Anda di halaman 1dari 27

Contents

Contents

1

Pendahuluan

2

2. Enterprise Governance

3

Definisi

3

Framework

4

IT Dalam Enterprise Governance

6

The Role of IT in IT Governance vs. Enterprise Governance

7

3. IT Governance

8

Definisi

8

Latar Belakang

8

IT Management vs IT Governance

10

IT

Governance Framework

10

Pentingnya IT Governance

14

Tekanan dan Pendorong

14

Issue (Pertanyaan dalam IT Gov dan GCG)

16

IT Governance Coverage

16

Cobit dan IT Governance

16

IT IL

19

4. Positioning Enterprise Governance vs IT Governance

21

Strategic

Alignmet Model

23

Strategic Alignment Domain Diagram

24

5. Kesimpulan

25

Bibliography

27

Pendahuluan

Dahulu sudah lazim IT difungsikan hanya sebagai fungsi support (pendukung) saja dan terpisah dari bisnis yang ada. Akan tetapi saat ini IT telah menjadi faktor kunci dan penentu kesuksesan dari bisnis di abad 21.

Manajemen dari fungsi IT mungkin bisa menjadi hal yang paling menantang dan kompleks dalam suatu organisasi, karean fungsi IT berjalan diatas lingkungan yang cepat berubah dan tuntutan kebutuhan yang bervariasi. Bisnis memerlukan perubahan yang konstan, akan tetapi sebuah sistem sekali ditempatkan biasanya relatif tetap (jarang berubah). Implementasi IT melibatkan investasi yang harus terus dilakukan baik di awal maupun ketika IT berjalan untuk mengharapkan keluaran yang tidak bisa diprediksi secara pasti.

Oleh karena itu, perusahaan di era sekarang tidak bisa lagi menganggap IT sebagai bagian terpisah, artinya bahwa pendekatan yang sistematis dan repeatable dalam pengambilan keputusan dan menjamin fungsi IT dapat berjalan semestinya mutlak diperlukan. Dengan kata lain, fungsi IT (bersama fungsi perusahaan yang lain, keuangan, akunting) juga harus ditatakelolakan dengan baik dengan tujuan supaya dapat menghasilkan value yang optimal bagi bisnis.

Adapun peraturan sekarang (khususnya di Amerika Serikat), misalnya US Health Insurance Portability and Accountability Act and the US Sarbanes-Oxley Act, mau tidak mau mengharuskan perusahaan untuk meningkatkan kepatuhan dan risk management dalam perusahaanya, khususnya dalam organisasi IT. Hal ini tentunya membuat tekanan yang cukup berarti bagi para manajer IT dan organisasinya untuk mendefinisikan peraturan dan mekanisme dalam rangka melakukan tata kelola yang lebih baik khususnya dalam fungsi IT. Yang jadi pertanyaan utama adalah bagaimana melakukannya.

Ketika tata kelola dari fungsi IT telah dikenal sebagai salah satu faktor kesuksesan (CSF) dalam menggunakan IT untuk mendukung pencapai tujuan bisnis secara efektif, pengenalan dan implementasi tata kelola IT masih merupakan tantangan besar bagi banyak organisasi.

Essay ini akan mencoba menggambarkan mengenai Enterprise Governance dan IT Governance serta hubungan, keterkaitan dan positioning keduanya.

2. Enterprise Governance

Definisi

Definisi dari enterprise governance bergantung kepada tipe organisasi. Kata enterprise governance menunjukkan bahwa konsep tata kelola tidak hanya diaplikasikan pada perusahan besar tapi juga dalam BUMN dan instansi pemerintah. Berikut diantaranya (International Federation of Accountants; CIMA, 2004) :

Definisi berdasarkan batas organisasi (join venture,dll). Definisi ini menganggap enterprise governance dipandang dari single company terlalu sempit.

Definisi berdasarkan pemangku kepentingan (stakeholder).

Definisi yang dikembangkan oleh IS Audit and Control Foundation mendefinisikan enterprise governance sebagai "suatu bentuk tanggung jawab dan praktek-praktek yang dilakukan oleh dewan dan manajemen eksekutif dengan tujuan memberikan arah strategis, memastikan bahwa tujuan tercapai, memastikan bahwa risiko dikelola secara tepat dan memverifikasi bahwa sumber daya organisasi digunakan secara bertanggung jawab "

Definisi tersebut memiliki beberapa keuntungan:

Merefleksikan peran dari dewan komisaris dalam hal monitoring dan strategi. Menekankan peran dari tim manajemen eksekutif. Mencakup kerja internal organisasi serta aspek external. Membantu untuk menunjukkan pentingnya penekanan yang berbeda dari peran komisaris dan CEO - dan karena itu mengapa mereka harus dibagi.

Membantu

Dapat mengakomodasi model tata kelola yang berbeda di seluruh dunia.

untuk

menggambarkan

peran

akuntan.

Framework

Framework Gambar 1. IT Governance Framework Sumber : CIMA Discussion paper, 2004 Pada gambar diatas menggambarkan

Gambar 1. IT Governance Framework Sumber : CIMA Discussion paper, 2004

Pada gambar diatas menggambarkan jangkauan enterprise governance yang merupakan kerangka akuntabilitas seluruh organisasi (entire accountability framework ) yang terdiri dari 2 (dua) dimensi yaitu :

1. Conformance atau corporate governance Dimensi ini cenderung mengambil pandangan bersejarah dan mencakup isu-isu corporate governance seperti:

peran ketua dan CEO

peran dan komposisi dewan direksi

dewan komite

jaminan pengendalian

manajemen risiko terhadap kepatuhan.

2. Performance atau business governance Dimensi ini cenderung mengambil pandangan ke depan. Dimensi ini berpusat pada strategi dan penciptaan nilai. Fokusnya dapat membantu dewan direksi untuk :

membuat keputusan strategis

memahami pemenuhan risiko dan kunci kinerja

mengidentifikasi hal-hal kritis pada kebutuhan untuk membuat keputusan

Secara umum, dimensi conformance mengambil pandangan bersejarah sedangkan dimensi performance mempunyai pandangan ke depan. Hal ini menjadikan jelas bahwa good corporate governance hanya bagian dari cerita bahwa strategi tersebut juga penting.

Lebih jauh dijelaskan bahwa 2 (dua) faktor dari enterprise governance conformance dan performance- harus diseimbangkan. Strategi bisnis dan strategi resiko perlu diselaraskan. Enterprise governance menyediakan framework yang terintegrasi untuk meningkatkan fokus dalam value-creating drivers yang menggerakan organisasi dan pemeliharaan dari kontrol yang tepat serta pengaturan penjaminan kualitas. Organisasi yang mencapai keseimbangan antara conformance dan performance mempunyai prospek terbaik dalam sukses jangka panjang.

Enterprise governance merupakan kumpulan dari komponen manajerial, manajemen dari manajememen dan standar yang lebih tinggi dari disiplin organisasi. Gambar di bawah ini akan menjelaskan visualisasi dari konsep ini. Para eksekutif harus memanage, mengkoordinasikan dan memonitor semua komponen manajerial supaya struktur yang kompleks dan proses kerja dapat bekerja secara sinergis dan tidak konflik satu sama lain. Enterprise governance mencakup area di atas level eksekutif, karena ini mencakup detail yang diperlukan senior management untuk memadukan efektifitas operasional dengan arahan strategis. Selanjutnya, dari waktu ke waktu, luas, kedalaman dan keragaman dari komponen manajerial berkembang, terus menerus meningkatkan tantangan.

Gambar 2. Enterprise Governance Architecture Sumber : (Stacey Hamaker, 2005) IT Dalam Enterprise Governance Industri

Gambar 2. Enterprise Governance Architecture Sumber : (Stacey Hamaker, 2005)

IT Dalam Enterprise Governance

Industri IT dalam 5 sampai 10 tahun terakhir terlah berubah dari pembuat hardware dan software menjadi penyedia jasa. Peran IT sekarang lebih menuju ke arah struktur pendukung informasi (sebagai peran penting dari enterprise governance). Informasi yang jelas, mudah diakses adalah hal yang penting bagi dewan direksi dan eksektuif senior. Oleh karena itu, informasi yang reliable dan akurat, internal maupun eksternal merupakan hal yang sangat penting dalam pengambilan keputusan.

The US Sarbanes-Oxley Act dan peraturan internasional lainnya telah meningkatkan tekanan terhadap para eksekutif dan dewan direksi untuk melihat kembali dan memverifikasi informasi yang disediakan oleh para manajer. Oleh karena itu, informasi dari dalam organisasi haruslah akurat, komprehensive, aman dan jelas (sebanyak apapun data mentah hampir tidak berguna). Karena corporate governance merupakan elemen yang fundamental

bagi enterprise governance, maka kebutuhan akan peraturan yang membahas mengenai corporate governance menyiratkan bahwa business record yang akurat dan laporan haruslah diberi prioritas tinggi dalam strategi enterpris e dalam rangka memanage resiko. (Van Enke,

2005)

Oleh karena itu, struktru pendukung infomasi menyediakan critical toolset untuk para senior manager untuk mengecek dan melihat tatakelola perusahaan. Rancangan dari struktur pendukung perusahaan merupakan hal yang kritis bagi tingkat efisiensi dan efektivitas dari tata kelola perusahaan.

The Role of IT in IT Governance vs. Enterprise Governance

Dewan direksi dan senior management mempunyai tanggung jawab yang terkait IT yang mengarah di luar IT Governance. Fungsi utama yang diasosiasikan dengan IT Governance dirangkum dalam gambar 3.

diasosiasikan dengan IT Governance dirangkum dalam gambar 3. Gambar 3. Fungsi Utama IT Governance dalam perusahaan

Gambar 3. Fungsi Utama IT Governance dalam perusahaan Sumber : (Stacey Hamaker, 2005)

3. IT Governance

Definisi

Weill and Ross : Menentukan siapa yang berhak mengambil keputusan dan membuat kerangka kerja akuntabilitas supaya dapat menghasilkan penggunaan IT yang diinginkan. (Ross, 2004).

IT Governance Institute menambahkan mekanisme dasar sebagai berikut: "… kepemimpinan dan struktur organisasi dan proses yang memastikan bahwa organisasi IT mendukung dan memperluas strategi dan tujuan organisasi." (IT Governance Institute, 2003)

Van Grembergen and De Haes (2009) memfokuskan pada integrasi terhadap tata kelola perusahaan (enterprise) dan mendefinisikan IT Governance sebagai bagian yang terintegrasi dari tata kelola perusahaan dan menjelaskan definisi dan implementasi dari proses, struktur dan mekanisme hubungan dalam organisasi yang membuat SDM bidang IT dan bisnis dapat melaksanakan tanggung jawabnya dalam penyelarasan bisnis dan IT dan menciptakan business value dari investasi IT yang telah dilakukan (Van Grembergen, 2009).

AS8015 (Australian Standard for Corporate Governance of ICT) mendefinisikan corporate governance dari ICT sebagai sistem dimana posisi ICT sekarang dan masa depan diarahkan dan dikendalikan. Hal ini termasuk mengevaluasi dan mengarahkan rencana ICT untuk mendukung organisai dan memonitor penggunaan untuk mencapai target. Termasuk di dalamnya strategi dan kebijakan ICT yang digunakan dalam organisasi.

Latar Belakang

Pada awalnya istilah IT Governance muncul pada tahun 1993 sebagai turunan dari corporate governance dan berhubungan utamanya dengan tujuan strategis dan IT management dari sebuah organisasi. IT Governance menekankan pentingnya IT hubungannya dengan organisasi dan menyatakan bahwa keputusan strategis IT seharusnya menjadi pemikiran corporate board (komisaris) daripada CIO atau IT manager yang lain.

Tujuan utama dari IT Governance adalah :

1. Memastikan investasi di bidang IT dapat menghasilkan value business.

2. Mengurangi resiko yang bisa terjadi akibat adanya IT. Hal ini bisa dilakukan dengan mengimplementasikan struktur organisasi yang mendefinisikan dengan jelas tanggung jawab dari informasi, proses bisnis, aplikasi,dll

Akuntabilitas merupkan kunci dari IT Governance.

Setelah bangkrutnya Enron pada tahun 2000, pemerintah Amerika mulai memberlakukan Sarbanes-Oxley Act (SOX) yang menekankan pentingnya pengendalian bisnis dan audit. SOX dan Basel II di Eropa telah mempengarusi perkembangan IT Governance sejak tahun

2000-an.

Kemudian beberapa seri dari Australian Standart tentang IT Governance juga mulai diberlakukan sejak 2003, sebagai berikut :

Good Governance Principles (AS8000)

Fraud and Corruption Control (AS8001)

Organisational Codes of Conduct (AS8002)

Corporate Social Responsibility (AS8003)

Whistle Blower protection programs (AS8004)

AS8015 Corporate Governance of ICT dipublikasikan pada Januari 2005. Lalu diadopsi menjadi ISO/IEC 38500 pada Mei 2008.

IT Governance merupakan tanggung jawab komisaris dan manajemen eksekutif. IT Governance merupakan bagian yang tak terpisahkan dari enterprise governance dan terdiri dari sebagai berikut

Kepemimpinan dan

Struktur Organisasi dan

Proses

Ketiga hal tersebut bertujuan supaya organisasi IT dapat bertahan dan mendukung strategi dan tujuan perusahaan. Mempertahankan bisnis dan meningkatkannya tentu merupakan

harapan dari stakeholder dan hanya bisa dicapai dengan tata kelola yang cukup dan baik dari IT Enterprise.

Hal lain yang cukup penting yaitu komunikasi yang efektif diantara semua pihak berdasarkan hubungan yang saling membangun, bahasa komunikasi yang sama dan komitmen yang sama dalam menghadapi problem.

IT Management vs IT Governance

dalam menghadapi problem. IT Management vs IT Governance Gambar 4. Perbedaan IT Management vs IT Governance

Gambar 4. Perbedaan IT Management vs IT Governance

Tujuan IT Governance

Tujuan dari pengelolaan TI adalah untuk mengarahkan usaha-usaha TI dalam rangka menjamin bahwa kinerja TI memenuhi tujuan sebagai berikut (ITGI) :

1. Agar IT selaras dengan tujuan perusahaan dan mewujudkan manfaat yang telah dijanjikan

2. Agar IT memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan peluang dan memaksimalkan manfaat

3. Agar sumber daya TI digunakan secara bertanggung jawab

4. Agar risiko yang berkaitan dengan IT dikelola secara tepat

IT Governance Framework

Tata kelola TI yang efektif harus dapat menjawab 3 pertanyaan (Ross, 2004) :

1. Keputusan apa yang harus dibuat (domains) ?

2. Siapa yang berhak membuat keputusan (styles) ?

3. Bagaimana keputusan tersebut dibuat dan dimonitor (mechanisms)?

keputusan tersebut dibuat dan dimonitor ( mechanism s)? Gambar 5 Kerangka kerja Tata Kelola TI Sumber

Gambar 5 Kerangka kerja Tata Kelola TI Sumber : (Richard, April 2002)

Berdasarkan hasil penelitian, MIT-CISR (Ross, 2004) (Richard, April 2002) mengembangkan kerangka kerja untuk pengelolaan TI pada gambar 5 yang terdiri dari 6 komponen yaitu :

1. Business objectives (tujuan bisnis)

2. IT governance style ( gaya tata kelola IT )

3. Business performance goals ( target kinerja bisnis )

4. Desirable behavior ( perilaku yang diinginkan ) :

5. IT governance mechanisms ( mekanisme tata kelola TI )

6. Metric ( ukuran )

Tata kelola TI yang efektif membutuhkan harmonisasi (panah horisontal) dari business objectives, IT governance style dan business performance goals. Contohnya, business objectives yang penting bagi perusahaan (misal, pertumbuhan bisnis yang ada, berbagi dan menggunakan kembali, dan pengurangan waktu pasar ) perlu diselaraskan dengan IT governance style (misalnya, tipe federal untuk investasi TI) dan business performance goals (misal, target dan jangka waktu). Selain itu, kerangka tata kelola TI harus menyelaraskan pencapaian dan pengukuran dari (panah vertikal) : business objectives and desirable behavior; IT governance archetype dan mechanisms; dan business performance metrics dan goals. Contohnya, business objectives (misal, berbagi dan penggunaan kembali) ditetapkan dalam satu set desirable behavior (misal, melihat ke dalam perusahaan ).

set desirable behavior (misal, melihat ke dalam perusahaan ). Gambar 6. IT Gov Model Sumber :
set desirable behavior (misal, melihat ke dalam perusahaan ). Gambar 6. IT Gov Model Sumber :

Gambar 6. IT Gov Model Sumber : (Peterson R., 2004)

IT Gov Mekanisme Struktural IT Gov Proses Gambar 7. IT Gov Model (mekanisme struktural, proses,

IT Gov Mekanisme Struktural

IT Gov Mekanisme Struktural IT Gov Proses Gambar 7. IT Gov Model (mekanisme struktural, proses, komunikasi)

IT Gov Proses

IT Gov Mekanisme Struktural IT Gov Proses Gambar 7. IT Gov Model (mekanisme struktural, proses, komunikasi)

Gambar 7. IT Gov Model (mekanisme struktural, proses, komunikasi)

Pentingnya IT Governance

Adanya pergeseran makna dari ‘aset’. Saat ini intangible aset (informasi, pengetahuan, keahlian, reputasi, kepercayaan dan pelanggan) merupakan bagian yang penting bagi perusahaan dalam meningkatkan competitive advantage. Dan banyak aset tersebut yang bergantung dalam hal tersebut

Lebih lanjut , IT dipahami tidak hanya sebagai enabler business. Service delivery dalam dunia keuangan seluruhnya sangat bergantung kepada IT dan memerlukan kehandalan sistem dan integritas informasi. Tidak ada transaksi perbankan yang dilakukan tanpa infrastruktur.

IT memerlukan investasi yang besar

Akan tetapi hanya sedikit para eskekutif yang memahami bagaimana membuat IT Departemen Akuntabel untuk men-deliver value.

Mereka memerlukan tool tata kelola untuk mengukur IT, karena IT dianggap terlalu teknis.

Kemudian, IT juga membuka peluang adanya resiko yang harus dimanage dengan baik.

Tekanan dan Pendorong

yang harus dimanage dengan baik. Tekanan dan Pendorong Gambar 8. Hubungan antara corporate governance dan business

Gambar 8. Hubungan antara corporate governance dan business process

1.

Akuntabilitas untuk memberikan value bagi bisnis, karena investasi IT yang cukup besar.

2. Untuk meminimalkan resiko, karena operasional perbankan sangat bergantung kepada IT.

3. Tekanan dari regulator

Bank Indonesia

Kementerian Kementrian BUMN (Kepmen no.117 tahun 2003 tentang GCG)

Bapepam-LK

4. Persetujuan dengan mitra bisnis:

Pihak penerbit kartu

Network perbankan

5. Adanya tekanan dari pelanggan untuk pelayanan yang lebih baik, jika tidak pelanggan

dapat beralih ke bank lain.

6. Perkembangan teknologi memungkinkan adanya kesempatan dan resiko yangbaru

7. Program GCG menuntut semua area untuk di-tata kelola secara benar.

Berdasarkan Permenkominfo No.41 Tahun 2007 :

1. Bahwa penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan publik memerlukan good governance yang akan menjamin transparansi, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan

2. Bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi oleh institusi pemerintahan telah semakin meningkat, sehingga untuk memastikan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut benar-benar mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan, maka harus memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan risiko;

3. Bahwa dalam rangka mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan diperlukan rencana teknologi informasi dan komunikasi yang lebih harmonis, pengelolaan yang lebih baik, peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja teknologi informasi dan komunikasi dan pendekatan yang meningkatkan pencapaian nilai (value) dari implementasi teknologi informasi dan komunikasi nasional;

Issue (Pertanyaan dalam IT Gov dan GCG)

Issue (Pertanyaan dalam IT Gov dan GCG) Gambar 9. Isu penting IT Gov dan GCG IT

Gambar 9. Isu penting IT Gov dan GCG

IT Governance Coverage

Gambar 9. Isu penting IT Gov dan GCG IT Governance Coverage Gambar 10. IT Gov Coverage

Gambar 10. IT Gov Coverage

Cobit dan IT Governance Cobit 4.1 (Control Objectives for Information and related Technology) Cobit dirancang sebagai alat penguasaan IT yang membantu dalam pemahaman dan memanage resiko, manfaat serta evaluasi yang berhubungan dengan IT COBIT mengandung framework yang digunakan oleh pihak manajemen untuk mengendalikan dan memastikan pengukuran IT dengan menyediakan tool untuk meng-assess dan mengukur kemampuan enterprise IT dakan 34 proses COBIT.

Tool-tool tersebut antara lan :

1. Pengukuran Kinerja (pengukuran outcome dan pendorong kinerja untuk semua proses IT

2. List CSF yang menyediakan best practices non teknikal untuk setiap proses IT

3. Maturity model sebagai panduan dalam benchmarking dan peningkatan sistem pengambilan keputusan.

sebagai panduan dalam benchmarking dan peningkatan sistem pengambilan keputusan. Gambar 11. COBIT Framework for IT Gov

Gambar 11. COBIT Framework for IT Gov

Gambar 12. 34 Proses COBIT 18

Gambar 12. 34 Proses COBIT

Gambar 13. IT Gov COBIT Mapping IT IL • Dibuat oleh Central Computer & Telecommunications

Gambar 13. IT Gov COBIT Mapping

IT IL

Dibuat oleh Central Computer & Telecommunications Agency (UK).

Kalau COBIT menjelaskan apa yang harus dilakukan, maka IT menjelaskan bagaimana hal itu dilakukan.

Gambar 14. IT – IL Framework Gambar 15. IT – IL Framework 20

Gambar 14. IT IL Framework

Gambar 14. IT – IL Framework Gambar 15. IT – IL Framework 20

Gambar 15. IT IL Framework

4. Positioning Enterprise Governance vs IT Governance

Tata kelola dari fungsi IT, seperti fungsi yang lain dari perusahaan (misal keuangan dan sumber daya manusia), secara langsung berhubungan dengan enterprise governance. Oleh karena itu mendefinisikan enterprise governance dan memahami hubungan dan saling ketergantungan antara enterprise dan IT Governance merupakan kondisi yang mutlak diperlukan dalam implementasi IT Governance yang efektif.

The Chartered Institute of Management Accountants (CIMA), merujuk pada The Information Systems Audit and Control Foundation (ISACF) (sekarang disebut the IT Governance Institute), mendefinisikan enterprise governance sebagai berikut:

suatu bentuk tanggung jawab dan praktek-praktek yang dilakukan oleh dewan dan manajemen eksekutif dengan tujuan memberikan arah strategis, memastikan bahwa tujuan tercapai, memastikan bahwa risiko dikelola secara tepat dan memverifikasi bahwa sumber daya organisasi digunakan secara bertanggung jawab

Ada 2(dua) dimensi dari enterprise governacne conformance (kesesuaian/kepatuhan) dan performance (kinerja)- yang perlu diseimbangkan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam gambar berikut :

Gambar 16. Enterprise Governance Framework Sumber : (Bop Sandrino-Arndt, 2008)  Dimensi Conformance (kepatuhan)

Gambar 16. Enterprise Governance Framework Sumber : (Bop Sandrino-Arndt, 2008)

Dimensi Conformance (kepatuhan) disebut juga corporate governance meliputi isu penting seperti misalnya struktur tata kelola dan akuntabilitas. Hal ini berfokus pada kepatuhan dan kesesuaian sambil memastikan aspek legal terpenuhi.

Dimensi Kinerja disebut juga business governance meliputi aspek seperti definisi strategi dan penciptaan nilai. Fokusnya adalah membantu dewan direksi untuk membuat keputusan strategis dan memahami keinginan organisasi untuk mengambil resiko dan kunci pendorong kinerjanya.

Setelah itu enterprise governance membuat sebuah kerangka yang umum dipakai dalam tata kelola perusahaan dan fungsi-fungsinya (termasuk IT). Sebagai sebuah bagian yang terintegrasi dari kerangka kerja enterprise governance, tata kelola dari fungsi IT tidak bisa dipisahkan dari fungsi enterprise yang lain (misal : keuangan, akunting, marketing). Oleh karena itu, IT Governance harus merefleksikan prinsip-prinsip tata kelola IT yang lebih luas dengan tetap berfokus pada manajemen dan penggunaan IT dalam mencapai tujuan perusahaan.

Strategic Alignmet Model Diperkenalkan oleh Henderson & Venkatraman (1993). Berguna untuk landasan filosofi berpikir. Ide dasarnya pada:

strategic fit: bagaimana strategi TI harus dibahasakan dalam domain external (how the firm is positioned in the IT marketplace) dan domain internal (how IT infrastructure should be configered).

functional integration: berbicara bagaimana ranah TI akan mempengaruhi ranah bisnis (business domain).

External IT Domain Decision

IT Scope

Hal-hal dari TI yang mendukung insiatif strategi bisnis atau memungkinkan munculnya strategi bisnis yang baru

Systemic Competencies

Yakni yang merupakan karakteristi IT strategy, misalnya: cost-performance level dan masalah flexibility sehingga perusahaan bisa responsif

IT Governance

Pilihan mekanisme yang dipergunakan agar perusahaan memiliki kompetensi yang dibutuhkan

Internal IT Domain Decision

IT Architecture

IT Process (mis: system development maintenance)

IT Skills, terkait masalah rekrutimen, pelatihan dan pengembangan SDM TI

Problemnya, manager IT kebanyakan hanya memikirkan internal domain decisions!

Functional Integration

Berbicara bagaimana ranah TI akan mempengaruhi ranah bisnis (business domain)

Strategic integration adalah hubungan antara business strategy dengan IT strategy

Operational integration adalah hubungan antara infrastruktur/proses dalam organisasi dengan infrastruktur/proses TI

Strategic Alignment Domain Diagram

infrastruktur/proses TI Strategic Alignment Domain Diagram Gambar 17. Strategic Alignment Domain Diagram Sumber :

Gambar 17. Strategic Alignment Domain Diagram

Sumber : (Venkatraman, 1993)

Henderson & Venkatraman mengatakan ada 4 model bagaimana alignment tersebut dapat dicapai:

1. Strategic execution alignment

2. Technology transformation alignment

3. Competitive potential alignment

4. Service level alignment

Strategic Execution:

Bersifat hirarkis dan paling umum, bahwa strategi bisnis menentukan desain organisasi dan juga desain infrastruktur TI-nya.

Technology Transformation:

Juga start dari business strategy, tetapi fokus pada implementasi strategi TI yang tepat, baru pada infrastruktur dan proses

Competitive potential

Paradigma ini memungkinkan adaptasi atau munculnya suatu strategi bisnis karena munculnya kapabilitas baru dari TI.

Service Level perspective

Cara pandang ini lebih berpikir pada bagaimana cara membuat unit/organisi TI yang menyediakan layanan prima.

5. Kesimpulan

Dalam setiap lingkungan yang memerlukan peningkatan level transparansi yang diimplementasikan oleh lingkungan internal control yang kuat, IT memegang peranan penting dan kunci dalam pelaksanaanya.

Penggunaan yang efektif dari IT merupakan keperluan dasar. Oleh karena itu organisasi harus mendayagunakan IT untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan kehandalan organisasi, terutama dalam kondisi lingkungan yang terus berubah dan harapan enterprise government yang tinggi.

Struktur pendukung informasi merupakan faktor pendorong dari enterprise governannce yang menuju ke arah corporate governance yang lebih baik.

Sebuah landasan yang lebih formal untuk hubungan timbal balik yang kuat antara TI Governance dan Enterprise Governance dapat dikatakan sebagai berikut. Ketika membahas latar belakang untuk perhatian untuk tata kelola TI pertanyaan- yang muncul biasanya mengenai hasil investasi TI. Sebuah hubungan positif yang jelas terlihat antara investasi TI perusahaan kinerja dan tampaknya belum ditemukan (Strassmann, 1990). Tidak adanya hubungan yang positif merupakan konsekuensi dari tidak optimalnya

penggunaan IT. Ada kemungkinan ada ketidakcocokan antara kemampuan IT yang diharapkan dengan yang diterapkan.

"Untuk

mencapai

dampak

yang

nyata

dari teknologi informasi, bisnis itu sendiri harus berubah (Parker, 1988 )

Hal

ini

menunjukkan

bahwa

sistem

TI

dan

fungsinya

harus

dirancang bersamaan

merupakan fundamental dasar untuk hubungan timbal balik yang kuat antara TI dan enterprise governance

ini

dan

dalam

kesatuan

dengan

konteks

perusahaan.

Hal

Bibliography

International Federation of Accountants; CIMA, . (2004). Enterprise governance : getting the balance right. International Federation of Accountant.

Bop Sandrino-Arndt, C. P. (2008). People, Portfolios and Processes:The 3 P Model of IT Governance. Information System Control Journal.

International Federation of Accountants; CIMA. (2004). Enterprise governance : getting the balance right. International Federation of Accountant.

IT Governance Institute. (2003). Board Briefing on IT Governance, 2nd Edition. IT Governance Institute.

ITGI. (t.thn.). About IT Governance. Dipetik April 2, 2011, dari www.itgi.org

Parker, M. B. (1988 ). Information Economics. Englewood-Cliffs: Prentice Hall.

Peterson R. (2004). Information strategies and tactics for IT Governance. Idea Group

Richard, W. P. ( April 2002). Don’t Just Lead, Govern: Implementing Effective IT Governance. MIT Sloan School of Management Working Paper.

Ross, P. W. (2004). IT Governance : How top performers manage IT decision rights for superior results. Boston: Harvard Business School Press.

Stacey Hamaker, C. C. (2005). Enterprise Governance and the Role of IT. Information System Control Journal.

Strassmann, P. (1990). The Business Value of Computers, New Canaan, The Information Eco-. New Kanaan: The Infomation Economic Press.

Van Enke, P. (2005). EMC CenteraCorporate Governance in the European UnionEnhancing Credibility. Diambil kembali dari www.bitpipe.com/detail/RES/1118421898_858.html

Van Grembergen, W. a. (2009). Enterprise Governance of IT: Achieving Strategic Alignment and Value. Springer.

Venkatraman, H. J. (1993). Strategic Alignment : Leveraging IT for transforming Organization. IBM System Journal, 32.