Anda di halaman 1dari 11

Contents

Pendahuluan ....................................................................................................................... 1 Pentingnya Value Chain dalam Strategic Planning ............................................................. 2 Penggunaan Porter Value Chain Analysis ........................................................................... 4 Five Forces Model Porter .................................................................................................... 7 Bibliography ...................................................................................................................... 10

Porter Value Chain

Pendahuluan
Value Chain Porter (ditemukan oleh Michael Porter) adalah model yang digunakan untuk membantu menganalisis aktivitas-aktivitas spesifik yang dapat menciptakan nilai dan euntungan kompetitif bagi organisasi (Value Based Management). Untuk Lebih jelasnya dapat digambarkan sebagai berikut ini :

Gambar 1. Porter Value Chain


Sumber : http://www.mbaknol.com/strategic-management/value-chain-analysis/

Aktivitas-aktivitas tersebut dibagi dalam 2 jenis, yaitu : 1. Primary activities : Inbound logistics : aktivitas yang berhubungan dengan penanganan material sebelum digunakan. Operations : akivitas yang berhubungan dengan pengolahan input menjadi output. 1|Page

Outbound logistics : aktivitas yang dilakukan untuk menyampaikan produk ke tangan konsumen. Marketing and sales : aktivitas yang berhubungan dengan pengarahan konsumen agar tertarik untuk membeli produk. Service : aktivitas yang mempertahankan atau meningkatkan nilai dari produk. 2. Supported activities : Procurement : berkaitan dengan proses perolehan input/sumber daya. Human Resources Management : Pengaturan SDM mulai dari perekrutan, kompensasi, sampai pemberhentian. Technological Development : pengembangan peralatan, software, hardware, prosedur, didalam transformasi produk dari input menjadi output. Infrastructure : terdiri dari departemen-departemen/fungsi-fungsi (akuntansi, keuangan, perencanaan, GM, dsb) yang melayani kebutuhan organisasi dan mengikat bagian-bagiannya menjadi sebuah kesatuan.

Dalam IT Strategic Plan, Porter Value Chain Analysis digunakan sebagai sebuah metode untuk mengklasifikasikan, menganalisa dan memahami perubahan dari sumber daya melalui proses tertentu sampai menjadi produk akhir dan jasa. Metode ini digunakan untuk meningkatkan/memperbaiki struktu biaya (kaitannya produktivitas) dan penambahan nilai / diferensiasi produk (Boar, 2001) .

Pentingnya Value Chain dalam Strategic Planning


Dalam Era persaingan sekarang ini, value chain memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya perusahaan memenangkan persaingan dengan kompetitor. Hal ini ditentukan dengan seberapa baiknya perusahaan menjalankan aktivitas yang terdapat dalam value chainnya dibandingkan dengan kompetitor. Untuk tujuan ini, tiap aktivitas dipecah menjadi sub proses yang lebih detail untuk kemudian dibandingkan dengan pesaing. Ada beberapa kata kunci yang akan digunakan disini : a) Bagaimana perusahaan tetap menjaga kualitas yang diberikan ke pelanggan dengan cost/biaya tetap ? b) Bagaimana perusahaan meningkatkan kualitas yang diberikan ke pelanggan dengan cost/biaya tetap ? c) Bagaimana perusahaan meningkatkan kualitas yang diberikan ke pelanggan dengan cost/biaya yang lebih rendah Value Chain model juga berfungsi untuk melakukan analisis terhadap perusahaan dengan cara secara sistematis mengevaluasi proses kunci dari perusahaan dan core competency. Untuk melakukan hal ini kita, pertama-tama kita harus menentukan kekuatan dan kelemahan dari aktivitas yang kita lakukan sekarang dan juga

2|Page

penambahan nilai dari tiap aktivitas. Aktivitas yang menambahkan nilai yang lebih banyak kemungkinan besar bisa menimbulkan keunggulan strategis. Lalu kita analisis lebih jauh apakah dengan menambahkan IT perusahaan bisa mendapatkan added value yang lebih besar dan dimana posisi IT yang paling cocok dan memberikan banyak manfaat dalam rantai nilai perusahaan . Contoh di perusahaan Caterpillar menggunakan EDI untuk meningkatkan nilai dari aktivitas inbound(internal perusahaan) dan outboundnya (hub.di luar perusahaan), kemudian mereka menggunakan intranet untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan (Turban, Leidner, Mclean, & Wetherbe, 2007). Untuk meningkatkan keunggulan kompetitif melalui value chain analisis, Porter menyarankan pengukuran sebagai berikut (Porter, 1990) : Konfigurasi ulang value chain dengan cara berbeda dengan yang dilakukan oleh kompetitor Lakukan aktivitas dengan lebih efisien daripada kompetitor Outsourcing-kan aktivitas yang bukan merupakan inti bisnis (Cleaning Service, Security,dll)

Adapun untuk outsourcing ada beberapa hal yang harus disikapi dengan bijaksana sebagai berikut : Ada resiko supplier yang kinerjanya buruk, untuk menghindari hal ini perlu ada mekanisme untuk menggunakan alternatif supplier dan outsourcing sebagian bisa dilakukan. Penggunaan SLA yang jelas juga bisa menghindarkan perusahaan dari kerugian akibat kinerja supplier. Ada resiko penyimpangan value-value perusahaan yang telah ditentukan sebelumnya oleh supplier.

Porter juga menyarankan untuk melakukan integrasi internal dari aktivitas value chain dengan manfaat sebagai berikut : 1. Peningkatan kualitas 2. Siklus pengembangan produk baru yang lebih singkat. 3. Dengan mengintegrasikan perusahaan dengan external supplier dan pelanggan, maka akan mengurangi inventory cost dan meningkatkan kemampuan untuk perbaikan/improvement produk serta perusahaan akan lebih responsif terhadap permintaan pelanggan.

3|Page

Penggunaan Porter Value Chain Analysis


Bank yang dianalisis : Lippo Bank (PT Bank Lippo, Tbk.) , per 2008 berubah menjadi CIMB Niaga (Yasinta, 2008) (Value Based Management). 1. Primary Activities Lippo Bank : a. Inbound logistics : - Pengelolaan likuiditas yang sehat, dengan jumlah kas atau setara kas senilai Rp.3570 milyar pada akhir tahun 2005, yang terdiri dari kas, giro pada bank lain dan BI, efek-efek, portfolio Sertifikat Bank Indonesia, dan obligasi. - Program Anti Pencucian Uang dan Kenali Nasabah Anda (penanganan uang yang masuk). b. Operations : - Pemeliharaan rekening skala besar maupun kecil, kliring, setoran, tarikan transfer, dls. - Compliance Group, yang mengawasi jalannya operasi agar sesuai dengan peraturan dari Bank Indonesia. - Pemantauan kredit - Program Anti Pencucian Uang dan Kenali Nasabah Anda. c. Outbound logistics : - 400 kantor cabang utama, pembantu, dan kantor kas yang tersebar di 87 kota, 700 unit ATM di 120 kota, 6 Branch Service Center. - E-Banking : Internet Banking, Mobile Banking, Phone Banking, dengan layanan setoran online 24 jam. - Jalur distribusi pelayanan yang seimbang antara jaringan kantor cabang konvensional. d. Marketing and sales : - Tersedianya teller dan information center yang cukup untuk menyampaikan informasi bagi calon konsumen atau konsumen. - Strategi periklanan yang gencar ditelevisi dan promosi berupa penyelenggaraan undian-undian tabungan berhadiah. Selain itu, adanya Corporate Social

4|Page

Responsibility yang memberikan beasiswa dan bantuan tenaga pengajar dibidang perbankan di beberapa universitas besar, meskipun tidak bersifat iklan namun dapat menambah nilai LippoBank dimata masyarakat. - Lengkapnya fasilitas dan layanan bank ditambah dengan paket-paket tabungan yang menarik, serta dimbangi dengan perkembangan teknologi, merupakan suatu nilai plus tersendiri bagi LippoBank. - Penawaran suku bunga tabungan yang tinggi. - Penataan lokasi kantor cabang dan ATM yang strategis, agar dapat berfungsi lebih efektif sebagai penyedia produk dan layanan perbankan konsumen. - Produk-produk kredit customer yang inovatif dan kompetitif. e. Service : - Layanan setoran, tarikan, kliring, transfer - Kartu kredit : Lippo Bank VISA and MasterCard Credit Card, Lippo Bank Golf Card and Lippo Bank Lady Card. - Perbankan elektronik : Lippo Bank ATM, Lippo Bank Visa Electron Debit Card, Lippo Bank Visa Electron Distribution Card, e-LippoLink, LippoNetB@nk, Electronic Draft Captured (EDC). - Layanan transaksi perbankan : Call Centre 14042, pengiriman uang, Mass Fund Transfer System (MFTS), Inkaso, Bank Drafts, Bancassurance. - Produk Treasury : Transaksi Valuta Asing, Transaksi Spot, Transaksi Forward. - Fasilitas kredit : LippoBank Home Loan, LippoBank Car/Motor Loan, Kredit Modal Kerja, Kredit Investasi, Kredit Ekspor, Trust Receipt (T/R). - Bank Garansi : Payment Bond, Tender Bond, Advance Payment Bond, Performance Bond, Bank Garansi Bapeksta, Bank Garansi Bea Cukai. - Fasilitas Ekspor-Impor : Letter of Credit (L/C), Negosiasi Wesel Ekspor, Diskonto Wesel Ekspor, Document against Acceptance Financing (D/A), Forfeiting, Documentary Collections, Warehouse Receipt Financing, SLBC (Stand by Letter of Credit). - Layanan lainnya : LippoBank Travel Center, Safe Deposit Box, Pick up and Delivery Service, layanan setoran online 24 jam, Call Center.

5|Page

2. Supported Activities Lippo bank : a. Procurement : - Struktur pendanaan, 75% berasal dari pihak ketiga berupa rekening tabungan atau giro. - Dari bunga pemberian kredit dan bunga-bunga lainnya, Obligasi Pemerintah Republik Indonesia, provisi dan komisi lainnya, dan transaksi mata uang asing. - Laba dari penjualan surat-surat berharga. - Saham-saham yang diterbitkan sebagai salah satu media perolehan modal/kas. Saham-saham ini diperdagangkan di BEJ dan BES. - Perputaran dari hasil transaksi bulanan yang rata-rata Rp. 530 trilyun. b. Human Resources Management : - Adanya Unit Training Human Resources, yang bertanggung jawab atas pengembangan dan pelaksanaan program-program pengembangan SDM, diantaranya : Management Development, Information Technology Development , Dealer Development, Human Resources Development. (SDM sejumlah 6000an pada 2005). c. Technological Development : - Teknologi perbankan yang canggih, memungkinkan layanan pembayaran elektronik dengan volume transaksi lebih dari Rp. 30 trilyun/bulan. - Internet Banking, Mobile Banking, Phone Banking, Call Center. - Migrasi teknologi kartu kredit agar sesuai dengan standar baru Euro Master Visa (EMV), sehingga keamanan dan fleksibilitas kartu kredit akan bertambah. - Peningkatan fitur layanan bernilai tambah di ATM. d. Infrastructure : - Management Information System, Accounting, Operations, Financial, Human Resources Department. - Layanan perbankan elektronik : jaringan ATM dan perbankan yang luas (400 kantor cabang, 700 unit ATM), LippoNetBank, e-LippoLink, fasilitas Call Center.

6|Page

- Pengalihan Delegated Authority dan Service Strategy dari Kantor Pusat ke jaringan kantor cabang. - Pembentukan struktur Credit Service Center dan Branch Service Center, agar pemberian kredit lebih efisien dan meningkatkan pelayanan dan analisa bisnis di kantor cabang. - Infrastruktur yang dikembangkan berdasarkan 4 konsep utama : struktur jalur pelaporan, bentuk struktur yang datar, struktur hirarki organisasi, dan struktur Strategic Business Unit. - Pengawasan Internal : Internal audit Group, Compliance Group, Unit Pengelolaan Resiko - Jaringan intranet untuk seluruh kantor cabang. - Risk Management Charter dan Risk Management Philosophy, yang ditetapkan oleh Dewan Komisaris sebagai bagian dari infrasruktur pengelolaan resiko. - Berbagai komite : Risk Mitigation, Corporate Governance, Risk Management, Audit, Kredit, Products, Assets and Liabilities, dan Work Group. - Restucturing and Settlement Group, komite independen dengan unit kerja khusus penanganan kredit bermasalah. - Instutional Banking Group dan Asset-Liability Management, Sebagai pendukung aktivitas LippoBank secara keseluruhan dan aktivitas treasury pada umumnya.

Five Forces Model Porter


Five Forces Model Porter adalah strategi bisnis yang digunakan untuk melakukan analisis dari sebuah struktur industri (kikisaragih, 2009). Analisis tersebut dibuat berdasarkan 5 kekuatan kompetitif yaitu: 1. Threat of new Entrants. Bagaimana Cara yang mudah atau sulit untuk kompetitor baru untuk mulai bersaing industri yang sudah ada 2. Threat of Substitute Product or Service. Cara mudah masuknya produk atau jasa yang dapat menjadi alternatif dari produk atau jasa yang sudah ada, khususnya yang dibuat dengan biaya lebih murah. 3. Bargaining Power of Buyers. Bagaimana kuatnya posisi pembeli. Pembeli mempunyai kekuatan untuk menentukan kemana dia akan melakukan transaksi. 4. Bargainng Power of Supplier. Bagaimana kuatnya posisi penjual. Apakah ada banyak supplier atau hanya beberapa supplier saja, bisa jadi mereka memonopoli supply barang.

7|Page

5. Rivalry among Existing Competitors. Bagaimana kuatnya persaingan diantara pemain yang sudah ada.Apaka ada pemain yang sangat dominan atau semuanya sama.

Sumber : http://kikisaragih.wordpress.com/2009/01/14/five-forces-model-porter/

Gambar 2. Skema Five Force Model Porter

Dilakukan Kajian terhadap 5 Tekanan dari Porter ini, kajian ini dilakukan di RS Pertamina Jaya. Hasil dari kajian tersebut dapat disimpulkan, yaitu 1. Threat of new Entrants tergantung pada: - Skala ekonomis - Modal untuk investasi - Akses untuk distribusi - Akses ke teknologi - Brand loyalty, apakah pelanggan setia dengan brand tertentu - Peraturan Pemerintah

2. Threat of Substitute Product or Service tergantung pada: - Kualitas, Apakah kualitas pengganti tersebut lebih baik atau tidak? - Keinginan pembeli untuk beralih ke produk jasa pengganti - Harga dan performa dari produk jasa pengganti - Biaya untuk beralih ke produk jasa pengganti. Apakah mudah untuk mengubah ke produk lain.

8|Page

3. Bargaining Power of Buyers tergantung pada: - Konsentrasi dari pembeli, apakah ada pembeli yang dominan atau banyaknya penjual. - Diferensiasi dari produk, apakah produk tersebut standar atau tidak - Profitabilitas pembeli - Kualitas dari produk dan service - Perpindahan biaya, seberapa mudah pembeli untuk beralih ke pemasok lain 4. Bargainng Power of Supplier tergantung pada: - Konsentrasi dari supplier, Apakah banyak pembeli dan sedikit supplier - Brand, apakah brand supplier tersebut sudah kuat - Profitabilitas Supplier - Pemasok masuk ke dalam industri cth produsen mengatur sendiri gerai ritelnya - Pembeli tidak berpindah ke supplier yang lain. - Kualitas dari Produk dan service - Perpindahan biaya, seberapa mudah pemasok untuk mencari pelanggan baru 5. Rivalry among Existing Competitors tergantung pada: - Struktur dari kompetisi, persaingan akan semakin hebat apabila terdapat banyak industri kecil atau memiliki ukuran yang sama antar kompetitor. Sebaliknya apabila industri telah memiliki pemimpin pasar maka persaingan akan sedikit. - Struktur dari biaya di industri. Industri yang memiliki biaya yang tinggi akan mendorong kompetitor untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih murah. - Tingkat diferensiasi produk. Industri yang produknya adalah komoditas biasanya akan memiliki persaingan yang besar. - Perpindahan biaya. Persaingan akan berkurang apabila pembeli telah beralih ke biaya tinggi. - Tujuan strategis, Jika kompetitor mengejar pertumbuhan dengan agresif maka persaingan akan semakin besar - Ketika hambatan untuk meninggalkan industri semakin tinggi maka persaingan akan semakin besar. Manfaat dari Five Forces Model Porter ini adalah Model ini dapat dijadikan sebagai alat yang akurat di dalam melakukan analisis kompetitif di tingkat industry. Memberikan hasil inputan yang dapat digunakan untuk melakukan analisis SWOT.

9|Page

Bibliography
(n.d.). Retrieved March 2, 2011, from Value Based Management: http://www.valuebasedmanagement.net/methods_porter_value_chain.html Boar, B. H. (2001). The Art of Strategic Planning for Information Technology. John Wiley & Sons. kikisaragih. (2009). Retrieved March 2, 2011, from http://kikisaragih.wordpress.com/2009/01/14/five-forces-model-porter/ Porter, M. (1990). The Competitive Advantage of Nations. New York: Free Press. Turban, Leidner, Mclean, & Wetherbe. (2007). Information Technology for Management: Transforming Organisation in Digital Economy. John Wiley and Sons. Yasinta. (2008, 9 16). Retrieved March 2, 2011, from yasinta.wordpress.com: http://yasinta.wordpress.com/2008/09/16/value-chain-porter-rantai-nilaiporter/

10 | P a g e