasi oleh guru. Agar penggunaan teknik eksperimen itu efisien dan efektif. Metode Eksperimen Karena kemajuan teknologi dan ilmu pengertahuan. Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan. . maka perlu adanya waktu yang cukup lama. perlu pelaksana memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1.

sehingga masalah itu tidak bisa diadakan percobaan karena alatnya belum ada. 4. Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksperimen. pengalaman serta keterampilan. 5. Bila siswa akan melaksanakan suatu eksperimen perlu memperhatikan prosedur sebagai berikut: 1. Kepada siswa perlu diterangkan pula tentang: dalma percobaan. Urutan yang akan ditempuh sewaktu eksperimen . maka perlu diberi petunjuk yang jelas. Perlu dimengerti juga bahwa tidak semua masalah bisa dieksperimenkan. seperti masalah yang mengenai kejiwaan. 2. beberapa segi kehidupan sosial dan keyakina manusia. berlangsung. sebab mereka disamping memeproleh pengetahuan. Agar tidak mengalami kegagalan siswa perlu Alat-alat serta bahan-bahan yang akan digunakan mengetahui variable-variabel yang harus dikontrol dengan ketat. Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih. Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat. mereka harus mehami masalah yang akan dibuktikan melalui eksperimen. juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen itu.sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu.

Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa. Teknik eksperimen kerap kali digunkan karena memiliki keunggulan ialah: 1. 2. - Seluruh proses atau hal-hal yang penting saja yang Perlu menetapkan bentuk catatan atau laporan berupa uraian. sebelum ia membuktikan kebenarannya. perhitungan. sehigga akan mengubah sikap mereka yang tahayul. 4. mendiskusikan ke kelas. hal mana itu sangat dikehendaki oleh kegiatan mengajar belajar yang modern. Siswa dalam melaksanakan proses sendiri kebenaran sesuatu teori. grafik dan sebagainya. Mereka lebih aktif berpikir dan berbuat. dan mengavaluasi dengan tes atau sekedar Tanya jawab. dan tidak mudah percaya pula kata orang. 3.akan dicatat. ialah peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal. Selama eksperimen berlangsung. di mana siswa lebih banyak aktif belajar sendiri dengan bimbingan guru. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen. 3. guru harus mengawasi pekerjaan siswa. . Dengan eksperimen siswa berlatih menggunanakan metode ilmiah dalam menghadapi segala masalah. sehingga tidak mudah percayha apdda sesuatu yang belum pasti kebenarannya.

sehingga siswa itu akan meyerap dan mengendapkan mateti itu dengan lebih baik. Dalam proses belajar. 2000: 28). Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu. atau keadaan seserang atau organisme yang menyebabkan kesiapan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Pengertian Motivasi Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. . Motivasi Belajar 1. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motifmotif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman. motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.F.

2000: 29). karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. yaitu: a. Menurut Winata (dalam Erriniati. 2) Memberikan kebebasan dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok. Strategi tersebut adalah sebagai berikut: 1) Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa. 3.Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Djamarah (2002: 115). . apakah karena adanya ajakan. motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Macam-macam Motivasi Menurut jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua. 1994: 105) ada beberapa strategi dalam mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. suruhan. Motivasi Intrinsik Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam individu. atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar (Usman. 3) Memberikan banyak waktu ekstra bagi siswa untuk mengerjakan tugas dan memanfaatkan sumber belajar di sekolah.

Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. b. apakah karena adanya ajakan. Motivasi Ekstrinsik Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu. suruhan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar.4) Sesekali memberikan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya. Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik antata lain: 1) Kompetisi (persaingan): guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya. berusaha memperbaiki . Misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama dikelasnya (Usman. Sedangkan menurut Djamarah (2002: 117). motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. 5) Meminta siswa untuk menjelaskan hasil pekerjaannya. atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. 2000: 29).

2) Pace Making (membuat tujuan sementara atu dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar guru. Dengan demikian. tentu saja dengan bimbingan guru. kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri. Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. 6) Mengadakan penilaian atau tes. Makin jelas tujuan.hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain. Akan tetapi. guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha mandiri. hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut. 3) Tujaun yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakuakan sesuatu perbuatan. 5) Minat yang besar: Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar. sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. 4) Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas. bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan .

yang biasanya tidak sungkan-sungkan untuk memperhatikan apa yang dikerjakan oleh guru. mereka ini menyukai penyajian informasi yang runtut. Dari uraian di atas diketahui bahwa motivsi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari laur. mereka . semau gue.lisan. Mereka lebih suka menuliskan apa yang dikatakan guru. misalnya adanya persaingan. Sebagian siswa bisa belajar dengan sangat baik hanya dengan melihat orang lain melakukannya. Peserta didik kinestetik belajar terutama dengan terlibat langsung dalam kegiatan. barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa. Perserta didik visual ini berbeda dengan peserta didik auditori. Selama pelajaran. Mereka menggurulkan kemampuan untuk mendengar dan mengingat. mereka biasanya diam dan jarang terganggu oleh kebisingan. dan lain sebagainya. Gaya Belajar Kalangan pendidik telah menyadari bahwa peserta didik memiliki bermacam cara belajar. Jadi. Selama pelajaran. dan membuat catatan. Mereka cenderung impulsive. G. Biasanya. untuk mencapai nilai yang tinggi. dan kurang sabaran. mereka mungkin banyak bicara dan mudah teralihkan perhatiannya oleh suara atau kebisingan. Selama pelajaran.

auditori dan kinestik. Namun. . Cara mereka belajar boleh jadi tampak sembarangan dan tida karuan. Sehingga mereka mesti berupaya keras untuk memahami pelajaran bila tidak ada kecermatan dalam menyajikan pelajaran sesuai dengan ara yang mereka sukai. 22 diantaranya rata-rata dapat belajar dengan efektif selama gurunya mengahadirkan kegaitan belajar yang berkombinasi antara visual. pengajaran harus bersifat mulitsensori dan penuh dengan variasi. 8 siswa siswanya sedemikan menyukai salah satu bentuk pengajaran dibanding dua lainnya. Guna memenuhi kebutuhan ini. Grinder (1991) menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa. Tentu saja.mungkin saja gelisah bila tidak bisa leluasa bergerak dan mengerjakan sesuatu. hanya ada sedikit siswa yang mutlak memiliki satu jenis cara belajar.

(c) simultan terintegratif. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan.BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research). (b) penelitian tindakan kolaboratif. penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. . karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan. (a) guru sebagai penelitia. pengamatan. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti. tindakan. Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti. (d) administrasi social eksperimental. dan refleksi. sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun. kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa. 1997: 8) mengelompokkan penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif.

Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. 3. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober semester ganjil tahun pelajaran 2003/2004. Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tahun Pelajaran 2003/2004 pada pokok bahasan …….. Tempat. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas……………………………………. Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM. serta memperbaiki . Penelitian ini bertempat di…………………………………………. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu. Waktu Penelitian Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan..A. 2. B. Tahun Pelajaran 2003/2004. PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas.

Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut. Sedangkah menurut Mukhlis (2000: 5) PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkesinambungan. action (tindakan). dan reflection (refleksi). 2000: 3). yaitu penelitian tindakan.kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan (dalam Mukhlis. pengamatan. yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana). 1997: 6). observation (pengamatan). maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti. Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. tindakan. Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi. . sedangkan tujuan penyertaannya adalah menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis. 2000: 5). dan refleksi.

meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model eksperimen .Putar an 1 Refleksi Rencana Rencana awal/rancangan awal/rancangan Putar an 2 Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Rencana yang Rencana yang direvisi direvisi Rencana yang Rencana yang direvisi direvisi Putar an 3 Gambar 3. tujuan dan membuat rencana tindakan. 2. .1 Alur PTK Penjelasan alur di atas adalah: 1. Kegiatan dan pengamatan. termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah. Rancangan/rencana awal.

yaitu putaran 1. serta penilaian hasil belajar. melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. tujuan pembelajaran khusus. indikator pencapaian hasil belajar. peneliti mengkaji. 3. Observasi dibagi dalam tiga putaran. 2. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan. Masingmasing RP berisi kompetensi dasar. 2 dan 3. Refleksi. Rancangan/rencana yang direvisi. dan kegiatan belajar mengajar. dimana masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. 4. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: 1. Silabus Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas. C.3. berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. Lembar Kegiatan Siswa . Rencana Pelajaran (RP) Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran.

