Anda di halaman 1dari 77

Sajian Diskusi Topik

Diare pada Anak

Sajian Diskusi Topik Diare pada Anak Dibuat Oleh: Sheila Amabel 20070710042 Pembimbing: dr. Syamsinar, SpA Kepaniteraan
Sajian Diskusi Topik Diare pada Anak Dibuat Oleh: Sheila Amabel 20070710042 Pembimbing: dr. Syamsinar, SpA Kepaniteraan

Dibuat Oleh:

Sheila Amabel

20070710042

Pembimbing:

dr. Syamsinar, SpA

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Pelita Harapan 30 Mei 6 Agustus 2011

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Daftar Isi Daftar Isi i Daftar Tabel iii Daftar Bagan iv

Daftar Isi

Daftar Isi

i

Daftar Tabel

iii

Daftar Bagan

iv

Bab I Pendahuluan

1

Bab II Tinjauan Pustaka

2

II.

1 Diare Akut

2

Definisi

2

Epidemiologi

2

Cara Penularan dan Faktor Risiko

3

Etiologi

5

Anatomi

9

Patofisiologi / Patogenesis

14

Manifestasi / Gejala Klinis

19

Diagnosis

22

Penatalaksanaan

28

Komplikasi

45

Pencegahan

47

Prognosis

50

II.

2. Diare Kronis dan Diare Persisten

50

Definisi

50

Epidemiologi

51

Etiologi

51

Patogenesis / Patofisiologi

52

Manifestasi Klinis (Komplikasi)

55

Diagnosis

56

Terapi

57

Faktor Risiko dan Pencegahan

67

56 Terapi 57 Faktor Risiko dan Pencegahan 67 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
56 Terapi 57 Faktor Risiko dan Pencegahan 67 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
56 Terapi 57 Faktor Risiko dan Pencegahan 67 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

i

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Diare Persisten pada Kondisi Khusus 68 Prognosis 70 Bab III Penutup

Diare Persisten pada Kondisi Khusus

68

Prognosis

70

Bab III Penutup

71

Referensi

72

70 Bab III Penutup 71 Referensi 72 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – Agustus
70 Bab III Penutup 71 Referensi 72 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – Agustus
70 Bab III Penutup 71 Referensi 72 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – Agustus

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

ii

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Daftar Tabel Tabel 1 Manifestasi immune mediated ekstraintestinal dan enteropatogen terkait

Daftar Tabel

Tabel 1 Manifestasi immune mediated ekstraintestinal dan enteropatogen

terkait……

20

Tabel 2 Gejala khas diare akut oleh berbagai

21

Tabel 3

Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003

23

Tabel 4

Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995

24

Tabel 5

Penentuan derajat dehidrasi menurut system pengakaan-Maurice King

(1974)……

24

Tabel 6 Tes laboratorium tinja yang digunakan untuk mendeteksi

enteropatogen

26

Tabel 7

Komposisi Oralit Baru

30

Tabel 8

Antibiotika pada diare

41

Tabel 9

Beberapa Penyulit Gastroenteritis Akut dan Penanggulangannya

43

Tabel 10

Terapi cairan dehidrasi hipertonik

45

Tabel 11

Indikasi nutrisi

62

Tabel 12

Kebutuhan kalori per berat badan (Ament,1993):

63

Tabel 13

Kebutuhan cairan sesuai umur (Ament ME, 1993)

63

Tabel 14

Kebutuhan asam amino menurut usia (Ament ME, 1993)

64

Tabel 15

Kebutuhan elektrolit intravena (Ament ME, 1993):

65

Tabel 16

Faktor-faktor risiko terjadinya diare persisten

67

16 Faktor-faktor risiko terjadinya diare persisten 67 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – Agustus
16 Faktor-faktor risiko terjadinya diare persisten 67 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – Agustus
16 Faktor-faktor risiko terjadinya diare persisten 67 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – Agustus

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

iii

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Daftar Bagan Bagan 1 Konsep pathogenesis diare persisten dan kronis 52

Daftar Bagan

Bagan 1

Konsep pathogenesis diare persisten dan kronis

52

Bagan 2

Alur perjalanan diare akut menjadi diare persisten

52

Bagan 3

Diagram Manajemen Diare Persisten

66

52 Bagan 3 Diagram Manajemen Diare Persisten 66 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
52 Bagan 3 Diagram Manajemen Diare Persisten 66 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
52 Bagan 3 Diagram Manajemen Diare Persisten 66 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

iv

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Bab I Pendahuluan Diare merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan

Bab I

Pendahuluan

Diare merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas anak di dunia yang menyebakan 1,6 -2,5 juta kematian pada anak tiap tahunnya, serta merupakan 1/5 dari seluruh penyebab kematian. Survei Kesehatan Rumah Tangga di Indonesia menunjukkan penurunan angka kematian bayi akibat diare dari 15,5% (1986) menjadi 13,95% (1995). Penurunan angka kematian akibat diare juga didapatkan pada kelompok balita berdasarkan survey serupa, yaitu 40% (1972), menjadi 16% (1986) dan 7,5% (2001). Tetapi, penurunan angka mortalitas akibat diare tidak sebanding dengan penurunan angka morbiditasnya. Penurunan mortalitas ini merupakan salah satu wujud keberhasilan ORS (Oral Rehydration Solution) untuk manajemen diare. Diare terbagi menjadi diare akut dan kronik. Diare akut berdurasi dua minggu atau kurang, sedangkan diare kronis lamanya lebih dari 2 minggu. Diare akut masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di negara berkembang. Terdapat banyak penyebab diare akut pada anak. Pada sebagian besar kasus penyebabnya adalah infeksi akut intestinum yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit, akan tetapi berbagai penyakit lain juga dapat menyebabkan diare akut, termasuk sindroma malabsorpsi. Diare menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit dan sering disertai dengan asidosis metabolic karena kehilangan basa. Diare juga erat hubungannya dengan kejadian kurang gizi. Setiap episode diare dapat menyebabkan kekurangan gizi oleh karena adanya anoreksia dan berkurangnya kemampuan menyerap sari makanan, sehingga apabila episodenya berkepanjangan akan berdampak terhadap pertumbuhan dan kesehatan anak.

akan berdampak terhadap pertumbuhan dan kesehatan anak. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
akan berdampak terhadap pertumbuhan dan kesehatan anak. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
akan berdampak terhadap pertumbuhan dan kesehatan anak. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

1

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Bab II Tinjauan Pustaka II. 1 Diare Akut Definisi Diare akut

Bab II Tinjauan Pustaka

II. 1 Diare Akut

Definisi Diare akut adakah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari 1 minggu. Pada bayi yang minum ASI sering frekuensi buang air besarnya lebih dari 3-4 kali per hari, keadaan ini tidak dapat disebut diare, tetapi masih bersifat fisiologis atau normal. Selama berat badan bayi meningkat normal, al tersebut tidak tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya oerkembangan saluran cerna. Untuk bayi yang minum ASI secara eksklusif definisi diare yang praktis adalah meningkatnya frekuensi buang air besar atau konsistensinya menjadi cair yang menurut ibunya abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadang-kadnag pada seorang anak buang air besar jurang dari 3 kali per hari, tetapi konsistensinya cair, keadaan ini sudah dapat disebut diare.

Epidemiologi Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasuk di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama usia di bawah lima tahun. Di dunia, sebanyak 6 juta anak menunggal tiap tahunnya karena diare dan sebagian besar kejadian tersebut terjadi di negara berkembang, Sebagai gambaran 17% kematian anak di dunia disebabkan oleh diare sedangkan di Indonesia, hasil Riskesdas 2007 diperoleh diare masih merupakan penyebab kematian bayi yang terbanyak yaitu 42% disbanding pneumonia 24%, untuk golongan 1-4 tahun penyebab kematian karena diare 25,2% disbanding pneumonia 15,5%

kematian karena diare 25,2% disbanding pneumonia 15,5% Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
kematian karena diare 25,2% disbanding pneumonia 15,5% Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
kematian karena diare 25,2% disbanding pneumonia 15,5% Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

2

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Cara Penularan dan Faktor Risiko Cara penularan diare pada umumnya melalui

Cara Penularan dan Faktor Risiko Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat.Singkatnya, dapat dikatakan melalui “4F” yakni Ifinger (jari), flies (lalat), fluid (cairan), dan field (lingkungan). Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara

lain:

Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4- 6 bulan pertama kehidupan bayiyang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain: Tidak memadainya penyediaan air bersih Pencemaran air oleh

Tidak memadainya penyediaan air bersihASI secara penuh untuk 4- 6 bulan pertama kehidupan bayi Pencemaran air oleh tinja Kurangnya sarana

Pencemaran air oleh tinjakehidupan bayi Tidak memadainya penyediaan air bersih Kurangnya sarana kebersihan (MCK) Kebersihan lingkungan dan

Kurangnya sarana kebersihan (MCK)memadainya penyediaan air bersih Pencemaran air oleh tinja Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk Penyiapan dan

Kebersihan lingkungan dan pribadi yang burukPencemaran air oleh tinja Kurangnya sarana kebersihan (MCK) Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis Gizi

Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis(MCK) Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk Gizi buruk Imunodefisiensi Berkurangnya asam lambung

Gizi burukburuk Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis Imunodefisiensi Berkurangnya asam lambung menurunnya

Imunodefisiensidan penyimpanan makanan yang tidak higienis Gizi buruk Berkurangnya asam lambung menurunnya motilitas usus

Berkurangnya asam lambungmakanan yang tidak higienis Gizi buruk Imunodefisiensi menurunnya motilitas usus menderita campak dalam 4 minggu

menurunnya motilitas ususGizi buruk Imunodefisiensi Berkurangnya asam lambung menderita campak dalam 4 minggu terakhir Faktor genetic

menderita campak dalam 4 minggu terakhirBerkurangnya asam lambung menurunnya motilitas usus Faktor genetic Faktor lainnya: Faktor umur Sebagian besar

Faktor geneticmotilitas usus menderita campak dalam 4 minggu terakhir Faktor lainnya: Faktor umur Sebagian besar episode diare

Faktor lainnya:usus menderita campak dalam 4 minggu terakhir Faktor genetic Faktor umur Sebagian besar episode diare terjadi

dalam 4 minggu terakhir Faktor genetic Faktor lainnya: Faktor umur Sebagian besar episode diare terjadi pada

Faktor umur Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insidensi tertinggi terjadi pada kelompok umur 6-11 bulan pada saat diberikan makanan pendamping ASI. Pola ini menggambarkan kombinasi efek penurunan kadar antibody ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada

dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

3

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” saat bayi mulai merangkak. Kebanyakan enteropatogen merangsang paling tidak sebagian kekebalan

saat bayi mulai merangkak. Kebanyakan enteropatogen merangsang paling tidak sebagian kekebalan melawan infeksi atau penyakit yang berulangm yang membantu menjelaskan menurunnya insiden penyakit pada anak yang lebih besar dan pada orang dewasa.

Infeksi asimtomatik Sebagian besar infeksi usus bersifat asimtomatik dan proporsi asimtomatik ini meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunitas aktif. Pada infeksi asimtomatik yang mungkin berlangsung beberapa hari atau minggu, tinja penderita mengandung virus, bakteri, atau kista protozoa yang infeksius. Orang dengan infeksi asimtomatik berperan penting dalam penyebaran banyak enteropatogen terutama bila mereka tidak menyadari adanya infeksi, tidak menjaga kebersihan, dan berpindah- pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain.penyakit pada anak yang lebih besar dan pada orang dewasa. Faktor musim Variasi pola musiman diare

Faktor musimdan berpindah- pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Variasi pola musiman diare dapat terjadi

Variasi pola musiman diare dapat terjadi menurut letak geografis. Di daerah subtropik, diare karena bakteri lebih sering terjasi pada musim panas, sedangkan diare karena virus terutama rotavirus puncaknya terjadi pada musim dingin. Di daerah tropik (termasuk Indonesia), diare yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat pada musim hujan.pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Faktor musim Epidemi dan pandemic Vivrio cholera 0.1

Epidemi dan pandemic Vivrio cholera 0.1 dan Shigella dysentriae 1 dapat menyebabkan epidemi dan pandemi yang mengakibatkan tingginya Vivrio cholera 0.1 dan Shigella dysentriae 1 dapat menyebabkan epidemi dan pandemi yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua

tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

4

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” golongan usia. Sejak tahun 1961, kolera yang disebabkan oleh V. cholera

golongan usia. Sejak tahun 1961, kolera yang disebabkan oleh V. cholera 0.1 biotipe Eltor telah menyebar ke negara- negara di Afrika, Amerika Latin, Asia, Timur tengah dan di beberapa daerah di Amerika Utara dan Eropa. Dalam kurun waktu yang sama Shigella dysentriaetipe 1 menjadi penyebab wabah yang besar di Amerika Tengah dan terakhir di Afrika Tengah dan Asia Selatan. Pada akhir tahun 1992, dikenal strain baru Vibrio cholera 0139 yang menyebabkan epidemic di Asia dan lebih dari 11 negara mengalami wabah.

Etiologi Pada saat ini, dengan kemajuan di bidang teknik laboratorium kuman- kuman pathogen telah dapat diidentifikasikan dari penderita diare sekitar 80% pada kasus yang datang di sarana kesehatan dan sekitar 50% kasus ringan di masyarakat. Pada saat ini telah dapat diidentifikasikan tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare oada anak dan bayi. Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya dalah golongan virus, bakteri, dan parasit. Dua tipe dasar diare akut oleh karena infeksi adalah non inflammatory dan inflammatory.

Enteropatogen menimbulkan non inflammatory diare melalui produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh birus, perlekatan oleh parasit, perlekatan dan / atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya, indlammatory diare biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara kangsung atau memproduksi sitokin. Beberapa penyebab diare akut yang dapat menyebabkan diare pada manusia adalah:

Golongan bakteridiare akut yang dapat menyebabkan diare pada manusia adalah: 1. Aeromonas 2. Bacillus cereus 3. Campylobacter

1. Aeromonas

2. Bacillus cereus

3. Campylobacter jejuni

4. Clostridium perfringens

cereus 3. Campylobacter jejuni 4. Clostridium perfringens Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
cereus 3. Campylobacter jejuni 4. Clostridium perfringens Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
cereus 3. Campylobacter jejuni 4. Clostridium perfringens Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

5

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” 5. Clostridium defficile 10. Staphylococcus aureus 6. Escherichia coli 11.

5. Clostridium defficile

10.

Staphylococcus aureus

6. Escherichia coli

11.

Vibrio cholera

7. Plesiomonas shigeloides

12.

Vibrio parahaemolyticus

8. Salmonella

13.

Yersinia enterocolitica

9. Shigella

Golongan virusSalmonella 13. Yersinia enterocolitica 9. Shigella 1. Astrovirus 5. Rotavirus 2. Calcivirus (Norovirus,

1. Astrovirus

5.

Rotavirus

2. Calcivirus (Norovirus,

6.

Norwalk virus

Sapovirus)

7.

Herpes simplex virus*

3. Enteric adenovirus

8.

Cytomegalovirus*

4. Coronavirus

Golongan parasitEnteric adenovirus 8. Cytomegalovirus* 4. Coronavirus 1. Balantidium coli 5. Giardia lamblia 2. Blastocystis

1. Balantidium coli

5.

Giardia lamblia

2. Blastocystis homonis

6.

Isopora belli

3. Cryptosporidium parvum

7.

Strongyloides stercoralis

4. Entamoeba histolytica

8.

Trichuris trichiura

Sumber= Nelson Textbook of Pediatric *umumnya berhubungan dengan diare hanya pada penderita imunompromised

Di negara berkembang kuman patogen penyebab penting diare akut pada anak-anak yaitu Rotavirus, Escherichia coli, Shigella, Campylobacter jejuni, dan Cryptosporidium. Patogenesis terjadingan diare yang disebabkan virus yaitu virus yang menyebabkan diare pada manusia secara selektif menginfeksi dan menghancurkan sel-sel ujung-ujung villus pada usus halus. Biopsi usu halus menunjukkan berbagai tingkat penumpulan villus dan infiltrasi sel bundar pada lamina propia. Perubahan-perubahan patologis yang diamati tidak berkorelasi dengan keparahan gejala-gejala klinis dan biasanya sembuh sebelum penyembuhan diare. Mukosa lambung tidak terkena walaupun biasanya dugunakan istilah “gastroenteritis”,

walaupun biasanya dugunakan istilah “gastroenteritis”, Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
walaupun biasanya dugunakan istilah “gastroenteritis”, Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
walaupun biasanya dugunakan istilah “gastroenteritis”, Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

6

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” walaupun pengosongan lambung tertunda telah didokumentasikan selama infeksi virus Norwalk. Virus

walaupun pengosongan lambung tertunda telah didokumentasikan selama infeksi virus Norwalk. Virus akan menginfeksi lapisan epithelium di usus halus dan menyerang villus di usus halus. Hal ini menyebabkan fungsi adsorbs usus halus terganggu. Sel-sel epitel usus halus yang rusak diganti oleh enterosit yang baru, berbentuk kuboid yang belum matang sehingga fungsinya belum baik. Selanjutnya, cairan dan makanan yang tidak terserap atau tercerna akan meningkatkan tekanan koloid osmotik usus dan terjadi hiperperistalyik usus sehingga cairan beserta makanan yang tidak terserap terdorong keluar usus melalui anus, menimbulkan diare osmotic dari penyerapan aor dan nutrient yang tidak sempurna. Pada usus halus, enterosit viluus sebelah atas adalah sel-sel yang terdiferensiasi, yang mempunyai fungsi pencernaan seperti hidrolisis disakharida dan fungsi penyerapan seperti transport air dan elektrolit melalui pengangkut bersama (kotransporter) glukosa dan asam amino. Enterosit kripta merupakan sel yang tidak terdiferensiasi, yang tidak mempunyai enzim hidrofilik tepi bersilia dan merupakan pansekresi (sekretor) air dan elektrolit. Dengan demikian infeksi virus selektif sel-sel ujung villus usus menyebabkan ketidakseimbangan rasio penyerapan cairan usus terhadap sekresi dan malabsorbsi karbohidrat kompleks, terutama laktosa. Pada hospes normal, infeksi ekstra-intestinal sangat jarang, walaupun penderita terganggu imun dapat mengalami keterlibatan hari dan ginjal. Kenaikan kerentanan bayi (disbanding dengan anak yang lebih tua dan orang dewasa) sampai morbiditas berat dan mortalitas gastroenteritis virus dapat berkaitan dengan sejumlah faktor termasuk penurunan fungsi cadangan usus, tidak ada imunitas spesifik, dan penurunan mekanisme pertahanan hospes nonspesifik seperti asam lambung dan mukus. Enteritis virus sangat memperbesar permeabilitas usus terhadap makromolekul lumen dan telah dirumuskan menaikkan risiko alergi makanan. Diare karena bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme yang berhubungan dengan pengaturan transport ion dalam sel-sel usus cAMP, cGMP,

pengaturan transport ion dalam sel-sel usus cAMP, cGMP, Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
pengaturan transport ion dalam sel-sel usus cAMP, cGMP, Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
pengaturan transport ion dalam sel-sel usus cAMP, cGMP, Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

7

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” dan Ca dependen. Patogenesis terjadinya diare oleh salmonella, shigella, E. coli

dan Ca dependen. Patogenesis terjadinya diare oleh salmonella, shigella, E. coli agak berbeda dengan pathogenesis diare oleh virus, tetapi prinsipnya hamper sama. Bedanya bakteri ini dapat menembus (invasi) sel mukosa usus halus sehingga dapat menyebabkan reaksi sistemik. Toksin shigella juga dapat masuk ke dalam serabut otak sehingga menimbulkan kejang. Diare oleh kedua bakteri ini dapat menyebabkan adanya darah dalam tinja yang disebut disentri. Di samping itu, penyebab diare non-infeksi yang dapat menimbulkan diare pada anak antara lain:

Kesulitan makanyang dapat menimbulkan diare pada anak antara lain: Defek Anatomis Malrotasi Atrofi mikrovilli Penyakit

Defek Anatomismenimbulkan diare pada anak antara lain: Kesulitan makan Malrotasi Atrofi mikrovilli Penyakit Hirchsprung

Malrotasi Atrofi mikrovilli

Malrotasi

Atrofi mikrovilliMalrotasi

Penyakit Hirchsprung Stricture

Penyakit Hirchsprung

StricturePenyakit Hirchsprung

Short Bowel Syndrome

Short Bowel Syndrome

Malabsorpsi Defisiensi disakaridase Malabsorpsi glukosa- galaktosaPenyakit Hirchsprung Stricture Short Bowel Syndrome Endokrinopati Thyrotoksikosis Penyakit Addison Sindroma

Endokrinopati Thyrotoksikosis Penyakit Addison Sindroma AdrenogenitalDefisiensi disakaridase Malabsorpsi glukosa- galaktosa Keracunan makanan Logam berat Mushrooms Neoplasma

Keracunan makanan Logam berat MushroomsThyrotoksikosis Penyakit Addison Sindroma Adrenogenital Neoplasma Neuroblastoma Phaeochromocytoma Sindroma

Neoplasma Neuroblastoma Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-EllisonAdrenogenital Keracunan makanan Logam berat Mushrooms Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac

Lain-lainNeuroblastoma Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan

Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan
Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan
Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan
Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan
Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan
Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan
Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan
Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan
Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan
Phaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan

Cystic fibrosisPhaeochromocytoma Sindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan Klinik Stase Anak

CholestosisSindroma Zollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Penyakit Celiac Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30

Penyakit CeliacZollinger-Ellison Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
Lain-lain Cystic fibrosis Cholestosis Penyakit Celiac Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

8

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Infeksi non- gastrointestinal Alergi susu sapi Penyakit Crohn Sumber: Nelsonn Textbook
“ Diare pada Anak ” Infeksi non- gastrointestinal Alergi susu sapi Penyakit Crohn Sumber: Nelsonn Textbook

Infeksi non- gastrointestinal Alergi susu sapi Penyakit Crohn Sumber: Nelsonn Textbook of pediatric

sapi Penyakit Crohn Sumber: Nelsonn Textbook of pediatric Defisiensi imun Colitis ulserosa Gangguan motilitas usus
sapi Penyakit Crohn Sumber: Nelsonn Textbook of pediatric Defisiensi imun Colitis ulserosa Gangguan motilitas usus

Defisiensi imunsapi Penyakit Crohn Sumber: Nelsonn Textbook of pediatric Colitis ulserosa Gangguan motilitas usus Pellagra Anatomi

Colitis ulserosaCrohn Sumber: Nelsonn Textbook of pediatric Defisiensi imun Gangguan motilitas usus Pellagra Anatomi Gaster Sel-sel

Gangguan motilitas ususTextbook of pediatric Defisiensi imun Colitis ulserosa Pellagra Anatomi Gaster Sel-sel epitel dig aster adalah

PellagraDefisiensi imun Colitis ulserosa Gangguan motilitas usus Anatomi Gaster Sel-sel epitel dig aster adalah merupakan

Anatomi Gaster Sel-sel epitel dig aster adalah merupakan kelenjar gaster. Terdapat 3 tipe kelenjar yaitu cardiac, oxyntic, dan pyloric. Cardiac merupakan penghasil mukus yang terletak pada perbatasan cincin gaster sampai oesophagus. Oxyntic merupakan yang paling banyak dan didapatkan pada fundus. Tipe ketiga yaitu pyloric merupakan 10% permukaan mukosa gaster, ditandai adanya pits yang dalam. Dua tipe sel yang utama adalah sel penghasil mukus dan sel penghasil gastrin. Fungsi neuromuskuler gaster meliputi penyimpanan, mencampur, menggilas, dan melakukan control terhadap pengeluaran makan ke dalam duodenum. Sekresi gaster terdiri dari:

a.

makan ke dalam duodenum. Sekresi gaster terdiri dari: a. Asam hidroklorid (HCl) Merupakan produksi sel tunggal

Asam hidroklorid (HCl) Merupakan produksi sel tunggal dari berbagai spesies. HCl ini diproduksi oleh sel parietal. Pada bayi baru lahir, HCl diproduksi dengan cara mengubah-ubah bahan alkaline amnion yang ditelan hingga dapat mencapai pH lambung kurang dari 4. Konsentrasi HCl tertinggi terjadi pada hari ke-7 sampai hari ke-10 setelah lahir dan akan terus meningkat sampai mencapai kadar dewasa pada usia60-90 hari. Pada bayi aterm 2 hari pertama setelah lahir, stimulasi sekresi tidak dapat meningkat dengan stimulasi pentagastrin, dan reaksi terhadap bahan-bahan histamine seperti betazole hydrochloride (histalog) tidak timbul sampai usia 1 bulan. Pentagastrin akan meningkatkan sekresi HCl mulai usia 1 minggu dan lebih besar pada bayi-bayi aterm daripada preterm. Respon stimuli

besar pada bayi-bayi aterm daripada preterm. Respon stimuli Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
besar pada bayi-bayi aterm daripada preterm. Respon stimuli Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
besar pada bayi-bayi aterm daripada preterm. Respon stimuli Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

9

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” makanan pada bayi aterm oleh HCl lambung terjadi setelah 2 jam.
“ Diare pada Anak ” makanan pada bayi aterm oleh HCl lambung terjadi setelah 2 jam.

makanan pada bayi aterm oleh HCl lambung terjadi setelah 2 jam. Sekresi asam lambung dikendalikan oleh system sekresi dan inhibisi. Sistem persarafan gaster ada dua yaitu pleksus myenteric dan pleksus mukosal. Pleksus myenteric menginervasi lapisan otot dan melakukan regulasi fungsi motorik. Saraf-saraf ini terdiri atas 80-90% saraf afferen dan 10- 20% saraf efferen. Pleksus mukosal terdiri dari neuropeptide transmitter seperti acetylcholine, serotonin, dan GABA dan transmitter peptide seperti bombesin, vasoactive intestinal peptide (VIP) dan substansi kalium. Gastrin Disintesis dan dilepaskan oleh sel endokrin G yang terletak pada antrum gaster. Sekresi sel G yaitu gastrin secara lokal dihambat oleh somatostatin yang berasal dari sel D yang letaknya bersekatan dengan sel G. Terdapat 2 bentuk gastin yaitu G-17 dan G-34 dimana G-34 mempunyai waktu paruh lebih panjang. Peregangan ringan pada gaster terutama antrum akan mengaktifkan saraf VIP yang akan menghambat sekresi gastrin dengan cara melepaskan antral somatostatin dan prostaglandin E (PGE). Pada peregangan yang lebih besar terutama pada proksimal lambung akan menstimuli pelepasan cholinergic vagal gaster. Sebagian makanan dalam lambung dan protein duodenum terutama triptofan dan phenylalanine akan merangsang pelepasan gastrin. Hambatan pelepasan gastrin tidak hanya oleh somatostatin, tapi juga oleh sekretin, neurotensin, gastric inhibitory polypeptide (GIP) dan PGE. Sel-sel somatostatin yang tersebar hingga melewati usus bekerja sebagai hormone endokrin seperti halnya parakrin yang menghambat sekresi sel G. Lemak usus merupakan perangsang utama pelepasan somatostatin, sehingga terjadi penurunan gastrin dan perlambatan pengosongan lambung. Sekretin terdapat nyata di usus halus proksimal dan dilepaskan karena pengasaman intraduodenal. Neurotensin disintesis di ileum untuk

intraduodenal. Neurotensin disintesis di ileum untuk Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
intraduodenal. Neurotensin disintesis di ileum untuk Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
intraduodenal. Neurotensin disintesis di ileum untuk Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

10

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” merespon lemak usus, menurunkan keasaman lambung. PGE seperti halnya somatostatin bekerja

merespon lemak usus, menurunkan keasaman lambung. PGE seperti halnya somatostatin bekerja menurunkan produksi asam oleh sel parietal.

Pepsinogen Diproduksi oleh sel kepala dan sel mukosa leher fundus, bahan dan cardiac gaster. Fundus gaster memproduksi 4 proteinase acidic yaitu pepsinogen I atau A, pepsinogen II cardiac gaster. Fundus gaster memproduksi 4 proteinase acidic yaitu pepsinogen I atau A, pepsinogen II atau C, captensin A, dan captensin D. Sekresi pepsinogen dipacu oleh stimuli cholinergic dihambat oleh atropin dan mengikuti perubahan Ca intrasel. Pepsinogen juga dirangsang secara langsung oleh histamine, cholesystokinin (CCK), sekretin dan VIP. CCk bekerja melalui pelepasan Ca intrasel, sedangkan sekretin dan VIP bekerja melalui cAMP. Somatostatin dan PGE menghambat sekresi pepsinogen dengan menurunkan cAMP.

Faktor intrinsik Merupakan glikoprotein yang diproduksi oleh sel parietal mukosa oxyntic badan dan fundus gaster. Faktor intrinsic didapatkan pada jaringan gaster fetus pada usia kehamilan oxyntic badan dan fundus gaster. Faktor intrinsic didapatkan pada jaringan gaster fetus pada usia kehamilan 11 minggu. Sekresi kontinyu sedikit demi sedikit terjadi di bawah kondisi basal oleh transpor membran vesikuler. Peningkatan sekresi distimuli oleh agen penginduksi sekresi sel parietal seperti histamin, acetylcholine, dan gastrin. Puncak pelepasan terjadi 25- 30 menit. Sekresi dihambat oleh H2 reseptor antagonis. Pada bayi aterm atau preterm sekresi basal ini tidak tergantung sekresi asam gestasi atau kelebihan nutrisi enteral. Disosiasi stimuli pelepasan asam dan faktor intrinsic secara baik terdapat pada usia anak mulai berjalan. Sekresi faktor ini mendekati kadar dewasa pada usia 3 bulan.

Lipase gaster Aktifitas lipase pada semua usia maksimal di badan gaster dan minimal di antrum. Meski pH optimum 5.5 tetapi lipase aktif bekerja dalam 1 jam setelah lahir, dan pelepasan lipolytic intragaster merangsang sekresi CCK; pelepasan asam lemak rantai sedang menyebabkan absorbs lemak langsung segera lipolytic intragaster merangsang sekresi CCK; pelepasan asam lemak rantai sedang menyebabkan absorbs lemak langsung segera di gaster.

sedang menyebabkan absorbs lemak langsung segera di gaster. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
sedang menyebabkan absorbs lemak langsung segera di gaster. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
sedang menyebabkan absorbs lemak langsung segera di gaster. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

11

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Mukus gaster Epitel gaster dan sekresi sel mukus pit merupakan gel

Mukus gaster Epitel gaster dan sekresi sel mukus pit merupakan gel mukus tak larut air yang membentuk lapisan kontinyu dan berfungsi protektif. Sintesis mucin dan volume total mukus meningkat dengan stimuli oleh histamin, acetylcholine dan gastrin. Mukus bekerja sebagai barier difusi terhadap pepsin luminal dan HCl. Kerusakan lapisan mukosa menyebabkan difusi kembali asam peptide dan kehilangan gradien pH bikarbonat, yang penting untuk mempertahankan integritas epitel dan pembentukan epitel yang baru.

Usus halus Memanjang dari pylorus hingga cecum. Pada neonates memiliki panjang 275 cm dan tumbuh mencapai 5-6 meter pada dewasa. Epitel usus halus tersusun atas lapisan tunggal sel kolumnar disebut enterosit. Permukaan epitel ini menjadi 300 kali lebih luas dengan adanya vilus dan kripta. Vilus berbeda dalam bentuk dan densitas pada masing-masing region usus halus. Di duodenum vilus tersebut lebih pendek, lebih lebar dan lebih sedikit, menyerupai bentuk jari dan lebih tinggi pada jejunum serta menjadi lebih kecil dan lebih meruncing di ileum. Densitas terbesat didapatkan di jejunum. Di antara vilus tersebut terdapat kripta Lieberkuhn yang merupakan tempat proliferasi enterosit dan pembaharuan epitel. Terdapat perbedaan tight junction antara jejunum dan ileum, tight junction ini berperan penting dalam regulasi permeabilitas epitel dengan melakukan control terhadap aliran air dan solut paraseluler. Sel goblet Merupakan sel penghasil mukus yang terpolarisasi. Mukus yang disekresi sel goblet menghampar di atas glikokaliks berupa lapisan yang kontinyu, membentuk barier fisikokimia, member perlindungan pada epitel permukaan. Mukus ini paling banyak didapatkan pada gaster dan duodenum. Sel Kripta

banyak didapatkan pada gaster dan duodenum. Sel Kripta b. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei

b.

banyak didapatkan pada gaster dan duodenum. Sel Kripta b. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
banyak didapatkan pada gaster dan duodenum. Sel Kripta b. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
banyak didapatkan pada gaster dan duodenum. Sel Kripta b. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
banyak didapatkan pada gaster dan duodenum. Sel Kripta b. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
banyak didapatkan pada gaster dan duodenum. Sel Kripta b. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

12

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Sel kripta yang tidak berdiferensiasi merupakan tipe sel yang paling banyak
Sel kripta yang tidak berdiferensiasi merupakan tipe sel yang paling banyak terdapat di kripta Lieberkuhn.
Sel kripta yang tidak berdiferensiasi merupakan tipe sel yang paling banyak terdapat di kripta Lieberkuhn.
Sel kripta yang tidak berdiferensiasi merupakan tipe sel yang paling banyak terdapat di kripta Lieberkuhn.

Sel kripta yang tidak berdiferensiasi merupakan tipe sel yang paling banyak terdapat di kripta Lieberkuhn. Merupakan prekursos sel penyerap vilus, sel paneth, sel enteroendokrin, sel goblet, dan mungkin juga sel M. Sel kripta yang tidak berdiferensiasi ini mensintesis dan mengekspresikan komponen sekretori pada membran basolateral, di mana molekul ini bertindak sebagai reseptor untuk sintesis IgA oleh lamina propria sel plasma. Sel Paneth Terdapat di basis kripte. Memiliki granula eosinophilic sitoplasma dan basophil. Granula lisosom dan zymogen didapatkan juga pada sitoplasma, meskipun fungsi sekretori sel panet belum diketahui. Diduga berperan dalam membunuh bakteri dengan lisosom dan immunoglobulin intrasel, serta menjaga keseimbangan flora normal usus. Sel enteroendokrin Merupakan sekumpulan sel khusus neurosekretori, sel enteroendokrin terdapat di mukosa saluran cerna, melapisi kelenjar gaster, vilus dan kripta usus. Sel enteroendokrin mendekresi neuropeptide seperti gastrin, sekretin, motilin, neurotensin, glucagon, enteroglukagon, VIP, GIP, neurotensin, cholesistokinin dan somatostatin. Sel M Merupakan sel epitel khusus yang melapisi folikel limfoid.

GIP, neurotensin, cholesistokinin dan somatostatin. Sel M Merupakan sel epitel khusus yang melapisi folikel limfoid.
GIP, neurotensin, cholesistokinin dan somatostatin. Sel M Merupakan sel epitel khusus yang melapisi folikel limfoid.

c. Usus besar Terdiri atas sekum, appendik, kolon, rectum, dan anus. Mukosa usus besar bertambah dengan adanya plika semilunar yang irregular dan adanya kripta tubuler Lieberkuhn. Tidak terdapat vilus pada usus besar. Baik permukaan mukosa dan kripta dilapisi oleh sel epitel kolumnar (kolonosit) dan sel goblet yang membatasi dari jaringan mesenkim lamina propia. Kolonosit memiliki mikrovilus lebih sedikit dan lebih pendek daripada usus halus. Epitel bagian bawah kripta terdiri atas proliferasi sel kolumnar yang tidak berdiferensiasi,

atas proliferasi sel kolumnar yang tidak berdiferensiasi, Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
atas proliferasi sel kolumnar yang tidak berdiferensiasi, Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
atas proliferasi sel kolumnar yang tidak berdiferensiasi, Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

13

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” sel goblet, dan sediket sel endokrin. Morfologi sel goblet dan sel

sel goblet, dan sediket sel endokrin. Morfologi sel goblet dan sel endokrin mirip seperti pada usus halus. Sel kolumnar penyerap berasal dari sel imatur dari bagian bawah kripta yang berdiferensiasi dan bermigrasi ke bagian atas kripta, akhirnya akan dilepaskan dari permukaan mukosa ke dalam lumen. Proses siklus pembaharuan sel ini berlangsung 3-8 hari pada manusia. Kripta dikelilingi oleh sarung fibroblas dalam lamina propia, mengalami proliferasi dan migrasi secara sinkron dengan migrasi sel epitel. Jumlah total sel terbanyak pada kripta kolon desenden, menurun secara progresif di sepanjang kolon transversum dan kolon desenden dan meningkat lagi pada sekum.

Patofisiologi / Patogenesis Secara umum, diare disebabkan 2 hal yaitu gangguan pada proses absorbs atau sekresi. Terdapat beberapa pembagian diare:

1. Pembagian diare menurut etiologi

2. Pembagian diare menurut mekanismenya yaitu gangguan absorbsi dan gangguan sekresi

3. Pembagian diare menurut lamanya diare

a. Diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari

b. Diare kronik yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi

non-infeksi

c. Diare persisten yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi infeksi Kejadian diare secara umum terjadi dari satu atau beberapa mekanisme yang saling tumpang tindih. Menurut mekanisme diare, maka dikenal diare akibat gangguan absorpsi yaitu volume cairan yang berada di kolon lebih besar daripada kapasitas absorpsi. Di sini diare dapat terjadi akibat kelainan di usus halus, mengakibatkan absorpsi menurun atau sekresi yang bertambah. Apabila fungsi usus halus normal, diare dapat terjadi akibat absorpsi di kolon menurun atau

diare dapat terjadi akibat absorpsi di kolon menurun atau Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
diare dapat terjadi akibat absorpsi di kolon menurun atau Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
diare dapat terjadi akibat absorpsi di kolon menurun atau Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

14

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” sekresi di kolon meningkat. Diare dapat juga dikaitkan dengan gangguan motilitas,

sekresi di kolon meningkat. Diare dapat juga dikaitkan dengan gangguan motilitas, inflamasi, dan imunologi.

1. Gangguan absorpsi atau diare osmotik

Secara umum, terjadi penurunan fungsi absorpsi oleh berbagai sebab seperti celiac sprue, atau karena:

a. Mengkonsumsi magnesium hidroksida

b. Defisiensi sukrase-isomaltase adanya lactase defisien pada anak yang lebih

besar

c. Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal pada usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertonis dan menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmose antara lumen usus dan darah maka pada segmen usus jejunum yang bersifat permeable, air akan mengalir kea rah lumen jejunum sehingga air akan banyak terkumpul dalam lumen usus. Natrium akan mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan intraluminal yang besar dengan kadar natrium yang normal. Sebagian kecil cairan ini akan diabsorpsi kembali, akan tetapi lainnya akan tetap tinggal di lumen oleh karena ada bahan yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukose, sukrose, laktose, maltose, di segmen ileum dan melebihi kemampuan absorpsi kolon sehingga terjadilah diare. Bahan-bahan seperti karbohidrat dari jus buah atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah yang berlebihan akan memberikan dampak yang sama.

2. Malabsorpsi umum Keadaan seperti short bowel syndrome, celiac, protein, peptide, tepung, asam amino, dan monosakarida mempunyai peran pada gerakan osmotic pada lumen usus. Kerusakan sel (yang secara normal akan menyerap natrium dan air) dapat disebabkan virus atau kuman, seperti Salmonella, Shigella, atau Campylobacter. Sel tersebut juga dapat rusak karena inflammatory bowel disease idiopatik, akibat toksin atau obat-obatan tertentu. Gambaran karakteristik penyakit yang menyebabkan malabsorbsi usus halus adalah

penyakit yang menyebabkan malabsorbsi usus halus adalah Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
penyakit yang menyebabkan malabsorbsi usus halus adalah Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
penyakit yang menyebabkan malabsorbsi usus halus adalah Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

15

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” atropi villi. Lebih lanjut, mikroorganisme tertentu (bakteri tumbuh lampau, giardiasis, dan

atropi villi. Lebih lanjut, mikroorganisme tertentu (bakteri tumbuh lampau, giardiasis, dan enteroadheren E. coli) menyebabkan malabsorbsi nutrien dengan meribah faal membran brush border trigliserid diakibatkan insuffisiensi eksokrin pankreas menyebabkan malabsorbsi yang signifikan dan mengakibatkan diare osmotic. Gangguan atau kegagalan ekskresi pankreas menyebabkan kegagalan pemecahan kompleks protein, karbohidrat, trigliserid, selanjutnya menyebabkan maldigesti, malabsorbsi dan akhirnya menyebabkan diare osmotik. Steatorrhe berbeda dengan malabsorbsi protein dan karbohidrat dengan asam lemak rantai panjang intraluminal, tidak hanya menyebabkan diare osmotik, tetapi juga menyebabkan pacuan sekresi klorida sehingga diare tersebut dapat disebabkan malabsorpsi karbihidrat oleh karena kerusakan difus mukosa usus, defisiensi sukrosa, isomaltosa, dan defisiensi congenital lactase, pemberian obat pencahar; laktulose, pemberian Mg hydroxide (misalnya susu Mg), malabsorpsi karbohidrat yang berlebihan pada hipermotilitas pada kolon iritabel. Mendapat cairan hipertonis dalam jumlah besar dan cepat, menyebabkan kekambuhan diare. Pemberian makan/minum yang tinggi KH, setelah mengalami diare, menyebabkan kekambuhan diare. Infeksi virus yang menyebabkan kerusakan mukosa sehingga menyebabkan gangguan sekresi enzim lactase, menyebabkan gangguan absorpsi nutrisi laktose.

3. Gangguan sekresi atau diare sekretorik

Hiperplasia kripta Teoritis adanya hyperplasia kripta akibat penyakit apapun, dapat menyebakan sekresi intestinal dan diare. Pada umumnya, penyakit ini menyebabkan atrofi vili.nutrisi laktose. 3. Gangguan sekresi atau diare sekretorik Luminal secretagogues Dikenal 2 bahan yang menstimulasi

Luminal secretagogues Dikenal 2 bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia, garam empedu bentuk dihydroxy, serta asam lemak rantai panjang.diare. Pada umumnya, penyakit ini menyebabkan atrofi vili. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

empedu bentuk dihydroxy, serta asam lemak rantai panjang. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
empedu bentuk dihydroxy, serta asam lemak rantai panjang. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
empedu bentuk dihydroxy, serta asam lemak rantai panjang. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

16

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Toksin penyebab diare ini terutama bekerja dengan cara meningkatkan konsentrasi intrasel

Toksin penyebab diare ini terutama bekerja dengan cara meningkatkan konsentrasi intrasel cAMP, cGMP atau Ca ++ yang selanjutnya akan mengaktifkan protein kinase. Pengaktifan protein kinase akan menyebabkan fosfolirasi membran protein sehingga mengakibatkan perubahan saluran ion, akan menyebabkan Cl - di kripta keluar. Di sisi lain terjadi peningkatan pompa natrium dan natrium masuk ke dalam lumen usus bersama Cl - . Bahan laksatif dapat menyebabkan bervariasi efek pada aktivitas NaK- ATPase. Beberapa diantaranya memacu peningkatan kadar cAMP intraseluler, meningkatkan permeabilitas intestinal dan sebagian menyebabkan kerusakan sel mukosa. Beberapa obat menyebabkan sekresi intestinal. Penyakit malabsorpsi seperti reseksi ileum dan penyakit Crihn dapat menyebabkan kelainan sekresi seperti menyebabkan peningkatan konsentrasi garam empedu dan lemak. Blood-Borne Secretagogues Diare sekretorik pada anak-anak di negara berkembang, umumnya disebabkan oleh enterotoksin E. coli atau Cholera. Berbeda dengan negara berkembang, di negara maju, diare sekretorik jarang ditemukam, apabila ada kemungkinan disebakan oleh obat atau tumor seperti ganglioneuroma atau neuroblastoma yang menghasilkan hormone seperti VIP. Pada orang dewasa, diare sekretorik berat disebabkan neoplasma pankreas, sel non- beta yang menghasilkan VIP, Polipeptida pankreas, hormone sekretorik lainnya (sindroma watery diarrhea hypokalemia achlorhydria (WDHA)). Diare yang disebabkan tumor ini termasuk jarang. Semua kelainan mukosa usus, berakibat sekresi air dan mineral berlebihan pada vilus dan kripta serta semua enterosit terlibat dan dapat terjadi mukosa usus dalam keadaan normal.

4. Diare akibat gangguan peristaltik Meskipun motilitas jarang menjadi penyebab utama malabsorbsi, tetapi perubahan motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorbsi. Baik

motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorbsi. Baik Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorbsi. Baik Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorbsi. Baik Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorbsi. Baik Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

17

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” peningkatan ataupun penurunan motilitas, keduanya dapat menyebabkan diare. Penurunan motilitas

peningkatan ataupun penurunan motilitas, keduanya dapat menyebabkan diare. Penurunan motilitas dapat mengakibatkan bakteri tumbuh lampau yang menyebabkan diare. Perlambatan transit obat-obatan atau nutrisi akan meningkatkan absorbs. Kegagalan motilitas usus yang berat menyebabkan stasis intestinal berakibat inflamasi, dekonjugasi garam empedu dan malabsorbsi. Diare akibat hiperperistaltik pada anak jarang terjadi. Watery diare dapat disebabkan karena hipermotilitas pada kasus kolon irritable pada bayi. Gangguan motilitas mungkin merupakan penyebab diare pada thyrotoksikosis, malabsorbsi asam empedu dan berbagai penyakit lain.

5. Diare inflamasi Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada beberapa keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air, elektrolit, mukus, protein, dan seringkaili sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotik dan diare sekretorik. Bakteri enteral pathogen akan mempengaruh struktur dan fungsi tight junction, menginduksi sekresi cairan dan elektrolit, dan akan mengaktifkan kaskade inflamasi. Efek infeksi bacterial pada tight junction akan mempengaruhi susunan protein. Penelitian oleh Berkes J. dkk 2003 menunjukkan bahwa peranan bakteri enteral pathogen pada diare terletak pada perubahan barrier tight junction oleh toksin atau produk kuman yaitu perubahan pada cellular cytoskeleton dan spesifik tight junction. Pengaruh itu bisa pada kedua komponen tersebut atau salah satu komponen saja sehingga akan menyebabkan hipersekresi chloride yang akan diikuti natrium dan air. Sebagai contoh C. difficile akan menginduksi kerusakan cytoskeleton maupun protein, Bacteroides fragilis menyebabkan degradasi proteolitik protein tight junction, V. cholera mempengaruhi distribusi protein tight junction, sedangkan EPEC menyebabkan akumulasi protein cytoskeleton.

6. Diare terkait imunologi

akumulasi protein cytoskeleton. 6. Diare terkait imunologi Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
akumulasi protein cytoskeleton. 6. Diare terkait imunologi Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
akumulasi protein cytoskeleton. 6. Diare terkait imunologi Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

18

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Diare terkait imunologi dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe I, III, dan

Diare terkait imunologi dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe I, III, dan IV. Reaksi tipe I yaitu terjadi reaksi antara sel mast dengan IgE dan allergen makanan. Reaksi tipe III misalnya pada penyakit gastroenteropatu, sedangkan reaksi tipe IV terdapat pada Coeliac disease dan protein loss enteropaties. Pada reaksi tipe I, allergen yang masuk tubuh menimbulkan respon imun dengan dibentuknya IgE yang selanjutnya akan diikat oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mast dan basofil. Bila terjadi aktivasi akibat pajanan berulang dengan antigen yang spesifik, sel mast akan melepaskan mediator seperti histamin, ECF-A, PAF, SRA-A, dan prostaglandin. Pada reaksi tipe III terjadi reaksi komplek antigen-antibodi dalam jaringan atau pembuluh darah yang mengaktifkan komplemen. Komplemen yang diaktifkan kemudian melepaskan Macrophage Chemotactic Factor yang akan merangsang sel mast dan basofil melepas berbagai mediator. Pada reaksi tipe IV terjadi respon imun seluler, di sini tidak terdapat peran antibody. Antigen dari luar dipresentasikan sel APC (Antigen Presenting Cell) ke sel Th1 yang MHC-II dependen. Terjadi pelepasan

berbagai sitokin seperti MIF, MAF, dan IFN-oleh Th1. Sitokin tersebut akan mengaktifasi makrofag dan menimbulkan kerusakan jaringan. Berbagai mediator diatas akan menyebabkan luas permukaan mukosa berkurang akibat kerusakan jaringan, merangsang sekresi klorida diikuti oleh natrium dan air.

Manifestasi / Gejala Klinis Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala lainnya bila terjadi komplikasi ekstra intestinal termasuk manifestasi neurologic. Gejala gastrointestinal berupa diare, kram perut, dan muntah. Sedangkan manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya. Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium, klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini

klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

19

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada

bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis netabolik, dan hipokalemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskuler, dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas plasma dapat berupa dehidrasi isotonic, dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya bisa tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang, dan dehidrasi berat. Infeksi ekstraintestinal yang berkaitan dengan bakteri enterik pathogen antara lain: vulvovaginitis, infeksi saluran kemih, endokarditis, osteomielitis, meningitis, pneumonia, hepatitis, peritonitis, dan septic trombophlebitis. Gejala neurologic dari infeksi usus bisa berupa paresthesia (akibat makan ikan, kerang, monosodium glutamat), hipotoni dan kelemahan otot (C. botulinum). Manifestasi immune mediated ekstraintestinal biasanya terjadi setelah diarenya sembuh, contoh:

Tabel 1

Manifestasi immune mediated ekstraintestinal dan enteropatogen terkait

Manifestasi

Enteropatogen terkait

Reaktive arthritis

Salmonella, Shigella, Yersinia, Camphylobacter, Clostridium difficile

Guillain Barre Syndrome

Camphylobacter

Glomerulonephritis

Shigella, Camphylobacter, Salmonella

IgA nephropathy

Camphylobacter

Erythema nodusum

Yersinia, Camphylobacter, Salmonella

Hemolytic anemia

Camphylobacter, Yersinia

Hemolytic Uremic Syndrome (HUS)

S. dysentrie, E. coli

Sumber: Nelson Textbook of Pediatrics Bila terdapat panas dimungkinkan karena proses peradangan atau akibat dehidrasi. Panas badan umum terjadi pada penderita dengan inflammatory diare. Nyeri perut yang lebih hebat dan tenesmus yang terjadi pada perut bagian bawah serta rectum menunjukkan terkenanya usus besar.

bagian bawah serta rectum menunjukkan terkenanya usus besar. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
bagian bawah serta rectum menunjukkan terkenanya usus besar. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
bagian bawah serta rectum menunjukkan terkenanya usus besar. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

20

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Mual dan muntah adalah symptom yang non spesifik akan tetapi muntah

Mual dan muntah adalah symptom yang non spesifik akan tetapi muntah mungkin disebabkan oleh karena organism yang menginfeksi saluran cerna bagian atas seperti enterik virus, bakteri yang memproduksi enterotoksin, Giardia, dan Cryptosporidium. Muntah juga sering terjadi pada non-inflammatory diare. Biasanya penderita tidak panas atau hanya subfebris, nyeri perut periumbilikal tidak berat, watery diare, menunjukkan bahwa saluran cerna bagian atas terkena. Oleh karena pasien immunocompromise memerlukan perhatian khusus, informasi tentang adanya imunodefisiensi atau penyakit kronis sangat penting.

Tabel 2 Gejala khas diare akut oleh berbagai penyebab.

Gejala

Rotavirus

Shigella

Salmonell

ETEC

EIEC

Kolera

klinik

a

Masa

17-72 jam

24-48

6-72 jam

6-72 jam

6-72 jam

47-72

tunas

jam

jam

Panas

+

++

++

-

++

-

Mual

Sering

Jarang

Sering

+

-

-

muntah

Nyeri

Tenesmus

Tenesmu

Tenesmus

-

Tenesmu

Sering

perut

s kramp

kolik

s kramp

kramp

Nyeri

-

+

+

-

-

-

kepala

Lamanya

5-7 hari

> 7 hari

3-7 hari

2-3 hari

variasi

3 hari

sakit

Sifat tinja

Volume

Sedang

Sedikit

Sedikit

Banyak

Sedikit

Banyak

Frekuensi

5-10

/har

>

Sering

sering

Sering

Terus

i

10x/hari

meneru

s

Konsistens

Cair

Lembek

Lembek

Cair

Lembek

Cair

i

sering

Darah

-

±

Kadang

-

+

-

i sering Darah - ± Kadang - + - Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
i sering Darah - ± Kadang - + - Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
i sering Darah - ± Kadang - + - Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

21

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Bau Langu   Busuk + - Amis khas Warna Kuning Merah

Bau

Langu

 

Busuk

+

-

Amis

khas

Warna

Kuning

Merah

Kehijauan

Tak

Merah-

Seperti

hijau

hijau

berwarna

hijau

air

cucian

beras

Leukosit

-

+

+

-

-

-

Lain-lain

anoreksia

Kejang

Sepsis +

Meteorismu

Infeksi

±

±

s

sistemik

Diagnosis

1. Anamnesis Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut: lama diare, frekuensi, volume, konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir, dan darah. Bila disertai muntah: volume dan frekuensinya. Kencing: biasa, berkurang, jarang, atau tidak kencing dalam 6-8 jam terakhir. Makanan dan minuman yang diberikan selama diare. Adakah panas atau penyakit lain yang menyertai seperti batuk, pilek, otitis media, campak. Tindakan yang telah dilakukan ibu selama anak diare: member oralit, membawa berobat ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit dan obat-obatan yang diberikan serta riwayat imunisasinya.

2. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut jantung dan pernafasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama dehidrasi: kesadara, rasa haus, dan turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya, seperti ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata cowong atau tidak, ada atau tidak adanya air mata, bibir, mukosa mulut, dan lidah kering atau basah. Pernafasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolic. Bisingusus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemi. Pemeriksaan

lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemi. Pemeriksaan Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemi. Pemeriksaan Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemi. Pemeriksaan Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

22

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” ekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan derajat dehidrasi

ekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan derajat dehidrasi yang terjadi. Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara obyektif yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan selama diare dan subyektif dengan menggunakan kriteria WHO, Skor Maurice King, kriteria MMWR, dan lainnya.

Tabel 3

Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003

Simptom

Minimal atau tanpa dehidrasi, Kehilangan BB <

Dehidrasi Ringan Sedang, Kehilangan BB 3-

Dehidrasi Berat, Kehilangan BB >

9%

3%

9%

Kesadaran

Baik

Normal,

lelah,

Apatis,

letargi,

gelisah, irritable

tidak sadar

Denyut Jantung

Normal

Normal

-

Takikardi,

meningkat

bradikardia

pada

kasus berat

Kualitas nadi

Normal

Normal melemah

Lemah, kecil, tidak teraba

Pernafasan

Normal

Normal cepat

Dalam

Mata

Normal

Sedikit cowong

Sangat cowong

Air mata

Ada

Berkurang

Tidak ada

Mulut dan lidah

Basah

Kering

Sangat kering

Cubitan kulit

Segera kembali

Kembali < 2 detik

Kembali > 2 detik

Capillary refill

Normal

Memanjang

Memanjang,

minimal

Ekstremitas

Normal

Dingin

Dingin,

mottled,

sianotik

Kencing

Normal

Berkurang

Minimal

Sumber: adaptasi dari Dugaan C, Santosham M, Glaso RI, MMWR 1992 dan WHO 1995

dari Dugaan C, Santosham M, Glaso RI, MMWR 1992 dan WHO 1995 Kepaniteraan Klinik Stase Anak
dari Dugaan C, Santosham M, Glaso RI, MMWR 1992 dan WHO 1995 Kepaniteraan Klinik Stase Anak
dari Dugaan C, Santosham M, Glaso RI, MMWR 1992 dan WHO 1995 Kepaniteraan Klinik Stase Anak

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

23

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Tabel 4 Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995 Penilaian   A

Tabel 4

Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995

Penilaian

 

A

B

C

Lihat:

     

* Keadaan umum *mata *air mata *mulut dan lidah *rasa haus

Baik, sadar

Gelisah, rewel

Lesu, lunglai atau tidak

Normal

Cekung

sadar

Ada

Tidak ada

Sangat cekung dan

Basah

Kering

kering

Minum

biasa

Haus,

ingin

Kering

 

(tidak haus)

minum banyak

Sangat kering Malas minum atau tidak bisa minum

Periksa

:

turgor

Kembali cepat

Kembali lambat

Kembali sangat lambat

kulit

Hasil pemeriksaan

Tanpa dehidrasi

Dehidrasi ringan-

Dehidrasi berat

sedang

Terapi

Rencana Terapi A

Rencana

Terapi

Rencana Terapi C

B

Sumber: adaptasi dari Dugaan C, Santosham M, Glaso RI, MMWR 1992 dan WHO 1995

Tabel 5

Penentuan derajat dehidrasi menurut system pengakaan-Maurice King (1974)

Bagian tubuh yang diperiksa

Nilai untuk gejala yang ditemukan

 

0

1

2

Keadaan umum

Sehat

Gelisah,

cengeng,

Mengigau,

koma,

apatis, ngantuk

atau syok

Kekenyalan kulit

Normal

Sedikit kurang

Sangat kurang

Mata

Normal

Sedikit cekung

Sangat cekung

Ubun-ubun besar

Normal

Sedikit cekung

Sangat cekung

Mulut

Normal

Kering

Kering & sianosis

Denyut nadi/menit

Kuat < 120

Sedang 1(120-140)

Lemah > 140

Sumber: Sunoto 1991

Sedang 1(120-140) Lemah > 140 Sumber: Sunoto 1991 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
Sedang 1(120-140) Lemah > 140 Sumber: Sunoto 1991 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
Sedang 1(120-140) Lemah > 140 Sumber: Sunoto 1991 Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

24

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Hasil yang didapat pada penderita diberi angka 0, 1, atau 2

Hasil yang didapat pada penderita diberi angka 0, 1, atau 2 sesuai dengan table, kemudian dijumlahkan. Bilai nilai 0-2 maka ringan, 3-6 maka sedang dan 7-12 adalah berat.

3.

Laboratorium Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya tidak diperlukan hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat, contohnya pemeriksaan darah lengkap, kultur urin, dan tinha pada sepsis atu infeksi saluran kemih. Pemeriksaan laboratorium yang kadang-kadang diperlukan diare akut:

Darah: darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotikalaboratorium yang kadang-kadang diperlukan diare akut: Urin: urin lengkap, kultur, dan tes kepekaan terhadap

Urin: urin lengkap, kultur, dan tes kepekaan terhadap antibiotikaglukosa darah, kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotika Tinja Pemeriksaan makroskopik Pemeriksaan makroskopik tinja

Tinjaurin lengkap, kultur, dan tes kepekaan terhadap antibiotika Pemeriksaan makroskopik Pemeriksaan makroskopik tinja perlu

lengkap, kultur, dan tes kepekaan terhadap antibiotika Tinja Pemeriksaan makroskopik Pemeriksaan makroskopik tinja perlu

Pemeriksaan makroskopik Pemeriksaan makroskopik tinja perlu dilakukan pada semua penderita dengan diare meskipun pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan. Tinja yang watery dan tanpa mukus atau darah biasanya disebabkan oleh enterotoksin virus, protozoa, atau disebabkan oleh infeksi di luar saluran gastrointestinal. Tinja yang mengandung darah atau mukus bisa disebakan infeksi bakteri yang menghasilkan sitotoksin, bakteri enteroinvasif yang menyebabkan peradangan mukosa atau parasit usus seperti: E. histolytica, B. coli, dan T. trichiura. Apabila terdapat darah biasanya bercampur dalam tinja kecuali pada infeksi E. histolytica darah sering terdapat pada permukaan tinja dan pada infeksi EHEC terdapat garis-garis darah pada tinja. Tinja yang berbau busuk didapatkan pada

darah pada tinja. Tinja yang berbau busuk didapatkan pada Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
darah pada tinja. Tinja yang berbau busuk didapatkan pada Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
darah pada tinja. Tinja yang berbau busuk didapatkan pada Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

25

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” infeksi Strongyloides. dengan Salmonella, Giardia, Crytosporidium, dan Tabel 6 Tes laboratorium

infeksi

Strongyloides.

dengan

Salmonella,

Giardia,

Crytosporidium,

dan

Tabel 6

Tes laboratorium tinja yang digunakan untuk mendeteksi enteropatogen

Tes Laboratorium

 

Organisme diduga/identifikasi

 

Mikroskopik: lekosit pada tinja

Invasif

atau

bakteri

yang

memproduksi sitotoksin

Trophozoit,

kista,

oocysts,

G.

lamblia,

E.

histolytika,

spora

Cryptosporidium,

I.

belli,

Cyclospora

 

Rhabditiform lava

 

Strongyloides

 

Spiral

atau

basil

gram

(-)

Campylobacter jejuni

 

berbentuk S

   

Kultur tinja: Standard

 

E.

coli,

Shigella,

Salmonella,

 

Camphylobacter jejuni

Kultur tinja: Spesial

 

Y. enterocolitica, V. cholera, V. parahaemolyticus, C. difficile, E.coli, O157:H7

Enzym immunoassay atau latex aglutinasi

Rotavirus, G. lamblia, enteric adenovirus, C. difficile

Serotyping

 

E. coli, O 157 : H7, EHEC, EPEC

Latex aglutinasi setelah broth enrichment

Salmonella, Shigella

 

Test

yang

dilakukan

di

Bakteri yang memproduksi toksin, EIEC, EAEC, PCR untuk genus virulen

laboratorium riset

 
PCR untuk genus virulen laboratorium riset   Sumber: Supraoto 1 0 Pemeriksaan mikroskopik Pemeriksaan

Sumber: Supraoto 10

Pemeriksaan mikroskopik Pemeriksaan mikroskopik untuk mencari adanya leukosit dapat memberikan informasi tentang penyebab diare, letak

dapat memberikan informasi tentang penyebab diare, letak Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
dapat memberikan informasi tentang penyebab diare, letak Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
dapat memberikan informasi tentang penyebab diare, letak Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

26

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” anatomis serta adanya proses peradangan mukosa. Leukosit dalam tinja diproduksi sebagai

anatomis serta adanya proses peradangan mukosa. Leukosit dalam tinja diproduksi sebagai respon terhadap bakteri yang menyerang mukosa kolon. Leukosit yang positif pada pemeriksaan tinja menunjukkan adanya kuman invasive atau kuman yang memproduksi sitotoksin seperti Shigella, Salmonella, C. jejuni, EIEC, C.difficile, Y. enterolytica, V. parahaemolyticus dan kemungkinan Aeromonas atau P. shigelloides. Leukosut yang ditemukan pada umumnya adalah leukosit PMN, kecuali pada S. typhii leukosit mononuklear. Tidak semua penderita kolitis terdapat leukosit pada tinjanya, pasien yang terinfeksi dengan E. hystolitica pada umumnya leukosit pada tinja minimal. Parasit yang menyebabkan diare pada umumnya tidak memproduksi leukosit dalam jumlah banyak. Normalnya tidak diperlukan pemeriksaan untuk mencari telur atau parait kecuali terdapat riwayat baru saja bepergian ke daerah resiko tinggi, kultur tinja negative untuk enteropatogen, diare lebih dari 1 minggu atau pada pasien immunocompromised. Pasien yang dicurigai menderita diare yang disebabkan giardiasis, cryptosporidiosis, isosporiasis, dan strongylodiasis di mana pemeriksaan tinja negatif, aspirasi atau biopsi duodenum atau yeyunum bagian atas mungkin diperlukan. Karena organism ini hidup di saluran cerna bagian atas, prosedur ini lebih tepat daripada pemeriksaan tinja. Biopsi duodenum adalah metoda yang spesifik dan sensitive untuk diagnosis giardiasis, strongylodiasis dan protozoa yang membentuk spora. E. hystolitica dapat didiagnosis dengan cara pemeriksaan mikroskopik tinja segar. Trophozoit biasanya ditemukan pada tinja cair sedangkan kista ditemukan pada tinja yang berbentuk. Tehnik konsentrasi dapat membantu untuk menemukan kista amuba. Pemeriksaan serial mungkin

untuk menemukan kista amuba. Pemeriksaan serial mungkin Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
untuk menemukan kista amuba. Pemeriksaan serial mungkin Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
untuk menemukan kista amuba. Pemeriksaan serial mungkin Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

27

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” diperlukan oleh karena ekskresi kista sering terjadi intermitten. Sejumlah tes serologis

diperlukan oleh karena ekskresi kista sering terjadi intermitten. Sejumlah tes serologis amubiasis untuk mendeteksi tipe dan konsentrasi antibody juga tersedia. Serologis test untuk amuba hamper selalu positif pada disentri amuba akut dan amubiasis hati. Kultur tinja harus segera dilakukan bila dicurigai terdapat Hemolytic Uremic Syndrome (HUS), diare dengan tinja berdarah, bila terdapat leukosit pada tinja, KLB diare dan pada penderita immunocompromised. Oleh karena bakteri tertentu seperti Y. enterocolitica, V. cholera, V. Parahaemolyticus, Aeromonas, C. difficile, E. coli 0157:H7 dan Camphylobacter membutuhkan prosedur laboratorium khusus untuk identifikasinya, perlu diberi catatan pada label apabila ada salah satu dicurigai sebagai penyebab diare yang terjadi. Deteksi toksin C. difficile sangat berguna untuk diagnosis antimicrobial kolitis. Proctosigmoidoscopy mungkin membantu dalam menegakkan diagnosis pada penderita dengan symptom colitis berat atau penyebab inflammatory enteritis syndrome tidak jelas setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium terapi.

Penatalaksanaan Departemen Kesehatan mulai melakukan sosialisasi Panduan Tata Laksana Pengobatan diare pada balita yang baru didukung oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia, dengan merujuk pada panduan WHO. Tata laksana ini sudah mulai diterapkan di rumah sakit- rumah sakit. Rehidrasi bukan satu-satunya strategi dalam penatalaksanaan diare. Memperbaiki kondisi usus dan menghentikan diare juga menjadi cara untuk mengobati pasien. Untuk itu, Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi semua

menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi semua Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi semua Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi semua Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

28

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” kasus diare yang diderita anak balita baik yang dirawat di rumah

kasus diare yang diderita anak balita baik yang dirawat di rumah maupun sedang dirawat di rumah sakit, yaitu:

1. Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru

2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut

3. ASI dan makanan tetap diteruskan

4. Antibiotik selektif

5. Nasihat kepada orang tua

Rehidrasi denga oralit baru, dapat mengurangi rasa mual dan muntah Berikan segera bila anak diare, untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit formula lama dikembangkan dari kejadian luar biasa diare di Asia Selatan yang terutama disebabkan karena disentri, yang menyebabkan berkurangnya lebih banyak elektrolit tubuh, terutama natrium. Sedangkan diare yang lebih banyak terjadi akhir-akhir ini dengan tingkat sanitasi yang lebih banyak terjadi akhir-akhir ini dengan tingkat sanitasi yang lebih baik adalah disebakan oleh karena virus. Diare karena virus tersebut tidak menyebakan kekurangan elektrolit seberat pada disentri. Karena itu, para ahli diare mengembangkan formula baru oralit dengan tingkat osmolaritas yang lebih rendah. Osmolaritas larutan baru lebih mendekati osmolaritas plasma, sehingga kurang menyebabkan risiko terjadinya hipernatremia.

Oralit Oralit baru ini adalah oralit dengan osmolaritas yang rendah. Keamanan oralit ini sama dengan oralit yang selama ini digunakan, namun efektivitasnya lebih baik daripada oralit formula lama. Oralit baru dengan low osmolaritas ini juga menurunkan kebutuhan suplementasi intravena dan mampu mengurangi pengeluaran tinja hingga 20% serta mengurangi kejadian muntah hingga 30%. Selain itu, oralit baru ini juga telah direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF untuk diare akut non-kolera pada anak.

oleh WHO dan UNICEF untuk diare akut non-kolera pada anak. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30
oleh WHO dan UNICEF untuk diare akut non-kolera pada anak. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30
oleh WHO dan UNICEF untuk diare akut non-kolera pada anak. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

29

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Tabel 7 Komposisi Oralit Baru Oralit Baru Osmolaritas Rendah Mmol/liter Natrium

Tabel 7

Komposisi Oralit Baru

Oralit Baru Osmolaritas Rendah

Mmol/liter

Natrium

75

Klorida

65

Glucose, anhydrous

75

Kalium

20

Sitrat

10

Total Osmolaritas

245

Ketentuan pemberian oralit formula baru

a. Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru

b. Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang untuk persediaan 24 jam

c. Berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar, dengan ketentuan:

o

Untuk anak berumur < 2 tahun: berikan 50-100 ml tiap kali BAB

o

Untuk anak 2 tahun atau lebih: berikan 100-200ml tiap BAB

d. Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa

larutan harus dibuang.

Zinc diberikan selama 10 hari berturur-turut Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu makan anak. Penggunaan zinc ini memang popular beberapa tahun terakhir karena memilik evidence based yang bagus. Beberapa penelitian telah membuktikannya. Pemberian zinc yang dilakukan di awal masa diare selam 10 hari ke depan secara signifikan menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien. Lebih lanjut, ditemukan bahwa pemberian zinc pada pasien anak penderita kolera dapat menurunkan durasi dan jumlah tinja/cairan yang dikeluarkan.

menurunkan durasi dan jumlah tinja/cairan yang dikeluarkan. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
menurunkan durasi dan jumlah tinja/cairan yang dikeluarkan. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
menurunkan durasi dan jumlah tinja/cairan yang dikeluarkan. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

30

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang optimal.

Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang optimal. Meski dalam jumlah yang sangat kecil, dari segi fisiologis, zinc berperan untuk pertumbuhan dan pembelahan sel, anti oksidan, perkembangan seksual, kekebalan seluler, adaptasi gelap, pengecapan, serta nafsu makan. Zinc juga berperan dalam system kekebalan tubuh dan meripakan mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan pada efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan absorpsi air dan elektrolit oleh usus halus, meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah brush border apical, dan meningkatkan respon imun yang mempercepat pembersihan pathogen dari usus. Pengobatan dengan zinc cocok diterapkan di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki banyak masalah terjadinya kekurangan zinc di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan yang rendah dan daya imunitas yang kurang memadai. Pemberian zinc dapat menurunkan frekuensi dan volume buang air besar sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak. Dosis zinc untuk anak-anak

Anak di bawah umur 6 bulan : 10mg (½ tablet) per hariterjadinya dehidrasi pada anak. Dosis zinc untuk anak-anak Anak di atas umur 6 bulan : 20

Anak di atas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut meskipun anak telah sembuh dari diare. Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matangm ASIm atau oralit, Untuk anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.Anak di bawah umur 6 bulan : 10mg (½ tablet) per hari ASI dan makanan tetap

ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti nutrisis yang hilang. Pada diare berdarah nafsu makan akan berkurang. Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase kesembuhan.

Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase kesembuhan. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase kesembuhan. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase kesembuhan. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

31

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Antibiotik jangan diberikan kecuali ada indikasi misalnya diare berdarah atau kolera.

Antibiotik jangan diberikan kecuali ada indikasi misalnya diare berdarah atau kolera. Pemberian antibiotic yang tidak rasional justru akan memperpanjang lamanya diare karena akan megganggu keseimbangan flora usus dan Clostridium difficile yang akan tumbuh dan menyebabkan diare sulit disembuhkan. Selain itu, pemberian antibiotic yang tidak rasional akan mempercepat resistensi kuman terhdao antibiotic, serta menambah biaya pengobatan yang tidak perlu. Pada penelitian multiple ditemukan bahwa telah terjadi peningkatan resistensi terhadap antibiotic yang sering dipakai seperti ampisilin, tetrasiklin, kloramfenikol, dan trimetoprim sulfametoksazole dalam 15 tahun ini. Resistensi terhadap antibiotik terjadi melalui mekanisme berikut inaktivasi obat melalui degradasi enzimatik oleh bakteri, perubahan struktur bakteri yang menjadi target antibiotik dan perubahan permeabilitas membran terhadap antibiotic.

Nasihat pada ibu atau pengasuh: kembali segera jika demam, tinja berdarah, berulang, makan atau minum sedikit, sangat halus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari.

Infeksi usus pada umumnya self limited, tetapi terapi non spesifik dapat membantu penyembuhan pada sebagian pasien dan terapi spesifik, dapat memperpendek lamanya sakit dan memberantas organism penyebabnya. Dalam

merawat penderita dengan diare dan dehidrasi terdapat beberapa pertimbangan terapi:

1. Terapi cairan dan elektrolit

2. Terapi diet

3. Terapi non spesifik dengan antidiare

4. Terapi spesifik dengan antimikroba

Walaupun demikian, berdasarkan penelitian epidemiologis di Indonesia dan negara berkembang lainnya, diketahui bahwa sebagian besar penderita diare biasanya masih dalam keadaan dehidrasi ringan atau belum dehidrasi. Hanya sebagian kecil dengan dehidrasi lebih berat dan memerlukan perawatan di sarana

dehidrasi lebih berat dan memerlukan perawatan di sarana Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
dehidrasi lebih berat dan memerlukan perawatan di sarana Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
dehidrasi lebih berat dan memerlukan perawatan di sarana Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

32

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” kesehatan. Perkiraan secara kasar menunjukkan dari 1000 kasus diare yang ada

kesehatan. Perkiraan secara kasar menunjukkan dari 1000 kasus diare yang ada di masyarakat, 900 dalam keadaan dehidrasi ringan, 90 dalam keadaan dehidrasi sedang dan 10 dalam keadaan dehidrasi berat, 1 diantaranya disertai komplikasi serta penyakit penyerta yang penatalaksanaannya cukup rumit. Berdasarkan data diatas, sesuai dengan panduan WHO, pengobatan diare akut dapat dilaksanakan secara sederhana yaitu dengan terapi cairan dan elektrolit per oral serta melanjutkan pemberian makanan, sedangkan terapi non-spesifik dengan anti diare tidak direkomendasikan dan terapi antibiotika hanya diberikan bila ada indikasi. Pemberian cairan dan elektrolit secara parenteral hanya untuk kasus dehidrasi berat. Terapi Cairan dan Pemberian Makanan ada GEA tanpa Penyulit

Dehidrasi

Rehidrasi

Cairan

Pencegahan

Makan Minum

Waktu

Dehidrasi

 

Tanpa

-

-

10-20 cc/kgBB

ASI diteruskan.

dehidrasi

/

tiap

BAB,

Susu

formula

Oralit

diteruskan

 

dengan

mengurangi

makanan

berserat,

ekstra

1 porsi

Ringan-

4

jam

75

cc (½ gelas)

Idem

 

Dapat

sedang

 

oralit/kgBB atau ad libitum sampai tanda-tanda

 

ditangguhkan

sampai

anak

menjadi segar

dehidrasi hilang

Berat

4

jam

IVFD RL 30cc/kg

Idem

 

Idem

 

BB

 

tetes/kgBB/menit, Oralit ad libitum

segera setelah

tetes/kgBB/menit, Oralit ad libitum segera setelah Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
tetes/kgBB/menit, Oralit ad libitum segera setelah Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
tetes/kgBB/menit, Oralit ad libitum segera setelah Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

33

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” anak bisa minum Monitoring dilakukan tiap 1 jam Setelah rehidrasi Idem

anak bisa minum

Monitoring dilakukan tiap 1 jam

Setelah

rehidrasi

Idem penderita tanpa dehidrasi

Patokan koreksi cairan melalui NGD (Nasogastrik Drip) adalah:

- Nadi masih dapat diraba dan masih dapat dihitung

- Tidak ada meteorismus

- Tidak ada penyulit yang mengharuskan kita memakai cairan IV

- Dikatakan gagal jika dalam 1 jam pertama muntah dan diare terlalu banyak atau syok bertambah berat.

1. Pengobatan diare tanpa dehidrasi TRO (Terapi Rehidrasi Oral) Penderita diare tanpa dehidrasi harus segera diberi cairan rumah tangga untuk mencegah dehidrasi, seperti air tajin, larutan gula garam, kuah sayur-sayuran, dan sebagainya. Pengobatan dapat dilaukan di rumah oleh keluarga penderita. Jumlah cairan yang diberikan adalah 10ml/kgBB atau untuk anak usia < 1 tahun adalah 50-100ml, 1-5 tahun adalah 100-200ml, 5-12 tahun adalah 200- 300ml dan dewasa adalah 300-400ml setiap BAB. Untuk anak di bawah umur 2 tahun cairan harus diberikan dengan sendok dengan cara 1 sendok setiap 1-2 menit. Pemberian dengan botol tidak boleh dilakukan. Anak yang lebih besar dapat minum langsung dari cangkir atau gelas dengan tegukan yang sering. Bila terjadi muntah hentikan dulu selama 10 menit kemudian mulai lagi perlahan-lahan misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit. Pemberian cairan ini dilanjutkan sampai dengan diare berhenti. Selain cairan rumah tangga ASI dan makanan yang biasa dimakan tetap harus diberikan. Makanan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering (lebih kurang 6 kali sehari) serta rendah serat. Buah-buahan diberikan terutama pisang. Makanan yang merangsang (pedas, asam, terlaly banyak lemak) jangan diberikan dulu

(pedas, asam, terlaly banyak lemak) jangan diberikan dulu Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
(pedas, asam, terlaly banyak lemak) jangan diberikan dulu Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
(pedas, asam, terlaly banyak lemak) jangan diberikan dulu Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

34

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” karena dapat menyebabkan diare bertambah hebat dan keadaan anak bertambah berat

karena dapat menyebabkan diare bertambah hebat dan keadaan anak bertambah berat serta jatuh dalam keadaan dehidrasi ringan-sedang, obati dengan cara pengobatan dehidrasi ringan-sedang.

2. Pengobatan diare dehidrasi ringan-sedang TRO (Terapi Rehidrasi Oral) Penderita diare dengan dehidrasi ringan-sedang harud dirawat di sarana kesehatan dan segera diberikan terapi rehidrasi oral dengan oralit. Jumlah oralit yang diberikan 3 jam pertama 75 cc/kgBB. Bila berat badannya tidak diketahui, meskipun cara ini kurang tepat, perkiraan kekurangan cairan dapat ditentukan dengan menggunakan umur penderita, yaitu untuk umur < 1 tahun adalah 300ml, 1-5 tahun adalah 600ml, > 5 tahun adalah 1200 ml dan dewasa adalah 2400ml. Rentang nilai volume cairan ini adalah perkiraan, volume yang sesungguhnya diberikan ditentukan dengan menilai rasa haus penderita dan memantau tanda-tanda dehidrasi. Bila penderita masih haus dan masih ingin minum harus diberi lagi. Sebaliknya bila dengan bolume di atas kelopak nata menjadi bengkak, pemberian oralit harus dihentikan sementara dan diberikan minum air putih atau air tawar. Bila oedem kelopak mata sudah hilang dapat diberikan lagi. Apabila oleh karena sesuatu hal pemberian oralit tidak dapat diberikan secara per-oral, oralit dapat diberikan melalui nasogastrik dengan volume yang sama dengan kecepatan 20ml/kgBB/jam. Setelah 3 jam keadaan penderita dievaluasi, apakah membaik, tetap atau memburuk. Bila keadaan penderita membaik dan dehidrasi teratasi pengobatan dapat dilanjutkan di rumah dengan memberikan oralit dan makanan dengan cara seperti pada pengobatan diare tanpa dehidrasi. Bila memburuk dan penderita jatuh dalam keadaan dehidrasi berat, penderita tetap dirawat di sarana kesehatan dan pengobatan yang terbaik adalah pemberian cairan parenteral.

pengobatan yang terbaik adalah pemberian cairan parenteral. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
pengobatan yang terbaik adalah pemberian cairan parenteral. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
pengobatan yang terbaik adalah pemberian cairan parenteral. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

35

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” 3. Pengobatan diare dehidrasi berat TRP (Terapi Rehidrasi Parenteral) Penderita diare

3. Pengobatan diare dehidrasi berat TRP (Terapi Rehidrasi Parenteral) Penderita diare dehidrasi berat harus dirawat di Puskesmas atau Rumah Sakit. Pengobatan yang terbaik adalah dengan terapi rehidrasi parenteral. Pasien yang masih dapat minum meskipun hanya sedikit harus diberi oralit sampai cairan infuse terpasang. Di samping itu, semua anak harus diberi oralit

selama pemberian cairan intravena ( ± 5ml/kgBB/jam), apabila dapat minum dengan baik, biasanya dalam 3-4jam (untuk bayi) atau 1-2jam (untuk anak yang lebih besar). Pemberian tersebut dilakukan untuk member tambahan basa dan kalium yang mungkin tidak dapat disuplai dengan cukup dengan pemberian cairan intravena. Untuk rehidrasi parenteral digunakan cairan Ringer Laktat dengan dosis 100ml/kgBB. Cara pemberiannya untuk <1tahun 1 jam pertama 30cc/kgBB dilanjutkan 5 jam berikutnya 70cc/kgBB. Di atas 1 tahun ½ jam pertama 30cc/kgBB dilanjutkan 2½ jam berikutnya 70cc/kgBB. Lakukan evaluasi tiap jam. Bila hidrasi tidak membaik, tetesan IV dapat dipercepat. Setelah 6 jam pada bayi atau 3 jam pada anak lebih besar, lakukan evaluasi, pilih pengobatan selanjutnya yang sesuai yaitu pengobatan diare dengan dehidrasi ringan sedang atau pengobatan diare tanpa dehidrasi.

4. Cairan Rehidrasi Oral Pada tahun 1975, WHO dan Unicef menyetujui untuk mempromosikan CRO tunggal yang mengandung natrium 90 mmol/L, kalium 20 mmol/L, chlorida 80 mmol/L, basa 30 mmol/L, dan glukosa 111 mmol/L (2%). Komposisi ini dipilih untuk memingkinkan satu jenis larutan saja untuk digunakan pada pengobatan diare yang disebabkan oleh bermacam sebab bahan infeksius yang disertai dengan berbagai derajat kehilangan elektrolit. Contoh diare Rotavirus berhubungan dengan kehilangan natrium bersama tinja 30-40 mEq/L, ETEC 50-60 mEq/L, dan V. cholera > 90-120 mEq/L. CRO- WHO (Oralit) telah terbukti selama lebih dari 25 tahun efektif baik untuk

telah terbukti selama lebih dari 25 tahun efektif baik untuk Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30
telah terbukti selama lebih dari 25 tahun efektif baik untuk Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30
telah terbukti selama lebih dari 25 tahun efektif baik untuk Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

36

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” terapi maupun rumatan pada anak dan dewasa dengan semua tipe diare

terapi maupun rumatan pada anak dan dewasa dengan semua tipe diare infeksi. Walaupun demikian, dari hasil-hasil riset klinik berikutnya, pada metaanalisa mendukung penggunaan CRO yang osmolaritasnya rendah. CRO dengan osmolaritasnya yang lebih rendah berkaitan dengan muntah lebih sedikit, keluaran tinja yang lebih sedikit, berkurangnya pemberian intravena dibandingkan dengan CRO standard, pada bayi dan anak non kolera. Pada kolera tidak ada perbedaan klinik antara penderita yang diberi CRO osmolaritas rendah dengan CRO standard kecuali angka kejadian hiponatremi. Atas dasar hasil tersebut WHO dan Unicef mengadakan konsultasi tentang penggunaan CRO dengan osmolaritas lebih rendah untuk digunakan secara global. Pada tahun 2002 WHO mengumumkan CRO formula baru yang sesuai dengan rekomendasi tersebut dengan 75 mEq/L natrium, 75 mmol/L glukosa dan osmolaritas total 245 mOsm/L. CRO formula baru ini juga direkomendasikan untuk digunakan pada anak dan dewasa dengan kolera, meskipun post-marketing surveilans sedang dilakukan untuk memastikan keamanan dan indikasinya.

5. CRO baru Resep untuk memperbaiki CRO antara lain menambahkan substrat untuk kontransport natrium (contoh: asam amino glycine, alanine, dan glutamine) atau substitusi glukosa dengan komplek karbohidrat (CRO berbasis beras atau cereal). Asam amino tidak menunjukkan lebih efektif daripada CRO tradisional dan lebih mahal. CRO berbasis beras dapat direkomendasikan bila cukup latihan dan penyediaan di rumah dapat dilakukan, dan mungkin sangat efektuf untuk mengobati dehidrasi karena kolera. Walaupun demikian, kemudahan dan keamanan CRO paket di negara berkembang dan secara komersial tersedia CRO di negara maju, maka CRO standard tetap merupakan pilihan utama dari sebagian besar klinisi.

tetap merupakan pilihan utama dari sebagian besar klinisi. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
tetap merupakan pilihan utama dari sebagian besar klinisi. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
tetap merupakan pilihan utama dari sebagian besar klinisi. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

37

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Potential additive pada CRO termasuk mampu melepaskan SCFA (amylase resistant starch

Potential additive pada CRO termasuk mampu melepaskan SCFA (amylase resistant starch derivate dari jagung) dan partially hydrolyzed guar gum. Mekanisme kerja yang diharapkan adalah meningkatkan uptake natrium oleh kolon terikat pada transport SCFA. Kemungkinan lain dari perbaikan komposisi CRO masa depan adalah penambahan probiotik, prebiotik, send, dan protein polimer.

6. Seng (Zinc) Defisiensi seng sering didapatkan pada anak-anak di negara berkembang dan dihubungkan dengan menurunnya fungsi imun dan meningkatnya kejadian penyakit infeksi yang serius. Seng merupakan mikronutrien komponen berbagai enzim dalam tubuh, yang penting antara lain untuk sintesis DNA. Pada sistematik review dari 10 RCT yang semuanya dilakukan di negara berkembang pada tahun 1999 didapatkan bahwa suplementasi seng dengan dosis minimal setengah dari RDA Amerika Serikat untuk seng, ternyata dapat menurunkan insiden diare sebanyak 15% dan prevalensi diare sampai 25%, kurang lebih sama dengan hasil yang dicapai upaya preventive yang lain seperti perbaikan hygiene sanitasi dan pemberian ASI. Sejak tahun 2004, WHO dan UNICEF telah menganjurkan penggunaan seng pada anak dengan diare dengan dosis 20 mg per hari selama 10-14 hari, dan pada bayi < 6 bulan dengan dosis 10 mg per hari selama 10-14 hari.

7. Pemberian makanan selama diare Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah sembuh. Tujuannya adalah memberikan makanan kaya nutrient sebanyak anak mampu menerima. Sebagian besar anak dengan diare cair, nafsu makannya timbul kembali setelah dehidrasi teratasi. Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal termasuk kemampuan menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrien, sehingga memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling tidak dikurangi.

status gizi dapat dicegah atau paling tidak dikurangi. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
status gizi dapat dicegah atau paling tidak dikurangi. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
status gizi dapat dicegah atau paling tidak dikurangi. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

38

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Sebaliknya, pembatasan makanan akan menyebabkan penurunan berat badan sehingga diare menjadi

Sebaliknya, pembatasan makanan akan menyebabkan penurunan berat badan sehingga diare menjadi lebih lama dan kembalinya fungsi usus akan lebih lama. Makanan yang diberikan pada anak diare tergantung kepada umur, makanan yang disukai, dan pola makan sebelum sakit serta budaya setempat. Pada umumnya, makanan yang tepat untuk anak diare sama dengan yang dibutuhkan dengan anak sehat. Bayi yang minum ASIharus diteruskan sesering mungkin dan selama anak mau. Bayi yang tidak minum ASI harus diberi susu yang biasa diminum paling tidak setiap 3 jam. Pengenceran susu atau penggunaan susu rendah atau bebas laktosa secara rutin tidak diperlukan. Pemberian susu rendah laktosa atau bebas laktosa mungkin diperlukan untuk sementara bila pemberian susu menyebabkan diare timbul kembali atau bertambah hebat sehingga terjadi dehidrasi lagi, atau dibuktikan dengan pemeriksaan terdapat tinja yang asam (pH < 6) dan terdapat bahan yang mereduksi dalam tinja > 0,5%. Setelah diare berhenti, pemberian tetap dilanjutkan selama 2 hari kemudian coba kembali dengan susu atau formula biasanya diminum secara bertahap selama 2-3 hari. Bila anak berumur 4 bulan atau lebih dan sudah mendapatkan makanan lunak atau padat, makanan ini harus diteruskan. Paling tidak 50% dari energy diit harus berasal dari makanan dan diberikan dalam porsi kecil atau sering (6kali atau lebih) dan anak dibujuk untuk makan. Kombinasi susu formula dengan makanan tambahan seperti sereal pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik pada anak yang telah disapih. Pada anak yang lebih besar, dapat diberikan makanan yang terdiri dari makanan pokok setempat misalnya nasi, kentang, gandum, roti, atau bakmi. Untuk meningkatkan kandungan energinya dapat ditambahkan 5-10ml minyak nabati untuk setiap 100 ml makanan. Minyak kelapa sawit sangat bagus dikarenakan kaya akan karoten. Campur makanan pokok tersebut dengan kacang-kacangan dan sayur-sayuran, serta ditambahkan tahu, tempe, daging, atau ikan. Sari buah segar atau pisang baik untuk menambah kalium. Makanan yang berlemak atau makanan yang

menambah kalium. Makanan yang berlemak atau makanan yang Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
menambah kalium. Makanan yang berlemak atau makanan yang Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
menambah kalium. Makanan yang berlemak atau makanan yang Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

39

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” mengandung banyak gula seperti sari buah manis yang diperdagangkan, minuman ringan,

mengandung banyak gula seperti sari buah manis yang diperdagangkan, minuman ringan, sebaiknya dihindari.

8. Pemberian makanan setelah diare Meskipun anak diberi makanan sebanyak dia mau selama diare, beberapa kegagalan pertumbuhan mungkin dapat terjadi terutama bila terjadi anoreksia hebat. Oleh karena itu, perlu pemberian ekstra makanan yang kaya akan zat gizi beberapa minggu setelah sembuh untuk memperbaiki kurang gizi dan untuk mencapai serta mempertahankan pertumbuhan normal. Berikan ekstra makanan pada saat anak merasa lapar, pada keadaan semacam ini biasanya anak dapat menghabiskan tambahan 50% atau lebih kalori dari biasanya.

9. Terapi medikamentosa Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare, seperti antibiotika, antidiare, adsorben, antiemetic, dan obat yang mempengaruhi mikroflora usus. Beberapa obat mempunyai lebih dari satu mekanisme kerja, banyak diantaranya mempunyai efek toksik sistemik dan sebagian besar tidak direkomendasikan untuk anak umur kurang dari 2-3 tahun. Secara umum,, dikatakan bahwa obat-obat tersebut tidak diperlukan untuk pengobatan diare akut.

Antibiotik Antibiotika pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh karena sebagian besar diare infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self-limited dan tidak dapat dibunuh dengan antibiotika. Hanya sebagian kecil (10-20%) yang disebabkan oleh bakteri pathogen seperti V. cholera, Shigella, Enterotoksigenik E. coli, Salmonella, Campylobacter, dan sebagainya.

E. coli, Salmonella, Campylobacter, dan sebagainya. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
E. coli, Salmonella, Campylobacter, dan sebagainya. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
E. coli, Salmonella, Campylobacter, dan sebagainya. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

40

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Tabel 8 Antibiotika pada diare Penyebab Antibiotik Pilihan Alternatif Kolera

Tabel 8

Antibiotika pada diare

Penyebab

Antibiotik Pilihan

Alternatif

Kolera

Tetracycline 12,5 mg/kgBB 4x sehari selama 3 hari

Erythromycin 12,5 mg/kgBB 4x sehari selama 3 hari

Shigella dysentery

Ciprofloxacin

Pivmecillinam 20 mg/kgBB 4x sehari selama 5 hari

15

mg/kgBB

2x sehari selama 3 hari

Ceftriaxone 50-100 mg/kgBB 1x sehari IM selama 2-5 hari

Amoebiasis

Metronidazole

 

10

mg/kgBB

3x sehari selama 5 hari (10 hari pada kasus berat)

Giardiasis

Metronidazole

 

10

mg/kgBB

3x sehari selama 5 hari

Sumber : WHO 2006

Obat antidiare Obat-obat ini meskipun sering digunakan tidak mempunyai keuntungan praktis dan tidak diindikasikan untuk pengobatan diare akut pada anak. Beberapa dari obat-obat ini berbahaya. Produk yang termasuk dalam kategori ini adalah:

Adsorben Contoh: kaolin, attapulgite, smectite, activated charcoal, cholesteramine. Contoh: kaolin, attapulgite, smectite, activated charcoal, cholesteramine.

attapulgite, smectite, activated charcoal, cholesteramine. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
attapulgite, smectite, activated charcoal, cholesteramine. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
attapulgite, smectite, activated charcoal, cholesteramine. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

41

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Obat-obat ini dipromosikan untuk pengobatan diare atas dasar kemampuannya untuk mengikat

Obat-obat ini dipromosikan untuk pengobatan diare atas dasar kemampuannya untuk mengikat dan menginaktifasi toksin bakteri atau bahan lain yang menyebabkan diare serta dikatakan mempunyai kemampuan melindungi mukosa usus. Walaupun demikian, tidak ada bukti keuntungan praktid dari penggunaan obat ini untuk pengobatan rutin diare akut pada anak.

Antimotilitas Contoh: loperamide, hydrochloride, diphenoxylate dengan atropine, tincture opii, paregoric, codein. Obat-obatan ini dapat Contoh: loperamide, hydrochloride, diphenoxylate dengan atropine, tincture opii, paregoric, codein. Obat-obatan ini dapat mengurangi frekuensi diare pada orang dewasa akan tetapi tidak mengurangi volume tinja pada anak. Lebih dari itu dapat menyebabkan ileus paralitik yang berat yang dapat fatal atau dapat memperpanjang infeksi dengan memperlambat eliminasi dari organism penyebab. Dapat terjadi efek sedative pada dosis normal. Tidak satu pun dari obat-obatan ini boleh diberikan pada bayi dan anak dengan diare.

Bismuth Subsalicylate Bila diberikan setiap 4 jam dilaporkan dapat mengurangi keluaran tinja pada anak dengan diare akut Bila diberikan setiap 4 jam dilaporkan dapat mengurangi keluaran tinja pada anak dengan diare akut sebanyak 30% akan tetapi, cara ini jarang digunakan.

Kombinasi Obat Banyak produk kombinasi adsorben, antimikroba, antimotilitas atau bahan lain. Produsen obat mengatakan bahwa formulasi ini Banyak produk kombinasi adsorben, antimikroba, antimotilitas atau bahan lain. Produsen obat mengatakan bahwa formulasi ini baik untuk digunakan pada berbagai macam diare. Kombinasi obat semacam ini tidak rasional, mahal dan lebih banyak efek samping daripada bila obat ini digunakan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, tidak ada tempat untuk menggunakan ibat ini pada anak dengan diare.

tempat untuk menggunakan ibat ini pada anak dengan diare. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
tempat untuk menggunakan ibat ini pada anak dengan diare. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
tempat untuk menggunakan ibat ini pada anak dengan diare. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

42

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Obat-obat lain: Anti muntah Termasuk obat ini seperti prochlorperazine dan chlorpromazine

Obat-obat lain:

Anti muntah Termasuk obat ini seperti prochlorperazine dan chlorpromazine yang dapat menyebabkan mengantuk sehingga mengganggu Termasuk obat ini seperti prochlorperazine dan chlorpromazine yang dapat menyebabkan mengantuk sehingga mengganggu pemberian terapi rehidrasi oral. Oleh karena itu, obat anti muntah tidak digunakan pada anak dengan diare, muntah karena biasanya berhenti bila penderita telah terehidrasi.

Cardiac stimulant Renjatan pada diare akut disebabkan oleh karena dehidrasi dan hipovolemi. Pengobatan yang tepat adalah pemberian Renjatan pada diare akut disebabkan oleh karena dehidrasi dan hipovolemi. Pengobatan yang tepat adalah pemberian cairan parenteral dengan elektrolit yang seimbang. Penggunaan cardiac stimulant dan obat vasoaktif seperti adrenalin, nicotinamide, tidak pernah diindikasikan.

Darah atau plasma Darah, plasma, atau plasma expander tidak diindikasikan untuk anak dengan dehidrasi oleh karena diare. Yang Darah, plasma, atau plasma expander tidak diindikasikan untuk anak dengan dehidrasi oleh karena diare. Yang dibutuhkan adalah penggantian dari kehilangan air dan elektrolit. Walaupun demikianm terapi rehidrasi tersebut dapat diberikan untuk penderita dengan hipovolemia oleh karena renjatan septik.

Steroid Tidak memberikan keuntungan dan tidak diindikasikan Tidak memberikan keuntungan dan tidak diindikasikan

Tabel 9

Beberapa Penyulit Gastroenteritis Akut dan Penanggulangannya

Jenis Penyulit

Jumlah cairan

Terapi

Ket

Medikamentosa

 

KKP I-II

Sesuai

GEA

Sesuai

kausa

/

 

murni

penyakit

penyerta

KKP II

Maras

:

250

   

cc/kgBB

Kwash

:

200

cc/kgBB

Broncopneumonia

¾ kebutuhan

Sesuai BP

 

*

Broncopneumonia ¾ kebutuhan Sesuai BP   * Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
Broncopneumonia ¾ kebutuhan Sesuai BP   * Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
Broncopneumonia ¾ kebutuhan Sesuai BP   * Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

43

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Ensefalitis ¾ kebutuhan Sesuai Ensefalitis   Meteorismus ¾ kebutuhan

Ensefalitis

¾ kebutuhan

Sesuai Ensefalitis

 

Meteorismus

¾ kebutuhan

Antibiotic

**

profilaksis

Meningitis

¾ kebutuhan

Sesuai menpur

 

Purulenta

Dehidrasi

Sesuai

skema

Sesuai etiologi

***

hipertonik

di bawah

Gagal Ginjal Akut

30 cc kg/BB + volume urin 1 hari sebelumnya +

Sesuai GGA

 

12%

setiap

kenaikan suhu

1

0 C

Impending

¾

kebutuhan

Digitalisasi

 

Decomp Cordis

*

Diberikan pada bronkopneumonia dimana anak sangat sesak dan sistim kardiovaskular tidak mungkin menerima terapi rehidrasi cepat

**

Akibat

lanjut dari meteorismus adalah terjadinya

ballooning effect,

langkah-langkah;

untuk

mengatasi

ini

adalah dengan melakukan

dekompresi :

- Dari atas dengan sonde lambung yang dihisap secara berkala

- Dari bawah dengan memasang schorstein

 

***

Menghentikan makanan peroral (sesuai dengan beratnya meteorismus), member makanan parenteral sedini mungkin, memberikan antibiotika profilaksis. Dasar klinis diagnosis dehidrasi hipertonis:

-

- Klinis

: turgor yang relatif baik, rasa haus yang sangat nyata,

kejangyang biasanya timbul setelah terapi cairan

- Labor : kadar Na + serum lebih dari 150mEq/L

cairan - Labor : kadar Na + serum lebih dari 150mEq/L Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode
cairan - Labor : kadar Na + serum lebih dari 150mEq/L Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode
cairan - Labor : kadar Na + serum lebih dari 150mEq/L Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

44

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Tabel 10 Terapi cairan dehidrasi hipertonik Jumlah Waktu Jumlah Jenis cairan

Tabel 10

Terapi cairan dehidrasi hipertonik

Jumlah

Waktu

Jumlah

Jenis cairan yang diberikan sesuai frekuensi nadi

Cairan

jam ke-

tetesan

ml/kgBB

Tts/kgBB/

120

120-140

140-160

>160

Filiformis

mencret

60

1

DG

RL

RL

RL

RL

 

2

DG

DG

RL

RL

RL

 

3

DG

DG

DG

RL

RL

 

4

DG

DG

DG

DG

RL

190

5-20

2

3 / 8

DG

DG

DG

DG

DG

Komplikasi Beberapa masalah mungkin terjadi selama pengobatan rehidrasi. Beberapa diantaranya membutuhkan pengobatan khusus. Gangguan Elektrolit

Hipernatremia Penderita diare dengan natrium plasma > 150 mmol/L memerlukan pemantauan berkala yang ketat. Tujuannya adalah Penderita diare dengan natrium plasma > 150 mmol/L memerlukan pemantauan berkala yang ketat. Tujuannya adalah menurunkan kadar natrium secara perlahan-lahan. Penurunan kadar natrium plasma yang cepat sangat berbahaya oleh karena dapat menimbulkan edema otak. Rehidrasi oral atau nasogastrik menggunakan oralit adalah cara terbaik dan paling aman. Koreksi dengan rehidrasi intravena dapat dilakukan menggunakan cairan 0,45% saline 5 % dextrose selama 8 jam. Hitung kebutuhan cairang menggunakan berat badan tanpa koreksi. Periksa kadar natrium plasma setelah 8 jam. Bila normal lanjutkan dengan rumatan, bila sebaliknya lanjutkan 8 jam lagi dan periksa kembali natrium pasma setelah 8 jam. Untuk rumatan gunakan 0,18% saline 5 % dextrose, perhitungkan untuk 24 jam. Tambahkan 10 mmol KCl pada setiap 500ml cairan infuse setelah pasien dapat kencing. Selanjutnya

cairan infuse setelah pasien dapat kencing. Selanjutnya Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
cairan infuse setelah pasien dapat kencing. Selanjutnya Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
cairan infuse setelah pasien dapat kencing. Selanjutnya Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

45

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” pemberian diet normal dapat mulai diberikan. Lanjutkan pemberian oralit 10ml/kgBB/setiap BAB,

pemberian diet normal dapat mulai diberikan. Lanjutkan pemberian oralit 10ml/kgBB/setiap BAB, sampai diare berhenti.

Hiponatremia Anak dengan diare yang hanya minum air putih atau cairan yang hanya mengandung sedikit garam, Anak dengan diare yang hanya minum air putih atau cairan yang hanya mengandung sedikit garam, dapat terjadi hipontremia (Na < 130 mol/L). Hipontremia sering terjadi pada anak dengan Shigellosis dan pada anak malnutrisi berat dengan oedema. Oralit aman dan efektif untuk terapi dari hamper semua anak dengan hiponatremi. Bila tidak berhasil, koreksi Na dilakukan bersamaan dengan koreksi cairan rehidrasi yaitu memakai Ringer Laktat atau Normal Saline. Kadar Natrium koreksi (mEq/L) = 125-kadar Na serum yang diperiksa dikalikan 0,6 dan dikalikan berat badan. Separuh diberikan dalam 8 jam, sisanya diberikan dalam 16 jam. Peningkatan serum Na tidak boleh melebihi 2 mEq/L.

Hiperkalemia Disebut hiperkalemia jika K > 5 mEq/L, koreksi dilakukan dengan pemberian kalsium glukonas 10% 0,5-1 Disebut hiperkalemia jika K > 5 mEq/L, koreksi dilakukan dengan pemberian kalsium glukonas 10% 0,5-1 ml/kgBB iv pelan-pelan dalam 5-10 menut dengan monitor detak jantung.

Hipokalemia Dikatakan hipokalemia bila K < 3,5 mEq/L, koreksi dilakukan menurut kadar K : jika kalium Dikatakan hipokalemia bila K < 3,5 mEq/L, koreksi dilakukan menurut kadar K : jika kalium 2,5 3,5 mEq/L diberikan per oral 75 mcg/kgBB/hr dibagi 3 dosis. Bila < 2,5 mEq/L maka diberikan secara intravena drip (tidak boleh bolus) diberikan dalam 4 jam. Dosisnya:

(3,5 kadar K terukur x BB x 0,4 + 2mEq/kgBB/24 jam) diberikan dalam 4 jam, kemudian 20 jam berikutnya adalah (3,5 kadar K terukur x BB x 0,4 + 1/6 x 2 mEq x BB). Hipokalemi dapat menyebabkan kelemahan otot, paralitik ileus, gangguan fungsi ginjal dan aritmia jantung. Hipokalemi dapat dicegah dan kekurangan kalium dapat dikoreksi dengan menggunakan oralit

kekurangan kalium dapat dikoreksi dengan menggunakan oralit Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
kekurangan kalium dapat dikoreksi dengan menggunakan oralit Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
kekurangan kalium dapat dikoreksi dengan menggunakan oralit Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

46

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” dan memberikan makanan yang kaya kalium selama diare dan sesudah diare

dan memberikan makanan yang kaya kalium selama diare dan sesudah diare berhenti.

Kegagalan Upaya Rehidrasi Oral Kegagalan upaya rehidrasi oral dapat terjadi pada keadaan tertentu misalnya pengeluaran tinja cair yang sering dengan volume yang banyak, muntah yang menetap, tidak dapat minum, kembung dan ileus paralitik, serta malabsorbsi glukosa. Pada keadaan-keadaan tersebut mungkin penderita harus diberikan cairan intravena.

Kejang Pada anak yang mengalami dehidrasi, walaupun tidak selalu, dapat terjadi kejang sebelum atau selama pengobatan rehidrasi. Kejang tersebut dapat disebabkan oleh karena hipoglikemi, kebanyakan terjadi pada bayi atau anak yang gizinya buruk, hiperpireksia, kejang terjadi bila panas tinggi, misalnya melebihi 40 0 C, hipernatremi atau hiponatremi.

Pencegahan

Upaya pencegahan diare dapat dilakukan dengan cara:

1. Mencegah penyebaran kuman pathogen penyebab diare Kuman-kuman pathogen penyebab diare umumnya disebarkan secara fekal- oral. Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu difokuskan pada

cara penyebaran ini. Upaya pencegahan diare yang terbukti efektif, meliputi:

a. Pemberian ASI yang benar

b. Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI

c. Penggunaan air bersih yang cukup

d. Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar dan sebelum makan

e. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga

yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

47

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” f. Membuang tinja bayi yang benar 2. Memperbaiki daya tahan tubuh

f. Membuang tinja bayi yang benar

2. Memperbaiki daya tahan tubuh pejamu (host) Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak

dan dapat mengurangi resiko diare, antara lain:

a. Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun

b. Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan member makan dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki status gizi anak

c. Imunisasi campak

Akhir-akhir ini banyak diteliti tentang peranan probiotik, prebiotik, dan seng dalam pencegahan diare. Probiotik Probiotik diberi batas sebagai mikroorganisme hidup dalam makanan yang difermentasi yang menunjang kesehatan melalui terciptanya keseimbangan mikroflora intestinal yang lebih baik. Pencegahan diare dapat dilakukan dengan pemberian probiotik dalam waktu yang panjang terutama untuk bayi yang tidak minum ASI. Pada sistematik review yang dilakukan Komisi Nutrisi ESPGHAN (Eropean Society of Gastroenterology Hepatology and Nutrition) pada tahun 2004, didapatkan laporan-laporan yang berkaitan dengan peran probiotik untuk

pencegahan diare. Saavedra dkk tahun 1994, melaporkan pada penelitiannya bahwa susu formula yang disuplementasi dengan Bifidobacterium lactis dan Streptococcus thermophilus bila diberikan pada bayi dan anak usia 5-24 bulan yang dirawat di Rumah Sakit dapat menurunkan angka kejadian diare dari 31% menjadi 7%, infeksi rotavirus juga berkurang dari 39% pada kelompok placebo menjadi 10% pada kelompok probiotik. Penelitian Phuapradit P. dkk di Thailand pada tahun 1999 menunjukan bahwa bayi yang minum susu formula yang mengandung probiotik Bifidobacterium Bb 12 dan Streptococcus thermophylus lebih jarang menderita diare oleh karena infeksi rotavirus. Oberhelman RA dkk tahun 2002 melaporkan penggunaan Lactobacillus GG di Peru pada komunitas dengan resiko tinggi diare dapat menurunkan episode diare terutama pada anak-anak usia 18-29 bulan dibandingkan dengan placebo

pada anak-anak usia 18-29 bulan dibandingkan dengan placebo Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
pada anak-anak usia 18-29 bulan dibandingkan dengan placebo Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
pada anak-anak usia 18-29 bulan dibandingkan dengan placebo Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

48

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” (4,7 v 5,9 episod/anak/thn dengan p=0,0005), akan tetapi penelitian yang sama

(4,7 v 5,9 episod/anak/thn dengan p=0,0005), akan tetapi penelitian yang sama di Finlandia tahun 2001 tidak menemukan adanya efek proteksi pada konsumsi jangka lama susu formula yang disuplementasi dengan probiotik. D’Souza dkk tahun 2002 melaporkan bahwa probiotik jika diberikan bersama-sama dengan antibiotika mengurangi resiko “Antibiotic Associated Diaorrhea”. Kemungkinan mekanisme efek probiotik dalam pencegahan diare melalui perubahan lingkungan mikro lumen usus (pH, oksigen), produksi bahan anti mikroba terhadap beberapa pathogen usus, kompetisi nutrient, mencegah adhesi kuman pathogen pada enterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin efek trofik terhadap mukosa usus melalui penyediaan nutrient dan imunomodulasi. Disimpulkan bahwa beberapa probiotik potential mempunyai efek protektif terhadap diare, tetapi masih diperlukan penelitian dan evaluasi lebih lanjut termasuk efektifitas dan keamanannya, walaupun sejauh ini penggunaan probiotik pada percobaan klini dikatakan aman. Surveilans diperlukan untuk mencari kemungkinan efek samping seperti infeksi pada kelompok resiko tinggi antara lain bayi premature dan pasien immunocompromised. Prebiotik Prebiotik bukan merupakan mikroorganisme akan tetapi bahan makanan. Umumnya kompleks karbohidrat yang bila dikonsumsi dapat merangsang pertumbuhan flora intestinal yang menguntungkan kesehatan. Oligosacharida yang ada di dalama ASI dianggap sebagai prototype prebiotik karena dapat merangsang pertumbuhan Lactobacilli dan Bifidobacteria di dalam kolon bayi yang minum ASI, Data menunjukan angka kejadian diare akut lebih rendah pada bayi yang minum ASI. Tetapi pada dua penelitian RCT di Peru tahun 2003, bayi-bayi di komunitas yang diberi cereal yang disuplementasi dengan Fruktooligosakarida (FOS) tidak menunjukan penurunan angka kejadian diare. Penemuan lain yang dilakkan di Yogyakarta pada tahun 1998, suatu penelitian RCT yang melibatkan 124 penderita diare dengan tanpa melihat

RCT yang melibatkan 124 penderita diare dengan tanpa melihat Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
RCT yang melibatkan 124 penderita diare dengan tanpa melihat Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
RCT yang melibatkan 124 penderita diare dengan tanpa melihat Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

49

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” penyebabnya menunjukkan adanya perbedaan bermakna lamanya diare, dimana pada penderita yang

penyebabnya menunjukkan adanya perbedaan bermakna lamanya diare, dimana pada penderita yang mendapat FOS lebih pendek masa diarenya disbanding placebo. Rekomendasi penggunaannya untuk aspek pencegahan diare akut masih perlu menunggu penelitian-penelitian selanjutnya.

Prognosis Dengan penggantian cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare hasilnya sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. Penderita dipulangkan apabila ibu sudah dapat/sanggup membuat/memberikan oralit kepada anak dengan cukup walaupun diare masih berlangsung dan diare bermasalah atau dengan penyakit penyerta sudah diketahui dan diobati

II. 2. Diare Kronis dan Diare Persisten

Definisi Diare kronis dan diare persisten seringkali dianggap suatu kondisi yang sama. Ghishan menyebutkan diare kronis sebagai suatu episode diare lebih dari 2 minggu, sedangkan kondisi serupa yang disertai berat badan menurun atau sukar naik oleh Walker-Smith et al. didefinisikan sebagai diare persisten. Di lain pihak, dasar etiologi diare kronis yang berbeda diungkapkan oleh Bhutta dan oleh The American Gastroenterological Association. Definisi diare kronis menurut Bhutta adalah episode diare lebih dari dua minggu, sebagian besar disebabkan diare akut berkepanjangan akibat infeksi, sedangkan definisi menurut The American Gastroenterological Association adalah episode diare yang berlangsung lebih dari 4 minggu, oleh etiologi non-infeksi serta memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Bervariasinya definisi ini pada dasarnya disebabkan perbedaan kejadian diare kronis dan persisten di negara berkembang, sedangkan penyebab non-infeksi lebih banyak didapatkan di negara maju. Demikian juga porsi serta prioritas penelitian

negara maju. Demikian juga porsi serta prioritas penelitian Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
negara maju. Demikian juga porsi serta prioritas penelitian Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
negara maju. Demikian juga porsi serta prioritas penelitian Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

50

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” maupun pembahasan lebih didominasi permasalahan diare non infeksi, antara lain karena

maupun pembahasan lebih didominasi permasalahan diare non infeksi, antara lain karena dalam tatalaksananya, diare bentuk ini lebih banyak membutuhkan biaya. Akan sangat membantu apabila terdapat suatu definisi standar sehingga dapat dilakukan pembandingan antar studi serta pembuatan rekomendasi pengobatan di lingkungan masyarakat gastrohepatologi anak di Indonesia

digunakan pengertian bahwa ada 2 jenis diare yang berlangsung 14 hari, yaitu diare persisten yang mempunyai dasar etiologi infeksi, serta diare kronis yang mempunyai dasar etiologi non-infeksi. Untuk selanjutnya batasan tersebut yang akan dipakai dalam diskusi topik ini.

Epidemiologi Diare persisten/kronis mencakup 3-20% dari seluruh episode diare pada balita. Insidensi diare persisten di beberapa negara berkembang berkisar antara 7- 15% setiap tahun dan menyebabkan kematian sebesar 36-54% dari seluruh kematian akibat diare. Hal ini menunjukkan bahwa diare persisten dan kronis menjadi suatu masalah kesehatan yang mempengaruhi tingkat kematian anak di dunia. Di Indonesia, prevalensi diare persisten/kronis sebesar 0,1%, dengan angka kejadian tertinggi pada anak-anak berusia 6-11 bulan.

Etiologi Diare berkepanjangan dapat disebabkan berbagai macam kondisi. Di negara maju, sebagain besar membahas penyebab non-infeksi, umunya meliputi intoleransi protein susu sapi/kedeai (pada anak usia < 6bulan, tinja sering disertai dengan darah); celiac disease (gluten-sensitive enteropathy), dan cystic fibrosis. Namun, perhatian global seringkali tertuju pada diare berkepanjangan yang bermula dari diare akut akibat infeksi saluran cerna. Diare jenis ini banyak terjadi di negara-negara berkembang.

Diare jenis ini banyak terjadi di negara-negara berkembang. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
Diare jenis ini banyak terjadi di negara-negara berkembang. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
Diare jenis ini banyak terjadi di negara-negara berkembang. Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

51

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Patogenesis / Patofisiologi Patogenesis diare kronis melibatkan berbagai faktor yang sangat

Patogenesis / Patofisiologi Patogenesis diare kronis melibatkan berbagai faktor yang sangat kompleks. Pertemuan Commonwealth Association of Pediatric Gastrointestinal and Nutrition (CAPGAN) menghasilkan suatu konsep pathogenesis diare kronis yang menjelaskan bahwa paparan berbagai faktor predisposisi, baik infeksi maupun non-infeksi akan menyebabkan rangkaian proses yang pada akhirnya memicu kerusakan mukosa usus dan mengakibatkan diare kronis. Seringkali diare kronis dan diare persisten tidak dapat dipisahkan, sehingga beberapa referensi hanya menggunakan salah stau istilah untuk menerangkan kedua jenis diare tersebut. Meskipun sebenarnya definisi diare persisten dan diare kronis berbeda, namun, kedua jenis diare tersebut lebih sering dianggap sebagai diare oleh karena infeksi.

Bagan 1 Konsep pathogenesis diare persisten dan kronis

Bagan 1 Konsep pathogenesis diare persisten dan kronis Sumber: Sullivan Bagan 2 Alur perjalanan diare akut

Sumber: Sullivan

Bagan 2 Alur perjalanan diare akut menjadi diare persisten

Bagan 2 Alur perjalanan diare akut menjadi diare persisten Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
Bagan 2 Alur perjalanan diare akut menjadi diare persisten Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
Bagan 2 Alur perjalanan diare akut menjadi diare persisten Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

52

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” Sumber: Bhutta Dua faktor utama mekanisme diare kronis adalah faktor intralumen
“ Diare pada Anak ” Sumber: Bhutta Dua faktor utama mekanisme diare kronis adalah faktor intralumen

Sumber: Bhutta Dua faktor utama mekanisme diare kronis adalah faktor intralumen dan faktor mucosal. Faktor intralumen berkaitan dengan proses pencernaan dalam lumen termasuk gangguan pankreas, hepar, dan brush border membrane. Faktor mucosal adalah faktor yang mempengaruhi pencernaan dan penyerapan, sehingga berhubungan dengan segala proses yang mengakibatkan perubahan integritas membrane mukosa usus, ataupun gangguan pada fungsi transport protein. Perubahan integritas membrane mukosa usus dapat disebabkan oleh proses akibat infeksi maupun non-infeksi, seperti alergi susu sapid an intoleransi laktosa. Gangguan fungsi transport protein misalnya disebabkan gangguan penukaran ion Natrium-Hidrogen dan Klorida-Bikarbonat. Secara umum, patofisiologi diare kronis/persisten digambarkan secara jelas oleh Ghishan, dengan membagi menjadi lima mekanisme, yakni:

1. Sekretoris Pada diare sekretoris, terjadi peningkatan sekresi Cl- secara aktif dari sel kripta akibat mediator intraseluler cAMP, cGMP, dan ca2+. Mediator tersebut juga mencegah terjadinya perangkaian antara Na+ dan Cl- pada sel vili usus. Hal ini berakibat cairang tidak dapat terserap dan terjadi pengeluaran cairan

cairang tidak dapat terserap dan terjadi pengeluaran cairan Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
cairang tidak dapat terserap dan terjadi pengeluaran cairan Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –
cairang tidak dapat terserap dan terjadi pengeluaran cairan Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei –

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

53

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” secaramasif ke lumen usus. Diare dengan mekanisme ini memiliki tanda khas

secaramasif ke lumen usus. Diare dengan mekanisme ini memiliki tanda khas yaotu volume tinja yang banyak (>200ml/24jam), konsistensi tinja sangat cair, konsentrasi Ba= dan cl- > 70mEq, dan tidak berespon terhadap penghentian makanan. Contoh penyebab diare sekretoris adalah Vibrio cholerae di mana bakteri mengeluarkan toksin yang mengaktivasi cAMP dengan mekanisme yang telah disebutkan sebelumnya.

2. Osmotik Diare dengan mekanisme osmotik bermanifestasi ketika terjasi kegagalan proses pencernaan dan/atau penyerapan nutrient dalam usus halus sehingga zat tersebut akan langsung memasuki kolon. Hal ini mengakibatkan peningkatan tekanan osmotik di lumen usus sehingga menarik cairan ke dalam lumen usus. Absorpsi usus tidak hanya tergantung pada faktor keutuhan epitel saja, tetapi juga pada kecukupan waktu yang diperlukan dalam proses pencernaan dan kontak dengan epitel. Perubahan waktu transit usus, terutama bila disertai dengan penurunan waktu transit usus yang menyeluruh, akan menimbulkan gangguan absorbs nutrien. Contoh klasik dari jenis diare ini adalah diare akibat intoleransi laktosa. Absennya enzim lactase karena berbagai sebab baik infeksi maupun non infeksi, yang didapat (sekunder) maupun bawaan (primer), menyebabkan laktosa terbawa ke usus besar dalam keadaan tidak terserap. Karbohidrat yang tidak terserap ini kemungkinan akan difermentasikan oleh mikroflora sehingga terbentuk laktat dan asam laktat. Kondisi ini menimbulkan tanda dan gejala khas yaitu pH<5, bereaksi positif terhadap substansi reduksi, dan berhenti dengan penghentian konsumsi makanan yang memicu diare.

3. Mutasi protein transport Mutasi protein CLD (Congenital Chloride Diarrhea) yang mengatur pertukaran ion Cl-/HCO3- pada sel brush border apical usus uleo-colon, berdampak pada gangguan absorpsi Cl- dan menyebabkan HCO3- tidak dapat tersekresi. Hal ini berlanjut pada alkalosis metabolic dan pengasaman isi usus yang kemudian mengganggu proses absorpsi Na+. Kadar Cl- dan Na+ yang

mengganggu proses absorpsi Na+. Kadar Cl- dan Na+ yang Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
mengganggu proses absorpsi Na+. Kadar Cl- dan Na+ yang Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei
mengganggu proses absorpsi Na+. Kadar Cl- dan Na+ yang Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

54

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” tinggi di dalam usus memicu terjadinya diare dengan mekanisme osmotik. Pada

tinggi di dalam usus memicu terjadinya diare dengan mekanisme osmotik. Pada kelainan ini, anak mengalami diare cair sejak prenatal dengan konsekuensi polihidramnion, kelahiran premature dan gangguan tumbuh kembang. Kadar klorida serum rendah, sedangkan kadar klorida di tinja tinggi. Kelainan ini telah dilaporkan di berbagai daerah di dunia seperti Amerika Serikat, Kanada, hampir seluruh negara di Eropa, Timur Tengah, Jepang dan Vietnam. Selain mutasi pada penukar Cl-/HCO3-, didapat juga mutasi pada penukar Na+/H+ dan Na+-protein pengangkut asam empedu.

4. Pengurangan luas permukaan anatomi usus Oleh karena berbagai gangguan pada usus, pada kondisi-kondisi tertentu se[erti necrotizing enterocolitis, volvulus, atresia intestinal, penyakit Crohn, dan lain-lain, diperlukan pembedahan, bahkan pemotongan bagian usus yang kemudia menyebabkan short bowel syndrome. Diare dengan pathogenesis ini ditandai dengan kehilangan cairan dan elektrolit yang masif, serta malabsorbsi makro dan mikronutrien.

5. Perubahan pada gerakan usus Hipomotilitas usus akibat berbagai kondisi seperti, malnutrisi, scleroderma, obstruksi usus, dan diabetes mellitus mengakibatkan pertumbuhan bakteri berlebih di usus. Pertumbuhan bakteri yang berlebihanmenyebabkan dekonjugasi garam empedu yang berdampak meningkatnya jumlah cAMP intraseluler, seperti pada mekanisme diare sekretorik. Perubahan gerakan usus pada diabetes mellitus terjadi akibat neuropati saraf otonom, misalnya saraf adrenergic, yang pada kondisi normal berperan sebagai antisekretori dan atau proabsortif cairan usus, sehingga gangguan pada fungsi saraf ini memicu terjasinya diare.

Manifestasi Klinis (Komplikasi) Roy et al (2006) mengungkapkan bahwa anak dengan diare persisten lebih banyak menunjukkan manifestasi diare cair dibandingkan diare disentriform. Selain itu, malnutrisi merupakan gambaran umum anak-anak dengan diare

malnutrisi merupakan gambaran umum anak-anak dengan diare Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
malnutrisi merupakan gambaran umum anak-anak dengan diare Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6
malnutrisi merupakan gambaran umum anak-anak dengan diare Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei – 6

Kepaniteraan Klinik Stase Anak Periode 30 Mei 6 Agustus 2011 Rumah Sakit Marinir Cilandak Universitas Peilta Harapan

55

Diare pada Anak

“ Diare pada Anak ” persisten. Studi kohort di Amerika menunjukkan bahwa gejala penurunan nafsu makan,

persisten. Studi kohort di Amerika menunjukkan bahwa gejala penurunan nafsu makan, muntah, demam, adanya lendir dalam tinja, dan gejala-gejala flu, lebih banyak ditemukan pada diare persisten dibandingkan diare akut. Gejala lain yang mungkin timbul tidak khas, karena sangat terkait dengan penyakit yang mendasarinya.

Diagnosis Evaluasi pada pasien dengan diare kronis/persisten, meliputi: