Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH REPRODUKSI INSEMINASI BUATAN PADA SATWA LIAR

Kelompok II 1. Apriani Sosilawati 2. Bakhtiar Hidayat Harahap 3. Gita Rima Widyamartha 4. Sisca Valinata B94104201 B94104206 B94104214 B94104243

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

Pendahuluan Seekor hewan jantan secara alamiah memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoa.Inseminasi Buatan (IB) adalah salah satu bentuk bioteknologi dalam bidang reproduksi yang memungkinkan manusia mengawinkan hewan betina tanpa perlu seekor pejantan utuh. Inseminasi buatan sebagai teknologi merupakan suatu rangkaian proses yang terencana dan terprogram karena akan menyangkut kualitas genetik hewan di masa yang akan datang (Kartasudjana 2001).Informasi inseminasi buatan pada satwa liar tertentu masih sedikit.Banyak informasi dan siklus reproduksi satwa liar belum diketahui dan tidak terkontrol.Aplikasi inseminasi buatan pada satwa liar banyak dilakukan pada penangkaran, kebun binatang, dan tempat konservasi lainnya.Inseminasi buatan pada kelompok marsupilami telah banyak dilakukan di kebun binatang Australia.Koala dan tammar wallaby adalah spesies marsupilami yang telah diketahui siklus reproduksinya sehingga keberhasilan inseminasi buatan pada hewan ini dapat diprediksikan (Rodger et al 2008). Prinsip dari pelaksanaan inseminasi buatan yaitu pencurahan semen ke dalam saluran reproduksi hewan betina pada saat estrus dengan maksud agar sel telur yang diovulasikan hewan betina dapat dibuahi oleh sperma sehingga hewan betina menjadi bunting dan melahirkan anak. Menurut Sugoro (2009), pada perkembangan lebih lanjut, program IB tidak hanya mencakup pemasukan semen ke dalam saluran reproduksi betina, tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan dan penentuan hasil inseminasi pada hewan betina. Dengan demikian pengertian IB menjadi lebih luas yang mencakup aspek reproduksi dan pemuliaan, sehingga istilahnya menjadi artificial breeding (perkawinan buatan). Teknik Inseminasi Buatan 1. Sinkronisasi estrus Sinkronisasi estrus pada koala dilakukan dengan melakukan pemindahan kantung muda yang kemudian dapat diprediksikan waktu ovulasi.Siklus estrus pada rusa mirip dengan sikus estrus pada ruminan domestik.Sehingga metode sinkronisasi estrus untuk rusa dapat mengikuti prosedur yang digunakan pada sapi dan domba. Termasuk penggunaan progesteron untuk menstimulasi fase luteal dan penggunaan prostaglandin untuk mengontrol perpanjangan fase luteal (Asher et al. 1993).. Prinsip dari sinkronisasi estrus adalah memperpendek fase luteal menggunakan induksi dengan PGF2Edan memperpanjang fase lutealdengan induksi preparat progesterone.Cara yang paling banyak dilakukan adalah dengan menggunakan preparat progesterone.Pelaksanaan sinkronisasi dilakukan dengan implantasi CIDR-G (Controlled Internal Drug Release-Goat) intravaginal yang berisi 0.3 gram progesterone selama 14 hari.Dilakukan pencatatan setiap harinya, dan pada hari ke 14 implan CIDR dicabut.Setelah itu dilakukan pengamatan respon estrus selama 5 hari. Pada Paus Beluga untuk sinkronisasi estrus diberikan 0,044 mg/kg berat badan altrenogest atau 0,05 mg/kg berat badan medroxyprogesteron asetat satu

kali sehari selama tiga puluh hari. Obat diberikan secara per oral dalam bentuk kapsul dan dimasukkan ke dalam tubuh ikan hering yang digunakan sebagai makanan Paus Beluga tersebut (Robeck et al 2010). 2. Deteksi estrus Estrus didefinisikan sebagai periode ketika betina secara sukarela mau dinaiki oleh jantan untuk kawin.Ini adalah strategi behavior agar sperma dapat tepat mencapai tempat fertilisasi, mengalami kapasitasi, dan membuahi oosit yang matang.Estrus ditandai dengan keadaan betina diam saat dikawini oleh jantan.Jika ingin melakukan inseminasi buatan sangat diperlukan kejelian melihat tanda-tanda terjadinya estrus.Menurut Boden (2005) estrus adalah masa atau waktu dimana betina memperlihatkan hasrat atau keinginan pada jantan dan merupakan waktu saat estrogen yang berasal dari folikel de graf beredar dalam sirkulasi darah. Estrus didahului atau mungkin juga bertepatan dengan ovulasi, rupture folikel dan pelepasan ovum ke tuba falopii.Siklus estrus berbeda-beda antar spesies, breeds, bahkan antar individu. Deteksi estrus pada gajah dilakukan dengan cara mengakukan pengujian hormonal pada darah. darah yang diambil sebanyak 10 ml setiap harinya untuk dianalisis kadar progesterone dalam darah. rata-rata siklus estrus adalah 4 bulan yaitu 3 bulan merupakan fase luteal dan 1 bulan merupakan fase folikuler (Thongtip et al. 2009). Ciri-ciri estrus pada koala postpartus jika kantung anakan berubah warna dari merah menjadi berwarna merah muda.Tujuh hari setelah perubahan ini dapat dilakukan inseminasi buatan.Selain itu dapat terlihat adanya jantan yang mencium urin betina dimana dalam urin tersebut terdapat feromon (Paris et al).Selain itu dapat mendeteksi siklus birahi betina melalui Pemeriksaan folikel ovarium dengan bantuan alat ultrasonografi (USG) (Rodger et al 2008). Pemeriksaan ovarium dengan USG pada Paus Beluga dilakukan hari ke-0 dan hari ke-10 setelah pemberian altrenogest kemudian dilakukan deteksi tiga kali sehari dimulai dari hari ke-11 untuk mendeteksi adanya ovulasi.Parameter yang digunakan pada pemeriksaan USG ialah diameter folikel, permukaan folikel, serta perkiraan waktu ovulasi (Robeck et al 2010).Sedangkan pada rusa dideteksi lewat perilaku dan tanda pada tubuhnya yaitu meluarkan suara lebih sering, nafsu makan turun, diam dan menurut saat dipegang punggungnya, vulva berwarna merah dan mengeluarkan lendir. Deteksi estrus pada badak dilakukan dengan menganalisis profil metabolit hormon progesteron dan estrogen pada feses, urin, dan serum (Hermes et al. 2007). Menurut Agil et al. (2003), ukuran folikel pada badak betina menggunakan USG dapat dijadikan patokan untuk menentukan waktu perkawinan pada saat folikel berumur 2,0 cm. 3. Penampungan Semen Terdapat tiga metode penampungan semen yang dapat dilakukan pada satwa liar yaitu penampungan semen dengan cara kawin alami, menggunakan elektroejakulator dan penampungan semen dari epididimis pada hewan postmortem (Asher et al 2000).Penampungan semen dengan cara kawin alami pada hewan liar sama seperti pada hewan domestic. Semen ditampung dengan cara hewan jantan dipancing dengan hewan betina untuk melakukan kopulasi

yang kemudian semen yang keluar ditampung. Pada metode ini memperhatikan tingkah laku dan tempramen hewan. Jika hewan yang digunakan kesulitan dalam menghandling sebaiknya menggunakan elektroejakulator. Dalam metode ini hewan terlebih dahulu dianaesthesi dengan menggunakan anastetikum.Pada umumnya digunakan kombinasi xylazine dan ketamin secara intramuscular (Drajat 2000). Rangsangan diberikan secara bertahap dimulai dari 5 volt, 7 volt, dan seterusnya hingga 15 volt dengan selang waktu 5 detik. Pada kelompok marsupilami dengan metode ini hanya dapat menampung sedikit semen dan semen mudah terkontaminasi dengan urin.Pada metode penampungan semen pada hewan mati melalui epididimis dilakukan pada satwa liar yang langka ataupun dilindungi.Sama dengan metode elektroejakulator, semen yang dapat ditampung pada kelompok marsupilami hanya sedikit karena konsentrasi sperma pada cauda epididimis hanya sedikit dan motilitasnya rendah (Rodger et al 2008).Selanjutnya semen yang telah diperoleh dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis.Pemeriksaan secara makroskopis yaitu volume, pH, konsistensi dan warna. Pemeriksaan secara mikroskopis meliputi, gerakan massa, motilitas, konsentrasi, abnormalitas, persentase hidup dan mati, persentase MPU (membran plasma utuh) dan persentase TAU (tudung akrosom utuh). Setelah proses evaluasi selesai, hanya semen yang memiliki kualitas baik yaitu motilitas lebih dari 70%, konsentrasi lebih dari 500 x 106/ml yang akan dilanjutkan untuk proses preservasi. Pada camelidae Menurut Mozes (2005), penggunaan glukosa pada bahan pengencer lebih baik hasilnya jika dibandingkan dengan fruktosa. Kandungan bahan pengencer yang dapat digunakan yaitu, tris 3,63 gram, glukosa 0.5 gram, asam sitrat 1.99 gram, kuning telur 20 ml, streptomisin 1000 Q g/ml, penisilin 1x106 IU/ml, serta aquades 100 ml. Sedangkan bahan pengencer yang baik digunakan untuk kriopreservasi semen rusa adalah 70% pengencer tris, 20% kuning telur, dan 10% gliserol. Pada semen kelompok marsupilami memerlukan konsentrasi gliserol yang berbeda-beda (koala 14%, wombat 14%, southern hairynosed-wombat 68%, brushtail possum 17.5%, eastern grey kangaroo 20%; ringtailed possum 68%; northern brown bandicoot 68% long footed potoroo 68%) (Rodger et al 2008). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Johnson et al sperma beku pada koala dengan konsentrasi gliserol yang tinggi dan diuapkan di atas permukaan nitrogen cair berhasil hidup setelah dithawing.Hasil ini juga ditemukan pada sperma wombat.Sperma koala dari cauda epididimis pada suhu 3-40C dapat digunakan untuk inseminasi buatan dengan motilitas 65% sedangkan dengan cryopreservasi sebesar 50% (Allen et al). Semen pada pejantan Paus Beluga diambil pada selang dua tahun menggunakan metode operasi.Semen diambil dengan stimulasi secara manual menggunakan glove dan lubricant atau pelicin.Bagian distal akhir penis dibersihkan dari residu air laut.Kemudian ejakulat dievaluasi meliputi konsentrasi, volume, pH, osmolalitas, status akrosom, dan morfologi sperma (Robeck et al 2010). Penampungan semen pada badak dapat dilakukan pada pagi dan sore hari. Penampungan semen pada badak lebih baik dilakukan pada pagi hari, karena perangsangan penampungan pada pagi hari dapat meningkatkan ereksi penuh penis 80% dibandingkan pada sore hari yang hanya 60%. Koleksi semen pada badak dapat menggunakan vagina buatan, elektroejakulator, atau mengambil

langsung dari vagina dan penis dari hasil kopulasi alami. Rangsangan menggunakan elektroejakulator akan menghasilkan volume ejakulat lebih banyak dibandingkan teknik penampungan yang lainnya karena dapat merangsang sekresi plasma lebih banyak (Agil et al. 2003). Pada gajah, dilaporkan bahwa koleksi semen pertama dilakukan dari traktus urogenital setelah kopulasi atau koleksi semen secara pasif yaitu pada saat gajah mounting pada betina (jainudeen et al. 1971 dalam Behr 2009).Tahun tahun berikutnya koleksi semen menggunakan electroejakulatortelah dilakukan.Anaesthesi dibutuhkan untuk melakukan koleksi semen menggunakan elektroejakulator yang dilakukan dengan menstimulasi kelenjar aksesoris melalui rektum.Tekhik awalnya dikombinasi dengan menggunakan vagina buatan.Setelah satu decade kemudian tahun 1998 digunakan ultrasound untuk mensuport koleksi semen.Sel sperma gajah lebih kecil jika dibandingkan dengan spesies mamalia lainnya (Behr 2009). Motilitas, daya tahan hidup dan morfologi sperma di evaluasi setelah dikoleksi. Daya tahan tubuh sperma dievaluasi dengan cara sampel sperma (10 Q l) diencerkan dengan buffer saline dengan perbandingan 1:5. Selanjutnya 10 Ql sperma yang telah diencerkan diberi larutan pewarna Chicago Sky Blue 0.16% sebanyak 10Q l. selanjutnya dibuat preparat ulas dan difiksasi selama 2 menit pada larutan fiksasi ( 86 ml HCL 0.1 N ditambah dengan 14 ml formaldehyde 37% dan neural red sebanyak 0.2 g. selanjutnya diwarnai dengan larutan giemsa 7.5% selama 5 jam pada suhu 37 rC. kemudian diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 1000x menggunakan minyak emersi. Spermatozoa yang hidup membran pada kepala masih utuh sehingga kepala sperma tidak terwarnai, tampak putih sampai biru terang.Sedangkan spermatozoa yang mati membran pada kepala rusak, bagian kepala posterior berwarna biru pekat.Akrosom yang diklasifikasikan utuh yaitu pada bagian anterior kepala sperma berwarna pink sampai ungu.Sedangkan modifikasi yaitu bagian anterior kepala sperma berwarna ungu tua atau bereaksi yaitu pada bagian anterior kepala berwarna ungu terang.Sedangkan sperma yang tudung akrosomnya lepas pada bagian anterior kepala berwrna putih hingga abu-abu (Behr 2009).Menurut Thongtip et al. (2009) evaluasi semen pada gajah yaitu meliputi volume, konsentrasi sperma, progresif motilitas, daya tahan hidup sperma dan pH.Sperma yang dapat digunakan yaitu yang memiliki motilitas u80% dan jumlah sel sperma 50x106/ml. Teknik inseminasi Inseminasi buatan pada hewan liar dapat dilakukan melalui dua cara yaitu surgical dan non-surgical methode. Pemilihan metode tergantung beberapa faktor yaitu ukuran dan sifat hewan, fasilitas handling dan pengalaman operator, tempat deposisi semen, dan waktu prosedur.Inseminasi pada rusa dilakukan berdasarkan efisiensi waktu prosedur pelaksanaan.Pelaksanaan inseminasi buatan pada rusa memakan waktu 4-8 menit tiap hewan.Adaptasi dan pengembangan metode laparoskopi pada domba biasa digunakan pada inseminasi buatan pada rusa.Hasil deposisi semen intrauterin dengan dosis rendah menunjukkan tingkat kebuntingan 60-80% (Morrow 2009).Pada kelompok marsupilami inseminasi buatan dilakukan secara intravaginal.

Setelah melakukan persiapan yaitu sinkronisasi estrus menggunakan progesteron dan koleksi semen maka dilakukan inseminasi buatan.Inseminasi buatan pada rusa merah (red deer) Argentina dilakukan satu kali 48-55 jam setelah sinkronisasi buatan. Semen yang digunakan adalah semen beku dengan dosis 0,25 ml pada masing-masing rusa dengan thawing pada suhu 37C dalam waktu 45 detik. Metode yang digunakan sama dengan inseminasi buatan pada sapi yaitu rectal-transervical tetapi alat yang digunakan merupakan alat inseminasi yang biasa digunakan pada domba atau kambing. Semen dideposisikan melalui metode transcervical dan intrauterin.Inseminasi buatan dilakukan dengan posisi berdiri tanpa pemberian sedasi dengan handling berupa gantungan.Pada koala, inseminasi buatan berhasil dilakukan secara intravaginal namun kurang maksimal jika menggunakan elektroejakulator karena terjadi penurunan volume dan motilitas sperma.Diharapkan cara ini berhasil pada kelompok marsupilami lainnya. Superovulasi dilakukan dengan pemberian GnRH. Inseminasi buatan dilakukan 30 hari setelah pemberian GnRH. Waktu yang dibutuhkan untuk satu kali prosedur IB adalah satu sampai dua jam dengan premedikasi menggunakan valium 0,1-0,2 mg/kg BB. Betina dikeluarkan dari air dan diletakkan dengan posisi lateral recumbency pada alas busa yang tebal serta selalu dalam keadaan basah. Semen dideposisikan menggunakan long flexible endoscope dengan diameter 9 mm dan panjang 200cm dan menggunakan cateter pada working channel dengan panjang 350 cm dan diameter 2,7 mm. Alat tersebut digunakan mengingat bahwa anatomi reproduksi betina pada Paus Beluga memiliki panjang vagina 25-50 cm dengan banyak lipatan yaitu antara 10-15 lipatan.

Gambar 1 Karakteristik anatomi histeroskopik pada beluga. A: Lipatan longitudinal halus caudal vagina; B: Transisi dari lipatan longitudinal ke lipatan melingkar pada pertengahan vagina; C: Lipatan melingkar di pertengahan vagina; D: Distal lipatan melingkar vagina dengan eksternal tulang serviks berada di tengah.

Gambar 2 Karakteristik anatomi histeroskopik pada beluga selama IB deep intrauterin. (A) Endoscope masuk di pintu serviks (panah putih). (B) Endoscope masuk di lubang serviks dengan uterus yang terbuka (panah putih). (C) korpus uteri dan permulaan cornua uteri (panah putih). (D) Apeks cornua uteri dengan ujung cateter uteri (white tube) di perbatasan cornua uteri (bifurcatio uteri). Inseminasi buatan pada badak sulit dilakukan karena struktur anatomi organ reproduksi badak betina yang memiliki membran hymen tebal, adanya lipatan jaringan fibrous yang padat dan tebal, serta memiliki serviks yang keras dan rapat. ovulasi pada badak betina dirangsang menggunakan GnRH analog yang diberikan pada saat preovulasi, dimana ukuran folikel sudah mencukupi. Inseminasi buatan tanpa operasi dapat menggunakan spesifik AI catheter. Semen beku yang masih segar dicurahkan pada bagian cornua uteri setelah melewati membran hymen dan cerviks(Hermes et al. 2007). Teknik inseminasi buatan tanpa operasi yang lainnya yaitu dengan bantuan fleksibel endoscope yang dimasukkan ke dalam saluran urogenital dan vestibula untuk mengeksplorasi bagian vagina dan serviks, kemudian fleksibelk AI catheter dimasukkan untuk mencurahkan semen pada bagian uterus. Bantuan USG juga dapat digunakan untuk menentukan posisi catheter dan tempat deposisi semen (Brown et al. 2004). Inseminasi buatan pada badak menggunakan operasi dilakukan dengan menyayat anus dan bagian proksimal dari vestibula. Struktur bagian membran hymen, vagina, dan serviks dibuka menggunakan spekulum dan bantuan sumber cahaya. Semen dicurahkan pada uterus menggunakan equine semen pipette (Schmitt 2006). Pada gajah, betina yang akan dilakukan inseminasi dianaesthesi menggunakan xylazine HCl 0.04 mg/kg BB secara intavena. Inseminasi buatan diawali dengan modifikasi tekhnik endoskopi dengan menaikkan infiltrasi udara dari pompa elektik udara tanpa menggunakan balon kateter. Infiltrasi udara akan memperbesar vestibular, vagina dan rongga serviks. Setelah ujung endoskop sampai ke serviks, selang udara diganti dengan inseminasi kateter.Inseminasi kateter dimasukkan hingga ke badan uterus.Semen didepositkan pada badan uterus. Video optic endoskop digunakan, dan USG dengan transducer konveks 5.0 MHz digunakan untuk menuntun endoscopi sampai ke tempat semen akan didepositkan (Thongtip et al. 2009).

Gambar 3 Teknik memasukkan semen menggunakan kateter.inseminasi.

Kebuntingan setelah Inseminasi Buatan (IB) Keberhasilan inseminasi buatan ditandai dengan terbentuknya embri dalam saluran reproduksi betina. Selama memasuki ta hap perkembangan berikutnya hewan betina mampu mempertahankan kandungan selama masa kebuntingan yang normal disebut masa kebuntingan penuh. Pada masa kebuntingan spesies rusa betina cenderng lebih soliter dan menarik diri dalam kelompok. Diagnosa kebuntingan dapat dilakukan dengan m elihat tingkah laku hewan, analisa hormon progesteron pada trisemester pertama dan kedua. Konsentrasi progesteron pada rusa tidak bunting rendah (< 1 ng/ml dengan satu corpus luteum) dan antara delapan sampai 32 ng/ml yang mempunyai lebih dari satu corpus luteum), pemeriksaan ultrasonografi (USG) menggunakan dengan dan transduser yang digunakan tipe linear. Pemeriksaan frekuensi 5 M ultrasonografi dan melihat daerah abdmen bagian kiri dan kanan dimana terlihat adanya uterus dengan gambaran adanya daerah a nechoic serta bentuk fetus (Aller et all 2009). Pemeriksaan kebuntingan dengan USG dilakukan 44 hari atau 120 hari setelah IB.

4. Di

Gambar 4 Gambaran ultrasonografi dari koruna uterus rusa dengan usia kebuntingan 44 hari Pengukuran kinerja reproduksi induk setelah diinseminasi anatara lain: y Angka kelahiran/ CR(Conseption Rate) adalah persentase jumlah hewan yang bunting pada IB pertama dibagi dengan jumlah total hewan yang di IB. Inseminas yaitui buatan secara intracervical pada rusa memiliki CR 60%-80% (Rhodes et al 2003). y Bobot lahir (kg) yaitu bobot badan saat lahir (diukur dengan menggunakan timbangan bobot badan) (2,9-5,2 kg). y Tinggi badan (cm) diukur dari lantai tegak lurs ke titik tertinggi gumba, yaitu pada ruas tulang punggung ketiga atau keempat (38-50 cm). y Lingkar dada (cm) diukur tepat dibelakang bahu atau dibelakang siku kaki depan dengan melingkar dada, tegak lurus dengan sumbu tubuh (31-45 cm). y Panjang badan (cm) diukur mulai dari tonjolan bahu (Tuberositas lateralis os humerus) sampai pada tulang duduk (Tuber ischii) (38-51 cm). y Panjang telinga (cm) diukur dari pangkal sampai ujung telinga (6,9-8,1 cm). y Panjang kepala (cm) diukur dari puncak kepala sampai mulut (15-20 cm). y Lebar kepala (cm) diukur antara lengkungan tulang mata sebelah luar kanan dan kiri (8-12 cm). Kebuntingan pada Paus Beluga dideteksi menggunakan kombinasi deteksi progesteron yang terkandung di dalam air dan USG transabdominal tanpa dilakukan restrain 21 hari setelah dilakukan IB. Menurut Thongtip et al. (2009), kebuntingan dapat dideteksi dengan menganalisis kadar progesterone dan transrectal ultrasonografi. Deteksi kebuntingan pada gajah dengan melihat konsentrasi progesterone yaitu 2ng/ml setelah 2 bulan dilakukan inseminasi buatan dan mencapai level tertinggi yaitu 2-8 ng/ml selama lebih dari 20 minggu. Progesterone meningkat pada awal

kebuntingan samapi satu bulan sebelum kelahiran. Cara lainnya untuk mendeteksi kebuntingan pada gajah yaitu dengan cara transrectal ultrasonografi. Pada gajah yang mengalami kebuntingan terlihat pembesaran dinding uterus setelah 2 bulan dari inseminasi buatan.Peningkatan ukuran lumen uterus yang berisi cairan ditemukan antara 3 sampai 4 bulan. Pada usia 2 samapai 4 bulan fetus belum dapat ditemukan. Perubahan anatomi tubuh tidak terlihat selama periode kebuntingan di bawah enam bulan.Satu bulan sebelum partus, mamae mengalami pembesaran dan mengeluarkan cairan ketika distimulasi.Menurut Feldhamer et al. (2007) lamanya waktu kebuntingan pada gajah yaitu 650 hari. Deteksi kebuntingan pada badak dapat dilakukan dengan deteksi endokrin atau melalui gambaran USG.

Gambar 4 Embrio pada uterus badak 27 hari setelah IB menggunakan semen beku Kendala Secara umum, kendala inseminasi buatan pada kelompok marsupilami adalah sedikitnya pengetahuan tentang anatomi reproduksi, hormon reproduksi, transport sperma dan ovulasi. Teknik inseminasi buatan pada koala belum tentu berhasil pada kerabat terdekat koala.Hal ini masih dalam penelitian.Pada satwa liar yang terancam punah tanpa diketahui siklus reproduksinya maka dilakukan perbandingan dengan hewan domestik.Metode IB pada mamalia satwa liar, sama seperti mamalia domestik, tetapi IB pada mamalia non domestik memiliki tingkat kebehasilan lebih rendah dibandingkan mamalia domestik. Pelaksaaan IB pada mamalia non domestik memiliki beberapa kendala seperti ketepatan pengetahuan mengenai genetik dan biologi reproduksi spesies, kemampuan untuk melakukan IB tanpa stress atau cidera, kemampuan untuk menjaga kesehatan hewan dan kualitas kebuntingan serta meminimalisasi terjadinya kematian neonatal (Morrow CJ et al. 2009).

Simpulan Inseminasi buatan pada satwa liar memungkinkan untuk dilakukan dengan tahapan mengetahui siklus dan sinkronisasi estrus, koleksi dan preservasi semen , serta teknik inseminasi pada satwa liar.Namun perlu memperhatikan ketersediaan peralatan, kemampuan inseminator, dan handling hewan agar tingkat keberhasilan IB dapat optimal. Daftar Pustaka Agil M et al. 2003. Produksi Semen Beku dan Teknik Inseminasi Buatan pada Badak Sumatra untuk Konservasi Plasma Nutfah dan Keanekaragaman Hayati.
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5691

Allen CD et al. 2008. Successful artificial insemination in the koala (Phascolarctos cinereus) using extended and extended-chilled semen collected by electroejaculation, Biol Reprod.78: 661666. Aller JF, Fernandez O, Sanchez E. 2009. Fixed Time Artificial Insemination in red Deer (Cervus elaphus) in Argentina.Animal Reproduction Science 115:312-316. Behr BV. 2009. The biotechnological potential for manipulating offspring sex in the rhinoceros and the elephant. Journal-NR 3291. Boden E. 2005. Blacks Veterinary Dictionary 21st Edition. A & C Black Publisher Limited: London. Brown JL et al. 2004. Successfularticial insemination of an Asian elephant at the national zoological park. Zoo Biol 23, 4563. Feldhamer et al. 2007.Mammalogy Adaptation Diversity Ecology. The Johns Hopkins University Press: USA. Hermes R et al. 2007. Assisted reproduction in female rhinoceros and elephants current status and future perspective. Reprod Dom Anim 42: 3344. Johnston SD et al. 2006. Holt, An investigation into the similarities and differences governing the cryopreservation success of koala (Phascolarctos cinereus: Goldfuss) and common wombat (Vombatus ursinus: Shaw) spermatozoa. Cryobiology.53: 218228. Kartasudjana R. 2001. Teknik Inseminasi Buatan. Jakarta: Departemen pendidikan Nasional. Morrow CJ, Penfold LM, Wolfe BA. 2009. Artificial insemination in deer and non-domestic bovids. Theriogenology71:149165. Paris DBBP et al. 2005.Birth of pouch young after artificial insemination in the tammar wallaby (Macropus eugenii).Biol Reprod. 72: 451459. Rhodes L, Pearse AJ, Asher GW. 2003.Approaches in developing a successful trans cervical AI programme for farmed deer. Proc NZ Soc Anim Prod.63:25861. Robeck TR et al. 2010. Deep intra-uterine artificial inseminations using cryopreserved spermatozoa in beluga (Delphinapterus leucas). Theriogenology. 74: 989-1001. Rodger JC et al. 2008. Artificial inseminationin marsupials.Theriogenology. 71: 176-189.

Schmitt DL. 2006. Reproductive system. In: Fowler ME,Mikota SK (eds), Biology, Medicine, and Surgery of Elephants. Blackwell Publishing, Ames, IA, pp. 347356. Sugoro I. 2009.Pemanfaatan Inseminasi Buatan (IB) untuk Peningkatan Produktivitas Sapi.Bandung: Sekolah Tinggi dan Ilmu Hayati ITB. Thongtip et al. 2009.Successful artificial insemination in the Asian Elephant (Elephas maximus) using chilled and frozen-thawed semen.Reproductive biology and endocrinology 7:75.