Tingkat kevalidan ini dapat dihitung dengan korelasi Product Moment: rxy = {N ∑ X N ∑ XY − ( ∑ X )( ∑Y ) 2 − (∑ X ) 2 }{N ∑Y 2 − ( ∑Y ) 2 } (Suharsimi Arikunto. Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Sehingga dapat ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima.Lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil eksperimen. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. kemudian penulis mengadakan analisis butir soal tes yang telah diuji validitas dan reliabilitas pada tiap soal. 4. 2001: 72) . Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan guru (objektif). Langkah-langkah analisi butir soal adalah sebagai berikut: a. digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep IPA pada pokok bahasan ………. Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang telah diujicoba. Validitas Tes Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Analisis ini digunakan untuk memilih soal yang baik dan memenuhi syarat digunakan untuk mengambil data.

c. 2001: 208) : Indeks kesukaran Dengan: P . Taraf Kesukaran Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal adalah indeks kesukaran. Reliabilitas Reliabilitas butir soal dalam penelitian ini menggunakan rumus belah dua sebagai berikut: r11 = 2r1 / 21 / 2 (Suharsimi Arikunto. Rumus yang digunakan untuk menentukan taraf kesukaran adalah: P= B Js (Suharsimi Arikunto.Dengan: rxy N ΣY ΣX ΣX2 : Koefisien korelasi product moment : Jumlah peserta tes : Jumlah skor total : Jumlah skor butir soal : Jumlah kuadrat skor butir soal ΣXY : Jumlah hasil kali skor butir soal b. 20001: 93) (1 + r1 / 21 / 2 ) Dengan: r11 r1/21/2 : Koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan : Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes Kriteria reliabilitas tes jika harga r11 dari perhitungan lebih besar dari harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliabel.

000 adalah mudah d.B Js : Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar : Jumlah seluruh siswa peserta tes Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut: Soal dengan P = 0. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks diskriminasi adalah sebagai berikut: D= B A BB − = PA − PB JA JB (Suharsimi Arikunto.000 sampai 0.300 adalah sukar Soal dengan P = 0.700 adalah sedang Soal dengan P = 0. JA . Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda desebut indeks diskriminasi. 2001: 211) Dimana: D : Indeks diskriminasi BA : Banyak peserta kelompok atas yang menjawab dengan benar BB : Banyak peserta kelompok bawah yang menjawab dengan benar JA : Jumlah peserta kelompok atas JB : Jumlah peserta kelompok bawah PA = BA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.701 sampai 1.301 sampai 0.

Teknik Analisis Data Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data.200 adalah jelek Soal dengan D = 0. observasi aktivitas siswa dan guru. yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.701 sampai 1. .000 sampai 0.000 adalah sangat baik D. E.400 adalah cukup Soal dengan D = 0. dan tes formatif. Metode Pengumpulan Data Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan belajar dengan metode eksperimen.401 sampai 0.700 adalah baik Soal dengan D = 0.201 sampai 0.PB = BB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar JB Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir soal sebagai berikut: Soal dengan D = 0. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.

dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: X = ∑X ∑N : X = Nilai rata-rata Σ X = Jumlah semua nilai siswa Σ N = Jumlah siswa Dengan 2. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut: . yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistic sederhana yaitu: 1. Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal.Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. 1994). Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa.

.belajar ∑Siswa x100 % BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal. dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. dan daya pembeda. Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan belajar dengan metode eksperimen. reliabilitas.P= ∑Siswa . data observasi berupa pengamatan pengelolaan belajar dengan metode eksperimen dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran. yang . Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang betul-betul mewakili apa yang diinginkan. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas.tuntas . taraf kesukaran.

13. 596. 6. 17. 3. 5. 21. 10. 9. 40.413. maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. 36.A. 3. 16. 26. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid 2. Untuk jumlah siswa (N = 23) dengan r (95%) = 0. 8. 39. Reliabilitas Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. 43. 22. 45 Soal Tidak Valid 1. 34. 23. 28. 24. 25. 35. 42. 29. Analisis Item Butir Soal Sebelum melaksanakan pengambilan data melalui instrumen penelitian berupa tes dan mendapatkan tes yang baik. 37. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syarat reliabilitas. 14. Tabel 4. 18. 31. Analisis tes yang dilakukan meliputi: 1. 38. Taraf Kesukaran (P) . 33. 41. 44. 7. 32. 30. 20. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. 46 2. 11. Uji coba dilakukan pada siswa di luar sasaran penelitian. 12. 19.1. Validitas Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga dapat digunakan sebagai instrument dalam penelitian ini. 4. Dari perhitungan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. 15. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0. 27. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini.

Analisis Data Penelitian Persiklus 1. reliabilitas. berkriteria cukup 22 soal. B.Taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. dan daya pembeda. taraf kesukaran. Hasil analisis menunjukkan dari 46 soal yang diuji terdapat: 21 soal mudah 15 soal sedang 10 soal sukar 4. berkriteria baik 8 soal. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkriteria jelek sebanyak 16 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syara-syarat validitas. Tahap Perencanaan . Daya Pembeda Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Siklus I a.

2. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus I No. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2003 di Kelas ……. dengan jumlah siswa 23 siswa. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. soal tes formatif 1 dan alatalat pengajaran yang mendukung. Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor 80 50 80 60 40 80 70 60 70 80 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ No. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut: Table 4. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru.Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1. LKS 1. Urut 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Skor 30 70 80 70 70 70 80 60 80 100 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ . b.

26 √ 5 23 Jumlah 50 760 8 √ 3 Keterangan: T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas Klasikal : Tuntas : Tidak Tuntas : 15 :8 : Belum tuntas Tabel 4.3. karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 70.11 60 12 80 √ Jumlah 810 7 Jumlah Skor 1570 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2300 Rata-Rata Skor Tercapai 68.59% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar. Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus I No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus I 68. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang .59% atau ada 24 siswa dari 23 siswa sudah tuntas belajar.22 Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode eksperimen diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 70.26 15 65.29 dan ketuntasan belajar mencapai 70.

Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Tahap perencanaan Pada tahap inipeneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2. soal tes formatif II dan alatalat pengajaran yang mendukung. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2003 di Kelas V dengan jumlah siswa 23 siswa. . 2.dimaksudkan eksperimen. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I. b. LKS. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Siklus II dan digunakan guru dengan menerapkan metode a. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. 2.

5.4. Urut 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Jumlah Skor 70 60 90 90 80 80 80 60 80 70 90 850 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 9 2 1 80 2 70 3 90 4 60 5 70 6 60 7 70 8 80 9 80 10 70 11 80 12 60 Jumlah 870 Jumlah Skor 1720 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2300 Rata-Rata Skor Tercapai 74.78 Keterangan: T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas Klasikal : Tuntas : Tidak Tuntas : 18 :5 : Belum tuntas Tabel 4.Table 4. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus II No.78 18 78. Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus II No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus II 74.26 . Urut Skor Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 9 3 No.

Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II.Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 74. b. soal tes formatif 3 dan alatalat pengajaran yang mendukung. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. LKS 3.78 dan ketuntasan belajar mencapai 78. sehingga kesalahan atau kekurangan . 3. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan dinginkan guru dengan menerapkan metode eksperimen. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Siklus III a. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I.26% atau ada 18 siswa dari 23 siswa sudah tuntas belajar. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2003 di Kelas……… dengan jumlah siswa 23 siswa.

Urut 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Jumlah Skor 70 80 100 90 90 80 90 60 100 80 80 920 Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 10 1 1 80 2 90 3 90 4 60 5 90 6 90 7 90 8 80 9 60 10 80 11 80 12 90 Jumlah 980 Jumlah Skor 1900 Jumlah Skor Maksimal Ideal 2300 Rata-Rata Skor Tercapai 82. Urut Skor Keterangan T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 10 2 No. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus III No.pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III.60 .6. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Table 4. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah sebagai berikut.

Rekapitulasi Hasil Tes Pada Siklus III No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus III 82.60 20 86. Refleksi . Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II.60 dan dari 23 siswa yang telah tuntas sebanyak 20 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. c.Keterangan: T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang belum tuntas Klasikal : Tuntas : Tidak Tuntas : 20 :3 : Tuntas Tabel 4. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaeruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan belajar dengan metode eksperimen sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan.95% (termasuk kategori tuntas).95 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 82. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 86.7.

Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna. tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. d. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan belajar dengan metode eksperimen dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik.Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan Penerapan metode eksperimen. 2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan metode eksperimen dapat . 4) Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan.

. dengan metode eksperimen yang paling dominan adalah mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru. C.22%. 3. dan 86. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Pembahasan 1. 2.26%. 78. dan III) yaitu masing-masing 65.95%. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data. . II. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data. diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPA pada pokok bahasan ………. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I.meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Ketuntasan Hasil belajar Siswa Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa metode eksperimen memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Pembelajaran dengan metode eksperimen memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan . Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas isiwa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah belajar dengan metode eksperimen dengan baik. BAB V PENUTUP A. dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan LKS/menemukan konsep. menjelaskan.

siklus II (78. dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru. yaitu siklus I (65. makan disampaikan saran sebagai berikut: 1. sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus.22%). siklus III (86. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode. Untuk melaksanakan belajar dengan metode eksperimen memerlukan persiapan yang cukup matang.26%). sehingga guru harus mempu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode eksperimen dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. memperoleh konsep dan keterampilan. walau dalam taraf yang sederhana. Penerapan metode eksperimen mempunyai pengaruh positif.95%). . 2. yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa hasil wawancara yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengn metode eksperimen sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar. B. 2. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar IPA lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa.

Suharsimi. Teori-teori Belajar. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut. 1989. W. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik. Boston. Arikunto. Suharsimi. Tahun Pelajaran 2003/2004. R..3. Inc. Jakarta: Erlangga. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta Combs. 1993. The Profesional Education of Teachers. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon. 1984. Jakarta: Rineksa Cipta. 4. Arthur. Dahar. Allin and Bacon. karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di…………………………………. Arikunto. Muhammad. .W. DAFTAR PUSTAKA Ali. 1998.

A. Remaja Rosdakarya. Succesfull Teaching (terjemahan). Bandung. Hudoyo. Bandung: Remaja Rosdakarya. Psikologi Pendidikan.J. Djamarah.M. Purwanto M. Yoyakarta. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. 1982. 1990. 1994. Mursell. Purwanto M. Sutrisno. Taggart. Sardiman. Hasibuan. Psikologi Pendidikan. Margono. Jakarta: Bina Aksara. Bandung: PT. Bandung: PT. dan Mc. Hamalik. 1994.). Remaja Rosdakarya. 1997. Ngalim. Prinsip-prinsip dan Teknis Evaluasi Pengajaran. Jilid 1. Rustiyah. 1981. Metodologi Penelitian Pendidikan. 1991. Jakarta: Bina Aksara. Ngalim. Fak. Malang: IKIP Malang. Syaiful Bahri. N. Metode Pendidikan. Proses Belajar Mengajar. Rineksa Cipta. The Action Research Planner. Kemmis. Remaja Rosda Karya. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Purwanto. Bandung: Citra Aditya Bakti. B. N. Oemar. Victoria Dearcin University Press. Pengantar Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Metodogi Research. Saliwangi. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Jemmars. 1998. Jakarta. . Hadi. Hadi. 1990. Metodologi Research. Yogyakarta: YP. S.K. James ( . 1988. Sutrisno. 1996. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. H. Balai Pustaka. Psikologi UGM. R. J. Jakarta: Rineksa Cipta. 1990.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Jakarta. 1988. dan Moerdjiono. Strategi Belajar Mengajar. Malang: IKIP Malang.

Moh. H.H. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1995. Bandung: Remaja Rosdakarya.C. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Wetherington. Walt. 2001. Uzer. STRATEGI BELAJAR MENGAJAR DENGAN MENERAPKAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS ………………………… ………………………………………………… TAHUN 2003/2004 . Suatu Pendekatan Baru.Soekamto. 1986. Usman. Syah. Psikologi Pendidikan. 1997. Burton. (terjemahan) Bandung: Jemmars. Jakarta: PAU-PPAI. Universitas Terbuka. Toeti. and W. Menjadi Guru Profesional. Muhibbin. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar.

: ………………………. NIP: ……………………………. . DINAS PENDIDIKAN ……………………………… …………………………………………………………………………..KARYA ILMIAH OLEH …………………………………... : …………………………………………. HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil penelitian yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan ……………………………… hasil karya dari: Nama NIP Unit Kerja : …………………….

Tahun 2003/2004 Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan mendapatkan Penetapan Angka Kredit Kenaikan Pangkat dalam jabatan fungsional guru. …………………………………… ……………………………… ……………………… NPA: NIP: ………….Judul : Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas ………………………………………. Mengetahui Ketua PD PGRI II ………………………………. Pada Hari Tanggal : …………………… : …………………… .. Kepala ………………….. HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Karya Ilmiah ini diajukan sebagai syarat untuk memenuhi penetapan angka kredit kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional guru. Karya ilmiah ini tidak dipublikasikan tetapi telah disetujui dan disahkan untuk didokumentasikan di perpustakaan …………………………………….

…………………………. penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul “Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas …………………………………………… Tahun 2003/2004”.Pustakawan …………………………. hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Kepala ……………………… …………………………. ………………………………….. KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT.. ………………………. penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk dipakai dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat dipakai sebagai perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi teman sejawat juga anak didik pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pembinaan karya ilmiah remaja.. . NIP: ………………….

Tahun 2003/2004 Kata kunci: ilmu pengetahuan alam. Rekan-rekan Guru …………………………………………. Semua pihak yang telah banyak membantu sehingga penulisan ini selesai. dengan demikian siswa akan terlibat . 4. Kepala Dinas Pendidikan ……………………………….. 2003. Yth. Yth. Ketua PD II PGRI ………………………………….Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. metode eksperimen Penggunaan metode eksperimen diharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sehingga dalam proses belajar mengajar itu aktivitas belajar mengajar tidak terjadi kejenuhn. Penulis ABSTRAK ………………………………. Yth. 3. 2.. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan tulus dan sedalam-dalamnya kepada: 1. Strategi Belajar Mengajar Dengan Menerapkan Metode eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Siswa …………………………………………………. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis harapkan.

.............22%)................... kegiatan dan pengamatan...95%)..................... 1 ii iv v vi ..... serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam................. lembar observasi kegiatan belajar mengajar................ siklus III (86... i Halaman Pengesahan ..... Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran.................................... siklus II (78................... Daftar Isi ...secara fisik.. (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode eksperimen.......................................... emosional dan intelektual yang pada gilirannya diharapkan konsep perubahan benda yang diajarkan oleh guru dapat dipahami oleh siswa Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar IPA dengan diterapkannya metode eksperimen? (b) Bagaimanakah pengaruh metode demostrasi terhadap motivasi belajar siswa? Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode eksperimen...... Kata Pengantar ................ Boyolangu Kab...................................... Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif.. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan.................... BAB I PENDAHULUAN A.............................26%)................................................ DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul ............................................... Abstrak ............................................... dan refisi..................... refleksi............ Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran dengan metode eksperimen dapat berpengaruh positif terhadap prestasi dan motivasi belajar Siswa SDN Kepuh I Kec..... Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu.....Tulungagung...................... siklus I (65.. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelasi ………………………………………….................................... Latar Belakang Masalah ..........

.........B...... Rumusan Masalah ................................. C...................... G...... 3 3 3 4 5 6 7 8 9 12 16 METODOLOGI PENELITIAN A........... Hakekat IPA.................... Teknik Analisis Data ............................... dan Subyek Penelitian ........................................................................ E............ Pembahasan .. Tujuan Penelitian ..................................... Waktu....................... D.... Motivasi Belajar ....................................................... Metode Pengumpulan Data ................ Proses Belajar Mengajar IPA........................................................................... E......... B....... Manfaat Penelitian ...... F......... Batasan Masalah ................ Metode Eksperimen................ C............ B........................... Analisis Item Butir Soal ............................................................... Instrumen Penelitian ................................. Analisi Data Penelitian Persiklus ........................................................................................... 19 19 20 24 25 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A....... Gaya Belajar .................................. C............ B.............. Rancangan Penelitian .............. Tempat................... BAB II KAJIAN PUSTAKA A........................................................................................... E............................. D. D..... Prestasi Belajar IPA................... 27 29 37 .. BAB III Definisi Pembelajaran ..................................... C.................................

.........BAB V PENUTUP A................................................................. Saran .................. B... ......................................... 39 39 41 DAFTAR PUSTAKA ................... Kesimpulan ........................................................................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful